Anda di halaman 1dari 29

TUGAS ILMU KEDOKTERAN KELUARGA BLOK 29

Laporan Keluarga Binaan

Jovina Johny
04011281320030
PDU B 2013

Pendidikan Dokter Umum


Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya
2016
DAFTAR ISI

COVER ....................................................................................................................... i
DAFTAR ISI ............................................................................................................. ii
BAB I: ASSESSMENT
1.1. Pengenalan Anggota Keluarga secara Umum ................................................... 1
1.2. Assessment Pribadi ........................................................................................... 1
1.3. Assessment Lingkungan ................................................................................... 4
1.4. Assessment Perilaku ......................................................................................... 7
1.5. Rangkuman Hasil Assessment .......................................................................... 8
BAB II: PEMILIHAN PRIORITAS DAN ALTERNATIF INTERVENSI
2.1. Pemilihan Prioritas ............................................................................................ 9
2.2. Alternatif Intervensi ........................................................................................ 12
BAB III: IMPLEMENTASI INTERVENSI
3.1. Monitoring Harian ........................................................................................... 15
3.2. Masalah Selama Implementasi ........................................................................ 19
3.3. Dokumentasi ................................................................................................... 19
3.4. Rangkuman Hasil Intervensi ........................................................................... 22
BAB IV: EVALUASI
4.1. Pembahasan Hasil Intervensi .......................................................................... 24
4.2. Keterbatasan Selama Intervensi ...................................................................... 26
4.3. Feedback dari Anggota Keluarga .................................................................... 26
4.4. Refleksi Diri .................................................................................................... 26
4.5. Saran untuk Perbaikan ..................................................................................... 27

ii
BAB I
ASSESSMENT

1.1. Pengenalan Anggota Keluarga secara Umum


Keluarga Udin terdiri dari 2 anggota keluarga, yaitu Udin dan Dewi. Udin berusia
30 tahun dan saat ini bekerja sebagai tukang becak. Dewi berusia 19 tahun dan saat ini
bekerja sebagai tukang parkir. Udin merupakan anak ke-5 dari 5 bersaudara dan Dewi
merupakan anak ke-2 dari 2 bersaudara. Saat ini mereka bertempat tinggal di Jl. Aiptu
K. S. Tubun di depan ruko.

1.2. Assessment Pribadi


1.2.1. Udin
Nama : Udin
Status dalam keluarga : Anggota keluarga
Umur : 30 tahun
Pekerjaan : Tukang becak
Pendidikan terakhir : SD
Agama : Islam
Asal : Palembang
BB : 55 kg
TB : 166 cm
IMT : 19,9
Golongan darah : Belum pernah cek darah
Tekanan Darah : 110/80
 Riwayat genetik
Ayah dari Udin meninggal saat Udin masih berumur 8 tahun tanpa diketahui
penyebabnya. Ibu dari Udin memiliki riwayat maag dan diabetes mellitus. Udin
menambahkan juga bahwa kaki ibunya sering ngilu. Ibunya juga menderita
keluhan yang sama dengan Udin yaitu sering vertigo (pusing seperti berputar-
putar). Dua saudaranya meninggal pada usia sekitar 30 tahun dan menurut
keterangan Udin saudaranya meninggal karena disantet (sebelum meninggal
kepala saudaranya menjadi besar lalu mengalami kejang dan besoknya
meninggal)

1
 Pekerjaan
Udin bekerja sebagai tukang becak dan pencari barang bekas. Dia mengeluh
pegal pada bagian betis, tangan, dan punggung karena posisinya saat mengayuh
becak. Pegalnya dirasa hilang apabila dia beristirahat sebentar.
Udin juga bekerja sambilan mencari barang-barang bekas yang ditemuinya saat
mengendarai becak. Dia berkata terkadang barang-barang tersebut bebannya
berat dan dia mengangkatnya dengan cara memikulnya di bagian bahu.
 Gaya hidup
Udin mengaku kebutuhan tidurnya sering tidak tercukupi (2-3 jam/hari) dan
sering merasa tidak nyenyak saat tidur. Saat bangun tidur, Udin merasa
kepalanya sakit dan vertigo. Udin juga mengeluh kepalanya pusing dan
pandangan gelap apabila dia tiba-tiba bangun dari duduk.
Udin sering merasa pegal-pegal terutama di tangan, kaki, dan punggung.
Keluhan ini kemungkinan akibat posisinya saat bekerja. Udin juga sering nyeri
punggung sehingga membuat dirinya susah tidur.
Aktivitasnya sehari-hari setelah bangun dari tidur biasanya melanjutkan
tidurnya kembali di becak. Sekitar jam 8 pagi Udin sarapan setelah itu mulai
bekerja sampai siang. Apabila pekerjaannya tidak terlalu banyak Udin sering
tidur siang di becak. Terkadang Udin juga berkeliling mencari barang-barang
bekas yang masih bermanfaat. Malam hari setelah makan malam Udin sering
berkumpul bersama temannya dan merokok. Udin mengaku merokok sebanyak
1 bungkus sehari dan terkadang minum minuman keras tetapi jarang
(1x/minggu).
 Diet
Dari segi nutrisi, makanan Udin cukup bervariasi dan lengkap. Makanan
sehari-harinya saat sarapan biasanya kopi, makan siang dan makan malam
bervariasi biasanya nasi, tempe, telur, sayur, dan ayam. Walaupun demikian
jadwal makan Udin tidak teratur karena tuntutan pekerjaan. Udin memiliki
riwayat penyakti maag sehingga terkadang melewatkan makan karena merasa
saat makan mulut terasa pahit. Lambungnya seringkali terasa perih dan terasa
penuh di perut apabila dia melewatkan dan/atau telat makan.
 Penyakit yang pernah diderita
Udin memiliki riwayat penyakit maag.

2
1.2.2. Dewi
Nama : Dewi
Status dalam keluarga : Anggota keluarga
Umur : 19 tahun
Pekerjaan : Tukang parkir
Pendidikan terakhir : SD
Agama : Islam
Asal : Muara Enim
BB : 41 kg
TB : 150 cm
IMT : 18,2
Golongan darah : Belum pernah cek darah
Tekanan Darah : 110/70
 Riwayat genetik
Kedua orangtua Dewi memiliki riwayat sakit maag. Ibunya juga sering
merasa pegal-pegal di kedua kaki yang kemungkinan diakibatkan oleh
pekerjaannya (pencari barang bekas). Nenek Dewi memiliki riwayat hipertensi.
 Pekerjaan
Dewi bekerja sebagai tukang parkir di sekitar tempat tinggalnya. Dewi juga
terkadang membantu Udin mencari barang bekas sehingga sering mengangkat
beban yang berat. Pada waktu senggang biasanya Ia duduk dan bersantai di
kursi dekat tempat tinggalnya.
 Gaya hidup
Dewi merasa kebutuhan tidurnya tidak tercukupi (4-5 jam/hari) dan tidurnya
tidak nyenyak. Dewi sering tidur larut malam karena lingkungannya berisik dan
susah tidur juga karena terlalu banyak pikiran. Akibatnya, Dewi sering sakit
kepala pada saat siang hari sehingga dia sering tidur siang untuk mengurangi
rasa sakit kepalanya.
Dewi mengeluh bahwa ia juga sering merasa pegal-pegal di punggung. Ia
lebih sering menghabiskan waktunya untuk duduk dan bersantai pada aktivitas
sehari-harinya. Apabila terpapar dingin, kakinya sering terasa ngilu.
Dewi mengalami diare 2-3 hari sekali dan merasa lesu. Terkadang malam
harinya Dewi merasa badannya demam, pusing, dan terkadang mual. Dewi
mengaku tidak mencuci tangan pada saat makan dan juga selalu membeli
makanan di luar.
3
Aktivitas sehari-hari Dewi biasanya pada saat pagi yaitu mandi, mencuci
pakaian dan bekerja menjadi tukang parkir setelah itu tidur kembali. Pada saat
siang kebanyakan duduk dan tidur siang apabila tidak sedang bekerja. Malam
harinya setelah makan malam Dewi mandi setelah itu mempersiapkan tempat
tidur.
 Diet
Kebiasaan makan Dewi tidak teratur, terkadang 1-2 hari sekali. Nafsu
makannya kurang dan Dewi mengaku mual dan muntah apabila makan. Dewi
mengaku bahwa ia malas makan karena perutnya perih dan tidak menyukai
sayur dan daging. Makanan yang sehari-hari Dewi konsumsi biasanya nasi
putih dan sambal, terkadang model dan tekwan untuk makan siangnya. Dewi
jarang sarapan karena merasa perutnya tidak nyaman apabila sarapan.
 Penyakit yang pernah diderita
Demam, pilek, diare

1.3. Assessment Lingkungan


Lingkungan tempat tinggal keluarga sebenarnya kurang memadai. Keluarga tidak
memiliki rumah dan mereka tinggal di pinggir ruko. Keluarga memiliki seekor anjing
dan 2 ekor burung dan mereka sering tidur berdekatan dengan hewan peliharaannya.
Tempat tinggal terlihat kotor dan berdebu karena sering dijadikan tempat parkir
kendaraan bermotor.
Gambar 1. Tempat tinggal keluarga

4
Gambar 2. Tempat tinggal keluarga dan hewan peliharaan

Tempat tidur keluarga sebenarnya kurang memadai karena hanya terdiri dari tikar
dan alas tidur tipis. Biasanya mereka membawa peliharaan mereka tidur di dekat
keluarga. Keluarga mengaku tempat tidurnya jarang dibersihkan. Mereka sering merasa
terganggu dengan suasana yang berisik dan terganggu oleh nyamuk sehingga kualitas
tidurnya kurang baik. Keluarga juga merasa kurang nyaman tidur di alas tidur tersebut
karena sering menyebabkan punggung mereka pegal dan terkadang nyeri.
Gambar 3. Tempat tidur keluarga

5
Keluarga menggunakan air bersih di dekat tempat tinggal mereka di dalam
minimarket. Air bersih tersebut digunakan untuk mandi, sikat gigi, dan mencuci baju
serta alat makan.
Gambar 4 menunjukkan tempat duduk keluarga yang sering dipakai untuk duduk,
bersantai, bahkan tidur siang. Mereka memakai tempat ini untuk makan bersama dan
berkumpul bersama teman-teman lainnya.
Gambar 4. Tempat duduk keluarga

Pada siang hari, barang kepemilikan mereka dikumpulkan dalam suatu tempat yang
terdapat di gambar 5.
Gambar 5. Tempat penyimpanan barang kepemilikan keluarga

6
Gambar 6. Dokumentasi bersama keluarga

1.4. Assessment Perilaku


1.4.1. Perilaku keluarga yang dapat menyebabkan penyakit yaitu kebiasaan makan yang
tidak teratur. Makan makanan yang mengiritasi lambung dapat memperparah
keluhan maag yang mereka rasakan.
1.4.2. Tidur dengan posisi yang kurang baik menyebabkan keluhan pegal pada keluarga.
Alas tidur yang kurang memadai juga dapat memperburuk keluhan.
1.4.3. Tidur dengan posisi yang kurang baik dan terlalu banyak duduk dapat
menyebabkan postur tubuh yang tidak baik.

7
Gambar 6. Posisi tidur yang kurang baik

1.4.4. Sering kurang tidur karena merasa tidak nyaman dengan suasana dan tempat
tidurnya. Kurang tidur kemungkinan disebabkan karena terlalu banyak tidur pada
siang hari.
1.4.5. Makan makanan yang kurang bergizi menyebabkan nutrisi kebutuhannya kurang
tercukupi (terlihat dari rambut Dewi yang berwarna cokelat kemerahan).
1.4.6. Jarang mencuci tangan sebelum makan menyebabkan keluhan diare dari Dewi.
1.4.7. Tempat tinggal yang kurang bersih menyebabkan keluarga rentan terkena infeksi
dan penyakit kulit.
1.4.8. Perilaku merokok dan minum alkohol pada Udin dapat beresiko terhadap
kesehatannya.

1.5. Rangkuman Hasil Assessment


Dari hasil assessment yang telah dilakukan pada Udin dan Dewi, keluhan yang sama
terdapat dalam keluarga adalah maag, kurang tidur, dan badan pegal. Menurut pendapat
keluarga, maag merupakan masalah yang paling mengganggu karena sering
mengganggu aktivitas mereka sehari-hari. Mereka juga merasa pekerjaannya sering
terganggu karena keluhan yang membuat mereka tidak nyaman. Intervensi akan
dilakukan berdasarkan prioritas masalah yang telah didapatkan dari hasil assessment ini.

8
BAB II
PEMILIHAN PRIORITAS DAN ALTERNATIF INTERVENSI

2.1. Pemilihan Prioritas


2.1.1. Identifikasi masalah
Tabel 1. Identifikasi masalah
No. Program Target Pencapaian keluarga
1. Jadwal makan - Makan 3 kali sehari - Makan 1-2 kali sehari
diselingin makanan tanpa makanan
ringan ringan. Terkadang
- Makan makanan yang tidak makan seharian
bernutrisi - Makan makanan
seadanya
2. Jadwal tidur - Tidur malam minimal - Tidur malam 2-4 jam
8 jam sehari
- Membuat suasana - Suasana tidur tidak
tidur nyaman nyaman
3. Memperbaiki - Alas tidur diperbaiki - Alas tidur tidak
masalah badan pegal - Tahu tentang cara nyaman
menghilangkan pegal - Belum mengetahui
dengan peregangan masalah yang
- Tahu posisi tidur yang membuat badan pegal
baik dan benar
4. Diare (hanya pada - Bisa cuci tangan - Jarang cuci tangan
salah satu anggota dengan baik dan sebelum makan
keluarga) benar
- Lebih memperhatikan
self-hygiene
5. Merokok dan Kuantitas merokok - Merokok 1
minum alkohol dikurangi dan apabila bungkus/hari
(hanya pada salah mampu disarankan - Minum minuman
satu anggota untuk berhenti merokok keras 1 minggu sekali
keluarga) dan minum minuman
keras

9
2.1.2. Menetapkan prioritas masalah
Prioritas masalah ditetapkan dengan metode USG:
 Urgency: masalah ini mendesak untuk diselesaikan
 Seriousness: masalah ini dapat berdampak serius apabila tidak diselesaikan
 Growth: masalah ini dapat berkembang sehingga sulit untuk dicegah
Tabel 2. Prioritas Masalah
Masalah U (Urgency) S (Seriousness) G (Growth) UxSxG
Maag 4 4 2 32
Badan pegal 2 2 2 8
Kurang tidur 2 2 2 8
Diare 3 3 1 9
Merokok dan minum 1 3 1 3
alkohol
Keterangan:
Tabel ini akan diisi dengan nilai 1-5 pada kolom U, S, dan G berdasarkan kriteria
berikut:
1: Bila tidak segera ditanggulangi tidak akan menimbulkan kematian
2: Bila tidak segera ditanggulangi tidak akan menjadi berat
3: Bila tidak segera ditanggulangi akan berakibat
4: Bila tidak segera ditanggulangi akan menyebabkan komplikasi
5: Bila tidak segera ditanggulangi akan menyebabkan kematian

2.1.3. Mencari akar masalah


Akar masalah dicari dengan menggunakan Teori Blum (1976) dan digambarkan
dalam diagram Fish Bone Ishikawa. Komponennya terdiri atas perilaku (behavior),
lingkungan (environment), pelayanan kesehatan (health services), dan keturunan
(heredity). Pada diagram ini pelayanan kesehatan tidak dimasukkan karena peran
pelayanan kesehatan disini belum ada.

10
Diagram 1. Akar masalah maag

Lingkungan Genetik

Tidak memiliki pilihan


makanan Maag (+)

Tidak ada dapur


MAAG

Sering telat makan


Malas makan
Lebih mementingkan Makan makanan yang
pekerjaan mengiritasi lambung

Perilaku

Diagram 2. Akar masalah badan pegal

Lingkungan Genetik
Alas tidur kurang
memadai Genetik (-)

Tuntutan pekerjaan
BADAN
PEGAL
Posisi tidur kurang baik
Terlalu banyak duduk
Pekerjaan yang berat
Kebanyakan aktivitas
menggunakan otot yang sama
dalam waktu yang lama

Perilaku

11
Diagram 3. Akar masalah kurang tidur

Lingkungan Genetik
Alas tidur kurang
memadai Genetik (-)

Suasana tidak kondusif


KURANG
TIDUR
Terlalu banyak tidur siang
Minum kopi malam
hari
Banyak pikiran

Perilaku

2.2. Alternatif Intervensi


2.2.1. Penetapan alternatif intervensi
Tabel 3. Penetapan alternatif intervensi
No. Jenis Kegiatan Outline Kegiatan Media Outcome
1. Penetapan - Menjelaskan tentang Edukasi - Keluhan maag
jadwal makan keluhannya dan dan berkurang
dampaknya terhadap monitoring - Angka kecukupan
kesehatan gizi harian dapat
- Menanyakan waktu terpenuhi
makan pada biasanya
- Memberikan jadwal
makan pada waktu
yang tepat
- Memberikan saran
makanan yang
sebaiknya dikonsumsi
- Memberikan saran
untuk mengkonsumsi
makanan ringan
2. Penetapan - Menjelaskan dampak Edukasi - Waktu tidur
jadwal tidur dari kurang tidur dan tercukupi

12
terhadap kesehatan monitoring - Merasa lebih
- Menetapkan jadwal produktif pada
tidur yang seharusnya saat kerja
- Memberikan earplug
untuk mengurangi
gangguan saat tidur
- Memakai lotion anti-
nyamuk
3. Memperbaiki - Menjelaskan Edukasi - Keluhan badan
masalah badan penyebabnya dan dan pegal berkurang
pegal dampaknya bagi monitoring - Merasa lebih
tubuh produktif saat
- Menyarankan untuk bekerja
menggunakan alas
tidur yang lebih
memadai
- Mengajarkan cara
peregangan tubuh
untuk mengurangi
pegal
- Mengajarkan posisi
tidur yang benar
4. Diare - Mengajarkan cara Edukasi - Keluhan diare
cuci tangan yang baik dan berkurang
dan benar monitoring - Self hygiene
- Mengajarkan seputar meningkat
tentang self-hygiene
5. Merokok dan - Menjelaskan tentang Edukasi - Berhenti minum
minum alkohol dampak dari rokok dan alkohol
dan minum alkohol monitoring - Kebiasaan
- Menyarankan untuk merokok
mengurangi rokok berkurang/berhent
perhari i
- Menyarankan untuk - Mendapatkan alas

13
berhenti minum tidur yang layak
alkohol
- Menyarankan untuk
mengalokasikan dana
dari rokok dan
minuman alkohol
untuk membeli kasur

2.2.2. Rencana jangka panjang mandiri


 Jadwal makan dilanjutkan untuk mengurangi keluhan maag dan membiasakan
untuk mulai makan makanan yang bernutrisi
 Membiasakan untuk tidur pada jadwal yang telah ditetapkan
 Membiasakan diri untuk berolahraga ringan untuk mengurangi pegal
 Membiasakan diri untuk tidur dan duduk dengan posisi yang baik
 Membiasakan diri untuk memperhatikan self hygiene
 Kebiasaan minum alkohol dan merokok dapat berhenti

14
BAB III
IMPLEMENTASI INTERVENSI

3.1. Monitoring Harian


Implementasi intervensi dilakukan dari 19 November 2016.
3.1.1. Penetapan jadwal makan
 Hari 1 (19 November 2016)
Keluarga diberikan edukasi terlebih dahulu tentang pentingnya makan dan
keuntungan yang didapat apabila makan dengan teratur. Dilakukan juga
edukasi mengenai makanan yang seharusnya dikonsumsi. Penetapan jadwal
makan yang diberikan adalah makan pagi paling lambat jam 9.00, makan siang
jam 14.00 dan makan malam jam 21.00. Edukasi dilakukan pada pagi hari
untuk memastikan keluarga sarapan pagi. Sarapan pagi keluarga pada hari 1
adalah mie ayam yang dibeli di sekitar tempat tinggal. Siangnya Dewi makan
tekwan jam 12.00, sedangkan Udin makan nasi ayam sekitar jam 13.00. Malam
hari, keluarga makan ubi yang direbus sekitar jam setengah 8.
 Hari 2 (20 November 2016)
Hari ini Dewi melewatkan makan pagi karena merasa masih kenyang.
Sedangkan Udin hanya minum kopi dan merokok. Siang hari jam 12 mereka
makan nasi, sayur, dan tempe di warung dekat tempat tinggalnya. Malamnya
mereka makan nasi padang sekitar jam 7.
 Hari 3 (21 November 2016)
Dewi dan Udin melewatkan sarapan pagi, mereka mengaku pada pagi hari
banyak kerjaan. Siang hari Dewi merasa perutnya nyeri sehingga dia
melewatkan makan siang. Udin makan model gandum. Malamnya terlihat
mereka sedang masak kubis dan menggoreng tempe.
 Hari 4 (22 November 2016)
Hari ini dilakukan edukasi ulang agar jadwal makan dapat terpenuhi untuk
mengurangi sakit maag. Udin merasa sakit maagnya tidak mengganggu
aktivitasnya beberapa hari ini. Pagi hari mereka makan nasi uduk, siang
harinya Dewi mie instan sedangkan Udin makan nasi padang. Pada malam hari
mereka makan nasi dan biawak.
 Hari 5 (23 November 2016)
Pagi hari mereka makan bakpau kacang. Siang harinya Dewi mengaku ada
mengkonsumsi gorengan sekitar jam 10 setelah itu makan nasi ayam. Udin
15
juga ada makan gorengan dan makan siang nasi ayam. Malamnya mereka
makan nasi dan tahu isi sayuran.
 Hari 6 (24 November 2016)
Pagi hari Dewi terlihat sedang memakan roti sedangkan Udin minum kopi dan
merokok. Siang hari Dewi dan Udin makan gado-gado. Malam harinya mereka
nasi, ikan, dan tumis tauge. Setelah dilakukan anamnesis Dewi mengatakan
bahwa sakit maagnya berkurang setelah ia mencoba makan dengan teratur.
 Hari 7 (25 November 2016)
Pagi hari mereka makan cakwe dan minum kopi. Siangnya mereka makan nasi
dan tumis kangkung. Malamnya mereka makan gado-gado. Setelah dilakukan
anamnesis, Udin dan Dewi mengatakan bahwa makan dengan teratur telah
mengurangi keluhan maag yang mereka rasakan.

3.1.2. Penetapan jadwal tidur


 Hari 1 (19 November 2016)
Keluarga diberikan edukasi mengenai pentingnya tidur yang cukup. Keluarga
juga diberitahukan tentang kemungkinan penyebab tidur yang kurang nyenyak
seperti adanya gangguan suara, tidak nyamannya tempat tidur yang mereka
gunakan sekarang ini. Kemungkinan juga kurang nyaman karena banyak
serangga yang mengganggu. Jadwal tidur yang telah ditetapkan yaitu jam 10
sebaiknya tidur dan paling telat jam 11. Keluarga diberikan earplug.
 Hari 2 (20 November 2016)
Hari ini mereka mengaku masih belum bisa tidur dengan nyenyak karena
merasa tidak nyaman dengan earplug. Dewi mengatakan bahwa dia tidak bisa
tidur karena banyak pikiran, sedangkan Udin mengatakan dia sudah terlelap
sekitar jam 11 lewat
 Hari 3 (21 November 2016)
Dewi masih belum bisa tidur lebih awal karena ia mengaku terlalu banyak tidur
siang. Udin mengatakan bahwa siklus tidurnya lumayan membaik karena
biasanya tidur jam 2-3 subuh sedangkan sekarang ia bisa tidur jam 12.
Keluarga diberikan lotion anti nyamuk.
 Hari 4 (22 November 2016)
Dewi mengatakan masih belum bisa tidur lebih awal karena telah terbiasa tidur
siang. Udin mengatakan ia paling cepat tidur jam 12.

16
 Hari 5 (23 November 2016)
Dewi tidur jam 11 malam tetapi ia mengatakan bahwa mungkin karena lelah
dengan pekerjaan. Udin seperti biasa tidur jam 12 malam.
 Hari 6 (24 November 2016)
Dewi tidur jam 11 malam dan Udin tidur jam 12 kurang.
 Hari 7 (25 November 2016)
Dewi dan Udin tidur jam 11 malam. Selama seminggu ini mereka cukup
merasa nyaman karena gangguan akibat serangga sudah hilang. Tapi mereka
merasa kurang nyaman dengan alas tidurnya.

3.1.3. Memperbaiki masalah badan pegal


 Hari 1 (19 November 2016)
Hari 1 dilakukan edukasi tentang penyebab badan pegal selama ini yang
mungkin disebabkan karena posisi dan alas tidurnya serta terlalu sering duduk.
Diberikan juga edukasi tentang cara peregangan yang bisa dilakukan dengan
mudah. Disarankan juga kepada keluarga untuk melakukan peregangan ini
setiap pagi.
 Hari 3 (21 November 2016)
Badan pegal masih terasa karena Udin sering tidur di becak sedangkan Dewi
mengatakan bahwa pegalnya sedikit berkurang setelah peregangan. Keluarga
sering lupa untuk melakukan peregangan. Posisi tidur biasanya masih
dilakukan seperti biasa karena mereka merasa bahwa posisi tidurnya sudah
nyaman.
 Hari 5 (23 November 2016)
Udin merasa tidak pegal lagi setelah ia mengurangi tidur siang di becak. Dia
juga merasa pegalnya sudah berkurang setelah ia melakukan peregangan. Dewi
masih mengeluh pegal.
 Hari 7 (25 November 2016)
Udin sudah tidak pegal lagi, sedangkan Dewi masih. Hal ini kemungkinan
karena Dewi terlalu sering duduk dan alas tidurnya yang kurang baik.
3.1.4. Diare
 Hari 1 (19 November 2016)
Hari pertama dilakukan edukasi mengenai diare dan kira-kira penyebabnya.
Dewi dan Udin diedukasi juga cara cuci tangan yang baik dan benar.

17
Memberikan edukasi sedikit tentang self hygiene (gosok gigi 2 kali sehari,
mandi 2 kali sehari, tidur jangan dengan hewan peliharaan)
 Hari 3 (21 November 2016)
Hari ini Dewi mengatakan bahwa BABnya sedikit cair tetapi hanya sekali.
Dewi dan Udin masih lupa langkah cuci tangan.
 Hari 5 (23 November 2016)
Dewi tidak diare hari ini. Dewi dan Udin ingat semua langkahnya tetapi lupa
urutannya.
 Hari 7 (25 November 2016)
Dewi mengatakan dia terkadang lupa cuci tangan tetapi sudah lebih peduli
dengan kebersihan tangannya dibandingkan sebelum intervensi. Dia juga
mengatakan 1 minggu hanya sekali diare. (biasanya 2-3 hari sekali)

3.1.5. Merokok dan minum alkohol


 Hari 1 (19 November 2016)
Pada hari pertama dilakukan edukasi mengenai bahaya merokok dan minum
alkohol. Udin setuju untuk mencoba mengurangi rokoknya dengan
memberikan rokoknya ke Dewi untuk disimpan. Hari 1 Udin masih merokok 1
bungkus
 Hari 3 (21 November 2016)
Hari ini Udin hanya merokok 10 batang. Dewi mengatakan bahwa Udin cukup
patuh untuk mengurangi rokoknya.
 Hari 5 (23 November 2016)
Hari ini Udin bisa hanya merokok 8 batang. Dewi mengatakan bahwa Udin
memiliki niat yang kuat untuk berhenti merokok.
 Hari 7 (25 November 2016)
Udin hanya merokok 5 batang. Udin mengatakan bahwa ia memang ingin
berhenti merokok sejak lama. Udin juga mengatakan bahwa uangnya akan ia
tabung untuk membeli tempat tidur. Udin juga tidak minum alkohol lagi.

3.2. Masalah Selama Implementasi


3.2.1. Apabila sedang sibuk mereka kadang melewatkan jam makannya, tetapi mereka
mengatakan bahwa mereka tetap mencoba makan walaupun jamnya telat. Mereka

18
juga mengatakan bahwa mereka tidak suka makan snack ringan karena merasa
makan siang sudah cukup
3.2.2. Masih sering tidur larut malam karena tidak nyaman menggunakan earplug
sehingga masih sering terganggu. Dewi mengatakan bahwa sebenarnya ia ingin
tidur tetapi banyak pikiran dan kemungkinan karena terlalu sering tidur siang.
3.2.3. Merasa tidak ada waktu untuk melakukan peregangan pada pagi hari karena ada
pekerjaan.
3.2.4. Sering lupa mencuci tangan saat sebelum dan sesudah makan.
3.2.5. Merasa alas tidur bukan merupakan masalah dan merasa bahwa tidurnya bisa
dicukupi dengan tidur siang.

3.3. Dokumentasi
 Dewi dan Udin sudah mulai memperhatikan makannya

19
 Mengajarkan cuci tangan dengan baik dan benar

20
 Upgrade tempat tinggal dan becak

 Edukasi tentang tidur dan pemberian lotion anti nyamuk

21
 Edukasi peregangan

3.4. Rangkuman Hasil Intervensi


3.4.1. Penetapan jadwal makan
 Keluarga mulai teratur untuk makan dan makanannya sudah cukup baik
dibandingkan sebelumnya.
 Keluarga merasa lebih baik karena keluhannya maagnya sudah berkurang
3.4.2. Penetapan jadwal tidur
 Keluarga masih belum bisa untuk tidur dengan nyaman kemungkinan karena
alas tidurnya yang belum diperbaiki
 Keluarga masih kesulitan untuk mengikuti jadwal tidur dan masih lebih senang
tidur siang
3.4.3. Memperbaiki masalah badan pegal
 Keluarga masih merasa badannya pegal tetapi sudah cukup berkurang karena
peregangan
 Peregangan terasa masih belum efektif dan efisien karena alas tidurnya belum
diganti dan mereka sering lupa melakukan peregangan

22
3.4.4. Diare
 Keluhan diare sudah berkurang
 Keluarga lebih peduli dengan kebersihan diri
3.4.5. Merokok dan minum alkohol
 Udin bisa mengurangi jumlah rokoknya menjadi setengah bungkus per hari
 Udin tidak minum alkohol lagi.

23
BAB IV
EVALUASI

4.1. Pembahasan Hasil Intervensi


Pada keluarga binaan ini, seluruh alternatif intervensi dilakukan agar kualitas
kesehatan mereka dapat diperbaiki dengan segera. Intervensi pada keluarga ini lebih
kepada perilaku anggota keluarga karena sebagian besar masalah kesehatan pada
keluarga ini berdasar pada perilaku yang kurang baik. Keluarga sebelumnya tidak
menyadari bahwa perilaku mereka berpengaruh pada kesehatan mereka. Implementasi
intervensi lebih difokuskan pada 3 prioritas masalah teratas (maag, kurang tidur, dan
badan pegal). Pada proses implementasi intervensi, keluarga cukup kooperatif dalam
melaksanakan intervensi.
Intervensi prioritas masalah pertama adalah maag. Masalah ini ditemukan pada
kedua anggota keluarga dan menurut mereka masalah ini sering mengganggu
pekerjaannya. Program penetapan jadwal makan merupakan program yang cukup
sederhana tetapi memiliki pengaruh yang cukup besar. Walaupun keluarga terkadang
masih sering melewatkan makannya, tetapi keluhan maag keluarga berkurang. Keluarga
juga sadar bahwa dengan mereka mengikuti jadwal makan yang telah ditetapkan dapat
mengatasi keluhan yang selama ini mereka alami. Keluarga sudah mulai memperhatikan
asupan nutrisinya yang dapat terlihat saat Dewi mulai makan sayur-sayuran dan daging.
Hasil intervensi ini telah mencapai outcome yang telah ditentukan yaitu keluhan maag
berkurang dan angka kecukupan gizi harian dapat terpenuhi.
Penetapan jadwal tidur merupakan salah satu intervensi yang dilakukan untuk
mengatasi kurangnya kebutuhan tidur keluarga. Keluarga merasa kurangnya kecukupan
tidur ini akibat tidak nyamannya alas tidur dan suasana yang tidak mendukung tidur
seperti suasana yang berisik dan banyak serangga. Intervensi awal dilakukan dengan
edukasi terlebih dahulu tentang pentingnya tidur yang cukup serta dampaknya terhadap
kesehatan. Setelah itu, diberikan jadwal tidur serta earplug dan lotion anti-nyamuk.
Penggunaan earplug membuat mereka kurang nyaman sehingga mereka memutuskan
untuk tidak melakukan intervensi tersebut. Keluarga cukup kooperatif dalam penetapan
jadwal tidur ini tetapi keluarga memiliki kesulitan dalam melaksanakannya. Kebiasaan
tidur sehari-hari membuat mereka terhambat dalam menepati jadwal tidur yang telah
ditentukan. Mereka juga merasa kebutuhan tidur dapat dipenuhi pada saat siang hari.
Pada akhir intervensi, kebutuhan tidur mereka masih belum tercukupi sehingga
seringkali terlihat keluarga mengisi waktu kerjanya dengan tidur di siang hari. Hal ini
24
mengurangi produktivitas mereka dalam bekerja. Outcome yang diinginkan pada akhir
intervensi belum tercapai sehingga dibutuhkan alternatif intervensi lain.
Masalah keluarga tentang badan pegal masih berhubungan dengan masalah
kurang tidur yang dialaminya. Alas tidur yang kurang memadai dan kurang nyaman
menyebabkan tidur yang kurang nyenyak dan keluhan badan pegal. Salah satu
intervensi sederhana yang dilakukan adalah dengan mengedukasi penyebab badan pegal
dan dampaknya, serta mengajarkan cara melakukan peregangan sederhana untuk
mengurangi rasa pegal. Intervensi yang dilakukan ini belum bisa menghilangkan
penyebab masalah ini tetapi dapat mengatasi keluhan yang timbul. Akhir intervensi
keluhan badan pegal pada Udin sudah menghilang kemungkinan karena aktivitas Udin
sehari-hari lebih aktif dibandingkan Dewi. Dewi lebih sering duduk sehingga dapat
menambah beban di punggungnya yang menimbulkan keluhan badan pegal. Sebaiknya
dilakukan penggantian alas tidur pada keluarga ini agar dapat menghilangkan keluhan
pegal jangka panjang.
Self-hygiene pada keluarga ini kurang memadai yang dapat terlihat dari keluhan
diare Dewi. Edukasi tentang self-hygiene dan dampaknya terhadap kesehatan telah
dilakukan. Keluarga sadar bahwa kebersihan diri mereka kurang. Intervensi yang
dilakukan yaitu berupa edukasi cara cuci tangan yang benar dan juga pemberian hand-
sanitizer kepada keluarga sebagai alternatif karena hand-sanitizer dirasa lebih fleksibel
dan portable bagi keluarga dengan akses air bersih yang tidak mudah. Keluhan diare
pada Dewi berkurang dari 2-3 hari sekali menjadi hanya 1 kali seminggu. Alternatif
jangka panjang yaitu membiasakan diri untuk memperhatikan self-hygiene dimulai dari
hal sederhana yaitu cuci tangan.
Perilaku salah satu keluarga (Udin) merokok dan minum alkohol ikut diintervensi
berdasarkan niat dari anggota keluarga itu sendiri. Udin sadar tentang bahya merokok
dan minum alkohol sehingga ia memutuskan untuk mencoba berhenti pada kesempatan
ini. Udin sudah berhasil mengurangi rokoknya sampai 5 batang perhari dari 16 batang,
Terlihat niat Udin cukup kuat berdasarkan keterangan Dewi. Udin juga sudah berusaha
untuk tidak minum alkohol seminggu penuh. Outcome pada intervensi ini tercapai
sehingga intervensi yang telah dilakukan sebaiknya tetap dilakukan sebagai intervensi
jangka panjang.
Keluarga cukup kooperatif ketika diberikan edukasi dan mau melakukan
intervensi tersebut. Dari 5 masalah keluarga, 3 masalah telah mengalami perbaikan
melalui intervensi yang dilakukan selama seminggu. Intervensi jangka panjang tetap
harus dilakukan untuk mencapai outcome yang ditetapkan.
25
4.2. Keterbatasan Selama Intervensi
4.2.1. Keluarga jarang hadir secara bersamaan sehingga intervensi yang dilakukan kurang
efisien
4.2.2. Waktu kerja keluarga fluktuatif sehingga cukup sulit untuk menemukan waktu
untuk melakukan edukasi bersama
4.2.3. Anggota keluarga tidak saling mendukung dan mengingatkan dalam melakukan
intervensi
4.2.4. Terkadang salah satu anggota keluarga menolak untuk mengikuti kegiatan
intervensi karena salah satunya sudah melakukannya terlebih dahulu
4.2.5. Keluarga masih sering lupa langkah-langkah yang telah diajarkan
4.2.6. Keluarga terkadang masih melakukan kebiasaan buruk (jarang makan, tidur larut
malam, tidak cuci tangan)

4.3. Feedback dari Anggota Keluarga


Feedback anggota keluarga mengenai program intervensi yang telah dilakukan
yaitu keluarga merasa banyak belajar tentang kesehatan. Mereka juga mulai mengetahui
dampak-dampak dari perilaku mereka terhadap kesehatan. Walaupun ada beberapa
keterbatasan selama intervensi, keluarga tetap mencoba menyempatkan diri untuk
memperhatikan kesehatannya. Intervensi yang telah diterapkan juga cukup mudah dan
sederhana bagi mereka sehingga memudahkan mereka untuk terus melakukannya untuk
jangka panjang. Dampak positif juga mereka rasakan dari berkurangnya keluhan maag,
keluhan diare, dan perilaku merokok dan minum alkohol.

4.4. Refleksi Diri


Walaupun masih banyak kekurangan pada intervensi ini, saya sudah bisa mencoba
memotivasi keluarga untuk memperhatikan kesehatan mereka dari sisi yang sederhana
terlebih dahulu. Saya juga harus menjadi teladan bagi mereka agar mereka dapat terus
termotivasi. Perubahan yang baik haruslah didasari dari diri sendiri terlebih dahulu.
Dalam hal ini, mereka harus memiliki niat yang kuat untuk berubah menjadi lebih baik.
Tugas keluarga binaan ini membuat saya banyak belajar dalam hal komunikasi dengan
keluarga tersebut, bagaimana mendorong mereka untuk melakukan intervensi yang
direncanakan, kritis dalam menemukan masalah dalam keluarga, dan mengerti kondisi
keluarga tersebut sehingga intervensi yang diimplementasikan dapat menyesuaikan
dengan situasi yang ada.
26
“Progress is impossible without change, and those who cannot change their minds
cannot change anything” –George Bernard Shaw

4.5. Saran untuk Perbaikan


Keterbatasan selama implementasi intervensi sebaiknya bisa diminimalisir dengan
mencari alternatif intervensi lain yang lebih sederhana. Komunikasi antar keluarga juga
seharusnya diedukasi agar sesama anggota keluarga dapat saling memotivasi dalam
melakukan intervensi tersebut. Keluarga sebaiknya terus menerus diingatkan sampai hal
tersebut menjadi kebiasaan yang baik.

27