Anda di halaman 1dari 19

Departemen Keperawatan Medikal Bedah

BAB I
KONSEP DASAR MEDIS
1. DEFINISI
Fraktur merupakan suatu keadaan dimana terjadi di istregritas tulang,
penyebab terbanyak adalah insiden kecelakaan tetapi factor lain seperti proses
degenerative juga dapat berpengaruh terhadap kejadian fraktur (Brunner &
Suddarth, 2008 ).
Fraktur terjadi jika tulang dikenai stress atau beban yang lebih besar dan
kemampuan tulang untuk mentolelir beban tersebut. Fraktur dapat
menyebabkan disfungsi organ tubuh atau bahkan dapat menyebabkan
kecacatan atau kehilangan fungsi ekstremitas permanen,selain itu komplikasi
awal yang berupa infeksi dan tromboemboli (emboli fraktur) juga dapat
menyebabkan kematian beberapa minggu setelah cedera, oleh karena itu
radiografi sudah memastikan adanya fraktur maka harus segera dilakukan
stabilisasi atau perbaikan fraktur( Brunner & Sudart, 2002).
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang
dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. (smeltzer & Bare, 2002).
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan tulang rawan yang
umumnya disebabkan oleh rudapaksa. Fraktur biasanya disebabkan oleh
trauma atau tegangan fisik. (Mansjoer ,2002).
2. ETIOLOGI
a. Trauma Langsung (Direk)
Trauma langsung menyebabkan patah tulang pada titik terjadinya
kekerasan/trauma itu, misalnya : Trauma akibat kecelakaan.
b. Trauma Tidak Langsung (Indirek)
Trauma tidak langsung menyebabkan patah tulang di tempat jauh dari
tempat terjadinya kekerasan/trauma, bagian yang patah biasanya
merupakan bagian yang paling lemah dalam hantaran fektor kekerasan.

Program Studi Profesi Ners Angkatan XIII UIN Alauddin Makassar Page 1
Muh. Indra Jaya, S.Kep (70900117019)
Departemen Keperawatan Medikal Bedah

c. Patologis
Disebabkan oleh adanya proses patologis. Misalnya: Tumor, Infeksi
atau osteoporosis tulang karena disebabkan oleh kekuatan tulang yang
berkurang.
d. Kelelahan/Stress
Misalnya pada olahragawan atau orang yang baru saja meningkatkan
kegiatan fisik, misalnya: pelatihan pada calon tentara. Di mana ini
diakibatkan oleh beban lama atau trauma yang terus-menerus.
3. PATOFISIOLOGI
Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekuatan dan gaya pegas
untuk menahan tekanan. Tapi apabila tekanan eksternal yang datang lebih
besar dari yang dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma pada tulang
yang mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang.
Patofisiologi fraktur adalah jika tulang mengalami fraktur, maka
periosteum, pembuluh darah di korteks, marrow dan jaringan disekitarnya
rusak. Terjadi pendarahan dan kerusakan jaringan di ujung tulang.
Terbentuklah hematoma di canal medulla. Pembuluh-pembuluh kapiler dan
jaringan ikat tumbuh ke dalamnya., menyerap hematoma tersebut, dan
menggantikannya. Jaringan ikat berisi sel-sel tulang (osteoblast) yang berasal
dari periosteum. Sel ini menghasilkan endapan garam kalsium dalam jaringan
ikat yang di sebut callus. Callus kemudian secara bertahap dibentuk menjadi
profil tulang melalui pengeluaran kelebihannya oleh osteoclast yaitu sel yang
melarutkan tulang. Pada permulaan akan terjadi pendarahan disekitar patah
tulang, yang disebabkan oleh terputusnya pembuluh darah pada tulang dan
periost, fase ini disebut fase hematoma. Hematoma ini kemudian akan
menjadi medium pertumbuhan sel jaringan fibrosis dengan kapiler
didalamnya. Jaringan ini yang menyebabkan fragmen tulang-tulang saling
menempel, fase ini disebut fase jaringan fibrosis dan jaringan yang
menempelkan fragmen patah tulang tersebut dinamakan kalus fibrosa.
Program Studi Profesi Ners Angkatan XIII UIN Alauddin Makassar Page 2
Muh. Indra Jaya, S.Kep (70900117019)
Departemen Keperawatan Medikal Bedah

Kedalam hematoma dan jaringan fibrosis ini kemudianjuga tumbuh sel


jaringan mesenkin yang bersifat osteogenik. Sel ini akan berubah menjadi sel
kondroblast yang membentuk kondroid yang merupakan bahan dasar tulang
rawan. Kondroid dan osteoid ini mula-mula tidak mengandung kalsium
hingga tidak terlihat foto rontgen. Pada tahap selanjutnya terjadi penulangan
atau osifikasi. Kesemuanya ini menyebabkan kalus fibrosa berubah menjadi
kalus tulang.
Penyebab lain fraktur adalah dapat bermacam-macam, termasuk (1)
dorongan langsung pada tulang; (2) fraktur spontan karena kondisi patologik
yang mendasarinya, seperti rikatsia; (3) kontraksi otot yang kuat dan tiba-tiba;
dan (4) dorongan tidak langsung (mis, terpukul benda terbang) dari jarak jauh.
Penyebab lainnya adalah penganiayaan anak, neuroblastoma metastatik,
sarcoma Ewing, sarkoma osteogenik, osteogenesis imperfekta, rakhitism
defisiensi tembaga, osteomielitis, cedera overuse, dan imobilisasi.
4. KLASIFIKASI
a. Menurut ada tidaknya hubungan antara patahan tulang dengan dunia luar.
1) Patah tulang terbuka (Compound fraktur)
Dikatakan patah tulang terbuka bila tulang yang patah menembus
otot dan kulit yang memungkinkan untuk menjadi infeksi dimana
kuman dari luar dapat masuk kedalam luka sampai ke tulang yang
patah.
Derajat patah tulang terbagi atas 3, yaitu :
 Derajat I
Laserasi < 1 cm, fraktur sederhana, dislokasi fragmen minimal.
 Derajat II
Laserasi < 1 cm, kontusi otot dan sekitarnya,lokasi fragmen jelas.
 Derajat III
Luka lebar, rusak hebat atau hilangnya jaringan sekitar.

Program Studi Profesi Ners Angkatan XIII UIN Alauddin Makassar Page 3
Muh. Indra Jaya, S.Kep (70900117019)
Departemen Keperawatan Medikal Bedah

2) Patah tulang tertutup (Simple fraktur)


Pada patah tulang tertutup, fraktur tidak meluas melewati
kulit/jaringan kulit tidak robek.
b. Menurut derajat kerusakan tulang :
1) Patah tulang lengkap ( Complete fraktur )
Dikatakan patah tulang lengkap bila patahan terpisah satu dengan
lainnya dan fragmen tulang biasanya berubah tempat.
2) Patah tulang tidak lengkap ( Incomplete fraktur )
Dikatakan patah tulang tidak lengkap bila antara patahan tulang
masih terjadi hubungan sebagian. Patah tulang tidak lengkap terdiri
dari :
a) Hair line fraktur (patah retak rambut)
b) Burckle fraktur (torus faktur), terjadi lipatan dari satu korteks
dengan kompressi tulang spongiosa dibawahnya
c) Greenstick fraktur (patah tangkai dahan muda) mengenai satu
korteks dengan angulasi korteks lainnya.
c. Menurut garis patah tulang (Deskriptif Fraktur)
1) Fraktur Tranversal
Fraktur yang arahnya langsung melintas tulang (Patah Tulang
Melintang.
2) Fraktur Oblik/Miring
Garis patah tulang membentuk sudut terhadap sum-sum tulang.
3) Fraktur Spiral
Garis Fraktur berbentuk spiral, diakibatkan karena terpilihnya
ektremitas fraktur.
4) Fraktur Segmental
Dua fraktur yang berdekatan yang mengisolasi segmen sentral dari
suplai darah.

Program Studi Profesi Ners Angkatan XIII UIN Alauddin Makassar Page 4
Muh. Indra Jaya, S.Kep (70900117019)
Departemen Keperawatan Medikal Bedah

5) Fraktur Komunitif
Garis patah saling berpotongan dan terjadi di fragmen-fragmen
tulang atau tulang dalam keadaan remak..
6) Fraktur Kompresi
Terjadi apabila permukaan tulang terdorong kearah permukaan yang
lain.
7) Fraktur Patologis
Fraktur yang terjadi melalui daerah-daerah tulang yang telah
melemah akibat infeksi, tumor, osteoporosis atau proses patologis
lainnya.
5. INSIDEN
a. Fraktur pelvis adalah fraktur skelet yang hanya sedikit terdapat pada anak-
anak; fraktur ini terdapat pada urutan kedua dalam morbiditas dan
mortalitas.
b. Kebanyakan fraktur terjadi pada pejalan kaki
c. Fraktur tengkorak terdapat pada urutan pertama morbiditas dan mortalitas
d. Cedera pada lempeng pertumbuhan terdapat pada sepertiga trauma
skeletal
6. MANIFESTASI KLINIK
a. Nyeri, yang hilang dengan beristirahat
b. Nyeri tekan
c. Bengkak
d. Kerusakan fungsi, pincang
e. Gerakan terbatas
f. Ekimosis di sekitar lokasi
g. Krepitus di sisi fraktur
h. Status neurovaskuler pada daerah distal dari tempat fraktur mengalami
penurunan
i. Atrofi distal
Program Studi Profesi Ners Angkatan XIII UIN Alauddin Makassar Page 5
Muh. Indra Jaya, S.Kep (70900117019)
Departemen Keperawatan Medikal Bedah

7. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK/PENUNJANG
a. X.Ray dilakukan untuk melihat bentuk patahan atau keadaan tulang yang
cedera terutama pada pasien fraktur tertutup.
b. Bone scans, Tomogram, atau MRI Scans
c. Arteriogram : dilakukan bila ada kerusakan vaskuler.
d. CCT kalau banyak kerusakan otot.
e. Pemeriksaan Darah Lengkap
Lekosit turun/meningkat, Eritrosit dan Albumin turun, Hb, hematokrit
sering rendah akibat perdarahan, Laju Endap Darah (LED) meningkat bila
kerusakan jaringan lunak sangat luas, Pada masa penyembuhan Ca
meningkat di dalam darah, trauma otot meningkatkan beban kreatinin
untuk ginjal. Profil koagulasi: perubahan dapat terjadi pada kehilangan
darah, transfusi multiple, atau cederah hati.
8. DIAGNOSIS FRAKTUR
a. Anamnesis
Misalnya adanya trauma tertentu seperti jatuh, tertumbuk dan barapa
kuatnya trauma tersebut, keluhan nyeri, dsb.
b. Pemeriksaan Fisik
Inspeksi :Terlihat pasien kesakitan, terdapat pembengkakan,
perubahan bentuk berupa bengkok, berputar, pemendekan,
dll.
Palpasi : Terdapat nyeri objektif, yaitu berupa nyeri tekan.
c. Pemeriksaan Gerak Persendian: Aktif/Pasif
d. Pemeriksaan klinis : Untuk mencari adanya akibat komplikasi dari trauma,
misalnya komplikasi vaskuler dan naurologis.
e. Pemeriksaan radiology: Foto ronsen (Menentukan lokasi/luasnya
fraktur/trauma)
f. Skan tulang, tomogram, scan CT/MRI (Memperlihatkan fraktur; juga
dapat digunakan untuk mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak)
g. Arteriogram : Dilakukan bila kerusakan vaskuler dicuragai

Program Studi Profesi Ners Angkatan XIII UIN Alauddin Makassar Page 6
Muh. Indra Jaya, S.Kep (70900117019)
Departemen Keperawatan Medikal Bedah

h. Hitung darah lengkap : Ht mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau


menurun (perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada
trauma multiple). Peningkatan jumlah SDP adalah respon stres normal
setelah trauma.
i. Kreatinin : Trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens ginjal
j. Profil koagulasi : Perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah, tranfusi
multiple, atau cedera hati.
9. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan patah tulang prinsipnya adalah :
a. Mengembalikan bentuk tulang seperti semula (reposisi)
b. Mengembalikan posisi itu selama masa penyembuhan patah tulang dengan
menggunakan immobilisasi.
c. Mobilisasi berupa latihan-latihan seluruh sistem gerak untuk
mengembalikan fungsi anggota badan sepetri sebelum patah.
Ada 4 konsep dasar yang harus dipertimbangkan pada penanganan fraktur
(4R), Yaitu :
1) Kognisi (Pengenalan)
Riwayat kecelakaan, parah tidaknya, jenis kekuatan yang berperan dan
deskriptif tentang kejadian tersebut.
Menentukan kemungkinan tulang yang patah yang dialami dan
kebutuhan pemeriksaan spesifik untuk fraktur.
Kelainan bentuk yang nyata dapat menentukan diskontinuitas
integritas rangka. Perkiraan diagnosis fraktur pada tempat kejadian
dapat dilakukan sehubungan dengan adanya rasa nyeri dan bengkok
lokal dan kelainan bentuk.

2) Reduksi
Program Studi Profesi Ners Angkatan XIII UIN Alauddin Makassar Page 7
Muh. Indra Jaya, S.Kep (70900117019)
Departemen Keperawatan Medikal Bedah

Reduksi adalah usaha dan tindakan untuk memanipulasi


fragmen-fragmen tulang yang patah agar sedapat mungkin dapat
kembali seperti letak asalnya.
3) Retensi Reduksi (Mempertahankan Reduksi)
 Pemasangan Gips.
Untuk fiksasi luar fraktur, dipasang gips spalk atau gips
sirkulair. Perban gips biasanya dipakai pada fraktur tungkai bawah
karena biasanya akan terjadi oedema. Setelah oedema menghilang
baru diganti dengan gips sirkulair.
 Traksi
Traksi adalah usaha untuk menarik tulang yang patah untuk
mempertahankan keadaan reposisi. Secara umum traksi didapatkan
dengan penempatan beban berat sehingga arah tarikan segaris
dengan sumbu panjang tulang fraktur.
 Tindakan Pembedahan
Reposisi terbuka dilakukan melalui operasi/pembedahan.
Metode perawatan ini disebut ORIF (Open Reduction Internal
Fixation) dan OREF (Open Reduction External Fixtion).
Pada metode tersebut reduksi fragmen-fragmen fraktur
distabilisasi dengan menggunakan peralatan ortopedis yang
sesuai,misalnya pin, skrup, plat dan paku.
4) Rehabilitasi
Rencana program rehabilitasi yang paling rasional sudah harus
dimulai sejak permulaan perawatan di rumah sakit dan oleh karena itu
keadaan memungkinkan harus segara dimulai untuk menpertahankan
kakuatan anggota tubuh dan mobilisasi.

10. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYEMBUHAN TULANG

Program Studi Profesi Ners Angkatan XIII UIN Alauddin Makassar Page 8
Muh. Indra Jaya, S.Kep (70900117019)
Departemen Keperawatan Medikal Bedah

a. Faktor yang mempercepat penyembuhan fraktur


1) Mobilisasi fragmen tulang
2) Kontak fragmen tulang maksimal
3) Asupan darah yang memadai
4) Nutrisi yang baik
5) Latihan pembebanan yang berat badan untuk tulang panjang
6) Hormon-hormon pertumbuhan, tiroid, kalsitonin, vitamin D, steroid
anabolik
7) Potensial listrik pada patahan tulang
b. Faktor yang menghambat penyembuhan tulang
1) Trauma lokal ektensif
2) Kehilangan tulang
3) Imobilisasi tak memadai
4) Rongga atau jaringan diantara fregmen hilang
5) Infeksi
6) Keganasan lokal
7) Penakit tulang metabolik ( mis. Penyakit paget )
8) Radiasi tulang ( nekrosit radiasi )
9) Nekrisis avoskuler
10) Fraktur intra artikuler ( cairan sinovial mengandung fibrolisin, yang
akan melisis bekuan darah awal dan memperlambat pembekuan
jendalan )
11) Usia (lansia sembuh lebih lama)
12) Kortikosteroid ( menghambat kecepatan perbaikan )
11. TAHAPAN PROSES PENYEMBUHAN
a. Stadium I : Pembentukan hematoma
Pembuluh darah robek dan terbentuk hematoma disekitar daerah
fraktur. Sel-sel darah membentuk fibrin guna melindungi tulang yang

Program Studi Profesi Ners Angkatan XIII UIN Alauddin Makassar Page 9
Muh. Indra Jaya, S.Kep (70900117019)
Departemen Keperawatan Medikal Bedah

rusak dan sebagai tempat tumbuhnya kapiler baru dan fibroblast. Stadium
ini berlangsung 24-48 jam dan perdarahan sama sekali.
b. Stadium II : Proliperasi Seluler
Pada stadium ini terjadi proliferasi sel menjadi fibro kartilago yang
berasal dari periosteum dan endosteum yang telah mengalami trauma. Sel-
sel yang mengalami proliferasi ini terus masuk kedalan lapisan yang lebih
dalam dan disanalah osteoblas beregenerasi dab terjadi proses
osteogenesis. Dalam beberapa hari terbentuklah tulang baru yang
menggabungkan kedua fragmen tulang yang patah, fase ini berlangsung
selam 8 jam setelah fraktur sampai selasai, tergantung frakturnya.
c. Stadium III : Pembentukan kalus
Sel-sel yang berkembang memiliki potensi yang kondrogenik dan
osteogenik, bila diberikan keadaan yang tepat, sel tersebut akan mulai
membentuk tulang dan juga kartilago. Populasi sel ini dipengaruhi oleh
kegiatan osteoblast dan osteoklast mulai berfungsi dengan mengabsorbsi
sel-sel tulang yang mati massa sel yang tebal dengan tulang yang imatur
dan kartilago, Membentuk kallus atau bebat pada permukaan endotel dan
periosteal. Sementara tulang yang imatur (nyaman tulang) menjadi lebih
padat sehingga gerakan pada fraktur berkurang pada 4 minggu setelah
fraktur menyatu.
d. Stadium IV : Konsolidasi
Bila aktivitas osteoklast dan osteoblast berlanjut, nyaman tulang
berubah menjadi laminar. Sistem ini sekarang cukup kaku dan
memungkinkan osteoklast menerobos melalui reruntuhan pada garis
fraktur dan tepat di belakangnya osteoklast mengisi celah-celah yang
tersisa diantara fragmen dengan tulang yang baru. Ini adalah proses yang
lambat dan mungkin perlu beberapa bulan sebelum tulang kuat untuk
membawa beban yang normal.

Program Studi Profesi Ners Angkatan XIII UIN Alauddin Makassar Page 10
Muh. Indra Jaya, S.Kep (70900117019)
Departemen Keperawatan Medikal Bedah

e. Stadium V : Remodelling
Pada stadium ini fraktur telah dijembatani oleh suatu manset tulang
yang padat. Selam beberapa bulan atau tahun. Pengelasan kasar ini
dibentuk ulang oleh proses reabsorbsi dan pembentukan tulang yang
terus-menerus.lamenar yang lebih tebal di kehendaki di buang, rongga
sum-sum dibentuk dan akhirnya dibentuk struktur yang mirip dengan
normalnya.
12. KOMPLIKASI
a. Komplikasi jangka pendek
1. Kerusakan arteri
Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai tidak adanya nadi,
cyanosis bagian distal, tulang, hematoma yang melebar dan dingin
pada ekstremitas yang disebabkan oleh tindakan perubahan posisi pada
yang sakit , reduksi dan pembedahan.
2. Compertment Syndrome
Compartment Syndrome merupakan komplikasi serius yang terjadi
karena terjebaknya otot, tulang, saraf dan pembuluh darah dala
jaringan parut. Ini di sebabkan oleh oedema atau perdarahan yang
menekan otat, saraf, dan pembuluh darah. Selai itu karena tekana dari
luar seperti gips dan bebetan yang terlalu kuat.
3. Fat Embblism Syndrome
Fat Embblism Syndrome adalah komplikasi yang serius yang sering
terjadi pada kasus fraktur tulang panjang.
4. Infeksi
Infeksi dapat terjadi karena system pertahan tubuh rusak bila ada
trauma pada jaringan.
5. Shock

Program Studi Profesi Ners Angkatan XIII UIN Alauddin Makassar Page 11
Muh. Indra Jaya, S.Kep (70900117019)
Departemen Keperawatan Medikal Bedah

b. Komplikasi jangka panjang


1. Malunion
Suatu keadaan diman fraktur sembuh dalam posisi yang kurang
sesuai. Membentuk sudut atau posisinya terkilir.
2. Delayed union
Proses penyembuhan yang terus berlangsung tetapi kecepatannya
lebih lambat daripada biasanya.
3. Non union
Fraktur yang gagal untuk mengalami kemajuan kearah
penyembuhan, ini disebabkan karena pergerakan yang berlebihan.
13. PRONOSIS
Prognosis dari kasus fraktur femur tergantung tipe dan tingkat
keparahan fraktur. Semakin kompleks fraktur yang terjadi, semakin jelek
prognosisnya. Pada umumnya terapi yang sesuai akan memberikan hasil yang
baik pada pasien.

Program Studi Profesi Ners Angkatan XIII UIN Alauddin Makassar Page 12
Muh. Indra Jaya, S.Kep (70900117019)
Departemen Keperawatan Medikal Bedah

BAB II
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan dalam proses
keperawatan, untuk itu diperlukan kecermatan dan ketelitian tentang masalah-
masalah klien sehingga dapat memberikan arah terhadap tindakan
keperawatan. Keberhasilan proses keperawatan sangat bergantuang pada
tahap ini. Tahap ini terbagi atas:
a. Pengumpulan Data
a. Anamnesa
1) Identitas Klien
Meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, bahasa yang
dipakai, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, asuransi, golongan
darah, no. register, tanggal MRS, diagnosa medis.
2) Keluhan Utama
Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah rasa nyeri.
Nyeri tersebut bisa akut atau kronik tergantung dan lamanya serangan.
Untuk memperoleh pengkajian yang lengkap tentang rasa nyeri klien
digunakan:
a) Provoking Incident: apakah ada peristiwa yang menjadi yang menjadi
faktor presipitasi nyeri.
b) Quality of Pain: seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau digambarkan
klien. Apakah seperti terbakar, berdenyut, atau menusuk.
c) Region : radiation, relief: apakah rasa sakit bisa reda, apakah rasa sakit
menjalar atau menyebar, dan dimana rasa sakit terjadi.
d) Severity (Scale) of Pain: seberapa jauh rasa nyeri yang dirasakan klien,
bisa berdasarkan skala nyeri atau klien menerangkan seberapa jauh rasa
sakit mempengaruhi kemampuan fungsinya.
e) Time: berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah bertambah buruk
pada malam hari atau siang hari.

Program Studi Profesi Ners Angkatan XIII UIN Alauddin Makassar Page 13
Muh. Indra Jaya, S.Kep (70900117019)
Departemen Keperawatan Medikal Bedah

3) Riwayat Penyakit Sekarang


Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari
fraktur, yang nantinya membantu dalam membuat rencana tindakan
terhadap klien. Ini bisa berupa kronologi terjadinya penyakit tersebut
sehingga nantinya bisa ditentukan kekuatan yang terjadi dan bagian tubuh
mana yang terkena. Selain itu, dengan mengetahui mekanisme terjadinya
kecelakaan bisa diketahui luka kecelakaan yang lain
4) Riwayat Penyakit Dahulu
Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab fraktur dan
memberi petunjuk berapa lama tulang tersebut akan
menyambung. Penyakit-penyakit tertentu seperti kanker tulang dan
penyakit paget’s yang menyebabkan fraktur patologis yang sering sulit
untuk menyambung. Selain itu, penyakit diabetes dengan luka di kaki
sanagt beresiko terjadinya osteomyelitis akut maupun kronik dan juga
diabetes menghambat proses penyembuhan tulang
5) Riwayat Penyakit Keluarga
Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit tulang
merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya fraktur, seperti
diabetes, osteoporosis yang sering terjadi pada beberapa keturunan, dan
kanker tulang yang cenderung diturunkan secara genetic
6) Riwayat Psikososial
Merupakan respons emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya
dan peran klien dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau
pengaruhnya dalam kehidupan sehari-harinya baik dalam keluarga ataupun
dalam masyarakat

7) Pola-Pola Fungsi Kesehatan


a) Pola Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat
Program Studi Profesi Ners Angkatan XIII UIN Alauddin Makassar Page 14
Muh. Indra Jaya, S.Kep (70900117019)
Departemen Keperawatan Medikal Bedah

Pada kasus fraktur akan timbul ketidakutan akan terjadinya


kecacatan pada dirinya dan harus menjalani penatalaksanaan kesehatan
untuk membantu penyembuhan tulangnya. Selain itu, pengkajian juga
meliputi kebiasaan hidup klien seperti penggunaan obat steroid yang
dapat mengganggu metabolisme kalsium, pengkonsumsian alkohol yang
bisa mengganggu keseimbangannya dan apakah klien melakukan
olahraga atau tidak
b) Pola Nutrisi dan Metabolisme
Pada klien fraktur harus mengkonsumsi nutrisi melebihi kebutuhan
sehari-harinya seperti kalsium, zat besi, protein, vit. C dan lainnya untuk
membantu proses penyembuhan tulang. Evaluasi terhadap pola nutrisi
klien bisa membantu menentukan penyebab masalah muskuloskeletal
dan mengantisipasi komplikasi dari nutrisi yang tidak adekuat terutama
kalsium atau protein dan terpapar sinar matahari yang kurang
merupakan faktor predisposisi masalah muskuloskeletal terutama pada
lansia. Selain itu juga obesitas juga menghambat degenerasi dan
mobilitas klien.
c) Pola Eliminasi
Untuk kasus fraktur humerus tidak ada gangguan pada pola
eliminasi, tapi walaupun begitu perlu juga dikaji frekuensi, konsistensi,
warna serta bau feces pada pola eliminasi alvi. Sedangkan pada pola
eliminasi uri dikaji frekuensi, kepekatannya, warna, bau, dan
jumlah. Pada kedua pola ini juga dikaji ada kesulitan atau tidak. Pola
Tidur dan Istirahat
Semua klien fraktur timbul rasa nyeri, keterbatasan gerak, sehingga
hal ini dapat mengganggu pola dan kebutuhan tidur klien. Selain itu
juga, pengkajian dilaksanakan pada lamanya tidur, suasana lingkungan,
kebiasaan tidur, dan kesulitan tidur serta penggunaan obat tidur.
d) Pola Aktivitas
Program Studi Profesi Ners Angkatan XIII UIN Alauddin Makassar Page 15
Muh. Indra Jaya, S.Kep (70900117019)
Departemen Keperawatan Medikal Bedah

Karena timbulnya nyeri, keterbatasan gerak, maka semua bentuk


kegiatan klien menjadi berkurang dan kebutuhan klien perlu banyak
dibantu oleh orang lain. Hal lain yang perlu dikaji adalah bentuk
aktivitas klien terutama pekerjaan klien. Karena ada beberapa bentuk
pekerjaan beresiko untuk terjadinya fraktur dibanding pekerjaan yang
lain.
e) Pola Hubungan dan Peran
Klien akan kehilangan peran dalam keluarga dan dalam
masyarakat. Karena klien harus menjalani rawat inap
f) Pola Persepsi dan Konsep Diri
Dampak yang timbul pada klien fraktur yaitu timbul ketidakutan
akan kecacatan akibat frakturnya, rasa cemas, rasa ketidakmampuan
untuk melakukan aktivitas secara optimal, dan pandangan terhadap
dirinya yang salah (gangguan body image)
g) Pola Sensori dan Kognitif
Pada klien fraktur daya rabanya berkurang terutama pada bagian
distal fraktur, sedang pada indera yang lain tidak timbul gangguan.
begitu juga pada kognitifnya tidak mengalami gangguan. Selain itu juga,
timbul rasa nyeri akibat fraktur
h) Pola Reproduksi Seksual
Dampak pada klien fraktur yaitu, klien tidak bisa melakukan
hubungan seksual karena harus menjalani rawat inap dan keterbatasan
gerak serta rasa nyeri yang dialami klien. Selain itu juga, perlu dikaji
status perkawinannya termasuk jumlah anak, lama perkawinannya.

i) Pola Penanggulangan Stress

Program Studi Profesi Ners Angkatan XIII UIN Alauddin Makassar Page 16
Muh. Indra Jaya, S.Kep (70900117019)
Departemen Keperawatan Medikal Bedah

Pada klien fraktur timbul rasa cemas tentang keadaan dirinya, yaitu
ketidakutan timbul kecacatan pada diri dan fungsi tubuhnya. Mekanisme
koping yang ditempuh klien bisa tidak efektif.
j) Pola Tata Nilai dan Keyakinan
Untuk klien fraktur tidak dapat melaksanakan kebutuhan beribadah
dengan baik terutama frekuensi dan konsentrasi. Hal ini bisa disebabkan
karena nyeri dan keterbatasan gerak klien
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri akut b/d spasme otot, gerakan fragmen tulang, edema, cedera
jaringan lunak, pemasangan traksi, stress/ansietas, luka operasi.
2. Gangguan pertukaran gas b/d perubahan aliran darah, emboli,
perubahan membran alveolar/kapiler (interstisial, edema paru,
kongesti)
3. Gangguan mobilitas fisik b/d kerusakan rangka neuromuskuler, nyeri,
terapi restriktif (imobilisasi)
4. Gangguan integritas kulit b/d fraktur terbuka, pemasangan traksi (pen,
kawat, sekrup)
5. Risiko infeksi b/d ketidakadekuatan pertahanan primer (kerusakan
kulit, taruma jaringan lunak, prosedur invasif/traksi tulang)
6. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan
pengobatan b/d kurang terpajan atau salah interpretasi terhadap
informasi, keterbatasan kognitif, kurang akurat/lengkapnya informasi
yang ada

DAFTAR PUSTAKA

Brunner, Suddarth. 2002. Buku Ajar keperawtan medikal bedah, edisi 8 vol.3. EGC.
Jakarta

Program Studi Profesi Ners Angkatan XIII UIN Alauddin Makassar Page 17
Muh. Indra Jaya, S.Kep (70900117019)
Departemen Keperawatan Medikal Bedah

Carpenito, LJ. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi 6 . Jakarta: EGC
Doengoes, M.E., 2000, Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta.
Ircham Machfoedz, 2007. Pertolongan Pertama di Rumah, di Tempat Kerja, atau di
Perjalanan. Yogyakarta: Fitramaya
Johnson, M., et all. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second Edition.
New Jersey: Upper Saddle River
Mansjoer, A dkk. 2007. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 1 edisi 3. Jakarta: Media
Aesculapius
Mc Closkey, C.J., et all. 1996. Nursing Interventions Classification (NIC) Second
Edition. New Jersey: Upper Saddle River
Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Jakarta:
Prima Medika
Smeltzer, S.C., 2001, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, EGC, Jakarta.

PATOFISIOLOGI DAN PENYIMPANGAN KDM

Patologi Kecelakaan

Program Studi Profesi Ners Angkatan XIII UIN Alauddin Makassar Page 18
Muh. Indra Jaya, S.Kep (70900117019)
Departemen Keperawatan Medikal Bedah

(Osteoporosis tekanan benda


tumor jinak atau ganas) keras

trauma

Fraktur

Cedera vaskuler Imobilisasi Pemasangan gips/traksi Diskontinuitas


pin, paku, skrup jaringan
Pergerakan terbatas
Hemoragik Sirkulasi udara Spasme otot
tidak keluar
Penurunan kekuatan/ Pengeluaran mediator kimia
Hipovolemia kontrol otot Proses penyembuhan (Histamin, bradikin, dan
lama/terganggu prostaglandin)
Gangguan mobilisasi
Syok fisik
Kerusakan integritas Merangsang reseptor nyeri
kulit/jaringan
Disfungsi Penurunan metabolisme
Neurovaskuler tubuh Thalamus
Perifer Invasif kuman
Peristaltik usus menurun Korteks cerebri

Konstipasi Infeksi
Nyeri

Gangguan eliminasi: BAB

Program Studi Profesi Ners Angkatan XIII UIN Alauddin Makassar Page 19
Muh. Indra Jaya, S.Kep (70900117019)