Anda di halaman 1dari 17

TUGAS PRAKTIKUM

PENGINDERAAN JAUH DAN SIG UNTUK MANAJEMEN BENCANA


(GEP 654)

ESTIMASI KETINGGIAN MENGGUNAKAN DATA DEM

ZAINUDDIN
NIM : 15/387558/PGE/01218

PROGRAM STUDI S2 PENGINDERAAN JAUH


FAKULTAS GEOGRAFI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2016

1
ESTIMASI KETINGGIAN BANGUNAN
MENGGUNAKAN DATA DEM

I. PENDAHULUAN

A. Pendahuluan

Berikut beberapa pengertian terkait kebencanaan menurut Undang Nomor 24 Tahun 2007
tentang Penanggulangan Bencana :
1. Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu
kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan atau
faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa
manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis.
2. Rekonstruksi adalah pembangunan kembali semua prasarana dan sarana, kelembagaan
pada wilayah pasca bencana, baik pada tingkat pemerintahan maupun dengan masyarakat
dengan sarana utama tumbuh dan berkembangnya kegiatan perekonomian, sosial dan
budaya, tegaknya hukum dan ketertiban, bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala
aspek kehidupan bermasyarakat pada wilayak pasca bencana.
Berdasarkan pengertian di atas menunjukkan perlunya dilakukan pengumpulan data spasial
untuk menaksir dan menghitung kerusakan dan kerugian material yang diderita oleh korban
bencana. Penghitungan volume kerugian melibatkan dimensi spasial berupa luas bangunan dan
tinggi bangunan. Penaksiran tinggi bangunan sangat penting untuk penilaian kerentanan
bangunan, karena:
1. Tinggi bangunan berkorelasi dengan jumlah lantai bangunan, yang nantinya bersama dengan
data luas bangunan dapat digunakan untuk estimasi jumlah penduduk.
2. Ketinggian bangunan merupakan salah satu aspek penilaian kerentanan untuk berbagal
macam bahaya, seperti gempabumi, tsunami, banjir, kebakaran, dan Iainnya. Tinggi
bangunan sebenarnya dapat diukur secara Iangsung di Iapangan.

B. Tujuan :

Untuk mengetahui cara melakukan estimasi ketinggian bangunan menggunakan data dem

2
II. METODE PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan

Peralatan yang digunakan adalah :


1. Laptop dengan sepesifikasi prosesor Pentium Core i3, RAM 4 GB
2. Software pengolah citra digital Ilwis 3.0
Bahan yang digunakan adalah :
1. Citra resolusi tinggi (high_res_map)
2. Citra Lidar (lidar_dem)
3. Peta kontur (contour_map)
4. Peta unit pemetaan (mapping_units)
5. Tabel penggunaan lahan (landuse)
6. Tabel sampel bangunan (buildings_sampled)
7. Georeferensi (somewhere)

B. Langkah Kerja

1. Membuka citra Lidar dan peta kontur dan membuka Informasi piksel
2. Interpolasi garis kontur menjadi DEM
3. Membandingkan informasi piksel antara topo_dem dengan lidar_dem
4. Mencari selisih antara data DEM pada data kontur dengan DEM pada lidar
5. Membuat kolom baru Buildings_possible dalam tabel landuse kemudian menggabungkan
tabe tersebut dengan data atribut peta mapping_units
6. Mengubah peta mapping_units menjadi data raster
7. Melihat dan memperhatikan nilai piksel pada peta buildings_possible
8. Membuat jumlah lantai dari masig-masing bangunan
9. Menghitung proporsi jumlah lantai pada setiap apping unit
10. Menghitug luas area pada setiap unit pemetaan
11. Menghitung persen lahan kosong (vacant)
12. Menghitung luasan dalam unit pemetaan yang ditempati oleh bangunan
13.Menampilkan peta mapping unit per atributnya

3
III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Step 1 :

 Buka data lidar_DEM dan contour_map dalam satu tampilan (gunakan Single Colour dan Keep
it dalam pilihan Display Window pada waktu menambahkan layer)
 Open Pixel Information untuk mengetahui perbedaan nilai ketinggian

Pada gambar di atas menunjukkan adanya perbedaan nilai ketinggian antara data
lidar_dem dengan contour_map, hal ini disebabkan citra lidar menggunakan data DSM
(Digital Surface Model) yaitu data model ketinggian berdasarkan permukaan obyek
sedangkan contour_map menggunakan data DTM (Digital Terrain Model) yaitu model
ketinggian berdasarkan ketinggian permukaan bumi. Data lidar_map lebih tinggi dari
contour_map. Format file yang digunkan pada lidar map berupa raster sedangkan
contour_map menggunakan data vector garis.

4
Step 2 :

 Interpolasi garis kontur menjadi DEM dengan cara Operations > Interpolation > Contour
Interpolation.
 Pilih contour_map, dan georeference ke Somewhere
 Isikan output raster map: topo_dem. Gunakan value range dan 500 - 2000 dan precision 0,1.
Kiik Show/Define.
 Tunggu hingga proses selesai dijalankan

Hasilnya :

Pada gambar di atas bertujuan untuk merubah format file dari vector garis
(contour_map) menjadi raster (topo_dem).

5
Step 3 :

 Tampilkan bersama antara topo_dem dengan lidar_dem, lalu cek pada Open Pixel Information.
Lakukan identifikasi perubahan nilai piksel, terutama pada jalan. Apa yang dapat anda
simpulkan?

Data yang ditampilkan pada gambar di atas dua-duanya raster, namun memiliki
ketinggian yang berbeda. Data lidar_dem lebih tinggi karena menggambarkan kondisi
tutpan lahan termasuk bangunan, vegetasi dan sebagainya sedangkan topo dem hanya
menggambarkan kondisi permukaan tanah saja.

6
Step 4 :

 Sekarang telah ada dua macam DEM, sehingga dan keduanya dapat dicari selisihnya dengan
cara mengurangkannya.
 Digunakan formula standar dalam ILWIS sebagai berikut:
IFF(a, b, c)
If a, is true THEN execute b, ELSE execute c.
difference:=iff((lidar_dem-topo_dem)<0,0,lidar_dem-topo_dem)
Set Precision menjadi 1, lalu kilk Show.

Command di atas memerintahkan kepada software untuk membuat data baru yang diberi
nama different degan cara mengurangkan data_lidar dem dengan topo_dem

7
Step 5 :

 Buat satu kolom baru Buildings_possible dalam tabel Landuse, dimana 1 menunjukkan tipe
landuse yang memiliki bangunan dan 0 menunjukkan tipe landuse yang tidak memiliki
bangunan (lihat tabel di slide berikutnya).
 Gabungkan tabel Landuse dengan data atribut peta mapping_units. Kolom kunci =
pred_landuse
 Buka data atribut mapping_units, lalu pilih Columns > Join. Pilih tabel Landuse lalu pilih kolom
buildings_possible.

8
Step 6 :

 Ubahlah peta mapping_units menjadi data raster. Kilk kanan>polygon to raster


 Buat informasi buildings possible dengan cara Operations> Raster Operations > Attribute Map.
Gunakan georeference Somewhere.
 Pilih kolom buildings_possible dan output raster map = buildings_possible

Step 5 dan 6 bertujuan untuk memisahkan antara bangunan dengan non bangunan, bila
bangunan bernilai 1 dan non bangunan bernilai 0

9
Step 7 :

 Lihat pada peta buildings_possible, perhatikan nilai pikselnya. Ada nilal 0, 1, dan?
 Jalan dan tempat yang tidak memiliki perbedaan ketinggian harus dihilangkan. Gunakan
formula berikut:
object_altitude=iff(isundef(buildings_possible),0,iff(buildings_possible=0,0,difference))

 Apa arti dan formula tersebut?

Formula di atas memerintahkan kepada software untuk membuat data baru yang diberi
nama object_altitude, tujuannya untuk memberi data ketinggian objek pada peta
landuse

10
Step 8 :

 Hasil pembagian antara ketinggian objek dengan nilai rerata tinggi bangunan per lantai, dapat
menghasilkan jumlah lantai dan masing-masng bangunan, asumsi ketinggian bangunan per
lantai rerata adalah 3 meter.
 Gunakan formula benikut, dan pastikan nilai presisi 1.
floor_nr =iff(object_altitude<=3,0,object_altitude/3)
 Bandingkan floor_nr dengan high_res_image.

Formula di atas memerintahkan kepada software untuk membuat data baru yang diberi
nama floor_nr, tujuannya untuk membuat jumlah lantai gedung pada masing-masing
bangunan dengan asumsi setiap bangunan memiliki ketinggian 3 meter, selisih ketinggian
objek dibagi dengan 3

11
Step 9 :

 Setelah jumlah lantai diketahui, sekarang dapat dihitung proporsi jumlah lantai pada setiap
mapping unit.
 Pilih Operations> Raster Operations> Cross. Piiih peta mapping_units dengan floor_nr. Beri
nama peta output mapping_units_nof. Abaikan nilai undefined pada peta dengan cara
mencontreng ignore undef.
 Kiik show.
 Hitung luas area pada setiap unit pemetaan, dengan cara menjumlahkan setiap kombinasi
menurut unit pemetaannya.
 Pilih Columns > Aggregation.
Pilih kolom Area, Function: Sum, group by Mapping_units, output column: area_unit.

Step ini bertujuan untuk membuat

12
Step 11 :

 Hitung persen lahan kosong (vacant) dengan cara mengetikkan command berikut pada
command line di table mapping_units_nof.
vacant:=iff(floor_nr=0,area/area_unit, 0)
 Pastikan semua nilai sama dalam setiap kombinasi pada unit pemetaan dengan menggunakan
fungsi agregasi.
Cloumn > Aggregation. Column: Vacant, Function: Sum, Group by: mapping_units, Output:
PerVacant.

13
Step 12 :

 Hitung luasan dalam unit pemetaan yang ditempati oleh bangunan dengan cara ketikkan
perintah di bawah ¡ni. Gunakan nilai presisi 1.
area_buildings:=area_unit*(1 -PerVacant)

14
 Sekarang buatlah kolom-kolom yang berisi informasi fraksi setiap blok bangunan dengan jumlah
lantai yang spesifik.
:=iff(floor_nr=1,area/area_buildings,0)
Perc2floor :=iff(floor_nr =2,area/area_buildings,0)
Perc3floor:=iff(floor_nr =3,area/area_buildings,0)
Percover3floor:=iff(floor_nr >3,area/area_buildings,0)

 Isi Value range: 0 - 1 dan precision: 0,1

15
Step 13 :

 Buka tabel mapping_units. Pilih Columns > Join. Pilih table: mapping_units_nof dan column:
Perc1floor. Biarkan semua default kecuali aggregate function: Maximum.
 Ulangi langkah tersebut untuk kolom Perc2floor dan Perc3floor. Khusus untuk kolom
Percover3floor, ganti aggregation function menjadi SUM.

 Cek hasilnya dengan menampilkan peta mapping_units per atributnya.

Perc1floor Perc2floor

Perc3floor
Percover3floor

16
IV. PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa data Lidar dan
data DEM dapa digunakan untuk menghitung ketinggin bangunan.

17