Anda di halaman 1dari 4

Dalil yang mewajibkan Ummat Islam wajib bernegara Islam

a. Secara naqli, dalil terbagi dua yaitu ada dalil mantuq (tersurat) dan dalil
mafhum (tersirat). Secara mantuq, darlil yang mewajibkan Ummat Isalm wajib
bernegara Islam, memang kami belum menemukan, tetapi menurut dalil mafhum
cukup banyak di antaranya:

1 Al Qur’an surat Annisa ayat 59 :


Wahai orang-orang yang beriman ta’atlah kamu sekalian kepada Allah (yaitu
dengan melaksanakan segala aturanNya dalam Al-Qur’an) dan ta’atlah kepada
Rasul (yaitu dengan melaksanakan aturan-aturannya sebagiamana tercantum
dalam hadits shahih). Dan ta’atlah kepada ulil amri (pemerintah; yang
membimbing, mengatur, dan mengawasi pelaksanaan Al qur’an dan Hadits) dari
golongan kamu sekalian (tentunya dari golongan orang yang beriman yang ta’at
kepada Allah dan RasulNya. Dan jika terjadi perseisihan diantara kamu sekalian
dalam sauatu urusan, maka kembalikanlah kepada Allah (yaitu kepada Al
Qur’an) dan Rasul (yaitu kepada sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman
kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu adalah baik dan itulah sebaik-
baiknya penyelesaian.

Jika mantuq ayat menyatakan wajib ta’at kepada Allah, Rasul dan Ulil amri maka
mafhumnya kita wajib berulil amri, dan Uil amri minkum hanya ada dalam negara
Islam, maka dengan sendirinya ummat Islam wajib bernegara Islam.
Qaidah usul fiqih menyatakan “Apa-apa yang tidak menyempurnakan suatu
kewajiban kecuali dengannya maka dia itu wajib”. Kewajiban menta’ati ulil amri
tidak mungkin bisa kecuali ada negara Islam, maka negara Islam itu wajib juga
adanya.

2 Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 208 :


Wahai orang yang beriman, masuklah kamu sekalian ke dalam Islam secara
menyeluruh dan janganlah mengikuti langkah-langkah syetan, sesungguhnya
setan itu adalah musuhmu yang nyata.

Masuk ke dalam Islam secara menyeluruh artinya aturlah segala aspek kehidupan
kita dengan ajaran Islam. Ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, militer
(ipoleksosbudmil) hendaklah diatur secara Islam, karena Dienul Islam merupakan
ajaran/way of life yang lengkap, sebagaimana Allah nyatakan dalam surat Al
Maidah ayat 3. “Hari ini aku sempurnakan bagimu Dien kamu, dan aku cukupkan
pula nikmatku bagimu serta aku ridho padamu (yang menjadikan) Islam sebagai
aturan hidupmu”. Ahli fiqih telah merinci ajaran Islam terdiri dari aqidah
(keyakinan/ideologi) dan syari’ah (aturan/perundang-undangan) yang meliputi
aturan ubudiah (peribadahan), muamalah (ekonomi), munakahat (pernikahan),
jinayat (hukum pidana), mawaris (pembagian warisan), siyasah (politik), jihad
(perjuangan dan peperangan), dakwah/amar ma’ruf nahi munkar, kerukunan
beragama (toleransi), pendidikan (tarbiyah), akhlakul karimah, seni dan teknologi
(budaya), kesehatan dsb.
Allah mewajibkan kita agar segala aspek kehidupan diatur secara hukum Islam
yang lengkap, dimana untuk itu diperlukan adanya negara, yang para ulil amri dan
rakyatnya memberlakukan hukum Islam. Oleh karena itu berusaha menegakkan
negara Islam merupakan kewajiban kita semua.

3. Al Qur’an surat Al Maidah ayat 44, 45, 47 :


…Barang siapa tidak berhukum dengan apa-apa yang telah diturunkan oleh
Allah, maka mereka adalah orang-orang kafir.
…Barang siapa tidak berhukum dengan apa-apa yang telah diturunkan oleh
Allah, maka mereka adalah orang-orang zhalim.
…Barang siapa tidak berhukum dengan apa-apa yang telah diturunkan oleh
Allah, maka mereka adalah orang-orang fasiq.

Konteks ayat-ayat di atas yaitu Allah memberikan gambaran kepada ummat Islam,
bahwa orang bani Israil dan Nasrani tidak mau berhukum kepada Taurat dan Injil,
dan demikian juga kepada ummat Islam, ummat Muhammad SAW. Jika tidak
mau berhukum dengan Al Qur’an maka akan termasuk orang-orang kafir, zhalim,
atau fasiq.
Dikatakan kafir, kalau dia menolak aturan kebenaran Allah. Dikatakan zhalim
atau aniaya, kalau menerima kebenaran aturan Allah tetapi lebih bagus, lebih
cocok, jika menggunakan hukum yang lain. Dan dikatakan fasiq jika mereka
menerima hukum Allah tetapi tidak mau melaksanakannya karena pertimbangan
keluarga, tahta, dan harta (QS. 9:24). Ketiga macam tipe manusia itu semuanya
berdosa, tidak akan selamat dunia dan akhirat. Larangan disertai sangsi yang
berat, jelas hukumnya wajib. Kita wajib berhukum Islam, yang pelaksanaannya
ada yang harus dilaksanakan secara bernegara, seperti pelaksanaan hukum hudud,
qisash, siasah, jihad fisabilillah dan amar ma’ruf nahi munkar. Oleh karena itu
negara wajib melaksanakan hukum Islam atau dengan kata lain ummat Islam
wajib bernegara Islam.

4. Al Qur’an surat As Shaf ayat 9 :


Allah yang telah mengatur RasulNya dengan membawa petunjuk dan Dienul Haq,
agar (Rasul) menzhohirkannya(mengunggulkannya/memenangkannya) di atas
dien-dien lainnya, sekalipun orang –orang musyrik membencinya.

Inilah misi Rasullullah yang wajib dilanjutkan oleh ummatnya. Kita wajib
menzohirkan Islam, sehingga: “...jadilah aturan hidup seluruhnya adalah aturan
kepunyaan Allah (Islam) agama-agama lain silahkan hidup”. (QS. 8:39).
Tetapi aturan hidup ke masyarakat diatur secara Islam. Oleh karena itu mana
mungkin Islam dapat zhohir seperti itu di negara yang bukan Islam? Maka
berusaha untuk memiliki negara Islam adalah wajib.

5. Al Qur’an surat An Nur ayat 55 :


Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman diantara kamu sekalian
yang selalu beramal soleh:
1. Pasti Allah akan memberikan kekuasaan kepada mereka, sebagaimana Allah
telah memberi kekuasan kepada ummat sebelum mereka; dan
2. Pasti Allah akan meneguhkan tegaknya dien mereka, yang Allah ridhoi bagi
mereka; dan
3. Pasti Allah akan mengganti situasi yang pernah dengan ketakutan, menjadi
situasi yang aman tetntram.
4. Mereka semua mengabdi kepada Aku, tidak sekali-kali menyekutukan daku
sedikitpun (QS. 24:55).

Betapa Indah janji Allah; orang beriman, akan diberi kesempatan untuk berkuasa
disuatu negara atau mungkin di muka bumi ini yang dengan kekuasaan itu
zohirlah Islam mengatur bangsa dan ummat sedunia, sehingga negara akan tenang
dan tentram, subu rmakmur loh jinawi. Penduduknya akan senang beribadah
mengabdikan dirinya kepada Allah dan dijauhinya segala bentuk kemusyrikan.
Itulah gambaran hidup hasanal fid dunya wal akhirat. Masya Allah, mungkinkah
janji itu akan jatuh dari langit begitu saja? Negara macam mana yang patut
menerima janji itu? Mungkinkah negara yang tidak berlandaskan hukum Islam
dapat menerima janji Allah ini? Tidak mungkin. Tetapi hanyalah negara yang
memeberlaklukan syari’at Islam, atau negara Islam lah yang berhak menerimanya.

6. Hadits Nabi yang menyatakan :


Sungguh telah aku tinggalkan dua perkara yang jika kalian berpegang kepada
keduanya pasti tidak akan sesat selama-lamanya; yaitu Kitabullah dan Sunnah
NabiNya.

Kita menginginkan hidup ada dalam lindungan Allah, kita ingin dijauhkan dari
segala kesesatan, kita ingin memiliki negara yang selalu menjauhkan ummatnya
dari bentuk-bentuk aturan yang menyesatkan.
Maka jadikanlah Al Qur’an dan Sunnah Rasul sebagai sumber hukum dalam
negara itu. Dan jika suatu negara telah menjadikan Al qur’an dan Sunnah Rasul
sebagai sumber hukum, maka otomatis negara itu adalah negara Islam.

7. Al Qur’an surat Al Ahzab ayat 21 :


Sungguh dalam diri Rasulullah itu terdapat conoth yang baik bagi kamu yaitu
bagi orang-orang yang mengharap keridhoan Allah dan keselematan hari akhir
serta banyak mengingat Allah.

Melihat siroh Rasul sewaktu beliau berada di Madinah, beliau adalah pemimpin
yang ulung, politikus yang piawai, yang menggerakkan kaum Muhajirin dan
Anshar utnuk bersama-sama melaksanakan aturan Allah SWT. Mereka berperang
dengan musuh yang menghadangnya. Beliau mengirimi duta-duta diplomatnya ke
luar negri untuk tujuan da’awah dan pengakuan existensi Madinah. Inilah uswah
bagi kita, ternyata Rasululah itu bernegara sebab syariat bernegara yaitu ada
rakyat, pemimpin, undang-undang dan wilayah yang dikuasai jelas terpenuhi,
nbahakn dilengkapi lagi dengan adanya tentara dan pengakuan luar negri.
Kehidupan bernegara ini dilanjutkan oleh para khulafaur Rasyidin dan khalifah-
khalifah selanjutnya.
Negara apa di jaman Madinah Rasul itu? Karena undang-undang yang dipakainya
adlah Al qur’an dan sunnah Rasul maka itulah Negara Islam yang wajib kita
teladani dan wajib pula diperjuangkan.