Anda di halaman 1dari 66

Lampiran-Lampiran

Materi Pelajaran
QS. Ali-Imran 190-191
A. Lafal dan Terjemah Q.S Ali Imran Ayat 190-191
ِ ‫ت ِْل أو ِلي ْاْل َ ْل َبا‬
‫ب‬ ِ ‫ف اللَّ ْي ِل َوالنَّ َه‬
ٍ ‫ار ََل َيا‬ ِ ‫اخ ِت ََل‬ ِ ‫ت َو ْاْل َ ْر‬
ْ ‫ض َو‬ ِ ‫س َم َاوا‬ ِ ‫ِإ َّن ِفي خ َْل‬
َّ ‫ق ال‬
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan
siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (190)
‫اط ًَل أ‬
‫س ْب َحانَكَ فَ ِقنَا‬ ِ ‫ت َو ْاْل َ ْر‬
ِ َ‫ض َربَّنَا َما َخلَ ْقتَ َهذَا ب‬ ِ ‫س َم َاوا‬ ِ ‫َّللاَ قِيَا ًما َوقأعأودًا َو َعلَى أجنأوبِ ِه ْم َويَتَفَ َّك أرونَ فِي خ َْل‬
َّ ‫ق ال‬ َّ َ‫الَّذِينَ يَذْ أك أرون‬
َ َ‫َعذ‬
ِ َّ‫اب الن‬
‫ار‬
“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam
keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya
berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci
Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.” (191)
B. Mufrodat
‫الخلق‬ : Perkiraan & penyusunanyang menunjukan pada tatanan yang mantap
‫اختَلف الليل والنهار‬ : Pergantian antara keduanya dan silih bergantinya siang dan malam
‫اليات‬ :Sungguh yang merupakan tanda yang menunjukkan adanya Allah dan
kekuasaannya.
‫االلباب‬ : Bentuk tunggal dari Lubbun yang artinya akal.
‫قياما وقعودا‬ : Bentuk tunggal dari qaim dan qa’id, yang artinya berdiri dan duduk.
‫باطَل‬ : Sia-sia dan tidak ada faedahnya.
‫فقنا عذاب النار‬ : Jadikan amal soleh itu sebagai tameng bagi kami dari azab neraka
C. Uraian dan Tafsir ayat
Dalam ayat 190 menjelaskan bahwa sesungguhnya dalam tatanan langit dan bumi serta
keindahan perkiraan dan keajaiban ciptaan-Nya juga dalam silih bergantinya siang dan
malam secara teratur sepanjang tahun yang dapat kita rasakan langsung pengaruhnya pada
tubuh kita dan cara berpikir kita karena pengaruh panas matahari, dinginnya malam, dan
pengaruhnya yang ada pada dunia flora dan fauna merupakan tanda dan bukti yang
menunjukkan keesaan Allah, kesempurnaan pengetahuan dan kekuasaan-Nya.
Langit dan bumi dijadikan oleh Al-Khaliq tersusun dengan sangat tertib.Bukan hanya
semata dijadikan, tetapi setiap saat nampak hidup.Semua bergerak menurut aturan.
Silih bergantinya malam dan siang, besar pengaruhnya atas hidup kita dan segala yang
bernyawa.Kadang-kadang malam terasa panjang dan sebaliknya.Musim pun silih
berganti.Musim dingin, panas, gugur, dan semi.Demikian juga hujan dan panas.Semua ini

1
Lampiran-Lampiran

menjadi tanda-tanda kebesaran dan keagungan Allah bagi orang yang berpikir.Bahwa
tidaklah semuanya terjadi dengan sendirinya.Pasti ada yang menciptakan yaitu Allah SWT.
Diriwayatkan dari 'Aisyah ra, bahwa Rasulullah saw berkata: "Wahai 'Aisyah apakah
engkau mengizinkankanda pada malam ini untuk beribadah kepada Allah SWT
sepenuhnya?". Jawab Aisyah ra: " wahai Rasulullah, Sesungguhnya saya menyenangi apa
yang kanda senangi, menyukai apa yang kanda sukai.Dinda izinkan kanda
melakukannya.”Kemudian nabi mengambil qirbah (tempat air yang terbuat dari kulit domba)
yang terletak didalam rumah, lalu berwudlu.Selanjutnya beliau mengerjakan shalat.Di waktu
salat beliau menangis sampai-sampai air matanya membasahi kainnya, karena merenungkan
ayat Alquran yang dibacanya.Setelah salat beliau duduk memuji-muji Allah dan kembali
menangis tersedu-sedu.Kemudian beliau mengangkat kedua belah tangannya berdoa dan
menangis lagi dan air matanya membasahi tanah.Kemudian datanglah Bilal untuk azan subuh
dan melihat Nabi saw menangis ia bertanya: "Wahai Rasulullah! Mengapakah Rasulullah
menangis, padahal Allah telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang terdahulu maupun
yang akan datang". Nabi menjawab: "Apakah saya ini bukan seorang hamba yang pantas dan
layak bersyukur kepada Allah SWT? Dan bagaimana saya tidak menangis?Pada malam ini
Allah SWT telah menurunkan ayat kepadaku.Selanjutnya beliau berkata: "Alangkah rugi dan
celakanya orang-orang yang membaca ini dan tidak memikir dan merenungkan kandungan
artinya".
Pada ayat 191 mendefinisikan orang-orang yang mendalam pemahamannya dan
berpikir tajam (Ulul Albab), yaitu orang yang berakal, orang-orang yang mau menggunakan
pikirannya, mengambil faedah, hidayah, dan menggambarkan keagungan Allah.Ia selalu
mengingat Allah (berdzikir) di setiap waktu dan keadaan, baik di waktu ia beridiri, duduk
atau berbaring. Jadi dijelaskan dalam ayat ini bahwa ulul albab yaitu orang-orang baik lelaki
maupun perempuan yang terus menerus mengingat Allah dengan ucapan atau hati dalam
seluruh situasi dan kondisi.
Dari keterangan diatas dapat diketahui bahwa objek dzikir adalah Allah, sedangkan
objek pikir adalah makhluk-makhluk Allah berupa fenomena alam.Ini berarti pengenalan
kepada Allah lebih banyak didasarkan kepada kalbu, Sedang pengenalan alam raya oleh
penggunaan akal, yakni berpikir. Akal memiliki kebebasan seluas-luasnya untuk memikirkan
fenomena alam, tetapi ia memiliki keterbatasan dalam memikirkan Dzat Allah, karena itu
dapat dipahami sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim melalui Ibn
‘Abbas,
‫تفكرافى اخلق والتتفكروافى اخا لق‬

2
Lampiran-Lampiran

“Pikirkan dan renungkanlah segala sesuatu yang mengenai makhluk Allah jangan
sekali-kali kamu memikirkan dan merenungkan tentang zat dan hakikat Penciptanya, karena
bagaimanapun juga kamu tidak akan sampai dan tidak akan dapat mencapai hakikat Zat
Nya.”
Orang-orang yang berdzikir lagi berfikir mengatakan: "Ya Tuhan kami, tidaklah
Engkau menciptakan makhluk ini semua, yaitu langit dan bumi serta segala isinya dengan
sia-sia, tidak mempunyai hikmah yang mendalam dan tujuan yang tertentu yang akan
membahagiakan kami di dunia dan di akhirat, sebagaimana disebar luaskan oleh sementara
orang-orang yang ingin melihat dan menyaksikan akidah dan tauhid kaum muslimin runtuh
dan hancur. Maha Suci Engkau Ya Allah dari segala sangkaan yang bukan bukan yang
ditujukan kepada Engkau. Karenanya, maka peliharalah kami dari siksa api neraka yang telah
disediakan bagi orang-rang yang tidak beriman.Ucapan ini adalah lanjutan perasaan sesudah
dzikir dan pikir, yaitu tawakkal dan ridha, berserah dan mengakui kelemahan diri.Sebab itu
bertambah tinggi ilmu seseorang, seyogyanya bertambah pula dia mengingat Allah.Sebagai
tanda pengakuan atas kelemahan diri itu, dihadapan kebesaran Tuhan.
Pada ujung ayat ini ( “Maha suci Engkau ! maka peliharalah kiranya kami dari azab
neraka” )kita memohon ampun kepada Tuhan dan memohon agar dihindarkan dari siksa
neraka dengan upaya dan kekuatan-Mu serta mudahkanlah kami dalam melakukan amal yang
diridhai Engkau juga lindungilah kami dari azab-Mu yang pedih.
D. Kandungan Hukum
Pada QS. Ali-Imran ayat 190-191 di dalamnya memiliki kandungan hukum yaitu Allah
mewajibkan kepada umatnya untuk menuntu ilmu dan memerintahkan untuk
mempergunakan pikiran kita untuk merenungkan alam, langit dan bumi (yakni memahami
ketetapan-ketetapan yang menunjukkan kepada kebesaran Al-Khaliq, pengetahuan) serta
pergantian siang dan malam. Yang demkian ini menjadi tanda-tanda bagi orang yang
berpikir, bahwa semua ini tidaklah terjadi dengan sendirinya. Kemudian dari hasil berpikir
tersebut, manusia hendaknya merenungkan dan menganalisa semua yang ada di alam semesta
ini, sehingga akan tercipta ilmu pengetahuan.
E. Aspek Tarbawi
Dari ayat di atas dapat diambil aspek tarbawinya yaitu sebagai berikut :
1. Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim.
2. Akal manusia hendaknya digunakan untuk memikirkan, menganalisa, dan menafsirkan
segala ciptaan Allah.

3
Lampiran-Lampiran

3. Dalam belajar tidak diperbolehkan memikirkan Dzat Allah, karena manusia mempunyai
keterbatasan dalam hal tersebut dan dikhawatirkan akan terjerumus dalam berpikir yang
tidak sesuai.
4. Jika seseorang memiliki renungan, ia memiliki pelajaran dalam segala perkara.
5. Hendaknya manusia mempercayai bahwa semua penciptaan Alah tidak ada yang sia-sia.

QS. Ali-Imran : 159


“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka.
sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari
sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan
bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu Telah
membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”.
Maksudnya: urusan peperangan dan hal-hal duniawiyah lainnya, seperti urusan
politik, ekonomi, kemasyarakatan dan lain-lainnya.Isi Kandungan QS. Ali Imran : 159, dalam
berdakwah seorang muslim/Mukmin hedaknya:
1. Menggunakan cara pendekatan Persuasif (pleksibel), bijaksana, santun, dan lemah lembut.
2. Bersikap demokratis, menghargai pendapat orang lain, tidak ingin menang sendiri.
3. Selalu memaafkan, dan meminta maaf, bermusyawarah dalam segala hal dengan orang lain
4. Selalu bertukar fikiran untuk menambah wawasan dan menyelesaikan setiap permasalahan
5. Kuatkan niat dan bertawakal kepada Alloh.
Menampilkan perilaku Demokratis Sesuai QS. Ali-Imran : 159
A. Identifikasi orang-orang yang bersifat demokratis.
 Bersikap menghargai orang lain.
 Bersikap pemaaf atas kesallahan orang lain.
 Bersedia meminta maaf kepada orang lain.
 Selalu bermusyawarah dalam mengambil keputusan.
 Bersikap optimis dan tawakal (menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Alloh).
 Menghindari sikaf egois dan membanggakan diri..

Menunjukkan perilaku yang demokratis


 Selalu mendengarkan orang lain yang sedang berbicara.
 Tidak memotong pembicaraan orang lain.
 Bersedia memaafkan dan meminta maaf kepada orang lain.
4
Lampiran-Lampiran

 Berjiwa lemah lemah lembut, ramah dan sopan.


 Gemar bermusyawarah terhadap masalah sekecil apapun.
 Memiliki keyakinan bahwa semua program akan sukses.

Mempraktikan perilaku demokratis


 Tanamkan sikap lemah lembut, dan kasih sayang terhadap sesama.
 Buang sikap egois, sombong dan besar kepala.
 Bersikaplah pemaaf dan meminta maaf kepadda orang lain.
 Tanamkan sikap perilaku kebersamaan, senasib, sepenanggungan.
 Tanamkan sikap saling menghargai dan menghormati sau sama lain.
 Biasakan bermusyawarah dalam mengambil suatu keputusan

QS. Luqman 13-14


. SURAT LUQMAN AYAT 13 :




Artinya : “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia
memberi nasehat kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah,
Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar
kezaliman yang besar.”
Surat Al Luqman adalah termasuk surat Makkiyah, terdiri dari 34 ayat, surat ini
diturunkan setelah surat Ash – Shaffat.
Luqman adalah seorang yang Sholeh dan memiliki akhlaq yang mulia, yaitu akhlaq
yang berbasiskan kepada keimanan yang kokoh. Namanya diabadikan oleh Allah dalam salah
satu surat di dalam Al Qur an, yakni surat ke 31. Sehingga di dalam surat ini Allah
memberikan pelajaran kepada kita akan kesholehan Luqman dalam memberikan nasehat
kepada anaknya, yakni nasehat yang mengandung unsur “keilmuan” yang mendalam,
“keihklasan” yang suci dan “kecintaan”yang tinggi.
Luqman bernama lengkap 'Luqman Bin Anqa' Bin Sadun" Anak yang dinasehati
bernama Taran, mereka penduduk biasa dari Habasyah ( Ethiopia ). Dalam sebuat kitab tafsir
diceritakan bahwa Luqman adalah seorang budak, ciri-ciri tubuhnya sama seperti orang

5
Lampiran-Lampiran

Ethiopia lainya yang kebanyakan berkulit hitam legam dan berbibir tebal. Tetapi Allah tak
pernah melihat dari bentuk fisik . Hati Luqman memancarkan cahaya iman dan keagungan
seorang manusia. Kejernihan hidup tergambar dibalik rendah martabatnya sebagai budak.
Sebenarnya nasehat Luqman yang terdapat dalam Al Qur'an itu hanyalah nasehat kepada
anaknya sendiri. Tetapi Allah mengabadikan dalam Al Qur'an agar setiap umat belajar dari
apa yang dilakukan Luqman. Karena nasehat pada anak adalah sangat penting untuk
membentuk karakter dan perwatakan sebagai bekal kehidupan kelak.
Anak adalah amanah titipan Allah, sudah selayaknya hanya kita didik sesuai
ketentuan dari yang menitipkannya yaitu Allah SWT. Oleh karena itu penting bagi kita
mempelajari apa yang Allah mau bukan sekedar apa yang kita mau. Anak yang sholeh adalah
permata dan cahaya mata bagi orang tuanya di dunia dan akherat.
Kewajiban kita kepada keluarga kita; ayah, ibu, suami, istri dan anak-anak dan
kerabat:
"Hai orang-orang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang
bahan bakarnya adalah manusia dan batu...." (QS At Tahrim:6). Maka marilah kita saling
menasehati dalam kebaikan.

B. ASBABUN NUZUL SURAT LUQMAN AYAT 13


Ketika ayat ke-82 dari surat Al-An’am diturunkan,para sahabat merasa keberatan.
Maka mereka datang menghadap Rasulullah SAW,seraya berkata “ Wahai Rasulullah,
siapakah diantara kami yang dapat membersihkan keimanannya dari perbuatan zalim
?”.Jawab beliau “ Bukan begitu,bukanlah kamu telah mendengarkan wasiat Lukman Hakim
kepada anaknya : Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya
mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.
Allah menjelaskan bahwa luqman telah diberi hikmat, karena itu luqman bersyukur
kepada Tuhannya atas semua nikmat yang telah dilimpahkan Nya kepada dirinya.Allah SWT
mewasiatkan kepada mereka supaya memperlakukan orang-orang tua mereka dengan cara
yang baik dan selalu memelihara hak-haknya sebagai orang tua. Luqman menjelaskan kepada
anaknya, bahwa perbuatan syirik itu merupakan kezaliman yang besar.Imam bukhori telah
meriwayatkan sebuah hadist yang bersumber dari Ibnu Mas’ud ,Ia telah menceritakan, bahwa
ketika ayat ini diturunkan ,yaitu firmannya :
Surat Al-Luqman ayat 13 di pandang dari segi pendidikan bagi peserta didik ;

6
Lampiran-Lampiran

- Mengajarkan pada peserta didik untuk tidak menyekutukan Allah, Walaupun seandainya
perintah menyekutukan Allah datang dari orang tua (ibu dan bapak), maka perintah tersebut
tetap harus ditolak.
- Kewajiban bagi peserta didik untuk berbakti kepada ibu bapaknya dengan cara berlaku
santun dan lemah lembut.
- Mengajarkan peserta didik untuk selalu menjalankan perbuatan amar ma’ruf dan nahi
munkar.
- Mengajarkan peserta didik untuk menjalankan hubungan manusia dengan melakukan
perbuatan baik, sikap dan perilaku dalam pergaulan, serta kesedehanaan dalam
berkomunikasi dengan sesama.

C. Surat Luqman ayat 14 :







Artinya : “Dan Kami perintahkan kepada semua manusia (supaya berbuat baik)
kepada kedua orang tuanya; ibunya telah mengandungnya dengan lemah dan bertambah
lemah dan (kemudian) menyapihkannya dalam (usia) dua tahun; Oleh karena itu hendaklah
engkau bersyukur kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu; Kepada-Kulah tempat
kembali”.

D. Asbabun Nuzul Al-Luqman ayat 14 :


Al- Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam Tafsirnya, dari Sa’ad bin Abi Waqqash ra. Ia
berkata: Aku adalah seseorang pria yang amat mencintai ibuku. Tetapi setelah aku masuk
Islam, ibuku itu berkata kepadaku: Hai sa’ad! Agama apa ini, kulihat engkau mengada-ada.
Tinggalkan agamamu ini atau aku akan mogok makan dan minum, sampai mati. Dengan
begitu engkau akan tercemar lantaran aku, yaitu engkau akan dituduh sebagai pembunuh
ibunya. Begitulah lalu aku berkata kepada ibuku: Hai Ibu! Jangan engkau kerjakan itu semua,
tetapi aku juga tidak bakal meninggalkan agamaku ini selama-lamanya karena faktor apapun.
Ibuku nekad, sehari semalam sudah mulai tidak makan dan tidak minum. Pagi harinya
sudah tampak sangat letih. Hari kedua dia tidak mau makan juga dan badannya sudah

7
Lampiran-Lampiran

semakin bertambah letih. Hari ketigapun tidak mau makan dan badannya semakin bertambah
letih.
Melihat keadaan yang demikian itu, aku kemudian berkata kepadanya: Hai Ibu!
Ketahuilah, demi Allah! Seandainya engkau mempunyai seratus nyawa, lalu nyawa itu keluar
satu persatu (dengan bertahap), namun aku tetap tidak akan mau meninggalkan agamaku ini,
karena faktor apapun. Jika engkau sudi, makanlah dan jika engkau tidak sudi, jangan makan.
Melihat keteguhan Sa’ad yang demikian itu, akhirnya Ibunya mau makan. Lalu Allah
menurunkan ayat “Dan jika kedua orang tuamu itu sungguh-sungguh memaksamu agar
engkau menyekutukan aku
Bahwa Allah memerintahkan kepada manusia agar berbakti kepada orangtua, lebih-
lebih kepada Ibu yang telah mengandung. Ayat ini tidak menyebut jasa Bapak, tetapi
menekankan pada jasa Ibu. Ini disebabkan karena ibu berpotensi untuk tidak dihiraukan oleh
anak karena kelemahan Ibu, berbeda dengan Bapak. Di sisi lain,,” peranana Bapak” dalam
konteks kelahiran anak, lebih ringan dibanding dengan peranan Ibu. Betapapun peranan tidak
sebesar peranan ibu dalam proses kelahiran anak, namun jasanya tidak diabaikan karena itu
anak berkewajiban berdoa untuk ayahya, sebagai berdoa untuk ibunya. Karena begitu besar
jasa Ibu, dalam sebuah hadis dinyatakan bahwa: Seorang sahabat bertanya, "Ya Rasulullah,
siapa yang paling berhak memperoleh pelayanan dan persahabatanku?" Nabi Saw menjawab,
"ibumu...ibumu...ibumu, kemudian ayahmu dan kemudian yang lebih dekat kepadamu dan
yang lebih dekat kepadamu." (Mutafaq'alaih).
Karena itulah, setiap anak harus menyadari perjuangan dan susah payah orangtuanya.
Di samping harus taat kepada ajaran agama, berbakti kepada kedua orang tua, juga harus
berusah keras belajar dan menunut ilmu pengetahuan terutama ilmu-ilmu agama, sehingga
mereka bersama-sama kedua orang tuanya memperoleh kesejahteraan hidup di dunia dan
kebahagian di akhirat kelak.
Dalam surah lain pula disebutkan seperti surah al-Baqarah:83, an-Nisa:36, al-
An’am:151, dan al-Isra’:23 membahas tentang perlunya berbakti kepada orang tua.
Sedangkan surah Luqman menyampaikan pesan untuk berbkati kepada orangtua dalam
bentuk perintah Allah.

8
Lampiran-Lampiran

QS. Al-Baqarah 83









“Dan ingatlah, ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil, ‘Janganlah kamu menyembah
selain Allah dan berbuatbaiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan
orang-orang miskin. Bertuturkatalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah salat, dan
tunaikanlah zakat.” Namun, kamu berpaling, kecuali sebagian kecil dari kamu, dan kamu
membangkang.”
Ayat ke-83 surat Al-Baqarah di atas mengungkap ikatan perjanjian secara tidak
langsung antara Bani Israil dan Allah Swt. Disebut ikatan janji tidak langsung karena
perjanjian tersebut berupa kesediaan yang tidak disampaikan secara lisan antara kedua belah
pihak yang berhadap-hadapan. Perjanjian tersebut diawali dengan pernyataan kesiapan untuk
senantiasa mengikuti dan mentaati ajaran yang dibawa para Rasul.
Secara redaksional, ayat ini menjelaskan jejak riwayat Bani Israil. Namun, secara
substansial, khitab ayat ini ditujukan kepada kita, umat Nabi Muhammad Saw. Sangat perlu
bagi umat Islam untuk senantiasa mengingat-ingat janji kita kepada Allah melalui keimanan
yang terucap dalam lisan mengenai kebenaran Allah beserta rasul-Nya. Pernyatan tersebut,
sadar atau tidak, telah mengikat kita dalam sebuah perjanjian dengan Allah. Ikatan janji
ruhiah ini sudah dibuat antara Allah dengan hamba-Nya sejak pertama kali diciptakan.
Allah Swt. berfirman,
“Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi
mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah
aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Tuhan kami), Kami menjadi saksi.’
(Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan,
9
Lampiran-Lampiran

‘Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan
Tuhan).’”
(Q.S. Al-Araf [7]: 172)
Berikut ini poin-poin perjanjian antara kita dengan Allah yang dimuat surat Al-
Baqarah ayat 83.
1. Beribadah hanya kepada Allah dan tidak akan pernah menyekutukan-Nya.
Pernyataan pertama, yang sarat dengan sederet makna, bahwa seluruh hidup ini akan
senantiasa diisi dengan beribadah kepada Allah Swt. Tiada yang berhak untuk kita ibadahi
selain Dia. Dia-lah yang menciptakan dan Dia-lah yang mengurus serta memberi nikmat
kepada kita. Menghambakan diri selain kepada-Nya merupakan pengkhianatan terbesar yang
dilakukan. Dalam ayat lain, Allah Swt. Berfirman:
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.
Dan berbuatbaiklah kepada ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin,
tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba
sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan
membangga-banggakan diri.” (Q.S. An-Nisa [4]: 36)
2. Berbuat baik (ihsan) kepada kedua orangtua. Allah Swt. menyimpan kata “ihsan”
dalam hal perbuatan yang berkaitan dengan orangtua karena kata tersebut mengandung
pengertian perbuatan baik dengan tanpa mengharap balas dan imbalan. Adalah kekeliruan
yang nyata jika seorang anak berbuat baik untuk orangtuanya dengan harapan ada sesuatu
yang bisa dia dapatkan (balasan) dari orangtuanya. Hendaknya diingat oleh anak, dahulu
orangtua mengurus mereka dengan segenap ketulusan tanpa mengharap balasan sepeser pun.
Dengan peluh bercucuran, orangtua melakukan apa pun yang terbaik dalam hal mendidik dan
membesarkan mereka.
Secara garis besar, ruang lingkup berbuat ihsan kepada orangtua digambarkan dalam
ayat berikut. “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain
Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah
seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam
pemeliharaanmu, sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’
dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang
mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan
ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah
mendidik aku waktu kecil.’” (Q.S. Al-Israa [17]: 23-24)

10
Lampiran-Lampiran

3. Berbuat baik kepada kerabat. Menurut Prof. Quraish Shihab, kata “kerabat”
menunjuk pada mereka yang punya hubungan darah karena satu rahim (kandungan). Kerabat
dekat artinya saudara yang ada pertalian darah terdekat, seperti kakak dengan adik.
Sementara kerabat jauh artinya saudara yang terjadi karena hubungan darah atau pernikahan
yang jauh, seperti saudara sepupu, paman, dan sebagainya. Namun, akan lebih menyeluruh
jika kerabat lebih dimaknai sebagai persaudaraan dalam ikatan iman dan Islam.
4. Berbuat baik kepada anak yatim. Terminologi yatim umumnya digunakan pada
anak yang belum aqil-baligh namun sudah ditinggal mati salah satu atau kedua orangtuanya.
Pengertian tersebut tidak bisa dipersalahkan, tetapi belum menyentuh sisi substansi yang
utama, yaitu hilangnya anak dari seseorang yang menjadi tempatnya berpangku, melindungi,
dan menjamin masa depannya. Sehingga, boleh jadi anak yang memiliki orangtua utuh
namun lemah (secara ekonomi) dapat dikategorikan sebagai anak yatim. Keutamaan berbuat
kebaikan pada anak yatim disebutkan Rasulullah Saw. dalam hadits berikut.
“Aku dan orang yang mengurus anak yatim berada di surga seperti ini.” Beliau
mengisyaratkan dengan kedua jarinya yaitu telunjuk dan jari tengah. (H.R. Bukhari)
Bagaimana kita seharusnya memperlakukan anak yatim? Penjelasannya ada dalam dua ayat
berikut.
“Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.” (Q.S. Adh-
Dhuha [93]: 9)
“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak
yatim, dan orang yang ditawan.” (Q.S. Al-Insan [76]: 8)
5. Berbuat baik kepada orang miskin. Orang miskin ialah mereka yang tidak mampu
memenuhi kebutuhan sehari-harinya karena kelemahan atau bawaan yang ada pada dirinya.
Salah satu yang masuk pada kategori miskin adalah para janda yang tidak mendapat bekal
cukup sepeninggal suaminya. Dalam hal ini Rasulullah Saw. bersabda.
Dari Abu Hurairah dari Nabi Saw. bersabda, “Orang yang membantu para janda dan
orang-orang miskin sama seperti orang yang berjihad di jalan Allah. Aku mengira beliau
bersabda, ‘Dan seperti orang yang shalat malam tidak lelah dan seperti orang puasa tidak
berbuka.’” (H.R. Muslim)

6. Bertutur kata yang mulia. Kata-kata apa pun yang keluar dari mulut manusia akan
membawa konsekuensi yang tidak sederhana. Untuk itu, kita dituntut agar bertutur kata
kepada siapa saja dengan kalimat-kalimat yang mulia. Dalam pengertian tidak menyakitkan,
enak didengar, lembut, menarik hati, dan baik. Berbicaralah dengan tidak melukai hati atau

11
Lampiran-Lampiran

menyinggung perasaan orang lain. Kata-kata yang terucap selalu bernilai kebaikan, nasihat,
dan menunjukkan pada kebenaran. Bertutur mulia intinya adalah kata-kata yang bermanfaat
bagi agama, dunia, dan bermanfaat bagi akhirat.
Dalam salah satu ayat-Nya, Allah mengingatkan kita untuk senantiasa mengatur dan
menjaga kata-kata.
“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat
pengawas yang selalu hadir.” (Q.S. Qaaf [50]: 18)
7. Mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Shalat dan zakat merupakan dua sisi
mata uang yang tidak bisa dipisahkan satu dari yang lainnya. Shalat merupakan penjaga dan
pemelihara hubungan antara hamba dan Allah Swt. Sementara, zakat adalah penjaga dan
pembangun hubungan antarsesama manusia, sebuah hubungan yang serasi dan senantiasa
menjaga solidaritas serta menjauhkan kesenjangan ekonomi dan sosial. Allah
memperingatkan kita dalam firman-Nya.

12
Lampiran-Lampiran

MAKNA IMAN TERHADAP HARI AKHIR


A. Pengertian Yaumul Akhir
Yaumul akhir atau hari kiamat adalah hari akhir kehidupan seluruh manusia dan
makhluk hidup didunia yang harus kita percayai kebenaran adanya yang menjadi jembatan
menuju kehidupan di aakhirat yang kekal dan abadi.
Iman kepada hari kiamat adalah rukun iman yang ke-lima. Hari kiamat diawali
dengan tiupan terompet sangkakala oleh malaikat isrofil untuk menghancurkan bumi beserta
seluruh isinya.
Hari kiamat tidak dapat diprediksi kapan akan datangnya karena merupakan rahasia
Allah SWT. Yang tidak dapat diketahui oleh siapapun. Namun dengan demikian kita masih
bisa mengetahui kapan datangnya hari kiamat dengan melihat tanda-tanda yang diberikan
oleh nabi Muhammad SAW. Orang iman kepada Allah SWT dan berbuat kebaikan akan
menerima imbalan surag yang penuh kenikmatan, sedangkan bagi oang-orang kafir dan
penjahat akan masuk neraka yang sangat pedih siksanya.
Dengan peraya dab beriman kepada hari kiamat (yaumul akhir) kita akan diddorong
untuk selalu berbuat baik, menghindari perbuatan dosa, tidak mudah putus asa, tidak
sombong, tidak takabur, dan lain ebagainya.. karena segala amal perbuatan kita dicatat oleh
malaikat yang kan digunakan sebagai bahan refrensi apakah kita masuk surga datau neraka ?
B. Tanda-Tanda Datangnya Hari Kiamat
Tanda-tanda hari kiamat adalah alamat kiamat yang menunjukkan akan terjadinya
kiamat tersebut. Dan tanda-tanda kiamat ada dua macam, yaitu :
1. Tanda-tanda kiamat kecil (sughro)
2. Tanda-tanda kiamat besar (Qhubro)
a. Tanda kimat kecil adalah tanda yang datang sebelum kiamat dengan waktu yang relatif lama
dan kejadian biasa, seperti : dicabutnya ilmu, domonannya kebodohan, minum khomar,
berlomba-lomba dalam membangun dan lain-lain.
Tanda-tanda kiamat kecil terbagi menjadi dua :
Pertama : kejadian sudah muncul dan sedah selesai, seperti diutusnya Rosulullah SAW,
terbunuhnya Utsman bin Affan, terjadinya fitnah besar abtara dua kelompok orang beriman.

13
Lampiran-Lampiran

Kedua : kejadiannya sudah muncul tetapi belum selesai bahkan semakin bertambah, seperti :
tersia-siakannya amanah, terangkatnya ilmu, merebaknya perzinaan dan pembunuhan,
banyaknya wanita dan lain-lain.
b. Tanda Kiamat Qubro (besar) adalah perkara yang besar yang muncul mendekati kiamat yang
munculnya tidak bisa terjadi, seperti : munculnya Dajjal, Nabi Isa AS, Ya’juj dan Ma’juj,
terbitnya matahari dari barat dan lain-lain.
Terbitnya matahari dari barat adalah awal dari tanda-tanda kiamat besar yang mengakibatkan
perubahan kondisi langit. Berakhir dengan terjadinya kiamat. Ibnu hajar melanjutkan,
“Hikmah dari kejadian ini bahwa ketika terbit matahari dari barat, maka tertutuplah pintu
taumat”
Ayat-ayat dan hadits yang menyebutkan tanda-tanda kiamat qubra (besar) diantaranya :
“Hingga apabila dia telah sampai diantara dua gunung, dia mendapati dihadapan kedua
bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraannya, mereka berkata :”Hai
Dzulqornain, sesungguhnya ya’juj dan ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di
muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu
mebuatkan dinding kami dan mereka ?” Dzulqornain berkata “Apa yang telah dikuasakan
oleh tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan
(manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka”.(Al-Kahfi;
82).
c. Perbedaan Antara Kiamat Sughro dan Qubra
1. Tanda-tanda kiamat kecil secara umum itu datang terlebih dahulu daripada tanda-tanda kiamat
besar.
2. Tanda kiamat Sughra sebagian sudah terjadi, sebagiannya sedang terjadi dan sebagiannya akan
terjadi, sedangkan kiamat Qubra belum terjadi.
3. Tanda kiamat kecil bersifat biasa dan tanda kiamat besar bersifat luar biasa.
4. Tanda kiamat sughra berupa peringatan agar manusia sadar dan bertaubat. Sedangkan kiamat
Qubro jika sudah datang, maka tertutuplah pintu taubat.
5. Tanda kiamat Qubro jika muncul satu tanda, maka akan diikuti tanda-tanda yang lain. Dan
yang pertama muncul adalah terbitnya matahari dari barat.
C. Peristiwa Hari Akhir
Iman kepada hari akhir adalah mempercayai dengan sepenuh hati terhadap
perubahan dahsyat yang terjadi pada alam semesta ini. Perubahan ini merupakan tanda
berakhirnya kehidupan dunia yang fana dan dimulainya kehidupan akhirat yang kekal. Dan

14
Lampiran-Lampiran

kapan terjadinya hari akhir itu tidak seorang pun bahkan satu makhluk pun tidak dapat
mengetahui waktu terjadinya hari akhir, kecuali Allah SWT. Didalam Alqur’an disebutkan :
Artinya : Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: "Bilakah terjadinya?" Katakanlah:
"Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun
yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia (Q.S Al-A’raf : 187).
Peristiwa hari akhir yang sering disebut hari kiamat didahului dengan tiupan
sangkakala pertanda akan musnahnya alam semesta ini. Pada saat itu seluruh makhluk seperti
manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, gunung-gunung, laut, langit semuanya menjadi kacau
balau dan hancur. Didalam surat Al-Qori’ah ayat 1-5 disebutkan:
Artinya : Hari kiamat, Apakah hari kiamat itu?, tahukah kamu Apakah hari kiamat itu?, pada
hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran, dan gunung-gunung adalah
seperti bulu yang dihambur-hamburkan.( Q.S Al-Qori’ah : 1-5)
Ayat Al-qur’an diatas menerangkan bahwa perisrtiwa hari kiamat adalah peristiwa
yang benar-benar dahsyat. Pada saat bumi dan langit digoncang, setiap orang sibuk dengan
dirinya sendiri. Orang tua tidak dapat menolong anaknya, sebaliknya anak tidak dapat
menolong atau membantu orang tuanya. Setelah kejadian itu semua makhluk yang bernyawa
menemui ajal. Dan kehidupan diduniapun berakhir.
Setelah semua makhluk didunia menemui ajalnya, maka malaikat sirail meniup
sangkakala sekali lagi. Tiupan sangkakala yang kedua ini Allah menghendaki agar semua
manusia bangkit kembali. Setelah manusia dibangkitkan kembali, lalu dikumpulkan dipadang
mahsyar untuk menjalani pemeriksaan tentang amal perbuatan yang dilakukan selama hidup
didunia.
Pemeriksaan ini berjalan dengan tertib dan adil. Setiap manusia menerima buku
catatan atau rekamanan yang lengkap tentang amalan perbuatan selama hidup didunia.
Dihadapan pengadilan Allah ini manusia tidak bisa berbohong karena mulut mereka
dibungkam dan yang menjawab pertanyaan adalah anggoa badan yang lain. Sekcil apapun
perbuatan jahat akan dilihat dan mendapat balasan. Demikian juga sekecil apapun kebaikan
yang diperbuat manusia akan terlihat dan mendapat imbalannya.
Setelah pengadilan Allag selesai, orang-orang akan beruntung karena hanya
melakukan amal sholeh, ditempatkan disurga, sedangkan orang-orang yang selaka karena
banyak melakukan perbuatan dosa di tempatkan dineraka.
Dalil Nash dan Argumentasi Rasional Adanya Kebangkitan Manusia
Allah SWT mengembalikan orang-orang yang mati serta menghidupkan mereka
pada hari kiamat, maka orang-orang musyrik pada masa Rasul SAW menganggap hal itu

15
Lampiran-Lampiran

tidak mungkin. Mereka tidak percaya tentang kebangkitan itu. Mereka berkata bagaimana
Allah menghidupkan orang-orang mati setelah mereka terpisah dari hidup, telah rusak dan
terpisah-pisah serta bagian jasad mereka bercampur dengan bagian-bagian bumi?.
Al-Qur’an yang mulia menolak keraguan itu dalam beberpa ayat yang
pengertiannya, bahwa Allah SWT. Maha sempurna kekuasaan-Nya dan ilmu-Nya. Dia maha
kuasa untuk mengembalikan orang-orang mati sesudah hancur dan menghidupkan mereka
untuk dihisab dan diberi balasan.
Artinya : Dan ia membuat perumpamaan bagi kami; dan Dia lupa kepada kejadiannya;
ia berkata: "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?"
Katakanlah: "Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama.
dan Dia Maha mengetahui tentang segala makhluk.
Yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, Maka tiba-tiba kamu
nyalakan (api) dari kayu itu".
dan tidaklah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang
serupa dengan itu? benar, Dia berkuasa. dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha mengetahui.
Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata
kepadanya: "Jadilah!" Maka terjadilah ia.
Maka Maha suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaaan atas segala sesuatu dan
kepada-Nyalah kamu dikembalikan.
Allah SWT membuat perumpamaan-perumpamaan yang memahamkan hal itu pada akal
mereka dengan perumpamaan, bahwa Allah SWT menghidupkan bumi sesudah matinya
menurunkan air hujan. Maka bumi itu menjadi hijau, berbunga dan menyenangkan, seduah
bumi itu kering dan tidak terlihat bekas-bekas kehidupan dan sebagainya. Beberapa
perumpamaan-perumpamaan yang menghilangkan keraguan mereka tentang kebangkitan
yang ada dalam pikiran mereka.

16
Lampiran-Lampiran

IMAN KEPADA QADA DAN QADAR


A. Pengertian
Qadha adalah ketentuan Allah yang berlaku bagi setiap makhluk sejak zaman azali.
Qadha juga bisa diartikan sebagai hukum Allah SWT yang telah Dia tentukan untuk alam
semesta alam ini dan Dia jalankan alam ini sesuai dengan konsekuensi hukumnya dari
sunnah-sunnah yang Dia kaitkan antara akibat dengan sebab-sebabnya, semenjak Dia
menghendakinya sampai selama-lamanya.
Qadar yaitu perwujudan qadha Tuhan bagi manusia setelah berusaha (ikhtiar), dapat
juga diartikan sebagai penentuan atau pembatasan ukuran segala sesuatu sebelum terjadinya
dan menulisnya di lauhil mahfudz.
Beriman kepada qadar yaitu membenarkan dengan sesungguhnya bahwa yang terjadi baik
dan buruk itu adalah atas qadha dan qadar Allah.
Segala yang terjadi pada alam semesta dan pada jiwa manusia semua itu sudah
ditakdirkan oleh Allah dan ditulis sebelum diciptakannya makhluk. Semua yang telah
ditakdirkan Allah adalah untuk sebuah hikmah yang diketahui oleh-Nya. Allah tidak pernah
menciptakan kejelekan yang murni, akan tetapi ia masih dalam rentetan makhluknya. Segala
sesuatu apabila dinisbatkan kepada Allah adalah keadilan, rahmat dan hikmah. Maka
keburukan murni tidak termasuk ke dalam sifat Allah dan tidak juga ke dalam perbuatan-Nya.
Dia memiliki kesempurnaan mutlak. Firman Allah yang artinya : “Apasaja nikmat yang kamu
peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu maka dari (kesalahan)
dirimu sendiri”. (QS. An Nisa: 79).
Pada suatu malam, selepas menunaikan sholat isya, Rasulullah saw mengunjungi
rumah menantu rumah menantunya. Ali ra saat itu dilihat menantunya sudah tidur lelap,
sedang waktu masih terlampau sore. Rasulullah saw lalu berkata: “Alangkah baiknya kalau
sebagian dari waktu malammu dipergunakan untuk melakukan shalat sunat”. Ali ra
menjawab: “ya Rasulullah, diri kita semua ini berada dalam genggaman kekuasaan Allah.
Jikalau dia menghendakinya, tentu dilimpahkan oleh-Nya rahmat kepada kita, dan jikalau
Dia menghendaki tentu ditariknya kembali rahmat itu”.
Mendengar jawaban itu, Rasulullah saw dengan nada kecewa, keluar meninggalkan
rumah menantunya itu sambil memukul-mukul pahanya dan berkata “Sungguh manusia itu
amat banyak sekali membantah-Nya”.

17
Lampiran-Lampiran

Riwayat tersebut memberi petunjuk terhadap ketidaksetujuan Rasulullah saw kepada


mereka yang berpandangan bahwa segala sesuatu tergantung kepada kehendak Tuhan semata,
dan kurang memperhatikan peran kerja atau amal ibadah.
B. Tingkatan Beriman Kepada Takdir
1. Al Ilm (pengetahuan)
Yaitu mengimani dan meyakini bahwa Allah Maha Tahu atas segala sesuatu. Dia mengetahui
apa yang ada di langit and bumi, tak asa sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya.
2. Al Kitabah (penulisan)
Yaitu percaya bahwa Allah telah menuliskan ketetapan segala sesuatu dalam lauhil mahfudz
yang ada di sisi-Nya. Tiada sesuatu pun yang terlupakan.
3. Al Masyi’ah (kehendak)
Yaitu segala sesuatu yang terjadi, atau tidak terjadi di langit dan bumi adalah kehendak Allah,
dan Allah telah menetapkan bahwa apa yang diperbuat-Nya adalah dengan kehendak-Nya.
4. Al Khalq (penciptaan)
Yaitu mengimani bahwa apa yang terjadi dari perbuatan Allah adalah ciptaan-Nya. Segala
yang ada di langit dan bumi, dan seisinya adalah ciptaan Allah termasuk apa yang terjadi
dalam makhluk-Nya seperti sifat, perubahan dan keadaan.

C. Macam-macam Takdir
1. Takdir Azali
Meliputi segala hal dalam 50.000 tahun sebelum terciptanya langit dan bumi, ketika
Allah menciptakan Al Qalam dan memerintahkannya menulis segala apa yang ada sampai
hari kiamat.
2. Takdir Umuri
Takdir yang diberlakukan atas manusia pada awal penciptaannya, ketika pembentukan
air sperma sampai pada masa sesudah itu dan bersifat umum, rezeki, perbuatan, kebahagiaan
dan kesengsaraan.
3. Takdir Sanawi
Takdir yang dicatat pada malam lailatul qadar setiap tahun. Pada malam itu ditulislah
semua apa yang bakal terjadi dalam 1 tahun, mulai dari kebaikan, keburukan, rezeki, ajal dan
lain-lain.
4. Takdir Yaumi

18
Lampiran-Lampiran

Dikhususkan untuk semua peristiwa yang telah ditakdirkan dalam 1 hari, mulai dari
penciptaan, rezeki, menghidupkan, mematikan, mengampuni dosa, dan menghilangkan
kesusahan dan sebagainya.

D. Iman Kepada Qadha dan Qadar Kaitannya dengan Perkembangan Islam


Menurut Abdul Mudhaffar Ibnus Sam’ani, cara mengetahui adanya qadha dan qadar,
ialah melalui Al-Qur’an dan sunnah, bukan logika dan akal. Maka barang siapa tidak
berpegang kepada Al-Qur’an dan as Sunnah, ia sesat dalam laut keheranan, tidak dapat
menemukan penawar yang menyejukkan, mententramkan jiwa. Karena qadar itu adalah
rahasia Allah, yang hanya Allah sendiri yang mengetahuinya. Allah menyembunyikan
rahasia-rahasia itu dari penglihatan manusia dan ilmu mereka. Karena ada hikmat yang Allah
sendiri yang mengetahuinya. Nabi dan malaikat tidak dapat mengetahuinya.
Perkataan ini sepintas lalu dapat dikatakan bertentangan awalnya dengan akhirnya.
Akan tetapi pertentangan itu hilang apabila kita mengetahui mengenai qadha dan qadar ini.
Dan dikehendaki dengan akhir ketetapan ini ialah apa yang Allah telah tetapkan bagi setiap
makhluk-Nya.
Ringkasnya, hendaklah kita cukupi dalam masalah ini apa yang diterangkan dalam
Al-Qur’an dan as sunnah, tidak membahasnya lebih lanjut lagi, karena akan membawa
kepada sesuatu yang sebenarnya tidak dapat diketahui akal manusia dan tidak ada kaitannya
dengan kebahagiaan kehidupan manusia di dunia ini ataupun di akhirat.
Sahabat-sahabat Rasulullah saw telah mencukupi dengan dalil-dalil yang diperoleh
dari Al-Qur’an dan as sunnah. Dengan berpegang kepada Al-Qur’an dan as sunnah, mereka
disegani. Keimanan mereka kepada qadar, sedikitpun tidak menghalangi mereka berusaha
untuk mencapai kemajuan dunia dan kebajikan akhirat. Bahkan keimanannya kepada qadar,
menambah keberanian mereka dalam berjuang mengembangkan agama Allah.
E. Faedah Iman Kepada Qadha dan Qadar
Kita beriman kepada qadha dan qadar, menghasilkan faedah yang besar dalam
kehidupan kita para mukmin. Allah menciptakan manusia menyukai hidup, menggemari
kenikmatannya, selalu berusaha menghasilkan kemanfaatan bagi dirinya, tidak menyukai
sakit, sangat berkeluh kesah apabila bencana menimpanya.
Hal-hal di atas merupakan salah satu kekurangan manusia dan mendorongnya
membuat kejahatan. Karenanya tidaklah layak bagi orang yang mengobati jiwa manusia,
mengabaikan urusan pengobatan dan memperburuk keadaan. Jika tidak, suburlah pada

19
Lampiran-Lampiran

manusia tabiat cinta diri dan mengutamakan diri sendiri dan putuslah hubungannya dengan
orang-orang yang ada disekitarnya, apabila dia memperoleh kebajikan, dan timbullah keluh
kesahnya dan lemahlah cita-citanya apabila ditimpa bencana.
Orang yang berpendapat bahwa dia berkuasa atas dirinya sendiri, segala kebajikan
yang diperolehnya hanyalah karena kepandaian dan kecakapannya, tentulah dia terperdaya,
tentulah dia congkak dan angkuh, lalu karenanya putuslah hubungannya dengan masyarakat,
tidak lagi bersyukur kepada Tuhannya. Orang yang ditimpa bencana dengan anggapan bahwa
hal itu dideritanya, lantara semata-mata kesalahannya, kekeliruannya, mengkin akan terlalu
menyesali dirinya, atau menjadi dendam kepada orang-orang di sekitarnya. Dia tidak
menemukan sesuatu yang dapat menghibur hatinya, lalu lemahlah azimahnya. Dan kadang-
kadang dia beranggapan apabila bencana itu terus menerus menimpanya, bahwa dia tidak
mampu menolak bencana, lalu timbullah putus asa, maka dia pun menjadi nekad membunuh
diri.
Maka jalan yang paling baik untuk memelihara manusia dari sikap pongah, congkak
dan sombong, apabila dia memperoleh kebajikan, dan menghibur hatinya, apabila dia
tertimpa kesusahan, ialah iman, bahwa segala apa yang telah terjadi adalah karena
demikianlah takdir azali.
Mukmin yang percaya kepada qadha Allah dan qadar-Nya sangat jauh dari tabiat
dengki yang mendorongnya kepada kejahatan, karena dia beranggapan bahwa mendengki
manusia terhadap nikmat-nikmat yang diperolehnya, berarti dengaki kepada nikmat Allah;
dan dia menyukai bagi orang lain, apa yang dia sukai bagi dirinya sendiri. Dia berusaha
mencapai kebahagiaan melalui jalan yang telah digariskan agama. Dia beramal dengan jiwa
yang tenang dan berani, serta berpegang kepada Allah sendiri dengan tetap memohon taufiq
dan inayah, dia memuji Allah dan mensyukuri-Nya terhadap pemberian Allah kepadanya.
Dan jika dia gagal, tidaklah dia berkeluh kesah, tidaklah lemah azimahnya dan tidaklah
menyerah kalah kepada kegundahan serta tidak menaruh dendam kepada seseorang pun.

20
Lampiran-Lampiran

PERNIKAHAN
Pengertian Nikah
Secara bahasa nikah diartikan sebagai berkumpul, wathi, dan akad. Sedangkan secara
istilah diartikan sebagai:
‫عقد يتضمن ملك وطء بلفظ إنكاح أو تزويج أو معناهما‬
Akad yang mengandung maksud untuk memiliki kesenangan wat’I dengan
menggunakan lafadz nikah atau kawin atau yang semakna dengan keduanya.
Perkawinan atau pernikahan dalam literatur fiqih berbahasa arab disebut dengan dua
kata, yaitu nikah(‫)إنكاح‬, dan zawaj(‫)تزويج‬. Kedua kata ini yang terpakai dalam kehidupan
sehari-hari orang Arab dan banyak terdapat dalam al-Qur’an dan hadits Nabi. Kata nakaha
banyak terdapat dalam al-Qur’an dengan arti kawin, seperti dalam surat an-Nisa’ ayat 3:
Dan jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan
yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu
senangi: dua, tiga atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil,
Maka (kawinilah) seorang saja.
Hukum-Hukum Pernikahan dalam Kehidupan
Imam Syafi’i mengatakan bahwa nikah itu hukumnya jaiz atau mubah, atau bisa
dikatakan bahwa seseorang itu boleh nikah juga boleh tidak nikah. Hukum jaiz tersebut dapat
berkembang ke tingkat yang lebih tinggi yaitu wajib juga dapat pula menjadi haram. Dalam
sistem hukum Syafi’iyah tidak menekankan hanya kepada kaidah hukum asalnya saja tetapi
juga pada segi agama, sosial, moralnya, sesuai dengan jiwa syari’at Islam. Lebih lanjut kita
tinjau hukum menikah dari kondisi perseorangan dengan berlandaskan pada kaidah ushul fiqh
yang berbunyi: “Hukum itu beredar atau berganti-ganti menurut illatnya.”
Kaidah ini setelah diterapkan dalam hukum perkawinan, menghasilkan perubahan
hukum yang didasarkan dari perbedaan illat. pada tataran selanjutnya, hukum pernikahan
sangat bergantung pula kepada keadaan orang yang bersangkutan, baik dari segi psikologis,
materi maupun kesanggupannya memikul tanggung jawab. Bisa jadi, bagi seseorang
pernikahan itu wajib. Dan, bisa jadi pula bagi orang lain hukumnya adalah mubah. Untuk
lebih jelasnya, marilah kita bahas satu per satu hukum pernikahan.

21
Lampiran-Lampiran

1. Wajib
Menikah hukumnya wajib bagi orang yang khawatir berbuat zina jika tidak
melakukannya.

2. Sunnah
Pernikahan tidak menjadi wajib, namun sangat dianjurkan bagi siapa saja yang
memiliki hasrat atau dorongan seksual untuk menikah dan memiliki kemampuan untuk
melakukannya, walaupun merasa yakin akan kemampuannya mengendalikan dirinya sendiri,
sehingga tidak khawatir akan terjerumus dalam perbuatan yang diharamkan Allah.
3. Makruh
Jika seseorang laki-laki yang tidak mempunyai syahwat untuk menikahi seseorang
perempuan, atau sebaliknya, sehingga tujuan pernikahan yang sebenarnya tidak akan
tercapai, maka yang demikian itu hukumnya makruh. Misalnya seorang yang impoten.
Sebagaimana kita ketahui, salah satu tujuan dari pernikahan adalah menjaga diri, sehingga
ketika tujuan ini tidak tercapai, maka ada faedahnya segera menikah.
4. Haram
Pernikahan menjadi haram bila bertujuan untuk menyakiti salah satu pihak, bukan demi
menjalankan sunnah rasulallah Saw. Misalnya, ada seorang laki-laki yang mau menikahi
seorang perempuan demi balas dendam atau sejenisnya. Ini hukumnya haram.
5. Mubah
Pernikahan menjadi mubah (yakni bersifat netral, boleh dikerjakan dan boleh juga
ditinggalkan) apabila tidak ada dorongan atau hambatan untuk melakukannya ataupun
meninggalkannya, sesuai dengan pandangan syari’at, seperti telah dijelaskan diatas.
Rukun-Rukun Pernikahan
Rukun dan syarat menentukan suatu perbuatan hukum, terutama yang menyangkut
dengan sah atau tidaknya perbuatan tersebut darisegi hukum. Kedua kata tersebut
mengandung arti yang sama dalam hal bahwa keduanya merupakan sesuatu yang harus
diadakan. Dalam suatu acara perkainan umpamanya rukun dan syaratnya tidak boleh
tertinggal, dalam arti perkawinan tidak sah bila keduanya tidak ada atau tidak lengkap.
Keduanya mengandung arti yang berbeda dari segi bahwa rukun itu adalah sesuatu yang
berada di luarnya dan tidak merupakan unsurnya. Syarat itu ada yang berkaitan dengan rukun
dalam arti syarat yang berlaku untuk setiap unsur yang menjadi rukun. Ada pula syarat itu
berdiri sendiri dalam arti tidak merupakan kriteria dari unsur-unsur rukun.

22
Lampiran-Lampiran

Nikah tidak sah jika tidak terpenuhinya beberapa perkara (syarat-ayarat dan rukun
nikah), yaitu:
1. Shighot (ijab qobul)
2. Calon istri
3. Calon suami
4. Wali
5. Dua orang saksi
Hikmah Pernikahan dalam Realita Kehidupan
Ada beberapa tujuan dari disyariatkan perkawinan atas umat Islam. Di antaranya
adalah:
a. Untuk mendapatkan anak keturunan yang sah untuk melanjutkan generasi yang akan datang.
b. Menjaga diri dari syetan
Kemampuan seksual yang diciptakan pada manusia, laki-laki dan perempuan untuk
mencapai tujuan yang mulia yaitu berketurunan, beranak, memperbanyak anak dengan
melanjutkann keturunan jenis manusia.
c. Untuk mendapatkan keluarga bahagia yang penuh ketenangan hidup dan rasa kasih sayang.
d. Menghibur jiwa dan menenangkannya dengan bersama-sama
Sesungguhnya kenyamanan jiwa dan ketenangan dengan bersama-sama, mamandang
dan bermain main, menyegarkan hati, dan menguatkannya untuk beribadah sebagai sesuatu
yang di perintahkan.

23
Lampiran-Lampiran

Kedudukan Perempuan dalam Kehidupan Rumah Tangga


Perempuan pun dijadikan sebagai penanggung jawab dalam rumah tangga suaminya,
sebagai pemimpin atas anak-anaknya. Nabi SAW kabarkan hal ini dalam sabdanya:
‫ِي َم ْسئ أ ْولَةٌ َع ْن أه ْم‬ ِ ‫ْال َم ْرأَة أ َرا ِعيَةٌ َعلَى بَ ْي‬
َ ‫ت زَ ْو ِج َها َو َولَ ِد ِه َوه‬
“Perempuan adalah pemimpin atas rumah tangga suaminya dan anak suaminya, dan ia akan
ditanya tentang mereka.” (HR Bukhari dan Muslim).
Diatas telah dijelaskan bahwa al-Qur’ân menempatkan perempuan pada posisi yang
setara dengan pria dalam derajat kemanusiaan. Namun, berdasar pada kesadaran akan adanya
perbedaan-perbedaan keduanya baik yang menyangkut masalah fisik maupun psikis, Islam
kemudian membedakan keduanya dalam berapa persoalan, terutama yang menyangkut fungsi
dan peran masing-masing. Pembedaan ini dapat dikategorikan ke dalam dua hal, yaitu dalam
kehidupan keluarga dan kehidupan publik. Ayat yang sering kali dijadikan dasar untuk
meman dang kedudukan masing-masing laki-laki dan perempuan adalah Firman Allâh pada
surat al-Nisâ’ [4]: 34, “Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena
Allâh telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan),
dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian harta mereka”
Semua ulama sepakat bahwa ayat ini punya daya berlaku dalam konteks keluarga.
Perbedaan di antara mereka baru muncul ketika ayat ini dibawa untuk dijadikan legitimasi
pembedaan laki-laki dan perempuan dalam kehidupan publik. Akan tetapi, kesepakatan
mereka dalam mengakui berlakunya ayat ini dalam konteks keluarga tidak kemudian berarti
mereka seragam juga dalam menafsirkannya. Para ahli tafsir mengajukan penjelasan yang
sangat beraneka ragam terhadap ayat tersebut.
Ibnu Jarîr Al-Thabâri menjelaskan maksud “qowwâmun” adalah penanggung jawab
untuk mendidik dan membimbing istri agar mentaati kewajibannya kepada Allâh dan suami.
Ibnu Abbas mengartikan kata “qowwâmun” sebagai pihak yang mempunyai kekuasaan untuk
mendidik perempuan. Dalam tafsir al-kasysyâf, al-Zamakhsyari menjelaskan bahwa kaum
laki-laki berkewajiban melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar kepada perempuan sebagai
mana p enguasa pada rakyatnya.

24
Lampiran-Lampiran

Apabila keanekaragaman penafrsiran tersebut kita cermati (baik yang dilakukan oleh
mufassirin klasik maupun modern), maka akan kita dapatkan benang merah berupa kelebihan
laki-laki atas perempuan dan posisi laki-laki yang berada di atas perempuan dalam kehidupan
rumah tangga.
Kelebihan laki-laki atas perempuan terjadi karena beberapa faktor, diantaranya karena sifat
hakikinya dan hukum syara’ yang menetapkan demikian. Sifat hakiki bersumber pada dua
hal, yaitu pengetahuan dan kemampuan. Tidak diragukan lagi bahwa akal dan ilmu laki-laki
lebih banyak dan kemampuan laki-laki untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang berat
lebih sempurna. Karena dua hal inilah laki-laki mempunyai kelebihan dari perempuan dalam
penalaran tekad yang kuat, kekuatan menulis dan keberanian.
Karena laki-laki lebih potensial dari perempuan, maka dari laki-laki lah lahir para
nabi, ulama, dan imam. Mereka berperan dalam jihad, adzan, khotbah, persaksian
dalam hudûd dan qishâs. Mereka Juga menerima bagian lebih dalam waris, menjadi wali
dalam nikah, menentukan talak, rujuk dan lain sebagainya.
Kelebihan laki-laki atas perempuan karena dua sebab, yaitu fitri dan kasbi, laki-laki
sejak penciptaannya sudah diberi kelebihan kekuatan dan kemampuan. Akibat kelebihan
sejak penciptaannya, laki-laki mempunyai kesempurnaan akal dan kejernihan pandangan
yang menyebabkan adanya kelebihan kasbi sehingga laki-laki mampu berusaha, berinovasi
dan kebebasan bergerak. Adapun perempuan dilahirkan sejak penciptaannya diberi fitrah
untuk mengandung (hamil), melahirkan dan mendidik anak. Sebab jika perempuan dapat
menjalankan fungsinya seperti laki-laki sebagaimana pandangan pertama diatas, fitrah
mereka tetap menghalanginya.
Memang harus juga diakui bahwa ternyata ada beberapa perempuan yang punya
kelebihan dari pria. Akan tetapi hal itu sangat bersifat kasuistik dan tidak bisa digeneralisir
untuk kemudian ditarik darinya suatu hukum. Karena itulah, Islam menetapkan ketentuan
berdasarkan pada lazimnya kenyataan yang terjadi dengan menempatkan kedudukan laki-laki
lebih tinggi dari perempuan dalam rumah tangga seperti dalam ayat tadi. Ketentuan ayat 34
surat al-Nisâ diperkuat oleh firman Allâh: “Akan tetapi, para suami mempunyai satu
tingkatan kelebihan dari istrinya”.
Karena perbedaan itulah maka al-Qur’ân memberi hak dan kewajiban masing-masing
secara berbeda. Namun yang perlu ditekankan, pembedaan tersebut bukanlah diskriminasi
dan wujud ketidakadilan, tetapi justru agar tercapai keseimbangan dan keharmonisan dalam
menjalani bahtera rumah tangga. Dalam membedakan hak dan kewajibannya,[21] Islam tidak
memihak pada pihak laki-laki dengan menekan pihak perempuan sebagaimana disebutkan

25
Lampiran-Lampiran

dalam al-Qur’ân: “Dan para perempuan mempunyai hak yang seimbang dengan
kewajibannya menurut cara yang makruf”.
Sebagai yang dipimpin, perempuan wajib menaati pihak yang memimpinnya, yaitu
laki-laki. Dia wajib patuh dalam segala hal selama bukan perintah yang sifatnya menyuruh
terhadap kemaksiatan. Dia juga harus hormat, patuh, dan tunduk pada suaminya sebagaimana
yang tercermin dari haditst nabi, seandainya aku memerintahkan seorang sujud pada orang
lain, niscaya aku memerintahkan istri sujud pada suaminya (HR Tirmidzi dll). Laki-laki
sebagai yang memimpin dan harus dipatuhi, dia tidak boleh menindas istrinya dan berbuat
semena-mena, tetapi harus bersikap baik kepadanya. Allâh berfirman: “Dan gaulilah istri-
istrimu dengan cara yang baik”
Dalam kehidupan rumah tangga, Islam sangat melindungi perempuan, hal ini dapat
kita lihat misalnya dalam haditst nabi: “Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik
perlakuannya terhadap istri dan anak perempuan” (HR Baihaqi dari Abi Hurairah). Bahkan
dengan tegas Nabi menyatakan bahwa suami yang semena-mena terhadap istrinya akan
dibalas oleh Allâh dengan siksa neraka. Nabi shallallâhu ‘alahi wa sallam,
bersabda, “Ketahuilah, aku kabarkan kepada kalian tentang ahli neraka, yaitu laki-laki yang
keras hati, kasar, sombong, suka menyakiti Istrinya, yang bakhil, yang terlalu banyak
melakukan hubungan seks”.
Dalam masalah hak, perempuan juga sangat dimanjakan dan diperhatikan
kesejahteraannya oleh al-Qur’ân. Dalam surat al-Baqarah [2] ayat 123 Allâh
berfirman, “Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya.”
Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa seorang ibu mempunyai hak-hak pribadi yang
tidak berkaitan dengan statusnya sebagai istri.

26
Lampiran-Lampiran

MAWARIS
Mawaris ialah cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari cara-cara pembagian harta
waris. Mawaris disebut juga faraidh karena mempelajari bagian-bagian penerimaan yang
sudah ditentukan sehingga ahli waris tidak boleh mengambil harta waris melebihi ketentuan.
Adapun hukum mempelajarinya ialah fardhu kifayah.
Pengertian Ahli Waris
Kata “ahli waris” dalam bahasa arab disebut “‫– “ الوارث‬yang secara bahasa berarti
keluarga–tidak secara otomatis ia dapat mewarisi harta peninggalan pewarisnya yang
meninggal dunia. Karena kedekatan hubungan keluarga juga dapat mempengaruhi kedudukan
dan hak-haknya untuk mendapatkan warisan. Terkadang yang dekat menghalangi yang jauh,
atau ada juga yang dekat tetapi tidak dikategorikan sebagi ahli waris yang berhak menerima
warisan, karena jalur yang dilaluinya perempuan.
Sedangkan pengertian ahli waris ( ‫ )الوارث‬secara istilah adalah orang yang menerima
atau memiliki hak warisan dari tirkah (harta peninggalan) orang yang meninggal dunia
(pewaris). Untuk berhaknya dia menerima harta warisan itu diisyaratkan dia telah dan hidup
saat terjadinya kematian pewaris. Dalam hal ini termasuk pengertian ahli waris janin yang
telah hidup dalam kandungan, meskipun kepastian haknya baru ada setelah ia lahir dalam
keadaan hidup. Hal ini juga berlaku terhadap seseorang yang belum pasti kematiannya. Tidak
semua ahli waris mempunyai kedudukan yang sama, melainkan mempunyai tingkatan yang
berbeda-beda secara tertib sesuai dengan hubungnnya dengan si mayit.
Macam-macam Ahli Waris dan Hak-haknya
Ahli waris itu ada yang ditetapkan secara khusus dalam al-Qur’an dan langsung oleh
Allah dalam al-Qur’an dan oleh Nabi dalam hadisnya; ada juga yang ditentukan melalui
ijtihad dengan meluaskan lafaz yang terdapat dalam nash hukum dan ada pula yang dipahami
dari petunjuk umum dari al-Qur’an dan atau hadis Nabi. Artinya para ahli waris yang
mempunyai hak waris dari seseorang yang meninggal dunia –baik yang ditimbulkan melalui
hubungan turunan (zunnasbi), hubungan periparan (asshar), maupun hubungan perwalian
(mawali)– dapat dikelompokkan atas dua golongan, yakni (1) ahli waris yang hak warisnya

27
Lampiran-Lampiran

mengandung kepastian, berdasarkan ittifaq oleh para ulama dan sarjana hukum Islam, dan (2)
golongan yang hak warisnya masih diperselisihkan (ikhtilâf) oleh para ulama dan sarjana
hukum Islam.
Macam-macam ahli waris ditinjau dari sebab-sebabnya, dapat dikelompokkan menjadi
dua macam, yaitu:
1) Ahli waris nasabiah.
2) Ahli waris sababiyah.
Apabila dilihat dari segi bagian-bagian yang diterima mereka, ahli waris dapat
dibedakan kepada:
1) Ahli waris ashâb al-furûdh, yaitu ahli waris yang menerima bagian yang besar kecilnya
telah ditentukan dalam al-Qur’an, seperti 1/2, ¼, 1/8, 1/3, 1/6 dan 2/3.
2) Ahli waris ‘ashabah, yaitu ahli waris yang bagian yang diterimanya adalah sisa setelah
harta waris dibagikan kepada ahli waris ashâb al-furûdh.
3) Ahli waris zawi al-arhâm, yaitu ahli waris yang sesungguhnya memiliki hubungan darah,
akan tetapi menurut ketentuan al-Qur’an tidak berhak menerima warisan.
Apabila ahli waris dilihat dari jauh dekatnya hubungan kekerabatan, sehingga yang
dekat lebih berhak menerima warisan daripada yang jauh, dapat dibedakan menjadi:
1) Ahli waris hâjib, yaitu hali waris yang dekat yang dapat menghalangi ahli waris yang jauh,
atau karena garis keturunannya yang menyebabkannya dapat menghalangi ahli waris yang
lain.
2) Ahli waris mahjûb, yaitu ahli waris yang jauh yang terhalang oleh ahli waris yang dekat
hubungan kekerabatannya. Ahli waris ini dapat menerima warisan, jika yang menghalanginya
tidak ada.
Sedangkan apabila ahli waris dilihat dari jenis kelamin yang berhak menerima warisan,
baik ahli waris nasabiyah maupun sababiyah seluruhnya ada 25 orang, yang terdiri dari 15
orang ahli waris laki-laki dan 10 orang ahli waris perempuan.
Ahli waris menurut jenis kelamin laki-laki
Ahli waris menurut jenis kelamin laki-laki ( ‫) الوارثون‬, yaitu:
1) Anak laki-laki ( ‫) االبن‬
2) Cucu laki-laki dari anak laki-laki ( ‫ )ابن االبن‬dan seterusnya ke bawah
3) Bapak (‫) اْلب‬
4) Kakek dari bapak (‫ ) الجد من جهة اْلب‬dan seterusnya ke atas
5) Saudara laki-laki sekandung (‫) االخ الشقيق‬
6) Saudara laki-laki sebapak (‫) االخ لألب‬

28
Lampiran-Lampiran

7) Saudara laki-laki seibu (‫) االخ لَلم‬


8) Anak laki-laki saudara laki-laki sekandung (‫) ابن االخ الشقيق‬
9) Anak laki-laki dari saudara laki-laki sebapak (‫) ابن االخ لألب‬
10) Paman sekandung (‫) العم الشقيق‬
11) Paman sebapak (‫) العم لألب‬
12) Anak laki-laki paman sekandung ( ‫)ابن العم الشقيق‬
13) Anak lakai-laki paman sebapak (‫) ابن العم لألب‬
14) Suami ( ‫) الزوج‬
15) Orang laki yang memerdekakan mayit ( ‫)المعتق‬.
Bila ahli waris laki-laki tersebut berkumpul (ada semua), maka yang berhak menerima
warisan hanyalah anak laki-laki, bapak, dan suami.
Ahli waris menurut jenis kelamin perempuan
Ahli waris menurut jenis kelamin perempuan ( ‫) الوارثات‬, yaitu:
1) Anak perempuan ( ‫)البنت‬
2) Cucu perempuan dari anak laki-laki ( ‫ ) بنت االبن‬dan seterunya ke bawah
3) Ibu ( ‫) االم‬
4) Ibu dari bapak (‫) الجدة من جهة اْلب‬
5) Ibu dari ibu (‫) الجدة من جهة االم‬
6) Saudara perempuan sekandung (‫) االخت الشقيقة‬
7) Saudara perempuan sebapak (‫) االخت لألب‬
8) Saudara perempuan seibu (‫) االخت لَلم‬.
9) Istri ( ‫) الزوجة‬
10) Orang perempuan yang memerdekakan mayit ( ‫) المعتقة‬.
Bila berkumpul seluruh ahli waris kelompok perempuan tersebut, maka yang berhak
menerima warisan hanyalah anak perempuan, cucu perempuan dari anak laki-laki, ibu,
dan saudara perempuan kandung atau sebapak, dan istri. Namun demikian, bila berkumpul
seluruh ahli waris laki-laki dan perempuan (25 orang ahli waris ada semua), maka yanag
berhak menerima warisan hanyalah anak laki-laki, anak perempuan, bapak, ibu, suami atau
istri. Sehingga jelas, tidak setiap ahli waris secara otomatis dan berhak mendapat warisan,
artinya mereka sangat tergantung pada kedudukan dan kedekatannya dengan si mayyit
sebagai al-muwarris ( ‫)المورث‬.
Konsep Nasabiyah dan Sababiyah
1) Ahli Waris Nasabiyah

29
Lampiran-Lampiran

Ahli waris nasabiyah adalah ahli waris yang pertalian kekerabatannya kepada al-
muwarrisdidasarkan pada hubungan darah. Ahli waris nasabiyah ini seluruhnya ada 21 orang
, terdiri dari 13 orang ahli waris laki-laki dan 8 orang ahli waris perempuan. Untuk
memudahkan pemahaman lebih lanjut, akan penulis bahas Ahli waris nasabiyah berdasarkan
kelompok dan tingkatan kekerabatannya.
Ahli waris laki-laki, jika didasarkan pada urutan kelompoknya adalah sebagai berikut :
a. Anak laki-laki ( ‫)االبن‬
b. Cucu laki-laki dari anak laki-laki (, ‫ )ابن االبن‬dan seterusnya ke bawah
c. Bapak (, ‫) اْلب‬
d. Kakek dari garis bapak ( ‫ ) الجد من جهة اْلب‬dan seterusnya ke atas
e. Saudara laki-laki sekandung (‫) االخ الشقيق‬
f. Saudara laki-laki sebapak (‫) االخ لألب‬
g. Saudara laki-laki seibu (‫) االخ لَلم‬
h. Anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung (‫) ابن االخ الشقيق‬
i. Anak laki-laki dari saudara laki-laki sebapak (, ‫) ابن االخ لألب‬
j. Paman sekandung (‫) العم الشقيق‬
k. Paman sebapak (‫) العم لألب‬
l. Anak laki-laki paman sekandung ( ‫)ابن العم الشقيق‬
m. Anak laki-laki paman sebapak ( ‫)ابن العم لألب‬.
Adapun ahli waris perempuan semuanya ada 8 orang, yang rinciannya sebagai berikut:
a. Anak perempuan ( ‫)البنت‬
b. Cucu perempuan dari anak laki-laki ( ‫ ) بنت االبن‬dan seterunya ke bawah
c. Ibu ( ‫) االم‬
d. Nenek dari garis bapak ( ‫)الجدة من جهة اْلب‬
e. Nenek dari garis ibu ( ‫)الجدة من جهة االم‬
f. Saudara perempuan sekandung ( ‫) االخت الشقيقة‬
g. Saudara perempuan sebapak ( ‫) االخت لألب‬
h. Saudara perempuan seibu ( ‫) االخت لَلم‬.
Dari ahli waris nasabiyah tersebut di atas, apabila dikelompokkan menurut tingkat
atau kelompok kekerabatanya adalah sebagai berikut :
1. Furû’ al-wâris ( ‫الوارث‬ ‫) فروع‬, yaitu ahli waris kelompok anak keturunan al-
muwarris (‫)المورث‬, atau disebut dengan kelompok cabang (al-bunuwwah, ‫)البنوة‬. Kelompok ini
adalah ahli waris yang terdekat dan mereka didahulukan dalam menerima warisan. Ahli waris
yang termasuk kelompok ini adalah:

30
Lampiran-Lampiran

a) Anak perempuan (‫) البنت‬


b) Cucu perempuan garis laki-laki ( ‫)بنت االبن‬
c) Anak laki-laki ( ‫) االبن‬
d) Cucu laki-laki garis laki-laki ( ‫) ابن االبن‬
2) Usûl al-wâris ( ‫) اصول الوارث‬, yaitu ahli waris leluhur al-muwarris (‫)المورث‬. Kedudukan
meskipun sebagai leluhur, tetapi dikelompokkan berada setelah furû’ al-wâris. Mereka
adalah:
a) Bapak ( ‫) اْلب‬
b) Ibu ( ‫) االم‬
c) Kakek garis bapak ( ‫) الجد من جهة اْلب‬
d) Nenek dari garis bapak ( ‫) الجدة من جهة اْلب‬
e) Nenek garis ibu ( ‫) الجدة من جهة االم‬
3) Al-hawâsyi ( ‫) الحواشى‬, yaitu ahli waris kelompok samping, termasuk di dalamnya saudara,
paman dan keturunannya. Seluruhnya ada 13 orang, yaitu:
a) Saudara perempuan sekandung ( ‫) االخت الشقيقة‬
b) Saudara perempuan sebapak (‫) االخت لألب‬
c) Saudra perempuan seibu ( ‫) االخت لَلم‬
d) Saudara laki-laki sekandung ( ‫) االخ الشقيق‬
e) Saudara laki-laki sebapak ( ‫) االخ لألب‬
f) Saudara laki-laki seibu ( ‫) االخ لَلم‬
g) Anak laki-laki saudara laki-laki sekandung ( ‫) ابن االخ الشقيق‬
h) Anak laki-laki saudara laki-laki sebapak (‫) ابن االخ لألب‬
i) Paman sekandung ( ‫) العم الشقيق‬
j) Paman sebapak ( ‫) العم لألب‬
k) Anak laki-laki paman sekandung (‫) ابن العم الشقيق‬
l) Anak laki-laki paman seayah ( ‫)ابن العم لألب‬.
2) Ahli Waris Sababiyah
Ahli waris sababiyah adalah ahli waris yang hubungan kewarisannya timbul karena ada
sebab-sebab tertentu, yaitu:
a. Sebab perkawinan (al-musâharah) yaitu suami atau istri.
b. Sebab memerdekakan hamba sahaya (wala’ul ‘ataq).
c. Sebab adanya perjanjian tolong menolong menurut sebagian mazhab Hanafiyah (wala’ul
muwalah).
Furudh Al-Muqaddarah dan Macam-macamnya
31
Lampiran-Lampiran

Kata al-furûdh (‫ )فروض‬adalah bentuk jamak dari kata al-fardh (‫)الفرض‬, artinya bagian
atau ketentuan. Para ulama memberikan definisi yang beragam secara redaksional tentang
kata al-fardhini, namun secara substansi memiliki kesamaan persepsi dan maksud, yakni
bagian atau ketentuan. Sedangkan kata al-muqaddarah (‫ )المقدرة‬berasal dari kata "‫ ”قدر‬artinya
bagian (‫ )قسمة‬atau ketentuan (‫ ;)نصيب‬al-muqaddarah (‫ )المقدرة‬juga berarti ditentukan besar
kecilnya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa al-furûdh al-
muqaddarah (‫ )الفروض المقدرة‬adalah bagian-bagian yang telah ditentukan besar kecilnya di
dalam al-Qur’an yang tidak bertambah kecuali karena radd dan tidak berkurang kecuali
karena ‘aul. Bagian-bagian tersebut itulah yang akan diterima oleh ahli waris menurut jauh
dekatnya hubungan kekerabatan.
Adapun macam-macam al-furûdh-muqaddarah (‫ )الفروض المقدرة‬yang diatur secara rinci
di dalam al-Qur’an ada 6 (enam), yaitu:
1) Setengah/separoh (1/2 = al-nisf, ‫) النصف‬
2) Sepertiga (1/3 = al-sulus, ‫) الثلث‬
3) Seperempat (1/4 = al-rubu’, ‫) الربع‬
4) Seperenam (1/6 = al-sudus, ‫) السدس‬
5) Seperdelapan (1/8 = al-sumun, ‫) الثمن‬
6) Dua pertiga (2/3 = al-sulusain, ‫) الثلثين‬.
Dasar hukum al-furûdhh al-muqaddarah (‫ )الفروض المقدرة‬tersebut adalah terdapat dalam
surat an-Nisâ [3] ayat 11-12.
Ketentuan tersebut pada dasarnya wajib dilaksanakan, kecuali dalam kasus-kasus
tertentu, karena ketentuan tersebut tidak dapat dilaksanakan secara konsisten. Misalnya
apabila di dalam pembagian harta warisan terjadi kekurangan harta, maka cara
penyelesaiannya adalah masing-masing bagian warisan yang diterima dikurangi secara
proporsional, yang secara teknis ditempuh dengan menaikkan angka asal masalah. Masalah
ini disebut dengan masalah ‘aul. Demikian juga apabila terjadi kelebihan harta, maka
kelebihan harta tersebut pada prinsipnya dikembalikan kepada ahli waris secara proporsional.
Masalah ini disebut dengan radd, yang secara teknis diselesaikan dengan menurunkan angka
masalah sebesar dengan jumlah yang diterima ahli waris.

32
Lampiran-Lampiran

Dalil al Qur’an dan hadits tentang jujur


Ayat Al Qur’an tentang jujur : Q.S. At Taubah / 9 : 119

Q.S At-Taubah /9 : 119

Artinya : "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu
bersama orang-orang yang benar.Q.S”.(At Taubah/ 9 : 119)

QS. Muhammad/ 47 : 21

Artinya : “ Ta`at dan mengucapkan perkataan yang baik (adalah lebih baik bagi mereka).
Apabila telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). Tetapi jikalau mereka benar
(imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka”.(QS.
Muhammad/ 47 : 21)

QS. Al-Maidah/ 5 : 119

33
Lampiran-Lampiran

Artinya :"Ini adalah suatu hari yang bermanfa`at bagi orang-orang yang benar kebenaran
mereka. Bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di
dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha terhadap-Nya.
Itulah keberuntungan yang paling besar". (QS. Al-Maidah : 119)

Hadits tentang Jujur

‫صدْقَ يَ ْهدِى إِلَى ْالبِ ِ هر َوإِ َّن ْالبِ َّر يَ ْهدِى إِلَى ْال َجنَّ ِة َو َما يَزَ ا أل‬ ‫ق فَإ ِ َّن ال ِ ه‬
ِ ‫ص ْد‬ ‫علَ ْي أك ْم بِال ِ ه‬ َ : ‫َّللا عليه وسلم‬ ‫َّللاِ صلى ه‬ َّ ‫َّللاِ قَا َل قَا َل َرسأو أل‬ َ ‫ع ْن‬
َّ ‫ع ْب ِد‬ َ
‫ار َو َما‬ِ َّ ‫ن‬‫ال‬ ‫ى‬ َ ‫ل‬‫إ‬ ‫ِى‬‫د‬‫ه‬َْ َ‫ي‬ ‫ور‬ ‫ج‬
‫أ‬ ‫أ‬ ‫ف‬ ْ
‫ال‬ ‫ن‬َّ ‫إ‬‫و‬
َِ ِ ‫ور‬ ‫ج‬‫أ‬ ‫أ‬ ‫ف‬ ْ
‫ال‬ ‫ى‬ َ ‫ل‬ ‫إ‬
ِ ‫ِى‬‫د‬‫ه‬ ‫ي‬
َْ َ‫ِب‬ ‫ذ‬ َ
‫ك‬ ْ
‫ال‬ َّ
‫ن‬ ‫إ‬َ
ِ َ ‫ف‬ ‫ِب‬ ‫ذ‬ َ
‫ك‬ ْ
‫ال‬ ‫و‬ ‫م‬
َ ْ ‫أ‬
‫ك‬ ‫َّا‬ ‫ي‬ِ ‫ا‬‫و‬َ ‫ا‬ً ‫ق‬ ‫ه‬
‫ِي‬ ‫د‬‫ص‬ِ ِ َّ
‫َّللا‬ َ ‫د‬‫ن‬ْ ‫ع‬
ِ ‫َب‬
َ ‫ت‬‫ك‬ْ ‫أ‬ ‫ي‬ ‫ى‬َّ ‫ت‬‫ح‬ َ ‫د‬
َ‫ْق‬ ‫ص‬
‫ه‬ ِ ‫ال‬ ‫ى‬ ‫ر‬َّ ‫ح‬ َ ‫ت‬
َ َ َ‫ي‬‫و‬ ‫أ‬
‫أق‬ ‫د‬‫ص‬ْ ‫ي‬ ‫أ‬
َ ‫الر أج‬
‫ل‬ َّ
)‫َّللاِ َكذابًا (اخرجه مسلم‬ َّ َّ َ‫َب ِع ْند‬ َ ‫ِب َحتَّى يأ ْكت‬ ْ
َ ‫الر أج أل يَ ْكذِبأ َويَت َ َح َّرى ال َكذ‬ َّ ‫يَزَ ا أل‬

Dari Abdillah berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Kalian harus jujur, karena sesungguhnya
jujur itu menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan itu menunjukkan kepada surga.
Seseorang yang senantiasa jujur dan berusaha untuk jujur akan ditulis disisi Allah sebagai
orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian dusta, karena sesungguhnya dusta itu
menunjukkan kepada keburukan, dan keburukan itu menunjukkan kepada neraka. Seseorang
yang senantiasa berdusta dan berusaha untuk berdusta akan ditulis disisi Allah sebagai
seorang pendusta.”

‫صدَقَ ْال َع ْبدأ َب َّر‬


َ ‫صد أْق َو ِإذَا‬ ‫ع َم أل ْال َج َّن ِة َقا َل ال ِ ه‬ َّ ‫سو َل‬
َ ‫َّللاِ َما‬ ‫سلَّ َم فَقَا َل َيا َر أ‬
َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ‫َّللاأ‬ َ ِ‫ي‬ ‫ع ْم ٍرو أ َ َّن َر أج ًَل َجا َء ِإلَى النَّ ِب ه‬
َ ‫َّللاِ ب ِْن‬ َ ‫ع ْن‬
َّ ‫ع ْب ِد‬ َ
‫ار‬ ْ
َ َّ‫ب العَ ْبدأ فَ َج َر َكف ََر َوإذَا َكف ََر دَ َخ َل يَ ْعنِي الن‬ ْ
َ َ‫ار قَا َل ال َكذِبأ إِذَا َكذ‬
ِ َّ‫ع َم أل الن‬ َّ ‫سو َل‬
َ ‫َّللاِ َما‬ ْ
‫َوإِذَا بَ َّر آ َمنَ َوإِذَا آ َمنَ دَ َخ َل ال َجنَّةَ قَا َل يَا َر أ‬

)‫(اخرجه أحمدفي الرسالة‬

Dari Abdillah bin Umar bahwasanya seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW
kemudian bertanya kepada Rasul. Apa itu amal surga? Rasul menjawab, “jujur, ketika
seorang jujur maka dia telah melakukan perbuatan baik, dan bila ia berbuat baik maka dia
akan aman/ selamat dan bila dia selamat, maka dia akan masuk surga.” Laki-laki itu bertanya,
“Apa itu amal neraka?” Rasul menjawab, “Bohong, ketika seorang (hamba) berbohong maka
dia telah berbuat salah. Ketika salah maka dia telah kafir dan apabila dia kafir maka dia
masuk neraka.”

َّ ‫َّللا صلى‬
‫َّللا‬ َّ ‫س ْو َل‬ ْ ‫س َل َم ؟ َقا َل َحف‬
‫ِظتأ َم ْن َر أ‬ َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ‫َّللا‬ َ ِ‫َّللا‬َّ ‫س ْو ِل‬ ‫ِظتَ مِ ْن َر أ‬ ْ ‫ َما َحف‬: ‫علِي‬ َ ‫ي ِ قَا َل قأ ْلتأ ل ِْل َح‬
َ ‫س ِن ب ِْن‬ ‫س ْع ِد ه‬ َ ‫ع ْن أ َ ِبي ال َح ْو‬
َّ ‫ارءِ ال‬ َ
)‫ِب ِر ْيبَةأ(اخرجه الترمذي‬ ْ
َ ‫ط َمأنِ ْينَةأ َو ِإ َّن ْال َكذ‬‫صدْقَ أ‬ ‫ع َما يَ ِر ْيبأكَ ِإلَى َم َاال يَ ِر ْيبأكَ فَإ ِ َّن ال ِ ه‬
‫عليه وسلم دَ أ‬

Dari Abi Khauro’ As-Sa’di, berkata, “Saya pernah bertanya kepada Hasan bin Ali: ‘Apa yang
anda jaga dari Rasul?’ Hasan menjawab, ‘Dari beliau saya menghapal (semua hadits),
tinggalkan apa yang membuatmu ragu menuju apa yang tidak meragukanmu
(meyakinkanmu). Sungguh, kejujuran itu menenangkan dan sebaliknya kebohongan itu
(melahirkan) keraguan.”

34
Lampiran-Lampiran

A. Kandungan dalil Al Qur’an dan Hadits tentang Jujur

Kandungan Q.S. At Taubah/9 : 119

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah,dengan meninggalkan


perbuatan perbuatan maksiat dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang benar dalam
hal iman dan menepati janji untuk itu kalian harus menepati kebenaran,sebagai orang muslim
harus bertaqwa kepada Allah SWT. dan sesungguhnya kita bersama orang orang yang benar.

Kandungan Q.S. Muhammad / 47 : 21

Taat dan mengucapkan perkataan yang baik (adalah lebih baik bagi mereka). Apabila telah
tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). Tetapi jika mereka benar (imannya)
terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka

Kandungan Q.S. Al Maidah / 5 : 119

Pada ayat ini Allah Swt memaparkan jawaban Nabi Isa as yang mengatakan, Yaa
Allah! Pengampunan orang-orang yang berbuat dosa di tangan-Mu, dan bila Engkau
berkehendak dapat mengampuni dosa-dosa mereka. Allah berfirman, "Pada Hari Kiamat
hanya mereka yang berbuat benar dan jujurlah yang diselamatkan dari api neraka. Orang
yang benar dan lurus akan memperoleh surga. Ia akan mendapatkan kedudukan khusus
berupa keridhaan Allah.

Penjelasan Hadits:

‫عليكم بالصدق‬

Kata kata ‫ الصدق‬yang berarti jujur, terbagi dalam 6 bagian :

1. Jujur dalam berbicara yaitu tidak berbicara bohong

2. Jujur dalam niat yaitu ikhlas ( menjaga ma’na kejujuran dalam bermunajat atau
mendekatkan
diri kepada Allah)

3. Jujur dalam bertekad (kemauan yang besar) pada hal yang baik yang telah kalian
niatkan dalam
artian menguatkan apa yang telah kita tekadkan
4. Jujur dalam menepati tekad yang kuat, kategori jujur kali ini ditujukan kepada penguasa
yang
mengumbar janji tatkala kampanye
5. Jujur dalam beramal, maksudnya ketika dalam keadaan tertutup atau rahasia maupun
terang
terangan dia berperilaku dan berkata sama

6. Jujur dalam maqomat seperti jujur dalam khauf dan roja’

35
Lampiran-Lampiran

Barang siapa yang dapat mempunyai sifat 6 tersebut maka seseorang tersebut mendapat
predikat ‫ صديق‬, apabila hanya sebagian yang terpenuhi dari sifat jujur tersebut maka
mendapat predikat ‫ صادق‬.

‫الضمير والمخبرعنه‬:‫ الصدق مطابقةالقول‬: ‫وقال الراغب‬

Ar roghib berkata jujur itu cocoknya a dengan apa yang ada dihati kepada orang yang
dikabari, apabila syarat tersebut tidak terpenuhi maka tidak disebut jujur tetapi sebaliknya
yaitu bohong , seperti orang munafiq ketika berkata ‫ محمد رسول هللا‬, dalam berbicara memang
benar, jujur kepada yang dikabari tetapi dalam hatinya berbeda.

‫فان الصدق يهدي الى البر‬

Maksudnya bisa menyampaikan pada amal sholih, yang murni tanpa ada cela atau keburukan.

‫ البر‬itu sebuah nama yang mencakup semua kebaikan, dan dikatakan pula bahwa ‫البر بمعنى الجنة‬.
Kebaikan disini dimaksudkan sebagai surga.

‫ وان البر يهدي الى الجنة وما يزال الرجل يصدق‬,‫ان الصدق بر‬: ‫وان البر يهدي الى الجنة وفي رواية اخرى‬

Selalu jujur dalam keadaan apapun dan melakukan kejujuran terus menerus.

‫وان الفجوريهدي الى النا‬ ‫ واياكم والكذب فان الكذب يهدي الى الفجور‬:‫ حثى يكثب عند هللا‬,‫ويثحرى الصدق‬
‫صديقا‬

‫ الفجور‬: berpaling dari istiqomah, juga dapat dikatakan meningkatnya kemaksiatan.

‫ومايزال الرجل يكذب ويتحرى الكذب حتى يكتب عندهللا كذابا‬

Orang yang terus-menerus berbuat kebohongan akan dicap disisiAllah sebagai ‫ كذابا‬, orang
yang ‫ كذابا‬dikenal malaikat sebagai ahli bohong, dan kebohongan tersebut akan disampaikan
ke hati penduduk bumi (manusia), orang orang yang suka berbohong akan ditempeli sifat-
sifat pembohong dan akan mendapatkan siksa.

Seorang hamba yang terus menerus berbuat kebohongan didalam hatinya akan ada satu titik,
titik itu berwarna hitam, sehingga membuat hatinya menjadi hitam dan dicatat disisi Allah
sebagai pembohong.

Hadits ini menganjurkan agar selalu berkata jujur, sengaja berbuat jujur dan menikmati
kejujuran, dan juga hadits ini memberikan peringatan agar takut berbicara bohong,
mempermudah bohong, karena apabila sering mempermudah bohong akan memperbanyak
dan menarik kebohongan kebohongan yang lain.

Penjelasan Lain:

Kata shidq adalah bentuk intensif dari shadiq, dan berarti orang yang diresapi oleh kebenaran.
Kata shadiq (orang yang jujur) sendiri berasal dari kata shidq (kejujuran). Derajat paling
rendah kejujuran adalah jika batin seseorang serasi dengan perbutan lahirnya. Shadiq adalah

36
Lampiran-Lampiran

orang yang benar dalam kata-katanya. Shidq adalah orang yang benar dalam semua kata-kata,
perbuatan dan keadaan batinnya.

Al-Raghib dalam kitabnya Mufradat Al-Qur’an mengatakan: kata al-shidq(kejujuran) dan al-
kidzb (kedustaan, kebohongan) pada mulanya dipakai untuk bentuk ucapan -yang berlalu atau
akan tiba, berupa janji atau bukan- dalam bentuknya berita, pertanyaan atau tuntutan. Dimana
kejujuran adalah ketepatan antara ucapan, isi hati, dan realitas yang diberitakan, dimana
apabila syarat itu tidak terpenuhi maka bukanlah kejujuran, tetapi kedustaan atau diantara
kejujuran dan kedustaan, seperti ucapan orang munafik.

Barangsiapa yang menginginkan pahala, niscaya mudah baginya patuh akan aturan Allah
SWT. Tetapi barangsiapa yang menganggapnya remeh, yaitu adanya surga, niscaya berat
baginya untuk melaksanakannya. Bersikap jujur sangatlah ringan bagi mereka yang
menginginkan pahala yang besar.

Rasulullah memilih kata yahdi (menunjukkan), karena kejujuran itu menarik kesurga,
sebagaimana bohong itu membawa keneraka. Beliau juga memilih kata al-fujur (kejahatan)
karena kata tersebut mencakup segala bentuk kejahatan.

Kejujuran atau kebenaran ialah nilai keutamaan dari yang utama-utama dan pusat akhlak,
dimana dengan kejujuran maka suatu bangsa menjadi teratur, segala urusan menjadi tertib
dan perjalanannya adalah perjalanan yang mulia. Kejujuran akan mengangkat harkat
pelakunya ditengah manusia, maka ia menjadi orang terpercaya, pembicaraannya disukai, ia
dicintai orang-orang, ucapannya diperhitungkan para pengusaha, persaksiannya diterima di
depan pengadilan. Dengan ini Rasulullah SAW memerintahkan kita berkejujuran,
sebagaimana juga Al-Qur’an memerintahkan kita didalam firman-Nya.

Kebenaran dan kedustaan merupakan dua hal yang bertolak belakang. Kedustaan (al-kizb)
merupakan final dari segala hal yang buruk dan sekaligus merupakan asal dari berbagai
celaan (al-zamm) dengan segala natijah (hasil) yang jelek. Bertentangan dengan kedustaan
yang mengarah cara berfikir yang negatif, maka kebenaran (as-shidq) adalah
menginformasikan sesuatu sesuai dengan kenyataan, mengarah kepada cara berfikir yang
positif.

Sikap Jujur pada Masa Sekarang

Jujur dan dusta tidak pernah terpisah, padahal keduanya adalah berlawanan. Orang-orang
masih mempergunakan timbangan kepada yang manakah sikap atau perangai seseorang.
Tetapi dusta (bohong) itu tetap dusta, tidak ada pertikaian diantara yang memandangnya dan
tidak ada yang sanggup membela suatu kedustaan, untuk mengatakan bahwa dia itu benar.
Dusta menimbulkan kebencian diantara orang-orang dan menyebabkan kehilangan
kepercayaan diantara mereka dan menjadikan mereka saling menjauh, tidak saling menolong
dan tidak terdapat kerukunan diantara mereka. Karena itu, benarlah Islam menganggap dusta
sebagai dosa yang besar, sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits di atas.

Di era materialisme dewasa ini, kejujuran telah banyak dicampakkan dari tata pergaulan
sosial-ekonomi-politik dan disingkirkan dari bingkai kehidupan manusia. Fenomena ketidak

37
Lampiran-Lampiran

jujuran saat ini telah benar-benar menjadi realitas sosial yang menggelisahkan. Drama
ketidakjujuran saat ini telah berlangsung sedemikian transparan dan telah menjadi semacam
rahasia umum yang merasuk keberbagai wilayah kehidupan manusia. Sosok manusia jujur
telah menjadi makhluk langka di bumi ini. Mencari orang-orang pintar lebih mudah daripada
mencari orang-orang jujur. Keserakahan dan ketamakan kepada materi kebendaan,
mengakibatkan manusia semakin jauh dari nilai-nilai kejujuran dan terhempas dalam
kubangan materialisme dan hedonisme yang cenderung menghalalkan segala cara.

Pada masa sekarang, banyak manusia tidak mempedulikan jalan-jalan yang halal dan haram
dalam mencari uang dan jabatan. Sehingga sering didengar ungkapan-ungkapan kaum
materialis, “Mencari yang haram saja sulit, apalagi yang halal”. Bahkan banyak juga yang
mengucapkan, “kalau jujur akan terbujur, kalau lurus akan kurus, kalau ikhlas akan tergilas.”
Ungkapan-ungkapan itu menunjukkan bahwa manusia zaman kini telah dilanda penyakit
mental yang luar biasa, yaitu penyakit ketidak jujuran.Dengan demikian, sangat dibutuhkan
usaha-usaha untuk meningkatkan kejujuran pada setiap individu.

Adapun faktor-faktor yang mendorong tindak kebenaran (as-shidq), menurut Al-Mawardi


adalah:

1. Akal,disamping ia mampu membedakan mana yang benar dan mana pula yang tidak
benar, akal

juga memiliki kecenderungan kepada kebaikan (mustahsinat).

2. Agama, karena ia tidak mungkin bertentangan dengan akal, maka syariat datang
menguatkan

argumentasi akal.

Kepribadian yang baik (muru’ah) ia selalu menentang kecenderungan yang negatif, dan
mendorong kepada hal-hal yang positif.

B. Macam-macam jujur

a. Jujur dalam niat


Jujur dalam niat dan kehendak. Ini kembali kepada keikhlasan. Kalau suatu amal tercampuri
dengan kepentingan dunia, maka akan merusakkan kejujuran niat, dan pelakunya bisa
dikatakan sebagai pendusta, sebagaimana kisah tiga orang yang dihadapkan kepada Allah,
yaitu seorang mujahid, seorang qari’, dan seorang dermawan. Allah menilai ketiganya telah
berdusta, bukan pada perbuatan mereka tetapi pada niat dan maksud mereka.

b. Jujur dalam lisan/ucapan


Jujur dalam lisan/ ucapan. Wajib bagi seorang hamba menjaga lisannya, tidak berkata kecuali
dengan benar dan jujur. Benar / jujur dalam ucapan merupakan jenis kejujuran yang paling
tampak dan terang di antara macam-macam kejujuran. Jujur dalam tekad dan memenuhi janji.
Contohnya seperti ucapan seseorang, “Jikalau Allah memberikan kepadaku harta, aku akan

38
Lampiran-Lampiran

membelanjakan semuanya di jalan Allah.” Maka yang seperti ini adalah tekad. Terkadang
benar, tetapi adakalanya juga ragu-ragu atau dusta. Hal ini sebagaimana firman Allah :

“Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah, ‘Sesungguhnya jika Allah
memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah
kami termasuk orang-orang yang saleh.’ Maka, setelah Allah memberikan kepada mereka
sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka
memanglah orang-orang yang selalu membelakangi kebenaran.” (QS. at-Taubah: 75-76)

c. Jujur dalam perbuatan


Jujur dalam perbuatan, yaitu seimbang antara lahiriah dan batin, hingga tidaklah berbeda
antara amal lahir dengan amal batin. Jujur dalam kedudukan agama adalah kedudukan yang
paling tinggi, sebagaimana jujur dalam rasa takut dan pengharapan, dalam rasa cinta dan
tawakkal. Perkara-perkara ini mempunyai landasan yang kuat, dan akan tampak kalau
dipahami hakikat dan tujuannya. Kalau seseorang menjadi sempurna dengan kejujurannya
maka akan dikatakan orang ini adalah benar dan jujur, sebagaimana firman Allah,

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah
dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa
mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. al-Hujurat: 15

Realisasi perkara-perkara ini membutuhkan kerja keras. Tidak mungkin seseorang manggapai
kedudukan ini hingga dia memahami hakikatnya secara sempurna. Setiap kedudukan
(kondisi) mempunyai keadaannya sendiri-sendiri. Ada kalanya lemah, ada kalanya pula
menjadi kuat. Pada waktu kuat, maka dikatakan sebagai seorang yang jujur. Dan jujur pada
setiap kedudukan (kondisi) sangatlah berat. Terkadang pada kondisi tertentu dia jujur, tetapi
di tempat lainnya sebaliknya. Salah satu tanda kedustaan adalah menyembunyikan ketaatan
dan kesusahan, dan tidak senang orang lain mengetahuinya.

Orang yang selalu berbuat kebenaran dan kejujuran, niscaya ucapan, perbuatan, dan
keadaannya selalu menunjukkan hal tersebut. Allah telah memerintahkan Nabi untuk
memohon kepada-Nya agar menjadikan setiap langkahnya berada di atas kebenaran
sebagaimana firman Allah,

“Dan katakanlah ‘Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah
(pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang
menolong.” (QS. al-Isra’: 80)

Hakikat kejujuran dalam hal ini adalah hak yang telah tertetapkan, dan terhubung kepada
Allah. Ia akan sampai kepada-Nya, sehingga balasannya akan didapatkan di dunia dan
akhirat. Allah telah menjelaskan tentang orang-orang yang berbuat kebajikan, dan memuji
mereka atas apa yang telah diperbuat, baik berupa keimanan, sedekah ataupun kesabaran.
Bahwa mereka itu adalah orang-orang jujur dan benar. Allah berfirman,

39
Lampiran-Lampiran

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi
sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat,
kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintai kepada karib kerabat, anak-anak
yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang
meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan
zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila dia berjanji, dan orang-orang yang
sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang
benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 177)

Di sini dijelaskan dengan terang bahwa kebenaran itu tampak dalam amal lahiriah dan ini
merupakan kedudukan dalam Islam dan Iman. Kejujuran serta keikhlasan keduanya
merupakan realisasi dari keislaman dan keamanan. Orang yang menampakkan keislaman
pada dhahir (penampilannya) terbagi menjadi dua: mukmin (orang yang beriman) dan
munafik (orang munafik). Yang membedakan diantara keduanya.

Jujur dalam bahasa arab disebut sebagai Ash-Shidqun. Dalam hal ini kejujuran terbagi
menjadi 5 macam:
1. Shidq Al-Qalbi (jujur dalam berniat). Hati adalah poros anggota badan. Hati adalah
barometer kehidupan. Hati adalah sumber dari seluruh gerak langkah manusia. Jika hatinya
bersih, maka seluruh perilakunya akan mendatangkan manfaat. Tapi jika hatinya keruh, maka
seluruh perilakunya akan mendatangkan bencana. Rasulullah Saw. bersabda, “Ingatlah,
dalam tubuh itu ada segumpal daging. Bila ia baik, akan baiklah seluruh tubuh. Dan bila ia
rusak, rusaklah ia seluruhnya. Itulah qalbu (hati).”(H.R.Bukhari).

Itulah hati dan kejujuran yang tertanam dalam hati akan membuahkan ketentraman,
sebagaimana firman-Nya, “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi
tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi
tentram.”(Q.S.Ar-Ra’d/13:28)

2. Shidq Al-Hadits (jujur saat berucap). Jujur saat berkata adalah harga yang begitu mahal
untuk mencapai kepercayaan orang lain. Orang yang dalam hidupnya selalu berkata jujur,
maka dirinya akan dipercaya seumur hidup. Tetapi sebaliknya, jika sekali dusta, maka tak
akan ada orang yang percaya padanya. Orang yang selalu berkata jujur, bukan hanya akan
dihormati oleh manusia, tetapi juga akan dihormati oleh Allah Swt. sebagaimana firman-Nya,

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan
yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu
dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah
mendapat kemenangan yang besar.” (Q.S.Al-Ahzab/33:70-71)

Hidup dalam naungan kejujuran akan terasa nikmat dibandingkan hidup penuh dengan dusta.
Rasulullah Saw. bahkan mengkatagorikan munafik kepada orang-orang yang selalu berkata
dusta, sebagaimana sabdanya, “Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga; bila berucap dusta,
kala berjanji ingkar dan saat dipercaya khianat.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

3. Shidq Al-’Amal (jujur kala berbuat). Amal adalah hal terpenting untuk meraih posisi yang
paling mulia di surga. Oleh karena itu, kita harus selalu mengikhlaskan setiap amal yang kita
lakukan. Dalam berdakwah pun, kita harus menyesuaikan antara ungkapan yang kita

40
Lampiran-Lampiran

sampaikan kepada umat dengan amal yang kita perbuat. Jangan sampai yang kita sampaikan
kepada umat tidak sesuai dengan amal yang kita lakukan sebab Allah Swt. sangat membenci
orang-orang yang banyak berbicara tetapi sedikit beramal. “Hai orang-orang yang beriman,
mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi
Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.”(Q.S.Ash-Shaff[61]:2-3)

Jadi, yang harus kita lakukan adalah banyak bicara dan juga beramal agar kita bisa meraih
kenikmatansurga.

4. Shidq Al-Wa’d (jujur bila berjanji). Janji membuat diri kita selalu berharap. Janji yang
benar membuat kita bahagia. Janji palsu membuat kita selalu was-was. Maka janganlah
memperbanyak janji (namun tidak ditepati) karena Allah Swt. sangat membenci orang-orang
yang selalu mengingkari janji sebagaimana dalam firman-Nya,
“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu
membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah
menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpah itu). Sesungguhnya Allah
mengetahui apa yang kamu perbuat.” (Q.S.An-Nahl/16:91)

“…Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.”
(Q.S.Al-Israa[17]:34)

5. Shidq Al-Haal (jujur dalam kenyataan). Orang mukmin hidupnya selalu berada di atas
kenyataan. Dia tidak akan menampilkan sesuatu yang bukan dirinya. Dia tidak pernah
memaksa orang lain untuk masuk ke dalam jiwanya. Dengan kata lain, seorang mukmin tidak
hidup berada di bawah bayang-bayang orang lain. Artinya, kita harus hidup sesuai dengan
keadaan diri kita sendiri. Dengan bahasa yang sederhana, Rasulullah Saw. mengingatkan kita
dengan ungkapan, “Orang yang merasa kenyang dengan apa yang tidak diterimanya sama
seperti orang memakai dua pakaian palsu.” (H.R. Muslim).

D. Hikmah berperilaku jujur

Berikut ini merupakan hikmah yang dapat dipetik dari sikap jujur, diantaranya sebagai
berikut:

1. Kejujuran merupakan akhlak terpuji yang dianjurkan oleh Islam


2. Orang yang mempunyai sifat jujur akan dikagumi dan dihormati banyak orang. Karena
orang
yang jujur selalu dipercaya orang untuk mengerjakan suatu yang penting. Hal ini
disebabkan
orang yang memberi kepercayaan tersebut akan merasa aman dan tenang.
3. Seorang mukmin yang bersikap jujur dicintai di sisi Allah SWT. dan di sisi manusia
4. Kejujuran senantiasa mendatangkan berkah
5. Seseorang akan tenang dalam menjalani kehidupan dan tidak akan dihantui oleh rasa
bersalah
karena kebobohongannya.
6. Jujur merupakan sebaik-baiknya sarana keselamatan di dunia dan di akhirat.

E. Akibat berperilaku tidak jujur

41
Lampiran-Lampiran

Akibat berperilaku tidak jujur , diantaranya adalah :

1. Dijauhi oleh orang lain


2. Tidak dipercaya oleh orang lain
3. Susah mendapatkan kepercayaan lagi
4. Terpengaruh untuk berbuat bathil
5. Mendapat dosa.
6. Mengantarkan manusia ke neraka

Kedustaan akan mengantarkan kepada kemaksiatan, dan kemaksiatan akan menjerumuskan


ke dalam neraka. Bahaya kedustaan sangatlah besar, dan siksa yang diakibatkannya amatlah
dahsyat, maka wajib bagi kita untuk selalu jujur dalam ucapan, perbuatan, dan muamalah
kita. Dengan demikian jika kita senantiasa menjauhi kedustaan, niscaya kita akan
mendapatkan pahala sebagai orang-orang yang jujur dan selamat dari siksa para pendusta.

Firman Allah SWT. menjelaskan :

Artinya : “ Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-
orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka
melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya".
Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih
padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat
ingkar”. (Q.S. Az Zumar/ 39 : 3)

Jiwa seorang pendusta akan senantiasa bertentangan dengan hakikat sebenarnya dan
mempengaruhinya untuk berbuat bathil. Jika kekuatan pandangan dan pengetahuan yang
merupakan sumber segala perbuatan telah rusak, maka rusak pula amal perbuatan yang
didasarkan padanya sehingga tidak bermanfaat lisan maupun amal perbuatan.
Karena itulah dusta merupakan pokok kejahatan, sebagaima disebutkan oleh Nabi
Muhammad saw. yang artinya :

"Sesungguhnya dusta akan mendorong kepada kejahatan dan kejahatan akan


mengantarkan kepada neraka." (Muttafaq Alaih)

Awal dusta bermula dari hawa nafsu, kemudian berpindah ke lisan sehingga merusaknya.
Selanjutnya menjalar keseluruh anggota tubuh hingga merusak anggota badannya
sebagaimana ia telah merusak ucapannya. Dengan demikian dusta merusak segalanya,
baik ucapan, perbuatan dan kondisin,sehingga tersebarlah kerusakan, penyakitnya akan

42
Lampiran-Lampiran

menjerumuskan nya ke dalam kehancuran jika Allah tidak mengobatinya dengan kejujuran
yang mencabut sifat dusta sampai ke akar-akarnya.

Oleh karena itulah, dasar segala perbuatan hati adalah kejujuran, sedangkan lawannya
adalah riya', ujub, sombong, takabur, gengsi, malas, takut dan sebagainya yang berpangkal
pada sifat dusta. Segala perbuatan, baik yang tampak maupun yang tersebunyi bersumber
dari kejujuran. Dan setiap amal buruk yang tampak maupun yang tersembunyi pangkalnya
adalah dusta. Allah memberikan sanksi kepada pendusta berupa tidak dapat meraih
maslahat dan manfaat hidup.

Dan Dia memberikan pahala kepada orang-orang jujur berupa taufik dan hidayah untuk
mendapatkan suatu maslahat dan bahagia dunia dan akhirat.

F. Dampak tidak berperilaku jujur bagi remaja dan cara mengatasinya

Sebelum menjelaskan tentang dampak tidak berperilaku jujur bagi remaja ,ada beberapa
motif yang mendorong remaja yang memiliki jiwa nista untuk melakukan kedustaan ,
diantaranya adalah :

1. Sedikitnya rasa takut kepada Allah Ta’ala dan tidak adanya perasaan bahwa Allah Ta’ala
selalu mengawasi setiap gerak-geriknya.
2. Mencari perhatian dengan membawakan cerita-cerita fiktif dan perkara-perkara yang
dusta.
3. Kurangnya rasa tanggung jawab dan berusaha lari dari kenyataan, baik dalam kondisi sulit
ataupun kondisi lainnya
4. Terbiasa melakukan dusta sejak kecil. Ini merupakan hasil pendidikan yang buruk.
Karena, sejak tumbuh kuku-kukunya (sejak kecil), sang anak biasa melihat ayah dan
ibundanya berdusta, sehingga ia tumbuh dan berkembang dalam lingkungan sosial
semacam itu
5. Merasa bangga dengan berdusta, ia beranggapan bahwa kedustaan menandakan
kepiawaian,
tingginya daya nalar, dan perilaku yang baik.

Dengan demikian dapat diketahui dampak dari tidak berperilaku jujur bagi remaja di
antaranya adalah :

1. Menyebarkan keraguan di antara manusia. Keraguan artinya bimbang dan resah. Ini
berarti seorang pendusta selamanya menjadi sumber keresahan dan keraguan, serta
menjatuhkan ketenangan pada orang yang jujur. Berkata Rasulullah , ”Tinggalkanlah apa-
apa yang membuatmu ragu dan ambil apa-apa yang tidak meragukanmu, karena
sesungguhnya kejujuran itu adalah ketenangan dan dusta itu adalah keresahan.” (HR
Tirmidzi, An Nasai, dan lainnya).

2. Terjerumusnya seseorang ke dalam salah satu tanda munafik Dari Abdullah bin Amr bin
‘Ash , bahwa Nabi bersabda : “Empat hal, yang jika itu terhimpun pada diri seseorang,
maka dia adalah seorang munafik sejati. Dan jika melekat salah satunya, maka dalam
dirinya terdapat satu sifat dari kemunafikan, hingga ia meninggalkannya. Yakni jika diberi

43
Lampiran-Lampiran

kepercayaan dia berkhianat, jika berbicara ia berdusta, jika berjanji dia mengingkari, dan
jika bertengkar dia berbuat aniaya.” (HR. Bukhari (1/84)

3. Hilangnya kepercayaan. Sesungguhnya selama dusta menyebar dalam kehidupan


masyarakat, maka hal itu akan menghilangkan kepercayaan di kalangan kaum Muslimin,
memutuskan jalinan kasih sayang di antara mereka, sehingga menyebabkan tercegahnya
kebaikan dan menjadi penghalang sampainya kebaikan kepada orang yang berhak
menerimanya.

4. Memutarbalikkan kebenaran. Di antara pengaruh buruk dusta adalah memutarbalikkan


kebenaran dan membawa berita yang berlainan dengan fakta, lebih-lebih dilakukan dengan
tanpa mencari kejelasan atau tabayyun yang disyariatkan. Hal ini dilakukan karena para
pendusta suka merubah kebatilan menjadi kebenaran, dan kebenaran menjadi kebatilan dalam
pandangan manusia. Sebagaimana para pendusta pun suka menghias-hiasi keburukan
sehingga tampak baik dan menjelek-jelekkan yang baik sehingga berubah menjadi buruk.
Dan itulah perniagaan para pendusta yang terurai rapi dan mahal harganya menurut
pandangan mereka.

Dan apa saja yang mereka katakan tentang keburukan seseorang, dan apapun pengaruhnya,
maka hati-hatilah terhadap mereka, baik yang anda baca dari mereka ataupun yang anda
dengar. Pahami firman Allah Ta’ala,yang artinya ”…Sesungguhnya Allah tidak memberi
petunjuk kepada orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta.” (QS Al Mukmin: 28)

5. Pengaruh dusta terhadap anggota badan. Dusta menjalar dari hati ke lidah, maka
rusaklah lidah itu, lalu menjalar ke anggota badan, maka rusaklah amal perbuatannya
sebagaimana rusaknya lidah dalam berbicara. Maka, jika Allah Ta’ala tidak memberikan
kesembuhan dalam kejujuran kepada para pendusta itu. Sehingga semakin rusaklah mereka
dan menjerumuskan mereka ke arah kehancuran. Rasulullah bersabda,yang
artinya ”Sesungguhnya kejujuran itu menuntun kepada kebajikan, sedangkan dusta menuntun
kepada kedurhakaan.” (Muttafaq ‘alaih).

Itulah sebagian kecil dari akibat buruk dusta yang semuanya merupakan akibat yang terasa di
dunia, dan di sisi Allah balasan bagi pendusta lebih dahsyat dan mengerikan. Jelaslah bahwa
para pendusta akan berjalan di atas jalan yang menuju neraka, karena dengan berdusta berarti
ia akan membuka berbagai pintu keburukan lainnya.

Cara mengatasinya antara lain:

1. Tidak bergaul dengan para pendusta dan mencari teman yang shaleh lagi jujur.
2. Mempunyai keyakinan yang mantap akan bahaya yang ditimbulkannya baik di dunia
maupun di akhirat.
3. Melatih hati dan lisan untuk selalu berkata dan berbuat jujur.
4. Selalu aktif mengkaji Al-Qur’an dan mengamalkannya.
5. Bergaul dengan orang-orang saleh.

Pembentukan Karakter Remaja Islami

44
Lampiran-Lampiran

Untuk membentuk karakter remaja Islami yang cerdas, mandiri, tangguh, berakhlakul
karimah, amanah, dan tawaduk tidak hanya dilakukan melalui pendidikan formal seperti di
sekolah atau pesantren. Pendidikan dan penanaman nilai-nilai Islami justru dimulai dari
lingkungan keluarga. Dalam hal ini orang tua memikul tanggung jawab dan peran utama
mendidik anak. Orang tualah yang menentukan mau dijadikan seperti apa dan diarahkan ke
mana jalan hidup anak remajanya.

Rasulullah saw. bersabda:

‫ قال النبي‬: ‫حدثنا آدم حدثنا ابن أبي ذئب عن الوهري عن أبي سلمة بن عبد الرحمن عن أبي هريرة رضي هللا عنه قال‬
‫صلى هللا عليه و سلم كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصراه أو يمجسانه كمثل البهيمة تنتج البهيمة هل ترى‬
‫فيها جدعاء‬
Telah menceritakan pada kami adam telah menceritakan pada kami Ibnu Abi Dzi;b dari al-
Wahri dari Abi Salamah b. Abdul Rahman dari Abu Hurairah ra berkata: Bersabda Nabi Saw
setiap bayi yang dilahir dalam keadaan suci maka orang tuanyalah yang mempengaruhinya
menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi sebagaimana ia tumbuh dan berkembang sampai jadi
kakek-kakek. (HR. Bukhori)

Hadist ini menekankan pentingnya tugas orang tua dalam mengawali pendidikan pada
anaknya. Orang tua mesti mengenalkan Islam secara dini, karena dengan memeluk agama
Islam dan menjalankan syariat dengan benar akan menjadi benteng sekaligus penyelamat
bagi hidupnya, baik di dunia maupun di akherat.

Allah Ta ‘ala berfirman, yang artinya : “Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada
anaknya, demikian pula Yaqub. (Ibrahim berkata): ‘Hai anak-anakku, Sesungguhnya Allah
telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama
Islam.” (QS. Al-Baqarah: 132). Selanjutnya keyakinan pada agama Islam ini dikuatkan
dengan pelajaran tauhid, yakni penghambaan dan penyerahan diri kepada Allah SWT.

Allah Azza Wa Jalla berfirman: “Katakanlah: ‘Sesungguhnya Shalatku, ibadatku, hidupku


dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian
itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan
diri (kepada Allah).” (QS. Al-An’am: 162-163). “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang
mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah
menetaphan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka.
Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh dia telah sesat dengan
kesesatan yang nyata.”(QS. Al-Ahzab: 36).

Setelah pelajaran tauhid ini tertanam kuat pada diri sang anak, barulah kemudian diajarkan
tentang akhlak, ilmu pengetahuan, ketrampilan, dan segala hal yang menyangkut kehidupan
di dunia. Mengenai pendidikan akhlak ini kita bisa mencari referensi pada akhlak dan
kepribadian Rasulullah saw. Karena Nabi Muhammad saw adalah sebaik-baik manusia di
muka bumi ini. Pada dirinya terdapat uswatun hasanah(suri tauladan yang baik).

Beliau pernah bersabda kepada Ibnu Abbas ra. ketika mengajarkan beberapa perkara aqidah
kepadanya, “Hai anak kecil, saya akan mengajarkan kepadamu beberapa perkataan: Jagalah
Allah niscaya Dia akan menjagamu, jagalah Allah niscaya kamu akan mendapati Dia berada

45
Lampiran-Lampiran

di depanmu, jika kamu meminta maka minta hanya kepada Allah dan jika kamu meminta
pertolongan maka minta pertolongan hanya kepada Allah”. (HR. At-Tirmizi)

Dan beliau juga bersabda dalam masalah sholat: “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk
mengerjakan sholat ketika mereka berumur tujuh tahun dan pukullah mereka karena (mereka
meninggalkan) nya ketika mereka telah berumur sepuluh tahun dan pisahkanlah mereka
dalam tempat tidur”. Beliau pernah menegur Umar bin Abi Salamah ketika dia sedang
makan, “Hai anak kecil, bacalah bismillah (sebelum makan), makanlah dengan (tangan)
kananmu dan (mulailah) makan dari (makanan) yang terdekat denganmu”. (HR. Muslim)

Begitu perhatian Rasulullah saw kepada penanaman akhlak yang baik sejak dini, sehingga
beliau tak segan menegur anak kecil. Meski kita semua tahu sifat anak kecil yang lebih suka
bermain-main dan bercanda. Kita mungkin akan dibuat jengkel dan hilang kesabaran oleh
perilaku anak yang mudah mengabaikan perintah. Tapi justru di sinilah iman kita diuji.
Mendidik anak tak ubahnya mengukir di atas batu, sangat sulit dan membutuhkan waktu.
Namun jika kita terus melakukannya dan tak kenal lelah, insya Allah ukiran kebaikan yang
kita ajarkan kepada anak-anak akan terus membekas hingga dewasa!

Menanamkan Sifat-sifat Terpuji

Hal lain yang perlu ditekankan pada pembentukan karakter remaja Islami adalah penanaman
sifat-sifat terpuji seperti: jujur, sabar, adil, bijaksana, amanah, rendah hati, welas asih kepada
sesama, suka menolong, peka terhadap lingkungan, dan bertoleransi atas perbedaan yang ada.
Muslim yang baik adalah pribadi yang tidak suka pada kekerasan, permusuhan, dendam,
kebencian, atau mengobarkan api konflik kepada orang lain, apalagi kepada sesama muslim.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan)
kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan
bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya” (QS. Al-Maidah
: 2). Di ayat lain Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan
menzholimi seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah,
niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang
besar”. (QS. An-Nisa’: 40).

Rasulullah saw menekankan pentingnya menjaga diri dari perbuatan zalim atau menyakiti
orang lain, terlebih kepada sesama muslim. Beliau bersabda yang artinya: “Janganlah kalian
saling hasad, janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling membelakangi,
janganlah seorang dari kalian membeli barang yang telah dibeli oleh orang lain, dan
hendaklah kalian menjadi hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara
bagi muslim yang lainnya, ia tidak menzhaliminya dan tidak merendahkannya. Takwa itu
disini (beliau menunjuk ke dadanya 3 kali), cukuplah seseorang dikatakan jahat jika dia
menghinakan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim dengan muslim lainnya adalah
haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya”. (HR. Muslim)

Di hadist lain Rasulullah bersabda yang artinya:“Hendaklah kalian berlaku jujur, sebab
kejujuran itu mengantar kepada kebaikan dan kebaikan itu mengantar ke surga dan senantiasa

46
Lampiran-Lampiran

orang itu berlaku jujur dan terus menerus berlaku jujur sehingga dicatat di sisi Allah selaku
orang yang jujur. Dan janganlah kalian berlaku dusta, sebab dusta mengantar kepada
kedurhakaan dan kedurhakaan itu mengantar kepada neraka, dan senantiasa orang yang
berdusta dan terus menerus berdusta sehingga dicatat di sisi Allah sebagai pendusta”. (HR.
Al-Bukhari dan Muslim).

Oleh karena itu penting bagi orang tua menanamkan sikap jujur kepada anak sejak
kecil.Demikianlah beberapa pelajaran penting yang perlu diberikan kepada kaum remaja
Islam di tanah air, sehingga mereka bisa menjaga diri dari perbuatan menzalimi diri sendiri
maupun orang lain. Dengan menanamkan aqidah yang kuat pada diri seorang remaja Islam
dan mengajarkan akhlakul karimah seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw., niscaya
perbuatan sesat dan merusak lainnya seperti; tawuran, mengkonsumsi narkoba, seks bebas,
dan lain sebagainya bisa dihindari.

Akibat bohong

47
Lampiran-Lampiran

Perilaku Hormat dan Brrbakti kepada Orang Tua dan Guru


Tafsir Surah A-Isra : 17 ayat 23
Tafsir Surah A-Isro : 17 ayat 23 Pendidikan Karakter

    


  
    
  
    
   
  

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan
hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang
di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu,
Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan
janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang
mulia”.

Tafsir Surah Al-Isra ayat 23 (Tafsir Ibnu Katsir)

Allah memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk menyembah Dia semata,


tidak ada sekutu bagi-Nya. Kata qada dalam ayat ini mengandung makna perintah.

48
Lampiran-Lampiran

Selanjutnya disebutkan perintah untuk berbakti kepada kedua orang tua. Untuk itu
Allah SWT berfirman :

َ ‫َو ِب ْال َو ِلدَي ِْن ِإ ْح‬


‫سـنا‬
“Dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu”

Yakni Allah memerintahkan kepadamu untuk berbuat baik kepada ibu


bapakmu.makna ayat ini sesuai dengan firman Allah yang disebutkan dalam ayat lain:

‫ الَى ال َمصير‬. َ‫اَن ا ْش أك ْرلى َو َلوالدَيك‬

“Bersyukurlah kepada Ku dan kedua orang tuamu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS.
Luqman:14).

Ada pun firman Allah :

ٍ ‫إِ َّما يَ ْبلأغ ََّن ِعندَكَ ْال ِكبَ َر أَ َحدأ أه َما أَ ْو ِكَلَ أه َما فََلَ تَقأل لَّ أه َمآ أ أ ه‬
‫ف‬

jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berumur lanjut dalam
pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali kamu mengatakan “ah” kepada keduanya

Artinya janganlah kamu mengeluarkan kata-kata yang buruk kepada keduanya,sehingga


kata “ah” pun yang merupakan kata-kata buruk yang paling ringan tidak diperbolehkan.

‫َوالَ تَ ْن َه ْر أه َما‬

Dan janganlah kamu membentak mereka

Yakni janganlah kamu bersikap buruk kepada mereka, seperti yang dikatakan oleh Ata
Ibnu Rabah sehubungan dengan makna firman-Nya:

‫َوالَ تَ ْن َه ْر أه َما‬

Dan janganlah kamu membentak mereka

Maksudnya, janganlah kamu menolakkan kedua tanganmu terhadap keduanya.

49
Lampiran-Lampiran

Setelah melarang mengeluarkan perkataan dan melakukan perbuatan buruk terhadap


kedua orang tua, Allah memerintahkan untuk berbuat baik dan bertutur sapa baik
terhadap kedua orang tua. Untuk itu Allah berfirman:

‫َوقأل لَّ أه َما قَ ْوالً ك َِري ًما‬

Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia

Yaitu bertutur sapa baik dan lemah lembutlah terhadap keduanya, serta berlaku sopan
santunlah kepada keduanya dengan rasa penuh hormat dan memuliakannya.

َّ َ‫ض لَ أه َما َجنَا َح الذُّ ِهل ِمن‬


‫الرحْ َم ِة‬ ْ ‫َو‬
ْ ‫اخ ِف‬

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan

Yakni berendah dirilah kamu dalam menghadapi keduanya.

Maksudnya berendah dirilah kepada keduanya ketika mereka telah berusia lanjut, dan
berdoalah untuk mereka dengan doa ini bilamana keduanya telah meninggal dunia. Ibnu
Abbas mengatakan bahwa kemudian Allah menurunkan firmannya:

......‫ما كان للنبى والذىن امنوا ان يستغفروا للمشركىن‬

Tiadalah sepatutnya bagi nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun
(kepada Allah ) bagi orang-orang yang musyrik…..(At-Taubah :113)

Tafsir Surah Al-Isra ayat 23-24 (Tafsir Al-Misbah)

Ayat diatas menyatakan Dan Tuhanmu yang selalu membimbing dan berbuat baik
kepadamu. Telah menetapkan dan memerintahkan supaya kamu, yakni Engkau Wahai
Nabi Muhammad Saw. dan seluruh manusia jangan menyembah selain Dia dan
hendaklah kamu berbakti kepada kedua orang tua, yakni ibu dan bapak kamu dengan
kebaktian sempurna. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya mencapai
ketuaan, yakni berumur lanjut atau dalam keadaan lemah sehingga mereka terpaksa
berada di sisimu, yakni dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau
mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” atau suara dan kata yang mengandung
makna kemarahan atau pelecehan atau kejemuan. Walau sebanyak dan sebesar apapun
pegabdian dan pemeliharaanmu kepadanya dan janganlah engkau membentak keduanya
menyangkut apa pun yang mereka lakukan, apalagi melakukan yang lebih buruk dari

50
Lampiran-Lampiran

membentak dan ucapkanlah kepada keduanya sebagai ganti membentak, bahkan dalam
setiap percakapan dengannya perkataan yang mulia, yakni perkataan yang baik, lembut,
dan penuh kebaikan serta penghormatan.

Butir-Butir Penting dari Surah Al-Isro ayat 23-24

1. Banyak hadis yang menganjurkanagar anak berbakti kepada orang tua dan
mengutuk orang yang durhaka kepada kedua orang tua
2. Rido Allah Swt adalaah rido orag tua. Murka-Nya adalah murka orang tua
3. Berbuat baik kepada orang tua akan memanjangkan usia
4. Sebuah hadis mengatakan, “Seandainya ia (orang tua) memukulmu, padahal
kamu tidak mengujarkan kalimat yang buru, jangan memandang orang tua seolah
(kamu ) merendahkannya, jangan angkat tangan(mu) tinggi-tinggi, jangan
berjalan di depannya, jangan hanya memanggil hanya dengan namanya, jangan
berbut sesuatu yang membuat orang lain memusuhinya, jangan duduk
mendahuluinya, bantulah mereka sebelum mereka meminta bantuanmu.”
5. Di sebuah riwayat, ada seorag lelaki memanggul ibunya di atas pundaknya dan
melakukan thawaf. Saat itu Rosulullah melihatnya. Orang yang memanggul
ibunya itu kemudian bertanya kepada Rosulullah “apakah aku telah berbakti
kepadanya?” “bahkan dirimu belum membalas jasanya, meski satu rintihan ketika
ibumu melahirkanmu!”
6. Seseorang mendatangi Nabi Muhammad, mengadukan ihwal ayahnya. Nabi
meminta agar sang ayah menghadapnya. Setelah bertemu Nabi Muhammad, sang
ayah yang sudah tua itu bertutur, “ketika aku masih muda, kuat dan kaya, aku
seriing membantu anakku, tetapi ketika ia sudah kaya ia tidak mau menolongku!”
mendengar perkataan orang tua itu Rosulullah menangis sambil berkata, “tidak
ada batu dan pasir yang tidak menangis mendengar cerita ini!” kemudian
Rasulullah Saw berkata kepada si anak “kamu dan kekayaanmu adalah milik
ayahmu!”
7. Sebuah hadis menyebutkan, seandainya si ayah memukul anaknya, maka si anak
dianjurkan untuk mengucapkan, “Semoga Allah mengampunimu!” kata-kata ini
adalah ungkapan mulia.
8. Arti dari orang tua bukan hanya ayah dan ibu. Ada beberapa hadis menyebutkan
bahwa Nabi Muhammaad dan Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib adalah ayah
umat Islam dan Nabi Ibrahim adalah ayah orang Arab.
51
Lampiran-Lampiran

9. Al-Quran menyeru kepada manusia agar berbakti kepda orang tua, oleh sebab itu
sudah seharusnya orang tua menjadi tauladan yang baik bagi anaknya.
10. Anak-anak harus merendahkan diri di hadapan orang tua.
11. Berbakti kepada orang tua landasannya adalah cinta dan kasih sayang, bukan
basa-basi atau karena mengharapkan imbalan materi.
12. Setiap anak harus mendoakan orang tuanya agar Allah senantiasa mencurahkan
rahmat-Nya.

Pesan-Pesan yang Terkandung dalam Surah Al-Isra ayat 23-24

1. Mengesakan Allah Swt adalah pesan Tuhan yang paling penting.


2. Berbakti kepada orang tua adalah salah satu sifat mengesakan Allah
3. Perintah agar berbakti kepada orang tua, derajatnya sejajar dengan perintah
mengesakan Allah
4. Generasi muda dan orang tua sepatutnya membangun hubungan dengan landasan
iman
5. Berbakti kepada orang tua, tidak disyaratkan bahwa orang tua harus muslim
6. Berbakti kepada orang tua harus dilakukan oleh seorang anak tanpa perwakilan
7. Berbakti bisa berarti mencintai, mendidik, menghargai, berkomunikasi dengan baik.
8. Berbakti kepada orang tua adalah kewajiban anak yang tidak pernah selesai untuk
ditunaikan
9. Jangan titipkan orang tua yang sudah renta di panti jompo atau semacamnya, anak-
anaknya yang bertanggung jawab mengasuhnya
10. Perbuatan dan ucapan yang baik sama-sama pentingnya
11. Manusia harus berkata santun dan berbuat baik kepada orang tua tanpa pamrih dan
tanpa mengharap balasan
12. Berbakti kepada orang tua berbanding lurus dengan perintah agar manusia
mengesakan Allah. Perintah tersebut dalam pandangan akal adalah sebuah
konsekuensi logis dan dalam pandangan syariat bersifat wajib
13. Doa anak terhadap orang tua sangat mustajab
14. Mendoakan orang tua adalah ungkapan terima kasihseorang anak. Mendoakan orang
tua adalah perintah Allah
15. Penderitaann orang tua ketika merawat anaknya sewaktu kecil adalah perjuangan

52
Lampiran-Lampiran

yang harus menndapatkan penghargaan setingi-tinginya


16. Orang tua harus mendidik anaknya dengan penuh kasih sayang
17. Manusia harus menghargai para pendidiknya

‫سلَّ َم‬
َ ‫صلَّى هللاأ َعلَ ْي ِه َو‬ َ ِ‫س ْو ِل هللا‬ ‫ع ْنهأ قَا َل َجا َء َر أج ٌل ِإلَى َر أ‬
َ ‫ي هللاأ‬ َ ‫ض‬ِ ‫َع ْن أ َ ِب ْي أه َري َْرة َ َر‬
‫ َقا َل ث أ َّم َم ْن؟ َقا َل‬،‫ص َحابَتِي؟ َقا َل أ أ ُّم َك‬َ ‫اس ِب أح ْس ِن‬ ِ َّ‫ َم ْن أ َ َح ُّق الن‬،ِ‫س ْو َل هللا‬
‫يَا َر أ‬: ‫َف َقا َل‬
‫ قَا َل أَبأ ْو َك‬،‫ قَا َل ث أ َّم َم ْن‬،‫ قَا َل ث أ َّم َم ْن؟ قَا َل أ أ ُّم َك‬،‫أ أ ُّم َك‬
Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah
aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’
Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi
wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’
Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi
shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan
Muslim no. 2548)

Imam Al-Qurthubi menjelaskan, “Hadits tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan


kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap
seorang ayah. Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menyebutkan kata ibu sebanyak tiga kali,
sementara kata ayah hanya satu kali. Bila hal itu sudah kita mengerti, realitas lain bisa
menguatkan pengertian tersebut. Karena kesulitan dalammenghadapi masa hamil, kesulitan
ketikamelahirkan, dan kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh
seorang ibu. Ketiga bentuk kehormatan itu hanya dimiliki oleh seorang ibu, seorang ayah
tidak memilikinya. Ada banyak bukti, bahwa berbakti kepada kedua orang tua –dalam
wacana Islam- adalah persoalan utama, dalm jejeran hukum-hukum yang terkait dengan
berbuat baik terhadap sesama manusia. Allah Subhanahu Wa Ta’ala sudah cukup
menegaskan wacana ‘berbakti’ itu, dalam banyak firman-Nya, demikian juga
RasulullahSallallahu ’Alaihi Wa Sallam dalam banyak sabdanya, dengan memberikan
‘bingkai-bingkai’ khusus, agar dapat diperhatikan secara lebih seksama.

Imam An-Nawaawi menjelaskan, “Arti birrul waalidain yaitu berbuat baik terhadap
kedua orang tua, bersikap baik kepada keduanya, melakukan berbagai hal yang dapat
membuat mereka bergembira, serta berbuat baik kepada teman-teman mereka.” Al-Imam

53
Lampiran-Lampiran

Adz-Dzahabi menjelaskan bahwa birrul waalidain atau bakti kepada orang tua, hanya dapat
direalisasikan dengan memenuhi tiga bentuk kewajiban: Pertama: Menaati segala perintah
orang tua, kecuali dalam maksiat. Kedua: Menjaga amanah harta yang dititipkan orang tua,
atau diberikan oleh orang tua. Ketiga: Membantu atau menolong orang tua, bila mereka
membutuhkan.

Hormat dan Patuh Kepada Guru

Guru adalah orang yang memberikan pengetahuan sekaligus pendidikan akhlak


terhadap murid-muridnya. Guru juga mengajarkan nilai-nilai moral dan nilai-nilai akhlak
yang tinggi kepada murid-muridnya. Ia tidak hanya memberikan bimbingan saat dibutuhkan
di luar sekolah.

Adab seorang murid kepada Guru

a. Hendaklah merendahkan diri di hadapan guru, tidak keluar dari tempat belajar
sebelum mendapat izin dari guru
b. Hendaklah memandang guru dengan rasa ta’zim
c. Hendaklah duduk di hadapan guru dengan sopan
d. Patuh terhadap perkataan dan perintahnya

PERKEMBANGAN ISLAM DI INDONESIA


Masuknya Islam di Indonesia
Ketika Islam datang di Indonesia, berbagai agama dan kepercayaan seperti animisme,
dinamisme, Hindu dan Budha, sudah banyak dianut oleh bangsa Indonesia bahkan dibeberapa
wilayah kepulauan Indonesia telah berdiri kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu dan
Budha.
Islam datang masuk ke Indonesia, pada tanggal 17 s.d 20 Maret 1963 di Medan, Islam
masuk ke Indonesia pada abad pertama hijriyah atau pada abad ke tujuh masehi. Menurut
sumber lain menyebutkan bahwa Islam sudah mulai ekspedisinya ke Nusantara pada masa
Khulafaur Rasyidin (masa pemerintahan Abu Bakar Shiddiq, Umar bin Khattab, Usman bin

54
Lampiran-Lampiran

Affan dan Ali bin Abi Thalib), disebarkan langsung dari Madinah.
Ajaran-ajaran Islam tersebut antara lain sebagai berikut:
1. Islam mengajarkan toleransi terhadap sesamamanusia,salingmenghormati dan tolong
menolong.
2. Islam mengajarkan bahwa dihadapan Allah, derajat semua manusia sama, kecuali takwanya.
3. Islam mengajarkan bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Pengasih dan
Penyayangdan mengharamkan manusia saling berselisih, bermusuhan,merusak, dan saling
mendengki.
4. Islam mengajarkan agar manusia menyembah hanya kepada Allah dan tidak
menyekutukannya serta senantiasa setiap saat berbuat baik terhadap sesama manusia tanpa
pilih kasih.
Cara Masuknya Islam ke Indonesia
Islam masuk ke Indonesia, bukan dengan peperangan ataupun penjajahan. Islam
berkembang dan tersebar di Indonesia justru dengan cara damai dan persuasif berkat
kegigihan para ulama. Karena memang para ulama berpegang teguh pada prinsip Q.S. al-
Baqarah ayat 256 : Tidak ada paksaan dalam agama (Q.S. al-Baqarah ayat 256).
Adapun cara masuknya Islam di Indonesia melalui beberapa cara antara lain :
1.Perdagangan
Jalur ini dimungkinkan karena orang-orang melayu telah lama menjalin kontak dagang
dengan orang Arab.Apalagi setelah berdirinya kerajaan Islam seperti kerajaan Islam Malaka
dan kerajaan Samudra Pasai di Aceh, maka makin ramailah para ulama dan pedagang Arab
datang ke Nusantara (Indonesia).Disamping mencari keuntungan duniawi juga mereka
mencari keuntungan rohani yaitu dengan menyiarkan Islam.Artinya mereka berdagang sambil
menyiarkan agama Islam.
2.Kultural
Artinya penyebaran Islam di Indonesia juga menggunakan media-media kebudayaan,
sebagaimana yang dilakukan oleh para wali sanga di pulau jawa. Misalnya Sunan Kali Jaga
dengan pengembangan kesenian wayang.Ia mengembangkan wayang kulit, mengisi wayang
yang bertema Hindu dengan ajaran Islam. Sunan Muria dengan pengembangan
gamelannya.Kedua kesenian tersebut masih digunakan dan digemari masyarakat Indonesia
khususnya jawa sampai sekarang.Sedang Sunan Giri menciptakan banyak sekali mainan
anak-anak, seperti jalungan, jamuran, ilir-ilir dan cublak suweng dan lain-lain.
3.Pendidikan
Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang paling strategis dalam

55
Lampiran-Lampiran

pengembangan Islam di Indonesia.Para da’i dan muballig yang menyebarkan Islam diseluruh
pelosok Nusantara adalah keluaran pesantren tersebut.Datuk Ribandang yang mengislamkan
kerajaan Gowa-Tallo dan Kalimantan Timur adalah keluaran pesantren Sunan Giri.Santri-
santri Sunan Giri menyebar ke pulau-pulau seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku,
Ternate, hingga ke Nusa Tenggara.Dan sampai sekarang pesantren terbukti sangat strategis
dalam memerankan kendali penyebaran Islam di seluruh Indonesia.
4.Kekuasaan Politik
Artinya penyebaran Islam di Nusantara, tidak terlepas dari dukungan yang kuat dari para
Sultan. Di pulau Jawa, misalnya keSultanan Demak, merupakan pusat dakwah dan menjadi
pelindung perkembangan Islam.Begitu juga raja-raja lainnya di seluruh Nusantara. Raja
Gowa-Tallo di Sulawesi selatan melakukan hal yang sama sebagaimana yang dilakukan oleh
Demak di Jawa. Dan para Sultan di seluruh Nusantara melakukan komunikasi, bahu
membahu dan tolong menolong dalam melindungi dakwah Islam di Nusantara.Keadaan ini
menjadi cikal bakal tumbuhnya negara nasional Indonesia dimasa mendatang.
3.Perkembangan Masuknya Islam di Beberapa Wilayah Indonesia
Perkembangan Islam di Indonesia berlangsung di beberapa tempat, yaitu Sumatera, Jawa,
Sulawesi, Kalimantan, Maliku, Irian Jaya, dan Nusa Tenggara.
a.Perkembangan Islam di Sumatera.
Pada pertengahan abad ke-13, di Sumatera telah berdiri kerajaan Islam Samudera Pasai yang
merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia, kerajaan ini terletak di pesisir timur laut
aceh yang sekarang merupakan wilayah Kabupaten Lhouksumawe. Samudera Pasai adalah
sebuah kerajaan maritim, samudera pasai telah mengadakan hubungan dengan Sultan Delhi di
India pada pelayaran kerajaan Samudra Pasai merupakan pusat studi agama Islam dan tempat
berkumpulnya para ulama dari berbagai negara Islam.

b.Perkembangan Islam di Jawa


Perkembangan di Jawa tidak bisa dipisahkan dari peranan wali, jumlah wali yang terkenal
sampai sekarang adalah sembilan, yang dalam bahasa dikenal dengan sebutan WALI
SONGO. Para wali yang termasuk dalam wali songo adalah sebagai berikut :
a).Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim)
Maulana malik ibrahim juga dikenal dengan panggilan Maulana Maghribi atau syekh
Magribi, karena berasal dari wilayah Maghribi, Afrika Utara. Kedatangannya dianggap
sebagai permulaan masuknya Islam di Jawa. Maulana Malik Ibrahim menerapkan metode

56
Lampiran-Lampiran

dakwah yang tepat untuk menarik simpati masyarakat terhadap Islam.


b).Sunan Ampel (Raden Rahmat)
Pada awal penyiaran Islam di pulau Jawa, Sunan Ampel menginginkan masyarakat menganut
keyakinan Islam yang murni. Ia tidak setuju dengan kebiasaan masyarakat Jawa, seperti
kenduri, selamatan dan sesaji. Hal itu terlihat dari persetujuannya ketika Sunan Kalijaga,
dalam ocehannya menarik umat Hindhu dan Budha mengusulkan agar adat istiadat Jawa
itulah yang diberi warna Islam.
c).Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim)
Dalam menyebarkan agama Islam, ia selalu menyesuaikan diri dengan kebudayaan
masyarakat yang sangat menggemari wayang serta musik gamelan. Sunan Bonang
memusatkan kegiatan dakwahnya di Tuban. Dalam aktifitasnnya ia mengganti nama dewa
dengan nama-nama malaikat.
d).Sunan Giri (Raden Paku atau Ainul Yaqin)
Sunan Giri memulai aktifitas dakwahnya didaerah Giri dan sekitarnya dengan mendirikan
pesantren yang santrinya kebanyakan berasal dari golongan masyarakat ekonomi lemah.
Sunan Giri terkenal sebagai pendidik yang berjiwa demokratis.
e).Sunan Drajat (Raden Qasim)
Sunan Drajat juga tidak ketinggalan untuk menciptakan tembang jawa yang sampai saat ini
masih digemari masyarakat, yaitu tembang pangkur. Hal yang paling menonjol dalam
dakwah sunan drajat ialah perhatiannya yang serius pada masalah-masalah sosial, ia selalu
menekan bahwa memberi pertolongan kepada masyarakat umum.
f).Sunan Kalijaga (Raden Said)
Ketika para wali memutuskan untuk menggunakan pendekatan kultural termasuk
pemanfaatan wayang dan gamelan sebagai media dakwah, orang yang paling berjasa dalam
hal ini adalah Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga mengarang aneka cerita wayang bernafaskan
Islam terutama mengenai etika.
g).Sunan Kudus (Ja'far Shadiq)
Sunan Kudus mengajarkan agama Islam didaerah Kudus dan sekitarnya, ia mempunyai
keahlian khusus dalam ilmu fiqih, urul fiqih, tauhid, hadits, tafsir dan logika. Oleh karena itu
ia mendapat julukan waliyyul ‘ilmi. Sunan Kudus juga melaksanakan dakwah dengan
pendekatan kultural.
h).Sunan Muria (Raden Umar Said)

57
Lampiran-Lampiran

Sunan Muria memusatkan kegiatan dakwahnya di Gunung Muria yang terletak 18 km sebelah
utara kota Kudus. Cara yang ditempuhnya dalam menyiarkan agama islam adalah dengan
mengadakan kursus-kursus bagi kaum pedagang, para nelayan, dan rakyat biasa.
i).Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)
Sunan gunung Jati lahir di Mekkah pada tahun 1448. ia mengembangkan ajaran islam di
cirebon, majalengka, kuningan, kawali, sunda kelapa dan banten sebagai dasar bagi
perkembanganislam di Banten
c.Perkembangan Islam di Sulawesi
Masuknya islam di Sulawesi tidak terlepas dari peranan Sunan Giri di Gresik. Hal itu karena
Sunan Giri menyelenggarakan pesantren yang banyak didatangi oleh santri dari luar Jawa,
seperti ternate dan hiu. Pada abad ke-16 di sulsel telah berdiri kerajaan hindhu gowa dan
tallo. Penduduknya banyak yang memeluk agama islam karena hubungannya dengan
kesultanan Ternate.
d.Perkembangan Islam di Kalimantan
Pada abad ke-16, islam mulai memasuki kerajaan Sukadana. Dibagian selatan Kalimantan
berdiri kerajaan islam banjar pada sekitar tahun 1526. Panngeran Suriansyah merupakan
tokoh yang amat penting dalam sejarah islam di Kalimantan.
Dalam usaha mengembangkan islam/ Syekh muhamad arsyad al-Banjari mendirikan pondok
pesantren untuk menampung santri yang datang dari berbagai pelosok Kalimantan. Pada
masa berikutnya muncul seorang pahlawan Kalimatan yang sangat berjasa dalam
mengembangkan islam. Ia adalah SULTAN AMIRUDIN KHALIFATUL MUKMININ.
Yang lebih dikenal nama pangeran Antasari.
e.Perkembangan Islam di Maluku dan Irian
JAYA Penyebaran islam di Maluku tidak lepas dari jasa para santri Sunan Drajat yang
berasal dari Ternate dan Hitu. Di Maluku ada 4 kerajaan bersaudara yang berasal dari
keturunan yang sama yaitu Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo. Raja Tidore masuk islam dan
mengganti nama menjadi Sultan Jamalludin.
Demikian juga raja Jailolo, ia masuk isalm dan mengganti nama menjadi Sultan Hassanudin.
Peran kesultanan Ternate dalam penyebaran islam baru dimulai pada masa Sultan Zaenal
Abidin. Ia juga berhasil mengambangkan islam ke Maluku dan Irian Jaya bahkan sampai ke
Filipina.
B.Hikmah Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia

58
Lampiran-Lampiran

Setelah memahami bahwa perkembangan Islam di Indonesia memiliki warna atau ciri yang
khas dan memiliki karakter tersendiri dalam penyebarannya, kita dapat mengambil hikmah,
diantaranya sebagai berikut :
Islam membawa ajaran yang berisi kedamaian.
1. Penyebar ajaran Islam di Indonesia adalah pribadi yang memiliki ketangguhan dan pekerja
keras.
2. Terjadi akulturasi budaya antara Islam dan kebudayaan lokal meskipun Islam tetap memiliki
batasan dan secara tegas tidak boleh bertentangan dengan ajaran dasar dalam Islam.
C.Manfaat dari Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia
Banyak manfaat yang dapat kita ambil untuk dilestarikan diantaranya sebagai berikut :
1. Kehadiran para pedagang Islam yang telah berdakwah dan memberikan pengajaran Islam di
bumi Nusantara turut memberikan nuansa baru bagi perkembangan pemahaman atas suatu
kepercayaan yang sudah ada di Nusantara ini.
2. Hasil karaya para ulama yang berupa buku sangat berharga untuk dijadikan sumber
pengetahuan.
3. Kita dapat meneladani Wali Sanga
4. Menjadikan masyarakat gemar membaca dan mempelajari Al-Qur’an.
5. Mampu membangaun masjid sebagai tempat ibadah dalam berbagai bentuk atau arsitektur
hingga kee seluruh pelosok Nusantara.
6. Mampu memanfaatkan peninggalan sejarah, termasuk situs-situs peninggalan para ulama,
baik berupa makam, masjid, maupun peninggalan sejarah lainnya.
7. Seorang ulama atau ilmuwan dituntut oleh islam untuk mempraktikan tingkah laku yang
penuh keteladanan agar terus dilestarikan dan dijadikan panutan oleh generasi berikutnya.
8. Para ulama dan umara bersatu padu mengusir penjajah meskipun dengan persenjataan yang
tidak sebanding.

SEJARAH KEMAJUAN DAN KEMUNDURAN PERADABAN ISLAM


A. Kemajuan Dunia Islam
a.1) Dinasti Umayah (661-750 M)
Bani Umayah adalah keturunan Umayah bin Abdul Syams, salah satu suku Quraisy.
Dalam sejarah Islam Bani Umayah mendirikan dalam dua periode: Damascus dan
Cordoba.Dinasti umayah dimulai dengan naiknya Muawiyah sebagai khalifah pada tahun 661
M. Bani Umayah berhasil mengokohkan kekhalifahan di Damascus selama 90 tahun (661 –
750). Penyebutan ”Dinasti” pada kekhalifahan Bani Umayah karena Muawiyah mengubah

59
Lampiran-Lampiran

sistem suksesi kepemimpinan dari yang bersifat demokratis dengan cara pemilihan kepada
yang bersifat keturunan.
Muawiyah berhasil memperluas wilayah kekuasaan Islam dengan menaklukkan seluruh
Imperium Persia dan sebagian Imperium Bizantium.Bahasa Arab menjadi bahasa
administrasi secara resmi disamping bahasa bangsa-bangsa yang bersatu.Dan dari persatuan
berbagai Bangsa di bawah naungan Islam lahirlah benih-benih kebudayaan Islam yang baru.
Kemajuan-kemajuan diberbagai bidang mulai diraih kekhalifahan Islam diantaranya adalah:
Bidang ekspansi wilayah
Bidang bahasa dan sastra Arab
Bidang pembangunan fisik sarana prasarana penunjang kebudayaan dan pemerintahan
seperti masjid-masjid, istana-istana peristirahatan.
Sesungguhnya di masa ini gerakan-gerakan ilmiyah telah berkembang pula, seperti dalam
bidang keagamaan, sejarah dan filsafat.
Kekuasaan dan kejayaan Dinasti Bani Umayah mencapai puncaknya di zaman al-
Walid. Sesudah itu kekuasaan mereka menurun.Terlalu banyak faktor yang harus mereka
hadapi untuk bisa terhindar dari kehancuran. Gaya hidup mewah (hubuddunya) jauh dari
gaya hidup Islami dikalangan keluarga para khalifah. Faktor ini turut memperlemah jiwa dan
vitalitas keluarga dan anak-anak khalifah, sehingga mereka kurang sanggup memikul beban
pemerintahan yang demikian besar.Disamping faktor ini telah menimbulkan ketidakpuasan
dikalangan orang saleh. Faktor Ketidakadilan, dan masih banyak lagi faktor lainnya.
Pada awal abad ke-8 (720 M) sentimen anti-pemerintahan Bani Umayah telah tersebar
secara intensif.Kelompok yang merasa tidak puas bermunculan.Rongrongan Khawarij dan
Syi’ah yang terus-menerus memandang Bani Umayah sebagai perampas khilafah. Gerakan
oposisi yang pertama-tama dinamakan Hasyimiyah dan kemudian Abbasiyah dipimpin oleh
Muhammad bin Ali. Gerakan ini mendapat dukungan terbesar dari orang-orang khurasan
yang merupakan basis partai Ali.Di bawah pimpinan panglimanya yang tangkas, Abu Muslim
al-Khurasani, gerakan ini dapat menguasai wilayah demi wilayah kekuasaan Bani Umayah.
Pada Januari 750 Marwan II, Khalifah terakhir Bani Umayah, dapat dikalahkan di
pertempuran Zab Hulu, sebuah anak Sungai Tigris sebelah timur Mosul. Ia kemudian
melarikan diri ke Mesir. Sementara itu, pasukan Abbasiyah membunuh semua anggota
keluarga Bani Umayah yang berhasil mereka tawan.Ketika mereka mencapai Mesir, sebuah
kesatuan menemukan dan membunuh Marwan II pada Agustus 750.Maka berakhirlah
kekuasaan Bani Umayah di Damaskus.Namun satu-satunya anggota keluarga Bani Umayah,
Abdurrahman (cucu Hisyam), berhasil meloloskan diri ke Afrika Utara, kemudian

60
Lampiran-Lampiran

menyeberang ke Spanyol. Disinilah selanjutnya ia membangun kekuasaan Dinasti Bani


Umayah yang baru dengan berpusat di Cordoba.
a.2) Dinasti Abasiyah (750-1258 M)
Dinasti Abbasiyah yang menguasai daulah (negara) pada masa klasik dan pertengahan
Islam.Pada masa pemerintahan Abbasiyah tercapai zaman keemasan Islam.Daulah ini disebut
Abbasiyah karena pendirinya adalah keturunan al-Abbas (paman Nabi SAW) yakni Abu
Abbas as-Saffah.Walaupun Abu Abbas adalah pendiri daulah ini, pemerintahannya hanya
singkat (750 – 754).Pembina daulah ini yang sebenarnya adalah Abu Ja’far al-Mansur
(khalifah ke-2).Dua khalifah inilah peletak dasar-dasar pemerintahan Daulah Abbasiyah.
Para sejarawan membagi Daulah Abbasiyah dalam lima periode;
Periode Pertama (132 H – 232 H / 750 M – 847 M)
Yang membedakan antara dinasti Abbasiyah dan dinasti Umayah adalah masuknya keluarga
non arab ke dalam pemerintahan.
Pada periode pertama ini Daulah Abbasiyah ini pemerintahan difokuskan pada
pembenahan administrasi negara ketahanan dan pertahanan. Untuk lebih memantapkan dan
menjaga stabilitas negara yang baru berdiri itu, al-Mansur kemudian memindahkan Ibukota
dari al-Hasyimiyah, dekat Kufah, ke kota yang baru dibangunnya Baghdad, pada tahun 767.
di sana ia menertibkan pemerintahannya dengan mengangkat aparat yang duduk di lembaga
eksekutif dan yudikatif. Dalam lembaga eksekutif ia mengangkat wazir (menteri), ia juga
membentuk lembaga protokol negara, sekretaris negara, dan kepolisian negara disamping
mengembangkan angkatan bersenjata.Meneruskan jawatan pos yang sudah ada sejak masa
Bani Umayah, dengan penambahan tugas dari selain mengantarkan surat juga untuk
menghimpun seluruh informasi dari daerah sehingga administrasi kenegaraan dapat
berlangsung dengan lancar.
Kalau dasar-dasar pemerintahan Daulah Abbasiyah ini diletakkan dan dibangun oleh
Abu Abbas as-Saffah dan Abu Ja’far al-Mansur, maka puncak keemasan dinasti ini berada
pada tujuh khalifah sesudahnya. Mulai dari masa khalifah al-Mahdi (775 – 785) hingga
khalifah al-Wasiq (842 – 847).Puncak popularitas daulah ini berada pada zaman khalifah
Harun al-Rasyid (786 – 809) dan puteranya al-Ma’mun (813 – 833). Daulah ini lebih
menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam dari pada perluasan wilayah yang
memang sudah luas.Dan ini pulalah yang membedakan antara Dinasti Abbasiyah dengan
Dinasti Umayah yang lebih mementingkan perluasan daerah.
Pada zaman al-Mahdi, perekonomian meningkat.Irigasi yang dibangun membuat hasil
pertanian berlipat ganda dibandingkan sebelumnya.Pertambangan dan sumber-sumber alam

61
Lampiran-Lampiran

bertambah dan demikian pula perdagangan internasional ketimur dan barat dipergiat.Basrah
menjadi pelabuhan penting yang sarananya lengkap. Tingkat kemakmuran yang paling tinggi
adalah pada zaman Harun al-Rasyid.Kesejahteraan sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu
pengetahuan, dan kebudayaan serta kesusastraan berada pada zaman keemasannya.Pada masa
inilah negara Islam menempatkan dirinya sebagai negara terkuat tak tertandingi. Khalifah al-
Ma’mun menonjol dalam hal gerakan intelektual dan ilmu pengetahuan dengan
menerjemahkan buku-buku dari Yunani.Filsafat Yunani yang rasional menjadikan khalifah
terpengaruh dan mengambil teologi rasional Muktazilah menjadi teologi negara. Al-Mu’tasim
khalifah berikutnya (833 – 842), memberi peluang besar kepada orang Turki masuk dalam
pemerintahan.Daulah Abbasiyah mengadakan perubahan sistem ketentaraan.Praktek orang
Muslim mengikuti perjalanan perang sudah terhenti.Ketentaraan kemudian terdiri dari
prajurit-prajurit Turki yang profesional.Kekuatan militer menjadi sangat kuat, akibatnya
tentara menjadi sangat dominan sehingga khalifah berikutnya sangat dipengaruhi atau
menjadi boneka ditangan mereka.
1. Periode kedua (232 H – 334 H / 847 M – 945 M)
2. Periode ketiga (334 H – 447 H / 945 M – 1055 M)
3. Periode keempat (447 H – 590 H / 1055 M – 1199 M)
4. Periode kelima (590 H – 656 H / 1199 M – 1258 M)

a.3) Dinasti Umayah di Spanyol (757-1492 M)


Di belahan Barat (eropa) berdiri megah Khalifah Umayah di Spanyol dengan
sebelumnya tentara Islam pimpinan Thariq Ibnu Ziyad pada tahun 711 M menaklukkan
kerajaan Visigothic yang diperintah oleh raja Roderick. Dalam memperluas wilayah
kekuasaannya kekuatan Islam ini pada tahun 732 menyeberangi pegunungan pirenia
(perbatasan Perancis), dan pastilah akan mengubah sejarah Eropa seandainya mereka tidak
dikalahkan dengan menyedihkan sekali oleh Charles Mortel atau yang sering dipanggil Karel
Martel.
a.4) Dinasti Fatimiyah (919-1171 M)
Syahruddin El-Fikriasa Kejayaan Islam (the golden age of Islam) ditandai dengan
penyebaran agama Islam hingga ke benua Eropa.Pada masa itulah berdiri sejumlah
pemerintah atau kekha-lifahan Islamiyah.Seperti dinasti Umayyah, Abbasiyah, Fatimiyah,
Turki Utsmani dan Ayyubiyah. Selain penyebaran agama, kemajuan Islam juga ditandai
dengan kegemilangan peradaban Islam.Banyak tokoh-tokoh Muslim yang muncul sebagai
cendekiawan dan memiliki pengaruh besar dalam dunia peradaban hingga saat ini.Namun,

62
Lampiran-Lampiran

setelah perebutan kekuasaan dan kepemimpinan yang kurang fokus, akibatnya pemerintahan
Islam dikalahkan.Salah satunya adalah dinasti Fatimiyah.
Imperium Ismailiyah yang didirikan oleh Ubaidillah al-Mahdi ini hanya mampu
bertahan selama lebih kurang dua setengah abad (909-1171 M).Ubaidillah al-Mahdi adalah
pengikut sekte Syiah Ismailiyah. Dinamakan sekte Ismailiyah, karena sepeninggal Jafar As-
Shadiq, anggota sekte Syiah Ismailiyah berselisih pendapat mengenai sosok pengganti sang
imam (Jafar as-Shadiq). Dan Ismail selaku putra Jafar yang sedianya akan dijadikan
pengganti, telah meninggal terlebih dahulu. Di saat yang sama, mayoritas pengikut Ismailiyah
menolak penunjukan Muhammad yang merupakan putra Ismail. Padahal, menurut mereka
masih terdapat sosok Musa Al-Kazhim yang dinilai lebih pantas memegang tampuk
kepemimpinan spiritual. Maka disaat itulah, tampil Abdullah atau Ubaidillah Al-Mahdi
mengambil kepemimpinan spiritual langsung (dari jalur Ali melalui Ismail).Bersama keluarga
dan para pengikutnya, Ismailiyah menyebar di wilayah Salamiyah, sebuah pusat kaum
Ismailiyah di Suriah. Maka pada tahun 297 H atau 909 M, ia dilantik menjadi khalifah.
Pada masa kepemimpinannya, pemerintahan Dinasti Fatimiyah berpusat di Maroko,
dengan ibukotanya al-Manshur-iyah.Dinasti Fatimiyah menjalankan roda pemerintahan di
Maroko selama 24 tahun yang di pimpin oleh empat orang khalifah, termasuk Ubaidillah al-
Mahdi.Tiga orang khalifah Dinasti Fatimiyah lainnya yang pernah memerintah di Maroko
adalah al-Qaim (322-323 H/934-946 M), al-Manshur (323-341 H/946-952 M), dan al-Muizz
(341-362 H/952-975 M).
Maka sejak saat itulah, dinasti Fatimiyah berhasil menjadi salah satu pusat
pemerintahan Islam yang disegani.Puncaknya, terjadi pada masa Al-Aziz (365-386 H/975-
996 M).Ia adalah putra dari Al-Muizz yang bernakma Nizar dan bergelar al-Aziz (yang
perkasa). Al-Aziz, berhasil mengatasi persoalan keamanan di wilayah Suriah dan Palestina.
Bahkan, pada masanya ini pula, ia membangun istana kekhalifahan yang sangat megah
hingga mampu menampung tamu sebanyak 30 ribu orang. Tempat-tempat ibadah, pusat
perhubungan, pertanian maupun industri mengalami perkembangan pesat. Sementara dalam
bidang pemerintahan, Khalifah al-Aziz berhasil meredam berbagai upaya pemberontakan
yang terjadi di wilayah-wilayah kekuasaannya. Dinasti ini dapat maju antara lain karena
didukung oleh militer yang kuat, administrasi pemerintahan yang baik, ilmu pengetahuan
berkembang, dan ekonominya stabil. Namun setelah masa al-Aziz Dinasti Fatimiyah
mengalami kemunduran dan akhirnya runtuh, setelah berkuasa selama 262 tahun.
Krisis Kepemimpinan

63
Lampiran-Lampiran

Khalifah berikutnya setelah al-Aziz, yakni Al-Hakim (386-411 H/996-1021 M), Az-
Zahir (411-427 H/1021-1036 M), Al-Mustansir (428-487 H/1036-1094 M), hingga Al-
Mustali (487-495 H/1094-1101 M), tak mampu mengendalikan pemerintah seperti yang
dilakukan oleh Al-Aziz. Bahkan, krisis di antara kekuatan dalam pemerintahan Daulah
Fatimiyah itu terus berlangsung paada masa al-Hafiz (525-544 H/1131-1149 M), az-Zafir
(544-549 H/1149-1154 M), al-Faiz (549-555 H/1154-1160 M), dan al-Adid (555-567
H/1160-1171 M). Krisis internal itu diperparah dengan majunya tentara Salib dan pengaruh
Nuruddin Zangi dengan panglimanya, Salahuddin al-Ayyubi.
Ketika khalifah al-Adid sedang sakit pada tahun 555 H/1160 M, Salahuddin al-Ayyubi
mengadakan pertemuaan dengan para pembesar untuk menyelenggarakan khotbah dengan
menyebut nama khalifah Abbasiyah, al-Mustadi. Ini adalah simbol dari runtuh dan
berakhirnya kekuasaan Dinasti Fatimiyah untuk kemudian digantikan oleh Dinasti
Ayyubiyah
B. Kemunduran Dunia Islam
b.1) Krisis dalam Bidang Sosial Politik
Awalnya adalah rapuhnya penghayatan ajaran Islam, terutama yang terjadi dikalangan
para penguasa.Bagi mereka ajaran Islam hanya sekedar diamalkan dari segi formalitasnya
belaka, bukan lagi dihayati dan diamalkan sampai kepada hakekat dan ruhnya. Pada masa itu
ajaran Islam dapat diibaratkan bagaikan pakaian, dimana kalau dikehendaki baru dikenakan,
akan tetapi kalau tidak diperlukan ia bisa digantungkan. Akibatnya para pengendali
pemerintahan memarjinalisasikan agama dalam kehidupannya, yang mengakibatkan
munculnya penyakit rohani yang sangat menjijikkan seperti keserakahan dan tamak terhadap
kekuasaan dan kehidupan duniawi, dengki dan iri terhadap kehidupan orang lain yang
kebetulan sedang sukses. Akibat yang lebih jauh lagi adalah muncullah nafsu untuk berebut
kekuasaan tanpa disertai etika sama sekali. Kepada bawahan diperas dan diinjak, sementara
terhadap atasan berlaku menjilat dan memuji berlebihan menjadi hiasan mereka.
b.2) Krisis dalam Bidang Keagamaan
Krisis ini berpangkal dari suatu pendirian sementara ulama jumud (konservatif) yang
menyatakan bahwa pintu ijtihad telah tertutup.Untuk menghadapi berbagai permasalahan
kehidupan umat Islam cukup mengikuti pendapat dari para imam mazhab.Dengan adanya
pendirian tersebut mengakibatkan lahirnya sikap memutlakkan semua pendapat imam-imam
mujtahid, padahal pada hakekatnya imam-imam tersebut masih tetap manusia biasa yang tak
lepas dari kesalahan. Kondisi dunia Islam yang dipenuhi oleh ulama-ulama yang berkualitas

64
Lampiran-Lampiran

dibuatnya redup dan pudarnya nur Islam yang di abad-abad sebelumnya merupakan kekuatan
yang mampu menyinari akal pikiran umat manusia dengan terang benderang.
c) Krisis bidang Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan
Krisis ini sesungguhnya hanya sekedar akibat dari adanya krisis dalam bidang sosial
politik dan bidang keagamaan. Perang salib yang membawa kaum Nasrani Spanyol dan
serangan tentara mongol sama-sama berperangai barbar dan sama sekali belum dapat
menghargai betapa tingginya nilai ilmu pengetahuan. Pusat-pusat ilmu pengetahuan baik
yang berupa perpustakaan maupun lembaga-lembaga pendidikan diporak-porandakan dan
dibakar sampai punah tak berbekas.Akibatnya adalah dunia pendidikan tidak mendapatkan
ruang gerak yang memadai. Lembaga-lembaga pendidikan tinggi yang ada sama sekali tidak
memberikan ruang gerak kepada para mahasiswanya untuk melakukan penelitian dan
pengembangan ilmu. Kebebasan mimbar dan kebebasan akademik yang menjadi ruh atau
jantungnya pengembangan ilmu pengetahuan Islam satu persatu surut dan sirna.Cordova dan
Baghdad yang semula menjadi lambang pusat peradaban dan ilmu pengetahuan beralih ke
kota-kota besar Eropa

DAFTAR PUSTAKA
Rofiq, Ahmad, Fiqh Mawaris, Jakarta, PT. rajaGrafindo, 2002.

Syarifuddin, Amir, Garis-Garis Besar Fiqh, Jakarta, Prenada Media, 2003.

Usman, Suparman dan Yusuf Somawinata, Fiqh Mawaris: Hukum Kewarisan Islam, Jakarta,

Gaya Media Pratama, 2002.

Bashori, Agus Hasan. 1998. Kitab Tauhid 2. Jakarta: Darul Haq.

Thohir Ajid. 2004. Perkembangan Peradaban Dikawasan Dunia Islam.Jakarta : P.T. Raja

Grafindo Akhmad, Abu Zakki. Agama Islam. Jakarta: Rica Grafika.

Abu Bakara, Bahrun. 2005. Terjemahan Tafsir Jalalain. Bandung Algesindo

Departemen Agama RI. 2004. AL-QUr’an dan Terjemah. Bandung: Jumanatul Ali-ART

Shihab, M. Quraisy. 2006. Tafsir Al-Misbah. Jakarta: Lentera Hati

Artikel:

65
Lampiran-Lampiran

Oleh A. Masyhur Mz. Qadha dan Qadar. Darul Haq. 1999/I/6.


Sumber: my wordpress.com
www.google.com
Kumpulan Sejarah-sejarah islam periode modern
Tentang sejarah islam, http // www.Sejarah Islam.com
http://www.romadhon-byar.com/2012/03/perkembangan-islam-di
indonesia.html#ixzz39yUwifhW

66