Anda di halaman 1dari 29

REFERAT

ADENOMA HIPOFISIS

Disusun oleh :

Misbahuddin

Dibimbing oleh :

Dr. Ferry Wijanarko, Sp. BS

PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS BEDAH

FK. UNS/RSUD DR. MOEWARDI

SURAKARTA

2015

1
LEMBAR PENGESAHAN

REFERAT

ADENOMA HIPOFISIS
MISBAHUDDIN

Pembimbing

Dr. FERRY WIJANARKO, Sp. BS

Telah disahkan pada tanggal........................................................

Dr. Ferry Wijanarko, Sp. BS,

2
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan anugerah dan karunia-
Nya sehingga memungkinkan penulisan ini dapat selesai. Shalawat dan salam semoga
selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, semoga dapat memberikan
safaatnya kelak di akhir zaman.

Judul refrat ini mengenai Adenoma Hipofisis semoga dapat memberikan


penyegaran dan pengetahuan kepada kita baik dari anatomi fisisologi hipofisis, serta
beberapa perkembangan mengenai terapi yang dilakukan pada tumor hipofisis sehingga
dapat memaksimalkan dalam penanganan.

Ucapan terima kasih yang tak terhingga kami ucapkan kepada Dr. Ferry Wijanarko,
Sp. BS yang telah meluangkan waktunya membimbing dan membantu penyempurnaan
tulisan ini.

Akhir kata kami menyadari bahwa penulisan ini sangat jauh dari kesempurnaan.
Kritik dan saran akan sangat kami hargai. Semoga hasil penulisan ini dapat bermanfaat
bagi semua pihak.

Februari, 2015

Penulis

3
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................... ii
DAFTAR ISI....................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................... 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA..................................................................4
2.1 Anatomi dan Fisiologi Hipofisis.................................................4
2.1.1 Anatomi ............................................................................ 4
2.1.2 Fisiologi............................................................................ 6
2.1.3 Radioanatomi....................................................................8
2.2 Definisi dan Klasifikasi............................................................... 12
2.3 Epidemiologi .............................................................................. 13
2.4 Etiologi....................................................................................... 13
2.5 Patofisiologi. .............................................................................. 14
2.6 Gejala Klinis............................................................................... 15
2.7 Diagnosis.................................................................................... 17
2.7.1 Pemeriksaan radiologi Konvensional................................ 18
2.7.2 Pemeriksaan CT Scan..............................................................18
2.7.3 Pemeriksaan MRI..............................................................20
2.7.4 Pemeriksaan Kedokteran Nuklir.......................................22
2.8 Diagnosis Banding......................................................................22
2.9 Tatalaksana..................................................................................25
2.9.1 Operatif.............................................................................26
2.9.2 Radioterapi........................................................................26
2.9.3 Medikamentosa.................................................................27
BAB III PENUTUP........................................................................................ 29
3.1 Kesimpulan ................................................................................ 29
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 30

BAB I
PENDAHULUAN

Kelenjar hipofisis merupakan kelenjar yang sangat penting bagi tubuh

manusia, kelenjar ini mengatur fungsi dari kelenjar tiroid, kelenjar adrenal,

ovarium dan testis, kontrol laktasi, kontraksi uterin sewaktu melahirkan, tumbuh

kembang yang linear, dan mengatur osmolalitas dan volume dari cairan

intravaskular dengan memelihara reabsorpsi cairan di ginjal.


Kelenjar hipofisis terdiri dari 2 lobus, lobus anterior dan lobus posterior,

pada lobus anterior terdapat 5 tipe sel yang memproduksi 6 hormon peptida.

4
Sedangkan pada lobus posterior melepaskan 2 macam hormon peptida. Tumor

pada kelenjar ini akan memberikan gejala karena adanya efek masa atau gangguan

produksi hormon pada penderitanya. 1


Tumor hipofisis atau adenoma pituitary merupakan tumor intrakranial

yang paling umum yaitu 10-15% dari semua neoplasma primer. Insiden per tahun

dari tumor hipofisis bervariasi yaitu antara 1-7/100.000 penduduk. Sebagian besar

tumor hipofisis ditemukan pada usia dewasa muda namun dapat pula ditemukan

pada remaja maunpun usia lanjut. Sementara sumber lain menyebutkan bahwa

tumor hipofisis ditemukan pada semua umur, namun insiden nya meningkat

dengan semakin meningkatnya usia dan puncaknya antara dekade ketiga dan

kelima.2
Terdapat dua tipe tumor hipofisis berdasarkan ukuran yaitu mikro

adenoma (ukuran tumor <10 mm) dan makro adenoma (ukuran tumor >10 mm).

Dimana 60% dari tumor hipofisis adalah makro adenoma dan 40% mikro

adenoma sedangkan berdasarkan hormon yang disekresikan dibagi dua tipe yaitu

non fungsional dan fungsional.1,3


Tumor hipofisis dapat menimbulkan berbagai macam gangguan akibat

hipofungsi, hiperfungsi atau efek masa tumor. Gangguan tersebut memiliki

gambaran klinis yang bervariasi seperti defisiensi hormon atau berlebihnya

hormon serta sakit kepala atau gangguan lapangan pandang akibat masa tumor. 2
Pada 50% kasus, ditemukan tumor yang telah meluas ke supra sela, dan

juga sering kali menginvasi sinus sphenoid dan sinus kavernosus. Dengan

perluasan dan invasi tumor tersebut, makakontrol tumor hanya dengan operasi

tidaklah cukup. Pada keadaan tersebut pemberian terapi radiasi post operasi telah

banyak dipakai dengan hasil yang cukup baik, dimana dapat menurunkan angka

rekurensi lokal dari 22%-71% setelah tindakan operasi menjadi 8%-21% bila

5
ditambahkan tindakan radiasi post operasi.3
Diagnosis dini tumor hipofisis seringkali terlambat karena kurangnya

kewaspadaan serta gejala dan tanda klinis yang minimal.Dalam dua dekade

terakhir, diagnosis tumor hipofisis mengalami kemajuan karena perkembangan

sarana diagnosis seperti computed tomography (CT) dan magnetic resonance

imaging (MRI).2
Oleh karena itu pengetahuan mengenai gambaran radiologis tumor

hipofisis diperlukan untuk mendiagnosa secara dini pasien yang mengalami tumor

hipofisis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Fisiologi Hipofisis


2.1.1 Anatomi
Kelenjar hipofisis disebut juga sebagai kelenjar pituitari. Kata hipofisis

berasal dari bahasa yunani, hypo yang berarti dibawah dan physis yang berarti

pertumbuhan. Kelenjar hipofisis terletak di fossa hipofiseal sella tursika di tulang

spenoidale dengan tangkai pituitary (infundibulum). Berat kelenjar hipofisis

adalah ± 0,5 gr dengan diameter 1-5 cm dan ukuran normal pada manusia ± 10 x

13 x 16 mm.4
Selama embriogenesis, sebagian hipofisis berkembang dari kavitas oral

primitive (ektoderm oral) dan sebagian lagi berasal dari jaringan saraf.

a. Infundibulum dan kantong Rathke berkembang dari lapisan ektoderm

neural dan ektoderm oral


b. Kantong Rathke menyempit di bagian basal
c. Kantong Rathke terpisah dari epitel oral
d. Adenohipofisis terbentuk dari pengembangan dari pars distalis, pars

tuberalis, dan pars intermedia sementara neurohipofisis terbentuk dari

6
perkembangan pars nervosa, batang infundibulum dan eminensia

mediana.2,4,5,6

Kelenjar hipofisis dapat dibagi bagi menjadi bagian yang berbeda, yaitu
a. Adenohipofiis (hipofisis anterior)

Hanya terdiri dari epitel kelenjar (‘adeno’ artinya ‘kelenjar). Merupakan

bagian dari hipofisis yang berkembang dari ektoderm. Terdapat pars distalis, pars

tuberalis, dan pars intermedia.


b. Neurohipofisis (hipofisis posterior)
Merupakan bagian dari hipofisis yang berkembang dari jaringan saraf.

terdapat pars nervosa, bagian yang paling besar dan infundibulum yang terdiri dari

eminentia mediana dan stem.


c. Pars Intermedia
Merupakan daerah kecil avaskuler yang terletak diantara adenohipofisis

dan neurohipofisis. Pada manusia nyaris tidak terdapat hipofisis pars intermedia,

namun ada pada beberapa jenis hewan tingkat rendah dan ukurannya jauh lebih

besar serta jauh lebih berfungsi.4,6

Gambar 2.1. Anatomi dari kelenjar hipofisis anterior dan posterior

7
Gambar 2.2. Lokasi dari kelenjar hipofisis

2.1.2 Fisiologi Kelenjar Hipofisis


a. Hipofisis anterior (adenohipofisis)
Berasal dari kantong Rathke yang merupakan invaginasi epitel faring

sewaktu pembentukan embrio. Hormon yang disekresi oleh hipofisis anterior

adalah:
- Hormon pertumbuhan, selain dari efek umum dalam menyebabkan

pertumbuhan, juga mempunyai berbagai efek metabolik yang spesifik,

meliputi:
a. Meningkatkan kecepatan sintesis protein di sebagian besar sel tubuh
b. Meningkatkan mobilisasi asam lemak dari jaringan lemak,

meningkatkan asam lemak bebas dalam darah, dan meningkatkan

penggunaan asam lemak untuk energi


c. Menurunkan kecepatan pemakaian glukosa di seluruh tubuh.
-
Adrenokortikotropik, mengatur sekresi beberapa hormon

adrenokortikal, mempengaruhi metabolisme glukosa, protein, dan

lemak

8
-
Tirotropin (TSH/thyroid-stimulating hormone), mengatur kecepatan

sekresi tiroksin dan triiodotironin oleh kelenjar tiroid serta mengatur

kecepatan sebagian besar reaksi kimia dalam tubuh.


-
Prolaktin, meningkatkan pertumbuhan kelenjar payudara dan produksi

air susu
-
Dua hormon gonadotropin, follicle-stimulating hormone dan

luteinizing hormone, mengatur pertumbuhan ovarium dan testis serta

aktivitas hormonal dan reproduksinya.4


b. Hipofisis posterior (neurohipofisis)
Terdiri dari sel-sel seperti glia yang disebut pituisit. Bagian ujung ini

terletak pada permukaan kapiler, tempat granula sekretorik menyekresikan dua

hormon hipofisis posterior, yaitu:4


-
Hormon antidiuretik (ADH) atau vasopresin. Pembebasan vasopresin

ke dalam aliran darah mengakibatkan otot polos pada dinding arteri

kecil dan arteriol berkontraksi. Kontraksi ini mengakibatkan lumen

menyempit dan menaikkan tekanan darah. Namun,fungsi utama

vasopresin adalah meningkatkan permeabilitas air pada tubuli

kontortus distal dan duktus koligens ginjal.


-
Oksitosin. Selama kelahiran, oksitosin dibebaskan dari neurohipofisis;

hormon ini menginduksi kontraksi kuat otot polos uterus yang

mengakibatkan kelahiran bayi. Saat menyusui, tindakan mengisap

puting susu oleh bayi memicu refleks ejeksi susu pada kelenjar

mammae laktans. Tindakan ini membebaskan oksitosin yang

merangsang sel mioepitel yang mengelilingi alveoli dan duktus

kelenjar mammae agar berkontraksi. Hal ini mengakibatkan

pengeluaran susu ke dalam duktus ekskretorius kelenjar mammae dan

puting susu.4
2.1.3 Radioanatomi

9
a. Foto rontgen kranial potongan sagital
Kelenjar hipofisis terletak di fossa hipofiseal sella tursika di tulang

spenoidale dengan tangkai pituitary (infundibulum).4 Dari foto rontgen kranial

potongan sagital didapatkan gambaran sella tursika seperti berikut :

Gambar 2.3. Foto polos

kranial potongan

sagital yang

memperlihatkan bagian sella tursika7

Gambar 2.4.

Radioanatomi

dari foto polos

kranial potongan

sagital7

10
b. CT Scan Kepala potongan Axial
Gambaran dari potongan CT scan memperlihatkan dengan jelas kelainan

organ kepala dan ekstensinya.8

Gambar 2.5. CT Scan Kepala potongan

aksial yang memperlihatkan

kelenjar hipofisis9

Gambar 2.6.

Radioanatomi dari CT

scan kepala9

c.

Gambaran MRI

Kepala

Pemindaian MRI

dapat mendemonstrasikan otak dengan menggunakan fasilitas multiplanar pada

bidang aksial, koronal, dan sagital dngan gambaran yang sangat baik pada fosa

11
posterior karena tidak terdapat artefak tulang. MRI merupakan pemeriksaan yang

sangat sensitif dalam mendeteksi tumor seperti adenoma hipofisis.10

Gambar 2.7. MRI Kepala potongan

Sagital yang memperlihatkan kelenjar

hipofisis

Gambar 2.8.

Radioanatomi MRI Kepala potongan sagital9

12
2.2 Definisi dan Klasifikasi
Tumor hipofisis juga biasa disebut dengan istilah adenoma hipofisis.

‘adeno-’ berarti kelenjar, ‘-oma’ berarti tumor. Adenoma hipofisis kebanyakan

berasal dari dua pertiga bagian depan kelenjar hipofisis. Tumor yang berasal dari

sepertiga bagian posterior hipofisis biasanya jinak dan dapat disembuhkan.1


Berdasarkan hormon yang diproduksi oleh kelenjar hipofisis dapat

dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu1,11,12 :


a. adenoma hipofisis non-fungsional
Tumor ini berkisar sekitar 30% dari seluruh tumor hipofisis dan biasanya

lebih sering pada laki-laki daripada wanita. Nama lain dari tumor ini ialah null

cell tumor, undifferentiated tumor dan non hormon producing adenoma. Karena

tumor ini tidak memproduksi hormon, maka pada tahap dini seringkali tidak

memberikan gejala. Sehingga ketika diagnosa ditegakkan umumnya tumor sudah

dalam ukuran yang sangat besar, atau sudah timbul gejala akibat massa. Tumor

biasanya solid walaupun bisa ditemukan tumor dengan campuran solid dan kistik.
b. adenoma hipofisis fungsional
adenoma hipofisis fungsional terdiri dari :
- adenoma yang bersekresi prolaktin
- adenoma yang bersekresi growth hormone (GH)
- adenoma yang bersekresi glikoprotein (TSH, FSH, LH)
- adenoma yang bersekresi adrenokortikotropik hormon (ACTH)
Tumor yang mensekresikan TSH kelenjar hipofisis bagian anterior

berperan dalam sekresi dan pengaturan dari berbagai hormon peptida dan

stimulating factor. Tumor yang berasal dari bagian ini akan memproduksi secara

berlebihan beberapa atau salah satu dari hormon monopeptida, jika ini terjadi

maka dinamakan fungsional atau screting adenoma.


Berdasarkan ukurannya, tumor hipofisis dibagi menjadi1 :
a. Mikroadenoma
Tumor ini berukuran kurang dari 1 cm dan lokasinya masih dalam sella

tursica, belum menginvasi struktur di sekitarnya seperti sphenoid dan sinus

cavernosus.
b. Makroadenoma

13
Tumor ini berukuran lebih dari 1 cm dan biasanya sudah meluas dari sella

tursica serta menginvasi struktur yang berdekatan.


2.3 Epidemiologi
Tumor hipofisis atau adenoma pituitary merupakan tumor intrakranial

yang paling umum yaitu 10-15% dari semua neoplasma primer.Insiden per tahun

dari tumor hipofisis bervariasi yaitu antara 1-7/100.000 penduduk. Sebagian besar

tumor hipofisis ditemukan pada usia dewasa muda namun dapat pula ditemukan

pada remaja maunpun usia lanjut. Sementara sumber lain menuliskan bahwa

tumor hipofisis ditemukan pada semua umur, namun insidennya meningkat

dengan semakin meningkatnya usia dan puncaknya antara dekade ketiga dan

kelima.2
2.4 Etiologi
Penyebab tumor hipofisis tidak diketahui. Sebagian besar diduga tumor

hipofisis merupakan hasil dari perubahan DNA satu sel sehingga menyebabkan

pertumbuhan sel tidak terkendali. Cacat genetik, sindroma neoplasia endokrin

multipel tipe I dikaitkan dengan tumor hipofisis. Namun, hal ini terjadi pada

sebagian kecil kasus. Selain itu, tumor hipofisis bisa dapat merupakan hasil

metastasis dari kanker primer lainnya1.


2.5 Patofisiologi1,11
Terdapat dua teori mengenai asal dari tumor hipofise. Teori yang paling

umum diterima adalah teori yanng menyatakan bahwa tumor ini merupakan

kelainan intrinsik dalam kelenjar itu sendiri. Teori lainnya menyebutkan bahwa

tumor hipofise muncul sebagai hasil dari stimulasi yang berkelanjutan dari

hipotalamus yang menyekresikan hormon-hormon atau faktor. Teori pertama yang

menyatakan bahwa tumor hipofise adalah primer atau muncul sebagai akibat dari

kelainan intrinsik dalam kelenjar lebih banyak digunakan.


Kemajuan terbaru dalam bidang biologi molekuler telah memfasilitasi

penelitian yang lebih definitif untuk tumor ini menggunakan metode inaktivasi-X

14
alel. Penelitian ini menunjukkan bahwa tumor hipofise berasal dari monoklonal.

Jadi tumor timbul dari mutasi sel tunggal diikuti oleh ekspansi klonal. Hipofise

neoplasia adalah proses yang terdiri dari beberapa langkah yang melibatkan

disregulasi pertumbuhan sel seperti proliferasi, diferensiasi, dan produksi hormon.

Hal ini dimulai sebagai hasil dari aktivasi fungsi onkogen atau setelah inaktivasi

gen suppresor tumor, atau keduanya. Aktivasi fungsi onkogen merupakan faktor

utama yang akan memicu perubahan alel tunggal yang dapat menyebabkan

perubahan dari fungsi seluler. Sebaliknya, inaktivasi dari tumor suppresor bersifat

resesif dalam hal ini oleh karena itu kedua alel gen harus terpengaruhi seterusnya

mempengaruhi fungsi seluler.


Sebagian besar tumor hipofise muncul dari bagian anterior dari kelenjar

yang dikenal sebagai adenohipofise. Adenoma adalah tumor pada bagian

sekretori yang memproduksi dan melepaskan satu atau lebih hormon hipofise

yang diproduksi oleh lobus anterior. Pseudocapsule yang membatasi nya dengan

jaringan normal disekitarnya akan ditekan oleh tumor. Kasus adenoma jarang

ditemukan muncul dari pars tuberalis, perluasan kecil dari lobus anterior

sepanjang anterior distal dari anterior hipofise atau tumor yang muncul dari sinus

sfenoid, nasofaring, atau klivus.Tumor hipofisis anterior akan menimbulkan efek

massa terhadap struktur sekitarnya.


2.6 Gejala Klinis
Tumor hipofise bisa menyebabkan tanda dan gejala yang dibagi menjadi

empat kategori1,11,12 :
a. Penekanan kelenjar normal disekitarnya
Pasien bisa muncul dengan hipopituitari yang disebabkan oleh

gangguan fungsi normal dari berbagai jalur hormonal dari hipofise

anterior. Salah satu yang paling rentan adalah jalur hipofise- gonad, yang

mana gangguan kecil dari siklus FSH atau LH bisa mengakibatkan

15
gangguan libido dan fertilitas pada kedua jenis kelamin dan siklus

menstruasi pada wanita. Selain itu, bagian yang rentan terhadap efek

penekanan lokal antara lain jalur hipofise-tirod dan jalur hipofise-adrenal.

Pasien bisa muncul dengan hipotiroid sekunder atau hipokortisol relatif

yang dipredisposisi oleh krisis addison.


Pada dewasa, kadar prolaktin yang rendah tidak terlalu dipikirkan.

Begitu juga dengan efek klinis dari defisiensi growth hormone pada

komposisi tubuh dan metabolisme tulang.

b. Hipersekresi Hormonal
Tumor hipofise bisa memproduksi satu atau lebih hormon hipofise

dalam jumlah berlebihan, yang mana hal ini akan memicu gejala yang

spesifik terhadap hormon tertentu yang disekresikan secara berlebihan.

Tumor yang berlebihan menyekresikan Growth Tumor dapat menginduksi

sindrom acromegali yang ditandai oleh pembesaran ekstremitas distal dan

memperjelas tonjolan tulang wajah dengan pertumbuhan yang berlebihan

dari tulang tengkorak. Pasien dengan tumor tersebut beresiko untuk

penyakit jantung dan diabetes melitus dan apabila tidak ditangani dengan

baik dapat menurunkan harapan hidup.


Tumor hipofise yang menyekresikan adrenocorticotropin secara

berlebihan bisa menyebabkan hiperkotisol dan penyakit Cushing. Pasien

dengan penyakit Cushing menunjukkan perubahan di tubuhnya yang

diakibatkan karena deposit lemak yang menyebabkan penderita terlihat

“buffalo hump” dan “moon facies”. Pasien juga cenderung untuk memiliki

striae di abdominal, osteoporosis, dan diabetes melitus, kelemahan otot

terutama di bagian proksimal dan dapat memicu ganggungan psikiatri.

16
Prolaktinoma menyebabkan galaktorea pada wanita dan pria serta

gangguan siklus menstruasi pada wanita yang dapat berujung pada

infertilitas. Supresi tidak langsung pada estrogen menyebabkan produksi

prolaktin yang berlebihan. Laki-laki dengan prolaktinoma menunjukkan

penurunan fungsi seksual yang dapat berujung pada infertilitas. Hal yang

sama juga terjadi pada tumor pada gonadotropin yang menyekresikan

FSH, LH , atau keduanya yang akan berefek pada siklus menstruasi,

fertilitas, dan fungsi seksual.


c. Gangguan Visual
Pasien dengan perluasan ke area supraseluler dari non-fungsional

tumor biasanya datang ke pelayanan medis dengan keluhan hilangnya

penglihatan. Tumor hipofise dapat menyebabkan penurunan penglihatan

apabila tumor tersebut meluas hingga menekan jalur visual.

Macroadenoma biasanya meluas diatas sela ke kiasma optikum

menyebabkan defek pada area bitemporal yang dimulai dari kuadran atas

dan berlanjut mengenai seluruh area bitemporal dan menyebabkan

hemianopsia bitemporal.
d. Sakit Kepala
Sebagian besar pasien dengan tumor hipofise datang dengan

keluhan sakit kepala. Pasien sering sakit kepala kronis dan berulang

sehingga disarankan brain ct-scan kemudian tampak lesi yang tidak

terduga di area hipofise. Walaupun sakit kepala baru akan muncul pada

pasien dengan tumor besar yang meluas ke sela tursika dan menginvasi

atau menekan dura yang sensitif nyeri, namun keluhan ini sudah muncul

pada pasien dengan tumor kecil dan non invasif.


2.7 Diagnosis

17
Adenoma hipofise bisa dicurigai dari riwayat medis, gejala, dan

pemeriksaan fisik. Pada kasus curiga tumor hipofise yang diperlukan adalah

pengujian fungsi hormon untuk setiap pasien. Tes hormon dapat mendeteksi atau

mengkonfirmasi adenoma fungsional, serta menentukan apakah ada bukti

insufisiensi hipofisis11.
2.7.1 Pemeriksaan Radiologi Konvesional
Foto X-rays tidak cukup baik untuk pencitraan jaringan lunak, sehingga

sudah digantikan oleh CT scan dan MRI.2


Namun pada adenoma hipofisis non fungsional pada rontgen foto lateral

tengkorak terlihat sella turcica membesar, lantai sella menipis dan membulat

seperti balon. Jika pertumbuhan adenomanya asimetrik maka pada lateral foto

tengkorak akan menunjukkan double floor. Normal diameter AP dari kelenjar

hipofisis pada wanita usia 13-35 tahun < 11 masing-masing, sedang pada yang

lainnya normal < 9 masing-masing.5

Gambar 2.9. Foto

rontgen kepala pada

tumor hipofisis.

2.7.2

Pemeriksaan CT

scan
CT scan dapat digunakan untuk pasien yang tidak dapat menjalani MRI,

tetapi juga sebagai tambahan untuk MRI. CT memiliki keuntungan untuk

menunjukkan perluasan di sella dorsum dan erosi clivus, yang penting dalam

perencanaan operasi.3 Selain itu pada CT scan juga memberikan keuntungan yaitu

18
dapat mendeteksi adanya gambaran kalsifikasi dan kontraindikasi pada pasien

yang akan dilakukan pemeriksaan MRI.


CT scan digunakan untuk mendiagnosa mikro adenoma, karena

kemampuan deteksi tumor untuk diameter 2-5 mm. Pemeriksaan CT ini dilakukan

dengan menggunakan zat kontras, akan tampak gambaran tumor berbentuk

oval/bulat, berbatas halus sedikit hiperdens atau isodense. Kista perdarahan yang

sudah lama dan tumor yang regresif memperlihatkan gambaran densitas yang

menurun, apabila nilai densitas meningkat maka dicurigai adanya tumor

bleeding.4

Gambar 2.10 CT (non-kontras) gambaran besar hiperdense sellar mass memperluas ke wilayah

supra sellar dan menyebabkan perpindahan struktur sekitarnya

Gambar 2.11Gambaran CT-Scan kepala pada tumor hipofisis13

19
2.7.3 Pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging (MRI)
MRI otak merupakan modalitas pencitraan yang paling sensitif dalam

mendiagnosa kelainan intrakranial. MRI dapat melukiskan anatomi dengan detail

yang baik dan dapat memperlihatkannya dengan akurasi yang jauh lebih baik

dibandingkan dengan CT scan10.


Selain pemindaian pada proyeksi aksial seperti pada CT, beberapa

proyeksi lain yang biasa digunakan adalah aksial, koronal dan sagital.

Penampakannya bervariasi sesuai dengan jenis sekuens denyut misalnya CSF

pada T1 terlihat berwarna hitam (sinyal lemah) sementara pada T2 terlihat

berwarna putih (sinyal kuat)10.


Magnetic Resonance Imaging (MRI) merupakan standard pemeriksaan

pencitraan untuk daerah sella. Mikroadenoma dapat dideteksi melalui pemberian

kontras maksimal dengan hipofisis normal biasanya setelah 30-50 detik14.


Mikroadenoma biasanya memberikan gambaran hipotens pada T1 pre-

kontras dan memberikan gambaran yang bervariasi pada T2.


MRI pada makroadenoma digunakan untuk menentukan perluasan,

khususnya pada sinus kavernosus. Makroadenoma lebih mudah dideteksi secara

radiologis dibandingkan dengan mikroadenoma karena diameternya yang lebh

dari 10 mm. Pada T1 tanpa kontras tumor hipofisis intrinsik ini terlihat hipointens

dibandingkan dengan jaringan kelenjar hipofisis di sekitarnya. Tumor

menunjukkan penngkatan heterogen setelah pemberian galodinum. Pada T2 tumor

terlihat hiperintens dibandingkan dengan mikroadenoma terutama jika tumor

lunak atau nekrotik.14

20
Pituitary Apoplexy ( perdarahan pada hipofisis) merupakan sindroma klinis

yang ditandai dengan sakit kepala, muntah, ophtalmoplegia dan kebutaan. T1 dan

T2 MRI memberikan gambaran dari lamanya perdarahan.


Gambar 2.12. Gambaran MRI pada tumor hipofisis tipe mikroadenoma 14
Gambar 2.13Gambaran MRI pada tumor hipofisis tipe makroadenoma 14

Gambar 2.14Gambaran MRI pada Pituitary apoplexy14


2.7.4 Pemeriksaan Radionuklir12
DTPA-D-Phe-octreotide (pentetreotide) (SST)
Reseptor SST menunjukkan adenoma hipofisis yang memproduksi hormon

pertumbuhan. Sebagian besar pasien dengan adenoma hipofisis menunjukkan

hasil positif terhadap reseptor SST dan penulis lain melaporkan hasil skintigrafi

positif pada pasien dengan gejala klinis non-functioning pituitary adenoma.


111
Skintigrafi menunjukkan bahwa uptake n-pentetreotide pada pasien lebih tinggi

daripada kontrol dan respon terhadap pengobatan berhubungan dengan intensitas


111
uptake skintigrafi. Oleh karena itu, skintigrafi n-pentetreotide dapagt digunakan

sebagai tes fungsional untuk memprediksi dan memonitor respon pengobatan.

Namun, ketepatan diagnostiknya masih kurang bagus sehingga masih terbatas

dalam penggunaannya di klinik.

21
Gambar 2.15 Pemeriksaan skintigrafi pada tumor hipofisis
2.8 Diagnosis Banding15,16

a. Craniopharyngiomas

Craniopharyngiomasmerupakan lesi suprasellar yang terbanyak dengan

insiden sekitar 3% dari tumor intrakranial. Tumor ini tumbuh lambat, jinak,

yang berasal dari sisa epitel skuamosa kantong Rathke. Tumor ini sering pada

anak dan dewasa muda, tapi dapat juga ditemukan pada orang dewasa. Secara

histologis, craniopharyngioma dapat dibagi dua tipe yaitu adamantinomatosa

dan squamous – papillary.1 Gejala yang sering ditemukan adalah sakit kepala,

gangguan penglihatan, hidrosefalus, dan hipopituitarism. Walaupun lokasinya

di suprasellar, sebanyak 50% craniopharingioma meluas sampai ke dalam

sella. Pada pemeriksaan CT scan dan MRI, craniopharyngioma menunjukkan

gambaran khas heteregon dengan komponen kista dan padat dengan kalsifikasi

(sekitar 93%). Pada pemeriksaan dengan kontras terdapat enhancement pada

komponen padat dan dinding kista.15,16

22
Gambar 2.16. Craniopharyngioma suprasella dengan massa kistik dan padat suprasella kalsifikasi
yang khas pada CT (terdapat enhancement kontras pada T1 dan T2) 15

b. Meningioma

Meningioma pada regio sella (sinus cavernosus, planum sfenoid,

diafragma sella, prosesus klinoid) merupakan 11% tumor sella dan parasella dan

20-30% dari meningioma intrakranial. Tumor ini tumbuh lambat dan termasuk

tumor jinak. Pada pemeriksaan MRI didapatkan gambaran isointens pada T1 dan

isointens atau sedikit hiperintens pada T2. Setelah pemberian kontras didapatkan

gambaran “enhancement” yang homogen (Gambar 2). Meningioma juga sering

menunjukkan gambaran “dural tail sign”, namun gambaran ini dapat juga terdapat

pada tumor intrakranial lain.

23
Gambar 2.17. Gambaran enhancement kontras potongan koronal pada T1. Meningioma terlihat
pada sinus cavernosus kiri.15

Gambar 2.18. Meningioma parasagital kiri dari planum sfenoid dengan “dural tail” ( Gambaran
T1 setelah pemberian kontras potongan koronal dan sagital)15

c. Germ Cell Tumor


Germinoma intrakranial sering terjadi pada pineal dan regio suprasella,

tapi juga dapat terjadi di intrasella. Kadang-kadang tumor ini dapat meluas ke

sella tursika dan menstimulasi makroadenoma hipofisis. Germinoma biasanya

menunjukkan “enhancement” kontras yang mencolok dengan batas yang jelas.

24
d. Aneurisma
Aneurisma regio sella biasanya berasal dari bagian kavernosus atau

supraklinoid dari arteri karotis interna. Aneurisma ini merupakan 10% dari semua

aneurisma cerebral.

Gambar 2.19. Paraophtalmic “giant aneurysm” arteri karotis interna kanan dengan perluasan ke
kiasma optik. (gambaran T1 setelah pemberian kontras dan angiogram arteri karotis interna
kanan)15
2.9 Tatalaksana1,12
Hampir semua tumor hipofise merupakan adenoma (tumor jinak).

Pengobatan adenoma hipofisis tergantung pada hipersekresi hormon tertentu.

Pengobatannya juga tergantung pada ukuran tumor (mikroadenoma atau

makroadenoma). Pengobatan tumor hipofisis diantaranya adalah:


2.9.1 Operatif
Terapi utama dari kebanyakan tumor hipofisis adalah pembedahan.

Namun, keberhasilan pembedahan tergantung pada tipe tumor, lokasi, ukuran, dan

penyebaran ke organ sekitar. Teknik operasi yang digunakan adalah sebagai

berikut.
a. Pembedahan Transspenoidal
Pembedahan ini merupakan jenis teknik pembedahan yang sering

dilakukan untuk mengangkat tumor hipofisis, yaitu melalui sinus spenoid. Dari

segi anatomi, kelenjer hipofise terletak di belakang sinus spenoid. Namun teknik

pembedahan ini terbatas pada tumor dengan mikroadenoma.

25
b. Kraniotomi
Kraniotomi digunakan pada tumor dengan ukuran yang besar atau telah

menimbulkan komplikasi.
2.9.2 Radioterapi
Terapi radiasi direkomendasikan jika tindakan pembedahan tidak bisa

dilakukan, tumor tumbuh lagi setelah operasi, atau tumor menyebabkan gejala

yang tidak bisa disembuhkan dengan obat. Terapi radiasi konvensional

diberikan sebanyak lima kali seminggu selama empat sampai 6 minggu.

Walaupun efektif, radioterapi konvensional memiliki efek samping yang besar

seperti kerusakan kelenjer hipofisis normal, jaringan otak, saraf optik, dan

meningkatkan risiko kanker otak. Untuk meminimalkan efek samping, berikut

teknik radioterapi yang digunakan pada tumor hipofisis.


a. IMRT (Intensity Modulated Radiation Therapy)
IMRT merupakan bentuk yang lebih maju dari radioterai tiga dimensi.

Teknik ini menggunakan sistem komputerisasi dengan efek samping radiasi

minimal terhadap jaringan normal sekitar.

b. Stereotactic Radiosurgery / Stereotactic Radiation Therapy


Terapi radiasi ini dilakukan dengan cara memberikan radiasi pada

tumor dengan satu kali penyinaran (radiosurgery) atau beberapa penyinaran

(radioterapi). Penyinaran lebih tepat mengenai organ target tumor

dibandingkan dengan radioterapi standar sehingga efek samping terhadap

kelenjer hipofisis normal dan jaringan otak lebih minimal.


c. Proton Beam Radiation Therapy
Bentuk radioterapi ini menggunakan sinar proton untuk membunuh sel

kanker. Sinar X melepaskan energinya sebelum dan setelah mengenai organ

target, sehingga dapat menyebabkan kerusakan jaringan yang normal. Namun,

sinar proton hanya melepaskan energinya setelah menempuh jarak tertentu

sehingga kerusakan jaringan normal sekitar lebih minimal. Teknik ini juga

26
lebih tepat mengenai target organ. Namun, pemakaian radioterapi ini masih

terbatas.
2.9.3 Medikamentosa
Beberapa obat dapat digunakan untuk mengobati tumor hipofisis yang

memproduksi hormon.
a. Prolactinoma (tumor hipofisis yang memproduksi hormon prolaktin)

Obat untuk tumor ini disebut dopamin agonis, contohnya

cabergoline dan bromocriptine yang berfungsi mengecilkan tumor

dan menghentikan produksi hormon prolaktin oleh tumor. Obat ini

sangat efektif untuk pengobatan prolaktinoma sehingga pada tumor

jenis ini tidak dibutuhkan tindakan pembedahan.

b. Growth Hormon – Secreting Tumor

Tumor ini dapat menyebabkan akromegali pada dewasa dan

gigantisme pada anak-anak. Pemberian obat seringkali tidak efektif

untuk tumor jenis ini, sehingga pengobatan bukan terapi utama.

Beberapa obat yang digunakan adalah somatostatin analog, growth

hormon antagonist, dan dopamin agonist.

c. ACTH Secreting Tumor

Tumor jenis ini menyebabkan kelenjer hipofisis memproduksi

hormon steroid secara berlebihan, seperti kortisol sehingga

menyebabkan Cushing Disease. Beberapa obat yang dapat

digunakan adalah pasireotid, cyproheptadin, steroidogenesis

inhibitor, mifepriston, dan dopamin agonis.

27
d. TSH-Secreting tumor

Untuk tumor ini, somatostatin analog seperti octreotide dan

lanreotide dapat menurunkan produksi TSH oleh tumor.1

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Tumor hipofisis atau adenoma pituitary merupakan tumor intrakranial

yang paling umum yaitu 10-15% dari semua neoplasma primer. Tumor hipofisis

akan menimbulkan manifestasi klinis yang bervariasi baik gejala hormone

maupun gejala peningkatan tekanan intrakranial. Untuk mendiagnosa tumor ini

secara dini diperlukan pemeriksaan baik secara radiologi dan laboratorium.

Pemeriksaan radiologi yang baik digunakan untuk mendiagnosa tumor adalah

MRI.

Penatalaksanaan tumor hipofisis multi disiplin ilmu, tatalaksana secara

bedah maupun radioterapi. Penatalaksanaan secara radioterapi dan pembedahan

dapat meningkatkan angka kesembuhan dan mengurangi angka kekambuhan dari

tumor hipofisis. Tatalaksana secara radiasi dapat diberikan sebagai terapi adjuvan

pada kasus residu pasca operasi, kadar hormonal yang persisten pasca operasi

maupun pada kasus yang progesif/residif. Radiasi primer dapat pula diberikan

sebagai terapi alternatif pada kasus yang tidak dapat dioperasi.

28
DAFTAR PUSTAKA

1. Iskandar J. 2002. Tumor hipofisis. Diakses dari


http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1960/1/bedah-iskandar
%20japardi50.pdf pada 1 September 2014

2. Pradana S. 2009. Tumor hipofisis. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid 3, ed
5. Interna Publishing : Jakarta.

3. Rachel G. 2010. Pituitary Adenomas: The Entity and The Imaging. Mink
Radiologic Imaging. Vol 1. : United States

4. Guyton. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.

5. Woodruff. 1993.Fundamentals of neuroimaging. Philadelphia : WB Saunders.

6. Sherwood, L. 2001. Fisiologi Manusia;dari Sel ke Sistem. Edisi 2. Jakarta:


EGC

7. Rasad S. 2005. Radiologi Diagnostik Edisi Kedua. Jakarta : Balai Penerbit


FKUI

8. Patel PR, 2005. Lecture Notes : Radiology. Jakarta : Erlangga Medical Series.

9. Arafah BM, Nasrallah MP. 2001. Pituitary Tumors: pathophysiology, clinical


manifestations and management. Journal endocrine-related cancer : 287-305.

10. Doerfler A, Richter G. 2008. Lesions within and Around the Pituitary.
Neuroradiology Journal

11. Bladowska J, Sasiadek M. 2012. Diagnostic Imaging of the Pituitary and


Parasellar Region. Neuroradiology Journal

29