Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Negara adalah sebuah istilah yang secara terminologi berarti organisasi
tertinggi di antara satu kelompok masyarakat yang memiliki cita-cita untuk
bersatu, hidup dalam suatu kawasan, dan mempunyai pemerintahan yang
berdaulat
Suatu Negara haruslah memiliki sedikitnya 3 unsur yang menjadikan
Negara tersebut berdaulat di tengah-tengah negara lainnya. Mahfud M.D.
menyebutkan 3 unsur penting tersebut sebagai unsur konstitutif. Unsur-unsur
tersebut antara lain adalah : Rakyat, Wilayah, dan Pemerintah, ditambah
dengan pengakuan dari Negara lain.
Berbicara tentang bentuk pemerintahan, kita mesti faham terlebih dahulu
apa yang dimaksud dengan negara dan perbedaannya dengan pemerintah.
Seperti yang telah dijelaskan di awal, sejatinya negara adalah sebuah
organisasi. Selayaknya organisasi, maka negara pun memiliki peraturan, selain
itu negara juga memiliki sebuah badan yang berfungsi merumuskan,
menjalankan dan mengawasi peraturan itu.
Selanjutnya, dalam perjalanannya berkembang menjadi beberapa bentuk
pemerintahan, sejarah mencatat banyak negara yang memiliki bentuk
pemerintahan yang berbeda-beda karena hal tersebut berdasar kepada para
penguasa negara tersebut. Dalam konteks ini muncul bentuk pemerintahan
sipil dan pemerintahan militer. Tentu saja kedua bentuk pemerintahan tersebut
mempunyai karakteristik yang satu sama lain berbeda.Hubungan Sipil-Militer
adalah satu perkara yang amat penting bagi satu bangsa karena berpengaruh
besar kepada ketahanan nasionalnya. Hal itu juga berlaku bagi bangsa
Indonesia. Pengertian Hubungan Sipil-Militer semula tidak dikenal di
Indonesia dan baru dipergunakan setelah pengaruh dunia Barat, khususnya
yang berpandangan liberal, makin kuat. Mula-mula itupun terbatas pada
kalangan terpelajar yang banyak berhubungan dengan ilmu sosial yang berasal
1
dari dunia barat. Akan tetapi lambat laun pengertian itu menyebar di semua
kalangan dan sekarang sudah menjadi pengertian yang diakui dan
dipergunakan secara umum di Indonesia. Namun ada satu perbedaan yang
menonjol dalam penggunaan pengertian itu antara mereka yang hidup dalam
alam sosial barat dengan bangsa Indonesia yang menerima dan menetapkan
Pancasila sebagai Dasar Negara Republik Indonesia. Di dunia Barat yang
berpaham liberal Hubungan Sipil-Militer senantiasa berarti supremasi Sipil atas
Militer, sedangkan di Republik Indonesia yang berhaluan Pancasila tidak
dengan sendirinya hubungan Sipil-Militer berarti supremasi sipil atas militer.
Bahkan dengan memperhatikan bahwa Pancasila menekankan faktor
kekeluargaan dan kerukunan justru tidak ada supremasi satu golongan
masyarakat atas yang lain, melainkan dalam kebersamaan memperjuangkan
dan mengusahakan hal yang terbaik bagi bangsa, negara dan masyarakat.

B. Rumusan Masalah
1. Apa Pemerintahan Sipil?
2. Apa Pemerintahan Militer?
3. Bagaimana Hubungan Pemerintahan Sipil Dan Militer Di Indonesia?

C. Tujuan Masalah
1. Mengetahui Pemerintahan Sipil
2. Menegtahui Pemerintahan Militer
3. Menegtahui Hubungan Pemerintahan Sipil Dan Militer Di Indonesia

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pemerintahan Sipil
1. Pengertian Pemerintahan Sipil
Sebelum berbicara tentang pemerintahan sipil, seyogyanya perlu
diketahui arti dari istilah pemerintahan. Menurut CF Strong dalam
bukunya yang berjudul Modern Political Construction terbit tahun 1960
dikemukakan bahwa pemerintah itu dalam arti luas meliputi kekuasaan
eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Pemerintah juga bertugas memelihara
perdamaian dan keamanan. Oleh karena itu pemerintah harus memiliki (1)
kekuasaan militer, (2) kekuasaan legislatif, dan (3) kekuasaan keuangan1.
Sedangkan menurut SE Filner dalam buku Comperative Gonverment
(1974) istilah pemerintahan memiliki 4 arti yaitu :
a. kegiatan atau proses memerintah
b. masalah-masalah kenegaraan
c. pejabat yang dibebani tugas untuk memerintah
d. cara, metode, atau sistem yang dipakai pemerintah untuk memerintah2.
Adapun dalam melaksanakan pemerintahan, sejarah mengenal
pula bentuk pemerintahan sipil dan militer. Pembagian bentuk
pemerintahan ini berdasarkan kriteria gaya dan sifat memerintah sebuah
pemerintah.
Yang pertama adalah Pemerintahan Sipil, dalam laman e-book
Makalah/Training Islam Intensif/empiris-homepage.blogspot.com-83-
Pengantar Ilmu Negara dan Pemerintahan, disebutkan bahwa
pemerintahan sipil adalah pemerintahan di mana gaya pengambilan
keputusan diambil dengan gaya sipil. Sebelum sebuah keputusan menjadi
perintah, keputusan itu dibicarakan terlebih dahulu, dirembukkan dan

1
Syafaruddin, Makalah Konsep dan Metodologi Perbandingan Pemerintah, disajikan
tanggal 5 Maret 2010, hal. 5
2
Ibid, hal. 6
3
kalau perlu diputuskan lewat pemungutan suara (referendum). Setelah itu
pun sebuah keputusan harus menunggu pengesahan terlebih dahulu dari
lembaga negara yang berwenang lewat sebuah sidang.
Sedangkan Sayidiman Suryohadiprojo menyatakan bahwa Perkataan Sipil
merupakan satu pengertian yang menyangkut kewarganegaraan (Website’s
Ninth New Collegiate Dictionary : Civil : relating to citizens). Atau dapat
dikatakan bahwa Sipil adalah segala sesuatu yang bersangkutan dengan
masyarakat, atau warga negara pada umumnya
2. Karakteristik Pemerintahan Sipil
Eric Nordlinger dalam bukunya “Militer dalam Politik” dikemukakan ada
3 bentuk pemerintahan sipil :
a. Pemerintahan sipil Tradisional
Bentuk pemerintahan sipil ini terjadi karena tidak adanya perbedaan
antara sipil dan militer, tanpa perbedaan maka tidak akan timbul
konflik yang serius diantara mereka. dengan demikian tidak terjadi
campur tangan militer.
Bentuk pemerintahan sipil tradisional begitu berpengaruh di bawah
sistem pemerintahan kerajaan pada abad ke-17 dan 18, mereka
cenderung untuk tidak menganggap diri mereka sebagai politisi,
walaupun ketika sedang memerintah mereka telah dicekoki dengan
ciri-ciri sikap politik yang sama, yang ternyata kurang dikembangkan
oleh elit sipil3.
b. Pemerintahan sipil Liberal
Model pemerintahan liberal didasarkan pada pemisahan para elit
berkenaan keahlian dan tanggung jawab masing-masing pemegang
jabatan tinggi di dalam pemerintahan. Tapi sejalan Model liberal akan
menutup kemungkinan militer untuk menekuni arena dan kegiatan

3
Eric Nordlinger, Militer dalam Politik ( Jakarta : Rineka Cipta, 1994), hal. 18-19.

4
politik. Didalam tindakan dan pelaksanaannya, pemerintah menghargai
kedudukan, kepakaran, dan netralitas pihak militer4.
c. Pemerintahan sipil Serapan
Dalam model serapan ini, pemerintahan sipil memperoleh pengabdian
dan kesetiaan dengan cara menanamkan ide untuk menyatakan
ideologi, dan para ahli politik ke dalam tubuh angkatan bersenjata
mereka. Model serapan ini telah digunakan secara meluas dalam
rezim-rezim komunis. Militer dipisahkan dari bidang sipil karena
keahlian profesionalnya, tetapi sejalan dari segi ideologi5.
Dalam sejarahnya, pemerintahan sipil ini banyak dianut oleh
negara-negara barat, karena kebanyakan dari mereka berideologi
liberal yang memunculkan supremasi sipil atas militer (civilian
supremacy upon the military). Dalam kata lain militer adalah
subordinat dari pemerintahan sipil yang dipilih secara demokratis
melalui pemilihan umum. Berbeda dengan apa yang terjadi di
Indonesia yang berideologikan Pancasila, sipil dan militer adalah satu
bagian, tidak ada supremasi di antara keduanya. Yang harus
dimunculkan adalah bagaimana hubungan keduanya dapat menjamin
kerukunan hidup rakyat Indonesia itu sendiri. Sehingga tercipta
kebersamaan dalam memperjuangkan kepentingan bangsa.
Dalam hal ini muncul karakteristik pemerintahan sipil yang
berpijak atas hubungannya dengan militer, antara lain pemerintahan
sipil adalah sebuah bentuk pemerintahan yang bergaya sipil, semua
keputusan pemerintah dapat menjadi perintah apabila telah
dimusyawarahkan terlebih dahulu dan diambil keputusannya dalam
suatu pemungutan suara (referendum). Dan telah mendapat
pengesahan dari lembaga negara yang berwenang.

4
Ibid, hal. 20-21

5
B. Pemerintahan Militer
1. Pengertian Pemerintahan Militer
Masa Orde Baru di Indonesia telah berakhir dengan tergulingnya
Presiden Soeharto dari kursi Presidennya, dan dimulailah masa baru yang
dinamakan Masa Reformasi. Sejalan dengan runtuhnya rezim Soeharto,
maka runtuh pula dominasi militer dalam politik Indonesia, masa orde
baru tersebut dikendalikan dengan sistem otoriter. Pada akhirnya, TNI/TNI
sebagai pucuk militer di Indonesia harus menanggalkan dwifungsinya
kembali ke barak dan hanya memainkan peran sebagai alat pertahanan
negara dari ancaman luar.
Adapun yang dimaksud dengan pemerintahan militer adalah
pemerintahan yang lebih mengutamakan kecepatan pengambilan
keputusan, keputusan diambil oleh pucuk pimpinan tertinggi, sedang yang
lainnya mengikuti keputusan itu sebagai perintah yang wajib diikuti --
konsekuensi rantai komando dalam militer. Sebuah undang-undang dalam
sebuah pemerintahan militer dibuat oleh pucuk pimpinan tertinggi, tanpa
menyerahkan rancangannya kepada parlemen6.
2. Karakteristik Pemerintahan Militer
Pemerintahan militer lebih merujuk ke arah gaya pemimpin suatu
organisasi/ institusi/ negara. Dimana kepemimpinan itu sendiri memiliki
hubungan yang erat antara seorang dan sekelompok manusia, karena
adanya kepentingan bersama; hubungan itu ditandai tingkah laku yang
tertuju dan terbimbing daripada manusia yang seorang itu; manusia atau
orang ini biasanya disebut yang memimpin atau pemimpin, sedangkan
manusia yang mengikutinya disebut yang dipimpin.
Gaya kepemimpinan pemerintahan militer ini memiliki karakteristik,
sebagaimana dikemukakan Ninik Widiyanti, adalah sebagai berikut:

5
Ibid, hal. 24-25
6 Ninik Widiyanti dan YW. Sunindhia, Kepemimpinan dalam Masyarakat Modern, (Jakarta: Bina
Aksara, 1988), hal. 8-9

6
Dalam pemerintahan militer, untuk menggerakkan bawahannya digunakan
sistem perintah yang biasa digunakan dalam ketentaraan, gerak geriknya
senantiasa tergantung kepada pangkat dan jabatannya senang akan
formalitas yang berlebih-lebihan, menuntut disiplin keras dan kaku dari
bawahannya, senang akan upacara-upacara untuk berbagai-bagai keadaan
dan tidak menerima kritik dari bawahannya dan lain sebagainya.
Dalam militer tidak ada orang sipil di pemerintahannya, semuanya
orang militer, tatanan sosial terlalu ketat, seperti jam malam, tidak boleh
demonstrasi, dan cara pemilihan pemimpin dilakukan secara turun
temurunSelain Negara kita yang pernah didominasi oleh Militer, Negara
lain yang bisa diambil contoh melaksanakan pemerintahan militer, contoh
Junta Militer di Burma (Myanmar), Kuba Korea Utara, dan negara-negara
di Amerika Latin.
Junta militer (diucapkan menurut ucapan bahasa Spanyol hun-ta)
biasanya merujuk ke suatu bentuk pemerintahan diktator militer. Dalam
bahasa Spanyol, junta sendiri berarti "(rapat) bersama", dan biasanya
digunakan untuk berbagai kumpulan yang bersifat kolegial (hubungan
kerekanan).
Junta militer biasanya dipimpin oleh seorang perwira militer yang
berpangkat tinggi. Pemerintahan ini biasanya hanya dikuasai oleh satu
orang perwira yang mengendalikan hampir segala-galanya. Bentuk-bentuk
junta militer yang terkenal adalah pemerintahan Augusto Pinochet di Chili
dan Proceso de Reorganización Nacional, diktator militer yang terkenal
karena kekejamannya di Argentina dari 1976 hingga 1983.
Rezim militer sering dianalogikan untuk menyebut pemerintahan militer,
sementara pihak militer dianggap sebagai kelompok dominan yang
mengatur dan mengelola negara, sedangkan pihak sipil dinilai sebagai
pembantu atau bawahan pihak militer

7
C. Hubungan Pemerintahan Sipil Dan Militer Di Indonesia
Sebagai bangsa Indonesia kita mestinya bangga dengan TNI, karena apa?
ternyata Indonesia memperoleh peringkat yang luar biasa dalam bidang
kemiliteran. Jadi sebenarnya tidak beralasan kalau kita meremehkan tentara
nasional kita. Menurut data yang diambil oleh World Military Strengh
Ranking. Militer Indonesia berada pada posisi ke-14 dari seluruh negara di
dunia ini, di atas negara-negara maju lainnya seperti Kanada, Australia, dsb
Kembali kepada sejarah militer Indonesia, pengambilan alih kekuasaan
oleh pihak militer di Indonesia sekiranya sudah lama diramalkan. Militer
Indonesia tidak pernah jauh dari politik, sejak dari kemerdekaan pada tahun
1945. Organisasi nasional militer pun diperlukan untuk tugas yang maha
penting yakni membangun suatu negara bangsa dari beribu-ribu pulau yang
membentuk negeri ini.
Pada masa itu terjadi kompetisi politik antara Militer dan Partai Komunis
Indonesia yang kadang kala bersifat keras, Komunis yang dalam hal ini sejak
kemerdekaan ada dalam naungan Demokrasi Terpimpin ala Presiden Soekarno
bersaing ketat dengan golongan elit militer. Dan puncaknya adalah terjadinya
pemberontakan G30S/PKI.
Sampai munculnya Supersemar pada tanggal 11 Maret 1966, Soekarno
dengan ikhlas memberi Jenderal Soeharto wewenang yang diperlukan untuk
memulihkan keamanan. Soekarno yang pada saat itu dianggap sebagai
presiden seumur hidup kini nyaris hanya merupakan lambang, sampai secara
resmi digantikan oleh Jenderal Soeharto pada tanggal 27 Maret 19687.
Setelah menjadi Presiden, Soeharto memandang tugasnya adalah :
memulihkan tingkat partisipasi rakyat dalam pemerintahan, menstabilkan
negeri yang secara politis terpecah belah, dan membangun perekonomian yang
telah diabaikan. Maka untuk mendukung upaya tersebut Soeharto
memutuskan untuk membentuk GOLKAR (Golongan Karya) atau kelompok
yang fungsional, mencakup buruh, petani, birokrat sipil, birokrat militer,

7
Morris Janowitz, Hubungan Sipil Militer, (Bina Aksara, Jakarta: 1985), hal. 14

8
mahasiswa, dan intelegensia. Jika Soekarno ingin mengusahakan agar
kelompok-kelompok fungsional tersebut terlepas dari militer, maka Soeharto
lebih suka mengintergrasikan kedua badan tersebut, dalam kata lain Soeharto
telah menyertakan militer dalam politik sembari memberi fungsi politik pada
militer.Sejak tahun 1959, menurut suatu penelitian, perwira-perwira angkatan
darat secara kasar telah memegang seperempat dari semua portofolio kabinet
maupun berbagai posisi penting pada departemen pemerintahan sipil. Pada
tahun 1972, 22 dari 26 Gubernur adalah bekas perwira militer, demikian juga
67% dari bupati dan camat, dan 40% dari kepala desa8.
Masuk ke Era Reformasi, setelah lengsernya Soeharto, maka kedigdayaan
Militer dalam hal ini TNI telah usai, Sejak itu nyaris tiada hari tanpa hujatan
dan caci maki terhadap TNI. Jika sebelumnya tidak ada yang berani mengusik,
sejak itu keberadaan TNI mulai banyak dipersoalkan. TNI bukan cuma
dipersalahkan, karena telah membuat banyak orang di Aceh, Lampung,
Tanjung Priok, Irian Jaya, Timor Timur, kehilangan anggota keluarganya,
tetapi juga karena terlibat penculikan para mahasiswa dan aktivis politik,
karena dianggap tidak mampu lagi mengatasi kerusuhan di berbagai tempat
yang telah menelan korban ratusan nyawa sejak Mei 1998.
Saat ini TNI harus menghadapi kenyataan sebaliknya yakni penolakan atas
keterlibatannya. Secara historis keterlibatan TNI tersebut harus dipahami
dalam kerangka menjamin stabilitas nasional. Kalau mau jujur, sebenarnya
bangsa dan negara manapun di dunia ini membutuhkan stabilitas demi
pembangunan dan kemajuan bersama rakyatnya. Menurut Jenderal Wiranto,
ada tiga perkembangan ekstrem yang harus dicegah dalam hubungan sipil
militer di Indonesia, yaitu: pertama, military overreach, yaitu militer
menguasai berbagai aspek kehidupan masyarakat seperti pada masa orde baru.
Yang kedua, subjective civilian control, yaitu kontrol subyektif pemerintahan

8
Ibid, hal. 17

9
sipil terhadap militer seperti yang terjadi pada masa Demokrasi Terpimpin dan
Demokrasi Parlementer; ketiga, pemisahan rakyat dari TNI9.
Lalu, apakah artinya dalam konteks hubungan sipil-militer di Indonesia?
Dalam sejarah Indonesia, dikotomi sipil-militer bukanlah satu isu baru. Jika
sejauh ini TNI terkesan tidak suka dan selalu mengelak adanya dikotomi sipil-
militer di Indonesia, sikap semacam itu tidak lepas dari penafsiran diri TNI
dalam konteks sejarah Indonesia. TNI juga mudah curiga kepada
cendekiawan, seniman, aktivis LSM dan kalangan intelektual lain yang
memang selalu sangat antusias memperbincangkan hubungan sipil-militer,
yang selalu melemparkan isu-isu demokratisasi, kebebasan berpendapat dan
HAM. Namun, benar juga bahwa hal ini lalu membuat penafsiran terhadap
batas-batas antara ranah politik dan perang antara tugas-tugas sipil dan militer
makin tidak jelas. Antara perang dan politik ibarat dua sisi pada sekeping mata
uang. Perang adalah jalan lain dari politik. Ini lah yang terjadi pada awal
pembentukan Indonesia.
Sejak awal kelahirannya, TNI tidak pernah mempersoalkan presiden dari
kalangan sipil dan tidak mendesakkan tampilnya pimpinan nasional dari
kalangan militer. Dalam sejarahnya Panglima Besar Soedirman memberikan
keteladanan dalam membentuk sikap TNI yang mengakui pemerintahan di
tangan sipil. Untuk itu dibuktikan oleh Panglima Besar Soedirman ketika
kembali ke Yogyakarta dari medan perjuangan bergerilya, TNI tetap
mengakui kekuasaan tertinggi berada di tangan Presiden Soekarno
Satu hal yang perlu kita (baik militer maupun sipil) refleksikan bahwa
militer Indonesia telah berkembang menjadi militer profesional. Dunia
kemiliteran telah berkembang menjadi dunia profesional, yang bekerja dan
mengembangkan solidaritas tidak hanya atas dasar "semangat patriotisme"
tapi atas dasar penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta ketrampilan
khusus (profesi) yang terkait dengan kependidikan.

9
E-book, Ikrar Nusa Bhakti, Hubungan Baru Sipil Militer, hal. 9

10
Tanggung jawabnya terhadap eksistensi bangsa dan negara Indonesia,
dengan demikian, bisa ditafsirkan sebagai tanggung jawab profesi. Kalau dulu
tanggung jawab ini ditafsirkan secara politis-ideologis, kini perlu dimaknai
sebagai tanggung jawab profesional. Kalau dulu TNI di identifikasi dan
dikenal sebagai tentara rakyat kini harus tampil sebagai militer profesional
(TNI adalah tentara professional yang mengabdi kepada rakyat).
Namun, hal ini tidak berarti militer kehilangan peran politiknya. Peran politik
TNI, menurut saya, tidak boleh melebihi fungsi dasarnya yaitu pertahanan-
keamanan negara, dan hal itu kini bisa ditafsirkan sebagai tanggung jawab
profesi. Peran tersebut cukup diletakkan pada tataran "kebijakan" (policy) di
tingkat pusat, dan tidak perlu diterjemahkan lebih jauh dengan konsep
kekaryaan seperti pada masa Orde Baru. Dengan demikian, militer bukan lah
institusi untuk merintis karier politik dan meraih insentif ekonomi melalui
model kekaryaan. Jika ada militer yang ingin menjadi bupati, gubernur,
menteri bahkan presiden, maka harus melepas jaket hijau-lorengnya.
Mereka adalah warga sipil, sehingga jabatan politik yang didudukinya
bukan dalam kerangka doktrin dwifungsi, tapi sebagai hak politik setiap warga
negara. Fungsi pertahanan keamanan sebagai TNI professional itu juga
menuntut TNI untuk hanya punya komitmen dan tangung jawab moral
terhadap eksistensi Negara Kesatuan RI. Konsekuensi moral professional dari
komitmen dan tanggung jawab moral ini adalah bahwa TNI hanya mempunyai
loyalitas kepada Negara dan bukan kepada pemerintah. Loyalitas TNI kepada
pemerintah hanya sejauh pemerintah yang berkuasa. Tidak perduli sipil atau
militer, menjalankan kekuasaan negara sesuai dengan tuntutan dan cita-cita
moral bangsa, yaitu demi menjamin kehidupan bersama yang demokratis, adil,
makmur, berprikemanusiaan dan menjamin hak asasi manusia.
Yang sekarang diperlukan adalah tekad untuk melaksanakan proses ini
secara konsisten dan sabar serta memelihara hasilnya secara terus menerus.
Hubungan Sipil-militer yang dihasilkan kemudian akan merupakan faktor
positif dalam perwujudan Ketahanan nasional Indonesia, termasuk pembinaan
daya saing nasional bangsa kita.
11
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pemerintahan Sipil adalah suatu bentuk pemerintahan yang menggunakan
gaya sipil dalam menjalankan kehidupan pemerintahannya, sedangkan
pemerintahan militer adalah suatu pemerintahan yang dipimpin oleh penguasa
diktator yang mengandalkan gaya militer yang sarat dengan disiplin dan kental
dengan ketentaraan.
Hubungan antara Sipil dan Militer lebih diungkapkan dalam bentuk
ekstrim karena kegagalan pemerintahan sipil yang menyebabkan terjadinya
kudeta-kudeta, dan ketidakstabilan rezim militer yang tidak punya opsi
memerintah lebih baik dari pemerintahan sipil. Sehingga pada akhirnya kedua
hal tersebut tidak dapat berkembang sesuai dengan tujuan yang dimilikinya.
Dan pada saat ini ketika semua hal dihadapkan kepada profesionalisme
yang menitikberatkan sejauh mana peran seorang warga negara terhadap
negaranya, maka militer memfokuskan diri dalam ranahnya sendiri, demikian
pula dengan sipil yang sekarang terintegrasi dalam bentuk yang lebih dinamis.
Sehingga tidak akan terjadi supremasi sipil terhadap militer.

B. Saran
Pergulatan politik antara ranah sipil dan militer telah menghasilkan
supremasi di antara kedua bentuk pemerintahan tersebut, maka seyogyanya
untuk menghindari hal tersebut diperlukan langkah perubahan ke arah yang
positif sehingga akan memunculkan hubungan yang baik antara sipil dan
militer dan dapat menunjang kepada terciptanya ketahanan nasional.

12
DAFTAR PUSTAKA

Janowitz, Morri. 1985. Hubungan Sipil Militer. Jakarta: Bina Aksara.


Nordlinger, Eric. 1994. Militer Dalam Politik. Jakarta: Rineka Cipta.
Syarafuddin, 2010. Makalah Konsep Dan Metodologi Perbandingan
Pemerintahan.
Ubaedillah, Ahmad. 2008. Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta: Kencana
Prenada Media
Group.
Widiyanti, Ninik dan YW. Sunindia. 1988. Kepemimpinan Dalam Masyarakat
Modern. Jakarta:
Bina Aksara.

13
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................


DAFTAR ISI ......................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang .....................................................................................
B. Rumusan Masalah ................................................................................
C. Tujuan Masalah ...................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
A. Pemerintahan Sipil..............................................................................
B. Pemerintahan Militer ..........................................................................
C. Hubungan Pemerintahan Sipil Dan Militer Di Indonesia ...................\
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan .........................................................................................
B. Saran ...................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA

ii
14
KATA PENGANTAR

Bismillahirahmanirahim
Alhamdulillah, Puji beserta syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang
telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga saya mampu
menyelesaikan makalah ini yang Alhamdulillah tepat pada waktunya. Shalawat
serta salam semoga tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Makalah
ini berisikan tentang penjelasan “Hubungan Pemerintah dan Militer”
Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena
itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami
harapkan demi kesempurnaan makalah ini .
Akhir kata, saya sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir . Semoga
Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita . Amin .

Sungai Penuh, November 2017

i
15
HUBUNGAN PEMERINTAH DAN MILITER
MAKALAH
Diajukan Sebagai Salah Satu Tugas Terstruktur dalam Mata Kuliah
Civic Education`

Disusun Oleh:
1. Novi Ardiansyah
2. Neneg Elpiona

Dosen Pembimbing:
SRI SUDEWI ARIA, M.Pdi

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH


INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
(IAIN) KERINCI
2017/2018
16