Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH

BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

TEORI BELAJAR BEHAVIORISME

Dosen Pengampu :
NOVITAWATI,S.Pi,M.Pd

DISUSUN OLEH KELOMPOK 4:


NUR RIZKI HELWIYANI 1610125320132
REZKI YOGA PRIATAMA 1610125320145
RIDHA RAHMIATI 1610125320147
SADA KAMALIYA 1610125310159
SITI ZAINAB 1610125320170

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
2017
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, atas segala
limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada hambanya sehingga dapat
menyelesaikan makalah ini yang berjudul TEORI BELAJAR
BEHAVIORISME. Kami berterima kasih kepada NOVITAWATI,S.Pi,M.Pd
selaku dosen dalam mata kuliah belajar dn pembelajaran dan terima kasih
pula kepada semua pihak yang membantu seraca langsung maupun tidak
langsung dalam pembuatan makalah ini.
Kami menyadari bahwa dalam proses penulisan makalah ini masih jauh
dari kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya. Namun demikian,
kami telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki
sehingga dapat selesai . Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran
yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Akhirnya kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
seluruh pembaca.

Banjarmasin, 10 Oktober 2017


Penyusun,

Kelompok 4

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i


DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
A. LATAR BELAKANG ................................................................................. 1
B. RUMUSAN MASLAH ................................................................................ 2
C. TUJUAN PENULISAN ............................................................................... 2
D. METODE PENULISAN .............................................................................. 2
BAB II ISI ............................................................................................................... 3
A. TEORI BELAJAR BEHAVIORISME ........................................................ 3
B. BEHAVIORISME MENURUT PARA AHLI ............................................ 4
1. Edward Lee Throndike ............................................................................. 4
2. John Broadus Watson ............................................................................... 7
3. Clark Leonard Hull ................................................................................... 9
4. Edwin Ray Guthrie ................................................................................ 12
5. Burrhus Frederic Skinner ....................................................................... 13
C. APLIKASI TEORI BEHAVIORISTIK DALAM PEMBELAJARAN ..... 16
BAB III PENUTUP .............................................................................................. 20
A. KESIMPULAN .......................................................................................... 20
B. SARAN ...................................................................................................... 20
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 21

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Belajar merupakan kegiatan seseorang untuk melakukan aktifitas
belajar. Menurut Piaget belajar adalah aktifitas anak bila ia berinteraksi
dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisiknya. Menurut pandangan
psikologi behavioristik merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus
dan respon. Seseorang yang telah selesai melakukan proses belajar akan
menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini yang penting
dalam belajar adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa
respon.

Jika ditinjau dari konsep atau teori, teori behavioristik ini tentu
berbeda dengan teori yang lain. Hal ini dapat kita lihat dalam
pembelajaran sehari-hari dikelas. Ada berbagai asumsi atau pandangan
yang muncul tentang teori behavioristik. Teori behavioristik memandang
bahwa belajar adalah mengubah tingkah laku siswa dari tidak bisa menjadi
bisa, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dan tugas guru adalah
mengontrol stimulus dan lingkungan belajar agar perubahan mendekati
tujuan yang diinginkan, dan guru pemberi hadiah siswa yang telah mampu
memperlihatkan perubahan bermakna sedangkan hukuman diberikan
kepada siswa yang tidak mampu memperlihatkan perubahan makna.

Oleh karenanya, dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah


Belajar dan Pembelajaran kelompok kami menyusun makalah teori belajar
menurut aliran behaviorisme yang juga dilatar belakangi oleh rasa ingin
tahu kami yang ingin mengetahui lebih lanjut lagi tentang teori
behaviorisme dan diharapkan tidak lagi muncul asumsi yang keliru tentang
pendekatan behaviorisme tersebut, sehingga pembaca memang benar-
benar mengerti apa dan bagimana pendekatan behaviorisme.

1
B. RUMUSAN MASLAH
1. Bagaimana teori belajar menurut Edward Lee Thorndike?
2. Bagaimana teori belajar menurut John Broadus Watson?
3. Bagaimana teori belajar menurut clark leonard hull?
4. Bagaimana teori belajar menurut Edwin Ray Gulthne?
5. Bagaimana teori belajar menurut Burrhus Frederic skinner?
6. Bagaimana aplikasi teori belajar behavioristic di sekolah ?

C. TUJUAN PENULISAN
1. Untuk memahami Bagaimana teori belajar menurut Edward Lee
Thorndike
2. Untuk memahami Bagaimana teori belajar menurut John Broadus
Watson
3. Untuk memahami Bagaimana teori belajar menurut clark leonard hull
4. Untuk memahami Bagaimana teori belajar menurut Edwin Ray
gulthne
5. Untuk memahami Bagaimana teori belajar menurut Burrhus Frederic
skinner
6. Untuk memahami Bagaimana aplikasi teori belajar behavioristic di
sekolah

D. METODE PENULISAN
Metode Penulisan Metode penulisan yang digunakan adalah
metode kepustakaan dan metode searching internet. Metode studi pustaka
merupakan metode dengan pencarian materi makalah di buku-buku yang
berkaitan dengan materi makalah. Sedangkan metode searching internet
merupakan metode pencarian data makalah dengan mencari, memilah, dan
mengolah data-data yang ada di internet yang berkaitan dengan materi
makalah.

2
BAB II
ISI

A. TEORI BELAJAR BEHAVIORISME


Teori Belajar behaviorisme adalah teori belajar yang menekankan
pada tingkah laku manusia sebagai akibat dari interaksi antara stimulus
dan respon. teori behaviorisme merupakan sebuah teori yang dicetuskan
oleh Gage dan Berliner. Kemudian teori ini berkembang menjadi aliran
psikologi belajar yang berpengaruh terhadap pengembangan teori
pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behaviorisme.
Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai
hasil belajar.

Teori behaviorisme dengan model hubungan stimulus-responnya,


mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau
perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan
semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan
dan akan menghilang bila dikenai hukuman. Seseorang dianggap telah
belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya.
Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa
stimulus dan output yang berupa respon.

Stimulus adalah segala hal yang diberikan oleh guru kepada


pelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pelajar terhadap
stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara
stimulus dan respon tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang
dapat diamati adalah stimulus dan respon. Oleh karena itu sesuatu yang
diberikan oleh guru (stimulus) dan sesuatu yang diterima oleh pelajar
(respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan
pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat
perubahan tingkah laku tersebut terjadi atau tidak.

3
B. BEHAVIORISME MENURUT PARA AHLI
1. Edward Lee Throndike
Menurut Throndike belajar merupakan peristiwa terbentuknya
asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus dan
respon Penyusunan dari teori yang pertama merupakan salah satu dari
banyak sumbangannya. Karangannya lebih dari 500 buah jumlahnya
dan beberapa buku teks meliputi : statistic tes, praktik pendidikan,
penelitan di kelas, pengembangan tes, dan tes-tes khusus dalam menulis
tangan, berhitung, membaca, dan lain-lain.

Landasan teori Throndike mula-mula diletakkan dalam


eksperimen-eksperimen yang dilakukannya dengan binatang.
Penelitiannya dirancang untuk menentukan apakah binatang itu
memecahkan maslah dengan jalan berpikir ataukah melaluk suatu
proses yang begitu mendasar sifatnya. Tentang hal tersebut, Thorndike
menyatakan "beratus kali anjing-anijing itu salah jalan dan tidak ada
seoeang pun tahu atau mengirimkan berita kejadiannya ke majalah
ilmiah. Tetapi andaikan ada seekor saja yang tahu ke Brooklyn, New
York maka kenyataan nya itu segera menjadi berita menarik yang
beredar di luar."
Thorndike bereksprimen dengan menggunakan anak ayam, anjing,
ikan, kucing dan kera. Prosedur tang umum ialah membuat agar setiap
binatang lepas dari kurungannya sampai ke tempat makanan. Dalam
penelitiannya digunakan satu kotak teka-teki berpalang sa dungan atau
mekanisme lain yang bisa membuat binatang percobaan lepas.
Dalam peneliatian itu diketahui, apabila terkuring binatang itu
sering melakukan bermacam-macam kelakuan, seperti menggaruk-
garuk, menggigit, mencakar, dan menggosok-gosokan badannya ke sisi-
sisi kotak. Cepat atau lambat binatang itu akan tersandung palang dan
lepaslah ia ke tempat makanan. Kalau penguringan itu berkali-kali,
maka tingkah laku yang tidak ada hubungannya dengan lepas dari
kurungan berkurang. Tentu saja, waktu yang akan diperlukan untuk
lepas menjadi lebih pendek.

4
Perubahan yang paling dramatis terjadj pada kera-kera. Dalam satu
eksperimen, sebuah kotak berisi pisang diletakkan di dalam kurungan.
Diperlukan waktu 36 menit.
Terkait dengan belajar, thordike menyampaikan tiga hukum belajar
ketiga hukum tersebut adalah
Hukum efek menyebutkan bahwa keadan memuaskan menyusul
respons memperkuat hubungan antara stimulus dan tingkh laku ,
sedangkan keadaan menjengkelkan memperlemah pautan itu.
Thorndike kemudian memperbaiki hukum itu , sehingga hukumana tidk
sama pengaruhnya dalam belajar dengan ganjran
Hukum latihan menjelaskan keadaan seperti pepatah “latihan
menjadikan sempurna “ dengan kata lain, pengalaman yang diulang-
ulang memperbesar peluang timbulnya respon yang benar . akn tetapi,
pengulangan yang tidak disertai keadaan yang memuaskan tidak
meningkatkan belajr/

Hukum kesiapan melukiskan syarat-syarat yang menentukan


keadaan yang disebut “memuaskan” atau “menjengkelkan” itu. Secara
singkat, pelaksanaan tindakan sebagai respons terhadap impuls yang
kuat menimbulkan kepuasan, sedangkan menghalang-halangi
pelaksanaan tindakan atau memaksanya terjadi dalam syarat-syarat
yang lain itu menjengkelkan.

Bagi para pendidik, hal khusus yang menarik ialah deskripsi


Thorndike mengenai lima hukumnya yang merupakan tambahan
berkenaan dengan belajar di sekolah. Hukum-hukum tersebut
merupakan usaha pertama untuk menerangkan bagaimana kompleksnya
belajar yang terjadi pada manusia.

Yang terutama penting bagi pendidikan ialah penilitian Thorndike


mengenai pengaruh jenis kegiatan belajar tertentu pada belajar
berikutnya. Pertama, serangkaian studi yang dilakukan oleh Thorndike
dan Woodworth (1901) menemukan bahwa berlatih dalam tugas
tertentu memudahkan belajar diwaktu kemudian hanya untuk tugas

5
yang serupa, tidak untuk tugas yang tidak serupa. Hubungan ini terkenal
sebagai alih latihan, transfer of training.

Penerapan Hukum Minor Thorndike dalam Pendidikan

Hukum Deskripsi Contoh


1. Respons ganda Berbagai respons mula- Lafal bahasa asing;
atau reaksi mula sering terjadi pada keterampilan main
beragam suatu stimulus-stimulus tenis; keterampilan
dalam mengarang
2. Sikap, disposisi, Keadaan siswa yang Seseorang berlomba
atau peri keadaan memengaruhi belajar, lempar bola paling
termasuk sikap yang jauh atau merobohkan
mantap dan faktor- pemain dalam
faktor situasi yang permainan bisbol;
sementara sifatnya mengajarkan soal
hitungan menambah
atau mengurang
3. Aktivitas parsial Kecenderungan untuk Respons terhadap
atau sepotong- merespons terhadap kualitas bentuk, warna,
sepotong dalam unsure atau hal-hal jumlah, kegunaan,
suatu situasi tertentu dari suatu maksud, dan
situasi stimulus (juga sebagainya; respons
disebut belajar analitik) terhadap hubungan-
hubungan ruang,
waktu, sebab, dan
sebagainya
4. Asimilasi respons Kecenderungan situasi Orang asing
dengan analogi B untuk sebagian melafalkan kata-kata
menimbulkan respons bahasa Indonesia
sama seperti situasi A
5. Pergantian Secara berurutan abcd diganti menjadi
asosiasi mengganti stimulus abcd menjadi abcfg,
sampai respons nya dan seterusnya
terikat oleh stimulus
yang baru

Kedua, Thorndike (1924) menyelidiki konsep disiplin mental yang


populer yang mula-mula diuraikan oleh Plato. Menurut paham
penganjur disiplin mental, mempelajari kurikulum tertentu, terutama
matematika dan bahasa-bahasa klasik dapat meningkatkan fungsi
intelek. Artinya, mata-mata pelajaran tertentu disekolah semacam itu
dipercaya dapat melatih pikiran. Thorndike menguji konsep itu dengan

6
cara membandingkan hasil belajar siswa-siswa sekolah menengah.
Setelah mengikuti pelajaran dalam kurikulum klasik dan kurikulum
vokasional ia menemukan bahwa ada perbedaan yang berarti dari
keduanya.

Dalam tahun-tahun berikutnya, penelitian Thorndike ini disebut


sebagai pembawa pengaruh yang penting dalam mengalihkan
pandangan pada perancang kurikulum konsep disiplin mental dan
mengarahkan pelaksanaan penyusunan kurikulum ke tujuan, kegunaan
masyarakat.

2. John Broadus Watson


Watson berpendapat bahwa pengubahan tingkah laku dapat
dilakukan melalui latihan tau membiasakan memberikan reaksi
terhadap stimulu yang diterima. Stimulus dan respon tersebut harus
dapt diamati dalam bentuk tingkah laku
Di dalam karangannya Psychology as the behaviorist Views it
terbitan 1913, Watson mempelajari tingkah laku manusia. Menurutnya,
selama lebih dari 60 tahun psikologi gagal menjadikan dirinya sebagai
suatu ilmu pengetahuan alam. Titik pusat kajian psikologi pada
kesadaran dan proses mental telah menjuruskan psikologi kearah jalan
buntu dan pokok-pokok kajiannya lusuh karena terlalu banyak digarap.

Dengan dasar itu, baginya, psikologi titik tolaknya haruslah


fakta tentang penyesuaian oleh organism berupa respons-respons
terhadap lingkungannya. Mengingat bahwa respons-respons tertentu
muncul menyusul stimulus tertentu, maka para ahli psikologi harus
dapat mengamalkan respons dari stimulus, demikian pula sebaliknya.
Bila maksud ini tercapai, maka psikologi akan menjadi ilmu yang
objektif dan eksperimental sifatnya. Disiplin ilmu ini akan memberikan
pengetahuan yang berguna bagi pendidik, dokter, pemimpin dunia
usaha, dan sebagainya.

7
Menurut pandangan Watson, Behaviorisme harus menerapkan
teknik-teknik penyelidikan bintang, yaitu conditioning untuk
mempelajari manusia. Oleh karena itu, ia mendefinisikan kembali
kinsep mental (yang menurut dia sebetulnya tidak perlu) sebagai
respons perilaku. Sebagai contoh, berpikir dikenali sebagai tutur
subvokal, dan perasaan diartikan sebagai reaksi kelenjar.

Watson juga percaya bahwa kepribadian orang itu berkembang


melalui conditioning berbagai refleks. Iya berpendirian bahwa manusia
waktu lahir hanya memiliki tiga respons emosi, yaitu takut, marah, dan
saying. Misalnya, respons takut bermula dari sentakan atau gerakan
tiba-tiba karena terkejut dan terputusnya napas. Selain itu, bergantung
pada usia; anak kecil akan menangis, terjatuh, atau kabuyr. Dalam
lingkungan yang wajar, respons takut dapat disaksikan setelah bunyi
rebut yang keras; atau pada bayi yang tiba-tiba kehilangan topangan
yang mendukungnya. Dengan demikian, menurut Watson, kehidupan
emosi yang kompleks dari manusia dewasa itu merupakan hasiul dari
conditioning tiga respons dasar tersebut pada berbagai keadaan. Dalam
gaya persuasifnya, ia memberikan pernyataan tentang conditioning:

“ Berikan kepada saya selusin bayi yang sehat dan dengan


lingkungan yang saya tentukann sendiri untuk mengasuhnya. Saya
jamin kalau saya mengambilnya secara acak, mka saya akan melatihnya
menjadi ahli apapun yang mau saya pilih dokter, pengacara, seniman,
pedagang- tak pandang bakatnya, kesukaannya, kecenderungannya,
kemampuannya, bakat khususnya, dan suku bangsa leluhurnya.”

Untuk mebuktikan pendapatnya, Watson menerapkan


conditioning reflect pada respons emosional bayi-bayi. Subjek
penelitiannya ialah bayi-bayi yang tinggal dirumah sakit sampai usia
kira-kira 2 tahun. Dalam eksperimen-eksperimen Watson dengan
Albert, reaksi takut anak usia 11 bulan itu dikondisikan dengan objek
yang berbulu lembut.

8
Reaksi itu mula-mula dikondisikan melalui seekor tikus putih.
Selama beberapa kali percobaan, pemunculan tikus putih itu dibuat
berpasangan dengan bunyi pukulan palu pada batang besi. Pada
percobaan pertama (membuat pasangat stimulus), bayio tersebut
melompat keras. Pda kali yang kedua, bayi mulai menangis. Pada
percobaan yang kedelapan, tikus putih saja sudah cukup mebuat bayi
menangis, dan merangkak lari. Lim hari kemudian, reaksi takut itu pun
muncul sebagai respons atas seeokr kelinci yang berwarna putih. Objek-
objek yang tidak berbulu, seperti balok-balok mainan anak, tidak
menimbulkan respons takut, juga pada anjing dan baju hulu anjing laut.
Respons emosional anak telah dipindahkan ke binatang-binatang dan
benda-benda berbulu yang semuanya itu bertaham dalam satu bulan.

Watson juga melakukan eksperimen dengan melatih baik atau


“lawan conditioning” respons takut. Ketika bertemu dengan bayi,
Watson tidak menemukan benda-benda yang menimbulkan rasa takut
(peniadaan stimulus dalam waktu yang lama) ternyata tidak cukup
untuk menghilangkan rasa takut. Alih-alih, yang membawa hasil adalah
penerimaan stimulus oleh anak-anak lain dan program akomodasi yang
direncanakan. Penyajian stimulus itu, secara sedikit demi sedikit pada
waktu anak melakukan kegiatan kesenangannya atau yang
mengembirakannya, seperti makan.

3. Clark Leonard Hull


Hull berpendirian nahwa tingkah laku itu berfungsi menjaga agar
organisasi tetap bertahan hidup. Dengan adanya motivsi, maka belajar
merupakan penguatan. Makin banyak belajar makin banyak
reinforsemen makin besar motivasi memberikan respon yang menuju
keberhasilan belajar. Konsep sentral dalam teorinya berkisar pada
kebutuhan biologis dan pemuasan kebutuhan, hal yang penting bagi
kebutuhan hidup. Oleh Hull, kebutuhan dikonsepkan sebagai dorongan
(drive) seperti lapar, haus, tidur, hilangnya rasa nyeri, dan sebagainya.
Stimulus yang disebut stimulus dorongan (SD) dikaitkan dengan

9
dorongan primer dank arena itu mendorong timbulnya tingkah laku.
Sebagai contoh, stimulus yang dikaitkan dengan rasa nyeri, seperti
bunyi alat pengebor gigi, dapat menimbulkan rasa takut, dan takut itu
mendorong timbulnya tingkah laku.

Penguatan tingkah laku juga dimasukkan dalam teori, tetapi


penguatan merupakan kondisi biologis. Pemuasan kebutuhan biologis
disebut reduksi dorongan (drive reduction) memperkuat pautan antara
stimulus dorongan dan respons.

Kekuatan pautan S-R atau kebiasaan dapat diukur pada skala angka
100. Mengingat belajar itu hasilnya makin bertambah, maka menurut
Hull kekuatan kebiasaan dapat meningkat sampai mencapai angka
maksimum 100.

Teori Hull dikarakteristikkan dengan operasionalisasi sangat


ketat terhadap berbagai variable dan presentasi matematis yang
terkenal. Berikut ini berbagai variable Hull yang diambil ketika
melakukan proses pembelajaran terhadap tikus.

Variable-variabel independen:
S : Stimulus fisik
Waktu deprivasi (perampasan) atau periode dan intensitas stimuli
yang menyakitkan
G : Ujaran dan kualitas penguat (reinforces)
Waktu kelambatan antara respons dengan penguat. Waktu antara
stimulus yang
sudah menjadi kebiasaan dengan yang belum.
N : Jumlah ujicoba
Jumlah waktu bagi tikus yang aktif
Variable-variabel yang telag terintervensi
S : Jejak stimulus
V :Dinamisme intensitas stimulus

10
D :Motivasi atau kebutuhan gerakan atau utama (tergantung deprivasi
dan sebagainya)
K :Motivasi intensif (tergantung pada jumlah atau kualitas penguat)
J :insentif yang didasarkan pada kelambatan penguatan.
sHr :kekuatan kebiasaan didasarkan pda N, G (atau K), J dan waktu
antara stimulus yang sudah menjadi kebiasaan dengan yang belum
Ir :Halangan reaktif (yakni kelelahan karena tikus menjadi aktif untuk
beberapa waktu)
Slr :Halangan yang bisa terjadi (mengarah pada pelatihan yang lain)

sLr : Ambang batas reaksi (minimum penguatan dibutuhkan untuk


beberapa pengajaran )

sOr : Perputaran perilaku sebentar, yaitu variable-variabel acak yang


sebaliknya tidak diterangkan.

Dan variable terinterverensi utama, sEr, pembebasan potensial,


merupakan hasil dari semua di atas.

sEr = V x D x K x J x sHr - sIr - Ir – Sor - sLr

Variabel-variabel dependen :

 Keterpendaman ( kecepatan respons )


 Amplitudo ( kekuatan respon )
 Resistensi terhadap perhentian ( extinction )
 Frekuensi ( probabilitas dari respons )
Semuanya merupakan ukuran dari R, respons, yang merupakan
sebuah fungsi dari sEr. Esensi teori ini bisa diringkas dengan perkataan
bahwa respons merupakan sebuah fungsi dari kekuatan kebiasaan dikali
kekuatan gerakan. Itulah alasannnya mengapa teori Hull sering disebut
sebagai teori gerakan (drive theory).

11
4. Edwin Ray Guthrie
Guthrie berpendapat bhwa tingkah laku manusia dapat diubah,
tingkah laku baik dapat diubah menjadi buruk dan sebaliknya. Teori
Guthrie berdasarkan atas model pergantian stimulus yang satu ke
stimulus yang lain.
tiga metode pengubahan tingkah laku antara lain :
1. Metode respon bertentangan
2. Metode membosankan
3. Metode mengubah tingkah laku
Suatu tanggapan baru terhadap teori-teori yang ada pada satu masa
itu diajukan oleh teori kontiguiti, yaitu gabungan dari stimulus-stimulus
yang disertai oleh gerakan pada waktu timbul kembali cenderung akan
diikuti oleh gerakan yang sama.
Guthrie membedakan gerakan dengan tindakan. Gerakan ialah
pengurutan urat, sedangkan tindakan adalah gabungan dari gerakan-
gerakan. Contoh tindakan adalah menggambar, membaca buku, dan
sebagainya. Tindakan juga merupakan komponen dari keterampilan
seperti bermain golf atau mengetik. Meskipun orang bisa memperoleh
waktu dan latihan untuk belajar semua asosiasi yang ada dalam suatu
keterampilan.
Mengenai penguatan tingkah laku, itu bukan faktor yang penting.
Belajar terjadi karena gerakan terakhir yang dilakukan mengubah
situasi stimulus dan tidak ada respons lain yang dapat terjadi. Contoh :
dalam memecahkan teka-teki tindakan terakhir adalah mengubah
stimulus (yaitu menyelesaaikan soal teka-teki). Oleh karena itu, ketika
menghadapi situasi yang sama, maka akan diulang respon yang sama.
Adapun penguatan hanya sekedar melindungi hasil belajar yang baru
agar tidak hilang denhan jalan mencegah pemerolehan respons yang
baru.
Guthrie mendapati pentingnya hukuman dalam mengbah tingkah
laku. Jika diberikan secara tepat bersama dengan stimulus yang
menimbulkan tingkah laku yang tidak patut, maka hukuman dapat

12
menyebabkan subjek berbuat sesuatu yang lain. Guthrie menjelaskan
dengan contoh : seorang anak perempuan yang setiap kali tiba dirumah
dari sekolah selalu mencampakkan topi baju jaketnya ke lantai. Ibu
anak itu menyuruhnya mengenakan kembali topi dan jaket, kemabali
keluar, lalu masuk rumah lagi dan menggantungkan baju dan topi itu di
tempatnya. Setelah beberapa kali melakukan itu, respons
menggantungkan jaket dan topi itu menjadi terasosiasi dengan stimulus
memasuki rumah.
Mengasosiasi stimulus-respons secara tepat itu merupakan inti dari
saran Guhrie kepada seorang guru. Siswa harus dibimbing melakukan
apa saja yang dipelajarinya. Dengan kata lain, siswa hanya belajar
melakukan sesuatu sesuai apa yang diperintahkan oleh stimulus yang
ada dalam uraian guru atau dalam buku. Karena itu, kalau siswa
menggunakan buku catatan atau buku pelajaran hanya untuk menghapal
sejumlah informasi, maka itu syarat bahwa anak belajar hafalan belaka.
Dalam mengelola kelas, guru diperingatkan agar tidak diberikan tugas
atau perintah yang mungkin akan diabaikan anak. Perintah agar anak-
anak diam, jika diikuti dengan suasana ribut akan menjadi isyarat bagi
timbulnya tingkah laku mengganggu kelas.

5. Burrhus Frederic Skinner


Asas operant conditioning B.F Skinner dimulai dalam tahun 1930-
an, yakni pada waktu keluarnya teori-teori Stimulus-Respons (S-R).
Skinner tidak sependapat dengan pandangan S-R dan penjelasan reflex
bersyarat yang menyebutkan “stimulus terus memiliki sifat-sifat
kekuatan yang tidak mengendur. Terkait dengan penjelasan S-R tentang
terjadinya perubahan tingkah laku, menurut Skinner merupakan hal
yang tidak lengkap untuk menjelaskan bagaimana organisme
berinteraksi dengan lingkungannya. Bukankah banyak tingkah laku
yang menghasilkan perubahan atau konsekuensi pada lingkungan yang
memppunyai pengaruh terhadap organisme dan dengan begitu
mengubah kemungkinan organisme itu merespons. Contoh: menekan
tombola tau menginjak palang “menghasilkan” konsekuensi makanan.

13
Atau contoh lain, umpamanya di kelas. Seseorang memecahkan
masalah atau menuntaskan suatu soal memberikan konfirmasi akan
benarnya keterampilan yang dilakukan orang tersebut. Oleh karena itu,
kunci untuk memahami sebagian besar tingkah laku atau perbuatan
yang dilakukan pada pemahaman antarhubungan antara situari stimulus,
respons organisme, dan konsekuensi respons itu.
Skinner menjalankan prosedur yang ketat untuk mempelajari
tingkah laku. Ia berpendirian, psikologi dapat menjadi suatu ilmu yang
hanya melalui studi tingkah laku. Oleh karena itu, oleh Skinner belajar
didefinisikan sebagai perubahan tingkah laku.
Dengan dasar pemahamanya tentang belajar, tingkah laku, serta
hubungannya yang erat dengan lingkungan, Skinner menyampaikan
asumsi-asumsinya yang membentuk landasan untuk operant
conditioning yang kemudian dijadikan sarana menggugat kondisioning
klasik, Pavlov. Asumsi-asumsi tersebut sebagai berikut.
a. Belajar itu adalah tingkah laku.
b. Perubahan tingkah laku (belajar) secara fungsional berkaitan
dengan adanya peruahan dalam kejadian-kejadian di lingkungan
kondisi-kondisi lingkungan.
c. Hubungan yang berhukum antara tingkah laku dan lingkungan
hanya dapat ditentukan kalua sifat-sifat tingkah laku dan kondisi
eksperimennya didefinisikan menurut sifat fisiknya dan diobservasi
di bawah kondisi-kondisi yang dikontrol secara seksama.
d. Data dari studi eksperimental tingkah laku merupakan satu-satunya
sumber informasi yang dapat diterima tentang penyebab terjadinya
tingkah laku.
e. Tingkah laku individual merupakan sumber data yang cocok.
f. Dinamika interaksi organisme dengan lingkungan itu sama untuk
semua makhluk hidup.
Sebagaimana penjelasan di awal, bahwa perkembangan asas-
asas kondisioning operan dari Skinner dimulai dari analisisnya atas
kondisioning klasik Pavlov. Menurut Skinner, model Pavlov itu cocok

14
untuk respons yang sudah diasosiasikan dengan stimulus tertentu.
Contoh: sentakan kaki mengikuti pukulan plu pada lutut dan kedipan
mata yang terjadi kalua mata terancam tusukan benda asing. Oleh
karena itu, Skinner menyebut reflex ini respons yang dimunculkan atau
tingkah laku responden. Ini dikemukakan karena conditioning respons-
respons itu bergantung pada substitusi stimulus. Skinner menyebut
model Pavlov sebagai type conditioning S.
Masalah yang terjadi pada kondisioning Tipe S ini ialah
rentangan tingkah laku yang dihasilkan itu terbatas. Stimulus yang
berkaitan dengan tingkah laku yang kompleks seperti melukis atau
menyanyikan lagu tidak dapat ditemukan. Tingkah laku semacam itu
tidak keluar oleh stimulus tertentu. Tingkah laku yang demikian
diamakan respons emisi. Sementara respons ini bertindak mengenai
lingkungan dan menghasilkan konsekuensi berupa pujian, tepuk tangan,
atau uang. Respons semacam ini beroperasi tehadap lingkungan dan
dinamakan operant.
Selanjutnya, perhatikan perbandingan Respons Elisit dengan Tingkah
Laku Operant.
RESPONS ELISIT (REFLEKS) RESPONS EMISI (OPERANT)
Ada korelasi yang dapat diamati Ada respons bertindak mengenai
antara stimulus dan respons : lingkungan yang menimbulkan
respons yang terpancing keluar konsekuensi yang berpengaruh pada
terutama untuk menjaga organisasi dan dengan demikian
kesejahteraan organisme. mengubah tingkah laku yang akan
dating tidak berkorelasi dengan
stimulus sebelumnya.
Dikondisikan dengan subtitusi Dikondisikan melalui konsekuensi
stimulus ; conditioning Type S. respons yang memperbesar peluang
merespons ; conditioning Tipe R.

Untuk mengungkap lebih jelas tentang respons emisi dan respons operan,
Skinner menjelaskan sebuah paparan. Perilaku menulis atau menyanyi

15
bukan karena stimulus tertentu. Respons menyanyi atau melukis
merupakan respons yang kompleks. Respons seperti ini bertindak terkait
dengan lingkungan menyangkut konsekuensi tertentu, seperti tepuk
tangan, uang, dan pujian. Respons karena stimulus tertentu disebut emisi,
sedangkan respons yang kompleks karena lingkungan dan
memperhatikan konsekuensi dinamakan respons operan.

C. APLIKASI TEORI BEHAVIORISTIK DALAM PEMBELAJARAN


Aliran psikologi belajar yang sangat besar pengaruhnya terhadap
arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran hingga
kini adalah aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya
perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan
model hubungan stimulus responnya, mendudukkan orang yang belajar
sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan
menggunakan metode drill atau pembiasaan semata.

Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan


reinforcement dan akan menghilang bila dikenai hukuman. Hal-hal yang
harus diperhatikan dalam menerapkan teori behavioristik adalah ciri-ciri
kuat yang mendasarinya yaitu mementingkan pengaruh lingkungan,
mementingkan bagian-bagian, mementingkan peranan reaksi,
mengutamakan mekanisme terbentuknya hasil belajar melalui prosedur
stimulus respon, mementingkan peranan kemampuan yang sudah
terbentuk sebelumnya, mementingkan pembentukan kebiasaan melalui
latihan dan pengulangan, hasil belajar yang dicapai adalah munculnya
perilaku yang diinginkan.

Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran


tergantung dari beberapa hal seperti: tujuan pembelajaran, sifat materi
pelajaran, karakteristik pebelajar, media dan fasilitas pembelajaran yang
tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan berpijak pada teori
behavioristik memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap,
tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar
adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan

16
pengetahuan (transfer of knowledge) ke orang yang belajar atau pebelajar.
Fungsi mind atau pikiran adalah untuk menjiplak struktur pengetahuan yag
sudah ada melalui proses berpikir yang dapat dianalisis dan dipilah,
sehingga makna yang dihasilkan dari proses berpikir seperti ini ditentukan
oleh karakteristik struktur pengetahuan tersebut.

Pebelajar diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama


terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh
pengajar atau guru itulah yang harus dipahami oleh murid. Sebagai
konsekuensi teori ini, para guru yang menggunakan paradigma
behaviorisme akan menyusun bahan pelajaran dalam bentuk yang sudah
siap, sehingga tujuan pembelajaran yang harus dikuasai siswa disampaikan
secara utuh oleh guru. Guru tidak banyak memberi ceramah, tetapi
instruksi singkat yng diikuti contoh-contoh baik dilakukan sendiri maupun
melalui simulasi. Bahan pelajaran disusun secara hierarki dari yang
sederhana samapi pada yang kompleks.

Demikian halnya dalam pembelajaran, pebelajar dianggap sebagai


objek pasif yang selalu membutuhkan motivasi dan penguatan dari
pendidik. Oleh karena itu, para pendidik mengembangkan kurikulum yang
terstruktur dengan menggunakan standar-standar tertentu dalam proses
pembelajaran yang harus dicapai oleh para pebelajar. Begitu juga dalam
proses evaluasi belajar pebelajar diukur hanya pada hal-hal yang nyata dan
dapat diamati sehingga hal-hal yang bersifat tidak teramati kurang
dijangkau dalam proses evaluasi.

Implikasi dari teori behavioristik dalam proses pembelajaran


dirasakan kurang memberikan ruang gerak yang bebas bagi pebelajar
untuk berkreasi, bereksperimentasi dan mengembangkan kemampuannya
sendiri. Karena sistem pembelajaran tersebut bersifat otomatis-mekanis
dalam menghubungkan stimulus dan respon sehingga terkesan seperti
kinerja mesin atau robot. Akibatnya pebelajar kurang mampu untuk
berkembang sesuai dengan potensi yang ada pada diri mereka. Penerapan
teori behaviroristik yang salah dalam suatu situasi pembelajaran juga

17
mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak
menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai central, bersikap otoriter,
komunikasi berlangsung satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang
harus dipelajari murid.

Karena teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan telah


terstruktur rapi dan teratur, maka pebelajar atau orang yang belajar harus
dihadapkan pada aturan-aturan yang jelas dan ditetapkan terlebih dulu
secara ketat. Pembiasaan dan disiplin menjadi sangat esensial dalam
belajar, sehingga pembelajaran lebih banyak dikaitkan dengan penegakan
disiplin. Kegagalan atau ketidakmampuan dalam penambahan
pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum dan
keberhasilan belajar atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk
perilaku yang pantas diberi hadiah. Demikian juga, ketaatan pada aturan
dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. Pebelajar atau peserta
didik adalah objek yang berperilaku sesuai dengan aturan, sehingga
kontrol belajar harus dipegang oleh sistem yang berada di luar diri
pebelajar.

Tujuan pembelajaran menurut teori behavioristik ditekankan pada


penambahan pengetahuan, sedangkan belajar sebagi aktivitas “mimetic”,
yang menuntut pebelajar untuk mengungkapkan kembali pengetahuan
yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis, atau tes. Penyajian isi
atau materi pelajaran menekankan pada ketrampian yang terisolasi atau
akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian ke keseluruhan.
Pembelajaran mengikuti urutan kurikulum secara ketat, sehingga aktivitas
belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks/buku wajib dengan
penekanan pada ketrampilan mengungkapkan kembali isi buku teks/buku
wajib tersebut. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil belajar.

Tujuan pembelajaran dibagi dalam bagian kecil yang ditandai


dengan pencapaian suatu ketrampilan tertentu. Pembelajaran berorientasi
pada hasil yang dapat diukur dan diamati. Kesalahan harus segera
diperbaiki. Pengulangan dan latihan digunakan supaya perilaku yang

18
diinginkan dapat menjadi kebiasaan. Hasil yang diharapkan dari penerapan
teori behavioristik ini adalah tebentuknya suatu perilaku yang diinginkan.
Perilaku yang diinginkan mendapat penguatan positif dan perilaku yang
kurang sesuai mendapat penghargaan negatif. Evaluasi atau penilaian
didasari atas perilaku yang tampak.

Evaluasi menekankan pada respon pasif, ketrampilan secara


terpisah, dan biasanya menggunakan paper and pencil test. Evaluasi hasil
belajar menuntut jawaban yang benar. Maksudnya bila pebelajar
menjawab secara “benar” sesuai dengan keinginan guru, hal ini
menunjukkan bahwa pebelajar telah menyelesaikan tugas belajarnya.
Evaluasi belajar dipandang sebagi bagian yang terpisah dari kegiatan
pembelajaran, dan biasanya dilakukan setelah selesai kegiatan
pembelajaran. Teori ini menekankan evaluasi pada kemampuan pebelajar
secara individual.

19
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan diatas kami dapat menyimpulkan bahwa
teori belajar behaviorisme adalah teori belajar yang menekankan pada
tingkah laku manusia sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan
respon, serta memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberi
respon terhadap lingkungan, pengalaman dan latihan yang akan
membentuk prilaku mereka.

B. SARAN
Dari makalah ini diharapkan dapat menjadi bekal kita nantinya
sebagai calon pendidik agar tercapai tujuan pembelajaran yang efektif dan
efesien.

20
DAFTAR PUSTAKA
Hayat, A. (2010). teori dan teknik pendektan konseling. Banjarmasin: lanting
media aksara.

komarudin, m. s. (2015). landasan pendidikan. Depok: rajawali.

Nurochim. (2013). perencanaan pembelajaran ilmu-ilmu sosial. jakarta: PT


rajagrafindo persada.

suparno. (2001). membangun kompetensi belajar. jakarta: depdiknas.

http://guraru.org/guru-berbagi/aplikasi-teori-behavioristik-dalam-pendidikan-dan-
pembelajaran/

21