Anda di halaman 1dari 13

Senin, 31 Desember 2012

Makalah Kayu Gaharu

PENDAHULUAN

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Agama Islam Kemuhammadiyahan (AIK) yang menjelaskan
tentang kayu gaharu yang mana sangat erat hubungannya dengan kegiatan kita sehari – hari.Karena
batang dari pohon gaharu itu sendiri bisa dijadikan untuk tasbih,aroma therapy, parfum, bagi umat
muslim selain itu juga digunakan untuk keperluan kegiatan keagamaan, bagi pemeluk agama Budha,
dan Hindu.

Maka dari itu kita mengambil judul tentang kayu gaharu, agar umat muslim tahu bahwa sesungguhnya
kayu gaharu memiliki banyak manfaat bagi kehidupan kita karena dia memiliki kandungan resin atau
damar wangi yang mengeluarkan aroma dengan keharuman yang khas sehingga pada zaman Nabi
Muhammad SAW kayu gaharu ini sering digunakan.

Ada hadist riwayat Ummu `Athiah ra yang menerangkan.:

Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Tidak halal bagi seorang wanita berkabung atas seorang mayat selama
lebih dari tiga hari kecuali karena kematian suami, yaitu selama empat bulan sepuluh hari. Selama itu ia
tidak boleh mengenakan pakaian yang dicelup kecuali pakaian yang sangat sederhana. Ia juga tidak
boleh memakai celak mata dan juga tidak boleh memakai wewangian, kecuali hanya sedikit dari qusth
(sejenis cendana yang digunakan untuk membuat asap yang wangi) atau azhfar (sejenis wewangian).
(Shahih Muslim No.2739).

Mungkin sebagian besar dari kita masih belum mengenal kayu gaharu, kayu yang berasal dari pohon
gaharu dan biasanya tumbuh dengan baik di daerah tropis dengan ketinggian 750 meter dari permukaan
laut. Berdasarkan hasil penelitian beberapa lembaga pendidikan, pohon gaharu tumbuh dengan baik
apabila tanah yang ditumbuhinya bisa ditumbuhi pohon berkayu keras. Dan saat ini pohon gaharu
banyak tumbuh di daerah Kalimantan, Sumatera dan Papua.

Banyaknya manfaat dan nilai jual yang tinggi membuat kayu gaharu ini menjadi primadona bagi para
petani, bahkan tak hanya kayu gaharu saja yang memiliki nilai ekonomis, untuk ukuran daun pun dapat
diolah menjadi teh yang sangat berkhasiat.
PEMBAHASAN

A. Pengertian

Gaharu adalah, kayu berwarna kehitaman dan mengandung resin khas, serta memiliki kandungan kadar
damar wangi, berasal dari pohon atau bagian pohon penghasil gaharu yang tumbuh secara alami dan
telah mati, sebagai akibat dari proses infeksi yang terjadi baik secara alami atau buatan pada pohon
tersebut, dan pada umumnya terjadi pada spesies dari marga Aguilaria sp. terutama A. malaccensis.
(Nama daerah : Karas, Alim, Garu dan lain-lain). Gaharu sejak awal era modern (2000 tahun yang lalu)
telah menjadi komoditi perdagangan dari Kepulauan Nusantara ke India, Persia, Jazirah Arab, serta
Afrika Timur.

Di Indonesia dikenal mulai abad ke-12 diperdagangkan barter antara masyarakat Kalimantan Barat dan
Sumatra Selatan dengan pedagang Kwang Tung, China. Gaharu dalam bentuk gubal semula dipungut
dari pohon penghasilnya di dalam hutan dengan cara menebang pohon hidup dan mencacahnya untuk
mendapatkan bagian yang bergaharu.

Gaharu dihasilkan tanaman sebagai respon dari masuknya mikroba yang masuk ke dalam jaringan yang
terluka. Luka pada tanaman berkayu dapat disebabkan secara alami karena adanya cabang dahan yang
patah atau kulit terkelupas, maupun secara sengaja dengan pengeboran dan penggergajian. Masuknya
mikroba ke dalam jaringan tanaman dianggap sebagai benda asing sehingga sel tanaman akan
menghasilkan suatu senyawa fitoaleksin yang berfungsi sebagai pertahanan terhadap penyakit atau
patogen.

Senyawa fitoaleksin tersebut dapat berupa resin berwarna coklat dan beraroma harum, serta
menumpuk pada pembuluh xilem dan floem untuk mencegah meluasnya luka ke jaringan lain. Namun,
apabila mikroba yang menginfeksi tanaman dapat mengalahkan sistem pertahanan tanaman maka
gaharu tidak terbentuk dan bagian tanaman yang luka dapat membusuk.

Ciri-ciri bagian tanaman yang telah menghasilkan gaharu adalah kulit batang menjadi lunak, tajuk
tanaman menguning dan rontok, serta terjadi pembengkakan, pelekukan, atau penebalan pada batang
dan cabang tanaman. Senyawa gaharu yang lain yang dapat menghasilkan aroma harum adalah guia
dienal, selina-dienone, dan selina dienol. Untuk kepentingan komersil, masyarakat mengebor batang
tanaman penghasil gaharu dan memasukkan inokulum cendawan ke dalamnya. Setiap spesies pohon
penghasil gaharu memiliki mikroba spesifik untuk menginduksi penghasilan gaharu dalam jumlah yang
besar.

Secara umum perdagangan gaharu digolongkan menjadi tiga kelas besar, yaitu gubal, kemedangan, dan
abu. Gubal merupakan kayu berwarna hitam atau hitam kecoklatan dan diperoleh dari bagian pohon
penghasil gaharu yang memiliki kandungan damar wangi beraroma kuat. Kemedangan adalah kayu
gaharu dengan kandungan damar wangi dan aroma yang lemah serta memiliki penampakan fisik
berwarna kecoklatan sampai abu-abu, memiliki serat kasar, dan kayu lunak. Kelas terakhir adalah abu
gaharu yang merupakan serbuk kayu hasil pengerokan atau sisa penghancuran kayu gaharu.

Gambar Gubal

Gambar Kemedangan

Gambar Abu

Beberapa sifat biofisiologis tumbuh pohon penghasil gaharu yang penting untuk diperhatikan adalah
faktor sifat fisiologis pertumbuhan, sebagian besar pohon pada fase pertumbuhan awal (vegetatif)
memiliki sifat tidak tahan akan intensitas cahaya langsung (semitoleran) hingga berumur 2 - 3 tahun.

Faktor lain sifat fenologis pembungaan dimana setiap jenis, selain dipengaruhi oleh kondisi iklim dan
musim setempat juga akan dipengaruhi oleh kondisi lahan tempat tumbuh. Sifat fenologis buah/benih
yang rekalsitran, badan buah pecah dan tidak jatuh bersamaan dengan benih. Sifat fisiologis benih
memiliki masa istirahat (dormansi) yang sangat rendah, benih-benih yang jatuh di bawah tajuk pohon
induk pada kondisi optimal setelah 3 – 4 bulan akan tumbuh dan menghasilkan permudaan alam tingkat
semai yang tinggi dan setelah 6 – 8 bulan akan terjadi persaingan, sehingga populasi anakan tingkat
semai akan menurun hingga 60 – 70 %. Aspek pertumbuhan permudaan alam tingkat semai penting
diketahui sebagai dasar dalam penyediaan bibit tanaman dengan cara memanfaatkan cabutan
permudaan alam.

B. Jenis- Jenis Kayu Gaharu :

1. Aquilaria subintegra, asal Thailand

2. Aquilaria crassna asal Malaysia, Thailand, dan Kamboja

3. Aquilaria malaccensis, asal Malaysia, Thailand, dan India

4. Aquilaria apiculina, asal Filippina

5. Aquilaria baillonii, asal Thailand dan Kamboja

6. Aquilaria baneonsis, asal Vietnam

7. Aquilaria beccarain, asal Indonesia

8. Aquilaria brachyantha, asal Malaysia


9. Aquilaria cumingiana, asal Indonesia dan Malaysia

10. Aquilaria filaria, asal China

11. Aquilaria grandiflora, asal China

12. Aquilaria hilata, asal Indonesia dan Malaysia

13. Aquilaria khasiana, asal India

14. Aquilaria microcarpa, asal Indonesia Malaysia

15. Aquilaria rostrata, asal Malaysia

16. Aquilaria sinensis, asal Cina

Beberapa ciri morfologis, sifat fisik, sebaran tumbuh serta nama daerah jenis pohon penghasil gaharu di
Indonesia sebagai berikut :

Ø Pohon dengan tinggi batang yang dapat mencapai antara 35 – 40 m,

Ø Berdiameter sekitar 60 cm,

Ø Kulit batang licin berwarna putih atau keputih-putihan dan berkayu keras.

Ø Daun lonjong memanjang dengan ukuran panjang 5 – 8 cm dan lebar 3 – 4 cm,

Ø Ujung daun runcing, warna daun hijau mengkilat.

Ø Bunga berada diujung ranting atau diketiak atas dan bawah daun.

Ø Buah berada dalam polongan berbentuk bulat telur aatau lonjong berukuran sekitar 5 cm panjang
dan 3 cm lebar.

Ø Biji/benih berbentuk bulat atau bulat telur yang tertutup bulu-bulu halus berwarna kemerahan.

Description: D:\Materi kulyah\bahan materi\jenis-dan-asal-gaharu_files\dcp_1061.jpg

Gaharu banyak diperdagangan dengan harga jual yang sangat tinggi terutama untuk gaharu dari
tanaman famili Themeleaceae dengan jenis Aquilaria spp. yang dalam dunia perdangangan disebut
sebagai gaharu beringin. Untuk jenis gaharu dengan nilai jual yang relatif rendah, biasanya disebut
sebagai gaharu buaya. Selain ditentukan dari jenis tanaman penghasilnya, kualitas gaharu juga
ditentukan oleh banyaknya kandungan resin dalam jaringan kayunya. Semakin tinggi kandungan resin di
dalamnya maka harga gaharu tersebut akan semakin mahal dan begitu pula sebaliknya.

Aquilaria malaccensis

Komoditas gaharu telah cukup lama dikenal masyarakat umum. Beberapa jenis tanaman gaharu yang
dikenal antara lain Aquilaria malaccensis, A. filaria, A. hirta, A, agalloccha, A. macrophylum dan
beberapa puluh jenis lainnya. Dari puluhan jenis tanaman yang berpotensi tersebut, Aquilaria
malaccensis adalah tanaman penghasil gaharu berkualitas terbaik dengan nilai jual yang tinggi, jenis ini
termasuk dalam family Thymelleaceae, tumbuh di dataran rendah hingga pegunungan, 0-750 m dpl,
suhu rerata 32°C dengan kelembaban rerata 70%, curah hujan sekitar 2000 mm.

Tanaman ini cukup banyak potensi dan penyebarannya di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Di Pulau
Bangka tanaman ini sering disebut Mengkaras, sedang di Belitung disebut Kepang. Di kedua pulau ini,
diameter pohon dapat mencapai 40 – 80 cm. Kepulauan Bangka Belitung merupakan salah satu daerah
sebaran pohon atau jenis-jenis penghasil gaharu terutama Aquilaria malaccensis yang dikenal
merupakan penghasil gaharu bermutu tinggi, disamping jenis-jenis lain seperti A. microcarpa, Gonystilus
dll.

Selama kurun waktu yang cukup lama, Bangka Belitung dikenal sebagai penghasil gaharu berharga tinggi
di dunia, namun gaharu yang dihasilkan merupakan gaharu alam sehingga terjadi eksploitasi besar-
besaran terhadap jenis-jenis tersebut. Hal ini mengakibatkan keberadaan jenis penghasil gaharu alam
semakin langka. Saat ini jenis A. malaccensis telah masuk dalam kategori Appendiks II (langka) menurut
CITES, sehingga ekspor atau perdagangannya dipantau dan dibatasi oleh kuota.

Berdasarkan kenyataan di lapangan, wilayah Bangka Belitung telah lama dikenal sebagai wilayah
sebaran sekaligus tempat tumbuh yang potensial bagi jenis-jenis tanaman penghasil gaharu terutama
sekali A. malacceensis. Dengan demikian lahan-lahan yang tersedia, baik di dalam kawasan hutan negara,
hutan/perkebunan rakyat maupun lahan-lahan lainnya sesuai untuk pertumbuhan dan budidaya jenis-
jenis tanaman penghasil gaharu.

Manfaat/Kegunaan Gaharu :

Ø Pengharum/pewangi ruangan alami, dengan cara dibakar yang banyak dilakukan oleh Masyarakat di
Negara Timur Tengah.

Ø Bahan baku industri parfum, wangian dan kosmetik.

Ø Sebagai bahan pembuatan dupa (insence stick). Sebagai bahan baku pembuatan Kohdoh (untuk acara
ritual masyarakat Jepang).

Ø Sebagai bahan baku pembuatan minyak gaharu.


Ø Sebagai bahan baku pembuatan aneka kerajinan gaharu.

Ø Sebagai bahan pembuatan minuman (teh gaharu).

Ø Bahan baku obat-obatan antara lain: anti asmatik, stimulan kerja saraf, perangsang seks, obat kanker,
penghilang stress, obat malaria, anti mikrobia, obat sakit perut, penghilang rasa sakit, obat ginjal, obat
lever dan obat diare.

Gaharu ini didapati pada bagian dalam batang yaitu berupa resin. Kayu-kayu gaharu ini mengandung
resin dan dikelaskan kepada beberapa gred tertentu oleh pengusaha dan pencari gaharu. Kayu yang
mempunyai kandungan resin yang sedikit akan diproses untuk mendapatkan minyaknya dan boleh dijual
dengan harga yang lebih baik.

Penggunaan gaharu sangat luas dan meliputi berbagai aspek, sebagai bahan wangian, perobatan
upacara keagamaan. Sifat minyak gaharu yang mampu mengeluarkan wangiannya dalam jangka yang
lama juga merupakan kelebihan yang menjadikan pengusaha wangian menggunakannya sebagai minyak
asas dalam campuran minyak wangi. Gaharu secara tradisinya telah digunakan sejak dahulu di India dan
Timur Tengah.

Hadist – Hadist Yang Berkaitan Tentang Kayu Gaharu

1. Pengobatan Bekam dari Penyakit

َ َ ُ ُ َّ َ ُ َ ُ ّ َ َ َ َ َ ُ َّ َ َ ّ ُ َ َََ َ َ ُ ُ َّ َ ُ َ َ َّ َ
ْ‫ل عن‬ ْ ‫اَلل عن ْه أن ْه س ِئ‬ْ ‫ض‬ ْ ِ ِ ‫يل عنْ أنسْ ر‬ ْ ‫اَلل أخ ََ َبنا ُح َميدْ الط ِو‬
ِْ ‫ن ُمق ِاتلْ أخ َبنا عب ْد‬
ْ ‫حدثنا محم ْد ب‬
َ َ ‫اه َص‬ َ َ َ َ َ ُ ّ َ ُّ ّ َ ّ ُ ُ َ َ َ َ ََ ْ َ
ْ‫ي ِمنْ ط َعام‬ ْ ِ ‫اع‬ ُْ ‫م َح َج َم ْه أ ُبو طي َب ْة َوأعط‬َْ ‫اَلل َعلي ِْه َو َسل‬
ْ ‫َل‬
ْ ‫اَلل ص‬
ِْ ‫ول‬ْ ‫م رس‬ ْ ‫ال احتج‬ َْ ‫ام فق‬ْ ِ ‫أج ِْر ال َح َّج‬
ُ َ ِّ ُ َ َ َ َ ْ ُ ُْ َ ُ َ َ ْ ُ َ َ َ َ َ َّ َ َ َ ُ َ ُ َّ َ َ ُ َّ
ْ‫ل ت َعذ ُبوا ِصب َيانكم‬ ْ ‫ط ال َبح ِريْ وق‬
ْ ‫ال‬ ْ ‫ل َما تد َاويتمْ ِب ِْه ال ِحجام ْة والقس‬ ْ ‫ن أمث‬ ْ ‫م َم َو ِال َي ْه فخففوا عن ْه وق‬
ْ ‫ال ِإ‬ َْ ‫َوكل‬
ُْ ُ َ ْ َْ
ْ ِ ‫ِبالغم ِْز ِمنْ ال ُعذ َرِْة َْو َع ْليكمْ ِبالقس‬
‫ط‬

“TelahْmenceritakanْkepadaْkamiْMuhammadْbinْMuqatilْtelahْmengabarkanْkepadaْkamiْAbdullahْ
telah mengabarkan kepada kami Humaid Ath Thawil dari Anas radliallahu 'anhu bahwa dia di tanya
mengenai upah tukang bekam, dia menjawab; "Abu Thaibah pernah membekam Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam, lalu beliau memberinya dua sha' makanan dan meyarankan supaya meringankan beban
hamba sahayanya, setelah itu beliau bersabda: "Sebaik-baik sesuatu yang kalian gunakan untuk obat
adalah bekam dan terapi kayu gaharu", beliau juga bersabda: "Dan janganlah kalian sakiti anak kalian
dengan memasukkan jari ke dalam mulut."

ْ‫ن ُع َم َر‬
َْ ‫م ب‬ْ َ ‫اص‬ َ َّْ ‫ن ُب َك ًبا َح َّد َث ُْه َأ‬َّ َ َ
ْ ‫ن َعمرو َْو غ ُبُْه أ‬
َ َ َ
ْ ِ ِ ‫ال أخ ََ َب‬ ُْ ‫ن اب‬
ْ ‫ن َوهبْ ق‬
َ َّ َ َ
ْ ِ ِ ‫ال َحدث‬
َ ُ ُ َ َ َ َّ َ
ِ ‫نع‬ ْ ‫ن ت ِليدْ ق‬ ْ ‫يد ب‬
ْ ‫حدثنا س ِع‬
ُ ِّ َ َ َ َ ََّ َ ُ َ َ َ َ َ َّ ُ َ َّ َ ُ ْ َ َ َ ُ َ ُ ّ َ َ ّ َّ َ ُ َ َّ َ َ َ َ
ْ ‫ن َس ِمع‬
‫ت‬ ْ ِ ‫م ف ِإ‬ ْ ‫ن تحت ِج‬ ْ ‫حح‬ ْ ‫ل أبر‬ ْ ‫ال‬ ْ ‫م ق‬ ْ‫عث‬ْ ‫اد المقن‬
ْ ‫اَلل عنهما ع‬ ْ ‫ض‬ ِْ ‫ن َعب ِْد‬
ْ ِ ِ ‫اَلل ر‬ َْ ‫ن َج ِاب َ ْر ب‬ْ ‫ن قتاد ْة َحدث ْه أ‬ِْ ‫ب‬
َ َّ ُ ُ َ َ ّ َ َ َ َ ُ ّ ّ َ ّ َ ُ َ
ًْ ‫يه ِشف‬
‫اء‬ ِْ ‫ن ِف‬ ْ ‫ول ِإ‬
ْ ‫م يق‬ ْ ‫اَلل علي ِْه ْو س ْل‬ ْ ‫َل‬ ْ ‫اَلل ص‬
ِْ ‫ول‬ْ ‫رس‬

“TelahْmenceritakanْkepadaْkamiْSa'idْbinْTalidْdiaْberkata;ْtelahْmenceritakanْkepadakuْIbnuْWahbْ
dia berkata; telah mengabarkan kepadaku 'Amru dan yang lainnya, bahwa Bukair telah menceritakan
kepadanya bahwa 'Ashim bin Umar bin Qatadah menceritakan kepadanya bahwa Jabir bin Abdullah
radliallahu 'anhuma pernah menjenguk Muqanna' kemudian dia berkata; "Kamu tidak akan sembuh
hingga berbekam, karena aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Sesungguhnya padanya terdapat obat."

“ImamْBukhariْmeriwayatkanْbahwaْNabiْMuhammadْSAWْbersabda:ْObatilahْdenganْmenggunakanْ
Oudhْ(gaharu)ْkerenaْdidalamnyaْterdapatْtujuhْkebaikan”.

Diantara lain kegunaannya adalah :

· Meningkatkan fungsi seksual dan merawat masalah yang berkaitan

· Melegakan dan merawat sistem pernafasan – bagi penderita lelah, letih dan batuk dan kronik

· Merawat kanker tumor dan kanker paru-paru

· Melegakan insomnia (susah tidur) dan tidur yang kurang pulas

· Mengontrol kandungan gula dalam darah bagi penderita diabetes

· Merawat sistem limfa – sistem pertahanan badan

· Mengawal dan menstabilkan tekanan darah tinggi

· Mengurangi masalah sembelit, angin, cirit-birit dan IBS (perut sensitif)

· Merawat masalah Ginjal


· Tonik untuk menguatkan fungsi jantung

· Merawat penyakit hati

2. Membakar Menyan / Kayu Gaharu itu Sunnah Nabi

Ulama Wahabi, Firanda

Membakar kemenyan/kayu gaharu sebetulnya sunnah Nabi. Sehingga banyak orang mengekspor gaharu
ke Arab. Itu sekedar pengharum ruangan sehingga menjadi nyaman. Tetapi jika dukun yang bakar
kemenyan hukumnya musyrik, karena untuk sesembahan. Tetapi membakar kemenyan/kayu gaharu
tetap sunnah Nabi.

“Nabiْmemangْsukaْyangْwangi-wangi. Zaman dahulu tidak ada pewangi ruangan semacam bayfresh,


dsb. Jadi membakar kemenyan/gaharu/qusth/cendana adalah satu cara.

Hadis riwayat Ummu `Athiah ra.:

Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Tidak halal bagi seorang wanita berkabung atas seorang mayat selama
lebih dari tiga hari kecuali karena kematian suami, yaitu selama empat bulan sepuluh hari. Selama itu ia
tidak boleh mengenakan pakaian yang dicelup kecuali pakaian yang sangat sederhana. Ia juga tidak
boleh memakai celak mata dan juga tidak boleh memakai wewangian, kecuali hanya sedikit dari qusth
(sejenis cendana yang digunakan untuk membuat asap yang wangi) atau azhfar (sejenis wewangian).
(Shahih Muslim No.2739)
KESIMPULAN
Gaharu mempunyai senyawa fitoaleksin , guia dienal, selina-dienone, dan selina dienol. ang berupa resin
berwarna coklat dan beraroma harum.

Kayu gaharu dengan jenis Aquilaria malaccensis merupakan tanaman penghasil gaharu berkualitas
terbaik dengan nilai jual yang tinggi. Manfaat selain untuk wangi-wangian juga sebagai bahan baku obat-
obatan.
DAFTAR PUSTAKA

Anonimous, 1998. Pasar kayu gaharu di dalam dan luar negeri. Prosiding Lokakarya Pengembangan
Tanaman Gaharu, Ditjen RLPS, DEPHUT, Jakarta.

Anonimous, 2004. Tata niaga perdagangan gaharu Indonesia, Prosiding Renstra Gaharu, Ditjen RLPS,
Dephut, Jakarta.

Asgarin, 2002. Beberapa masalah dan kendala pengusahaan kayu gaharu, Prosiding Lokakarya
Pengembangan Tanaman Gaharu, RLPS, DEPHUT, Jakarta.

Anonym. SNI 01-5009.1-1999: Gaharu. Badan Standar-disasi Nasional (BSN). 1999

Biro KLN dan Investasi, 2002. Gaharu, Menjual Kayu dalam Gram, Setjen DEPHUT, Jakarta.

Biro KLN dan Investasi, 2003. Strategi Generik Pengembangan Komoditas Gaharu, Setjen DEPHUT,
Jakarta.

Fitter. A. H. dan R. K. M. Hay, 1992. Fisiologi Lingkungan Tanaman, Gajahmada University Press,
Yogyakarta.

Gun, B & P. Steven, M. Singadan, L.Sunari, P. Chatterton, 2003. Eaglewood in Papua New Guinea,
Tropical Rain Forest Project, Working Paper No. 51. Viatnam.

Kramer, P. J dan T. T. Kozlowski, 1979. Physiology of Woody Plant, Academic Press INC, London.

Santoso, E. 1986 Pembentukan gaharu dengan cara inokulasi . Prosiding Diskusi Hasil Penelitian
Menunjang Pemafaatan Hutan Lestari, P3H& KA, Bogor.
Sidiyasa, K dan S. Suharti, 1998. Potensi jenis pohon penghasil gaharu, Prosiding Lokakarya
Pengembangan Tanaman Gaharu, RLPS Dephut, Jakarta.

Sumarna, Y. 2002. Budidaya Gaharu, Seri Agribisnis, Penebar Swadaya, Jakarta.

Sumarna, Y. 2007. Budidaya dan Rekayasa Produksi Gaharu. Prosiding Gelar Teknologi Pemanfaatan
IPTEK untuk Kesejahteraan Masyarakat, Purworejo.

Soehartono, Tonny; Gaharu: Kegunaan dan Pemanfaatan. Disampaikan pada Lokakarya Tanaman
Gaharu di Mataram tanggal 4 – 5 September 2001

Rohadi, Dede dan Suwardi Sumadiwangsa, Prospek dan Tantangan Pengembangan Gaharu di Indonesia:
Suatu Tinjauan dari Perspektif Penelitian dan Pengembangan, Disampaikan pada Lokakarya
Pengembangan Tanaman Gaharu di Mataram, 4 – 5 September 2001