Anda di halaman 1dari 20

MATA KULIAH TEKNOLOGI PENGOLAHAN PRODUK DERIVAT

ISOLAT PROTEIN BLONDO

Disusun oleh:
THP-C / Kelompok 6

Muhammad Haikal (151710101054)


Ririn Rofi’ Mahmudah (151710101078)
Afina Desi Wulandari (151710101072)
Devita Nurinsani (151710101093)

JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
2017
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia memliki kebun kelapa terluas di dunia yaitu sekitar 3.781.600
hektar. Kelapa (Cocos nucifera L.) sebagai salah satu kekayaan hayati Indonesia
telah berabad-abad dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memenuhi berbagai
kebutuhan, baik sebagai sumber makanan, obat-obatan, industri dan lain-lain.
Hasil-hasil produk kelapa di Indonesia secara umum masih bertumpu pada
minyak kelapa, padahal kelapa merupakan tanaman yang serbaguna. Tanaman
kelapa memiliki keragaman produk yang tinggi, karena dari daun sampai akar
memiliki manfaat dan nilai sosial ekonomi.
VCO atau virgin coconut oil (dalam bahasa Indonesia disebut sebagai
minyak kelapa murni) merupakan produk modern buah kelapa yang memiliki
kemampuan meningkatkan taraf kesehatan, mengobati dan bahkan dimanfaatkan
dalam bidang kecantikan atau kosmetika. Walaupun sebagai produk modern,
pengembangan minyak VCO tetap berkaitan dengan akar budaya masyarakat yang
menggantungkan hidup pada tanaman kelapa.
Blondo (coconuut presscake) merupakan hasil samping pembuatan
minyak kelapa. Blondo memiliki kandungan protein yang tinggi yaitu 24,22%.
Tingginya kandungan protein pada blondo VCO memungkinkan untuk
dimanfaatkan sebagai sumber protein yaitu dimanfaatkan dalam bentuk isolat
protein. Kekurangan protein merupakan masalah penting yang perlu
ditanggulangi,penduduk dengan tingkat pendapatan yang relatif rendah, tentunya
sangat sulit memenuhi kebutuhan protein dengan mengonsumsi protein hewani
karena harganya tidak terjangkau. Karena itu, mengonsumsi bahan makanan
berbahan baku nabati merupakan salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan
akan protein. Untuk memenuhi kebutuhan protein pada saat ini industri pangan di
Indonesia banyak menggunakan isolat protein sebagai bahan baku produknya.
Isolat protein merupakan sari pati protein yang dapat digunakan sebagai makanan
suplemen dan bahan fortifikasi berbagai makanan untuk memperkaya protein dan
nilai gizi makanan. Isolat protein sangat banyak aplikasinya dalam berbagai
produk makanan. Contoh secara luas digunakan sebagai bahan tambahan makanan
dalam sup rasa daging, makanan diet, penyedap sosis, biskuit, crackers, minuman
dan mayonaise. Hidrolisat protein juga berguna sebagai bahan fortifikasi untuk
memperkaya nilai gizi produk makanan suplemen terutama untuk anak-anak dan
bahan pengganti albumin telur pada proses pembuatan es krim, agar-agar, serta
secara fungsional dapat dikatakan sebagai bahan pengemulsi, pengembang dan
bahan pengisi.
Pada saat ini kebutuhan isolat protein masih dipenuhi dari kedelai impor.
Potensi nabati lokal Indonesia yang perlu dijajagi pengembangannya untuk
memenuhi kebutuhan isolate protein, diantaranya adalah blondo yang merupakan
produk samping dari pengolahan Virgin Coconut Oil (VCO) dan kacang-kacangan
lokal seperti kacang hijau, kacang merah dan kacang tunggak sebagai bahan baku
untuk pembuatan isolat protein.

1.2 Tujuan
1. Mengetahui prinsip dan reaksi pada pembuatan isolat protein blondo
2. Mengetahui tahapn proses pembuatan isolat protein blondo
3. Mengetahui karakteristik isolat proein blondo
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Kelapa


Kelapa merupakan tanaman tropis yang telah lama dikenal masyarakat
Indonesia. Hal ini terlihat dari penyebaran tanaman kelapa di hampir seluruh
wilayah Nusantara. Kelapa merupakan tanaman perkebunan dengan areal terluas
di Indonesia, lebih luas dibanding karet dan kelapa sawit, dan menempati urutan
teratas untuk tanaman budi daya setelah padi. Alasan utama yang membuat kelapa
menjadi komoditi komersial adalah karena semua bagian kelapa dapat
dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Dari analisis budidaya terlihat bahwa
investasi yang besar dan dapat menguntungkan hanya dalam waktu kurang dari
enam tahun, belum termasuk keuntungan lain yang didapat selain dari buah. Oleh
karena itu, budidaya tanaman kelapa merupakan salah satu alternatif yang sangat
menguntungkan. Tanaman kelapa merupakan tanaman serbaguna atau tanaman
yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Seluruh bagian pohon kelapa dapat
dimanfaatkan untuk kepentingan manusia, sehingga pohon ini sering disebut
pohon kehidupan karena hampir seluruh bagian dari pohon, akar, batang, daun
dan buahnya dapat dipergunakan untuk kebutuhan manusia sehari- hari. Oleh
karena itu tanaman kelapa ini ditanam secara besar-besaran maupun tanaman
pekarangan untuk kebutuhan keluarga. ( Suhardiyono,1995).
Tanaman kelapa merupakan tanaman yang sangat berguna dalam
kehidupan ekonomi pedesaan di Indonesia. Karena semua bagian dari pohon
kelapa dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan manusia. (Palungkung,
2004). Pohon kelapa dipandang sebagai sumber daya berkelanjutan yang
memberikan hasil panen yang berpengaruh terhadap segala aspek kehidupan
masyarakat di daerah tropis. Dan yang penting adalah buahnya, daging kelapa, air
kelapa, santan, dan minyaknya ( Darmoyuwono, 2006 ).

2.2 VCO
Salah satu bagian kelapa yang mempunyai banyak manfaat adalah daging
buah Belakangan ini, pemanfaatan daging buah kelapa menjadi lebih variatif.
Virgin coconut oil (VCO) merupakan bentuk olahan daging kelapa yang baru-bar
ini banyak diproduksi orang. Di beberapa daerah, VCO lebih terkenal dengan
nama minyak perawan, minyak sara, atau minyak kelapa murni. VCO (virgin
coconut oil) merupakan minyak yang berasal dari buah kelapa (Cocos nucifera)
tua segar yang diolah pada suhu rendah (<60 0C) tanpa proses pemutihan dan
hidrogenasi. Proses tersebut membuat minyak kelapa ini dikenal dengan
sebutan minyak perawan (Virgin Coconut Oil) atau ada juga yang
menyebutnya minyak dara. VCO (virgin coconut oil) atau minyak perawan
adalah hasil olah kelapa diketahui banyak manfaat, terutama karena VCO
mengandung Medium Chain Triglyserida (MCT). MCT yang terdapat pada VCO
mirip dengan lemak yang terdapat pada Air Susu Ibu (ASI) dan mempunyai efek
nutrisi yang sama . VCO juga dikenal karena komponen anti bakteri dan anti
mikrobanya (Prayugo dan Bambang, 2006 ).
VCO merupakan minyak kelapa murni yang tahan terhadap panas,
cahaya, oksigen dan proses degradasi, karena struktur kimianya tidak
mengandung ikatan ganda. minyak kelapa murni dikenal sebagai minyak laurat
tinggi mengandung asam lemak jenuh (Saturated Fatty Acid) yang bersama
gliserol membentuk trigliserida rantai sedang (Medium Chain Triglyceride).
Minyak ini dibuat dari daging kelapa segar yang diolah dalam suhu rendah
atau tanpa melalui pemanasan sehingga kandungan yang penting dalam
minyak tetap dapat dipertahankan. Minyak kelapa murni mempunyai warna
yang lebih jernih dan dapat tahan disimpan selama 2 tahun tanpa menjadi tengik
(Rindengan dan Riyanto, 2005).

2.3 Blondo Kelapa


Blondo adalah salah satu limbah yang dihasilkan dari proses pembuatan
VCO selain sabut, tempurung, kulit ari, ampas dan air. Blondo pada proses
pembuatan minyak goreng dimanfaatkan, misalnya dicampurkan dalam sambal
yang sering disebut sambal kethak, dodol kethak atau campuran bumbu gudeg
jogja. (Rindengan dan Novarianto, 2005). Tetapi dalam keadaan mentah sampai
saat ini belum ada yang melakukan pengolahan dalam makanan, tetapi daur ulang
untuk mengurangi efek Blondo berupa penimbunan yang diperoleh gas yang dapat
dimanfaatkan untuk memasak dan peneragan.
Menurut Haerani (2010), karakteristik yang dimiliki Blondo adalah
berwarna putih dengan protein yang berbentuk cream atau sering disebut inti
santan yang berbentuk cairan memiliki ciri dalam waktu empat hari akan
mengeluarkan bau yang tidak sedap dan sangat menyengat. Kandungan nutrisi
blondo berdasarkan uji proksimak yang telah ilakukan di Laboratorium Terpadu
Fakultas Kesehatan Masyarakat dapat diketahui sebagai berikut
Tabel 1. Kandungan Nutrisi Blondo per 100gr

Unsur Gizi Blondo (0/0)


Kalori 243.6792
Karbohidrat 13,9793
Lemak 17,17
Protein 8,308
Calsium 0,11
Phospor 0,19
Fe 0,054
Abu 0,6537
Zn 0,223
Yodium 2,4
Kalium 3,11
Vitamin A 0,002
Natrium 3,2
Air 49,80
Berdasarkan penelitian blondo dari VCO yang diperoleh dengan metode
fisik menanadung protein (24.22%), lemak (21,27%), serat (0,96%), dan air
(35,76%) (Susana 2006 dalam Permatsari dkk (2015).

2.4 Isolat Protein Blndo


Kandungan protein dalam bahan pangan beragam, untuk memperoleh
protein dalam konsentrasi tinggi, dibuat protein dalam bentuk konsentrat atau
isolat. Isolasi protein pada prinsipnya didasarkan atas dua proses utama yaitu
ekstraksi dan koagulasi (penggumpalan). Isolat protein dibuat dengan cara
mengendapkan protein pada titik isoelektriknya. Koagulasi dan pengendapan
dilakukan dengan cara pemanasan dan penambahan asam, agar mencapai pH
tertentu (pH isoelektrik), terjadi penggumpalan, dan endapan (protein) dipisahkan
dari cairan (pati), (Triyono, 2010).
Beberapa peneliti membuktikan bahwa protein kelapa mempunyai mutu
yang cukup baik, jika dibandingkan dengan mutu protein dari sumber nabati yang
lain. Hasil-hasil penelitian membuktikan, bahwa protein kelapa mempunyai
susunan asam amino yang relatif baik dan bernilai gizi tinggi (Lanchance dan
Molina, 1974). Hal itu ditunjang pula oleh pendapat Banzon dan Velason (1982)
yang menyatakan bahwa protein kelapa tidak memiliki senyawa antinutrisi seperti
yang terdapat pada protein nabati lainnya terutama pada kacang kacangan serta
mempunyai nilai Indeks Glikemik yang rendah baik digunakan untuk serat diet
yang tinggi. Berikut ini komposisi asam amino yang ada pada daging buah kelapa
dapat dilihat pada table 2.
Table 2. Kompoisisi asam amino essensial protein daging buah kelapa
dibandingkan dengan pola FAO dalam gram per 16 gram N.
No Asam amino Daging kelapa a)
Pola FAO b) Skor kimia
1 isoleusina 2,5 4,0 63
2 leusina 4,9 7,0 70
3 lisina 2,7 5,5 49
4 fanilalanina 2,9 Fanilalanin + 77
5 tirosinab 1,7 Tirosin = 0,6
6 sisteinab Tidak terdeteksi
Sitein +
7 Metioninb 1,5 Methionine = 42
3,5
8 treonina 2,3 4,0 58
9 Triptofanb 0,6 1,0 60
10 Valin 3,8 5,0 76
Sumber: a) Lachance dan Molina (1974) b) FAO (1973)
BAB 3. PRINSIP PRODUKSI DAN REAKSI

3.1 Prinsip Pembuatan Isolat Protein Blondo


Prinsip isolasi protein blondo sebagai hasil samping proses pembuatan
VCO adalah pelarutan protein yang dilakukan pada pH tinggi yaitu diatas titik
isoelektrik dan pengendapan pada pH terendah yaitu pada titik isoelektrik.
Molekul asam amino mengandung gugus karboksil (-COOH) dan gugus
amino (-NH2). Gugus karboksil merupakan gugus yang bersifat asam karena dapat
melepas ion H+, sedangkan gugus amino bersifat basa karena dapat meyerap ion
H+. Sehingga molekul asam aminno dapat bereaksi dengan asam-basa
intramolekul sehingga membentuk suatu ion dipolar yang disebut zwitter ion.
Kelarutan ptotein dapat dipengaruhi oleh titik isoelektriknya. Pada pH diatas titik
isolektrik kelarutannya tinggi sedangkan pada pH isoelektrik kelarutannya rendah.
Penambahan basa menyebabkan pH diatas titik isoelektrik sehingga akan
menghidrolisis protein. Gugus karboksil terionisasi menjadi muatan negatif
sehingga bersifat polar dan mudah larut dalam air. Penambahan asam
menyebabkan pH berada pada titik isoelektrik sehingga kelarutannya berkurang
dan protein akan mengendap. Gugus amino terionisasi menjadi bermuatan positif,
ikatan-ikatan ionik terputus bermuatan positif dan negatif sehingga saling tarik
menarik dan berikatan maka dapat menghambat kelarutan protein sehingga
kelarutan rendah dan protein mengendap (Permatasari, N.W., 2016).

3.2 Reaksi kelarutan protein

Gambar 1. Reaksi asam amino dengan Basa

Gambar 2. Reaksi asam amino dengan Asam


Pada pH tinggi kelarutan meningkat karena gugus amina tereduksi
menghasilkan NH2, sedangkan gugus karboksil terdisosiasi menjadi COO- dan H+
sehingga protein menjadi bermuatan negatif. Protein yang bermuatan negatif lebih
reaktif, bersifat polar sehingga mudah larut dalam air. Pada pH rendah yaitu pada
titik isoelektrik gugus karboksil dan gugus amino dari rantai samping asam amino
terdisosiasi menjadi bentuk –COOH dan NH3+ serta protein bermuatan poritif.
Pada pH isoelektrik asam amino bermuatan positif dan negatif seimbang sehingga
saling tarik menarik dan berikatan akan menghambat kelarutan protein, akibatnya
protein mengendap.
BAB 4. TAHAPAN PROSES

4.1 Alat dan Bahan


4.1.1 Alat
1. Parutan kelapa
2. Toples plastik
3. Gelas ukur
4. Nampan plastik
5. Neraca analitik
6. Digital orbital and shaker
7. Sentrifuge
8. Oven
9. Freeze dryer
10. Blander
11. Tabung sentrifuge
12. Ayakan 40 mesh
13. Baskom
14. Pipet ukur
15. Inkubator
4.1.2 Bahan
1. Buah kelapa
2. Air
3. Aquadest
4. Minyak VCO
5. Heksan
6. NaOH
7. HCL
8. Kain Saring
4.2 Skema Kerja dan Fungsi Perlakuan
4.2.1 Pembuatan Virgin Coconut Oil (VCO) Secara Fisik

Buah kelapa

Pengupasan sabut dan


tempurung kelapa

Daging kelapa

Pemarutan

Air Ampas kelapa


Ekstraksi
1:1

Santan

Pendiaman 2 jam Skim

Krim

Penambahan
minyak VCO 3:1

Pengadukan 2 menit

Inkubasi 12x60’ suhu kamar Blondo & air

Minyak

Gambar 3. Diagram alir pembuatan VCO

Pada pembuatan VCO secara fisik, tahap pertama yang dilakukan yaitu
dilakukan pengupasan pada buah kelapa sehingga diperoleh daging kelapa, sabut
dan tempurung kelapa. Bagian yang digunakan untuk proses selanjutnya adalah
daging kelapa. Daging kelapa yang sudah dikupas dari kulitya dilakukan
pemarutan untuk memperkecil ukurannya sehingga luas permukaannya semakin
besar dan mudah diekstrak. Setelah diparut selanjutnya dilakukan ekstraksi
dengan penambahan air 1:1 sehingga menghasilkan santan dan ampas kelapa.
Selanjutnya santan dilakukan pendiaman selama 2 jam sehingga terpisah menjadi
dua bagian yaitu bagian atas berupa krim dan bagian bawah berupa skim. Krim
yang terbentuk selanjutnya ditambahkan dengan minyak VCO dengan
perbandingan 3:1 dan dilakukan pengadukan selama 2 menit agar larutan
homogen. Penambahan minyak VCO merupakan sebagai pancingan sehingga
minyak dalam santan akan berikatan dengan minyak VCO menyebabkan
pemisahan minyak lebih cepat. Setelah itu dilakukan inkubasi selama 12x0 menit
pada suhu kamar sehingga larutan terpisan menjadi tiga bagian yaitu minyak,
blondo dan air.
4.2.2 Pembuatan Tepung Blondo Rendah Minyak

Blondo

Sentrifuge 1610 xg, 3x6 menit

Pasta kental

Heksan
Ekstraksi
1:2

Shaker 250 rpm, 2x120’


pada suhu ruang

Blondo rendah minyak

Pengeringan 5 menit

Blander 3 menit

Pengayakan 40 mesh

Gambar 4. Diagram alir proses pembuatan tepung blondo


rendah minyak
Blondo yang diperoleh dari hasil samping proses pembuatan VCO
selanjutnya ditepungkan dengan cara disentrifuge dengan kecepatan 1610 xg
selama 3x6 menit sehingga terpisah antara minyak dan pasta kental. Setelah itu
pasta kental diekstraksi dengan penambahan heksan perbandingan 1:2 sehingga
terpisah dari fraksi minyak, kemudian dilakukan shaker kecepatan 250 rpm
selama 2x120 menit pada suhu ruang sehingga pasta kental blondo terpisah dari
kandungan minyaknya dan diperoleh blondo rendah minyak. Kemudian blondo
rendah minyak dilakukan pengeringa selama 5 menit menggunakan oven, lalu
dilakukan pengecilan ukuran menggunakan blander selama 3 menit. Setelah itu
dilakukan pengayakan agar ukurannya seragam, sehingga diperoleh tepung blondo
rendah minyak yang halus.
4.2.3 Pembuatan Isolat Protein Blondo

1 g Tepung blondo

Ekstraksi 60’
20 ml aquades
suhu ruang

Penambahan 2N
NaOH, pH 11

Sentrifuge 2862
Supernatan
xg, 15’ 20oC

Protein

Pengendapan pH
2N HCl
4

Inkubasi 2x60’, 4oC

Sentrifuge 2862 xg,


20’ 20oC

Endapan

Air Pencucian

freeze-dried 20x60’

Tepung isolat
blondo

Penyimpanan suhu -20oC


Gambar 5. Diagram alir pembuatan isolat protein blondo
Pembuatan isolat protein blondo menggunakan tepung blondo rendah
minyak. Tepung blondo rendah minyak sebanyak 1 gram diekstraksi selama 60
menit pada suhu ruang menggunakan aquades sebanyak 20 ml. Setelah itu
ditambahkan dengan NaOH sebanyak 2N hingga pH 11. Hal ini bertujuan untuk
memisahkan protein dengan bahan non protein. Pada pH diatas titik isoelektrik
kelarutan protein akan lebih tinggi sehingga ditambahkan dengan basa untuk
mencapai pH diatas titik isoelektrik agar protein mudah larut dan protein yang
dihasilkan jumlahnya lebih banyak. Kemudian dilakukan sentrifugasi dengan
kecepatan 2862 xg selama 15 menit pada suhu 20oC. Sentrifugasi bertujuan untuk
memisahhkan padatan dan cairan sehingga yang memiliki berat jenis lebih besar
akan mengendap dan yang memiliki berat jenis lebih kecil berada dibagian atas
yaitu supernatan. Endapan yang terbentuk merupakan protein. Selanjutnya protein
diendapkan dengan penambahan HCl sebanyak 2 N hingga pH 4. pH dibawah
isoelektrik menyebabkan protein mengendap, sehingga penambahan asam
bertujuan untuk menurunkan pH dibawah titik isoelektrik sehingga protein tidak
bermuatan menyebabkan protein menggumpal, mengendap dan terpisah dari
bahan non protein. Setelah itu dilakukan inkubasi selama 2x60 menit pada suhu
4oC sehingga pengendapan protein dapat terbentuk secara maksimal. Setelah
diinkubasi kemudian dilakukan sentrifugasi dengan keccepatan 2862 xg selama 20
menit pada suhu 20oC sehingga protein mengendap. Endapan protein yang
terbentuk selanjutnya dilakukan pencucian dengan air, kemudian dilakukan
pengeringan menggunakan freeze drying selama 20x60 menit sehingga terbentuk
tepung isolat protein blondo. Isolat protein blondo selanjunya disimpan pada suhu
-20oC untuk menghindari dari kelembaban.
BAB 5. KARAKTERISTIK PRODUK

5.1 Karakteristik Fisik


Isolat protein yang telah banyak ditemui yaitu berasal dari kedelai atau
yang disebut isolat protein kedelai. Isolat protein kedelai merupakan bentuk
protein kedelai yang paling murni, karena kadar proteinnya minimum 95 % dalam
berat kering, warna dari isolat protein kedelai yaitu putih cerah. Selain dari segi
gizi yang masih cukup tinggi, isolat protein kedelai sudah tidak memiliki bau
langu karena adanya pemanasan yang menginaktivasi antitripsin dan enzim
lipoksigenase sehingga menghasilkan
Tabel 3. Kandungan Isolat Protein Kedelai
Parameter Isolat Protein kedelai (%bk)
Protein 90-92
Lemak 0,5 - 1,0
Serat Kasar 0,1 – 0,2
Abu 4,0 – 5,0
Kadar Air 0
Karbohidrat 3-4
Blondo (cocnut presscake) merupakan hasil samping dari pembuatan
minyak kelapa murni. Blondo ini masih memiliki kandungan protein yang masih
tinggi. Isolat Protein Blondo merupakan salah satu cara untuk mengambil protein
yang dikandung oleh blondo. Isolat protein blondo memiliki karakteristik yang
hampir identik dengan isolat protein kedelai. Warna yang dimiliki oleh isolat
protein blondo ini putih cerah dan memiliki bau langu yang rendah karena adanya
perlakuan khusus.
Tabel 4. Kandungan Isolat Protein Blondo
Parameter Isolat Protein kedelai (% db)
Protein 80 - 89
Lemak 0,5-1,0
Abu 5,5-6
Kadar Air 0
5.2 Sifat Fungsional dalam Pangan
Isolat protein kedelai memiliki beberapa fungsi dalam olahan daging
seperti penyerapan dan pengikat lemak, pengikatan flavor, pembentuk dan
menstabilkan emulsi lemak, dan membuat ikatan disulfida. Hal ini berkaitan
dengan kuantitas air yang terikat bersama dengan protein dalam emulsi produk.
Jumlah protein yang ditambahkan akan berdampak pada jumlah air yang terikat
dalam matriks protein-air atau matriks emulsi yang ditandai dengan peningkatan
nilai water holding capacity. Di Amerika Serikat dan Eropa, isolat protein kedelai
banyak digunakan untuk memproduksi analog-analog daging seperti meatless
ham, meatless bacon dan meatless hot dog, terutama untuk para vegetarian.
Isolat protein blondo juga memiliki kemampuan emulsi yang baik.
Berdasarkan peneliian yang dilakukan WHC isolat protein blondo berkisar 2,45 –
3,41 g air / g yang hampir sama dengan isolat bprotein biji kecipir dan isolat
protein kedelai yang berkisar antara 2,40 – 3,40 g air / g. Nilai WHC inilah yang
akan memberikan pengaruh terhadap flavor dan tekstur pangan.
BAB 6. KESIMPULAN

Adapun kesimpulan dari makalah ini adalah sebagai berikut:


1. Prinsip pembuatan isolat protein blondo yaitu pelarutan protein pada suhu
tinggi.
2. Tahapan proses pembuatan meliputi pembuatan VCO, pembuatan tepung
blondo rendah minyak dan pembuatan isolat protein blondo.
3. Karakteristik isolat protein blondo hampir sama dengan isolat protein kedelai
yaitu, memiliki warna putih cerah, bau langu hilang dan memiliki kadar
protein berkisar 80 – 89 %bk. Sifat fungsional isolat protein blondo yaitu
sebagai emulsifier yang akan mempengaruhi flavour dan tekstur produk.
DAFTAR PUSTAKA

Banzon, J.A amd J.R Velason. 1982. Coconut Production and Utilization.
Philiphine Coconut Research and Development Foundation. Manila.
Philipines.
Darmoyuwono, W. (2006). Gaya Hidup Sehat Dengan Virgin Coconut Oil.
Jakarta: PT. Indeks Kelompok Gramedia. Hal. 43, 46, 47
Haerani. Pemanfaatan ibah VCO (Blondo). Jurnal MKMI, Vol 6 No. 4 Oktober
2010, Hal 244-248.
Hapsari, N dan Dedin, R. 2000. Efektivitas Metode Pemisahan dalam Produksi
Isolat Protein Nabati Berabahan Baku Lokal. Jurnal Ilmiah Teknik
Lingkungan.
Lanchance, P and M.R Molina. 1974. Nutritive Value of Fiber Free Coconut
Protein Extract Obtained by an Enzyme-Chemical Method. Journal ofFood
Science.Volume 39, Issue 3 Pages 581-584.
Palungkung, Rony (1992). Aneka Produk Olahan Kelapa. Jakarta :Penebar
Swadaya. Halaman : 1, 21 dan 25
Permatasari, N.W . 2016. Minyak Kelapa. Bandung: Program Studi Teknologi
Pangan Fakultas Teknik Universitas Pasundan
Permatasari, S. Hastuti, P dan Chusnul. 2015. Sifat Fungsional Isolat Protein
Blondo dari Produk Samping Pemisahan VCO. Agritech. Vol 35
Permatsari, S dkk. 2015. Sifat Fungsional isolat Protein ‘Blondo’ (Coconut
Presscake) dari Produk Samping Pemisahan VCO (Virgin Coconut Oil)
dengan Berbagai Metode. Jurnal AGRITECH, Vol. 35, No. 4, November
2015.
Prayugo, S dan Bambang, S. 2006. Membuat VCO Berkualitas Tinggi. Seri
Agritekno. Cetakan Kedua. Jakarta: Penebar Swadaya. Hal. 12
Rindengan, B dan Novarianto, H. (2005). Pembuatan Dan Pemanfaatan Minyak
Kelapa Murni. Seri Agritekno. Cetakan Keempat. Jakarta: Penebar
Swadaya. Hal. 22-23
Suhardiyono, L. 1995. Tanaman Kelapa, Budidaya dan Pemanfaatannya.
Yogyakarta: Kanisius.
Triyono, Agus. 2010. Mempelajari Pengaruh Penambahan beberapa asam pada
proses isolasi protein terhadap tepung protein isolat Kacang Hijau
(Phaseolus radiatus L.). Semarang: Balai Besar Pengembangan Teknologi
Tepat Guna - LIPI.