Anda di halaman 1dari 2

Memancing Kesadaran Pentingnya K3

“Dengan Budaya K3 Kita Tingkatkan Kualitas Hidup Manusia Menuju Masyarakat yang Selamat, Sehat
dan Produktif”

Ya, kalimat diatas merupakan tema pokok bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Nasional yang
diprakarsai oleh Kementerian Ketenagakerjaan Reprublik Indonesia pada tanggal 12 Januari – 12 Februari
2017 lalu. Tahun 2017 ini merupakan tahun ketiga penyelenggaraan bulan K3 nasioanal, yang diperingati
setiap tanggal 12 Januari sebagai upaya mewujudkan “Kemandirian Masyarakat Indonesia Berbudaya K3
Tahun 2020”.

Selayang pandang K3

Berbicara mengenai definisi pengertian K3 menurut standar Occupational Health Safety Assesment Series
(OHSAS) 18001: 2007, K3 merupakan semua kondisi dan faktor yang dapat berdampak pada keselamatan
dan kesehatan kerja tenaga kerja maupun orang lain (kontraktor, pemasok, pengunjung dan tamu) di
tempat kerja.

OHSAS-18001 merupakan standar internasional untuk penerapan Sistem Manajemen Kesehatan &
Keselamatan Kerja atau biasa disebut Manajemen K3. Pemerintah juga memperhatikan hal ini dalam UU
No. 1/1970 tentang Keselamatan Kerja, yang didalamnya terdapat 3 (tiga) tujuan utama, yaitu :

1. Melindungi dan menjamin keselamatan setiap tenaga kerja dan orang lain di tempat kerja.
2. Menjamin setiap sumber produksi dapat digunakan secara aman dan efisien.
3. Meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas Nasional

Sistem Manajemen K3

Hampir di setiap pekerjaan, sejatinya membutuhkan K3. Bidang ketenagakerjaan merupakan bagian yang
tidak terpisahkan dari pembangunan masyarakat yang mendukung prioritas program tersebut baik secara
langsung maupun tidak langsung. Program pembangunan tersebut harus didukung oleh sumber daya
manusia yang kompeten dan setiap pelaksanaan pembangunan harus menjamin keselamatan dan
kesehatan kerja.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi juga telah membuat penggunaan alat-alat produksi
semakin komplek. Makin kompleknya peralatan yang digunakan, makin besar pula potensi bahaya yang
mungkin terjadi dan makin besar pula kecelakaan kerja yang ditimbulkan apabila tidak dilakukan
penanganan dan pengendalian sebaik mungkin.

Hal ini menunjukkan bahwa masalah-masalah keselamatan dan kesehatan kerja tidak lepas dari kegiatan
secara keseluruhan, maka pola-pola yang harus dikembangkan di dalam penanganan K3 dan pengendalian
potensi bahaya harus mengikuti pendekatan sistem yaitu dengan menerapkan sistem manajemen K3.

Sistem Manajemen K3 (SMK3) adalah bagian dari sistem manajemen perusahaan secara keseluruhan yang
meliputi struktur organisasi, perencanaan, pelaksanaan, tanggung jawab, prosedur, proses dan sumber
daya yang dibutuhkan bagi pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian dan pemeliharaan
kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam rangka pengendalian resiko yang berkaitan dengan
kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif.
Adapun tujuan dan sasaran SMK3 adalah menciptakan suatu sistem keselamatan dan kesehatan kerja di
tempat kerja dengan melibatkan unsur manajemen, tenaga kerja, kondisi dan lingkungan kerja yang
terintegrasi dalam rangka mencegah dan mengurangi kecelakaan dan penyakit akibat kerja serta
terciptanya tempat kerja yang aman, nyaman, efisien dan produktif.

Mahasiswa, saatnya memancing kesadaran

Sebagai mahasiswa teknik metalurgi, dimana pengaplikasian keilmuan metalurgi sangatlah luas
cakupannya –dari aktivitas pertambangan di hulu hingga roda manufaktur di hilir- pengetahuan akan K3
dirasa menjadi kebutuhan esensial di era Pasar Bebas ASEAN. Kita semua setuju bahwa semua industri
memiliki karakteristik padat modal, berteknologi tinggi dan resiko yang sangat tinggi. Tingginya tingkat
resiko yang harus kita hadapi oleh pekarya di bidang metalurgi menuntut kita untuk selalu memperhatikan
perihal K3 ini. Bencana akibat lalai memperhatikan K3 ini akan merugikan kita baik moral maupun
material. Terlebih bila sampai terjadi kematian.

Sepintas terlihat sulit untuk menjaga nyawa ini mengingat tingginya resiko pekerjaan. Padahal jika kita
benar-benar menerapkan dan membudayakan K3 dengan baik dan benar, resiko-resiko itu akan semakin
minimal. Sebegitu pentingnya perihal K3 di perusahaan tempat kita bekerja nanti sehingga membuat K3
menjadi hal yang didahulukan dalam setiap pekerjaan kita. Dan untuk menerapkan K3 ini bukanlah
perkara yang sulit. Kita sudah mengetahui bahayanya pekerjaan-pekerjaan kita, namun kita cenderung
menyepelekan bahaya-bahaya tersebut hanya karena alasan-alasan seperti “ribet memakai peralatan
K3”, “tidak nyaman memakai peralatan K3”, “memakai peralatan K3 memakan waktu”, “toh tidak pakai
K3 pun pekerja tetap aman”, dan alasan-alasan remeh lainnya. Ingat, kita bukanlah kucing yang menurut
legenda mempunyai sembilan nyawa. Manusia hanya mempunyai satu nyawa. Begitu satu nyawa ini
hilang, habis perkara, menghentikan langkah kita di dunia untuk terus berkarya.

Oleh karena itu, sebagai mahasiswa yang memiliki peran iron stock dan agent of change sudah saatnya
bagi kita untuk membiasakan melakukan pekerjaan tanpa harus mengabaikan keselamatan diri sendiri
dan orang-orang disekitar. Mulailah dari hal yang terkecil terlebih dahulu, atau bisa dilakukan saat kita
melakukan kegiatan praktikum di laboratorium, bahkan saat mengikuti kegiatan perkuliahan di dalam
kelas. Karena kita semua setuju, membiarkan potensi ancaman keselamatan dan kesehatan saat bekerja
adalah cara memancing ikan yang buruk.