Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH AL ISLAM TENTANG AKHLAK DALAM ISLAM

KELOMPOK 8

LIDYA WURI HANDAYANI

SITI MARIAM

SRI AYUNINGSIH
JURUSAN S1 KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KALIMANTAN TIMUR

TAHUN AJARAN 2017/2018


KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami
panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah,
dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Al-Islam III tentang
akhlak dalam islam.

Makalah Al-Islam III tentang akhlak ini telah kami susun dengan maksimal dan
mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah.
Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam pembuatan makalah Al-Islam III tentang akhlak.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik
dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami
menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah Al-Islam
III tentang akhlak ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah Al-Islam III tentang akhlak dan manfaatnya
untuk masyarakat ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.

Samarinda, 10 Oktober 2017

penyusun

i
ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...................................................................................................... i

DAFTAR ISI..................................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ........................................................................................................... 1

B. Rumusan Masalah ...................................................................................................... 2

C. Tujuan ....................................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN

A. Definisi....................................................................................................................... 3

B. Ruang Lingkup Akhlak .............................................................................................. 4

C. Sunber Akhlak Islam ................................................................................................. 7

D. Manfaat Mempelajari Ilmu Akhlak ........................................................................... 9

E. Hubungan Ihsan dan Akhlak...................................................................................... 10

F. Hubungan Antar Iman, Islam dan Ihsan .................................................................... 12

G. Kedudukan Akhlak dan Islam.................................................................................... 13

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ................................................................................................................ 14

DAFTAR PUSTAKA

ii
iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Akhlak merupakan tiang yang menopang hubungan yang baik antara hamba dengan
Allah SWT (habluminallah) dan antar sesama umat (habluminannas). Akhlak yang baik
akan hadir pada diri manusia dengan proses yang panjang, yaitu melalui pendidikan akhlak.
Banyak kalangan di dunia ini menawarkan pendidikan akhlak yang mereka yakini
kebaikannya, tetapi tidak semua dari pendidikan tersebut mempunyai kaidah-kaidah yang
benar dalam Islam. Hal tersebut dikarenakan pengetahuan yang terbatas dari pemikiran
manusia itu sendiri.

Sementara pendidikan akhlak yang dibawa oleh Islam merupakan sesuatu yang benar
dan tidak ada kekurangannya. Pendidikan akhlak yang ditawarkan lslam berasal langsung
dari Allah SWT yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW melaui malaikat Jibril
dengan Al Quran dan Sunnah kepada umat Rasulullah.

Rasulullah SAW sebagai teladan yang paling baik memberikan pengetahuan akhlak
kepada para keluarga dan para sahabat Rasulullah SAW, sehingga orang-orang dekat
Rasulullah SAW mampu memiliki akhlak yang tinggi di hadapan umat lain dan akhlak
mulia di hadapan Allah. Sebagai umat Islam yang baik dan beriman kepada Allah, setiap
langkah kita sebaiknya merupakan implementasi dari keteladanan akhlak luhur yang
dimiliki Rasullullah.

Pandangan bahwa kehidupan dengan landasan akhlak adalah sesuatu yang kuno dan
ketinggalan zaman serta jauh dari kemodernan harus kita hapuskan dari pemikiran kita.
Kemunduran moral yang terjadi di seluruh penghujung dunia seharusnya menjadi
keprihatian sendiri bagi seluruh umat. Semestinya manusia sadar dan kembali kepada
fitrahnya sebagai manusia yang diciptakan Allah dengan akhlak yang mulia. Orang yang
paling sempurna keimannannya adalah orang yang baik akhlaknya. Akhlak Islam yang
mulia ini akan membawa umat untuk selamat hidupnya di dunia dan akhirat

1
B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi akhlak?
2. Bagaimana penjelasan tentang ruang lingkup akhlak dalam islam?
3. Bagaimana penjelasan tentang sunber akhlak islam?
4. Apa manfaat mempelajari ilmu akhlak?
5. Bagaimana hubungan ihsan dan akhlak?
6. Bagaimana hubungan antara iman, islam dan ihsan?
7. Bagaimana Kedudukan akhlak dalam islam?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi akhlak
2. Untuk mengetahui ruang lingkup akhlak dalam islam
3. Untuk mengetahui sunber akhlak islam
4. Untuk mengetahui manfaat mempelajari ilmu akhlak
5. Untuk mengetahui hubungan ihsan dan akhlak
6. Untuk mengetahui hubungan antara iman, islam dan ihsan
7. Untuk mengetahui kedudukan akhlak dalam islam

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi Akhlak

Kata akhlak berasal dari bahasa Arab khuluq yang jamaknya akhlak. Menurut
bahasa, akhlak adalah peragai, tabiat, dan agama. Kata tersebut mengandung segi-segi
persesuaian dengan perkataan khalq yang berarti “kejadian”, serta erat hubungannya
denga kata khaliq yang berarti “Pencipta” dan makhluq yang berati “yang diciptakan”
(Rosihon Anwar 2010:11).

Khuluq adalah ibarat dari kelakuan manusia yang membedakan baik dan buruk, lalu
disenangi dan dipilih yang baik untuk dipraktekkan dalam perbuatan, sedang yang buruk di
benci dan dihilangkan. (Marzuki 2012:173 (Ainan, 1985:186).

Akhlak adalah buah dari keimanan dan keistiqomahan seseorang dalam menjalankan
ibadah. Selain itu ada beberapa ulama yang juga menjabarkan pengertian akhlak
sebagaimana ibnu Miskawaih menyebutkan bahwa akhlak adalah keadaan jiwa atau sifat
seseorang yang medorong melakukan sesuatu tanpa perlu mempertimbangkannya terlebih
dahulu. Terkadang definsi akhlak (moral) sebagaimana disebutkan atas dalam batas-batas
tertentu berbaur dengan definisi kepribadian, hanya saja perbedaan yang pokok antara

3
keduanya sebagai moral lebih terarah pada kehendak dan diwaranai dengan nilai-nilai dan
kepribadian mencakup pengaruh fenomena sosial bagi tingkah laku.

Demikian para pakar ilmu-ilmu sosial mendefinisikan akhlak (moral). Ada sebuah
definisi ringkas yang bagus tentang akhlak (moral) dalam kamus la Lande, yaitu moral
mempunyai empat makna berikut:

1. Moral adalah sekumpulan kaidah bagi perilaku yang diterima dalam satu zaman atau
oleh sekelompok, buruk, atau rendah.
2. Moral adalah sekumpulan kaidah bagi perilaku yang dianggap baik berdasarkan
kelayakan bukannya berdasarkan syarat.
3. Moral adalah teori akal tentang kebaikan dan keburukan, ini menurut filsafat.
4. Tujuan-tujuan kehidupan yang mempunyai warna humanisme yang kental yang tercipta
dengan adanya hubungan-hubungan sosial. (Ali Abdul Halim mahmud, 2004: 27).

Abul A’la al-Maududi membagi sistem moralitas menjadi dua. Pertama, sistem
moral yang berdasar kepada kepercayaan kepada Tuhan dan kehidupan setelah mati. Kedua,
sistem moral yang tidak mempercayai Tuhan dan timbul dari sumber-sumber sekuler
(Marzuki, 2013:175 (al-Maududi, 1971:9)

Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang telah tertanam kuat dalam jiwa seseorang,
sehingga telah menjadi kepribadiannya. Jika kita mengatakan bahwa si A misalnya sebagai
orang yang berakhlak dermawan, maka sikap dermawn tersebut telah mendarah daging,
kapan dan di manapun sikapnya itu dibawanya, sehingga menjadi identitas yang
membedakan dirinya dengan orang lain. Jika si A tersebut kadang-kadang dermawan dan
kadang-kadang bakhil, maka si A tersebut belum dapat dikatakan sebagai seorang yang
dermawan. Demikian juga jika kepada si B kita mengatakan bahwa ia termasuk orang yang
taat beribadah, maka sikap taat beribadah tersebut telah dilakukannya di manapun ia berada.
(Nata, Abuddin 2011:4-5)

B. Ruang Lingkup Akhlak

4
Dalam perkembangan selanjutnya akhlak tumbuh menjadi suatu ilmu yang berdiri
sendiri, yaitu ilmu yang memiliki lingkup pokok bahasan, tujuan, rujuakn, aliran dan para
tokoh yang mengembangkannya. Kedemua aspek yang terkandung dalam akhlak ini
kemudian membentuk satu kesatuan yang saling berhubungan dan membentuk suatu ilmu.
(Nata Abuddin 2011:7).

Objek ilmu akhlak adalah perilaku manusia, dan penetapan nilai perilaku sebagai
baik atau buruk. Melihat secara lahiriyah perilaku manusia dapat digolongkan menjadi

1. Perilaku yang lahir dengan kehendak dan disengaja.


2. Perilaku yang lahir tanpa kehendak dan tanpa disengaja

Jenis perilaku yang pertama yakni yang lahir dengan kehendak dan disengaja, inilah
perilaku yang menjadi objek dari ilmu akhlak. Jenis yang kedua tidak menjadi objek ilmu
akhlak sebab perilaku-perilaku yang lahir tanpa kehendak manusia (seperti gerakan reflek
mengedipkan mata karena ada benda akan masuk) tidak menjadi kajian ilmu akhlak.

Perilaku ini tidak dapat dinilai baik atau buruk karena perilaku tersebut terjadi dengan
sendirinya tanpa dikehendaki dan tanpa disengaja. (Ajad Sudrajat, dkk 2013:92)

Menurut Rohison Anwar dalam Buku Akhlak tasawuf, mengenai ruang lingkup
akhlak, Abdullah Darraz dalam buku Dustur al-Akhlaq fi Al-Quran, membagi ruang lingkup
akhlak atas lima bagian:

1. Akhlak pribadi
a. Yang diperintahkan (al-awamir)
b. Yang dilarang (al-nawahi)
c. Yang diperbolehkan (al-muhabat)
d. Akhlak dalam keadaan darurat
2. Akhlak berkeluarga
a. Kewajibp karib dan orang tua dan anak (wajibat nahwa ushul wa al-furu)
b. Kewajiban suami dan istri (wajibat baina al-azwaj)
c. Kewajiban terhadap karib dekat (wajibat nahwa al-aqarib)

5
3. Akhlak bermasyarakat
a. Yang dilarang (al-makhdzurat)
b. Yang diperintahkan (al-awamir), dan
c. Kaidah-kaidah adab (qawa’id al-adab)
4. Akhlak bernegara
a. Hubungan antara pemimpin dan rakyat (al-‘alaqah baina al-rais wa al-sya’b)
b. Hubungan luar negeri (al-alaqah al-kharijiyyah).
5. Akhlak beragama;

a. Kewajiban terhadap Allah swt

b. Kewajiban terhadap Rasul

Menurut sistematika yang lain, ruang lingkup akhlak, antara lain:

1. Akhlak terhadap Allah SWT


2. Akhlak kepada Rasul SAW
3. Akhlak untuk diri pribadi
4. Akhlak dalam keluarga
5. Akhlak dalam masyarakat
6. Ahlak bernegara.

Akhlak dibagi berdasarkan sifatnya dan berdasarkan objeknya. Berdasarkan sifatnya,


akhlak terbagi menjadi dua bagian: (Anwar, Rosihon 2010:30-31)
1. Akhlak mahmudah (akhlak terpuji) atau akhlak karimah (akhlak yang ,mulia), di
antaranya:
a. Ridha kepada Allah SWT
b. Cinta dan beriman kepada Allah SWT
c. Beriman kepada Malaikat, Kitab, Rasul, hari Kiamat, dan takdir
d. Taat beribadah
e. Selalu menepati janji
f. Melaksanakan amanah
g. Berlaku sopan dalam ucapan dan perbuatan

6
h. Qanaah (rela terhadap pemberian Allah SWT)
i. Tawakal
j. Sabar
k. Syukur
l. Tawadhu’ (merendahkan diri) dan segala perbuatan yang baik menurut
pandangan Al-Quran dan Al-Hadis.

2. Akhlak mazhmumah (akhlak tercela) atau akhlak sayyiyah (akhlak yang jelek), di
antaranya:

a. Kufur

b. Syirik

c. Murtad

d. Fasik

e. Riya’

f. Takabur

g. Mengadu domba

h. Dengki/iri

i. Hasut

j. Kikir

k. Dendam

l. Khianat

m. Memutuskan silaturahmi

n. Putus asa

o. Segala perbuatan tercela menurut pandangan Islam.

Berdasarkan objeknya, akhlak dibedakan menjadi :

1. Akhlak kepada khalik

2. Akhlak makhluk

7
3. Akhlak terhadap Rasulullah SAW

4. Akhlak terhadap keluarga

5. Akhlak terhadap diri sendiri

6. Akhlak terhadap sesama atau orang lain

7. Akhlak terhadap lingkungan alam

C. Sumber Akhlak Islam


Dalam Islam, dasar atau alat pengukur yang menyatakan baik-buruknya sifat
seseorang itu adalah Al-Qur’an dan As-Sunah Nabi SAW. Apa yang baik menurut Al-
Qur’an dan As-Sunah, itulah yang baik untuk dijadikan pegangan dalam kehidupan sehari-
hari. Sebaliknya, apa yang buruk menurut al-Qur’an dan as-Sunnah, itulah yang tidak baik
dan harus dijauhi. (M. Ali Hasan, 1978:11)

Dasar akhlak yang dijelaskan dalam al-Qur’an yang Artinya: ”Sesungguhnya telah
ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang
mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.
(Q.S.al-Ahzab : 21)

Sedangkan dalam Alquran hanya ditemukan bentuk tunggal dari akhlak yaitu khuluq
(QS. Al Qalam (68): 4) (Marzuki:2012)

‫ع ِظيْم ُخلُق لعلى وإنَّك‬

“Dan sungguh-sungguh engkau berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al Qalam (68): 4)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

‫ُخلُق أحْ سنُ ُه ْم ِإيْمانا ال ُمؤْ ِمنِيْن أ ْكم ُل‬

Artinya: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik
akhlaknya.” (HR. At-Tirmidzi). Sungguh Rasulullah memiliki akhlak yang sangat mulia.
Segala perbuatan dan perilaku Beliau berpedoman pada Al Quran. Aisyah memberikan
gambaran yang sangat jelas akan akhlak beliau dengan mengatakan:
8
‫القُ ْرآن ُخلُقُهُ كان‬

Artinya: “Akhlak beliau adalah Al Quran.” (HR Abu Dawud dan Muslim)

Maksud perkataan ‘Aisyah adalah bahwa segala tingkah laku dan tindakan Rasul, baik
yang lahir maupun batin senantiasa mengikuti petunjuk dari al-Qur’an. Al-Qur’an selalu
mengajarkan umat Islam untuk berbuat baik dan menjauhi segala perbuatan yang buruk.
Ukuran baik dan buruk ini ditentukan oleh Al-Qur’an. (A. Zainuddin dan Muhammad
Jamhari 1999:74)
Setiap orang yang dekat dengan Rasulullah SAW dalam akhlaknya maka ia dekat dengan
Allah, sesuai kedekatannya dengan beliau. Setiap orang yang memiliki
kesempurnaan akhlak tersebut, maka ia pantas menjadi seorang raja yang ditaati yang
dijadikan rujukan oleh seluruh manusia dan seluruh perbuatannya dijadikan panutan.
Sementara orang yang tak punya seluruh akhlak tersebut, maka ia bersifat dengan lawannya,
sehingga ia pantas terusir dari seluruh negeri dan oleh manusia. Karena ia sudah dekat
dengan setan yang terlaknat dan terusir, sehingga ia harus diusir. (Mahmud, Ali Abdul
Halim 2004:31)

Dasar akhlak dari hadits yang secara eksplisit menyinggung akhlak tersebut yaitu sabda
Nabi:

‫ارم ِِلُت ِمم ب ُِعثْتُ اِنَّما‬


ِ ‫ْاِل ْخَلق مك‬

Artinya : “Bahwasanya aku (Rasulullah) diutus untuk menyempurnakan keluhuran


akhlak”. (HR. Ahmad)

D. Manfaat Mempelajari Ilmu Akhlak

Dengan mempelajari ilmu akhlak, diharapkan setiap muslim mampu mengaplikasikan


ajaran-ajaran terpuji yang bersumber dari Alquran dan Al Hadits. Berkenaan dengan hal ini
dalam kutipan buku “Akhlak Tasawuf” krangan Abudin Nata, Ahmad Amin mengatakan
sebagai berikut:

9
Tujuan mempelajari ilmu akhlak dan permasalahannya menyebabkan kita dapat
menetapkan sebagian perbuatan lainnya sebagian yang baik dan sebagian yang buruk.
Bersikap adil termasuk baik, sedangkan berbuat zalim termasuk perbuatan buruk, membayar
hutang kepada pemiliknya termasuk perbuatan baik , sedangkan mengingkari hutang
termasuk perbuatan buruk.

Selanjutnya Mustafa Zahri mengatakan bahwa tujuan perbaikan akhlak itu, ialah untuk
membersihkan kalbu dari kotoran-kotoran hawa nafsu dan amarah sehingga hati menjadi
suci bersih bagaikan cermin yang dapat menerima nur cahaya tuhan. (Abudin Nata 1996: 13)
Keterangan tersebut memberi petunjuk bahwa ilmu akhlak berfungsi memberikan panduan
kepada manusia agar mampu menilai dan menentukan suatu perbuatan untuk selanjutnya
menetapkan bahwa perbuatan tersebut termasuk perbuatan yang baik dan buruk. (Abudin
Nata 1996: 14)

Perbuatan-perbuatan baik yang sesuai dengan norma-norma ajaran Islam lahir dari cinta
yang tulus dan sempurna kepada Allah yang mendalam dalam hati seorang mukmin. Hamka
mengemukakan pendapat Imam Ghazali yang menyatakan bahwa yang mendorong hati
seseorang berbuat baik adalah: (Ajad Sudrajat, dkk 2013:103 (Asmaraman 2004:148)

1. Karena bujukan atau ancaman dari orang yang diingini rahmatnya atau ditakuti
siksanya.

2. Mengharap pujian dari yang akan memuji, atau menakuti celaan dari yang akan
mencela.

3. Mengerjakan kebaikan karena memang dia baik, dan Bercita-cita hendak menegakkan
budi yang utama.

Tujuan lain dari mempelajari akhlak adalah mendorong kita menjadi orang-orang
yang mengimplementasikan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari. Ahmad Amin
menjelaskan etika (akhlak) tidak dapat menjadikan semua manusia baik. Kedudukannya
hanya sebagai dokter. Ia menjelaskan kepada pasien tentang bahaya minuman keras dan
dampak negatifnya terhadap akal. Si pasien boleh memilih informasi yang disampaikan
dokter tersebut: meninggalkannya agar tubuhnya sehat atau tetap meminumnya dan dokter
tidak dapat mencegahnya. Etika tidak dapat menjadikan manusia baik atau buruk. Etika

10
tidak akan bermanfaat apa-apa jika petunjuk-petunjuknya tidak diikuti. Tujuan etika bukan
hanya sebagai teori, tetapi juga mempengaruhi dan mendorong kita supaya membentuk
hidup suci serta menghasilkan kebaikan dan kesempurnaan. (Anwar, Rosihon 2010:29)

Akhlak yang mulia juga berguna dalam mengarahkan dan mewarnai berbagai
aktivitas kehidupan manusia di degala bidang. Seseorang yang memiliki ilmu pengetahuan
dan teknologi yang maju yang disertai dengan akhlak yang mulia, niscaya ilmu pengetahuan
dan teknologi modern yang ia milikinya itu akan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk
kebaikan hidup manusia. Sebaliknya orang yang memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi
modern, memiliki pangkat, harta, kekuasaan dan sebagainya namun tidak disertai dengan
akhlak yang mulia, maka semuanya itu akan disalahgunakan yang akibanya akan
menimbulkan bencana di muka bumi. (Nata, Abuddin 2011:15)

Dengan demikian Ilmu akhlak bertujuan sebagai pedoman atau pun penerang bagi
kaum manusia dalam mengetahui perbuatan yang baik atau yang buruk. Perbuatan baik
membutuhkan pembiasaan setiap hari. Berusaha melakukan perbuatan yang baik dan
berusaha menjauhi perbuatan yang buruk. Perbuatan yang baik akan banyak halangannya.
Berbekal akhak yang mulia, seorang mukmin akan semakin teruji dan menjadi insan yang
terpuji.

E. Hubungan Ihsan dan Akhlak

Ihsan dan akhlaq mempunyai hubungan yang sangat erat, di mana kita bisa
mengatakan bahwa akhlak yang baik merupakan cerminan atau output dari ihsan, manusia
bisa dikatakan mencapai derajat ihsan manakala manusia tersebut menunjukkan akhlaq yang
sangat terpuji dan berusaha menghindari dosa-dosa baik kecil maupun besar, berusaha
meraih maghfirah Allah, menjadi suri tauladan bagi sekelilingnya dan menjadi cahaya
atau nur bagi sekitarnya. Derajat ihsan merupakan derajat tingkah laku tertinggi untuk
lingkup manusia.

Manusia yang ihsan merupakan manusia yang sudah pasti memiliki akhlaq yang
agung, sedangkan orang yang berakhlaq baik apalagi buruk belum tentu mencapai
derajat ihsan. Islam, Iman dan Ihsan adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan satu

11
dengan lainnya. Iman adalah keyakinan yang menjadi dasar akidah. Keyakinan tersebut
kemudian diwujudkan melalui pelaksanaan kelima rukun Islam. Sedangkan pelaksanaan
rukun Islam dilakukan dengan cara ihsan, sebagai upaya pendekatan diri kepada Allah.

Untuk mempelajari ketiga pokok ajaran agama tersebut, para ulama


mengelompokkannya lewat tiga cabang ilmu pengetahuan. Rukun Islam berupa praktek
amal lahiriah disusun dalam ilmu Fiqh, yaitu ilmu mengenai perbuatan amal lahiriah
manusia sebagai hamba Allah. Iman dipelajari melalui ilmu Tauhid (teologi) yang
menjelaskan tentang pokok-pokok keyakinan. Sedangkan untuk mempelajari ihsan sebagai
tata cara beribadah adalah bagian dari ilmu Tasawuf.

Dalam QS Ali-Imran ayat 19 yang Artinya: “Sesungguhnya agama (yang diridhai)


disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali
sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara
mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat
cepat hisab-Nya.”

Di dalam ayat tersebut dijelaskan kata Islam dan selalu diikuti dengan kata addin
yang artinya agama. Addin terdiri atas 3 unsur yaitu, iman, Islam, dan ihsan. Dengan kata
lain dapat dinyatakan bahwa iman merupakan keyakinan yang membuat seseorang ber-Islam
dan menyerahkan sepenuh hati kepada Allah dengan menjalankan syareatnya dan
meninggalkan segala yang dilarang oleh syariat Islam.

Selain itu iman, islam, dan ihsan sering juga diibaratkan hubungan diantara
ketiganya adalah seperti segitiga sama sisi yang sisi satu dan sisi lainya berkaitan erat.
Segitiga tersebut tidak akan terbentuk kalau ketiga sisinya tidak saling mengait. Jadi
manusia yang bertaqwa harus bisa meraih dan menyeimbangkan antara iman, islam dan
ihsan.

F. Hubungan Antara Iman, Islam, Dan Ihsan

Disamping adanya hubungan diantara ketiganya, juga terdapat perbedaan


diantaranya yaitu Islam merupakan sikap untuk berbuat dan beramal, dan Ihsan merupakan

12
pernyataan dalam bentuk tindakan nyata. Dan dengan ihsan, seseorang bisa diukur tipis atau
tebal iman dan islamnya.

Islam dan iman bila disebutkan secara bersamaan, maka yang dimaksud dengan
Islam adalah amal perbuatan yang nampak, yaitu rukun Islam yang lima, dan pengertian
iman adalah amal perbuatan yang tidak nampak, yaitu rukun iman yang enam. Dan bila
hanya salah satunya (yang disebutkan) maka maksudnya adalah makna dan hukum
keduanya.

Ruang lingkup ihsan lebih umum daripada iman, dan iman lebih umum daripada
Islam. Ihsan lebih umum dari sisi maknanya, karena ia mengandung makna iman. Seorang
hamba tidak akan bisa menuju martabat ihsan kecuali apabila ia telah merealisasikan iman
dan ihsan lebih spesifik dari sisi pelakunya, karena ahli ihsan adalah segolongan ahli iman.
Maka, setiap muhsin adalah mukmin dan tidak setiap mukmin adalah muhsin.

Iman lebih umum daripada Islam dari maknanya, karena ia mengandung Islam.
Maka, seorang hamba tidak akan sampai kepada tingkatan iman kecuali apabila telah
merealisasikan Islam dan iman lebih spesifik dari sisi pelakunya, karena ahli iman adalah
segolongan dari ahli Islam (muslim), bukan semuanya. Maka, setiap mukmin adalah muslim
dan tidak setiap muslim adalah mukmin. Di antara perbendaharaan kata dalam
agama Islam ialah iman, Islam dan ihsan.

Berdasarkan sebuah hadits, ketiga istilah itu memberi umat Islam (Sunni) ide
tentang Rukun Iman yang enam. Rukun Islam yang lima dan ajaran tentang penghayatan
terhadap Tuhan Yang Maha Hadir dalam hidup.

Setiap pemeluk Islam mengetahui dengan pasti bahwa Islam (al-Islam) tidak
absah tanpa iman (al-iman), dan iman tidak sempurna tanpa ihsan (al-ihsan). Sebaliknya,
ihsan adalah mustahil tanpa iman, dan iman juga tidak
mungkin tanpa inisial Islam. Ternyata pengertian antara ketiga istilah itu terkait
satu dengan yang lain, sehingga setiap satu dari ketiga istilah itu mengandung makna dua
istilah yang lainnya. Dalam iman terdapat Islam dan ihsan, dalam Islam terdapat iman
dan ihsan dan dalam ihsan terdapat iman dan Islam. Dari sudut pengertian inilah kita
melihat iman, Islam dan ihsan sebagai trilogi ajaran Ilahi.

13
G. Kedudukan Akhlak Dalam Islam

Akhlak mendapat kedudukan yang tinggi dalam Islam, ini dapat dilihat dari beberapa
sebab:

1. Islam telah menjadikan akhlak sebagai illat (alasan) kenapa agama Islam diturunkan.
Hal ini jelas dalam sabda Rasulullah: Maksudnya: Aku diutus hanyalah semata-mata
untuk menyempurnakan akhlak-akhlak yang mulia.
2. Islam menganggap orang yang paling tinggi darjat keimanan ialah mereka yang
paling mulia akhlaknya. Dalam hadis telah dinyatakan: Maksudnya: Telah dikatakan
Ya Rasulullah, mukmin yang manakah paling afdhal imannya, Rasulullah s.a.w.
bersabda orang yang paling baik akhlaknya antara mereka.
3. Islam telah mentakrifkan “Addin” dengan akhlak yang baik. Dalam hadis telah
dinyatakan bahawa telah bertanya kepada Rasulullah s.a.w. Maksudnya: Apakah
Addin itu? Sabda Rasulullah, akhlak yang baik Ini bererti bahawa akhlak itu
dianggap sebagai rukun Islam.
4. Islam menganggap bahawa akhlak yang baik adalah merupakan amalan yang utama
dapat memberatkan neraca amal baik di akhirat kelak. Hal ini telah dinyatakan
dengan jelasnya dalam hadis Rasulullah: “Perkara yang lebih berat diletakkan dalam
neraca hari akhirat ialah takwa kepada Allah dan akhlak yang baik”.
5. Dalam ajaran Islam dinyatakan bahawa mereka yang berjaya memenangi kasih
sayang Rasulullah dan mendapat sesuatu kedudukan yang hampir dengan Rasulullah
pada hari akhirat ialah orang yang lebih baik akhlaknya. Dalam hadis Rasulullah
s.a.w. telah bersabda: Maksudnya: Yang paling aku kasihi di antara kamu dan yang
paling dekat kedudukannya padaku di hari akhirat orang yang paling baik akhlaknya
di antara kamu”.

14
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Akhlak merupakan bekal diri yang membawa kebaikan dan keberuntungan bagi mereka
yang mengerjakannya. Akhlak yang ditawarkan Islam berdasar pada nilai-nilai Al-Quran dan Al-
Hadis. Dalam pelaksanaannya, Akhlak Islam perlu dijabarkan oleh pemikiran-pemikiran
manusia melalui usaha ijtihad.

Dengan akhlak Islam, manusia diharapkan dapat menempuh jalan yang baik. Jalan yang
sesuai ajaran-ajaran Islam, pandangan akal tentang kebaikan dan keburukan. Memiliki akhlak
islam, manusia akan dapat kebersihan batin yang membawanya melakukan perilaku terpuji.
Dengan perilaku terpuji akan melahirkan keadaan antar umat menjadi harmonis, damai
serta sejahtera lahir dan batin. Sehingga setiap aktivitas akan dilakukan karena untuk
mendapatkan kerahmatan Allah yang akan membawa insan mencapai kebahagiaan hidup di
dunia dan di akhirat.

Dapat dikatakan bahwa Akhlak Islam bertujuan memberikan pedoman atau penerangan
bagi manusia untuk mengetetahui perbuatan yang baik dan buruk. Terhadap perbuatan yang baik
ia berusaha melakukannya dan terhadap perbuatan yang buruk ia berusaha menghindarinya.

15
DAFTAR PUSTAKA

http://www.gudangnews.info/2015/02/makalah-pendidikan-agama-islam-tenatang.html

Ilyas,Yunahar

16