Anda di halaman 1dari 2

Menjaga Optimisme Kebangkitan Industri Baja Nasional

Berbicara peranan industri baja di suatu negara, sangat erat kaitannya dengan kekuatan negara tersebut.
Bagaimana tidak industri baja turut berperan serta menopang kekuatan ekonomi untuk aplikasi sipil
seperti infrastruktur, peralatan pabrik, wahana transportasi dan juga alat berat; serta kekuatan
pertahanan untuk aplikasi alutsista semisal kapal perang , rantis, senjata berat maupun ringan.

Tak hanya menopang kekuatan ekonomi dan kekuatan pertahanan, besarnya kontribusi konsumsi industri
baja di suatu negara juga berbanding lurus dengan kemajuan dari negara tersebut. Berdasarkan data yang
diambil dari SEAISI 2013, konsumsi baja per kapita Indonesia relatif rendah jika dibandingkan dengan
negara lainnya di Asia.

Industri yang memiliki karakteristik high investment, high energy consumption, high material consumption
dan high transportation ini sedang dihadapi oleh meningkatnya kebutuhan baja nasional. Konsumsi baja
nasional pada tahun 2016 meningkat tajam sebesar 12,67 juta ton setelah mengalami penurunan di tahun
2015 yang hanya mencapai 11,37 juta ton. Berdasarkan data yang diambil dari FGD Penyelerasan Road
Map Industri & Pasar Baja Nasional, pada tahun 2020 konsumsi baja nasional terus meningkat dan
ketergantungan terhadap produk impor semakin meningkat. Pada tahun 2020 konsumsi baja nasional
diperkirakan mencapai 27 juta ton. Sehingga mau tidak mau industri baja domestik harus tumbuh dan
berkembang agar ketergantungan terhadap produk impor dapat dikurangi.
Seiring meningkatnya national interest di sektor ketersedian pasokan energi listrik dan gas, keseimbangan
supply-demand hulu hilir, penggunaan produk dalam negeri serta pembatasan impor produk jadi, national
interest terhadap industri baja nasional perlu mendapatkan perhatian lebih mengingat kondisi dan
persaingan global. Roadmap pertembuhan industri stategis ini juga harus memperhatikan struktur
fundamental, proyeksi supply demand, kapasitas, dan teknologi. Dalam kondisi seperti ini negara harus
tetap optimis membangkitkan industri baja domestik demi menopang pembangunan bangsa untuk masa
yang akan datang.

Optimisme tersebut didasarkan pada pertumbuhan ekonomi nasional yang terus mengalami perbaikan.
Badan Pusat Statistik mencatat, pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I tahun 2017 sebesar 5,01
persen atau naik dibandingkan pertumbuhan kuartal I-2016 sekitar 4,92 persen. Capaian tersebut juga
lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kuartal IV-2016 sebesar 4,94 persen.

Demi menjaga optimisme tersebut, pemerintah kemudian membuat langkah strategis dengan membuat
program Road to 10 Million Ton Cilegon Steel Cluster dimana produksi baja domestik akan dioptimalkan
sejumlah 10 juta ton, yang tentunya dapat memberikan multiplier effect melalui penciptaan lapangan
pekerjaan, pemenuhan bahan baku industri dalam negeri, dan memberikan manfaat kepada
perekonomian nasional. Berkaca dari hal tersebut sudah selayaknya pemerintah berupaya melindungi dan
memajukan industri baja di dalam negeri, antara lain dengan pemberian insentif berupa tax holiday, tax
allowance, dan masterlist barang modal atau pembebasan bea masuk atas bea masuk masterlist. Langkah
sinergi antara pemerintah dan pemangku kepentingan sangatlah dinanti untuk mewujudkan industri baja
nasional yang maju dan berdaya saing. Agar pada akhirnya, visi Indonesia mandiri impor baja 2025 tidak
menguap menjadi wacana belaka.