Anda di halaman 1dari 2

Semangat Baru Menuju Indonesia yang Makin Berdaulat

Babak baru perundingan Pemerintah Indonesia dengan PT. Freeport Indonesia (PTFI)
membawa angin segar atas terwujudnya impian Negara Indonesia untuk menjadi Negara yang
mandiri dan berdaulat di Negeri sendiri. Pemerintah Indonesia bersama Kementrian ESDM
telah menyelesaikan perundingan dengan PTFI lebih cepat 2 bulan dari target pada bulan
Oktober 2017. Dilansir dalam laman web Kementrian ESDM (31/8), bahwa sesuai dengan
arahan Presiden Joko Widodo perundingan pemerintah dengan PTFI diselesaikan dengan
sebaik-baiknya dengan berbagai upaya semaksimal yang bisa dilakukan, telah disepakati
beberapa hal, walaupun ini tidak mudah negosiasinya.

Kilas Balik

Kurang lebih 50 tahun kekayaan akan sumber daya mineral dan hasil tambang Tanah Papua di
Indonesia sudah lama dieksplorasi oleh perusaan raksasa tersebut. Jika mengulas kembali
pada tahun 2014 silam, rasanya seperti diberikan harapan kosong. Pemerintah mengeluarkan
PP nomor 77 Tahun 2014 tentang Perubahan ketiga PP Nomor 23 Tahun 2010. Freeport
diwajibkan untuk mendivestasikan saham minimal 30%, membayar bea keluar dan membangun
smelter. Akan tetapi, hingga saat ini fasilitas pemurnian tersebut belum juga terselesaikan
sesuai dengan kapasitas tertentu sebagaimana mestinya. Ditambah lagi saat ini hanya 9,36%
saham dari perusahaan tersebut yang baru dikuasai pemerintah hingga saat ini.

Semangat Baru

Harapan baru, semangat baru. Kini semangat baru ini mencuat semenjak diberlakukannya
Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2017. Bahwa pemerintah mewajibkan divestasi saham
sebesar 51%. Persentase ini lebih besar dari minimal 30%. Puncaknya, kesepakatan final pada
pertemuan hari Minggu (27/8) membuahkan 5 poin penting yaitu:

1. Landasan hukum yang mengatur hubungan antara Pemerintah dan PT Freeport


Indonesia akan berupa Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK), bukan berupa
Kontrak Karya (KK).

2. Divestasi saham PT Freeport Indonesia sebesar 51% untuk kepemilikan Nasional


Indonesia. Hal-hal teknis terkait tahapan divestasi dan waktu pelaksanaan akan dibahas
oleh tim dari Pemerintah dan PT Freeport Indonesia.

3. PT Freeport Indonesia membangun fasilitas pengolahan dan pemurnian atau smelter


selama 5 tahun, atau selambat-lambatnya sudah harus selesai pada 2022, kecuali
terdapat kondisi force majeur.

4. Stabilitas Penerimaan Negara. Penerimaan negara secara agregat lebih besar


dibanding penerimaan melalui Kontrak Karya selama ini, yang didukung dengan jaminan
fiskal dan hukum yang terdokumentasi untuk PT Freeport Indonesia.
5. Setelah PT Freeport Indonesia menyepakati 4 poin di atas, sebagaimana diatur dalam
IUPK maka PT Freeport Indonesia akan mendapatkan perpanjangan masa operasi
maksimal 2x10 tahun hingga tahun 2041.

Dengan semangat kerja bersama 72 Tahun Indonesia tentu semua berharap, kelima poin hasil
perundingan diatas tentunya dapat mengakhiri bola panas negosiasi kontrak PTFI yang tak
kunjung padam, dan hingga pada akhirnya semangat ini harus terus dijaga untuk pengelolan
sumber daya alam yang makin berdaulat.

Referensi :

https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/kesepakatan-final-perundingan-antara-
pemerintah-dan-pt-freeport-indonesia