Anda di halaman 1dari 18

PROPOSAL PENELITIAN

PENGARUH PERMAINAN WALKING GLASS TERHADAP PENINGKATAN

AKTIVITAS KEBUGARAN JASMANI SISWA SMP NEGERI 41

PALEMBANG

1. Latar Belakang

2. Masalah Penelitian

2.1 Batasan Lingkup Masalah

Dengan melihat banyaknya permasalahan yang muncul dalam identifikasi

masalah tersebut di atas dan didasarkan pada pertimbangan keterbatasan

kemampuan peneliti, maka peneliti hanya akan membahas atau mengkaji pada satu

permasalahan yaitu tentang pengaruh permainan walking glass terhadap peningkatan

aktivitas kebugaran jasmani siswa SMP Negeri 41 Palembang.

2.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan batasan masalah di atas, maka dapat dirumuskan

rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “adakah pengaruh permainan walking

glass terhadap peningkatan aktivitas kebugaran jasmani siswa SMP Negeri 41

Palembang?

1
2

3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang telah ditemukan, maka tujuan penelitian ini

adalah untuk mengetahui pengaruh permainan walking glass terhadap peningkatan hasil

belajar kebugaran jasmani di SMP Negeri 41 Palembang.

4. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dalam penelitian ini adalah :

1. Manfaat Teoritis

Berguna bagi mahasiswa yaitu sebagai sumber ilmu pengetahuan, dalam

meningkatkan proses pembelajaran dalam pendidikan jasmani, olahraga dan

kesehatan atau dalam proses pemberian pelatihan bagi anak-anak SMP

khususnya pemberian permainan walking glass guna meningkatkan kebugaran

jasmani siswa.

2. Manfaat Praktis

a. Memberikan informasi kepada sekolah, guru, dan wali murid tentang keadaan

tingkat kebugaran jasmani siswa.

b. Sebagai bahan pertimabangan bagi guru dalam proses pembelajaran,

sehingga proses pembelajaran dapat meningkatkan kebugaran jasmani siswa.

c. Sebagai bahan pertimbangan para guru dan orang tua siswa SMP dalam

mengambil langkah-langlah yang tepat dan benar dalam menentukan

program-program latihan penunjang kegiatan belajar mengajar Pendidikan

Jasmani, Olahraga dan Kesehatan, sehingga dapat meningkatkan tingkat

kebugaran jasmani bagi siswa-siswi tesebut.

d. Bagi siswa kelas VII SMP Negeri 41 Palembang dapat mengetahui dan

9
3

memahami pengertian dan pentingnya tingkat kebugaran jasmaninya

sehingga mampu mendorong siswa untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang

dapat meningkatkan status kebugaran jasmaninya dan dapat membawa pada

kualitas kehidupan yang lebih baik.

5. Landasan Teori

5.1. Pengertian Kebugaran Jasmani

Menurut Toho (2007:5) Kebugaran jasamani adalah kesanggupan tubuh untuk

melakukan aktivitas tanpa melakukan kelelahan yang berarti. Sedangkan menurut

Muhajir (2006:79) menyatakan bahwa kebugaran jasmani adalah kesanggupan dan

kemampuan tubuh untuk melakukan penyesuaian (adaptasi) terhadap pembebanan

fisik yang diberikan kepadanya (dari kerja yang dilakukan sehari-hari) tanpa

menimbulkan kelelahan berlebihan yang berarti.

Berdasarkan pengertian ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa pengertian

kebugaran jasmani adalah kesanggupan dan kemampuan tubuh melakukan penyesuaian

terhadap pembebanan fisik yang diberikan kepadanya ( dari kerja yang dilakukan

sehari-hari) tanpa menimbulkan kelelahan yang berlebihan berarti, setiap orang

membutuhkan kebugaran jasmani yang baik, agar ia dapat melaksanakan pekerjaannya

dengan efektif dan efesien tanpa mengalami kelelahan yang berarti.

Komponen-komponen kebugaran jasmani adalah factor penentu derajat kondisi

setiap individu. Seorang dikatakan bugar jika mampu melakukan segala aktivitas

kehidupan sehari-hari tanpa mengalami hambatan yang berarti dan melakukan tugas

berikutnya dengan segera. Menurut Rusli Lutan (2011 : 63) kebugaran jasmani

memiliki dua komponen utama, yaitu : komponen kebugaran yang berkaitan dengan
4

kesehatan antara lain : kekuatan otot, daya tahan otot, daya tahan erobik, dan fleksibel ;

serta komponen kebugaran jasmani yang berkaitan dengan keterampilan anatara lain :

koordinasi, agilitas, kecepatan gerak, power dan keseimbangan.

5.1.1 Manfaat Aktivitas Pembelajaran Kebugaran Jasmani

Manfaat melakukan aktivitas pembelajaran kebugaran jasmani secara teratur dan

benar dalam jangka waktu yang cukup adalah sebagai berikut :

1. Menurunkan berat badan dan mencegah obesitas. Selain karena zat-zat makanan

atau energi berlebih yang tertimbun didalam tubuh, kegemukan dan obesitasjuga

bisa terjadi karena tubuh kurang beraktivitas.

2. mencegah penyakit jantung. Ketika tubuh berolahraga, aliran darah dari jantung

keseluruh tubuh dan dari seluruh tubuh ke jantung menjadi lebih cepat daripada saat

tubuh diam.

3. Mencegah dan mengatur penyakit diabetes. Manfaat aktivitas kebugaran jasmani

juga dapat mencegah penyakit diabetes.

4. Meningkatkan kualitas hormon: mamfaat aktivitas pembelajarankebugaran jasmani

secara tidak langsung akn meningkatkan kualitas hormon yang ada ditubuh kita

5. Menurunkan tekanan darah tinggi bisa terjadi akibat adanya ganguan kesehatan ,

termasuk penyakit jantung koroner, stroke, dan gagal jantung. Oleh karena itu,

untuk menghindarinya perlu dihindari juga penyakit- penyakit penyebapnya.

6. Menambah kepintaran: otak yang adalah otak yang sirkulasi oksigen lancer.

Olaraga mamou melancarkan sirkulasi oksingen ke otak. Itu sebapnya, olaraga

mampu menjauhkan kita dari penyakit-penyakit yang melemmahkan kerja otak

(seperti pikun dan alzeimer).


5

7. Member banyak energi: jika kamu rutin berolaraga, kamu akan bisa tidur

nyeyak,berpikir jerni, terhidar dari berbagai hal lain yang bisa menguras energi.

8. Mengurangi LDL dan menaikkan HDL: dalam suatu penelitian disebutkan bahwa

jalan kaki atau joging selama 24 hinga 32 km per minggu mampu menurunkan

“lemak jahat” (LDL= low density Lipoprotein) dan menaikan “lemak baik” (HDL=

High Density Lipoprotein)

9. Menurunkan gejala depresiringan dan kegelisahan: saat beolaragah, tubuh kita akan

merasa rileks. Inilah salah satu mamfaat pembelajaran kebugaran jasmani. Hal ini

tentu saja memegaruhi depresi.

10. Menurunkan risiko kanker tertentu. Manfaat aktivitas pembelajaran kebugaran

jasmani juga dapat menurunkan resiko kanker. Dalam suatu penelitian dikatakan

bahwa ternyata olahraga dapat menurunkan tingkat resiko kanker

11. Melindungi dari osteoporosis. Para ahli berpendapat bahwa anak-anak yang banyak

bergerak (aktif) akan memiliki tulang yang kuat.

12. Meningkatkan citra diri dan rasa percaya diri. Dalam suatu jurnal psikologi

disebutkan bahwa sekecil apapun olahraga yang meningkatkan citra diri dan rasa

percaya diri pada pelakunya.

13. Meningkatkan mood. Jika kamu sedang jenuh, olahraga adalah salah satu cara yang

bisa menghilangkannya. Sebuah study mengatakan bahwa olahraga erobik dapat

mengurangi ketegangan dan membuat kita semangat lagi.

14. Membuat awet muda . manfaat aktivitas pembelajaran kebugaran jasmani membuat

orang tampak muda.


6

15. Membuat anak-anak selalu aktif. Dalam suatu penelitian diungkapkan bahwa

ternyata orangtua yang rajin berolahraga akan membuat anak-anaknya selalu aktif

dan ceria. (Kementrian Pendidikan dan kebudayaan 2014 : 125)

5.1.2 Bentuk-bentuk aktivitas pembelajaran kebugaran jasamani

Aktivitas kebugaran jasmani merupakan salah satu syarat yang sangat

diperlukan dalam usaha peningkatan kebugaran jasmani seseorang, dapat dikatakan

sebagai keperluan dasae yang tidak dapat diabaikan . karena banyaknya macam sikap

gerak yang harus dilakukan, maka perlu disiapkan berbagai unsure kondisi fisik sebaik-

baiknya. Untuk mencapai hal tersebut, unsur-unsur kebugaran jasmani perlu dilatih.

Unsur-unsur kebugaran jasmani antara lain : (1) kekuatan (strength), (2) daya (power),

(3) kecepatan (speed), (4) kelenturan (flexibility), (5) kelincahan (agility), (6) daya

tahan (endurance), dan (7) daya tahan kecepatan (stamina). (Kementrian Pendidikan dan

kebudayaan 2014 : 127)

Bentuk-bentuk aktivitas pembelajaran tersebut sebagai berikut :

1. Aktivitas Pembelajaran Kekuatan

Kekuatan adalah ketegangan yang terjadi atau kemampuan otot untuk suatu

ketahanan akibat suatu beban. Beban tersebut dapat dari bobot badab sendiri atau

dari luar (external resistance). Kekuatan adalah kemampuan otot untuk melakukan

kontraksi guna membangkitkan ketegangan terhadap suatu tahanan. Kekuatan otot

adalah komponen yang sangat penting untuk meningkatkan kondisi fisik secara

keseluruhan. Berikut bentuk-bentuk aktivitas pembelajaran kekuatan secara

sederhana :

a. Aktivitas pembelajaran kekuatan otot perut.

b. Aktivitas Pembelajaran Kekuatan Otot Kedua Lengan


7

c. Aktivitas Pembelajaran Kekuatan Otot Punggung

d. Aktivitas Pembelajaran Kekuatan Otot Lengan

e. Aktivitas Pembelajaran Kekuatan Otot Tungkai (Naik Turun Bangku)

2. Aktivitas Pembelajaran Daya Tahan Otot

Daya tahan otot adalah kemampuan otot-otot untuk melakukan tugas gerak yang

membebani otot dalam waktu yang cukup lama. Salah satu bentuk aktivitas

pembelajaran daya tahan otot adalah aktivitas pembelajaran weight training

(aktivitas pembelajaran beban). Bentuk-bentuk aktivitas pembelajaran daya tahan

otot secara sederhana antara lain :

a. Aktivitas Pembelajaran Daya Tahan Otot Lengan dan Bahu

b. Aktivitas Pembelajaran Daya Tahan Otot TUngkai

c. Aktivitas Pembelajaran Daya Tahan Otot Lengan berpasangan

d. Aktivitas Pembelajaran Daya Tahan Otot Lengan (Naik Palang TUngkai)

3. Aktivitas Pembelajaran Daya Tahan Erobik

Daya tahan adalah kemampuan seseorang untuk melakukan kerja dalam waktu

yang relatif lama. Istilah lainnya yang sering digunakan ialah respirato

4. Aktivitas pembelajaran Kelenturan

5.3 Permainan Walking Glass

Permainan walking glass merupakan jenis permainan aktif dimana pelaku secara

aktif terlibat dalam permainan itu sendiri, dalam permainan ini pelaku benar-benar

berperan secara aktif dengan melibatkan berbagai aspek dari pelaku untuk merespon,

aspek-aspek yang terlibat tersebut antaranya adalah aspek fisik (psikomotor), kognitif
8

dan afektif. (Pepen Supendi 2016 : 22). Oleh karena itu, dengan melakukan aktifitas ini,

tidak hanya fisik saja yang terlatih, tetapi juga aspek kognitif dan afektifpun

memperoleh manfaatnya.

5.3.1 Persiapan alat dan bahan dalam permainan walking glass

 Pancangkan sepasang tiang diatas tanah dengan jaraj antara kedua pancang sekitar

5 meter atau lebih.

 Lubangi bagian dasar gelas plastik pada bagian tengahnya dengan menggunakan

paku atau benda tajam lainnya sehingga bisa dilalui benang plastik dengan leluasa.

 Masukan benang kedalam lubang yang terdapat pada dasar gelas plastik, lallu ikat

kedua ujung benang tersebut pada masing-masing tiang yang terpancang. Jika

ditiup gelas akan bergerak melalui benang tersebut. Jika dilakukan didalam

ruangan tali bisa diikatkan ke tiang / paku ruangan

 Setiap kelompok menempati seperangkat peralatan ini sehingga peralatan ini dibuat

dengan jumlah anggota yang ada. (Pepen Supendi 2016 : 42).

5.3.2 Cara bermain permainan walking glass:

1. Bagi peserta menjadi bebrapa kelompok, tiap kelompok terdiri dari 4-6 anggota

2. Setiap kelompok menempati eperangkat peralatan lomba yang telah disediakan.

Anggota kelompok menempati posisinya disepanjang benang yang

menghubungkan kedua tiang.

3. Sebelum lomba dimulai, tempatkan gelas plastik didekat tiang yang menjadi garis

star.

4. Setelah aba-aba dimulai, setiap anggota kelompok berlomba untuk menggerakan

gelas plastik tersebut menuju garis finish secepat mungkin. Peserta hanya
9

diperbolehkan meniup gelas plastik tersebut dengan mulutnya , tanpa bantuan alat

lainnya.

5. Kelompok yang berhasil memindahkan gelas plastik sampai ke tiang finish dalam

waktu singkat, berhak mendapatkan posisi sebagai pemenang. (Pepen Supendi

2016 : 43).

5.3.3 Manfaat permainan walking glass :

Dengan melakukan permainan ini , peserta akan dilatih untuk dapat mengatur

strategi penempatan tiap anggota kelompok berdasarkan jarak dari garis start ke finish,

melatih kecekatan dan ketangkasan serta permainan ini sangat menghibur dan bagus

untuk selingan ketika suasana mulai membosankan (Pepen Supandi 2016 : 43)

5.4 Hipotesis Penelitian

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah “ada pengaruh yang

signifikan permainan walking glass terhadap peningkatan aktifitas kebugaran jasmani.

6. Metodelogi Penelitian

6.1 Variabel dan Definisi Operasional Variabel

6.1.1 Variabel Penelitian

Variabel adalah gejala yang bervariasi dan menjadi objek dalam suatu

penelitian Arikunto (2006: 116). Sesuai dengan judul penelitian ini, penelitian ini terdiri

dari beberapa variabel. Variabel dalam penelitian ini terdiri atas :

1). Variabel bebas (independen) yaitu variabel yang mempengaruhi variabel yang lain.

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah permainan walking glass.

2). Variabel terikat (dependen) yaitu variabel yang dipengaruhi oleh variabel yang lain.

Variabel terkait dengan penelitian ini adalah kebugaran jasmani.


10

6.1.2 Definisi Operasional Variabel

Agar persoalan yang dibicarakan dalam penelitian ini tidak menyimpang dari

tujuan penelitian dan tidak terjadi salah penafsiran pada istilah-istilah yang digunakan,

maka perlu adanya definisi operasional variabel sebagai berikut:

a. Permainan Walking Glass adalah jenis permainan aktif dimana pelaku secara

aktif terlibat dalam permainan itu sendiri yang melibatkan aspek fisik

(psikomotor), kognitif dan afektif.

b. Kebugaran jasmani adalah kesanggupan dan kemampuan tubuh melakukan

penyesuaian terhadap pembebanan fisik yang diberikan kepadanya ( dari kerja

yang dilakukan sehari-hari) tanpa menimbulkan kelelahan yang berlebihan

berarti

6.2 Tempat dan Waktu Penelitia

6.2.1 Tempat Penelitian

Penelitian ini direncakan akan dilaksanakan di SMP Negeri 41 Palembang yang

beralamat di …

6.3 Populasi Sampel

6.3.1 Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang

mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk

dipelajari dan kemudian di tarik kesimpulannya (Sugiyono, 2009: 115). Sedangkan

menurut Arikunto (2013: 173), populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Dari

pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa populasi adalah seluruh individu
11

yang akan dijadikan subjek penelitian dan keseluruhan individu itu memiliki kualitas

dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti. Adapun yang menjadi populasi

dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 41 Palembang.

6.3.2 Sampel

Menurut Sugiono (2009: 116) sampel adalah bagian dan jumlah dari

karakteristik yang dimiliki oleh populasi, sedangkan menurut Arikunto (2013: 174)

apabila subyek yang diteliti jumlahnya kurang dari 100, maka akan lebih baik diambil

semua sebagai sampel sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Dalam

penelitian ini pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan total sampel dalam

penelitian ini berjumlah 30 siswa.

6.4 Metode Penelitian

Penelitian ini dapat memperoleh hasil yang baik dan sesuai dengan harapan,

maka metode penelitian yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode

eksperimen. Dasar penggunaan metode eksperimen adalah kegiatan percobaan dengan

pre-test (sebelum diberi perlakuan) dan post-test (setelah diberi perlakuan) dengan

permainan walking glass. Jadi metode eksperimen merupakan metode yang paling tepat

untuk menyelidiki hubungan sebab akibat. Sesuai dengan pendapat dari Suharsimi

Arikunto (2013 : 9), penelitian eksperimen adalah suatu cara untuk mencari hubungan

sebab akibat antara dua faktor yang sengaja ditimbulkan oleh peneliti dengan

mengurangi atau menyisihkan faktor-faktor lain yang mengganggu. Dengan demikian

hasil perlakuan dapat diketahui lebih akurat, karena dapat membandingkan dengan

keadaan sebelum diberi perlakuan. Desain peneltitiannya dapat digambarkan sebagai

berikut:
12

O1 (Pre-test) X (Treatment) O1 (Pos-test)


Smash walking glass Smash

Gambar 6. Desain Penelitian (Sugiyono, 2013: 144)

Keterangan :

O1 = hasil pengukuran pre-test (sebelum diberi perlakuan)

O2 = hasil pengukuran post-test (setelah diberi perlakuan)

Pengaruh perlakuan = O2 – O1

6.5 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan atau pengambilan data yaitu dengan menggunakan tes dan

pengukuran.

a. Tes awal dengan pengambilan nilai kemampuan smash.

b. Tes akhir pengambilan nilai kemampuan smash.

Untuk lebih rinci berikut dipaparkan pelaksanaan tes pukulan smash.

1 Nama Tes : Intstrumen tes variabel (Y) tes hasil smash atas

bola.

2 Tujuan Tes : Untuk mengukur hasil smash atas

3 Sumber : (Kharisma, 2014: 41)

4 Fasilitas/alat : 1. Lapangan bolavoli

2. Bolavoli

3. Stopwatch

4. Dinding Sasaran

5. Alat-alat tulis dan format pengambilan data

6. Petugas pencatat 1 orang

5 Petunjuk Pelaksanaan : 1. Sebelum melakukan tes, testee berdiri dengan


13

bola di belakang garis serang.

2. Testee melakukan smash dengan di umpan

teman sebanyak 10 kali pukulan.

3. Skor ditentukan oleh jumlah bola yang

mampu melewati net dan masuk ke nilai

sasaran. Total kemungkinan nilai yang dapat

diraih oleh testee adalah 60 point.

6.8 Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang dapat dilakukukan dalam penelitian ini adalah dengan

langkah-langkah sebagai berikut :

1. Uji Normalitas

Sundayana (2015: 84) pengujian kenormalan data dapat dihitung dengan

menggunakan uji lilifors menggunakan MS Excel. Adapun langkah-langkah yang dapat

dilakukan dalam menyusun tabel persiapan uji liliefors adalah sebagai berikut :

a) Membuat lembar kerja sebagai berikut :

Fi Fkum Zi Luas Zi S(Zi) S(Zi) - Luas Zi

b) Menghitung nilai rata-rata sel D8 isilah dengan menuliskan rumus =average

(B3:B7).

c) Menghitung nilai simpangan baku sel D9 isilah dengan menuliskan rumus

=Stdev(B3:B7).

d) Pada sel E3 tuliskan rumus =(B3-sel hasil rata-rata)/sel hasil standar deviasi.
14

e) Pada sel F3 tuliskan rumus =Normsdist(E3), kemudian copy sampai sel

seterusnya.

f) Pada sel G3 tuliskan rumus =D3/5, kemudian copykan.

g) Pada sel H3 tuliskan rumus = ABS (G3-F3).

h) Kriteria kenormalan: jika Lmas< Ltabel maka data terdistribusi normal.

2. Uji Hipotesis

Analisis data yang dilakukan terhadap penelitian ini adalah dengan metode

eksperimen yang menggunakan pre-test dan post-test dengan uji-t, dk = N-1 sesuai pada

taraf signifikan 5%. Bila data yang diperoleh terdistribusi normal dan homogen, maka

dilakukan pengujian hipotesis dengan menggunakan uji-t.

Md
t  (Arikunto, 2006:349)
 X 2d
N ( N  1)

Keterangan :

t = Nilai uji-t yang dihitung, selanjutnya disebut t-hitung

Md = Mean atau rata-rata dari perbedaan pre-test dengan post-test

xd = Deviasi masing-masing subjek (d-Md)

X d 2
= Jumlah kuadrat deviasi

N = Subjek pada sampel

d.b = Ditentukan dengan N-1

6.8 Kriteria Pengujian Hipotesis


15

Pengujian hipotesis memberikan kemungkinan hasil yaitu apabila nilai uji-t

statistik hasil perhitungan menunjukkan yang lebih kecil dari nilai t-tabel taraf

signifikan 5% maka Hipotesis kerja (Ha) ditolak. Apabila nilai statistik hasil

perhitungan menunjukkan hasil lebih besar atau sama dari nilai t-tabel dengan taraf

signifikansi 5%, maka hipotesis kerja (Ha), diterima.

DAFTAR PUSTAKA

Anggraini, dkk. 2014. Pengembangan Teknik Dasar Bolavoli. Universitas Negeri

Malang.

Arikunto, Suharsimi. 2006. Proedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Bompa. O. Tudor. 1994. Perioditation Of Training. Oxford. USA.

Depdiknas. 2003. Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Mata Pelajaran Pendidikan

Jasmani. Depdiknas.

Gideon. 2009. Pengaruh Latihan Plyometrik Terhadap Peningkatan Power Otot

Tungkai.Universitas Negeri Surabaya.

Gilang, Moh. 2007. Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan. Jakarta: Ganeca.

Hairy, 2010. Dasar-dasar Kesehatan Olahraga. Universitas Terbuka: Jakarta.


16

Harsoyo. 2014. Bermain Bolavoli. Alfabeta; Bandung.

Ismaryati. 2009. Tes dan Pengukuran Olahraga. Surakarta: Lembaga Pengembangan

Pendidikan (LPP) UNS dan UPT Penerbitan dan Percetakan UNS (UNS prees)

Junaidi. 2015. Servis Melompat Bolavoli. Penjaskesrek Universitas PGRI Nusantara

Kediri.

Kemenpora. 2015. Pemanduan Bakat Olahraga. Asdep Kemepora; Jakarta.

Kharisma. 2015. Pengembangan Pembelajaran Permainan Bolavoli. Universitas

Negeri Malang.

Mufhidathul. 2013. Dasar-Dasar Latihan Fisik.Ganseha; Jakarta.

Pardjiono. 2013. Sumbangan Koordinasi Mata-Tangan Terhadap Kemampuan Servis.

Universitas Negeri Semarang.

Purnama, dkk. 2015. Pengaruh Media Mengajar Bola Lunak. FKIP Universitas Sebelas

Maret.

Selamet. 2015. Hubungan Koordinasi Mata-Tangan Dengan Hasil Servis. Jurnal FIK;

UNESS.
17

Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta

Sudijandoko, Andun. 2010. Jurnal Pendidikan Jasmani Indonesia volume 7. FIK.

Surakarta.

Sujarwo. 2009. Melatih Bolavoli. FIK Universitas Negeri Jakarta.

Sukadiyanto. 2011. Melatih Fisik. Bandung: CV Lubuk Agung.

Sutrisno, dkk. 2013. Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan. Jakarta: Politeknik

media kreatif.

Syarifudin. 2013. Bolavoli. Alfabeta; Bandung.

Widiastuti. 2008. Tes dan Pengukuran Olahraga. Jakarta Timur: PT Bumi Timur Jaya.

Winarno. 2014. Hubungan Power Otot Lengan dengan Hasil Smash. Universitas Negeri

Jakarta.
18