Anda di halaman 1dari 45

PAPER KEPERAWATAN GAWAT DARURAT

Diajukan Untuk Memenuhi Penugasan


Blog Sistem Keperawatan Gawat Darurat

Disusun Oleh:

RETNO NADYA
1314201062

Dosen :
NS. IMELDA R. KARTIKA.M.KEP

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


STIKes FORT DE KOCK
TAHUN AJARAN 2016 / 2017
PENGKAJIAN AWAL, FORMAT PENGKAJIAN, DAN KETENTUAN

TRANFORTASI KEPERAWATAN GAWAT ATAU KRITIS

A. Pengkajian Awal Dan Utama Dalam Pelaksanaan Keperawatan Gawat

Darurat Dan Kritis

Perawatan pada pasien yang mengalami injuri oleh tim trauma agak

berbeda dengan pengobatan secara tradisional, di mana penegakan diagnosa,

pengkajian dan manajemen penatalaksanaan sering terjadi secara bersamaan dan

dilakukan oleh dokter yang lebih dari satu. Seorang leader tim harus langsung

memberikan pengarahan secara keseluruhan mengenai penatalaksanaan terhadap

pasien yang mengalami injuri, yang meliputi (Fulde, 2009) :

1. Primary Survey

Primary survey menyediakan evaluasi yang sistematis, pendeteksian dan

manajemen segera terhadap komplikasi akibat trauma parah yang

mengancam kehidupan. Tujuan dari Primary survey adalah untuk

mengidentifikasi dan memperbaiki dengan segera masalah yang

mengancam kehidupan. Prioritas yang dilakukan pada primary survey

antara lain (Fulde, 2009) :

a) Airway maintenance dengan cervical spine protection

b) Breathing dan oxygenation

c) Circulation dan kontrol perdarahan eksternal

d) Disability-pemeriksaan neurologis singkat

e) Exposure dengan kontrol lingkungan


Sangat penting untuk ditekankan pada waktu melakukan primary survey

bahwa setiap langkah harus dilakukan dalam urutan yang benar dan

langkah berikutnya hanya dilakukan jika langkah sebelumnya telah

sepenuhnya dinilai dan berhasil. Setiap anggota tim dapat melaksanakan

tugas sesuai urutan sebagai sebuah tim dan anggota yang telah dialokasikan

peran tertentu seperti airway, circulation, dll, sehingga akan sepenuhnya

menyadari mengenai pembagian waktu dalam keterlibatan mereka

(American College of Surgeons, 1997). Primary survey perlu terus

dilakukan berulang-ulang pada seluruh tahapan awal manajemen.Kunci

untuk perawatan trauma yang baik adalah penilaian yang terarah, kemudian

diikuti oleh pemberian intervensi yang tepat dan sesuai serta pengkajian

ulang melalui pendekatan AIR (assessment, intervention, reassessment).

Primary survey dilakukan melalui beberapa tahapan, antara lain (Gilbert.,

D’Souza., & Pletz, 2009) :

a. General Impressions

1) kondisi yang mengancam nyawa secara umum.

2) Menentukan keluhan utama atau mekanisme cedera

3) Menentukan status mental dan orientasi (waktu, tempat, orang)

b. Pengkajian Airway

Tindakan pertama kali yang harus dilakukan adalah memeriksa

responsivitas pasien dengan mengajak pasien berbicara untuk

memastikan ada atau tidaknya sumbatan jalan nafas.Seorang pasien

yang dapat berbicara dengan jelas maka jalan nafas pasien terbuka

(Thygerson, 2011). Pasien yang tidak sadar mungkin memerlukan


bantuanairway dan ventilasi. Tulang belakang leher harus dilindungi

selama intubasi endotrakeal jika dicurigai terjadi cedera pada kepala,

leher atau dada.Obstruksi jalan nafas paling sering disebabkan oleh

obstruksi lidah pada kondisi pasien tidak sadar (Wilkinson & Skinner,

2000).

Yang perlu diperhatikan dalam pengkajian airway pada pasien

antara lain :

a) Kaji kepatenan jalan nafas pasien. Apakah pasien dapat

berbicara atau bernafas dengan bebas?

b) Tanda-tanda terjadinya obstruksi jalan nafas pada pasien antara

lain:

 Adanya snoring atau gurgling

 Stridor atau suara napas tidak normal

 Agitasi (hipoksia)

 Penggunaan otot bantu pernafasan / paradoxical chest

movements

 Sianosis

c) Look dan listen bukti adanya masalah pada saluran napas

bagian atas dan potensial penyebab obstruksi :

 Muntahan

 Perdarahan

 Gigi lepas atau hilang

 Gigi palsu

 Trauma wajah
d) Jika terjadi obstruksi jalan nafas, maka pastikan jalan nafas

pasien terbuka.

e) Lindungi tulang belakang dari gerakan yang tidak perlu pada

pasien yang berisiko untuk mengalami cedera tulang belakang.

f) Gunakan berbagai alat bantu untuk mempatenkan jalan nafas

pasien sesuai indikasi :

 Chin lift/jaw thrust

 Lakukan suction (jika tersedia)

 Oropharyngeal airway/nasopharyngeal airway, Laryngeal

Mask Airway

 Lakukan intubasi

c. Pengkajian Breathing (Pernafasan)

Pengkajian pada pernafasan dilakukan untuk menilai

kepatenan jalan nafas dan keadekuatan pernafasan pada pasien. Jika

pernafasan pada pasien tidak memadai, maka langkah-langkah yang

harus dipertimbangkan adalah: dekompresi dan drainase tension

pneumothorax/haemothorax, closure of open chest injury dan

ventilasi buatan (Wilkinson & Skinner, 2000).

Yang perlu diperhatikan dalam pengkajian breathing pada

pasien antara lain :

1) Look, listen dan feel; lakukan penilaian terhadap ventilasi

dan oksigenasi pasien.


 Inspeksi dari tingkat pernapasan sangat penting.

Apakah ada tanda-tanda sebagai berikut :cyanosis,

penetrating injury, flail chest, sucking chest

wounds, dan penggunaan otot bantu pernafasan.

 Palpasi untuk adanya : pergeseran trakea, fraktur

ruling iga, subcutaneous emphysema, perkusi

berguna untuk diagnosis haemothorax dan

pneumotoraks.

 Auskultasi untuk adanya : suara abnormal pada

dada.

2) Buka dada pasien dan observasi pergerakan dinding dada

pasien jika perlu.

3) Tentukan laju dan tingkat kedalaman nafas pasien; kaji lebih

lanjut mengenai karakter dan kualitas pernafasan pasien.

4) Penilaian kembali status mental pasien.

5) Dapatkan bacaan pulse oksimetri jika diperlukan

6) Pemberian intervensi untuk ventilasi yang tidak adekuat dan

/ atau oksigenasi:

 Pemberian terapi oksigen

 Bag-Valve Masker

 Intubasi (endotrakeal atau nasal dengan konfirmasi

penempatan yang benar), jika diindikasikan

 Catatan: defibrilasi tidak boleh ditunda untuk

advanced airway procedures


7) Kaji adanya masalah pernapasan yang mengancam jiwa

lainnya dan berikan terapi sesuai kebutuhan.

d. Pengkajian Circulation

Shock didefinisikan sebagai tidak adekuatnya perfusi organ dan

oksigenasi jaringan.Hipovolemia adalah penyebab syok paling

umum pada trauma. Diagnosis shock didasarkan pada temuan

klinis: hipotensi, takikardia, takipnea, hipotermia, pucat, ekstremitas

dingin, penurunan capillary refill, dan penurunan produksi urin.

Oleh karena itu, dengan adanya tanda-tanda hipotensi merupakan

salah satu alasan yang cukup aman untuk mengasumsikan telah

terjadi perdarahan dan langsung mengarahkan tim untuk melakukan

upaya menghentikan pendarahan. Penyebab lain yang mungkin

membutuhkan perhatian segera adalah: tension pneumothorax,

cardiac tamponade, cardiac, spinal shock dan anaphylaxis. Semua

perdarahan eksternal yang nyata harus diidentifikasi melalui

paparan pada pasien secara memadai dan dikelola dengan baik

(Wilkinson & Skinner, 2000)..

Langkah-langkah dalam pengkajian terhadap status sirkulasi

pasien, antara lain :

 Cek nadi dan mulai lakukan CPR jika diperlukan.

 CPR harus terus dilakukan sampai defibrilasi siap untuk

digunakan.

 Kontrol perdarahan yang dapat mengancam kehidupan dengan

pemberian penekanan secara langsung.


 Palpasi nadi radial jika diperlukan:

 Menentukan ada atau tidaknya

 Menilai kualitas secara umum (kuat/lemah)

 Identifikasi rate (lambat, normal, atau cepat)

 Regularity

 Kaji kulit untuk melihat adanya tanda-tanda hipoperfusi atau

hipoksia (capillary refill).

 Lakukan treatment terhadap hipoperfusi

e. Pengkajian Level of Consciousness danDisabilities

Pada primary survey, disability dikaji dengan menggunakan skala

AVPU :

 A - alert, yaitu merespon suara dengan tepat, misalnya

mematuhi perintah yang diberikan

 V - vocalises, mungkin tidak sesuai atau mengeluarkan

suara yang tidak bisa dimengerti

 P - responds to pain only (harus dinilai semua keempat

tungkai jika ekstremitas awal yang digunakan untuk

mengkaji gagal untuk merespon)

 U - unresponsive to pain, jika pasien tidak merespon baik

stimulus nyeri maupun stimulus verbal.

f. Expose, Examine dan Evaluate

Menanggalkan pakaian pasien dan memeriksa cedera

pada pasien.Jika pasien diduga memiliki cedera leher atau tulang

belakang, imobilisasi in-line penting untuk dilakukan. Lakukan log


roll ketika melakukan pemeriksaan pada punggung pasien. Yang

perlu diperhatikan dalam melakukan pemeriksaan pada pasien

adalah mengekspos pasien hanya selama pemeriksaan eksternal.

Setelah semua pemeriksaan telah selesai dilakukan, tutup pasien

dengan selimut hangat dan jaga privasi pasien, kecuali jika

diperlukan pemeriksaan ulang (Thygerson, 2011).

Dalam situasi yang diduga telah terjadi mekanisme

trauma yang mengancam jiwa, maka Rapid Trauma Assessment

harus segera dilakukan:

 Lakukan pemeriksaan kepala, leher, dan ekstremitas pada

pasien

 Perlakukan setiap temuan luka baru yang dapat

mengancam nyawa pasien luka dan mulai melakukan

transportasi pada pasien yang berpotensi tidak stabil atau

kritis

2. Secondary Assessment

Survey sekunder merupakan pemeriksaan secara lengkap yang

dilakukan secara head to toe, dari depan hingga belakang. Secondary

survey hanya dilakukan setelah kondisi pasien mulai stabil, dalam artian

tidak mengalami syok atau tanda-tanda syok telah mulai membaik.

a. Anamnesis

Pemeriksaan data subyektif didapatkan dari anamnesis riwayat

pasien yang merupakan bagian penting dari pengkajian pasien.Riwayat

pasien meliputi keluhan utama, riwayat masalah kesehatan sekarang,


riwayat medis, riwayat keluarga, sosial, dan sistem.(Emergency Nursing

Association, 2007).

Pengkajian riwayat pasien secara optimalharus diperolehlangsung

daripasien, jika berkaitan dengan bahasa, budaya,usia, dan cacatatau

kondisipasienyang terganggu, konsultasikan dengan anggota keluarga,

orang terdekat, atau orang yang pertama kali melihat kejadian.

Anamnesis yang dilakukan harus lengkap karena akan memberikan

gambaran mengenai cedera yang mungkin diderita.

Beberapa contoh:

1. Tabrakan frontal seorang pengemudi mobil tanpa sabuk

pengaman: cedera wajah, maksilo-fasial, servikal. Toraks,

abdomen dan tungkai bawah.

2. Jatuh dari pohon setinggi 6 meter perdarahan intra-kranial, fraktur

servikal atau vertebra lain, fraktur ekstremitas.

3. Terbakar dalam ruangan tertutup: cedera inhalasi, keracunan CO.

Anamnesis juga harus meliputi riwayat AMPLE yang bisa

didapat dari pasien dan keluarga (Emergency Nursing Association,

2007):

A : Alergi (adakah alergi pada pasien, seperti obat obatan,plester,

makanan)

M : Medikasi/obat-obatan (obat-obatan yang diminum seperti

sedang menjalani pengobatan hipertensi, kencing manis,

jantung, dosis, atau penyalahgunaan obat


P : Pertinent medical history (riwayat medis pasien seperti penyakit

yang pernah diderita, obatnya apa, berapa dosisnya,

penggunaan obat-obatan herbal)

L : Last meal (obat atau makanan yang baru saja dikonsumsi,

dikonsumsi berapa jam sebelum kejadian, selain itu juga periode

menstruasi termasuk dalam komponen ini)

E : Events, hal-hal yang bersangkutan dengan sebab cedera

(kejadian yang menyebabkan adanya keluhan utama)

Ada beberapa cara lain untuk mengkaji riwayat pasien yang disesuaikan

dengan kondisi pasien. Pada pasien dengan kecenderungan konsumsi

alkohol, dapat digunakan beberapa pertanyaan di bawah ini (Emergency

Nursing Association, 2007):

 have you ever felt should Cut down your drinking?

 A. have people Annoyed you by criticizing your drinking?

 G. have you ever felt bad or Guilty about your drinking?

 E. have you ever had a drink first think in the morning to steady

your nerver or get rid of a hangover (Eye-opener)

Jawaban Ya pada beberapa kategori sangat berhubungan dengan

masalah konsumsi alkohol. Pada kasus kekerasan dalam rumah tangga

akronim HITS dapat digunakan dalam proses pengkajian. Beberapa

pertanyaan yang diajukan antara lain : “dalam setahun terakhir ini

seberapa sering pasanganmu” (Emergency Nursing Association, 2007):

 Hurt you physically?

 Insulted or talked down to you?


 Threathened you with physical harm?

 Screamed or cursed you?

Akronim PQRST ini digunakan untuk mengkaji keluhan nyeri

pada pasien yang meliputi :

 Provokes/palliates : apa yang menyebabkan nyeri? Apa yang

membuat nyerinya lebih baik? apa yang menyebabkan nyerinya

lebih buruk? apa yang anda lakukan saat nyeri? apakah rasa nyeri

itu membuat anda terbangun saat tidur?

 Quality : bisakah anda menggambarkan rasa nyerinya?apakah

seperti diiris, tajam, ditekan, ditusuk tusuk, rasa terbakar, kram,

kolik, diremas? (biarkan pasien mengatakan dengan kata-katanya

sendiri.

 Radiates: apakah nyerinya menyebar? Menyebar kemana?

Apakah nyeri terlokalisasi di satu titik atau bergerak?

 Severity : seberapa parah nyerinya? Dari rentang skala 0-10

dengan 0 tidak ada nyeri dan 10 adalah nyeri hebat

 Time : kapan nyeri itu timbul?, apakah onsetnya cepat atau

lambat? Berapa lama nyeri itu timbul? Apakah terus menerus atau

hilang timbul?apakah pernah merasakan nyeri ini

sebelumnya?apakah nyerinya sama dengan nyeri sebelumnya

atau berbeda?

Setelah dilakukan anamnesis, maka langkah berikutnya adalah

pemeriksaan tanda-tanda vital.Tanda tanda vital meliputi suhu, nadi,


frekuensi nafas, saturasi oksigen, tekanan darah, berat badan, dan skala

nyeri.

Berikut ini adalah ringkasan tanda-tanda vital untuk pasien dewasa menurut

Emergency Nurses Association,(2007).

Komponen Nilai normal Keterangan

Suhu 36,5-37,5 Dapat di ukur melalui oral, aksila,


dan rectal. Untuk mengukur suhu
inti menggunakan kateter arteri
pulmonal, kateter urin, esophageal
probe, atau monitor tekanan
intracranial dengan pengukur
suhu. Suhu dipengaruhi oleh
aktivitas, pengaruh lingkungan,
kondisi penyakit, infeksi dan
injury.
Nadi 60-100x/menit Dalam pemeriksaan nadi perlu
dievaluais irama jantung,
frekuensi, kualitas dan kesamaan.
Respirasi 12-20x/menit Evaluasi dari repirasi meliputi
frekuensi, auskultasi suara nafas,
dan inspeksi dari usaha bernafas.
Tada dari peningkatan usah
abernafas adalah adanya
pernafasan cuping hidung, retraksi
interkostal, tidak mampu
mengucapkan 1 kalimat penuh.
Saturasi >95% Saturasi oksigen di monitor
oksigen melalui oksimetri nadi, dan hal ini
penting bagi pasien dengan
gangguan respirasi, penurunan
kesadaran, penyakit serius dan
tanda vital yang abnormal.
Pengukurna dapat dilakukan di
jari tangan atau kaki.
Tekanan darah 120/80mmHg Tekana darah mewakili dari
gambaran kontraktilitas jantung,
frekuensi jantung, volume
sirkulasi, dan tahanan vaskuler
perifer. Tekanan sistolik
menunjukkan cardiac output,
seberapa besar dan seberapa kuat
darah itu dipompakan. Tekanan
diastolic menunjukkan fungsi
tahanan vaskuler perifer.
Berat badan Berat badan penting diketahui di
UGD karena berhubungan dengan
keakuratan dosis atau ukuran.
Misalnya dalam pemberian
antikoagulan, vasopressor, dan
medikasi lain yang tergantung
dengan berat badan.

b. Pemeriksaan fisik

1. Kulit kepala

Seluruh kulit kepala diperiksa.Sering terjadi pada penderita yang

datang dengan cedera ringan, tiba-tiba ada darah di lantai yang

berasal dari bagian belakang kepala penderita. Lakukan inspeksi

dan palpasi seluruh kepala dan wajah untuk adanya pigmentasi,

laserasi, massa, kontusio, fraktur dan luka termal, ruam, perdarahan,

nyeri tekan serta adanya sakit kepala (Delp & Manning. 2004).

2. Wajah

Ingat prinsip look-listen-feel.Inspeksi adanya kesimterisan kanan

dan kiri. Apabila terdapat cedera di sekitar mata jangan lalai

memeriksa mata, karena pembengkakan di mata akan menyebabkan

pemeriksaan mata selanjutnya menjadi sulit. Re evaluasi tingkat

kesadaran dengan skor GCS.

 Mata : periksa kornea ada cedera atau tidak, ukuran pupil

apakah isokor atau anisokor serta bagaimana reflex cahayanya,


apakah pupil mengalami miosis atau midriasis, adanya ikterus,

ketajaman mata (macies visus dan acies campus), apakah

konjungtivanya anemis atau adanya kemerahan, rasa nyeri,

gatal-gatal, ptosis, exophthalmos, subconjunctival perdarahan,

serta diplopia

 Hidung : periksa adanya perdarahan, perasaan nyeri,

penyumbatan

penciuman, apabila ada deformitas (pembengkokan)

lakukan palpasi akan kemungkinan krepitasi dari suatu

fraktur.

 Telinga: periksa adanya nyeri, tinitus, pembengkakan,

penurunan atau hilangnya pendengaran, periksa dengan senter

mengenai keutuhan membrane timpani atau adanya

hemotimpanum

 Rahang atas : periksa stabilitas rahang atas

 Rahang bawah : periksa akan adanya fraktur

 Mulut dan faring : inspeksi pada bagian mucosa terhadap

tekstur, warna, kelembaban, dan adanya lesi; amati lidah

tekstur, warna, kelembaban, lesi, apakah tosil meradang,

pegang dan tekan daerah pipi kemudian rasakan apa ada massa/

tumor, pembengkakkan dan nyeri, inspeksi amati adanya

tonsil meradang atau tidak (tonsillitis/amandel). Palpasi adanya

respon nyeri
3. Vertebra servikalis dan leher

Pada saat memeriksa leher, periksa adanya deformitas

tulang atau krepitasi, edema, ruam, lesi, dan massa , kaji adanya

keluhan disfagia (kesulitan menelan) dan suara serak harus

diperhatikan, cedera tumpul atau tajam, deviasi trakea, dan

pemakaian otot tambahan. Palpasi akan adanya nyeri, deformitas,

pembekakan, emfisema subkutan, deviasi trakea, kekakuan pada

leher dan simetris pulsasi. Tetap jaga imobilisasi segaris dan

proteksi servikal.Jaga airway, pernafasan, dan oksigenasi. Kontrol

perdarahan, cegah kerusakan otak sekunder.

4. Toraks

 Inspeksi : Inspeksi dinding dada bagian depan, samping

dan belakang untuk adanya trauma tumpul/tajam,luka, lecet,

memar, ruam , ekimosiss, bekas luka, frekuensi dan kedalaman

pernafsan, kesimetrisan expansi dinding dada, penggunaan otot

pernafasan tambahan dan ekspansi toraks bilateral, apakah

terpasang pace maker, frekuensi dan irama denyut jantung,

(lombardo, 2005)

 Palpasi : seluruh dinding dada untuk adanya trauma

tajam/tumpul, emfisema subkutan, nyeri tekan dan krepitasi.

 Perkusi : untuk mengetahui kemungkinan hipersonor dan

keredupan
 Auskultasi : suara nafas tambahan (apakah ada ronki,

wheezing, rales) dan bunyi jantung (murmur, gallop, friction

rub)

5. Abdomen

Cedera intra-abdomen kadang-kadang luput terdiagnosis,

misalnya pada keadaan cedera kepala dengan penurunan kesadaran,

fraktur vertebra dengan kelumpuhan (penderita tidak sadar akan

nyeri perutnya dan gejala defans otot dan nyeri tekan/lepas tidak

ada). Inspeksi abdomen bagian depan dan belakang, untuk adanya

trauma tajam, tumpul dan adanya perdarahan internal, adakah

distensi abdomen, asites, luka, lecet, memar, ruam, massa,

denyutan, benda tertusuk, ecchymosis, bekas luka , dan stoma.

Auskultasi bising usus, perkusi abdomen, untuk mendapatkan, nyeri

lepas (ringan). Palpasi abdomen untuk mengetahui adakah

kekakuan atau nyeri tekan, hepatomegali,splenomegali,defans

muskuler,, nyeri lepas yang jelas atau uterus yang hamil. Bila ragu

akan adanya perdarahan intra abdominal, dapat dilakukan

pemeriksaan DPL (Diagnostic peritoneal lavage, ataupun USG

(Ultra Sonography). Pada perforasi organ berlumen misalnya usus

halus gejala mungkin tidak akannampak dengan segera karena itu

memerlukan re-evaluasi berulang kali. Pengelolaannya dengan

transfer penderita ke ruang operasi bila diperlukan (Tim YAGD

118, 2010).

6. Pelvis (perineum/rectum/vagina)
Cedera pada pelvis yang berat akannampak pada

pemeriksaan fisik (pelvis menjadi stabil), pada cederaberat ini

kemungkinan penderita akan masuk dalam keadaan syok, yang

harus segera diatasi. Bila ada indikasi pasang PASG/ gurita untuk

mengontrol perdarahan dari fraktur pelvis (Tim YAGD 118, 2010).

Pelvis dan perineum diperiksa akan adanya luka, laserasi

, ruam, lesi, edema, atau kontusio, hematoma, dan perdarahan

uretra. Colok dubur harus dilakukan sebelum memasang kateter

uretra. Harus diteliti akan kemungkinan adanya darah dari lumen

rectum, prostat letak tinggi, adanya fraktur pelvis, utuh tidaknya

rectum dan tonus musculo sfinkter ani. Pada wanita, pemeriksaan

colok vagina dapat menentukan adanya darah dalam vagina atau

laserasi, jika terdapat perdarahan vagina dicatat, karakter dan

jumlah kehilangan darah harus dilaporkan (pada tampon yang

penuh memegang 20 sampai 30 mL darah). Juga harus dilakuakn tes

kehamilan pada semua wanita usia subur. Permasalahan yang ada

adalah ketika terjadi kerusakan uretra pada wanita, walaupun jarang

dapat terjadi pada fraktur pelvis dan straddle injury. Bila terjadi,

kelainan ini sulit dikenali, jika pasien hamil, denyut jantung janin

(pertama kali mendengar dengan Doppler ultrasonografi pada

sekitar 10 sampai 12 kehamilan minggu) yang dinilai untuk

frekuensi, lokasi, dan tempat. Pasien dengan keluhan kemih harus

ditanya tentang rasa sakit atau terbakar dengan buang air kecil,
frekuensi, hematuria, kencing berkurang, Sebuah sampel urin harus

diperoleh untuk analisis.(Diklat RSUP Dr. M.Djamil, 2006).

7. Ektremitas

Pemeriksaan dilakukan dengan look-feel-move.Pada saat

inspeksi, jangan lupa untuk memriksa adanya luka dekat daerah

fraktur (fraktur terbuak), pada saat pelapasi jangan lupa untuk

memeriksa denyut nadi distal dari fraktur pada saat menggerakan,

jangan dipaksakan bila jelas fraktur.Sindro ma kompartemen

(tekanan intra kompartemen dalam ekstremitas meninggi sehingga

membahayakan aliran darah), mungkin luput terdiagnosis pada

penderita dengan penurunan kesadaran atau kelumpuhan (Tim

YAGD 118, 2010).

Inspeksi pula adanya kemerahan, edema, ruam, lesi,

gerakan, dan sensasi harus diperhatikan, paralisis, atropi/hipertropi

otot, kontraktur, sedangkan pada jari-jari periksa adanya clubbing

finger serta catat adanya nyeri tekan, dan hitung berapa detik

kapiler refill (pada pasien hypoxia lambat s/d 5-15 detik.

Penilaian pulsasi dapat menetukan adanya gangguan

vaskular.Perlukaan berat pada ekstremitas dapat terjadi tanpa

disertai fraktur.kerusakn ligament dapat menyebabakan sendi

menjadi tidak stabil, keruskan otot-tendonakan mengganggu

pergerakan.

Gangguan sensasi dan/atau hilangnya kemampuan

kontraksi otot dapat disebabkan oleh syaraf perifer atau


iskemia.Adanya fraktur torako lumbal dapat dikenal pada

pemeriksaan fisik dan riwayat trauma.Perlukaan bagian lain

mungkin menghilangkan gejala fraktur torako lumbal, dan dalam

keadaan ini hanya dapat didiagnosa dengan foto

rongent.Pemeriksaan muskuloskletal tidak lengkap bila belum

dilakukan pemeriksaan punggung penderita. Permasalahan yang

muncul adalah:

a. Perdarahan dari fraktur pelvis dapat berat dan sulit dikontrol,

sehingga terjadi syok yang dpat berakibat fatal

b. Fraktur pada tangan dan kaki sering tidak dikenal apa lagi

penderita dalam keadaan tidak sada. Apabila kemudian

kesadaran pulih kembali barulah kelainan ini dikenali.

c. Kerusakan jaringan lunak sekitar sendi seringkali baru dikenal

setelah penderita mulai sadar kembali (Diklat RSUP Dr.

M.Djamil, 2006).

8. Bagian punggung

Memeriksa punggung dilakukan dilakukan dengan log

roll, memiringkan penderita dengan tetap menjaga kesegarisan

tubuh). Pada saat ini dapat dilakukan pemeriksaan punggung (Tim

YAGD 118, 2010). Periksa`adanya perdarahan, lecet, luka,

hematoma, ecchymosis, ruam, lesi, dan edema serta nyeri, begitu

pula pada kolumna vertebra periksa adanya deformitas.

9. Neurologis
Pemeriksaan neurologis yang diteliti meliputi

pemeriksaan tingkat kesadaran, ukuran dan reaksi pupil,

oemeriksaan motorik dan sendorik.Peubahan dalam status

neirologis dapat dikenal dengan pemakaian GCS.Adanya paralisis

dapat disebabakan oleh kerusakan kolumna vertebralis atau saraf

perifer.Imobilisasi penderita dengan short atau long spine board,

kolar servikal, dan alat imobilisasi dilakukan samapai terbukti tidak

ada fraktur servikal.Kesalahan yang sering dilakukan adalah untuk

melakukan fiksasai terbatas kepada kepala dan leher saja, sehingga

penderita masih dapat bergerak dengan leher sebagai

sumbu.Jelsalah bahwa seluruh tubuh penderita memerlukan

imobilisasi.Bila ada trauma kepala, diperlukan konsultasi

neurologis. Harus dipantau tingkat kesadaran penderita, karena

merupakan gambaran perlukaan intra cranial.Bila terjadi penurunan

kesadaran akibat gangguan neurologis, harus diteliti ulang perfusi

oksigenasi, dan ventilasi (ABC). Perlu adanya tindakan bila ada

perdarahan epidural subdural atau fraktur kompresi ditentukan ahli

bedah syaraf (Diklat RSUP Dr. M.Djamil, 2006).

Pada pemeriksaan neurologis, inspeksi adanya kejang,

twitching, parese, hemiplegi atau hemiparese (ganggguan

pergerakan), distaksia ( kesukaran dalam mengkoordinasi otot),

rangsangan meningeal dan kaji pula adanya vertigo dan respon

sensori.
3. Focused Assessment

Focused assessment atau pengakajian terfokus adalah tahap pengkajian

pada area keperawatan gawat darurat yang dilakukan setelah primary survey,

secondary survey, anamnesis riwayat pasien (pemeriksaan subyektif) dan

pemeriksaan obyektif (Head to toe). Di beberapa negara bagian Australia

mengembangkan focused assessment ini dalam pelayanan di Emergency

Department, tetapi di beberapa Negara seperti USA dan beberapa Negara

Eropa tidak menggunakan istilah Focused Assessment tetapi dengan istilah

Definitive Assessment (O’keefe et.al, 1998).

Focused assessment untuk melengkapi data secondary assessment bisa

dilakukan sesuai masalah yang ditemukan atau tempat dimana injury

ditemukan. Yang paling banyak dilakukan dalam tahap ini adalah beberapa

pemeriksaan penunjang diagnostik atau bahkan dilakukan pemeriksaan

ulangan dengan tujuan segera dapat dilakukan tindakan definitif.

4. Reassessment

Beberapa komponen yang perlu untuk dilakukan pengkajian kembali

(reassessment) yang penting untuk melengkapi primary survey pada pasien

di gawat darurat adalah :

Komponen Pertimbangan

Airway Pastikan bahwa peralatan airway :Oro

Pharyngeal Airway, Laryngeal Mask Airway ,

maupun Endotracheal Tube (salah satu dari

peralatan airway) tetap efektif untuk menjamin


kelancaran jalan napas. Pertimbangkan

penggunaaan peralatan dengan manfaat yang

optimal dengan risiko yang minimal.

Breathing Pastikan oksigenasi sesuai dengan kebutuhan

pasien :

 Pemeriksaan definitive rongga dada

dengan rontgen foto thoraks, untuk

meyakinkan ada tidaknya masalah

seperti Tension pneumothoraks,

hematotoraks atau trauma thoraks yang

lain yang bisa mengakibatkan

oksigenasi tidak adekuat

 Penggunaan ventilator mekanik

Circulation Pastikan bahwa dukungan sirkulasi menjamin

perfusi jaringan khususnya organ vital tetap

terjaga, hemodinamik tetap termonitor serta

menjamin tidak terjadi over hidrasi pada saat

penanganan resusitasicairan.

 Pemasangan cateter vena central

 Pemeriksaan analisa gas darah

 Balance cairan

 Pemasangan kateter urin


Disability Setelah pemeriksaan GCS pada primary survey,

perlu didukung dengan :

 Pemeriksaan spesifik neurologic yang

lain seperti reflex patologis, deficit

neurologi, pemeriksaan persepsi sensori

dan pemeriksaan yang lainnya.

 CT scan kepala, atau MRI

Exposure Konfirmasi hasil data primary survey dengan

 Rontgen foto pada daerah yang

mungkin dicurigai trauma atau fraktur

 USG abdomen atau pelvis

5. Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan lanjutan hanya dilakukan setelah ventilasi dan

hemodinamika penderita dalam keadaan stabil (Diklat RSUP Dr. M.Djamil,

2006). Dalam melakukan secondary survey, mungkin akan dilakukan

pemeriksaan diagnostik yang lebih spesifik seperti :

a) Endoskopi

Pemeriksaan penunjang endoskopi bisa dilakukan pada pasien

dengan perdarahan dalam.Dengan melakukan pemeriksaan endoskopi

kita bisa mngethaui perdarahan yang terjadi organ dalam.Pemeriksaan

endoskopi dapat mendeteksi lebih dari 95% pasien dengan hemetemesis,


melena atau hematemesis melena dapat ditentukan lokasi perdarahan

dan penyebab perdarahannya. Lokasi dan sumber perdarahan yaitu:

 Esofagus :Varises,erosi,ulkus,tumor

 Gaster :Erosi, ulkus, tumor, polip, angio displasia, Dilafeuy,

varisesgastropati kongestif

 Duodenum :Ulkus, erosi,

Untuk kepentingan klinik biasanya dibedakan perdarahan

karena ruptur varises dan perdarahan bukan karena ruptur varises

(variceal bleeding dan non variceal bleeding) (Djumhana, 2011).

b) Bronkoskopi

Bronkoskopi adalah tindakan yang dilakukan untuk melihat

keadaan intra bronkus dengan menggunakan alat bronkoskop.Prosedur

diagnostik dengan bronkoskop ini dapat menilai lebih baik pada mukosa

saluran napas normal, hiperemis atau lesi infiltrat yang memperlihatkan

mukosa yang compang-camping. Teknik ini juga dapat menilai

penyempitan atau obstruksi akibat kompresi dari luar atau massa

intrabronkial, tumor intra bronkus. Prosedur ini juga dapat menilai ada

tidaknya pembesaran kelenjar getah bening, yaitu dengan menilai karina

yang terlihat tumpul akibat pembesaran kelenjar getah bening subkarina

atau intra bronkus (Parhusip, 2004).

c) CT Scan

CT-scan merupakan alat pencitraan yang di pakai pada kasus-

kasus emergensi seperti emboli paru, diseksi aorta, akut abdomen,

semua jenis trauma dan menentukan tingkatan dalam stroke. Pada kasus
stroke, CT-scan dapat menentukan dan memisahkan antara jaringan

otak yang infark dan daerah penumbra. Selain itu, alat ini bagus juga

untuk menilai kalsifikasi jaringan. Berdasarkan beberapa studi terakhir,

CT-scan dapat mendeteksi lebih dari 90 % kasus stroke iskemik, dan

menjadi baku emas dalam diagnosis stroke (Widjaya, 2002).

Pemeriksaaan CT. scan juga dapat mendeteksi kelainan-kelainan seerti

perdarahan diotak, tumor otak, kelainan-kelainan tulang dan kelainan

dirongga dada dan rongga perur dan khususnya kelainan pembuluh

darah, jantung (koroner), dan pembuluh darah umumnya (seperti

penyempitan darah dan ginjal (ishak, 2012).

d) USG

Ultrasonografi (USG) adalah alat diagnostik non invasif

menggunakan gelombang suara dengan frekuensi tinggi diatas 20.000

hertz ( >20 kilohertz) untuk menghasilkan gambaran struktur organ di

dalam tubuh.Manusia dapat mendengar gelombang suara 20-20.000

hertz .Gelombang suara antara 2,5 sampai dengan 14 kilohertz

digunakan untuk diagnostik. Gelombang suara dikirim melalui suatu alat

yang disebut transducer atau probe. Obyek didalam tubuh akan

memantulkan kembali gelombang suara yang kemudian akan ditangkap

oleh suatu sensor, gelombang pantul tersebut akan direkam, dianalisis

dan ditayangkan di layar. Daerah yang tercakup tergantung dari

rancangan alatnya. Ultrasonografi yang terbaru dapat menayangkan

suatu obyek dengan gambaran tiga dimensi, empat dimensi dan


berwarna. USG bisa dilakukan pada abdomen, thorak (Lyandra,

Antariksa, Syaharudin, 2011)

e) Radiologi

Radiologi merupakan salah satu pemeriksaan penunjang yang

dilakukan di ruang gawat darurat. Radiologi merupakan bagian dari

spectrum elektromagnetik yang dipancarkan akibat pengeboman anoda

wolfram oleh electron-elektron bebas dari suatu katoda.Film polos

dihasilkan oleh pergerakan electron-elektron tersebut melintasi pasien

dan menampilkan film radiologi.Tulang dapat menyerap sebagian besar

radiasi menyebabkan pajanan pada film paling sedikit, sehingga film

yang dihasilkan tampak berwarna putih.Udara paling sedikit menyerap

radiasi, meyebabakan pejanan pada film maksimal sehingga film

nampak berwarna hitam.Diantara kedua keadaan ekstrem ini,

penyerapan jaringan sangat berbeda-beda menghasilkan citra dalam

skala abu-abu. Radiologi bermanfaat untuk dada, abdoment, sistem

tulang: trauma, tulang belakang, sendi penyakit degenerative, metabolic

dan metastatik (tumor). Pemeriksaan radiologi penggunaannya dalam

membantu diagnosis meningkat.Sebagian kegiatan seharian di

departemen radiologi adalah pemeriksaan foto toraks.Hal ini

menunjukkan betapa pentingnya pemeriksaan ini. Ini karena

pemeriksaan ini relatif lebih cepat, lebih murah dan mudah dilakukan

berbanding pemeriksaan lain yang lebih canggih dan akurat (Ishak,

2012).
f) MRI (Magnetic Resonance Imaging)

Secara umum lebih sensitive dibandingkan CT Scan. MRI juga

dapat digunakan pada kompresi spinal.Kelemahan alat ini adalah tidak

dapat mendeteksi adanya emboli paru, udara bebas dalam peritoneum

dan faktor. Kelemahan lainnya adalah prosedur pemeriksaan yang lebih

rumit dan lebih lama, hanya sedikit sekali rumah sakit yang memiliki,

harga pemeriksaan yang sangat mahal serta tidak dapat diapaki pada

pasien yang memakai alat pacemaker jantung dan alat bantu

pendengaran (Widjaya,2002).
B. Format Pengkajian Keperawatan Gawat Darurat

FORMAT PENGKAJIAN PASIEN GAWAT DARURAT

A. Data Pasien

Nama : No Rekam medik :

Jenis Kelamin : Pria / Wanita Tanggal lahir : Umur: ......................Tahun

......./......./.........

B. Primary Survey

Waktu kedatangan : Transportasi : Kondisi datang :

Tindakan Pre Hospital :

CPR O2 Infus Bidai Bebat Urin


Kateter
Lain – lain :

TRIAGE
Kesadaran Kategori Triage : Klasifikasi Kasus

Allert Verbal P1 P2 P3 Trauma Non


Pain Unrespon MerahKuning Hijau Hitam
Trauma
Dx Medis :

Keluhan Utama
Tanda dan gejala Karakteristik

Onset/awal kejadian Faktor yg meringankan

Lokasi Tindakan yang telah dilakukan sebelum ke


RS

Durasi
Faktor Pencetus
Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat Allergi :

Tanda vital : Tensi : HR : x/ RR : Suhu :


mmHg menit x/menit ...........C.
Lokasi
:...........
AIRWAY CIRCULATION

Paten Obstruksi
Irama jantung :

Tindakan reguler ireguler


Akral : HKM dingin basah
BREATHING
Pucat
Pergerakan dada :simetris asimetri, Membran mukosa:

Irama pernapasan : Reguler Ireguler Sianosis Jaundice Normal


Suara napas tambahan :
SPO2 ...... CRT : < 2 Dtk > 2Dtk
Turgor kulit : Baik sedang jelek
Edema :

Perdarahan :
DISABILITY GCS : E............. V............. M............

Fraktur : Tidak ada ada total ...........


Lokasi

Paralisis :  tidak ada  ada


Lokasi : ...............................................................
C. Secondary Survey

Diagram Tubuh : PEMERIKSAAN HEAD TO TOE


Kepala leher, thoraks, abdomen, Genitourinaria

D. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Jenis Pemeriksaan Hasil :

Darah Lengkap Kimia Klinik Gula darah Acak


Blood Gas Analisa Kultur Urin EKG
BUN Kreatinin Foto Thorak
Lain – lain ..................................................................

Tindak lanjut : KRS MRS PP DOA OPERASI PINDAH LAIN LAIN
E. Pemberian Terapi

Pukul Medikasi/Obat yang diberikan Dosis / rute pemberian

F. Diagnosa,Intervensi & Implementasi Keperawatan

Evaluasi
Masalah Keperawatan Waktu Tindakan keperawatan
(SOAP)
Masalah Kolaboratif Bebaskan jalan napas
PK : Peningkatan TIK
(alat, posisi)
PK : Hiperglikemia
PK : Hipoglikemia
PK : Sepsis
PK : Hipervolemia Berikan oksigen (Alat,
PK : hipovolemia aliran)
PK : Penurunan curah jantung
PK : Pulmonary edema
PK : Hipoksemia
PK : Asidosis metab Posisikan pasien dengan
PK : Perdarahan GI tr .
PK : Kejang
PK : .......................... Pasang jalur intravena
pada

Masalah Aktual
Bersihan jalan napas Berikan cairan (jenis/
Kerusakan pertukaran gas
jumlah)
Pola napas tidak efektif
Resiko aspirasi
Penurunan perfusi
jaringan Pasang monitor jantung
Nyeri akut
Kerusakan integritas kulit
Retensi urin akut Observasi tanda – tanda
 Hipothermia
Hiperthermia vital
............................
.............................
C. Ketentuan Standar Transportasi Pasien Gawat/Kritis

Transportasi pasien kritis merupakan salah satu bidang penting di ilmu

kedokteran kegawatdaruratan (emergency medicine). Banyak masalah potensial

dapat dicegah dengan mengoptimalkan kondisi pasien sebelum transport dilakukan.

Walaupun berbagai usaha meminimalisasi komplikasi sudah dilakukan, jalan

menuju penanganan yang sempurna masih panjang.

Tempat yang paling aman untuk pasien kritis adalah intensive care unit

(ICU), yang terhubung oleh ventilator canggih dengan berbagai pompa infus yang

berjalan perlahan, dimonitoring peralatan yang sudah dipasang dan ada perawat

untuk merawat pasien. Pasien berada dalam lingkungan yang terkontrol. Namun,

akan ada beberapa situasi di mana pasien harus dipindahkan ke ruang pemeriksaan

radiologi, ruang operasi, bahkan ke rumah sakit lain.

Pasien kritis adalah pasien dengan disfungsi atau gagal pada satu atau lebih

system tubuh, tergantung pada penggunaan peralatan monitoring dan terapi.

Tranportasi bukanlah sekedar mengantar pasien ke rumah sakit. Serangkaian tugas

harus dilakukan sejak pasien dimasukkan ke dalam ambulans hingga diambil alih

oleh pihak rumah sakit. Langkah-langkah yang harus diperhatikan :


a. Decision

Keputusan untuk mentransportasi pasien pada kondisi serius adalah sebuah

tindakan medis. Karena itu, tanggung jawab dimiliki oleh dokter yang

mengirim pasien, dan kepala tim.

b. Planning

Perencanaan meliputi pemilihan tujuan, mengevaluasi jarak dan waktu,

pemilihan jalur transport melalui darat atau udara. Jika jarak melebihi 150 km,

transport udara lebih baik. Selain itu, yang perlu diperhatikan adalah

pemilihan metode monitoring dan alat monitoring, prediksi ikemungkinan

komplikasi, pemilihan instrumen terapi umum dan khusus, pemilihan tim

transport (sesuai dengan ketersediaan tenaga dan karakteristik pasien)

c. Implementasi

Tahap implementasi adalah bertugasnya tim transport yang dipilih dan

tanggung jawab tehnik dan legal baru selesai ketika pasien sudah sampai

kepada tim medik tempat tujuan atau pada kedatangan ke tempat semula

(ketika transport bertujuan untuk memenuhi prosedur diagnostik/teraputik)

Transport intrahospital pasien kritis

1. Transport intra hospital pasien kritis harus mengikuti beberapa aturan,

yaitu:

1) Koordinasi sebelum transport

 Informasi bahwa area tempat pasien akan dipindahkan telah siap untuk

menerima pasien tersebut serta membuat rencana terapi

 Dokter yang bertugas harus menemani pasien dan komunikasi antar

dokter dan perawat juga harus terjalin mengenai situasi medis pasien
 Tuliskan dalam rekam medis kejadian yang berlangsung selama

transport dan evaluasi kondisi pasien

2) Profesional beserta dengan pasien: 2 profesional (dokter atau perawat) harus

menemani pasien dalam kondisi serius

 Salah satu profesional adalah perawat yang bertugas, dengan

pengalaman CPR atau khusus terlatih pada transport pasien kondisi

kritis

 Profesioanl kedua dapat dokter atau perawat. Seorang dokter harus

menemani pasien dengan instabilitas fisiologik dan pasien yang

membutuhkan urgent action

3) Peralatan untuk menunjang pasien

 Transport monitor

 Blood presure reader

 Kit intubasi endotrakeal dan resusitator manual

 Sumber oksigen dengan kapasitas prediksi transport, dengan tambahan

cadangan 30 menit

 Ventilator portable, dengan kemampuan untuk menentukan

volume/menit, pressure FiO2 of 100% and PEEP with disconnection

alarm and high airway pressure alarm.

 Mesin suction dengan kateter suction

 Obat untuk resusitasi: adrenalin, lignocaine, atropine dan sodium

bicarbonate

 Cairan intravena dan infus obat dengan syringe atau pompa infus dengan

baterai
 Pengobatan tambahan sesuai dengan resep obat pasien tersebut

4) Monitoring selama transport

Tingkat monitoring dibagi sebagai berikut: Level 1=wajib,level

2=Rekomendasi kuat, level 3=ideal

 Monitoring kontinu: EKG, pulse oximetry (level 1)

 Monitoring intermiten: Tekanan darah, nadi , respiratory rate (level 1

pada pasien pediatri, Level 2 pada pasien lain)

2. Pemindahan pasien ke rumah sakit pada pasien sakit kritis:

1) Alasan utama untuk memindahkan pasien dengan kondisi serius ke rumah

sakit atau ke tempat lain adalah karena ketidakmampuan mendiagnosis dan

sumber terapi (manusia dan tehnik) di rumah sakit asal.

2) Keputusan untuk memindahkan pasien pada keadaan kritis dilaksanakan

setelah mengevaluasi untung dan rugi pemindahan pasien.

3) Risiko untuk memindahkan pasien terdiri dari dua jenis, yaitu: (1)Risiko

medis: risiko medis yang dimiliki pasien; efek getaran; akselerasi dan

deselerasi; dan perubahan suhu, (2) Risiko perjalanan : risiko getaran.

4) Sehingga untuk meminimalkan risiko pemindahan pasien sangat penting

untuk menstabilkan pasien di rumah sakit asal dan mempersiapkan

diagnosis dan terapi selama perjalanan pemindahan (akses vena, intubasi,

dll). Dan penting untuk menginformasikan kepada pasien ataupun

perwakilannya yang resmi tentang fakta dan dijelaskan tentang situasi, alas

an pemindahan, nama rumah sakit rujukan juga harus diberikan dan

persetujuan dari pasien ataupun perwakilannya yang sah.


3. Koordinasi sebelum pemindahan pasien:

 Pemindahan pasien harus dilakukan dengan secepatnya.

 Dokter bertanggungjawab untuk menyediakan semua hal yang diperlukan

untuk pemindahan pasien. Rumah sakit yang dirujuk harus diinformasikan

tentang situasi medis dan prosedur terapi yang diberikan.

 Pemberitahuan kepada rumah sakit rujukan harus dilakukan bahkan

sebelum pemindahan dilakukan. Informasi yang diberikan harus secara

mendetail tentang individu. Penting juga untuk menyimpan nomor telepon

orang yang terlibat dalam pemindahan pasien.

 Rekam medis, rekam perawatan, dan diagnosis pasien akan dikirimkan

bersama dengan pasien.

4. Pertimbangan jenis transportasi yang akan digunakan:

 Situasi medis pasien yang akan dipindahkan (gawat, darurat, selektif)

 Jauhnya jarak pemindahan, waktu pemindahan yang diperlukan

 Prosedur medis yang diperlukan selama pemindahan

 Ketersediaan staf dan sumber daya

 Ramalan cuaca

 Dalam keadaan tertentu transportasi udara juga penting untuk diwaspadai

terhadap kemungkinan perubahan fisiologis selama penerbangan

5. Penjagaan pasien selama pemindahan:

 Anggota ambulans
 Dokter beserta suster yang sama-sama mampu melakukan CPR dan

peralatan CPR.

6. Perlengkapan untuk merawat pasien:

 Alat resusitasi manual dan jenis mask yang sesuai

 Mayotube, laringoskop, ETT, dan guide strings

 Sumber oksigen sesuai dengan kapasitas yang diperlukan (O2 =

(20+Volume minimum) x FiO2 x waktu pemindahan) + 50%)

 Aspirator dan probes

 Drainase torakal, alat introduksi

 Monitor dan defibrillator

 Pengukur tekanan darah otomatis dan manset yang sesuai alat-alat untuk

pungsi dan alat-alat untuk mempertahankan dehidrasi tubuh (syringe,

kateter dan infus)

 Cairan untuk infus (kristaloid dan koloid)

 Obat-obatan untuk advanced life support

 Ventilator selama pemindahan dengan volume/minute, pressure, PEEP dan

FiO2 dengan pengaturan yang mudah

 Alat komunikasi

 Beberapa obat yang harus tersedia bersamaan dengan tim yang

mengadakan pemindahan pasien, yaitu: Adenosin, Adrenalin, Alfentanil,

Aminophylin, Amiodaron, Atropin, Sodium Bicarbonat, Captopril,

Cefotaxim, Dexamethason, Diazepam, Digoxin, Isosorbide Dinitrat,

Dobutamin, Dopamin, Etomidat, Phenobarbital, Flumazenil, Furosemide,


Calcium Gluconate, Heparin, Hydralazine, Hydrate Chloral, Actrapid

Insulin, Isoprenalin, Mannitol, Methylprednisolone, Midazolam, Morphine,

Naloxone, Noradrenaline, Paracetamol, Propofol, Salbutamol,

Succinylcholine, Nifedipine, Magnesium Sulphate, Thiopental Sodium,

Vecuronium Bromide, Verapamil, Labetalol hydrochloride, 2% Lignocaine

(+gel and spray), Nitroglycerine atau Glyceryl Trinitrate.

7. Mempersiapkan Pasien untuk Transportasi

Tindakan di bawah ini harus diperhatikan dalam mempersiapkan pasien

yang akan ditransport:

1) Lakukan pemeriksaan menyeluruh

Pastikan bahwa pasien yang sadar bisa bernafas tanpa kesulitan setelah

diletakan di atas usungan. Jika pasien tidak sadar dan menggunakan alat

bantu jalan nafas (airway), pastikan bahwa pasien mendapat pertukaran

aliran yang cukup saat diletakkan di atas usungan.

2) Amankan posisi tandu di dalam ambulans

Pastikan selalu bahwa pasien dalam posisI aman selama perjalanan ke

rumah sakit. Tandu pasien dilengkapi dengan alat pengunci yang mencegah

roda usungan brgerak saat ambulans tengah melaju. Kelalaian mengunci alat

dengan sempurna pada kedua ujung usungan bisa berakibat buruk saat

ambulans bergerak.

3) Posisikan dan amankan pasien

Selama pemindahan ke ambulans, pasien harus diamankan dengan kuat

ke usungan. Bukan berati bahwa pasien harus ditransport dengan posisi


seperti itu. Perubahan posisi di dalam ambulans dapat dilakukan tetapi harus

disesuaikan dengan kondisi penyakit atau cederanya. Pada pasien tak sadar

yang tidak memiliki potensi cedera spinal, ubah posisi ke posisi recovery

(miring ke sisi) untuk menjaga terbukanya jalan nafas dan drainage cairan.

Pada pasien dengan kesulitan bernafas dan tidak ada kemungkinan cedera

spinal akan lebih nyaman bila ditransport dengan posisi duduk. Pasien syok

dapat ditransport dengan tungkai dinaikkan 8-12 inci. Pasien dengan potensi

cedera spinal harus tetap diimobilasasi dengan spinal board dan posisi pasien

harus diikat erat ke usungan.

4) Pastikan pasien terikat dengan baik dengan tandu

Tali ikat keamanan digunakan ketika pasien siap untuk dipindahkan ke

ambulans, sesuaikan kekencangan tali pengikat sehingga dapat menahan

pasien dengan aman tetapi tidak terlalu ketat yang dapat mengganggu

sirkulasi dan respirasi atau bahkan menyebabkan nyeri.

5) Persiapkan jika timbul komplikasi pernafasan dan jantung

Jika kondisi pasien cenderung berkembang ke arah henti jantung,

letakkan spinal board pendek atau papan RJP di bawah matras sebelum

ambulans dijalankan. Ini dilakukan agar tidak perlu membuang banyak

waktu untuk meletakkan dan memposisikan papan seandainya jika benar

terjadi henti jantung.

6) Melonggarkan pakaian yang ketat

Pakaian dapat mempengaruhi sirkulasi dan pernafasan. Longgarkan dasi

dan sabuk serta buka semua pakaian yang menutupi leher. Luruskan pakaian

yang tertekuk di bawah tali ikat pengaman. Tapi sebelum melakukan


tindakan apapun, jelaskan dahulu apa yang akan Anda lakukan dan

alasannya, termasuk memperbaiki pakaian pasien.

7) Periksa perbannya

Perban yang telah di pasang dengan baik pun dapat menjadi longgar

ketika pasien dipindahkan ke ambulans. Periksa setiap perban untuk

memastikan keamanannya. Jangan menarik perban yang longgar dengan

enteng. Perdarahan hebat dapat terjadi ketika tekanan perban dicabut secara

tiba-tiba.

8) Periksa bidainya

Alat-alat imobilisasi dapat juga mengendur selama pemindahan ke

ambulans. Periksa perban atau kain mitella yang menjaga bidai kayu tetap

pada tempatnya. Periksa alat-alat traksi untuk memastikan bahwa traksi yang

benar masih tetap terjaga. Periksa anggota gerak yang dibidai perihal denyut

nadi bagian distal, fungsi motorik, dan sensasinya

9) Naikkan keluarga atau teman dekat yang harus menemani pasien

Bila tidak ada cara lain bagi keluarga dan teman pasien untuk bisa pergi

ke rumah sakit, biarkan mereka menumpang di ruang pengemudi-bukan di

ruang pasien- karena dapat mempengaruhi proses perawatan pasien. Pastikan

mereka mengunci sabuk pengamannya

10) Naikkan barang-barang pribadi

Jika dompet, koper, tas, atau barang pribadi pasien lainnya dibawa serta,

pastikan barang tersebut aman di dalam ambulans. Jika barang pasien telah

Anda bawa, pastikan Anda telah memberi tahu polisi apa saja yang dibawa.

Ikuti polisi dan isilah berkas-berkas sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
11) Tenangkan pasien

Kecemasan dan kegelisahan seringkali menerpa pasien ketika dinaikkan

ke ambulans. Tidak hanya karena diikat dengan tali pengaman yang kuat

atau karena berada dalam ruangan yang sempit, tapi juga karena merasa tiba-

tiba dipisahkan dari anggota keluarga dan teman-temannya. Ucapkan

beberapa patah kata dan tenangkan pasien dengan cara yang simpatik. Perlu

diingat bahwa mainan seperti boneka beruang dapat berarti banyak untuk

menenangkan pasien anak yang ketakutan. Ingatan akan kejadian tabrakan,

kebingungan, keributan, cedera, rasa nyeri, kehilangan orang tua, perawatan

atas cedera yang ada, dan pengumpulan informasi oleh Anda akan

menimbulkan kesan pengalaman yang menakutkan bagi pasien anak.

Senyum dan nada suara yang menenangkan adalah hal yang penting dan

dapat menjadi perawatan kritis yang paling dibutuhan oleh pasien anak yang

ketakutan. Ketika anda merasa bahwa pasien dan ambulans telah siap

diberangkatkan, beri tanda kepada pengemudi untuk memulai perjalanan ke

rumah sakit. Jika yang Anda tangani ini adalah pasien prioritas tinggi, maka

tahap persiapan, melonggarkan pakaian, memeriksa perban dan bidai,

menenangkan pasien, bahkan pemeriksaan vital sign dapat ditangguhkan dan

dilakukan selama perjalanan daripada harus diselesaikan tetapi menunda

transportasi pasien ke rumah sakit.

8. Perawatan pasien selama perjalanan

Dokter dan Perawat yang merujuk atau bertugas dalam ambulans

minimal seorang yang terlatih PPGD (Pelatihan Pertolongan Gawat Darurat)


atau sudah mengikutinya. Dalam keadaan ini tugas perawat harus melakukan

sejumlah aktivitas berikut selama dalam perjalanan:

 Memberi pusat kendali tim telah meninggalkan lokasi kejadian

 Melanjutkan perawatan medis saat dibutuhkan/ Jika usaha bantuan hidep

telah dimulai sebelum memasukkan pasien di dalam ambulans, maka

prosedur tersebut harus dilanjutkan selama perjalanan di rumah sakit.

Melakukan satbilisai management dengan evaluasi resusitas dugsi vgital,

mendokumentasikan pemeriksaan awakl sampai temuan baru saat

dilakukannya pre hospital care

 Melakukan pemeriksaan menyeluruh dan memonitor terus perubahan vital

sign.

Prinsip utama dalam penanggulangan penderita gawat darurat adalah

jangan membuat penyakit / cidera penderita menjadi lebih parah (Do not further

harm). Keadaan penderita diharapkan menjadi lebih baik pada setiap tahap

penanggulangan, mulai dari tempat kejadian sampai kerumah sakit yang dapat

member therapy paripurna. Dengan demikian tidaklah berlebihan apabila

dikatakan bahwa transportasi merupakan salah satu factor yang menentukan

keberhasilan penanggulangan penderita gawat darurat.

Pelayanan yang optimal saat penanganan pasien di lapangan maupun

selama transport menuju rumah sakit rujukan. Kedua pendapat tersebut yaitu

field stabilization dan scoop and run. Pendapat pertama yakni stay and

stabilize atau stay and play , hal ini mencakup tentang penerapan teknis medis

kepada pasien dengan cara memberikan ALS di lapangan yang mencakup 1.

Amankan jalan nafas dengan intubasi endotrakeal menggunakan rapid sequence


induction (RSI) 2.Dekompresi dada 3.Memasang infuse 4.Resusitasi cairan pada

pasien hipovolemik. Tujuan dari tindakan tersebut untuk stabilisasi pasien

seperlu mungkin saat di lokasi kejadian.

9. Prinsip Stabilisasi

Merupakan tindakan yang harus dilakukan terhadap penderita gawat

darurat agar kondisi penderita (ABCDE) tidak semakin buruk atau

meninggalkan cacat di kemudian hari. Didalam penanggulangan penderita

trauma, sebelum dilakukan transportasi maka penderita gawat darurat harus

dilakukan stabilisasi agar penderita selamat selama transportasi sampai ke

rumah sakit tujuan dengan kondisi yang stabil ( ABCDE tidak semakin

memburuk ). Stabilisasi dilakukan secara optimal sesuai dengan kemampuan

tenaga dan sarana yang tersedia ditempat kejadian.

Masyarakat awam atau awam khusus diharapkan mampu melakukan :

 Bantuan hidup dasar ( Basic Life Support )

 Mengatasi perdarahan eksternal

 Memasang pembalut dan bidai

 Memilih sarana transportasi yang sesuai

Apabila yang datang ke tempat kejadian adalah tim gawat darurat

(Ambulan 118), maka dapat dilakukan :

 Penilaian assessment sekaligus resusitasi terhadap problem yang

mengancam jiwa penderita ( ABCDE ), misal :

 Mempertahankan kelancaran jalan nafas / airway

 Memberi therapy oksigen


 Memberi bantuan ventilasi mekanik

 Mengatasi perdarahan eksterna

 Mengatasi syock

 Apabila tersedia sarana dapat dilakukan resusitasi jantung paru.

 Imobilisasi terhadap penderita trauma dengan memasang servical

collar, bidai atau long spine board sesuai dengan kebutuhan.

 Mencatat informasi seperti waktu kejadian, hal-hal yang berhubungan

dengan kejadian, mekanisme trauma ( pada penderita trauma ), riwayat

penyakit / pengobatan sebelumnya, untuk dilaporkan kepada dokter

jaga instalasi / Unit Gawat Darurat.

 Melakukan transportasi segera tanpa menunda waktu ( respon time )7