Anda di halaman 1dari 22

PROPOSAL PENELITIAN

GAMBARAN PERILAKU PERAWATAN ORGAN REPRODUKSI SAAT


MENSTRUASI PADA SANTRI PUTRI DI PONDOK PESANTREN IBNU
AQIL KABUPATEN BOGOR

Oleh :

LUDYA DEVI ARIYANI

NPM : 141106160494

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNNIVERSITAS IBN KHALDUN BOGOR

2017
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah …………………………………………………….1


1.2 Rumusan Masalah …………………………………………………………..2
1.3 Pertanyaan Penelitian ……………………………………………………….3
1.4 Tujuan Penelitian …………………………………………………………...4
1.5 Manfaat Penelitian ………………………………………………………….5
1.6 Ruang Lingkup …………………………………………………………….5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Perilaku …………………………………………………………….6

2.2 Organ Reproduksi Remaja ………………………………………………….9

2.3 Definisi Proses Menstruasi ………………………………………………….10

2.4 Siklus Menstruasi ……………………………………………………………12

2.5 Gangguan Saat Menstruasi …………………………………………………..13

2.6 Keadaan Patologis Saat Menstruasi ………………………………………….14

2.7 Batasan-Batasan Terkait Menstruasi ………………………………………...15

BAB III KERANGKA KONSEP

3.1 Kerangka Konsep …………………………………………………………..16

BAB IV METODE PENELITIAN

4.1 Jenis Penelitian …………………………………………………………….17

4.2 Populasi dan Sampel ……………………………………………………….17

4.3 Variabel Penelitian …………………………………………………………18

4.4 Pengumpulan Data …………………………………………………………19

4.5 Analisis Data ………………………………………………………………20


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Berbagai permasalahan yang ada pada remaja sangat rentan dengan kesehatan
reproduksi, World Health Organization (WHO) mendefinisakn bahwa kesehatan
reproduksi merupakan suatu keadaan fisik dan mental serta social yang utuh, bukan
hanya bebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan
dengan system reproduksi, fungsi serta prosesnya.
Praktik kebersihan organ reproduksi saat menstruasi pada remaja memerlukan
perhatian. Pengetahuan yang kurang sesuai, serta batasan-batasan yang dialami terkait
dengan menstruasi dapat berdampak pada kesehatan, pendidikan, maupun psikososial
(UNICEF, 2015). Praktik kebersihan saat menstruasi yang buruk menyebabkan
seorang remaja berisiko 1,4 sampai dengan 25,07 kali terkena Reproductive Tract
Infection (RTI) (Stumpter and Torondel, 2013).
Reproductive Tract Infection (RTI) telah menjadi silent epidemic yang
mengancam kesehatan perempuan di dunia. Setiap tahunnya ada sekitar 10%
perempuan di seluruh dunia terkena infeksi genital termasuk infeksi saluran kemih
dan vaginitis bakteri. Selain itu, terdapat 75% wanita di dunia memiliki riwayat
infeksi genital. Adapun faktor resiko umum untuk infeksi vagina yaitu kehamilan dan
kebersihan yang buruk terutama perilaku yang buruk saat menstruasi (Geethu, 2016).
Sebuah survey yang dilakukan di Nusa Tenggara Timur (NTT), Jawa Timur, Papua,
dan Sulawesi Selatan terkait kebersihan saat menstruasi menyebutkan bahwa hanya
terdapat 67% remaja di kota dan 41% remaja di desa yang mengganti pembalutnya 4
sampai 8 jam yang menandakan masih adanya perilaku negative (Quillet, 2015).
Di Indonesia, diketahui beberapa determinan antara lain, kurangnya
pengetahuan, adanya kepercayaan dan anggapan tabu membicarakan masalah
menstruasi, kepercayaan bahwa menstruasi merupakan kondisi yang tidak bersih dan
kotor juga konstribusi terhadap praktik kebersihan saat menstruasi, begitu pula
keadaan air, sarana sanitasi, dan kebersihan toilet di sekolah (Burnet Institute, 2015).
Selain berdampak terhadap kesehatan, praktik buruk saat menstruasi juga
berdampak pada pendidikan. Diketahui bahwa 1 dari 6 anak perempuan di dunia
terpaksa absen sekolah selama satu hari atau lebih pada saat menstruasi, bahkan di
Negara berkembang, anak perempuan absen sekolah 5 hari setiap bulan karena sedang
menstruasi (Burnet Institute, 2015), sedangkan berdasarkan studi yang dilakukan di
Uganda menyatakan 88,63% remaja pernah absen di sekolah karena menstruasi
(Boosey et al., 2014).
Sebagian besar remaja berada di sekolah sehingga sekolah menjadi salah satu
tempat memperoleh pendidikan, termasuk pendidikan kesehatan reproduksi,
seksualitas, dan perilaku kesehatan. Salah satu model pendidikan yang ada di
Indonesia adalah pondok pesantren, suatu tempat pendidikan dan juga pengajaran
yang menekankan pada pelajaran agama Islam dan didukung asrama sebagai tempat
tinggal santri. Pondok pesantren memiliki tiga kategori, yaitu tradisional, modern, dan
perpaduan. Sebagian besar warga pondok pesantren adalah santri, yaitu remaja yang
berusia 9−20 tahun dengan kategori santri mukim, yaitu santri yang menetap dan
santri kalong, yaitu santri yang hanya datang saat-saat waktu mengaji.
Remaja berinteraksi selama 24 jam di pondok pesantren dengan komunitas teman usia
sebaya. Masalah kesehatan di pondok pesantren masih memerlukan perhatian dari
berbagai pihak yang terkait, baik dalam akses pelayanan kesehatan, perilaku sehat,
maupun kesehatan lingkungan.
6 pondok pesantren di Jawa Timur memberikan hasil 64,20% santri menderita
penyakit skabies, 73,70% santri memiliki higiene perorangan yang buruk, perilaku
sering memakai baju atau handuk bergantian dengan teman, dan masih banyak
ditemui sanitasi lingkungan pondok pesantren yang kurang baik sehingga hal tersebut
akan sangat berpengaruh pada kesehatan reproduksi remaja (Ma’rufi dkk).
Berbagai masalah yang terjadi di pondok pesantren akan memengaruhi kesehatan
reproduksi para santri selaku remaja yang tinggal di Pondok Pesantren itu. Kesehatan
reproduksi remaja banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor internal
maupun faktor eksternal. Faktor internal yaitu pengetahuan dan sikap, sedangkan
faktor eksternal yaitu lingkungan yang meliputi lingkungan keluarga, guru, dan teman
sebaya, serta sumber informasi mengenai kesehatan reproduksi.
Berdasarkan informasi dari data tersebut maka peneliti tertarik untuk menggali
dan meneliti dengan judul “Gambaran perilaku perawatan organ reproduksi saat
menstruasi pada santri putri di Pondok Pesantren Aqil Kabupaten Bogor”.
1.2 RUMUSAN MASALAH

Pengetahuan terkait kebersihan menstruasi bagi remaja yang akan atau sedang
mengalami menarche sangat perlu diperhatikan. Hal ini dilakukan agar dapat
menghindari dampak negative yang akan dialami baik dalam hal biologis, social,
maupun psikologis yang akhirnya mengganggu pembelajaran di sekolah, bahkan
menyebabkan siswi absen dan berhenti berpartisipasi di sekolah. Hal ini tentunya
sangat merugikan remaja, karena kehilangan waktu yang semestinya digunakan untuk
kegiatan belajar mengajar.

Penanganan selama menstruasi yang tidak benar dalam jangka lama dapat
mengakibatkan suatu penyakit, diantaranya infeksi saluran reproduksi, penyakit
radang panggul, infeksi saluran kemih dan lain lain, yang dapat mengakibatkan
infertilitas perempuan (Sharma et al., 2017).

Berdasarkan uraian tersebut maka penulis dapat merumuskan permasalahan


dengan cara ingin mengetahui Gambaran Perilaku Perawatan Organ Reproduksi Saat
Menstruasi Pada Santri Putri di Pondok Pesantren Ibnu Aqil Kabupaten Bogor”.

1.3 PERTANYAAN PENELITIAN


1.3.1 Bagaimanakan cara merawat organ reproduksi saat menstruasi?
1.3.2 Apakah dampak dari tidak merawat organ reproduksi dengan baik saat
menstruasi?

1.4 TUJUAN PENELITIAN


1.4.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui Gambaran Perawatan Organ Reproduksi Saat Menstruasi
Pada Santri Putri di Pondok Pesantren Ibnu Aqil Kabupaten Bogor.
1.4.2 Tujuan Khusus
1.4.2.1 Untuk mengetahui karakteristik santri putri meliputi umur, pendidikan
terakhir, pekerjaan orang tua.
1.4.2.2 Untuk mengetahui pengetahuan santri putrid mengenai kesehatan
reproduksi.
1.4.2.3 Untuk mengetahui sikap santri putrid terhadap kesehatan reproduksi.
1.4.2.4 Untuk mengetahui praktik kesehatan reproduksi santri putrid saat
menstruasi.
1.5 MANFAAT PENELITIAN
1.5.1 Manfaat Bagi Peneliti
Diharapkan dapat menambah pengetahuan dan pengalaman dalam
mengimplementasikan ilmu Kesehatan Masyarakat dan menambah skill serta
kemampuan dalam melakukan penelitian.
1.5.2 Manfaat Bagi Instansi Pendidikan
Diharapkan dapat menjadi sumber bacaan mahasiswa yang akan
melakukan suatu penelitian dan dapat digunakan sebagai sumber bacaan di
perpustakaan.
1.5.3 Manfaat Bagi Pondok Pesantren Ibnu Aqil Kabupaten Bogor
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan oleh pengurus atau
yang bertanggung jawab di pondok pesantren Ibnu Aqil dalam memberikan
informasi tentang kebersihan saat menstruasi pada santriwati.

1.6 RUANG LINGKUP

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dekriptif yang diakukan untuk


mengetahui praktik kebersihan menstruasi santri putri di Pondok Pesantren Ibnu Aqil,
adapun aspek yang diteliti adalah karakteristik, pengetahuan, sikap dan praktik
kesehatan reproduksi santri putri saat menstruasi.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Perilaku
2.1.1 Pengertian Perilaku
Perilaku dapat diartikan sebagai suatu kegiatan atau aktivitas organisme yang
bersangkutan, baik yang dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung.
Perilaku manusia pada hakikatnya adalah suatu aktivitas dari manusia itu sendiri,
yang mempunyai bentangan sangat luas mencakup berjalan, berbicara, bereaksi,
berpakaian, berpikir, persepsi dan emosi. Perilaku dan gejala perilaku yang tampak
pada kegiatan organisme tersebut dipengaruhi oleh faktor keturunan (genetik) dan
lingkungan ini merupakan penentu dari perilaku makhluk hidup termasuk perilaku
manusia. Hereditas atau faktor keturunan merupakan konsepsi dasar atau modal untuk
perkembangan perilaku makhluk hidup itu untuk selanjutnya. Sedangkan lingkungan
merupakan kondisi atau lahan untuk perkembangan perilaku tersebut
(Notoatmodjo,2007).
Skinner (1938) dalam (Notoadmodjo, 2007), seorang ahli psikologi
merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap
stimulus (rangsangan dari luar). Oleh karena itu terjadi melalui proses adanya
stimulus terhadap organism dan kemudian organism tersebut merespon, maka teori ini
disebut teori S-O-R atau Stimulus-Organisme-Response. Dalam hal ini ada 2 (dua)
respon, yaitu :
a. Informant respons atau reflextive
Respon yang ditimbulkan oleh rangsangan-rangsangan (stimulus) tertentu.
Stimulus semacam ini disebut eliciting stimulation karena menimbulkan respon-
respon yang relatif tetap.
b. Operant respons atau instrumental respons
Respon yang timbul dan berkembang kemudian diikuti oleh stimulus atau
perangsang tertentu.

Berdasarkan rumus teori Skinner tersebut maka perilaku manusia dapat


dikelompokkan menjadi dua, yaitu (Notoadmodjo, 2007):

a. Perilaku tertutup (covert behavior)


Perilaku tertutup terjadi bila respon terhadap stimulus tersebut masih belum dapat
diamati orang lain (dari luar) secara jelas. Respon terhadap stimulus masih
terbatas dalam bentuk perhatian, perasaan, persepsi, pengetahuan dan sikap yang
terjadi pada orang yang menerima stimulus tersebut dan belum dapat diamati
secara jelas oleh orang lain. Oleh sebab itu, disebut covert behaviour atau
unobservable behaviour.
b. Perilaku terbuka (overt behavior)
Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka.
Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau
praktek, yang mudah diamati atau dilihat orang lain. Oleh sebab itu disebut overt
behaviour, tindakan nyata atau praktik (practice). Perilaku seseorang adalah
sangat kompleks, dan mempunyai ruang lingkup yang sangat luas. Menurut
Benyamin Bloom (1908) dalam Notoatmodjo (2010)

bahwa perilaku dibagi dalam 3 domain yakni kognitif (cognitive), afektif


(affective), dan psikomotor (psychomotor). Dalam perkembangan selanjutnya,
berdasarkan pembagian domain oleh Bloom ini, dan untuk kepentingan pendidikan
praktis, dikembangkan menjadi 3 tingkat ranah perilaku, yaitu pengetahuan
(knowledge), sikap (attitude), dan tindakan atau praktik (practice).

a. Pengetahuan (knowledge)
Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang
terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan
sebagainya). Dengan sendirinya, pada waktu penginderaan sehingga
menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian
dan persepsi terhadap objek. Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai
intensitas atau tingkat yang berbeda-beda. Sebagian besar pengetahuan seseorang
diperoleh melalui indera pendengaran (telinga), dan indera penglihatan (mata).
Pengetahuan seksualitas merupakan pengetahuan yang menyangkut cara
seseorang bersikap atau bertingkah laku yang sehat, bertanggung jawab serta tahu
apa yang dilakukannya, dan apa akibat bagi dirinya, pasangannya dan masyarakat
sehingga dapat membahagiakan dirinya juga dapat memenuhi kebutuhan
seksualnya (Wildan dalam Amrillah, 2006).
Secara garis besarnya Notoatmodjo (2010) membagi dalam 6 tingkat
pengetahuan, yaitu:

1) Tahu (know)
Tahu diartikan hanya sebagai recall (memanggil) memori yang telah ada
sebelumnya setelah mengamati sesuatu. Untuk mengukur bahwa seseorang tahu,
dapat diukur dari kemampuan seseorang dalam menyebutkan, menguraikan,
mendefinisikan, dan sebagainya.
2) Memahami (comprehension)
Memahami suatu objek bukan sekadar tahu terhadap objek tersebut, tidak sekadar
dapat menyebutkan, tetapi orang tersebut harus dapat menginterpretasikan secara
benar tentang objek yang diketahui tersebut.
3) Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek yang dimaksud,
dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang diketahui tersebut pada
situasi yang lain.
4) Analisis (analysis)
Analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan dan/atau memisahkan,
kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen yang terdapat dalam
suatu masalah atau objek yang diketahui. Indikasi bahwa pengetahuan seseorang
itu sudah sampai pada tingkat analisis adalah apabila orang tersebut telah dapat
membedakan, atau memisahkan, mengelompokkan, membuat diagram (bagan)
terhadap pengetahuan atas objek tersebut.
5) Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjukkan suatu kemampuan seseorang untuk merangkum atau
meletakkan dalam satu hubungan yang logis dari komponen-komponen
pengetahuan yang dimiliki. Dengan kata lain, sintesis adalah suatu kemampuan
untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang telah ada.
Menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
6) Evaluasi (evaluation)
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan justifikasi
atau penilaian terhadap suatu objek tertentu. Penilaian ini dengan sendirinya
didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau norma-norma yang
berlaku dimasyarakat.
b. Sikap (Attitude)
Sikap adalah juga respons tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek
tertentu, yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan
(senang-tidak senang, setuju-tidak setuju, baik-tidak baik, dan sebagainya). Fungsi
sikap belum merupakan tindakan (reaksi terbuka) atau aktivitas, akan tetapi
merupakan predisposisi perilaku (tindakan), atau reaksi tertutup. Dalam
menentukan sikap yang utuh, pengetahuan, pikiran, keyakinan, dan emosi
memegang peranan penting (Notoatmodjo, 2010).
Dalam Notoatmodjo (2010), seperti halnya pengetahuan, sikap juga
mempunyai tingkat-tingkat berdasarkan intensitasnya, sebagai berikut:
1) Menerima (receiving)
Menerima diartikan bahwa orang atau subjek mau menerima stimulus yang
diberikan (objek).
2) Menanggapi (responding)
Menanggapi disini diartikan memberikan jawaban atau tanggapan terhadap
pertanyaan atau objek yang dihadapi.
3) Menghargai (valuing)
Menghargai diartikan subjek atau seseorang memberikan nilai yang positif
terhadap objek atau stimulus, dalam arti membahasnya dengan orang lain,
bahkan mengajak atau mempengaruhi atau menganjurkan orang lain
merespons.
4) Bertanggung jawab (Responsible)
Sikap yang paling tinggi tingkatannya adalah bertanggung jawab terhadap apa
yang telah diyakininya. Seseorang yang telah mengambil sikap tertentu
berdasarkan keyakinannya, dia harus berani mengambil risiko bila ada orang
lain yang mencemoohkan atau adanya risiko lain.

c. Tindakan (Practice)
Secara logis, sikap akan dicerminkan dalam bentuk tindakan namun tidak
dapat dikatakan bahwa sikap dan tindakan memiliki hubungan yang sistematis.
Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behavior).
Untuk terwujudnya sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor
pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas
dan faktor dukungan (support) dari pihak lain (Notoatmodjo, 2010).
Selanjutnya Notoatmodjo (2010) membagi praktik atau tindakan ini menjadi 3
tingkatan menurut kualitasnya, yakni:
1) Praktik terpimpin (guided response)
Apabila subjek atau seseorang telah melakukan sesuatu tetapi masih
tergantung pada tuntunan atau menggunakan panduan. Misalnya, seorang
ibu memeriksakan kehamilannya tetapi masih menunggu diingatkan oleh
bidan atau tetangganya, adalah masih disebut praktik atau tindakan
terpimpin.
2) Praktik secara mekanisme (mechanism)
Apabila subjek atau seseorang telah melakukan atau mempraktikkan
sesuatu hal secara otomatis maka disebut praktik atau tindakan mekanis.
Misalnya seorang ibu selalu membawa anaknya ke Posyandu untuk
ditimbang, tanpa harus menunggu perintah dari kader atau petugas
kesehatan.
3) Adopsi (adoption)
Adopsi adalah suatu tindakan atau praktik yang sudah berkembang.
Artinya, apa yang dilakukan tidak sekadar rutinitas atau mekanisme saja,
tetapi sudah dilakukan modifikasi, atau tindakan atau perilaku yang
berkualitas. Misalnya menggosok gigi, bukan sekadar gosok gigi,
melainkan dengan teknik-teknik yang benar.

2.2 Organ Reproduksi Wanita

2.2.1 Anatomi

Perempuan mempunyai organ reproduksi yang berfungsi sebagai jalan masuk


sperma ke dalam tubuh perempuan dan sebagai pelindung organ kelamin dalam dari
berbagai organisme penyebab infeksi. Organisme penyebab infeksi dapat masuk ke
organ dalam perempuan karena saluran reproduksi perempuan memiliki lubang yang
berhubungan dengan dunia luar, sehingga mikroorganisme penyebab penyakit bisa
masuk dan menyebakan infeksi. Anatomi organ reproduksi perempuan terdiri atas
vulva, vagina, serviks, rahim, saluran telur, dan indung telur (Wiknjosastro, 2005).

1) Vulva
Vulva merupakan suatu daerah yang menyelubungi vagina. Vulva
terdiri atas mons pubis, labia (labia mayora dan labia minora), klitoris,
daerah ujung luar vagina dan saluran kemih (Sloane, 2005).
2) Vagina
Vagina merupakan saluran elastis, panjangnya sekitar 8-10 cm, dan
berakhir pada rahim. Vagina dilalui oleh darah pada sat menstruasi dan
merupakan jalan lahir. Karena terbentuk dari otot, vagina bisa melebar dan
menyempit. Ujung yang terbuka, vagina ditutupi oleh selaput tipis yang
disebut selaput dara (Wiknjosastro, 2005).
3) Serviks
Serviks dikenal juga sebagai mulut rahim. Serviks merupakan bagian
terdepan dari rahim yang menonjol ke dalam vagina sehingga
berhubungan dengan vagina (Wiknjosastro, 2005).
4) Rahim (uterus)
Uterus merupakan organ yang memiliki peranan besar dalam
reproduksi perempuan, yakni saat menstruasi hingga melahirkan. Uterus
terdiri dari 3 lapisan, yaitu lapisan perimetrium, lapisan myometrium dan
lapisan endometrium (Sloane, 2005).
5) Saluran telur (tuba fallopi)
Tuba fallopi membentang sepanjang 5-7 cm, 6 cm dari tepi atas rahim
kearah ovarium. Ujung dari tuba kiri dan kanan membentuk corong
sehingga memiliki lubang yang lebih besar agar sel telur jatuh kedalamnya
ketika dilepaskan dari ovarium (Sloane, 2005).
6) Indung telur (ovarium)
Ovarium atau indung telur tidak menggantung pada tuba falllopi tetapi
menggantung dengan bantuan sebuah ligamen. Sel telur bergerak di
sepanjang tuba fallopi dengan bantuan silia (rambut getar) dan otot pada
dinding tuba. Sejak pubertas setiap bulan secara bergantian ovarium
melepas satu ovum dari folikel de graaf (folikel yang telah matang)
(Wiknjosastro, 2005).

2.2.2 Cara Menjaga Kebersihan Organ Reproduksi


Menurut Kissanti (2008) organ reproduksi perempuan mudah terkena bakteri
yang dapat menimbulkan bau tak sedap di daerah kelamin dan infeksi. Maka
perempuan perlu menjaga kebersihan organ reproduksi seperti:
1) Mencuci vagina setiap hari dengan cara membasuh dari arah depan
(vagina) ke belakang (anus) secara hati-hati menggunakan air bersih dan
sabun yang lembut setiap habis buang air kecil, buang air besar dan mandi.
2) Sering ganti pakaian dalam, paling tidak sehari dua kali di saat mandi.
3) Pada saat menstruasi, gunakan pembalut berbahan lembut, menyerap
dengan baik, tidak mengandung bahan yang membuat alergi (misalnya
parfum atau gel) dan merekat dengan baik pada celana dalam. Pembalut
perlu diganti sekitar 4-5 kali dalam sehari untuk menghindari pertumbuhan
bakteri yang dapat masuk ke dalam vagina.
4) Selalu mencuci tangan sebelum menyentuh vagina
5) Selalu gunakan celana dalam yang bersih, kering dan terbuat dari bahan
katun.
6) Hindari menggunakan handuk atau waslap milik orang lain untuk
mengeringkan vagina.
7) Mencukur sebagian dari rambut kemaluan untuk menghindari kelembaban
yang berlebih di daerah vagina.

2.3 Definisi dan Proses Menstruasi


Menstruasi merupakan peristiwa luruhnya endrometrium (dinding rahim)
bersama dengan ovum (sel telur) yang tidak dibuahi (Hanifah, 2012). Dalam
pengertian lain juga didefinisikan sebagai pengalaman yag biasa dialami oleh
sebagian besar wanita yang tidak menggunakan kontrasepsi hormonal untuk
mencegah atau mengontrol pendarahan, selama wanita tersebut tidak hamil dan
berada pada fase produktif. Wanita yang sudah menstruasi menandakan bahwa
tubuhnya sudah siap untuk hamil (Newton, 2016).
Menstruasi terjadi karena pengaruh stimulasi endometrial yang mempengaruhi
kadar estrogen (Kotdawala, 2004), serta melibatkan mekanisme kompleks yang
meliputi pematangan aksis hipotalamus-hipofisis-ovarium untuk memproduksi ovum
yang sudah matang sehingga dapat menunjang pertumbuhan zigot jika terjadi
pembuahan (Linda, 2005).
Proses menstruasi diawali dari fase folikuler yang terjadi pada hari pertama
menstruasi atau terlepasnya endreometrium. Follicle Stimulating Hormone (FSH)
merangsang pertumbuhan folikel primordial yang ada pada ovarium. Hanya ada satu
folikel yang terus berkembang yang menjadi folikel de graaf, sementara yang lain
beregenerasi. Pertumbuhan dan perkembangan folikel primer dirangsang oleh FSH.
Folikel de graaf yang matang, menghasilkan hormone esterogen yang merangsang
keluarnya LH dari hipofisis (Kusmiran, 2012).
Esterogen akan memicu perbaikan endrometrium yang menalami peluruhan,
esterogen juga bekerja untuk menghambat pembentukan FSH dan menstimulus
hipofisis untuk menghasilkan LH yang berfungsi untuk merangsang folikel de graaf
yang masak untuk ovulasi. LH merangsang folikel yang kosong untuk berubah
menjadi badan kuning (corpus luteum). Badan kuning menghasilkan hormone
progesterone yang berfungsi mempertebal lapisan endrometrium yang kaya dengan
pembuluh darah untuk mempersiapkan embrio. Periode ini disebut fase luteal.
Progesterone yang dihasilkan juga berfungsi menghambat pembentukan FSH dan LH,
akibatnya korpus luteum mengecil dan menghilang.
Dengan terhentinya produksi progesterone akan menghentikan suplai nutrisi
ke endometrium akibatnya endometrium akan mongering (Eny, 2012). Ketika
pembuahan tidak terjadi maka endometrium akan menjadi iskemik, arteri spiralis
yang menyusupi lapisan ini berkontraksi secara bertahap sehingga seluruh area
selaput lendir pada endometrium akan mati. Pada waktu yang sama terjadi pelebaran
pembuluh darah dan terjadilah menstruasi (Johannes & Drecoll, 2008), karena terjadi
pendarahan dan kontraksi di rahim, maka apabila terjadi kram merupakan proses yang
normal (Jacquelyn & L long, 2010).

2.4 Siklus Menstruasi


Siklus menstruasi merupakan waktu dari hari pertama mengalami menstruasi
sampai pada hari pertama di periode selanjutnya. Sedangkan lamanya siklus
menstruasi rata-rata adalah 28 hari. Namun adapula yang lebih pendek yaitu 25 hari,
atau justru lebih panjang 35 hari. Seorang remaja mulai menstruasi pada umur 10
sampai 12 tahun dan berakhir pada fase menopause yaitu pada kisaran umur 50-55
tahun (Choises, 2017).

2.5 Gangguan Saat Menstruasi


Terdapat beberapa gangguan gangguan yang sering dialami wanita yang
terjadi saat menstruasi diantaranya terkait dengan gangguan jumlah darah selama
menstruasi dan kelainan siklus (Manuaba, 2009).
Pertama, gangguan jumlah darah dan lamanya menstruasi antara lain
Hipermenorea (menoragia) yaitu gangguan yang ditandai dengan banyaknya jumlah
darah yang dikeluarkan saat menstruasi. Penyebabnya kemungkinan terdapat mioma
uteri (pembesaran rahim), polip endometrium, atau hyperplasia endometrium
(penebalan dinding rahim). Adapun kondisi sebaliknya disebut hipomenorea yang
ditandai dengan jumlah darah yang digunakan sangat sedikit. Adapun penyebabnya,
antara lain karena kekurangan gizi, atau kelainan penyakit tertentu dll. (Manuaba,
2009).
Kedua, siklus menstruasi yang tidak normal, misalnya polimenoria yaitu
menstruasi yang sering terjadi dan abnormal, aligomenorea yaitu jumlah siklus
menstruasi melebihi 35 hari, serta amonera (Manuaba, 2009).

2.6 Keadaan Patologis Saat Menstruasi


Terdapat keadaan patologis saat menstruasi misalnya mastodinia yaitu rasa
pembengkakan dan pembesaran pada payudara sebelum menstruasi, mittelschmerz
(rasa nyeri saat ovulasi) serta dismenore (rasa nyeri saat menstruasi). Perasaan nyeri
saat haid dapat berupa kram ringan pada bagian kemaluan sampai terjadi gangguan
dalam tugas sehari-hari. Dismenorea ada dua jenis yaitu primer dan sekunder.
Dismenorea primer terjadi tidak karena ada kelainan anatomis pada alat kelamin,
sementara dismenorea sekunder terjadi karena kelainan anatomis yang jelas misalnya
haid yang disertai dengan infeksi, endometriosis, mioma uteri, polip endometrial,
polip serviks, pemakaian IUD atau AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim) (Taufan
Nugroho, 2012).

2.7 Batasan-Batasan Terkait Menstruasi


Batasan terkait dengan menstruasi antara lain batasan terkait makanan,
kebiasaan, dan social (Burnet Institute, 2015). Di ranah social misalnya, seorang
wanita harus tidur di tempat yang terpisah, menghindari interaksi dengan laki-laki,
memasak, mengambil air, menyapu, atau melakukan pekerjaan rumah tangga, berjaln
dengan bebas, melintasi kebun dimana tempat tumbuh tanaman tertentu seperti labu
dan kacang tanah, melintasi daerah (yang ada sapi hamil di dalamnya) dll (WEDC,
2014).
Adapun batasan dalam aktivitas sehari-hari remaja di Indonesia antara lain,
tidak boleh membasuh rambut, memotong kuku dan rambut, berjemur, mengeringkan
celana dalam di luar rumah, berenang, mandi dengan telanjang, memasuki toilet laki-
laki, tidur siang, basah dengan air hujan, dan keluar pada mala hari (Burnet Institute,
2015).
Terkait dengan larangan terhadap makanan atau minuman tertentu , misalnya
ada larangan mengkonsumsi es, air kelapa, makanan dan minuman yang manis, nanas,
mentimun, makanan yang berminyak, gorengan, ikan yang dimasak, ikan asin, air
yang tidak dimasak, makanan pedas, soda, makanan dan minuman masam, daging,
alcohol, telur, kacang dan kecambahnya, makanan asin, dan tidak diperbolehkan
memasak nasi (Burnet Institute, 2015).
Batasan tertentu juga ada dalam agama, misalnya beberapa kuil Budha
melarang wanita menstruasi untuk memasukinya. Dalam agama Kristen, alkitab
perjanjian lama menunjukkan bahwa wanita yang sedang menstruasi tidak suci,
sehingga sesuatu yang disentuh akan menjadi najis, ketika seorang laki-laki
menyentuh tempat tidur wanita yang menstruasi menjadi tidak bersih dan harus
mandi.
Terlepas dari kasta yang dimiliki, perempuan dianggap kotor saat mengalami
menstruasi dan persalinan sehingga harus dihindari. Dalam kasta tertentu tidak
memperbolehkan wanita yang menstruasi untuk mencuci rambut selama tiga hari
pertama, sementara di kasta lain sampai tujuh hari, tidak diperbolehkan mengunjungi
anak yang baru lahir sampai berumur 40 hari, dan tidak diperbolehkan mengikuti
upacara keagamaan. Dalam agama Islam, yang merupakan agama yang dianut oleh
sebagian besar masyarakat Indonesia juga terdapat larangan-larangan bagi wanita
yang menstruasi (Sarah House et al., 2012).
Al-Ghozy dalam Fathul Qorib mengungkapkan bahwa dikharamkan bagi
wanita yang sedang menstruasi 8 perkara, yaitu sholat (baik fardhu atau sunnah
demikian pula sujud syukur dan sujud tilawah), puasa (baik fardhu maupun sunnah),
membaca Al-Qur’an, menyentuh mushaf Al-Qur’an, dan membawanya, memasuki
masjid , thowaf (mengelilingi ka’bah baik fardhu maupun sunnah), bersetubuh, dan
istimta’ (merangsang anggota tubuh diantara pusar dan lutut). Setelah seorang wanita
selesai menstruasi harus melakukan mandi setelah itu diperbolehkan melakukan
kewajiban agamanya kembali (Sarah House et al., 2012).
BAB III

KERANGKA KONSEP

3.1 Kerangka Konsep

Kerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah kerangka antara konsep-


konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian yang akan dilakukan
(Notoatmojo, 2003). Berdasarkan kerangka teori Gambaran Perilaku Perawatan Organ
Reproduksi Saat Menstruasi Pada Santri Putri di Pondok Pesantren Ibnu Aqil
Kabupaten Bogor .

1. Karakteristik
2. Pengetahuan
Gambaran Perilaku
3. Sikap
Perawatan Organ
4. Praktik
Reproduksi Saat
Menstruasi

Bagan 3.1 Kerangka Konsep

Dalam kerangka konsep diatas, peneliti akan melakukan penelitian tentang


Gambaran Perilaku Perawatan Organ Reproduksi Saat Menstruasi di Pondok
Pesantren Ibnu Aqil berdasarkan karakteristik, pengetahuan, sikap dan praktik,
3.2 Definisi Operasional

Bagan 3.2 Definisi Operasional

No Variabel Definisi Operasional


1. Karakteristik Karakteristik adalah mengacu kepada karakter dan
gaya hidup seseorang serta nilai-nilai yang
berkembang secara teratur sehingga tingkah laku
menjadi lebih konsisten dan mudah di perhatikan
(Nanda, 2013).
2. Pengetahuan Pengetahuan yang di cakup dalam domain kognitif
menurut B. Bloom (1908), seperti yang di kutip oleh
Notoatmodjo (1997), yaitu merupakan hasil dari tahu
dan terbentuk setelah seseorang melakukan
penginderaan berupa melihat, mendengar, mencium,
merasa dan meraba terhadap suatu objek tertentu
sehingga orang tersebut menjadi “tahu”.
Kesehatan Reproduksi adalah keadaan kesejahteraan
fisik, mental dan social yang utuh bukan hanya bebas
dari penyakit atau kecacatan, dalam segala aspek yang
berhubungan dengan system reproduksi, fungsi dan
prosesnya (WHO, 1992).
Pengetahuan Kesehatan Reproduksi adalah hal-hal
yang berkaitan dengan permasalahan yang terkait
langsung dengan fisik, fungsi dan proses reproduksi
remaja yaitu mengenai : organ reproduksi dan
fungsinya, gender dan seksualitas, kehamilan dan
risiko kehamilan usia remaja, serta penyakit menular
seksual.
3. Sikap Sikap adalah reaksi atau respons yang masih tertutup
dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek
(Notoatmodjo S, 1997).
4. Praktik Praktik adalah pelaksanaan secara nyata apa yang
telah disebutkan dalam teori.
BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang diambil adalah kualitatif deskriptif yaitu ingin mengetahui
perilaku perawatan organ reproduksi saat menstruasi santri putrid berdasarkan karakteristik,
pengetahuan, sikap dan praktik.

4.2 Populasi

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau yang diteliti dengan karakteristik
tertentu (Notoatmodjo, 2010). Populasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah seluruh
santri putrid di pondok pesantren Ibnu Aqil.

Sample

Sample adalah objek yang diteliti mewakili dan dianggap mewakili seluruh populasi
(Notoatmojo, 2002). Sample dalam penelitian ini adalah santri putri di pondok pesantren Ibnu
Aqil dipilih sesuai karakteristik tertentu.

4.3 Variabel penelitian

Secara teoritis variabel dapat didefinisikan sebagai atribut seseorang atau objek yang
mempunyai variasi antara satu orang dengan yang lain atau satu objek dengan objek lain.
Variabel dapat juga didefinisikan sebagai suatu atribut atau sifat atau nilai dari seseorang,
objek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2010).

Pada penelitian ini variabel dependen yaitu : perilaku perawatan organ reproduksi saat
menstruasi, sedangkan variabel independen penelitian ini yaitu : karakteristik, pengetahuan,
sikap dan praktik.

4.4 Pengumpulan data :

4.4.1 Bahan penelitian

Bahan penelitian ini didapat dari dari data primer dan data sekunder.
4.4.1.1 Data primer

Didapat dari wawancara mendalam (Indepth Interview) tentang


gambaran perilaku perawatan organ reproduksi saat menstruasi pada santri
putrid. Wawancara didasarkan panduan wawancara mendalam dengan
pertanyaan yang telah disusun.

4.4.1.2 Data sekunder

Data sekunder sebagai pelengkap data primer, di dapatkan dari catatan


pengasuhan pondok pesantren.

4.4.2 Instrumen penelitian

Instrument penelitian yang digunakan untuk pengumpulan data dalam


penelitian ini adalah :

4.4.2.1 Panduan wawancara mendalam

Panduan wawancara mendalam berisikan panduan pertanyaan yang ditunjukan


kepada subjek penelitian untuk mengetahui gambaran perilaku perawatan organ
reproduksi saat menstruasi pada santri putri.

4.4.2.2 Perangkat merekam

Penelitian dilakukan dengan alat bantu yaitu media player yang digunakan untuk
merekam wawancara mendalam antara peneliti dengan subyek.

4.4.3 Lokasi dan waktu penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di pondok pensantren Ibnu Aqil Kabupaten Bogor
dengan durasi rencana penelitian sekitar 3 bln.

4.4.5 Teknik pengumpulan data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode


wawancara dengan kuesioner. Wawancara adalah proses memperoleh
keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab, sambil bertatap
muka antara si penanya dengan si penjawab atau responden (Nazir, 2005).
Secara teknis, responden akan menjawab pertanyaan yang ada pada kuesioner
yang peneliti berikan dan responden juga akan diberikan informed consent
sebagai persetujuan responden untuk dijadikan subyek dalam penelitian.

4.5 Analisis Data

Analisis data dilakukan dengan induktif yaitu dimulai dari keputusan-keputusan


khusus (data yg terkumpul) kemudian diambil secara umum. Strategi pendekatan yang
dilakukan adalah dengan metode induks konseptualisasi dimana peneliti bertolak dari fakta
atau informasi empiris (data) untuk membangun konsep dan teori.

Data kualitatif diolah sesuai dengan karakteristik penelitian menggunakan metode


analisis deskriptif. Proses analisis data yang berlangsung selama penelitian ditempuh melalui
langkah-langkah sebagai berikut :

4.5.1 Reduksi data

Reduksi data yaitu proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan. Dan
transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan di lapangan dengan langkah
membuang atau mengurangi data yang tidak perlu seperti membuang data yang sama
antar informan, menyederhanakan dari wawancara dan dokumentasi.

4.5.2 Penyajian data

Penyajian data merupakan sekumpulan informasi yang tersusun memberikan


kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian
data dimaksudkan sebagai proses analisis untuk merakit temuan data lapangan. Data
yang diperoleh setelah disederhanakan disajikan dan digambarkan deskriptif berupa
kutipan wawancara.

4.5.3 Verifikasi data

Verifikasi data atau menarik kesimpulan adalah suatu kegiatan konfigurasi yang utuh.
Kesimpulan ini dibuat berdasarkan pada pemahaman terhadap data yang telah
disajikan dan dibuat dalam pernyataan singkat dan mudah dipahami dengan mengacu
pada pokok permasalahan yang diteliti. Kesimpulan disertakan pada akhir kutipan
wawancara yang telah disajikan.