Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hukum merupakan sumber dari segala peraturan yang semestinya harus di
taati oleh semua orang di dalam suatu masyarakat, dengan ancaman akan
mendapatkan celaan, harus mengganti kerugian, atau mendapat hukuman bagi
pelaku pelanggaran dan kejahatan, sehingga akan membuat tentram, adil dan
makmur dibawah naungan tertib hukum.
Dalam prakteknya sendiri, hukum tidak pernah terlepas dari setiap aspek
kehidupan sehari-hari kita, mulai dari nilai, tata krama, norma hingga hukum
perundang-undangan dalam peradilan. Sayangnya hukum di Indonesia masih
kurang dalam hal penegakannya, terutama dikalangan penjabat bila dibandingkan
dengan yang ada pada golongan menengah ke bawah. Fenomena sosial ini terjadi
karena di negara kita segala sesuatu dapat di beli dengan uang, tak terkecuali
dengan hukum sekalipun. Terdapat sebuah selogan bahwa “yang kuat pasti akan
menindas yang lemah”, artinya siapa yang memiliki kekuasaan, harta berlimpah
dia yang akan memenangkan peradilan.
Dengan melihat kenyataan seperti itu, pembenahan peradilan dapat di mulai
dari diri sendiri dengan mempelajari norma atau hukum sekaligus memahami dan
menegakkannya sesuai dengan keadilan yang benar. Dalam bahasan ini dibahas
supaya keadilan dapat ditegakkan, maka akan terkait semua aspek yang ada
didalamnya yang mempengaruhi dan menjadi penentu apakah keadilan dapat
ditegakkan.
Saat ini hutan di Indonesia mendapat tekanan yang luar biasa akibat
berbagai kepentingan manusia yang menyebabkan terjadinya kerusakan hutan.
Luas kawasan hutan di Indonesia seluas 120,23 Juta Ha, 59,7 Ha diantaranya telah
mengalami kerusakan. Laju Deforestasi ( Perambahan Hutan ) saat ini
diperkirakan mencapai 2,8 Juta Ha/tahun ( Sumber Departemen Kehutanan RI ).
Penyebab utama dari kerusakan hutan di Indonesia disebabkan oleh illegal
logging ( Pembalakan Liar ).

1
Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 menegaskan bahwa “ Bumi air dan
kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan
dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat” artinya ketentuan
tersebut merupakan landasan konstitusional di dalam pengelolaan sumber daya
kehutanan, oleh kerana itu dalam penyelenggaraan kehutanan harus senantiasa
mengandung jiwa dan semangat kerakyatan keadilan dan berkelanjutan.
Namun demikian meskipun dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran
rakryat namun hendaknya tetap memperhatikan kelestarian fungsi lingkungan .
mengingat hutan sebagai salah satu penentu system penyangga kehidupan dan
sumber kemakmuran rakyat. Sumber kehutanan sebagai bagian dari sumber daya
alam memiliki peran ganda, di satu sisi berperan sebagai modal pertumbuhan
ekonomi , disisi lain berperan sebagai penyangga system kehidupan, oleh karena
itu pengelolaan sumber daya kehutanan harus dilakukan secara seimbang untuk
menjamin kelangsungan pembangunan nasional.
Akhir-akhir ini, illegal Logging (pembalakan liar) hampir setiap hari
diperbincangkan , bahkan selalu menjadi topic yang sangat hangat dan menarik
ditengah berbagai permasalahan dasar bangsa ini. Illegal logging sepertinya sudah
menjadi kejahatan yang tidak saja merugikan Negara tetapi telah melanggar hak-
hak social dan ekonomi masyarakat. Dunia Internasional menyorot Indonesia
sebagai Negara yang mengalami deforestasi tertinggi, ada anggapan dari dunia
internasional bahwa Indonesia belum mampu sepenuhnya melaksanakan konsep-
konsep perlindungan hutan.
Mengingat illegal logging ( pembalakan liar) maupun log smuggling
(penyelundupan kayu) rentan memicu timbulnya illegal timber trade
(Perdagangan Kayu Ilegal ), maka selain diupayakan membangun komitmen di
dalam negeri, pembrantasan illegal logging diperlukan juga komitmen
internasional karena tentu kita dapat melihat keberadaan para cukong
internasional yang justru menjadi pembeli terbesar dalam illegal timber trade.
Usaha pemerintah dalam memerangi pembalakan liar akhir-akhir ini
memang menunjukan kemajuan, berbagai pemberitaan di media massa tentang
keberhasilan pemerintah dalam menangkap para pelaku illegal logging hingga
kasus terakhir menyeret seorang oknum pensiunan perwira tinggi TNI di

2
Kalimanatan Timur merupakan wujud keseriusan pemerintah dalam memerangi
dan membrantas praktek-praktek illegal pengelolaan sumberdaya kehutanan di
seluruh pelosok tanah air. Namun kita juga tidak bisa menutup mata bahwa masih
banyak actor-aktor intelektual illegal logging berkeliaran secara bebas dengan
dalih memegang HPH dari pemerintah.
Memang tidak mudah menjerat pelaku pembalakan liar permasalahan illegal
logging ini sangatlah kompleks tidak sebatas pada penebangan yang merusak ,
tetapi mencakup pula permasalahan yang lain seperti pemberian ijin yang tidak
sesuai dengan kondisi actual hutan, kolusi dalam pemberian jatah tebang tahunan,
manipulasi volume kayu penebangan kayu yang tidak memiliki ijin dan
sebagainya.
Oleh karena itu sebenarnya disamping korupsi illegal logging layak
dimasukan dalam extraordinary crime ( Kejahatan Luar Biasa ) hal ini mengingat
illegal logging tidak saja bersifat regional namun sudah merupakan kejahatan
transnasional. Yang telah terbentuk organized crime, sehingga harus dirumuskan
secara tepat kebijakan dan tindakan yang tepat.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah yang muncul adalah
sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan Rule of Law?
2. Bagaimana Latar Belakang (Sejarah) Rule Of Law?
3. Apa saja prinsip-prinsip Rule of Law di Indonesia?
4. Bagaimana strategi pelaksanaan (Pengembangan) Rule of Law?
5. Bagaimana Penegakkan Hukum Rule of law?
6. Siapa saja Aparatur Penegak Hukum ?
7. Apa Definisi & Latar Belakang Terjadinya Illegal Logging?
8. Siapa saja Aktor & bagaimana pola Illegal Logging?
9. Bagaimana dampak Illegal Logging?
10. Bagaimana proses penegakan hukum kejadian Illegal Logging?
11. Apa saja alasan Illegal Logging sulit dihentikan?
12. Bagaimana upaya mengatasi Illegal Logging?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan adalah sebagai berikut :
1. Menjelaskan apa yang dimaksud dengan Rule of Law?
2. Menjelaskan bagaimana Latar Belakang (Sejarah) Rule Of Law?
3. Menjelaskan apa saja prinsip-prinsip Rule of Law di Indonesia?

3
4. Menjelaskan bagaimana strategi pelaksanaan (Pengembangan) Rule of
Law?
5. Menjelaskan bagaimana Penegakkan Hukum Rule of law?
6. Menjelaskan siapa saja Aparatur Penegak Hukum ?
7. Menjelaskan apa Definisi & Latar Belakang Terjadinya Illegal Logging?
8. Menjelaskan siapa saja Aktor & bagaimana pola Illegal Logging?
9. Menjelaskan bagaimana dampak Illegal Logging?
10. Menjelaskan bagaimana proses penegakan hukum kejadian Illegal
Logging?
11. Menjelaskan apa saja alasan Illegal Logging sulit dihentikan?
12. Menjelaskan bagaimana upaya mengatasi Illegal Logging?

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Rule Of Law


2.1.1 Definisi Rule Of Law
Rule of Law merupakan suatu legalisme sehingga mengandung gagasan
bahwa keadilan dapat dilayani melalui pembuatan sistem peraturan dan prosedur
yang bersifat objektif, tidak memihak, tidak personal, dan otonom. Misalnya

4
gerakan revolusi Perancis serta gerakan melawan absolutisme di Eropa lainnya,
baik dalam melawan kekuasaan raja, bangsawan maupun golongan teologis.
Berdasarkan bentuknya, rule of law adalah kekuasaan publik yang di atur secara
legal. Setiap organisasi atau persekutuan hidup dalam masyarakat termasuk
Negara mendasarkan pada rule of law. Dalam hubungan ini pengertian rule of law
berdasarkan substansi atau isinya sangat berkaitan dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku dalam suatu negara. Negara hukum merupakan
terjemahan dari istilah Rechsstaat atau rule of law itu sendiri dapat dikatakan
sebagai bentuk perumusan yuridis dari gagasan konstitusionalisme. Oleh karena
itu, konstusi dan negara hukum merupakan dua lembaga yang tidak terpisahkan.
Negara Indonesia pada hakikatnya menganut prinsip “Rule of Law, and not
of Man”, yang sejalan dengan pengertian nomocratie, yaitu kekuasaan yang
dijalankan oleh hukum atau nomos. Dalam negara hukum yang demikian ini,
harus diadakan jaminan bahwa hukum itu sendiri dibangun dan ditegakkan
menurut prinsip-prinsip demokrasi. Karena prinsip supremasi hukum dan
kedaulatan hukum itu sendiri pada hakikatnya berasal dari kedaulatan rakyat. Oleh
karena itu prinsip negara hukum hendaklah dibangun dan dikembangkan menurut
prinsip-prinsip demokrasi atau kedaulatan rakyat atau democratische rechstssaat.
Hukum tidak boleh dibuat, ditetapkan, ditafsirkan dan ditegakkan dengan tangan
besi berdasarkan kekuasaan belaka atau machtsstaat. Karena itu perlu ditegaskan
pula bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat yang dilakukan menurut Undang-
Undang Dasar atau constitutional democracy yang diimbangi dengan penegasan
bahwa negara Indonesia adalah negara hukum yang berkedaulatan rakyat atau
demokratis.
Berdasarkan definisi diatas, Friedman (1959) membedakan rule of law
menjadi dua, yaitu pengertian secara formal dan hakiki/materiil.
a) Secara formal, rule of law diartikan sebagai kekuasaan umum yang
terorganisasi, misalnya negara
b) Secara hakiki, rule of law terkait dengan penegakan rule of law karena
menyangkut ukuran hukum yang baik dan buruk
2.1.2 Latar Belakang (Sejarah) Rule Of Law
Rule of law secara umum merupakan suatu doktrin hukum yang mulai
muncul pada abad ke XIX, bersamaan dengan kelahiran negara konstitusi dan

5
demokrasi. Doktrin tersebut lahir sejalan dengan tumbuh suburnya demokrasi dan
meningkatnya peran parlemen dalam penyelenggaraan negara, serta sebagai reaksi
terhadap negara absolut yang berkembang sebelumnya. Rule of law merupakan
konsep tentang common law tempat segenap lapisan masyarakat dan negara
beserta seluruh kelembagaannya menjunjung tinggi supremasi hukum yang
dibangun di atas prinsip keadilan dan egalitarian. Rule of law adalah rule by the
law dan bukan rule by the man. Konsep ini lahir untuk mengambil ahli dominasi
yang dimiliki kaum gereja, ningrat, dan kerajaan serta menggeser negara kerajaan
dan memunculkan negara konstitusi dimana doktrin rule of law ini lahir. Ada
tidaknya rule of law dalam suatu negara ditentukan oleh “kenyataan”, apakah
rakyatnya benar-benar menikmati keadilan, dalam arti perlakuan yang adil, baik
sesama warga negara, baik dari pemerintah? Oleh karena itu pelaksanaan kaidah-
kaidah hukum yang berlaku di suatu negara merupakan suatu premis bahwa
kaidah-kaidah yang dilaksanakan itu merupakan hukum yang adil, artinya kaidah
hukum yang menjamin perlakuan yang adil bagi masyarakat.
Latar belakang kelahiran Rule of Law:
1. Di awali oleh adanya gagasan untuk melakukan pembatasan kekuasaan
pemerintah negara
2. Sarana yang dipilih untuk maksud tersebut yaitu Demokrasi
Konstitusional
3. Perumusan yuridis dari Demokrasi Konstutisional adalah konsepsi
negara hukum
Konsepsi negara hukum mengandung pengertian bahwa negara memberikan
perlindungan hukum bagi warga negara melalui pelembagaan peradilan yang
bebas dan tidak memihak juga penjamin hak asasi manusia. Menurut Moh.
Mahfud MD, istilah rechtsstaaat dan the rule of law yang diterjemahkan menjadi
negara hukum pada hakikatnya mempunyai makna yang berbeda.
Konsepsi rechtsstaaat mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1. Adanya perlindungan terhadap HAM.
2. Adanya pemisahan dan pembagian kekuasaan pada lembaga negara
untuk menjamin perlindungan HAM.
3. Adanya peralihan administrasi.
Adapun the rule of law mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1. Adanya jaminan perlindungan terhadap HAM

6
2. Adanya supremasi hukum dalam penyelenggaraan pemerintah
3. Adanya pemisahaan dan pembagian kekuasaan negara
4. Adanya lembaga peradilan yang bebas dan mandiri
Selanjutnya dalam konferensi International Commition of Juris di Bangkok
seperti yang dikutip oleh Mahmud MD, disebutkan bahwa ciri-ciri negara hukum
adalah sebagai berikut :
1. Perlindungan konstitusional: selain menjamin hak-hak individu,
konstitusional harus menentukan cara prosedural untuk memperoleh
atas hak-hak yang dijamin.
2. Adanya badan kehakiman yang bebas dan tidak memihak.
3. Adanya pemilu yang bebas.
4. Adanya kebebasan menyatakan pendapat.
5. Adanya kebebasan berserikat, berorganisasi, dan beroposisi.
Dalam istilah negara hukum di Indonesia ditemukan dalam penjelasan UUD
1945 yang berbunyi: "Indonesia ialah negara yang berdasarkan atas hukum atau
bukan berdasar atau kekuasaan belaka". Padmo Wahyono menyatakan bahwa
konsep negara hukum Indonesia yang menyebut rechtsstaaat memberi arti bahwa
negara hukum Indonesia mengambil pola secara tidak menyimpang dari pengertian
negara hukum pada umumnya yang kemudian disesuaikan dengan keadaan Indonesia.
Moh. Yamin membuat penjelasan tentang konsepsi negara hukum negara
Indonesia bahwa kekuasaan yang dilakukan pemerintah Indonesia harus berdasar
dan berasal dari ketentuan undang-undang. Negara hukum Indonesia juga
memberikan pengertian bahwa bukan polisi dan tentara sebagai pemegang
kekuasaan dan kesewenang-wenangan negara terhadap rakyat, melainkan adanya
kontrol dari rakyat terhadap intitusi negara dalam menjalankan kekuasaan dan
kesewenangan yang ada pada negara.
Berdasarkan beberapa penjelasan diatas bahwa negara hukum baik dalam arti
normal yaitu menegakan hukum yang dihasilkan oleh lembaga legislatif dalam
penyelenggaraan negara maupun negara hukum dalam arti material. Tanpa negara
hukum yang merupakan elemen pokok suasana demokratis sulit dibangun.
2.1.3 Prinsip-prinsip Rule of Law di Indonesia
Dalam pembahasannya terdapat dua prinsip-prinsip yang digunakan dalam
penegakan rule of law di Indonesia sebagai berikut :

7
1. Prinsip-prinsip rule of law secara formal tertera dalam pembukaan UUD
1945 yang isinya menyatakan :
a) Bahwa kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa,… karena tidak sesuai
dengan peri kemanusiaan dan “peri keadilan”;
b) … kemerdekaan Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, “adil” dan
makmur;
c) … untuk memajukan “kesejahteraan umum”, ...dan “keadilan sosial”;
d) … disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu “UUD
Negara Indonesia”;
e) “… kemanusiaan yang adil dan beradab”
f) … serta dengan mewujudkan suatu “keadilan sosial” bagi seluruh rakyat
Indonesia
Dengan demikian inti rule of law adalah jaminan adanya keadilan
bagi masyarakat terutama keadilan sosial.
Penjabaran prinsip-prinsip rule of law secara formal termuat didalam
pasal-pasal UUD 1945, yaitu:
1. Negara Indonesia adalah negara hukum (pasal 1 ayat 3).
2. Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk
menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan
(pasal 24 ayat 1).
3. Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan
pemerintahan, serta wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu
dengan tidak terkecuali (pasal 27 ayat 1).
4. Dalam bab X A mengenai HAM yang memuat 10 pasal, antara lain
bahwa setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan dan
kepastian hukum yang adil, serta perlakuan yang sama di hadapan
hukum (pasal 28 ayat 1).
5. Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan
perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja (pasal 28 D ayat
2).
2. Prinsip-prinsip rule of law secara hakiki (materiil) sangat erat kaitannya dengan
“the enforcement of the rides of law” (penyelenggaraan menyangkut ketentuan-
ketentuan hukum) dalam penyelenggaraan pemerintahan, terutama dalam hal
penegakan hukum dan implementasi prinsip-prinsip rule of law. Berdasarkan
pengalaman berbagai negara dan hasil kajian, menunjukkan bahwa keberhasilan

8
“the enforcement of the rules of law” bergantung pada kepribadian nasional setiap
bangsa (Sunarjati Hartono: 1982). Hal ini didukung oleh kenyataan bahwa rule of
law merupakan institusi sosial yang memiliki struktur sosiologis yang khas dan
mempunyai akar budayanya yang khas pula.
Karena bersifat legalisme, maka mengandung gagasan bahwa keadilan
dapat dilayani dengan pembuatan sistem peraturan dan prosedur yang sengaja
bersifat objektif, tidak memihak, tidak personal dan otonom. Legalisme itu sendiri
dapat diartikan dengan suatu aliran pemikiran hukum yang didalamnya
terkandung wawasan sosial. Rule of law juga merupakan gagasan tentang
hubungan antar manusia, masyarakat, dan negara yang dengan demikian memuat
nilai-nilai tertentu yang memiliki struktur sosiologisnya sendiri. Secara kuantitatif,
peraturan perundang-undangan yang terkait dengan rule of taw telah banyak
dihasilkan di Indonesia, tetapi implementasinya belum mencapai hasil yang
optimal sehingga rasa keadilan sebagai perwujudan pelaksanaan rule of law belum
dirasakan oleh sebagian besar masyarakat.
Beberapa paparan di atas memperlihatkan bahwa rule of law mengandung
beberapa elemen penting yaitu:
1. Ditaatinya prinsip berkuasanya hukum (supremacy of law).
2. Persamaan di depan hukum (equality before the law).
3. Pertanggungjawaban hukum (accountability to the law).
4. Keadilan dalam penerapan hukum (fairness in the application of the
law).
5. Adanya pemisahan kekuasaan (separation of power).
6. Adanya partisipasi dalam pembuatan keputusan (participation in the
decision making).
7. Dihindarinya kesewenang-wenangan (avoidance of arbitrariness).
Keseluruhan elemen ini harus dilihat untuk dapat mengukur sejauh mana
rule of law telah dijalankan. Pertama, yaitu prinsip supremasi hukum yang berarti
bahwa hukum harus menjadi dasar aturan pelaksanaan kekuasaan publik.
Masyarakat juga haruslah diatur berdasarkan hukum, bukan berdasarkan
moralitas, keutungan politik atau ideologi. Prinsip ini juga mengimplikasikan
bahwa badan-badan politik terikat tidak saja pada konstitusi nasional tetapi juga
pada kewajiban hukum HAM internasional. Hal ini mengimplikasikan bahwa
legislasi yang valid harus diterapkan oleh otoritas dan pengadilan bahwa

9
intervensi negara pada kehidupan rakyat haruslah memenuhi standart umum yaitu
prinsip legalitas. Dengan demikian rule of law menjadi tameng pelindung rakyat
dari adanya penyalahgunaan kekusaan. Ditegaskan bahwa dalam hal ini korupsi
jelas tidak sejalan dengan rule of law.
Sedangkan yang kedua, prinsip persamaan di depan hukum memuat dua
komponen utama yaitu bahwa aturan hukum diterapkan tanpa diskriminasi dan
mensyaratkan perlakuan yang setara untuk kasus yang serupa. Adanya
pertanggung jawaban hukum (accountability to the law) harus dimaknai bahwa
otoritas negara tidak boleh di luar atau di atas hukum dan harus tunduk pada
hukum seperti halnya warga negara.

2.1.4 Strategi Pelaksanaan (Pengembangan) Rule of Law


Agar pelaksanaan rule of law dapat berjalan sesuai dengan yang di
harapkan, maka :
1. Keberhasilan harus didasarkan pada corak masyarakat hukum yang
bersangkutan dan kepribadian masing-masing setiap bangsa.
2. Rule of law yang merupakan institusi sosial harus didasarkan pada
budaya yang tumbuh dan berkembang.
3. Rule of law sebagai suatu legalisme yang memuat wawasan sosial,
gagasan tentang hubungan antar manusia, masyarakat, dan negara,
harus ditegakkan secara adil juga memihak pada keadilan.
Untuk mewujudkannya perlu hukum progresif (Setjipto Raharjo: 2004),
yang memihak hanya pada keadilan itu sendiri, bukan sebagai alat politik atau
keperluan lain. Asumsi dasar hukum progresif bahwa ”hukum adalah untuk
manusia”, bukan sebaliknya. Hukum progresif memuat kandungan moral yang
kuat. Arah dan watak hukum yang dibangun harus dalam hubungan yang sinergis
dengan kekayaan yang dimiliki bangsa yang bersangkutan atau “back to law and
order”, kembali pada hukum dan ketaatan hukum negara yang bersangkutan itu.
Artinya, bangsa Indonesia harus berani mengangkat "Pancasila" sebagai alternatif
dalam mcmbangun "negara berdasarkan hukum" versi Indonesia sehingga dapat
menjadi "rule of moral" atau "rule of justice" yang bersifat "ke-Indonesia-an"
yang lebih mengedepankan "olah hati nurani" daripada "olah otak", atau lebih
mengedepankan komitmen moral.

10
Beberapa kasus dan ilustrasi dalam penegakan rule of law antara lain:
a. Kasus korupsi KPU dan KPUD.
b. Kasus illegal logging.
c. Kasus dan reboisasi hutan yang melibatkan pejabat MA (Mahkamah
Agung).
d. Kasus-kasus perdagangan narkoba.
e. Kasus perdagangan wanita dan anak.
Adapun negara yang merupakan negara hukum memiliki ciri-ciri sebagai
berikut :
1. Ada pengakuan dan perlindungan HAM.
2. Ada peradilan yang bebas dan tudak memihak serta terpengaruh oleh
kekuasaan atau kekuatan apapun.
3. Legalitas terwujud dalam segala bentuk.
2.1.5 Penegakkan Hukum
Penegakkan hukum adalah proses dilakukannya upaya untuk tegaknya atau
berfungsinya norma-norma hukum secara nyata sebagai pedoman perilaku dalam
lalu lintas atau hubungan–hubungan hukum dalam kehidupan bermasyarakat dan
bernegara. Ditinjau dari sudut subyeknya, penegakkan hukum itu dapat dilakukan
oleh subyek yang luas dan dapat pula diartikan sebagai upaya penegakan hukum
itu melibatkan semua subyek hukum dalam setiap hubungan hukum. Siapa saja
yang menjalankan aturan normatif atau melakukan sesuatu atau tidak melakukan
sesuatu dengan mendasarkan diri pada norma aturan hukum yang berlaku, berarti
dia menjalankan atau menegakkan aturan hukum.
Dalam arti sempit, dari segi subjeknya penegakkan hukum hanya diartikan
sebagai upaya aparatur penegakkan hukum tertentu untuk menjamin dan
memastikan tegaknya hukum itu, aparatur penegak hukum diperkenankan
menggunakan daya paksa apabila diperlukan. Sedangkan dalam arti luas, dari segi
objeknya penegakkan hukum mencakup pada nilai-nilai keadilan yang terkandung
di dalamnya bunyi aturan formal maupun nilai-nilai keadilan yang terjadi dalam
masyarakat.
Pembedaan antara formalitas aturan hukum yang tertulis dengan cakupan
nilai keadilan yang dikandungnya ini bahkan juga timbul dalam bahasa Inggris
sendiri dengan dikembangkannya istilah “the rule of law” atau dalam istilah “ the
rule of law and not of a man” versus istilah “ the rule by law” yang berarti “the

11
rule of man by law” Dalam istilah “ the rule of law” terkandung makna
pemerintahan oleh hukum, tetapi bukan dalam artinya yang formal, melainkan
mencakup pula nilai-nilai keadilan yang terkandung di dalamnya. Karena itu,
digunakan istilah “ the rule of just law”. Dalam istilah “the rule of law and not of
man”, dimaksudkan untuk menegaskan bahwa pada hakikatnya pemerintahan
suatu negara hukum modern itu dilakukan oleh hukum, bukan oleh orang. Istilah
sebaliknya adalah “the rule by law” yang dimaksudkan sebagai pemerintahan oleh
orang yang menggunakan hukum sekedar sebagai alat kekuasaan belaka.
Berdasarkan uraian di atas sudah jelas bahwa yang di maksud dengan
penegakkan hukum itu kurang lebih merupakan upaya yang dilakukan untuk
menjadikan hukum, baik dalam artian formil yang sempit maupun dalam arti
materil yang luas, sebagai pedoman perilaku dalam setiap perbuatan hukum, baik
oleh para subjek hukum yang bersangkutan maupun oleh aparatur penegakkan
hukum yang resmi diberi tugas dan kewenangan oleh UU (Undang-undang) untuk
menjamin berfungsinya norma-norma hukum yang berlaku dalam kehidupan
bermasyarakat dan bernegara.
2.1.6 Aparatur Penegak Hukum
Aparatur penegak hukum mencakup pengertian mengenai institusi penegak
hukum dan aparat (orangnya) penegak hukum. Dalam arti sempit, aparatur
penegak hukum yang terlibat dimulai dari saksi, polisi, penasehat hukum, jaksa
hakim dan petugas-petugas sipir pemasyarakatan. Setiap aparat dan aparatur
terkait mencakup pula pihak-pihak yang bersangkutan dengan tugas atau perannya
yaitu terkait dengan kegiatan pelaporan atau pengaduan, penyelidikan,
penyidikan, penuntutan, pembuktian, penjatuhan vonis, dan pemberian sanksi
serta upaya pemasyarakatan kembali (resosialisasi) terpidana.
Terdapat tiga elemen penting yang mempengaruhi proses bekerjanya
aparatur penegak hukum, yaitu:
1) Institusi penegak hukum beserta berbagai perangkat, sarana dan
prasarana pendukung dan mekanisme kerja kelembagaannya.
2) Budaya kerja yang terkait dengan aparatnya, termasuk mengenai
kesejahteraan aparatnya.
3) Perangkat peraturan yang mendukung baik kinerja kelembagaannya
maupun yang mengatur materi hukum yang dijadikan standart kerja.

12
Upaya penegakkan hukum secara sistematik haruslah memperhatikan ketiga
aspek di atas, sehingga proses penegakkan hukum dan keadilan itu sendiri secara
internal dapat diwujudkan secara nyata. Namun selain ketiga faktor diatas,
keluhan berkenaan dengan kinerja penegakkan hukum di negara kita selama ini,
sebenarnya juga memerlukan analisis yang lebih menyeluruh lagi. Upaya
penegakkan hukum hanya satu elemen saja dari keseluruhan persoalan kita
sebagai negara hukum yang mencita-citakan upaya menegakkan dan mewujudkan
keadilan sosial bagi seluruh rakyatr indonesia. Hukum tidak mungkin akan tegak,
jika hukum itu sendiri atau belum mencerminkan perasaan atau nilai-nilai
keadilan yang hidup didalam masyarakatnya. Hukum tidak mungkin menjamin
keadilan jika materinya sebagian besar merupakan warisan masa lalu yang tidak
sesuai, lain dengan tuntutan zaman. Artinya, persoalan yang kita hadapi bukan
hanya berkenaan dengan upaya penegakan hukum tetapi juga pembaharuan
hukum atau pembuatan hukum baru.

2.2 Ilegal Logging


2.2.1 Definisi & Latar Belakang Terjadinya Illegal Logging
Menurut konsep manajemen hutan sebetulnya penebangan adalah salah
satu rantai kegiatan yaitu memanen proses biologis dan ekosistem yang telah
terakumulasi selama daur hidupnya. Penebangan sangat diharapkan atau jadi
tujuan, tetapi harus dicapai dengan rencana dan dampak negatif seminimal
mungkin (reduced impact logging). Penebangan dapat dilakukan oleh siapa saja
asal mengikuti kriteria pengelolaan hutan lestari (sustainable forest management),
tetapi kegiatan penebangan liar (illegal logging) bukan dalam kerangka konsep
manajemen hutan.
Penebangan liar dapat didefinisikan sebagai tindakan menebang kayu
dengan melanggar peraturan kehutanan. Tindakan ini adalah sebuah kejahatan
yang mencakup kegiatan seperti menebang kayu di area yang dilindungi, area
konservasi dan taman nasional, serta menebang kayu tanpa ijin yang tepat di
hutan-hutan produksi. Mengangkut dan memperdagangkan kayu illegal dan
produk kayu illegal juga dianggap sebagai kejahatan kehutanan.

13
Dengan kata lain, batasan/pengertian Illegal logging adalah meliputi
serangkaian pelanggaran peraturan yang mengakibatkan exploitasi sumber daya
hutan yang berlebihan. Pelanggaran-pelanggaran ini terjadi di semua lini tahapan
produksi kayu, misalnya pada tahap penebangan, tahap pengangkutan kayu
gelondongan, tahap pemrosesan dan tahap pemasaran; dan bahkan meliputi
penggunaan cara-cara yang korup untuk mendapatkan akses ke kehutanan dan
pelanggaran-pelanggaran keuangan, seperti penghindaran pajak. Pelanggaran-
pelanggaran juga terjadi karena kebanyakan batas-batas administratif kawasan
hutan nasional, dan kebanyakan unit-unit hutan produksi yang disahkan secara
nasional yang beroperasi di dalam kawasan ini, tidak didemarkasi di lapangan
dengan melibatkan masyarakat setempat.
Terjadinya kegiatan penebangan liar di Indonesia didasari oleh beberapa
permasalahan yang terjadi, yaitu :
 Masalah Sosial dan Ekonomi
Sekitar 60 juta rakyat Indonesia tergantung pada keberadaan hutan,
dan kenyataanya sebagian besar dari mereka hidup dalam kondisi
kemiskinan. Selain itu, akses mereka terhadap sumberdaya hutan
rendah. Kondisi tersebutlah kemudian dimanfaatkan oleh para
pemodal yang tidak bertanggung jawab, untuk mengeruk keuntungan
cepat dengan menggerakkan masyarakat untuk melakukan
penebangan liar. Hal ini diperburuk dengan datangnya era reformasi
dan demokratisasi, yang disalah tafsirkan yang mendorong terjadinya
anarki melalui pergerakan massa. Yang pada gilirannya semakin
menguntungkan para raja kayu dan pejabat korup yang menjadi
perlindungan mereka.
 Kelembagaan
Sistem pengusahaan melalui HPH telah membuka celah-celah
dilakukannya penebangan liar, disamping lemahnya pengawasan
instansi kehutanan. Selain itu penebangan hutan melalui pemberian
hak penebangan huatn skala kecil oleh daerah telah menimbulkan
peningkatan fragmentasi hutan.
 Kesejangan Ketersediaan Bahan Baku
Terdapat kesenjangan penyediaan bahan baku kayu bulat untuk
kepentingan industri dan kebutuhan domestik yang mencapai sekitar

14
37 juta m3 per tahun telah mendorong terjadinya penbengan kayu
secara liar. Disamping itu terdapat juga permintaan kayu dari luar
negeri, yang mengakibatkan terjadinya penyulundupan kayu dalam
jumlah besar. Dibukanya kran ekspor kayu bulat menyebabkan
sulitnya mendeteksi aliran kayu ilegal lintas batas.
 Lemahnya Koordinasi
Kelemahan koordinasi antara lain terjadi dalam hal pemberian ijin
industri pengolahan kayu antara instansi perindutrian dan instansi
kehutanan serta dalam hal pemberian ijin eksplorasi dan eksploitasi
pertambangan antara instansi pertambangan dan instansi kehutanan.
Koordinasi juga dirasakan kurang dalam hal penegakan hukum antara
instansi terkait, seperti kehutanan, kepolisian, kejaksaan dan
pengadilan.
 Kurangnya komitmen dan lemahnya law enforcement
Rendahnya komitmen terhadap kelestarian hutan menyebabkan aparat
pemerintah, baik pusat maupun daerah, eksekutif, legislatif maupun
yudikatif, banyak terlibat dalam praktek KKN yang berkaitan dengan
penebangan secara liar. Penegak hukum bisa “dibeli” sehingga para
aktor pelaku pencurian kayu, khususnya para cukong dan penadah
kayu curian dapat terus lolos dari hukuman.
2.2.2 Aktor & Pola Illegal Logging
Banyak pihak yang terlibat dalam kegiatan illegal logging, jika pelakunya
hanya masyarakat sekitar hutan yang miskin tentu saja tindakan ini dengan
mudahnya dapat dihentikan oleh aparat kepolisian. Dari hasil identifikasi aktor
pelaku illegal logging, terdapat 6 (enam) aktor utama, yaitu :
1) Cukong yaitu pemilik modal yang membiayai kegiatan penebangan liar
dan yang memperoleh keuntungan besar dari hasil penebangan liar. Di
beberapa daerah dilaporkan bahwa para cukong terdiri dari : anggota
MPR, anggota DPR, pejabat pemerintah (termasuk para pensiunan
pejabat), para pengusaha kehutanan, Oknum TNI dan POLRI.
2) Sebagian masyarakat khususnya yang tinggal di sekitar kawasan hutan
maupun yang didatangkan, sebagai pelaku penebangan liar (penebang,
penyarad, pengangkut kayu curian)

15
3) Sebagian pemilik pabrik pengolahan kayu (industri perkayuan), skala
besar, sedang dan kecil : sebagai pembeli kayu curian (penadah)
4) Oknum pegawai pemerintah (khususnya dari instansi kehutanan) yang
melakukan KKN ; memanipulasi dokumen SAKB (SKSHH) ; tidak
melaksanakan tugas pemeriksaan sebagaimana mestinya
5) Oknum penegak hukum (hakim, jaksa, polisi, TNI) yang bisa dibeli
dengan uang sehingga para aktor pelaku penebangan liar, khususnya
para cukong dan penadah kayu curian dapat terus lolos (dengan mudah)
dari hukuman (praktek KKN). Oknum TNI dan POLRI turut terlibat,
termasuk ada yang mengawal pengangkutan kayu curian di jalan-jalan
kabupaten/propinsi
6) Pengusaha asing : penyelundupan kayu hasil curian ke Malaysia, Cina,
dll.
Aktivitas penebangan liar pada masa ordebaru sebagian besar dilakukan
oleh HPH dengan memanipulasi RKT sedangkan paska reformasi di berbagai
daerah (propinsi) dilakukan secara terang-terangan (terbuka). Masyarakat mencuri
kayu secara berkelompok dengan menggunakan chain saw (gergaji mesin),
menyarad dan menaruh kayu bulat di pinggir jalan angkutan HPH/HTI secara
terang-terangan. Sebagian kayu bulat curian ada yang diolah langsung dekat
lokasi hutan tempat pencurian kayu, banyak saw mill liar yang baru didirikan
diberbagai lokasi di sekitar kawasan hutan. Sebagian kayu bulat dan kayu
gergajian hasil curian diangkut di jalan umum secara terbuka dan dokumen
angkutan kayu bulat maupun kayu olahan (kayu gergajian) dipalsukan
bekerjasama dengan aparat kehutanan daerah/propinsi setempat.
2.2.3 Dampak Illegal Logging
Kegiatan penebangan kayu secara liar (illegal logging) telah menyebabkan
berbagai dampak negatif dalam berbagai aspek, sumber daya hutan yang sudah
hancur, selama masa orde baru kian menjadi rusak akibat maraknya penebangan
liar dalam jumlah yang sangat besar. Kerugian akibat penebangan liar memiliki
dimensi yang luas tidak saja terhadap masalah ekonomi, tetapi juga terhadap
masalah sosial, budaya, politik dan lingkungan.
Dari perspektif ekonomi kegiatan illegal logging telah mengurangi
penerimaan devisa negara dan pendapatan negara. Berbagai sumber menyatakan

16
bahwa kerugian negara yang diakibatkan oleh illegal logging , mencapai Rp.30
trilyun per tahun. Permasalahan ekonomi yang muncul akibat penebangan liar
bukan saja kerugian finansial akibat hilangnya pohon, tidak terpungutnya DR dan
PSDH akan tetapi lebih berdampak pada ekonomi dalam arti luas, seperti
hilangnya kesempatan untuk memanfaatkan keragaman produk di masa depan
(opprotunity cost). Sebenarnya pendapatan yang diperoleh masyarakat (penebang,
penyarad) dari kegiatan penebangan liar adalah sangat kecil karena porsi
pendapatan terbesar dipetik oleh para penyandang dana (cukong). Tak hanya itu,
illegal logging juga mengakibatkan timbulnya berbagai anomali di sektor
kehutanan. Salah satu anomali terburuk sebagai akibat maraknya illegal logging
adalah ancaman proses deindustrialisasi sektor kehutanan. Artinya, sektor
kehutanan nasional yang secara konseptual bersifat berkelanjutan karena ditopang
oleh sumber daya alam yang bersifat terbaharui yang ditulang punggungi oleh
aktivitas pengusahaan hutan disektor hulu dan industrialisasi kehutanan di sektor
hilir kini tengah berada di ambang kehancuran.
Dari segi sosial budaya dapat dilihat munculnya sikap kurang bertanggung
jawab yang dikarenakan adanya perubahan nilai dimana masyarakat pada
umumnya sulit untuk membedakan antara yang benar dan salah serta antara baik
dan buruk. Hal tersebut disebabkan telah lamanya hukum tidak ditegakkan
ataupun kalau ditegakkan, sering hanya menyentuh sasaran yang salah. Perubahan
nilai ini bukanlah sesuatu yang mudah untuk dikembalikan tanpa pengorbanan
yang besar.
Kerugian dari segi lingkungan yang paling utama adalah hilangnya sejumlah
tertentu pohon sehingga tidak terjaminnya keberadaan hutan yang berakibat pada
rusaknya lingkungan, berubahnya iklim mikro, menurunnya produktivitas lahan,
erosi dan banjir serta hilangnya keanekaragaman hayati. Kerusakan habitat dan
terfragmentasinya hutan dapat menyebabkan kepunahan suatu spesies termasuk
fauna langka.
Kemampuan tegakan (pohon) pada saat masih hidup dalam menyerap
karbondioksida sehingga dapat menghasilkan oksigen yang sangat bermanfaat
bagi mahluk hidup lainnya menjadi hilang akibat makin minimnya tegakan yang
tersisa karena adanya penebangan liar. Berubahnya struktur dan komposisi

17
vegetasi yang berakibat pada terjadinya perubahan penggunaan lahan yang
tadinya mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman
tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya dan juga sebagai wilayah perlindungan
sistem penyangga kehidupan telah berubah peruntukanya yang berakibat pada
berubahnya fungsi kawasan tersebut sehingga kehidupan satwa liar dan tanaman
langka lain yang sangat bernilai serta unik sehingga harus jaga kelestariannya
menjadi tidak berfungsi lagi. Dampak yang lebih parah lagi adalah kerusakan
sumber daya hutan akibat penebangan liar tanpa mengindahkan kaidah
manajemen hutan dapat mencapai titik dimana upaya mengembalikannya ke
keadaan semula menjadi tidak mungkin lagi (irreversible).
2.2.4 Proses Penegakan Hukum Kejadian Illegal Logging
Upaya memberantas kegiatan illegal logging telah dilakukan tetapi belum
meperlihatkan hasil yang maksimal karena masih lemahnya penegakan hukum di
Indonesia. Terdapat beberapa kasus penebangan liar dan korupsi yang berhasil
dibawa ke pengadilan, namun hampir semuanya mendapat hukuman ringan atau
bahkan bebas sama sekali. Hakim mungkin dipengaruhi oleh penyokong dana
penebangan liar dan orang-orang yang mewakilinya. Hakim sebagai aparat
pemerintah mungkin juga menghadapi tekanan untuk membuat keputusan yang
menguntungkan bagi para aktor intelektual pembalakan liar. Penegakan hukum
sebagai salah satu solusi yang dapat diandalkan dalam menyelesaikan
permasalahan illegal logging diperlukan adanya perbaikan moral dan kemampuan
aparat penegak hukum termasuk didalamnya pemberian reward dan punishment.
Selain itu diperlukan adanya inovasi dengan menggunakan perangkat hukum yang
baru (Undang-undang Korupsi dan Undang-undang tindak pencucian uang) untuk
menangkap otak dibalik tindak kejahatan illegal logging serta perlunya dibuat
proses pengadilan yang lebih mudah untuk menghukum mereka.
2.2.5 Alasan Illegal Logging Sulit Dihentikan
Ada beberapa alasan mengapa aktivitas penebangan liar terbukti sulit untuk
dihentikan oleh pemerintah Indonesia, yaitu :
a. Penebangan liar didukung oleh penyokong dana, atau cukong, yang
beroperasi layaknya institusi kejahatan yang terorganisir (organized
crimes). Para penyokong dana ini hanya diketahui dari nama depannya,

18
bahkan oleh polisi dan dinas kehutanan. Informasi mengenai tempat
tinggal, keluarga, bisnis sesungguhnya, dan bank yang mereka pakai
tetap tersembunyi. Mereka dapat berpindah secara bebas dari satu
tempat ke tempat yang lain di Indonesia dan negara tetangga. Para
penegak hukum kehutanan mempunyai keterbatasan sumber daya
dalam menghadapi cukong-cukong tersebut. Penegak hukum hanya
memfokuskan usaha mereka pada menemukan bukti-bukti fisik dari
adanya kayu ilegal, seperti kepemilikan, penyimpanan dan
pengangkutan kayu dan produk hutan lainnya yang tanpa surat-surat
dokumen yang sah. Karena lebih memfokuskan pada bukti fisik kayu
ilegal, maka target paling mudah dalam usaha penegakan hukum
kehuatanan adalah supir truk yang sedang mengangkut kayu ilegal.
Namun demikian, sulit bagi penegak hukum kehuatanan untuk
membuktikan adanya hubungan dari bukti-bukti tertangkapnya supir
truk tersebut dengan penyokong dana dan aktor intelektual lainnya dari
pembalakan liar.
b. Pembalakan liar dan praktek-praktek terkait lainnya semakin marak
karena adanya korupsi. Penyokong dana yang mengoperasikan
pembalakan liar dan aktivitas perdagangan kayu ilegal mengerti dengan
siapa mereka harus membayar untuk melindungi bisnis kayu ilegal
mereka. Untuk melancarkan operasinya, mereka memberikan sejumlah
uang kepada oknum-oknum pejabat kunci di kantor dinas kehutanan
untuk memperoleh surat pengangkutan kayu, serta membayar oknum
aparat di semua pos pemeriksaan ketika mereka mengangkut kayu
ilegal. Mereka juga harus membina hubungan baik dengan para
pengambil keputusan di badan legislatif dan pemerintahan daerah, serta
oknum kepolisian dan militer di daerah dimana mereka mengoperasikan
usaha kayu ilegal mereka. Saat mereka gagal memelihara hubungan
baik ini dan mendapat kesulitan dengan penegak hukum, mereka dapat
menyuap oknum jaksa penuntut dan hakim untuk mendapatkan
keputusan pengadilan yang menguntungkan bagi mereka.
c. Terdapat suatu perasaan tidak nyaman pada individu-individu yang
bertanggung jawab yang prihatin dengan pembalakan liar serta

19
masalah-masalah yang terkait dengannya. Walaupun korupsi telah
mempengaruhi hampir semua fungsi pemerintahan, masih ada individu-
individu yang bertanggung jawab di kepolisian, militer, dinas kehutanan
dan aparat bea dan cukai yang berkeinginan untuk melawan kejahatan
kehutanan ini, seperti yang disyaratkan pada sumpah dan fungsi mereka
sebagai pelayan masyarakat. Namun demikian, orang-orang ini bekerja
secara individu dan pemeritah kurang mampu melindungi mereka.
Mereka menghadapi resiko dipndahkan atau bahkan kehilangan
pekerjaan karena usaha mereka menghentikan pembalakan liar. Mereka
juga khawatir akan adanya perlawanan dari anggota masyarakat yang
marah yang diuntungkan oleh pembalakan liar. Pada era reformasi,
tentara nasional indonesia (TNI) dibebaskan dari tugas keamanan
internal dan tugas tersebut diberikan kepada kepolisian. Setelah era
tersebut, para pembalak liar semakin terang-terangan dalam melakukan
aksinya. Mereka secara terbuka melakukan aktivitas pembalakan liar
baik siang maupun malam, tanpa rasa takut pada polisi (Alqadrie dkk,
2002).
2.2.6 Upaya Mengatasi Illegal Logging
Penanggulangan illegal logging tetap harus diupayakan hingga kegiatan
illegal logging berhenti sama sekali sebelum habisnya sumber daya hutan dimana
terdapat suatu kawasan hutan tetapi tidak terdapat pohon-pohon di dalamnya.
Penanggulangan illegal logging dapat dilakukan melalui kombinasi dari upaya
monitoring (deteksi), upaya pencegahan (preventif), dan upaya penanggulangan
(represif).
1. Deteksi terhadap adanya kegiatan penebangan liar
Kegiatan-kegiatan deteksi mungkin saat ini telah dilakukan, namun walaupun
diketahui atau ada dugaan terjadi kegiatan illegal logging tindak lanjutnya
tidak nyata. Meski demikian aksi untuk mendeteksi adanya illegal logging
tetap harus terus dilakukan, namun harus ada komitmen untuk menindaklanjuti
dengan proses penegakan hukum yang tegas dan nyata di lapangan. Kegiatan
deteksi dapat dilakukan melalaui kegiatan-kegiatan sebagai berikut :

20
 Deteksi secara makro, misalnya melalui potret udara sehingga diketahui
adanya indikator penebangan liar seperti jalur logging, base camp, dsb.
 Ground checking dan patroli
 Inspeksi di tempat-tempat yang diduga terjadi penebangan liar
 Deteksi di sepanjang jalur-jalur pengangkutan
 Inspeksi di log pond IPKH
 Inspeksi di lokasi Industri
 Melakukan timber tracking
 Menerima dan menindaklanjuti adanya informasi yang datang dari
masyarakat
 Pemeriksaan dokumen (ijin, angkutan dan laporan) perlu lebih intensif,
terutama dokumen laporan dengan meneliti lebih seksama laporan-
laporan yang mengandung kejanggalan-kejanggalan.
2. Tindak preventif untuk mencegah terjadinya illegal logging
Tindakan preventif merupakan tindakan yang berorientasi ke depan yang
sifatnya strategis dan merupakan rencana aksi jangka menengah dan jangka
panjang, namun harus dipandang sebagai tindakan yang mendesak untuk
segera dilaksanakan. Kegiatan preventif dapat dilakukan melalui :
 Pembangunan kelembagaan (Capacity Building) yang menyangkut
perangkat lunak, perngkat keras dan SDM termasuk pemberian reward
and punishment.
 Pemberdayaan masyarakat seperti pemberian akses terhadap
pemanfaatan sumber daya hutan agar masyarakat dapat ikut menjaga
hutan dan merasa memiliki, termasuk pendekatan kepada pemerintah
daerah untuk lebih bertanggung jawab terhadap kelestarian hutan.
 Pengembangan sosial ekonomi masyarakat seperti menciptakan
pekerjaan dengan tingkat upah/ pendapatan yang melebihi upah
menebang kayu liar : misalnya upah bekerja di kebun kelapa sawit
diusahakan lebih tinggi/sama dengan menebang kayu liar, pemberian
saham dan sebagainya.
 Peningkatan dukungan sarana dan prasarana untuk menunjang
profesionalisme SDM.
 Pemberian insentif bagi masyarakat yang dapat memberikan informasi
yang menjadikan pelaku dapat ditangkap.
 Pengembangan program pemberdayaan masyarakat.

21
 Melakukan seleksi yang lebih ketat dalam pengangkatan pejabat (fit and
proper test).
 Evaluasi dan review peraturan dan perundang-undangan.
 Perbaikan mekanisme pelelangan kayu hasil tangkapan datau temuan.
 Relokasi fungsi kawasan hutan dengan lebih rasional.
 Penegasan Penataan batas kawasan hutan.
 Restrukturisasi industri pengolahan kayu, termasuk penghentian HPHH
dan ijin HPH skala kecil.
3. Tindakan supresi (represif)
Tindakan represif merupakan tindakan penegakan hukum mulai dari
penyelidikan, penyidikan sampai ke pengadilan. Untuk itu harus ada kesamaan
persepsi antara masing-masing unsur penegak hukum yaitu penyidik (Polri dan
PPNS), jaksa penuntut dan hakim. Karena besarnya permasalahan ilegal
logging, tindakan represif harus mampu menimbulkan efek jera sehinga
pemberian sanksi hukum harus tepat.

BAB III
KESIMPULAN

22
3.1 Kesimpulan
Pengertian hukum itu sendiri merupakan sumber dari segala peraturan
yang semestinya harus di taati oleh semua orang di dalam suatu masyarakat,
dengan ancaman akan mendapatkan celaan, harus mengganti kerugian, atau
mendapat hukuman bagi para pelaku pelanggaran dan kejahatan, sehingga akan
membuat tentram, adil dan makmur dibawah naungan tertib hukum.
Sedangkan Rule of Law merupakan suatu legalisme sehingga mengandung
gagasan bahwa keadilan dapat dilayani melalui pembuatan sistem peraturan dan
prosedur yang bersifat objektif, tidak memihak, tidak personal, dan otonom.
Negara Indonesia pada hakikatnya menganut prinsip “Rule of Law, and
not of Man”, yang sejalan dengan pengertian nomocratie, yaitu kekuasaan yang
dijalankan oleh hukum atau nomos. Dalam negara hukum yang demikian ini,
harus diadakan jaminan bahwa hukum itu sendiri dibangun dan ditegakkan
menurut prinsip-prinsip demokrasi. Karena prinsip supremasi hukum dan
kedaulatan hukum itu sendiri pada hakikatnya berasal dari kedaulatan rakyat.
Salah satu kasus penegakan Rule of Law adalah Penebangan kayu secara
liar (illegal logging) yang merupakan gejala (symptom) yang muncul akibat dari
berbagai permasalahan yang sangat kompleks melibatkan banyak pihak dari
berbagai lapisan. Penebangan kayu secara liar (illegal logging) sudah menjadi
permasalahan nasional sehingga komitmen dari pemerintah di tingkat nasional
harus nyata. Namun demikian karena permaslahan ini terjadi di tingkat lokal,
maka komitmen daerah juga harus jelas dimana Pemerintah Daerah harus
mempunyai tanggung jawab yang nyata.
Sehubungan dengan permasalahan tersebut diatas diperlukan aksi/tindakan
dan komitmen yang harus dilaksanakan secara terintegrasi dan simultan yang
melibatkan berbagai pihak terkait (stake holder).

3.2 Saran

23
Dalam pembangunan kehutanan kedepan perlu dilakukan terobosan.
Mengacu kepada system hokum , maka perlu adanya perbaikan yang diarahkan
kepada upaya mengeliminir segala sesuatu yang selama ini dipandang
berpengaruh negatip terhadap penegakkan hukum dan pembangunan kehutanan.
Perlu adanya kesadaran nasional dan serta komitmen untuk memelihara dan
menjaga kelestarian hutan, agar hutan dapat memberikan kontribusi nilai
ekonomis bagi peningkatan kesejahteraan rakyat dan bangsa Indonesia, serta
memberikan daya dukung lingkungan hidup baik untuk generasi sekarang maupun
generasi yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA

24
Alqadrie, I.S., Ngusmanto, Budiarto, T. dan Erdi. 2002. Decentraliztaion policy of
forestry sector and their impacts on sustainable forests and local livelihoods
in district Kapuas Hulu, West Kalimantan. Cifor, Bogor, Indonesia dan
Universitas Tanjung Pura, Pontianak, Kalimantan Barat, Indonesia.

Ama, K.K. dan Santosa, I. 2005. Hukum Mandul, Hutan pun Gundul, Kompas,
Fokus, 5 Maret 2005.

EIA dan Telapak. 2005. The Last frontier : Illegal Logging in Papua and China’s
massive timber theft. Jakarta, Indonesia.

Hutabarat, S. 2000. Prosiding Seri Lokakarya II Penebangan Kayu Secara Liar


(Illegal Logging), Jakarta 30-31 Agustus 2000. DEPHUTBUN-World Bank-
WWF.

MPR RI. 2005. Undang-Undang dasar Negara republic Indonesia Tahun 1945.
Sekretariat Jenderal MPR RI: Jakarta.

Pudjosewojo, K. 1990. Pedoman Pelajaran Tata Hukum Indonesia. Jakarta: Sinar


Grafika

PTIK. 2005. Mengungkap Mastermind Illegal Logging Menggunakan UU Tindak


Pidana Pencucian Uang. Laporan Kelompok Mahasiswa PTIK Angkatan
XXXI, Jakarta, Indonesia.

Sugito, H.A.T. 2005. Rule of Low. Materi kursus Calon Dosen Kewarganegaraan,
12-23 Desember 2005, Jakarta. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi,
Departemen Pendidikan Nasional: Jakarta.

Widakdo, G. dan Santoso, F. 2005. Pemerintah Lanjutkan Berantas Pembalakan


Illegal. Bisnis dan Investasi. Kompas, 15 Juni 2005.

Widodo, A.S. dan M.S. Kaban. Pemberantasan Illegal Logging dan


Penyelundupan Kayu Menuju Kelestarian Hutan dan Peningkatan Kinerja
Sektor Kehutanan. Penyunting : Rahmi Hidayati, Charles CH. Tambunan,
Agung Nugraha dan Iwan Aminudin. Departemen Kehutanan dan
Perkebunan DPP Partai Bulan Bintang. 2006.

Yudowidagdo, H., Kesuma, AS., Adji, SU., Ismunarto, A. 1987. Kapita Selekta
Hukum Acara Pidana Di Indonesia. Jakarta: Bina Aksara.

25