Anda di halaman 1dari 15

4

BAB 2

PEMBAHASAN

2.1. Konsep Dasar


2.1.1. Definisi Askariasis
Askariasis adalah suatu infeksi yang disebabkan oleh Ascaris
lumbricoides atau yang secara umum dikenal sebagai cacing gelang. Ascaris
lumbricoides adalah salah satu spesies cacing yang termasuk ke dalam Filum
Nemathelminthes, Kelas Nematoda, Ordo Rhabditia, Famili Ascarididae dan
Genus Ascaris. Cacing gelang ini tergolong Nematoda intestinal berukuran
terbesar pada manusia. Distribusi penyebaran cacing ini paling luas dibanding
infeksi cacing lain karena kemampuan cacing betina dewasa menghasilkan telur
dalam jumlah banyak dan relatif tahan terhadap kekeringan atau temperatur yang
panas.
Infeksi pada manusia oleh cacing gelang ascaris lumbricoides, yang di
temukan dalam usus halus, menyebabkan nyeri kolik dan diare, khususnya pada
anak-anak. Setelah di telan, larva bermigrasi dari usus ke paru yang menyebabkan
pneumonitis, dan kemudian ke trakea, esofagus, dan usus, untuk tumbuh menjadi
dewasa. Bila cacing-cacing dewasa berjumlah cukup banyak, cacing ini dapat
menyebabkan obstruksi usus. (Ideham dan Pusarawati, 2007).

Gambar 1: Pasien dengan penyakit ascariasis

4
5

2.1.2. Etiologi
Ascariasis disebabkan oleh Ascaris Lumbricoides. Stadium infektif
Ascaris Lumbricoides adalah telur yang berisi larva matang. Sesudah tertelan
oleh hospes manusia, larva dilepaskan dari telur dan menembus diding usus
sebelum migrasi ke paru-paru melalui sirkulasi vena. Mereka kemudian
memecah jaringan paru-paru masuk ke dalam ruang alveolus, naik ke cabang
bronkus dan trakea, dan tertelan kembali. Setelah sampai ke usus kecil larva
berkembang menjadi cacing dewasa (jantan berukuran 15-25cm x 3mm dan
betina 25-35cm x 4mm).
Cacing betina mempunyai masa hidup 1-2 tahun dan dapat menghasilkan
200.000 telur setiap hari. Telur fertil berbentuk oval dengan panjang 45-60 µm
dan lebar 35-50 µm. Setelah keluar bersama tinja, embrio dalam telur akan
berkembang menjadi infektif dalam 5-10 hari pada kondisi lingkungan yang
mendukung.

2.1.3. Morfologi

Cacing dewasa berbentuk giling (silindris) memanjang, berwarna krem/


merah muda keputihan dan panjangnya dapat mencapai 40cm. Ukuran
cacing betina 20-35cm, diameter 3-6mm dan cacing jantan 15-31cm dan
diameter 2,4mm. Mulut cacing ini memiliki tiga tonjolan bibir berbentuk
segitiga (satu tonjolan di bagian dorsal dan dua lainnya di ventrolateral)
dan bagian tengahnya terdapat rongga mulut (buccal cavity). Cacing
jantan mempunyai ujung posterior tajam agak melengkung ke ventral seperti
kait, mempunyai 2 buah copulatory spicule panjangnya 2mm yang muncul dari
orifisium kloaka dan di sekitar anus terdapat sejumlah papillae. Cacing
betina mempunyai ujung posterior tidak melengkung ke arah ventral tetapi
lurus. Cacing betina juga mempunyai vulva yang sangat kecil terletak di
ventral antara pertemuan bagian anterior dan tengah tubuh dan
mempunyai tubulus genitalis berpasangan terdiri dari uterus, saluran telur
(oviduct) dan ovarium. Cacing dewasa memiliki jangka hidup 10-12 bulan
(Ideham dan Pusarawati, 2007).
6

Telur Ascaris lumbricoides ditemukan dalam dua bentuk,


yang dibuahi (fertilized) dan tidak dibuahi (unfertilized). Telur cacing
ini memerlukan waktu inkubasi sebelum menjadi infektif. Perkembangan telur
menjadi infektif tergantung pada kondisi lingkungan, misalnya temperatur, sinar
matahari, kelembapan, dan tanah liat. Telur akan mengalami kerusakan
o
karena pengaruh bahan kimia, sinar matahari langsung, dan pemanasan 70 C.
Telur yang dibuahi berbentuk bulat lonjong, ukuran panjang 45-75 mikron
dan lebarnya 35-50 mikron. Telur yang dibuahi ini berdinding tebal terdiri
dari tiga lapis, yaitu lapisan dalam dari bahan lipoid (tidak ada pada telur
unfertile), lapisan tengah dari bahan glikogen, lapisan paling luar dari
bahan albumin (tidak rata, bergerigi, berwarna coklat keemasan berasal dari
warna pigmen empedu). Kadang-kadang telur yang dibuahi, lapisan
albuminnya terkelupas dikenal sebagai decorticated eggs. Telur yang
dibuahi ini mempunyai bagian dalam tidak bersegmen berisi kumpulan
granula lesitin yang kasar. Telur yang tidak dibuahi mempunyai panjang 88– 94
mikron dan lebarnya 44 mikron. Telur unfertile dikeluarkan oleh cacing betina
yang belum mengalami fertilisasi atau pada periode awal pelepasan telur
oleh cacing betina fertil (Ideham dan Pusarawati, 2007).

Gambar 2: Cacing Dewasa Ascaris lumbricoides


Sumber : http://www.cdc.gov/parasites/ascariasis/index.html
7

Gambar 3: Telur Ascaris lumbricoides yang Tidak Dibuahi (unfertilized)

Gambar 4: Telur Ascaris lumbricoides yang Dibuahi (fertilized)

2.1.4. Siklus Hidup


Telur cacing yang telah dibuahi yang keluar bersama tinja penderita, di
dalam tanah yang lembap dan suhu yang optimal akan berkembang menjadi telur
infektif yang mengandung larva cacing. Infeksi terjadi dengan masuknya telur
cacing yang infektif ke dalam mulut melalui makanan atau minuman
yang tercemar tanah yang mengandung tinja penderita askariasis. Dalam usus
halus bagian atas, dinding telur akan pecah sehingga larva dapat keluar, untuk
selanjutnya menembus dinding usus halus dan memasuki vena porta hati.
Bersama aliran darah vena, larva akan beredar menuju jantung, paru-paru, lalu
menembus dinding kapiler masuk ke dalam alveoli. Masa migrasi ini berlangsung
sekitar 15 hari. Dari alveoli larva cacing berpindah ke bronki, trakea dan laring,
untuk selanjutnya masuk ke faring, esofagus, turun ke lambung akhirnya
sampai ke usus halus. Sesudah berganti kulit, larva cacing akan tumbuh menjadi
cacing dewasa. Sirkulasi dan migrasi larva cacing dalam darah tersebut disebut
lung migration. Dua bulan sejak infeksi (masuknya telur infektif per oral)
terjadi, seekor cacing betina mampu mulai bertelur, yang jumlah produksi
telurnya dapat mencapai 200.000 butir per hari (Soedarto, 2008).
8

Gambar 2.4. Siklus Hidup Ascaris lumbricoides

Keterangan gambar:
Cacing dewasa hidup di dalam lumen usus halus. Cacing betina menghasilkan
telur sampai 200.000 butir per hari yang dikeluarkan bersama tinja. Telur yang
tidak dibuahi (unfertilized) bisa saja tertelan tetapi tidak menginfeksi. Telur yang
dibuahi (fertilized) yang mengandung embrio menjadi infektif setelah 18 hari
sampai beberapa minggu, hal ini tergantung pada kondisi lingkungan (tempat
yang lembap, hangat dan teduh). Setelah telur yang berkembang menjadi infektif
tertelan oleh hospes, larva akan menetas, menginvasi mukosa usus,
selanjutnya terbawa aliran darah portal kemudian melalui aliran darah sistemik ke
paru-paru. Larva yang matang menuju ke paru-paru (10-14 hari), penetrasi pada
dinding alveoli, ke cabang bronchi, kerongkongan, dan selanjutnya tertelan.
Setelah mencapai usus, berkembang menjadi cacing dewasa.
9

2.1.5. Cara Infeksi atau Penularan


Penularan umumnya dapat terjadi melalui beberapa jalan, yaitu telur
infektif masuk ke dalam mulut bersama makanan dan minuman yang tercemar,
melalui tangan yang kotor tercemar terutama pada anak, atau telur infektif
terhirup melalui udara bersama debu (Soedartono, 2008). Infeksi sering
terjadi pada anak daripada orang dewasa. Hal ini disebabkan karena anak sering
berhubungan dengan tanah yang merupakan tempat berkembangnya telur Ascaris
lumbricoides. Diperoleh juga laporan bahwa dengan adanya usaha untuk
meningkatkan kesuburan tanaman sayuran dengan mempergunakan feses
manusia menyebabkan sayuran merupakan sumber infeksi dari cacing ini (Irianto,
2009).

2.1.6. Patofisiologi
Tarigan (2011) menyebutkan bahwa gejala yang timbul pada penderita
dapat disebabkan oleh cacing dewasa dan larva. Gangguan karena larva
biasanya terjadi saat berada di paru. Pada orang yang rentan terjadi perdarahan
kecil di dinding alveolus dan timbul gangguan pada paru disertai batuk,
demam dan eosinofilia. Pada foto thoraks tampak infiltrat yang menghilang
dalam waktu 3 minggu. Keadaan ini disebut Sindroma Loeffler. Akumulasi
sel darah putih dan epitel yang mati membuat sumbatan menyebabkan
Ascaris pneumonitis.

Menurut Tarigan (2011) gangguan dapat disebabkan oleh larva yang


masuk ke paru-paru sehingga dapat menyebabkan perdarahan pada dinding
alveolus yang disebut Sindroma loeffler. Gangguan yang disebabkan
oleh cacing dewasa biasanya ringan. Kadang-kadang penderita mengalami
gangguan usus ringan seperti mual, nafsu makan berkurang, diare dan
konstipasi. Pada infeksi berat, terutama pada anak-anak dapat terjadi
gangguan penyerapan makanan (Malabsorbtion). Keadaan yang serius, bila
cacing menggumpal dalam usus sehingga terjadi penyumbatan pada usus
(Ileus obstructive).
10

Pathway
11

2.1.7. Manifestasi Klinis


Kurang lebih 85% kasus ascariasis tidak menunjukkan gejala klinis
(asimtomatis), namun beberapa individu dengan keluhan rasa terganggu di
abdomen bagian atas dengan intensitas bervariasi.
Pada awal migrasi larva melalui paru-paru pada umumnya tidak
menimbulkan gejala klinis, namun pada infeksi berat dapat menyebabkan
pneumonitis. Larva askaris dapat menimbulakan reaksi hipersensitif pulmonum,
reaksi inflamasi dan pada individu yang sensitif dapat menyebabakan gejala
seperti asma misalnya batuk, demam, dan sesak nafas. Reaksi jaringan karena
migrasi larva yakni inflamasi eosinofilik, granuloma pada jaringan paru dan
hipersensitifitas lokal menyebabakan peningkatan sekresi mukus, inflamasi
bronkiolar dan eksudat serosa. Pada kondisi berat karena larva yang mati,
menimbulkan vaskulitis dengan reaksi granuloma perivaskuler. Inflamasi
eosinofilik dikenal dengan sindrom loffler’s, dahak mengandung eosinofil dan
larva kadang-kadang ditemukan.
Gejala alergi lainnya seperti urtikaria kemerahan di kulit (skin rash), nyeri
pada mata dan insomnia karena reaksi alergi terhadap ekskresi dan sekresi
metabolik cacing dewasa, cacing dewasa yang mati, infeksi intestinal. Cacing
dewasa menimbulkan gejala klinis ringan, kecuali pada infeksi berat. Gejala
klinis yang sering timbul, gangguan abdominal, nausea, anoreksia dan diare.
Komplikasi serius akibat migrasi cacing dewasa ke pencernaan lebih atas
akan menyebabkan muntah (cacing keluar lewat mulut atau hidung) atau keluar
lewat rectum. Migrasi larva dapat terjadi sebagai akibat rangsangan panas
o
(38,9 C).
Sejumlah cacing dapat membentuk bolus (massa) yang dapat
menyebabkan obstruksi intestinal secara parsial atau komplet dan menimbulkan
rasa sakit pada abdomen, muntah dan kadang-kadang massa dapat di raba.
Migrasi cacing ke kandung empedu, menyebabkan kolik biliare dan kolangitis.
Migrasi pada saluran pankreas menyebabkan pankreatitis. Apendisitis dapat
disebabkan askaris yang bermigrasi ke dalam saluran apendiks.
Pada anak di bawah umur 5 tahun menyebabakan gangguan nutrisi berat
karena cacing dewasa dan dapat di ukur secara langsung dari peningkatan
12

nitrogen pada tinja. Gangguan absorpsi karbohidrat dapat kembali normal setelah
cacing dieleminasi. Askaris dapat menyebabkan protein energy malnutrition.
Pada anak- anak yang diinfeksi 13-14 cacing dewasa dapat kehilangan 4 gram
protein dari diet yang mengandung 35-50 gram protein/hari
(Ideham dan Pusarawati, 2007).

2.1.8. Pemeriksaan Penunjang


Selama fase intestinal diagnosis dapat ditetapkan dari penemuan cacing
dewasa atau telur cacing. Cacing betina Askaris mengeluarkan telur secara
konstan, telur dapat dihitung untuk memperkirakan jumlah cacing dewasa
yang menginfeksi. Cacing dewasa Askaris dapat keluar melalui anus atau
mulut, karena sudah tua atau karena reaksi tubuh hospes. Sedangkan telur
(fertile dan unfertile) dapat ditemukan pada pemeriksaan tinja. Telur
dapat dengan mudah ditemukan pada sediaan basah apus tinja (direct wet
smear) atau sediaan basah dari sedimen pada metode konsentrasi (Ismid,
2008).
Untuk mendignosis adanya larva pada paru-paru dapat dilakukan dengan
melakukan rontgen pada rongga dada atau dapat ditetapkan dari penemuan larva
pada sediaan sputum atau kumbah lambung (Irianto, 2009).
1) Pemeriksaan laboratorium
a. Pemeriksaan mikroskopis pada hapusan tinja dan dihitung dengan metode
apus tebal kato. Infeksi biseksual menyebabkan ekskresi telur fertil matang,
sedangkan telur infertil ditemukan pada individu yang terinfeksi hanya
dengan cacing betina.
b. Ditemukan larva pada lambung atau saluran pernafasan pada penyakit paru.
c. Pada pemeriksaan darah ditemukan periferal eosinofilia.
2) Pemeriksaan foto
a. Foto thorak menunjukkan gambaran opak pada lapang pandang paru seperti
pada sindrom Loeffler.
b. Penyakit pada saluran empedu
 Endoscopic retrogade cholangiopancreatography (ERCP) memiliki

sensitifitas 90 % dalam membantu mendiagnosis biliary ascariasis.


 Ultrasonography memiliki sensitivitas 50 % untuk membantu membuat

diagnosis biliary ascariasis.


13

2.1.9. Penatalaksanaan
Beberapa obat yang efektif terhadap ascariasis adalah sebagai berikut :
Pirantel pamoat: dosis 10 mg/kg BB (maksimum 1 g) dapat diberikan
dosis tunggal. Efek samping : gangguan gastrointestinal, sakit kepala,
pusing, kemerahan pada kulit dan demam.
Mebendazol : dosis 100 mg dua kali per hari selama lebih dari 3 hari.
Efek samping : diare rasa sakit pada abdomen, kadang-kadang leukopenia.
Mebendazol tidak di anjurkan pada wanita hamil karena dapat membahayakan
janin.
Piperasin sitrat : dosis 75 mg/kg BB (maksimum 3,5 g/hari), pemeberian selama
dua hari. Efek samping : kadang – kadang menyebabkan urtikaria,
gangguan gastrointestinal dan pusing.
Albendazol : dosis tunggal 400 mg, dengan angka kesembuhan 100%
pada infeksi cacing Ascaris
(Ideham dan Pusarawati, 2007).

2.1.10. Pencegahan
Penularan Askaris dapat terjadi secara oral, maka untuk pencegahannya
hindari tangan dalam keadaan kotor, karena dapat menimbulkan adanya
kontaminasi dari telur-telur askaris. Oleh karena itu, biasakan mencuci tangan
sebelum makan.
Selain hal tersebut, hindari juga mengkonsumsi sayuran mentah dan
jangan membiarkan makanan terbuka begitu saja, sehingga debu-debu yang
berterbangan dapat mengontaminasi makan tersebut ataupun dihinggapi serangga
yang membawa telur-telur tersebut.
Untuk menekan volume dan lokasi dari aliran telur-telur melalui jalan ke
penduduk, maka pencegahannya dengan mengadakan penyaluran pembuangan
feses yang teratur dan sesuai dengan syarat pembuangan kotoran yang memenuhi
aturan kesehatan dan tidak boleh mengotori air permukaan untuk mencegah agar
tanah tidak terkontaminasi telur-telur Askaris.
Mengingat tingginya prevalensi terjadinya askariasis pada anak-anak,
maka perlu diadakan pendidikan di sekolah-sekolah mengenai cacing askaris
14

ini. Dianjurkan juga untuk membiasakan diri mencuci tangan sebelum


makan, mencuci makanan dan memasaknya dengan baik, memakai alas kaki
terutama diluar rumah. Ada baiknya di desa-desa diberikan pendidikan
dengan cara peragaan berupa gambar atau video, sehingga dengan cara ini
dapat dengan mudah dimengerti oleh mereka.
Untuk melengkapi hal di atas perlu ditambah dengan penyediaan sarana
air minum dan jamban keluarga, sehingga sebagaimana telah terjadi
program nasional, rehabilitasi sarana perumahan juga merupakan salah satu
perbaikan keadaan sosial-ekonomi yang menjurus kepada perbaikan kebersihan
dan sanitasi. Cara- cara perbaikan tersebut adalah buang air pada jamban dan
menggunakan air untuk membersihkannya, makan makanan yang sudah dicuci
dan dipanaskan serta menggunakan sendok garpu dalam waktu makan dapat
mencegah infeksi oleh telur cacing. Anak-anak dianjurkan tidak bermain di
tanah yang lembab dan kotor, serta selalu memotong kuku secara teratur.
Halaman rumah selalu dibersihkan (Irianto, 2009).

2.2 Konsep Asuhan Keperawatan


2.2.1. Pengkajian
a. Aktifitas dan Istirahat
Gejala : Kelemahan, kelelahan, malaise, cepat lelah, insomnia, tidak tidur
semalam karena diare
Tanda : Merasa gelisah dan ansietas.
b. Sirkulasi
Tanda : Takikardi {respon terhadap demam, dehidrasi, proses inflamasi dan nyeri.)
c. Nutrisi / Cairan
Gejala: Mual, muntah, anoreksia.
Tanda : Hipoglikemia, perut buncit, dehidrasi, berat badan turun.

d. Eliminasi
Tanda : diare, penurunan haluaran urine.
e. Nyeri
Gejala : Nyeri epigastrik, nyeri daerah pusat, colik.
15

f. Integritas Ego
Gejala : Ansietas.
Tanda : Gelisah, ketakutan.
g. Keamanan
Tanda : Kulit kemerahan, kering, panas, suhu meningkat.

2.2.2. Diagnosa Keperawatan


1) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
anoreksia dan muntah
2) Perubahan integritas kulit berhubungan dengan inflamasi antara dermal-
epidermal sekunder akibat cacing gelang
3) Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan spasme otot polos
sekunder akibat migrasi parasit di lambung.
4) Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan sekunder
terhadap diare.
5) Hipertermi berhubungan dengan penurunan sirkulasi sekunder terhadap
dehidrasi

2.2.3. Intervensi Keperawatan

1) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan


anoreksia dan muntah
Tujuan : Nutrisi terpenuhi dengan kriteria klien menunjukkan nafsu makan
meningkat, berat badan sesuai usia.
Intervensi:
a. Beri diit makanan yang adekuat, nutrisi yang bergizi.
b. Timbang BB setiap hari.
c. Jelaskan pentingnya nutrisi yang adekuat.
d. Pertahankan kebersihan mulut yang baik.
2) Perubahan integritas kulit berhubungan dengan inflamasi antara dermal –

epidermal sekunder akibat cacing gelang


Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan gangguan integritas
kulit teratasi dengan kriteria tidak terjadi lecet dan kemerahan.
Intervensi :
a. Beri bedak antiseptik.
b. Anjurkan untuk menjaga kebersihan diri / personal hygiene.
c. Anjurkan untuk tidak menggaruk .
d. Anjurkan untuk menggunakan pakaian yang meresap keringat.
16

3) Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan spasme otot polos


sekunder akibat migrasi parasit di lambung.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan nyeri akan hilang atau
berkurang dengan kriteria klien tidak menunjukkan kesakitan.
Intervensi :
a. Kaji tingkat dan karakteristik nyeri.
b. Beri kompres hangat di perut.
c. Ajarkan metoda distraksi selama nyeri akut.
d. Atur posisi yang nyaman yang dapat mengurangi nyeri.
e. Kolaburasi untuk pemberian analgesik.
4) Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan sekunder

terhadap diare.
Tujuan : Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit dengan
kriteria tidak ditemukannya tanda-tanda dehidrasi dan klien mampu
memperlihatkan tanda-tanda rehidrasi dan pemeliharaan hidrasi yang
adekuat.
Intervensi :
a. Monitor intake dan out put cairan.
b. Observasi tanda-tanda dehidrasi (hipertermi, turgor kulit turun,
membran mukosa kering).
c. Berikan oral rehidrasi solution sedikit demi sedikit membantu hidrasi

yang adekuat. Observsasi tanda-tanda dehidrasi.


d. Observasi pemberian cairan intra vena.
5) Hipertermi berhubungan dengan penurunan sirkulasi sekunder terhadap

dehidrasi
Tujuan : Mempertahankan normotermi yang ditunjukkan dengan tidak
terdapatnya tanda-tanda dan gejala hipertermia, seperti tachicardia, kulit
kemerahan, suhu dan tekanan darah normal.
Intervensi :
a. Ajarkan klien dan keluarga pentingnya masukan adekuat.
b. Monitor intake dan output cairan
c. Monitor suhu dan tanda vital
d. Lakukan kompres.
17

BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Askariasis adalah suatu infeksi yang disebabkan oleh Ascaris
lumbricoides atau yang secara umum dikenal sebagai cacing gelang. Ascaris
lumbricoides adalah salah satu spesies cacing yang termasuk ke dalam Filum
Nemathelminthes, Kelas Nematoda, Ordo Rhabditia, Famili Ascarididae dan
Genus Ascaris. Cacing gelang ini tergolong Nematoda intestinal berukuran
terbesar pada manusia. Distribusi penyebaran cacing ini paling luas dibanding
infeksi cacing lain karena kemampuan cacing betina dewasa menghasilkan telur
dalam jumlah banyak dan relatif tahan terhadap kekeringan atau temperatur yang
panas.
Ascariasis disebabkan oleh Ascaris Lumbricoides. Stadium infektif
Ascaris Lumbricoides adalah telur yang berisi larva matang. Sesudah tertelan
oleh hospes manusia, larva dilepaskan dari telur dan menembus diding usus
sebelum migrasi ke paru-paru melalui sirkulasi vena. Mereka kemudian
memecah jaringan paru-paru masuk ke dalam ruang alveolus, naik ke cabang
bronkus dan trakea, dan tertelan kembali. Setelah sampai ke usus kecil larva
berkembang menjadi cacing dewasa (jantan berukuran 15-25cm x 3mm dan
betina 25-35cm x 4mm).
Infeksi pada manusia terjadi karna larva cacing ini mengkontaminasi
makanan dan minuman. Di dalam usus halus larva cacing akan keluar
menembus dinding usus dan kemudian menuju pembuluh darah dan limpe
menuju paru. Setelah itu larva cacing ini akan bermigrassi ke bronkus, faring
dan kemudian turun ke esofagus dan usus halus. Lama perjalanan sampai
menjadi bentuk cacing dewasa 60-75 hari, panjang cacing dewasa 20-40 cm dan
hidup di dalam usus halus manusia untuk bertahun-tahun lamanya.
3.2 Saran
Dalam menyusun makalah ini kami menyadari masih jauh dari
kesempurnaan, untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran untuk perbaikan di
masa mendatang.

18
18

DAFTAR PUSTAKA

Berhman RE, Kliegman RM, dan Arvin AM. 1999. Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Editor
edisi bahasa Indonesia A. Samik Wahab. Edisi 15. Volume 2. Jakarta : EGC.
Soegijanto, Soegeng. 2005. Kumpulan Makalah Penyakit Ttopis dan Infeksi di
Indonesia. Cetakan 1. Surabaya : Airlangga University Press.
Ideham, B. dan Pusarawati, S. 2007. Helmintologi Kedokteran. Surabaya: Airlangga
University Press.
Soedarto. 2008. Parasitologi klinik. Surabaya: Airlangga University Press.
Carpenito, L.J., 2000, Diagnosa Keperawatan, (terjemahan) Edisi 8, EGC, Jakarta.
Doenges, M.E., Moorhouse, M.F., Geissler, A.C., Parasitologi Kedokteran (terjemahan),
EGC, Jakarta.
Garcia, L.S., Bruchner, D.A., 1996, Diagnostik Parasitologi Kedokteran (terjemahan),
EGC, Jakarta
Noer, S., 1996, buku ajar ilmu penyakit dalam, Edisi 3, FKUI, Jakarta.