Anda di halaman 1dari 15

Inkontinensia Urin pada Wanita Lanjut Usia

Pendahuluan

Tubuh mulai menua akan terjadi perubahan struktur, fungsi, metabolisme otot dan
spingter kandung kemih serta penyempitan pembuluh darah. Hal ini menyebabkan
melemahnya kontraksi otot kandung kemih, kemudian terjadi hipoksia jaringan yang memicu
perubahan persarafan sehingga akhirnya menyebabkan inkontinensia urine. Kemudian
dengan bertambahnya usia, maka kapasitas kandung kemih akan menurun, sisa urine dalam
kandumg kemih setelah berkemih semakin meningkat dan kontraksi infolunter (tidak teratur)
makin sering terjadi. Hal ini juga menyebabkan timbulnya inkontinensia urine. Diperkirakan
prevalensi inkontinensia urin berkisar antara 15–30% usia lanjut di masyarakat dan 20-30%
pasien geriatri yang dirawat di rumah sakit mengalami inkontinensia urin, dan kemungkinan
bertambah berat inkontinensia urinnya 25-30% saat berumur 65-74 tahun.

Masalah inkontinensia terjadi dua kali lebih tinggi pada wanita dibandingkan pria.
Gangguan ini lebih sering terjadi pada wanita yang pernah melahirkan daripada yang belum
pernah melahirkan (nulipara). Diduga disebabkan oleh perubahan otot dan fasia di dasar
panggul. Kebanyakan penderita inkontinensia telah menderita desensus dinding depan vagina
disertai sisto-uretrokel. Tetapi kadang-kadang dijumpai penderita dengan prolapsus total
uterus dan vagina dengan kontinensia urine yang baik.1

Pembahasan

Skenario 13:

Seorang perempuan usia 68 tahun datang diantar keluarganya dengan keluhan sulit menahan
berkemih dan mulai sering mengompol di tempat tidur di waktu malam. Perempuan ini sudah
menopause sejak usia 52 tahun.Menikah dan mempunyai 5 orang anak.

1
1. Anamnesis

Anamnesis merupakan wawancara antara dokter, penderita atau keluarga penderita yang
mempunyai hubungan dekat dengan pasien, mengenai semua data tentang penyakit. Dalam
anamnesis, harus diketahui adalah identitas pasien, keluhan utama, riwayat penyakit sekarang
dan dulu, riwayat kesihatan keluarga, riwayat peribadi dan sosial.2

Antara pertanyaan:

 Onset

 Sakit atau tidak apabila berkemih

 Volume urin dan frekuensi berkemih

 Warna dan bau urin, ada darah?

 Terjadi secara mendadak?

 Factor perberat/peringan

 mengeluarkan urine bila batuk, bersin, berjalan, melompat

 pasien sering merasa sangat ingin kencing dan sering mengeluarkan urine sebelum
tiba di toilet

 Berapa kali bangun malam hari untuk kencing dan pada saat tidur urine juga keluar?

 Urine sering atau terus-menerus keluar sendiri ?

 KP: dema, lemas, pusing,bengkak, anasarka

 RPD: riwayat kehamilan, DM, stroke, sakit paru, riwayat operasi, riwayat obatan

 RPS: kebiasaan berkemih, minum alkohol

2. Pemeriksaan Fisik3

Inspeksi

Inspeksi merupakan pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan hanya melihat sama ada
terdapat kelainan atau tidak pada badan pasien. Hal-hal yang dilihat adalah sama ada terdapat

2
masa di abdominal atas atas masa yang keras. Kita juga perlu melihat adakah pasien
mempunyai bekas-bekas luka dan warna kulit pasien.

Palpasi

Palpasi adalah teknik perabaan untuk mengetahui sama ada terdapat kawasan yang nyeri atau
kawasan yang mempunyai massa. Palpasi pada ginjal biasanya amat sukar tetapi ianya mudah
dilakukan pada pasien anak dan orang yang sangat kurus. Periksa sama ada terdapat nyeri
tekan atau teraba masa pada ginjal.

Perkusi

Perkusi dilakukan dengan cara mengetuk tempat-tempat tertentu untuk mengetahui kelainan
pada gingal. Ianya akan menunjukkan nilainya yang tersendiri. Pada pasien anak dibawah 1
tahun biasanya transiluminasi. Dilakukan juga pemeriksaan nyeri renal pada costae verterbrae
angle yang biasanya disertai mual,muntah dan nyeri akan menjalar ke kawasan depan
kelamin.

Auskultasi

Auskultasi adalah bertujuan untuk mendengar bunyi jantung patologis pada pasien dengan
masalah ginjal. Contohnya terdapat bunyi bruit pada pasien dengan stenosis arteri renal.

3. Pemeriksaan penunjang

a. Urinalisis

Dilakukan terhadap spesimen urin yang bersih untuk mendeteksi adanya faktor yang
berperan terhadap terjadinya inkontinensia urin seperti hematuri, piouri, bakteriuri,
glukosuria, dan proteinuria. Tes diagnostik lanjutan perlu dilanjutkan bila evaluasi awal
didiagnosis belum jelas. Tes lanjutan tersebut adalah: Tes laboratorium tambahan seperti
kultur urin, blood urea nitrogen, creatinin, kalsium glukosa sitologi. Tes urodinamik untuk
mengetahui anatomi dan fungsi saluran kemih bagian bawah. Tes tekanan urethra mengukur
tekanan di dalam urethra saat istirahat dan saat dianmis. Imaging tes terhadap saluran
perkemihan bagian atas dan bawah.

b. Pemeriksaan urodinamik sederhana

3
Uji urodinamik sederhana dapat dilakukan tanpa menggunakan alat-alat mahal. Sisa-sisa
urin pasca berkemih perlu diperkirakan pada pemeriksaan fisis. Pengukuran yang spesifik
dapat dilakukan dengan ultrasound atau kateterisasi urin. Merembesnya urin pada saat
dilakukan penekanan dapat juga dilakukan. Evaluasi tersebut juga harus dikerjakan ketika
kandung kemih penuh dan ada desakan keinginan untuk berkemih. Diminta untuk batuk
ketika sedang diperiksa dalam posisi litotomi atau berdiri. Merembesnya urin seringkali dapat
dilihat. Informasi yang dapat diperoleh antara lain saat pertama ada keinginan berkemih, ada
atau tidak adanya kontraksi kandung kemih tak terkendali, dan kapasitas kandung
kemih.

c. Laboratorium

Elektrolit, ureum, creatinin, glukosa, dan kalsium serum dikaji untuk menentukan fungsi
ginjal dan kondisi yang menyebabkan poliuria.

d. Catatan berkemih (voiding record)

Catatan berkemih dilakukan untuk mengetahui pola berkemih. Catatan ini digunakan
untuk mencatat waktu dan jumlah urin saat mengalami inkontinensia urin dan tidak
inkontinensia urin, dan gejala berkaitan dengan inkontinensia urin. Pencatatan pola berkemih
tersebut dilakukan selama 1-3 hari. Catatan tersebut dapat digunakan untuk memantau respon
terapi dan juga dapat dipakai sebagai intervensi terapeutik karena dapat menyadarkan pasien
faktor-faktor yang memicu terjadinya inkontinensia urin pada dirinya.

4. Working diagnosis

Inkontenensia urine adalah pengeluaran urine tanpa disadari dalam jumlah dan frekuensi
yang cukup sehingga mengakibatkan masalah gangguan kesehatan atau social. Inkontinensia
urine adalah berkemih diluar kesadaran pada waktu dan tempat yang tidak tepat serta
menyebabkan masalah kebersihan atau social. Inkontinensia urine adalah pelepasan urine
secara tidak terkontrol dalam jumlah yang cukup banyak sehingga dapat dianggap merupakan
masalah bagi seseorang.4

Inkontinensia urin diklasifikasikan :

a. Inkontinensia Urin Akut Reversibel

4
Pasien delirium mungkin tidak sadar saat mengompol atau tak dapat pergi ke toilet
sehingga berkemih tidak pada tempatnya. Bila delirium teratasi maka inkontinensia urin
umumnya juga akan teratasi. Setiap kondisi yang menghambat mobilisasi pasien dapat
memicu timbulnya inkontinensia urin fungsional atau memburuknya inkontinensia persisten,
seperti fraktur tulang pinggul, stroke, arthritis dan sebagainya.Resistensi urin karena obat-
obatan, atau obstruksi anatomis dapat pula menyebabkan inkontinensia urin. Keadaan
inflamasi pada vagina dan urethra (vaginitis dan urethritis) mungkin akan memicu
inkontinensia urin. Konstipasi juga sering menyebabkan inkontinensia akut.

Berbagai kondisi yang menyebabkan poliuria dapat memicu terjadinya inkontinensia


urin, seperti glukosuria atau kalsiuria. Gagal jantung dan insufisiensi vena dapat
menyebabkan edema dan nokturia yang kemudian mencetuskan terjadinya inkontinensia urin
nokturnal. Berbagai macam obat juga dapat mencetuskan terjadinya inkontinensia urin seperti
Calcium Channel Blocker, agonist adrenergic alfa, analgesic narcotic, psikotropik,
antikolinergik dan diuretic. Untuk mempermudah mengingat penyebab inkontinensia
urin akut reversible dapat dilihat akronim di bawah ini :

D  Delirium

R  Restriksi mobilitas, retensi urin

I  Infeksi, inflamasi, Impaksi

P  Poliuria, pharmasi

b. Inkontinensia Urin Persisten

Inkontinensia urin persisten dapat diklasifikasikan dalam berbagai cara, meliputi anatomi,
patofisiologi dan klinis. Untuk kepentingan praktek klinis, klasifikasi klinis lebih bermanfaat
karena dapat membantu evaluasi dan intervensi klinis.

Kategori klinis meliputi :

1) Inkontinensia urin stress (stres inkontinence)

Tak terkendalinya aliran urin akibat meningkatnya tekanan intraabdominal, seperti


pada saat batuk, bersin atau berolah raga. Umumnya disebabkan oleh melemahnya otot dasar
panggul, merupakan penyebab tersering inkontinensia urin pada lansia di bawah 75 tahun.
Lebih sering terjadi pada wanita tetapi mungkin terjadi pada laki-laki akibat kerusakan pada

5
sfingter urethra setelah pembedahan transurethral dan radiasi. Pasien mengeluh mengeluarkan
urin pada saat tertawa, batuk, atau berdiri. Jumlah urin yang keluar dapat sedikit atau
banyak.

2) Inkontinensia urin urgensi (urgency inkontinence)

Keluarnya urin secara tak terkendali dikaitkan dengan sensasi keinginan berkemih.
Inkontinensia urin jenis ini umumnya dikaitkan dengan kontraksi detrusor tak terkendali
(detrusor overactivity). Masalah-masalah neurologis sering dikaitkan dengan inkontinensia
urin urgensi ini, meliputi stroke, penyakit Parkinson, demensia dan cedera medula spinalis.
Pasien mengeluh tak cukup waktu untuk sampai di toilet setelah timbul keinginan untuk
berkemih sehingga timbul peristiwa inkontinensia urin. Inkontinensia tipe urgensi ini
merupakan penyebab tersering inkontinensia pada lansia di atas 75 tahun. Satu variasi
inkontinensia urgensi adalah hiperaktifitas detrusor dengan kontraktilitas yang terganggu.
Pasien mengalami kontraksi involunter tetapi tidak dapat mengosongkan kandung kemih
sama sekali. Mereka memiliki gejala seperti inkontinensia urin stress, overflow dan obstruksi.
Oleh karena itu perlu untuk mengenali kondisi tersebut karena dapat menyerupai ikontinensia
urin tipe lain sehingga penanganannya tidak tepat.

3) Inkontinensia urin luapan / overflow (overflow incontinence)

Tidak terkendalinya pengeluaran urin dikaitkan dengan distensi kandung kemih yang
berlebihan. Hal ini disebabkan oleh obstruksi anatomis, seperti pembesaran prostat, faktor
neurogenik pada diabetes melitus atau sclerosis multiple, yang menyebabkan berkurang atau
tidak berkontraksinya kandung kemih, dan faktor-faktor obat-obatan. Pasien umumnya
mengeluh keluarnya sedikit urin tanpa adanya sensasi bahwa kandung kemih sudah penuh.

4) Inkontinensia urin fungsional

Memerlukan identifikasi semua komponen tidak terkendalinya pengeluaran urin akibat


faktor-faktor di luar saluran kemih. Penyebab tersering adalah demensia berat, masalah
muskuloskeletal berat, faktor lingkungan yang menyebabkan kesulitan untuk pergi ke kamar
mandi, dan faktor psikologis. Seringkali inkontinensia urin pada lansia muncul dengan
berbagai gejala dan gambaran urodinamik lebih dari satu tipe inkontinensia urin.
Penatalaksanaan yang tepat memerlukan identifikasi semua komponen.

5. Differential diagnosis

6
Infeksi saluran kemih (ISK) adalah infeksi bakteri yang mengenai bagian dari saluran
kemih. Ketika mengenai saluran kemih bawah dinamai sistitis (infeksi kandung kemih)
sederhana, dan ketika mengenai saluran kemih atas dinamai pielonefritis (infeksi ginjal).
Gejala dari saluran kemih bawah meliputi buang air kecil terasa sakit dan sering buang air
kecil atau desakan untuk buang air kecil (atau keduanya), sementara gejala pielonefritis
meliputi demam dan nyeri panggul di samping gejala ISK bawah. Pada orang lanjut usia dan
anak kecil, gejalanya bisa jadi samar atau tidak spesifik. Kuman tersering penyebab kedua
tipe tersebut adalahEscherichia coli, tetapi bakteri lain, virus, maupun jamur dapat menjadi
penyebab meskipun jarang. Infeksi saluran kemih lebih sering terjadi pada perempuan
dibandingkan laki-laki, dengan separuh perempuan mengalami setidaknya satu kali infeksi
selama hidupnya. Kekambuhan juga sering terjadi.

Untuk pertama kali terkena infeksi saluran kemih yang hanya ditandai dengan gejala
klinis, maka tidak diperlukan kultur urine dan dianggap bakterinya adalah E. Coli, tetapi jika
sudah terkena beberapa kali dan tidak sembuh juga, maka perlu dilakukan kultur urine,
karena seseorang dalam hidupnya apalagi jika sampai berusia lanjut dapat terkena 5 atau
lebih jenis bakteri termasuk bakteri Staphylococcus saprophyticus

Penyembuhan ISK dapat dilakukan dengan menggunakan obat-obatan antibiotik yang


diresepkan oleh dokter. Selain antibiotik, obat pereda nyeri seperti parasetamol juga mungkin
diperlukan untuk meredakan demam atau rasa sakit yang ada.5

6. Etiologi5

i. Kelainan urologik, misalnya radang,batu,tumor.

ii. Kelainan neurologik, misalnya stroke, trauma pada medulla spinalis, dimensia.

iii. Hambatan mobilitas, situasi atau tempat berkemih yang tidak memadai

iv. Usia, jenis kelamin, serta jumlah persalinan per vaginam yang pernah dialami
sebelumya.

v. Efek obat-obatan

vi. Infeksi saluran kemih, menopause, pembedahan urogenital, penyakit kronis dan
penggunaan obat-obatan.

7. Epidemiologi

7
Sebanyak 50-70% wanita dengan inkontinensia urin tidak mendapatkan bantuan medis.
Mereka sering menunggu selama 6-9 tahun sebelum mendapatkan rawatan. Faktor usia
memainkan peranan dan wanita lebih sering mengalami nya 2x ganda berbanding laki-laki.
Inkontinensia urin mempengaruhi sebanyak 50-84% lansia dan 10-35% orang dewasa.
Prevelansi kejadian ini meningkat seiring dengan pertambahan usia. Stress inkontinensia urin
lebih sering terjadi pada wanita dibawah usia 65 tahun manakala tipe urgensi dan campuran
lebih sering pada wanita berusia lebih dari 65 tahun.6

8. Manifestasi klinis5,6

 Tidak merasakan urine keluar

 Ngompol saat tidur

 Sering buang air kecil, tetapi yang keluar hanya sedikit

 Sering merasakan ingin sekali berkemih, sehingga tergesah-gesah pergi ke kamar


kecil

 Kandung kemih terasa penuh walaupun telah buang air kecil

 Sering terbangun dimalam hari untuk buang air kecil

 Urine keluar saat batuk, bersin, melompat atau tertawa

 Berkemih lebih sering dari biasanya.

9. Patofisiologi

Inkontinensia urine dapat terjadi dengan berbagai sebab, antara lain:6

a. Fungsi sfingter yang terganggu menyebabkan kandung kemih bocor bila batuk atau
bersin. Bisa juga disebabkan oleh kelainan di sekeliling daerah saluran kencing.

b. Fungsi otak besar yang terganggu dan mengakibatkan kontraksi kandung kemih.

c. Terjadi hambatan pengeluaran urine dengan pelebaran kandung kemih, urine banyak
dalam kandung kemih sampai kapasitas berlebihan.

Gagal jantung kongestif juga bisa menjadi faktor penyebab produksi urin meningkat
dan harus dilakukan terapi medis yang sesuai. Gangguan kemampuan ke toilet bisa

8
disebabkan oleh penyakit kronik, trauma, atau gangguan mobilitas. Untuk mengatasinya
penderita harus diupayakan ke toilet secara teratur atau menggunakan substitusi toilet.
Apabila penyebabnya adalah masalah psikologis, maka hal itu harus disingkirkan dengan
terapi non farmakologik atau farmakologik yang tepat. Pasien lansia, kerap mengonsumsi
obat-obatan tertentu karena penyakit yang dideritanya. obat-obatan ini bisa sebagai ‘biang
keladi’ mengompol pada orang-orang tua. Jika kondisi ini yang terjadi, maka penghentian
atau penggantian obat jika memungkinkan, penurunan dosis atau modifikasi jadwal
pemberian obat.

Dengan menurunnya kadar hormon estrogen pada wanita di usia menopause (50 tahun
ke atas), akan terjadi penurunan tonus otot vagina dan otot pintu saluran kemih (uretra),
sehingga menyebabkan terjadinya inkontinensia urine. Faktor risiko yang lain adalah obesitas
atau kegemukan, riwayat operasi kandungan dan lainnya juga berisiko mengakibatkan
inkontinensia. Semakin tua seseorang semakin besar kemungkinan mengalami inkontinensia
urine, karena terjadi perubahan struktur kandung kemih dan otot dasar panggul.

10. Penatalaksanaan

Penanganan inkontinensia urine tergantung factor penyebab yang mendasarinya, namun


demikian sebelum terapi yang tepat dimulai, munculnya masalah ini harus di identifikasi
terlebih dahulu.

Yang sering dikerjakan pada penderita lanjut usia dengan incontinensia urine adalah
memasang kateter secara menetap. Untuk beberapa pertimbangan, misalnya memantau
produksi urine dan mengatur balance cairan hal ini masih dapat diterima, tetapi sering kali
pemasangan kateter ini tidak jelas dan mengandung resiko untuk terjadinya komplikasi
umumnya adalah infeksi.

Ada 3 macam katerisasi pada inkontinensia urine :

1. katerisasi luar

terutama pada pria yang memakai system kateter kondom. Efek samping yang utama adalah
iritasi pada kulit dan sering lepas.

2. katerisasi intermiten

9
katerisasi secara intermiten dapat dicoba, terutama pada wanita lanjut usia yang menderita
inkontinensia urine. Frekuensi pemasangan 2-4x sehari dengan sangat memperhatikan
sterilisasi dan tehnik prosedurnya.

3. Katerisasi secara menetap

Pemasangan kateter secara menetap harus benar-benar dibatasi pada indikasi yang tepat.
Misalnya untuk ulkus dekubitus yang terganggu penyembuhannya karena ada inkontinensia
urine ini. Komplikasi dari katerisasi secara terus-menerus ini disamping infeksi. Juga
menyebabkan batu kandung kemih, abses ginjal dan bahkan proses keganasan dari saluran
kemih.

Memang lebih rumit dan membutuhkan biaya serta tenaga untuk memakai pembalut-
pembalut serta alas tempat tidur dengan bahan yang baik daya serapnya, dan secara teratur
memprogram penderita untuk berkemih.

Tetapi untuk jangka panjang, dapat diharapkan resiko morbiditas yang menurun, dengan
begitu juga berpengaruh pada penurunan biaya perawatan.

Pengelolaan inkontinensia urine pada apenderita usia lanjut, secara garis besar dapat
dikerjakan sebagai berikut :

 Program rehabilitasi

Melatih respon kandung kemihagar baik lagi

Melatih perilaku berkemih

Latihan otot-otot dasar panggul

Modifikasi tempat untuk berkemih

 Katerisasi baik secara berkala atau menetap

 Obat-obatan, antara lain untuk relaksasi kandung kemih, osterogen

 Pembedahan, misalnya untuk mengangkat penyebab sumbatan atau keadaan patologi


lain.

10
 Lain-lain, misalkan penyesuaian lingkungan yang mendukung untuk kemudahan
berkemih, penggunaan pakaian dalam dan bahan-bahan penyerap khusus untuk
mengurangi dampak inkontinensia

Untuk masing-masing tipe dari inkontinensia ada beberapa hal khusus yang dianjurkan,
misalnya :

Inkontinensia tipe stress

Ø Latihan otot-otot dasar panggul

Ø Latihan penyesuaian berkemih

Ø Obat-obatan untuk merelaksasi kandung kemih dan estrogen

Ø Tindakan pembedahan memperkuat mura kandung kemih

Inkontinensia tipe urgensi

Ø Latihan mengenal berkemih dan menyesuaikan

Ø Obat-obatan untuk merelaksasikan kandung kemih dan estrogen

Ø Tindakan pembedahan untuk mengambil sumbatan dan lain-lain keadaan patologik yang
menyababkan iritasi saluran kemih bagian bawah.

Inkontinensia tipe luapan

Ø Kateterisasi bila mungkin secara intermiten dan kalau mungkin secara menetap.

Ø Tindakan pembedahan untuk mengangkat penyebab sumbatan

Inkontinensia tipe fungsional

Ø Penyesuaian sikap berkemih antara lain dengan jadwal dan kebiasaan berkemih.

Ø Pakaian dalam dan kain penyerap khusus lainnya

Ø Penyesuaian atau modifikasi lingkungan tempat berkemih.

Ø Kalau perlu digunakan obat-obat yang merelaksasikan kandung kemih

11
Pemakaian obat-obatan yang merelaksasikan otot-otot kandung kemih, pada umumnya
mempunyai sifat anti kolinergik. Efek samping yang harus diperhatikan antara lain mulut
terasa kering dan bahkan dapat mencetuskan terjadinya retensi urine. Kemungkinan retensi
urine ini diperbesar bila ada penyakit diabetes mellitus atau obstruksi pada muara kandung
kemih. Demikian obat-obatan dengan sifat anti-koligenik ini dapat menyebabkan penurunan
fungsi kognitif, delirium dan hipotensi postural.

Penggunaan obat-obatan hormonal, bila berlangsung beberapa bulan harus secara siklik,
dan jika perlu ditambahkan progesteron. Bila diberikan dalam kombinasi demikian, efek
samping masing-masing obat harus diperhatikan misalnya: perdarahn pervaginam dan
kemungkinan kearah keganasan.

Obat-obat yang dapat diberikan pada inkontinensia urgen adalah antikolinergik seperti
Oxybutinin, Propantteine, Dicylomine, flavoxate, Imipramine. Pada inkontinensia stress
diberikan alfa adrenergic agonis, yaitu pseudoephedrine untuk meningkatkan retensi urethra.
Pada sfingter relax diberikan kolinergik agonis seperti Bethanechol atau alfakolinergik
antagonis seperti prazosin untuk stimulasi kontraksi, dan terapi diberikan secara singkat.7

11. Komplikasi 6,8

 Hipovolemia

 Iritasi

 Infeksi

 Retensi urine

 Penurunan fungsi kognitif

 Delirium

 Postural hipotensi

12. Edukasi dan Pencegahan1

i. Menjaga kebersihan kulit, kulit tetap dalam keadaan kering, ganti sprei atau pakaian
bila basah.

12
ii. Anjurkan untuk latihan bladder training dengan teknik relaksasi dan distraksi
sehingga frekwensi berkemih 6-7 x/hari. Lansia diharapkan dapat menahan keinginan
untuk berkemih bila belum waktunya. Lansia dianjurkan untuk berkemih pada
interval waktu tertentu, mula-mula setiap jam, selanjutnya diperpanjang secara
bertahap sampai lansia ingin berkemih setiap 2-3 jam.

iii. Anjurkan pemasukkan cairan 2-2,5 liter / hari jika tidak ada kontra indikasi.

iv. Anjurkan untuk latihan perineal atau kegel’s exercise untuk membantu menguatkan
kontrol muskuler ( jika di indikasikan )

v. Latihan ini dapat dengan berbaring, duduk atau berdiri

a. Kontraksikan otot perineal untuk menghentikan pengeluaran urine

b. Kontraksi dipertahankan selama 5-10 detik dan kemudian mengendorkan atau


lepaskan

c. Ulangi sampai 10 kali, 3-4 x / hari

vi. Cek obat-obat yang diminum ( narkotik, sedative, diuretik, antihistamin dan anti
hipertensi ), mungkin berkaitan dengan inkontinensia.

vii. Cek psikologis

13. Prognosis1

 Inkontinensia tekanan urin; pengobatan tidak begitu efektif. Pengobatan yang efektif
adalah dengan latihan otot (latihan Kegel) dan tindakan bedah. Perbaikan dengan terapi
alfa agonis hanya sebesar 17%-74%, tetapi perbaikan dengan latihan Kegel bisa mencapai
87%-88%.

 Inkontinensia urgensi;dari studi, menunjukkan bahwa latihan kandung kemih


memberikan perbaikan yang cukup signifikans (75%) dibandingkan dengan penggunaan
obat antikolinergik (44%). Pilihan terapi bedah sangat terbatas dan memiliki tingkat
morbiditas yang tinggi.

 Inkontinensia luapan; terapi medikasi dan bedah sangat efektif untuk mengurangi gejala
inkontinensia.

13
 Inkontinensia campuran; latihan kandung kemih dan latihan panggul memberikan hasil
yang lebih memuaskan dibandingkan penggunaan obat-obata antikolinergik.

Kesimpulan

Inkontinensia Urirc (IU) merupakan gangguan yang dapat terjadi pada perempuan semua usia
dengan derajat dan perjalanan penyakit yang bervariasi. Walaupun jarang mengancam iiwa,
IU dapat memberikan dampak serius pada kesehatan fisik, psikologi, dan sosial. Prevalensi
IU meningkat dengan pertambahan usia. Banyak faktor risiko yang memicu IU antaranya
kehamilan, persalinan, obesitas, proses penuaan, dan histerektomi.

14
Daftar Pustaka

1. Martono HH, Pranarka K. Geriatri. Edisi ke-4. Jakarta: Balai Penerbit FKUI;
2009.h.226-41.

2. Gleadle J.At a glance:anamnesis dan pemeriksaan fisik. Penerbit Erlangga:2005.Hal


25-6.

3. Bickley, Lynn. Bates buku ajar pemeriksaan fisik & riwayat kesehatan. Edisi 8.
Jakarta : EGC; 2009. h.220-1; 238-9; 266-9; 272-3; 279-80; 285-7; 297.

4. Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. Buku Ajar ilmu penyakit
dalam. Edisi ke-5.. Jakarta: Interna Publishing; 2009.h.865-875.

5. Baradero M, Siswati Y. Asuhan keperawatan klien gangguan ginjal. Jakarta: EGC;


2009.h.92-101.

6. Longmore M, Wilkinson B, Baldwin A, Wallin E. Oxford handbook of clinical


medicine. 9th Ed. United States of America: Oxford University Press Inc; 2014.p.
284-9.

7. Hardman GJ, Limbird LE, Gillman AG. Dasar farmakologi terapi. Edisi ke-10.
Jakarta : EGC; 2008; 2: h.312-23.

8. Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Buku ajar


mikrobiologi kedokteran edisi revisi. Jakarta : Binarupa Aksara Publisher;
2009.h.107-115.

15