Anda di halaman 1dari 19

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kista ovarium merupakan salah satu bentuk penyakit repoduksi yang


banyak menyerang wanita. Kista atau tumor merupakan bentuk gangguan yang
bisa dikatakan adanya pertumbuhan sel-sel otot polos pada ovarium yang jinak.
Walaupun demikian tidak menutup kemungkinan untuk menjadi tumor
ganas atau kanker. Perjalanan penyakit ini sering disebut sillent killer atau
secara diam diam menyebabkan banyak wanita yang tidak menyadari bahwa
dirinya sudah terserang kista ovarium dan hanya mengetahui pada saat kista
sudah dapat teraba dari luar atau membesar.
Kista ovarium adalah benjolan yang membesar, seperti balon yang berisi
cairan yang tumbuh di indung telur. Kista tersebut disebut juga kista fungsional
karena terbentuk selama siklus menstruasi normal atau setelah telur dilepaskan
sewaktu ovulasi. Kista ovarium yang bersifat ganas disebut juga kanker
ovarium. Kanker ovarium merupakan pembunuh yang diam-diam, karena
memang seringkali pasien tidak merasakan apa-apa, kalapun terjadi keluhan
biasanya sudah lanjut (Benson, R. & Pernoll, M. L., 2008).
Angka kejadian kista sering terjadi pada wanita berusia produktif.
Jarang sekali di bawah umur 20 maupun di atas 50 tahun.(William, 2007)
Kista Ovarium ditemukan pada hampir semua wanita premenopause
dan pada 18% wanita post menopause. Insiden yag sering terjadi pada wanita
usia 30-54 tahun dan yang paling tinggi adalah wanita dengan kulit putih.
(William, 2007) Di Indonesia sekitar 25-50 % kematian wanita usia subur
disebabkan oleh masalah yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan,
serta penyakit yang mengenai sistem reproduksi misalnya kista ovarium.
(Manuaba, 2010)
Di Amerika insidensi kista ovarium semua ras adalah 12,5 kasus per
100.000 populasi pada tahun 1988 sampai 1991. Sebagian besar kista adalah

1
kista fungsional dan jinak.Di Amerika karsinoma ovarium didiagnosa pada
kira-kira 22.000 wanita, kematian sebanyak 16.000 orang. (Rock JA,)
Berdasarkan data yang diperoleh CDC di Amerika pada tahun 2011
insidensi kanker ovarium tertinggi terjadi di kota New York, Columbia dan
Washington dengan interval 12,5-14,9 per 100.000 penduduk. Dan yang paling
rendah terjadi di kota Hawaii, Virginia, dan Louisiana dengan interval 7,5-
10,4 per 100.000 penduduk(CDC,2011)
Di RSU H. Adam Malik Medan terdapat jumlah seluruh penderita kista
ovarium tahun 2008-2009 sebanyak 47 orang. Di Rumah Sakit Dr.
Pirngadi Medan dari bulan Januari 2010- Oktober 2010 penderita kista
ovarium pada wanita usia subur terdata sebanyak 34 kasus (safitri,2010).
Kemudian Di Rumah Sakit ST. Elisabeth Medan penderita kista ovarium dari
tahun 2008-2012 terdata sebanyak 116 kasus. (Dumaris, 2012).

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian kista ovarium?
2. Apa saja jenis dan karakter kista ovarium?
3. Apa saja faktor penyebab terjadinya penyakit kista ovarium?
4. Apa saja gejala kista ovarium dan tanda-tanda klinisnya?
5. Apa saja komplikasi penyakit kista ovarium?
6. Bagaimana pencegahan penyakit kista ovarium?
7. Bagaimana penatalaksanaan medis dari penyakit kista ovarium?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Tujuan umum
Agar pembaca dapat mengetahui secara lebih mendalam tentang penyakit
kista dan bagaimana cara penanggulangan.
2. Tujuan khusus
1) Untuk mengetahui pengertian kista ovarium
2) Untuk mengetahui apa saja jenis dan karakter kista ovarium
3) Untuk mengetahui apa saja faktor penyebab terjadinya penyakit kista
ovarium

2
4) Untuk mengetahui apa saja gejala kista ovarium dan tanda-tanda
klinisnya
5) Untuk mengetahui apa saja komplikasi penyakit kista ovarium
6) Untuk mengetahui bagaimana pencegahan penyakit kista ovarium
7) Untuk mengetahui bagaimana penatalaksanaan medis dari penyakit kista
ovarium

1.4 Manfaat Penulisan

1. Pengembangan keperawatan

Penelitian ini diharapkan sebagai sarana untuk menerapkan ilmu dan

menambah wawasan dalam melakukan asuhan keperawatan secara

komprehensif terhadap pasien dengan kista ovarium.

2. Bagi pembaca

Hasil Makalah ini dapat menambah referensi bagi mahasiswa lain dalam
mengembangkan penelitian baik secara jumlah responden ataupun waktu yang
dibutuhkan

3
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Kista Ovarium

Kista ovarium merupakan salah satu tumor jinak ginekologi yang


paling sering dijumpai pada wanita di masa reproduksinya.(Depkes RI, 2011).
Kista ovarium adalah suatu kantong berisi cairan seperti balon berisi air yang
terdapat di ovarium. (Owen, 2005)
Kista ovarium adalah tumor ovarium yang bersifat neoplastik dan
non neoplastik. Kista ovarium merupakan suatu tumor, baik kecil
maupun yang besar, kistik atau padat, jinak atau ganas yang berada di
ovarium. Dalam kehamilan tumor ovarium yang paling sering dijumpai ialah
kista dermoid, kista coklat atau kista lutein. Tumor Ovarium yang cukup
besar dapat menyebabkn kelainan letak janin dalam rahim atau dapat
menghalang-halangi masuknya kepala kedalam panggul.(Wiknjosastro,2005)
Kista ovarium adalah tumor jinak yang diduga timbul dari bagian ovum
yang normalnya menghilang saat menstruasi, asalnya tidak teridentifikasi
dan terdiri atas sel-sel embrional yang tidak berdiferensiasi, kista ini
tumbuh lambat dan ditemukan selama pembedahan yang mengandung
material sebasea kental berwarna kuning yang timbul dari lapisan kulit
(Smeltzer,2002).

2.2. Jenis dan Karakter Kista Ovarium

Berdasarkan tingkat keganasannya, kista terbagi dua, yaitu nonneoplastik


dan neoplastik. Kista nonneoplastik sifatnya jinak dan biasanya akan
mengempis sendiri setelah 2 hingga 3 bulan. Sementara kista neoplastik
umumnya harus dioperasi, namun hal itu pun tergantung pada ukuran dan
sifatnya. (Prawirohardjo,2002)

4
2.2.1. Kista ovarium neoplastik jinak diantaranya: (Mansjoer, 2000)
a. Kistoma Ovarii Simpleks
Kistoma ovarii simpleks merupakan kista yang permukaannya rata dan
halus, biasanya bertangkai, seringkali bilateral, dan dapat menjadi besar.
Dinding kista tipis berisi cairan jernih yang serosa dan berwarna kuning.
Penatalaksanaan dengan pengangkatan kista dengan reseksi ovarium.
b. Kistadenoma Ovarii Musinosum
Bentuk kista multilokular dan biasanya unilateral, dapat tumbuh menjadi
sangat besar. Gambaran klinis terdapat perdarahan dalam kista dan perubahan
degeneratif sehingga timbul perleketan kista dengan omentum, usus-usus, dan
peritoneum parietale.Selain itu, bisa terjadi ileus karena perleketan dan
produksi musin yang terus bertambah akibat pseudomiksoma peritonei.
Penatalaksanaan dengan pengangkatan kista in tito tanpa pungsi terlebih dulu
dengan atau tanpa salpingo-ooforektomi tergantung besarnya kista.
c. Kistadenoma Ovarii Serosum
Kista ini berasal dari epitel germinativum.Bentuk kista umumnya
unilokular, tapi jika multilokular perlu dicurigai adanya keganasan. Kista ini
dapat membesar, tetapi tidak sebesar kista musinosum. Selain teraba
massaintraabdominal juga dapat timbul asites. Penatalaksanaan umumnya
sama dengan kistadenoma ovarii musinosum.
d. Kista Dermoid
Kista dermoid adalah teratoma kistik jinak dengan struktur ektodermal
berdiferensiasi sempurna dan lebih menonjol dari pada mesoderm dan
entoderm. Bentuk cairan kista ini seperti mentega. Kandungannya tidak
hanya berupa cairan tapi juga ada partikel lain seperti rambut, gigi, tulang,
atau sisa-sisa kulit. Dinding kista keabu-abuan dan agak tipis, konsistensi
sebagian kistik kenyal dan sebagian lagi padat. Dapat menjadi ganas, seperti
karsinoma epidermoid. Kista ini diduga berasal dari sel telur melalui proses
parthenogenesis. Gambaran klinis adalah nyeri mendadak di perut bagian
bawah karena torsi tangkai kista dermoid.Dinding kista dapat ruptur sehingga
isi kista keluar di rongga peritoneum.Penatalaksanaan dengan pengangkatan
kista dermoid bersama seluruh ovarium.

5
2.2.2. Kista nonneoplastik terdiri dari: (Prawirohardjo, 2002)

a. Kista Folikel
Kista ini berasal dari Folikel de Graaf yang tidak sampai berovulasi,
namun tumbuh terus menjadi kista folikel, atau dari beberapa folikel primer
yang setelah tumbuh di bawah pengaruh estrogen tidak mengalami proses
atresia yang lazim, melainkan membesar menjadi kista. Bisa didapati satu
kista atau lebih, dan besarnya biasanya dengan diameter 1 – 1,5 cm.
Kista folikel ini bisa menjadi sebesar jeruk nipis. Bagian dalam dinding
kista yang tipis yang terdiri atas beberapa lapisan sel granulosa, akan tetapi
karena tekanan di dalam kista, maka terjadilah atrofi pada lapisan ini. Cairan
dalam kista berwarna jernih dan sering kali mengandung estrogen. Oleh
sebab itu, kista kadang-kadang dapat menyebabkan gangguan haid .Kista
folikel lambat laun dapat mengecil dan menghilang spontan, atau bisa terjadi
ruptur dan kista pun menghilang. Umumnya, jika diameter kista tidak lebih
dari 5 cm, maka dapat ditunggu dahulu karena kista folikel biasanya dalam
waktu 2 bulan akan menghilang sendiri.

b. Kista Korpus Luteum


Dalam keadaan normal korpus luteum lambat laun mengecil dan
menjadi korpus albikans. Kadang-kadang korpus luteum mempertahankan
diri (korpus luteum persistens), perdarahan yang sering terjadi di dalamnya
menyebabkan terjadinya kista, berisi cairan yang berwarna merah coklat
karena darah tua. Frekuensi kista korpus luteum lebih jarang dari pada
kista folikel. Dinding kista terdiri atas lapisan berwarna kuning, terdiri atas
sel-sel luteum yang berasal dari sel-sel teka.
Kista korpus luteum dapat menimbulkan gangguan haid, berupa
amenorea diikuti oleh perdarahan tidak teratur. Adanya kista dapat pula
menyebabkan rasa berat di perut bagian bawah dan perdarahan yang berulang
dalam kista dapat menyebabkan ruptur. Rasa nyeri di dalam perut yang
mendadak dengan adanya amenorea sering menimbulkan kesulitan dalam
diagnosis diferensial dengan kehamilan ektopik yang terganggu. Jika

6
dilakukan operasi, gambaran yang khas kista korpus luteum memudahkan
pembuatan diagnosis.
Penanganan kista korpus luteum ialah menunggu sampai kista hilang
sendiri. Dalam hal dilakukan operasi atas dugaan kehamilan ektopik
terganggu, kista korpus luteum diangkat tanpa mengorbankan ovarium.

c. Kista Lutein
Pada mola hidatidosa, koriokarsinoma, dan kadang-kadang tanpa adanya
kelainan tersebut, ovarium dapat membesar dan menjadi kistik. Kista
biasanya bilateral dan bisa menjadi sebesar ukuran tinju.
Pada pemeriksaan mikroskopik terlihat luteinisasi sel-sel teka. Sel-sel
granulosa dapat pula menunjukkan luteinisasi, akan tetapi seringkali sel-sel
menghilang karena atresia. Tumbuhnya kista ini ialah akibat pengaruh
hormon koriogonadotropin yang berlebihan, dan dengan hilangnya mola atau
koriokarsinoma, ovarium mengecil spontan.

d. Kista Inklusi Germinal


Kista ini terjadi karena invaginasi dan isolasi bagian-bagian kecil dari
epitel germinativum pada permukaan ovarium. Kista ini lebih banyak
terdapat pada wanita yang lanjut umurnya, dan besarnya jarang melebihi
diameter 1 cm. Kista ini biasanya secara kebetulan ditemukan pada
pemeriksaan histologik ovarium yang diangkat waktu operasi. Kista terletak
di bawah permukaan ovarium, dindingnya terdiri atas satu lapisan epitel
kubik atau torak rendah, dan isinya cairan jernih dan serus.

e. Kista Endometriosis
Kista yang terbentuk dari jaringan endometriosis (jaringan mirip
dengan selaput dinding rahim yang tumbuh di luar rahim) menempel di
ovarium dan berkembang menjadi kista. Kista ini sering disebut juga
sebagai kista coklat endometriosis karena berisi darah coklat-
kemerahan. Kista ini berhubungan dengan penyakit endometriosis yang

7
menimbulkan nyeri haid dan nyeri senggama.Kista ini berasal dari sel-sel
selaput perut yang disebut peritoneum.
Penyebabnya bisa karena infeksi kandungan menahun, misalnya keputihan
yang tidak ditangani sehingga kuman-kumannya masuk kedalam selaput
perut melalui saluran indung telur.Infeksi tersebut melemahkan daya tahan
selaput perut, sehingga mudah terserang penyakit.
Gejala kista ini sangat khas karena berkaitan dengan haid. Seperti
diketahui, saat haid tidak semua darah akan tumpah dari rongga rahim ke
liang vagina, tapi ada yang memercik ke rongga perut. Kondisi ini
merangsang sel-sel rusak yang ada di selaput perut mengidap penyakit baru
yang dikenal dengan endometriosis. Karena sifat penyusupannya yang
perlahan, endometriosis sering disebut kanker jinak.

f. Kista Stein-Leventhal
Ovarium tampak pucat, membesar 2 sampai 3 kali, polikistik, dan
permukaannya licin.Kapsul ovarium menebal. Kelainan ini terkenal dengan
nama sindrom Stein-Leventhal dan kiranya disebabkan oleh gangguan
keseimbangan hormonal. Umumnya pada penderita terhadap gangguan
ovulasi, oleh karena endometrium hanya dipengaruhi oleh estrogen,
hiperplasia endometrii sering ditemukan.

2.3 Faktor Penyebab terjadinya Kista Ovarium

Penyebab pasti dari penyakit kista Ovarium belum diketahui


secara pasti.Akan tetapi salah satu pemicunya adalah faktor
hormonal. Penyebab terjadinya kista ovarium ini dipengaruhi oleh banyak
factor yang saling berhubungan. Beberapa faktor resiko yang
mempengaruhi terjadinya kista ovarium adalah

a. Gangguan pembentukan hormone


Kista ovarium disebabkan oleh 2 gangguan (pembentukan)
hormon yaitu pada mekanisme umpanbalik ovarium dan

8
hipotalamus. Estrogen merupakan sekresi yang berperan sebagai
respon hipersekresi folikel stimulasi hormon. Dalam menggunakan
obat- obatan yang merangsang pada ovulasi atau misalkan pola
hidup yang tidak sehat itu bisa menyebabkan suatu hormone yang
pada akhirnya dapat menyebabkan ketidakseimbangan hormone.
(Mansjoer, 2000) Gangguan keseimbangan hormon dapat berupa
peningkatan hormon Luteinizing Hormon (LH) yang menetap
sehingga dapat menyebabkan ganguan ovulasi. (Llewellyn, 2001)
b. Memiliki Riwayat kista ovarium atau keluarga memiliki riwayat
kista ovarium.(Wiknjosastro, 2005)
c. Penderita kanker payudara yang pernah menjalani kemoterapi
(tamoxifen) Tamoxifen dapat menyebabkan kista ovarium fungsional
jinak yang biasanya menyelesaikan penghentian pengobatan
tersebut.(William,2007)
d. Pada pengobatan infertilitas
Pasien dirawat karena infertilitas dengan induksi ovulasi
dengan gonadotropin atau agen lainnya , seperti clomiphene citrate
atau letrozole, dapat mengembangkan kista sebagai bagian dari
sindrom hiperstimulasi ovarium.(William, 2007)
e. Gaya hidup yang tidak sehat
Gaya hidup yang tidak sehat dapat memicu terjadinya
penyakit kista ovarium.Risiko kista ovarium fungsional
meningkat dengan merokok, risiko dari merokok mungkin
meningkat lebih lanjut dengan indeks massa tubuh
menurun.Selain dikarenakan merokok pola makan yang tidak
sehat seperti konsumsi tinggi lemak, rendah serat, konsumsi zat
tambahan pada makanan, konsumsi alcohol dapat juga meningkatka
risiko penderita kista ovarium.(Bustam,2007). Pada wanita yang
sudah menopause kista fungsional tidak terbentuk karena
menurunnya aktivitas indung telur (Manuaba,2010).

9
f. Gangguan siklus Haid
Gangguan siklus haid yang sangat pendek atau lebih panjang
harus diwaspadai. Menstuasi di usia dini yaitu 11 tahun atau lebih
muda merupakan faktor resiko berkembangnya kista ovarium, wanita
dengan siklus haid tidak teratur juga merupakan faktor resiko kista
ovarium.(Manuaba,2010).
g. Pemakaian alat kontrasepsi hormonal
Wanita yang menggunakan alat kontrasepsi hormonal juga
merupakan faktor resiko kista ovarium, yaitu pada wanita yang
menggunakan alat kontrasepsi hormonal berupa implant, akan tetapi
pada wanita yang menggunakan alat kontrasepsi hormonal berupa
pil cenderung mengurangi resiko untuk terkena kista ovarium
(Henderson, 2005).

2.4 Gejala Kista Ovarium dan Tanda-tanda Klinik

Kista ovarium seringkali tanpa gejala, terutama bila ukuran kistanya


masih kecil. Kista yang jinak baru memberikan rasa tidak nyaman apabila
kista semakin membesar, sedangkan pada kista yang ganas kadangkala
memberikan keluhan sebagai hasil infiltrasi atau metastasis kejaringan sekitar
(Sarjadi,1995).
Pemastian penyakit tidak bisa dilihat dari gejala-gejala saja karena
mungkin gejalanya mirip dengan keadaan lain seperti endometriosis, radang
panggul, kehamilan ektopik (di luar rahim) atau kanker ovarium. Meski
demikian, penting untuk memperhatikan setiap gejala atau perubahan ditubuh
untuk mengetahui gejala mana yang serius.
Gejala-gejalanya antara lain: perut ,terasa penuh, berat dan kembung,
tekanan pada dubur dan kandung kemih (sulit buang air kecil), siklus
menstruasi tidak teratur dan sering nyeri, nyeri panggul yang menetap atau
kambuhan yang dapat menyebar ke punggung bawah dan paha, nyeri
senggama, mual, ingin muntah, atau pengerasan payudara mirip seperti pada
saat hamil, luas permukaan dinding endometrium menebal,dan

10
pembengkakan tungkai bawah yang tidak disertai rasa sakit. Kadang-kadang
kista dapat memutar pada pangkalnya, mengalami infark dan robek,
sehingga menyebabkan nyeri tekan perut bagian bawah yang akut
sehingga memerlukan penanganan kesehatan segera (Moore,2001).

2.5 Komplikasi Kista Ovarium

Salah satu hal yang paling ditakutkan dari penyakit kista ovarium ini
ialah kista tersebut berubah menjadi ganas dan banyak terjadi komplikasi.
Komplikasi dari kista ovarium yang dapat terjadi ialah (Prawirohardjo,2010)

1. Perdarahan ke dalam kista


Biasanya terjadi sedikit-sedikit hingga berangsur-angsur
menyebabkan kista membesar, pembesaran luka dan hanya menimbulkan
gejala- gejala klinik yang minimal, akan tetapi jika perdarahan terjadi
dalam jumlah yang banyak akan terjadi distensi yang cepat dari
kista yang menimbulkan nyeri diperut.Kista berpotensi untuk pecah,
tidak ada patokan mengenai besarnya kista yang berpotensi pecah.
Pecahnya kista bisa menyebabkan pembuluh darah robek dan
menimbulkan terjadinya pendarahan. (Hakimi, 1993)

2. `Infeksi pada kista


Jika terjadi didekat tumor ada sumber kuman patogen.

3. Torsio ( Putaran tangkai )


Torsio atau putaran tangkai trjadi pada tumor bertangkai dengan
diameter 5 cm atau lebih, torsi meliputi ovarium, tuba fallopi atau
aligamentum roduntum pada uterus. Jika dipertahankan torsi ini dapat
berkembang menjadi infark peritonitis dan kematian.Torsi biasanya
unilateral dan dikaitkan dengan kista, karsinoma TOA, masa yang
tidak melekat atau yang dapat muncul pada wanita usia

11
reproduksigejalanya meliputi nyeri mendadak dan hebat dikuadrat
abdomen bawah, mual dan muntah dapat terjadi demam leukositosis.

4. Perubahan keganasan
Setelah tumor diangkat perlu dilakukan pemeriksaan mikroskopis
yang seksama terhadap kemungkinan perubahan kegansannya,adanya
asites dalam hal ini mencurigakan masa kista ovarium berkembang
setelah masa menapouse sehingga bisa kemungkinan untuk berubah
menjadi kanker.

5. Robek dinding kista


Terjadi pada torsi tangkai, akan tetapi dapat pula terjadi akibat
trauma, seperti jatuh atau pukulan pada perut, dan lebih sering pada
waktu melakukan bersetubuh, jika robekan kista disertai hemoragi yang
timbul secara akut, maka perdarahan bebas berlangsung keuterus ke
dalam rongga peritoneum dan menimbulkan rasa nyeri terus- menerus
disertatai tanda- tanda akut.

2.6 Pencegahan Kista Ovarium

Belum ada tindakan khusus agar terhindar dari penyakit kista ovarium.
Akan tetapi pencegahan ditujukan untuk menurunkan angka insidensi
kista Ovarium dan secara tidak langsung akan mengurangi angka kematian
akibat kista Ovarium.

2.6.1. Pencegahan primer

Pencegahan primer pada kista ovarium dilakukan pada orang sehat


yang sudah memiliki faktor risiko untuk terkena kista ovarium.
Pencegahan primer dapat dilakukan melalui upaya menghindarkan diri dari
keterpaparan berbagai faktor risiko dan melaksanakan pola hidup sehat seperti
tidak merokok, menkonsumsi makanan yang kaya serat dan mengandung zat

12
anti oksidan yang tinggi, serta hindari zat kimia tambahan yang berbahaya
pada makanan.

2.6.2. Pencegahan sekunder

Pencegahan sekunder ditujukan untuk mengobati para penderita dan


mengurangi akibat-akibat yang lebih serius dari penyakit kista ovarium
melalui diagnosa , pemeriksaan dini dan bekala kemudian pengobatan yang
tepat. (Budiarto, 2002)
Kista ovarium jinak tumbuh secara tersembunyi dan sering tidak dapat
dideteksi selama beberapa tahun. Tidak menyebabkan nyeri, tetapi jika
membesar dapat menimbulkan rasa tidak nyaman dan jarang menimbulkan
gangguan menstruasi. Pemeriksaan abdomen dan vagina secara periodik akan
dapat mendeteksi kista ini. Kista tanpa nyeri atau massa padat di cul-de-sac,
atau di tempat ovarium, atau meluas ke abdomen, yang dengan palpasi
bersifat kistik sampai padat, memberi tanda kista ovarium. Diagnosis dapat
dikonfirmasi dengan skening ultrason abdomen atau transvagina, yang
dapat membedakannya dari kehamilan, kegemukan, pseudosiesis, kandung
kemih penuh atau degenerasi kistik dari mioma (Llewellyn,2001).
Prawirohardjo (2002), menyatakan bahwa apabila pada pemeriksaan
ditemukan kista di rongga perut bagian bawah dan atau di rongga panggul,
maka setelah diteliti sifat-sifatnya (besarnya, lokalisasi, permukaan,
konsistensi, apakah dapat digerakkan atau tidak), maka perlu ditentukan jenis
kista tersebut. Pada kista ovarium biasanya uterus dapat diraba tersendiri,
terpisah dari kista. Jika kista ovarium terletak di garis tengah dalam rongga
perut bagian bawah dan kista itu konsistensinya kistik, perlu dipikirkan
adanya kehamilan atau kandung kemih penuh, sehingga pada anamnesis
perlu lebih cermat dan disertai pemeriksaan tambahan. Apabila sudah
ditentukan bahwa kista yang ditemukan ialah kista ovarium, maka perlu
diketahui apakah kista itu bersifat neoplastik atau
nonneoplastik.(Prawirohardjo, 2002)

13
Kista nonneoplastik akibat peradangan umumnya dalam anamnesis
menunjukkan gejala-gejala ke arah peradangan genital, dan pada pemeriksaan
kista-kista akibat peradangan tidak dapat digerakkan karena perleketan. Kista
nonneoplastik umumnya tidak menjadi besar, dan diantaranya pada suatu
waktu biasanya menghilang sendiri. Jika kista ovarium itu bersifat neoplastik,
maka pemeriksaan yang cermat dan analisis yang tajam dari gejala-gejala
yang ditemukan dapat membantu dalam pembuatan diagnosis
diferensial.(Prawirohardjo, 2002)
Penegakan diagnose dapat dibantu dengan pemeriksaan lanjutan
yang berupa :(Prawirohardjo, 2002)
(1) Laparaskopi yaitu pemeriksaan ini sangat berguna untuk
mengetahui apakah sebuah kista berasal dari ovarium atau tidak,
serta untuk menentukan sifat-sifat kista,
(2) Ultrasonografi yaitu dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan
letak dan batas kista, apakah kista berasal dari uterus,
ovarium, atau kandung kencing, apakah kista kistik atau solid, dan
dapat pula dibedakan antara cairan dalam rongga perut yang
bebas dan yang tidak.
(3) Foto Rontgen yaitu pemeriksaan ini berguna untuk menentukan
adanya hidrotoraks. Selanjutnya, pada kista dermoid kadang-
kadang dapat dilihat adanya gigi dalam kista
(4) Parasentesis yaitu pungsi asites berguna untuk menentukan
sebab asites. Perlu diperhatikan bahwa tindakan tersebut dapat
mencemarkan kavum peritonei dengan isi kista bila dinding kista
tertusuk.

2.7 Penatalaksanaan Medis

Apabila kista sudah terlanjur tumbuh dan didiagnosa sebagai kista


ovarium yang berbahaya, biasanya tindakan medis perlu dilakukan. Operasi
pengangkatan biasanya akan dilakukan untuk mencegah kista ovarium
tumbuh lebih besar. Penyembuhan dari kista juga tergantung pada jenisnya

14
masing-masing. Kista ovarium neoplastik memerlukan operasi dan kista
nonneoplastik tidak. Jika menghadapi kista yang tidak memberi gejala
atau keluhan pada penderita dan yang besar kistanya tidak melebihi jeruk
nipis dengan diameter kurang dari 5 cm, kemungkinan besar kista tersebut
adalah kista folikel atau kista korpus luteum, jadi merupakan kista
nonneoplastik. Tidak jarang kista-kista tersebut mengalami pengecilan secara
spontan dan menghilang, sehingga pada pemeriksaan ulangan setelah
beberapa minggu dapat ditemukan ovarium yang kira-kira besarnya
normal. Oleh sebab itu, dalam hal ini perlu menunggu selama 2 sampai 3
bulan, sementara mengadakan pemeriksaan ginekologik berulang. Jika
selama waktu observasi dilihat peningkatan dalam pertumbuhan kista
tersebut, maka dapat mengambil kesimpulan bahwa kemungkinan besar
kista itu bersifat neoplastik, dan dapat dipertimbangkan satu pengobatan
operatif (Prawirohardjo, 2002).
Tindakan operasi pada kista ovarium neoplastik yang tidak ganas ialah
pengangkatan kista dengan mengadakan reseksi pada bagian ovarium yang
mengandung kista.Akan tetapi, jika kistanya besar atau ada komplikasi,
perlu dilakukan pengangkatan ovarium, biasanya disertai dengan
pengangkatan tuba (salpingo-ooforektomi).Pada saat operasi kedua ovarium
harus diperiksa untuk mengetahui apakah ditemukan pada satu atau pada
dua ovarium (Prawirohardjo, 2002).

Pada operasi kista ovarium yang diangkat harus segera dibuka, untuk
mengetahui apakah ada keganasan atau tidak. Jika keadaan meragukan, perlu
pada waktu operasi dilakukan pemeriksaan sediaan yang dibekukan
(frozen section) oleh seorang ahli patologi anatomik untuk mendapatkan
kepastian apakah kista ganas atau tidak. Jika terdapat keganasan, operasi yang
tepat ialah histerektomi dan salpingo-ooforektomi bilateral. Akan tetapi,
wanita muda yang masih ingin mendapat keturunan dan tingkat keganasan
kista yang rendah (misalnya kista sel granulosa), dapat dipertanggung-
jawabkan untuk mengambil resiko dengan melakukan operasi yang tidak
seberapa radikal.

15
Terapi bergantung pada ukuran dan konsistensi kista dan
penampakannya pada pemeriksaan ultrasonografi. Mungkin dapat diamati
kista ovarium berdiameter kurang dari 80 mm, dan skening diulang untuk
melihat apakah kista membesar. Jika diputuskan untuk dilakukan terapi, dapat
dilakukan aspirasi kista atau kistektomi ovarium.
Kista yang terdapat pada wanita hamil, yang berukuran >80 mm
dengan dinding tebal atau semisolid memerlukan pembedahan, setelah
kehamilan minggu ke 12. Kista yang dideteksi setelah kehamilan minggu ke
30 mungkin sulit dikeluarkan lewat pembedahan dan dapat terjadi persalinan
prematur. Keputusan untuk melakukan operasi hanya dapat dibuat setelah
mendapatkan pertimbangan yang cermat dengan melibatkan pasien dan
pasangannya. Jika kista menimbulkan obstruksi jalan lahir dan tidak dapat
digerakkan secara digital, harus dilakukan seksio sesaria dan kistektomi
ovarium (Moore,2000).

16
BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. Kista ovarium adalah tumor jinak yang diduga timbul dari bagian ovum
yang normalnya menghilang saat menstruasi, asalnya tidak teridentifikasi
dan terdiri atas sel-sel embrional yang tidak berdierensiasi, kista ini
tumbuh lambat dan ditemukan selama pembedahan yang mengandung
material sebasea kental berwarna kuning yang timbul dari lapisan
kulit.(Smeltzer,2002).
2. Berdasarkan tingkat keganasannya, kista terbagi dua, yaitu nonneoplastik
dan neoplastik. Kista nonneoplastik sifatnya jinak dan biasanya akan
mengempis sendiri setelah 2 hingga 3 bulan. Sementara kista neoplastik
umumnya harus dioperasi, namun hal itu pun tergantung pada ukuran dan
sifatnya. (Prawirohardjo,2002).
3. Beberapa faktor resiko yang mempengaruhi terjadinya kista ovarium
adalah:
a. Gangguan pembentukan hormone
b. Memiliki Riwayat kista ovarium atau keluarga memiliki riwayat kista
ovarium.(Wiknjosastro, 2005)
c. Penderita kanker payudara yang pernah menjalani kemoterapi
d. Pada pengobatan infertilitas
e. Gaya hidup yang tidak sehat
f. Gangguan siklus Haid
g. Pemakaian alat kontrasepsi hormonal
4. Salah satu hal yang paling ditakutkan dari penyakit kista ovarium ini
ialah kista tersebut berubah menjadi ganas dan banyak terjadi komplikasi.
Komplikasi dari kista ovarium yang dapat terjadi ialah (Prawirohardjo,2010),
Perdarahan ke dalam kista, Infeksi pada kista, Torsio ( Putaran tangkai ),
Perubahan keganasan, Robek dinding kista.

17
5. Gejala-gejalanya antara lain: perut ,terasa penuh, berat dan kembung,
tekanan pada dubur dan kandung kemih (sulit buang air kecil), siklus
menstruasi tidak teratur dan sering nyeri, nyeri panggul yang menetap atau
kambuhan yang dapat menyebar ke punggung bawah dan paha, nyeri
senggama, mual, ingin muntah, atau pengerasan payudara mirip seperti
pada saat hamil, luas permukaan dinding endometrium menebal,dan
pembengkakan tungkai bawah yang tidak disertai rasa sakit.
6. Pencegahan dapat dilakukan melalui upaya menghindarkan diri dari
keterpaparan berbagai faktor risiko dan melaksanakan pola hidup sehat
seperti tidak merokok, menkonsumsi makanan yang kaya serat dan
mengandung zat anti oksidan yang tinggi, serta hindari zat kimia tambahan
yang berbahaya pada makanan.
7. Apabila kista sudah terlanjur tumbuh dan didiagnosa sebagai kista ovarium
yang berbahaya, biasanya tindakan medis perlu dilakukan. Operasi
pengangkatan biasanya akan dilakukan untuk mencegah kista ovarium
tumbuh lebih besar. Penyembuhan dari kista juga tergantung pada jenisnya
masing-masing. Kista ovarium neoplastik memerlukan operasi dan kista
nonneoplastik tidak.
3.2 Saran
Diharapkan kepada wanita umur 20-50 tahun agar lebih
memperhatikan gejala-gejala serta faktor risiko terjadinya kista ovarium,
dan menjaga kesehatan reproduksi diri wanita itu sendiri serta melakukan
gaya hidup sehat seperti mengkonsumsi makanan tinggi serat dan
tinggi zat antioksidan seperti sayuran, buah-buahan, dan kacang-kacangan,
rajin berolah raga, kurangi tingkat kesetresan yang tinggi dan hindari zat
kimia tambahan pada makanan. Juga kepada remaja wanita yang mengalami
menstruasi dini dan juga mengalami disminore agar lebih menjaga
kesehatan reproduksi, serta melakukan gaya hidup sehat, rajin
mengkonsumsi buah dan sayur, serta rajin berolah raga.

18
DAFTAR PUSTAKA

Owen, E. (2005). Panduan Kesehatan Bagi Wanita. Jakarta: PT. Prestasi


Pustakaraya.
Depkes RI. 2011. Kista Ovarium. Available online http:// www.medinuc.com
Diakses tanggal 15 Maret 2014
Wiknjosastro,H., 2005. Ilmu Kandungan. Jakarta Yayasan Bina Pustaka
Smeltzer and Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8. Jakarta:
EGC
William H., C..2007. American College of Obstetricians and Gynecologists
Ovarian Cysts. http://emedicine.com diakses tanggal 24 maret 2014
Mansjoer, et al (2000). Kapita Selekta Kedokteran edisi ketiga jilid 1. Jakarta: Media
Aesculapius
Manuaba,I.B.C., & Manuaba, I.B.G..,2010.Buku Ajar Penuntun Kuliah
Ginekologi. Jakarta: Penerbit CV. Trans Ino Media
Henderson,C., 2005. Buku Ajar Konsep Kebidanan. Jakarta: EGC
Llewellyn, et al. 2001. Dasar-dasar Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: Hipokrates
Moore, J.G., 2001. Essensial Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: Hipokrates
Prawirohardjo, S. 2002. Ilmu Kandungan.Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Hakimi, M., 1993. Keadaan Darurat Ginekologi Umum. Yogyakarta: Penerbit
Yayasan Essentia Medica Yogyakarta
Sarjadi. 1995. Patologi Ginekologik. Jakarta: Hipokrates
Safitri, Y., 2010. Pengalaman Wanita Usia Subur Dengan Kista Ovarium. Skripsi
Keperawatan Universitas sumatera Utara. Diakses tanggal 5 maret 2014.

19