Anda di halaman 1dari 10

RESUME TEKNIK INSTRUMENTASI

PADA Sdr. P DENGAN TONSILEKTOMI ATAS INDIKASI TONSILITIS KRONIS


DI KAMAR OPERASI 8 (THT)

Oleh:

MUHAMMAD WAFI TAUFIQ

INSTALASI BEDAH SENTRAL


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. SAIFUL ANWAR
JL. JAKSA AGUNG SUPRAPTO NO.2 KOTA MALANG
2015
RESUME TEKNIK INSTRUMENTASI PADA Sdr. P DENGAN TONSILEKTOMI
ATAS INDIKASI TONSILITIS KRONIS DI KAMAR OPERASI 8 (THT)

1 TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Tonsil (palatina / faucial) merupakan massa berbentuk oval yang berlokasi di
dinding lateral orofaring juga merupakan suatu akumulasi dari limfonoduli permanen
yang letaknya di bawah epitel yang telah terorganisir sebagai suatu organ. Pada Tonsil
terdapat epitel permukaan yang ditunjang oleh jaringan ikat retrikuler dan kapsel
jaringan ikat serta kriptus di dalamnya. (Muttaqin,2012).

Tonsilitis atau kalangan masyarakat awam menyebut dengan istilah penyakit


Amandel. Tonsillitis adalah infeksi (radang) tonsil (amandel) yang pada umumnya
disebabkan oleh mikro-organisme (bakteri dan virus). Terbanyak dialami oleh anak
usia 5-15 tahun. Tonsillitis, berdasarkan waktu berlangsungnya (lamanya) penyakit,
terbagi menjadi 2, yakni Tonsilitis akut dan Tonsilitis kronis.

Dikategorikan Tonsilitis akut jika penyakit (keluhan) berlangsung kurang dari


3 minggu. Sedangkan Tonsilitis kronis jika infeksi terjadi 7 kali atau lebih dalam 1
tahun, atau 5 kali selama 2 tahun, atau 3 kali dalam 1 tahun secara berturutan selama 3
tahun. Adakalanya terdapat perbedaan penggolongan kategori Tonsilitis akut dan
Tonsilitis kronis (Muttaqin,2012).
Tonsilektomi adalah operasi pengangkatan tonsil/mandel/amandel. Operasi ini
merupakan operasi THT yang paling sering dilakukan pada anak-anak. Para ahli
belum sepenuhnya sependapat tentang indikasi tentang tonsilektomi, namun sebagian
besar membagi alasan (indikasi) tonsilektomi menjadi: Indikasi absolut dan Indikasi
relatif.

Tonsilektomi merupakan pembedahan yang paling banyak dan biasa


dilakukan di bagian THT (Telinga, Hidung dan Tenggorok), oleh karena itu sering
dianggap sebagai pembedahan kecil saja. Tetapi bagaimanapun juga, tonsilektomi
adalah suatu pembedahan yang merupakan tindakan manipulasi yang dapat
menimbulkan trauma dengan risiko kerusakan jaringan. Komplikasi mulai dari yang
ringan bahkan sampai mengancam kematian atau gejala subyektif pada pasien berupa
rasa nyeri pasca bedah dapat saja terjadi (Endang.2011).

B. ETIOLOGI
 Tonsillitis bakterialis supuralis akut paling sering disebabkan oleh streptokokus
beta hemolitikus group A,Misalnya: Pneumococcus, staphylococcus,
Haemalphilus influenza, sterptoccoccus non hemoliticus atau streptoccus viridens.
 Bakteri merupakan penyebab pada 50% kasus. Antara lain streptococcus B
hemoliticus grup A, streptococcus, Pneumoccoccus,Virus, Adenovirus, Virus
influenza serta herpes.
 Penyebabnya infeksi bakteri streptococcus atau infeksi virus. Tonsil berfungsi
membantu menyerang bakteri dan mikroorganisme lainnya sebagai tindakan
pencegahan terhadap infeksi. Tonsil bisa dikalahkan oleh bakteri maupun virus,
sehingga membengkak dan meradang, menyebabkan tonsillitis (Muttaqin,2012).

C. PATOFISIOLOGI

Bakteri atau virus masuk melalui hidung dan mulut

Tubuh tidak bisa menahan infeksi dari bakteri atau virus

Bakteri atau virus menginfeksi lapisan epitel tonsil.


menjadikan terkikis dan terjadi peradangan serta infeksi pada
tonsil
Tonsilitis

Tonsilitis yang Pembesaran tonsil di salah Tonsil besar yang Tonsillitis kronis yang
menyebabkan kejang satu sisi yang dicurigai menyebabkan tidak menunjukkan
demam berhubungan keganasan gangguan pernafasan perbaikan pengobatan
(neoplastik)

TONSILEKTOMI
D. GEJALA DAN TANDA
Keluhan yang dapat dialami penderita Tonsilllitis, antara lain:
 Tengorokan terasa kering, atau rasa mengganjal di tenggorokan (leher)
 Nyeri saat menelan (menelan ludah ataupun makanan dan minuman) sehingga
menjadi malas makan.
 Nyeri dapat menjalar ke sekitar leher dan telinga.
 Demam, sakit kepala, kadang menggigil, lemas, nyeri otot.
 Dapat disertai batuk, pilek, suara serak, mulut berbau, mual, kadang nyeri perut,
pembesaran kelenjar getah bening (kelenjar limfe) di sekitar leher.
 Adakalanya penderita tonsilitis (kronis) mendengkur saat tidur (terutama jika
disertai pembesaran kelenjar adenoid (kelenjar yang berada di dinding bagian
belakang antara tenggorokan dan rongga hidung).
 Pada pemeriksaan, dijumpai pembesaran tonsil (amandel), berwarna merah,
kadang dijumpai bercak putih (eksudat) pada permukaan tonsil, warna merah
yang menandakan peradangan di sekitar tonsil dan tenggorokan.
 Tentu tidak semua keluhan dan tanda di atas diborong oleh satu orang penderita.
Hal ini karena keluhan bersifat individual dan kebanyakan para orang tua atau
penderita akan ke dokter ketika mengalami keluhan demam dan nyeri telan.

E. INDIKASI MEDIS
Berdasarkan (Brodsky, L .2013) Operasi tonsillitis (tonsillectomy) perlu
dilakukan jika memenuhi syarat-syarat berikut:
 INDIKASI ABSOLUT
a). Tonsil (amandel) yang besar hingga mengakibatkan gangguan pernafasan, nyeri
telan yang berat, gangguan tidur atau sudah terjadi komplikasi penyakit-
penyakit kardiopulmonal.
b). Abses peritonsiler (Peritonsillar abscess) yang tidak menunjukkan perbaikan
dengan pengobatan dan pembesaran tonsil yang mengakibatkan gangguan
pertumbuhan wajah atau mulut yang terdokumentasi oleh dokter gigi bedah
mulut.
c). Tonsillitis yang mengakibatkan kejang demam
d). Tonsil yang diperkirakan memerlukan biopsi jaringan untuk menentukan
gambaran patologis jaringan.
e). Jika mengalami Tonsilitis 3 kali atau lebih dalam satu tahun dan tidak
menunjukkan respon sesuai harapan dengan pengobatan medikamentosa yang
memadai.
f). Tonsilitis kronis atau Tonsilitis berulang yang diduga sebagai carrier kuman
Streptococus yang tidak menunjukkan repon positif terhadap pengobatan
dengan antibiotika.

 INDIKASI RELATIF
a). Jika mengalami Tonsilitis 3 kali atau lebih dalam satu tahun dan tidak
menunjukkan respon sesuai harapan dengan pengobatan medikamentosa yang
memadai
b). Bau mulut atau bau nafas tak sedap yang menetap pada Tonsilitis kronis yang
tidak menunjukkan perbaikan dengan pengobatan
c). Tonsilitis kronis atau Tonsilitis berulang yang diduga sebagai carrier kuman
Streptokokus yang tidak menunjukkan repon positif terhadap pengobatan dengan
antibiotika
d). Pembesaran tonsil di salah satu sisi (unilateral) yang dicurigai berhubungan
dengan keganasan (neoplastik)

F. KONTRA INDIKASI
Ada beberapa keadaan yang merupakan kontraindikasi melakukan
pembedahan tonsil karena bila dikerjakan dapat terjadi komplikasi pada penderita,
bahkan mengancam kematian. Keadaan tersebut adalah kelainan hematologik,
kelainan alergi-imunologik dan infeksi akut. Kontraindikasi pada kelainan
hematologik adalah anemi, gangguan’ pada sistem hemostasis dan lekemi. Pada
kelainan alergi-imunologik seperti penyakit alergi pada saluran pernapasan, sebaiknya
tidak dilakukan tonsilektomi bila pengobatan kurang dari 6 bulan kecuali bila terdapat
gejala sumbatan karena pembesaran tonsil. Pembedahan tonsil sebagai pencetus
serangan asthma pernah dilaporkan. Tonsilektomi juga tidak dikerjakan apabila
terdapat infeksi akut lokal, kecuali bila disertai sumbatan jalan napas atas.
Tonsilektomi sebaiknya baru dilakukan setelah minimal 23 minggu bebas dari infeksi
akut. Di samping itu tonsilektomi juga tidak dilakukan pada penyakit-penyakit
sistemik yang tidak terkontrol seperti diabetes atau penyakit jantung pulmonal.

2 TINJAUAN KASUS
A. PERSIAPAN LINGKUNGAN
1) Mengatur dan mengecek fungsi mesin suction, lampu kepala, meja mayo dan
meja instrument.
2) Memasang U- Pad on steril dan doek pada meja operasi.
3) Mempersiapkan linen dan instrument steril yang akan dipergunakan.
4) Mempersiapkan dan menempatkan tempat sampah medis agar mudah dijangkau.
5) Mengatur suhu ruangan.
6) Menyiapkan/menata instrumen untuk operasi.

B. PERSIAPAN ALAT
a Instrumen steril
1. Desinfeksi klem (washing and dressing forceps) :1
2. Doek klem (towel klem) :5
3. Davis-Meyer mouth gag dengan spatel Russell Davis :1
4. Spatula lidah (tongue spatel) :1
5. Canul suction :1
6. Forceps tonsil :1
7. Pisau tonsil :1
8. Tampon tang :1
9. Gunting Metzenboum (Metzenboum Scissor) :1
10. Klem pean 300 :3
11. Klem pean 900 :3
12. Raspatorium :1
13. Snare tonsil :1
14. Klem pean manis. :2
15. Nald foeder (needle holder) :1
16. Jarum round sedang :1
17. Gunting benang lurus (Surgical scissor Straight) :1

b. Alat Penunjang steril


1. Selang Suction / EMP :1
2. Bengkok :1
3. Kom :1
4. cucing :1

c. Alat Penunjang Tidak Steril


1. Meja operasi :1
2. Mesin Suction :1
3. Troli baskom :2
4. Tempat sampah medis / non medis :1/1
5. Meja instrument :1
6. Meja mayo :1
7. Standart infus :1
d. Set linen steril
1. 1 paket linen THT
 Doek besar : 2 buah
 Doek sedang : 4 buah
 Doek kecil : 4 buah
 Doek lubang : 4 buah
 Sarung meja 1 mayo : 1 buah
2. Handuk kecil : 6 buah
3. Skort : 6 buah

C. PERSIAPAN BAHAN HABIS PAKAI


1 Handscoen steril no 6,5/7/7,5 : 4/4/4
2 NaCl 0,9 % (twist) : 1000 cc
3 Aquabidest : 1000 cc
4 Povidon Iodine : ± 80 cc
5 Spuit 10 cc : 1 buah
6 Benang Plain no.2-0 : 1 buah
7 Deppers kecil/ Deppers sedang/deppers besar/Kasa : 20/10/5/10
8 Cateter no 16 : 1 buah
9 Urobag : 1 buah
10 Underpad steril : 2 buah
11 Underpad on steril : 1 buah
12 Suction cateter no.8 : 1 buah
13 Towel : 1 buah

D. PERSIAPAN PASIEN
Persiapan Pasien
1) Puasa mulai jam tanggal 23 juni 2015 22.00 WIB. ( ya )
2) Surat persetujuan tindakan operasi dan anasthesi. ( ya )
3) Penanda lapangan operasi ( sign mark ). ( ya )
4) Infus cairan yang telah masuk ( Ns 500cc). ( ya )
5) Terpasang kateter. ( tidak )
6) Skin test antibiotic profilaksis. ( tidak )
7) Mencukur / skirent. ( tidak )
8) Pemeriksaan laboratorium. ( ya )
9) Pemeriksaan radiologi. ( tidak )
10) Pemeriksaan EKG dll. ( tidak )
11) Konsultasi anasthesi. ( ya )
12) Lavement / spoelimg. ( tidak )
13) Persediaan darah. ( tidak )
14) TTV, ( ya, TD : 110/80 mmHg, nadi : 80 x/m, suhu : 36,30 C, RR : 20 x/m )
15) Alat / implant yang dibawa. ( ya )
16) Pakaian / linen pasien. ( ya, baju / sarung )
17) Melepas perhiasan dan asessoris (baju dalam,gigi palsu dll). ( ya )
18) Pasien diberikan pendidikan ksehatan. ( ya, tentang managemen nyeri non
farmakologis ).

E. TEKNIK INSTRUMENTASI.
Pasien datang dilakukan serah terima antara perawat ruangan dengan perawat
premedikasi kemudian perawat premedikasi serah terima dengan dengan perawat
instrument atau sirkuler.
Perawat Sirkuler melakukan Sign In ( dilakukan di ruang premedikasi dihadiri oleh
instrument, operator dan anasthesi. Setelah selesai pasien dibawa ke ruang operasi dan
di induksi )
1. Pasien datang, melakukan sign in yang meliputi:
a. Identitas pasien, umur, jenis kelamin, asal ruangan dan register.
b. Apakah pasien sudah dikonfirmasikan identitas, area operasi, tindakan
operasi, dan lembar persetujuan (sudah/belum)
c. Penandaan area operasi (sudah/belum/tidak perlu)
d. Persiapan mesin dan obat anesthesi (sudah/belum)
e. Fungsi pulse oksimeter (ya/tidak)
f. Riwayat alergi pasien (tidak/ya, ….)
g. Resiko aspirasi (tidak/ya, tapi telah tersedia peralatan untuk mengatasinya)
h. Antisipasi kehilangan darah > 500cc atau 7 cc/kgBB (untuk anak).tidak (ya
tapi telah direncanakan 2 iv line atau akses vena sentral).
2. Menulis identitas pasien di buku register dan membuat askep, lembar depo,
SSC.
3. Tim anesthesi melakukan induksi dengan General anasthesi.
4. Pasien diposisikan terlentang (supine), kepala hiperekstensi dengan
memberikan bantalan pada bahu, kemudian fiksasi kepala dengan bantal cincin
agar posisi kepala tidak bergeser. Pasang underpad on steril di bawah kepala,
dikerjakan oleh perawat sirkuler.
5. Perawat sirkuler atau operator memasang catheter no.16 cabang 2.
6. Perawat instrumen melakukan cuci tangan, memakai gaun operasi dan sarung
tangan steril.
7. Perawat instrumen memakaikan gaun operasi dan sarung tangan steril kepada
tim operator dan asisten operator.
8. Berikan desinfeksi klem pada operator dan cucing yang berisi deppers
betadhine untuk disinfeksi area operasi.
9. Melakukan drapping pada area operasi.
 Duk kecil (1) dibawah kepala.
 Duk besar (1) dibawah dagu.
 Duk sedang (1) atas.
 Duk kecil (2) kanan dan kiri.
10. Perawat instrumen memasang selang suction lalu fiksasi dengan menggunakan
kasa dan doek klem.
11. Dekatkan meja mayo dan meja instrument ke dekat meja operasi.

Perawat sirkuler melakukan time out (sebelum insisi)

12. Time out meliputi :


a. Konfirmasi bahwa semua tim operasi telah memperkenalkan nama dan
tugas masing-masing (sudah/belum)
b. Konfirmasi nama pasien, jenis tindakan dan area yang akan di operasi
(sudah/belum)
c. Apakah antibiotic profilaksis telah diberikan paling tidak 60 menit sebelum
operasi (sudah/belum). (tidak pakai)
d. Antisipasi kejadian kritis
 Operator
- Apakah ada tindakan darurat atau prosedur di luar standart
operasi yang dilakukan ? (tidak/ya, …. )
- Berapa lama operasi? ± 2 jam.
- Bagaimana antisipasi kehilangan darah? (minimal)
 Anasthesi
- Apakah ada perhatian khusus mengenai pembiusan pada paien
ini? (tidak/ ya, airway dan perdarahan)
 Instrument
- Apakah peralatan sudah di sterilisasi? (sudah)
- Apakah ada perhatian khusus pada peralatan? (ada,jumlah
instrument 26, deppers kecil 20,deppers sedang 5, kassa 5, jarum
round sedang 1)
 Apa diperlukan instrument radiologi? (ya/tidak).
13. Pembacaan doa sebelum operasi dipimpin oleh operator.
14. Berikan Davis-meyer mouth gag dengan spatel russell davis no.3 kepada
operator dan spatula lidah kepada asisten untuk membuka mulut sesuai ukuran
mulut, pasang sampai posisi baik.
15. Berikan forceps tonsil kepada operator untuk menjepit tonsil salah satu sisi
(kiri) dulu.
16. Berikan tampon tang kepada operator untuk evaluasi tonsil dan mencari plika
triangularis.
17. Berikan pisau tonsil kepada operator untuk melakukan insisi plika triangularis,
assisten atau instrument melakukan suction pada area insisi untuk
mempermudah operator melakukan tindakan.
18. Berikan tampon tang kepada operator untuk memperdalam dan melebarkan
insisi sampai tampak kapsul.
19. Operator memindahkan pegangan forcep tonsil agar pegangan lebih kuat
dengan cara memasukkan diantara tampon tang.
20. Berikan deppres kecil yang di jepit dengan klem 300 untuk melepaskan pole atas
tonsil dari fosa tonsilaris.
21. Berikan gunting metzenboum untuk memotong fosa yang dekat dengan uvula.
Jaringan tonsil terus diprepare dengan deppres kecil sampai jaringan tonsil
dapat dilepas dari fosa tonsilaris.
22. Berikan snare tonsil kepada operator untuk melepaskan pole bawah tonsil
dengan cara memasukan melalui pegangan snare tonsil.
23. Setelah jaringan tonsil dilepas dengan snare tonsil, berikan deppers yang dijepit
klem 900 kepada asisten atau perawat instrument untuk menghentikan
perdarahan.
24. Evaluasi perdarahan, setelah perdarahan sudah berhenti berikan klem pean
manis untuk menjepit jaringan fosa atau plika untuk memudahkan heacting.
25. Berikan naldfoeder, jarum round sedang dan plain 2.0 untuk heacting.
26. Selesai heacting berikan deppers kepada operator untuk melakukan evaluasi,
hasil evaluasi tidak ada perdarahan.
27. Kemudian operasi pindah kesisi tonsil sebelah kanan (persiapan alat, bahan, dan
tindakan sama seperti operasi tonsil pada sisi kiri).
28. Petugas anasthesi memindahkan selang ETT ke sudut bibir bagian kiri untuk
memudahkan tindakan.
29. Berikan desinfeksi klem dan cucing yang berisi deppers betadhine untuk
disinfeksi area operasi
30. Berikan Davis-meyer mouth gag dengan spatel russell davis no.3 kepada
operator dan spatula lidah kepada asisten untuk membuka mulut sesuai ukuran
mulut, pasang sampai posisi baik.
31. Berikan forceps tonsil kepada operator untuk menjepit tonsil sisi kanan.
32. Berikan tampon tang kepada operator untuk evaluasi tonsil dan mencari plika
triangularis.
33. Berikan pisau tonsil kepada operator untuk melakukan insisi plika triangularis,
assisten atau instrument melakukan suction pada area insisi untuk
mempermudah operator melakukan tindakan.
34. Berikan tampon tang kepada operator untuk memperdalam dan melebarkan
insisi sampai tampak kapsul.
35. Operator memindahkan pegangan forcep tonsil agar pegangan lebih kuat
dengan cara memasukkan diantara tampon tang.
36. Berikan deppres kecil yang di jepit dengan klem 300 untuk melepaskan pole atas
tonsil dari fosa tonsilaris.
37. Berikan gunting metzenboum untuk memotong fosa yang dekat dengan uvula.
Jaringan tonsil terus diprepare dengan deppres kecil sampai jaringan tonsil
dapat dilepas dari fosa tonsilaris.
38. Berikan snare tonsil kepada operator untuk melepaskan pole bawah tonsil
dengan cara memasukan melalui pegangan snare tonsil.
39. Setelah jaringan tonsil dilepas dengan snare tonsil, berikan deppers yang dijepit
klem 900 kepada asisten atau perawat instrument untuk menghentikan
perdarahan.
40. Evaluasi perdarahan, setelah perdarahan sudah berhenti berikan klem pean
manis untuk menjepit jaringan fosa atau plika untuk memudahkan heacting.
41. Berikan naldfoeder, jarum round sedang dan plain 2.0 untuk heacting.
42. Selesai heacting berikan deppers kepada operator untuk melakukan evaluasi,
hasil evaluasi tidak ada perdarahan.
43. Berikan operator deppers untuk melakukan evaluasi ke sisi kanan dan kiri, hasil
evaluasi tidak ada perdarahan pada sisi kanan dan kiri

Perawat sirkuler melakukan sign out (sebelum penutupan luka insisi)


44. Sign out meliputi :
 Perawat membacakan :
- Jenis tindakan? (tonsilektomi).
- Kecocokan jumlah instrument, kassa, jarum sebelum dan sesudah
operasi. (cocok dan lengkap, persiapan deppers kecil 20, penambahan
20, pemakaian 36,sisa 4 deppers kecil. Persiapan deppers sedang 5,
pemakaian 5, sisa 0. Persiapan kassa 10, pemakaian 5, sisa 5. Jumlah
instrument lengkap 26 buah )
- Label pada specimen (membacakan identitas pasien, jenis specimen,
register, ruangan yang tertera pada label). (ada speciemen tonsil, tapi
tonsil tidak di PA kan.).
- Apakah ada permasalahan pada alat-alat yang digunakan. (tidak ada
masalah).
 Intrumen +anasthesi+operator
- Apa yang menjadi perhatian khusus pada saat masa pemulihan
(recovery). (perdarahan)
45. Perawat instrument cek kelengkapan alat, kassa dan bahan habis pakai,
pastikan dalam keadaan cocok.
46. Suction hidung dengan suction cateter no. 8 untuk evaluasi perdarahan dari
nasofaring sampai orofaring di belakang uvula.
47. Lepaskan Davis-meyer mouth gag,perawat instrumen membersihkan area
operasi dengan kassa basah bercampur NS 0.9 %, lalu dikeringkan dengan
kassa kering.
48. Kepala di fleksikan untuk cek perdarahan.
49. Perawat instrumen membersihkan pasien dengan towel.
50. Operasi selesai, merapikan pasien.
51. Inventaris bahan habis pakai pada depo farmasi.
52. Cek kembali kelengkapan status pasien, dan sertakan di brankart sebelum di
bawa ke RR. Setelah itu operan dengan petugas RR.

F. PROSES DEKONTAMINASI S/D PACKING


53. Dekontaminasi intrument menggunakan larutan precept 2,5 gram (9 tablet)
dalam 5 liter air rendam selama 10 menit, kemudian, bersihkan, bilas dan
keringkan , kemudian inventaris ulang dan dipacking untuk disteril. Berikan
label (nama set instrument dan tanggal steril alat) dan berikan indikator.
54. Bersihkan ruangan dan lingkungan kamar operasi, rapikan dan kembalikan alat-
alat yang dipakai pada tempatnya.

Malang, Juni 2015


Pembimbing OK 8 ( THT )

Dian Dwi Utami, A.md. Kep


DAFTAR PUSTAKA

 Muttaqin, Arif. 2012. Asuhan Keperawatan perioperatif. Jakarta: Salemba Medika.


 Dr. Soetomo, Tim RSUD. 2011. Pedoman Diagnosis dan terapi Ilmu Penyakit THT.
Surabaya
 Mangunkusumo, Endang. 2011.Buku Ajar Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan, Jakarta:
Balai penerbit FK UI
 Sjamjuhidayat. 2012. Buku Ajar Ilmu Bedah edisi 2. Jakarta: EGC
 Pearce, Evelyn. 2006. Anatomi dan fisiologis untuk paramedis. Jakarta: Gramedia