Anda di halaman 1dari 12

STOIKIOMETRI REAKSI LOGAM DENGAN GARAM

I. Tujuan Praktikum

Tujuan percobaan kali ini adalah mempelajari stoikiometri reaksi

antara logam tembaga dengan larutan besi (III) dengan meramalkan komposisi

Ion tembaga yang dihasilkan.

II. Prinsip percobaan

Prinsip percobaan kali ini adalah mempelajari stoikiometri reaksi

antara logam tembaga dengan larutan besi (III) dengan meramalkan komposisi

Ion tembaga yang dihasilkan berdasarkan harga perbandingan jumlah mol

antara ion Fe3+ yang bereaksi dengan logam tembaga yang terpakai.

III. Teori

Tingkat oksidasi diberikan yang paling umum dan penting

(teristimewa dalam larutan akua) dicetak lebih tebal. Pada tabel juga

menyajikan konfigurasi elektron d. Kimiawi dapat digolongkan atas dasar ini,

misalnya deret d6 adalah V-1, Cro, Mn1, FeII, CoIII, NiIV. Perbandingan

semacam ini kadang-kadang dapat menekankan kemiripan dalam spectra dan

sifat magnetiknya. Namun perbedaan sifat dari spesies-spesies d akibat dari

perbedaan dalam sifat alami logam, tingkat-tingkat energinya, dan terutama

muatan ion, sering melampaui kemiripannya. Tingkat oksidasi lebih kecil dari
II. Dengan perkecualian tembaga, dimana dikenal senyawaan biner cupro dan

kompleksnya serta ion Cu+, kimiawi dari tingkat oksidasi formal 1,0, -1 dan –

II sepenuhnya menyangkut ligan-ligan asama π seperti CO, NO, PR, CN-, 2,2’

–byprydin dan sebgainya dan kimia organic dimana olefin, asetelin, dan

sistem aromatik seperti bensena terikat kepada logam (Cotton dan Willkinson,

1989).

Tembaga bersifat racun terhadap semua tumbuhan pada konsentrasi

larutan diatas 0,1 ppm. Konsentrasi yang aman bagi air minum manusia tidak

lebig dari 1 ppm. Bersifat racun bagi domba pada konsentrasi diatas 20 ppm.

Konsentrasi normal komponen ini ditanah berkisar 20 ppm dengan tingkat

mobilitas sangat lambat karena ikatan yang sangat kuat dengan material

organic dan mineral tanah liat. Kehadiran tembaga pada limbah industry

biasanya dalam bentuk ion bivalen sebagai hydrolitik product. Beberapa

industry seperti pewarnan, kertas, minyak, industry pelapisan melepaskan

sejumlah tembaga yang tidak diharapkan. Tembaga dalam konsentrasi tinggi

(22-750 mg/kg tanah kering) dijumpai pada sedimen di laut hongkong dan

jumlah yang sama juga ditemui pada sejumlah pelabuhan-pelabuhan di inggris

(Suhemirayatna, 2001).

Sistem yang mengandung molekul-molekul hydrogen, klor dan

hydrogen klorida, bersama dengan atom-atom hidrogen dan klor dalam

konsentrasi rendah. Antara spesies-spesien ini terlihat bahwa ada tiga

persamaan stoikiometri bebas. Ini dapat dipilih sebagai


H2 = 2H, (A)

Cl2 = 2Cl (B)

H2 + Cl2 = 2HCl (C)

Dan bentuk persamaan ini ditentukan oleh kenyataan bahwa konservasi atom

dalam proses-proses kimia. Persaman-persamaan lain dapat juga dituliskan

tetapi semuanya adalah kombinasi linear sederhana dari (A), (B), dan (C).

misalnya persamaan

Cl + H2 = HCl + H (D)

Dapat diperoleh dengan menambahkan (C) pada (A), disusul oleh

pengurangan (B), penyusunan kembali dan pembagian dengan dua. Karena itu

hanya ada tiga proses stoikiometri yang dibahas. Hal yang penting adalah

bahwa tiga adalah jumlah persamaan-persamaan seperti itu bebas (Kenneth,

1993).

Atom begitu kecil sehingga sukar untuk membandingkan dengan apa

saja yang dikenal. Dengan tiga angka bermakna , bobot sebuah atom hidrogen

1,67 × 10-24 g, bobot atom karbon 1,99 × 10-23g dan bobot atom oksigen 2,66

× 10-23g. Penggunan bilangan yang begitu kecil untuk menyatakan bobot

atom-atom ini sangatlah merepotkan. Karena biasanya kita tertarik pada

perbandingan atom satu terhadap yang lain, cukup enak untuk menggunakan

satuan bobot yang disebut satuan massa atom (sma) dari pada gram (Keenan,

1980).
Kita sudah melihat bahwa massa dari atom yang tunggal di dalam

satuan massa atom ( amu) adalah kira-kira sepadan dengan banyaknya satuan

listrik positif dan netron dalam inti nya. Bagaimanapun, atom-atom dari unsur

yang sama dapat berbeda di banyaknya neutron candi-candi tua itu masih

dapat dilihat, tetapi dapat mempunyai perbedann massa. Begitu kita

menggunakan rata-rata massa dari suatu atom di dalam kebanyakan situasi

(Robinson, 1997).
IV. Hasil Pengamatan

A. Data Hasil Pengamatan dan Perhitungan

1. Standarisasi KMnO4

Berat (COOH)2.2H2O = 0,63 gram

BM (COOH)2.2H2O = 126 gram

Mol (COOH)2.2H2O = 0,005 mol = 5 x 10-3 mol

Volume (COOH)2.2H2O = 5 mL = 5 x 10-3 L

Konsentrasi (COOH)2.2H2O =1M

Volume KMnO4 =1,8 mL = 1,8 x 10-3 L

Pers. Reaksi:


 2MnO 4  16H   2Mn 2  10CO 2  8H 2 O
2-
5C 2 O 4

5 mol C2O42- ≈ 2 mol MnO4-

2
Mol KMnO4- = x mol Asam Oksalat
5

2
= x 0,005 mol = 2 x 10-3 mol
5

KMnO 4  baku 
mol KMnO 4

0,002
 1,1 M
Volume KMnnO 4 0,0018
2. Stoikiometri reaksi logam Cu dengan garam Fe (III)

Berat gelas Piala kecil = 36,43 gram

Berat gelas piala + serbuk Cu = 36,63 gram

Berat serbuk Cu = 0,2 gram

Volume Fe (III) 0,2 M = 30 gram

Volume H2SO4 = 15 gram

Pers. Reaksi:


5Fe 2  2MnO 4  8H   5Fe 3  Mn 2  4H 2 O

Mol KMnO4 = Volume KMnO4 x [KMnO4]baku

= (5 x 10-5 L) . 1,1 M

= 5,5 x 10-5 mol

Mol Fe3+ = 5 x mol MnO4-

= 5 . (5,5 x 10-5 mol)

= 27,5 x 10-5 mol

Bera Cu 0,2 mol


Mol Cu =   3x10 3 mol
BM Cu 63,55 g
mol

Perbandingan jumlah mol (r):


mol Fe 3 27,5 x 10 -5 mol
r = =  0,091
mol Cu 3 x 10 3 mol

 Cu   2  r 2  0,091 1,908
Perb.  2    
 Cu  r 1 0,091 1 0,909

B. Reaksi yang Terjadi

Reaksi yang terjadi dalam praktikum ini yaitu:

1. Saat standarisasi Larutan KMnO4


 2MnO 4  16H   2Mn 2  10CO 2  8H 2 O
2-
5C 2 O 4

2. Reaksi antara Fe(III) dengan KMnO4


5Fe 2  2MnO 4  8H   5Fe 3  Mn 2  4H 2 O
V. Pembahasan

Kita ketahui bersama bahwa rekasi kimia terjadi karena adanya

perubahan struktur, komposisi, dan energi dari suatu zat yang bercampur atau

bereaksi antara satu sama lain baik itu dalam skala molecular maupun dalam

skala atomik. Dalam suatu rekasi kimia sering kali melibatkan perhitungan

stoikiometri. Stoikiometri adalah salah satu cabang ilmu kimia yang

mempelajari tentang perhitungan berbagai aspek kesetaraan massa zat yang

bereaksi dalam skala molekular ataupun dalam skala eksperimental. Dalam

perhitungan stoikiometri sering kali kita menggunakan dasar “konsep mol”.

Konsep mol merupakan bagian yang sangat penting untuk menelaan ilmu

kimia. Konsep mol dapat meliputi atom, ion, dan satuan rumus molekul.

Dengan menggunakan konsep mol, suatu zat atau banyaknya zat dapat diukur

dalam satuan massa atau volume sehingga dapat dihubungkan dengan satu

mol zat sebagai aspek kuantitatif dari reaksi yang terjadi.

Dalam percobaan ini, akan dipelajari stoikiometri reaksi antara logam

dengan garam besi (III). Logam yang digunakan dalam percobaan ini adalah

logam Cu. Logam Cu adalah logam yang berwarna merah muda yang lunak,

dapat ditempah dan liat. Sama halnya dengan besi yang juga berasal dari

golongan logam tetapi berwarna putih perak. Besi membentuk dua deret

garam yang paling penting yaitu besi (II) dan besi (III). Garam besi (II)

terbentuk dari besi (II) oksida FeO. Garam ini mengandung kation Fe2+ dan
berwarna sedikit hijau. Garam-garam besi (III) diturunkan dari oksida besi

(III) Fe2O3. Garam ini lebih stabil dari pada garam besi (II). Dalam larutannya

mengandung kation Fe3+, warnanya menjadi semakin kuat. Zat –zat pereduksi

mengubah ion besi (III) menjadi ion besi (II).

Pada percobaan ini, hal pertama yang dilakukan adalah dengan

melakukan standarisasi terdahulu dengan larutan KMnO4. Metode yang

digunakan adalah mirip dengan metode titrasi, di mana KMnO4 sebagai titran

dan yang sebagai titratnya adalah asam oksalat yang telah diencerkan dan

ditambahkan dengan asam sulfat (H2SO4). Dari hasil percobaan ini, volume

yang terpakai adalah sebanyak 1,8 ml atau 0,0018 L. Sehingga dapat

diperoleh konsentrasi baku dari KMnO4 adalah 1,1 M.

Selanjutnya stoikiometri reaksi logam Cu dengan garam besi (III). Dari

hasil reaksi yang terjadi, Cu mengalami oksidasi dari Cu menjadi Cu2+ dan

besi (III) tereduksi dari besi (III) menjadi besi (II) atau Fe3+ menjadi Fe2+.

Dari larutan garam Fe(III) biru menjadi biru mudah. Dari hasi reaksi ini, untuk

menentukan konsentrasi Fe2+ yang terjadi dari reaksi di atas dapat

menggunakan konsep mol. Sebagaimana sebelumnya telah dijelaskan bahwa

perhitungan melibatkan konsep mol dapat membantu kita mengetahui

seberapa besar jumlah zat yang dapat bereaksi dari hasil pencampuran

tersebut. Dengan menggunakan rumus kesetaraan massa zat, dapat diketahui

jumlah atau konsentrasi zat dalam hal ini zat bereakasi dari percobaan ini.
Reaksi antara Cu dengan larutan garam Fe3+ ditentukan menurut reaksi

berikut:

Cu + 2 Fe3+ →2 Fe2+ + Cu2+

Dari reaksi diatas dapat ditentukan harga perbandingan jumlah mol antara ion

Fe3+ yang bereaksi dengan logam tembaga yang terpakai, dan didapatkan hasil

sebesar 0,000268 mol. Sedangkan hasil yang didapatkan dari perbandingan

1,908
[Cu+]/[Cu2+] adalah .
−0,909

VI. Simpulan

Dari hasil percobaan yang dilakukan maka dapa disimpulkan:

1. Stoikiometri reaksi antara logam tembaga dengan larutan besi (III) dalam

suasana asam, dapat kitaketahui berapa jumlah zat yang bereaksi melalui

perhitungan kesetaraan massa zat yang melibatkan konsep mol yang

merupakan aspek terpenting dari stoikiometri.

2. Reaksi yang terjadi dapat diketahui dari harga perbandingan jumlah mol (r)

𝑀𝑜𝑙 𝐹𝑒 3+ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑒𝑟𝑒𝑎𝑘𝑠𝑖


= . Dan didapatkan hasil 9,167 × 10-2 mol.
𝑀𝑜𝑙 𝐶𝑢 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑒𝑟𝑝𝑎𝑘𝑎𝑖

3. Komposisi ion tembaga yang dihasilkan adalah ion tembaga monovalen

(Cu+) dan ion tembaga bivalen (Cu2+). hasil yang didapatkan dari

1,908
perbandingan [Cu+]/[Cu2+] adalah .
−0,909
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK

PERCOBAAN IV

STOIKIOMETRI REAKSI LOGAM DENGAN GARAM

OLEH:
NAMA : MUSTAMIN FARIS
NO. STAMBUK : A1C4 07038
KELOMPOK : III (TIGA)
ASISTEN PEMBIMBING : YUSRYANTO

LABORATORIUM PENGEMBANGAN UNIT KIMIA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS HALUOLEO

KENDARI

2009
DAFTAR PUSTAKA

Catton dan Wilkinson. 1989. Kimia Anorganik Dasar. UI Press. Jakarta.

Keenan. 1980. Kimia Untuk Universitas Indonesia Jilid I. Erlangga. Jakarta.

Kenneth, Denbigh. 1993. Prinsip-Prinsip Kesetimbangan Kimia Edisi ke 4 UI.


Erlangga. Jakarta.

Robinson. 1997. General Chemistry. Houghton Mifflin Company. New York.

Suhemirayatna. 2001. Bioremoval Logam Berat Dengan Menggunakan


Mikroorganisme: Suatu Kajian Kepustakaan. Faculty of Engineering.
Japan.