Anda di halaman 1dari 19

Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehdirat Tuhan Yang Maha Esa yang senantiasa
melimpahkan rahmat dan ridho-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan
penyusunan makalah materi mata kuliah Ilmu Almiah Dasar dengan judul
Pemberangkatan TKI keluar Negeri.

Dalam dewasa ini ada berbagai macam faktor dan tuntutan salah diantaranya
perihal gaji yang tinggi, namun demikian akibat kurangnya kesadaran akan dampak
apabila salah satu modul tidak terpenuhi contohnya adalah bahasa, yang
menyebabkan sering terjadinya kriminal.

Tak lupa kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Ibu Dwi Nur Aini
selaku pembimbing kami dallam pembelajaran mata kuliah Ilmu Alamiah Dasar
dan kepada semua anggota kelompok yang telah bekerjasama dengan baik sehingga
dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu.

Harapan kami mengangkat studi kasus ini agar dapat menambah informasi
dan pengetahuan akan pegaruh dan dampak dari “Pemberngkatan TKI keluar
Negeri”.

Kami menyadari jika dalam pembuatan makalah ini masih banyak terdapat
kekurangan, maka dibutuhkan kritik dan saran guna kesempurnaan makalah ini.
Apabila terdapat kata yang kurang berkenan mohon dimaafkan dan semoga
bermanfaat.

i
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ..................................................................................................................... i
BAB I .................................................................................................................................. 1
PENDAHULUAN .......................................................................................................... 1
A. Latar Belakang .................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................................... 3
C. Tujuan Makalah .................................................................................................. 3
BAB II................................................................................................................................. 4
PEMBAHASAN ............................................................................................................. 4
A. Fungsi dan Peran TKI ......................................................................................... 4
B. Aturan TKI .......................................................................................................... 7
C. Perlindungan Pemerintah Terhadap TKI ............................................................ 8
D. Peran Pemerintah Dalam Melindungi ................................................................. 8
E. Hak-hak Kewajiban Pekerja.............................................................................. 11
F. Perlindungan Norma Kerja ............................................................................... 12
G. Permasalahan dan Solusi................................................................................... 13
BAB III ............................................................................................................................ 16
PENUTUP ....................................................................................................................... 16
A. Kesimpulan ....................................................................................................... 16
B. Saran ................................................................................................................. 16
Daftar Pustaka................................................................................................................... 17

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ilmu Alamia Dasar adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari gejala-
gejala yang terjadi dialam semesta termasuk didalamnya manusia, sehingga
terciptanya prinsip dasar. Mengangkat studi kasus “Pemberangkatan TKI Keluar
Negeri” kami mengupas berbagai poin penting diantaranya faktor-faktor, hal-hal
yang kurang diperhatikan, dampak serta manfaat dari apa yang kami bahas dalam
makalah ini.

Tenaga Kerja Indonesia (TKI), yaitu sebutan bagi warga negara Indonesia
yang bekerja diluar negeri dalam hubungan kerja untuk jangka waktu tertentu
dengan menerima upah.

Pemberangkatan TKI keluar negeri mengalami statistik yang mengalami


peningkatan setiap tahunnya, dengan adanya kebijakan yang menginstruksikan
pembentukan pelaksana kebijakan penempatan dan perlindungan TKI serta batasan
kuota pemberangkatan TKI tersebut. Berbagai alasan pun muncul mengapa lebih
memilih menjadi TKI, antara lain ialah desakan ekonomi dan susahnya
mendapatkan perkerjaan di tanah air terutama di daerahnya sendiri.

Hal-hal yang sering terlupakan oleh kebanyakan TKI adalah dalam aspek
penguasaan bahasa asing yang menyebabkan berbagai konflik diantaraya kesalaha
pahaman, sebab tidak memiliki basis pendidikan yang layak.

Beberapa fakta di lapangan menunjukkan tidak sedikit dari calon TKI yang
terjebak dalam proses menjadi TKI yang merugikan. Tahun 1999 hasil Laporan
Konsorsium Pembela Buruh Migran Indonesia (KOPBUMI) menunjukkan bahwa
permasalahan yang dialami dalam pemberangkan dan penempatan TKI keluar
negeri baik yang berdokumen maupun yang tidak berdokumen, mulai saat
rekruitmen, di penampungan PPTKIS, di penampungan agen ketika berada di
negara tujuan, saat bekerja, sampai kepulangan TKI ke daerah masing-masing.

1
Uraian di atas menjadi latar belakangnya untuk dapat menyelesaikan studi kasus
dengan tema “Pemberangkatan Tki Keluar Negeri”.

2
B. Rumusan Masalah
Menyangkut latar belakang diatas, kami merumuskan masalah sebagai
berikut:

1.1 Apakah definisi TKI secara glaobal ?

1.2 Faktor apa saja yang mendorong masyarakat kita memilih untuk menjadi
TKI ?

1.3 Apa saja yang penting diperhtikan untuk menjadi TKI ?


1.4 Dampak apa saja yang penting di perhatikan oleh para TKI dan juga
pemerintah untuk kita ?

C. Tujuan Makalah
Sejalan dengan makalah di atas, makalah ini disusun dengan tujuan untuk.

1. Mengetahui faktor pendorong meningkatnya TKI.


2. Mencari tahu aspek terpenting yang harus di perhatikan untuk
mengurangi tingkat permasalahan TKI.
3. Memberikan gambaran secara luas mengenai dampak positif dan
negatif.

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. Fungsi dan Peran TKI


Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ternyata mempunyai peranan penting untuk
memperbaiki hubungan antara Indonesia dan Malaysia yang saat ini sedang
memanas. Hal ini diungkapkan oleh M. Cholily, Ketua Serikat Buruh Migran
Indonesia (SBMI) Jawa Timur, yang ditemui pada hari Minggu (05/09) kemarin.
“Pemerintah Malaysia diuntungkan dengan adanya TKI, Pemerintah Indonesia juga
diuntungkan dengan devisa dari TKI,” jelasnya. Menurutnya, Pemerintah Malaysia
juga dipengaruhi oleh banyaknya TKI yang bekerja di sektor formal dan informal,
sehingga penarikan secara massal TKI dari Malaysia dapat merugikan Negara Jiran
tersebut. Belum lagi jika para TKI tersebut dipulangkan ke Indonesia, Pemerintah
Indonesia juga harus menyediakan lapangan pekerjaan pengganti para TKI tersebut
yang jumlahnya sekitar 2 juta jiwa. “Sebenarnya Indonesia dan Malaysia
membutuhkan TKI, sehingga kedua negara seharusnya memberikan perhatian yang
serius kepada buruh migran itu,” ucapnya.

Cholily mengatakan bahwa hubungan Indonesia dan Malaysia yang


memanas bias saja mempengaruhi kondisi psikologis dari para TKI. Bisa saja para
majikan melakukan tindakan sewenang-wenang terhadap para TKI karena
memanasnya hubungan antara Indonesia dan Malaysia. “Ada kemungkinan para
majikan melakukan tindakan sewenang- wenang kepada TKI yang menjadi
pembantu rumah tangga karena ketegangan kedua negara itu, sehingga hal itu
merugikan TKI” katanya. Gemuruh pembangunan ekonomi masih menyisakan
banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Salah satunya adalah persoalan
kemiskinan. Faktual, saat ini jumlah penduduk miskin masih tinggi. Data yang
didiseminasi Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, pada Maret 2012,
sebanyak 29,13 juta (11,96 persen) penduduk Indonesia hidup di bawah garis
kemiskinan, sementara 26,39 juta (10,83 persen) lainnya rentan untuk jatuh miskin
karena kondisi kesejahteraan yang tidak jauh berbeda dengan penduduk miskin.

4
Selama ini pemerintah memang telah mengerahkan segenap upaya untuk
mengurangi jumlah penduduk miskin secara berarti. Berbagai program
penanggulangan kemiskinan berlapis pun telah diluncurkan, yang tentu saja
menghabiskan anggaran yang tidak sedikit–mencapai 90 triliun di tahun 2012.
Namun sayangnya, penurunan jumlah penduduk miskin berjalan lambat dan jauh
dari harapan. Karenanya, pemerintah perlu terus bekerja keras, dan upaya
penanggulangan kemiskinan hendaknya tidak hanya bertumpu pada berbagai
program penanggulangan kemiskinan yang telah dijalankan selama ini. Berbagai
upaya lain juga perlu dicoba, dan salah satunya adalah pemanfaatan potensi uang
yang dikirim oleh para tenaga kerja Indonesia (TKI) dari luar negeri (remitansi).

Hingga tahun 2012, jumlah TKI yang bekerja di luar negeri telah mencapai
3.998.592 orang. Tiga negara utama tujuan para TKI adalah Arab Saudi (1.427.928
orang), Malaysia (1.049.325 orang), dan Taiwan (381.588 orang). Ini adalah data
resmi yang dikeluarkan oleh Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI
(BNP2TKI) yang tentu saja tidak mencakup mereka yang bekerja di luar negeri
tanpa melalui jalur resmi alias ilegal.

Diketahui, jumlah TKI ilegal cukup besar (khususnya di Malaysia). Hingga


saat ini, belum ada data pasti mengenai jumlah mereka. Di Malaysia, misalnya,
jumlah TKI illegal diperkirakan mencapai 2/3 dari total pekerja migran asal
Indonesia yang bekerja di negara tersebut (Sukamdi, 2008). Sayangnya, sebagian
besar TKI (71 persen) bekerja di sektor informal. Mudah untuk diduga, sebagian
besar mereka adalah pembantu rumah tangga (PRT). Hasil studi yang dilakukan
Suhariyanto et al. dengan menggunakan data Survei Sosial Ekonomi Nasional
(SUSENAS) tahun 2007 menunjukkan, sekitar 48,8 persen TKI bekerja sebagai
PRT.

Temuan ini nampaknya bersesuaian dengan fakta bahwa sekitar 76 persen


TKI adalah perempuan. Meskipun sebagian besar TKI bekerja di sector informal,
mereka berperan penting bagi perekonomian melalui uang yang mereka kirimkan
ke Indonesia. Itulah sebab mereka digelari sebagai “pahlawan devisa”. Hingga saat
ini tidak diketahui secara pasti jumlah remitansi yang dikirim oleh para TKI.

5
Sebagai gambaran, pada tahun 2009, jumlahnya diperkirakan mencapai 6,77 miliar
dollar AS (BI dan BNP2TKI).

Angka 6,77 miliar dollar AS tersebut dipastikan lebih kecil dari jumlah
remitansi sesungguhnya yang diterima dari para TKI. Pasalnya, selama ini belum
ada sistem yang memadai terkait penghitungan jumlah remitansi yang diperoleh
dari para TKI. Secara sederhana, selama ini remitansi dihitung dari semua residual
pada neraca pembayaran (balance of payment).

Selain itu, remitansi dalam jumlah signifikan yang mengalir ke Indonesia


masih banyak yang tidak terdeteksi karena dikirim melalui berbagai saluran tidak
resmi. Sebagai contoh, Survei Remitansi Nasional yang dilakukan Bank Indonesia
mengungkap fakta bahwa di Nunukan, Kalimantan Timur, hanya 30 persen TKI
yang mengirimkan uangnya ke tanah air dengan menggunakan saluran resmi atau
bank. Sisanya, lebih memilih untuk mengirim uang mereka melalui karabat atau
teman yang kembali ke tanah air serta berbagai jalur tak resmi lainnya.

Umumnya, para TKI berasal dari rumah tangga dengan kondisi ekonomi
pas-pasan. Karena itu, peran remitansi dari para TKI cukup besar bagi upaya
penanggulangan kemiskinan. Hasil studi yang dilakukan oleh Suhariyanto et al.
juga menemukan bahwa sebagian besar sumber pendapatan rumah tangga migran,
yakni rumah tangga dengan minimal satu anggota rumah tangga bekerja sebagai
TKI, berasal dari remitansi. Donasinya mencapai 31,2 persen terhadap total
pendapatan yang diterima oleh rumah tangga.

Hasil studi juga menunjukkan, pola pengeluaran (expenditure pattern)


rumah tangga migran yang menerima remitansi lebih baik ketimbang rumah tangga
migran yang tidak menerima remitansi: porsi pengeluaran untuk pendidikan,
kesehatan, dan barang tahan lama lebih tinggi. Ini merupakan indikasi bahwa
kondisi kesejahteraan rumah tangga migran penerima remitansi lebih baik
dibanding rumah tangga migran yang tidak menerima remitansi.

6
B. Aturan TKI
Banyak sekali peraturan hukum positif yang menegaskan tentang eksistensi
dari Tenaga Kerja Indonesia (TKI), bahwa negara sangat berperan dalam
pembudidayaan TKI di Indonesia. Seperti halnya, pengurusan negara terhadap TKI.
Maka, secara emplisit negara telah menetapkan peraturan yang harus dijalan oleh
seorang yang ingin menjadi TKI, yaitu sebagai berikut:

a. Bekerja merupakan hak asasi manusia yang wajib dijunjung tinggi,


dihormati, dan dijamin penegakannya.
b. Setiap tenaga kerja mempunyai hak dan kesempatan yang sama tanpa
diskriminasi untuk memperoleh pekerjaan dan penghasilan yang layak,
baik di dalam maupun di luar negeri sesuai dengan keahlian,
keterampilan, bakat, minat, dan kemampuan.
c. Tenaga kerja Indonesia di luar negeri sering dijadikan obyek
perdagangan manusia, termasuk perbudakan dan kerja paksa, korban
kekerasan, kesewenang-wenangan, kejahatan atas harkat dan martabat
manusia, serta perlakuan lain yang melanggar hak asasi manusia.
d. Negara wajib menjamin dan melindungi hak asasi warga negaranya yang
bekerja baik di dalam maupun di luar negeri berdasarkan prinsip
persamaan hak, demokrasi, keadilan sosial, kesetaraan dan keadilan
gender, anti diskriminasi, dan anti perdagangan manusia.
e. Penempatan tenaga kerja Indonesia di luar negeri perlu dilakukan secara
terpadu antara instansi Pemerintah baik Pusat maupun Daerah dan peran
serta masyarakat dalam suatu sistem hukum guna melindungi tenaga
kerja Indonesia yang ditempatkan di luar negeri.
f. Peraturan perundang-undangan di bidang ketenagakerjaan yang ada
belum mengatur secara memadai, tegas, dan terperinci mengenai
penempatan dan perlindungan tenaga kerja Indonesia di luar negeri.
Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
dinyatakan penempatan tenaga kerja Indonesia di luar negeri diatur
dengan Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003

7
Tentang Ketenagakerjaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2003 Nomor 39, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4279).
Dari berbagai peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah tentang pelaksanaan
dan tanggung jawab TKI telah disebutkan dalan peraturan pemerintahan. Maka,
secara otomatis seorang TKI harus patuh dan taat hukum di dalam negri maupun di
luar Negri, agar asuransi dan perlengakapan persiapan Tki bisa berjalan
sebagaimana mestinya.

C. Perlindungan Pemerintah Terhadap TKI


Perlindungan TKI Pasal 1 angka 4 Undang-Undang No. 39 Tahun 2004
tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri
menyebutkan bahwa Perlindungan TKI yaitu Segala upaya untuk melindungi
kepentingan calon Tenaga Kerja Indonesia dalam mewujudkan terjaminnya
pemenuhan hak- haknya sesuai dengan peraturan perundang- undangan, baik
sebelum, selama, maupun sesudah bekerja. Dengan demikian, seluruh TKI yang
bekerja di Iuar negeri wajib mendapatkan perlindungan hukum dari pemerintah,
karena telah termuat dalam Undang-Undang No. 39 tahun 2004 tentang
Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri. Selain itu
PPTKIS juga mempunyai kewajiban untuk memberikan perlindungan kepada para
calon TKI/ TKI.

D. Peran Pemerintah Dalam Melindungi


Tenaga Kerja Indonesia mengesampingkan berbagai kasus mengenai
penganiayaan atas TKI yang sudah terjadi. Di Indonesia telah disusun dalam bentuk
undang- undang yang memuat regulasi penempatan TKI. Sudah terdapat ketentuan
yang jelas, meskipun fakta dilapangan masih terdapat berbagai pelanggaran.
Adapun dilakukannya penempatan TKI keluar negeri merupakan upaya dalam
menanggulangi minimnya lapangan kerja di Indonesia. Tujuan dari program
tersebut adalah :

8
1. Upaya penanggulangan masalah pengangguran.
2. Melakukan pembinaan, perlindungan dan memberikan berbagai
kemudahan kepada TKI dan Perusahaan Jasa Penempatan Tenaga Kerja
Indonesia (PJTKI).
3. Peningkatan kesejahteraan keluarganya melalui gaji yang diterima atau
remitansi.
4. Meningkatkan keterampilan TKI Karena mempunyai pengalaman kerja
di luar negeri.
5. Bagi Negara, manfaat yang diterima adalah berupa peningkatan
penerimaan devisa, karena para TKI yang bekerja tentu memperoleh
imbalan dalam bentuk valuta asing.

Namun dibalik tujuan dan manfaat yang didapatkan penempatan TKI ke


luar negeri juga mempunyai efek negatif. Dengan adanya kasus kekerasan
fisik/psikis yang menimpa TKI baik sebelum, selama bekerja, maupun pada saat
pulang ke daerah asal. Munculnya kepermukaan banyak masalah TKI yang bekerja
di luar negeri semakin menambah beban persoalan ketenagakerjaan di Indonesia.
Ketidakadilan dalam perlakuan pengiriman tenaga kerja oleh Perusahaan Pengerah
Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PPJTKI), penempatan yang tidak sesuai standar gaji
yang rendah karena tidak sesuai kontrak kerja yang disepakati, kekerasan oleh
pengguna tenaga kerja, pelecehan seksual, tenaga kerja yang illegal (illegal
worker).

Hukum yang berlaku di daerah tujuan penenmpatan TKI yang kurang


memberikan perlindungan. Hal ini sudah jelas terlihat dengan maraknya kasus
penganiayaan yang terjadi terutama pada PRT. Ketika terjadi masalah para TKI
harus mengadu dulu pada duta besar negara Indonesia atau ketika sudah disorot
oleh media baru ada respon untuk melindungi hak mereka. Hal yang selama ini
dipertanyakan mengenai perjanjian tertulis antara Indonesia dengan negara tujuan
karena banyaknya kasus penganiayaan yang masih terjadi. Hal tersebut ternyata
telah diatur dalam Pasal 27 Undang- Undang Nomor 39 Tahun 2004 mengatur

9
tentang penempatan TKI di luar negeri hanya dapat dilakukan ke negara tujuan yang
pemerintahnya telah membuat perjanjian tertulis dengan Pemerintah Republik
Indonesia atau ke negara tujuan yang mempunyai peraturan perundang-undangan
yang melindungi tenaga kerja asing.. Padahal di dalam pasal 80 Undang-Undang
Nomor 39 Tahun 2004 dinyatakan bahwa Perlindungan selama masa penempatan
TKI di luar negeri dilaksanakan antara lain:

 Pemberian bantuan hukum sesuai dengan ketentuan peraturan


perundang-undangan di negara tujuan serta hukum dan kebiasaan
internasional.
 Pembelaan atas pemenuhan hak-hak sesuai dengan perjanjian kerja
dan/atau peraturan perundang-undangan di negara TKI ditempatkan.

Mengenai hak-hak para buruh migran Pasal 8 Undang-undang nomor 39


tahun 2004 menyatakan bahwa setiap calon TKW/TKI mempunyai hak dan
kesempatan yang sama untuk:

a. Bekerja di luar negeri;


b. Memperoleh informasi yang benar mengenai pasar kerja luar negeri dan
prosedur penempatan TKI di luar negeri;
c. Memperoleh pelayanan dan perlakuan yang sama dalam penempatan di
luar negeri;
d. Memperoleh kebebasan menganut agama dan keyakinannya serta
kesempatan untuk menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan
keyakinan yang dianutnya;
e. Memperoleh upah sesuai dengan standar upah yang berlaku di negara
tujuan;
f. Memperoleh hak, kesempatan, dan perlakuan yang sama yang
diperoleh tenaga kerja asing lainnya sesuai dengan peraturan
perundang-undangan di negara tujuan;
g. Memperoleh jaminan perlindungan hukum sesuai dengan peraturan
perundang-undangan atas tindakan yang dapat merendahkan harkat dan
martabatnya serta pelanggaran atas hak- hak yang ditetapkan sesuai

10
dengan peraturan perundang-undangan selama penempatan di luar
negeri;
h. Memperoleh jaminan perlindungan keselamatan dan keamanan
kepulangan TKI ke tempat asal.

E. Hak-hak Kewajiban Pekerja

A. Hak-hak Pekerja

Menurut Darwan Prints, yang dimaksud dengan hak di sini adalah sesuatu
yang harus diberikan kepada seseorang sebagai akibat dari kedudukanatau status
dari seseorang, sedangkan kewajiban adalah suatu prestasi baik berupa benda atau
jasa yang harus dilakukan oleh seseorang Karena kedudukanatau statusnya.

Mengenai hak-hak bagi pekerja adalah sebagai berikut:

a. Hak mendapat upah/gaji (Pasal 1602 KUH Perdata, Pasal 88 s/d 97


Undang-undang No. 13 Tahun 2003; Peraturan Pemerintah No. 8
Tahun 1981 tentang Perlindungan Upah)
b. Hak atas pekerjaan dan penghasilan yang layak bagi kemanusiaan
(Pasal 4 Undang- undang No. 13 Tahun 2003)
c. Hak bebas memilih dan pindah pekerjaan sesuai bakat dan
kemampuannya (Pasal 5 Undang-undang No. 13 Tahun 2003);
d. Hak atas pembinaan keahlian kejuruan untuk memperoleh serta
menambah keahlian dan keterampilan lagi ( Pasal 9 – 30 Undang-
undang No. 13 Tahun 2003);
e. Hak mendapatkan perlindungan atas keselamatan, kesehatan serta
perlakuan yang sesuai dengan martabat manusia dan moral agama
(Pasal 3 Undang-undang No. 3 Tahun 1992 tentang Jamsostek)

Hak atas istirahat tahunan, tiap-tiap kali setelah ia mempunyai masa kerja
12 (dua belas) bulan berturut-turut pada satu majikan atau beberapa majikan dari
satu organisasi majikan (Pasal 79 Undang-undang No. 13 Tahun 2003)

11
B. Kewajiban pekerja
Di samping mempunyai hak-hak sebagaimana diuraikan di
atas,tenaga kerja juga mempunyai kewajiban sebagai berikut:
a. Wajib melakukan prestasi/pekerjaan bagi majikan
b. Wajib mematuhi peraturan perusahaan;
c. Wajib mematuhi perjanjian kerja;
d. Wajib mematuhi perjanjian perburuhan;
e. Wajib menjaga rahasia perusahaan;
f. Wajib mematuhi peraturan majikan;
g. Wajib memenuhi segala kewajiban selama izin belum diberikan
dalam hal ada banding yang belum ada putusannya

F. Perlindungan Norma Kerja


Perlindungan ini dimaksudkan untuk memberikan kepastian pekerja yang
berkaitan dengan norma kerja yang meliputi waktu kerja,mengaso, istirahat (cuti),
lembur dan waktu kerja malam hari bagi pekerja wanita.

Pasal 77 Undang-undang No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan Waktu


kerja meliputi:

a. 7 jam dalam 1 hari dan 40 jam dalam 1 minggu untuk 6 hari kerja dalam
1 minggu; atau

b. 8 jam dalam 1 hari dan 40 jam dalam 1 minggu untuk 5 hari kerja dalam
1 minggu pasal 78

 Apabila melebihi waktu kerja sebagaimana yang ditentukan, harus


memenuhi syarat

a. Ada persetujuan pekerja/buruh yang bersangkutan; atau

b. Waktu kerja lembur hanya dapat dilakukan paling banyak 3 jam dalam 1
hari dan 14 jam dalam 1 minggu;

c. Pengusaha wajib membayar upah kerja lembur Pasal 79 :

 Waktu istirahat dan cuti meliputi:

12
a. Istirahat antara jam kerja, sekurang- kurangnya setengah jam setelah
bekerja selama 4 jam terus menerus dan waktu istirahat tersebut tidak
termasuk jam kerja;

b. Istirahat mingguan 1 hari untuk 6 hari kerja dalam 1 minggu atau 2 hari
untuk 5 hari kerja dalam 1 minggu;

c. Cuti tahunan sekurang-kurangnya 12 haris kerja setelah pekerja/buruh


yang bersangkutan bekerja selama 12 bulan secara terus menerus;

d. Istirahat panjang sekurang-kurangnya 2 bulan dan dilaksanakan pada


tahun ketujuh dan kedelapan masing-maisng 1 bulan bagi pekerja/buruh
yang telah bekerja selama 6 Tahun berturut-turut pada perusahaan yang
sama dengan ketentuan pekerja/buruh tersebut tidak berhak lagi atas
istirahat tahunannya dalam 2 tahun berjalan dan selanjutnya berlaku untuk
setiap kelipatan masa kerja 6 tahun;

G. Permasalahan dan Solusi


Beberapa permasalahan tenaga kerja seperti, keahlian terbatas, kurangnya
kesempatan mendapat pekerjaan di Dalam Negeri, pendapatan yang jauh lebih
besar dibandingkan bekerja di Dalam Negeri, ataupun keinginan meningkatkan
taraf kehidupan ekonomi, mestinya tidak boleh diremehkan tanpa
mempertimbangkan kesiapan TKI yang akan dikirim. Data menunjukkan bahwa
hampir 90% permasalahan yang dihadapi oleh TKI bersumber di Dalam Negeri.
Pemalsuan identitas calon TKI, keterampilan dan kecakapan TKI yang kurang
sesuai dengan pekerjaan, minimnya kemampuan berbahasa dan pengenalan budaya
negara tujuan, buruknya informasi, pelayanan, dan perlakuan calon TKI dalam
penempatan di Luar Negeri dan sebagainya, menunjukkan bahwa kita tidak
antisipatif dalam menata para calon TKI. Belum lagi masalah penipuan, kekerasan,
perlakuan tidak adil terhadap calon TKI, memperburuk kinerja pemerintah,
sehingga banyak calon TKI kita yang berangkat melalui jalur illegal. Kalaupun para
TKI mengikuti mekanisme legal sebagaimana yang ditetapkan, para TKI harus
membayar mahal diluar kepatutan oleh rangkaian birokrasi yang berbelit. Solusi
Masalah TKI Pengaturan penempatan TKI di Luar Negeri diatur melalui UU No.

13
39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di
Luar Negeri, yang diperkuat melalui Instruksi Presiden RI (Inpres) No. 6 Tahun
2006. UU No. 39 Tahun 2004 Pasal 7 huruf e secara tegas telah menyatakan bahwa
Pemerintah berkewajiban memberikan perlindungan kepada TKI selama masa
sebelum pemberangkatan, masa penempatan, dan masa purna-penempatan. Namun
pada kenyataannya, terdapat berbagai ketidaksesuaian/penyimpangan dalam
implementasinya. Salah satu penyimpangan tersebut misalnya, aturan mengenai
bahwa Calon TKI harus memperoleh kompetensi kerja setelah mengikuti
pendidikan dan pelatihan kerja yang diselenggarakan lembaga pendidikan dan
pelatihan kerja yang terakreditasi. Pada kenyataannya, banyak TKI yang tidak
memperoleh pendidikan dan pelatihan yang memadai, yang mengakibatkan mereka
tidak memiliki kompetensi kerja yang memadai, tidak memahami adat istiadat
setempat, serta tidak bisa berbahasa negara tujuan dengan baik. Terjadinya
ketidaksesuaian/penyimpangan tersebut dapat memicu diajukannya gugatan,
khususnya kepada Pemerintah RI baik di Pusat maupun Perwakilan RI di luar
negeri. Penyimpangan dan ketidaksesuaian yang sangat mendasar inilah yang mesti
diperbaiki oleh Pemerintah agar penempatan TKI ke Luar Negeri menjadi lebih
baik. Artinya, jika Pemerintah tidak mampu memenuhi hal ini, Pemerintah tidak
perlu mengirim mereka atau melakukan moratorium bila perlu, sebab tidak sesuai
dengan standar kualifikasi TKI yang dibutuhkan. Saya menggarisbawahi instruksi
Presiden kepada Menakertrans agar dalam waktu 3 bulan, untuk melakukan kajian
negara-negara tujuan TKI agar dapat diputuskan langkah-langkah berikutnya.
Pelaksanaan Kebijakan Nasional Pelayanan Penempatan Dan Perlindungan TKI Ke
Luar Negeri (P3TKI-LN) haruslah bersifat menyeluruh dan terintergrasi. Hal ini
dapat diwujudkan melalui komitmen nasional untuk melaksanakan koordinasi
lintas regional dan sektoral, baik vertikal maupun horizontal dengan proporsi peran
dan tanggung jawab yang jelas antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Badan
Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), dan
Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS). Kejelasan
proporsi dan tanggung jawab tersebut perlu dijalin dalam rangka kemitraan karena

14
ketika TKI berangkat dan bekerja di luar negeri menyandang harkat dan martabat
bangsa, negara, dan Pemerintahan Indonesia di dunia internasional.

Perubahan atas UU No. 39 tahun 2004 tentang Penempatan dan


Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri telah menjadi prioritas
pembahasan tahun 2011. Perubahan atas UU tersebut diharapkan dapat
memberikan jaminan atas peningkatan pelayanan penempatan dan perlindungan
TKI oleh pemerintah. Selain itu, dalam perubahan tersebut diharapkan adanya
pembagian kewenangan yang jelas antara BNP2TKI yang saat ini berperan sebagai
operator dan Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi sebagai regulator dalam
mengelola supply dan demand pasar kerja luar negeri. Dengan pelayanan
penempatan dan perlindungan TKI yang menyeluruh dan terintegrasi, penegakan
hukum yang kuat dan transparan, serta pengelolaan pasar kerja luarnegeri yang
terencana, maka kerugian social yang ditimbulkan dapat diminimalisasi sekecil
mungkin sehingga pelayanan penempatan dan perlindungan TKI dapat berdaya dan
berhasil guna bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan penerimaan devisa
negara. Adapun tafsir yang menerangakan tentang perbudakan TKI.U

‘’ Budak adalah pihak yang tak berdaya’’(An-Nahl [16]:75).

15
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

Dari hasil pembahasan kami diatas dengan judul “Pemeberangkatan TKI


ke Luar Negeri” diharapkan dapat memberikan gambaran dan informasi mengenai
banyak hal yang bersangkutan dengan judul. Terutama agar warga Indonesia yang
menjadi TKI lebih dijamin haknya oleh hukum negara, dan yang terakhir agar kita
semua turut mengantsipasi dalam permasalahan tersebut.

B. Saran

Demi terselenggarannya program ini, maka dibutuhkan:


1. Peraturan yang tegas sehingga dapat tepat sasaran.
2. Kesadaran dan kesiapan yang cukup oleh calon pekerja.

16
Daftar Pustaka

‘Sutedi, Andrian, 2009, Hukum Pemburuhan, Jakarta Sinar Grafika

‘Raehanul Bahrain, 2012, islam kejam membolehkan perbudakan?, Lombok, Pulau


Seribu Masjid

17