Anda di halaman 1dari 1

Ringkasan Kasus

Primus Automation adalah sebuah divisi perusahaan global yang menghasilkan produk dan jasa otomasi
untuk pabrik yang beroperasi di Amerika Serikat, Eropa dan Asia. Tujuan perusahaan adalah untuk
mempertahankan posisi sebagai pemimpin pasar, meningkatkan penjualan 15% per tahun dan mencapai
target laba bersih serta working capital turnover-nya.

Disisi lain, Avantjet adalah pabrik pembuat corporate-jet aircraft. Untuk mereduksi biaya dan
mempercepat lini produksi perusahaan, Avantjet membutuhkan sebuah sistem otomasi. Untuk itu,
Avantjet melakukan pembelian sistem otomasi kepada Primus Automation Division. Walau begitu,
pembelian tersebut ditunda dengan periode yang tidak pasti. Hal tersebut dikarenakan kondisi
keuangan Avantjet yang tidak sehat. Selain karna harga saham yang turun, Avantjet sangat capital
intensive dan highly laveraged. Untuk itu, CEO Avantjet mengeluarkan moratorium atas capital
expenditure yang akan berpengaruh negatif terhadap laba rugi dan laporan posisi keuangan.

Di tengah persaingan usaha yang sengit, CEO Primus bersikeras bahwa kesepakatan penjualan tersebut
harus tetap di pertahankan agar mencapai sales budget dan mempertahankan konsumennya. Ada
beberapa alternantif yang dibuat primus agar Avantjet tetap melakukan pembelian, yaitu :

a. Melalui Pinjaman (borrow to borrowing)


b. Pengadaan melalui conditional sale, dimana kepemilikan akan berpindah pada saat pembayaran
final.
c. Sewa peralatan (capital lease atau operating lease)