Anda di halaman 1dari 45

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Osteoporosis adalah suatu penyakit degeneratif pada tulang yang ditandai dengan
menurunnya massa tulang.1 Di negara maju seperti Amerika Serikat, kira-kira 10 juta
orang usia diatas 50 tahun menderita osteoporosis dan hampir 34 juta dengan
penurunan massa tulang yang selanjutnya berkembang menjadi osteoporosis. Empat dari
5 orang penderita osteoporosis adalah wanita.2 Di Indonesia sendiri didapatkan bahwa
kejadian osteoporosis meningkat seiring usia, serta prevalensi terbanyak terdapat pada
perempuan dibanding laki-laki.3
Hingga saat ini deteksi osteoporosis merupakan hal yang sangat sulit dilakukan.
Diagnosis penyakit osteoporosis kadang - kadang baru diketahui setelah terjadinya patah
tulang punggung, tulang pinggul, tulang pergelangan tangan atau patah tulang lainnya
pada orang tua, baik pria atau wanita. Biasanya massa tulang yang sudah berkurang 30 –
40% baru dapat dideteksi dengan pemeriksaan X-ray konvensional.4 Gambaran radiologi
pada osteoporosis memiliki tujuan untuk mengukur berkurangnya kepadatan tulang dan
untuk diagnosis. Untuk menentukan tingkatan dan diagnosis dapat dilakukan
menggunakan gambaran radiologi sederhana. Gambaran radiologis yang khas pada
osteoporosis adalah penipisan korteks dan daerah trabekular yang lebih lusen.5 Karena
kurangnya sensitivitas terhadap diagnosis osteoporosis, maka saat ini pemeriksaan
dengan radiologi konvensional tidak dianjurkan lagi.4
Pada seseorang yang mengalami fraktur, diagnosis pasti ditegakkan bedasarkan
gejala, pemeriksaan fisik, dan rontgen tulang. Pemeriksaan lebih lanjut mungkin
diperlukan untuk menyingkirkan keadaan lain yang dapat menyebabkan osteoporosis.
Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan laboratorium berupa
parameter biokimiawi untuk bone turnover, dan pemeriksaan massa tulang secara
radiologis. 5,6

1
Osteoporosis disebabkan oleh penurunan massa tulang, oleh karena itu diagnosis
osteoporosis dapat ditegakkan dengan pengukuran massa tulang. Metode-metode saat ini
yang digunakan untuk pengukuran densitas tulang dikategorikan atas: 1) metode
kuantitatif, 2) metode semi kuantitatif, 3) metode kualitatif.500

1.2 Tujuan Penulisan


1.2.1 Tujuan Umum
Tujuan umum makalah ini adalah untuk mengetahui pemeriksaan radiologis
pada oteoporosis.
1.2.2 Tujuan Khusus

Mengetahui epidemiologi, radioanatomi, definisi, etiologi, patofisiologi,


diagnosis, diagnosis banding, dan tatalaksana osteoporosis. Mengetahui
pemeriksaan radiologis pada oteoporosis.

1.2.3 Manfaat Penulisan

1. Meningkatkan kemampuan penulisan di bidang radiologi


2. Menambah ilmu pengetahuan mengenai osteoporosis dan pemeriksaan
radiologis pada oteoporosis.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Epidemiologi
Di negara maju seperti Amerika Serikat, kira-kira 10 juta orang usia diatas 50 tahun
menderita osteoporosis dan hampir 34 juta dengan penurunan massa tulang yang
selanjutnya berkembang menjadi osteoporosis. Empat dari 5 orang penderita osteoporosis
adalah wanita, tapi kira-kira 2 juta pria di Amerika Serikat menderita osteoporosis, 14
juta mengalami penurunan massa tulang yang menjadi risiko untuk osteoporosis. Satu
dari 2 wanita dan satu dari 4 pria diatas usia 50 tahun akan menjadi fraktur yang
berhubungan dengan fraktur selama hidup mereka. Di negara berkembang seperti Cina,
osteoporosis mencapai proporsi epidemik, terjadi peningkatan 300% dalam waktu 30
tahun.13 Pada tahun 2002 angka prevalensi osteoporosis adalah 16,1%. Prevalensi di
antara pria adalah 11,5%, sedangkan wanita sebesar 19,9%.2
Data di Asia menunjukkan bahwa insiden fraktur lebih rendah dibanding populasi
Kaukasian. Studi juga mendapatkan bahwa massa tulang orang Asia lebih rendah
dibandingkan massa tulang orang kulit putih Amerika, akan tetapi fraktur pada orang
Asia didapatkan lebih sedikit.10 Ada variasi geografis pada insiden fraktur osteoporosis.
Osteoporosis paling sering terjadi pada populasi Asia dan Kaukasia tetapi jarang di
Afrika dan Amerika populasi kulit hitam.11
Data dari kementrian kesehatan Republik Indonesia mengemukakan bahwa kejadian
osteoporosis di Indonesia meningkat seiring usia, serta prevalensi terbanyak terdapat pada
perempuan dibanding laki-laki (Gambar 2.1).3

3
Gambar 2.1 Prevalensi osteoporosis di Indonesia Berdasarkan Jenis Kelamin Laki-laki
dan Perempuan tahun 2006.3

2.2 Radioanatomi Tulang


Tulang terdiri atas dua bentuk, tulang kompakta dan tulang spongiosa. Tulang
kompakta tampak sebagai massa yang padat, tulang spongiosa terdiri atas anyaman
trabekula (Gambar 2.7). Tulang dapat diklasifikasikan secara regional atau berdasarkan
bentuk umumnya. Klasifikasi regional diringkas dalam Tabel 2.1. Anatomi tulang secara
umum dapat dilihat pada gambar 2.8. Tulang dapat dikelompokkan berdasarkan bentuk
umumnya: 8
(a) Tulang panjang : ( femur, humerus ) yang terdiri dari batang tebal panjang yang
disebut diafisis dan dua ujung yang disebut epifisis. Disebelah proksimal epifisis
terdapat metafisis. Diantara epifisis dan metafisis terdapat daerah tulang rawan
yang tumbuh yang disebut lempeng epifisis. Tulang panjang tumbuh karena
akumulasi tulang rawan dilempeng epifisis. Tulang rawan diganti oleh sel-sel
tulang yang dihasilkan oleh osteoblas dan tulang memanjang. Batang dibentukk
oleh jaringan tulang yang padat. Epifisis dibentuk oleh spongy bone ( cancellous
dan trabecular ).

4
A)

B)
Gambar 2.2: A) Radiografi femur, B) Gambaran anatomi pada femur300

5
(b) Tulang pendek : ( carpals ) dengan bentuk yang tidak teratur dan inti dari
cancellous (spongy ) dengan suatu lapisan luar dari tulang yang padat.

Gambar 2.3 Gambaran anatomi radiologi pada tulang manus

Gambar 2.4 Gambaran anatomi radiologi pada tulang pedis


6
(c) Tulang pendek datar : ( tengkorak ) terdiri atas dua lapisan tulang padat dengan
tulang cancellous sebagai lapisan luarnya
(d) Tulang iregular : ( vertebra ) sama seperti tulang pendek

Gambar 2.5 Gambaran anatomi radiologi pada tulang vertebra torakalis

7
Gambar 2.6 Gambaran anatomi radiologi pada vertebra lumbalis

(e) tulang sesamoid : ( os patella ) merupakan tulang kecil yang terletak disekitar
tulang yang berdekatan dengan persendian dan didukung oleh tendon dan
jaringan fasial

8
Gambar 2.7 Gambaran anatomi radiologi pada sendi lutut300

Gambar 2.8 Penampang berbagai Jenis Tulang8


9
Tabel 2.1 Klasifikasi Tulang Menurut Regio8

Gambar 2.8 Rangka 1: a) Dilihat dari anterior, b) dilihat dari lateral8

10
2.3 Definisi

Osteoporosis adalah suatu penyakit degeneratif pada tulang yang ditandai dengan
menurunnya massa tulang, dikarenakan berkurangnya matriks dan mineral yang disertai
dengan kerusakan mikro arsitektur dari jaringan tulang, sehingga terjadi penurunan
kekuatan tulang (Gambar 2.9). World Health Organization (WHO) secara operasional
mendefinisikan osteoporosis berdasarkan Bone Mineral Density (BMD), yaitu jika BMD
mengalami penurunan lebih dari -2,5 SD dari nilai rata-rata BMD pada orang dewasa
muda sehat (Bone Mineral Density T-score < -2,5 SD).1

Gambar 2.9 Perbedaan tulang normal dengan tulang yang osteoporosis

2.4 Etiologi
Osteoporosis dibagi menjadi dua, yaitu osteoporosis primer dan osteoporosis
sekunder. Osteoporosis primer adalah osteoporosis yang tidak diketahui penyebabnya
sedangkan osteoporosis sekunder yang diketahui penyebabnya.7
1) Osteoporosis primer
Osteoporosis primer adalah osteoporosis yang tidak diketahui penyebabnya.
Pada tahun 1983, Riggs dan Melton membagi osteoporosis primer menjadi 2 tipe,
yaitu Osteoporosis tipe I dan osteoporosis tipe II. Osteoporosis tipe I disebut juga
11
osteoporosis pasca menopause. Osteoporosis tipe ini disebabkan oleh defisiensi
estrogen akibat menopause. Osteoporosis tipe II disebut juga osteoporosis senilis,
disebabkan oleh gangguan absorpsi kalsium di usus sehingga menyebabkan
hiperparatiroidisme sekunder yang mengakibatkan timbulnya osteoporosis.
Namun pada sekitar tahun 1990, Riggs dan Melton memperbaiki hipotesisnya dan
mengemukakan bahwa estrogen menjadi faktor yang sangat berperan pada
osteoporosis primer, baik pasca menopause maupun senilis.7
2) Osteoporosis sekunder
Osteoporosis sekunder adalah osteoporosis yang diketahui penyebabnya,
yaitu terjadi karena adanya penyakit lain yang mendasari, defisiensi atau
konsumsi obat yang dapat menyebabkan osteoporosis.7,12
a. Penyebab genetik (kongenital):
 Kistik fibrosis
 Ehlers – Danlos syndrome
 Penyakit penyimpanan glikogen
 Penyakit Gaucher
 Hemokromatosis
 Homosistinuria
 Hiperkalsiuria idiopatik
 Sindroma marfan
 Osteogenesis imperfekta
b. Keadaan hipogonad
 Insensitifitas androgen
 Anoreksia nervosa / bulimia nervosa
 Hiperprolaktinemia
 Menopause prematur
c. Gangguan endokrin:
 Akromegali
 Insufisiensi adrenal
 Sindroma Cushing
12
 Diabetes Melitus
 Hiperparatiroidism
 Hipertiroidisme
 Hipogonadism
 Kehamilan
 Prolaktinoma
d. Gangguan yang diinduksi obat
 Glukokortikoid
 Heparin
 Antikonvulsan
 Barbiturat
 Antipsikotik

2.5 Faktor Risiko


Faktor yang menyebabkan osteoporosis adalah : 7
a) Umur
Tiap peningkatan 1 dekade, resiko meningkat 1,4-1,8
b) Genetik
Etnis ( kaukasia dan oriental > kulit hitam dan polinesia )
Seks ( perempuan > laki-laki )
Riwayat keluarga
c) Lingkungan
Defisiensi kalsium
Aktifitas fisik kurang
Obat- obatan
Merokok, alkohol
Resiko terjatuh yang menigkat
d) Hormonal dan penyakit kronik
Defisiensi estrogen dan androgen
Tirotoksikosis, hiperparatiroidisme primer, hiperkortisolisme

13
Penyakit kronik
e) Sifat fisik tulang
Densitas ( masa )
Ukuran dan geometri
Mikroarsitektur
Komposisi

2.6 Patofisiologi
Penyebab utama osteoporosis adalah gangguan dalam remodeling tulang sehingga
mengakibatkan kerapuhan tulang. Terjadinya osteoporosis secara seluler disebabkan oleh
karena jumlah dan aktivitas sel osteoklas melebihi dari jumlah dan aktivitas sel osteoblas
(sel pembentukan tulang). Keadaan ini mengakibatkan penurunan massa tulang.12,14

Selama pertumbuhan, rangka tubuh meningkat dalam ukuran dengan pertumbuhan


linier dan dengan aposisi dari jaringan tulang baru pada permukaan luar korteks.22
Remodeling tulang mempunyai dua fungsi utama : (1) untuk memperbaiki kerusakan
mikro di dalam tulang rangka untuk mempertahankan kekuatan tulang rangka, dan (2)
untuk mensuplai kalsium dari tulang rangka untuk mempertahankan kalsium serum.
Remodeling dapat diaktifkan oleh kerusakan mikro pada tulang sebagai hasil dari
kelebihan atau akumulasi stress. Kebutuhan akut kalsium melibatkan resorpsi yang
dimediasi-osteoklas sebagaimana juga transpor kalsium oleh osteosit. Kebutuhan kronik
kalsium menyebabkan hiperparatiroidisme sekunder, peningkatan remodeling tulang, dan
kehilangan jaringan tulang secara keseluruhan.4

Remodeling tulang juga diatur oleh beberapa hormon yang bersirkulasi, termasuk
estrogen, androgen, vitamin D, dan hormon paratiroid (PTH), demikian juga faktor
pertumbuhan yang diproduksi lokal seperti IGF-I dan IGF–II, transforming growth factor
(TGF), parathyroid hormone-related peptide (PTHrP), ILs, prostaglandin, dan anggota
superfamili tumor necrosis factor (TNF). Faktor-faktor ini secara primer memodulasi
kecepatan dimana tempat remodeling baru teraktivasi, suatu proses yang menghasilkan
resorpsi tulang oleh osteoklas, diikuti oleh suatu periode perbaikan selama jaringan tulang
baru disintesis oleh osteoblas.4
14
Pada dewasa muda tulang yang diresorpsi digantikan oleh jumlah yang seimbang
jaringan tulang baru. Massa tulang rangka tetap konstan setelah massa puncak tulang
sudah tercapai pada masa dewasa. Setelah usia 30 - 45 tahun, proses resorpsi dan formasi
menjadi tidak seimbang, dan resorpsi melebih formasi. Ketidakseimbangan ini dapat
dimulai pada usia yang berbeda dan bervariasi pada lokasi tulang rangka yang berbeda;
ketidakseimbangan ini terlebih-lebih pada wanita setelah menopause. Kehilangan massa
tulang yang berlebih dapat disebabkan peningkatan aktivitas osteoklas dan atau suatu
penurunan aktivitas osteoblas. Peningkatan rekrutmen lokasi remodeling tulang membuat
pengurangan reversibel pada jaringan tulang tetapi dapat juga menghasilkan kehilangan
jaringan tulang dan kekuatan biomekanik tulang panjang.4

Gambar 2.10 : Patogenesis osteoporosis tipe 112

15
Gambar 2.11 : Patogenesis osteoporosis tipe 212

2.7 Diagnosis
2.7.1 Anamnesis
Anamnesis mempunyai peranan penting dalam evaluasi penderita osteoporosis.
Keluhan-keluhan utama yang dapat mengarah kepada diagnosis, seperti misalnya
bowing leg dapat mengarah pada diagnosis riket, kesemutan dan rasa kebal di sekitar
mulut dan ujung jari yang terjadi pada hipokalsemia. Pada anak-anak, gangguan
pertumbuhan atau tubuh pendek, nyeri tulang, dan kelemahan otot, waddling gait, dan
kalsifikasi ekstraskeletal dapat mengarah pada penyakit tulang metabolik.12
Selain dengan anamnesis keluhan utama, pendekatan menuju diagnosis juga dapat
dibantu dengan adanya riwayat fraktur yang terjadi karena trauma minimal, adanya
faktor imobilisasi lama, penurunan tinggi badan pada orang tua, kurangnya paparan
sinar matahari, asupan kalsium, fosfor dan vitamin D, dan faktor risiko lainnya. 12
Obat-obatan yang dikonsumsi dalam jangka panjang juga dapat digunakan untuk
menunjang anamnesis, yaitu misalnya konsumsi kortikosteroid, hormon tiroid,
antikonvulsan, heparin. Selain konsumsi obat-obatan, juga konsumsi alkohol jangka
16
panjang dan merokok. Tidak kalah pentingnya, yaitu adanya riwayat keluarga yang
pernah menderita osteoporosis. 12
2.7.2 Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik yang harus diukur adalah tinggi badan dan berat badan,
demikian juga dengan gaya jalan penderita, deformitas tulang, leg-lenght inequality , dan
nyeri spinal. Hipokalsemia yang terjadi dapat ditandai oleh adanya iritasi
muskuloskeletal, yaitu berupa tetani. Adduksi jempol tangan juga dapat dijumpai, fleksi
sendi metacarpophalangeal, dan ekstensi sendi interphalang. Penderita dengan
osteoporosis sering menunjukkan kifosis dorsal atau gibbus (Dowager’s hump) dan
penurunan tinggi badan. Selain itu juga didapatkan protuberansia abdomen, spasme otot
paravertebral, dan kulit yang tipis (tanda McConkey). 12
2.7.3 Pemeriksaan Penunjang
Pada seseorang yang mengalami fraktur, diagnosis pasti ditegakkan bedasarkan
gejala, pemeriksaan fisik, dan rontgen tulang. Pemeriksaan lebih lanjut mungkin
diperlukan untuk menyingkirkan keadaan lain yang dapat menyebabkan osteoporosis.
Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan laboratorium berupa
parameter biokimiawi untuk bone turnover, dan pemeriksaan massa tulang secara
radiologis. 5,6
2.7.3.1 Laboratorium
Penilaian osteoporosis secara laboratorik dilakukan dengan melihat petanda biokimia
untuk osteoblas, yaitu osteokalsin, prokolagen I peptida dan alkali fosfatase total serum.
Petanda kimia untuk osteoklas: dioksipiridinolin (D-pyr), piridinolin (Pyr) Tartate
Resistant Acid Phosfotase (TRAP), kalsium urin, hidroksisiprolin dan hidroksi glikosida.
Secara bioseluler, penilaian biopsi tulang dilakukan secara histopometri dengan menilai
aktivitas osteoblas dan osteoklas secara langsung. Namun pemeriksaan di atas biayanya
masih mahal.15

17
2.7.3.2 Pemeriksaan Radiologi
2.7.3.2.1 Radiografi Konvensional
Hingga saat ini deteksi osteoporosis merupakan hal yang sangat sulit dilakukan.
Diagnosis penyakit osteoporosis kadang - kadang baru diketahui setelah terjadinya patah
tulang punggung, tulang pinggul, tulang pergelangan tangan atau patah tulang lainnya
pada orang tua, baik pria atau wanita. Biasanya dari waktu ke waktu massa tulangnya
terus berkurang, dan terjadi secara luas dan tidak dapat diubah kembali. Biasanya massa
tulang yang sudah berkurang 30 – 40% baru dapat dideteksi dengan pemeriksaan X-ray
konvensional. Karena kurangnya sensitivitas terhadap diagnosis osteoporosis, maka saat
ini pemeriksaan dengan radiologi konvensional tidak dianjurkan lagi.5
A) Radiografi konvensional vertebra
Gambaran radiologis yang khas pada osteoporosis adalah penipisan korteks dan
daerah trabekular yang lebih lusen. Hal ini akan tampak pada tulang-tulang vertebrae
yang memberika gambaran picture frame vertebrae. Gambaran osteoporosis pada foto
polos akan menjadi lebih radiolusen tetapi baru terdeteksi setelah terjadi penurunan
massa tulang sekitar 30%. Variabilitas faktor teknis dalam pengambilan foto polos, dan
variasi jenis serta ketebalan jaringan lunak yang tumpang tindih dengan vertebrae akan
mempengaruhi gambaran radiologisnya dalam menilai densitas tulang. Selain itu adanya
kompresi vertebrae akan meningkatkan densitas tulang karena terjadi perpadatan
trabekula dan pembentukan kalus. Tetapi ada pendapat lain yang menyatakan bahwa
angka 30% itu karena berdasarkan misinterpretasi pada penelitian in vitro yang telah
dilakukan 40 tahun yang lalu. Lachman dan Whelan menunjukkan bahwa hal tersebut
benar untuk daerah kortikal sedangkan pada tulang-tulang yang mempunyai kadar
trabakela tinggi osteoporosis dapat dilihat secara radiogram bila terjadi defisit mineral
tulang sebesar 8-14%.6
Terdapat 6 kriteria yang dianjurkan dalam menentukan osteoporosis vertebrae:6
1. Peningkatan daya tembus sinar pada korpus vertebrae atau penurunan densitas
tulang.
2. Hilangnya trabekula horizontal disertai semakin jelasnya trabekula vertikal.
Kriteria Bone Atrophy Class membagi tingkat perubahan trabekulasi menjadi 4
tingkatan (lihat gambar 2.12):
18
Kelas 0 : Normal
Kelas I : Trabekula longitudinal lebih jelas
Kelas II : Trabekula longitudinal menjadi kasar
Kelas III: Trabekula longitudinal menjadi tidak jelas
3. Pengurangan ketebalan korteks bagian anterior korpus vertebrae.
4. Perubahan end plates baik secara absolut maupun relatif dengan
membandingkan antara korpus vertebra dengan end plates.
5. Abnormalitas bentuk vertebrae dapat berupa bentuk baji, bikonkaf, fraktur
kompresi (bila tinggi kedua tepi vertebra berkurang).
6. Metode terakhir dalam diagnosis osteoporosis dengan menemukan fraktur
spontan atau setelah trauma ringan pada foto vertebra.

Gambar 2.12 Osteoporosisosteoporosis vertebrae. (A) radiografi lateral dari vertebrae normal. (B) ada
kehilangan/ kerusakan dari trabeculae transversa, yang menimbulkan penonjolan dari
trabeculae vertical, sehingga memberikan striated appearance. (C) radiografi toraks lateral
dengan baji multipel dan end palte fraktur vertebrae osteoporotic pada beberapa stadium. (D)
metode semiquantitative dari grading oleh Genant et al yang secara luas digunakan pada studi
epidemiologi dan farmasi. Fraktur vertebrae adalah prediktor kuat terhadap fraktur di masa
yang akan datang (x5 untuk fraktur vertebrae; x2 untuk fraktur panggul) sehingga penting
agar hal ini secara akurat dan jelas dilaporkan oleh radiologist. Semakin tinggi stadium dari
fraktur vertebrae, semakin tinggi risiko fraktur di kemudian hari. 16

19
Gambaran radiologi pada osteoporosis memiliki tujuan untuk mengukur
berkurangnya kepadatan tulang dan untuk diagnosis. Untuk menentukan tingkatan dan
diagnosis dapat dilakukan menggunakan gambaran radiologi sederhana. Gambaran
radiologi konvensional yang khas pada osteoporosis adalah adanya penipisan korteks dan
trabecular yang lebih lusen.17
Hanya ada sedikit tulang pada tulang yang mengalami osteoporosis daripada di tulang
normal, ini akan menjadi jelas pada gambaran radiografi oleh karena penurunan kepadatan
tulang. Sebuah istilah deskriptif yang berguna untuk digunakan jika patah tulang yang
tidak terlihat adalah osteopenia. Pengurangan kepadatan tulang sering lebih menonjol pada
daerah tulang yang kaya tulang trabekular, khususya dalam kerangka aksial ( vertebra ,
panggul , tulang iga dan sternum ). Tulang osteoporosis kurang mampu menahan tahanan
terhadap tubuh daripada tulang normal, dan ini akan bermanifestasi terhadap gambaran
klinis dari trauma tulang yang sedikit. Fraktur tersebut dapat terjadi pada setiap bagian
skletal , tetapi yang paling umum terjadi pada kerangka tulang yang kaya trabekular ,
terutama tulang belakang, lengan bawah distal dan femur proksimal.16
Fraktur tulang belakang adalah yang paling umum dari fraktur osteoporosis (Gambar
2.12). Bagian anterior dan pertengahan dari tulang belakang menahan kekuatan kompresi
tidak sebaik dari posterior dan cincin luar unsur tulang belakang , sehingga menyebabkan
terbentuknya baji atau end- plate patah tulang atau , lebih jarang , fraktur yang hancur.
Patah tulang belakang dapat di bagi menjadi stadium ringan (kelas 1), sedang (kelas 2)
dan berat (kelas 3). Metode gradasi semiquantitative ini adalah yang paling sering
diterapkan untuk menentukan prevalensi dan insiden patah tulang belakang dalam studi
epidemiologi dan uji farmasi untuk kemanjuran terapi osteoporosis baru. 16
Semakin parah stadium patah tulang belakang, semakin besar risiko patah tulang di
masa selanjutnya. Patah tulang belakang adalah prediktor yang bagus untuk patah tulang di
masa selanjutnya ( panggul dua kali lipat; vertebral lima kali lipat). Oleh karena itu sangat
penting bahwa, jika ada, pembacaan foto ini secara akurat dan jelas dilaporkan oleh ahli
radiologi patah tulang sebagai fraktur; istilah lain, seperti 'deformitas', harus dihindari. 16
Patah tulang belakang dapat terjadi sebagai suatu peristiwa akut berhubungan dengan
trauma minor dan disertai dengan rasa sakit, yang umumnya sembuh secara spontan selama
6-8 minggu. Gejala ini bagus untuk membedakan patah tulang belakang osteoporosis dari
20
diagnosis patologi yang lebih menyeramkan, seperti metastasis, yang gejalanya lebih
kompleks. Namun, 30 % dari patah tulang belakang dapat terjadi pada pasien tanpa gejala.
Fraktur osteoporosis terjadi paling umum pada daerah dada dan thoraco - lumbal sehingga
mengakibatkan hilangnya tinggi tubuh yang progresif pada individu yang terkena. Fraktur
osteoporosis jarang terjadi di atas T7; jika patah tulang terjadi di atas wilayah anatomi ini,
metastasis harus dipertimbangkan. Wedging dari beberapa badan vertebra di tulang
belakang dada dapat menyebabkan peningkatan kejadian kyphosis. 16
B) Radiografi femur
Pola trabekular pada proksimal femur menunjukkan perubahan-perubahan
karakteristik bersamaan dengan hilangnya masa tubuh. Singh dkk memberikan suatu
sistem grading berdasarkan perubahan-perubahan ini. Indeks yang rendah menunjukkan
rendahnya masa tulang.7

Gambar 2.13 Indeks Singh pada femur

21
Indeks Singh terbagi dalam 6 grade yaitu :

 Grade 6 : semua struktur trabekula dan segitiga Ward kurang jelas terlihat
menandakan tulang normal.
 Garde 5 : tampak atenuasi struktur principal compressive dan principal
tensile, segitiga Ward tampak kosong dan lebih prominen. Stadium ini
menunjukkan stadium dini osteoporosis.
 Grade 4 : tensil trabekula tampak berkurang, terjad resorpsi dimulai dari
bagian medial, sehingga principal tensile bagin lateral masih dapat iikuti
garisya. Stadium ini menunjukkan transisi antara tulang normal dan
osteoporosis.
 Garde 3 : tampak principal tensile terputus diarea yang bersebrangan
dengan trochanter mayor sehingga tensi trabekula hanya terlihat dibagian
atas leher femur. Stadium ini menunjukkan definite osteoporosis.
 Grade 2 : hanya tampak principal compressive yang prominen sedangkan
kelompok trabekula lain tidak/kurang jelas. Keadaan ini menunjukkan
advanced osteoporosis.
 Grade 1 : prinncipal compressive tidak menonjol dan berkurang
jumlahnya, keadaan ini menunjukkan osteoporosis berat. 12

Gambar 2.13 foto konvensional osteoporosis pada caput femoralis

22
C ) Radiografi konvensional calcaneus
Metode Jhamaria menggunakan metode yang sama dengan Singh dkk yaitu
menentukan indeks osteoporosis berdasarkan pola trabekula kalkaneu. Metode Jhamaria
lebih mudah dilakukan dan relatif aman karena letak kalkaneus jauh dari gonad.

Gambar 2.14: foto konvensional osteoporosis pada calcaneus16

D) Radiografi konvensional manus


Pada tangan yang sering diradiografi adalah pada gangguan tulang metabolik. Pada
osteoporosis trabekula di ujung tulang akan berkurang jumlahnya dan gambaran yang
terlihat yaitu bagian yang lebih menonjol (Gambar 2.15). Biasanya, gambaran tulang
kortikal sebagai garis putih solid pada radiografi dengan permukaan yang halus di dalam
(endosteal) dan diluar (periosteal). Pada osteoporosis, tulang kortikal menipis oleh karena
resorpsi, endosteal, yang menyebabkan gambaran pada garis menjadi bergrigi dan ireguler.
16

23
Gambar 2.15 Osteoporosis. Gambaran tangan dari wanita dewasa menunjukkan densitas tulang
yang berkurang, korteks yang menipis dan jumlah trabekulae yang berkurang, hal ini
membuatnya terlihat mencolok. 16

2.7.3.2.2 Densitometer
Osteoporosis disebabkan oleh penurunan massa tulang, oleh karena itu diagnosis
7
osteoporosis dapat ditegakkan dengan pengukuran massa tulang. Alat-alat readiologi
untuk pengukuran bone densitometry beserta keuntungan dan kerugian dari
masing-masing alat pngukuran dapat dilihat pada Tabel 2.2. Sedangkan perbedaan secara
umum diantara berbagai alat non-invasif untuk pengukuran densitas tulang terletak pada
jenis dan sumber radiasi, tempat pengukuran, unit ukuran, waktu pemeriksaan, dan
precision serta accuracy pengukuran (dapat dilihat pada Tabel 2.3). 15

24
Tabel 2.2 Keuntungan dan kerugian teknik pengukuran densitas tulang dan
laboratorium15

Karakteristik terpenting yang menjadikan suatu alat ukur sebagai pilihan untuk
menegakkan diagnosis adalah akurasi dari alat tersebut. Studi yang menggambarkan
akurasi masing-masing alat pengukuran dapat dilihat pada Tabel 2.3. DXA memiliki
akurasi 3-6%, hal ini sedikit lebih tinggi pada akurasi dari QCT dan pQCT yaitu
8-15%.12,13 Selain itu presisi (pemeriksaan ulang) merupakan variabel penting untuk
memonitor hasil terapi suatu penyakit. DXA memiliki presisi 1-3%.16,17,18 Peralatan
untuk pemeriksaan klinis massa tulang atau risiko fraktur umumnya memiliki sensitifitas
moderat sampai tinggi dan spesifisitas rendah. 15

25
Tabel 2. 3 Karakteristik teknik pengukuran densitas tulang15

Guideline indikasi bone densitometry dalam penilaian risiko fraktur yang dikeluarkan
oleh Catalan Agency for Health Technology Assessment, Barcelona, menyatakan bahwa
bone densitometry diindikasikan pada pasien dengan: 15

26
Tabel 2.4 Klasifikasi faktor risiko fraktur dihubungkan dengan penurunan masa
tulang15

27
 Bila tidak terdapat faktor risiko, atau faktor yang ada tidak terdapat dalam tabel
2.5 diatas, atau bila pasien tidak akan mendapatkan pencegahan atau pengobatan
untuk menghindarkan insiden fraktur, bone densitometry tidak dikerjakan. 400
 Umumnya, interval minimum diantara pengukuran bone mass harus lebih dari 2
tahun. Interval ini dapat lebih pendek bila obat yang dapat meningkatkan massa
tulang digunakan dan bila densitas tulang dinilai di lumbal. 15

National Osteoporosis Foundation (NOF) merekomendasikan pengukuran densitas


mineral tulang pada 4 keadaan: 15
 Wanita dengan defisiensi estrogen (hipoestrogenia), untuk diagnosis pasti masa
tulang rendah sehingga dapat diambil keputusan tentang penggunaan terapi sulih
hormon.
 Pasien dengan kelainan vertebra atau masa tulang rendah berdasarkan
pemeriksaan x-ray (roentgenographic osteopenia), untuk diagnosis osteoporosis
tulang belakang sehingga dapat diambil keputusan untuk evaluasi diagnostik
selanjutnya dan terapi.
 Pasien yang mendapatkan kortikosteroid jangka lama, untuk diagnosis masa
tulang rendah sehingga dapat diberikan terapi yang sesuai.
 Pasien dengan hiperparatiroid primer asimptomatik, untuk diagnosis masa tulang
rendah sehingga dapat diidentifikasi mereka yang berisiko untuk mendapat
penyakit skeletal berat yang merupakan kandidat untuk intervensi bedah.

28
U.S. Preventive Services Task Force (USPSTF) menyimpulkan bahwa: 15
 Bone densitometry rutin tidak direkomendasikan karena tidak diindikasikan,
memakan biaya besar dan tidak ada kriteria yang dapat diterima secara universal
untuk memulai pengobatan berdasarkan pengukuran densitas tulang.
 Evidence langsung tentang keuntungannya masih belum terbukti. Skrining selektif
dapat dilakukan pada wanita berisiko tinggi yang akan menggunakan terapi sulih
hormon hanya jika mereka mengetahui bahwa mereka berisiko tinggi untuk
mendapat osteoprosis atau fraktur.
 Upaya pencegahan seperti asupan kalsium dan vitamin D, aktivitas dengan beban,
menghentikan merokok dan edukasi untuk menurunkan risiko terjatuh dan
terjadinya kecelakaan direkomendasikan.

American Association of Clinical Endocrinologists (AACE) merekomendasikan bone


densitometry pada kasus berikut: 15
 Untuk penilaian risiko pada wanita perimenopause dan postmenopause yang
peduli terhadap osteoporosis dan berkeinginan untuk mendapat intervensi.
 Pada wanita dengan pemeriksaan x-ray terlihat adanya osteoporosis.
 Pada wanita yang memulai atau mendapatkan terapi glukokortikoid jangka lama,
pemberian intervensi adalah pilihan.
 Pada wanita perimenopause atau postmenopause dengan hiperparatiroid primer
asimptomatik, dimana skeletal loss merupakan akibat paratiroidektomi
 Pada wanita dengan terapi osteoporosis, sebagai alat untuk monitoring respon
pengobatan.

A) DXA (Dual X-ray Absorptiometery)


Evaluasi kuantitatif dari kepadatan tulang telah berubah sejak tersedianya alat
untuk mengukur kepadatan tulang pada kerangka aksial, terutama tulang belakang lumbal
dan femur proksimal. Sebelum itu, single energy absorptiometry mampu untuk mengukur
kepadatan tulang perifer, seperti lengan atau kalkaneus, tapi tidak untuk kerangka aksial

29
karena jaringan lunak di atasnya. Dua sumber energi memungkinkan pengurangan
jaringan lunak dari tulang. 18

Awalnya ini dilakukan dengan sinar γ dari sumber radionuklida yang disebut
dual-photon absorptiometry tetapi kemudian dikenal lebih berhasil dengan sumber x-ray,
DXA. Daerah yang diukur dan memiliki database normatif adalah daerah tulang belakang
lumbal (L1-L4), femur proksimal, lengan bawah, dan total tubuh. Pengukuran dilaporkan
sebagai BMD, yang menunjukkan kadar mineral tulang dibagi dengan luas area yang
terkena. Hal ini dianggap sebagai densitas, menggunakan estimasi volume, dan
dilaporkan dalam gram per sentimeter persegi. Hal ini juga dilaporkan merupakan suatu
perbandingan dengan database normal untuk puncak massa tulang pada pasien muda
yang normal, berusia 20 sampai 29 tahun (skor T), dan pasien yang normal seusianya
(skor z). Pada tahun 1994, sebuah kelompok studi WHO mengembangkan klasifikasi
diagnostik osteopororosis berdasarkan pada hubungan antara kepadatan tulang, diukur
dengan DXA, dan prevalensi patah tulang. 18

Dual Energy X-Ray Absorptimetry (DEXA) merupakan metode yang paling


sering digunakan dalam diagnosis osteoporosis karena mempunyai tingkat akurasi dan
presisi yang tinggi.17 Pengukurannya dapat diperoleh dari daerah tulang mana saja yang
ada di tubuh, tapi daerah standar nya adalah vertebra lumbar, proximal femur, dan distal
lengan bawah. Tingkat presisi yang tinggi dari teknik ini memungkinkannya untuk tidak
20
hanya mendiagnosis, tapi juga memoniotring respon terhadap terapi. WHO membagi
klasifikasi diagnostic menggunakan DEXA T-score. DEXA T-score menggolongkan
osteoporosis dan osteopenia dan dibandingkan nilai rata-rata kepadatan tulang dewasa
muda dan perbedaan dinyatakan dengan standard deviation (SD).17

Tabel 2.5 DEXA T-score menurut WHO19


Definisi WHO Normal Osteopenia Osteoporosis Osteopororis Berat

T-score > -1 > -2,5 dan ≤ -1 ≤ -2,5 ≤ -2,5 disertai fraktur

Pada tulang belakang, L1-L4 harus diukur. Tulang belakang dieksklusikan jika
skor T nya lebih dari 1 SD berbeda dari vertebra yang berdekatan atau jika ada perubahan
30
struktural dari penyakit degeneratif atau fraktur (Gambar 2.16). Paling sedikit, dua tulang
vertebra harus dimasukkan untuk diagnosis. Pada banyak pasien, tulang belakang tidak
bisa digunakan karena penyakit degeneratif yang menyebabkan sclerosis atau karena
kelainan bentuk vertebra.100 Berikut adalah contoh pemeriksaan DXA pada seorang
pasien, dengan DXA vertebre lateral atau pinggul yang lebih terpercaya dan lebih
sensitive (gambar 2.17 dan gambar 2.18).20

Gambar 2.16 DXA scan dari vertebra lumbar seorang wanita tua usia 74 tahun18

31
Gambar 2.17 DXA vertebra18

Gambar 2.18 DXA pinggul kiri18

32
Daerah leher femur dan regio pinggul keseluruhan seharusnya juga digunakan
untuk diagnosis (Gambar 2.19). Sepertiga distal lengan bawah dari lengan yang tidak
dominan dapat digunakan dalam beberapa kasus. Sepertiga distal lengan bawah, 95% nya
adalah tulang kortikal (Gambar 2.20). Daerah tulang lainnya atau pengukuran dari
modalitas lainnya tidak bisa digunakan untuk klasifikasi WHO ini. 18

Gambar 2.19 DXA proximal femur18

DXA bisa dilakukan di tulang perifer yang selain lengan bawah, yaitu termasuk
kalkaneus dan tangan. Daerah tulang perifer tidak bisa digunakan untuk pemantauan
terapi. DXA dianjurkan untuk wanita usia 65 tahun atau lebih, laki-laki usia 70 tahun atau
lebih, wanita postmenopause dengan faktor risiko untuk patah tulang, dan pasien dengan
penyakit terkait dengan kepadatan tulang yang rendah atau orang yang sedang menjalani
pengobatan yang terkait dengan kepadatan tulang yang rendah (seperti glukokortikoid). 18

33
Gambar 2.20 DXA dari lengan bawah18
Kemampuan untuk memantau kehilangan tulang atau keuntungan dengan DXA
tergantung pada jumlah perubahan dan ketepatan pengukuran DXA. Presisi dapat
dihitung dengan scanning 15 pasien setiap 3 kali atau 30 pasien tiap dua kali dan
kemudian menghitung presisi di BMD atau koefisien variasi. Lembar kerja dan kalkulator
untuk presisi tersedia di situs Web ISCD. Dengan kepercayaan 95%, perubahan yang
paling signifikan (LSC) adalah 2.77 x presisi. Pedoman ISCD menyatakan bahwa
minimum presisi untuk tulang belakang lumbar harus 1,9% (LSC 5 5.3%; leher femur
2,5% [LSC 5 6,9%]; Total pinggul 1,8% [LSC 5 5.0%]). Medicare dan kebanyakan
perusahaan asuransi menyetujui DXA dilakukan setiap 2 tahun tapi mungkin
menyetujuinya lebih sering pada pasien yang dirawat karena penyakit rematik dengan
agen seperti kortikosteroid, yang biasa menghasilkan kehilangan tulang yang cepat. 18

Tingkatan BMD berkorelasi dengan kekuatan tulang dan risko fraktur. Aturan
praktis adalah bahwa untuk setiap penurunan BMD 1 SD, risiko patah tulang meningkat

34
dua kali lipat. Ada faktor-faktor lain, bagaimanapun juga, penting dalam memprediksi
risiko patah tulang. Faktor Umur penting karena patah tulang tidak sering terjadi pada
pasien yang lebih muda dengan kepadatan tulang yang rendah saat dibandingkan dengan
kepadatan tulang serupa pada pasien yang lebih tua. 18

Keuntugan dari penggunaan DEXA adalah pemeriksaan ini tidak bersifat invasif
dan memerlukan waktu yang cukup singkat. Selain itu, DEXA memiliki paparan radiasi
yang lebih rendah. Walaupun pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan yang rutin
digunakan namun pemeriksaan ini memiliki beberapa kekurangan. Pada pemeriksaan
tulang belakang, vertebra dengan ukuran yang lebih besar memiliki perbandigan densitas
tulang yang lebih tinggi, dan hasilnya dapat pula salah dan meningkat karena terdapat
kalsifikasi aorta dan jaringan lunak sekitar. Selain itu, terkadang terdapat beberapa
kekurangan yang harus dipertimbangkan sewaktu menginterpretasikan DEXA, khususnya
kesalahan dalam mengidentifikasi vertebra, dan kesalahan letak disk space markers.19

B) CT Quantitative
Standard klinik diagnosa osteoporosis dan risiko fraktur tulang adalah DXA untuk
mengukur BMD pada tulang punggung dan panggul, 2 lokasi tulang yang kebanyakan
diukur pada posisi tidur. Banyak perbedaan varietas dari modalitas pemeriksaan X-ray
dan DXA berdasarkan analisis struktur panggul sampai dengan pemeriksaan CT dan MRI
yang telah dikembangkan untuk memeriksa struktur tulang pada tingkatan makro dan
mikro. (1,2)

35
Gambar 2.17 Teknik pencitraan CT untuk memeriksa kepadatan tulang dan
arksitekturnya. Kiri atas : vQCT dari femur (panel pixel ukuran 350um,
ketebalan potongan 1 mm) untuk menjelaskan BMD dan struktur makro ;
kanan atas: hrCT pada lengan bawah bagian distal (ukuran pixel 200um,
ketebalan potongan 0,5 mm) untuk menjelaskan tekstur dan struktur pada
trabekular; bawah: uCT pada vertebra spongiosa (isotropik ukuran : kiri
30um, kanan 10um) untuk mejelaskan struktur pada jaringan trabekular.
QCT mempunyai fokus untuk menilai trabekular BMD pada satu potongan
transversal di lumbal mid vertebral. Ketepatan BMD merupakan aplikasi dari protokol
tambahan QCT. Dimana data 3D yang didapat dapat meningkatkan dalam menganalisis
(3,6)

36
Gambar 2.18 vQCT pada tulang punggung (panel atas) dan panggul (panel bawah).
Digunakan untuk menganalisis BMD pada berbagai macam kompartemen
tulang secara tepat. Kiri atas : segmen tulang yang dipilih untuk analisis.
Tengah atas dan kanan : integral (merah) dan volume trabekular yang telah
dibuka (biru gelap) sepanjang elips dan VOIs pacman (biru muda). Kiri
bawah: segmen proximal femur. Tengah bawah dan kanan bawah :
analysis VOIs pada panggul.
Kelebihan QCT dibandingkan DXA, bisa dipisah BMD pada kompartemen
trabekular da cortical. Dimana tulang trabekular di partikular pada tulang punggung
adalah secara metabolik lebih aktif dan sebagai indikator awal keberhasilan pengobatan.
Tulang kortikal, secara partikular pada tulang panggul, lebih utama dalam menentukan
risiko fraktur (9). Kebanyakan isotropik spasial dengan resolusi tidak cukup tinggi
memberikan hasil yang akurat pada ketebalan kortikal (10). Bahkan dibawah nilai
10%-20% ketebalan masih dapat di ukur ketepatannya (11).

Gambar 2.18 3D uCT: mikrostruktur pada transiliac biopsi tulang pada 2 perempuan post
menopause setelah 36 bulan.
37
2.7.3.2.3 MRI
Fraktur kompresi sering terjadi pada usia tua. Upaya untuk membedakan fraktur yang
bersifat benign atau malignant sulit dilakukan terlebih ketika tidak ada bukti yang jelas
mengenai keganasan pada foto polos. Fraktur kompresi dapat mengakibatkan beberapa
kelainan vertebral khususnya bagian lumbal seperti stenosis kanal lumbal dan herniasi
diskus lumbal. Kelainan ini tidak dapat dideteksi secara maksimal apabila menggunakan
DEXA maupun foto polos.. Magnetic Resonance Imaging (MRI) memiliki resolusi
spasial yang cukup dan memiliki resolusi yang tinggi apabila menggunakan kontras dan
digunakan dalam menegakkan diagnosis kelainan vertebra. Bagaimanapun, pada
beberapa pemeriksaan MRI abdomen dan pelvis, selain menilai organ target, tulang
vertebra dapat pula dinilai. Oleh karena itu MRI memiliki potensial sebagai indikator dari
osteoporosis yang berguna untuk mengkonfirmasi kemungkinan terjadinya
osteoporosis.1,2

Gambar 2.1 Gambaran fraktur kompresi malignan (A) dan fraktur kompresi benigna2

38
Gambar 2.2 Gambaran axial vertebra pada fraktur kompresi benign (A) dan fraktur
kompresi malignan (B)2

Beberapa teknik pemeriksaan MRI sulit digunakan untuk pemeriksaan rutin dalam
menilai osteoporosis. Namun dengan munculnya teknik MRI berupa Echo Planar MRI,
diffusion-weighted MRI (DWI) dari organ tubuh, pemeriksaan osteoporosis lebih
memungkinkan untuk dapat dilakukan. Di sisi lain pemeriksaan MRI dengan sekuens
rutin T1WI dan T2WI memiliki korelasi yang baik dengan hasil BMD serta DWI.1

Gambar 2.3 Perbandingan MRI dan DEXA

39
Metode ini mempunyai kelebihan berupa tidak menggunakan radiasi, dan digunakan
untuk menilai densitas serta kualitas jaringan trabekula tulang dan untuk menilai
arsitektur trabekula. Pemeriksaan ini sangat potensial untuk menilai dan membedakan
antara vertebra normal dan vertebra osteoporotik.1

2.8 Diagnosis Banding

Diagnosis banding osteoporosis adalah:


a. Osteomalasia
Osteomalasia adalah penyakit pada orang dewasa dengan ditandai kegagalan
deposit kalsium tulang sehingga terjadi pelunakan tulang akibat kekurangan vitamain D.
Pada gambaran radiologis osteomalasia mempunyai gambaran yang khas yaitu looser
zone.

Gambar 2.16 Gambaran looser zone ( panah ) yang terlihat pada femur orang
dewasa dengan osteomalasia

b. Osteopenia
Osteopenia adalah suatu keadaan dimana kepadatan tulang lebih rendah dari
normal yang sering ditemukan pada gambaran radiologi tulang dengan peningkatan
radiolusen tulang, tapi tidak cukup rendah untuk dianggap osteoporosis. Osteopenia
ditandai dengan penururnan kepadatan tulang, yang mengarah kepada kelemahan tulang,
dan peningkatan resiko patah tulang.

40
Gambar 2.17 Gambaran osteopenia

c. Multiple myeloma
Suatu kanker yang berasal dari sel plasma ( sel plasma merupakan sel yang
dihasilkan di sum sum tulang ) dengna penyebab yang belum diketahui.

Gambar 2.18 Gambaran lesi litik pada multiple myeloma

Tabel 2 : Perbedaan osteoporosis, osteopenia, osteomalasia dan multiple myeloma

41
Osteoporosis Osteopenia Osteomalasia Multiple
myeloma

Gejala klinis Nyeri tulang Tidak khas Nyeri tulang Nyeri tulang
Nyeri
punggung

Keseimbangan Osteoklas Osteoklas Osteoklas meningkat Osteoklas


osteoklas dan meningkat meningkat Osteoblas normal
osteoblas Osteoblas Osteoblas meningkat/normal Osteoblas
menurun menurun/normal normal

Penurunan + + - -
mineralisasi tulang
Gangguan hormonal + + - -

Gangguan vitamin D + + + -
dan kalsium

2.9 Tatalaksana

Secara teoritis, osteoporosis dapat diobati dengan cara meghambat kerja osteoklas
(anti resorptif) dan/ atau meningkatkan kerja osteoblas (stimulator tulang). Walaupun
demikian, saat ini obat yang beredar pada umumnya bersifat anti resorptif. Yang
termasuk golongan obat anti resorptif adalah estrogen, anti estrogen, bifosfonat, dan
kalsitonin. Sedangkan yang termasuk stimulator tulang adalah Na-fluoride, PTH dan lain
sebagainya. Kalsium dan vitamin D tidak mempunyai efek anti resorptif maupun
stimulator tulang, tetapi diperlukan untuk optimalisasi mineralisasi osteoid setelah proses
formasi oleh osteoblas. Kekurangan kalsium akan menyebabkan peningkatan produksi
PTH (hiperparatidroidisme sekunder) yang dapat menyebabkan pengobatan osteoporosis
menjadi tidak efektif.7
Terapi osteoporosis telah menjadi subjek penelitian yang mendalam. Suplementasi
estrogen telah dibuktikan dapat menurunkan secara bermakna kecepatan pengurangan
42
tulang dan kalsium pada perempuan pasca menopause, tetapi terpai ini tmapaknya tidak
memulihkan perubahan struktural yang sudah terjadi di tulang. Asupan kalisum dalam
makanan yang adekuat sebelum usia 30 tahun tampaknya menurunkan risiko osteoporosis
pada usia selanjutnya, mungkin dengan meningkatkan densitas tulang maksimum.
Suplementasi kalsium pada tahap kehidupan selanjutnya dapat sedikit memperlambat laju
kehilangan tulang. Terapi lain yang menjanjikan adalah pemberian suatu golongan obat
yang dikenal dengan bifosfonat. Golongan obat yang lebih baru, modulator reseptor
estrogen selektif (selectif estrogen receptor modullator, SERM), tampaknya memberikan
efek bermanfaat bagi massa tulang seperti yang dihasilkan oleh estrogen, tetapi tanpa
disertai efek samping terapi estroge konvensional yang berpotensi bahaya. Pemberian
kalsitonin akhirnya dapat mengurangi fekuensi fraktur vertebrae dan mungkin bermanfaat
bagi pasien yang tidak dapat mentoleransi terapi estrogen.14

43
BAB III
KESIMPULAN

1. Tulang terdiri atas dua bentuk, tulang kompakta dan tulang spongiosa. Tulang adalah
jaringan ikat khusus yang terdiri atas materi antarsel berkapur, yaitu matriks tulang,
dan 3 jenis sel: osteosit, osteoblas, osteoklas.
2. Osteoporosis adalah suatu penyakit degeneratif pada tulang yang ditandai dengan
menurunnya massa tulang, dikarenakan berkurangnya matriks dan mineral yang
disertai dengan kerusakan mikro arsitektur dari jaringan tulang, sehingga terjadi
penurunan kekuatan tulang.
3. Osteoporosis di Indonesia lebih banyak terjadi pada perempuan diabndingkan
laki-laki, dan meningkta kejadiannya seiring bertambhanya usia.
4. Osteoporosis di bedakan menjadi primer, yang tidak diketahui penyebabnya, terdiri
dari tipe 1 dan 2, serta sekunder yang diketahui penyebabnya.
5. Diagnosis osteoporosis dapat ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang.
6. Pemeriksaan radiologis pada osteoporosis dapat dilakukan dari foto konvensional,
densitometeri dengan metode DEXA, SPA, dll, MRI.
7. Tatalaksana osteoporosis dengan cara meghambat kerja osteoklas (anti resorptif) dan/
atau meningkatkan kerja osteoblas (stimulator tulang).

44
45