Anda di halaman 1dari 100

ISTIRDLA’ DALAM PANDANGAN HUKUM ISLAM

(Analisis Fatwa MUI Nomor 28 Tahum 2013 Tentang Seputar Donor Air Susu Ibu)

Skripsi
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas-tugas
dan Memenuhi Syarat-syarat Guna Memperoleh Gelar
Sarjana Hukum (S.H.)

Oleh:

AHMAD NASRUL ULUM


NPM : 1321010064

Program Studi : Al-Ahwal Al-Syakhshiyyah

FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN INTAN
LAMPUNG
1438 H/2017 M
ISTIRDLA’ DALAM PANDANGAN HUKUM ISLAM

(Analisis Fatwa MUI Nomor 28 Tahum 2013 Tentang Seputar Donor Air Susu Ibu)

Skripsi
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas-tugas
dan Memenuhi Syarat-syarat Guna Memperoleh Gelar
Sarjana Hukum (S.H.)

Oleh:

AHMAD NASRUL ULUM


NPM : 1321010064

Program Studi : Al-Ahwal Al-Syakhshiyyah

Pembimbing I : Prof. Dr. H.Mohammad Rusfi, M.Ag.

Pembimbing II : Drs. Susiadi AS, M. Sos.I.

FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN INTAN
LAMPUNG
1438 H/2017 M
ABSTRAK
ISTIRDLA’ DALAM PANDANGAN HUKUM ISLAM
(Analisis Fatwa MUI Nomor 28 Tahun 2013 Tentang Seputar Donor Air Susu Ibu)
Oleh
Ahmad Nasrul Ulum

Adanya praktek Donor Air Susu Ibu ditengah masyarakat Indonesia meminta agar
Majelis Ulama Indonesia untuk mengeluarkan fatwa yang berkenaan dengan donor Air Susu
Ibu dengan tujuan untuk menjadikan pedomana bagi masyarakat Indonesia mengenai
ketentuan hukum dan manfaat Donor Air susu Ibu bagi masyarakat Islam di Indonesia. Perlu
diketahui bahwasannya Majelis Ulama Indonesia dalam mengeluarkan Fatwa tidak serta
merta selalu tepat dalam menjawab permasalahan yang ada, perlu adanya suatu perombakan,
pengecekan, penelaahan, dan diskusi kembali dengan para ulama agar tercapainya suatu
Fatwa yang menjadi pedoman bagi masyarakat Indonesia yang sesuai dengan ketetapan
Hukum Islam.
Dalam skripsi ini ada dua permasalahan diantaranya: Apa yang menjadi pertimbangan
MUI mengeluarkan Fatwa diperbolehkannya donor air susu ibu? dan Bagaimana pandangan
hukum Islam tentang pertimbangan MUI mengeluarkan Fatwa memperbolehkan donor air
susu ibu? Adapun tujuan penelitian ini adalah Untuk mengentahui dasar pertimbangan MUI
dalam fatwa 28 tahun 2013 sehingga membolehkan praktek donor air susu ibu. Dan untuk
mengentahui bagaimana padangan hukum Islam mengenai pertimbangan MUI dalam fatwa
nomer 28 tahun 2013 tentang seputar donor air susu ibu.
Adapun metode penelitian untuk menyelesaikan skripsi ini dilihat dari jenis
penelitiannya, maka penelitian ini termasuk penelitian kepustakaan (library research) adalah
pengkajian informasi tertulis mengenai hukum yang berasal dari berbagai sumber dan
dipublikasikan secara luas serta dubutuhkan dalam penelitian hukum normatif. Guna
memperoleh bahan hukum yang akurat untuk penulisan skripsi ini, maka bahan-bahan hukum
tersebut diperoleh melalui tiga cara yaitu sumber bahan hukum primer,sumber bahan hukum
sekunder, dan sumber bahan hukum tersier.
MUI mempertimbangkan, air susu ibu sangat dibutuhkan bagi perkembangan bayi
yang belum mencapai umur dua tahun dan adanya ibu yang tidak bisa memberikan ASI
kepada bayinya baik ibunya telah tiada, ibu kekurangan ASI untuk diberikan kepada anaknya,
tidak diketahui ibu kandungnya, maupun sebab lain yang tidak memungkinkan akses ASI
bagi anak. Pandangan Hukum Islam, tentang Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI)
mengenai donor air susu ibu apabila ditinjau dengan menggunakan teori maslahah al
mursalah terdapat kemaslahatannya dan kemudharatan. kemaslahatannya adalah untuk
menjauhkan kemudharatan yang terjadi terhadap anak-anak yang tidak diberikan ASI, karena
Pentingnya air susu ibu Sehingga apabila seorang anak tidak diberikan ASI akan
menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak. Kemudharatannya adalah dengan
diperbolehkannya donor air susu ibu tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan
persaudaraan sepersusuan. Karena dalam hukum Islam donor susu ibu memungkinkan
terjadinya saudara sepersusuan sehingga mengakibatkan terhalangnya sebuah pernikahan,
Hendaknya Majelis Ulama Indonesia (MUI) lebih mensosialisasikan kepada masyarakat
tentang Fatwa MUI mengenai donor air susu ibu, karena banyak masyarakat yang belum
mengerti dan memahami kebolehan mendonorkan air susu ibu dan dampak atau akibat dari
donor air susu ibu.
MOTTO

 َ‫ﷲ‬           ...
  َ‫ ﷲ‬
“... Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa,

dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan

bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya [al-

Mâidah:2]
PERSEMBAHAN

Karyatulis ini penulis persembahkan pada orang-orang yang selalu

mendukung terselesaikannya karya ini, diantaranya :

1. Kepada Ayahku H. Subandi dan Hj. Ibu Masriyah tercinta, yang telah

mendidik dan membesarkanku dengan do‟a dan segenap jasa-jasanya yang

tak terbilang demi keberhasilan cita-citaku, aku semakin yakin bahwa

ridho Allah SWT adalah keridhoanmu;

2. Untuk adikku yang tersayang Ulfa Riyani yang selalu menemani hari-

hariku.

3. Kepada sanak saudara, Family, dan rekan-rekan satu angkatan tahun 2013

Al-Ahwal Al-Syakhshiyyah yang tak dapat kusebut satu persatu,buat

sahabat-sahabatku diantaranya Muhammad Syafaat, Mahfudh Arifin,

Muhammad Nasirun, Narianto, Khusni Tamrin, Inayatul Maghfiroh, dono

karyono, yang selalu memberikan motifasi dan masukan guna

menyelesaikan karya tulis ini, terima kasih atas kebersamaanya, mudah-

mudahan menjadi keberkahan dunia ahirat.

4. Almamater tercinta UIN Raden Intan Lampung yang selalu kubanggakan

tempatku menimba ilmu pengetahuan


RIWAYAT HIDUP

Ahmad Nasrul Ulum, seorang anak yang dilahirkan didesa Mahabang

Kecamatan Dente Teladas, Kabupaten Tulang Bawang tepatnya pada tanggal 16

April 1995 yang merupakan anak pertama dari dua bersaudara, putra dari Bapak

H. Subandi dan Ibu Hj. Masriyah:

Jenjang pendidikan penulis yaitu:

1. Sekolah Dasar (SD) Swasta Desa Sungai Nibung Kecamatan Tulang

Bawang Kabupaten Dente Teladas lulus pada tahun 2006.

2. Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SMP) Swasta Desa Sungai Nibung

Kecamatan Tulang Bawang Kabupaten Dente Teladas lulus pada tahun

2009.

3. Madrasah Aliyah (MA) Walisongo jalan Simpang Prepau Kota Bumi

Lampung Utara lulus pada tahun 2012.

4. Tahun 2013 terdaftar sebagai mahasiswa dijurusan Al-Ahwal Al-

Syakhshiyyah Fakultas Syari‟ah dan Hukum Universitas Islam Negri

(UIN) Raden Intan Lampung.


KATA PENGANTAR
Bismillahirahmanirrahim
Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. Yang telah

senantiasa memberikan nikmat, taufiq dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi ini, yang disusun sebagai salah satu syarat memperoleh

gelar sarjana Hukum pada jurusan Al-Ahwal Al-Syakhshiyyah di Fakultas

Syari‟ah dan Hukum UIN Raden Intan Lampung, shalawat serta salam semoga

tetap tercurahkan kepada Nabi besar Muhammad SAW, para sahabat dan

pengikutnya.

Penyelesaian skripsi ini, penulis banyak menerima bantuan dan bimbingan

dari berbagai pihak, serta dengan tidak mengurangi rasa terima kasih atas bantuan

semua pihak, rasa hormat dan teima kasih penulis sampaikan kepada:

1. Prof. Dr. H. Moh. Mukri, M.Ag., selaku Rektor Universitas Islam Negeri

Raden Intan Lampung.

2. Dr. Alamsyah, M.Ag. selaku Dekan Fakultas Syari‟ah dan Hukum UIN

Raden Intan Lampung yang telah banyak memberikan bimbingan kepada

mahasiswa;

3. Bapak Dr. H. Khoiruddin, M. H. Wakil Dekan satu yang selalu

memberikan motifasi kepada mahasiswa;

4. Dr. H.Mohammad Rusfi, M.Ag. selaku Pembimbing I dan Drs. Susiadi

AS, M. Sos.I. selaku Pembimbing II, yang telah menyediakan waktu dan

memberikan bimbingan dengan iklas dan sabar yang sangat berharga


dalam mengarahkan dan memotivasi penulis hingga terselesaikan skripsi

ini;

5. Kepada bapak Marwin, SH.M.H. selaku ketua jurusan Ahwal Al-

Syahksiyah;

6. Bapak dan ibu dosen staf karyawan Fakultas Syari‟ah dan Hukum yang

telah mendidik, memberikan waktu dan layanannya dengan tulus dan iklas

kepada penulis selama menuntut ilmu di Fakultas Syari‟ah dan Hukum

Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung.

7. Bapak dan ibu staf karyawan perpustakaan Fakultas Syari‟ah dan Hukum

dan perpustakaan pusat Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung.

8. Teman-teman KKN 64 dan keluarga baru pekon Sukawangi Kecamatan

Pringsewu.

Penulis menyadari skripsi ini masih banyak kekurangan, hal ini disebabkan

masih terbatasnya ilmu dan teori penelitian yang penulis kuasai. Oleh karena itu

penulis mengharapkan masukan dan kritik yang bersifat membangun untuk skripsi

ini.

Akhirnya, dengan iringan terimakasih penulis memanjatkan do‟a kehadirat

Allah SWT, semoga jerih payah dan amal bapak-bapak dan ibu-ibu serta teman-

teman sekalian akan mendapatkan balasan yang sebaik-baiknya dari Allah SWT

dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan para

pembaca pada umumnya. Amin

Bandar Lampung, 19 April 2017


Penulis
Ahmad Nasrul Ulum
NPM. 1321010064
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................. i

ABSTAK ................................................................................................................ ii

PERSETUJUAN .................................................................................................... iii

PENGESAHAN ..................................................................................................... iv

MOTTO ................................................................................................................. v

PERSEMBAHAN .................................................................................................. vi

RIWAYAT HIDUP ............................................................................................... vii

KATA PENGANTAR ........................................................................................... viii

DAFTAR ISI .......................................................................................................... ix

BAB I PENDAHULUAN

A. Pengesahan Judul .......................................................................... 1


B. Alasan Memilih Judul ................................................................... 3
C. Latar Belakang Maalah ................................................................. 4
D. Rumusan Masalah ......................................................................... 8
E. Tujuan Dan Kegunaan Penelitian.................................................. 8
F. Metode Penelitian.......................................................................... 9
1. Jenis dan Sifat Penelitian ........................................................ 9
2. Sumber Data ............................................................................ 10
3. Metode Pengumpulan Data ..................................................... 11
4. Metode Pengelolahan Data ..................................................... 11
5. Metode Analisis Data .............................................................. 12

BAB II ISTIRDHA’ DALAM PRESPEKTIF HUKUM ISLAM

A. Pengertian Donor Air Susu Ibu (Istirdla‟) .................................... 14


1. Syarat menjadi pendonor ASI ................................................. 15
2. Dampak adanya donor ASI ..................................................... 16
B. Dasar Hukum Donor Air Susus Ibu (Istirdla‟) ............................. 19
1. Al-Qur‟an ................................................................................ 19
2. Hadits Nabi.............................................................................. 28
3. Qaidah Fiqhiyyah .................................................................... 28
C. Manfaat Air Susu Ibu bagi Bayi.................................................... 29
1. Sarat makanan bagi bayi ......................................................... 29
2 Kandungan ASI ....................................................................... 30
3. Keuntungan ASI adalah sebagai berikut ................................ 30
D. Pendapat Ulama ............................................................................ 32

BAB III ISTIRDLA’ DALAM PRESPEKTIF MUI

a. Profil Majelis Ulama Indonesia .................................................... 39


1. Sekilas Profil Majelis Ulama Indonesia .................................. 39
2. Peran Majelis Ulama Indonesia .............................................. 42
b. Landasan Hukum Fatwa MUI Tentang seputar Donor
Air Susu Ibu (Istirdla‟)................................................................. 43
c. Substansi Fatwa MUI No. 28 Tahun 2013 .................................... 46
d. Proses Donor Air Susu Ibu ............................................................ 59

BAB IV ANALISIS FATWA MUI NOMOR 28 TAHUN 2013 TENTANG


SEPUTAR DONOR AIR SUSU IBU MENURUT HUKUM
ISLAM

A. Pertimbangan MUI mengeluarkan Fatwa diperbolehkannya


donor air susu ibu .......................................................................... 63
B. Analisis hukum Islam tentang pertimbanganMUI
mengeluarkan Fatwa memperbolehkan donor air susu Ibu.......... 65

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ................................................................................... 74
B. Saran ............................................................................................. 75

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN

A. Penegasan Judul

Demi memudahkan pemahaman tentang judul srkripsi ini serta tidak

menimbulkan kekeliruan dan kesalam pahaman dikemudian, maka penulis akan

menguraikan secara singkat istilah-istilah yang tedapat dalam skripsi yang

berjudul: ISTIRDHL‟ DALAM PANDANGAN HUKUM ISLAM (Analisis Fatwa

MUI Nomor 28 Tahun 2013 Tentang Seputar Donor Air Susu Ibu) sebagai

berikut.

Donor menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah penderma atau

pemberi sumabangan.1 Kemudian Asi adalah suatu emulasi lemak dalam arutan

protein, laktose, dan garam-garam organik yang disekresi oleh kedua belah

kelenjar payudara ibu, sebagai makanan utama bagi bayi. 2 maka dapat

disimpulakan donor Asi adalah pemberi sumbangan air susu Ibu sebagai makanan

untuk bayi yang diberikan kepada bayi yang bukan dari ibu biologis yang

menghasilkan susu untuk didonorkan atau pemberian sumbangan berupa air susu

ibu yang diberikan oleh wanita kepada sesorang anak yang bukan anak

kandungnya dan lembaga yang menampung air susu ibu.

Hukum Islam adalah hukum yang dibangun berdasarkan pemahaman

manusia atas nash Al-Qur,an maupun Al-Sunnah untuk megatur kehidupan

1
Tim penyusun kamus pusat pembinaan dan pengembangan bahasa, kamus besar bahasa
indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1995), h. 242 .
2
Dewi Lailatul Badriyah, Gizi Dalam Kesehatan Reproduksi (Bandung: PT Refika
Aditama, 2011), h. 35.
manusia yang berlaku secara universl-relevan pada setiap zaman (waktu) dan

makan (ruang) manusia.3

Analisis menurut kamus besar bahasa indonesia adalah:

a. penyelidikan terhadap suatu peristiwa (perbuatan, karangan, dan sebagainya)

untuk mendapatkan fakta yang tepat (asal usul, sebab, penyebab sebenarnya,

dan sebagainya).

b. Penguraian pokok persoalan atas bagian-bagian, penelaahan bagian-bagian

tesebut dan hubungan antar bagian untuk mendapakan pengertian yang tepat

dengan pemahaman secara keseluruhan.

c. Penyelidikan kimia dengan cara menguraikan senyawa (bahan) atas unsur-

unsur (atom-atom) penyusunan.

d. Penjabaran (pembentangan) sesuatu hal, dan sebagainya setelah ditelaah

secara seksama.

e. Peroses pemecahan masalah yang dinilai dengan hipotesis (digunakan, dan

sebagainya) sampai terbukti kebenarannya melalui beberapa kepastian

(pengamatan, percobaan, dan sebagainya). 4

Fatwa adalah keputusan agama yang diberikan oleh alim ulama mengenai

suatu perkara atau nasihat orang alim.5

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Merupakan wadah musyawarah para

ulama, zu‟ama dan cendikiawan muslim serta menjadi pengayoman bagi seluruh

muslim Indonesia adalah lembaga yang paling berkompeten dalam menjawab dan

3
Said Aqil Husain Al-Munawar, Hukum Islam dan Pluralitas Sosial Cet-2 (Jakarta:
Penamadani, 2005), h. 6.
4
Petersalim dan yennisalim, kamus bahasa indonesia kontemporer (Jakarta: moderen
English Press,1991), h.61.
5
Ibid. h. 416
memecahkan setiap masalah sosial keagamaan yang senantiasa timbul dan

dihadapi masyarakat.6

Berdasarkan judul di atas dapat dirumuskan bahwa yang dimaksud dengan

judul keseluruhan yaitu pembahasan mendalam berkenaan dengan Istirdha dalam

Pandangan Hukum Islam dengan mengkaji hal-hal yang berkaitan dengan

permasalahan Istirdla‟ serta dibahas lebih mendalam kaitannya dengan fatwa

MUI Nomer 28 Tahun 2013 Tentang seputar donor air susu ibu.

B. Alasan Memilih Judul

Ada beberapa alasan yang menjadi dasar penulis untuk memilih judul ini

sebagai bahan untuk penelitian, yaitu :

a. Alasan objektif

1). Istirdla‟ (donor air susu ibu) merupakan sesuatu pemberian ASI yang

muncul beberapa tahun belakang ini sehingga menarik untuk dibahas

dalam skripsi.

2). penulis ingin mengetahui dan menganalisis bagaimana pandangan hukum

Islam terhadap Istirdla‟ (donor air susu ibu).

b. Alasan subjektif

1). Istirdla‟ (donor air susu ibu) selain menarik untuk dibahas, juga terdapat

sarana yang mendukung dalam penulisan skripsi ini seperti literatur-

6
Himpunan Fatwa, Majelis Ulama Indonesia Sejak 1975 (Jakarta: Erlangga, 2011), h . 4.
literatur, referensi-referensi yang terdapat diperpustakaan, secara adanya

informasi dan data-data yang dibutuhkan dalam literatur.

2). Pembahasan mengenai Istirdla‟ (donor air susu ibu) masih belum ada

difakultas Syari‟ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Raden Intan

Lampung.

3). Judul skripsi ini relevan dengan disiplin ilmu yang penulis pelajari di

Fakultas Syari‟ah dan Hukum Jurusan Ahwal Al-Syakhshiyah (Hukum

Keluarga).

C. Latar Belakang Masalah

Dalam undang-undang republik Indonesia nomer 1 tahun 1974

tentang perkawinan pasal 1, Perkawinan adalah ikatan lahir bathin antara seorang

pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk

keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang

Maha Esa.7

Pernikahan ataupun perkawinan ialah akad yang menghalalkan pergaulan

dan membatasi hak dan kewajiban antara seorang laki-laki seorang perempuan

yang bukan mahram.8Allah SWT. Berfirman dalam surat An-Nisa ayat 3.

             

               

7
Anggota IKAPI, Undang-undang Perkawinan (Bandung: Fokusmedia, 2016), h. 1.
8
Beni Ahmad Saebani, fiqih munakahat (Bandunng: CV Pustaka Setia, 2001), h. 9.
Artinya :“Dan jika kamu khawatir tidak akan dapat Berlaku adil terhadap (hak-
hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka
kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau
empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil.(An-
Nisa ayat 3).9

Pada dasarnya pernikahan menginginkan keturunan yang sangat

diharapkan oleh setiap anggota keluarga. Dan tidak banyak didalam keluarga

setalah mempunyai keturunan ibu tidak bisa memberikan ASI dikarnakan ada

beberapa masalah sehingga dengan adanya donor air susu ibu sedikit banyak

membantu para ibu-ibu yang tidak bisa memberikan ASI kepada anaknya.

Dan adapun larangan perkawinan yang berlaku haram untuk selamanya

dalam arti sampai kapanpun dan dalam keadaan apapun laki-laki dan prempuan

itu tidak boleh melakukan perkawinan, larangan bentuk ini disebut larangan

mahram muabbad (larangan sepersusuan),10 Dalam hukum Islam larangan

pernikahan antara seorang pria dan seorang wanita menurut syra‟ dibagi dua yaitu

halangan abadi dan halangan sementara, diantara halangan-halangan abadi yang

telah disepakati ada tiga yaitu nasab (keturunan), pembesanan (karena pertalian

kerabat semenda), sepersusuan.11

Sedangkan yang dimaksud dengan sepersusuan adalah bila seorang anak

menyusu kepada seorang prempuan, maka air susu itu menjadi darah daging dan

pertumbuhan bagi sianak sehingga perempuan yang menyusukan itu telah seperti

9
Yayasan penyelenggara penerjemah Al-Qur‟an, Al-qur‟an dan Terjemah Al Hikmah
(Bandung: CV Penerbit Diponorogo, 2012), h. 77.
10
Bimbingan Islam, Fatwa Kedokteran, Fiqih, Kesehatan Islam” (On-line), tersedia di:
https://agussupianto. Blogspot. Com/ Bimbingan Islam. Htm (25 Agustus 2012).
11
Abd. Rahman Ghazaly, M.A, Fiqih Munakahat (Jakarta: Kencana Prenada Media
Group, 2016), h. 103.
ibunya.12 Salah satu yang dianjurkan dalam ajaran Agama Islam adalah agar

senantiasa mampu menjaga keturunan yakni dalam hal garis keturunan atau nasap.

Oleh karna itu, memelihara dan menjaga garis keturunan dalam hal ini ialah

nasab. Ulama fiqih sepakat mengatakan bahwa nasap merupakan salah satu

fondasi yang kokoh dalam membina suatu kejelasan akan setatus yang dimiliki

oleh seseorang anak yang baru lahir, Nasap merupakan sebuah karunia yang

paling besar bagi setiap manusia yang dilahirkan kedunia, nasap juga merupakan

hal yang paling utama yang harus dimiliki oleh seorang manusia yang lahir agar

terhindar dari kehinaan dan kelantaran. Memberikan kewajiban penuh bagi orang

tua untuk memelihara dan menajaga anaknya berkaitan dengan setatus nasab yang

merupakan hak pertama bagi seorang anak, pada tahapan berikutnya anak yang

lahir dari rahim seorang ibu akan memperoleh hak mendapatkan perawatan dan

nafkah secara layak terhadap hak waris dan hak perwalian.13

Hadiah yang paling berharga bagi bayi yang baru lahir adalah ASI, ASI

merupakan makanan terbaik dan paling sempurna untuk bayi. Adapun manfaat

ASI untuk bayi sangat banyak antara lain: 14

1. Bayi mendapatkan nutrisi dan enzim terbaik yang dibutuhkan.

2. Bayi mendapatkan zat-zat imun, sera perlindungan dan kehangatan melalui

kontak dari kulit kekulit dengan ibunya.

3. Meningkatkan sensitivitas ibu akan kebutuhannya.

12
Bimbingan Islam, Fatwa Kedokteran, Fiqih, Kesehatan Islam, Op. Cit.
13
M. Nurullrfan, Nasap dan setatus anak dalam hukum Islam (Jakarta: Amzah, 2012), h.
8-15.
14
Joan Nelison, Cara Menyusui Yang Baik (Jakarta: ARCAN, 1985), h. 1.
4. Mengurangi pendarahan, serta konservasi zat besi, protein, dan zat lainnya,

mengingat ibu tidak haidh sehingga mengingat zat yang terbuang.

5. Penghematan karena tidak membeli susu.

6. Asi eksklusif dapat menurunkan angka kejadian alergi, terganggunya

pernapasan, diare, dan obesitas pada anak.15

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa nomer 28 tahun

2013, tentang seputar donor air susu ibu (Istirdla‟) bahwasanya donor air susu ibu

diperbolehkan dengan bunyi Seseorang ibu boleh memberikan ASI kepada anak

yang bukan anak kandungnya. Demikian juga sebaliknya, seseorang anak boleh

menerima ASI dari ibu yang bukan ibu kandungnya sepanjang memenuhi syar‟i.

Dan dengan ketentuan Firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 233 yang

berbunyi:

    

Artinya : “para ibu hendaklah menyususkan anak-anaknya selama dua tahun

penuh”,.16

Berdasarkan uraian diatas donor air susu ibu diperbolehkan oleh Fatwa

MUI (Majelis Ulama Indonesia) bahwa dalam hukum Islam salah satu penghalang

pernikahan adalah terjadinya sepersusuan (Radha‟ah). Dengan diperbolehkannya

donor air susu ibu dapat mengakibatkan soudara sepersusuan dan menjadi

15
Nurheti Yuliarti, keajaiban ASI (Yogyakarta: C.V Andi Offset, 2010), h. 8.
16
Yayasan penyelenggara penerjemah Al-Qur‟an , Op. Cit. h. 37.
penghalang bagi pernikahan dengan saudara sepersusuan, dengan ketentuan-

ketentuan Majelis Ulama Indonesia tersebut, kenapa tidak digantikan saja dengan

susu formula agar tidak mempunyai akibat hukum. Oleh sebab itu peneliti tertarik

meneliti secara detail dan mendalam bagaimana pandangan hukum Islam tentang

Fatwa MUI yang memperbolehkan donor air susu ibu. Maka penulis meneliti

sekripsi yang berjudul “ISTIRDLA’ DALAM PANDANGAN HUKUM ISLAM

(Analisis Fatwa MUI Nomor 28 Tahum 2013 Tentang Seputar Donor Air

Susu Ibu)”.

D. Rumusan Masalah

Merujuk pada pemaparan latar belakang masalah diatas, maka penulis

dapat merumuskan beberapa permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini

yaitu:

1. Apa yang menjadi pertimbangan MUI mengeluarkan Fatwa diperbolehkannya

donor air susu ibu?

2. Bagaimana pandangan hukum Islam tentang pertimbangan MUI

mengeluarkan Fatwa memperbolehkan donor air susu ibu?

E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1. Tujuan Penelitian

a. Agar mengetahui dan memahami bagaimana pandangan hukum Islam

terhadap Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomer 28 tahun 2013 tentang

seputar donor air susu ibu.


b. Untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Hukum

(SH), pada fakutas Syari‟ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Raden

Intan Lampung.

2. Kegunaan penelitian

Kegunaan penelitian teroritis ini sebagai bentuk konstribusi dalam

rangka memperkaya khazanah ilmu pengetahuan dan dapat menjadi bahan

referensi ataupun bahan diskusi bagi para mahasiswa Fakultas Syari‟ah,

maupun masyarakat serta berguna untuk perkembangan ilmu pengetahuan

khususnya berkaitan dengan hukum islam.

F. Metode Penelitian

Dalam rangka penulisan skripsi yang berjudul Istirdla‟ dalam pandangan

hukum islam (analisis fatwa mui nomer 28 tahun 2013 tentang seputar donor air

susu ibu, penulis menggunakan metode untuk memudahkan dalam pengumpulan

data, pembahasan dan menganalisis data. Adapun dalam penulisan skripsi ini,

penulis menggunakan metode penelitian sebagai berikut:

1. Jenis dan Sifat Penelitian

Dilihat dari jenis penelitiannya, maka penelitian ini termasuk penelitian

kepustakaan (library research) adalah pengkajian informasi tertulis mengenai

hukum yang berasal dari berbagai sumber dan dipublikasikan secara luas serta

dubutuhkan dalam penelitian hukum normatif.17 Untuk memperoleh data ini,

penulis mengkaji literatur-literatur berasal dari perpustakaan yang memiliki

17
Abdulkadir Muhammad, Hukum dan Penelitian Hukum (Jakarta: PT. Citra Aditya
Bakti, 2004), h. 81.
relevansi dengan penelitan yang penulis lakukan. Literatur yang berhubungan

dengan pembahasan dalam skripsi ini antara lain yaitu Al-Qur‟an, Al-Hadis,

peraturan pemerintah republik Indonesia nomer 33 tahun 2012 tentang pemberian

air susu ibu eksklusif, Buku-Buku Fiqih, Buku mengenai kesehatan. Serta literatur

lainnya yang mempunyai hubungan dengan permasalahan yang dikaji oleh penulis

dalam penelitian ini.

2. Sumber Data

Guna memperoleh bahan hukum yang akurat untuk penulisan skripsi ini,

maka bahan-bahan hukum tersebut diperoleh melalui tiga cara yaitu sumber bahan

hukum primer,sumber bahan hukum sekunder, dan sumber bahan hukum tersier.

Untuk lebih jelasnya berikut ini akan diuraikan tentang sumber data tersebut,

yaitu:

a. Sumber bahan hukum primer

Bahan hukum primer yaitu bahan hukum yang sifatnya mengikat

atau berhubungan dengan permasalahan yang terkait. Dalam hal ini Al-

Qur‟an dan Hadits yang berkaitan dengan donor air susu ibu dan pendapat

para ulama tentang donor air susu ibu.

b. Sumber bahan hukum sekunder

Bahan hukum skunder yaitu bahan hukum yang sifatnya menjeaskan

bahan hukum primer, yaitu berupa buku-buku literatur, karya ilmiyah

untuk mencari konsep-konsep, teori pendapat yang berkaitan erat dengan

permasalahan yang dikaji. Berdasarkan teori maka bahan hukum primer


yang penulis gunakan yaitu fatwa MUI, peraturan pemerintah republik

Indonesia nomer 33 tahun 2012 tentang pemberian air susu ibu eksklusif,

kitab fiqih yang berkaitan dengan donor ASI, buku-buku tentang kesehatan

dan sebagainya.18

c. Sumber bahan Hukum tersier

Merupakan bahan hukum sebagai pelengkap kedua bahan hukum

primer dan sekunder seperti kamus besar bahasa Indonesia, kamus Hukum,

dan artikel-artikel yang dapat membantu penelitian ini.

3. Metode Pengumpulan Data

Dalam pengumpulan data, penulis menggunakan penelitian pustaka

(library research), yakni upaya membaca dan menelaah serta mengutip beberapa

buku, diantaranya buku-buku fiqih, fatwa MUI, buku-buku tentang hukum Islam,

buku kesehatan, peraturan pemerintah republik Indonesia nomer 33 tahun 2012

tentang pemberian air susu ibu eksklusif serta artikel-artikel yang ada kaitannya

dengan pembahasan judul skripsi ini diperpustakaan. Sumber data yang akan

penulis gunakan antara lain:

4. Metode Pengelolahan Data

Setelah sumber (literature) mengenai data dikumpulkan berdasarkan

sumber diatas, maka langkah selanjutnya adalah pengolahan data yang diperoses

sesuai dengan langkah sebagai berikut :

18
Amirudin dan Zainal Asikin, Pengatar Metode Penelitian Hukum (Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 2006), h. 30.
e. Pemeriksaan data (editing) yaitu memeriksa ulang, kesesuaian dengan

permasalahan yang akan diteliti setelah data tersebut terkumpul.

f. Penandaan Data (conding) yaitu memberikan cacatatan data yang

menyatakan jenis dan sumber data baik bersumber dari Al-Qur‟an dan

Hadis, atau buku-buku literatur lainnya yang relevan dengan penelitian.

g. Sistematika data (sistematizing) yaitu menepatkan data menurut kerangka

sisematika bahasan berdasarkan urutan masalah.19

5. Metode Analisis Data

Dalam menganalisis data akan menganalisisnya secara kualitatif, bentuk

analisis ini dilakukan dengan penjelasan-penjelasan, bukan bentuk angka-angka

atau statistikSetelah atau bentuk angkan lainnya. Bentuk analisis berdasarkan

hukum Islam seperti Al-Qur‟an, Hadist, pendapat para ulama. Dalam

menganalisis mengguakan metode berfikir :

a. Metode berfikir dedukatif

Metode berfikir dedukatif adalah: “suatu penelitian dimana orang

berangkat dari pengetahuan yang sifatnya umum, dan bertitik tolak dari

pengetahuan yang umum, kita hendak menilai suatu kejadian yang

khusus.20 Hubungan dengan skripsi ini, metode dedukatif digunakan pada

saat penulis mengumpulkan data dari perpustakaan secara umum, dari

19
Amirudin dan Zainal Abidin, Pengantar Metode Penelitin Hukum (Jakarta: Balai
pustaka, 2006), h. 107.
20
Jiko Subagio, Metode Penelitian dalam Teori dan Praktek (Jakarta: Rineka Cipta,
2011), h. 41.
berbagai kitab-kitab fiqih, hadist dan sebagainya, tentang suatu konsep,

teori ataupun pendapat tentang donor air susu ibu, nasab dan susuan yang

menjadikan mahram, kemudian diambil secara khusus sampai pada suatu

titik temu kebenaran atau kepastian.

b. Metode berfikir indukatif

Metode berfikir indukatif adalah : “suatu penelitian dimana orang

berangkat dari fakta-fakta khusus, peristiwa-peristiwa yang kongkrit,

kemudian dari fakta-fakta atau dari peristiwa-peristiwa yang khusus dan

kongkrit itu ditarik suatu kesimpulan yang bersifat umum.21 Berkaitan

dengan skripsi ini, metode indukatik digunakan untuk menganalisa atau

menggali data yang berupa teori maupun pendapat dan sebagainya yang

bersifat khusus, yang berkaitab dengan donor air susu ibu, nasab dan

susuan yang menjadikan mahram, kemudian dikembangkan menjadi suatu

data yang bersifat umum.

21
Sutrisno Hadi, Metologi Risearch untuk penulisan laporan, Skripsi, Tesis dan Disertasi
Jilid 1 (Yogyakarta: Andi, 2004), h. 47.
BAB II
ISTIRDLA’ DALAM PRESPEKTIF HUKUM ISLAM

A. Pengertian Donor Air Susu Ibu (Istirdla’)

Dalam kamus bahasa Indonesia Donor adalah penderma atau pemberi

sumbangan.22 Kemudian ASI adalah suatu emulasi lemak dalam larutan protein,

laktose, dan garam-garam organik yang disekresi oleh kedua belah kelenjar

payudara ibu, sebagai makanan utama bagi bayi. 23 Menurut Majelis Ulama

Indonesia Donor ASI adalah ASI yang didonasikan oleh seorang ibu bukan untuk

bayinya sendiri melainkan untuk bayi orang lain, yang diberikan secara sukarela24,

Maka dapat disimpulakan donor Asi adalah pemberi sumbangan air susu Ibu

sebagai makanan untuk bayi yang diberikan kepada bayi yang bukan dari ibu

biologis yang menghasilkan susu untuk didonorkan atau Istirdha‟ (Donor Asi)

adalah pemberian sumbangan berupa air susu ibu yang diberikan oleh wanita

kepada sesorang anak (bukan anaknya) atau sebuah lembaga yang menampung air

susu ibu.

ASI adalah makanan dan minuman yang paling utama bagi para bayi

selain karna tidak akan pernah manusia sanggup memproduksi susu buatan

sekualitas dengan ASI, juga ASI merupakan pemberian Allah Subhanahu Wa

22
Tim penyusun kamus pusat pembinaan dan pengembangan bahasa, kamus besar bahasa
indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1995), h. 242.
23
Dewi Lailatul Badriyah, Gizi Dalam Kesehatan Reproduks (Bandumg: PT Refika
Aditama, 2011), h. 35.
24
M. Asrorun Ni‟am Sholeh, Metodologi Penetapan Fatwa Majelis Ulama Indonesia
(Jakarta: Emir, 2016), h. 5.
Ta‟ala kepada seluruh anak manusia. Untuk menjamin kesehatan ibu dan anak,

serta menjamin kelangsungan hidup anak manusia itu kelak kemudian hari.25

Dalam peraturan pemerintah republik Indonesia nomer 33 tahun 2012

tentang pemberian air susu ibu eksklusif juga dijelaskan bahwa, pasal 1 ayat 1, air

susu ibu yang selanjutnya disingkat ASI adalah cairan hasil sekresi kelenjar

payudara ibu. Ayat 2, air susu ibu eksklusif yang selanjutnya disebut ASI ekslusif

adalah ASI yang diberikan kepada bayi sejak lahir selama 6 (enam) bulan, tanpa

menambah atau mengganti dengan makanan atau minuman lain.26

1. Syarat menjadi pendonor ASI.

Didalam pasal 11 peraturan pemerintah tentang pemberian air susu ibu

ekslusif dijelaskan tentang persysaratan menjadi pendonor ASI diantaranya

adalah:

a. Permintaan ibu kandung atau keluarga bayi yang bersangkutan.

b. Identitas, Agama, dan alamat pendonor ASI diketahui dengan jelas oleh

ibu atau keluarga dari bayi penerima ASI.

c. Persetujuan pendonor ASI setelah mengetahui identitas bayi yang

diberikan ASI.

d. Pendonor ASI dalam kondisi kesehatan baik dan tidak mempunyai

indikasi medis.

e. ASI tidak diperjual belikan.27

25
Abdul Hakim Al Sayyid Abdullah, Keutamaan Air Susu Ibu (Jakarta: Fikahati Aneska,
1993), h. 30.
26
PP RI Nomer 33 Tahun 2012, Tentang Pemberian Air Susu Ibu Ekslusif (Jakarta:
Kementrian Kesehatan RI, 2012), h. 1.
27
Ibid ., h. 5.
Adapun syarat menjadi Ibu susu.

Untuk menjadi seseorang Ibu susu harus memenuhi sejumlah persyaratan,

yaitu antara lain:

a. Tidak ditemukan infeksi menular, termasuk HIV atau AIDS dan hepatitis,

pada diri calon ibu susu.

b. Dalam satu bulan kebelakang ibu susu tidak terkena cacar air.

c. Ibu susu bukan pengguna narkoba.

d. Kebutuhan gizi ibu susu selalu terpenuhi.

e. Calon ibu susu rela dan mau menjadi ibu susu.

f. Ibu susu tetap memberikan ASI kepada anak kandung sendiri.

2. Dampak adanya donor ASI.

Penerima donor seringkali tidak pernah tahu ibu pendonor ASI benar-

benar sehat atau tidak, kecuali mereka yang telah memiliki rekam medis yang

menguatkan hal ini. Faktor budaya, kepercayaan dan agama dari si penerima

donor ASI akan menjadi saudara sepersusuan bagi semua anak pendonor ASI,

yang berarti mereka menjadi mahram dan tidak boleh saling menikah selamanya.

ASI merupakan saripati makanan ibu yang akan tumbuh menjadi daging dan

tulang bagi anak yang meminum ASI tersebut, karena itu perlu dipastikan benar

bahwa pendonor ASI tidak pernah mengonsumsi hal-hal yang haram.28

28
Prosedur dan Cara Donor ASI” (On-Line), tersedia di: https://jurnalpediatri.com/ htm
(04 Maret 2016).
Dunia kesehatan sepaham dengan hukum agama yang menyebutkan

bahwa ASI adalah filtrasi darah ibu sehinga ASI bisa menjadi pembawa sifat atau

genetik. Maka dari itulah ada hukum yang menyebutkan ibu susu dengan anak

yang mendapatkan susu dari dirinya, hukumnya sama seperti halnya ibu dengan

anak kandung. Begitu juga, anak-anak si ibu menjadi saudara sepersusuan anak

tersebut. Antara ibu susu dengan anak mendapat susu darinya jatuh hukum

Tahrim (haram kawin) kepada mereka, tak terkecuali kepada saudara sepersusuan

mereka. Hukum Tahrim timbul karena:

a. Dalam kegiatan menyusui anak akan selalu timbul hubungan batin antara

ibu yang menyusui dan bayi atau anak yang menerima ASI, yakni

hubungan batin dalam bentuk kasih sayang. Sekalipun anak yang

disusukan itu bukan anak kandung.

b. Jika seorang disusukan wanita yang bukan ibu kandungnya, maka ia akan

sama kedudukannya dengan ibu kandungnya. Oleh sebab itu berlaku

Tahrim sebagaimana sabda Rasullah SAW, 29

‫ فَ َلا َل ِٔأَّنَّ َا‬. ‫ِض ﷲُ َغْنْ ُ َما َأ َّن َاميَّ ِ َِّب َص ََّّل ﷲُ ػَلَ ْي َِ َو َس َّ ََّل ُأ ِريدَ ػَ ََّل ِابْيَ ِة َ َْح َز َة‬
َ ِ ‫َو َغ ِن ا ْب ِن َغ َّبا ٍس َر‬

ٌ‫ََل َ َِتـ ُّل ِِل ِٔأَّنَّ َا ِابْ َي ُة َأ ِخـي ِم ْن َا َّمر ضَ ا ػَ ِة َو َ َْي ُر ُم ِم ْن َّامر ضَ ا ػَ ِة َما َ َْي ُر ُم ِم ْن َامً َّ َس ِب ( ُمتَّ َفق‬

)َ‫ػَلَ ْي‬

29
Antikah Proverawati dan Eni Rahmawati, Kapita Selekta Asi dan Menyusui
(Yogyakarta: Nuha Medika, 2010) , h. 81.
Artinya : Ibnu Abbas r.a. menyebutkan bahwa Nabi Saw, diminta untuk menikahi

putri Hamzah. Namun, beliau bersabda, “Dia itu tidak halal untukku.

Dia adalah putri saudraku sesusuan dan segala hal yang diharamkan

karena adanya hubungan nasab (keturunan) menjadi haram pula

karena persusuan.” Muttafaq „Alaih.30

Kesimpulan Hadis

Persusuan secara mutlak menyebabkan seorang diharamkan menikah

walaupun pada dasarnya, pernikahan keduanya halal, seperti menikahi paman, hal

itu dihalalkan oleh syara. Namun,lantaran Nabi Saw. Dan pamannya pernah satu

persusuan, akhirnya anak perempuan Hamzah bin Abdul Munthalib menjadi

haram untuk dinikahi. Dalam kasus pada hadis ini, hukum persusuan lebih di

prioritaskan ketimbang hukum persaudaraan senasab.31

Sekalipun begitu, antara ibu susu, anak yang disusukan, dan saudara

sepersusuan bisa tidak timbul hukum Tamrin, jika:

a. Pemberian ASI melalui jarum suntik. Maksudnya, secara tak langsung;

diperah dulu lalu diberikan lewat botol susu atau sendok.

b. ASI diencerkan, dikentalkan, dibekukan, atau dibuat bahan makanan

terlebih dalu sebelum dikonsumsi.

c. ASI dicampur air, obat, minyak, dan atau sebaliknya.

d. ASI dicampur kedalam makanan anak, dan atau sebaliknya.

30
Imam Ibnu Hajar Al-„Asqalany, Bulughul Maram Five In One (Jakarta: Noura Books
PT Mizan Publika, 2015), h. 663.
31
Ibid.
e. ASI ibu yang satu telah dicampur dengan ASI ibu lain baru kemudian

diminumkan pada anak.32

B. Dasar Hukum Donor Air Susu Ibu (Istirdha)

1. Al-Qur‟an

Berdasarkan firman Allah SWT.

Surat Al-Baqarah ayat 233:

            

              

     

Artinya :“Dan ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun


penuh, Yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. dan
kewajiban ayah memberi Makan dan pakaian kepada Para ibu dengan
cara ma'ruf. seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar
kesanggupannya. janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan
karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya.”(QS. Al-Baqarah
ayat 233)33
Dengan menggunakan redksi berita, ayat ini memerintahkan dengan sangat kukuh

kepada para ibu agar menyusukan anak-anaknya.

Kata (‫ )الوالدات‬al-Walidat dalam penggunaan al-Qur‟an berbeda dengan

kata (‫ )أمهات‬ummahat yang merupakan bentuk jamak dari (‫ )ام‬um. Kata ummahat

32
Antikah Proverawati dan Eni Rahmawati, Op. Cit. h. 81.
33
Yayasan penyelenggara penerjemah Al-Qur‟an , Al-qur‟an dan Terjemah Al Hikmah
(Bandung: CV Penerbit Diponorogo, 2012), h. 37.
biasanya digunakan untuk menunjuk kepada para ibu kandung, sedangkan kata al-

walidat maknanya adalah para ibu, baik ibu kandung maupun bukan. Ini berarti

bahwa al-Qur‟an sejak dini telah menggariskan bahwa air susu ibu, baik ibu

kandung maupun bukan, adalah makanan terbaik buat bayi hingga usia dua tahun.

Namun demikian, tentunya air susu ibu kandung lebih baik dari selainnya.

Dengan menyusui pada ibu kandung, anak merasa lebih tentram; sebab menurut

penelitian ilmuan, ketika itu bayi mendengar suara detak jantung ibu yang telah

dikenalnya secara khusus sejak dalam perut. Detak jantung itu berbeda antar

seseorang wanita dengan wanita yang lain.

Sejak kelahiran hingga dua tahun penuh, para ibu diperintahkan untuk

meyusukan anak-anaknya. Dua tahun adalah batas maksimal dari kesempurnaan

penyusuaan. Disisi lain, bilangan ini junga mengisyaratkan bahwa yang menyusui

setalah usia tersebut, bukan penyusuan yang mempunyai dampak hukum yang

mengakibatkan anak yang disusui yang bersetatus sama dalam sejumlah hal

dengan anak kandung yang menyusuinya.

Penyusuan yang selama dua tahun itu, walaupun diperintahkan, tetapi

bukanlah kewajiban. Ini dipahami dari penggalan ayat yang menyatakan, bagi

yang ingin menyempurnakan penyusuan. Namun demikian, ia adalah anjuran

yang sangat ditekankan, seakan-akan ia adalah perintah wajib. Jika ibu bapak

sepakat untuk mengurangi masa tersebut, karna dua tahun telah dinilai sempurna

oleh Allah. Disisi lain, penetapan waktu dua tahun itu, adalah untuk menjadi tolak
ukur bila terjadi perbedaan pendapat misalnya ibu atau bapak ingin

memperpanjang masa persusuan.34

Diwajibkan bagi kaum ibu baik yang masih berfungi sebagai istri maupun

yang dalam keadaan tertalak untuk menyusui anak-anak mereka selama dua tahun

penuh dan tidal lebih dari itu. Tetapi, diperbolehkan kurang dari masa itu jika

kedua orang tua memandang adanya kemaslahatan. Dan dalam hal ini,

persoalannya diserahkan kepada kebijaksanaan meraka berdua.

Adapun sebab diwajibkannya menyusui anak bagi ibu, karena air susu ibu

merupakan susu yang terbaik, sebagaimana yang telah diakui para dokter. Bayi

yang masih berada dalam kandungan ditumbuhkan dengan darah ibunya. Setalah

ia lahir, darah tersebut berubah menjadi susu yang merupakan makanan utama

bagi bayi, karena ia sudah terpisah dari kandungan ibunya. Hanya air susu ibu

yang paling cocok dan yang paling sesuai dengan perkembangannya. Tidak ada

yang perlu dikhawatirkan bahwa ia akan terserang penyakit atau cedera

disebabkan air susu ibu. Apa yang disadap oleh bayi ketika dalam kandungan dan

susu yang diperoleh dari ibunya tidaklah berpengaruh apa-apa terhadap diri bayi

tersebaut, bahkan sebaliknya akan membuat lebih sehat dan lebih baik. Apabila

seorang bayi diserahkan penyusuannya kepada perempuan lain karena ibunya

berhalangan atau dalam keadaan darurat, maka perempuan tersebut harus

diselidiki terlebih dahulu dalam hal kesehatan dan ahlaknya. Pandai-pandailah

dalam memilih prempuan yang akan mengemban tugas ini. Sebab air susu ini

34
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah Pesan, Kesan Dan Keserasian Al-Qur‟an Cet-1
(Jakarta: Penerbit Lentera Hati, 2000), h. 471.
terbuat dari darah, kemudian dihisap oleh bayi dan tumbuh dalam badan bayi

menjadi daging dan tulang. Dengan demikian, maka bayi tersebuat telah

mendapatkan pengaruh dari perempuan yang menyusuinya, Baik dalam kesehatan

maupun dalam karakternya. Terkadang pengaruh kejiwaan dan kecerdasan akal

lebih besar dari pada pengaruh yang bersifat jasmaniyah, meskipun pengaruh

suara juga dapat membakas pada diri bayi. Jika memang demikian, maka

pengaruh kecerdasan akal, perasaan dan watak prempuan tersebut jelas lebih besar

dan lebih kuat.35

Dalam hal ini, kaum musliminlah yang beruntung. Sebab, agama meraka

memberi petunjuk kepada meraka hal-hal yang mendatangkan maslahat dan

mendidik anak-anak dan membina ahlak mereka. Sebagian ulama mengatakan

bahwa menyusui bayi sebaiknya dilakukan oleh ibu sendiri dan tidak wajib

atasnya. Kecuali jika bayi tersebut hanya mau mengisap air susu ibunya dan tidak

mau menghisap air susu orang lain, sebagaimana yang sering kita saksiakan pada

sebagian bayi.36

Hikmah ditetapkannya pembatasan waktu menyusui bayi dengan masa ini

ialah, agar kepentingan bayi benar-benar diperhatikan. Air susu adalah makanan

utama bayi pada umur seperti ini. Dan ia sangat memerlukan perawatan yang

sangat seksama dan tidak mungkin dilakukan oleh orang lain kecuali ibunya

sendiri. Dan apanila kedua orang tuanya melihat adanya maslahat dalam

memisahkan bayi dari ibunya kurang dari dua tahun, maka kedua orang tua harus

35
Ahmad Mushthafa Al-Maraghy, Tafsir Al-Maraghy Terjemah (Semarang: Toha Putra,
1984), h. 344.
36
Ibid. h. 346.
memelihara kesehatannya dengan sebaik-baiknya. Sebab, ada sebagian bayi yang

tidak mau menghisap lagi air susu ibu sebelum cukup dua tahun, hingga harus

diberi makanan lembut sebagai gantinya.37

Surat An-Nisaa ayat 23:

     

Artinya:“Ibu-ibumu yang menyusui kamu dan saudara perempuan sepersusuan.”

(QS. An-Nisa: 23).38

Dalam bahasa minang, kemenakan. “ibu-ibumu yang telah pernah menyusui

kamu. Inilah satu mahram tambahan yang dikatakan oleh ketentuan syara‟.

Bahwasanya perempuan yang telah pernah kita cucut air susunyya, telah

menyusui kita sebagai anak sendiri, jadilah dia ibu kita pula; haram dinikahi.

Itulah sebabnya, maka setelah Bani Sa‟ad dapat dikalahkan dalam peperangan

Humain, dibawa oranglah seorang perempuan tua kehadapan Rasulullah (usia

Rasul ketika itu telah 62 tahun), sebagai tawanan. Ternyata perempuan itu ialah

halimah As-Sa‟diah yang menyusui beliau waktu kecil. Dengan terharu

disuruhnya perempuan itu duduk keatas hamparan tempat beliau duduk. Setelah

perempuan tua itu duduk, Nabi kita duduk dihadapan haribannya, lalu beliau

sandarkan kepalanya keatas dada beliau. Sehingga terbayanglah kembali peristiwa

60 tahun yang lalu, ketika Nabi kita masih di dalam asuhan dan penyusuan

37
Ibid.
38
Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur‟an, Op. Cit. h. 81.
perempuan itu didesa Bani Sa‟ad. Beliau tanyakan kepadanya dari hal saudara-

saudara sepersusuannya. Rupanya ada yang telah mati dan ada yang masih hidup.

Yang masih hidup itu ada yang turut datang sekarang mengharapkan belas kasih

beliau. Dengan ini beliau telah memberikan teladan bagaimana mengasihi

seseorang ibu yang pernah telah kita minum dan kita cicip air susunya.

“saudara-saudara perempuan kamu sepersusuan”

Karena itu yang menyusui itu telah dihukumkan sebagai ibu kandung,

niscaya sekalian saudara yang telah turut mengecap, mencicip air susu itu dengan

sendirianya telah jadi saudara pula, tidak boleh dinikahi lagi.

Dan termasuk pulalah disini dengan sendirinya saudara lain yang sama-

sama menyusui dari perempuan yang telah menyusuinya itu. Seumpama

hubungan sepesusuan antara Rasul SAW dengan pamannya Hamzah bis Abi

Thalib yang syahid dalam perang Uhud. Pada waktu sama-sama menyusui Nabi

dan Hamzah sama disusui oleh seorang perempuan bernama Tsusaibah, hamba-

sahaya Abu Lahab. Hamzah mati meninggalkan seorang anak perempuan yang

sudah patut dinikahi, lalu ditawarkan kepada Rasul SAW supaya beliau sudi

menikah dengan anak Hamzah itu. Maka beliau tolak dengan sabdanya 39:

,‫ ِاَّنَّ َا ْابْيَة َا ِ ْ ِم َن َّامرضَ اػَ ِة‬, ْ ِ ‫ فَ َلا َل ( ِاَّنَ َا ََل َ َِت ُّل‬.‫ُا ِريْدَ ػَ ََّل ابْيَ ِة َ َْح َز َة‬ ‫َغ ِن ا ْب ِن َغبَّ ٍاس َا َّن اميَّ ِ ِ ِّب‬

َِ ‫اَي ُر ُم ِم َن امً َّ َس ِب) ُمتَّ َفقٌ ػَلَ ْي‬


ْ َ ‫َو َ َْي ُر ُم ِم َن َّامرضَ ا ػَ ِة َم‬

39
Prof. Dr. H. Abdhumalik Abdhulkarim Amrullah (HAMKA), Tafsir Al-Azhar Juzu 4-5-
6 (Jakarta: Yayasan Nurul Islam, 1984), h. 348.
Artinya: Dari Ibnu Abbas. Bahwasannya Nabi saw. Diminta menikah dengan

anak Hamzah. Maka sabdanya :“Sesungguhnya ia tidak halal bagiku,

lantaran ia itu anak bagi saudara susuku; karena haram dari

persusuan itu apa-apa yang haram dengan sebab nasab”

muttafaq‟alaihi. 40

Dan pernah pula seseorang bertanya kepada Ibnu Abbas tentang dua orang

perempuan bersaudara. Seorang antaranya menyusui seorang anak perempuan dan

yang seorang lagi menyusui seorang anak laki- laki, bolehlah anak laki-laki itu

menikahi anak perempuan tadi. Ibnu Abbas menjawab: “ Tidak boleh! Karena

pesusuan satu.”

Dan tersebut pula dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Bukhori dan

Muslim juga, bahwa Nabi pernah bersabda:

‫ا َّن َّامرضَ اػَ َة ُ ََت َر ُم َما ُ ََت َر ُم امْ ِ ََل َ ُة‬


‫ِإ‬
Artinya: “Sesungguhnya penyusuan itu mengharamkan sebagaimana haramnya

kelahiran”

Lantaran itu, maka suami perempuan yang menyusui seorang anak

perempuan menjadi ayah bagi yang disusui itu, tidak boleh mereka menikah.

40
A. Hassan, Terjemah Bulughul-Maram Cet-XXVIII (Bandung: CV. Penerbit
Diponegoro, 2011), h. 509-510.
Pendeknya, yang telah dikerjakan turun-temurun dalam Islam jelaslah, bahwa

perempuan yang pernah menyusui seseorang, jadi ibu baginya.41

Dalam hal ini, donor air susu ibu mengambil mengambil dasar hukum

yang terdapat didalam Al-Qura‟an surat Al-Maa‟idah ayat dua yang berkaitan

dengan tolong menolonglah kamu dalam kebajikan, maka dari itu seorang wanita

boloh memberikan air susu ibu kepada bayi yang bukan anak kandungnya.

Surat Al-Maa‟idah ayat 2:

  َ‫ﷲ‬           
 َ‫ﷲ‬

Artinya:“Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan

takwa, dan janganlah tolong menolong dalam perbuatan dosa dan

pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah

Amat berat Siksa-Nya.”(QS. Al Maidah: 2).42

Firman Allah, bekerja samalah dalam kebaikan dan takwa dan janganlah

bekerja sama dalam berbuat dosa dan permusuhan.”Allah Ta‟ala menyuruh

hamba-hamba-Nya yang beriman supaya tolong-menolong dalam mengerjakan

berbagai kebaikan, yaitu kebaikan dan dalam meninggalkan aneka kemungkaran,

41
Abdhumalik Abdhulkarim Amrullah (HAMKA), Op. Cit. h. 349.
42
Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur‟an, Op. Cit. h. 106 .
yaitu ketakwaan, serta melarang mereka tolong-menolong dalam melakukan

kebatilan dan bekerja sama berbuat dosa dan keharaman.43

Surat Al-Mumtahanah ayat: 8.

          ُ‫ ﷲ‬ 

  ُ‫ ﷲ‬     

Artinya:“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil

terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karna Agama dan tidak

(pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai

orang-orang yang berlaku adil.”(QS. Al Mumtahanah: 8).44

Ayat diatas secara tegas menyebut nama Yang Maha Kuasa dengan

menyatakan: Allah yang memerintahkan kamu bersikap tegas terhadap orang

kafir-walaupun tidak melarang kamu karena agama dan tidak pula mengusir

kamu dari negri kamu. Allah tidak melarang kamu berbuat baik dalam bentuk

apapun bagi mereka dan tidak juga melarang kamu berlaku adil kepada mereka.
45

43
Muhamad Nasib Ar-Rifa‟i, Kemudahan Dari Allah Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir
(Jakarta: Gema Insan, 1999), h. 14.
44
Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur‟an, Op. Cit. h. 550.
45
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah Pesan, Kesan Dan Keserasian Al-Qur‟an
(Jakarta: Penerbit Lentera Hati, 2002), h. 168.
2. Hadits Nabi

َ َ ْ ‫ِضﷲُ َغ ْي َُ كَ َال كَ َال َر ُس ُل َّ ِ َ َِّل ﷲُ ػَلَ ْي َِ َو َس َّ ََّل ََل َرضَ ا َع ا ََّل َما َأو‬
‫َشام َؼ ْظ َم‬ َ ِ ‫َو َغ ِن ا ْب ِن َم ْس ُؼ ٍ َر‬
‫ِإ‬
) َ ‫َو َأهْبَ َت َانل َّ ْح َم ( َر َوا ٍُ َأب ُ َُاو‬

Artinya: “Dari Ibnu Mas‟ud ra. Bahwa Rasullullah Saw. Bersabda,”Tidak ada

persusuan (yang menjadikan mahram) kecuali persusuan yang dapat

menguatkan tulang dan menumbuhkan daging.”Riwayat Abu

Dawud”.46

Kesimpulan Hadis:

1. Persusuan dapat mengakibatkan hubungan persaudaraan (mahram), yang

haram terjadi pernikahan padanya.

2. Sahnya hubungan persusuan (menurut pendapat yang lebih kuat) adalah

yang dilakukan pada masa-masa bayi dan belum disapih, yaitu sebelum

umur maksimal (dua tahun).47

Selain Al-Qura‟an dan Hadits, Qaidah Fiqhiyyah juga diambil sebagai dasar

hukum donor air susu ibu antara lain:

3. Qaidah Fiqhiyyah

‫نِلْ َ َسا ِ َل ُ ْ ُ امْ َم َل ِاص ِد‬

46
Imam Ibnu Hajar Al-„Asqalany, Op. Cit. h. 664.
47
Ibid.
Artinya: “Hukum sarana adalah mengikuti hukum capaian yang akan dituju”.48

ُ ْ ‫َا َ ْص ُل ِ ْا َبْ َ ا عِ املَّ ْح ِر‬


Artinya: “Hukum asal melakukan hubungan seks (antara pria dan wanita) adalah

haram”.49

‫ثَ َ ُّ ُ اَل َما ِم ػَ ََّل َّامر ِغ َّي ِة َمٌُ ْ ٌ ِ مْ َم ْ لَ َ ِة‬


‫ِإ‬
Artinya: “Tindakan pemimpin (pemegang otoritas) terhadap harus mengikuti

kemaslahatan”.50

C. Manfaat Air Susu Ibu bagi Bayi


ASI sangat dianjurkan untuk menjadi makanan pokok bagi si bayi

karena beberapa hal, antara lain sebagai berikut:

1. Serat makanan bagi bayi

Kondisi bayi yang masih sangat lemah termasuk fisiknya, menyebabkan

tidak semua makanan baik untuk bayi. Karena untuk menjamin kesehatan

dan pertumbuhanya diperlukan beberapa syarat makanan yang layak untuk

bayi, antara lain:

a. Memenuhi kecukupan energi dan semua zak gizi sesuai umur;

b. Sesuai dengan pola menu seimbang;

c. Bentuk dan porsi disesuaikan dengan daya terima, toleransi, dan

keadaan faal bayi;

48
Majelis Ulama Indonesia, Himpunan Fatwa MUI Bidang Sosial dan Budaya (Jakarta:
Erlangga, 2015), h. 419.
49
Ibid.
50
Ibid.
d. Kebersihan terjaga.

Dari syarat-syarat tersebut, hanya ASI-lah yang cocok untuk digunakan

oleh bayi terutama dalam usia1-6 bulan pertama.

2. Kandungan ASI

ASI merupakan susu yang murni dan steril sehingga sangat mendukung

kesehatan bayi, sehingga bayi tidak mungkin bayi akan mendapatkan

infeksi usus bila hanya mengonsumsi ASI saja. Dari berbagai penelitian

ditemukan bahwa bayi menerima berbagai kekebalan tubuh terhadap

berbagai infeksi dari cairan kolostrom dan melalui ASI. Dalam ASI sendiri

mengandung semua zat yang diperlukan oleh bayi, antara lain protein,

lemak, laktosa (gula susu), vitamin zat besi, air, garam, kalsium, dan

fostat. Adapun komposisi ASI dapat diuaraikan sebagai berikut.

a. Colostrom, dihasilakan hari ke-1-3 setelah bayi lahir, manfaatnya

sebagai berikut:

1). Sebagai pembersih selaput usus bayi yang baru lahir;

2). Mengandung kadar protein yang tinggi;

3). Mengandung zat ati biotik.

b. ASI masa transisi, dihasilakan hari ke-4-10.

c. ASI motur, dihasilkan hari ke-10 sampai seterusnya

3. Keuntungan ASI adalah sebagai berikut.

a. Mengandung semua zat gizi dalam susunan dan jumlah yang cukup

untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi selama 4-6 bulan pertama.

b. Tidak memberatkan fungsi seluruh pencernaan dan gijal bagi bayi.


c. Mengandung berbagai zat antibodi, sehingga mencegah terjadinya

infeksi.

d. Mengandung B-laktoglobulin yang tidak menyebabkan elergi.

e. Selalu segar dan terbebas dari kuman.

f. Dapat berfungsi menjarakan kelahiran.

g. Membina hubungan yang hangat dan penuh kasih sayang antara ibu

dan bayi.51

ASI selain sangat penting bagi bayi juga sangat bermanfaat bagi ibu

dan keluarga, antara lain karena:

a. Ekonomis, karena sangat menghemat belanja;

b. Praktis, karena dimanapun suhu, ASI selalu ideal dan siap dikonsumsi;

c. Tidak perlu mencuci dan mensterilkan bola;

d. Tidak perlu bingung untuk menyimpan;

e. Hisapan bayi akan dapat mempercepat kembalinya atau mengencangkan

uterus atau rahim setelah melahirkan;

f. Membantu terjadinya ikatan batin diantara ibu dengan anaknya;

g. Resiko alergi kecil (tidak mengandung betalaktoglobulin)

h. Memberikan kepuasan bagi ibu.52

Adapun manfaat memberikan ASI untuk bayi bagi negara, antara lain:

a. Menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi;

b. Menghemat devisa negara;


51
Ahsin W. Al-Hafidz, Fiqih Kesehatan (Jakarta: Amzah, 2007), h. 263.
52
Ibid, h. 266.
c. Mengurangi subsidi untuk rumah sakit;

d. Meningkatkan kualitas generasi penerus.53

D. Pendapat Ulama

1. Pendapat Zainudin bin Abdul Al-Malibari dalam Kitab Fathul Muin (bab

nikah) wanita mahram terdapat pada sejumlah wanita yang sulit dihitung :

‫ُسػَدُّ ُ َُّن ػَ ََّل ْا ٓ َحا ِ َ ََكمْ ِف ا ْم َر َأ ٍةىَ َك َح َم ْن‬


َ ُ ‫( فَ ْر ٌع ) م َ ِ ا ْخ َتلَ َط ْت ُم َح َّر َم ٌة ِب ًِ ْس َ ٍةغَ ْ ِْي َم ْح ُ َ ٍات ِبأَ ْن ي َ ْؼ‬

‫َ َاا ِمْنْ ُ َّن ا َِل َأ ْن ثَ ْب َق َوا ِحدَ ٌةػَ ََّل ْا َ ْر َ ِح‬


‫ِإ‬

Artinya : Andaikata terhadap sejumlah wanita yang bilangannya sulit dihitung


secara satu persatu, misalnya jumlah mereka ada seribu orang,
sedangkan diantara mereka terhadap wanita yang muhrim bagi lelaki
yang bersangkutan, maka ia boleh menikahi siapapun diantara mereka
yang disukainya, hingga jumlah mereka hanya tinggal satu orang,
menurut pendapat yang paling kuat.54

.‫َوا ْن كَدَ َر َوم َ ْ ُِسُِ ْ َ ٍ ػَ ََّل ُمتَ َيلٌََّ ِة ْا ِ ِ ّل ِٔأ ْو ِب َم ْح ُ ْ ِر ٍات َ ِؼ ْ ِ ْ َن ب َ ْل ِما َ ٍةمَ ْم ي َ ْي ِك ْح ِمْنْ ُ َّن َ ْ ًا‬
‫ِإ‬
Artinya: Tetapi jikalau ia mampu menghitungnya untuk mengetahui secara yakin
wanita mana saja yang dikawininya, atau wanita yang mahram itu
bercampur dengan sejumlah kaum wanita yang terbatas bilangannya,
misalnya dua puluh bahkan bahkan seratus orang wanita, maka ia tidak
boleh menikahi seorang pun dari mereka (sebelum dia menyeleksi mana
yan mahram dan mana yang bukan mahram). 55

ٍُ ‫ َ َمَكا ْس َل ْظِ ََر‬-‫ه َ َؼ ْم ا ْٕن كَ َط َع ِب َل َم ُّ ُِّيَُا َ َس ْ َا َاا ْختَلَ َط ْت ِب َم ْن ََل َس َ ا َ ِفْيْ ِ َّن مَ ْم َ َْي ُر ْم غَ ْ ُْيَُا‬
‫ِإ‬
.‫َ ْي ُخيَا‬
53
Weni Kristiyanasari, ASI, Menyusui dan Sadari (Yogyakarta: Nuha Medika, 2011), h.
22.
54
Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibari al-Fannani, terjemahan Fat-hul Mu‟in (Bandung:
Sinar Baru Algensindo, 2016), h. 1202-1203.
55
Ibid.
Artinya: “Memang diperbolehkan ia menikahinya, jika secara pasti ia dapat
membedakan. Misalnya wanita yang mahramnya itu berkulit hitam,
tetapi ditengah-tengah kaum wanita yang kulitnya tidak hitam, maka
tidak haram baginya menikahi wanita selainnya. Demikianlah
pendapat yang dianggap kuat oleh guru kami.56

Penulis menyimpulkan bahwa apa bila ada seseorang laki-laki yang ingin

menikah tetapi ragu karena terdapat satu wanita yang merupakan saudara

sepersusuan dan telah berpisah sejak lama bahkan tidak diketahui lagi

identitasnya, kemudian wanita tersebut tercampur bersama wanita-wanita lain

yang sulit dihitung maka laki-laki tersebut boleh menikahi salah satu dari wanita

tersebut. Karena Islama adalah agama yang tidak memaksakan hukum terhadap

manusia yang tidak mampu melaksanakannya sesuatu yang haram dalam keadaan

darurat juga bisa menjadi halal, hal ini disadari bawha manusia memiliki

kemampuan yang terbatas. Seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur‟an surat Al-

Baqarah ayat: 185

َ‫ﷲ‬         ُ‫ﷲ‬
    

Artinya: Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki

kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan

hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan

kepadamu, supaya kamu bersyukur. (Al-Baqarah ayat 185)57

56
Ibid
57
Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur‟an, Op. Cit. h. 28.
Namun apa bila wanita tersebut tercampur dengan wanita-wanita yang

mudah untuk dihitung maka laki-laki tersebut wajib untuk menyeleksi dan

mencari mana wanita yang mahram akibat sepersusuan dan mana wanita yang

bukan mahram, jika secara pasti ia dapat membedakan wanita mahramnya,

misalnya wanita mahramnya berkulit hitam tetapi dia tercampur bersama wanita-

wanita yang kulitnya tidak hitam maka tidak haram baginya menikahi wanita

selainya. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya pernikahan sepersusuan,

karena saudara sepersusuan termasuk larangan pernikahan abadi.

2. Pendapat asy-syayrazi dalam kitab al-Muhadzdzab (4/587):

‫ات انل َّ ْح ِم‬ ِ ‫لَب ا َِل َ ْي ُث ي َ ِ ُل ِ َِل ْرثِ َ اعِ َو َ َْي ُ ُل ِب َِ ِم ْن اهْ َب‬ ُ َ َّ ‫َويَثْبُ ُت املَّ ْح ِر ْ ُ ِ مْ َ ُ ْ ِر َه َّ َُ ي َ ِ ُل ان‬
‫ِإ‬ ‫ِإ‬
ِ ْ ‫ فَ ََك َن َس ِب ْي ًال ِم َل ْح ِر‬، ‫اِئ‬ِ ِ َّ ‫َواهْ ِتشَ ِارامْ َؼ ْظ ِم َما َ َْي ُ ُل ِ َّمرضَ اعِ َويَثْبُ ُت ِ َّمس ُؼ ْ ِ َه َّ َُ َس ِب ْي ُل ِم ِف ْط ِرام‬
‫َّامرضَ اعِ َ مْ َف ِم‬

Artinya: “Berlakunya hukum mahram (karena persusuan) dapat melalui proses


al-wajur memasukan air susu ke tenggorokan tanpa proses menyusui
langsung karena proses tersebut menyebabkan masuknya ASI kepada
bayi seperti proses pemberian ASI secara langsung. Masuknya ASI
tersebut dengan proses al-wajur juga berperan dalam pertumbuhan
daging dan tulang seperti proses pemberian ASI langsung. Hukum
mahram (karena persusuan) juga berlaku melalui proses as-sa‟uth
memasukan ASI melalui hidung, karna hal itu dapat membatalkan
puasa, maka dapat dianalogikan sama seperti masuknya ASI melalui
mulut”.58

Susuan yang menimbulkan mahram adalah susuan yang menghilangkan

rasa lapar, karna hal tersebut akan terbentuknya pertumbuhan daging dan tulang.

58
Majelis Ulama Indonesia, Op. Cit, h. 421.
Apapun caranya baik menggunakan suntikan yang sudah dijelaskan dalam pasal

11 tentang air susu ibu eklusif, penulis sependapat dengan pendapat ulama asy-

syayrazi, karna apapun bentuk dan caranya yang dapat memasuknya ASI kedalam

tubuh bayi akan mengakibatkan mahram. Karna hal tersebut sama-sama akan

menjadikan pertumbuhan daging dan tulang.

3. Pendapat Ibnu Qudamah dalam kitab al-Mughni (11/313):

ِ ‫ َو َ َْي ُ ُل ِب َِ ِم ْن اهْ َب‬، ِ‫َ اع‬


‫ات انَّل ْح ِم َوِاهْث َِازامْ َؼ ْظ ِم‬ ِ‫لَب ا َِل َ ْي ُث ي َ ِ ُل ِ َِل ْرث‬ ُ َ َّ ‫َو ّٔ َّن ُ ََذا ي َ ِ ُل ِب َِ ان‬
‫ِإ‬ ‫ِإ‬
‫املَّ ْح ِر ْ ِ ’ َوا َه ُْف َس ِب ْي ُل امْ ِف ْط ِنرل َّ ا ِ ِِئ فَ ََك َن‬ ِ َُ َ ‫ فَ َي ِج ُب َأ ْن ي َُسا ِوي‬، ِ‫َما َ َْي ُ ُل ِم ْن ا َِل ْرثِ َ اع‬
‫َس ِب ْي ًال نِللَّ ْح ِر ْ ِ َ َّمرضَ اعِ ِ مْ َف ِم‬

Artinya: “Hal seperti ini- memasukan ASI tanpa proses langsung-menyebabkan


ASI masuk kedalam perut bayi, tidak berbeda dengan proses pemberian
ASI secara langsung dalam menumbuhkembangkan daging dan tulang,
sehingga hukum keduanya- pemberian ASI secara langsung atau tidak
langsung adalah sama yaitu, berlakunya hukum mahram (karena
persusuan).” 59

Terjadinya mahram akibat sepersusuan adalah ketika menyusui seorang

anak yang belum mencapai umur dua tahun dan menyusui sampai menghilangkan

rasa lapar. Sesuai dengan hadis Nabi Saw :

‫ِض ﷲُ َغْنْ َا كَام َ ْت كَ َال َر ُس ُل ﷲِ َص ََّّل ﷲُ ػَلَ ْي َِ َو َسل َّ َـم ُاه ُْظ ْر َن َم ْن ا ْخ َ ا ُى ُك َّن فَاه َّ َما َا َّمر‬
َ ِ ‫َو َغْنْ َا َر‬
‫ِإ‬ ‫ِإ‬
)َِ ‫ضَ اػَ ُة ِم َن امل َ َجا ػَ ِة ( ُمتَّ َفقٌ ػَلَ ْي‬

59
Ibid . h. 422.
Artinya: “ Dari Aisyah r.a. bahwa Rasulullah Saw. Bersabda, “(wahai kaum

wanita) lihatlah saudara-saudara kalian (sesusuan). Hubungan

saudara sesusuan itu terjadi jika menyusui untuk menghilangkan rasa

lapar.” Muttafaq „Alaih.60

Hadis diatas menunjukan bahwa susuan yang menyebabkan seorang

menjadi mahram adalah susuan dikarnakan menghilangkan rasa lapar (maja‟ah).

Menghilangkan rasa lapar dapat terpenuhi dengan dengan makan. Proeses makan

terjadi ketika anak memakan dengan cara wajar, dimulai dari memasukan

makanan kedalam mulutnya, mengunyah (mengisap susu baik melalui puting ibu

ataupun melalui botol yang berisi air susu ibu) kemudian menelan air susunya.

Sekalipun penyusuan tidak dilakukan secara langsung sebagaimana seorang ibu

yang menyusui anaknya, tetapi keduanya sama-sama dapat menghilangkan rasa

lapar. sehingga hukum keduanya- pemberian ASI secara langsung atau tidak

langsung adalah sama yaitu, berlakunya hukum mahram (karena persusuan).

4. Pendapat sebagian ulama seperti disebutkan dalam kitab al-Mughni

(6/363):

ُ ُ‫ َو ُُ َ َم ْذ‬, َِ ‫َو َذُ ََب َ ََجا ػَ ٌة ِم ْن َأ ْْصَا ِب َيا ا َِل َ َْت ِر ْ ِ ب َ ْي ِؼ‬
ٍ ِ ‫َـب َأ ِِب َ ٌِ ْي َف َة َو َم‬
‫ ِمـأَه َ َُ َما ٌع َخ ِر ٌج‬, ‫اِل‬
‫ِإ‬
َِ ِ ‫ َو ِمـأَه َّ َُ ِم ْن أ ٓ َ ِم ّ ٍي فَأَ ْ َب َُ َسا ِ َر َأ ْ َزا‬, ‫ِم ْن أ ٓ َ ِميَّ ٍة فَ َ َّْل َ َُي ْزب َ ْي ُؼ َُ َ مْ َؼ َر ِق‬

Artinya: “sebagai sahabat kami (ulama mazhab Hambali) berpendapat bahwa


memperjualbelikan ASI adalah haram hukumnya. Pendapat ini sesuai

60
mam Ibnu Hajar Al-„Asqalany, Op. Cit. h. 660.
dengan mazhab Abu Hanifah dan Malik. Alasan keharamnnya karena
ASI adalah benda cair yang keluar dari seseorang wanita maka tidak
boleh diperjualbelikan seperti keringat. Alasannya lainya, ASI adalah
bagian dari manusia (yang tidak boleh diperjualbelikan).”61

Praktik jual beli ASI manusia itu sendiri dalam fiqih Islam yang

merupakan cabang hukum yang didalamnya terdapat perbedaan pendapat oleh

para ulama. Adapun perbedaan pendapat tersebut yaitu sebagai berikut:62

a. Pendapat yang mengharamkan: ASI manusia tidak sama seperti benda-

benda yang boleh diperjual belikan karena ASI bukan termasuk dalam

kategori harta, ASI merupakan bagian dari tubuh manusia. Sedangkan

manusia beserta seluruh organ tubuhnya adalah terhormat. Maka menjual

belikan ASI sama saja dengan menjatuhkan derajat kemuliaan manusia.

ASI itu juga hakikatnya adalah restan (organ sisa) yang dikeluarkan dari

tubuh manusia, sama seperti air mata, keringat, ingus dan sebagainya.

Yang tidak boleh diperjual belikan. Dan miskipun suci, tetapi setiap benda

yang suci belum tentu boleh diperjual belikan.

b. Pendapat yang memperbolehkan: ASI itu suci bisa diambi manfaatnya

(Intifa) sehingga boleh dijual seperti halnya air susu hewan. Mengenai

tidak adanya budaya jual beli ASI, hal itu tidak bisa menjadi landasan

bahwa ASI tidak boleh dijual. Sebab, ada juga barang yang jarang dijual

belikan dipasaran, padahal ia boleh diperjual belikan.

61
Ibid .
62
Masjfuk Zuhdi, Masail Fiqhiyah: Kapita Selekta Hukum Islam, Cet. XI (Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada, 2000), h. 157.
Penulis sepajam dengan pendapat yang mengharamkan karena ASI

merupakan bagian dari tubuh manusia. Yang notabennya tidak bisa

diperjualbelikan kecuali menerima upah dari pengorbananya.

5. Pendapat Muhammad Ibnu al-Hasan dalam kitab al-Mabsuth (15/):

‫ِا ْس لِ ْح َلا ُق م َ َ َِب ْا ٓ َ ِميَّ ِة ِب َؼ ْل ِد ْاَل َج َار ِة َ ِم ْي ٌل ػَ ََّل َأه َّ َُ ََل َ َُي ْ ُز ب َ ْي ُؼ َُ َو َ َ ُازب َ ْيع ِ م َ َ َِب ْا َهْ َؼا ِم َ ِم ْي ٌل ػَ ََّل‬
‫ِإ‬
‫َأه َّ َُ ََل َ َُي ْ ُز ِا ْس لِ ْح َلا كُ َُ ِب َؼ ْل ِد اَل َج َار ِة‬
‫ِإ‬
Artinya: “Hak untuk memeroleh upah dari ASI karena sebab akad Ijarah menjadi

dalil tidak diperbolehkan melakukan jual beli ASI, sebagai kebolehan

memperjualbelikan susu binatang menjadi dalil tidak diperbolehkannya

melakukan akad Ijarah untuk memeroleh susu dari binatang

tersebut.”63

Seorang pendonor ASI boleh menerima upah dari pemberian ASI kepada

bayi yang bukan bayi kandungnya sesuai dengan kesepakatan anatara kedua belah

pihak, pendapat Pendapat Muhammad Ibnu al-Hasan sejalan dengan ketentuan

Majelis Ulama Indonesia yang mengatakan boleh memberikan dan menerima

imbalan jasa dalam pelaksanaan donor ASI, dengan catatan; (i) tidak untuk

komersialisasi atau diperjualbelikan. (ii) ujrah (upah) diperoleh sebagai jasa

pengasuhan anak, bukan sebagai bentuk jual beli ASI.

63
Ibid. h. 423.
BAB III
ISTIRDLA’ DALAM PRESPEKTIF MAJELIS ULAMA INDONESIA
(MUI)

A. Profil Majelis Ulama Indonesia

1. Sekilas Profil Majelis Ulama Indonesia

Majelis Ulama Indonesia (MUI) berdiri pada tanggal 17 Rajab 1395

Hijriyah bertepatan dengan tanggal 26 Juli 1975 Miladiyah. Majelis Ulama

Indonesia (MUI) hadir kepentas sejarah ketika bangsa Indonesia tengah pada fase

kebangkitan kembali, setelah selama tiga puluh tahun sejak kemerdekaan energi

bangsa lebih banyak tererap dalam perjuangan politik didalam negeri maupun

forum internasional, sehingga kesempatan untuk membangun menjadi bangsa

yang maju berakhlak mulia kurang diperhatikan.

Pendirian MUI dilatar belakangi adanya kesadaran kolektif pimpinan umat

Islam bahwa Indonesia memerlukan suatu landasan kokoh bagi pembangunan

masyarakat yang maju dan berakhlak. Karena itu, keberadaan organiasi para

ulama, zuama, dan cendekiawan muslim ini merupakan konsekuensi logis dan

persyaratan bagi perkembangan hubungan yang harmonis antara berbagai potensi

yang ada untuk kemaslahatan seluruh rakyat Indonesia.

Sebelum MUI didirikan, telah digelar beberapa kali pertemuan yang

melibatkan ulama dan tokoh-tokoh Islam. Pertemuan tersebut mendiskusikan

gagasan akan pentingnya keberadaan majelis ulama yang menjalankan Fungsi

ijtihad kolektif dan memberikan masukan dan nasihat keagaman kepada


pemerintah dan masyarakat. Pada tanggal 30 September hingga 4 Oktober 1970

diselenggarakan sebuah konferensi di Pusat Dakwah Islam. Konferensi terebut

bertujuan untuk membentuk sebuah majelis ulama yang berfungsi memberikan

fatwa.64

Ulama Indonesia menyadari dirinya sebagai pewaris tugas-tugas para Nabi

(warasatul anbiya) pembawa risalah Ilahiyah dan pelanjut misi yang diemban

Rasul Muhammad SAW. Mereka terpanggil bersama-sama Zuama dan

Cendekiawan Muslim untuk memberikan kesaksian akan peran kesejarahan pada

perjuangan kemerdekaan yang telah mereka berikan pada masa penjajah, serta

berperan aktif dalam membangun masyarakat dan mensukseskan pembangunan

melalui berbagai potesi yang mereka miliki dana wadah Majelis Ulama Indonesia.

Ihtiyar-ikhtiyar yang dilakukan Majelis Ulama Indonesia senantiasa ditunjukan

bagi kemajuan agama, bangsa, dan negara baik pada masa lalu, kini maupun

sekarang.

Para Ulama, Zama dan Cendekiawan Muslim menyadari bahwa terdapat

hubungan timbal balik saling memerlukan antara Islam dan negara. Islam

memerlukan negara sebagai wahana mewujudkan nilai-nilai universal Islam

seperti keadilan, kemanusiaan, perdamaian sedangkan negara Indonesia

memerlukan Islam sebagai landasan pembangunan masyarakat yang maju dan

berakhalak. Oleh karna itu, keberadaan organisasi para ulama, Zuama dan

cendekiawan muslim satu konsekuensi logis dan prasyarat berkembangnya

64
M. Asrorun Ni‟am Sholeh, Metodologi Penetapan Fatwa Majelis Ulama Indonesia
(Jakarta: Emir, 2016), h. 67.
hubungan yang harmosis antara berbagai potensi untuk kemaslahatan seluruh

rakyat Indonesia.65

2. Visi dan Misi Majelis Ulama Indonesia

Visi Majelis Ulama Indonesia

Terciptanya kondisi kehidupan yang bermasyarakat berbangsa dan

bernegara yang baik, yang memperoleh ridho dan ampunan Alloh

SWT (baldatun thoyibatun wa robbun ghofur) menuju masyarakat

berkualitas (khoro ummah) demi terwujudnya kejayaan Islam dan

kaum muslimin (izzul Islam wal muslimin) dalam wadah NKRI.

Misi Majelis Ulama Indonesia

a. Menggerakkan kepemimpinan dan kelembagaan umat secara

efektif dengan menjadikan Ulama sebagai panutan (qudwah

hasanah);

b. Melaksanakan dakwa Islam, amar ma‟ruf nahi munkan dalam

mengembangkan akhlakul karimah agar terwujud masyarakat

berkualitas dalam berbagai aspek kehidupan;

c. Mengembangkan ukhuwah Islamiyah dan kebersamaan dalam

mewujudkan persaatuan dan kesatuan umat Islam diseluruh

NKRI.66

65
Muhammad Ali Mukhtar, “Studi Analisis Tentang Fatwa Mui Nomer 28 Tahun 2013
Tentang Donor Asi (ISTIRDHA) Kaitan Dengan Radla‟ah Dalam Perkawinan”. (Skripsi Program
Strata Satu Fakultas Syari‟ah Universitas Islam Negri Walisongo, Semarang: 2015), h. 56.
3. Peran Majelis Ulama Indonesia

a. Sebagai pewaris tugas para Nabi (waratsatul anbiya)

Majelis Ulama Indonesia berperan sebagai pewaris tugas-tugas

para Nabi, yaitu menyebarkan ajaran Islam seta memperjuangkan

terwujudnya suatu kehidupan sehari-hari secara arif dan bijaksana yang

berdasarkan Islam.

b. Sebagai pemberi fatwa (mufti)

Majelis Ulama Indonesia berperan sebagai pemberi fatwa bagi

umat Islam baik diminta maupun tidak diminta. Sebagai lembaga pemberi

fatwa Majelis Ulama Indonesia mengakomodasi dan menyalurkan aspirasi

umat Islam Indonesia yang sangat beragam aliran paham dan pemikiran

serta organisasi keagamaan.

c. Sebagai pembimbing pelayan umat (khadimul ummah)

Majelis Ulama Indonesia berperan sebagai pelayan umat (khadim

al ummah), yaitu melayani umat Islam dan masyarakat luas dan memenuhi

harapan, aspirasi dan tuntunan mereka. Dalam kaitan ini Majelis Ulama

Indonesia senantiasa berikhtiyar memenuhi permintaan umat Islam, baik

langsung maupun tidak langsung, akan bimbingan dan fatwa keagamaan.

d. Sebagai gerakan Islam wal tajdid

Majelis Ulama Indonesia berperan sebagai pelopor islah yaitu

gerakan pembaharuan pemikiran Islam. Apabila terjadi perbedaan pendapat

dikalangan umat Islam maka Majelis Ulama Indonesia dapat menempuh


66
Majelis Ulama Indonesia Provinsi Lampung, Kilas Balik 40 Tahun Majelis Ulama
Indonesia Provinsi Lampung Berkarya Untuk Umat (Bandar Lampung: Mui Profinsi Lampung,
2014), h, 8.
jalan tajdid yaitu gerakan pembaharusan gerakan pemikiran Islam. Apabila

terjadi perbedaan pendapat dikalangan umat Islam maka Majelis Ulama

Indonesia dapat menempuh jalan taufiq (kompromi) dan tarjih (mencari

hukum yang lebih kuat). Dengan demikian diharapkan tetap terpeliharanya

semangat persaudaraan dikalangan umat Islam Indonsia.

e. Sebagai penengak amar makruf dan nahyi mungkar

Majelis Ulama Indonesia berperan wahana amar makruf dan nahyi

mungkar, yaitu dengan menegaskan kebenaran sebagai kebenaran dan

kebatilan sebagai kebatilan dengan penuh hikmah dan istiqomah.67

B. Landasan Hukum Fatwa Mui Tentang seputar Donor Air Susu Ibu (Istirdla’)

Landasan hukum dalam menentukan suatu keputusan menjadi bagian

terpenting dari suatu keputusan itu sendiri, hal ini disebabkan karena tidak

mungkin ada suatu keputusan tanpa adanya sebab permasalahannya, oleh sebab

itu landasan hukum dapat juga menjadi sebab munculnya suatu keputusan dan

juga sebagai penguat ditetapkannya keputusan agar tidak terjadi kerancuan dan

permasalahan-permasalahan yang dapat saja timbul akibat keputusan tersebut,

tidak hanya dalam fatwa MUI, landasan hukum juga sangat diperlukan dalam

perkara-perkara lain agar tidak timbul pertanyaan dan ketegasan dalam

mengambil suatu keputusan.

67
Ibid. h. 64.
Termasuk dalam menentukan keputusan fatwa MUI tentang seputar donor air

susu ibu (istirdha‟) juga terdapat landasan hukumnya, diantara landasan hukum

fatwa MUI terkait istirdha adalah sebagai berikut:

1. Bahwa ditengah masyarakat ada aktivitas berbagi air susu ibu untuk

kepentingan pemenuhan gizi anak-anak yang tidak berkesempatan mem

peroleh air susu ibunya sendiri, baik disebabkan oleh kekurangan suplai ASI

ibu kandungnya, ibunya telah tiada, tidak diketahui ibu kandungnya, maupun

sebab lain yang tidak memungkinkan akses ASI bagi anak.

Pada masa sekarang ini kebutuhan mengenai suplai air susu ibu sangat

diperlukan, dengan keadan dan kondisi yang tidak memungkinkan bayi mendapat

air susu ibu seperti ibu meninggal dunia atau ibu tidak dapat menghasilkan air

susu. Maka permasalah mengenai kebutuhan donor air susu ibu terhadap bayi

yang sulit mendapat air susu ibu menjadi pemasalahan yang darurat (emergency).

Pentingnya air susu ibu dalam ilmu kesehatan disebutkan bahwa ASI adalah

cairan hidup yang mengandung zat kekebalan yang akan melindungi bayi dari

berbagai penyakit infeksi, virus, parasit, dan jamur. Kolostrum mengandung zat

kekebalan 10-17 kali lebih banyak dari susu matang (manture). Zat kekebalan

yang berada pada ASI antara lain akan melindungi bayi dari penyakit mencret

(diare). Pada suatu penelitian diBrasil Selatan bayi-bayi yang tidak diberikan asi

mempunyai kemungkinan meninggal karena mencret 14,2 kali lebih banyak dari

pada bayi ASI eksklusif. ASI juga akan menurunkan kemungkinan bayi terkena
penyakit infeksi telinga, batuk, pilek, dan penyakit alergi. 68 Karena pentingnya

air susu ibu terhadap bayi disebukan juga dalam Al-Qur‟an surat QS. Al-Baqarah

ayat 233 yang berbunyi: Dan ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama

dua tahun penuh, Yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. dan

kewajiban ayah memberi Makan dan pakaian kepada Para ibu dengan cara ma'ruf.

seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. janganlah

seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena

anaknya.69 Oleh sebab itu air susu ibu lebih mengandung banyak manfaat jika

dibadingkan dengan susu formula.

2. Bahwa untuk kepentingan pemenuhan ASI bagi anak-anak tersebut, muncul

inisiasi dari masyarakat untuk mengoordinasikan gerakan berbagai Air Susu

Ibu serta Donor ASI.

Kemajuan didalam bidang iptek dan tuntutan pengembangan yang telah

menyentuh dari berbagai aspek kehidupan sehingga membuat beberapa

kemudahan bagi masyarakat seluruh dunia untuk mengembangkan beberapa

kepentingan bersama, dalam hal ini munculah inisiatif masyarakat untuk

mengordinasikan gerakan berbagai air susu ibu serta donor ASI untuk membantu

ibu-ibu yang yang tidak bisa memenuhi asupan ASI untuk sibayi. Oleh karna itu

sudah merupakan kewajaran dan keniscayaan jika setiap timbul persoalan baru

umat mendapatkan jawaban (Fatwa) yang mengatur tentang donor air susu ibu

yang sesuai dengan ajaran Islam dan memenuhi syariat Islam.

68
Utami Roesli, Mengenal ASI Eksklusif (Jakarta: PT Pustaka Pembangunan Swadaya
Nusantara, 2013), h. 8.
69
Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur‟an, Op. Cit. h. 37.
3. Bahwa ditengan masyarakat muncul pertanyaan mengenai ketentuan Agama

mengenai masalah tersebut diatas serta hal-hal lain yang berkaitan dengan

masalah keagamaan sebagai akibat dari aktivitas tersebut;

Karena adanya gerakan donor air susu ibu tersebut sehingga masyarakat

membutuhkan pedoman yang kaitanya dengan Agama, dan Hadist untuk

mencegah kekeliruan dan merusak nasap bagi pendonor air susu ibu dan bayi

yang menerima donor air susu ibu tersebut. Sehingga lembaga Majelis Ulama

Indonesia mengeluarkan Fatwa yang berkaitan dengan donor air susu ibu sebagai

pedoman ditengah masyarakat.

4. Bahwa oleh karena itu dipandang perlu menetapkan fatwa tentang seputar

masalah donor air susu ibu (istirdha) guna dijadikan pedoman.

Dengan adanya Fatwa dari Majelis Ulama Indonesia sekaligus jawaban

pertanyaan mengenai ketentuan Agama tentang seputar masalah donor air susu

ibu serta hal-hal lain yang terkait dengan masalah keagamaan sebagai akibat dari

aktifitas tersebuat, sehingga perlu adanya Fatwa sebagai pedoman dan jawaban

untuk masyarakat, agar masyarakat mengerti bagaimana keuntungan dan dampak

dari donor air susu ibu tersebut.

C. Substansi Fatwa MUI No. 28 Tahun 2013

A. Ketentuan Hukum

Majelis Ulama Indonesia (MUI) harus membuat fatwa no. 13 tahun 2013

tentang seputar donor air susu ibu, berdasarkan fatwa yang dibuat pada tanggal 13

Juli 2013 ini, setidaknya ada delapan poin ketentuan hukum yang disampaikan
oleh Komisi Fatwa MUI yang dipimpin oleh Prof. Dr. H. Hasanuddin AF, MA. ini

yaitu :

1. Seseorang ibu boleh memberikan ASI kepada anak yang bukan anak

kandungnya. Demikian juga sebaliknya, seorang anak boleh menerima ASI

dari ibu yang bukan ibu kandungnya sepanjang memenuhi syar‟i.

Alasan utama diwajibkannya seorang ibu menyusui anaknya adalah

karena air susu ibu merupakan minuman dan makanan terbaik secara alamiah

maupun medis.70 Oleh Karna itu Islam juga memberikan dukungan untuk

memberikan pertolongan kepada semua yang lemah apapun sebab kelemahannya.

Lebih-lebih bila yang bersangkutan bayi yang prematur yang tidak mempunyai

daya dan kekuatan.71 semua itu dilakukan agar bayi mendapatkan perkembangan

yang sesuai dengan kebutuhan bayi serta meningkatkan kualitas hidup dimasa

yang akan datang, maka perlu adanya peran dari masyarakat khususnya wanita

yang mempunyai kesuburan ASI untuk diberikan kepada bayi yang membutuhkan

dengan ketentuan yang sesuai dari pedoman fatwa MUI dan Peraturan Pemerintah

Republik Indonesia Nomer 33 Tahun 2012 tentang air susu ibu Ekskusif.

2. Kebolehan memberikan dan menerima ASI harus memenuhi kekuatan sebagai

berikut:

a. Ibu yang memberikan ASI harus sehat, baik fisik maupun mental.

Perlu diketahui bahwa Susuan akan mempengaruhi fisik dan psikis anak.

Oleh karena itu, jika hendak menyusukan anak kepada prempuan lain, Islam

70
Ahsin W. Al-Hafidz, Fikih Kesehatan (Jakarta: AMZAH, 2010), h. 262.
71
Ibid. h. 268.
menganjurkan agar orang tua menitipkan anaknya kepada wanita salehah dan

cerdas demi terbentuknya generasi yang unggul dan terdepan.72 Ketentuan ini

sejalan dengan penulis karena ASI merupakan asupan yang sangat diperlukan

untuk pertumbuhan bayi yang belum berusia dua tahun, maka sangat dianjurkan

memilih ibu yang sehat baik fisik maupun mental karena ketentuan tersebut

sangat mempengaruhi kesehatan bayi dan keperibadian anak susu dimasa yang

akan datang.

b. Ibu tidak sedang hamil.

Karena khawatir kekurangan gizi. Ibu hamil sekaligus menyusui harus

mendapat super ekstra asupan gizi. Asupan makanan dengan kandungan protein

dan karbohidrat yang lebih tinggi dibutuhkan seorang ibu yang hamil dan

menyusui, karena keadaan ini memang memerlukan tambahan tenaga. Gizi

terutama kalsium, bisa meminum kalsium posfat 1-2x sehari dan vitamin

kehamilan serta juga lebih sering memakan makanan alami. Dan lebih-lebih

Keadaan fisik dan psikis ibu sang ibu pasti merasa lelah secara fisik dan psikis

saat ini, belum lagi mual dan muntah karena kehamilan (morning sickness). Oleh

karena itu perlu diperhatikan keadaan ibu, jika tidak memungkinkan maka jangan

menyusui ketika hamil, lebih banyak beristirahat.73

3. Pemberian ASI sebagaimana dimaksud pada ketentuan angka 1 menyebabkan

terjadinya mahram (haram terjadi pernikahan) akibat radha (persusuan).

72
Imam Ibnu Hajar Al-„Asqalany, Bulughul Maram Five In One (Jakarta: Noura Books
PT Mizan Publika, 2015), h. 665.
73
Raehanul Bahraen, Menyusui Ketika Hamil, Berbahayakah? (Syariat Dan Medis)
(Agaustus, 2012), h. 3.
Persusuan yang bukan dari ibu kandungnya akan mengakibat saudara

sepersusuan dengan ketentuan ini maka dapat mengharamkan terjadinya

pernikahan hal ini dijelakan dalam hadits Nabi yang berbunyi:

‫اَي ُر ُم ِم َن امً َّ َس ِب‬


ْ َ ‫َ َْي ُر ُم ِم ْن َّامرضَ ا َع َم‬

Artinya:“Diharamkan (untuk dinikahi) akibat sepersusuan apa-apa yang

diharamkan (untuk dinikahi) dari nasab/hubungan keluarga.”74

Demikian juga sabda beliau, yang diriwayatkan dari Abdullah bin Abu

Mulaikah, ia bercerita, bahwa Ubaid bin Abi Maryam memberitahukan kepadaku

dari Uqbah bin Harits, ia menceritakan, aku pernah mendengarnya dari Uqbah,

tetapi aku hafal Hadits Ubaid tersebut. Dan ia bercerita,”Aku pernah menikahi

seorang wanita, lalu seorang wanita hitam datang kepada kami seraya

berkata.‟Sesungguhnya aku telah menyusui kalian berdua.‟ Maka akupun segera

datang kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan kukatakan,‟Aku telah

menikahi Fulanah binti Fulan, lalu seorang wanita hitam datang kepada kami dan

berkata „Sesungguhnya aku telah menyusui kalian berdua.‟ Saya bertanya kepada

Rasullullah,‟ apakah ia telah berdusta?‟ Kemudian beliau berpaling dariku. Ubaid

melanjutkan ceritanya. Selanjutnya ia mengatakan,” Kemudian aku

mendatanginya tepat dihadapan wajah beliau, dan beliaupun tetap memalingkan

wajahnya dariku. Kemudian aku katakan,‟Apakah ia telah berdusta.‟ Maka beliau

74
Imam Ibnu Hajar Al-„Asqalany, Op. Cit. h. 663.
bersabda,” Bagaimana mungkin, sedangkan ia telah mengaku bahwa telah

menyusui kalian berdua. Ceraikanlah istrimu itu.75

4. Mahram akibat persusuan sebagaimana pada angka 2 dibagi menjadi depan

kelompok sebagai berikut:

a. Ushul asy-Syakhsi (pangkal atau induk keturunan seseorang), yaitu:

Ibu susuan (donor ASI) dan ibu dari ibu susuan tersebut terus ke atas

(nenek, buyut dst).

b. Al-Furu‟ min ar-Radha‟ (keturunan dari anak susuan), yaitu: Anak

susuan itu sendiri, kemudian anak dari anak susuan tersebut terus ke

bawah (cucu, cicit dst).

c. Furu‟ al-Abawayni min ar-Radha‟ (keturunan dari orang tua susuan),

yaitu: Anak-anak dari ibu susuan, kemudian anak-anak dari anak-anak

ibu susuan tersebut terus ke bawah (cucu dan cicit).

d. Al-Furu‟ al-Mubasyirah min al-Jaddati min ar-Radha‟ (keturunan dari

kakek dan nenek sesusuan), yaitu: Bibi susuan yang merupakan

saudara kandung dari suami dari donor ASI dan Bibi susuan yang

merupakan saudara kandung dari ibu Donor ASI. Adapun anak-anak

mereka tidaklah menjadi mahram sebagaimana anak paman/bibi dari

garis keturunan.

e. Ummu az-Zawjah wa Jaddatiha min ar-Radha‟ (ibu sesusuan dari Istri

dan nenek moyangnya), yaitu: Ibu susuan (pendonor ASI) dari istri,

kemudian ibu dari ibu susuan istri sampai keatas (nenek moyang).

75
Syaikh Hasan Ayyub, Fikih Keluarga (Jakarta: Al-Kautsar, 2004), h. 188.
f. Zawjatu al-Abi wa al-Jaddi min ar-Radha‟ (istri dari bapak sesusuan

dan kakek moyangnya), yaitu: Istri dari suami ibu pendonor ASI (istri

kedua, ketiga atau keempat dari suami ibu pendonor ASI), kemudian

istri dari bapak suami ibu pendonor ASI sampai ke atas (istri keduan,

ketiga, atau keempat dari bapak suami ibu pendonor ASI sampai ke

kakek moyangnya).

g. Zawjatu al-Ibni wa Ibni al-Ibni wa Ibni al-Binti min ar-Radha‟ (istri

dari anak sesusuan dan istri dari cucu sesusuan serta anak laki-laki dari

anak perempuan sesusuan), yaitu: Istri dari anak sesusuan kemudian

istri dari cucu sesusuan (istri dari anaknya anak sesusuan) dan

seterusnya sampai kebawah (cicit dst). Demikian pula istru dari anak

laki dari anak perempuan sesusuan dan seterusnya sampai ke bawah

(cucu, cicit dst).

h. Bintu az-Zawjah min ar-Radha‟ wa Banatu Awladiha (anak

perempuan sesusuan dari istri dan cucu perempuan dari anak lakinya

anak perempuan sesusuan dari Istri), yaitu: Anak perempuan sesusuan

dari istri (apabila istri memberi donor ASI kepada seorang anak

perempuan, maka apabila suami dari istri tersebut telah melakukan

hubungan suami istri (senggama) maka anak perempuan susuan istri

tersebut menjadi mahram, tetapi bila suami tersebut belum melakukan

senggama maka anak perempuan susuan istrinya tidak menjadi

(mahram). Demikian pula anak perempuan dari anak laki-lakinya anak


perempuan susuan istri tersebut sampai ke bawah (cicit dan

seterusnya).

5. Terjadinya mahram (haramnya terjadi pernikahan) akibat radha‟ (persusuan)

jika :

a. Usia anak yang menerima susuan maksimal dua tahun qamariyah.

Dalam hal ini, apa bila ada ibu memberikan ASI kepada bayi yang

bukan bayi kandungnya, lebih dari dua tahun maka bayi tersubut tidak

akan menjadikan saudara sepersusuan ataupun mahram hal ini sesuai

dengan pendapat, Mayoritas ulama bahwa susuan yang menjadikan

mahram hanya khusus bagi anak dibawah dua tahun karena susu

merupakan makanan pokok bagi bayi tersebut dan mengenyangkan. 76

b. Ibu pendonor ASI diketahui Identitasnya secara secara jelas.

Untuk mencegah terjadinya pernikahan akibat radha (persusuan),

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomer 33 Tahun 2012 Tentang

Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif mengatur bahwasannya didalam pasal

11 ayat 2 bagian b mengatakan: Identitas, agama, dan alamat pendonor

ASI diketahui dengan jelas oleh ibu atau keluarga dari bayi penerima

ASI.77 Hal ini dilakukan agar meminalisir terjadinya pernikahan yang

diharamkan karena terjadinya sepersusuan.

76
Imam Ibnu Hajar Al-„Asqalany, Op. Cit. h. 661.
77
PP RI Nomer 33 Tahun 2012, Tentang Pemberian Air Susu Ibu Ekslusif (Jakarta:
Kementrian Kesehatan RI, 2012), h. 5.
c. Jumlah ASI yang dikonsumsi sebanyak minimal lima kali persusuan.

Terjadinya mahram apabila, Jika wanita menyusui anak orang lain

dengan air ASInya, maka anak tersebut menjadi anak susuanya dengan

syarat :

a). Anak yang disusui tersebut usianya belum mencapai 2 tahun.

Al-Hafizh mengatakan tentang masa penyusuan. Dikatakan, tidak

lebih dari usia dua tahun. Ini adalah riwayat Wahb dari Malik, dan

demikianlah pendapat jumhur (mayoritas ulama). Argumen mereka

adalah hadits Ibnu „Abbas.78 yang berbunyi :

‫ِض ﷲُ َغْنْ ُ َما كَ َال ََل َرضَ ا َع ا ََّٕل ِ ا َ ْ مَ ْ ِ ( َر َوا ٍُ َامـدَّ ا َركُ ْط ِ ُِّن َوا ْب ُن ػَ ِد ٍّي‬
َ ِ ‫َو َغ ِن ا ْب ِن َغ َّبا س َر‬

) َ ‫َم ْرفُ ػًا َو َم ْ ُك فًا َو َر َّ َ ا امل َ ْ ُك‬

Artinya : “Ibnu Abbas r.a. berkata, “ Tidak ada persusuan (yang menjadikan

mahram) kecuali dalam usia dua tahun ke bawah.” Hadis ini marfu‟

dan mauquf riwayat al-Daruquthni dan Ibnu Adiy. Namun, mereka

lebih menilai mauquf. 79

78
Abu Hafsh Usanah bin Kamal bin „Abdir Razzaq, Panduan Nikah Lengkap dari “A”
Sampai “Z” (Jakarta: Pustaka Ibnu Katsir, 2011), h. 76.
79
Imam Ibnu Hajar Al-„Asqalany, Op. Cit. h. 664.
Sahnya hubungan persusuan (menurut pendapat yang lebih kuat)

adalah yang dilakukan pada masa-masa bayi dan belum disapih, yaitu

sebelum umur maksimal (dua tahun).

Hakikatnya memberikan air susu ibu kepada anak adalah

memberikan kekuatan dasar dan daya tahan kepada bayi sebelum dia

disapih (berhenti menyusu ibu). Hadist ini lebih tegas menjelaskan

bahwa syarat persusuan, selain minimal lima kali menyusu, disyaratkan

juga bahwa susuan dilakukan maksimal sampai umur bayi dua tahun.

Dan sahnya hubungan persusuan menurut pendapat yang paling kuat

adalah dilakukan pada masa-masa bayi dan belum disapih, yaitu umur

maksimal dua tahun.

b). Anak yang disusui tersebut menyusu sebanyak 5 kali susuan yang

berbeda-beda.80

Para Ulama berselisih tentang jumlah penyususan yang

menyebabkan haramnya (pernikahan). Ada sejumlah hadits yang

berbeda-beda dari Ummul Mukminin ‟Aisyah Radhiyallah Anha, ada

yang menyebutkan sepuluh kali, tuju kali, dan lima kali susuan; dan yang

paling shahih adalah riwayat Muslim yang menyebutkan lima kali

susuan. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam riwayat Muslim dari

„Aisyah Radhiyallah Anha, : “Diantara ayat al-Qur-an yang diturunkan

80
Ulin Nuha, Ringkasan Kitab Fikih Imam Syafi‟i (Yogyakarta: Mutiara Media, 2014), h.
110.
ialah tentang sepuluh susuan yang telah dikenal. Kemudian dihapuskan

dengan lima susuan yang telah dikenal. Lalu Rasulullah SAW wafat, dan

itulah yang dibaca.81

Penyusuan itu tidak diharamkan pernikahan kecuali lima kali

penyusuan. Demikianlah pendapat Ibnu Mas‟ud, Ibnu Zubair dan sebuah

riwayat dari Ahmad. Dalam hal ini mereka mendasari pendapat tersebut

dengan hadist Aisyah Radhiyallah Anha, yang menyebutkan lima kali

penyusuan yang berbunyi :82

ْ ُ‫ َـا َن ِف ْي َما ُأ ْى ِز َل ِم َن امْ ُل ْرأ ٓ ِن َغ ْ ُ َرضَ َؼا ِت َم ْؼل‬: ‫ﷲ غْنا كامَ ْت‬
َ ‫غن ػا ش َة رر‬
‫ ُ َُّث و ُ ِسخْ َن ِ َِب ْم ٍس َم ْؼلُ ْ َما ٍت فَ ُت ُ ِ ّ َ اميَّ ِ ُِّب صَّلﷲ ػليَ وسلـم و‬, ‫َما ِت ُ ََي ّ ِر ْم َن‬
)‫ُ َُّن ِف ْي َما يُ ْل َر ُأ ِم ْن امْ ُل ْرأ ٓ ِن (رواٍ مسلـم‬
Artinya :“Dari Aisyah RA ia berkata: „Dahulu, dalam apa yang diturunkan dari
Al-Qur‟an (mengatur bahwa) sebanyak sepuluh kali susuan yang
diketahui yang menyebabkan keharaman, kemudian dinasakh (dihapus
da diganti) dengan lima kali susuan yang diketahui, kemudian Nabi
SAW wafat dan itulah yang dibaca didalam Al-Qur‟an.” (HR.
Muslim).83

Sebagai ulama menganggap perkataan Aisyah ini tidak boleh

menjadi dalil karena bukan Al-Qura‟an, sebab tidak mutawatir; dan

bukan pula hadis karena Aisyah sendiri tidak menggapnya hadis.

Sebagian ulama lainya berpendapat bahwa perkataan (hadis) itu dapat

81
Abu Hafsh Usanah bin Kamal bin „Abdir Razzaq, Op. Cit. h. 76.
82
Syaikh Hasan Ayyub, Op. Cit. h. 189.
83
Imam Ibnu Hajar Al-„Asqalany, Op. Cit. h. 662.
dijadikan alasan; karena hadis itu diriwayatkan dari Rasulullah Saw.,

maka hukumnya hukum hadis.84

d. Cara penyusuannya dilakukan baik secara langsung keputing susu ibu

(imtishash) maupun melalui perahan.

e. ASI yang dikonsumsi anak tersebut mengenyangkan.

Susuan yang menjadikan mahram itu apabila susu tersebut menjadi

asupan untuk mengenyangkan, sesuai dengan hadist Rasulullah saw

bersabda:

‫ِض ﷲُ َغْنْ َا كَام َ ْت كَ َال َر ُس ُل ﷲِ َص ََّّل ﷲُ ػَلَ ْي َِ َو َسل َّ َـم ُاه ُْظ ْر َن َم ْن ا ْخ َ اىُ ُك َّن فَاه َّ َما َا َّمر‬
َ ِ ‫َو َغْنْ َا َر‬
‫ِإ‬ ‫ِإ‬
)َِ ‫ضَ اػَ ُة ِم َن امل َ َجا ػَ ِة ( ُمتَّ َفقٌ ػَلَ ْي‬

Artinya: “ Dari Aisyah r.a. bahwa Rasulullah Saw. Bersabda, “(wahai kaum

wanita) lihatlah saudara-saudara kalian (sesusuan). Hubungan

saudara sesusuan itu terjadi jika menyusui untuk menghilangkan rasa

lapar.” Muttafaq „Alaih.85

Dengan hadist Nabi ini, bahwa satu atau dua isapan bayi kepada

puting susu seorang wanita tidak menyebabkan wanita itu menjadi ibu susu

baginya dan anak-anak ibu susu itu belum dianggap sebagai saudara susu bagi

84
H. Sulaiman Rasjid, Fiqih Islam (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1994), h. 425.
85
mam Ibnu Hajar Al-„Asqalany, Op. Cit. h. 660.
bayi tersebut karena satu atau dua isapan belum termasuk mengenyangkang

bayi yang menerimanya.

6. pemberian ASI yang menjadikan berlakunya hukum persusuan adalah

masuknya ASI tersebut kedalam perut seorang anak dalam usi antara 0 sampai

2 tahun dengan cara penyusuan langsung atau melalui perahan.

Hubungan saudara sesusuan itu terjadi jika menyusui untuk

menghilangkan rasa lapar maka hal ini dipastikan akan masuk kedalam perut

sehingga akan terjadi mahram (saudara sepersusuan), mayoritas ulama

berpendapat bahwa susuan yang menjadikan mahram hanya khusus bagi anak usia

0 sampai 2 tahun karena susu merupakan makanan pokok bagi bayi tersebut dan

dapat mengenyangkan.

7. Seorang muslimah boleh memberikan ASI kepada bayi nonmuslim, karena

pemberian ASI bagi bayi yang membutuhkan ASI tersebut adalah bagian dari

kebaikan antar umat manusia.

Allah SWT berfirman dalam surat Al-Maidah ayat 2 yang artinya “Dan

tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan

janganlah tolong menolong dalam perbuatan dosa dan pelanggaran”. Firman

Allah ini menjelaskan bahwa semua perbuatan yang mengandung kebaikan

diperbolehkan lebih-lebih dalam kebaikan menolong seorang bayi yang mana bayi

tersebut tidak mendapatkan pemenuhan gizi atau suplai ASI dari ibu kandungnya,

dikarnakan ibunya telah tiada, tidak diketahui ibu kandungnya, maupun sebab lain
yang tidak memungkinkan akses ASI bagi anak. Dengan ini, demi perkembangan

bayi maka seorang muslim boleh memberikan ASI kepada bayi nonmuslim agar

bayi tersebut mendapatkan nutrisi dan gizi ASI.

8. Boleh memberikan dan menerima imbalan jasa dalam pelaksanaan donor ASI,

dengan catatan; (i) tidak untuk komersialisasi atau diperjualbelikan; (ii) ujrah

(upah) diperoleh sebagai jasa pengasuhan anak, bukan sebagai bentuk jual beli

ASI.

Pemberian upah terhadap pendonor air susu ibu diperbolehkan sebagai

tanda terimakasih atas donor air susu tersebut, hal itu dapat saja terjadi karena

mengingat sulitnya mendapat air susu ibu secara normal maka dengan ini wanita

boleh menerima upah dari mendonorkan air susu ibu tersebut.

B. Rekomendasi.

Dalam fatwanya, MUI mengatakan bahwa donor ASI diperbolehkan.

Komisi Fatwa MUI menyampaikan rekomendasi kepada kementerian kesehatan

dan pemerintah setempat yang ingin mendonorkan ASI kepada anak yang bukan

anak kandungnya. Rekomendasi itu adalah:

1. Kementerian Kesehatan diminta untuk mengeluarkan aturan mengenai

Donor ASI dengan berpedoman pada fatwa ini.

2. Pelaku, aktifis dan relawan yang bergerak di bidang donor ASI serta

komunitas yang peduli pada upaya berbagi ASI agar dalam menjalankan
aktivitasnya senantiasa menjaga ketentuan agama dan berpedoman pada

fatwa ini.

Kesimpulannya sebenernya fatwa ini, MUI memang

menyatakan bahwa donor ASI diperbolehkan dengan ketentuan agama dan

berpedoman pada fatwa ini.

D. Proses Donor Air Susu Ibu

Praktik donor ASI belakangan lazim terjadi di kota besar seperti jakarta

dan surabaya. Informasi itu seringkali disampaikan melalui media sosial pada ibu

yang membutuhkan. Si calon penerima lalu menghubungi pendonor, jika semua

setuju, mereka akan menyepakati mekanisme pengambilan ASI. Donor ASI

merupakan alternatif solusi bagi para ibu yang berkomitmen memberikan ASI

namun mengalami kendala. Di antaranya, ibu cacat sehingga tidak bisa

menggerakkan tangan dan kakinya serta ia dirawat di rumah sakit, juga ibu yang

dilarang dokter untuk memberi ASI karena dapat menularkan penyakit pada bayi,

dan tentu saja bayi yang ibunya meninggal.

1. Prosedur Ideal

Praktik pemberian ASI di Indonesia masih sederhana tidak seperti

dilakukan di negara maju. Di negara maju donor ASI diatur oleh lembaga yang

disebut Bank ASI. Calon pendonor ASI diperiksa kesehatannya dan dipastikan

bebas penyakit berbahaya. ASI donor akan dipasteurisasi atau mengalami proses

pemanasan pada suhu rendah (62,5-63 derajat Celcius) selama 30 menit untuk

mematikan virus dan bakteri berbahaya, seperti HIV (Human Immunodeficiency


Virus) dan CMV (Citomegalovirus). ASI disimpan dalam freezer dengan suhu

minimal minus 20 derajat Celcius untuk memastikan komposisi ASI tidak

mengalami perubahan.

a. Tahapan Prosedur Pendonor ASI

1). Tahapan Penapisan Awal

Memiliki bayi berusia kurang dari 6 bulan Sehat dan tidak mempunyai

kontra indikasi menyusui Produksi ASI sudah memenuhi kebutuhan bayinya dan

memutuskan untuk mendonasikan ASI atas dasar produksi yang berlebih, tidak

menerima transfusi darah atau transplantasi organ/jaringan dalam 12 bulan

terakhir, tidak mengkonsumsi obat, termasuk insulin, hormon tiroid, dan produk

yang bisa mempengaruhi bayi. Obat/suplemen herbal harus dinilai

kompatibilitasnya terhadap ASI, tidak ada riwayat menderita penyakit menular,

seperti hepatitis, HIV, atau HTLV2, tidak memiliki pasangan seksual yang

berisiko terinfeksi penyakit, seperti HIV, HTLV2, hepatitis B/C (termasuk

penderita hemofilia yang rutin menerima komponen darah), menggunakan obat

ilegal, perokok, atau minum beralkohol.

2). Tahapan Penapisan Lanjutan

Harus menjalani skrining meliputi tes HIV, human T-lymphotropic virus

(HTLV), sifilis, hepatitis B, hepatitis C, dan CMV (bila akan diberikan pada bayi

prematur) Apabila ada keraguan terhadap status pendonor, tes dapat dilakukan

setiap 3 bulan setelah melalui tahapan penapisan, ASI harus diyakini bebas dari

virus atau bakteri dengan cara pasteurisasi atau pemanasan.


3). Cara penyimpanan ASI Donor

Tempatkan ASI sebanyak 50-150 ml kedalam wadah kaca (sisa selai)

450 ml. Tutup wadah kaca dan letakkan ke dalam panci aluminium 1 liter,

tuangkan air mendidih 450ml atau hingga permukaan air mencapai 2 cm dari

bibir. Panci dapat diletakkan pemberat diatas wadah kaca, kemudian tunggu

selama 30 menit. Pindahkan susu, dinginkan, dan berikan kepada bayi atau

simpan di lemari pendingin.

b. Fisiologi laktasi yang terjadi pada relaktasi dan induksi laktasi

Flash Heating Tempatkan ASI sebanyak 50-150 ml kedalam wadah kaca

450 ml. Wadah kaca ditutup sampai saat dilakukan flash heating. Untuk

melakukan flash heating, buka tutup wadah dan letakkan dalam 1 liter Hart Pot

(pemanas susu) Tuangkan air 450 ml atau hingga permukaan air mencapai 2 cm

dari bibir panci. Didihkan air, bila telah timbul gelembung pindahkan wadah

dengan cepat dari air dan sumber panas. Dinginkan ASI, berikan kepada bayi atau

simpan di lemari pendingin.

c. Mutu dan Keamanan ASI

Mutu dan keamanan ASI meliputi kebersihan, cara penyimpanan,

pemberian, dan pemerahan ASI:

Calon pendonor ASI harus mendapatkan pelatihan tentang kebersihan,

cara memerah, dan menyimpan ASI. Sebelum memerah ASI, cuci tangan dengan

air mengalir dan sabun, kemudian keringkan dengan handuk bersih. ASI diperah

di tempat bersih. Bila menggunakan pompa, gunakan yang bagiannya mudah

dibersihkan. Pompa ASI tipe balon karet berisiko terkontaminasi. ASI perah harus
disimpan pada tempat tertutup, botol kaca, kontainer plastik dari bahan

polypropylene atau polycarbonate, botol bayi gelas atau plastik standar

(perhatikan tata cara penyimpanan ASI)

d. Unit Donor ASI

Unit Donor ASI mutlak ada untuk mempermudah akses pendonor dan

penerima, menjamin keamanan, etik dan terjaminnya kesehatan yang optimal.

Sesuai prosedur dan protokol standar internasional pengelolaan ASI donor.

Memiliki Tim konsultan yang mencakup bidang ilmu terkait dan staf yang

terlatih.

e. Pencatatan

Pencatatan menjadikan bagian penting dalam proses donor ASI, yang

mencakup identitas pendonor, lembar persetujuan, kuesioner dan hasil tes skrining

penyakit, keterangan resipien, data pelengkap administrasi, dan sebagainya.

Peran pemerintah melalui Kementerian terkait atau badan khusus sangat

diperlukan untuk pelaksanaan dan pengawasan kegiatan donor ASI. Kebijakan

pemerintah diperlukan untuk penggunaan ASI donor. 86

86
Pediatri,Prosedur dan Cara Donor ASI (On-Line), tersedia di: https://Jurnalpediatri.com
diakses pada tanggal 04 Mei 2017 pukul 20. 30 wib.
BAB IV
ANALISIS FATWA MUI NOMOR 28 TAHUN 2013 TENTANG SEPUTAR
DONOR AIR SUSU IBU MENURUT HUKUM ISLAM

Setelah penulis mengumpulkan data-data yang bersifat kepustakaan dan

buku-buku yang berkaitan dengan judul karya tulis ini yaitu tentang Istirdla‟

dalam pandangan hukum Islam (Analisis Fatwa MUI Nomor 28 Tahum 2013

Tentang Seputar Donor Air Susu Ibu), yang kemudian dituangkan dalam

menyusun pada bab-bab terdahulu, maka sebagai langkah selanjutnya penulis

akan menganalisis data yang telah penulis kumpulkan itu untuk menjawab

permasalahan dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut :

A. pertimbangan MUI mengeluarkan Fatwa diperbolehkannya donor air susu ibu

Diawal pembahasan isi sebelumnya sudah dijelaskan bahwasaannya

donor air susu ibu diperbolehkan oleh Majelis Ulama Indonesia dengan yang

tertuang didalam Fatwa dibagian memutuskan dengan ketentuan hukum yang

berbunyi seseorang ibu boleh memberikan ASI kepada anak yang bukan anak

kandungnya. Demikain juga sebaliknya, seseorang anak boleh menerima ASI dari

ibu yang bukan ibu kandungnya sepanjang memenuhi ketentuan syar‟i.

Adapun yang menjadi pertimbangan MUI dalam mengeluarkan Fatwa

diperbolehkannya donor air susu ibu, melihat bahwa ditengah masyarakat ada

aktivitas berbagi air susu ibu untuk kepentingan pemenuhan gizi anak-anak yang

tidak berkesempatan memperoleh air susu ibunya sendiri, baik disebabkan oleh
kekurangan suplai ASI ibu kandungnya, ibunya telah tiada, tidak diketahui ibu

kandungnya, maupun sebab lain yang tidak memungkinkan akses ASI bagi anak.

Mengingat pentingnya kebutuhan air susu ibu terhadap bayi terutama

untuk bayi usia 0 bulan sampai dengan 2 tahun hal ini pula yang diajarkan hukum

Islam terhadap manusia seperti yang telah dijelaskan pada ayat-ayat Al Qur‟an

dan hadis-hadis sebelumya, serta dari hasil penelitian-penelitian ilmiah dari ilmu

kesehatan dan juga gizi serta psikologi menunjukan bahwa ASI memanglah

memiliki segudang manfaat bagi bayi. Selain itu masyarakat pun menyadari akan

pentingnya air susu ibu terhadap bayi. Hal ini dapat dilihat dari aktifitas

masyarakat yang lebih mencari donor air susu ibu terhadap bayi yang tidak bisa

mendapat akses air susu ibu dari ibu kandungnya jika dibandingkan memberikan

air susu formula, meski berbagai produk susu formula dengan memamerkan

keunggulan masing-masing tidak bisa di pungkiri bahwa air susu ibulah yang

lebih mengandung banyak manfaatnya. Oleh sebab itu tidaklah heran jika

masyarakat lebih memilih mencari donor air susu ibu jika dibandingkan dengan

memberikan bayi dengan susu formula.

Melihat aktifitas mayarakat yang tidak sedikit melakukan donor air susu

ibu mulai manimbulkan keraguan dan berbagai pertanyaan mengenai

kebolehannya secara hukum Islam serta akibat hukumnya, hal ini menimbulkan

keresahan tersendiri bagi masyarakat khususnya masyarakan yang melakukan

donor air susu ibu. Oleh sebab itu dengan berbagai alasan dan dasar-dasar hukum

yang telah dijelaskan sebelumnya maka Majelis Ulama Indonesi (MUI)

memandang pentingnya untuk mengeluarkan fatwa mengenai seputar donor air


susu ibu baik mengenai syarat ketentuannya maupun akibat hukumnya, supaya

tidak menimbulkan keraguan dan permasalahan dikalangan masyarakat serta

mendapatkan kepastian hukum mengenai seputar donor air susu ibu.

B. Pandangan hukum Islam tentang pertimbangan MUI mengeluarkan Fatwa

memperbolehkan donor air susu ibu.

Berdasarkan pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang telah

dijelaskan bada bab-bab sebelumnya maka ditentukan bahwasaannya donor air

susu ibu diperbolehkan oleh Majelis Ulama Indonesia, seseorang ibu boleh

memberikan ASI kepada anak yang bukan anak kandungnya. Demikain juga

sebaliknya, seseorang anak boleh menerima ASI dari ibu yang bukan ibu

kandungnya sepanjang memenuhi ketentuan syar‟i. Karena melihat bahwa

ditengah masyarakat ada aktivitas berbagi air susu ibu untuk kepentingan

pemenuhan gizi anak-anak yang tidak berkesempatan memperoleh air susu ibunya

sendiri, baik disebabkan oleh kekurangan suplai ASI ibu kandungnya, ibunya

telah tiada, tidak diketahui ibu kandungnya, maupun sebab lainnya.

Mengenai Fatwa donor air susu ibu, penulis berpendapat bahwa Fatwa

Majelis Ulama Indonesia sesuai dengan hukum Islam. karena tidak bisa

dipungkiri bahwasanya pada zaman dahulu aktifitas menyusui anak yang bukan

anak kandungnya memang sudah ada dan sampai saat ini masih dilestarikan untuk

membantu para ibu yang tidak bisa memenuhi suplai air susu ibu bagi sibayi.

Akan tetapi Pada zaman sebulum Rasulullah lahir hukum mengenai rodhoah

ataupun donor air susu ibu masih terombang-ambing dan belum ada yang
mengatur tentang kesehatan dan setatus nasap siibu yang akan memberikan air

susu ibu kepada anak yang bukan anak kandungnya. Tradisi yang berjalan

dikalangan bangsa Arab yang tinggal dikota adalah mencari orang yang dapat

menyusui bayi-bayi mereka sebagai tindakan preventif terhadap tersebarnya

penyakit-penyakit kota. Hal itu mereka lakukan agar tubuh bayi-bayi mereka kuat,

berotot kekar, dan mahir berbahasa Arab sejak masa kanak-kanak. Oleh karna itu

ketika Rasulullah lahir, Abdul Muththalib mencari perempuan-perempuan yang

dapat menyusui Rasulullah SAW. Dia akhirnya mendapatkan seorang perempuan

penyusu dari kabilah Bani Sa‟ad bin Bakr yang bernama Harist bin Abdul Uzza

yang berjuluk Abu Kabsyah yang juga berasal dari kabilah yang sama. 87

Kemudian Allah Berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 233 :

            

              

    

Artinya : “Dan ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun


penuh, Yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. dan
kewajiban ayah memberi Makan dan pakaian kepada Para ibu
dengan cara ma'ruf. seseorang tidak dibebani melainkan menurut
kadar kesanggupannya. janganlah seorang ibu menderita
kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena
anaknya.”(QS. Al-Baqarah ayat 233)
Dari sejarah Rasulullah dan turunnya Firman Allah SWT dalam surat Al-

Baqarah ayat 233 tersebut, Bahwasanya melakukan donor air susu ibu

87
Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah (Jakarta: Gema Insani, 2013), h. 31.
diperbolehkan dan bukan hanya itu ayat tersubut menerangkan agar para ibu

menyusui anaknya dengan sempurna karena ASI merupakan asupan susu yang

terbaik untuk pertumbuhan anak. Dijelaskan juga dalam PP BAB II tentang air

susu ibu eksklusif pasal 6 mengatakan setiap ibu yang melahirkan harus

memberikan ASI Eksklusif kepada bayi yang dilahirkan.88 Dunia kesehatan

sepaham dengan hukum agama yang menyebutkan bahwa ASI adalah filtrasi

darah ibu sehinga ASI bisa menjadi pembawa ataupun mewarisi sifat atau genetik.

Maka dari itu lebih baiknya ketika akan menerima pendonor ASI dari ibu lain

harus memiliki ketentuan-ketentuan yang yang terdapat dalam Fatwa yang

berkaitan dengan Donor ASI dibagian ketentuan hukum mengatakan ibu yang

memberi ASI harus sehat, baik fisik maupun mental, ibu tidak sedang hamil.

Sehingga dengan adanya ketentuan tersebut dapat membantu penularan penyakit

kepada bayi. Bukan hanya itu seseorang muslim boleh memberikan ASI kepada

bayi non muslim, karena pemberian ASI bagi bayi yang membutuhkan ASI

tersebut adalah bagian dari kebaikan antar umat manusia.

Pada penulisan sekripsi ini, penulis juga menggunakan teori maslahah al

mursalah. Adapun yang dimaksud dengan maslahah al mursalah adalah dilihat

dari segi bahasa, kata al maslahah adalah seperti kata manfaat, baik artinya

maupun wajahnya (timbangan kata), yaitu kalimat masdhar yang sama artinya

dengan kalimat ash-shalah, seperti lafadz al-manfaat sama dengan al-naf‟u.

88
PP RI Nomer 33 Tahun 2012, Tentang Pemberian Air Susu Ibu Ekslusif (Jakarta:
Kementrian Kesehatan RI, 2012), h.14.
Manfaat yang dimaksud oleh pembuat hukum syarak (Allah SWT)

adalah sifat menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan hartanya untuk mencapai

ketertiban nyata antara pencipta dan makhluknya.

Dengan menggunakan teori maslahah tersebut penulis menyimpulkan

bahwa tujuan dari menggunakan teori maslahah almursalah adalah untuk

menjauhkan kemudaratan yang terjadi terhadap anak-anak yang tidak diberikan

ASI, karena Pentingnya air susu ibu dalam ilmu kesehatan disebutkan bahwa ASI

adalah cairan hidup yang mengandung zat kekebalan yang akan melindungi bayi

dari berbagai penyakit infeksi, virus, parasit, dan jamur. Sehingga apabila seorang

anak tidak diberikan ASI akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan

anak.

Oleh sebab itu maka penulis berpendapat bahwa Fatwa Majelis Ulama

Indonesia (MUI) tentang donor air susu ibu apabila ditinjau dengan menggunakan

teori maslahah al mursalah, menimbulkan kemanfaatan atau kemaslahatan bagi

anak-anak yang memperoleh air susu ibunya sendiri, baik disebabkan oleh

kekurangan suplai ASI ibu kandungnya, ibunya telah tiada, tidak diketahui ibu

kandungnya, maupun sebab lain yang tidak memungkinkan akses ASI bagi anak,

namun dengan diperbolehkannya donor air susu ibu tidak menutup kemungkinan

akan menimbulkan persaudaraan sepersusuan. Yang mengakibatkan terhalangnya

sebuah pernikahan, karna pada dasarnya salah satu penghalang abadi sebuah

pernikahan adalah sepersusuan.


Selain teori maslahah mursalah terdapat juga teori ushul fiqih yang

mendukung aktifitas seputar donor air susu ibu yaitu :

‫َامْ َمشَ لَّ ُة َ َْت ِل ُب املَّي ِْس ْ َْي‬

Artinya: “Kesukaran Mendatangkan Kemudahan.”89

maksudnya suatu hukum yang mengandung kesusahan dalam

pelaksanaanya atau memadaratkan dalam pelaksanaanya, baik kepada badan, jiwa,

ataupun harta seorang mukhallaf, diringankan sehingga tidak memadaratkan lagi.

Keringanan tersebut dalam Islam dikenal dengan istilah rukhsah.

Keringanan tersebut dikarenakan terjadinya suatu kesulitan, hal ini

disadari karena kemampuan manusia yang tebatas, menurut Asy-Syatibi antara

lain sebagai berikut:

1. Karena khawatir akan terputusnya ibadah dan kawatir akan adanya

kerusakan bagi dirinya, baik jiwa, badan, hartanya maupun kedudukannya.

2. Ada rasa takut terkuranginya kegiatan-kegiatan sosial yang berhubungan

dengan sosial kemasyarakatan, karena hubungan tersebut dalam Islam bisa

dikategorikan sebagai ibadah juga.90

89
Nashr Farid Muhammad Washil, Abdul Aziz Muhammad Azzam, Qawa‟id Fiqhiyyyah
(Jakarta: Amzah, 2015), h. 56.
90
Rachmad Syafe‟i, Ilmu Ushu Fiqih (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2010), h. 284.
Berdasarkan kesulitan-kesulitan yang diutarakan oleh As-Syatibi di atas maka

dapat disebutkan bahwa kesulitan-kesulitan dari seputar donor air susu ibu atara

lain:

1. Untuk bayi usia 0 sampai 6 bulan yang hanya boleh makan dari air susu

ibu dan apabila bayi tidak bisa mendapatkan air susu ibu dari ibu

kandungnya karena suatu sebab maka dikhawatirkan akan kekurangan gizi

dan masalah lain mengenai pertumbuhan si bayi.

2. Seorang bayi yang ditinggal meniggal dunia oleh ibu kandungnya tentunya

tidak akan pernah mendapatkan air susu dari ibu kandungnya, oleh sebab

itu keadaan demikian mengharuskan bayi untuk dapat memperoleh air

susu ibu dari selain ibu kandungnya.

3. Air susu ibu adalah makanan yang paling baik terhadap bayi yang baru

lahir yang tidak perlu lagi diuji kebaikan dan manfaatnya, oleh sebab itu

ketika bayi tidak bisa mendapat akses air susu ibu dari ibu kandungnya

maka langkah mendesak yang paling tepat adalah dengan memberinya air

susu ibu dari wanita yang lain, demi menghindari hal-hal kemungkinan

masalah-masalah yang dapat saja terjadi pada bayi.

4. Jika bayi tidak memperoleh air susu ibu maka dikhwatirkan akan terjadi

hal-hal yang tidak diinginkan dan beberapa masalah pada bayi, maka

dengan demikian juga dikhawatirkan akan menimbulkan kerusakan pada

jiwa dan badan, maka hal ini sangat bertentangan dengan maqasidu

syariah yang mengharuskan menjaga jiwa, badan, harta, akal dan juga

keturunan.
Berdasarkan kesulitan-kesulitan di atas maka penulis dapat

mengindikasikan bahwasannya berdasarkan teori al masaqotu tajlibu taisira

donor seputas air susu ibu diperbolehkan, karena dengan melakukan donor air

susu ibu maka hilanglah kesulitan-kesulitan dia atas, Islam adalah agama yang

fleksibel yang tidak memaksakan suatu hukum terhadap manusia yang tidak

mampu melaksanakannya seperti sesuatu yang haram dalam keadaan darurat juga

bisa menjadi halal, hal ini disadari karena manusia memiliki kemampuan yang

terbatas, dengan keadaan-keadaan tertentu manusia tidak bisa melaksanakan suatu

hukum, oleh sebab itu Allah memberikan suatu kemudahan bukanlah tanpa sebab

karena disadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna dimana seluruh

ketentuan dapat dilaksanakan secara sempurna. Seperti yang telah dijelaskan

Allah dalam Al-Qur‟an surah Al Baqarah ayat: 185

َ‫ﷲ‬         ُ‫ﷲ‬
    

Artinya: Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki

kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan

hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan

kepadamu, supaya kamu bersyukur.

Selain itu dijelaskan pula mengenai kemudahan agama Islam yaitu dalam

surah Al-Hajj ayat 78


      

Artinya: Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu

kesempitan.

Ayat tersebut juga didukung dengan sabda Nabi Muhammad SAW yaitu:

ٌ ْ ‫ (ا َّن ِّاا َن ي‬:‫ َغ ِن اميَّ ِ ِ ِّب َص ََّّل ﷲُ ػَلَ ْي َِ َو َس ََّّل كَ َال‬,‫َغ ْن َا ِ ْ ُ َُرْ ِر َة‬
َُ ‫ُُس َوم َ ْن يُشَ ا ّ َِّاا َن َأ َح ٌد ا ََّلغَلَ َب‬
‫ِإ‬ ‫ِإ‬
)‫( َر َوا ٍُ َامْ ُب َِار ْي‬

Artinya: Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu „alaihi wasallam, beliau

bersabda,”sesunguhnya agama itu mudah. Tidak ada seorangpun yang

memberatkan diri dalam agama ini kecuali sikap tersebut akan

mengalahkan dia”(Hadis Riwayat Bukhori).91

Melihat alasan-alasan di atas maka penulis berpendapat bahwa kaidah: (

‫ ) َامْ َمشَ لَّ ُة َ َْت ِل ُب املَّي ِْس ْ َْي‬sejalan dengan ketentuan-ketentuan diperbolehkannya Fatwa MUI

tentang seputar donor air susu ibu.

Berdasarkan penjelasan-penjelasan yang telah disebutkan sebelumnya

maka dalam pandangan hukum Islam keputusan Fatwa MUI dalam mengeluarkan

Fatwa berkenaan dengan seputar donor air susu ibu adalah diperbolehkan dan

tidak bertentangan dengan hukum Islam selagi masih mengikuti akibat-akibat

91
Terjemah shahih bukhari, Kitabul Imam Bab Addinu Yusrun, Jilid-4 (Darul Kutub Al-
Arabiyah). h. 422.
hukum dari Fatwa MUI tersebut seperti diharamkannya suatu pernikahan saudara

sepersusuan meski bukan saudara kandung.


BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan

Pada bab ini adalah langkah terakhir dalam penelitian ini yaitu

menyimpulkan dari keseluruhan pembahasan yang telah diuraikan. Dari uraian

pembahasan-pembahasan tersebut, akan dapat ditarik kesimpulan, diantaranya:

Kami juga mengambil kesimpulan bahwasannya :

1. MUI mempertimbangkan, air susu ibu sangat dibutuhkan bagi

perkembangan bayi yang belum mencapai umur dua tahun dan adanya

ibu yang tidak bisa memberikan ASI kepada bayinya baik ibunya telah

tiada, ibu kekurangan ASI untuk diberikan kepada anaknya, tidak

diketahui ibu kandungnya, maupun sebab lain yang tidak

memungkinkan akses ASI bagi anak.

2. Pandangan Hukum Islam, tentang Fatwa Majelis Ulama Indonesia

(MUI) mengenai donor air susu ibu apabila ditinjau dengan

menggunakan teori maslahah al mursalah, menimbulkan kemaslahatan

dan kemudharatan, kemaslahatannya adalah untuk menjauhkan

kemudharatan yang terjadi terhadap anak-anak yang tidak diberikan

ASI, karena Pentingnya air susu ibu Sehingga apabila seorang anak

tidak diberikan ASI akan menghambat pertumbuhan dan

perkembangan anak. Kemudharatannya adalah dengan


diperbolehkannya donor air susu ibu tidak menutup kemungkinan akan

menimbulkan persaudaraan sepersusuan. Yang mengakibatkan

terhalangnya sebuah pernikahan, karna pada dasarnya salah satu

penghalang abadi sebuah pernikahan adalah sepersusuan.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian penulis diatas, maka penulis dapat

memberikan beberapa saran sebagai berikut:

1. Untuk para pihak yang akan mendonorkan air susu hendaknya

memahami dan mengerti tentang akibat dari donor air susu tersebut.

Karena dalam hukum Islam donor susu ibu memungkinkan terjadinya

saudara sepersusuan sehingga mengakibatkan terhalangnya sebuah

pernikahan.

2. Hendaknya Majelis Ulama Indonesia (MUI) lebih mensosialisasikan

kepada masyarakat tentang Fatwa MUI mengenai donor air susu ibu,

karena banyak masyarakat yang belum mengerti dan memahami

kebolehan mendonorkan air susu ibu dan dampak atau akibat dari

donor air susu ibu.

3. Para pihak yang menerima atau yang mengambil air susu ibu dari ibu

yang bukan ibu kandungnya baik melalui perahan maupun melalui

putingnya agar memahami akibat hukum dan dampak dari donor air

susu ibu supaya tidak akan terjadi kesalahan.


C. Penutup

Dengan mengucap alhamdulillah penulis telah mengakhiri penulis skripsi ini.

Sebagai manusia biasa tentunya dalam penulisan skripsi ini masih banyak

kekurangan, baik dari segi bahasa, cara penyusunan kalimat, atau yang lainnya.

Namun demikian penulis telah banyak berupaya sebaik-baiknya dem

mendapatkan hasil yang baik, tetapi kemampuan yang penulis milikisangatlah

terbatas. Olehkarna itu untuk kesempurnaan skripsi ini penulis mengharapkan

kritik dan saran yang sifatnya membangun dari semua pihak.

Dengan penuh kerendahan hati dan penuh keiklasan penulis memohon

kepada Allah SWT. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bangi penulis pada

khususnyadan bagi pembaca pada umumya dab semoga skripsi ini bermanfaat

bagi civitas akademik Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung.

Akhirnya semoga Allah SWT, selalu memberkahi penulis skripsi ini, dan

untuk semua pihak yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini, penulis

ucapkan terima kasih dan semoga kita berada dalam cinta dan kasih, rahmat, ridho

dan hidayahnya Allah SWT., Amin ya Robal alamin.


DAFTAR PUSTAKA

Yayasan penyelenggara penterjemah Al-Qur‟an. Al-qur‟an dan Terjemah Al


Hikmah, Cet-10. Bandung: Cv Penerbit Diponorogo, 2012.
Abd. Rahman Ghazaly. Fiqih Munakahat. Jakarta: Kencana Prenada Media
Group, 2016.
Abdhumalik Abdhulkarim Amrullah HAMKA. Tafsir Al-Azhar Juzu 4-5-6.
Jakarta: Yayasan Nurul Islam, 1984.
Abdul Hakim Al Sayyid Abdullah. keutamaan Air susu Ibu, Cet-1. Jakarta:
Fikahati Aneska, 1993.
Abdulkadir Muhammad. Hukum dan Penelitian Hukum. Jakarta: PT. Citra Aditya
Bakti, 2004.

Abu Hafsh Usanah bin Kamal bin „Abdir Razzaq. Panduan Nikah Lengkap dari
“A” Sampai “Z”. Jakarta: Pustaka Ibnu Katsir, 2011.

Ahmad Mushthafa Al-Maraghy. Tafsir Al-Maraghy Terjemah Bahrun Abubakar.


Semarang: Penerbit Toha Putra, 1984.
Ahsin W. Al-Hafidz. Fiqih Kesehatan, Cet-1. Jakarta: Penerbit oleh Amzah, 2007.

Amirudin dan Zainal Abidin. Pengantar Metode Penelitin Hukum. Jakarta:Balai


pustaka, 2006.
Amirudin dan Zainal Asikin. Pengatar Metode Penelitian Hukum, Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 2006.
Anggota IKAPI. Undang-undang Perkawinan. Bandung: Fokusmedia, 2016.

Antikah Proverawati dan Eni Rahmawati. Kapita Selekta Asi dan Menyusui, Cet-
1. Yogyakarta: Nuha Medika, 2010.
Asrorun Ni‟am Sholeh. Metodologi Penetapan Fatwa Majelis Ulama Indonesia.
Jakarta: Emir, 2016.

Beni Ahmad Saebani. fiqih munakahat 1. Bandung: CV Pustaka Setia, 2001.

Bimbingan Islam, Fatwa Kedokteran, Fiqih, Kesehatan Islam” (On-line), tersedia


di: https://agussupianto. Blogspot. Com/ Bimbingan Islam. Htm (25
Agustus 2012).
Dewi lailatul badriyah. Gizi Dalam Kesehatan Reproduksi. Bandung: PT.Refika
Aditama, 2011.

H. Sulaiman Rasjid. Fiqih Islam. Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1994.

A. Hassan. Terjemah Bulughul-Maram. Cet-XXVIII, Bandung: CV. Penerbit


Diponegoro, 2011.
Himpunan Fatwa. majelis ulama Indonesia sejak 1975. Jakarta: Erlangga, 2011.

Jiko Subagio. Metode Penelitian dalam Teori dan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta,
2011.

Joan Nelison. Cara Menyusui Yang Baik. Jakarta: Arcan, 1985.

Lexy L Moloeng. Metode Penelitian Kualitatif. Cet-XIV, Bandung: Ramaja


Rosda Karya, 2001.

Lutfi Fathullah. Bulughul Maram Five In One,Cet-2. Jakarta: Noura Books PT


Mizan Publika, 2015.
M. Nurullrfan. Nasap dan setatus anak dalam hukum Islam. Jakarta: Amzah,
2012.

M. Quraish Shihab. Tafsir Al-Mishbah Pesan, Kesan Dan Keserasian Al-Qur‟an.


Cet-1, Jakarta: Penerbit Lentera Hati, 2002.
M. Quraish Shihab. Tafsir Al-Mishbah pesan, kesan dan keserasian Al-
Qur‟an,Cet-1. Jakarta: Penerbit Lentara Hati, 2000.
Majelis Ulama Indonesia Provinsi Lampung. Kilas Balik 40 Tahun Majelis Ulama
Indonesia Provinsi Lampung Berkarya Untuk Umat. Bandar Lampung:
Mui Profinsi Lampung, 2014.
Majelis Ulama Indonesia. Himpunan Fawa MUI Bidang Sosial Dan Budaya.
Jakarta: Emir, 2015.
Masjfuk Zuhdi, Masail Fiqhiyah: Kapita Selekta Hukum Islam, Cet. XI Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada, 2000.

Muhamad Nasib Ar-Rifa‟i. Kemudahan Dari Allah Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir.
Jilid-2. Jakarta: Gema Insan, 1999.
Muhammad Ali Mukhtar. “Studi Analisis Tentang Fatwa Mui Nomer 28 Tahun
2013 Tentang Donor Asi (ISTIRDHA) Kaitan Dengan Radla‟ah Dalam
Perkawinan”. Skripsi Program Strata Satu Fakultas Syari‟ah Universitas
Islam Negri Walisongo, Semarang: 2015.
Nurheti Yuliarti. Keajaiban ASI. Yogyakarta: C.V Andi offset, 2012.

Nashr Farid Muhammad Washil, Abdul Aziz Muhammad Azzam, Qawa‟id


Fiqhiyyyah Jakarta: Amzah, 2015.

Petersalim dan yennisalim. Kamus Bahasa Idonesia Kontemporer. Jakarta:


Moderen English Press, 1991.

PP RI Nomer 33 Tahun 2012. Tentang Pemberian Air Susu Ibu Ekslusif. Jakarta:
Kementrian Kesehatan RI , 2012.
Pediatri, Prosedur dan Cara Donor ASI (On-Line), tersedia di:
https://Jurnalpediatri.com/ diakses pada tanggal 04 Mei 2017 pukul 20. 30
wib.

Rachmad Syafe‟i. Ilmu Ushu Fiqih. Bandung: CV. Pustaka Setia, 2010.

Raehanul Bahraen. Menyusui Ketika Hamil, Berbahayakah? (Syariat Dan Medis).


Agaustus, 2012.

Said Aqil Husain Al-Munawar. Hukum Islam Dan Pluralitas Sosial. Cet-2,
Jakarta: Penamadani, 2005.

Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri. Sirah Nabawiyah. Jakarta: Gema Insani, 2013.


Sutrisno Hadi, Metologi Risearch untuk penulisan laporan, Skripsi, Tesis dan
Disertasi Jilid 1 Yogyakarta: Andi, 2004.

Syaikh Hasan Ayyub. Fikih Keluarga. Jakarta: Al-Kautsar, 2004.

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. kamus besar
bahasa indonesia. Jakarta: Balai pustaka, 1995.
Terjemah shahih bukhari, Kitabul Imam Bab Addinu Yusrun, Jilid-4 Darul Kutub
Al-Arabiyah.
Ulin Nuha. Ringkasan Kitab Fikih Imam Syafi‟i. Yogyakarta: Mutiara Media,
2014.

Utami Roesli. Mengenal ASI Eksklusif. Jakarta: PT Pustaka Pembangunan


Swadaya Nusantara, 2013.
Weni Kristiyanasari, ASI. Menyusui dan Sadari. Cet-2. Yogyakarta: Nuha
Medika, 2011.
Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibari al-Fannani. terjemahan Fat-hul Mu‟in. Cet-
8, Jilid 2. Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2016.
LAMPIRAN-LAMPIRAN
Susunan Pengurus Paripurna dan Keanggotaan Komisi Majelis Ulama

Indonesia Periode 2010-2015.

1. DEWAN PENASEHAT

Ketua : Prof. Dr. KH. Tolchah Hasan

Wakil Ketua : KH. Kafrawi Ridwan, MA

Wakil Ketua : Letjen TNI (Purn) Ir. H. Azwar Anas,DPR.

Wakil Ketua : Dr. dr. H. Tarmizi Taher

Wakil Ketua : Drs. KH.A. Nazri Adlani

Wakil Ketua : H. Chairul Tanjung

Wakil Ketua : Hj. Aisyah Amini, SH, MH.

Wakil Ketua : Drs. H. Irsyad Djuwaili

Wakil Ketua : Ny. Hj. Mahfudzoh Ali Ubaid

Sekretaris : Drs. H. Abdul Rosyad Saleh

Sekretaris : Drs. H. Irfan, SH, MPd

Sekretaris (ex officio) : Drs. H.M. Icwan Sam

Anggota : 1. Drs. H. Suryadharma Ali, M.Si

2. Ir. H. M. Hatta Rajasa

3. Prof. Dr. H. Muhammad Nuh

4. Prof. Dr. Salim Segaf Al-Jufri

5. Dr. H.M. Maftuh Basyuni

6. Prof. Dr. H. Quraisy Shihab

7. Dr. KH. Hasyim Muzadi

8. Prof. Dr. Said Aqil Siradj


9. Prof. Dr. Asjmuni Abdurrahman

10. Drs. H. Bachtiar Chamsah

11. Dr.H. Sulastomo, MPH

12. Prof. Dr.Hj. Chamamah Suratno

13. Dra.Hj. Khofifah Indar Parawansa, M.Si

14. Dra. Hj. Siti Nurjanah Djohantini, M.M

15. Drs. H.A. Chalid Mawardi

16. H. Ismael Hasan, SH

17. Prof. Dr. KH. Muardi Chatip

18. Dra. Hj. Asmah Syahroni

19. Prof. Dr. KH. Hasan Shohib

20. KH. Syuhada Bahri, Lc.

21. KH. Cholid Fadlullah, SH.

22. H. Yudo Paripurno, SH

23. Hj. Aisyah Hamid Baidlowi

24. KH. Ir. Salahudin Wahid

25. KH. Bunyamin

26. KH. Abdurrahman Nawi

27. KH. Maktub Effendi

28. KH. Mahrus Amin

29. KH. Abdur Rasyid AS

30. Prof. Dr. Amir Syarifuddin

31. Drs. H.A. Mubarok


32. Drs. H. Rusydi Hamka

33. Dr. Hj. Suryani Thaher

34. Prof. Dr. Hj. Aisyah Girindra

35. Prof. Dr. H. Azyumardi Azra

36. H. Margiono

37. Prof. Dr. H. Bachtiar Efendi

38. Dr. H. Wahiduddin Addams, MA

39. Prof. Dr. KH. Miftah Faridh

40. KH. Abd. Shomad Buchori

41. Drs. H. Djauhari Syamsuddin

42. H. M. Trisno Adi Tantiono

43. Geys Ammar, SH

44. Dr. H. Deding Ishak, SH, MH.

45. Prof. Dr. Hj. Nabilah Lubis

46. Prof. Dr. KH. Muslim Nasution, MA

47. Prof. Dr. H. Maman Abdurrahman

48. Drs. H. Zaidan Djauhari

49. Dr. Anwar Sanusi, SH, S.Pel, MM

50. Prof. Dr. Husni Rahim

51. Dr. dr. Rofiq Anwar

52. KH. Nurhasan Zaidi

53. Drs. H. Kurdi Musthofa, M.Si

54. Prof. Dr. H. Hamka Haq, MA


55. Drs. H. Marwan Saridjo

56. Dra. Hj. Bariroh Uswatun Hasanah

II. DEWAN PIMPINAN HARIAN

Ketua Umun : K.H. Dr. M.A. Sahal Mahfudh

Wakil Ketua Umum : Prof. DR. H.M. Din Syamsiddin

Ketua : KH Ma‟ruf Amin

Ketua : Prof. Dr. H. Umar Shihab

Ketua : Dr. H. Amrullah Ahmad, S. Fil.

Ketua : Dr. KH. Abdullah Syukri Zarkasyi

Ketua : Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc

Ketua : Drs H. Basri Barmanda, MBA

Ketua : Drs. H. Amidhan

Ketua : Drs. H. Anwar Abbas, MM

Ketua : Prof. Dr. Hj. Tutty Alawiyah

Ketua : KH. A. Cholil Ridwan, Lc

Ketua : Drs. H. Slamet Efendy Yusuf, M.Si

Ketua : KH. Muhyidin Junaidi, MA

Ketua : Dr. H. Sinansari Ecip, M. Si.


Ketua : Drs. KH. Hafidz Usman

Sekretaris Jenderal : Drs. H.M. Ichwan Sam

Wkl Sekretaris Jenderal : Drs. H. Zainut Tauhid Saadi, M.Si

Wkl Sekretaris Jenderal : Dra. Hj. Welya Safitri, M.Si

Wkl Sekretaris Jenderal : Drs. H. Natsir Zubaidi

Wkl Sekretaris Jenderal : Drs. KH. Tengku Zulkarnain, MA

Wkl Sekretaris Jenderal : Dr. Amirsyah Tambunan

Wkl Sekretaris Jenderal : Dr. Noor Ahmad

Wkl Sekretaris Jenderal : Prof. Dr. Hj. Amany Lubis

Bendahara Umum : Dra. Hj. Juniwati Maschjun Sofwan

Bendahara : Drs. H. Ahmad Djunaidi, MBA

Bendahara : Dr.H.M.Nadratuzzaman Hosen,PhD

Bendahara : Drs. H. Chunaini Saleh

Bendahara : H. Tabri Ali Husein

Bendahara : Dra. Hj. Chairunnisa, MA

III. KOMISI FATWA

Ketua : Prof. Dr. H. Hasanuddin AF, MA


Wakil Ketua : Prof. Dr. Hj. Khuzaemah T. Yanggo

Wakil Ketua : Prof. Dr. H. Fathurrahman Djamil, MA.

Wakil Ketua : Drs. KH. Asnawi Latief.

Wakil Ketua : Prof. Drs. H. Nahar Nahrawi, MM

Wakil Ketua : Dr. H. Maulana Hasanudin, M.Ag.

Sekretaris : Dr. H. Asrorun Ni‟am Sholeh, MA.

Wakil Sekretaris : Drs. H. Sholahudin Al-Aiyub, M.Si.

Wakil Sekretaris : Dr. H. Ma‟rifat Imam KH

Wakil Sekretaris : Drs. H. Muhammad Faiz, MA

Anggota : 1. Dr. KH. Anwar Ibrahim

2. Prof. Dr. H. Muhammad Amin Suma, SH, MA

3. Dr. KH. Masyhuri Naim

4. Drs. KH. Ghazalie Masroeri

5. KH. Syarifudin Abdul Mughni, MA

6. Prof. Dr. H. Sutarmadi

7. Dr. Imam Ad- Daraquthni, MA

8. Dr. H. Abdurrahman Dahlan, MA


9. Dr. H.A. Fattah Wibisono, MA

10. Dr. KH. A. Malik Madani,MA

11. Dr. KH. A. Munif Suratmaputra, MA

12. Dra. Hj. Mursyidah Thahir, MA

13. Drs. H. Aminudin Yakub, MA

14. Drs. H. Zafrullah Salim, SH, M. Hum

15. Dr. H. Umar Ibrahim, M.Ag.

16. Drs. KH. Syaifudin Amsir, MA

17. Dr. KH. Hamdan Rasyid

18. KH. Arwani Faishol

19. Dr. H. Suhairi Ilyas, MA

20. KH. Drs. H. Ridwan Ibrahim Lubis

21. KH. Endang Mintarja

22. Prof. Dr. M. Najib, MA

23. KH. Dr. Ade Suherman

26. KH. Sulhan, MA

27. Dr. H. Ahmad Hasan Ridhwan


28. Prof. Dr. KH. Artani Hasbi

29. Dr. H. Sopa, MA

30. Drs. H. Tb. Abdurrahman Anwar, SH, MA

31. Prof. Dr. H. Salman Manggalatung, SH, MA

32. Prof. Dr. H. Syamsul Anwar

33. Drs. KH. Anwar Hidayat, SH

34. Dr. H. Ahmad Tholabi Kharlie

35. Prof. Dr. Hj. Uswatun Hasanah

36. Prof. Dr. H. Ahmad Syatori Ismail, MA

37. Dr. KH. Mukri Aji

38. Drs. KH. Nuril Huda

39. KH. Taufiq Rahman Azhar

40. Drs. H. Sirril Wafa, MA

41. Dr. H. Setiawan Budi Utomo

42. Abdullah Abdul Kadir, MA.