Anda di halaman 1dari 10

AERASI

1.1 Aerasi
Aerasi adalah penambahan oksigen ke dalam air sehingga oksigen terlarut di dalam air
semakin tinggi. Pada prinsipnya Aerasi itu proses pengolahan dimana air dibuat mengalami
kontak dengan udara untuk meningkatkan kandungan oksigen dalam air tersebut. Dengan
meningkatnya oksigen akan mengakibatkan lepasnya gas – gas yang tidak diinginkan yang
terlarut dalam air.
Gas – gas dilarutkan dalam air atau yang dibebaskan dari air hingga konsentrasi gas – gas
mencapai nilai kejenuhannya. Konsentrasi gas dalam cairan biasanya menuruti hukum Henry
yang menyatakan bahwa konsentrasi masing-masing gas dalam air berbanding langsung
dengan tekanan partial atau konsentrasi gas dalam atmosfir bila dikontakkan dengan air.
Nilai kejenuhan gas untuk H2S dan CO2berkisar antara 0-0,5 mg/l, jika dipaparkan pada pada
udara normal tekanan parsialnya masing – masing berkisar antara 0-0,03 %. Untuk
memastikan bahwa aerasi sudah sesuai maka harus dilakukan peningkatan areal yang
berkontak dan waktu kontak antara atmosfir dan air yang akan diaerasi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perpindahan oksigen adalah suhu, kejenuhan oksigen,
karakteristik air, dan derajat turbulensi
Dalam proses aerasi dapat menyisihkan beberapa senyawa yaitu sebagai berikut :
a) Penyisihan rasa dan bau, Aerasi mempunyai keterbatasan dalam hal penyisihan rasa dan
bau, sebagian besar rasa dan bau disebabkan oleh bahan yang sangat larut dalam air,
sehingga aerasi kurang efisien dalam menyisihkan rasa dan bau apabila dibandingkan
dengan metode yang lain.
b) Penyisihan besi dan mangan. Penyisihan besi dan mangan dapat dilakukan dengan proses
oksidasi. Aplikasi aerasi dalam proses ini dapat memberikan cukup banyak oksigen
untuk berlangsungnya reaksi. Proses ini biasanya digunakan pada air tanah yang
kebanyakan mempunyai kandungan oksigen terlarut yang rendah. Oleh karena itu, aerasi
dalam aplikasi ini akan menghasilkan endapan dan meningkatkan konsentrasi oksigen
terlarut. Mangan sering kali tidak dapat teroksidasi pada pH normal. Peningkatan pH
sampai 8,5 dapat memperbesar oksidasi mangan, khususnya jika digunakan menara
aerator.
c) Penyisihan senyawa organik volatile. Senyawa organik yang bersifat mudah menguap
(volatile) dapat disisihkan dengan cara aerasi. Karbondioksida dapat cepat
dihilangkan dengan cara aerasi.
d) Penyisihan Karbondioksida. Karbondioksida mempunyai kelarutan yang rendah
dalam air, sehingga aerasi sangat efisien dalam penyisihannya. Proses ini biasanya
diterapkan pada pelunakan air tanah yang umumnya mempunyai kandungan
karbondioksida yang tinggi. Tingginya konsentrasi karbondioksida dalam air dapat
meningkatkan pemakaian bahan kimia untuk keperluan pelunakan.
e) Penyisihan hidrogen sulfida. Hidrogen sulfida adalah senyawa utama penyebab rasa
dan bau yang dapat diolah cukup efektif dengan aerasi. Mekanisme pengolahannya
adalah terjadi oksidasi hidrogen sulfida menghasilkan air dan belerang bebas

1.2 Jenis – jenis dari Aerator


Berdasarkan pengoperasiannya aerasi, aerator dapat dibagi atas berapa tipe :
1. Gravitasi / jatuhan
2. Semprotan / spray
3. Diffuser
4. Mekanik
Perbandingan untuk desain dan karakteristik operasi dari berbagai macam jenis aerator
Tabel 1.2 desan dan karakteristik operasi aerator
1.2.1 Aerator Gravitasi / jatuhan
Aerator gravitasi, meliputi pelimpah, terjunan air, multiple tray aerator (Aerator
multi baki), Cascade aerator (aerator berjenjang).
Operasi aerasi dengan sistem ini, dilakukan dengan memompa air pada ketinggian
tertentu kemudian dilepaskan pada titik pancaran pada bagian paling atas dari alat. Suhu
udara dan kecepatan angin sangat berpengaruh pada laju aerasi. Waktu kontak ditentukan
oleh tinggi jatuhan dan kapasitas aliran air yang direncanakan.
Rumus umum efisiensi aerasi dengan metoda jatuhan bertingkat adalah:
Ce − Co
K=
Cs −Co
dimana:
K = koefisien efisiensi
Cs = konsentrasi jenuh oksigen terlarut pada suhu operasi., mg/l
Ce= konsentrasi oksigen setelah aerasi,mg/l
Co = konsentrasi oksigen pada saat awal, mg/l
Pengaruh faktor suhu dan tinggi jatuhan pada efisiensi aerasi untuk berbagai jenis
air dirumuskan secara empiris sebagai berikut:
1. Air tanah tak terpolusi
K = 0,45 (1 + 0,026. T). H
2. Air tercemar
K = 0,36 (1+0,046.T). H
3. Air limbah domestik
K = 0,29 (1+0,046.T).H
Dimana : T = suhu air,
H = tinggi jatuhan, m.
Waktu kontak antara air dan udara untuk gravity aerator jatuh bebas:
2ℎ
t=√
𝑔

Dimana : t = waktu kontak


h = tinggi jatuhan
g = percepatan gravitasi
Aerasi dengan weir berganda, secara empiris dirumuskan :
𝑘 𝑛
𝐶𝑛 = 𝐶𝑠 − [𝐶𝑠 − 𝐶𝑜] 𝑥 [1 − ]
𝑛
dimana:
K = koefisien efisiensi
Cs = konsentrasi jenuh oksigen terlarut pada suhu operasi., mg/l
Co = konsentrasi oksigen pada saat awal, mg/l
n = banyaknya weir

a. Multiple Tray Aerator (aerator multi baki)


Di dalam aerator ini air dipancarkan melalui sebuah pipa ke bagian atas dari
susunan baki. Selanjutnya air tersebut di distribusikan pada baki – baki tersebut secara
vertikal, sehingga membentuk seperti hujan buatan dan air tersebut jatuh ke bawah dari
satu baki ke baki ke dua, ke tiga dan seterusnya. Untuk meningkatkan efisiensi aerator
ini baki biasanya diisi dengan media seperti arang, batu atau keramik yang ukuran 5
hingga 15 cm. Untuk meningkatkan waktu kontak dapat dilakukan dengan menambah
jumlah baki.

Gambar 1.1 Aerator Multi Bak

b. Cascade Aerator (aerator berjenjang)


Cascade atau jenjang adalah air yang dijatuhkan melalui beberapa buah anak
tangga secara seri. Jika air dibiarkan jatuh pada beberapa seri tangga akan terjadi
kontak antara air dan udara yang berada di atmosfer
Gambar 1.2 Cascade Aerator
1.2.2 Aerator semprotan / spray
Dalam metode ini air dipancarkan melalui nozzle ke atas dan selanjutnya
dipecahkan menjadi butir-butir kecil yang akan terkontak diudara dengan atmosfer.
Berikut adalah persamaan yang digunakan dalam perhitungan aerator semprot (spray
aerator) :

𝑄 = 𝑛 𝑥 𝑞 = 𝑛 𝑥 𝑐𝑑 𝑥 𝑎 𝑥 √2𝑔. ℎ

Dimana : Q : Debit total, m3


Cd : Koefesien lubang
n : Jumlah lubang
q : Debit tiap lubang, m3/lubang
a : Luas penampang lubang, m2
h : head pada lubang, m
Nilai Cd tergantung pada bentuk lubang. Pada tipe sharp edged, nilai Cd = 0,6, rounded
Cd = 0,8, dan streamline Cd = 0,85 hingga 0,92.

Gambar 1.3 Spray Aerator


1.2.3 Aerator Diffuser
Aerator ini terdiri dari suatu bejana pada dasarnya dimana pada bahagian atasnya
di isi dengan pipa-pipa yang berlobang atau tabung-tabung dan plat yang membentang.
Udara yang dipancarkan melalui blower dipancarkan melalui pipa – pipa. Gelembung
udara yang dibebaskan berkontak dengan air yang dipompakan sehingga terjadi proses
perpindahan udara dari atmosfer ke dalam air.
Aerator udara terdifusi melakukan transfer oksigen dari udara bertekanan yang
diinjeksikan ke dalam air. Injeksi udara berlangsung dalam bak besar melalui difuser
berpori berbentuk plat atau tabung. Udara yang keluar dari difuser biasa berbentuk
gelembung udara yang akan menyebabkan peningkatan turbulensi air. Gelembung yang
dihasilkan oleh diffuser di klasifikasikan menjadi fine dan coarse bubble. Efisiensi yang
dapat dicapai dengan fine bubble aerator adalah 8 - 12%, Sementara untuk coarse bubble
aerator adalah 4 - 8%. Periode aerasi berkisar 10 – 30 menit, suplai udara 0,1 – 1 m3/menit
per m3 volume tangki.
Laju perpindahan oksigen untuk aerasi dengan injeksi udara (diffused aeration)
diformulasikan (Eckenfelder dan Ford dalam Reynolds,1996) :

𝑁 = 𝑐 𝑥 𝐺𝑎 1−𝑛 𝐷0.67 (𝐶𝑠𝑚 − 𝐶𝐿 ) 𝑥 1,02(𝑇−20) ∝

Dimana : c dan n : konstanta


Ga : Debit udara pada 200C dan 1 atm, m3/menit
D : Kedalaman diffuser, m
Csm : Konsentrasi gas jenuh pada setengah kedalaman bak, mg/l
CL : Konsentrasi gas jenuh pada keseluruhan kedalaman bak, mg/l
α : KLa (air)/KLa (air bersih)
Karena kelarutan oksigen bervariasi terhadap tekanan, konsentrasi jenuh oksigen, Csm di
tentukan pada setengah kedalaman tangki aerasi yang dapat dideketahui dengan dengan
rumus:
𝑃𝑟 𝑂𝑒
𝐶𝑠𝑚 = 𝐶𝑠 ( + )
203 42

Dimana : Cs : Konsentrasi gas jenuh, mg/l


Pr : Tekanan absolut pada kedalaman pelepasan udara, kPa
Oe : % gas dalam aliran udara yang dikeluarkan
Kebutuhan energi untuk suatu kompressor udara dapat dihitung dengan persamaan:

Dimana : P = daya, kW
F = massa aliran udara, kg/det
= Ga (m3/det) x densitas udara (kg/m3)
R = konstanta gas = 0,288
T1 = suhu absolut udara masuk, 0K
P1 = tekanan absolut udara masuk, kPa
P2 = tekanan absolut udara keluar, kPa
n = 0,283 untuk udara
E = efisiensi kompressor biasanya berkisar antara 70 – 80 %.
C = 1,0

1.2.4 Aerator mekanik


Aerator ini jarang digunakan di dalam pengolahan air karena biayanya relatif lebih
mahal tetapi aerator ini banyak digunakan di dalam pengolahan air limbah. Aerator
mekanik ini menggunakan alat pengaduk yang digerakkan motor. Ada beberapa tipe alat
pengaduk, yaitu paddle tenggelam, paddle permukaan, propeller, turbine, dan aerator
draft-tube.
Rumus untuk laju perpindahan oksigen untuk aerasi mekanik adalah :
𝐶𝑠 −𝐶𝐿
𝑁 = 𝑁 o[ ] 𝑥 1,02(𝑇−20)
9,17

Dimana : N : Laju perpindahan oksigen pada kondisi operasi, lb/jam.


No : Perpindahan oksigen dalam aerator, lb/jam
Cs : Konsentrasi jenuh oksigen terlarut pada suhu operasi., mg/l
CL : konsentrasi gas jenuh pada keseluruhan kedalaman bak, mg/l

Klasifikasi aerator mekanik meliputi :


a) high-speed axial-flow pump
 sering digunakan untuk aerated lagoon
 daya motor: 1 - 150 hp (0,75 - 112 kW)
 kecepatan putaran: 900 - 1800 rpm
 kedalaman air: 0,9 - 5,5 m
 kecepatan transfer oksigen: 1,22 - 2,37 kg/kW.jam
b) slow speed vertical turbine
 digunakan untuk activated sludge, aerobic digestion, aerated lagoon
 daya motor: 3 - 150 hp (2,2 - 112 kW)
 diameter turbine: 0,9 - 3,7 m
 speed: 30 - 60 rpm
 kedalaman air: 0,9 - 9,1 m
 kecepatan transfer oksigen: 1,22 - 2,37 kg/kW.jam
c) submerged slow-speed vertical turbine
 ditempatkan pada 0,46 m di atas dasar bak
 diameter turbine: 0,1 - 0,2 kali lebar bak
 kecepatan transfer oksigen: 1,22 - 1,83 kg/kW.jam
 diperlukan sumber udara bertekanan
d) rotating brush aerator
 digunakan untuk oxidation ditch
 tersusun atas poros horisontal yang panjang dengan bristle yang tercelup air
sebagian
 kecepatan transfer oksigen: 1,83 - 2,13 kg/kW.jam

1.2.5 Contoh soal


Suatu diffuser udara digunakan untuk aerasi proses lumpur aktif. Diffuser
diletakkan pada kedalaman 4 m di bawah permukaan air. Kehilangan gesekan di sistem
perpipaan diestimasikan sebesar 13 kPa. Perancangan didasarkan pada tekanan barometrik
rata-rata sebesar 740 mm Hg dan suhu operasi 25 0C. Spesifikasi dari pabrik menunjukkan
bahwa setiap difuser mampu mentransfer 0,8 kg O2/jam, jika dioperasikan pada debit
udara udara 0,3 m3/menit. Estimasikan massa O2/jam yang ditransfer per unit difuser pada
kondisi aktual. Asumsikan bahwa 7 % oksigen yang ada dalam gelembung udara terserap
dalam air. Pada kondisi tunak konsentrasi oksigen terlarut sebesar 2,5 mg/lt.

Penyelesaian :
1. Dihitung nilai Cs untuk air kran pada suhu 25 0C & P = 740 mm Hg . Pada tekanan 760
740−23,8
mm Hg nilai Cs = 8,4 mg/lt dan Pu = 23,8 mm Hg Sehingga 𝐶𝑠 = (8,4 )=
760−23,8

8,17 𝑚𝑔/𝑙𝑡
𝑟 𝑃 𝑂
2. Hitung nilai Csm pada titik tengah dengan 𝐶𝑠𝑚 = 𝐶𝑠 (203 + 42𝑒)

1 atm = 10,34 m air = 101,37 kPa


Pr = Patm + (H/10,34) x 101,37 + (kehilangan energi gesekan)
Pr = [(740/760) x101,35]+[(4/10,34) x 101,37]+13 = 150,9 kPa
Oe = 21 % (1-x) = 21 % (1-0,07) = 19,5 %
Jadi Csm = 8,17 [(150,9/203) + (19,5/42)] = 9,87 mg/lt.
3. Massa oksigen yang ditransfer dihitung dengan

𝑁 = 𝑐 𝑥 𝐺𝑎 1−𝑛 𝐷0.67 (𝐶𝑠𝑚 − 𝐶𝐿 ) 𝑥 1,02(𝑇−20) ∝ dengan asumsi konstanta


C dan n masing-masing 0,04233 dan 0,1 dan α = 0,75, maka
𝑁 = 0,04233 𝑥 0,30,9 40,67 (9,87 − 2,5) 𝑥 1,02(25−20) 0,75
N = 0,21 𝑘𝑔 𝑂2 /𝑗𝑎𝑚
DAFTAR PUSTAKA

1. Reynolds, Tom D, Unit Operations and Processes in Environmental Engineering,


Brooks/Cole Engineering Divisions, Moenterey, California, 1996.
2. Qasim, Syed R, Edward M. Motley, dan Guang Zhu, Water Works Engineering:
Planning, Design dan Operation, Prentice Hall PTR, Upper Saddle River, NJ
07458, 2000.
3. https://www.youtube.com/watch?v=k3k5hMJF2cQ video mengenai proses aerasi.