Anda di halaman 1dari 16

PERIODE POST PARTUM

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. S DENGAN POST SC


DIRUANG NUSA INDAH RUMAH SAKIT RSUD Dr soeselo
Slawi

DISUSUN OLEH
YUSNI MARYATI (C1013077)

DOSEN PEMBIMBING :Dwi budi p,M.kep.,Ns.sp.kep,kom

STIKES BHAKTI MANDALA HUSADA SLAWI


Jl. Cut NyakDienKalisapuslawiKab.Tegal
Telp.(0283) 6197570,6197571
TAHUN 2015 / 2016
LAPORAN PENDAHULUAN

A. DEFINISI
Nifas atau purperium adalah periode waktu atau masa dimana organ-
organ reproduksi kembali ke keadaan tidak hamil (Forner, 1999 : 225).
Masa nifas/masa purperium adalah masa setelah partus selesai dan
berakhir setelah kira-kira 6 minggu (Arif, 1999 : 344).
Sectio caesarea adalah melahirkan janin melalui insisi pada dinding
abdomen (laparatomi) dan dinding uterus (histeretomi) (Cunningham, Mac
Donnald, Gant, 1995. 511).
Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan
membuka dinding perut dan dinding rahim (Arif, 1999 : 344).
Dengan demikian perawatan pada ibu nifas dengan post operasi sectio
caesarea adalah perawatan pada ibu pada masa setelah melahirkan janin
dengan cara insisi/pembedahan dengan membuka dinding perut dan dinding
rahim sampai organ-organ reproduksi ibu kembali pulih yang berakhir kira-
kira 6 minggu.
B. ETIOLOGI
Operasi sectio caesarea dilakukan jika kelahiran pervaginal mungkin akan
menyebabkan resiko pada ibu ataupun pada janin, dengan pertimbangan
hal-hal yang perlu tindakan SC proses persalinan normal lama/ kegagalan
proses persalinan normal ( Dystasia ). Arif Mansjoer (1994 : 344 - 345)
a. Pada Ibu :
 Disproporsi kepala panggul/CPD//FPD
 Disfungsi uterus
 Distosia jaringan lunak
 Plasenta previa
 His lemah / melemah
 Riwayat sectio caesarea
b. Pada Anak :
 Janin besar
 Gawat janin
 Letak lintang
 Hydrocephalus

C. MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinis sectio caesarea menurut Doenges (2001 : 414), antara
lain :
1. Nyeri akibat luka pembedahan
2. Luka insisi pada bagian abdomen
3. Fundus uterus kontraksi kuat dan terletak di umbilicus
4. Aliran lokhea sedang dan bebas bekuan berlebihan atau banyak
5. Kehilangan darah selama prosedur pembedahan kira-kira 600 – 800 ml
6. Emosi klien labil dengan mengekspresikan ketidakmampuan menghadapi
situasi baru
7. Terpasang kateter urinarius pada sistem eliminasi BAK
8. Dengan auskultasi bising usus tidak terdengar atau mungkin samar
9. Immobilisasi karena adanya pengaruh anastesi
10. Bunyi paru jelas dan vesikuler dengan RR 20x/menit
11. Karena kelahiran secara SC mungkin tidak direncanakan maka biasanya
kurang pahami prosedur
D. PATOFISIOLOGI
Adanya beberapa kelainan / hambatan pada proses persalinan yang
menyebabkan bayi tidak dapat lahir secara normal / spontan, misalnya
plasenta previa sentralis dan lateralis, panggul sempit, disproporsi cephalo
pelvic, rupture uteri mengancam, partus lama, partus tidak maju, pre-
eklamsia, distosia serviks, dan malpresentasi janin. Kondisi tersebut
menyebabkan perlu adanya suatu tindakan pembedahan yaitu Sectio
Caesarea (SC).
Dalam proses operasinya dilakukan tindakan anestesi yang akan
menyebabkan pasien mengalami imobilisasi sehingga akan menimbulkan
masalah intoleransi aktivitas. Adanya kelumpuhan sementara dan
kelemahan fisik akan menyebabkan pasien tidak mampu melakukan
aktivitas perawatan diri pasien secara mandiri sehingga timbul masalah
defisit perawatan diri.
Kurangnya informasi mengenai proses pembedahan, penyembuhan, dan
perawatan post operasi akan menimbulkan masalah ansietas pada pasien.
Selain itu, dalam proses pembedahan juga akan dilakukan tindakan insisi
pada dinding abdomen sehingga menyebabkan terputusnya inkontinuitas
jaringan, pembuluh darah, dan saraf - saraf di sekitar daerah insisi. Hal ini
akan merangsang pengeluaran histamin dan prostaglandin yang akan
menimbulkan rasa nyeri (nyeri akut). Setelah proses pembedahan berakhir,
daerah insisi akan ditutup dan menimbulkan luka post op, yang bila tidak
dirawat dengan baik akan menimbulkan masalah risiko infeksi.

E. PENATALAKSANAAN
1. Perawatan I setelah post operasi
a. Pembalutan luka (wound dressing) dengan baik
Dibersihkan dengan alkohol dan larutan suci hama (larutan betadine)
lalu ditutup dengan kain penutup luka.
b. Pemberian cairan
D 5 – 10%, garam fisiologis dan RL secara bergantian, 20 tts/mnt
c. Diit
Makanan dan minuman diberikan setelah pasien flatus. Minuman yang
diberikan air putih atau air teh. Makanan yang diberikan dari bubur
saring, minuman air buah dan susu, selanjutnya secara bertahap bubur
dan akhirnya makanan biasa.
d. Kateteriasasi
e. Obat-obatan
1) Antibiotik, kemoterapi dan anti inflamasi
2) Obat-obat pencegah perut kembung : plasil, perimpuran
3) Obat anti nyeri : pethidin 100 – 150 mg atau morfin 10 – 15 mg
4) Transfusi darah apabila penderita anemia
2. Perawatan rutin
Pemeriksaan dan pengukuran, yang diukur adalah :
a. Tekanan darah, nadi, frekuensi pernafasan, suhu
b. Jumlah cairan masuk dan keluar (urine)
Dilakukan pemeriksaan dan pengukuran setiap 4 jam sekali

F. KOMPLIKASI
1. Infeksi Puerperalis
Komplikasi ini bersifat ringan, seperti kenaikan suhu selama beberapa hari
dalam masa nifas atau dapat juga bersifat berat, misalnya peritonitis, sepsis
dan lain-lain. Infeksi post operasi terjadi apabila sebelum pembedahan
sudah ada gejala - gejala infeksi intrapartum atau ada faktor - faktor yang
merupakan predisposisi terhadap kelainan itu (partus lama khususnya
setelah ketuban pecah, tindakan vaginal sebelumnya). Bahaya infeksi
dapat diperkecil dengan pemberian antibiotika, tetapi tidak dapat
dihilangkan sama sekali, terutama SC klasik dalam hal ini lebih berbahaya
daripada SC transperitonealis profunda.

2. Perdarahan
Perdarahan banyak bisa timbul pada waktu pembedahan jika cabang
arteria uterina ikut terbuka atau karena atonia uteri

3. Komplikasi - komplikasi lain seperti :


 Luka kandung kemih
 Embolisme paru - paru
4. Suatu komplikasi yang baru kemudian tampak ialah kurang kuatnya perut
pada dinding uterus, sehingga pada kehamilan berikutnya bisa terjadi
ruptura uteri. Kemungkinan hal ini lebih banyak ditemukan sesudah
sectio caesarea klasik.

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Hemoglobin atau hematokrit (HB/Ht)
untuk mengkaji perubahan dari kadar pra operasi dan mengevaluasi efek
kehilangan darah pada pembedahan.
b. Leukosit (WBC) mengidentifikasi adanya infeksi
c. Tes golongan darah
d. Urinalisis / kultur urine
e. Pemeriksaan elektrolit

H. KONSEP DASAR TEORI


1. Pengkaijian dasar data klien
(Marilyn E. Doenges, 2001 : 414)
a. Sirkulasi
Kehilangan darah selama prosedur pembedahan kira-kira 600 – 800
ml.
b. Integritas ego
Dapat menunjukkan labilitas emosional, dari kegembiraan sampai
ketakutan, marah atau menarik diri. Klien/pasangan dapat memiliki
pertanyaan atau salah terima peran dalam pengalaman kelahiran.

c. Eliminasi
Kateter urinarius indwelling mungkin terpasang : urine jernih pucat.
Bising usus tidak ada, samar atau jelas.
d. Makanan/cairan
Abdomen lunak dengan tidak ada distensi pada awal.
e. Neurosensori
Kerusakan gerakan dan sensasi di bawah tingkat anastesi spinal
apidural.
f.Nyeri/ketidaknyamanan
Mungkin mengeluh ketidaknyamanan dari berbagai sumber, misal :
trauma bedah/insisi, nyeri penyerta, distensi kandung kemih/abdomen,
efek-efek anastesi, mulut mungkin kering.
g. Pernafasan
Bunyi paru jelas dan vesikuler.
h. Keamanan
Balutan abdomen tampak sedikit noda atau kering dan utuh. Jalur
parental, bila digunakan, paten dan sisi bebas eritema, bengkak dan
nyeri tekan.
i. Seksualitas
Fundus kontraksi kuat dan terletak di umbilicus. Aliran lokhea sedang
dan bebas bekuan berlebihan/banyak.
j. Pemeriksaan diagnostik
Jumlah darah lengkap, Hb/Ht : mengkaji perubahan dari kadar pra
operasi dan mengevaluasi efek kehilangan darah pada pembedahan.
Urinalisis : kultur urine, darah, vaginal dan lokhea : pemeriksaan
tambahan didasarkan pada kebutuhan individual.
2. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul (Marilyn E. Doenges,
2001 : 417) :
a. Nyeri berhubungan dengan trauma pembedahan, efek anastesi, efek
hormonal, distensi kandung kemih atau abdomen ditandai dengan
mengeluh nyeri insisi, kram, sakit kepala, abdomen kembung, nyeri
tekan payudara, perilaku melindungi atau distraksi wajah menahan
nyeri
b. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan trauma jaringan
atau kulit rusak, penurunan hemoglobin
c. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan
dengan pembatasan pemasukan cairan secara oral ditandai dengan
mulut dan membran mukosa kering, perdarahan
d. Resiko terjadi konstipasi berhubungan dengan penurunan tonus otot,
efek progesteron
e. Kurang perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik,
penurunan kekuatan dan tahanan
f. Ketidakefektifan menyusui berhubungan dengan kurangnya tingkat
pengetahuan ibu ditandai dengan ASI belum keluar, mammae terasa
lembek
g. Resiko terhadap perubahan fungsi pernafasan berhubungan dengan
status post anastesi, immobilisasi post operasi dan nyeri
h. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang mengingat,
kesalahan interprestasi

3. perencanaan keperawatan
a. nyeri berhubungan dengan trauma pembedahan
 Tujuan
Nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan berupa
manajemen pengurangan nyeri selama 30 detik dalam 2 x 24 jam
diharapkan klien dapat beradaptasi nyeri.
 Kriteria hasil
1) Klien bisa mengidentifikasi dan menggunakan intervensi untuk
mengatasi nyeri
2) Klien mengungkapkan berkurangnya nyeri
3) Klien tampak rileks dan mampu istirahat dengan tepat
 Intervensi
1) Evaluasi TD, nadi, perubahan perilaku
2) Ubah posisi klien
3) Lakukan latihan nafas dalam
 Rasionalisasi
1) Pada banyak klien nyeri dapat menyebabkan gelisah dan TD
meningkat
2) Merelaksasikan otot
3) Nafas dalam meningkatkan upaya pernafasan, pembebatan
menurunkan regangan dan ketegangan areal insisi
b. Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan trauma pembedahan
 Tujuan
Infeksi tidak terjadi setelah dilakukan tindakan berupa perawatan luka
operasi selama 30 menit dalam 9 – 14 hari sampai luka sembuh
 Kriteria hasil
1) Tidak
2)
3) ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿaspalphaMendemonstrasikan
menurunkan
demamresiko
Menunjukkan
penyembuhan teknik-teknik
luka bebas dari drainase purulent dengan tandauntuk
awal
 Intervensi
1) Anjurkan dan gunakan teknik mencuci tangan dengan cermat dan
pembuangan kotoran
2) Tinjau ulang Hb/Ht
3) Inspeksi balutan abdominal
 Rasionalisasi
1) Membantu mencegah/membatasi penyebaran infeksi
2) Anemia, DM, dan persalinan lama sebelum kelahiran caesarea
meningkatkan resiko infeksi dan menghambat penyembuhan
3) Balutan steril menutup luka pada 24 jam pertama kelahiran
caesarea membantu melindungi luka dari cidera atau kontaminasi
c. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan pembatasan
masukan cairan secara oral
 Tujuan
Eliminasi urine kembali normal setelah dilaksanakan tindakan
keperawatan pada pasien berupa penggunaan metode-metode untuk
pengeluaran urine dalam dower kateter dalam 24 jam pertama post
partum
 Kriteria hasil
Klien tetap dalam normotensif dengan masukan cairan dan haluaran
urine seimbang dan Hb/Ht dalam kadar normal
 Intervensi
1) Perhatikan dan catat jumlah, warna dan konsentrasi drainase urine
2) Perhatikan adanya rasa haus
3) Pantau suhu dan nadi
 Rasionalisasi
1) Oliguri mungkin disebabkan oleh kehilangan cairan
2) Rasa haus merupakan cara homestatis dari penggantian cairan
melalui peningkatan rasa haus
3) Peningkatan suhu dapat memperberat dehidrasi
d. Resiko konstipasi berhubungan dengan penurunan tonus otot, kelebihan
analgesik, penurunan peristaltik usus
 Tujuan
Konstipasi tidak terjadi setelah dilaksanakan tindakan keperawatan
berupa anjuran untuk mobilisasi selama 15 menit dalam 24 jam
 Kriteria hasil
1) Mendemonstrasikan kembalinya motilitas usus dibuktikan oleh
bising usus dan keluarnya flatus
2) Mendapatkan pola eliminasi kembali biasanya
 Intervensi
1) Auskultasi terhadap adanya bising usus
2) Palpasi abdomen, perhatikan distensi, ketidaknyamanan
3) Anjurkan cairan oral yang adekuat
 Rasionalisasi
1) Menentukan kesiapan terhadap pemberian makanan per oral
2) Menandakan pembentukan gas akumulasi/kemungkinan ileus
paralitis
3) Mencegah konstipasi defekasi
e. Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik
 Tujuan
Personal hygiene pasien terpenuhi setelah dilakukan tindakan
keperawatan berupa membantu memandikan pasien selama 30 menit
dalam 24 jam
 Kriteria hasil
1) Mendemonstrasikan teknik-teknik untuk memenuhi kebutuhan
perawatan diri
2) Mengidentifikasi atau menggunakan sumber-sumber yang tersedia
 Intervensi
1) Kaji status psikologis pasien
2) Berikan bantuan sesuai kebutuhan dengan hygiene
3) Kolaborasi pemberian analgetik

 Rasionalisasi
1) Pengalaman nyeri fisik mungkin disertai nyeri mental yang
mempengaruhi keinginan klien untuk mendapatkan otonomi
2) Memperbaiki harga diri meningkatkan sejahtera
3) Menurunkan ketidaknyamanan
f. Ketidakefektifan menyusui berhubungan dengan kurangnya tingkat
pengetahuan ibu
 Tujuan
Menyusui efektif setelah dilaksanakan tindakan keperawatan berupa
penyuluhan dan teknik menyusui 1 jam dalam 24 jam
 Kriteria hasil
1) Menyatakan pemahaman tentang proses/situasi menyusui
2) Mendemonstrasikan teknik efektif menyusui
 Intervensi
1) Kaji pengetahuan klien tentang menyusui sebelumnya
2) Berikan informasi verbal dan tertulis mengenai fisiologi dan
keuntungan menyusui
 Rasionalisasi
1) Membantu dalam mengidentifikasi kebutuhan saat ini dan
mengembangkan rencana keperawatan
2) Membantu suplay susu adekuat, mencegah puting luka, memberi
kenyamanan
g. Resiko terhadap perubahan fungsi pernafasan berhubungan dengan status
pasca anastesi, immobilisasi pasca operasi dan nyeri
 Tujuan
Fungsi pernafasan tidak berubah setelah dilakukan tindakan
keperawatan berupa batuk efektif selama 1 x 15 menit dalam 24 jam
 Kriteria hasil
Tidak terjadi penumpukan sputum di tenggorokan
 Intervensi
1) Anjurkan batuk efektif setiap 2 jam sekali setelah operasi
2) Kaji respirasi dan nadi setiap 2 jam setelah post operasi
3) Mobilisasikan pasien setiap 2 jam post operasi miring kanan/kiri
sebelum ambulasi

 Rasional
1) Untuk mengeluarkan sputum dari tenggorokan
2) Respiratori dapat berubah jika terjadi perubahan fungsi pernafasan
3) Membantu mengeluarkan sekret dari jalan nafas dan mencegah
kongesti dan mencegah organisme status di jalan nafas
h. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang mengingat, kesalahan
interprestasi
 Tujuan
Pengetahuan tentang proses fisiologis post partum terpenuhi setelah
dilakukan tindakan keperawatan berupa pemberian informasi post
partum selama 30 menit dalam 24 jam
 Kriteria hasil
1) Mengungkapkan pemahaman tentang perubahan fisiologis
keutuhan-kebutuhan individu, hasil yang diharapkan
2) Melakukan aktivitas-aktivitas yang perlu dengan benar
 Intervensi
1) Kaji kesiapan dan motivasi klien untuk belajar
2) Berikan rencana penyuluhan tertulis dengan menggunakan format
yang distandarisasi
3) Kaji keadaan fisik klien
4) Perhatikan status psikologis dan respon terhadap kelahiran caesarea
serta peran menjadi ibu
 Rasionalisasi
1) Periode post partum dapat menjadi pengalaman positif bila
kesempatan penyuluhan diberikan untuk membantu
mengembangkan pengetahuan ibu, motivasi dan kompetisi
2) Membantu menjamin kelengkapan informasi yang diterima orang
tua dari anggota staf dan menurunkan konfusi klien yang
disebabkan oleh desiminasi nasehat atau informasi yang
menimbulkan konflik
3) Ketidaknyamanan berkenaan dengan insisi atau nyeri penyerta,
biasanya berkurang pada hari ketiga pasca operasi, memungkinkan
klien berkonsentrasi lebih penuh dan lebih menerima penyuluhan
4) Ansietas yang berhubungan dengan kemampuan untuk merawat
diri sendiri dan anaknya, kekecewaan pada pengalaman kelahiran
dapat mempunyai dampak negatif pada kemampuan belajar dan
kesiapan klien
DAFTAR PUSTAKA

Doenges, M.E. 2001. Rencana Keperawatan Maternal dan Bayi, Edisi II. Jakarta :
EGC.

Farrer, H. 1999. Perawatan Maternitas, Edisi II. Jakarta : EGC.


http://ners-blog.blogspot.com. keperawatan_ asuhan keperawatan maternitas SC
(sectio caesarea ).html/ diakses 15 desember 2015

Gant,arif M. 1995. Obstetri Williams. Jakarta : EGC.

Hamilton, PM. 1995. Dasar-Dasar Keperawatan Maternitas, Edisi 6. Jakarta :


EGC.
Sectio caesarea

Luka post operasi Luka post operasi nifas

Penekanan pons
Penekanan Mo
Jaringan terputus Luka insisi Uterus Laktasi
Peristaltik usus
Reflek batuk menurun
terganggu Nyeri Jaringan terputus Kontraksi Isapan bayi

Penumpukan sekret
Gangguan Perdarahan Merangsang
mobilitas Adekuat Tidak adekuat Luka bekas
Pola nafas tidak perlengketan
efektif Hb rendah
plasenta
Penyempitan Kontraksi uterus Hipofisa anterior Hipofisa
Resti Kurang pembuluh darah tidak baik posterior
konstipasi perawatan Resti infeksi
pada luka jahit Lokhea
diri Memproduksi
Perdarahan prolaktin Memproduksi
Nyeri Resti infeksi oxytocin
Resiko volume Inadekuat
cairan kurang Adekuat
Sumber : Produksi ASI <
Gangguan Kontraksi otot
Prof. Dr. Ida Bagus Manuaba, 1998
sirkulasi polos duktus
Prof. Dr. Rustam Mochtar, 1999 Ketidakefektifan mayor
Christina S. Ibrahim, 2001 Resti shock menyusui
hipovolemik ASI mengalir