Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

PENGGUNAAN TEODOLIT DAN SIPAT DATAR SEBAGAI INSTRUMEN


PENGUKURAN TANAH

Disusun Oleh:

AGMI DIMAS ISBUSANDY (1309025028)

PAISAL RAMADHANUR (1309025046)

TEDDY ARIYADI SETIYANTO (1309025008)

PROGRAM STUDI S1 TEKNIK SIPIL

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS MULAWARMAN

2013
BAB I.
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang

Teknik sipil adalah salah satu disiplin ilmu dalam bidang teknik yang berkaitan langsung
dengan perancangan, konstruksi, pengelolaan, dan perawatan dari objek-objek alam dan buatan
manusia yang ada di dunia, semisal jalan raya, jembatan, kanal, bendungan, dan bangunan. Ilmu
teknik sipil dikenal sebagai salah satu disiplin ilmu tertua di dunia. Teknik sipil mempunyai
ruang lingkup yang luas dan terkait langsung dengan disiplin ilmu lainnya semisal pengetahuan
matematika, fisika, kimia, biologi, geologi, lingkungan hingga komputer yang mempunyai
peranannya masing-masing. Teknik sipil dikembangkan sejalan dengan tingkat kebutuhan
manusia dan pergerakannya, yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat umum.
Dalam dunia teknik sipil, perpetaan adalah salah satu cabang ilmu untuk menentukan
posisi tiga dimensi dari objek alam atau buatan manusia yang berada di atas permukaan bumi.
Sebagai bagian dari ilmu ukur tanah, secara umum pemetaan dan pengukuran tanah memiliki dua
tujuan, yakni:
1. Membentuk dan menentukan bentuk permukaan bumi secara menyeluruh
2. Dapat membuat suatu gambaran permukaan bumi yang dinamakan peta dari sebagian
besar atau sebagian kecil permukaan bumi dengan skala tertentu.
Kegiatan pemetaan suatu wilayah merupakan salah satu hal dasar yang harus dilakukan
oleh para insinyur teknik dalam merencanakan pembangunan suatu bangunan sipil. Para
insinyur teknik membutuhkan peta yang menggambarkan kondisi di lapangan untuk dapat
dijadikan sebagai acuan dalam pengambilan segala keputusan dalam pelaksanaan proyek yang
direncanakan.
Salah satu langkah yang dilakukan dalam kegiatan pemetaan ialah dilaksanakannya
pengukuran dengan maksud untuk mendapatkan bayangan daripada keadaan lapangan, dengan
menntukan titik-titik di atas permukaan bumk terhadap satu sama lainnya. Untuk mendapat
hubungan antara titik – titik itu, baik hubungan yang secara horizontal maupun secara vertikal,
diperlukan sudut-sudut yang harus diukur di lapangan. Untuk hubungan secara horizontal
diperlukan sudut mendatar atau sudut horizontal, sedangkan untuk hubungan secara vertikal
diperlukan sudut melintang atau vertikal. Selain itu, pada kegiatan pengukuran di lapangan akan
didapatkan pula jarak antar satu titik pengukuran dengan titik-titik lainnya, yang akan digunakan
sebagai data dalam pembuatan peta dari wilayah yang dilakukan pengukuran sudut dan jarak
sebenarnya.
Dalam kegiatan pengukuran tanah di lapangan, diperlukan suatu instrumen yang mampu
melakukan pencatatan data-data yang diperlukan semisal sudut dan jarak sebenarnya. Instrumen
tersebut harus memiliki tingkat ketelitian yang tinggi, sehingga data-data yang dicatat oleh
instrumen tersebut dapat digunakan sebagai data acuan dalam pembuatan peta wilayah yang
dilakukan pengukuran. Instrumen-instrumen tersebut antara lain teodolit dan sipat datar. Teodolit
adalah salah satu jenis instrumen yang umum digunakan dalam kegiatan pengukuran tanah dan
memiliki tingkat ketelitian yang tinggi dalam pencatatan data-data di lapangan. Teodolit secara
khusus dirancang untuk memudahkan juru ukur tanah dalam melakukan pengukuran tanah dalam
skala kecil maupun luas. Sipat datar atau yang lebih dikenal sebagai waterpass adalah instrumen
yang lebih dikhususkan dalam pengukuran beda tinggi suatu titik di permukaan tanah.
Seseorang yang terlibat dalam proses perencanaan suatu proyek di lapangan, terutama
dalam pelaksanaan pengukuran wilayah tentunya harus memiliki pengetahuan dasar mengenai
instrumen ukur tanah, kemampuan untuk mengoperasikan instrumen ukur tanah dan melakukan
kalkulasi terhadap data-data yang didapat dalam kegiatan pengukuran, dikarenakan kegiatan
pengukuran tanah merupakan konsep dasar yang harus dikuasai oleh pihak yang terlibat dalam
pekerjaan-pekerjaan yang terkait langsung dengan disiplin ilmu teknik sipil.
2. Rumusan Masalah

Bertitik tolak dari latar belakang diatas maka pemakalah merumuskan permasalahannya
sebagai berikut:
1. Apa saja bagian-bagian yang terdapat pada teodolit dan sipat datar?
2. Bagaimana cara melakukan pengukuran tanah di lapangan?
3. Bagaimana mengolah data-data yang didapat pada saat kegiatan pengukuran tanah di
lapangan?

3. Tujuan

Tujuan yang ingin dicapai dalam penyusunan makalah ini adalah:

1. Mengetahui bagian-bagian yang terdapat pada teodolit dan sipat datar;


2. Mengetahui cara-cara pengukuran tanah di lapangan;
3. Mengetahui cara-cara pengolahan data yang telah didapatkan di lapangan untuk
kemudian diolah dengan rumus-rumus yang telah ditetapkan
BAB II.
ISI

1. Instrumen Ukur Tanah Secara Umum


Instrumen yang umum digunakan untuk kegiatan pengukuran tanah adalah teodolit dan
sipat datar. Teodolit sendiri memiliki fungsi yang lebih luas dibandingkan dengan sipat datar.
Teodolit umumnya digunakan untuk mengukur sudut vertikal, sudut horizontal, beda tinggi, dan
jarak optis. Sipat datar sendiri hanya memiliki kemampuan untuk mengukur sudut horizontal,
dikarenakan sipat datar hanya memiliki sumbu horizontal sebagai salah satu sistem garis salib
sumbu pada alatnya.
Baik teodolit maupun sipat datar, keduanya memiliki bagian-bagian instrumen yang
terdapat pada setiap instrumen pengukuran tanah, yakni:
a. Lensa
Lensa adalah benda yang dibuat dari gelas yang dibatasi oleh dua bidang lengkung dari
bulatan (bola). Kedua bidang bulatan ini tidak perlu memiliki jari-jari yang sama. Garis lurus
yang menghubungkan dua titik pusat kedua bidang bulatan itu dinamakan sumbu optis lensa.
Titik pusat optis lensa terletak pada sumbu optis lensa.
Lensa-lensa dapat dibagi dalam dua macam: lensa-lensa yang mempunyai tebal terbesar
di tengah-tengah dan dinamakan lensa konveks; dan lensa-lensa yang mempunya tebal terbesar
di tepinya dan dinamakan lensa konkaf. Alat-alat optis kebanyakan mempunyai lebih dari satu
lensa. Lensa-lensa pada alat optis harus ditempatkan sedemikian rupa, hingga sumbi optis lensa-
lensa tersebut berimpit.
b. Teropong
Suatu teropong terdiri atas dua lensa, yang di muka dinamakan lensa obyektif (lensa
benda) dan yang di belakang dinamakan lensa okuler (lensa mata). Dua lensa ini ditempatkan
sedemikian rupa, hingga kedua sumbu optisnya berimpit lensa obyektif mempunyai jarak titik
api besar dan lensa okuler mempunyai jarak titik api kecil, karena lensa okuler harus bekerja
sebagai lup.
Teropong dapat digunakan sebagai alat bidik, jadi untuk dapat mengarahkan teropong itu
ke suatu titik tertentu, maka teropong di bagian belakang dilengkapi dengan dua garis salib
sumbu yang ditempatkan tidak jauh di muka lensa okuler. Dua garis salib sumbu ini pada alat-
alat ukur tanah dinamakan sebagai diafragma. Garis-garis salib sumbu dapat terbentuk: dua garis
yang letaknya saling tegak lurus, dua garis mendatar dan dua garis tegak, satu garis tegak dan
tiga garis mendatar yang dapat digunakan sebagai pengukur jarak optis, dan lain-lain. Garis lurus
yang menghubungkan titik tengah lensa obyektif dengan titik potong dua garis diafragma
dinamakan sebagai garis bidik.
c. Sumbu-sumbu
Untuk dapat menggerakkan teropong dalam arah mendatar dan arah melintang, maka
teropong dilengkapi dengan sumbu horizontal dan sumbu vertikal. Sumbu horizontal untuk
gerakan mendatar, sementara itu sumbu vertikal untuk gerakan melintang. Sumbu vertikal
dinamakan sebagai sumbu kesatu, dan sumbu horizontal dinamakan sebagai sumbu kedua.
Teodolit memiliki sumbu vertikal dan sumbu horizontal, sehingga memungkinkan teodolit untuk
melakukan rotasi secara vertikal dan horizontal, sementara sipat datar hanya memiliki sumbu
horizontal sehingga hanya memungkinkan untuk melakukan rotasi alat secara horizontal.
d. Nivo
Pada waktu melakukan pengukuran menggunakan instrumen pengukuran tanah, semisal
teodolit dan sipat datar, sumbu kesatu haruslah tegak lurus dan sumbu kedua tegak lurus pada
sumbu kesatu. Untuk mencapai keadaan ini, maka digunakanlah suatu alat yang bernama nivo.
Nivo terbagi atas dua jenis, yakni nivo kotak dan nivo tabung. Pada nivo kotak, terdapat kotak
dari gelas yang diisi eter atau alkohol, dan di atas pada bagian dalam tutup kotak diberi bentuk
bidang lengkung dari bulatan dengan jari-jari yang besar. Bagian kecil kotak itu tidak berisi air /
zat cair, sehingga bagian ini dari atas terlihar sebagai gelembung. Pada nivo tabung, terdapat
tabung dari gelas berbentuk silinder. Irisan memanjang bidang dalam atas mempunyai bentuk
busur lingkaran. Setelah tabung diisi dengan eter kecuali sebgaian kecil ruang tabung yang tidak
diisi eter, kedua ujung tabung ditutup dengan menggunakan api colok. Bagian yang tidak diisi
dengan zat cair eter akan berisi uap eter jenuh dan terlihat seperti gelembung.
e. Statif
Statif adalah penyangga instrumen pengukuran tanah yang umumnya terbuat dari kayu
atau plasti. Statif memiliki tiga kaki yang masing-masing dilengkapi dengan kunci untuk
mempermudah pengaturan ketinggian statif. Kunci-kunci ini dapat diatur sedemikian rupa,
sehingga ketinggian antara kaki statif satu dengan kaki statif lainnya dapat disesuaikan dengan
kebutuhan. Pada umumnya, ujung dari kaki statif berbentuk runcing agar bisa ditancapkan
langsung ke tanah. Pada bagian atas statif terdapat kepala statif yang memiliki semacam baut
berukuran besar yang dapat mengunci bagian bawah alat ukur dengan statif sehingga alat ukur
tidak jatuh ketika diletakkan di atas statif.
1. Teodolit
Teodolit seperti yang telah dibahas sebelumnya memiliki sumbu horizontal dan sumbu
vertikal sebagai bagian dari sistem garis salib sumbu tidak tampak. Bagian-bagian yang dimiliki
oleh teodolit adalah sebagai berikut:
1. Pegangan instrumen, berfungsi untuk memegang alat pada saat dibawa
2. Lensa okuler, berfungsi sebagai lensa pengamatan untuk melihat objek
3. Diafragma, berfungsi untuk mengatur jauh aatau dekatnya suatu objek yang terlihat
dari lensa okuler
4. Pengatur sumbu silang, berfungsi untuk memperjelas sumbu silang di dalam lensa
5. Visir, berfungsi sebagai pembidik kasar agar selisih jarak dengan objek tidak terlalu
jauh
6. Lensa objektif, berfungsi sebagai pusat penglihatan objek
7. Klem vertikal, berfungsi sebagai pengunci sumbu vertikal sehingga alat tidak dapat
digerakkan searah sumbu vertikal
8. Penggerak halus vertikal, berfungsi untuk menggerakkan sumbu vertikal secara halus
9. Nivo kotak, berfungsi sebagai indikator keseimbangan alat
10. Nivo tabung, berfungsi sebagai indikator keseimbangan alat
11. Tombol penghidup, berfungsi untuk menyalakan alat
12. Monitor, berfungsi sebagai pusat pembacaan data hasil pengukuran
13. Klem horizontal, berfungsi sebagai pengunci sumbu horizontal sehingga alat tidak
dapat digerakkan searah sumbu horizontal
14. Penggerak halus horizontal, berfungsi untuk menggerakkan secara halus sumbu
horizontal
15. Pemusat optis, berfungsi sebagai tempat pengamatan untuk menempatkan alat tepat di
atas titik
16. Sekrup ABC, berfungsi untuk mengatur dan menempatkan nivo kotak dan nivo
tabung dalam keadaan seimbang
17. Tempat baterai, berfungsi untuk menempatkan enam buah baterai sebagai sumber
tenaga utama

Teodolit memiliki sifat-sifat tertentu yang membedakannya dengan alat-alat ukur lainnya,
yakni teropongnya pendek, mempunyai benang silang dan visir, lingkaran-lingkaran horizontal
dan vertikalnya dibuat dari kaca dengan garis-garis pembagian skala dan angka yang digoreskan
di permukaannya, lingkaran vertikal diberi penunjuk terhadap arah gaya tarik bumi, sistem
pembacaan lingkaran yang pada dasarnya terdiri atas sebuah mikroskop dengan optika di dalam
instrumen, bidang sekrup penyetel terdiri atas tiga sekrup atau roda sisir, pemusat optis terpasang
ke dalam bagian dasar teodolit dan menggantikan bandul unting-unting sehingga pemusatan
dapat dilakukan dengan lebih teliti, kotak penyimpanan teodolit terbuat dari baja, logam
campuran, atau plastik berat yang memiliki spesifikasi khusus, dan kaki statif yang digunakan
berjenis kerangka lebar.
Dalam penggunaan teodolit dikenal suatu listilah yang dinamakan pemusatan optis.
Pemusatan optis adalah proses menempatkan sumbu kesatu alat ukur tepat di atas suatu titik yang
ada di tanah. Tujuan utama dari pemusatan optis ini adalah memastikan alat dalam kondisi yang
seimbang, sehingga hasil pengukuran yang tercatat memiliki tingkat ketelitian yang tinggi.
Langkah-langkah pemusatan optis pada teodolit adalah sebagai berikut:
1. Tandai satu titik di tanah dengan menggunakan patok yang telah ditancapkan paku
pada bagian atasnya;
2. Dirikan statif di atas tanah, lalu pasang teodolit pada kepala statif. Kunci baut
penghubung agar alat tidak terjatuh dari statif;
3. Dirikan statif tepat di atas titik tersebut dengan cara menggerakkan kaki-kaki statif
sedemikian rupa sambil mengamati posisi statif melalui pemusat optis yang ada pada
teodolit;
4. Putar sekrup ABC untuk menyeimbangkan posisi teodolit secara perlahan-lahan;
5. Perhatikan nivo kotak, pastikan gelembung udara berada dalam lingkaran merah.
Gerakkan kaki statif sedemikian rupa hingga posisi nivo kotak telah dalam keadaan
seimbang;
6. Seimbangkan nivo tabung dengan menggunakan sekrup ABC.
2. Sipat datar
Berbeda dengan teodolit, sipat datar hanya memiliki sumbu horizontal sebagai bagian
dari sistem garis salib sumbu tidak tampak. Dengan kondisi ini, sipat datar hanya mampu
melakukan rotasi searah sumbu horizontal. Sipat datar sendiri umumnya digunakan dalam
kegiatan pengukuran beda tinggi suatu titik di lapangan, dan pengukuran jarak secara optis.
Tingkat ketelitian hasil pencatatan data dengan menggunakan sipat datar untuk pengukuran beda
tinggi suatu titik adalah lebih teliti dibandingkan dengan menggunakan teodolit.
Bagian-bagian yang dimiliki oleh sipat datar adalah sebagai berikut:
1. Lensa okuler, berfungsi untuk mengamati objek yang sedang dibidik;
2. Diafragma, berfungsi untuk mengatur jauh atau dekatnya suatu objek yang dibidik;
3. Pengatur sumbu silang, berfungsi untuk memperjelas sumbu silang di dalam lensa;
4. Lensa objektif, berfungsi sebagai pusat penglihatan objek;
5. Nivo kotak, berfungsi sebagai indikator keseimbangan alat;
6. Penggerak halus horizontal, berfungsi untuk menggerakkan secara halus sumbu
horizontal;
7. Sekrup ABC, berfungsi untuk mengatur dan menempatkan nivo kotak dalam keadaan
seimbang;
8. Piringan sudut horizontal, berfungsi untuk menentukan besarnya sudut horizontal
yang akan digunakan dalam kegiatan pengukuran.

Pada alat sipat datar tidak diperlukan pemusatan optis untuk menyeimbangkan alat,
cukup dengan memastikan bahwa nivo kotak telah dalam keadaan seimbang. Penggunaan sipat
datar lebih difokuskan untuk kegiatan pengukuran beda tinggi suatu titik dan jarak optis,
sehingga lebih diutamakan dalam hal penempatan alat. Pada alat sipat datar terdapat tiga pilihan
dalam penempatan instrumen, yakni :
1. Penempatan instrumen penyipat datar di atas salah satu titik, semisal di titik A. Tinggi
a garis bidik (titik tengah teropong) di atas titik A diukur dengan rambu ukur. Dengan
gelembung di tengah-tengah, garis bidik lalu diarahkan ke mistar yang diletakkan di
atas titik lainnya, semisal titik B;
2. Penempatan instrumen di antara titik A dan titik B. Pada masing-masing titik A dan
titik B ditempatkan rambu ukur. Jarak dari alat ukur penyipat datat ke kedua rambu
ukur adalah sama. Arahkan garis bidik ke titik A dan titik B, lalu lakukan pembacaan
pada dua rambu ukur berturut-turut pada rambu ukur belakang dan rambu ukur depan;
3. Penempatan instrumen di sebelah kiri titik A atau di sebelah kanan titik B atau diluar
garis AB. Hal ini mampu mengakomodasi keadaan dimana alat tidak memungkinkan
dipasang di atas titik atau keduanya.

2. Langkah-Langkah Pengukuran
Pengumpulan data di lapangan dengan melakukan pengukuran menggunakan teodolit dan
sipat datar secara umum hampir sama. Dengan menggunakan teodolit, pengukuran sudut
horizontal maupun vertikal dilakukan dengan cara pembidikan langsung melalui lensa okuler.
Pada umumnya, di masing-masing titik yang akan dibidik telah dipasang rambu ukur. Gerakkan
teropong ke arah atas dan bawah untuk mengaktifkan pembacaan sudut vertikal. Setelah
memastikan alat dalam keadaan seimbang, pembidikan dilakukan dengan memerhatikan
pembacaan benang atas dan benang bawah yang berpatokan pada rambu ukur. Pada monitor
akan ditunjukkan hasil pembacaan sudut horizontal dan vertikal dalam keadaan biasa. Putar
teropong dan teodolit 180 derajat dan lakukan langkah yang sama dalam hal pembidikan untuk
mendapatkan pembacaan dalam keadaan luar biasa. Hal ini untuk meminimalisir kesalahan
dalam pembacaan sudut yang dilakukan.
Pengukuran jarak dan beda tinggi dengan menggunakan teodolit memiliki prinsip yang
sama dengan pengukuran sudut horizontal dan vertikal. Hal yang perlu diperhatikan adalah
benang atas dan benang bawah rambu ukur yang terbaca melalui lensa okuler diwajibkan untuk
dicatat, dimana hasil pembacaan sebelumnya akan diolah dengan menggunakan rumus yang
telah ditentukan.
Pengukuran jarak dan beda tinggi dengan menggunakan sipat datar secara umum juga
hampir sama dengan pengukuran jarak dan beda tinggi dengan menggunakan teodolit. Namun,
sipat datar tidak memiliki sumbu vertikal sehingga hanya bertumpu pada sumbu horizontal. Pada
masing-masing titik yang akan dibidik memiliki interval jarak yang sama. Lalu dilakukan
pembacaan benang atas, benang bawah, dan benang tengah setelah piringan sudut horizontal
diputar 90 derajat ke kiri. Lalu lakukan pembacaan ulang benang atas, benang tengah, dan
benang bawah sekali lagi setelah memutar piringan sudut horizontal 180 derajat tegak lurus
terhadap titik belakang sipat datar.
3. Pengolahan Data Hasil Pengukuran
Pengukuran jarak optis adalah pengukuran jarak secaa tidak langsung, karena dalam
pelaksanaannya digunakan alat bantu berupa teropong pada alat ukur dan rambu ukur.
Pengukuran jarak optis disebut juga tachymetry. Pada prinsipnya metode ini dilakukan dengan
penempatan sebuah instrumen ukur jarak pada ujung titik permulaan (atau bagian yang tidak
diukur) dan instrumen tersebut diarahkan pada titik atau pada ujung lainnya. Secara garis
besarnya metode ini dapat diklasifikasikan dalam dua tipe sebagai berikut:
a. Penempatan batang bentangan (substance bar) pada titik sasaran dan teodolit sebagai
instrumen ukur ditempatkan pada titik permulaan. Penempatan batang bentangan
pada titik sasaran dan teodolit yang dilengkapi dengan tachymetry sebagai alat ukur
ditempatkan pada titik permulaan;
b. Penempatan batang bentangan pada titik sasaran dan teodolit yang dilengkapi dengan
tachymetry sebagai alat ukur ditempatkan pada titik permulaan.
Pengukuran jarak optis dapat dilakukan dengan beberapa sistem seperti:
a. Pengukuran jarak optis dengan posisi garis bidik horizontal (teropong mendatar). Bila
keadaan atau kondisi lapangan memungkinkan, maka pengukuran jarak optis dapat
dilakukan dengan posisi garis bidik horizontal;
b. Pengukuran jarak optis dengan posisi garis bidik membentuk sudut miring (teropong
miring). Pada pengukuran jarak optis dimana garis bidiknya tidak dapat diposisikan
horizontal dikarenakan posisi atau kondisi lapangan yang miring, maka teropong
pembidikan diarahkan miring supaya rambu ukur dapat dibaca. Pada kedudukan
seperti ini, maka teropong akan membentuk sudut miring yang disebut heling (h)
ataupun zenith (z) tergantung pada sistem pembacaan piring vertikal yang disetel atau
diatur oleh pabrik.
Tachymetry dibuat untuk pengukuran tachymetry dengan menggunakan teodolit.
Tachymetry adalah suatu instrumen khusus terdiri dari teodolit bersistem optis yang
menggunakan prisama dengan pelat fokus bergaris untuk membaca jarak horizontal dan
perbedaan tinggi pada pembacaan rambu garis vertikal atau batang bentang horizontal.
Kesalahan pada tachymetry umumnya disebabkan oleh:
a. Kevertikalan rambu baris;
b. Ketepatan jarak antara benang-benang datar;
c. Ketepatan konstanta-konstanta;
d. Kesalahan pembacaan jarak pada rambu basis dan pembacaan sudut elevasi;
e. Kesalahan-kesalahan pada teodolit.
Rumus-rumus yang digunakan dalam pengukuran jarak optis :
J12 = A (ba-bb) cos2 h
J12 = A (ba-bb) sin2 z
Keterangan :
J12 = Jarak antara titik 1 dan 2
A = Konstanta pengali (≈ 100)
ba = benang atas
bb = benang bawah
h = sudut heling
z = sudut zenith
Hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam pengukuran jarak optis:
1. Sumbu vertikal teodolit harus tepat pada titik atau telah dipusatkan;
2. Garis bidik harus benar-benar pada posisi horizontal;
3. Rambu ukur harus benar-benar pada posisi vertikal dan tepat pada titik target
4. Bacaan benang atas (ba), benang bawah (bb) harus benar-benar akurat , gunakan
bacaan benang tengah sebagai control, yaitu bt = 1⁄2 (𝑏𝑎 + 𝑏𝑏)

Metode tachymetry pada teleskop instrumen pengukuran terdapat berbagai macam


benang yang ditempatkan pada bidang bayangan. Benang silang ini berfungsi untuk menentukan
letak dan ukuran bayang tersebut. Dua buah garis sejajar dengan jarak tertentu yang masing-
masing ditempatkan di atas dan di bawah benang silang horizontal disebut benang-benang datar
(stadia datar) sebuah lempeng gelas dimana benang-benang datar terdapat dipasang sebagai
bagian dari pembidik teleskop.
Pengukuran jarak optis dapat dilakukan dengan beberapa sistem, seperti:
a. Pengukuran Jarak Optis Sistem Stadia
Sistem stadia dengan posisi garis bidik mendatar (teropong mendatar)
Rumus
J12 = A ( ba-bb)
Keterangan
J12 = Jarak antara titik 1 dan 2
A = Konstanta pengali (≈ 100)
ba = benang atas
bb = benang bawah

b. Sistem stadia dengan posisi garis bidik membentuk sudut miring (metode tachymetry)
Metode tachymetry biasa digunakan pada kondisi medan yang miring, maka teropong
pendidikan diarahkan miring untuk dapat membaca rambu ukur, sehingga membentuk
sudut miring yang disebut heling (h).
Rumus
J12 = A (ba-bb) cos2 h
 Untuk sudut heling
J12 = A (ba-bb) sin2 z
 Untuk sudut zenith
Keterangan
c. Pengukuran Jarak Optis Sistem Tangensial
Pada metode ini, pengukuran rambu dilakukan sebanyak dua kali, dengan penempatan
tinggi rambu yang berbeda. Jarak dihitung menggunakan rumus tangensial.
Rumus
𝑠
J12 = 𝑡𝑔 ℎ1−𝑡𝑔 ℎ2

Keterangan
J12 = Jarak antara titik 1 dan 2
s = Selisih bacaan (S = bt2 – bt1)
Pengukuran beda tinggi dapat dilakukan dengan menggunakan teodolit ataupun
waterpass. Metode yang dapat digunakan adalah metode tachymetry dan tangensial.
a. Pengukuran beda tinggi dengan sistem tachymetry
Sudut Heling ∆h12 = D12 tgh + ti – bt
Sudut Zenith ∆h12 = D12 cotg z + ti – bt
Keterangan:
∆h12 = beda tinggi antara titik 1 dan 2
h = Sudut miring teropong dengan bidang datar (heling)
z = Sudut miring teropong dengan bidang tegak (zenith)
ti = Tinggi instrumen
bt = Benang tengah
b. Pengukuran beda tinggi dengan sistem tangensial
Sudut Heling H2 = H1 + J12 tgh1 + ti – bt
Sudut Zenith H1 = H1 + J12cotgz1 + ti – bt
Keterangan
H1 = tinggi titik 1
H2 = tinggi titik 2
h = sudut miring teropong dengan bidang datar (heling)
z = sudut miring teropong dengan bidang tegak (zenith)
ti = tinggi instrumen
BAB III.
PENUTUP
I. Kesimpulan
Pengukuran tanah merupakan salah satu kegiatan dasar yang wajib dikuasai oleh pihak-
pihak yang berkecimpung di dunia teknik sipil. Dalam melakukan kegiatan pengukuran tanah,
pada umumnya digunakan instrumen-instrumen ukur seperti teodolit dan sipat datar. Teodolit
dan sipat datar memiliki bagian-bagian yang sama, yakni lensa, teropong, sumbu-sumbu, nivo,
dan statif. Teodolit memiliki sumbu horizontal dan sumbu vertikal sebagai sistem garis salib
sumbu tidak tampaknya, sedangkan sipat datar hanya memiliki sumbu horizontal sebagai sistem
garis salib sumbu tidak tampaknya. Teodolit dapat digunakan untuk kegiatan pengukuran sudut
horizontal dan sudut vertikal, pengukuran jarak optis, dan pengukuran beda tinggi. Sipat datar
secara khusus mampu melakukan pengukuran jarak optis dan pengukuran beda tinggi dengan
tingkat ketelitian yang lebih tinggi dibandingkan teodolit.
Pengukuran tanah dengan menggunakan teodolit dan sipat datar berbeda-beda tergantung
hasil yang ingin didapat dari kegiatan pengukuran. Secara umum, untuk pengukuran sudut
horizontal dan sudut vertikal dilakukan secara biasa dan luar biasa, dalam arti melakukan
pengukuran sudut sebanyak dua kali untuk menghilangkan indeks kesalahan pembacaan sudut.
Pada kegiatan pengukuran jarak optis dan beda tinggi, benang atas dan benang bawah yang
terbaca melalui lensa okuler wajib dicatat sebagai data yang akan digunakan dalam kegiatan
pengolahan data.
Terdapat rumus-rumus yang telah ditetapkan untuk mengolah data-data yang telah
didapatkan pada kegiatan pengukuran tanah. Secara umum, rumus-rumus yang telah ditetapkan
berdasar pada teorema tachymetry dan tangensial. Data-data yang digunakan untuk kemudian
dikalkulasi untuk mendapatkan hasil yang diinginkan adalah sudut horizontal, sudut vertikal,
benang atas, benang bawah, benang tengah, dan tinggi alat.
DAFTAR PUSTAKA

Brinker, Russell. 2000. Dasar-Dasar Pengukuran Tanah. Jakarta : Erlangga


Wongsotjitro, Soetomo. 2011. Ilmu Ukur Tanah. Yogyakarta : Kanisius