Anda di halaman 1dari 16

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori
1. Penyakit Ginjal Kronik (PGK)
a. Definisi
Penyakit Ginjal Kronik merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan
irreversibel dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme
dan keseimbangan cairan dan elektrolit, sehingga menyebabkan uremia (retensi urea
dan sampah nitrogen lain dalam darah) (Smeltzer & Bare, 2008). Sedangkan menurut
Muttaqin (2011) PGK adalah kegagalan fungsi ginjal untuk mempertahankan
metabolisme serta keseimbangan cairan dan elektrolit akibat detruksi struktur ginjal
yang progresif dengan manifestasi penumpukan sisa metabolit (toksik uremik) di
dalam darah.

b. Etiologi
Etiologi menurut Muttaqin (2011) begitu banyak kondisi klinis bisa menyebabkan
terjadinya gagal ginjal kronis. Akan tetapi, apapun penyebabnya, respon yang terjadi
adalah penurunan fungsi ginjal secara progresif. Kondisi klinis tersebut antara lain :
1) Penyakit dari ginjal :
a) Penyakit pada glomerulus : glomerulonefritis.
b) Infeksi kuman : pyelonefritis, ureteritis.
c) Nefrolitiasis.
d) Kista di ginjal : polcystis kidney.
e) Trauma langsung pada ginjal.
f) Keganasan pada ginjal.
g) Obstruksi : batu, tumor, penyempitan / striktur.
2) Penyakit di luar ginjal
a) Penyakit sistemik : diabetes miletus, hipertensi, kolesterol tinggi.
b) Dyslipidemia.
c) Infeksi di badan : TBC paru, sipilis, malaria, hepatitis.
d) Pre eklamsi.
e) Obat-obatan.
f) Kehilangan cairan yang mendadak (luka bakar).
c. Klasifikasi
Klasifikasi stadium pada pasien dengan PGK ditentukan oleh nilai laju filtrasi
glomerulus, yaitu stadium yang lebih tinggi menunjukkan nilai laju filtrasi
glomerulus yang lebih rendah. Kidney Disease Outcome Quality Initiative (KDOQI)
(2002) mengklasifikasikan PGK dalam 5 (lima) stadium, dijelaskan pada tabel
berikut ini :

Tabel 2.1
Klasifikasi penyakit ginjal kronik

Laju filtrasi glomerulus (LFG)


Stadium Fungsi ginjal
(ml/menit/1,73m2)
Risiko meningkat Normal > 90 (ada faktor resiko)
Stadium 1 Normal/meningkat >90 (ada kerusakan ginjal,
proteinuria)
Stadium 2 Penurunan ringan 60-89
Stadium 3 Penurunan ringan 30-59
Stadium 4 Penurunan berat 15-29
Stadium 5 Gagal ginjal < 15

d. Patofisiologi
Menurut Sudoyo (2009) awal perjalanan penyakit ginjal kronik tergantung pada
penyakit yang mendasarinya, selanjutnya akan terjadi proses pengurangan massa
ginjal mengakibatkan hipertrofi struktur dan fungsi nefron yang masih tersisa sebagai
upaya kompensasi yang diperantarai oleh molekul vasoaktif seperti sitokin dan
growth factors, hal ini mengakibatktan terjadinya heperventilasi dan diikuti oleh
peningkatan tekanan kapiler dan aliran darah glomerulus. Proses adaptasi ini
berlangsug singkat, akhirnya timbul proses maladaptasi berupa sklerosis nefron yang
masih tersisa, yang pada akhirnya proses ini diikuti dengan penurunan fungsi nefron
yang progresif, walaupun penyakit dasarnya sudah tidak aktif lagi.

Penurunan fungsi nefron menyebabkan protein ikut diekskresikan dalam urin. Produk
akhir metabolisme protein berupa urea yang normalnya diekskresikan ke dalam urin
tertimbun dalam darah, selanjutnya terjadi uremia yang mempengaruhi setiap sistem
tubuh. Semakin banyak timbunan produk sampah maka gejala akan semakin berat.
Banyak gejala uremia membaik setelah dialisis (Smeltzer & Bare, 2002).
e. Manifestasi Klinis
Stadium paling dini pada PGK terjadi kehilangan daya cadang ginjal, dan LFG masih
normal atau meningkat, mengakibatkan terjadi penurunan fungsi nefron yang
progresif ditandai dengan peningkatan kadar ureum dan kreatinin, manifestasinya
antara lain (Sudoyo, 2009) :
1) Sesuai dengan penyakit yang mendasari : diabetes melitus, infeksi traktus
urinarius, batu traktus urinarius, hipertensi, hiperurikemi, Lupus Eritomatosus
Sistemik (LES), dll.
2) Sindrom uremia : lemah, letargi, anoreksia, mual, muntah, nokturia, kelebihan
volume cairan (volume overload), neuropati perifer, pruritus, perikarditis, kejang-
kejang, koma.
3) Gejala komplikasi : hipertensi, anemia, osteodistrofi renal, payah jantung,
asidosis metabolik, gangguan keseimbangan elektrolit (sodium, kalium,
khlorida).

f. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan PGK dapat dibagi menjadi 2 tahap, yaitu : tindakan konservatif dan
dialisis atau transplantasi ginjal (Suharyanto, 2006) :

1) Tindakan konservatif
Tujuan pengobatan pada tahap ini adalah untuk meredakan atau memperlambat
gangguan fungsi ginjal progresif (Suharyanto, 2006).
a) Pengaturan diet protein, kalium, natrium dan cairan
1) Pembatasan protein
Pembatasan asupan protein telah terbukti memperlambat terjadinya gagal
ginjal. Apabila pasien mendapatkan terapi dialisis teratur, jumlah
kebutuhan protein biasanya dilonggarkan 60-80 gr/hari (Smeltzer & Bare,
2002).
2) Diet rendah kalium
Hiperkalemia biasanya merupakan masalah pada gagal ginjal lanjut. Diet
yang dianjurkan adalah 40-80 mEq/hari. Penggunaan makanan dan obat-
obatan yang tinggi kadar kaliumnya dapat menyebabkan hiperkalemia
(Black & Hawks, 2005).
3) Diet rendah natrium
Diet natrium yang dianjurkan adalah 40-90 mEq/hari (1-2 gr Na). Asupan
natrium yang terlalu banyak dapat mengakibatkan retensi cairan, edema
perifer, edema paru, hipertensi dan gagal jantung kongestif (Lewis, dkk,
2007).
4) Pengaturan cairan
Cairan yang diminum penderita gagal ginjal tahap lanjut harus diawasi
dengan seksama. Parameter yang tepat untuk diikuti selain data asupan
dan pengeluaran cairan yang dicatat dengan tepat adalah pengukuran
Berat Badan harian. Intake cairan yang bebas dapat menyebabkan beban
sirkulasi menjadi berlebihan, dan edema. Sedangkan asupan yang terlalu
rendah mengakibatkan dehidrasi, hipotensi dan gangguan fungsi ginjal
(Hudak & Gallo, 1996).

b) Pencegahan dan pengobatan komplikasi misalnya hipertensi, hiperkalemia,


anemia, asidosis, diet rendah fosfat, pengobatan hiperuresemia.
1) Hipertensi
Manajemen hipertensi pada pasien PGK menurut Suharyanto (2006)
dapat dikontrol dengan pembatasan natrium dan cairan, dapat juga
diberikan obat antihipertensi seperti metildopa (aldomet), propranolol,
klonidin (catapres). Apabila penderita sedang menjalani terapi
hemodialisa, pemberian antihipertensi dihentikan karena dapat
mengakibatkan hipotensi dan syok yang diakibatkan oleh keluarnya
cairan intravaskuler melalui ultrafiltrasi.
2) Hiperkalemia
Hiperkalemia merupakan komplikasi yang paling serius, karena bila K+
serum mencapai sekitar 7 mEq/L dapat mengakibatkan aritmia dan juga
henti jantung. Hiperkalemia dapat diobati dengan pemberian glukosa dan
insulin intravena, yang akan memasukkan K+ ke dalam sel, atau dengan
pemberian Kalsium Glukonat 10% (Sudoyo, 2009).
3) Anemia
Anemia pada PGK diakibatkan penurunan sekresi eritropoeitin oleh
ginjal. Pengobatannya adalah pemberian hormon eritropoeitin, yaitu
rekombinan eritropoeitin (r-EPO) selain dengan pemberian vitamin dan
asam folat, besi dan tranfusi darah (Sudoyo, 2009).
4) Asidosis
Asidosis ginjal biasanya tidak diobati kecuali HCO3, plasma turun di
bawah angka 15 mEq/I. Bila asidosis berat akan dikoreksi dengan
pemberian Na HCO3 (Natrium Bikarbonat) parenteral. Koreksi pH darah
yang berlebihan dapat mempercepat timbulnya tetani, maka harus
dimonitor dengan seksama (Sudoyo, 2006).
5) Diet rendah fosfat
Diet rendah fosfat dengan pemberian gel yang dapat mengikat fosfat di
dalam usus. Gel yang dapat mengikat fosfat harus dimakan bersama
dengan makanan (Sudoyo, 2006)

2) Dialisis dan transplantasi


Pengobatan penyakit ginjal kronik stadium akhir adalah dengan dialisis dan
transplantasi ginjal. Dialisis dapat digunakan untuk mempertahankan pasien
dalam keadaan klinis yang optimal sampai tersedia donor ginjal. Dialisis
dilakukan apabila kadar kreatinin serum biasanya diatas 6 ml/100 ml pada laki-
laki, sedangkan pada wanita 4 ml/ 100 ml, dan LFG kurang dari 4 ml/menit
(Black & Hawks, 2005).

2. Hemodialisis
a. Definisi
Dialisis adalah proses yang menggantikan secara fungsional pada gangguan fungsi
ginjal dengan membuang kelebihan cairan dan / atau akumulasi toksin endogen atau
eksogen (Suharyanto, 2006). Menurut Sudoyo (2006), hemodialisa dilakukan dengan
mengalirkan darah dalam suatu tabung ginjal buatan (dialiser) yang terdiri dari dua
komponen yang terpisah. Darah pasien dipompa dan dialirkan ke kompartemen darah
yang dibatasi oleh selaput semipermiabel buatan (artifisial) dengan kompartemen
dialisat.

Membran semipermiabel adalah lembar tipis, berpori-pori terbuat dari selulosa atau
bahan sintetik. Ukuran pori-pori membran memungkinkan difusi zat dengan berat
molekul rendah seperti urea, kreatinin, dan asam urat berdifusi. Molekul air juga
sangat kecil bergerak bebas melalui membran, tetapi kebanyakan protein plasma,
bakteri, dan sel-sel darah terlalu besar untuk melewati pori-pori membran (Hudak &
Gallo, 1996).

b. Indikasi Dialisis
Dialisis merupakan suatu proses yang digunakan untuk mengeluarkan cairan dan
produk limbah dari dalam tubuh ketika ginjal tidak mampu melaksanakan proses
tersebut. Dialisis digunakan untuk mempertahankan kehidupan dan kesejahteraan
sampai fungsi ginjal pasien pulih kembali. Metode terapi mencakup hemodialisa,
hemofiltrasi dan peritonial dialisis. Hemodialisa dapat dilakukan pada saat toksin
atau zat racun harus segera dikeluarkan untuk mencegah kerusakan permanen atau
menyebabkan kematian (Kallenbach, 2005).

Hemodialisa berfungsi untuk mengambil zat-zat nitrogen dan toksin dari dalam darah
dan mengeluarkan air yang berlebihan. Pada hemodialisa, aliran darah yang penuh
dengan toksin dan limbah nitrogen dialirkan dari tubuh pasien ke dialiser tempat
darah tersebut dibersihkan dan kemudian dikembalikan lagi ke tubuh pasien
(Smeltzer & Bare, 2002).

Menurut Sukandar (2006) terapi dialisis ini tidak boleh terlambat untuk mencegah
gejala toksik uremia dan malnutrisi. Tetapi dialisis yang terlalu cepat pada pasien
PGK yang belum tahap akhir akan memperburuk faal ginjal. Keputusan untuk inisiasi
terapi dialisis berdasarkan parameter laboratorium bila LFG antara 5-8 ml/menit/1,7
m2 .

c. Prinsip Hemodialisis
Ada tiga (3) prinsip yang mendasari kerja hemodialisa, yaitu difusi, osmosis, dan
ultrafiltrasi. Toksin dan zat limbah di dalam darah dikeluarkan melalui proses difusi
dengan cara bergerak dari darah yang mempunyai konsentrasi tinggi ke cairan
dialisat dengan konsentrasi rendah. Cairan dialisat tersusun dari semua elektrolit
yang penting dengan konsentrasi ekstrasel yang ideal. Kadar elektrolit darah
dikendalikan dengan mengatur dialysate bath (rendaman dialisat) secara cepat
(Smeltzer & Bare, 2008).
Gambar 2.1
Prinsip kerja hemodialisa

Sumber : http://www.sahabatginjal.com/display_articles.aspx?artid=13

Air yang berlebihan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses osmosis.
Pengeluaran air dapat dikendalikan dengan menciptakan gradien tekanan, dengan kata
lain air bergerak dari daerah dengan tekanan lebih tinggi (tubuh pasien) ke tekanan
yang lebih rendah (cairan dialisat). Gradien ini dapat ditingkatkan melalui
penambahan tekanan negatif yang dikenal sebagai ultrafiltrasi pada mesin dialisis.
Tekanan negatif diterapkan pada alat ini sebagai kekuatan penghisap pada membran
dan memfasilitasi pengeluaran air. Karena pasien tidak dapat mengekskresikan air,
kekuatan ini diperlukan untuk mengeluarkan cairan hingga tercapai isovolemia
(keseimbangan cairan) (Hudak & Gallo, 1996).

3. Interdialytic Weight Gain (IDWG)


Pengendalikan intake cairan merupakan salah satu masalah utama bagi pasien dialisis,
karena dalam kondisi normal manusia tidak dapat bertahan lebih lama tanpa intake cairan
dibandingkan dengan makanan. Namun bagi penderita penyakit ginjal kronik harus
melakukan pengendalian intake cairan untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Ginjal
sehat melakukan tugasnya untuk menyaring dan membuang limbah dan racun ditubuh
kita dalam bentuk urin. Apabila fungsi ginjal berhenti, maka terapi dialisis yang
menggantikan tugas dari ginjal tersebut, tetapi pasien harus melakukan pengendalian
intake cairan. Kebanyakan klien yang menjalani terapi hemodialisis di Indonesia tiap 2
kali perminggu dan palaksanaan terapi selama 4- 5 jam. Itu artinya tubuh harus
menanggung kelebihan cairan diantara dua waktu dialisis.
IDWG dapat menjadi indikator intake cairan pasien selama periode interdialitik yang
dapat mempengaruhi status kesehatan pasien selama menjalani terapi hemodialisis
(Istanti, 2009).

a. Definisi
IDWG adalah peningkatan volume cairan yang dimanifestasikan dengan peningkatan
berat badan sebagai dasar untuk mengetahui jumlah cairan yang masuk selama
periode interdialitik (Arnold, 2007).

b. Klasifikasi
Menurut Neumann (2013) IDWG yang dapat ditoleransi oleh tubuh adalah tidak
lebih dari 3% dari berat kering.Kozier (2004) dan Yetti (1999) mengklasifikasikan
penambahan berat badan menjadi 3 kelompok, yaitu berat badan ringan, sedang, dan
berat dengan kriteria sebagai berikut :
Tabel 2.2
Klasifikasi Kenaikan Berat Badan
Grafik Rentang Prosentase Kenaikan Rentang Kenaikan
dalam Penelitian
a. Ringan 2% < 4% < 3,9%
b. Sedang 5% 4-6% 4-6%
c. Berat 8% > 6% > 6%
(Kozier, 2004) (Yetti, 1999)

c. Pengukuran IDWG
IDWG merupakan indikator kepatuhan pasien terhadap pengaturan cairan. IDWG
diukur berdasarkan dry weight (berat badan kering) pasien dan juga dari pengukuran
kondisi klinis pasien. Berat badan kering adalah berat badan tanpa kelebihan cairan
yang terbentuk setelah tindakan hemodialisis atau berat terendah yang aman dicapai
pasien setelah dilakukan dialisis (Kallenbach, 2005).

Berat badan pasien ditimbang secara rutin sebelum dan sesudah hemodialisis. IDWG
diukur dengan cara menghitung berat badan pasien setelah (post) HD pada periode
hemodialisis pertama (pengukuran I). Periode hemodialisis kedua, berat badan pasien
ditimbang lagi sebelum (pre) HD (pengukuran II), selanjutnya menghitung selisih
antara pengukuran II dikurangi pengukuran I dibagi pengukuran II dikalikan 100%.
Misalnya BB pasien post HD ke 1 adalah 54 kg, BB pasien pre HD ke 2 adalah 58
kg, prosentase IDWG (58 -54) : 58 x 100% = 6,8 % (Istanti, 2009).

d. Faktor- Faktor yang berpengaruh terhadap IDWG


Berbagai faktor yang mempengaruhi IDWG antara lain faktor dari pasien itu sendiri
(internal) dan faktor eksternal seperti faktor fisik dan psikososial. Faktor-faktor yang
berpengaruh pada kenaikan berat badan interdialitik antara lain (Arnold, 2007) :
1) Intake Cairan
Prosentase air di dalam tubuh manusia 60%, dimana ginjal yang sehat akan
mengekskresi dan mereabsorpsi air untuk menyeimbangkan osmolalitas darah.
Sedangkan pada pasien dengan penyakit ginjal kronik yang menjalani
hemodialisis mengalami kerusakan dalam pembentukan urin sehingga dapat
menyebabkan kelebihan volume cairan dalam tubuh (Smeltzer & Bare, 2008).

2) Rasa Haus
Pasien PGK meskipun dengan kondisi hipervolemia, sering mengalami rasa haus
yang berlebihan yang merupakan salah satu stimulus timbulnya sensasi haus
(Black & Hawks, 2005). Merespon rasa haus normalnya adalah dengan minum,
tetapi pasien-pasien PGK tidak diijinkan untuk berespon dengan cara yang
normal terhadap rasa haus yang mereka rasakan. Rasa haus atau keinginan untuk
minum disebabkan oleh berbagai faktor diantaraya masukan sodium, kadar
sodium yang tinggi, penurunan kadar posatium, angiotensin II, peningkatan urea
plasma, urea plasma yang mengalami peningkatan, hipovolemia post dialisis dan
faktor psikologis (Istanti, 2009).

3) Dukungan sosial dan keluarga


Tindakan hemodialisis pada pasien PGK dapat menimbulkan stress bagi pasien.
Dukungan keluarga dan sosial sangat dibutuhkan untuk pasien. Dukungan
keluarga dapat meningkatkan kualitas hidup pasien dan berhubungan dengan
kepatuhan pasien untuk menjalankan terapi (Sonnier, 2000).

4) Self Efficacy
Self Efficacy yaitu kekuatan yang berasal dari seseorang yang bisa mengeluarkan
energi positif melalui kognitif, motivasional, afektif dan proses seleksi. Self
Efficacy dapat mempengaruhi rasa percaya diri pasien dalam menjalani terapinya
(hemodialisis). Self Efficacy yang tinggi dibutuhkan untuk memunculkan
motivasi dari dalam diri agar dapat mematuhi terapi dan pengendalian cairan
dengan baik, sehingga dapat mencegah peningkatan IDWG Bandura (2000)
dalam (Istanti, 2009).

5) Stress
Stress dapat mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit didalam tubuh.
Stress meningkatkan kadar aldosteron dan glukokortikoid, menyebabkan retensi
natrium dan garam. Respon stress dapat meningkatkan volume cairan akibatnya
curah jantung, tekanan darah, dan perfusi jaringan menurun. Cairan merupakan
salah satu stressor utama yang dialami oleh pasien yang menjalani hemodialisis
(Potter & Perry, 2006).

Penyesuaian diri terhadap kondisi sakit juga menimbulkan stress pada pasien,
sehingga mengakibatkan terjadinya perubahan dalam kehidupan pasien. Dampak
psikologis pasien PGK yang menjalani HD dapat dimanifestasikan dalam
serangkaian perubahan perilaku antara lain menjadi pasif, ketergantungan, merasa
tidak aman, bingung dan menderita. Pasien merasa mengalami kehilangan
kebebasan, harapan umur panjang dan fungsi seksual sehingga dapat
menimbulkan kemarahan yang akhirnya timbul suatu keadaan depresi (Rustiana,
2012). Menurut Istanti (2009) stress pada pasien HD dapat menyebabkan pasien
berhenti memonitoring asupan cairan, bahkan ada juga yang berhenti melakukan
terapi hemodialisis, kejadian ini secara langsung dapat berakibat pada IDWG.

e. Komplikasi IDWG
Peningkatan berat badan selama periode interdialitik mengakibatkan berbagai macam
komplikasi. Komplikasi ini sangat membahayakan pasien kerena pada saat periode
interdialitik pasien berada dirumah tanpa pengawasan dari petugas kesehatan.
Sebanyak 60%-80% pasien meninggal akibat kelebihan intake cairan dan makanan
pada periode interdialitik (Istanti, 2009). Sedangkan (Hudak & Gallo, 1996)
menyampaikan bahwa adanya kelebihan cairan yang melebihi IDWG dapat
dimanifestasikan : tekanan darah meningkat, nadi meningkat, dispnea, rales basah,
batuk, edema. IDWG yang berlebihan pada pasien dapat menimbulkan masalah,
diantaranya yaitu : hipertensi yang semakin berat, gangguan fungsi fisik, sesak nafas,
edema pulmonal yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya
kegawatdaruratan hemodialisis, meningkatnya resiko dilatasi, hipertropi ventrikuler
dan gagal jantung (Smeltzer & Bare, 2002).

4. Depresi
a. Pengertian
Depresi merupakan kondisi emosional yang biasanya ditandai dengan perasaan
tidak bersalah, kehilangan selera makan, dan minat serta kesenangan dalam
aktivitas yang biasa dilakukan. Depresi sering kali berhubungan dengan berbagai
masalah psikologis lain, seperti serangan panik, penyalahgunaan zat, disfungsi
seksual, dan gangguan kepribadian (Davidson & Neale, 2006). Menurut Siswanto
(2007) menyatakan depresi sebagai gangguan suasana hati yang dicirikan dengan
tak ada harapan dan patah hati, ketidakberdayaan yang berlebihan, tidak mampu
konsentrasi, tidak punya semangat hidup, dan selalu tegang.

Depresi merupakan salah satu gangguan mood yang ditandai oleh hilangnya
perasaan kendali dan pengalaman subjektif adanya penderitaan berat. Mood adalah
keadaan emosional internal yang meresap dari seseorang, dan bukan afek, yaitu
ekspresi dari emosional saat itu (Kaplan, 2005). Menurut Atkinson (2004) depresi
adalah gangguan perasaan yang disertai komponen psikologi berupa sedih, susah,
tidak ada harapan dan putus asa disertai komponen biologi atau somatik misalnya
anoreksia dan keringat dingin.

Pasien hemodialisis dianjurkan melakukan terapi secara terus menerus untuk


mempertahankan fungsi ginjalnya. Penyesuaian pasien terhadap perubahan fisik dan
pola hidup, ketergantungan secara fisik dan ekonomi, keadaan seperti ini dapat
menimbulkan perasaan tertekan yang akhirnya dapat menimbulkan gangguan
mental seperti depresi.
b. Penyebab
Kaplan (2005) menyatakan bahwa faktor penyebab depresi dapat dibagi menjadi
tiga, yaitu faktor biologi, faktor genetik, dan faktor psikososial.
1) Faktor biologi
Beberapa penelitian menunnjukkan bahwa terdapat kelainan biogenik, seperti
hidroksi indol asetic asid (HIAA), homovalinic acid (HVA), methoxy hydroksi
phenil glikol (MPGH), di dalam darah, urin dan cairan serebrospinal pada
pasien gangguan mood. Neurotransmiter yang terkait dengan patologi depresi
adalah serotonin dan eprinefrin. Penurunan serotonin dapat mencetuskan
depresi. Pada terapi despiran mendukung teori bahwa noreprineprin berperan
dalam patofisiologi depresi (Kaplan, 2005).
2) Faktor genetik
Penelitian genetik dan keluarga menunnjukkan bahwa angka resiko di anggota
keluarga tingkat pertama dari individu yang menderita depresi berat (unipolar)
diperkirakan 2 sampai 3 kali dibandingkan dengan populasi umum Davies
(2000) dalam (Kaplan, 2005).
3) Faktor Psikososial
Ada sejumlah faktor psikososial yang diprediksi sebagai penyebab gangguan
mental antara lain hilangnya peranan sosial, hilangnya otonomi, kematian teman
atau sanak saudara, penurunan kesehatan, peningkatan isolasi diri, keterbatasan
finansial, dan penurunan fungsi kognitif (Kaplan, 2005). Menurut Groth (2002)
faktor psikososial meliputi penurunan percaya diri, penurunan jaringan sosial,
kesepian, perpisahan, kemiskinan, dan penyakit fisik.

4) Penyakit fisik
Berbagai faktor yang dapat mencetuskan depresi adalah penyakit fisik. Individu
yang menderita penyakit kronis cenderung mudah mengalami depresi (Tomb,
2003).

c. Manifestasi klinis
Depresi adalah proses patologis, bukan merupakan proses normal dalam kehidupan.
Gejala umumnya banyak diantara mereka muncul dengan menunjukkan sikap
rendah diri (Keliat, 1998) :
1) Aspek psikologi :
a) Kehilangan konsentrasi, berpikir lambat.
b) Ragu-ragu
c) Harga diri rendah
2) Aspek Biologi :
a) Hilang nafsu makan atau bertambah nafsu makan
b) Hilang libido
c) Tidur tidak nyenyak
d) Gelisah

d. Pengukuran Depresi
Alat yang digunakan untuk mengukur (Skrining) depresi pada pasien PGK yang
menjalani hemodialisis ada berbagai macam, salah satunya dengan Beck Depression
Inventory (BDI). BDI merupakan skala depresi yang disusun oleh Aaron T Beck
pada tahun 1960-an. Skala ini disarankan oleh Beck untuk mengukur depresi
pasien. BDI tidak hanya menangkap perubahan dalam suasana hati, tetapi juga
perubahan dalam motivasi, fungsi fisik, dan fitur kognitif dari penderita depresi
Beck (1996) dalam (Ahmad, 2000).

Depesi diukur dengan BDI, dengan rentang nilai antara 0-63, dan dikategorikan
menjadi 4 (empat) :
1) Nilai 0-9 menunjukkan tidak ada depresi
2) Nilai 10-15 menunjukkan adanya depresi ringan
3) Nilai 16-23 menunjukkan adanya depresi sedang
4) Nilai 24-63 menunjukkan adanya depresi berat.

B. Hubungan Depresi terhadap Interdialytic Weight Gain (IDWG) pada pasien PGK
yang menjalani Hemodialisa.
Masalah yang sering dijumpai oleh pasien hemodialisis adalah hipervolemia (kelebihan
cairan), karena selama periode interdialitik pasien berada di rumah dan tidak mendapat
pengawasan, baik oleh perawat maupun dokter. Setiap pasien hemodialisis dianjurkan
untuk mematuhi, mengontrol dan mengendalikan intake cairan agar Interdialytic Weight
Gain (IDWG) tidak melebihi batas yang telah ditentukan. Pasien yang menjalani HD
sering mengalami stress, dan lama kelamaan dapat menimbulkan terjadinya depresi.
Depresi sangat berpengaruh terhadap perilaku pasien. Pasien yang depresi mungkin tidak
mau minum sama sekali, bahkan ada pasien yang justru melanggar pembatasan asupan
cairan karena depresi. Depresi memiliki kontribusi terhadap Interdialytic Weight Gain
(IDWG).

C. Kerangka Teori
Skema 2.1
Kerangka Teori Penelitian

Interdialytic Weight
Gain (IDWG) :
Hemodialisis (HD) Pembatasan
cairan a. Ringan
b. Sedang
c. Berat

Faktor-faktor yang
berpengaruh terhadap
IDWG :

1. Intake cairan
2. Rasa haus
3. Dukungan sosisal
4. Dukungan keluarga
5. Self Efficacy
6. Stress (Depresi)
Sumber : (Smeltzer & Bare, 2002), (Suharyanto, 2006), (Kallenbach, 2005), (Nursuryawati, 2002),
(Niven, 2002), (Black & Hawks, 2005), (Keliat, 1998), (Istanti, 2009).

D. Kerangka Konsep

Skema 2.2
Kerangka Konsep Penelitian

Variabel Independen Variabel Dependen

Depresi Interdialytic Weight Gain


(IDWG)

Variabel Confounding:

1. Intake cairan
2. Rasa haus
3. Dukungan sosial
dan keluarga
4. Stress

E. Variabel Penelitian
Variabel independen (bebas) pada penelitian ini adalah depresi, dan variabel dependen
(terikat) yaitu interdialytic weight gain (IDWG).
F. Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada hubungan antara depresi dengan interdialytic
weight gain (IDWG) pada pasien PGK yang menjalani hemodialisis di RSUD Kota
Semarang.