Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

EKONOMI ISLAM
“ DISTRIBUSI PENDAPATAN DAN KEKAYAAN ”
(Studi Kasus: Ketimpangan UMK antar kota di provinsi JawaTimur)

Dosen Pembimbing :
Drs. Wiyono, M.M.

KELOMPOK 6 :
Rikky Darmawan (201510160311121)
Muhammad Niqobul Lubab (201510160311137)
Moch. Fatichun Nida Islami (201510160311134)
Anindhita nadila efendi (201510160311150)
Aisyah windiarti (201510160311152)

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
2017

i
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.


Alhamdulillahirabbilalamin, banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi
sedikit sekali yang kita ingat. Segala puji hanya layak untuk Allah SWT atas segala
berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga
kami dapat menyelesaikan makalah Ekonomi Islam yang berjudul “Distribusi
Pendapatan dan Kekayaan”.
Dalam penyusunan makalah ini, kami mengucapkan terima kasih kepada
Drs. Wiyono, M.M yang telah memberikan dukungan, kasih, dan kepercayaan yang
begitu besar. Dari sanalah semua kesuksesan ini berawal, semoga semua ini bisa
memberikan sedikit kebahagiaan dan menuntun pada langkah yang lebih baik lagi.
Meskipun kami berharap isi dari makalah kami ini bebas dari kekurangan
dan kesalahan, namun selalu ada yang kurang. Oleh karena itu, kami mengharapkan
kritik dan saran yang membangun agar makalah Ekonomi Islam ini dapat lebih baik
lagi.
Akhir kata kami mengucapkan terimakasih, semoga hasil laporan praktikum
kami ini bermanfaat.
Wassalammualaikum Wr. Wb.

Malang, 18 November 2017

Penyusun

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ ii


DAFTAR ISI .......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................1
A. Latar Belakang ..............................................................................................1
B. Rumusan Masalah .........................................................................................3
C. Tujuan Masalah .............................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN .........................................................................................4
A. Pengertian Distribusi,Pendapatan,Dan Kekayaan .........................................4
B. Distribusi Pendapatan Dalam Islam ..............................................................4
C. Dampak Distribusi Dalam Islam ...................................................................5
D. Konsep Distribusi Kekayaan Dalam Islam ...................................................7
E. Larangan Menumpuk Kekayaan Dalam Islam..............................................8
F. Perbedaan Penimbunan/Penumpukan,Tabungan, Dan Investasi ..................8
G. Penyelesaian Fenomena Ketidakmerataan UMK .........................................9
BAB III PENUTUP ...............................................................................................11
A. Kesimpulan .................................................................................................11
B. Saran ...........................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................12

iii
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Islam sebagai system hidup (way of life) dan merupakan agama yang
universal sebab memuat segala aspek kehidupan baik yang terkait dengan aspek
ekonomi, social, politik dan budaya.seiring dengan maju pesatnya kajian tentang
ekonomi islam dengan mengunakan pendekatan filsafat dan sebagainya
mendorong kepada terbentuknya suatu ekonomi berbasis keislaman yang
terfokus untuk mempelajari masalah- masalah ekonomi rakyat yang di ilhami
oleh nilai- nilai islam. Adapun bidang kajian yang terpenting dalam
perekonomian adalah bidang distribusi. Distribusi menjadi posisi penting dari
teori ekonomi mikro baik dalam sestem ekonomi islam maupun kapitalis sebab
pembahasan dalam distribusi ini tidak hanya berkaitan dengan aspek ekonomi
belaka. Tetapi juga aspek social dan politik sehingga menjadi perhatian bagi
aliran pemikir ekonomi islam dan konvesional sampai saat ini.
Pada saat ini realita yang nampak adalah telah terjadi ketidakadilan dan
ketimpangan dalam pendistribusian pendapatan dan kekayaan baik di Negara
maju atau Negara- Negara berkembang yang mempergunakan sestem kapitalis
sebagai sestem ekonomi negaranya, sehingga menciptakan miskin di mana –
mana. Menanggapi kenyataan tersebut islam sebagai agama yang yuniversal
diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan tersebut dan sekaligus menjadi
sestem perekonomian suatu Negara, sehingga mencipatakan kemiskinan
dimana-mana. Menanggapi kenyataan tersebut islam sebagai agama yang
universal diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan tersebut dan sekalligus
menjadi system perekonomian suatu Negara.
Indonesia melakukan reformasi besar-besaran di bidang pemerintahan
dengan memberlakukan sistem desentralisasi fiskal. Dengan adanya
desentralisasi ini berarti terdapat pelimpahan wewenang dari pusat ke daerah,
dimana pemerintah daerah dapat mengambil kebijakan publik yang sesuai
dengan potensi daerah yang dimiliki masing-masing. Melalui desentralisasi atau
biasa disebut dengan istilah otonomi daerah ini diharapkan daerah mampu
mengembangkan daerahnya yang juga sesuai dengan apa yang diinginkan oleh

1
masyarakatnya, agar setiap kebijakan yang akan diambil, khususnya mengenai
pembangunan daerah tidak akan mengalami hambatan. Sejak diberlakukannya
otonomi daerah, setiap daerah di Indonesia, khususnya di Provinsi Jawa Timur
pun berlomba-lomba untuk membangun daerahnya lebih baik, dengan harapan
seluruh masyarakat di masing-masing daerah tersebut dapat memperoleh
kesejahteraan dan kemakmuran. Bertitik tolak dari kenyataan tersebut,
kesenjangan atau ketimpangan antardaerah merupakan
konsekuensi logis pembangunan dan merupakan suatu tahap perubahan
dalam pembangunan itu sendiri. Perbedaan tingkat kemajuan ekonomi
antardaerah yang berlebihan akan menyebabkan pengaruh yang merugikan
mendominasi pengaruh yang menguntungkan terhadap pertumbuhan daerah,
dalam hal ini mengakibatkan proses ketidak seimbangan
Berikut data UMK Provinsi yang ada di Jawa Timur:

Berdasarkan data diatas dapat dilihat bahwa ada perbedaan UMK yang
cukup besar antara kota Surabaya, kab. Sidoarjo, pasuruan, dan mojokerto
dengan kota kota lain. Hal ini dapat terjadi karena di 4 kota tersebut
pembangunan dan juga industri yang ada disana sudah cukup bagus dan pesat
jika dibandingkan kota kota lainnya di Jawa Timur. Secara tidak langsung ini
juga akan memepengaruhi tingkat kemakmuran masyarakat antara ke 4 kota
tersebut dengan kota lainnya di Jawa Timur, bila berkaca pada hukum islam yang
berpandangan bahwa keadilan adalah hak yang dapat diperoleh oleh setiap insan
tentu ini sangat tidak sesuai.

2
B. Rumusan Masalah
Untuk membahas permasalahan ini secara menyeluruh, maka dalam
makalah ini disusun beberapa rumusan masalah, yaitu :
1. Apakah pengertian distribusi,pendapatan dan kekayaan?
2. Apakah distribusi pendapatan dalam islam itu ?
3. Sebutkan dampak distribusi dalam islam itu?
4. Jelaskan konsep distribusi kekayaan dalam islam?
5. Bagaimana larangan menumpuk kekayaan dalam islam ?
6. Sebutkan Perbedaan Penimbunan/Penumpukkan, Tabungan (Saving), dan
Investasi?
7. Bagaimana penyelasaian tentang fenomena ketimpangan UMK?
C. Tujuan Masalah
Berdasarkan rumusan masalah di atas, dapat diketahui tujuan dari
penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui pengertian distribusi,pendapatan dan kekayaan.
2. Untuk mengetahui distribusi pendapatan dalam islam.
3. Untuk mengetahui dampak distribusi dalam islam.
4. Mengetahui konsep distribusi kekayaan dalam islam.
5. Mengetahui larangan menumpuk kekayaan dalam islam.
6. Mengetahui Perbedaan Penimbunan/Penumpukkan, Tabungan (Saving),
dan Investasi.
7. Untuk mengetahui bagaimana solusi penyelesaian fenomena ketimpangan
UMK.

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Distribusi,Pendapatan,Dan Kekayaan


Distribusi adalah klasifikasi pembayaran berupa sewa, upah, bunga
modal dan laba, yang berhubungan dengan tugas-tugas yang dilaksanakan oleh
tenaga kerja, modal dan pengusaha- pengusaha. Dalam proses distribusi
penentuan harga yang dipandang dari si penerima pendapatan dan bukanlah dari
sudut si pembayar biaya-biaya, distribusi juga berarti sinonim untuk pemasaran.
Kadang-kadang distribusi dinamakan sebagai fungsional distribution.
Pendapatan diartikan sebagai suatu aliran uang atau daya beli yang
dihasilkan dari penggunaan sumber daya properti manusia. Menurut Winardi
(1989), pendapatan (income), secara teori ekonomi adalah hasil berupa uang atau
hasil material lainnya yang dicapai dari penggunaan kekayaan atau jasa-jasa
manusia bebas. Dalam pengertian pembukuan pendapatan diartikan sebagai
pendapatan sebuah perusahaan atau individu
Sementara kekayaan (wealth) diartikan oleh Winardi (1989) sebagai
segala sesuatu yang berguna dan digunakan oleh manusia. Istilah ini juga
digunakan dalam arti khusus seperti kekayaan nasional. Sloan dan Zurcher
mengartikan kekayaan sebagai obyek-obyek material, yang ekstern bagi
manusia yang bersifat : berguna, dapat dicapai dan langka. Kebanyakan ahli
ekonomi tidak menggolongkan dalam istilah kekayaan hak milik atas harta
kekayaan, misalnya saham, obligasi, surat hipotik karena dokumen-dokumen
tersebut dianggap sebagai bukti hak milik atas kekayaan, jadi bukan kekayaan
itu sendiri.
B. Distribusi Pendapatan Dalam Islam
Distribusi menjadi posisi penting dari teori ekonomi islam karena
pembahasan distribusi berkaitan bukan saja berhubungan dengan aspek ekonomi
tetapi juga aspek sosial dan aspek politik. Maka distribusi dalam ekonomi islam
menjadi perhatian bagi aliran pemikir ekonomi

4
Islam dan konvensional sampai saat ini. Di lain pihak, keadaan ini
berkaitan dengan visi ekonomi di tengah-tengah umat manusia lebih sering
mengedepankan adanya jaminan pemenuhan kebutuhan hidup yang lebih baik.
Dan hal itu memang tidak bisa di sangkal beberapa aspek normatif yang
berkaitan dengn firman Allah dan sabda Rasulullah saw merupakan bagian
penting dari misi dakwahnya. Sebenarnya konsep islam tidak hanya
mengedepankan aspek ekonomi, di mana ukuran berdasarkan atas jumlah harta
kepemilikan, tetapi bagaimana bisa terdistribusi penggunaan potensi
kemanusiannya, yang berupa penghargaan hak hidup dalam
kehidupan.Distribusi harta tidak akan mempunyai dampak yang signifikan kalau
tidak ada kesadaran antara sesama manusia akan kesaamaan hak hidup. Oleh
karena itu dalam distribusi pendapatan berhubungan dengan beberapa masalah :
1) Bagaimana mengatur adanya distribusi pendapatan.
2) Apakah distribusi pendapatan yang di lakukan harus mengarah pada
pembentukan masyarakat yang mempunyai pendapatan yang sama.
3) Siapa yang menjamin adanya distribusi pendapatan ini di masyarakat.
Untuk menjawab masalah ini, islam telah menganjurkan untuk
mengerjakan zakat, infaq, dan shadaqah. Kemudian Baitul Mal membagikan
kepada orang yang membutuhkan untuk meringankan masalah hidup orang lain
dengan cara memberi bantuan langsung ataupun tidak langsung. Islam tidak
mengarahkan distribusi pendapatan yang sama rata, letak pemerataan dalam
islam adalah keadilan atas dasar maslahah; dimana antara satu orang dengan
orang lain dalam kedudukan sama atau berbeda,mampu atau tidak mampu saling
bisa menyantuni, menghargai dan menghormati peran masing-masing. Semua
keadaan diatas akan terealisasi bila masing-masing individu sadar terhadap
eksistensinya di hadapan Allah.
C. Dampak Distribusi Dalam Islam
Distribusi pendapatan merupakan bagian yang penting dalam
membentuk kesejahteraan. Dampak dari distribusi pendapatan bukan saja pada
aspek ekonomi tetapi juga aspek sosial dan politik. Oleh karena itu islam
memberi perhatian lebih terhadap distribusi pendapatan dalam masyarakat.
Maka islam memperhatikan berbagai sisi dari perilaku manusia dalam

5
memenuhi kebutuhannya, misalnya dalam dalam jual-beli, hutang piutang, dan
sebagainya. Dampak yang di timbulkan dari distribusi pendapatan yang di
dasarkan atas konsep islam;
1) Dalam konsep islam perilaku distribusi pendapatan dalam masyarakat
merupakan bagian dari bentuk proses kesadaran masyarakat dalam
mendekatkan diri kepada Allah, oleh karena itu, distribusi dalam islam akan
menciptakan kehidupan yang saling menghargai dan menghormati antara
satu dengan yang lain tidak akan sempurna eksistensinya sebagai manusia
jika tidak ada yang lain. Tidak ada upaya utuk membatasi optimalisasi
distribusi pendapatan di dalam masyarakat dengan perbuatan-perbuatan
tercela, manipulasi, korupsi, spekulasi, dan sebagainya sehingga timbul
ketakutan, ketidakpercayaan, dan kecurigaan antara satu dengan yang
lainnya.
2) Seorang muslim akan menghindari praktek distribusi yang menggunakan
barang-barang yang merusak masyarakat misalnya minuman keras, obat
terlarang, pembajakan, dan sebagainya sebagai media distribusi. Dalam
islam distribusi tidak hanya di dasarkan optimalisasi dampak barang
tersebuat terhadap kemampuan orang tetapi pengaruh barang tersebut
terhadap perilaku masyarakat yang mengkonsumsinya.
3) Negara bertanggung jawab terhadap mekanisme distribusi dengan
mengedepankan kepentingan umum dari pada kepentingan kelompok, atau
golongan apalagi perorangan. Oleh karena itu sektor publik yang digunakan
untuk kemaslahatan umat jangan sampai jatuh di tangan orang yang
mempunyai visi kepentingan kelompok, golongan dan kepentingan pribadi.
4) Negara mempunyai tanggung jawab untuk menyediakan fasilitas publik
yang berhubungan dengan masalah optimalisasi distribusi pendapatan,
seperti ; sekolah, rumah sakit, lapangan kerja, perumahan, jalan,jembatan
dan sebagainya. Sarana tersebut sebagai bentuk soft distribution yang di
gunakan untuk mengoptimalkan sumber daya yang berkaitan. Misalnya,
sekolah akan mencetak manusia yang pandai sehingga bisa memikirkan yang
terbaik dari keadaan umat manusia, rumah sakit menciptakan orang sehat

6
sehingga bisa bekerja dengan baik, lapangan kerja mengurangi angka
kriminalitas dan ketakutan dan sebagainya.
D. Konsep Distribusi Kekayaan Dalam Islam
Dalam Islam memang diyakini bahwa Allah SWT memberikan harta
pada seluruh umat tidak merata. Ada yang mendapatkan harta melebihi
kebutuhan hidupnya dan ada yang sedikit dibawah jumlah kebutuhan mereka
sehingga diperlukan interaksi dalam distribusi harta. Dengan ketentuan
kolektifitas yang dimiliki sistem ekonomi Islam kelangkaan menjadi bukan
masalah. “ Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang
meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian (tidak meminta)” (QS.
Adz-Dzariyat: 19).
Dari ayat diatas, dapat disimpulkan bahwa Islam menjamin kehidupan
tiap individu serta jamaah untuk tetap sebagai sebuah komunitas yang berpegang
pada ketentuan yang ada. Akan tetapi apabila masyarakat berdiri di atas
kesenjangan yang lebar antara individu yang lain dalam memenuhi
kebutuhannya maka harus diwujudkan adanya keseimbangan antara individu
dengan mengupayakan distribusi yang merata. Mekanisme kepemilikan
terhadap sesuatu tidak dapat dilakukan oleh semua individu maka diperlukan
sistem yang menjamin terjadinya distribusi dalam perekonomian.
Kekayaan merupakan amanah Allah yang diberikan kepada manusia
untuk dipergunakan untuk kebaikan. Amanah bagi seorang muslim dipahami
sebagai suatu kepercayaan Allah maka pemahaman amanah ini menjadikan
seoarang muslim bersikap lebih arif dalam mengelola kekayaannya. Oleh
karenanya, kekayaan yang dimiliki seorang muslim menjadi berkah bagi
masyarakat disekitarnya.
Allah berfirman:
“ Dan Allah melebihkan sebagian diantara kamu dari sebagian yang lain
dalan hal rezeki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezekinya itu) tidak
mau memberikan rezeki mereka kepada budak-budak yang?” (Q mereka
miliki, agar mereka sama (merasakan) rezeki itu. Maka mengapa mereka
mengingkari nikmat Allah.S. An-Nahl: 71).

7
E. Larangan Menumpuk Kekayaan Dalam Islam
Islam telah mewajibkan sirkulasi kekayaan terjadi pada semua anggota
masyarakat, dan mencegah terjadinya sirkulasi kekayaan hanya pada segelintir
orang.
Allah berfirman:
“ Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di
antara kamu” (QS. Al-Hasyr: 7).
Ketika terjadi kesenjangan, negara harus memecahkannya dengan cara
mewujudkan keseimbangan dalam masyarakat, dengan cara memberikan harta
negara yang menjadi hak miliknya kepada orang-orang yang memiliki
keterbatasan dalam memenuhi kebutuhannya.
Atas dasar inilah, negara harus memberikan harta, baik yang bergerak
maupun yang tetap. Sebab, maksud pemberian harta tersebut bukan sekedar
memenuhi kebutuhan yang bersifat temporer sebagai sarana untuk memenuhi
kepemilikan atas kekayaan yang dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan-
kebutuhan tersebut.
Apabila negara tidak mempunyai harta maka negara tidak boleh
memungut harta dari hak milik rakyat. Oleh karena itu, negara tidak boleh
memungut pajak dalam rangka mewujudkan keseimbangan tersebut.
Pemenuhan kebutuhan dasar dan penjaminan kelancarannya dalam
perekonomian menjadi faktor penentu kestabilan ekonomi, politik dan sosial
dalam kehidupan manusia. Peran pemerintah atau negara juga penting dalam
memastikan kelancaran distribusi, dalam hal ini memberikan kebijakan atau
instrumen dalam memastikan distribusi dapat berlangsung dan tepat sasaran.
F. Perbedaan Penimbunan/Penumpukan,Tabungan, Dan Investasi
Penimbunan berarti mengumpulkan uang satu dengan uang yang lain
tanpa ada kebutuhan, dimana penimbunan tersebut akan menarik uang dari
pasar. Mengumpulkan harta semacam ini termasuk kategori tindakan yang
dicela, yang pelakunya telah diancam oleh Allah dengan adzab yang pedih.
Allah SWT berfirman:

8
“ Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya
pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan
mendapat) siksa yang pedih ” (QS. At-Taubah: 34).
Saving adalah menyimpan uang karena adanya kebutuhan, semisal
mengumpulkan uang untuk membangun rumah, untuk menikah, membeli
pabrik, membuka bisnis ataupun untuk keperluan yang lain. Bentuk
pengumpulan uang semacam ini tidak akan mempengaruhi pasar, dan tidak akan
mempengaruhi aktivitas perekonomian, sebab tindakan tersebut bukan
merupakan tindakan menarik uang, namun hanya mengumpulkan uang untuk
dibelanjakan, dimana uang – yang dikumpulkan – tersebut akan beredar kembali
ketika dibelanjakan pada objek pembelanjaannya.
Investasi adalah harta seseorang yang jumlahnya dapat berkurang atau
bertambah yang diputarkan atau ditanamkan dalam berbagai usaha. Tabungan
dan investasi perbedaannya dapat dilihat dari sifat likuidnya. Tabungan
cenderung sangat likuid sedangkan investasi relatif tidk likuid.

G. Penyelesaian Fenomena Ketimpangan UMK


Berikut Kebijakan-kebijakan umum yang harus diambil pemerintah
untuk mengurangi atau mengatasi kemiskinan dan ketimpangan pendapatan
adalah:
a Mengubah distribusi pendapatan fungsional melalui kebijakan yang
ditujukan untuk mengubah harga relatif faktor. Hal ini terutama
dimaksudkan untuk mengurangi/ menghilangkan distorsi harga faktor yang
merugikan kelompok miskin.
b Memperbaiki distribusi pendapatan melalui redistribusi pemilikan aset
secara progresif, yang antara lain dilakukan melalui land reform, dan
pemberian kredit lunak bagi usaha kecil.
c Mengurangi bagian pendapatan penduduk golongan atas (kaya) melalui
pajak pendapatan dan pajak kekayaan yang progresif. Dengan demikian,
peningkatan penerimaan negara hasil pajak itu akan dapat ditujukan pada
perbaikan kesejahteraan kelompok miskin.

9
d Meningkatkan bagian pendapatan penduduk golongan bawah (melarat)
melalui pembayaran transfer secara langsung serta penyediaan barang dan
jasa publik atas tanggungan pemerintah. Hal ini antara lain dilakukan
melalui pembebasan/keringanan pajak bagi kelompok miskin, tunjangan
atau subsidi pangan, bantuan pelayanan kesehatan, bantuan pelayanan
umum lainnya.

10
BAB III

PENUTUP
A. Kesimpulan
Distribusi pendapatan dalam islam yang dijadikan batasan kebutuhan
adalah maqasidul Syar’i: agama, diri/personal, akal, keturunan dan harta.
Kebijakan distribusi yang ditawarkan ekonomi Islam dengan tidak berpihak
hanya pada salah satu agen ekonomi, dan diperkuat dengan prinsip-prinsip yang
jelas memberikan arahan bahwa keadilan ekonomi harus ditegakkan. Namun
menciptakan keadilan ekonomi akan sulit terwujud jika tidak melibatkan peran
institusi yang ada seperti halnya pemerintah dan masyarakat. Oleh sebab itu,
peran kedua instrumen tersebut sangat dibutuhkan, karena kebijakan distribusi
akan teraplikasikan dengan baik ketika kedua institusi yang ada berkerja.
Dalam Islam keadilan distribusi dan redistribusi diatur dalam khazanah
fiqih/hukum Islam yang sebenarnya cukup luarbiasa. Namun sayangnya
kadangkala akses ke sana sulit dan komitmen dan political will untuk
mengejewantahkannya masih belum kuat. Islam mengakui kehidupan individu
dan masyarakat saling berkaitan antara satu dengan yang lain. Masyarakat akan
menjadi faktor yang dominan dalam membentuk sikap individu sehingga
karakter individu banyak dipengaruhi oleh karakter masyarakat.

B. Saran
Dalam mengatasi kasus ketimpangan distribusi pendapatan ini harus
dilakukan dan diatasi dengan serius oleh pemerintah karena ini akan sangat
merugikan terutama disisi kesejahteraan individu. Individu yang kaya dan
makmur semakin lama akan semakin makmur sementara yang miskin semakin
lama akan semakin tertindas dan tidak merasakan kemakmuran tersebut.
Pemerintah harus kembali ke hukum islam dalam hal pemeretaan pendapatan
dimana islam sangat memperhatikan keadilan dalam ini, agar kesejahteraan dan
kemakmuran dapat dirasakan oleh semua kalangan.

11
DAFTAR PUSTAKA
Ash, Shadr. Muhammad Baqir. 2008. Buku Induk Ekonomi Islam. Jakarta: Zahra.

Sudarsono, Heri. 2004. Konsep Ekonomi islam : suatu pengantar. Yogyakarta:


Ekonisia.

Manan, M. Abdul. 1993. Ekonomi Islam: Teori dan Prakktek (terjemahan).


Yogyakarta: PT. Dana Bakti Wakaf.

Muhammad. 2004. Ekonomi Mikro Dalam Perespektif Islam.Yogyakarta: BPFE.

Nasution, Mustafa Edwin, dkk. 2006. Pengenalan Eksklusif Ekonomi Islam.


Jakarta: Kencana Predana Media Group.

Richard G. Lipsey. peter O.Steiner. 1985. Pengantar Ilmu Ekonomi. Jakarta: PT.
Bina Aksara.

Qardhawi, Yusuf. 1995. Norma Dan Etika Ekonomi Islam. Gema Insani Perss.

12