Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Masa remaja (adolescence) merupakan masa dimana terjadi transisi masa


kanak-kanak menuju dewasa, biasanya antara usia 13 dan 20 tahun. Istilah
adolescence merujuk kepada kematangan psikologis individu, sedangkan
pubertas merujuk kepada saat dimana telah ada kemampuan reproduksi. Pada
masa remaja terdapat tiga subfase : masa remaja awal (11 sampai 14 tahun),
masa remaja pertengahan (15 sampai 17 tahun), dan masa remaja akhir (18
sampai 20 tahun).[1] Seringkali dalam pembahasan soal remaja digunakan
istilah pubertas dan adolescence. Istilah pubertas digunakan untuk menyatakan
perubahan biologis yang meliputi morfologi dan fisiologi yang terjadi pesat
dari masa anak ke masa dewasa, terutama kapasitas reproduksi yaitu
perubahan alat kelamin dan dari tahap anak ke dewasa.[2]
Perubahan fisiologis pubertas pada remaja putri adalah pertumbuhan
skelet, permulaan perkembangan payudara, munculnya rambut pubis
berpigmen dan lurus yang secara bertahap menjadi keriting, ovulasi dan
lengkapnya perkembangan payudara, munculnya rambut halus pada wajah,
munculnya rambut aksila (dibawah lengan), peningkatan haluaran kelenjar
yang menghasilkan minyak dan keringat yang dapat menyebabkan jerawat,
pelebaran dan pendalaman pelvis pada anak wanita dengan deposisi lemak
subkutan yang memberikan penampilan bulat pada tubuh dan menarke.
Menarke adalah menstruasi yang pertama kali terjadi pada remaja putri yang
rata-rata terjadi pada usia 12 tahun.[3]
Menstruasi adalah tanda bahwa siklus masa subur telah dimulai. Pada masa
ini tingkat kesuburan seorang wanita mencapai puncaknya dan secara
seksualitas sudah siap untuk memiliki keturunan. Menstruasi terjadi saat
lapisan dalam dinding rahim luruh dan keluar dalam bentuk yang dikenal
dengan istilah darah menstruasi. Menstruasi pada masa ini paling teratur dan

1
2

siklus pada alat reproduksi yang dipengaruhi hormon cukup baik untuk
kehamilan. Dalam keadaan normal, masa reproduksi dimulai ketika sudah
terjadi pengeluaran sel telur yang matang (ovulasi) pada siklus menstruasi.[4]
Menstruasi atau haid atau datang bulan adalah perubahan fisiologis dalam
wanita yang terjadi secara berkala dan dipengaruhi oleh hormon reproduksi.
Periode ini penting dalam hal reproduksi, biasanya terjadi setiap bulan antara
remaja sampai menopause.[5] Umumnya, jarak siklus menstruasi berkisar 15
sampai 45 hari, dengan rata-rata 28 hari, dengan rata-rata 4-6 hari. Darah
menstruasi biasanya tidak membeku. Jumlah kehilangan darah tiap siklus
berkisar dari 60-80 ml.[6]
Saat menstruasi terdapat beberapa gangguan seperti : hipermonorea,
hipomenorea, polimenorea, oligomenorea, amenorrea, metroragia,
premenstrual tension, mastalgia, mittelschmerz, dan dismenore. Namun yang
sering di alami oleh wanita adalah dismenore. Dismenore adalah nyeri haid
yang terjadi tanpa tanda-tanda infeksi atau penyakit panggul. Dismenore
biasanya terjadi akibat pelepasan berlebihan prostaglandin tertentu,
prostaglandin f2 alfa, dari sel-sel endometrium uterus. Prostaglandin f2 alfa
adalah suatu peransang kuat kontraksi otot polos miometrium dan konstriksi
pembuluh darah uterus. Hal ini memperparah hipoksia uterus secara normal
terjadi pada haid, sehingga timbul rasa nyeri hebat.[7]
Dismenore dibagi menjadi dua, yaitu dismenore primer dan dismenore
sekunder. Dismenore primer adalah nyeri haid yang tanpa disertai dengan
kelainan anatomis genetalia dan terjadi bersamaan atau beberapa waktu
setelah menarche. Rasa nyeri yang dirasakan sebelum atau bersamaan dengan
hari pertama menstruasi dan berlangsung beberapa jam walaupun pada
beberapa kasus dapat berlangsung beberapa hari.[8] Dismenore sekunder
adalah nyeri yang muncul setelah haid, yaitu jika ada penyakit atau kelainan
yang menetap seperti infeksi rahim, kista atau polip serta kelainan posisi
rahim yang mengganggu organ atau jaringan di sekitarnya dan disertai dengan
kelainan anatomis genetalia. Dismenore primer ini mencapai puncaknya pada
hari pertama dan kedua.[9]
3

Dismenore primer biasanya dimulai pada saat seorang wanita berumur 2-3
tahun setelah menarche dan mencapai maksimalnya pada usia 15 dan 25
tahun.[10] Berdasarkan hal tersebut maka dismenorea primer mungkin akan
terjadi pada remaja berusia 15-17 tahun. Remaja pada usia tersebut sedang
berada di Sekolah Menengah Atas (SMA), terutama yang baru mengalami
nyeri haid/dismenore rata-rata berada pada kelas X Sekolah Menengah Atas.
Hampir seluruh perempuan pasti pernah merasakan nyeri haid dengan
berbagai tingkatan, mulai dari yang sekedar pegal-pegal di panggul dari sisi
dalam hingga rasa nyeri yang luar biasa sakitnya. Umumnya nyeri yang biasa
terasa di bawah perut itu terjadi pada hari pertama dan kedua menstruasi. Rasa
nyeri akan berkurang setelah keluar darah yang cukup banyak.[4] Penderita
nyeri haid atau dismenore biasanya mengalami keluhan yang paling hebat
pada hari pertama haid. Keluhan akan berkurang pada hari-hari berikutnya.
Umumnya berlansung tidak lebih dari 12-16 jam. Namun, ada juga wanita
yang mengalami nyeri haid mulai dari awal haid sampai hingga terakhir haid,
yaitu sekitar 5-6 hari.[11]
Angka kejadian nyeri haid di dunia sangat besar. Rata-rata lebih dari 50%
perempuan di setiap negara mengalami nyeri haid. Di Amerika angka
presentasenya sekitar 60% dan di Swedia sekitar 72%. Sementara di Indonesia
angkanya diperkirakan 55% perempuan usia produktif yang tersiksa oleh nyeri
selama menstruasi. Angka kejadian (prevalensi) nyeri haid berkisar 45-95% di
kalangan wanita usia produktif. Walaupun pada umumnya tidak berbahaya,
namun seringkali dirasa mengganggu bagi wanita yang mengalaminya.
Derajat nyeri dan kadar gangguan tentu tidak sama untuk setiap wanita. Ada
yang masih bisa bekerja (sesekali sambil meringis), adapula yang tidak kuasa
beraktifitas karena nyerinya.[4]
Penanganan nyeri dapat dilakukan secara farmakologi dan nonfarmakologi.
Penanganan secara farmakologi adalah dengan mengkonsumsi obat-obatan anti
nyeri seperti ibuprofen, naproxen, dan asam mefenamat. Tetapi
mengkonsumsi obat yang terlalu lama akan mengakibatkan banyak kerugian
yaitu dapat menimbulkan iritasi lambung, kolik usus, diare dan serangan
4

asma, selain banyak efek sampingnya pengobatan menggunakan farmakologi


juga mahal. Sedangkan cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi nyeri secara
non farmakologis salah satunya adalah kompres air hangat.
Penggunaan kompres hangat merupakan cara untuk menghilangkan atau
menurunkan rasa nyeri tanpa memberikan efek samping. Selain itu
penggunaan kompres hangat merupakan cara yang murah serta mudah untuk
dilakukan sehingga tidak memerlukan biaya yang mahal untuk
menggunakannya. Kompres hangat dapat meredakan iskemia dengan
menurunkan kontraksi uterus dan melancarkan pembuluh darah sehingga
dapat meredakan nyeri dengan mengurangi ketegangan, meningkatkan aliran
darah dan meredakan Vasokongesti pelvis.[12] Prinsip kerja kompres hangat
adalah bekerja secara konduksi memindahkan panas dari buli- buli air hangat
ke dalam tubuh sehingga penggunaan kompres hangat diharapkan dapat
meningkatkan relaksasi otot-otot dan mengurangi nyeri akibat spasme atau
kekakuan serta memberikan rasa hangat lokal.[13]
Berdasarkan hasil studi pendahuluan pada kelas X SMK Negeri 01 Nanga
Taman, Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau yang berjumlah 41
siswi, yang mana pada saat itu ada 11 siswi yang tidak hadir dikarenakan
banjir, sehingga penyebaran kuesioner hanya dapat disebarkan kepada 30
siswi, dari penyebaran kuesioner tersebut didapatkan 13 siswi yang
mengalami nyeri ringan, 11 siswi nyeri sedang, 2 siswi nyeri berat terkontrol
dan ada 4 siswi yang tidak mengalami nyeri haid. Jika dijumlahkan secara
keseluruhan terdapat 26 siswi yang mengalami nyeri haid, dimana 26 siswi
tersebut mengalami menstruasi setiap bulannya. Nyeri yang dirasakan rata-rata
terjadi pada hari pertama menstruasi, untuk mengurangi nyeri haid 2 siswi
menggunakan obat-obatan pereda nyeri, dan sisanya 24 siswi tidak
menggunakan obat-obatan atau terapi apapun, mereka lebih memilih untuk
istirahat dan menahan rasa sakit sampai hilang. Berdasarkan hasil wawancara
singkat diketahui bahwa ada 3 siswi yang bahkan tidak mampu mengikuti
pelajaran dikelas dan izin beristirahat di unit kesehatan sekolah (UKS) selama
1 jam sampai 2 jam, walaupun ada 8 siswi yang mampu mengikuti pelajaran
5

namun mereka tidak dapat berkonsentrasi dengan baik karena harus menahan
rasa nyeri, saat ditanya mengenai penanganan nyeri haid dengan
menggunakan kompres hangat mereka menjawab tidak tau bahwa kompres
hangat bisa digunakan untuk menurunkan nyeri haid, padahal kompres hangat
mudah, aman, dan dapat dilakukan dimana saja hanya dengan bermodalkan
botol dan air hangat yang dapat diproleh di kantin sekolah. Nyeri haid yang
dirasakan setiap bulannya, jika terus dibiarkan tentu akan menyebabkan siswi
tersebut akan ketinggalan matapelajaran dikelas sehingga dapat menyebabkan
prestasi belajar siswi tersebut juga menurun, oleh karena itu masalah ini tidak
bisa dibiarkan dan harus ada penanganan yang baik dan tepat.
Berdasarkan hasil studi pendahuluan dan latar belakang, maka peneliti
tertarik untuk melakukan penelitian di SMK Negeri 01 Nanga Taman tentang
pengaruh kompres hangat terhadap intensitas nyeri haid.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam


penelitian ini adalah ”Apakah ada pengaruh kompres hangat terhadap
intensitas nyeri haid pada siswi kelas X di SMK Negeri 01 Nanga Taman
Kecamatan Nanga Taman Kabupaten Sekadau?”

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Mengidentifikasi apakah ada pengaruh kompres hangat terhadap


intensitas nyeri haid pada siswi kelas X di SMK Negeri 01 Nanga Taman
Kecamatan Nanga Taman Kabupaten Sekadau?

1.3.2 Tujuan Khusus

a. Mengetahui karakteristik responden (usia responden, usia pertama kali


menstruasi, dan rentang usia responden dan usia pertama kali
menstruasi).
6

b. Mengetahui intensitas nyeri haid sebelum dilakukan terapi kompres


hangat pada siswi kelas X di SMK Negeri 01 Nanga Taman
Kecamatan Nanga Taman Kabupaten Sekadau.
c. Mengetahui intensitas nyeri sesudah dilakukan terapi kompres hangat
pada siswi kelas X di SMK Negeri 01 Nanga Taman Kecamatan
Nanga Taman Kabupaten Sekadau.
d. Mengetahui perbedaan intensitas nyeri haid sebelum dan sesudah
dilakukan terapi kompres hangat pada siswi kelas X di SMK Negeri 01
Nanga Taman Kecamatan Nanga Taman Kabupaten Sekadau.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi Remaja

Hasil penelitian tentang terapi kompres hangat diharapkan dapat


digunakan bagi remaja yang mengalami nyeri haid untuk mengurangi nyeri
haidnya agar remaja tersebut terbiasa melakukan kompres hangat untuk
mengurangi nyeri haidnya dibandingkan menggunakan obat-obatan.

1.4.2 Bagi SMK Negeri 01 Nanga Taman Kabupaten Sekadau

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan


masukan secara obyektif mengenai penanganan non-farmakologi pada
remaja yang mengalami nyeri haid dengan memberikan kompres hangat
pada perut bagian bawah serta dapat dijadikan panduan penanganan nyeri
haid dilingkungan sekolah.

1.4.3 Bagi Peneliti

Hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman


bagi peneliti sendiri dalam melaksanakan penelitian tentang kompres
hangat terhadap penurunan intensitas nyeri haid dan dapat diterapkan bagi
diri sendiri.
7

1.4.4 Bagi peneliti lain

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai acuan bagi


peneliti selanjutnya dalam mengembangkan penelitian tentang penanganan
nyeri haid pada remaja putri.

1.5 Penelitian yang terkait

Berdasarkan pengetahuan peneliti melalui penelusuran jurnal, peneliti


belum menemukan penelitian yang sama dengan penelitian yang akan
dilakukan peneliti yaitu tentang pengaruh pemberian kompres hangat terhadap
intesitas nyeri haid primer pada siswi kelas X di SMK Negeri 01 Nanga
Taman Kecamatan Nanga Taman Kabupaten Sekadau. Namun demikian, ada
beberapa penelitian yang hampir sama pernah dilakukan.
Tabel 1.1 Penelitian Yang Terkait

Nama Judul Metode Hasil Penelitian


Penelitian Penelitian Penelitian

Fransiska Pengaruh Desain Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah


Sri kompres menggunakan dilakukan intervensi kompres hangat
Hartatik hangat jenis penelitian terhadap penurunan nyeri haid, rasa nyeri
dan Diah terhadap nyeri pra haid dapat berkurang secara bermakna
Mulia haid pada eksperimen dengan nilai p = 0,001 yang berarti p < 0,05.
Putri mahasiswi dengan Jadi, berdasarkan hasil uji statistik dapat
tahun semester VI rancangan disimpulkan bahwa H1 diterima dan Ho
2015 akper William penelitian one ditolak, yang berarti ada pengaruh kompres
Booth group pre dan hangat terhadap penurunan nyeri haid.[14]
Surabaya post.

Fitra M.P. Pengaruh Jenis Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh


Bonde, kompres panas penelitian kompres panas terhadap penurunan derajat
dkk tahun terhadap adalah nyeri haid pada siswi SMA dan SMK
2014 penurunan Eksperimental Yadika Kopandakan II. Skala nyeri sebelum
derajat nyeri dengan desain perlakuan (pre) kompres panas yang paling
haid pada penelitian One banyak ditemui pada angka 2 atau nyeri
siswi Sma dan group pra & ringan sedangkan skala nyeri sesudah
Smk Yadika post test perlakuan (post) kompres panas yang paling
Kopandakan II design. banyak ditemui pada angka 1 atau tidak
nyeri.[15]

Rosniati Pengaruh Desain Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh


Ishak Kompres Air penelitian kompres air hangat terhadap penurunan
tahun Hangat yang dismenorea primer pada siswi di SMA
2015 Terhadap digunakan Negeri 1 Telaga Kabupaten Gorontalo.
8

Nama Judul Metode Hasil Penelitian


Penelitian Penelitian Penelitian
Penurunan adalah Pre Tingkat nyeri haid sebelum diberikan
Dismenorea Experimental kompres air hangat pada siswi di SMA
Primer Pada dengan Negeri 1 Telaga Kabupaten Gorontalo
Siswi di SMA rancangan One sebagian besar pada skala nyeri 4-6 (nyeri
Negeri 1 Group Prettest sedang) yaitu sebesar 74,2%. Tingkat nyeri
Telaga Postest dengan haid setelah diberikan kompres air hangat
Kabupaten teknik pada siswi di SMA Negeri 1 Telaga
Gorontalo sampling Kabupaten Gorontalo sebagian besar pada
menggunakan skala nyeri 1-3 (nyeri ringan) yaitu sebesar
Non 67,7%.[16]
Probability-
Accidental
Sampling.

Vonny Efektifitas Desain Hasil penelitian menunjukkan sebelum


Merdianit kompres penelitian ini dilakukan kompres hangat pada mahasiswi
a Dwi hangat dalam rancangan tingkat IV STIKES RS. Baptis Kediri yang
Anugrahe menurunkan penelitiannya mengalami dysmenorrhoea adalah intensitas
ni dan intensitas nyeri Pra nyeri berat (53,3%) dan sedang (46,67 %).
Aries dysmenorrhoe eksperimental Sesudah dilakukan kompres hangat terjadi
Wahyunin a pada (One group penurunan intensitas nyeri menjadi nyeri
gsih tahun mahasiswi pre- post test ringan (63,3%) dan sedang (36,67 %). Jadi
2013 stikes rs. design) kompres hangat berpengaruh menurunkan
Baptis Kediri dimana intensitas nyeri dysmenorrhoea dari
penelitian ini intensitas nyeri berat dan sedang menjadi
tidak ada ringan dan sedang pada mahasiswi tingkat
kelompok IV STIKES RS. Baptis Kediri.[17]
pembanding
(kontrol).
dengan
menggunakan
teknik
Accidental
Sampling,
dimana teknik
penentuan
sampel
berdasarkan
kebetulan.

Berdasarkan dari hasil penelitian ke empat penelitian yang dilakukan


tersebut persamaan dengan penelitian yang akan dilakukan adalah variabel
bebas yaitu kompres hangat dan variabel terikatnya yaitu intensitas nyeri haid.
perbedaan dengan penelitian yang akan dilakukan adalah tahun penelitian,
tempat penelitian, dan metode penelitian. Adapun tahun penelitian yang akan
dilakukan adalah tahun 2016 dilakukan di SMK Negeri 01 kecamatan Nanga
9

Taman Kabupaten Sekadau dengan desain penelitian eksperimen semu (quasi


experimen) dengan pre test and post test nonequivalent control group.