Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

PRE EKLAMSI BERAT

Tahun Ajaran 2013/2014


Stase Keperawatan Maternitas

Disusun oleh:
Riana Indriani
NIM. 1311040120

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2013-2014
A. PENGERTIAN
Menurut Wiknjosastro (2002), preeklamsi adalah timbulnya hipertensi
disertai proteinuria dan edema akibat kehamilan setelah usia kehamilan 20
minggu atau segera setelah persalinan. Sedangkan eklamsi adalah preeklamsi
yang disertai kejang dan atau koma yang timbul bukan akibat kelainan
neurology.
Preeklamsi adalah penyakit kehamilan yang ditandai dengan adanya trias
preeklamsi yaitu adanya edema, hipertensi, dan protein uri (Mansjoer, et al,
2008).

B. ETIOLOGI

Sebab pre eklamasi belum diketahui, tapi pada penderita yang meninggal
karena eklamsia terdapat perubahan yang khas pada berbagai alat. Tapi
kelainan yang menyertai penyakit ini adalah spasmus arteriole, retensi Na dan
air dan coogulasi intravaskulaer.

Walaupun vasospasmus mungkin bukan merupakan sebab primer penyakit


ini, akan tetapi vasospasmus ini yang menimbulkan berbagai gejala yang
menyertai eklamsi. Vasospasmus menyebabkan :

1. Hipertensi
2. Pada otak : sakit kepala
Kejang
3. Pada placenta : solution placentae
Kematian janin
4. Pada ginjal : oliguri
Insuffisiensi
5. Pada hati : icterus
6. Pada retina : amourose
C. GEJALA – GEJALA PRE EKLAMSIA
a. Hipertensi
Gejala yang paling dulu timbul adalah hypertensi yang terjadi
sekonyong-konyong sebagai batas diambil tekanan darah 140 mm atau
diastolis 15 mm di atas tekanan yang biasa merupakan pertanda.
Tekanan darah dapat mencapai 180 mm systolis dan 110 mm diastolis
tapi jarang mencapai 200 mm.
Jika tekanan darah melebihi 200 mm maka sebabnya biasanya essentialis.
b. Oedema
Timbulnya oedema didahului oleh tambah berat badan yang berlebihan.
Penambahan berat ½ kg pada seorang yang hamil dianggap normal, tapi
kalau mencapai 1 kgseminggu atau 3 kg dalam sebulan pre eklamasi
harus dicurigai.
Tambah berat yang sekonyong-konyong ini diebab kan retensi air dalam
jaringan kemudian baru oedema nampak. Oedema ini tidak hilang
dengan istirahat.
c. Proteinuria
Protinuria sering diketemukan pada preeklamasi rupa-rupanya kare na
vasospasmus pembuluh-pembuluh dan ginjal.
Proteinuria biasanya timbul lebih lambat dari hypertensi dan tambah
berat.
d. Gejala-gejala subjektif
Perlu ditekankan bahwa hypertensi, tambah berat daan proteinuria yang
merupakan gejala-gejala yang terpenting dari preeklamasi tidak diketahui
oleh penderita. Karena itu pernatal care sangat penting untuk diagnosa
dan terapi preeklamasi dengan cepat.
Baru pada preeklamasi yang sudah lanjut timbul gejala-gejala subjektif
yang membawa pasien ke dokter.
Gejala-gajala subjektif tersebut antara lain :
a. Sakit kepala yang keras karena vasospasmus atau oedema otak.
b. Sakit di ulu hati karena regangan selaput hati oleh hoemorragia atau
oedema, atau sakit karena perubahan pada lambung.
c. Gangguan penglihatan :
Penglihatan menjadi kabur malahan kadang-kadang pasien buta.
Sedangkan menurut Mochtar (2005), tanda dan gejala dari
prekelamsi berat dalam kehamilan diantaranya adalah:
a. Tekana darah > 160/ 110 mmHg
b. Protein urin > 0,5 gr /liter dalam 24jam ( +3/ +4 pada pemeriksaan
kualitatif )
c. Oligouria< 400 cc/24 jam
d. Trombosit < 100.000 /mm (trombositopenia)
e. Nyeri epigastrium
f. Perdarahan retina
g. Edema pulmonal
h. Koma
i. Dapat timbul sesak nafas dan timbul cyanosis yang tampak pada ujung
jari dan kuku

D. PATOFISIOLOGI
Pada pre eklampsia terjadi spasme pembuluh darah disertai dengan retensi
garam dan air. Pada biopsi ginjal ditemukan spasme hebat arteriola
glomerulus. Pada beberapa kasus, lumen arteriola sedemikian sempitnya
sehingga hanya dapat dilalui oleh satu sel darah merah. Jadi jika semua
arteriola dalam tubuh mengalami spasme, maka tekanan darah akan naik
sebagai usaha untuk mengatasi tekanan perifer agar oksigenasi jaringan dapat
dicukupi. Sedangkan kenaikan berat badan dan edema yang disebabkan oleh
penimbunan air yang berlebihan dalam ruangan interstitial belum diketahui
sebabnya, mungkin karena retensi air dan garam. Proteinuria dapat
disebabkan oleh spasme arteriola sehingga terjadi perubahan pada
glomerulus.

E. KOMPLIKASI
Menurut Sudhaberata (2007) komplikasi yang sering ditemukan pada PE-
E berdasarkan hasil penelitiannya antara lain BBLR (prematur dan dismatur)
sebesar 34 %, IUFD 17 %, asfiksia neonatorum 17 %, perdarahan pasca
persalinan 14 %, kematian neonatal dini 9 % dan gangguan visus, solusio
plasenta serta kematian ibu masing-masing 1 kasus (3 %).
Sedangkan Boyke yang dikutip oleh Sukirwan (2000) menyatakan bahwa
komplikasi PE-E antara lain gagal jantung, gagal ginjal, terganggunya fungsi
paru-paru dan tersendatnya metabolisme tubuh.
Komplikasi pada PE-E menurut Wiknjosastro (2002) yang terberat adalah
kematian ibu dan janin. Komplikasi yang tersebut dibawah ini biasanya
terjadi pada pre-eklamsia berat dan eklamsia.
1. Solusio plasenta. Komplikasi ini biasanya pada ibu yang menderita
hipertensi akut dan lebih sering terjadi pada pre-eklamsia. Di Rumah
Sakit Dr. Mangunkusumo 15,5 % solusio plasenta disertai pre-eklamsia.
2. Hipofibrinogenemia. Pada pre-eklamsia berat Zuzpan (1978),
menemukan 23 % hipofibrinogenemia, maka dari itu penulis
menganjurkan pemeriksaan kadar fibrinogen secara berkala.
3. Hemolisis. Penderita dengan pre-eklamsia berat kadang-kadang
menunjukkan gejala klinik hemolisis yang dikenal karena ikterus. Belum
diketahui dengan pasti apakah ini merupakan kerusakan sel-sel hati atau
destruksi sel darah merah. Nekrosis periportal hati yang sering ditemukan
pada autopsi penderita eklamsia dapat menerangkan ikterus tersebut.
4. Perdarahan otak. Komplikasi ini merupakan penyebab utama kematian
maternal penderita eklampsia.
5. Kelainan mata. Kehilangan penglihatan untuk sementara, yang
berlangsung sampai seminggu, dapat terjadi. Perdarahan kadang-kadang
terjadi pada retina. Hal ini merupakan tanda gawat akan terjadinya
apokplesia serebri.
6. Edema paru-paru. Zuspan (1978) menemukan hanya satu penderita dari
69 kasus eklampsia, hal ini disebabkan karena payah jantung.
7. Nekrosis hati. Nekrosis periportal hati pada pre-eklampsia-eklampsia
merupakan akibat vasopasmus arteriol umum. Kelainan ini diduga khas
untuk eklampsia, tetapi ternyata juga ditemukan pada penyakit lain.
Kerusakan sel-sel hati dapat diketahui dengan pemeriksaan faal hati,
terutama penentuan enzim-enzimnya.
8. Sindrom HELLP yaitu haemolysis, elevated liver enzymes dan low
platelet.
9. Kelainan ginjal. Kelainan ini berupa endoteliosis glomerulus yaitu
pembengkakan sitoplasma sel endotelial tubulus ginjal tanpa kelainan
struktur lainnya. Kelainan lain yang dapat timbul ialah anuria sampai
gagal ginjal.
10. Komplikasi lain. Lidah tergigit, trauma dan fraktura karena jatuh akibat
kejang-kejang pneumonia aspirasi, dan disseminated intravascular
coagulatin (DIC).
11. Prematuritas, dismaturitas dan kematian janin intra-uterin

F. PENATALAKSANAAN MEDIS
 Tes Diagnostik
1. Tes diagnostik dasar
 Pengukuran tekanan darah
 Analisis protein dalam urin
 Pemeriksaan edema
 Pengukuran tinggi fundus uteri
 Pemeriksaan funduskopik.
2. Tes laboratorium dasar
 Evaluasi hematologik (hematokrit, jumlah trombosit, morfologi
eritrosit pada sediaan apus darah tepi).
 Pemeriksaan fungsi hati (bilirubin, protein serum, aspartat
aminotransferase, dan sebagainya).
 Pemeriksaan fungsi ginjal (ureum dan kreatinin).
3. Uji untuk meramalkan hipertensi
 Roll Over test
 Pemberian infus angiotensin II.
 Penanganan Medik
1. Pencegahan
a. Pemeriksaan antenatal yang teratur dan bermutu serta teliti mengenai
tanda – tanda sedini mungkin (pre eklampsia ringan), lalu diberikan
pengobatan yang cukup supaya penyakit tidak menjadi lebih berat.
b. Harus selalu waspada terhadap kemungkinan terjadinya pre-
eklampsia.
c. Berikan penerangan tentang manfaat istirahat dan tidur, ketenangan,
serta pentingnya mengatur diit rendah garam, lemak, serta karbohidrat
dan tinggi protein, juga menjaga kenaikan berat badan yang
berlebihan.
2. Penanganan
Pengobatan hanya dapat dilakukan secara simtomatis karena
etiologi pre eklamsia dan faktor-faktor apa saja dalam kehamilan yang
menyebabkannya belum diketahui. Tujuan utama penanganan adalah:
a. Untuk mencegah terjadinya pre eklampsi dan eklampsi.
b. Hendaknya janin lahir hidup.
c. Trauma pada janin seminimal mungkin.
Pananganan Pre eklamsi Berat
1). PE berat dengan kehamilan > 37 minggu
a). Pengobatan medisinalis :
 Istirahat mutlak/isolasi.
 Diet rendah gram.
 Suntikan sulfas magnesikus : Loading dose : 4 g 20% iv. (20%
dalam 20 ml) selama 4 – 5 menit (1 g/menit), dan 8 g 40%
dalam 10 ml im., 4 g di bokong kiri dan 4 g di bokong kanan
(sebaiknya dicampur dengan lidonest untuk mengurangi rasa
sakit), yang diteruskan dengan 4 g tiap 4 jam (maintenance
dose).
 Infus dextrose 5% 1 liter diselingi dengan Ringer laktat 500 ml
(2:1).
 Kateter menetap.
 Empat jam setelah pemberian MgSO4 tekanan darah dikontrol,
jika tekanan darah sistolik 180 mmHg atau diastolik 120
mmHg diberikan suntikan Catapres 1 ampul im. Tekanan
darah tidak boleh diturunkan secara drastis, sebaiknya tekanan
diastolik berkisar antara 90-100 mmHg.
 Diuretikum tidak diberikan kecuali jika ada : edema paru,
gagal jantung kongestif, edema anasarka. Syarat pemberian
MgSO4-Harus tersedia antidotum MgSO4, yaitu Calcium
Gluconas 10% diberikan iv. pelan-pelan (3 menit). Refleks
patella (+) kuat. Frekuensi pernafasan > 16 x/menit. Produksi
urine > 100 ml dalam 4 jam sebelumnya (0,5 ml/kgbb/jam).
Pemberian MgSO4 sampai 20 gr tidak perlu
mempertimbangkan diuresis.
b). Pengobatan obstetrik :
 Belum inpartu : Dilakukan induksi persalinan segera sesudah
pemberian MgSO4 kedua. Dilakukan amniotomi dan drip
oksitosin dengan syarat :pelvik skor Bishop 5 . SC dilakukan
bila : Syarat drip tidak dipenuhi. 12 jam sejak drip oksitosin
anal( belum lahir. Pada primi cenderung SC.
 Inpartu :
o Fase laten : 6 jam tidak masuk fase aktif, dilakukan SC.
o Fase aktif : amniotomi, kalau perlu drip oksitosin. Bila 6
jam pembukaan belum lengkap, dilakukan SC.
 Kala II dipercepat, bila syarat partus pervaginam
dipenuhi,dilakukan EV/EF.
 Persalinan harus sudah selesai kurang dari 12 jam setelah
dilakukan amniotomi dan drip oksitosin; jika dalam 6 jam
tidak menunjukkan kemajuan yang nyata, pertimbangkan SC.
 Ergometrin tidak boleh diberikan kecuali ada PPH oleh atonia
uteri.
 Pemberian MgSO4 dapat diberikan sampai 24 jam pasca
persalinan kalau tekanan darah masih tinggi. MgSO4
dihentikan bila :
o Ada tanda-tanda intoksikasi.
o Dalam 8 jam pasca persalinan sudah normotensif. Catatan
: Pemberian pertama MgSO4 sampai 20 gram (pemberian
ke 3) tidak perlu menilai diuresis.
2). PE berat dengan kehamilan < 37 minggu tanpa tanda impending
eclampsia
a). Pengobatan medisinal : Pemberian MgSO4 selama 1 x 24 jam
dimulai dengan loading dose yang diteruskan dengan suntikan 4 g
MgSO4 tiap 4jam.
b). Pengobatan obstetrik : Kalau setelah 24 jam tidak terjadi perbaikan
maka dilakukan terminasi kehamilan. MgSO4 dihentikan bila
sudah dicapai tanda-tanda pre-eklamsi ringan. Selama perawatan
konservatif, observasi dan evaluasi sama seperti perawatan pre-
eklamsi berat 37 minggu, hanya disini penderita boleh pulang jika
selama 3 hari perawatan tetap dalam keadaan PE ringan.
G. PATHWAYS

Hamil > 20
minggu

Penekanan janin

Vasospasme

Kejang (-) Kejang (+)

Pre-eklamsia Eklamsia

Ginjal Janin Otak

Penurunan GFR Peningkatan Peningkatan


DJJ tekanan intra
kranial

Penumpukan Fetal Distres Pusing


cairan

IUFD (Intra Uteri


Edema Fetal Death)

Sumber: Nurarif dan Kusuma (2013)


H. ASUHAN KEPERAWATAN
 Diagnosa Keperawatan
1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan
energi/kelelahan otot-otot pernafasan
2. Nyeri akut b/d agen cedera (biologi, psikologi, kimia, fisik);
inflamasi, bengkak
3. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan kelebihan intake
cairan, kelebihan intake sodium
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan
dengan intake nutrisi yang tidak adekuat
5. Hipertermia berhubungan dengan penyakit atau trauma,
peningkatan metabolik
 Rencana Asuhan Keperawatan
1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan
energi/kelelahan otot-otot pernafasan
 NOC :
a. Respiratory status : ventilation
b. Respiratory status : airway patency
c. Vital sign status
Kriteria hasil :
a. Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih,
tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan sputum,
mampu bernafas dengan mudah, tidak ada pursed lips)
b. Mempunyai jalan nafas yang paten (klien tidak tercekik, irama
nafas, frekuensi pernafasan dalam rentang normal, tidak ada
suara nafas abnormal)
c. Vital signs dalam rentang normal (tekanan darah, nadi,
pernafasan dan suhu)
 NIC :
a. Airway management
1. Buka jalan nafas, gunakan teknik head chin lift atau jaw
thrust bila perlu
2. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
3. Lakukan fisioterapi dada jika perlu
4. Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
5. Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
6. Berikan bronkodilator bila perlu
7. Monitor respirasi dan status oksigen
8. Terapi oksigen
9. Bersihkan mulut, hidung dan secret trakea
10. Pertahankan jalan nafas yang paten
11. Atur peralatan oksigenasi
12. Monitor aliran oksigen
13. Pertahankan posisi pasien
14. Observasi adanya tanda-tanda hipoventilasi
15. Monitor adanya kecemasan pasien terhadap oksigenasi
b. Vital sign monitoring
1. Monitor nadi, suhu, RR
2. Monitor vital signs
3. Auskultasi pada kedua lengan dan bandingkan
4. Monitor kualitas nadi
5. Monitor frekuensi dan irama pernafasan
6. Monitor suara paru
7. Monitor pola pernafasan abnormal
8. Monitor suhu, warna dan kelembaban kulit
9. Monitor adanya sianosis perifer
10. Monitor adanya cushing triad (tekanan nadi yang melebar,
bradikardia)
11. Identifikasi penyebab dari perubahan vital signs
2. Nyeri akut b/d agen cedera (biologi, psikologi, kimia, fisik);
inflamasi, bengkak
 NOC :
Pain level, pain control, comfort level
Pain : disruptive effects
 NIC :
1. Kaji skala nyeri pasien
2. Instruksikan pasien untuk menginformasikan kepada perawat
jika pengurang nyeri tidak dapat dicapai
3. Bantu pasien untuk mengidentifikasi tindakan memenuhi
kebutuhan rasa nyaman yang berhasil dilakukannya seperti
distraksi, relaksasi atau kompres hangat/dingin
4. Kolaborasi pemberian analgetik
3. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan kelebihan intake
cairan, kelebihan intake sodium
 NOC :
Kelebihan volume cairan dapat dikurangi yang dibuktikan dengan
keseimbangan cairan, keseimbangan elektrolit dan asam-basa dan
indikator hidrasi yang kuat.
 NIC :
1. Tentukan lokasi dan derajat edema perifer, sakral dan
periorbital pada skala 1+ sampai 4+
2. Kaji komplikasi pulmoner dan/atau kardiovaskular yang
diindikasikan dengan meningkatnya distress pernafasan,
meningkatnya frekuensi nadi, meningkatnya tekanan darah,
bunyi jantung tidak normal, dan /atau bunyi nafas tidak
normal.
3. Kaji edema ekstremitas atau bagian tubuh terhadap gangguan
sirkulasi dan integritas kulit
4. Kaji efek pengobatan (misalnya steroid, diuretik dan lithium)
pada edema
5. Pantau indikasi kelebihan/retensi cairan sesuai dengan
keperluan
6. Ajarkan pasien untuk memperhatikan penyebab dan mengatasi
edema, pembatasan diet dan penggunaan, dosis dan efek
samping pengobatan yang dianjurkan
7. Berikan diuretik sesuai dengan keperluan
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan
dengan intake nutrisi yang tidak adekuat
 NOC :
Nutrition status : food and fluid intake
Kriteria hasil :
a. Adanya peningkatan berat badan (BB) sesuai dengan tujuan
b. BB ideal sesuai dengan tinggi badan
c. Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi
d. Tidak ada tanda dehidrasi ataupun malnutrisi
e. Tidak terjadi penurunan BB yang berarti
 NIC :
a. Nutrition management
1. Kaji adanya alergi makanan
2. Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang
dibutuhkan
3. Monitor kandungan nutrisi dan jumlah kalori. Kolaborasi
dengan ahli gizi.
4. Yakinkan diit yang dumakan tinggi serat untuk mencegah
konstipasi
5. Berikan informasi tentang nutrisi yang dibutuhkan
6. Ajarkan pada orang tua pasien bagaimana membuat catatan
makanan harian.
b. Nutrition monitoring
1. Monitor adanya penurunan BB
2. Monitor tipe dan aktivitas yang biasa dilakukan
3. Monitor interaksi anak dan orang tua selama makan
4. Monitor lingkungan selama makan
5. Jadwalkan tindakan dan pengobatan tidak selama jam makan
6. Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi
7. Monitor turgor kulit
8. Monitor mual dan muntah
9. Monitor kadar albumin, protein, HB, Ht.
10. Monitor makanan kesukaan
11. Monitor pucat, kemerahan, konjungtiva
12. Monitor kalori intake nutrisi
5. Hipertermia berhubungan dengan penyakit atau trauma,
peningkatan metabolik
 NOC :
Thermoregulation.
Kriteria hasil :
a. Suhu tubuh dalam rentang normal
b. Nadi dan RR dalam rentang normal
c. Tidak ada perubahan warna kulit, tidak ada pusing, merasa
nyaman
d. Pasien/keluarga akan menunjukkan metode yang tepat untuk
mengukur suhu
e. Pasien/keluarga menjelaskan tindakan untuk
mencegah/mengurangi peningkatan suhu tubuh
f. Pasien/keluarga melaporkan tanda dan gejala dini hipertermia
 NIC :
a. Fever management
1. Monitor suhu sesering mungkin
2. Monitor IWL
3. Monitor warna dan suhu kulit
4. Monitor tekanan darah, nadi dan RRMonitor penurunan tingkat
kesadaran
5. Monitor input dan output
6. Berikan pengobatan untuk mengatasi penyebab demam dengan
antipiretik
7. Berikan cairan intravena
8. Tingkatkan sirkulasi udara
9. Berikan pengobatan untuk mencegah terjadinya menggigil
b. Temperature regulation
1. Monitor suhu minimal tiap 2 jam
2. Rencanakan monitoring suhu secara kontinyu
3. Monitor TD, nadi dan RR
4. Monitor warna dan suhu kulit
5. Monitor tanda-tanda hipertemi
6. Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
7. Selimuti pasien untuk mencegah hilangnya kehangatan tubuh
8. Ajarkan pada pasien cara mencegah keletihan akibat panas
9. Diskusikan tentang pentingnya pengaturan suhu dan
kemungkinan efek negatif dari kedinginan
10. Beritahukan tentang indikasi terjadinya keletihan dan
penanganan emergency yang diperlukan
11. Ajarkan indikasi dari hipotermi dan penanganan yang
diperlukan
12. Berikan antipiretik jika perlu.
c. Vital sign monitoring
1. Monitor nadi, RR selama dan setelah aktivitas
2. Monitor frekuensi dan irama pernafasan
3. Monitor suara paru
4. Monitor pola pernafasan abnormal
5. Monitor suhu, warna dan kelembaban kulit
6. Monitor sianosis perifer
7. Monitor adanya cushing triad (tekanan nadi yang melebar,
bradikardi, peningkatan sistolik)
8. Identifikasi penyebab dari perubahan vital sign
DAFTAR PUSTAKA

Doenges, M., dkk. (2001).Rencana perawatan maternal bayi. Jakarta: EGC.

Hachermoore. (2001). Esensial obstetric dan ginekologi. Jakarta: Hypokrates

Halminton P. M. (2005). Dasar-dasar keperawatan maternitas. Edisi 6. Jakarta:


EGC.

Hasan, H. Hipertensi dalam kehamilan/preeklamsi dan eklamsia (Gestosis),


Retrieved December 26, 2007, from
http://www.kalbefarma.com/files/21/hipertensidalamkehamilan.pdf.

Mansjoer, A., Suprohaita, Wardhani, W. S., & Setiowulan, W., (2008). Kapita
selekta kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius.

Manuaba, I. B. G. (2007). Ilmu kebidanan, penyakit kandungan dan keluarga


berencana untuk pendidikan bidan. Jakarta: EGC.

. (2002) . Buku panduan praktis pelayanan kesehatan maternal dan


neonatal. Jakarta: Penerbit Yayasan Bina Pustaka.

. (2008). Operasi kebidanan kandungan dan keluarga berencana


untuk dokter umum. Jakarta: EGC.

McCloskey, & Bulechek. (2006). Nursing interventions classifications, 2nd


edition, Mosby-Year book.Inc, New York.

Mochtar, R. (2005). Sinopsis obstetri, obstetri operatif, obstetri social. Jakarta:


EGC.

Muzayanah. (2001). Penilaian hasil laboratorium sebagai faktor prognosis


kematian maternal pada preeklamsia/eklamsia: Angka trombosit, aspartat
aminotransferase dan kreatinin, Retrieved December 26, 2007, from
http://www.depkes.go.id.

NANDA. (2005-2006). Nursing Diagnosis: Definitions and classification. USA:


Philadelphia.

Nurarif, A. H. dan Kusuma, H. (2013).Aplikasi asuhan keperawatan berdasarkan


diagnosa medis dan NANDA NIC NOC.

Saifuddin A.B. (2000). Buku acuan nasional: Pelayanan kesehatan maternal dan
neonatal. Jakarta: Penerbit Yayasan Bina Pustaka.
. (2001). Buku acuan nasional pelayanan kesehatan maternal dan
neonatal. Jakarta: Penerbit Yayasan Bina Pustaka.

Sudhaberata, K. (2007). Profil penderita pre-eklamsia-eklamsia di RSU Tarakan,


Kaltim, Retrieved December 26, 2007, from
http://www.tempo.co.id/medica/arsip/022001/art-2.htm.

Sukirwan, Q. (2000). Preeklamsia – eklamsia, Retrieved December 26, 2007,


from http://www.balita-anda.indoglobal.com.

University IOWA., NIC and NOC Project., (2001). Nursing outcome


Classifications. USA: Philadelphia.

Wiknjosastro, H. (2002). Ilmu kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka

. . (2005). Ilmu kebidanan. Editor Kedua. Jakarta: Yayasan Bina


Pustaka

Wilkinson, J. W. (2006). Buku saku diagnosis keperawatan dengan intervensi


NIC dan kriteria hasil NOC. Edisi 7. Jakarta: EGC.