Anda di halaman 1dari 16

IN PROCESS CONTROL SEDIAAN PASTA

DISUSUN OLEH:

ESTERLITA JESUINA BOAVIDA 1508505035


I KOMANG SUBAGIA 1508505036
KADEK MITTA ARIANTI 1508505039
IDA AYU PUTU SURYA DEWI 1508505040
NI LUH CANDRA KALPIKA SWARI 1508505041
NI PUTU RISKA ASTARI PUTRI 1508505042
PUTU YUNITA CANDRA DEWI 1508505043
JENNIFER TAMARA 1508505044
NI WAYAN YENI ANTARI 1508505045
I MADE SUARDHIKA 1508505046
DEWA GEDE PURNAMA PUTRA 1508505047
DEWA AYU SRI KUSUMA DEWI 1508505048
R BAGUS RAKA PRATAMA 1508505050
I KETUT DUANTARA 1508505051
DEDE JERRY SARTIKA PUTRA 1508505052

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Seiring dengan berkembangnya sains dan teknologi, perkembangan di dunia
farmasi pun tak ketinggalan. Semakin banyak jenis dan ragam penyakit yang
muncul. Metode pengobatan pun terus dikembangkan. Berbagai macam bentuk
sediaan obat, baik itu liquid, solid, dan semisolid telah dikembangkan oleh ahli
farmasi dan industri. Ahli farmasi mengembangkan obat untuk pemenuhan
kebutuhan masyarakat sehingga obat mampu memberikan efek terapi.
Sediaan yang dapat dikembangkan yaitu sediaan semisolid. Sediaan
semisolid digunakan untuk pemakaian luar seperti krim, salep, gel, pasta dan
suppositoria yang digunakan melalui rektum. Kelebihan dari sediaan semisolid ini
yaitu praktis, mudah dibawa, dan mudah dipakai. Sediaan semisolid ini umumnya
digunakan untuk memberikan pengobatan terhadap kulit.
Salah satu sediaan semisolid yang dapat dikembangkan yaitu pasta. Pasta
merupakan sediaan semi padat (massa lembek) yang mengandung satu atau lebih
bahan obat yang ditujukan untuk pemakaian topikal. Pasta ini serupa dengan
salep, hanya berbeda dalam konsistensinya, yaitu bahan padatnya lebih dari 50%
(Syamsuni, 2007). Pasta umumnya memiliki viskositas yang tinggi dan mampu
melekat dalam waktu lama pada area yang diaplikasikan.
Pasta memiliki karakteristik tersendiri yang membedakan dari sediaan
semisolid lainnya. Pasta sebagai sediaan farmasi juga memiliki berbagai
persyaratan farmasetik, mulai dari organoleptis hingga stabilitas. Dengan
demikian, ahli farmasi harus mengetahui karakteristik pasta yang baik sehingga
mampu menentukan langkah-langkah dalam produksi sediaan pasta yang tepat.
Selain itu, ahli farmasi harus mengetahui metode evaluasi sediaan pasta untuk
memastikan kualitas dari sediaan pasta yang diproduksi. Ahli farmasi juga harus
mengetahui teknik pencetakan expired date dan nomor bets dari pasta hasil
produksi.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apakah yang dimaksud dengan pasta ?
1.2.2 Apakah yang dimaksud dengan IPC ?
1.2.3 Apa saja evaluasi yang dilakukan terhadap pasta hasil produksi ?
1.2.4 Bagaimanakah teknik dalam pencetakan expired date dan nomor bets ?

1.3 Tujuan
1.3.1 Mengetahui definisi dari pasta.
1.3.2 Mengetahui definisi dari IPC.
1.3.3 Mengetahui jenis evaluasi yang dilakukan terhadap pasta hasil produksi.
1.3.4 Mengetahui teknik pencetakan expired date dan nomor bets.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pasta
Pasta adalah sediaan semipadat yang mengandung satu atau lebih bahan
obat yang ditujukan untuk pemakaian topikal. Pasta adalah salep yang
mengandung lebih dari 50% zat padat serbuk. Karenamerupakan salep yang tebal,
keras dan tidak meleleh pada suhu badan maka digunakan sebagai salep penutup
atau pelindung. Kelompok pertama dibuat dari gel fase tunggal mengandung air,
misalnya Pasta Natrium Karboksimetilselulosa, kelompok lain adalah pasta
berlemak misalnya, Pasta Zink Oksida, merupakan salep yang padat, kaku, yang
tidak meleleh pada suhu tubuh dan berfungsi sebagai lapisan pelindung pada
bagian yang diolesi (Anief, 2007; Depkes RI, 1995).
Menurut Anief (2006), pasta dapat dibagi menjadi empat jenis, yaitu:
1. Pasta berlemak, adalah suatu salep yang mengandung lebih dari 50% zat
padat (serbuk).
2. Pasta kering, adalah pasta bebas lemak mengandung lebih kurang 60% zat
padat (serbuk).
3. Pasta pendingin, adalah serbuk minyak lemak dan cairan berair, dikenal
dengan salep tiga dara.
4. Pasta dentifriciae, adalah campuran kental terdiri dari serbuk dan
glycerinum yang digunakan untuk pembersih gigi. Contoh dari pasta ini
adalah pasta gigi.
Karakteristik dari sediaan pasta adalah:
1. Daya absorbsi pasta lebih besar
2. Sering digunakan untuk mengabsorbsi sekresi cairan serosal pada tempat
pemakaian.
3. Tidak sesuai dengan bagian tubuh yang berbulu.
4. Mengandung satu atau lebih bahan obat yang ditujukan untuk pemakaian
luar/topikal.
5. Konsistensi lebih kenyal dari unguentum.
6. Tidak memberikan rasa berminyak seperti unguentum.
7. Memiliki persentase bahan padat lebih besar daripada salep yaitu
mengandung bahan serbuk (padat) antara 40%-50%.
(Anief, 2007).
Menurut Moh. Anief (2007) adapun kelebihan dan kekurangan dari sediaan
pasta adalah sebagai berikut
 Kelebihan pasta
1. Pasta mengikat cairan secret, pasta lebih baik dari unguentum untuk
luka akut dengan tendensi mengeluarkan cairan.
2. Bahan obat dalam pasta lebih melekat pada kulit sehingga
meningkatkan daya kerja lokal.
3. Konsentrasi lebih kental dari salep.
4. Daya adsorpsi sediaan pasta lebih besar dan kurang berlemak
dibandingkan dengan sediaan salep.
 Kekurangan Pasta
Karena sifat pasta yang kaku dan tidak dapat ditembus, pasta pada
umumnya :
1. Tidak sesuai untuk pemakaian pada bagian tubuh yang berbulu.
2. Dapat mengeringkan kulit dan merusak lapisan kulit epidermis.
3. Dapat menyebabkan iritasi kulit.

2.2 Pemastian Mutu Obat ( in process control )


Pengawasan selama proses produksi (in process control) merupakan hal
yang yang penting dalam pemastian mutu produk. Pengawasan selama proses (in-
process control) produksi sangat perlu dilakukan untuk menjaga kualitas dari
sediaan farmasi yang dibuat. Pemastian Mutu adalah totalitas semua pengaturan
yang dibuat dengan tujuan untuk memastikan bahwa obat dihasilkan dengan
mutu yang sesuai dengan tujuan pemakaiannya. Karena itu Pemastian Mutu
mencakup CPOB ditambah dengan faktor lain, seperti desain dan pengembangan
obat (Badan POM, 2006).

2.3 Pentingnya In Process Control dalam CPOB Produksi


Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) bertujuan untuk menjamin obat
yang dibuat secara konsisten, memenuhi persyaratan yang ditetapkan dan sesuai
dengan tujuan penggunaannya. Pada pembuatan obat, pengendalian menyeluruh
sangat esensial untuk menjamin konsumen menerima obat yang bermutu tinggi.
Pembuatan secara sembarangan tidak dibenarkan bagi produk yang digunakan
untuk menyelamatkan jiwa, memulihkan kesehatan atau memelihara kesehatan.
CPOB merupakan bagian dari pemastian mutu yang memastikan obat dibuat dan
dikendalikan secara konsisten untuk mencapai standar mutu yang sesuai dengan
tujuan penggunaan dan dipersyaratkan dalam izin edar serta spesifikasi produk.
CPOB mencakup produksi dan pengawasan mutu (Badan POM, 2006).
Menurut Badan POM tentang CPOB (2006), aspek yang saling berkaitan
untuk membangun manajemen mutu terdiri dari pemastian mutu, CPOB,
pengawasan mutu, dan pengkajian mutu produk. Kondisi selama proses produksi
tersebut harus dikendalikan dengan hati-hati untuk memastikan kualitas produk.
Setiap proses berbeda dan membutuhkan perhatian secara rinci. Sterilisasi,
fermentasi, ekstraksi, netralisasi, penyaringan, pengeringan beku, dan pengadukan
adalah proses khas yang ditemukan dalam industri (HP, 1997).
Pengawasan selama proses produksi (in process control) merupakan hal
yang yang penting dalam pemastian mutu produk. Untuk memastikan
keseragaman bets dan keutuhan obat, prosedur tertulis yang menjelaskan
pengambilan sampel, pengujian atau pemeriksaan yang harus dilakukan selama
proses dari tiap bets produk hendaklah dilaksanakan sesuai dengan metode yang
telah disetujui oleh kepala bagian Manajemen Mutu (Pemastian Mutu) dan
hasilnya dicatat. Pengawasan tersebut dimaksudkan untuk memantau hasil dan
memvalidasi kinerja dari proses produksi yang mungkin menjadi penyebab variasi
karakteristik produk selama proses berjalan. Prosedur tertulis untuk pengawasan
selama proses hendaklah dipatuhi. Prosedur tersebut hendaklah menjelaskan titik
pengambilan sampel, frekuensi pengambilan sampel, jumlah sampel yang
diambil, spesifikasi yang harus diperiksa dan batas penerimaan untuk tiap
spesifikasi (Bambang, 2007).
Disamping itu, pengawasan-selama proses hendaklah mencakup, tapi tidak
terbatas pada prosedur umum sebagai berikut:
1. Semua parameter produk, volume atau jumlah isi produk hendaklah
diperiksa pada saat awal dan selama proses pengolahan atau pengemasan
2. Kemasan akhir hendaklah diperiksa selama proses pengemasan dengan
selang waktu yang teratur untuk memastikan kesesuaiannya dengan
spesifikasi dan memastikan semua komponen sesuai dengan yang
ditetapkan dalam Prosedur Pengemasan Induk.
(Bambang, 2007).
Kontrol yang dapat dilakukan pada sediaan pasta pada saat proses
pembuatannya:
1. Pemilihan bahan
2. Pencampuran dan peleburan
3. Pengaturan suhu dan waktu
4. Pengujian sediaan
(Winarti, 2013).

2.4 Uji Organoleptis


Dalam Uji Organoleptis sediaan pasta seperti pasta gigi dilakukan
pengamatan meliputi penyusutan sediaan, perubahan warna, bau, dan pemisahan
cairan dari pasta sebelum dan sesudah kondisi dipaksakan (Olii, 2013). Dalam
formulasi Pasta Gigi Etanol Biji Jintan Hitam (Nigella sativa L.) dengan
penambahan bubuk Siwak (Salvador persica L.) didapatkan hasil pengamatan
organoleptis meliputi homogenitas, warna dan bau tidak menghasilkan perubahan
signifikan selama 5 hari penyimpanan. Warna putih kecoklatan, bau menyerupai
mint dan konsistensi yang sedikit kaku dengan butiran bubuk siwak tidak
mengalami perubahan yang cukup berarti pada ketiga formula. Hasil
selengkapnya dapat dilihat pada tabel 1 (Olii, 2013).

(Olii, 2013)

2.5 Uji pH
Pengukuran derajat keasaman atau pH dimaksudkan untuk mengetahui
bahwa derajat keasaman suatu sediaan pasta yang dibuat telah sesuai dengan pH
standar. Apabila telah sesuai maka dapat dikatakan bahwa pH tersebut aman untuk
digunakan.
Pengukuran pH dilakukan dengan cara mencelupkan alat pH meter ke
dalam sediaan pasta sampai menunjukkan angka yang konstan setelah beberapa
saat. Nilai pH didapatkan dari angka tersebut. Pengujian dilakukan setiap minggu
selama 3 minggu penyimpanan (Afni, dkk., 2015). Prinsip uji derajat keasaman
(pH) yaitu berdasarkan pengukuran aktivitas ion hydrogen secara potensiometri
dengan menggunakan pH-meter.

2.5 Uji Bobot Minimum


Uji bobot minimum bertujuan untuk menentukan kesesuaian isi minimum
pasta dalam wadah dengan bobot yang tertera dalam penandaan dan volume
berlebihan yang dipersyaratkan. Prinsip dalam uji ini yaitu dilakukan pengukuran
atau menimbang isi sediaan pasta dalam wadah yang dilakukan dengan
menghitung selisih bobot pasta dalam wadah dengan bobot wadah yang telah
dikeluarkan isinya (Depkes RI, 1995).
Uji bobot minimum berlaku untuk seluruh sediaan cair dan semisolid yang
dikemas dalam wadah dimana jumlah dalam label tidak lebih dari 150 g atau 150
mL (Cholayudth, 2005). Menurut pengujian, kriteria yang diterima untuk unit
dengan jumlah dalam label < 60 g atau mL / unit adalah sebagai berikut
(Cholayudth, 2005) :
Tahap 1. Tes dengan jumlah 10 unit:
 Jika konten rata-rata kurang dari 100 Isi rata-rata 10 unit tidak boleh kurang
dari 100% dari jumlah dalam label.
 Tidak satu pun unit yang diuji mengandung kurang dari 90% dalam label.
% dari jumlah dalam label atau jika tidak lebih dari 1 unit mengandung
kurang dari 90% jumlah dalam label, uji dilanjutkan ke tahap 2. Uji dianggap
gagal jika konten rata-rata kurang dari 100% dari jumlah dalam label atau jika
lebih dari 1 unit berisi kurang dari 90% dari jumlah dalam label.
Tahap 2. Tes dengan 20 unit tambahan:
 Rata-rata 30 unit tidak boleh kurang dari 100% dari jumlah dalam label.
 Tidak lebih dari 1 unit mengandung kurang dari 90% dari jumlah dalam
label.
Jika uji tidak memenuhi syarat tersebut maka dinyatakan gagal.
Sedangkan kriteria yang diterima untuk unit dengan jumlah dalam label >
60 dan ≤ 150 g atau mL / unit adalah sebagai berikut (Cholayudth, 2005):
Tahap 1. Tes dengan jumlah 10 unit:
 Isi rata-rata 10 unit tidak boleh kurang dari 100% dari jumlah dalam label.
 Tidak ada unit yang mengandung kurang dari 95% dari jumlah dalam label.
Jika konten rata-rata kurang dari 100% dari jumlah dalam label atau jika
tidak lebih dari 1 unit mengandung kurang dari 95% dari jumlah dalam label, uji
dilanjutkan ke tahap 2. Uji dianggap gagal jika konten rata-rata kurang dari 100%
dari jumlah dalam label atau jika lebih dari 1 unit mengandung kurang dari 95%
dari jumlah dalam label.
Tahap 2. Tes dengan 20 unit tambahan:
 Isi rata-rata 30 unit tidak boleh kurang dari 100% dari jumlah dalam label.
 Tidak lebih dari 1 unit mengandung kurang dari 95% dari jumlah dalam
label.
Jika uji tidak memenuhi syarat tersebut maka dinyatakan gagal.

2.6 Uji Homogenitas


Uji homogenitas pada pasta dilakukan dengan 2 metode, yaitu :
 Uji Homogenitas Secara Mikroskopis (Penentuan Ukuran Partikel)
0,01 gram pasta dari 3 tempat berbeda diambil. Tiap sampel diletakkan
pada kaca objek, lalu dengan bantuan kaca objek lain dilihat di bawah
mikroskop dengan perbesaran 100 kali. Pengukuran terhadap 300 – 500
droplet (Voight, 1984).
 Uji Homogenitas Secara Makroskopis
Pasta gigi yang akan diuji dioleskan pada gelas obyek untuk diamati
homogenitasnya. Apabila tidak terdapatbutiran-butiran kasar diatas gelaso
byek tersebut, maka pasta yang diuji dinyatakan homogen, sedangkan
adanya butiran-butiran kasar menunjukkan bahwa pasta tidak homogen.
Pengujian dilakukan setiap minggu selama 3 minggu penyimpanan (Afni,
dkk., 2015).

2.7 Uji Viskositas


Penentuan viskositas dilakukan dengan menggunakan alat viskometer
Brookfield menggunakan alat spindel nomor 6 dan pada kecepatan 2 rpm,
dipasang spindel pada gantungan spindek kemudian diturunkan spindel
sedemikian rupa hingga tercelup pada sampel (pasta) yang telah berada pada
gelas beaker. Dibiarkan spindel berputar dan dibaca angka yang ditunjukkan oleh
jarum merah tersebut untuk menghitung viskositas. Pengujian dilakukan setiap
minggu selama 3 minggu (Afni, dkk., 2015).
Pengujian viskositas dilakukan setiap minggu selama 3 minggu, sebuah
sediaan pasta dikatakan memiliki viskositas yang baik jika nilai visikositas yang
dihasilkan selama pengujian menghasilkan nilai yang konstan dan tidak
mengalami perubahan yang signifikan, serta pasta tersebut mampu bertahan dalam
wujud pastanya dan tidak berubah. Pasta yang memenuhi standar viskositas yaitu
mudah dikeluarkan dari tube, cukup keras sehingga dapat mempertahankan
bentuk pasta minimal 1 menit (Afni, dkk., 2015).

2.8 Penetapan Kadar Zat Aktif


Uji penetapan kadar zat aktif dalam sediaan farmasi penting dilakukan. Uji
ini bertujuan untuk mengetahui kadar zat aktif yang terkandung di dalam sediaan.
Persentase kehilangan zat aktif atau kadar zat aktif yang masih dikatakan layak
untuk digunakan tergantung/ditentukan dari jenis zat aktif yang digunakan dalam
sediaan, misalnya kadar Zinc Oxide menurut British Pharmacopoeia jika
digunakan sebagai pasta kadarnya harus berkisar antara 24-26% (British
Pharmacopoeia, 2009).
Uji penetapan kadar bahan aktif dalam sediaan semi solid khususnya pasta
dapat dilakukan dengan menggunakan alat Spektrofometri UV-Vis dengan cara
sebagai berikut :
(Jadhav et al., 2011)

2.9 Uji Stabilitas


Stabilitas dapat didefinisikan sebagai kemampuan suatu produk untuk
bertahan dalam batas yang ditetapkan dan sepanjang periode penyimpanan dan
penggunaan, sifat karakteristiknya sama dengan yang dimilikinya pada saat
produk dibuat (Depkes RI, 1995)
Kestabilan suatu zat merupakan suatu yang harus diperhatikan dalam
membuat suatu formulasi suatu sediaan farmasi. Hal ini penting mengingat suatu
sediaan biasanya diproduksi dalam jumlah yang besar dan memerlukan waktu
yang cukup panjang untuk sampai ke tangan konsumen. Oleh karena itu sediaan
tersebut juga perlu diuji kestabilannya sesuai prosedur yang telah ditentukan.
Sediaan pasta yang stabil yaitu sediaan yang masih berada dalam batas yang dapat
diterima selama masa periode penyimpanan dan penggunaan, yaitu sifat dan
karakterisasinya tetap sama dengan yang dimilikinya pada saat dibuat (Lachman,
1994).
Tujuan pemeriksaan kestabilan obat adalah untuk menjamin bahwa setiap
bahan obat yang didistribusikan tetap memenuhi persyaratan yang ditetapkan
meskipun sudah cukup lama dalam penyimpanan. Pemeriksaan kestabilan
digunakan sebagai dasar penentuan batas kadaluarsa, cara-cara penyimpanan
yang perlu dicantumkan dalam label (Lachman, 1994). Ketidakstabilan formulasi
dapat dilihat dari perubahan penampilan fisik, warna, rasa, dan tekstur dari
formulasi tersebut, sedangkan perubahan kimia yang terjadi hanya dapat
dipastikan melalui analisis kimia.
Untuk memperoleh kestabilan suatu sediaan farmasetika dalam waktu
singkat, maka dapat dilakukan uji stabilitas dipercepat. Pengujian ini
dimaksudkan untuk mendapatkan informasi yang diinginkan pada waktu sesingkat
mungkin dengan cara menyimpan sampel pada kondisi yang dirancang untuk
mempercepat perubahan yang biasanya pada waktu normal. Jika hasil pengujian
menunjukkan pada uji dipercepat selama 3 bulan diperoleh hasil yang stabil, hal
itu menunjukkan bahwa sediaan tersebut stabil pada penyimpanan suhu kamar
selama setahun (Djajadisastra, 2004).

2.10 Penentuan Expired Date


Expired date merupakan tanggal yang diberikan pada tiap wadah produk
(umumnya pada label) yang menyatakan sampai tanggal tersebut diharapkan
masih tetap memenuhi spesifikasinya, bila disimpan dengan benar. Ditetapkan
untuk tiap bets dengan cara menambahkan masa simpan pada tanggal pembuatan.
Tanggal kadaluarsa (expired date) oleh industri farmasi didapatkan melalui
serangkaian accelerated stability study. Uji Stabilitas untuk penentuan tanggal
kadaluarsa obat ada 2 yaitu :
1. Uji dipercepat adalah uji T90 yaitu dengan peningkatan suhu di atas suhu
normal penyimpanan obat. Kemudian dikalkulasikan dengan rumus
sehingga dapat mengetahui lama waktu kadaluarsa/ED obat dalam waktu
pengujian yang singkat.
2. Uji jangka panjang adalah uji T90 yaitu pada suhu penyimpanan obat yang
normal sehingga perlu jangka waktu yang lama. Misalnya suatu obat
menyebutkan ED pada waktu lima tahun, berarti obat tersebut telah diuji
selama itu juga.
(Depker RI, 1990).

2.11 Penentuan No Bets


Sejumlah produk obat yang mempunyai no bets yang sama mempunyai sifat
dan mutu yang seragam yang dihasilkan dalam satu siklus pembuatan atau suatu
perintah pembuatan tertentu. Esensi duatu bets adalah homogenitasnya. Nomor
bets yaitu penandaan yang terdiri dari angka atau huruf atau gabungan dari
keduanya, yang merupakan tanda pengenal suatu bets yang memungkinkan
penelusuran kembali riwayat lengkap pembuatan bets tersebut, termasuk tahap –
tahap produksi, pengawasan, dan distribusi. Suatu bets obat memenuhi
persyaratan mutunya selama waktu peredaran yang ditetapkan. Jenis pengujian
yang dilakukan terhadap produk obat jadi tercantumkan, jika lulus uji
laboratorium diberi label “Diluluskan” yang berwarna hijau, sedangkan jika tidak
lulus uji laboratorium diberi label “Ditolak” (Depker RI, 1990).
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
3.1.1 Pasta adalah sediaan semipadat yang mengandung satu atau lebih bahan
obat yang lebih dari 50% berupa zat padat serbuk yang dibagi menjadi
empat jenis pasta berlemak, pasta kering, pasta pendingin, dan pasta
dentifriciae serta sediaan yang digunakan untuk tujuan efek lokal.
3.1.2 IPC (in process control) atau pengawasan selama proses produksi
merupakan suatu hal yang dilakukan untuk menjaga kualitas dan
memastikan bahwa obat dihasilkan dengan mutu yang sesuai dengan tujuan
pemakaiannya dari sediaan farmasi yang dibuat yang mencakup
pengawasan terhadap CPOB ditambah dengan faktor lain, seperti desain
dan pengembangan obat.
3.1.3 Sediaan farmasi yang diproduksi perlu dilakukan suatu evaluasi bergitu
juga dengan sediaan pasta yang meliputi evaluasi organoleptis, uji pH, uji
bobot minimum, uji homogenitas, viskositas, penetapan kadar zat aktif dan
stabilitas.
3.1.4 Penentuan expired date dilakukan melalui uji stabilitas sediaan atau
accelerated stability study yang dapat dilakukan melalui uji stabilitas
dipercepat dan uji stabilitas jangka panjang. Untuk nomor bets dibuat
sebagai tanda tanda pengenal suatu bets untuk menunjukkan riwayat
lengkap pembuatan bets tersebut, tahap–tahap produksi, pengawasan, dan
distribusi.

3.2 Saran
Dalam proses produksi suatu sediaan farmasi baik itu sediaan pasta maupun
sediaan lainnya pengawasan selama proses produksi sangat penting untuk
dilakukan oleh pemerintah mengingat semakin maraknya oknum-oknum yang
berbuat curang. Pemerintah juga harus tegas melakukan pengawasan pada saat
proses produksi, evaluasi sediaan, maupun distribusi sediaan farmasi.
DAFTAR PUSTAKA
Afni, N., N. Said, dan Yuliet. 2015. Uji Aktivitas Antibakteri Pasta Gigi Ekstrak
Biji Pinang (Areca catechu L.) terhadap Streptococcus mutans dan
Staphylococcus aureus. Galenika Journal of Pharmacy, Vol. 1(1) : 48-58.

Badan POM. 2006. Pedoman Cara PembuatanObat yang Baik (Guidelines on


Good Manufacturing). Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan.

Bambang, P. 2007. Manajemen Industri Farmasi. Yogyakarta: Global Pustaka


Utama.

British Pharmacopoiea. 2009. British Pharmacopoiea. London:The British


Pharmacopoeia Commission.

Cholayudth, P. 2005. Establishing Target Fills for Semisolid and Liquid Dosage
Forms. Pharmaceutical Technology.
Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.
Depkes RI. 1990. Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik. Jakarta:
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Djajadisastra, J. 2004. Cosmetic Stability. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.

HP. 1997. Pharmaceutical Process Control. USA: Hewlett-Packard Company.

Jadhav, R. T., P. R. Patil, and P. H. Patil.2011.Formulation and Evaluation of


Semisolid preparation (Ointment, Gel, & Cream) of Thiocolchicoside.
Journal of Pharmaceutical and Biomedical Sciences.Vol.8 (8).

Lachman, L., Lieberman, H.A. dan Kanig, J.L. 1994. Teori dan Praktek Farmasi
Industri. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.

Olii, Audia Triani. 2013. Pengembangan Formulasi Pasta Gigi Ekstrak Etanol Biji
Jintan Hitam (Nigella sativa L.) dengan Penambahan Bubuk Siwak
(Salvador persica L.). Jurnal Bionature. Vol 14 (2).

Syamsuni, H. A. 2007. Ilmu Resep. Jakarta : EGC

Voight, R. 1984. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Yogyakarta: UGM Press

Winarti L. 2013. Diktat Kuliah Formulasi Sediaan Semisolid (Formulasi Salep,


Krim, Gel, Pasta, Dan Suppositoria) Semester VI. Jember: Fakultas Farmasi
Universitas Jember.

Anda mungkin juga menyukai