Anda di halaman 1dari 16

Obat anestesi umum adalah obat atau agen yang dapat menyebabkan

terjadinya efek anestesia umum yang ditandai dengan penurunan kesadaran secara
bertahap karena adanya depresi susunan saraf pusat. Menurut rute pemberiannya,
anestesi umum dibedakan menjadi anestesi inhalasi dan intravena. Keduanya
berbeda dalam hal farmakodinamik maupun farmakokinetik (Ganiswara, 1995).
Tahap-tahap penurunan kesadaran dapat ditentukan dengan pengamatan
yang cermat terhadap tanda-tanda yang terjadi, terutama yang berhubungan dengan
koordinasi pusat saraf sirkulasi, respirasi, musculoskeletal dan fungsi-fungsi otonom
yang lain pada waktu-waktu tertentu. Beberapa anestetik umum berbeda potensinya
berdasarkan sifat farmakokinenik dan farmako dinamik yang berbeda pula. Selain
itu sifat farmasetika obat juga mempengaruhi potensi anestesinya. Potensi anestetik
yang kuat dapat disertai dengan potensi depresi sususan saraf pusat yang kuat,
sehingga perlu dilakukan pemantauan yang ketat, untuk menghindari turunnya
derajat kesadaran sampai derajat kematian. ( Ganiswara, 1995 ).
Eter (dietil eter, zaman dahulu dikenal sebagai sulfuric eter karena
diproduksi melalui reaksi kimia sederhana antara etil alkohol dengan asam sulfat)
digunakan pertama kali tahun 1540 oleh Valerius Cordus, botani Prusia berusia 25
tahun. Eter sudah dipakai dalam dunia kedokteran, namun baru digunakan sebagai
agen anestetik pada manusia di tahun 1842, ketika Crawford W. Long dan William
E. Clark menggunakannya pada pasien. Namun penggunaan ini tida
dipublikasikan. Empat tahun kemudian, di Boston, 16 Oktober 1846, William T. G.
Morton memperkenalkan demostrasi publik penggunaan eter sebagai anestetik
umum (Morgan dan Mikhail, 2002). Eter dapat dimasukkan kedalam derivat alkohol
dimana H dari R-O-[H] digantikan oleh gugus R lainnya. Eter adalah oksida organik
yang berstrukur:
[R]-C-O-C-[R]
Eter tidak berwarna, berbau menyengat, cairan yang mudah menguap. Titik
didihnya adalah 36,2°C. Cara pembuatan yang paling umum adalah dengan
dehidrasi alkohol bersama asam sulfat (Collins, 1996).
Alkohol (etanol; C
2
H
5
OH) ialah suatu molekul kecil, larut dalam air, dan
diserap dengan sempurna dari saluran pencernaan. Uap etanol dapat juga diserap
melalui paru-paru. Adanya makanan dalam usus memperlambat serapan.
Distribusinya cepat, konsentrasi dalam jaringan lebih kurang sama dengan
konsentrasi plasma. Kadar puncak dalam darah dapat dicapai dalam 30 menit. Lebih
90% alkohol yang dikonsumsi dioksidasi dalam hati, sisanya dieksresikan dalam
paru-paru dan urin. Seorang dewasa dapat memetabolisme 7-10 gram (0,15-0,22
mmol) alkohol setiap jam (Ganiswara, 1995)
Alkohol-alkohol lain yang berhubungan dengan etanol digunakan secara luas
dalam pelarut industri dan kadang-kadang menyebabkan keracunan hebat. Metanol
(CH
3
OH); metal alkohol, alkohol kayu) diperoleh dari distilasi desktruktif kayu.
Metanol digunakan sebagai bahan penambah bensin, bahan pemanas ruangan,
pelarut industri, pada larutan fotokopi, serta sebagai bahan makanan untuk bakteri
yang memproduksi protein. Metanol paling banyak dijumpai dalam rumah tangga
dalam bentuk cairan pembersih kaca mobil. Dapat diabsorpsi melalui kulit, saluran
pernapasan atau pencernaan dandidistribusikan ke dalam cairan tubuh. Mekanisme
eliminasi utama methanol di dalam tubuh manusia ialah dengan oksidasi menjadi
formaldehida, asam format dan CO
2
. Metanol juga dapat disingkirkan dengan
membuat muntah, dan dalam jumlah kecil diekskresikan melalui pernapasan,
keringat dan urin (Ganiswara, 1995).
Alkohol polihidrat seperti etilen glikol digunakan sebagai pengubah panas,
zat anti beku, dan sebagai pelarut industri. Karena glikol mempunyai penguapan
yang rendah, maka zat ini menghasilkan sedikit uap yang berbahaya pada temperatur
biasa. Namun, karena digunakan dalam campuran anti beku dan sebagai pengubah
panas, dapat dijumpai dalam bentuk uap atau kabut, pada temperatur tinggi. Etilen
glikol tampaknya lebih toksik untuk manusia dibandingkan dengan spesies hewan
lain. Etilen alkohol dimetabolisir oleh alkohol dehidrogenase menjadi aldehid, asam
dan oksalat (Katzung, 1997).
Kloroform pada suhu dan tekanan normal mudah menguap, jernih, tidak
mudah terbakar. Nama lain untuk cloroform adalah trichloromethane dan triklorid
metil, tidak seperti eter, bau chloroform manis tidak menyengat, walaupun uap
chloroform pekat terinhalasi dapat menyababkan iritasi permukaan mukosa yang
terkena. Kloroform adalah anestesi yang lebih efektif daripada nitro. Kloroform
dosis tergantung di dalam tubuh akan dimetabolisme didalam hati. Metabolit
kloroform termasuk phosgene, carbene dan chlorine, yang semuanya dapat
berkontribusi terhadap aktivitas sitotoksik. Penggunaan jangka panjang kloroform
sebagai anestetik dapat menyebabkan toxaemia. Keracuanan akut dapat
menyebabkan sakit kepala, kejang, perubahan kesadaran, kelumpuhan, gangguan
pernapasan. Dari sistem otonom dapat mengakibatkan pusing, mual dan muntah.
Kloroform juga dapat menyebabkan delayed-onset kerusakan pada hati, jantung dan
ginjal (Katzung, 1997
DENPASAR
2013

BAB I
PENDAHULUAN

Anestesi
Istilah anestesi dimunculkan pertama kali oleh dokter Oliver Wendell Holmes (1809-1894)
berkebangsaan Amerika, diturunkan dari dua kata Yunani : An berarti tidak, dan Aesthesis berarti
rasa atau sensasi nyeri. Secara harfiah berarti ketiadaan rasa atau sensasi nyeri. Dalam arti yang
lebih luas, anestesi berarti suatu keadaan hilangnya rasa terhadap suatu rangsangan. Pemberian
anestetikum dilakukan untuk mengurangi dan menghilangkan rasa nyeri baik disertai atau tanpa
disertai hilangnya kesadaran. Seringkali anestesi dibutuhkan pada tindakan yang berkaitan dengan
pembedahan. Anestetikum yang diberikan pada hewan akan membuat hewan tidak peka terhadap
rasa nyeri sehingga hewan menjadi tenang, dengan demikian tindakan diagnostik, terapeutik atau
pembedahan dapat dilaksanakan lebih aman dan lancar.
Perjalanan waktu sepanjang sejarah menunjukkan bahwa anestesi pada hewan digunakan
untuk menghilangkan rasa dan sensasi terhadap suatu rangsangan yang merugikan (nyeri),
menginduksi relaksasi otot, dan terutama untuk membantu melakukan diagnosis atau proses
pembedahan yang aman. Alasan lain penggunaan anestesi pada hewan adalah untuk melakukan
pengendalian hewan (restraint), keperluan penelitian biomedis, pengamanan pemindahan
(transportasi) hewan liar, pemotongan hewan yang humanis, dan untuk melakukan ruda paksa
(euthanasia). Secara umum tujuan pemberian anestetikum pada hewan adalah mengurangi atau
menghilangkan rasa nyeri dengan meminimalkan kerusakan organ tubuh dan membuat hewan tidak
terlalu banyak bergerak. Semua tujuan anestesi dapat dicapai dengan pemberian obat anestetikum
secara tunggal maupun dalam bentuk balanced anesthesia, yaitu mengkombinasikan beberapa agen
anestetikum maupun dengan agen preanestetikum.
Klasifikasi Anestesi
Keadaan teranestesi dapat dihasilkan secara kimia dengan obat-obatan dan secara fisik
melalui penekanan sensori pada syaraf. Obat-obatan anestetika umumnya diklasifikasikan
berdasarkan rute penggunaannya, yaitu: 1). Topikal misalnya melalui kutaneus atau membrana
mukosa; 2). Injeksi seperti intravena, subkutan, intramuskular, dan intraperitoneal; 3). Gastrointestinal
secara oral atau rektal; dan 4). Respirasi atau inhalasi melalui saluran nafas (Tranquilli et al. 2007).
Anestetetikum juga dapat diklasifikasikan berdasarkan daerah atau luasan pada tubuh yang
dipengaruhinya, yaitu : 1). Anestesi lokal, terbatas pada tempat penggunaan dengan pemberian
secara topikal, spray, salep atau tetes, dan infiltrasi. 2). Anestesi regional, mempengaruhi pada
daerah atau regio tertentu dengan pemberian secara perineural, epidural, dan intratekal atau
subaraknoid. 3). Anestesi umum, mempengaruhi seluruh sistem tubuh secara umum dengan
pemberian secara injeksi, inhalasi, atau gabungan (balanced anaesthesia).
BAB II
PEMBAHASAN

Anestesi Umum
Anestesi umum adalah keadaan hilangnya nyeri di seluruh tubuh dan hilangnya kesadaran
yang bersifat sementara yang dihasilkan melalui penekanan sistem syaraf pusat karena adanya
induksi secara farmakologi atau penekanan sensori pada syaraf. Agen anestesi umum bekerja
dengan cara menekan sistem syaraf pusat (SSP) secara reversibel (Adams 2001). Anestesi umum
merupakan kondisi yang dikendalikan dengan ketidaksadaran reversibel dan diperoleh melalui
penggunaan obat-obatan secara injeksi dan atau inhalasi yang ditandai dengan hilangnya respon
rasa nyeri (analgesia), hilangnya ingatan (amnesia), hilangnya respon terhadap rangsangan atau
refleks dan hilangnya gerak spontan (immobility), serta hilangnya kesadaran (unconsciousness).
Mekanisme kerja anestesi umum pada tingkat seluler belum diketahui secara pasti, tetapi
dapat dihipotetiskan mempengaruhi sistem otak karena hilangnya kesadaran, mempengaruhi batang
otak karena hilangnya kemampuan bergerak, dan mempengaruhi kortek serebral karena terjadi
perubahan listrik pada otak. Anestesi umum akan melewati beberapa tahapan dan tahapan tersebut
tergantung pada dosis yang digunakan. Tahapan teranestesi umum secara ideal dimulai dari
keadaan terjaga atau sadar kemudian terjadi kelemahan dan mengantuk (sedasi), hilangnya respon
nyeri (analgesia), tidak bergerak dan relaksasi (immobility), tidak sadar (unconsciousness), koma,
dan kematian atau dosis berlebih.
Anestesi umum yang baik dan ideal harus memenuhi kriteria : tiga komponen anestesi atau
trias anestesi (sedasi, analgesi, dan relaksasi), penekanan refleks, ketidaksadaran, aman untuk
sistem vital (sirkulasi dan respirasi), mudah diaplikasikan dan ekonomis. Dengan demikian, tujuan
utama dilakukan anestesi umum adalah upaya untuk menciptakan kondisi sedasi, analgesi, relaksasi,
dan penekanan refleks yang optimal dan adekuat untuk dilakukan tindakan dan prosedur diagnostik
atau pembedahan tanpa menimbulkan gangguan hemodinamik, respiratorik, dan metabolik yang
dapat mengancam
Agen anestesi umum dapat digunakan melalui injeksi, inhalasi, atau melalui gabungan secara
injeksi dan inhalasi. Anestetikum dapat digabungkan atau dikombinasikan antara beberapa
anestetikum atau dengan zat lain sebagai preanestetikum dalam sebuah teknik yang
disebut balanced anesthesia untuk mendapatkan efek anestesi yang diinginkan dengan efek samping
minimal. Anestetika umum inhalasi yang sering digunakan pada hewan adalah halotan, isofluran,
sevofluran, desfluran, dietil eter, nitrous oksida dan xenon. Anestetika umum yang diberikan secara
injeksi meliputi barbiturat (tiopental, metoheksital, dan pentobarbital), cyclohexamin (ketamine,
tiletamin), etomidat, dan propofol.
Tujuan Anestesi Umum:
anestesi umum menjamin hdp pasien, yg memungkinkan operator melakukan tindakan bedah
dg leluasa dan menghilakan rasa nyeri.

Preanestesi
Preanestesi adalah pemberian zat kimia sebelum tindakan anestesi umum dengan tujuan
utama menenangkan pasien, menghasilkan induksi anestesi yang halus, mengurangi dosis
anestetikum, mengurangi atau menghilangkan efek samping anestetikum, dan mengurangi nyeri
selama operasi maupun pasca operasi (Debuf 1991; McKelvey dan Hollingshead 2003). Pemilihan
preanestetikum dipertimbangkan sesuai dengan spesies, status fisik pasien, derajat pengendalian,
jenis operasi, dan kesulitan dalam pemberian anestetikum (Booth dan Branson 1995).
Preanestetikum yang paling umum digunakan pada hewan adalah atropine, acepromazin,
xylazine, diazepam, midazolam, dan opioid atau narkotik. Atropine digunakan untuk mengurangi
salivasi, peristaltik dan mengurangi bradikardia akibat anestesi. Acepromazin digunakan sebagai
penenang atau tranquilizer. Xylazine, medetomidin, diazepam, dan midazolam digunakan sebagai
agen sedatif dan merelaksasi otot. Opioid atau narkotik digunakan untuk mengurangi rasa sakit,
seperti disajikan pada Gambar.

Antikolinergik : Atropine, Scopolamine, Aminopentamid, Glikopirolat.

Pelemas otot (Muscle paralyzer): Xylazine, Diazepam, Midazolam, Medetomidin, Lorazepam,


Curare.

Agen Dissosiatif : Penciklidine, Ketamine, Tiletamine.

Narkotik : Morpin, Apomorpin, Meperidin, Oksimorpin, Etorpin, Nalorpin.

Tranquilizer : Promazin, Acepromazin, Chlorpromazin, Xylazine, Diazepam, Midazolam,


Lorazepam, Madetomidin.

Gambar: Klasifikasi agen preanestesi yang digunakan pada anestesi umum

Obat-obat yang sering digunakan (pramedikasi)


Narkotik Analgetika:
Narkotik : morfin, dosis dewasa biasa 8-10 mg i.m. obat ini digunakan untuk
mengurangi kecemasan dan ketegangan pasien menjelang pembedahan. Morfin adalah
depresan susunan syaraf pusat. Bila rasa nyeri telah ada sejak sebelm tindakan bedah
merpakan obat pilihan. Memberikan pemeliharaan anastesia yang mulus, bila memakai
premedikasi morfin pada penggunaan anestetika lemah. Kerugiaan penggnaan morfim, pulih
pasca bedah lebih lama. Penyempitan bronks dapat timbul pada paasien asma. Mual dan
muntah pasca bedah ada.
Pethidin : dosis 1mg/kg bb dewasa, sering digunakan sebagai premedikasi seperti
morfin dan menekan tekanan darah dan pernafasan dan juga merangsang otot polos.
Barbiturat : Pentobartital dan sekobarbital sering digunakan untuk menimbulkan
sedasi dan menghilangkan kekhawatiran sebelum operasi. Obat ini dapat diberikan secara
oral atau intra muscular, pada dewasa dosis 100-200mg dan pada bayi dan anak-anak dosis
2mg/kg bb. Yang mudah didapat Phenobarbital. Obat ini mempunyai kerja depresan yang
lemah terhadap pernafasan dan sirklasi serta jarang menyebabakan mual dan muntah. Pasien
yang mendapat barbiturate sebagai premedikasi biasanya bangun lebih cepat daripada bila
menggunakan narkotika.
Tranquilizer : bermacam-macam enis turunan fenotiasin dan penenang yang
digunakan sebagai premedikasi. Obat-obat ini digunakan oleh karena kera sedative, anti
arrytmia, antihistamin, dan kerja antiemetik, kadang-kadang kombinasi dengan barbiturate
atau narkotika. Kombinasi ini memberikan sedasi yang kuat. Contoh: phenergan 25 mg untuk
dewasa.
Antikolinergik : penggunaan hiosin dan atropine efektif sebagai anti mual dan muntah,
tetapi bila hiosin dikombinasikan dengan morfin atau papaveratum menambah sedasi
sementara atropine cenderung menambah kecemasan. Pemberian suntikan atropine secara
rutin telah dikeritik oleh Holt (1962) dan semakin lusnya penggunaan anestetika yang
merangsang. Tetapi masih digunakan untuk mengurangi bradikardi selama anesthesia.

Anestesiologis dengan Empat Rangkaian Kegiatan:


Anestesi dilakukan oleh dokter spesialis anestesi atau anestesiologis. Dokter spesialis
anestesiologi selama pembedahan berperan memantau tanda-tanda vitalpasien karena
sewaktu-waktu dapat terjadi perubahan yang memerlukan penanganan secepatnya.Empat
rangkaian kegiatan yang merupakan kegiatan sehari-hari dokter anestesi adalah:
 Mempertahankan jalan napas
 Memberi napas bantu
 Membantu kompresi jantung bila berhenti
 Membantu peredaran darah
 Mempertahankan kerja otak pasien.
Syarat Ideal Anastesi Umum:
 Memberi induksi yg halus dan cepat.
 Timbul situasi px tak sadar / tak berespons
 Timbulkan keadaan amnesia
 Hambat refleks-refleks
 Timbulkan relaxasi otot skeletal, tp bukan otot pernafasan.
 Hambat persepsi rangsang sensorik shg timbul analgesia yg cukup unt Tx operasi.
 Berikan keadaan pemulihan yg halus cepat dan tak timbulkan ESO yg berlangsung lama
Kontra Indikasi Anastesi Umum
Tergantung efek farmakologi pada organ yang mengalami kelainan, (harus hindarkan
pemaiakaian obat)
 Hepar è obat hepatotoksik, dosis dikurangi/ obat yang toksis terhadap
hepar/dosis obat diturunkan
 Jantung è obat-obat yang mendespresi miokard/ menurunkan aliran darah koroner
 Ginjal è obat yg diekskresi di ginjal
 Paru è obat yg merangsang sekresi Paru
 Endokrin è hindari obat yg meningkatkan kadar gula darah/ hindarkan pemakaian obat yang
merangsang susunan saraf simpatis pada diabetes penyakit basedow, karena
bisa menyebabkan peninggian gula darah.

Komplikasi
Komplikasi (penyulit) kadang-kadang datangnya tidak diduga kendatipun tindakan
anestesi sudah dilaksanakan dengan baik. Komplikasi dapat dicetuskan oleh tindakan
anesthesia sendiri atau kondisi pasien. Penyulit dapat timbl pada waktu pembedahan atau
kemudian segera ataupun belakangan setelah pembedahan (lebih dari 12jam).

1. Komplikasi Kardiovasklar
a) Hipotensi : tekanan systole kurang dari 70mmHg atau turun 25% dari sebelumnya.
b) Hipertensi : umumnya tekanan darah dapat meningkat pada periode induksi dan pemulihan
anestesia. Komplikasi ini dapat membahayakan khususnya pada penyakit jantung, karena
jantung akan bekerja keras dengan kebutuhan o2 mokard yang meningkat, bila tak tercukupi
dapat timbl iskemia atau infark miokard. Namun bila hipertensi karena tidak adekuat dapat
dihilangkan dengan menambah dosis anestetika.
c) Aritmia Jantung : anestesi ringan yang disertai maniplasi operasi dapat merangsang saraf
simpatiks, dapat menyebabkan aritmia. Bradikardia yang terjadi dapat diobati dengan atropin
d) Payah Jantung : mungkin terjadi bila pasien mendapat cairan IV berlebihan.
2. Penyulit Respirasi
a) Obstruksi jalan nafas
b) Batuk
c) Cekukan (Hiccup)
d) Intubasi endobronkial
e) Apnu (Henti Nafas)
f) Atelektasis
g) Pnemotoraks
h) Muntah dan Regurgitas
3. Komplikasi Mata
a) Laserasi Kornea
b) Menekan bola mata terlalu kuat
4. Perubahan Cairan Tubuh
a) Hipovolemia
b) Hipervolemia
5. Komplikasi Neurologi
a) KonvulsiTerlambat sadar
b) Cidera saraf tepi (perifer)
6. Komplikasi Lain-Lain
a) Menggihil
b) Gelisah setelah anestesi
c) Mimpi buruk
d) Sadar selama operasi
e) Kenaiakn suhu tubuh
f) Hipersensitif
Macam-Macam Obat Anestesi Umum
Obat anestesi umum dibagi menurut bentuk fisiknya dibagi terdiri dari 3 golongan:
1. Obat Anestetika gas (inhalasi)
2. Obat Anestetika yang menguap
3. Obat Anestetika yang diberikan secara intravena
1. Anestetika gas (inhalasi)
Anestesi umum inhalasi merupakan salah satu metode anestesi umum yang dilakukan
dengan cara memberikan agen anestesi yang berupa gas dan atau cairan yang mudah
menguap melalui alat anestesi langsung ke udara inspirasi. Hiperventilasi akan menaikkan
ambilan anestetikum dalam alveolus dan hipoventilasi akan menurunkan ambilan alveolus.
Kelarutan zat inhalasi dalam darah adalah faktor utama yang penting dalam menentukan
induksi dan pemulihan anestesi inhalasi. Induksi dan pemulihan akan berlangsung cepat pada
zat yang tidak larut dan lambat pada zat yang larut. Anestetik gas tidak mudah larut dalam
darah sehingga tekanan parsial dalam darah cepat meningkat. Batas keamanan antara efek
anesthesia dan efek letal cukup lebar.
Contoh :
1.1 Nitrogen monoksida (N2O)
Nitrogen monoksida merupakan gas yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa
dan lebih berat daripada udara. N2O biasanya tersimpan dalam bentuk cairan bertekanan
tinggi dalam baja, tekanan penguapan pada suhu kamar ± 50 atmosfir. N2O mempunyai efek
analgesic yang baik, dengan inhalasi 20% N2O dalam oksigen efeknya seperti efek 15 mg
morfin. Kadar optimum untuk mendapatkan efek analgesic maksimum ± 35% . gas ini sering
digunakan pada partus yaitu diberikan 100% N2O pada waktu kontraksi uterus sehingga rasa
sakit hilang tanpa mengurangi kekuatan kontraksi dan 100% O2 pada waktu relaksasi untuk
mencegah terjadinya hipoksia. Anestetik tunggal N2O digunakan secara intermiten untuk
mendapatkan analgesic pada saat proses persalinan dan Pencabutan gigi. H2O digunakan
secara umum untuk anestetik umum, dalam kombinasi dengan zat lain.
1.2 Siklopropan
Siklopropan merupakan anestetik gas yang kuat, berbau spesifik, tidak berwarna, lebih
berat daripada udara dan disimpan dalam bentuk cairan bertekanan tinggi. Gas ini mudah
terbakar dan meledak karena itu hanya digunakan dengan close method. Siklopropan relative
tidak larut dalam darah sehingga menginduksi dengan cepat (2-3 menit). Stadium III tingkat 1
dapat dicapai dengan kadar 7-10% volume, tingkat 2 dicapai dengan kadar 10-20% volume,
tingkat 3 dapat dicapai dengan kadar 20-35%, tingkat 4 dapat dicapai dengan kadar 35-50%
volume. Sedangkan pemberian dengan 1% volume dapat menimbulkan analgesia tanpa
hilangnya kesadaran. Untuk mencegah delirium yang kadang-kadang timbul, diberikan
pentotal IV sebelum inhalasi siklopropan. Siklopropan menyebabkan relaksasi otot cukup
baik dan sedikit sekali mengiritasi saluran nafas. Namun depresi pernafasan ringan dapat
terjadi pada anesthesia dengan siklopropan.
Siklopropan tidak menghambat kontraktilitas otot jantung, curah jantung dan tekanan
arteri tetap atau sedikit meningkat sehingga siklopropan merupakan anestetik terpilih pada
penderita syok. Siklopropan dapat menimbulkan aritmia jantung yaitu fibrilasi atrium,
bradikardi sinus, ekstrasistole atrium, ritme atrioventrikular, ekstrasistole ventrikel dan ritme
bigemini. Aliran darah kulit ditinggikan oleh siklopropan sehingga mudah terjadi perdarahan
waktu operasi. Siklopropan tidak menimbulkan hambatan terhadap sambungan saraf otot.
Setelah waktu pemulihan sering timbul mual, muntah dan delirium. Absorpsi dan ekskresi
siklopropan melalui paru. Hanya 0,5% dimetabolisme dalam badan dan diekskresi dalam
bentuk CO2 dan air. Siklopapan dapat digunakan pada setiap macam operasi. Untuk
mendapatkan efek analgesic digunakan 1,2% siklopropan dengan oksigen. Untuk mencapi
induksi siklopropan digunakan 25-50% dengan oksigen, sedangkan untuk dosis penunjang
digunakan 10-20% oksigen.
2. Anestetik yang menguap
Anestetik yang menguap (volatile anesthetic) mempunyai 3 sifat dasar yang sama yaitu
berbentuk cairan pada suhu kamar, mempunyai sfat anestetik kuat pada kadar rendah dan
relative mudah larut dalam lemak, darah dan jaringan. Kelarutan yang baik dalam darah dan
jaringan dapat memperlambat terjadinya keseimbangan dan terlawatinya induksi, untuk
mengatasi hal ini diberikan kadar lebih tinggi dari kadar yang dibutuhkan. Bila stadium yang
diinginkan sudah tercapai kadar disesuaikan untuk mempertahankan stadium tersebut. Untuk
mempercepat induksi dapat diberika zat anestetik lain yang kerjanya cepat kemudian baru
diberikan anestetik yang menguap.
Umumnya anestetik yang menguap dibagi menjadi dua golongan yaitugolongan
eter misalnya eter (dietileter) dan golongan hidrokarbon halogenmisalnya halotan,
metoksifluran, etil klorida, trikloretilen dan fluroksen. Eter merupakan cairan tidak berwarna,
mudah menguap, berbau mudah terbakar, mengiritasi saluran nafas dan mudah meledak. Eter
merupakan anestetik yang sangat kuat sehingga penderita dapat memasuki setiap tingkat
anesthesia. Sifat analgesic kuat sekali, dengan kadar dalam darah arteri 10-15 mg % sudah
terjadi analgesia tetapi penderita masih sadar.
Eter pada kadar tinggi dan sedang menimbulkan relaksasi otot karena efek sentral dan
hambatan neuromuscular yang berbeda dengan hambatan oleh kurare, sebab tidak dapat
dilawan oleh neostigmin. Zat ini meningkatkan hambatan neuromuscular oleh antibiotic
seperti neomisin, streptomisin, polimiksin dan kanamisin. Eter dapt merangsang sekresi
kelenjar bronkus. Pada induksi dan waktu pemulihan eter menimbulkan salvias, tetapi pada
stadium yang lebih dalam, salvias akan dihambat dan terjadi depresi nafas.
Eter diabsorpsi dan disekresi melalui paru dan sebagian kecil diekskresi juga melalui
urin, air susu, keringat dan difusi melalui kulit utuh.
Efluran merupakan anestetik eter berhalogen yang tidak mudah terbakar dan cepat
melewati stadium induksi tanpa atau sedikit menyebabkan eksitasi. Kecepatan induksi
terhambat bila penderita menahan nafas atau batuk. Sekresi kelenjar saliva dan bronkus
hanya sedikit meningkat sehingga tidak perlu menggunakan medikasi preanestetik yaitu
atropin. Kadar yang tinggi menyebabkan depresi kardiovaskuler dan perangsangan SSP,
untuk menghindari hal ini enfluran diberikan dengan kadar kadar rendah bersama N2O.
Efluran kadar rendah tidak banyak mempengaruhi system kardiovaskuler, meskipun dapat
menurunkan tekanan darah dan meningkatkan frekuensi nadi. Efluran menyebabkan
sensitisasi jantung terhadap ketekolamin yang lebih lemah dibandingkan dengan halotan
tetapi efluran membahayakan penderita penyakit ginjal. Pada anestesi yang dalam dan
hipokapnia, efluran dapat menyebabkan kejang tonik-klonik pada otot muka dan ekstremitas.
Hal ini dapat dihentikan tanpa gejala sisa dengan mengganti obat anestesi, melakukan
anestesi yang tidak terlalu dalam dan menurunkan ventilasi semenit untuk mengurangi
hipokapnia. Efluran jangan digunakan pada anak dengan demam berumur kurang dari 3
tahun.
Isofluran merupakan eter berhalogen yang tidak mudah terbakar. Secara kimiawi mirip
dengan efluran, tetapi secara farmakologi berbeda. Isofluran berbau tajam sehingga
membatasi kadar obat dalam udara yang dihisap oleh penderita karena penderita menahan
nafas dan batuk. Setelah pemberian medikasi preanestetik stadium induksi dapat dilalui
dengan lancer dan sedikit eksitasi bila diberikan bersama N2O dan O2. isofluran merelaksasi
otot sehingga baik untuk intubasi. Tendensi timbul aritmia amat kecil sebab isofluran tidak
menyebabkan sensiitisasi jantung terhadap ketokolamin. Peningkatan frekuensi nadi dan
takikardi adihilangkan dengan pemberian propanolol 0,2-2 mg atau dosis kecil narkotik (8-10
mg morfin atau 0,1 mg fentanil), sesudah hipoksia atau hipertemia diatasi terlebih dulu.
Penurunan volume semenit dapat diatasi dengan mengatur dosis. Pada anestesi yang dalam
dengan isofluran tidak terjadi perangsangan SSP seperti pada pemberian enfluran. Isofluran
meningkatkan aliran darah otak pada kadar labih dari 1,1 MAC (minimal Alveolar
Concentration) dan meningkatkan tekanan intracranial.
Halotan merupakan cairan tidak berwarna, berbau enak, tidak mudah terbakar dan
tidak mudah meledak meskipun dicampur dengan oksigen. Halotan bereaksi dengan perak,
tembaga, baja, magnesium, aluminium, brom, karet dan plastic. Karet larut dalam halotan,
sedangkan nikel, titanium dan polietilen tidak sehingga pemberian obat ini harus dengan alat
khusus yang disebut fluotec. Efek analgesic halotanlemah tetapi relaksasi otot yang
ditimbulkannya baik. Dengan kadar yang aman waktu 10 menit untuk induksi sehingga
mempercepat digunakan kadar tinggi (3-4 volume %). Kadar minimal untuk anestesi adalah
0,76% volume.
Metoksifluran merupakan cairan jernih, tidak berwarna, bau manis seperti buah, tidak
mudah meledak, tidak mudah terbakar di udara atau dalam oksigen. Pada kadar anestetik,
metoksifluran mudah larut dalam darah. Anestetik yang kuat dengan kadar minimal 0,16
volume % sudah dapat menyebabkan anestesi dalam tanpa hipoksia. Metoksifluran tidak
menyebabkan iritasi dan stimulasi kelenjar bronkus, tidak menyebabkan spasme laring dan
bronkus sehingga dapat digunakan pada penderita asma. Metoksifluran menyebabkan
sensitisasi jantung terhadap ketokolamin tetapi tidak sekuat kloroform, siklopropan, halotan
atau trikloretilan. Metoksifluran bersifat hepatoksik sehingga sebaiknya tidak diberikan pada
penderita kelainan hati.
Etilklorida merupakan cairan tak berwarna, sangat mudah menguap, mudah terbakar
dan mempunyai titik didih 12-13°C. Bila disemprotkan pada kulit akan segera menguap dan
menimbulkan pembekuan sehingga rasa sakit hilang. Anesthesia dengan etilklorida cepat
terjadi tetapi cepat pula hilangnya. Induksi dicapai dalam 0,5-2 menit dengan waktu
pemulihan 2-3 menit sesudah pemberian anesthesia dihentikan. Karena itu etilkloretilen
sudah tidak dianjurkan lagi untuk anestetik umum, tetapi hanya digunakan untuk induksi
dengan memberikan 20-30 tetes pada masker selama 30 detik. Etilkloroda digunakan juga
sebagai anestetik local dengan cara menyemprotkannya pada kulit sampai beku.
Kerugiannya, kulit yang beku sukar dipotong dan mudah kena infeksi Karena penurunan
resistensi sel dan melambatnya penyembuhan.
Trikloretilen merupakan cairan jernih tidak berwarna, mudah menguap, berbau khas
seperti kloroform, tidak mudah terbakardan tidak mudah meledak. Induksi dan waktu
pemulihan terjadi lambat karena trikloretilen sangat larut dalam darah. Efek analgesic
trikloretilen cukup kuat tetapi relaksasi otot rangka yang ditimbulkannya kurang baik , maka
sering digunakan pada operasi ringan dalam kombinasi dengan N2O. untuk anestesi umum,
kadar trikloretilen tidak boleh lebih dari 1% dalam campuran 2:1 dengan N2O dan oksigen.
Trikloretilen menimbulkan sensitisasi jantung terhadap katekolamin dan sensitisasi
pernafasan pada stretch receptor. Sifat lain trikloretilen tidak mengiritasi saluran nafas.
3. Anestetik yang diberikan secara intravena (anestetik perenteral)
Pemakaian obat anestetik intravena, dilakukan untuk : induksi anesthesia, induksi dan
pemeliharaan anesthesia bedah singkat, suplementasi hypnosis pada anesthesia atau analgesia
local, dan sedasi pada beberapa tindakan medic. Anestesi intravena ideal membutuhkan
criteria yang sulit dicapai oleh hanya satu macam obat yaitu cepat menghasilkan efek
hypnosis, mempunyai efek analgesia, disertai oleh amnesia pascaanestesia, dampak yang
tidak baik mudah dihilangkan oleh obat antagonisnya, cepat dieliminasi dari tubuh, tidak atau
sedikit mendepresi fungsi restirasi dan kardiovasculer, pengaruh farmakokinetik tidak
tergantung pada disfungsi organ. Untuk mencapai tujuan di atas, kita dapat menggunakan
kombinasi beberapa obat atau cara anestesi lain. Kebanyakan obat anestetik intravena
dipergunakan untuk induksi. Kombinasi beberapa obat mungkin akan saling berpotensi atau
efek salah satu obat dapat menutupi pengaruh obat yang lain.
Barbiturate menghilangkan kesadaran dengan blockade system sirkulasi
(perangsangan) di formasio retikularis. Pada pemberian barbiturate dosis kecil terjadi
penghambatan system penghambat ekstra lemnikus, tetapi bila dosis ditingkatkan system
perangsang juga dihambat sehingga respons korteksmenurun. Pada penyuntikan thiopental.
Barbiturate menghambat pusat pernafasan di medulla oblongata. Tidal volume menurun dan
kecepatan nafas meninggi dihambat oleh barbiturattetapi tonus vascular meninggi dan
kebutuhan oksigen badan berkurang, curah jantung sedikit menurun. Barbiturate tidak
menimbulkan sensitisasi jantung terhadap katekolamin.
Barbiturate yang digunakan untuk anestesi adalah
Natrium thiopental dosis yang dibutuhkan untuk induksi dan mempertahankan
anestesi tergantung dari berat badan, keadaan fisik dan penyakit yang diderita. Untuk induksi
pada orang dewasa diberikan 2-4 ml larutan 2,5% secara intermitten setiap 30-60 detik
sampai tercapai efek yang diinginkan. Untuk anak digunakan larutan pentotal 2% dengan
interval 30 detik dengan dosis 1,5 ml untuk berat badan 15 kg,3 ml untuk berat badan 30 kg,
4 ml untuk berat badan 40 kg dan 5 ml untuk berat badan 50 kg. Untuk mempertahankan
anesthesia pada orang dewasa diberikan pentotal 0,5-2 ml larutan 2,5%, sedangkan pada anak
2 ml larutan 2%. Untuk anesthesia basal pada anak, biasa digunakan pentotal per rectal
sebagai suspensi 40% dengan dosis 30 mg/kgBB.
Natrium tiamilal dosis untuk induksi pada orang dewasa adalah 2-4 ml larutan 2,5%,
diberikan intravena secara intermiten setiap 30-60 detik sampai efek yang diinginkan
tercapai, dosis penunjang 0,5-2 ml larutan 2,5% a tau digunakan larutan 0,3% yang diberikan
secara terus menerus (drip)
Natrium metoheksital dosis induksi pada orang dewasa adalah 5-12 ml larutan 1%
diberikan secara intravena dengan kecepatan 1 ml/5 detik, dosis penunjang 2-4 ml larutan 1%
atau bila akan diberikan secara terus menerus dapat digunakan larutan larutan 0,2%.
Ketamin merupakan larutan larutan yang tidak berwarna, stabil pada suhu kamar dan
relatif aman. Ketamin mempunyai sifat analgesic, anestetik dan kataleptik dengan kerja
singkat. Sifat analgesiknya sangat kuat untuk system somatik, tetapi lemah untuk sistem
visceral. Tidak menyebabkan relaksasi otot lurik, bahkan kadang-kadang tonusnya sedikit
meninggi. Ketamin akan meningkatkan tekanan darah, frekuensi nadi dan curah jantung
sampai ± 20%. Ketamin menyebabkan reflek faring dan laring tetap normal. Ketamin sering
menimbulkan halusinasi terutama pada orang dewasa.
Sebagian besar ketamin mengalami dealkilasi dan dihidrolisis dalam hati, kemudian
diekskresi terutama dalam bentuk utuh. Untuk induksi ketamin secara intravena dengan dosis
2 mm/kgBB dalam waktu 60 detik, stadium operasi dicapai dalam 5-10 menit. Untuk
mempertahankan anestesi dapat diberikan dosis ulangan setengah dari semula. Ketamin
intramuscular untuk induksi diberikan 10 mg/kgBB, stadium operasi terjadi dalam 12-25
menit.
Droperidol dan fentanil tersedia dalam kombinasi tetap, dan tidak diperguna-kan
untuk menimbulkan analgesia neuroleptik. Induksi dengan dosis 1 mm/9-15 kg BB diberikan
perlahan-lahan secara intravena (1 ml setiap 1-2 menit) diikuti pemberian N2O atau O2 bila
sudah timbul kantuk. Sebagai dosis penunjang digunakan N2O atau fentanil saja (0,05-0,1
mg tiap 30-60 menit) bila anesthesia kurang dalam. Droperidol dan fentanil dapat diberikan
dengan aman pada penderita yang dengan anestesi umum lainnya mengalami hiperpireksia
maligna.
Diazepam menyebabkan tidur dan penurunan kesadaran yang disertai nistagmus dan
bicara lambat, tetapi tidak berefek analgesic. Juga tidak menimbulkan potensiasi terhadap
efek penghambat neuromuscular dan efekanalgesik obat narkotik. Diazepam digunakan untuk
menimbulkan sedasi basal pada anesthesia regional, endoskopi dan prosedur dental, juga
untuk induksi anestesia terutama pada penderita dengan penyakit kardiovascular.
Dibandingkan dengan ultra short acting barbiturate, efek anestesi diaz-epam kurang
memuaskan karena mula kerjanya lambat dan masa pemulihannya lama. Diazepam juga
digunakan untuk medikasi preanestetik dan untuk mengatasi konvulsi yang disebabkan obat
anestesi local.
Etomidat merupakan anestetik non barbiturat yang digunakan untuk induksi anestesi.
Obat ini tidak berefek analgesic tetapi dapat digunakan untuk anestesi dengan teknik infuse
terus menerus bersama fentanil atau secara intermiten. Dosis induksi eto-midat menurunkan
curah jantung , isi sekuncup dan tekanan arteri serta meningkat-kan frekuensi denyut jantung
akibat kompensasi. Etomidat menurunkn aliran darah otak (35-50%), kecepatan metabolism
otak, dan tekanan intracranial, sehingga anestetik ini mungkin berguna pada bedah
saraf.Etomidat menyebabkan rasa nyeri ditempat nyeri di tempat suntik yang dapat diatasi
dengan menyuntikkan cepat pada vena besar, atau diberikan bersama medikasi preanestetik
seperti meperidin.
Propofol secara kimia tak ada hubungannya dengan anestetik intravena lain. Zat ini
berupa minyak pada suhu kamar dan disediakan sebagai emulsi 1%. Efek pemberian anestesi
umum intravena propofol (2 mg/kg) menginduksi secara cepat seperti tiopental. Rasa nyeri
kadang terjadi ditempat suntikan, tetapi jarang disertai dengan thrombosis. Propofol
menurunkan tekanan arteri sistemik kira-kira 80% tetapi efek ini lebih disebabkan karena
vasodilatasi perifer daripada penurunan curah jantung. Tekanan sistemik kembali normal
dengan intubasi trakea. Propofol tidak merusak fungsi hati dan ginjal. Aliran darah ke otak,
metabolism otak, dan tekanan intracranial akan menurun. Biasanya terdapat kejang.

Tahapan Anestesi Umum


Tahapan anestesi sangat penting untuk diketahui terutama dalam menentukan tahapan terbaik
untuk melakukan pembedahan, memelihara tahapan tersebut sampai batas waktu tertentu, dan
mencegah terjadinya kelebihan dosis anestetikum. Tahapan anestesi dapat dibagi dalam beberapa
langkah, yaitu: preanestesi, induksi, pemeliharaan, dan pemulihan (McKelvey dan Hollingshead
2003).
Tahap preanestesi merupakan tahapan yang dilakukan segera sebelum dilakukan anestesi,
dimana data tentang pasien dikumpulkan, pasien dipuasakan, serta dilakukan pemberian
preanestetikum. Induksi adalah proses dimana hewan akan melewati tahap sadar yang normal
atau conscious menuju tahap tidak sadar atau unconscious. Agen induksi dapat diberikan secara
injeksi atau inhalasi. Apabila agen induksi diberikan secara injeksi maka akan diikuti dengan
intubasi endotracheal tube untuk pemberian anestetikum inhalasi atau gas menggunakan mesin
anestesi. Waktu minimum periode induksi biasanya 10 menit apabila diberikan secara intramuskular
(IM) dan sekitar 20 menit apabila diberikan secara subkutan (SC). Tahap induksi ditandai dengan
gerakan tidak terkoordinasi, gelisah dan diikuti dengan relaksasi yang cepat serta kehilangan
kesadaran. Idealnya, keadaan gelisah dan tidak tenang dihindarkan pada tahap induksi, karena
menyebabkan terjadinya aritmia jantung.
Preanestesi dan induksi anestesi dapat diberikan secara bersamaan, seperti pemberian
acepromazin, atropine, dan ketamine dicampur dalam satu alat suntik dan diberikan secara intravena
(IV) pada anjing. (Adams 2001; McKelvey dan Hollingshead 2003; Tranquilli et al. 2007).
Selanjutnya hewan akan memasuki tahap pemeliharaan status teranestesi. Pada tahap
pemeliharaan ini, status teranestesi akan terjaga selama masa tertentu dan pada tahap inilah
pembedahan atau prosedur medis dapat dilakukan. Tahap pemeliharaan dapat dilihat dari tanda-
tanda hilangnya rasa sakit atau analgesia, relaksasi otot rangka, berhenti bergerak, dilanjutkan
dengan hilangnya refleks palpebral, spingter ani longgar, serta respirasi dan kardiovaskuler tertekan
secara ringan. Begitu mulai memasuki tahap pemeliharaan, respirasi kembali teratur dan gerakan
tanpa sengaja anggota tubuh berhenti. Bola mata akan bergerak menuju ventral, pupil mengalami
konstriksi, dan respon pupil sangat ringan. Refleks menelan sangat tertekan sehingga endotracheal
tube sangat mudah dimasukkan, refleks palpebral mulai hilang, dan kesadaran mulai hilang. Anestesi
semakin dalam sehingga sangat nyata menekan sirkulasi dan respirasi. Pada anjing dan kucing,
kecepatan respirasi kurang dari 12 kali per menit dan respirasi semakin dangkal. Denyut jantung
sangan rendah dan pulsus sangat menurun karena terjadi penurunan seluruh tekanan darah. Nilai
CRT akan meningkat menjadi 2 atau 3 detik. Semua refleks tertekan secara total dan terjadi relaksasi
otot secara sempurna serta refleks rahang bawah sangat kendor. Apabila anestesi dilanjutkan lebih
dalam, pasien akan menunjukkan respirasi dan kardiovaskuler lebih tertekan dan pada keadaan dosis
anestetikum berlebih akan menyebabkan respirasi dan jantung berhenti. Dengan demikian, pada
tahap pemeliharaan sangat diperlukan pemantauan dan pengawasan status teranestesi terhadap
sistim kardiovaskuler dan respirasi (McKelvey dan Hollingshead 2003; Tranquilli et al. 2007 ).
Ketika tahap pemeliharaan berakhir, hewan memasuki tahap pemulihan yang menunjukkan
konsentrasi anestetikum di dalam otak mulai menurun. Metode atau mekanisme bagaimana
anestetikum dikeluarkan dari otak dan sistem sirkulasi adalah bervariasi tergantung pada anestetikum
yang digunakan. Sebagian besar anestetikum injeksi dikeluarkan dari darah melalui hati dan
dimetabolisme oleh enzim di hati dan metabolitnya dikeluarkan melalui sistem urinari. Pada hewan
kucing, ketamine tidak mengalami metabolisme dan dikeluarkan langsung tanpa perubahan melalui
ginjal. Kadar anestetikum golongan tiobarbiturat di dalam otak dapat dengan cepat menurun karena
dengan cepat disebarkan ke jaringan terutama otot dan lemak, sehingga hewan akan sadar dan
terbangun dengan cepat mendahului ekskresi anestetikum dari dalam tubuh hewan. Anestetikum
golongan inhalasi akan dikeluarkan dari tubuh pasien melalui sistem respirasi, molekul anestetikum
akan keluar dari otak memasuki peredaran darah, alveoli paru-paru, dan akhirnya dikeluarkan melalui
nafas. Tanda tanda adanya aktivitas refleks, ketegangan otot, sensitivitas terhadap nyeri pada
periode pemulihan dinyatakan sebagai kesadaran kembali (McKelvey dan Hollingshead 2003).
Durasi atau lama waktu kerja anestetikum dan kualitas anestesi dapat dilihat dari pengamatan
perubahan fisiologis selama stadium teranestesi. Dikenal dua waktu induksi pada durasi anestesi.
Waktu induksi 1 adalah waktu antara anestetikum diinjeksikan sampai keadaan hewan tidak dapat
berdiri. Waktu induksi 2 adalah waktu antara anestetikum diinjeksikan sampai keadaan hewan tidak
ada refleks pedal atau hewan sudah tidak merasakan sakit (stadium operasi). Durasi adalah waktu
ketika hewan memasuki stadium operasi sampai hewan sadar kembali dan merasakan sakit jika
daerah disekitar bantalan jari ditekan. Waktu siuman atau recovery adalah waktu antara ketika hewan
memiliki kemampuan merasakan nyeri bila syaraf disekitar jari kaki ditekan atau mengeluarkan suara
sampai hewan memiliki kemampuan untuk duduk sternal, berdiri atau jalan (Moens dan Fargetton
1990; Verstegen dan Petcho 1993; McKelvey dan Hollingshead 2003).
McKelvey dan Hollingshead (2003) dan Tranquilli et al. (2007) menyatakan bahwa untuk
memonitor anestesi dilakukan pengamatan tahap-tahap anestesi umum. Kualitas status teranestesi
dapat dilihat dari perubahan fisiologis sebagai tanda kedalaman anestesi, seperti disajikan pada
Tabel 1.
Tabel 1 Tahapan dan indikasi status teranestesi oleh anestetikum umum
Fase/Taha I II III Plane III Plane III Plane III Plane IV
pan 1 2 3 4
Indikator
Tingkah Tidak Eksitasi: kuat, Teranest Teranest Teranest Teranest Hampir
laku terkontr bersuara, esi esi esi esi mati
ol anggora gerak,
mengunyahterng
anga.
Respirasi Normal, Tidak teratur, Teratur: Teratur, Dangkal: Putus- Apnea
cepat tertahan atau 12- dangkal: <12x/mnt putus (berhe
20- hiper-ventilasi 20x/mnt 12- (ada nti)
30x/mnt 16x/mnt berhenti)
Fungsi Tetap denyut jantung Pulse denyut Denyut Denyut Kollap
Kardio- meningkat kuat, jantung jantung jantung
vaskuler denyut >90x/mnt 60- <60x/mnt
jantung 90/mnt, , CRT
>90x/mnt CRT lama,
meningk membra
at, Pulse n pucat.
lemah
Respon Kuat Kuat Ada Denyut Tidak Tidak Tidak
bedah/ respon jantung ada ada ada
insisi dengan dan
gerakan respirasi
meningk
at
Kedalaman Tidak Tidak teranestesi Dangkal Sedang Dalam Over Mati
anestesi teranest dosis
esi
Posisi Tengah Tengah, tidak Tengah, Sering Ditengah Tengah Tengah
Bola mata tetap rotasi, rotasi di , rotasi di
tidak ventral ventral
tetap
Ukuran Normal Mungkin Normal Dilatasi Dilatasi Dilatasi Dilatasi
Pupil berdilatasi ringan sedang lebar lebar
Respon (+) (+) (+) Lambat Sangat (-) (-)
Pupil lambat,
(-).
Kejangan Baik Baik Baik Relaksas Sangat Lembek Lembe
Otot i menurun k
Refleks Ada Ada, mungkin Ringan, Ada Semua Tidak Tidak
berlebih hilang (patella, minimal, ada ada
telinga, hilang
palpebral
,
kornea),
yang lain
hilang

Stadiun 1 atau stadium analgesi adalah stadium awal anestesi yang terjadi segera setelah
dilakukan anestesi secara inhalasi atau injeksi. Hewan pada stadium ini masih sadar tetapi
kehilangan orientasi dan menurunnya sensitifitas terhadap rasa nyeri. Respirasi dan denyut jantung
masih normal atau meningkat, dan semua refleks masih ada; Stadium 2 atau stadium delirium atau
eksitasi adalah stadium yang dimulai dari hilangnya kesadaran. Semua refleks masih ada dan bisa
muncul berlebihan. Hewan masih dapat mengunyah, menelan, dan mulut umumnya menganga.
Kondisi pupil yang dilatasi tetapi akan berkontriksi apabila ada rangsangan sinar. Stadium ini berjalan
cepat dan bahkan akan terlewati apabila diberikan preanestesi yang baik. Stadium 2 akan berakhir
apabila hewan menunjukkan tanda relaksasi otot, respirasi menurun, dan terjadi penurunan refleks;
Stadium 3 atau stadium pembedahan adalah stadium melakukan tindakan bedah dan dibagi menjadi
empat plane, yaitu plane 1 atau anestesi ringan, plane 2 atau anestesi pembedahan, plane 3 atau
anestesi dalam, dan plane 4 atau paralisa; dan Stadium 4 atau stadium terminal (stadium kelebihan
dosis).

Metode anastesi umum dilihat dari cara pemberian obat


I.Parenteral
Anastesi umum yang diberikan secara parenteral baik intravena maupun intra muscular
biasanya digunakan untuk tindakan yang singkat/ untuk tindakan yang singkat atau untuk
indikasi anesthesia. Keuntungan pemberian anestetik intravena adalah cepat dicapai induksi
dan pemulihan, sedikit komplikasi pasca anestetikjarang terjadi, tetapi efek analgesic dan
relaksasi otot rangka sangat lemah. Obat yang umum dipakai adalah thiopental, barbiturat,
ketamin, droperidol dan fentanil. Kecuali untuk kasus-kasus tertentu dapat digunakan
ketamin, diazepam, dll. Untuk tindakan yang lama biasanya dikombinasi dengan obat
anestetika lain.
II.Perektal
Anastesi umum yang diberikan melalui rectal kebanyakan dipakai pada anak, terutama
untuk induksi anesthesia atau tindakan singkat.
III. Perinhalasi, melalui pernafasan
Anastesia inhalasi ialah anesthesia dengan menggunakan gas atau cairan anestetika
yang mudah menguap (volatile agent) sebagai zat anestetika melalui dara pernafasan. Zat
anestetika yang dipergunakan berupa suatu campuran gas (dengan O2) dan konsentrasi zat
anestetika tersebut tergantung dari tekanan parsial dalam jaringan otak menentukan kekuatan
daya Anastasia,zat anastetika disebut kuat bila dengan tekanan parsial rendah sudah mampu
memberi anastesia yang adekuat. Anestetik inhalasi berbentuk gas atau cairan yang menguap
berbeda-beda dalam hal potensi, keamanan dan kemampuan untuk menimbulkan analgesia
dan relaksasi otot rangka.
Anastesia inhalasi masuk dengan inhalasi atau inspirasi melalui peredaran darah sampai
ke jaringan otak. Inhalasi gas (N2O etilen siklopropan) anestetika menguap (eter, halotan,
fluotan, metoksifluran, etilklorida, trikloretilen dan fluroksen)
Faktor-faktor lain seperti respirasi, sirkulasi dan sifat-sifat. Fisik zat anestetika
mempengaruhi kekuatan manapun kecepatan anastesia.

DAFTAR PUSTAKA

 Hughes, J.M.L. 2008. Anaesthesia for the geriatric dog and cat. 61. Irish
Veterinary..............02.
 Richard Bednarski, MS, DVM, DACVA (Chair), Kurt Grimm, DVM, MS, PhD, DACVA,
DACVCP, Ralph Harvey, DVM, MS, DACVA, Victoria M. Lukasik, DVM, DACVA, W.
Sean Penn, DVM, DABVP (Canine/Feline),Brett Sargent, DVM, DABVP (Canine/Feline),
Kim Spelts, CVT, VTS, CCRP (Anesthesia), Robert Smith, MD. 2011. AAHA Anesthesia
Guidelines for Dogs and Cats. VETERINARY PRACTICE GUIDELINES.
377. www.JAAHA.ORG. 02.