Anda di halaman 1dari 17

DAMPAK KORUPSI TERHADAP PENEGAKAN

HUKUM

OLEH

KELAS 1.A

MADE AYU RYAS PRIHATINI P07120216014

NI LUH ADE SERIASIH P07120216015

NI MADE RASITA PUSPITASWARI P07120216016

NI LUH PUTU ARY APRILIYANTI P07120216017

NI MADE TARIANI P07120216018

PUTU INDAH PERMATA SARI P07120216019

NI PUTU NOVIA HARDIYANTI P07120216020

KEMENTRIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN DIV KEPERAWATAN
TAHUN AKADEMIK
2016/2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Ida Sang
Hyang WidhiWasa, atas karunianya kami dapat menyelesaikan makalah
yangberjudul “DAMPAK KORUPSI DALAM PENEGAKAN HUKUM”
dengan baik dan lancar. Atas dukungan moral dan materil yang diberikan dalam
penyusunan makalah ini, maka penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-
pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini.
Harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, dan bermanfaat di masyarakat.
Penulis menyadari bahwa makalah ini belumlah sempurna. Oleh karena
itu, saran dan kritik yang membangun sangat dibutuhkan untuk penyempurnaan
makalah ini.

Denpasar, 9 Februari 2017

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................. ii


DAFTAR ISI ............................................................... Error! Bookmark not defined.
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................. 1
A. Latar Belakang ................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .............................................................................................. 3
C. Tujuan Penulisan ................................................................................................ 3
D. Manfaat Penulisan .............................................................................................. 4
BAB II PEMBAHASAN .............................................................................................. 5
A. Pengertian Korupsi ............................................................................................. 5
BAB III PENUTUP .................................................................................................... 13
A. Kesimpulan ...................................................................................................... 13
B. Saran ................................................................................................................. 13
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 14

iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Korupsi di tanah negeri, ibarat “warisan haram” tanpa surat wasiat. Ia
tetap lestari sekalipun diharamkan oleh aturan hukum yang berlaku dalam tiap
orde yang datang silih berganti. Hampir semua segi kehidupan terjangkit
korupsi. Apabila disederhanakan penyebab korupsi meliputi dua faktor yaitu
faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan penyebab
korupsi yang datang dari diri pribadi sedang faktor eksternal adalah faktor
penyebab terjadinya korupsi karena sebab-sebab dari luar. Faktor internal
terdiri dari aspek moral, misalnya lemahnya keimanan, kejujuran, rasa malu,
aspek sikap atau perilaku misalnya pola hidup konsumtif dan aspek sosial
seperti keluarga yang dapat mendorong seseorang untuk berperilaku korup.
Faktor eksternal bisa dilacak dari aspek ekonomi misalnya pendapatan atau gaji
tidak mencukupi kebutuhan, aspek politis misalnya instabilitas politik,
kepentingan politis, meraih dan mempertahankan kekuasaan, aspek
managemen & organisasi yaitu ketiadaan akuntabilitas dan transparansi, aspek
hukum, terlihat dalam buruknya wujud perundang-undangan dan lemahnya
penegakkan hukum serta aspek sosial yaitu lingkungan atau masyarakat yang
kurang mendukung perilaku anti korupsi.
Kemajuan suatu negara sangat ditentukan oleh kemampuan dan
keberhasilannya dalam melaksanakan pembangunan. Pembangunan sebagai
suatu proses perubahan yang direncanakan mencakup semua aspek kehidupan
masyarakat. Efektifitas dan keberhasilan pembangunan terutama ditentukan
oleh dua faktor, yaitu sumber daya manusia, yakni (orang-orang yang
terlibatsejak dari perencanaan samapai pada pelaksanaan) dan pembiayaan.
Diantaradua faktor tersebut yang paling dominan adalah faktor
manusianya.Indonesia merupakan salah satu negara terkaya di Asia dilihat dari
keanekaragaman kekayaan sumber daya alamnya. Tetapi ironisnya,

1
negaratercinta ini dibandingkan dengan negara lain di kawasan Asia bukanlah
merupakan sebuah negara yang kaya malahan termasuk negara yang
miskin.Mengapa demikian? Salah satu penyebabnya adalah rendahnya kualitas
sumber daya manusianya. Kualitas tersebut bukan hanya dari segi pengetahuan
atau intelektualnya tetapi juga menyangkut kualitas moral dan kepribadiannya.
Rapuhnya moral dan rendahnya tingkat kejujuran dari aparat penyelenggara
negara menyebabkan terjadinya korupsi.Korupsi di Indonesia dewasa ini sudah
merupakan patologi social (penyakit social) yang sangat berbahaya yang
mengancam semua aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Korupsi telah mengakibatkan kerugian materiil keuangan negara yang sangat
besar. Namun yang lebih memprihatinkan lagi adalah terjadinya perampasan
dan pengurasankeuangan negara yang dilakukan secara kolektif oleh kalangan
anggotalegislatif dengan dalih studi banding, THR, uang pesangon dan
lainsebagainya di luar batas kewajaran.
Bentuk perampasan dan pengurasan keuangan negara demikian terjadi
hampir di seluruh wilayah tanah air. Hal itu merupakan cerminan rendahnya
moralitas dan rasa malu, sehingga yang menonjol adalah sikap kerakusan dan
aji mumpung. Persoalannya adalah dapatkah korupsi diberantas? Tidak ada
jawaban lain kalau kita ingin maju, adalah korupsi harus diberantas. Jika kita
tidak berhasil memberantas korupsi,atau paling tidak mengurangi sampai pada
titik nadir yang paling rendahmaka jangan harap Negara ini akan mampu
mengejar ketertinggalannya dibandingkan negara lain untuk menjadi sebuah
negara yang maju. Karena korupsi membawa dampak negatif yang cukup luas
dan dapat membawa negara ke jurang kehancuran.Dalam arti yang luas, korupsi
atau korupsi politis adalah penyalahgunaan jabatan resmi untuk keuntungan
pribadi.
Semua bentuk pemerintah pemerintahan rentan korupsi dalam
prakteknya. Beratnya korupsi berbeda-beda, dari yang paling ringan dalam
bentuk penggunaan pengaruh dan dukungan untuk memberi dan menerima
pertolongan, sampai dengan korupsi berat yang diresmikan, dan sebagainya.

2
Titik ujung korupsi adalah kleptokrasi, yang arti harafiahnya pemerintahan oleh
para pencuri, di mana pura-pura bertindak jujur pun tidak ada sama sekali.
Korupsi yang muncul di bidang politik dan birokrasi bisa berbentuk sepele atau
berat, terorganisasi atau tidak. Walau korupsi sering memudahkan kegiatan
kriminal seperti penjualan narkotika, pencucian uang, dan prostitusi, korupsi
itu sendiri tidak terbatas dalam hal-hal ini saja. Untuk mempelajari masalah ini
dan membuat solusinya, sangat penting untuk membedakan antara korupsi dan
kriminalitas kejahatan.

B. Rumusan Masalah
Dalam suatu karangan ilmiah haruslah disusun secara sistematis dan
runtutan sesuai dengan ketentuan yang ada. Maka dari itu perlu penyusunan
suatu rumusan masalah yang menjadi batu pijak untuk pembahasan makalah
ini. Adapun rumusan masalah ialah sebagai berikut:
1. Apakah yang dimaksud dengan korupsi?
2. Bagaimana problematika penegakan hukum tindak pidana korupsi?
3. Apa saja dampak korupsi terhadap penegakan hukum?

C. Tujuan Penulisan
A. Tujuan Umum
-Untuk mengetahui dampak korupsi terhadap penegakan hukum
-Untuk memenuhi tugas pendidikan budaya anti korupsi
B. Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui pengertian korupsi
2. Untuk mengetahui problematika penegakan hukum tindak pidana
korupsi
3. Untuk mengetahui dampak korupsi terhadap penegakan hokum

3
D. Manfaat Penulisan
A. Manfaat teoritis
Secara teoritis makalah ini bermanfaat untuk menambah wawasan
faktor internal terjadinya korupsi .
B. Manfaat praktis
Dapat dijadiakan sebagai bahan pertimbangan atau dikembangkan
lebih lanjut, serta referensi terhadap penelitian yang sejenisnya.

4
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Korupsi
Korupsi di tanah negeri, ibarat “warisan haram” tanpa surat wasiat. Ia
tetap lestari sekalipun diharamkan oleh aturan hukum yang berlaku dalam tiap
orde yang datang silih berganti. Hampir semua segi kehidupan terjangkit
korupsi. Apabila disederhanakan penyebab korupsi meliputi dua faktor yaitu
faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan penyebab
korupsi yang datang dari diri pribadi sedang faktor eksternal adalah faktor
penyebab terjadinya korupsi karena sebab-sebab dari luar. Faktor internal
terdiri dari aspek moral, misalnya lemahnya keimanan, kejujuran, rasa malu,
aspek sikap atau perilaku misalnya pola hidup konsumtif dan aspek sosial
seperti keluarga yang dapat mendorong seseorang untuk berperilaku korup.
Faktor eksternal bisa dilacak dari aspek ekonomi misalnya pendapatan atau
gaji tidak mencukupi kebutuhan, aspek politis misalnya instabilitas politik,
kepentingan politis, meraih dan mempertahankan kekuasaan, aspek
managemen & organisasi yaitu ketiadaan akuntabilitas dan transparansi, aspek
hukum, terlihat dalam buruknya wujud perundang-undangan dan lemahnya
penegakkan hukum serta aspek sosial yaitu lingkungan atau masyarakat yang
kurang mendukung perilaku anti korupsi.
Kemajuan suatu negara sangat ditentukan oleh kemampuan dan
keberhasilannya dalam melaksanakan pembangunan. Pembangunan sebagai
suatu proses perubahan yang direncanakan mencakup semua aspek kehidupan
masyarakat. Efektifitas dan keberhasilan pembangunan terutama ditentukan
oleh dua faktor, yaitu sumber daya manusia, yakni (orang-orang yang
terlibatsejak dari perencanaan samapai pada pelaksanaan) dan pembiayaan.
Diantaradua faktor tersebut yang paling dominan adalah faktor
manusianya.Indonesia merupakan salah satu negara terkaya di Asia dilihat dari
keanekaragaman kekayaan sumber daya alamnya. Tetapi ironisnya,

5
negaratercinta ini dibandingkan dengan negara lain di kawasan Asia bukanlah
merupakan sebuah negara yang kaya malahan termasuk negara yang
miskin.Mengapa demikian? Salah satu penyebabnya adalah rendahnya
kualitas sumber daya manusianya. Kualitas tersebut bukan hanya dari segi
pengetahuan atau intelektualnya tetapi juga menyangkut kualitas moral dan
kepribadiannya.
Rapuhnya moral dan rendahnya tingkat kejujuran dari aparat
penyelenggara negara menyebabkan terjadinya korupsi.Korupsi di Indonesia
dewasa ini sudah merupakan patologi social (penyakit social) yang sangat
berbahaya yang mengancam semua aspek kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara. Korupsi telah mengakibatkan kerugian materiil
keuangan negara yang sangat besar. Namun yang lebih memprihatinkan lagi
adalah terjadinya perampasan dan pengurasankeuangan negara yang dilakukan
secara kolektif oleh kalangan anggotalegislatif dengan dalih studi banding,
THR, uang pesangon dan lainsebagainya di luar batas kewajaran.
Bentuk perampasan dan pengurasan keuangan negara demikian terjadi
hampir di seluruh wilayah tanah air. Hal itu merupakan cerminan rendahnya
moralitas dan rasa malu, sehingga yang menonjol adalah sikap kerakusan dan
aji mumpung. Persoalannya adalah dapatkah korupsi diberantas? Tidak ada
jawaban lain kalau kita ingin maju, adalah korupsi harus diberantas. Jika kita
tidak berhasil memberantas korupsi,atau paling tidak mengurangi sampai pada
titik nadir yang paling rendahmaka jangan harap Negara ini akan mampu
mengejar ketertinggalannya dibandingkan negara lain untuk menjadi sebuah
negara yang maju. Karena korupsi membawa dampak negatif yang cukup luas
dan dapat membawa negara ke jurang kehancuran.Dalam arti yang luas,
korupsi atau korupsi politis adalah penyalahgunaan jabatan resmi untuk
keuntungan pribadi.
Semua bentuk pemerintah pemerintahan rentan korupsi dalam prakteknya.
Beratnya korupsi berbeda-beda, dari yang paling ringan dalam bentuk
penggunaan pengaruh dan dukungan untuk memberi dan menerima

6
pertolongan, sampai dengan korupsi berat yang diresmikan, dan sebagainya.
Titik ujung korupsi adalah kleptokrasi, yang arti harafiahnya pemerintahan
oleh para pencuri, di mana pura-pura bertindak jujur pun tidak ada sama sekali.
Korupsi yang muncul di bidang politik dan birokrasi bisa berbentuk sepele
atau berat, terorganisasi atau tidak. Walau korupsi sering memudahkan
kegiatan kriminal seperti penjualan narkotika, pencucian uang, dan prostitusi,
korupsi itu sendiri tidak terbatas dalam hal-hal ini saja. Untuk mempelajari
masalah ini dan membuat solusinya, sangat penting untuk membedakan antara
korupsi dan kriminalitas kejahatan.

B. Problematika Penegakan Hukum Tindak Pidana Korupsi di Tengah


Masyarakat.
Masalah utama penegakan hukum di negara-negara berkembang
khususnya Indonesia bukanlah pada sistem hukum itu sendiri, melainkan pada
kualitas manusia yang menjalankan hukum (penegak hukum). Dengan
demikian peranan manusia yang menjalankan hukum itu (penegak hukum)
menempati posisi strategis. Masalah transparansi penegak hukum berkaitan
erat dengan akuntabilitas kinerja lembaga penegak hukum. Undang-undang
No. 28 tahun 1999 tentang penyelenggara negara yang bersih dan bebas dari
korupsi, kolusi dan nepotisme, telah menetapkan beberapa asas. Asas-asas
tersebut mempunyai tujuan, yaitu sebagai pedoman bagi para penyelenggara
negara untuk dapat mewujudkan penyelenggara yang mampu menjalankan
fungsi dan tugasnya secara sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab.
Penegak hukum merupakan golongan panutan dalam masyarakat, yang
hendaknya mempunyai kemampuan-kemampuan tertentu, sesuai dengan
aspirasi masyarakat. Mereka harus dapat berkomunikasi dan mendapatkan
pengertian dari golongan sasaran (masyarakat), di samping mampu
membawakan atau menjalankan peranan yang dapat diterima oleh mereka.
Selain itu, maka golongan panutan harus dapat memanfaatkan unsur-unsur
pola tradisional tertentu, sehingga menggairahkan partispasi dari golongan

7
sasaran atau masyarakat luas. Golongan panutan juga harus dapat memilih
waktu dan lingkungan yang tepat di dalam memperkenalkan norma-norma
atau kaidah-kaidah hukum yang baru serta memberikan keteladanan yang
baik.
Namun sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa salah satu
penyebab lemahnya penegakan hukum di Indonesia adalah masih rendahnya
moralitas aparat penegak hukum (hakim, polisi, jaksa dan advokat ) serta
judicial corruption yang sudah terlanjur mendarah daging sehingga sampai
saat ini sulit sekali diberantas. Adanya judicial corruption jelas menyulitkan
penegakan hukum di Indonesia karena para penegak hukum yang seharusnya
menegakkan hukum terlibat dalam praktek korupsi, sehingga sulit diharapkan
bisa ikut menciptakan good governance. Penegakan hukum hanya bisa
dilakukan apabila lembaga-lembaga hukum (hakim, jaksa, polis dan advokat)
bertindak profesional, jujur dan menerapkan prinsip-prinsip good governance.
Beberapa permasalahan mengenai penegakan hukum, tentunya tidak dapat
terlepas dari kenyataan, bahwa berfungsinya hukum sangatlah tergantung pada
hubungan yang serasi antara hukum itu sendiri, penegak hukum, fasilitasnya
dan masyarakat yang diaturnya. Kepincangan pada salah satu unsur, tidak
menutup kemungkinan akan mengakibatkan bahwa seluruh sistem akan
terkena pengaruh negatifnya.Misalnya, kalau hukum tertulis yang mengatur
suatu bidang kehidupan tertentu dan bidang-bidang lainnya yang berkaitan
berada dalam kepincangan. Maka seluruh lapisan masyarakat akan merasakan
akibat pahitnya.
Penegak hukum yang bertugas menerapkan hukum mencakup ruang
lingkup yang sangat luas, meliputi: petugas strata atas, menengah dan bawah.
Maksudnya adalah sampai sejauhmana petugas harus memiliki suatu pedoman
salah satunya peraturan tertulis yang mencakup ruang lingkup tugasnya.
Dalam penegakkan hukum, menurut Soerjono Soekanto sebagaimana dikutip
oleh Zainuddin Ali, kemungkinan penegak hukum mengahadapi hal-hal
sebagai berikut:

8
a. Sampai sejauhmana petugas terikat dengan peraturan yang ada
b. Sampai batas-batas mana petugas berkenan memberikan kebijakan
c. Teladan macam apakah yang sebaiknya diberikan oleh petugas kepada
masyarakat
d. Sampai sejauhmanakah derajat sinkronisasi penugasan yang diberikan
kepada para petugas sehingga memberikan batas-batas yang tegas pada
wewenangnya.
Lemahnya mentalitas aparat penegak hukum mengakibatkan
penegakkan hukum tidak berjalan sebagaimana mestinya. Banyak faktor yang
mempengaruhi lemahnya mentalitas aparat penegak hukum diantaranya
lemahnya pemahaman agama, ekonomi, proses rekruitmen yang tidak
transparan dan lain sebagainya. Sehingga dapat dipertegas bahwa faktor
penegak hukum memainkan peran penting dalam memfungsikan hukum Kalau
peraturan sudah baik, tetapi kualitas penegak hukum rendah maka akan ada
masalah. Demikian juga, apabila peraturannya buruk sedangkan kualitas
penegak hukum baik, kemungkinan munculnya masalah masih terbuka.
Kondisi riil yang terjadi saat ini di Indonesia mengindikasikan adanya
kegagalan aparat-aparat penegak hukum dalam menegakan hukum. Kegagalan
penegakan hukum secara keseluruhan dapat dilihat dari kondisi
ketidakmampuan (unability) dan ketidakmauan (unwillingness) dari aparat
penegak hukum itu sendiri. Ketidakmampuan penegakan hukum diakibatkan
profesionalisme aparat yang kurang, sedangkan ketidakmauan penegakan
hukum berkait masalah KKN (korupsi kolusi dan nepotisme) yang dilakukan
oleh aparat hukum sudah menjadi rahasia umum.Terlepas dari dua hal di atas
lemahnya penegakan hukum di Indonesia juga dapat kita lihat dari
ketidakpuasan masyarakat karena hukum yang nota benenya sebagai wadah
untuk mencari keadilan bagi masyarakat, tetapi malah memberikan rasa
ketidakadilan.
Lembaga hukum merupakan lembaga penegak keadilan dalam suatu
masyarakat, lembaga di mana masyarakat memerlukan dan mencari suatu

9
keadilan. Idealnya, lembaga hukum tidak boleh sedikitpun bergoyah dalam
menerapkan keadilan yang didasarkan atas ketentuan hukum dan syari’at yang
telah disepakati bersama. Hukum menjamin agar keadilan dapat dijalankan
secara murni dan konsekuen untuk seluruh rakyat tanpa membedakan asal-
usul, warna kulit, kedudukan, keyakinan dan lain sebagainya. Jika keadilan
sudah tidak ada lagi maka masyarakat akan mengalami ketimpangan. Oleh
karena itu, lembaga hukum dalam masyarakat madani harus menjadi tempat
mencari keadilan. Hal ini bisa diciptakan jika lembaga hukum tersebut
dihormati, dijaga dan dijamin integritasnya secara konsekuen.
Jika kita berkaca kepada potret penegakan hukum di Indonesia saat ini
(kembali penulis tegaskan) belumlah berjalan dengan baik, bahkan bisa
dikatakan buruk. Lemahnya penegakan hukum di Indonesia saat ini dapat
tercermin dari berbagai penyelesaian kasus besar yang belum tuntas salah
satunya praktek korupsi yang menggurita, namun ironisnya para pelakunya
sangat sedikit yang terjerat oleh hukum. Kenyataan tersebut justru berbanding
terbalik dengan beberapa kasus yang melibatkan rakyat kecil, dalam hal ini
aparat penegakkan hukum cepat tanggap, karena sebagaimana kita ketahui
yang terlibat kasus korupsi merupakan kalangan berdasi alias para pejabat dan
orang-orang berduit yang memiliki kekuatan (power) untuk menginterfensi
efektifitas dari penegakan hukum itu sendiri.
Realita penegakan hukum yang demikian sudah pasti akan menciderai
hati rakyat kecil yang akan berujung pada ketidakpercayaan masyarakat pada
hukum, khususnya aparat penegak hukum itu sendiri.Sebagaimana sama-sama
kita ketahui para pencari keadilan yang note bene adalah masyarakat kecil
sering dibuat frustasi oleh para penegak hukum yang nyatanya lebih memihak
pada golongan berduit. Sehingga orang sering menggambarkan kalau hukum
Indonesia seperti jaring laba-laba yang hanya mampu menangkap hewan-
hewan kecil, namun tidak mampu menahan hewan besar tetapi hewan besar
tersebutlah yang mungkin menghancurkan seluruh jaring laba-laba.

10
Problematika penegakan hukum yang mengandung unsur
ketidakadilan tersebut mengakibatkan adanya isu mafia peradilan, keadilan
dapat dibeli, munculnya bahasa-bahasa yang sarkastis dengan plesetan
HAKIM (Hubungi Aku Kalau Ingin Menang), KUHAP diplesetkan sebagai
Kurang Uang Hukuman Penjara, tidaklah muncul begitu saja. Kesemuanya ini
merupakan “produk sampingan” dari bekerjanya lembaga-lembaga hukum itu
sendiri. Ungkap-ungkapan ini merupakan reaksi dari rasa keadilan masyarakat
yang terkoyak karena bekerja lembaga-lembaga hukum yang tidak profesional
maupun putusan hakim/putusan pengadilan yang semata-mata hanya
berlandaskan pada aspek yuridis. Berlakunya hukum di tengah-tengah
masyarakat, mengemban tujuan untuk mewujudkan keadilan, kepastian
hukum dan kemanfaatan dan pemberdayaan sosial bagi masyarakatnya.

C. Dampak Korupsi Terhadap Penegakan Hukum


Sejak lahirnya UU No. 24/PrP/1960 berlaku sampai 1971, setelah
diungkapkannya Undang-undang pengganti yakni UU No. 3 pada tanggal 29
Maret 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Baik pada waktu
berlakunya kedua undang-undang tersebut dinilai tidak mampu berbuat
banyak dalam pemberantasan korupsi di Indonesia. Hal ini disebabkan karena
undang-undang yang dibuat dianggap tidak sempurna yaitu sesuai dengan
perkembangan zaman, padahal undang-undang seharusnya dibuat dengan
tingkat prediktibilitas yang tinggi. Namun pada saat membuat peraturan
perundang-undangan ditingkat legislatif terjadi sebuah tindak pidana korupsi
baik dari segi waktu maupun keuangan. Dimana legislatif hanya memakan gaji
semu yang diperoleh mereka ketika melakukan rapat. Sehingga apa yang
dituangkan dalam peraturan perundang-undangan itu hanya melindungi kaum
pejabat saja dan mengabaikan masyarakat.
Menyikapi hal seperti itu pada tahun 1999 dinyatakan undang-undang
yang dianggap lebih baik, yaitu UU No.31 tahun 1999 yang kemudian diubah
dengan UU No. 20 tahun 2001 sebagai pengganti UU No. 3 tahun 1971.

11
kemudian pada tanggal 27 Desember telah dikeluarkan UU No. 30 tahun 2002
Tentang Komisi Pemberantasan Korupsi, yaitu sebuah lembaga negara
independen yang berperan besar dalam pemberantasan korupsi di Indonesia.
Hal ini berarti dengan dikeluarkannya undang-undang dianggap lebih
sempurna, maka diharapkan aparat penegak hukum dapat menegakkan atau
menjalankan hukum tersebut dengan sempurna. Akan tetapi yang terjadi pada
kenyataannya adalah budaya suap telah menggerogoti kinerja aparat penegak
hukum dalam melakukan penegakkan hukum sebagai pelaksanaan produk
hukum di Indonesia. Secara tegas terjadi ketidaksesuaian antara undang-
undang yang dibuat dengan aparat penegak hukum, hal ini dikarenakan
sebagai kekuatan politik yang melindungi pejabat-pejabat negara. Sejak
dikeluarkannya undang-undang tahun 1960, gagalnya pemberantasan korupsi
disebabkan karena pejabat atau penyelenggara negara terlalu turut campur
dalam pemberantasan urusan penegakkan hukum yang mempengaruhi dan
mengatur proses jalannya peradilan. Dengan hal yang demikian berarti
penegakan hukum tindak pidana di Indonesia telah terjadi feodalisme hukum
secara sistematis oleh pejabat-pejabat negara. Sampai sekarang ini banyak
penegak hukum dibuat tidak berdaya untuk mengadili pejabat tinggi yang
melakukan korupsi. Dalam domen logos, pejabat tinggi yang korup mendapat
dan menikmati privilege karena mendapat perlakuan yang istimewa, dan pada
domen teknologos, hukum pidana korupsi tidak diterapkan adanya pretrial
sehingga banyak koruptor yang diseret ke pengadilan dibebaskan dengan
alasan tidak cukup bukti.

12
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Semua bentuk korupsi dicirkan tiga aspek. Pertama pengkhianatan
terhadap kepercayaan atau amanah yang diberikan, kedua penyalahgunaan
wewenang, pengambilan keuntungan material ciri-ciri tersebut dapat
ditemukan dalam bentuk-bentuk korupsi yang mencangkup penyapan
pemersasn, penggelapan dan nepotisme
Kesemua jenis ini apapun alasannya dan motivasinya merupakan
bentuk pelanggaran terhadap norma-norma tanggung jawab dan menyebabkan
kerugian bagi badan-badan negara dan publik.

B. Saran
Dengan penulis makalah ini, penulis mengharapkan kepada pembaca
agar dapat memilih manfaat yang tersirat didalamnya dan dapat dijadikan
sebagai kegiatan motivasi agar kita tidak terjerumus oleh hal-hal korupsi dan
dapat menambah wawasan dan pemikiran yang intelektual hususnya dalam
mata kuliah anti korupsi”.

13
DAFTAR PUSTAKA

Soleman B. Taneko, Pokok-Pokok Studi Hukum dalam Masyarakat, (Jakarta:


PT RajaGrafindo Persada, 1993), hlm. 76
Satjipto Rahardjo, Hukum dan Masyarakat, Cet. keempat, (Bandung: Penerbit
Angkasa, 1980), hlm. 65
Soerjono Soekanto, Pokok-Pokok Sosiologi Hukum, Cet. Kedua belas,
(Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2002), hlm. 101
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan
Korupsi

14

Anda mungkin juga menyukai