Anda di halaman 1dari 47

LAPORAN

ON JOB TRAINING DAN ASSESMENT


LAPANGAN PEMBINAAN AHLI K3 LISTRIK
PT INDONESIA POWER UPJP BALI, SUB UNIT
PLTU BARRU
Disusun Dalam Rangka Syarat Kelulusan

Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI

Tentang

Calon Ahli K3 Listrik

DISUSUN OLEH :

NAMA : SLAMET MUJI RAHARJO

NIP : 841022099I

JABATAN : PLT. SUPERVISOR SENIOR PEMELIHARAAN PLTU


BARRU

TAHUN 2015
LEMBAR PENGESAHAN

JUDUL : Laporan on job training dan assesment lapangan pembinaan ahli k3 listrik
PT Indonesia Power UPJP Bali, sub unit PLTU Barru, PJK3 dan
Kemenakertrans-RI
Nama : Slamet Muji Raharjo
NIP : 841022099I
Jabatan : PLT Supervisor Senior Pemeliharaan PLTU Barru, UPJP BALI

Diperiksan dan Disetujui, Makassar, 16 Desember 2015


Atasan, Peserta

Lukman Dahri Slamet Muji Raharjo


NIP : 760221080I NIP : 841022099I

2
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan Kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah-
Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Laporan on job training dan
assesment lapangan pembinaan ahli k3 listrik PT Indonesia Power UPJP Bali, sub unit
PLTU Barru, PJK3 dan Kemenakertrans-RI
Laporan ini ditulis berdasarkan kegiatan On job training yang yang berlangsung
selama 3 hari ( 14-16 Desember 2015) di Unit Pembangkitan dan Jasa Pembangkitan Bali,
Sub Unit PLTU Barru dan sebagai lanjutan dari pendidikan ahli K3 Listrik. Pada
kesempatan kali ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Orang tua dan keluarga yang selalu memberi support selama mengikuti
pendidikan dan penyelesaian penulisan laporan ini.
2. Istriku tercinta Ganis Nugraheni Purnamawati yang selalu memberikan dukungan
dan kasih sayangnya sehingga penulis selalu semangat dalam menyelesaikan
laporan ini.
3. Rekan–rekan Pemeliharaan PLTU Barru yang selalu membantu.
4. Manajemen Unit Pembangkitan PLTU BARRU yang telah memberi semangat
dan motivasi.
5. Rekan–rekan peserta pendidikan ahli K3 Listrik yang selalu memberikan
masukan.
6. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaiannya laporan ini.
Penulis menyadari bahwa Laporan ini masih memiliki banyak kekurangan, oleh
karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun demi
penyempurnaan laporan ini. Semoga Laporan Project Assignment ini dapat bermanfaat
dan berguna bagi semua pihak.

Barru, 16 Desember 2015

Slamet Muji Raharjo

3
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
LEMBAR PENGESAHAN............................................................................ 2
KATA PENGANTAR.................................................................................... 3
DAFTAR ISI........................................................................................…….. 4
EXECUTIVE SUMMARY............................................................................ 5
BAB I PENDAHULUAN............................................................................... 6
1.1. Tujuan……….................................................................................... 6
1.2. Latar Belakang................................................................................... 6
1.3. Standar / Aturan dan norma yang digunakan……………………… 7
1.4 Sekilas Tentang Riwayat Perusahaan……………………………… 9
BAB II PERIKSA DAN UJI GENERATOR UNIT 1 PLTU BARRU…….. 10
BAB III TEMUAN DAN KESIMPULAN...….............................................. 43
REFERENSI................................................................................................... 47

4
EXECUTIVE SUMMARY

PLTU Barru mempunyai peranan yang penting terhadap sistem kelistrikan di


sistem distribusi Sulawesi Selatan, Tenggara, Barat (SulSelRabar) maka kesiapan operasi
unit harus terjaga kehandalannya, untuk mencapai hal tersebut maka perlu didukung oleh
kesiapan operasi setiap peralatan pembangkit, yang dapat beroperasi normal dan handal,
hal ini dapat dicapai dengan melakukan pemeliharaan preventive dan predictive untuk
mengetahui resiko-resiko potensi bahaya dan kerusakan yang mungkin terjadi pada
peralatan, sehingga sejak dini mungkin dapat dicegah dan dilakukan penanganan resiko
tersebut. Teknik analisi potensi bahaya pada generator PLTU Barru menggunakan
analisis HAZOP (Hazard On Operation), HIRAC (Hazard, Identification, Risk,
Assesment, Control), JSA ( Job Safety Analysis), JSO (Job Safety Observation), PHA
(Preliminary Hazard Analysis) dan PDKB (Pekerjaan Dengan Keadaan Bertegangan).
Dari berbagai macam pengujian non destructive yang dilakukan terhadap stator
winding, mengindikasikan gejala deteriorasi pada semiconductive coating, magnitude PD
yang sangat besar dan secara visual terlihat contaminant pada end winding. Pada beberapa
tempat juga didapati lapisan varnish yang telah mengelupas. Uji partial discharge mampu
memberikan informasi jenis defect yang terjadi pada stator winding yaitu end winding
discharge dan slot discharge. End winding discharge lebih disebabkan oleh contaminant
sedangkan slot discharge ditimbulkan oleh degradasi semiconductive coating. Uji PDCA
juga mengkonfirmasi adanya contaminant stator winding. Tingginya arus depolarisasi
juga memberikan gambaran bahwa deteriorasi telah terjadi pada stator insulation.
Rotor winding secara keseluruhan masih dalam kondisi baik. Tidak ditemukan
gejala short to ground, short interturn dan loose connection pada coil. Namun demikian,
uji PDCA dan boroscope inspection menunjukkan banyaknya contaminant pada rotor
winding. Contaminant ini akan menghambat heat dissipation dan lama kelamaan
menyebabkan deteriorasi pada rotor winding insulation.

Kata Kunci :
Generator – Periksa Uji – Ahli K3 Listrik – Rotor – Stator – Partial Discharge – PLTU
Barru

5
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Tujuan

Secara Umum
1. Meningkatkan kemampuan dan keahlian serta keterampilan dalam pelaksanaan
norma K3 listrik di tempat kerja;
2. Meningkatkan kemampuan dan keahlian serta keterampilan dalam pembinaan dan
pengawasan norma K3 listrik di tempat kerja; dan
3. Meningkatkan kemampuan dan keahlian serta keterampilan dalam
perencanaan,pemasangan, penggunaan, perubahan, pemeliharaan dan pemeriksaan
serta pengujian instalasi, perlengkapan dan peralatan listrik secara aman di tempat
kerja.
4. Mempersiapkan dan menghasilkan tenaga ahli K3 Listrik yang dapat melakukan
identifikasi, evaluasi dan pengendalian resiko dalam pelaksanaan K3 Listrik di tempat
kerja.
5. Mempersiapkan dan menghasilkan tenaga ahli K3 yang mampu menjelaskan teknik
pencegahan dan penanggulangan kecelakaan kerja, khususnya yang terkait dengan
pekerjaan listrik.
Secara Khusus
1. Memahami dan mendukung penerapan peraturan perundangan K3 – Listrik
2. Memahami akibat yang ditimbulkan oleh kecelakaan pada pekerjaan listrik dan mampu
melakukan upaya penanggulangan serta pertolongan pertama kecelakaan listrik.

1.2 Latar Belakang

1. Tingginya tingkat kompetensi dunia industri menumbuhkan paradigma baru


tentang keselamatan dan kesehatan kerja sebagai aspek yang harus
dipertimbangkan.

2 Pelaksanaan K3 merupakan indikator tingkat kesejahteraan tenaga kerja dan


berkorelasi langsung dengan kualitas tenaga kerja, peningkatan produktifitas
dan pertumbuhan ekonomi.

6
3 Bahwa listrik mengandung potensi bahaya yang dapat mengancam
keselamatan tenaga kerja dan orang lain yang berada di dalam lingkungan
tempat kerja, dan mengancam keamanan bangunan beserta isinya;

4 Bahwa untuk memberikan perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja


listrik di tempat kerja maka perlu dilakukan perencanaan, pemasangan,
perubahan, pemeliharaan,emeriksaan dan pengujian terhadap instalasi,
perlengkapan dan peralatan listrik yang dilaksanakan oleh Ahli K3 bidang
Listrik;

5 Keselamatan dan kesehatan kerja listrik di pembangkit sangat penting untuk


mengetahui resiko bahaya dan juga pencegahan dan penanganan atas resiko
tersebut

1.3 Standar / Aturan dan Norma yang digunakan

1. Undang-undang Uap tahun 1930 (Stoom Ordonnantie)

2. Undang-undang no 1 tahun 1970 Keselamatan dan kesehatan kerja

3. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi R.I. No.

Per.04/MEN/1980tentang Syarat-syarat Pemasangan dan Pemeliharaan Alat

Pemadam Api Ringan

4. Peraturan Menteri Tenaga Kerja R.I. No Per.02/MEN/1983 tentang Instalasi

AlarmKebakaran Automatik

5. Peraturan Menteri Tenaga Kerja R.I. No. : Per-04/MEN/1987 tentang

PanitiaPembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja Serta Tata Cara

Penunjukan AhliKeselamatan Kerja

6. Peraturan Menteri Tenaga Kerja R.I. No. Per.02/MEN/1989 tentang

PengawasanInstalasi Instalasi Penyalur Petir

7
7. Undang-undang Republik Indonesia No. 13 tahun 2003 tentang

Ketenagakerjaan

8. Peraturan Menteri Tenaga Kerja R.I.. No. Per.05/MEN/1996 tentang Sistem

Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja

9. Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi R.I. No.: Kep.-

75/MEN/2002tentang Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) No.

SNI-04-0225-2000 Mengenai Persyaratan Umum Instalasi Listrik 2000 (PUIL

2000) di Tempat Kerja

10. Undang-undang no 30 tahun 2009 tentang ketenagalistrikan

11. PUIL 2000 SNI-04-0225-2000 Mengenai Persyaratan Umum Instalasi Listrik

2000

12. PUIL 2011

13. Permenaker No 12 tahun 2015 Keselamatan dan kesehatan kerja listrik di

tempat kerja

14. Permenaker No 33 tahun 2015 Perubahan atas peraturan menteri

ketenagekerjaan nomor 12 tahun 2015 tentang keselamatan dan kesehatan

kerja listrik di tempat kerja

15. Institute Of Electrical Engineers (IEEE) Book.

8
5.1 Sekilas tentang Riwayat PT Indonesia Power UPJP Bali, Sub Unit PLTU

Barru

PLTU Barru merupakan salah satu sub unit di bawah PT Indonesia Power Unit
Pembangkitan dan Jasa Pembangkitan Bali (UPJP Bali). UPJP Bali mempunyai 2 (dua)
Sub Unit Pembangkitan yaitu Unit Pembangkitan Gilimanuk dan Unit Pembangkitan
Pemaron dengan Kantor Pusat Unit Pembangkit Pesanggaran, serta mempunyai 4
(empat) sub Unit Jasa Pembangkitan (UJP), yaitu UJP Barru, UJP Jeranjang, UJP
Sanggau, UJP Houltecamp.
PLTU Barru berkontribusi sebesar 15% terhadap sistem kelistrikan di wilayah
Sulawesi Selatan, Tenggara dan Barat sehingga harus senantiasa handal. Kehandalan
operasi unit dapat tercipta salah satunya dengan memastikan seluruh peralatan dapat
beroperasi dengan aman dan handal. Untuk memastikan kehandalan dan keamanan
operasi peralatan pembangkit dilakuan pemeliharaan rutin dan juga pemeliharaan
predictive untuk mengetahui potensi-potensi bahaya dan juga pencegahan terhadap
resiko-resiko bahaya yang mungkin terjadi sehingga dapat dilakukan perencanaan
perbaikan untuk mengeliminasi resiko bahaya tersebut.

PROJECT PLTU BARRU 2X50 MW (PPDE 10.000 MW-FTP-1)

KONTRAKTOR PELAKSANA CONSORSIUM HUBEI HONGYUAN POWER ENGINEERING Co.Ltd


DAN PT. BAGUS KARYA

NO. & TANGGAL KONTRAK 458.PJ/041/DIR/2008, 21 JULI 2008

COMMERCIAL OPERATION DATE PLTU 1 : 15 NOVEMBER 2012


PLTU 2 : 15 DESEMBER 2012

LOKASI PROYEK DUSUN BAWASALO, DESA LAMPOKO, KECAMATAN BALUSU, KABUPATEN


BARRU, PROVINSI SULAWESI SELATAN
(KOORD : S 4O17’872 DAN E 119O37’753)

LUAS AREA 39,7 Ha

KAPASITAS DAYA 2 X 50 MW

SPESIFIKASI BAHAN BAKAR LOW RANK COAL ( 3680 Kcal/Kg )* data comisioning

KAPASITAS JETTY 10.000 DWT

KAPASITAS COAL SHIP UNLOADER 2 X 150 TON/JAM

9
BAB II
PERIKSA DAN UJI GENERATOR UNIT 1 PLTU BARRU

2.1 Mengenal konstruksi bagian-bagian Generator PLTU


2.1.1 Pendahuluan
Generator merupakan komponen utama PLTU yang berfungsi untuk
merubah energi mekanik menjadi energi listrik. kapasitas generator dari
waktu ke waktu berkembang semakin besar dengan teknologi konstruksi
dan rancang bangun yang semakin maju. kapasitas generator PLTU di
indonesia sangat bervariasi, karena pembangunannya disesuaikan dengan
kebutuhan energi yang harus dilayani.
Konstruksi generator PLTU semuanya menggunakan medan magnet
putar . hal ini bertujuan untuk memudahkan penyambungan (connection)
energi listrik keluar generator, karena titik terminal penyambunagn benda
pada stator.

Gambar 1. Generator

10
SPESIFIKASI GENERATOR PLTU BARRU

2.1.2 Komponen utama generator


Komponen utama generator terdiri dari :
1. CASING (FRAME ATAU RANGKA)

11
Casing terbuat dari baja ringan yang dirancang untuk menopang
inti stator dan belitan-belitan- nya , lihat gambar 2.

Gambar 2. Casing Generator

Pada umumnya generator di pltu didinginkan dengan hydrogen


yang bertekanan. oleh karena itu casing harus dirancang mampu
menahan tekanan dan ledakan hydrogen yang mungkin terjadi . besarnya
tekanan ledak diperkirakan dua kali tekanan hydrogen.

2. STATOR (INTI DAN BELITAN)


Stator terdiri dari inti stator dan belitan.

Pada generator-generator ukuran kecil, inti statornya dibuat


menjadi satu dengan casing, tetapi pada generator ukuran besar inti
statornya dibuat sebagai komponen terpisah. (lihat gambar 2 dan
gambar 3. Inti ini terbentuk dari susunan plat-plat baja silikon yang
mempunyai sifat kemagnetan yang baik (lihat gambar 4) dikompres
dengan rapat sekali, tetapi diisolasi satu sama lain dengan pernis atau
kertas berisolasi (impregnated paper).

12
Susunan plat baja silikon yang membentuk inti ini biasanya disebut
laminasi. Laminasi-laminasi ini membentuk saluran yang baik sekali
bagi flux magnit yang dihasilkan oleh rotor. Isolasi pada laminasi
mengurangi besarnya arus pusar (Eddy current), sehingga mengurangi
kerugian panas yang timbul. Inti ini dibuat membentuk alur-alur untuk
menempatkan belitan dan lubang-lubang untuk saluran pendingin yang
akan bersirkulasi untuk menyerap panas. Disepanjang keliling bagian
dalam dari inti ini mempuyai sederetan alur-alur. Setiap alur berisi 2
lilitan (coil) yang dipasang berimpit satu diatas yang lain dan semua
lilitan ini digulung dalam 3 grup yang berbeda, setiap grup disebut fasa.

GAMBAR 3, INTI DAN BELITAN STATOR

13
Stator Core

Alternating
Magnetic Flux

Conductor Bars

Stator Teeth

GAMBAR 4. Laminasi-laminasi stator

Salah satu ujung dari setiap grup dihubungkan bersama untuk


membentuk titik bintang atau titik netral pada belitan stator.

Building Bars Ujung yang lain dari tiap grup, merupakan terminal keluar dari tiap
fasa dan dibawa keluar dari casing generator melaui bushing-bushing
berisolasi (lihat gambar 1.). Ketiga penghubung ini mengalirkan energi
listrik dari generator ke transformator generator. Didalam belitan-belitan
stator dibangkitkan tegangan tinggi sehingga belitan-belitan tersebut
harus diisolasi secara baik dengan bahan pembungkus coil-coil tembaga
pada lapisan-lapisan fibreglass atau pita mica, yang diisi/diresapkan
secara bertekanan dengan bitumen atau suatu bentuk fiberglass.

Coil-coil yang menggantung pada tiap ujung inti stator memberi


ruangan untuk keperluan penyambungan-penyambungan dari coil ke coil
dan ujung terakhir ke terminal.

Ujung-ujung belitan dijepit dengan kuat sekali dengan bahan


isolasi seperti pasak bakelite, pita isolasi dan mur-mur dan baut-baut

14
permali untuk mencegah gerakan oleh gaya mekanik yang disebabkan
oleh kebocoran flux magnet.

Media pendingin belitan generator adalah gas hydrogen yang


disirkulasikan sekeliling bagian dalam dari generator oleh fan yang
dipasang pada tiap ujung dari rotor. Saluran-saluran kecil dan alur-alur
dalam inti stator dan dalam metal rotor serta belitan rotor memungkinkan
gas untuk mendinginkan bagian-bagian ini secara kontak langsung.

3. ROTOR

Bentuk rotor dari generator besar yang diputar dengan turbin uap
biasanya tipe silinder dengan 2 atau 4 kutub magnet. Rotor ini dibuat dari
metal tempa berbentuk silinder sepanjang generator. Untuk mesin-mesin
berkutub 4 yang lebih besar diameternya sampai 1,5 meter.

Kedua ujung rotor yang merupakan poros dibuat berdiameter lebih


kecil untuk dipasang bantalan journal. Pada salah satu sisi poros ini
dilengkapi dengan slipring atau terminal untuk menyalurkan arus aksitasi
(penguat). Sepanjang keliling bagian luar rotor di buat alur-alur aksial
untuk menempatkan belitan. Pada mesin berkutub 2 alur-alur ini
membawa belitan-belitan (coil) rotor separuh searah jarum dan separuh
lainnya berlawanan jarum jam.

Dengan cara ini, bila arus dialirkan ke belitan-belitan rotor, maka


dihasilkan medan magnit yang mempunyai kutub utara dan selatan pada
sisi yang berlawanan. Untuk mesin berkutub 4, coil-coil digulung
sedemikian rupa sehinga kutub-kutub utara dan selatan akan berselang
seling satu sama lain dengan sudut 90. Pada kedua tipe mesin ini , tiap
alur membawa beberapa lapis coil hingga bagian dalam. Tiap coil
diisolasi satu sama lain dan pada samping-samping alur biasanya disisipi
dengan mica atau strip-strip dan palung-palung fibreglass.

15
Pada tiap ujung alur, antara ujung belitan yang satu dengan ujung
belitan yang lain dihubungkan dengan penghubung yang berada diluar
alur pada kedua sisinya hingga membentuk coil yang konsentris. Bagian
yang menggantung dari coil (lihat gambar 6.) tidak mendapat penyangga
dari alur rotor, dan harus menahan gaya sentrifugal yang tinggi akibat
perputaran dari rotor. Oleh karena itu bagian yang menggantung ini
dijepit dengan blok-blok terisolasi, dan ditahan dalam ring pengikat coil
retaining ring yang berbentuk silinder (lihat gambar 6.). Ring ini dibuat
dari bahan baja austenit non-magnetis dengan kandungan mangan tinggi
yang diameter luarnya sedikit lebih besar dari rotor. Ring ini dipasang
dengan cara dipanaskan (shrink-fitted).

Coil-coil dan pasak-pasak dilekukkan dan dilobangi, sementara


alur-alur rotor dibuat lebih dalam dari coil agar gas pendingin (hydrogen)
bersirkulasi. Retaining ring selain berfungsi untuk menahan belitan rotor
yang berada diluar alurnya terhadap gaya sentrifugal, juga mencegah
kenaikan kebocoran flue dan stray load yang sebanding dengan besarnya
arus.

Gambar 5. Belitan Rotor

Kedua ujung belitan rotor dihubungkan pada slip ring -slip ring
yang dipasang pada poros dan terisolasi terhadap poros tersebut, atau

16
dihubungkan pada terminal penyearah berputar untuk jenis eksitasi tanpa
sikat. Sikat karbon yang dipasang pegas ditahan disekeliling slip ring-
slip ring untuk menyalurkan arus ke rotor.

Bentuk utama lain dari rotor adalah yang dikenal sebagai rotor
dengan kutub menonjol (salient pole rotor). Tipe ini biasanya diputar
pada kecepatan yang lebih rendah seperti pada turbin air. Kecepatan yang
lebih lambat memerlukan jumlah kutub yang lebih banyak untuk
menghasilkan frekwensi 50 Hz, karena :

Frekwensi = kecepatan putaran (put/det) x Jumlah pasang kutub / 60

nxp
f = 
60
Kecepatan yang lebih lambat menyebabkan ukuran diameter rotor
jauh lebih besar, dan gaya sentrifugal yang timbul memnjadi lebih kecil.

Oleh karena itu struktur dari rotor dapat dibuat mengitari suatu
poros yang ditempa, dengan potongan kutub-kutub yang dipasang
mengitari kelilingnya dari laminasi-laminasi yang sama seperti juga
yang dipakai pada inti stator. Belitan-belitan Rotor tersebut disisipkan
sekeliling potongan ini. Pendinginannya bisanya dengan sirkulasi udara
karena area yang lebih besar sehingga memungkinkan pendinginan yang
lebih efisien.

Tiga komponen utama yaitu, casing , inti stator dan rotor, dirancang
sebagai bagian-bagian terpisah dan diangkut ke Pusat Pembangkit. Ini
memungkinkan pabrik-pabrik mempreteli komponen hingga sesuai
dengan kemampuan jalan . Inti stator adalah sangat berat dan biasanya
bagian sisi yang harus diangkat ke Pusat Pembangkit tanpa dipreteli.

17
4. EXCITER

Generator sinkron membutuhkan injeksi arus DC pada field (rotor)


coil yang berputar untuk dapat membangkitkan induksi medan magnet
pada stator coil, sehingga timbul tegangan pada terminal generator.
Tegangan output generator diatur oleh besarnya arus DC yang mengalir
pada rotor coil tersebut. Injeksi arus DC untuk rotor coil ini disuplai oleh
sistem eksitasi.

Konstruksi sistem eksitasi secara umum terbagi menjadi 2 bagian :

4.1 Sistem brush exciter (sistem eksitasi statis).


Sistem ini digunakan jika sumber eksitasi merupakan sistem yang
statis yang terpisah dari generator. Arus DC yang berasal dari sistem
eksitasi (diam) dialirkan ke rotor coil (berputar) melalui carbon brush dan
slip ring, artinya ada gesekan antara alat yang diam (statis) dengan alat
yang berputar. Penggunaan carbon brush, slip-ring akan memerlukan
penggantian spare-part secara reguler dan menghasilkan debu karbon
yang dapat mengotori dan merusak peralatan. Selain itu diperlukan
sistem switching dan kontrol DC yang cukup rumit. Namun sistem ini
memiliki kelebihan dengan adanya respon tegangan output generator
yang lebih baik.

4.2 Sistem brushless exciter (sistem eksitasi berputar).

Sumber eksitasi didesain untuk ikut berputar bersama dengan rotor


coil, sehingga injeksi arus ke rotor coil dari sumber eksitasi langsung
menggunakan konduktor bar atau kabel, tanpa harus melalui slip-ring.
Sistem ini meniadakan gesekan antara bagian yang diam dan berputar,
serta masalah-masalah yang timbul karenanya. Namun sistem brushless
exciter ini memiliki kekurangan karena respon tegangan output yang
lebih lambat dan membutuhkan ekstra energi mekanik dari penggerak
utama untuk menggerakkan sistem eksitasi putarnya.

18
Gambar 6. Sistem Exitasi PLTU Barru

Sistem Exitasi Generator PLTU Barru menggunakan system


brushless excitation, yaitu injeksi arus ke rotor coil dari sumber eksitasi
langsung menggunakan konduktor bar atau kabel, tanpa harus melalui
slip-ring.

2.2 Periksa dan Uji Generator PLTU Barru Unit 1

2.2.1 Ruang lingkup Periksa dan uji Generator PLTU Barru 1


Periksa dan Uji generator PLTU Barru Unit 1 meliputi pengujian-pengujian
berikut ini :
a. Pengujian Stator Generator, terdiri dari :
1. Pengujian Insulation resistance dan polarization index
2. Pengujian PDCA
3. Pengujian winding resistance
4. Pengujian coupling resistance
5. Pengujian kekencangan wedges (WTD)
6. Pengujian tan delta dan capacitance
7. Pengujian partial discharge

19
8. Pengujian AC Leakage current
9. Pengujian corona dengan UV Camera
10. Visual inspection
b. Pengujian rotor generator, terdiri dari :
1. Pengujian inslation resistance
2. Pengujian tahanan dalam
3. Pengujian SFRA (Sweep Frequency Response Analyzer)
4. Pengujian PDCA
5. Visual/Boroscope inspection
c. Pengujian Core Stator, Dengan menggunakan ELCID

Metode analisa yang digunakan dalam pengujian :


a. Pengujian-pengujian yang berpengaruh kepada sisa umur stator winding :
1. AC Leakage current test
2. Partial Discharge test
3. Tan delta test
b. Pengujian-pengujian untuk menemuka indikasi fault pada stator dan rotor
winding
1. Insulation resistance dan polarization index
2. Winding resistance test
3. PDCA test
4. Coupling resistance test
5. Wedges tightness test
6. ELCID Test
7. SFRA rotor winding
8. UV Camera (Corona inspection)
9. Visual/boroscope inspection

2.2.2 Hasil periksa dan uji generator unit 1 PLTU Barru


2.2.2.1 Insulation Resistance And Polarization Index Stator Winding
Untuk mengetahui gejala fault winding akibat short to ground dan tingkat
“dryness” pada winding
Hasil pengujian Tegangan 5.000 VDC :

20
Hasil pengukuran (MΩ) pada temperature 37 0C
Waktu (Menit)
R-Ground S-Ground T-Ground
1 695 536 688
10 2200 1710 2230
PI 2.19 2.12 2.35

Keterangan :
Alat Uji : Kyoritsu 3125
: 1. Berdasarkan standar IEEE std 43-2000(R2006)
:  IR (1 Menit) pada temperature referensi 40 0C : 100 MΩ
:  PI untuk isolasi class F : minimum 2
Kesimpulan : Baik, tidak ada indikasi short to ground dan kondisi winding
“Dry”

2.2.2.2 Winding Resistance Stator Winding


Tujuan pengujian untuk mengetahui gejala gangguan pada winding akibat
copper strands rusak atau crack, atau deteriorisasi pada brazing connection.

Hasil pengujian :
Winding Resistance at 30 0C (Ω
U-X V-Y W-Z
0.002 0.002 0.002

Keterangan :
Alat Uji : Wheatstone Bridge Yokogawa
: Deviasi winding resistance antar fasa tidak melebihi 1 %
Kesimpulan : Baik, tidak ada indikasi crack pada copper maupun
deteriorisasi pada brazing connection

21
2.2.2.3 Coupling Resistance Test
Tujuan pengujian untuk mengetahui tahanan antara semiconductive coating
dengan core stator. Resistansi semiconductive coating yang tinggi
merupakan indikasi degradasi semiconductive coating yang berfungsi
meredam partial discharge yang terjadi di dalam slot.

Hasil pengujian :

22
Keterangan :
Alat Uji : Multimeter Fluke 1587
: Resistansi semiconductive coating terhadap core < 6 KΩ
Kesimpulan : Semiconductive coating sudah mengalami degradasi

2.2.2.4 Wedges Tightness Test Stator Winding


Tujuan Pengujian Untuk mengetahui kekencangan wedges stator
generator. Kendornya wedges stator generator akan mengakibatkan stator
bar di dalam slot akan bergerak pada saat generator dioperasikan, sehingga
mengakibatkan groundwall insulation akan terkikis.

Hasil pengujian :

23
Keterangan :
Alat Uji : WTD 501 Iris
: Berdasarkan best practice WTD 501, kriteria untuk
melakukan rewedges adalah sebagai berikut :
a) Dalam satu slot, lebih dari 15% wedges yang mengalami
looseness,
AND
b) Dalam satu slot, ada 3 wedges yang berurutan yang
mengalami looseness

Kesimpulan : Baik, seluruh wedges stator masih kencang.

2.2.2.5 Polarization Depolarization Current Test Stator Winding


Tujuan Pengujian Untuk mengetahui pattern arus polarisasi dan arus
depolarisasi stator winding. Analisis PDCA akan memberikan informasi
jenis fault yang terjadi apakah conduction problem atau polarization

24
problem. Selain itu dari pattern PDCA juga bisa diketahui kondisi insulation
yang normal, indikasi thermal aging, dan abrasi pada groundwall insulation.

Hasil pengujian :

25
26
27
Keterangan :
Alat Uji : Dirana Omicron
: Berdasarkan artikel Cigre D1-210 tahun 2008 “Practical
Experiences On Condition Assessment of Stator
Insulation Using Polarization/Depolarization Current
Technique, ada 3 macam evaluasi pada pengujian PDCA
yaitu :
 C ratio, yaitu perbandingan capacitance pada frekuensi
rendah terhadap frekuensi 50 Hz. Idealnya, C ratio
mendekati “1”. C ratio menggambarkan fenomena
polarisasi.
 DDF, yaitu tan delta pada frekuensi rendah. Idealnya,
DDF pada frekuensi rendah tidak terlalu banyak berubah
dibandingkan dengan tan delta pada frekuensi 50 Hz.
DDF menggambarkan fenomena konduksi.
 Pattern PDCA, menentukan tipe defect yang terjadi pada
stator insulation
Kesimpulan : a. C ratio normal, tidak ada indikasi moisture pada
insulation stator winding.
b. DDF melebihi limit, merupakan indikasi fenomena
konduksi yaitu terdapat kontaminan pada stator winding.
c. Pattern PDC mengindikasikan banyaknya contaminant
pada stator winding.

28
2.2.2.6 Capacitance And Dissipation Factor Test
Tujuan Pengujian untuk mengetahui dielectric loss pada winding
akibat contaminant atau fault winding.

Hasil pengujian :

29
Keterangan :

2.2.2.7 Off Line Partial Discharge Test


Tujuan Pengujian Untuk mengetahui indikasi deteriorasi pada isolasi
winding dan jenis defect yang terjadi.

30
Hasil pengujian :

31
Keterangan :
Alat Uji : Omicron MPD 600
: 1. Berdasarkan standard Melco untuk generator 6-11 kV
 Qm = 10 nC : good

2. Berdasarkan best practice PD Tech


 Qm < nC : good
 Qm < 10 nC : medium
 Qm > 15 nC : bad

3. Pattern PD
 Internal discharge (delamination winding), dipicu oleh thermal
aging, berbentuk segitiga, asimetris dengan setengah siklus
positif lebih dominan.
 Slot discharge, dipicu oleh rusaknya semiconductive layer atau
loose wedges, berbentuk segitiga, asimetris dengan setengah
siklus negative lebih dominan.
 Endwinding discharge, dipicu oleh conductive contaminant
pada endwinding, bentuk simetris pada setengah siklus positif
dan siklus negative.
Kesimpulan :  Pattern PD fasa R merupakan indikasi slot discharge akibat
rusaknya semiconductive coating pada slot. Qm sudah
melebihi 15 nC.
 Pattern PD fasa S merupakan indikasi endwinding discharge
akibat contaminant. Qm sudah melebihi 15 nC.
 Pattern PD fasa T merupakan indikasi endwinding discharge
akibat contaminant. Qm sudah melebihi 15 nC.

2.2.2.8 Ac Leakage Current Test

Pada tegangan 6.103 kV (Un/v3), arus hasil perhitungan adalah 545.64 mA.
Oleh karena itu, ∆I fasa S adalah sbb :

𝐴𝑟𝑢𝑠 ℎ𝑎𝑠𝑖𝑙 𝑢𝑗𝑖 − 𝑎𝑟𝑢𝑠 ℎ𝑎𝑠𝑖𝑙 𝑝𝑒𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 555.29 − 545.64


𝑥 100 % = 𝑥 100% = 1.8 %
𝐴𝑟𝑢𝑠 ℎ𝑎𝑠𝑖𝑙 𝑝𝑒𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 545.64

32
Fasa T

Hasil Uji Arus


Tegangan (V)
(mA)
1003 91.57
2020 184.55
3006 274.46
4019 367.27
4993 456.57
5984 547.96
6099 558.57

Pada tegangan 6.099 kV (Un/v3), arus hasil perhitungan adalah 557.32 mA.
Oleh karena itu, ∆I fasa S adalah sbb :

𝐴𝑟𝑢𝑠 ℎ𝑎𝑠𝑖𝑙 𝑢𝑗𝑖 − 𝑎𝑟𝑢𝑠 ℎ𝑎𝑠𝑖𝑙 𝑝𝑒𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 558.57 − 557.32


𝑥 100 % = 𝑥 100% = 0.22 %
𝐴𝑟𝑢𝑠 ℎ𝑎𝑠𝑖𝑙 𝑝𝑒𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 557.32

Keterangan :

33
2.2.2.9 Black Test (Corona Inspection)
Tujuan pengujian Untuk mengetahui indikasi surface partial discharge
(corona) pada stator winding generator

Hasil pengujian :

Keterangan :
Alat Uji : Corona Camera
: “Good insulation” tidak mengindikasikan adanya corona.
Kesimpulan : Indikasi surface PD (endwinding discharge)

34
2.2.2.10 ELCID Test
Tujuan pengujian Untuk mengetahui defect pada inter-laminar insulation
core stator.

Hasil pengujian :

35
36
Keterangan :
Alat Uji : Digital ELCID 601 Adwel
: Arus bocor maksimum tidak melebihi 100 mA
Kesimpulan : Baik, tidak ada gejala short interlamination pada core stator.

37
2.2.2.11 Visual Inspection Stator Generator
Tujuan pengujian Untuk melihat gejala deteriorasi atau kelainan lainnya
pada stator winding generator.

Hasil pengujian :

Keterangan :
Alat Uji : Visual
: Tidak ada kelainan
Kesimpulan : Contaminant pada stator winding

38
2.2.2.12 Insulation Resistance Rotor Winding
Tujuan pengujian Untuk mengetahui gejala fault winding akibat short to
ground.
Hasil pengujian tegangan 500 VDC, temperature winding 37.7 0C :
Waktu (Menit) Pole A/Pole B – Ground (MΩ)
1 19.8

Keterangan :
Alat Uji : Kyoritsu 3125
: 1. Berdasarkan standard IEEE std 43-2000(R2006)
 IR (1 menit) pada temperature referensi 40 0C ; 5 MΩ
Kesimpulan : Tidak ada indikasi short to ground

2.2.2.13 Winding Resistance Rotor Winding]


Tujuan pengujian Mengetahui gejala gangguan pada rotor winding akibat
loose connection dan shorted turn.

Hasil pengujian :
Titik pengujian Tahanan Dalam
Rotor Winding Pada temperature 37 0C
Pole A-Pole B 0.235 Ω

Keterangan :
Alat Uji : Wheatstone Bridge Yokogawa
:  Deviasi dengan factory test tidak melebihi 1%.
 Winding resistance standard 0.2135 Ω pada temperature 180C
 Winding temperature pada temperature 200C :
𝑅𝑇
𝑅20 =
1 + (𝑇 − 20)/255.5
Kesimpulan : Winding resistance standard pada temp 200C : 0.2152 Ω
Winding resistance hasil pengukuran pada temp 200C : 0.2203 Ω
Deviasi dengan standard : 2.3 %
Karena deviasi melebihi 1%, kemungkinan ada potensi masalah
pada rotor winding.

39
2.2.2.14 SFRA rotor winding

Tujuan pengujian Untuk mengetahui indikasi short inter turn, loose


connection dan short to ground pada rotor winding.

Hasil pengujian :

Keterangan :
Alat Uji : SFRA Analyzer Omicron
: Berdasarkan analysis DL/T911-2004, kondisi winding
dibedakan sebagai berikut
normal winding
slight deformation (deformasi ringan)
obvious deformation (deformasi nyata)
severe deformation (deformasi berat)
Kesimpulan : Baik, tidak terdapat gejala short to ground, short inter turn
dan loose
connection pada coil

40
2.2.2.15 Polarization Depolarization Current Test (PDCA) Rotor Winding

Tujuan pengujian Untuk mengetahui pattern arus polarisasi dan arus


depolarisasi stator winding. Analisis PDCA akan memberikan informasi
jenis fault yang terjadi apakah conduction problem atau polarization
problem. Selain itu dari pattern PDCA juga bisa diketahui kondisi
insulation yang normal, indikasi thermal aging, dan abrasi pada
groundwall insulation.

Hasil pengujian :

41
Keterangan :
Alat Uji : Dirana Omicron
: Berdasarkan artikel Cigre D1-210 tahun 2008 “Practical
Experiences On
Condition Assessment of Stator Insulation Using
Polarization/Depolarization Current Technique, kondisi isolasi
yang bagus adalah pada 1/3 durasi pengujian, arus polarisasi
(arus charging) dan arus depolarisasi (arus discharging) sama
besar.
Kesimpulan :  C ratio mengindikasikan moisture pada insulation rotor
winding
 DDF mengindikasikan banyak contaminant.
 Pattern PDC mengindikasikan banyaknya contaminant pada
rotor winding

42
BAB III

TEMUAN DAN KESIMPULAN

3.1. Temuan dan Kesimpulan

A. Stator Winding
Dari berbagai macam pengujian non destructive yang dilakukan terhadap
stator winding, mengindikasikan gejala deteriorasi pada semiconductive coating,
magnitude PD yang sangat besar dan secara visual terlihat contaminant pada end
winding. Pada beberapa tempat juga didapati lapisan varnish yang telah
mengelupas.
Uji partial discharge mampu memberikan informasi jenis defect yang
terjadi pada stator winding yaitu end winding discharge dan slot discharge. End
winding discharge lebih disebabkan oleh contaminant sedangkan slot discharge
ditimbulkan oleh degradasi semiconductive coating.
Uji PDCA juga mengkonfirmasi adanya contaminant stator winding.
Tingginya arus depolarisasi juga memberikan gambaran bahwa deteriorasi telah
terjadi pada stator insulation.
POTENSI
NO. TEMUAN FOTO Referensi Standar REKOMENDASI
BAHAYA

Kerusakan lebih
parah pada
Coupling Cleaning dan Re Furnish
Resistansi semiconductive semiconductive
1 Resistance test element-element core
coatin terhadap core < 6 KΩ coating.
stator generator
Kegagalan
fungsi generator

43
Polarization
depolarization
current test Berdasarkan artikel Cigre D1-
stator winding. 210 tahun 2008 “Practical
Experiences On Condition
Assessment of Stator
a. C ratio normal, Insulation Using
tidak ada Polarization/Depolarization
indikasi Current Technique, ada 3
moisture pada macam evaluasi pada pengujian
insulation PDCA yaitu :
stator winding.  C ratio, yaitu perbandingan Bersih dan tidak
b. DDF melebihi capacitance pada frekuensi
terdapat
limit, rendah terhadap frekuensi 50 Cleaning dan Re Furnish
merupakan Hz. Idealnya, C ratio contaminant
2 indikasi mendekati “1”. C ratio element-element core
pada stator
fenomena menggambarkan fenomena stator generator
konduksi yaitu polarisasi. winding.
terdapat  DDF, yaitu tan delta pada
kontaminan frekuensi rendah. Idealnya,
pada stator DDF pada frekuensi rendah
winding. tidak terlalu banyak berubah
c. Pattern PDC dibandingkan dengan tan
delta pada frekuensi 50 Hz.
mengindikasika
DDF menggambarkan
n banyaknya fenomena konduksi.
contaminant  Pattern PDCA, menentukan
tipe defect yang terjadi pada
pada stator stator insulation
winding.

Off Line Partial Hasil pengujian : . Berdasarkan standard Melco


untuk generator 6-11 kV
Discharge Test
gejala deteriorasi
2. Berdasarkan best practice PD
pada
Tech Kerusakan lebih
semiconductive : good
parah pada
coating Cleaning dan Re Furnish
medium semiconductive
3 element-element core
magnitude coating.
stator generator
PD yang sangat 3. Pattern PD Kegagalan

besar dan secara fungsi generator


(delamination winding),
visual terlihat dipicu oleh thermal aging,
berbentuk segitiga, asimetris
contaminant pada dengan setengah siklus
end winding. Pada positif lebih dominan.

44
beberapa tempat harge, dipicu oleh
rusaknya semiconductive
juga didapati
layer atau loose wedges,
lapisan varnish berbentuk segitiga, asimetris
dengan setengah siklus
yang telah
negative lebih dominan.
mengelupas.
dipicu oleh conductive
contaminant pada endwinding,
bentuk simetris pada setengah
siklus positif dan siklus
negative.
Visual Inspection
Stator Generator
Contaminant pada Kerusakan pada Cleaning dan Re Furnish
4 stator winding Bersih laminasi stator element-element core
generator stator generator

Black Test
(Corona
Inspection). Cleaning dan Re Furnish
Kegagalan
5 Indikasi surface Tidak Muncul corona element-element core
fungsi generator
PD (endwinding stator generator
discharge)

B. Rotor Winding

Rotor winding secara keseluruhan masih dalam kondisi baik. Tidak


ditemukan gejala short to ground, short interturn dan loose connection pada coil.
Namun demikian, uji PDCA dan boroscope inspection menunjukkan banyaknya
contaminant pada rotor winding. Contaminant ini akan menghambat heat
dissipation dan lama kelamaan menyebabkan deteriorasi pada rotor winding
insulation.

45
POTENSI
NO. TEMUAN FOTO Referensi Standar REKOMENDASI
BAHAYA
Insulation Titik pengujian Tahanan Dalam  Deviasi dengan factory test
Resistance Rotor Rotor Winding Pada temperature tidak melebihi 1%.
Winding 37 0C  Winding resistance standard
Winding Pole A-Pole B 0.235 Ω 0.2135 Ω pada temperature
resistance 180C
standard pada
 Winding temperature pada
temp 200C
temperature 200C :
: 0.2152 Ω
𝑅𝑇
Winding 𝑅20 =
resistance hasil 1 + (𝑇 − 20)/255.5 Deterorisasi
pengukuran pada Rotor generator.
temp 200C : Cleaning dan Re Furnish
1 0.2203 Ω Kegagalan
rotor generator
Deviasi dengan fungsi rotor
standard
: 2.3 % generator
Karena deviasi
melebihi 1%,
kemungkinan ada
potensi masalah
pada rotor
winding.

Polarization
Depolarization
Current Test
(PDCA) Rotor
Berdasarkan artikel Cigre D1-
Winding
210 tahun 2008 “Practical
C ratio Experiences On
Deterorisasi
mengindikasikan Condition Assessment of
moisture pada Stator Insulation Using Rotor generator.
Cleaning dan Re Furnish
2 insulation rotor Polarization/Depolarization Kegagalan
winding Current Technique, kondisi rotor generator
DDF isolasi yang bagus adalah pada fungsi rotor
mengindikasikan 1/3 durasi pengujian, arus generator
banyak polarisasi (arus charging) dan
contaminan arus depolarisasi (arus
Pattern PDC discharging) sama besar.
mengindikasikan
banyaknya
contaminant
pada rotor
winding

46
REFERENSI

1. IEEE std 43-2000(R2006)


2. Manual Book Wedges Tightness Detector (WTD) 501 Iris
3. Practical Experiences On Condition Assesment Of Stator Insulation
Polarization/Depolarization Current technique, Cigre D1-210, 2008

47