Anda di halaman 1dari 15

TUGAS TEORI SASTRA

SEJARAH SINGKAT ALIRAN SASTRA DAN PENDEKATAN SASTRA

Ditulis untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Teori Sastra

Dosen : Agus Priyanto, S.Pd., M.Sn.

SRI YULI

17210074

B1 G1 2017

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) SILIWANGI


BANDUNG

2017
SEJARAH SINGKAT ALIRAN SASTRA DAN PENDEKATAN SASTRA

A. ALIRAN-ALIRAN SASTRA
Aliran-aliran dalam kesusastraan memiliki kesamaan dengan aliran dalam kesenian
yang lain, misalnya dalam seni lukis, seni drama, bahkan dalam dunia filsafat dan
kehidupan sosial. Aliran dalam kesusastraan berhubungan erat dengan pandangan hidup
dan kejiwaan pengarang dan penyair, serta biasanya terekspresikan dalam karya-karya
mereka. Artinya, kita memasukkan seorang sastrawan/sastrawati ke dalam aliran
tertentu, hendaknya berdasarkan buah cipta mereka. Dengan demikian, seorang
pengarang bisa dimasukkan ke dalam beberapa aliran, karena corak karyanya yang
bermacam-macam. Sementara itu, sebuah novel, cerpen, puisi atau teks drama bisa
dijadikan beberapa contoh yang menunjukkan bahwa seorang pengarang menganut
beberapa aliran.
Ambillah contoh “Nyanyi Sunyi” karya Amir Hamzah, “Ziarah”, “Merahnya Merah”,
dan “Kering” karya Iwan Simatupang, “Gadlob” dan “Adam Makrifat” karya Danarto,
“Harimau! Harimau!”, “Jalan Tak Ada Ujung” dan “Maut dan Cinta” karya Muchtar Lubis.
Antologi puisi “Nyanyi Sunyi” bisa digunakan contoh untuk romantisme, mistisme, atau
religiusme, tiga novel Iwan yang tadi telah disebut untuk absurdisme dan
eksistensialisme, karya-karya Danarto untuk mistisisme, simbolisme dan absurdisme,
karya-karya Muchtar Lubis untuk idealisme, humanisme, psikolonialisme.
Aoh. K.Hadimadja dalam bukunya “Aliran-aliran Klasik Romantik, dan Realisme
dalam Kesusastraan” mengatakan bahwa “aliran itu tidak lain daripada keyakinan yang
dianut golongan-golongan pengarang yang sepaham, ditimbulkan karena menentang
paham-paham lama. Adakalanya para penganut aliran yang sama tidak sepaham benar-
benar, akan tetapi pada dasarnya mereka tidak bertentangan, dan ciri-cirinya pengarang
membawa pembawaan dan kepribadian yang khas atau ada seorang karena ciri-ciri yang
umum itu, mereka dapat digolongkan ke dalam aliran tertentu”.
Sementara itu H.B. Jassin dalam bukunya “Tifa Penyair dan Daerahnya” menyatakan
bahwa aliran dalam sastra dapat “mengenai cara pengucapan daripada isi yang
diucapkan,“ tetapi “ada pula aliran-aliran yang menyatakan isi“.
Dari penjelasan di atas dapatlah kita pahami bahwa aliran dalam sastra sebenarnya
berpangkal pada kesadaran sastrawan untuk menentang paham atau aliran sebelumnya.
Perlawanan menentang paham atau aliran lama itu diwujudkan dalam bentuk ciptaan
yang menunjukkan ciri lain daripada yang ada sebelumnya. Ingatkah Anda pada
kumpulan sanjak “Tiga Menguak Takdir”? Kumpulan sajak itu sebenarnya merupakan
bukti perlawanan kelompok penyair muda (Chairil Anwar, Rivai Apin, Asrul Sani)
terhadap Sutan Takdir Alisjahbana. Perlawanan itu bertolak dari konsepsi kesenian yang
berbeda antara dua kelompok sastrawan itu (Pujangga Baru versus Angkatan ‘45).
Di Indonesia sebenarnya adanya aliran yang secara sadar diperjuangkan untuk
menentang paham atau aliran sebelumnya belum banyak terjadi. Hal ini salah satu di
antaranya disebabkan oleh usia sejarah sastra Indonesia yang belum begitu lama.
Salah satu indikator (petunjuk) adanya golongan yang menentang kelompok
sastrawan sebelumnya adalah : adanya suatu manifestasi yang menyatakan pendirian
kelompok itu dalam memperjuangkan gagasan-gagasan barunya. Angkatan ‘45 misalnya
dengan manifestasi yang tercantum pada “Surat Kepercayaan Gelanggang “ menyatakan
pendirian kelompok tersebut, yang berbeda pendirian dari kelompok sastrawan
Pujangga Baru, sementara itu “Manifes Kebudayaan “ (17 agustus 1963) lebih banyak
merupakan sikap politik dari sastrawan kelompok bebas (Manifes) terhadap sastrawan
Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), daripada pernyataan melawan kelompok
sastrawan generasi sebelumnya. Hal ini disebabkan sastrawan kelompok Manifes dan
kelompok Lekra hidup sezaman.
Berikut ini akan kita pelajari beberapa aliran dalam sastra. Hendaknya dipahami
bahwa aliran-aliran yang disebutkan di sini tidak menjamin bahwa sastrawannya secara
sadar ingin memperjuangkan gagasan-gagasan aliran, dengan konsep atau pengertian
aliran. Dapat kita indentifikasi karya sastra tertentu termasuk ke dalam kategori aliran
sastra tertentu. Hendaknya kita sadari bahwa masalah aliran ini bukan merupakan
monopoli bidang sastra. Aliran-aliran itu dapat berlaku dalam bidang seni lainnya,
terutama pada seni lukis. Demikianlah jika kita berbicara tentang aliran realisme, maka
aliran itu tidak hanya khusus berlaku pada sastra, tetapi juga berlaku pada seni lukis.
Penjelasan berikut ini tidak berdasarkan pada urutan sejarah kelahirannya.

1. REALISME
Aliran ini mengutamakan realitas kehidupan. Sastra realis merupakan kutub
seberang dari sastra imajis. Apa yang diungkapkan para pengarang realis adalah hal-
hal yang nyata, yang pernah terjadi, bukan imajinatif belaka. Biografi, otobiografi,
true-story, album kisah nyata, roman sejarah, bisa kita masukkan ke sini. Sastra realis
juga berbeda dengan berita surat kabar atau laporan kejadian, karena ia tidak
semata-mata realistik. Sebagai karya sastra, ia pun dihidupkan oleh pijar imajinasi
dan plastis bahasa yang memikat.
Novel “Fatimah“ karya Titie Said, “Rindu Ibu adalah Rinduku” karya Motinggo
Boesye, “Bilik-bilik Muhammad” karya A.R.Baswedan, skenario “Arie Anggara“ karya
Arswendo Atmowiloto, novel biografis “Pangeran dari Seberang“ karya N.H.Dini
tentang Amir Hamzah, novel “Dari Hari ke Hari“ Mahbub Junaidi, “Guruku Orang
Pesantren“ Syaifuddin Zuhri merupakan sekadar contoh sastra realis ini. Ia berusaha
berjujur terhadap kenyataan, tetapi hal-hal yang peka, diungkapkan dengan cukup
etis dan sublim.
M.H. Abrams dalam kamusnya “ Glossary of Literary Terms “ menyebutkan
bahwa realisme digunakan dalam 2 pengertian :
a. Untuk mengidentifikasi gerakan sastra pada abad XIX, khususnya prosa fiksi.
b. Menunjukkan cara penggambaran kehidupan di dalam sastra. Fiksi realistik
sering dioposisikan dengan fiksi romantik. Di dalam romantik disajikan kehidupan
yang lebih indah, lebih berani mengambil resiko, dan lebih heroik, dari pada yang
nyata.

2. SURREALISME
Aliran yang terlalu mengagungkan kebebasan kreatif dan berimajinasi
sehingga hasil yang dicapai menjadi antilogika dan antirealitas. Bisa jadi apa yang
terungkap itu pada mulanya berangkat dari kenyataan sekitar, tetapi karena desain
imajinasinya itu sudah demikian sarat, kuat dan jauh, ia terasa ekstrim dan radikal.
Ada semacam keadaan trans (hanyut/kesurupan) di sana, sesuatu yang tidak kita
temukan dalam realisme maupun naturalisme.
Surrealisme lebih dekat terhadap absurdisme daripada terhadap realisme.
Dari sisi tertentu sanjak-sanjak Rendra “Khotbah“, “Nyanyian Angsa“, “ Mencari
Bapa“, cerpen-cerpen Danarto “Godlob“, “Kecubung Pengasihan“, “Rintrik“, “Sanu,
Infinita Kembar“ Motenggo Boesye bisa ditunjuk sebagai contoh surrealisme.
Surrealisme merupakan gerakan di kalangan pengarang dan pelukis di
Perancis, yang dimulai sekitar tahun 1920 an. Gerakan ini menghendaki adanya
kebebasan dalam kreativitas artistik, mengungkapkan bawah sadar dengan imaji-
imaji tanpa adanya urutan atau koherensi (seperti di dalam mimpi), membebaskan
diri dari alasan yang logis, standar moralitas, konvensi dan norma-norma sosial dan
artistik.
Surrealisme dapat diartikan sebagai melebihi realisme, karena surrealisme
juga mengagung-agungkan asosiasi yang bebas serta penulisan secara otomatis,
fantasi yang tak terkendali serta asosiasi yang bebas mewakili suatu dunia yang lebih
realistis daripada kenyataan yang riil. Surrealisme mencoba mengeksploatasi materi-
materi di dalam mimpi, keadaan jiwa antara tidur dan jaga, dan menyerahkan
penafsirannya kepada pembaca.
H.B. Jassin menyatakan bahwa “Surrealisme menghendaki keseluruhan dan
kesewaktuan. Sebab itu hasil kesusastraan surrealisme jadi sukar untuk
menurutkannya, logika hilang, alam benda dan alam pikiran dan angan-angan
bercampur baur dalam keseluruhan dan kesewaktuan.

3. ABSURDISME
Aliran dalam kesusastraan yang menonjolkan hal-hal yang di luar jalur logika,
satu kehidupan dan bentang peristiwa imajinatif, dari alam bawah sadar, suasan
trans. Pengarang aliran ini punya kesan mengada-ada, sengaja menyimpang dari
konvensi kehidupan dan pola penulisan, tetapi pada super starnya, nampak kuat
kebaruan dan kesegaran kreativitas mereka, bahkan kegeniusan mereka. Umumnya,
mereka ini pernah pula sukses sebagai pengarang konvensional, sebagaimana para
pelukis abstrak yang sempat meroket dan malang melintang di langit dunia mereka,
bukan sunyi dari penciptaan lukisan-lukisan naturalis. Dramawan
kontemporer/absurd yang tersohor, misalnya Putu Wijaya, N. Riantiarno dan Arifin
C. Noer, juga punya seabrek karya konvensional.
Di langit sastra Indonesia, absurdisme sudah memancar dan mendarah
daging pada karya-karya Iwan Simatupang di dasawarsa 60 an, baik dalam dramanya
“Petang di Sebuah Taman“, dan “RT 0 RW 0“, cerpen-cerpennya yang terakit dalam
“Tegak Lurus dengan Langit“, maupun dalam empat novel monumentalnya :
“Kering“, “Merahnya Merah“, “Ziarah“, “Koooong“. Ternyata, kehidupan yang serba
mungkin dan dirias renda-renda absurditas ini banyak mengilhami lahirnya sastra
absurd, sebagai bisa diciptakan oleh penyair Sutarji Calzoum Bachri dalam “O Amuk
Kapak“, “Yudhistira Ardi Noegraha dalam“ Omong Kosong“, dan “Sajak Sikat Gigi“,
serta oleh Ibrahim Sattah dan Sides Sudiarto Ds. dalam sanjak-sanjak mereka, oleh
pengarang Budi Darma dalam kumcerpen “Orang-orang Bloomington”, oleh Putu
Wijaya dalam karya-karya sastranya “Telegram“, “Stasiun“, “Lho“, “Keok“, “Sobat“,
“Gres“, di samping drama-dramanya “Anu“, “Dag Dig Dug“, “Aduh“, “Zat“, oleh Arifin
C. Noer dalam “Kapai-kapai“, “Mega-mega“, “Dalam Bayangan Tuhan atawa
Interogasi“, oleh N. Riantarno dalam “Bom Waktu“, “Opera Kecoak“ dan naskah
saduran “Perempuan-perempuan Parlemen“.

4. PSIKOLOGISME
Aliran yang mengutamakan pembahasan masalah kejiwaan dalam kaitannya
dengan berbagai peristiwa dalam cerita. Dalam novel, suasana jiwa dan konflik batin
para pelaku disoroti dengan tajam, detail dan mendalam. “Belenggu” Armijn Pane,
“Atheis“ Achdiat Kartamiharja, “Royan Revolusi“ dan “Kemelut hidup“ Ramadhan
K.H., “Damai dalam Badai“ dan “Cintaku Selalu Padamu“ Motenggo Boesye, “Bila
Malam Bertambah Malam“ Putu Wijaya, novel-novel N.H. Dini, Titie Said, La Rose,
Ike Supomo, Marga T., Ashadi Siregar, Ahmad Tohari, bisa disebut sebagai novel
psikologi.

5. ALIRAN ROMANTIK
Sastra romantik ditandai dengan ciri-ciri : keinginan untuk kembali ke tengah
alam, kembali kepada sifat-sifat yang asli, alam yang belum tersentuh dan terjamah
tangan-tangan manusia. Istilah ini juga mencakup ciri-ciri adanya : keterpencilan,
kesedihan, kemurungan, dan kegelisahan yang hebat. Kecuali itu romantik juga
cenderung untuk kembali kepada zaman yang sudah menjadi sejarah, masa lampau
yang terkadang melahirkan manusia-manusia besar. Pengungkapan yang romantis
sering dikaitkan dengan percintaan yang asyik dunia muda-mudi yang masih hijau
dan belum banyak pengalaman. Tokoh-tokoh dalam fiksi romantik sering
digambarkan dengan sangat dikuasai oleh perasaannya dalam merumuskan segala
persoalan. Dikisahkan juga tokoh-tokoh yang tak tahan menghadapi hidup yang
keras dan kejam. Mereka itu kemudian ada yang lari kegunung atau tempat terpencil
lainnya yang dirasakannya jauh dari kekerasan hidup.
Aoh K. Hadimadja menyatakan bahwa salah satu ciri alam romantik tokoh-
tokohnya suka membunuh diri, karena terlalu kuat dihinggapi perasaan.
Romantisme, aliran yang mementingkan curahan perasaan yang indah dan
menggetarkan yang diungkapkan dalam estetika diksi dan gaya bahasa yang
mendayu-dayu membuai sukma. Contoh : puisi-puisi Amir Hamzah “Buah Rindu“,
“Karena Kasihmu“, “Memuji Dikau“, “Mengawan“, “Do’a“, karya-karya Hamka
“Tenggelamnya Kapal Van der Wijk“, “Di Bawah Lindungan Ka’bah“, “Di dalam
Lembah Kehidupan“, roman “Upacara“ dan kumpulan sanjak “Nyanyian Ibadah“ nya
Korrie Layun Rampan, kumpulan sajak “Romance Perjalanan“ Kirjomulyo, “Buku
Puisi“ nya Hartoyo Andangjaya.

6. EKSISTENSIALISME
Liaw Yock Fang dalam bukunya “Ikhtisar Kritik Sastra” menyatakan bahwa
“Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang kemudian menjadi landasan suatu aliran
sastra.”
Ajaran yang pokok dari eksistensialisme ialah bahwa manusia adalah apa
yang diciptakannya sendiri. Manusia tidak ditakdirkan oleh Tuhan. Jika ia menolak
memilih atau membiarkan dirinya dipengaruhi oleh kekuatan luar, itu adalah
kesalahannya sendiri. Karena itu, karya sastra eksistensialisme sangat mementingkan
perbuatan –termasuk perbuatan kemauan- sebagai unsur-unsur yang menentukan.
Unsur-unsur dasar dari manusia seperti irrasionalitas, ketidak sadaran dan
kebawahsadaran juga dipentingkan. Kehidupan dipandang sebagai sesuatu yang
dinamis, yang terus mengalir sedangkan kehidupan manusia adalah rentetan saat-
saat yang berurutan”.
Fuad Hasan dalam bukunya “Berkenalan dengan Eksistensialisme” mencoba
memprkenalkan suatu alam pikiran yang dewasa ini dikenal dengan nama
eksistensialisme, dengan membutiri pendapat filsuf eksistensialis melalui hasil-hasil
karya sastranya. Beberapa pikiran tokoh eksistensialisme itu dikutipkan berikut ini :
a. Manusia adalah pengambil keputusan dalam eksistensinya. Apapun keputusan
yang diambilnya tak pernah ia mantap sempurna (Kiergaard).
b. Manusia akan terus menerus dihadapkan pada pilihan-pilihan (Kiergaard).
c. Dalam hidup ini yang kuatlah yang akan menang, maka kebajikan utama dalam
kehidupan adalah kekuatan, apa yang baik, harus kuat ; sebaliknya segala yang
lemah adalah buruk dan salah (Niezseche).
d. Dalam pergaulan antara manusia maka yang harus ditumbuhkan dalam manusia-
manusia agung yaitu manusia yang oleh kekuatan tak bisa mengatasi kumpulan
manusia-manusia dalam massa (Nietzseche).

7. FILSAFATISME
Aliran yang mengedapankan hadirnya nilai-nilai filsafati, suatu pemikiran
mendalam makna hidup, yang biasanya berangkat dari penghayatan personal. Para
pengarang dan penyair yang karya-karyanya kental berkadar filsafat disebut
pujangga. Tidak sedikit di antara mereka sekaligus filsuf.
Dari R.A. Kartini, R. Ng. Ronggowarsito, Muhammad Iqbal, Kahlil Gibran,
Frans Kafka, Iwan Simatupang, Subagio Sastrowardoyo, Putu Wijaya, Emha Ainun
Najib, banyak terlahir sastra filosofis.
Sastra filosofis ada yang berkadar humanis, adapula yang religius. Di sisi lain
kita temukan spiritualisme, aliran yang mementingkan nilai-nilai ruhani, kehidupan
batiniah, yang menuju kebajikan dan kesempurnaan. Spiritualisme berbeda dengan
psikologisme, karena spiritualisme sudah mengacu ke moral luhur, sedang
psikologisme membahas kehidupan dari segi jiwanya, lepas dari masalah atau tanpa
keharusan penyampaian-penyampaian nilai-nilai dan akhlak mulia.
Sanjak-sanjak ruhani bisa merupakan bagian dari filsafatisme, di samping ia
sendiri merupakan perwujudan spiritualisme. Filsafatisme bisa berangkat dari
pikiran, bisa pula diilhami wahyu atau mewujudkan renungan hati nurani. Contoh-
contoh di bawah ini bisa dimasukkan ke dalam filsafatisme, tetapi juga benar untuk
dimasukkan ke dalam spritualisme.

8. EKSPRESIONISME DAN IMPRESIONISME


M.H. Abrams menyatakan bahwa ekspresionisme adalah gerakan dalam
sastra dan seni di Jerman yang mencapai puncaknya pada periode 1910 – 1952. Para
pelopornya seniman dan pengarang yang dengan bermacam cara menyimpang dari
penggambaran yang realistik tentang kehidupan dan dunia. Mereka
mengekspresikan pandangan seni mereka atau emosi secara kuat. Ekspresionisme
tidak pernah merupakan suatu gerakan yang dirancang secara baik. Dapat dikatakan
bahwa ciri utama ekspresionisme adalah pemberontakan melawan tradisi realisme
dalam bidang sastra dan seni, baik dalam hal pokok persoalannya (subyect matter)
maupun gayanya (style).
A.F. Scott dalam kamusnya Current Literary Terms A Concis Dictionary
menyatakan bahwa impresionisme merupakan cara menulis karangan yang tidak
memperlakukan realitas secara obyektif, tetapi menyajikan kesan-kesan
(impressions) dari pengarangnya. Istilah impressionisme ini berasal dari dunia seni
lukis pad paruh pertama abad ke 19 di Perancis.
Sementara itu H.B. Jassin menyebutkan bahwa “suatu lukisan yang
impresiomistis kelihatannya seperti belum selesai. Baru hanya skets. Segala sesuatu
tidak dilukiskan pikiran-pikiran yang sudah masak dipikirkannya, dia hanya mau
melukiskan kesannya sepintas lalu, kesan pertama yang segar“.

9. MELANKHOLISME
Aliran dengan karya-karya penuh warna muram, sendu, kehidupan yang getir
dan tragis, sarat ratapan dan rintihan. Kisah cinta klasik, drama-drama dalam film
India, cerita-cerita dengan tema kemiskinan, kemalangan hidup dan penderitaan
termasuk melankholisme. “Di dalam Lembah Kehidupan“, “ Tenggelamnya Kapal Van
der Wijk“, “Di bawah Lindungan Ka’bah“ karya Hamka, “Buku Harian Seorang
Penganggur“ dan cerpen-cerpen serta drama-drama Muhammad Ali, puisi-puisi Amir
Hamzah dalam “Buah Rindu“, kebanyakan sanjak-sanjak Leon Agusta, merupakan
sastra melankholik. Lagu-lagu Rinto Harahap, Charles Hutagalung, Benny Panjaitan,
A. Riyanto bisa dimasukkan ke sini.

10. IRONISME
Aliran yang mementingkan nada mengejek, kadang terus terang, kadang
melalui sindiran-sindiran. Bisa juga, karya itu sebenarnya merupakan kritik tajam
terhadap kondisi sosial atau perilaku tokoh tertentu. “Melaut Benciku“ Amal
Hamzah, “Kisah Sebuah Celana Pendek“ Idrus, beberapa cerpen Hamsad Rangkuti
dan “Sumpah WTS“ dan “Catatan Harian Seorang Koruptor“ F. Rahardi merupakan
contoh ironisme.

11. NIHILISME
Aliran yang mengekspos peristiwa atau pemikiran-pemikiran, bisa saja
sampai tingkat filsafat, tanpa landasan moral kemanusiaan, apalagi Keilahian. Cerita-
cerita yang ateistik, komunistik, sekuleristik, chauvinistik bisa dimasukkan ke dalam
fiksi nihilis. Ada memang, cerita yang menghadirkan paham-paham penafian Tuhan,
pemasabodohan agama dan penghalalan segala cara untuk mencapai tujuan,
misalnya “ Atheis “ nya Achdiat Kartamihardja, tetapi karena tenden pengarang tidak
ke sana sebagai justru terlihat dalam sikap Achdiat yang mengkritik tokoh-tokoh
ceritanya itu, maka karangan tersebut tidak bisa digolongkan ke dalam nihilisme.
12. NATURALISME
Aliran yang mementingkan pengungkapan secara terus-terang, tanpa
mempedulikan baik buruk dan akibat negatif. Pengarang naturalis dengan tenangnya
menulis tentang skandal para penguasa atau siapapun, dengan bahasa yang bebas
dan tajam. Pornografi, karya mereka jatuh menjadi picisan, bukan tabu bagi mereka.
Biasanya, hal ini benar-benar mereka sadari, bahkan mereka pun sempat
membanggakan naturalisme ini sebagai gaya mereka. Kumpulan sanjak F. Rahardi,
“Catatan Harian Sang Koruptor“ dan “Sumpah WTS“, beberapa sanjak Rendra
“Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta“, “Rick dari Corona“, “Sajak Gadis dan
Majikan“, Sajak SLA bisa ditunjuk sebagai contoh pengibar aliran ini. Dari khazanah
lama “Surabaya“ nya Idrus bisa digunakan sebagai contoh meskipun tidak seseru
punya F. Rahardi dan Rendra.

13. DETERMINISME
Istilah determinisme berasal dari doktrin filsafat yang menyatakan bahwa
setiap kejadian atau peristiwa itu ada penyebabnya. Dalam sastra, determinisme
mencoba menggambarkan tokoh-tokoh cerita dikuasai oleh nasibnya, sehingga
tokoh tersebut tidak sanggup dan tidak mampu lagi ke luar dari takdir yang telah
jatuh pada dirinya.
Takdir yang dimaksudkan di sini bukanlah takdir dari Tuhan sesuai dengan
konsepsi yang berlaku pada agama langit, melainkan takdir yang lebih tepat
dikatakan sebagai akibat yang tak dapat dielakkan karena peristiwa-peristiwa yang
mendahuluinya, berupa faktor-faktor biologis, lingkungan dan sosial.
H.B. Jassin menyatakan bahwa nasib itu “ditentukan oleh keadaan
masyarakat sekitar, kemiskinan, penyakit, darah keturunan, dalam hubungan sebab
akibat. Menurut ilmu keturunan, ayah atau ibu yang jahat akan menurunkan sifat-
sifat jahatnya pada anaknya atau cucu-cucunya, biarpun keturunannya itu
bermaksud baik, mau memperbaiki dirinya. Apabila si orang tua jahat, maka itu
bukan pula karena sudah ditakdirkan Tuhan demikian, tetapi karena keadaan
masyarakat yang serba bobrok, orang hidup dalam kemiskinan yang sangat,
pembagian harta kekayaan antara manusia tidak adil“. (contoh novel “Di Bawah
Lindungan Ka’bah” oleh Hamka).
Determinisme berpendapat bahwa tragedi hidup manusia sudah tercetak
dalam kemutlakan, merupakan paksaan nasib yang tak bisa ditembus oleh segenap
daya dan ikhtiar sang pelaku. Orang sadar dengan kodratnya, sebagai wong cilik,
sebagai hamba sahaya, sebagai sang kurban, sehingga tidak akan banyak menuntut.
Ia legawa-legalila nrima ing pandum menerima suratan nasib, seperti yang terjadi
pada Maria Magdalena Pariyem dalam liris prosanya Linus Suryadi Ag. . Atau, seperti
skenario semula, memang tragis penuh tangis. Determinisme bisa dijumpai dalam
“Trilogi Oedipus“ nya Sophokles, “Tragedi Sangkuriang “, “Pengakuan Pariyem“ nya
Linus Suryadi AG, novel “Kuterima Penderitaan Ini, Ibu“ Motenggo Boesye, tokoh-
tokoh cerita Iwan Simatupang, Putu Wijaya, Arifin C yang papa. (baca “Merahnya
Merah” dan “Kering” karya Iwan, “Pol” dan “Stasiun” karya Putu, “Mega-mega”,
“Kapai-kapai”, “Umang-umang” klarya Arifin).

14. SIMBOLISME
Pengungkapan simbolis tidak secara harfiah, melainkan dengan simbol-
simbol. Sebuah simbol berarti sesuatu yang bermakna sesuatu yang lain. Bunga
mawar sebagai simbol dari kecantikan.
Simbolisme merupakan aliran dalam sastra yang mencoba mengungkapkan
ide-ide dan emosi lebih dengan sugesti-sugesti daripada menggunakan ekspresi
langsung, melalui objek-objek, kata-kata dan bunyi. Aliran ini merupakan reaksi
terhadap realisme dan naturalisme yang hanya berpijak pada kenyataan semata.
Sastra simbolik banyak menggunakan simbol atau lambang dalam mengungkapkan
pemikiran, emosi, secara samar-samar dan misterius.
Karya simbolik terkadang sukar dipahami dan hanya secara samar-samar
ditangkap maknanya.
Penyair simbolik bahkan menyukai yang samar-samar itu, oleh karena bagi
mereka puisi harus merupakan teka-teki bagi orang biasa, tetapi sebenarnya
merupakan musik yang indah bagi yang dapat menghayati dan menikmatinya. Puisi
simbolik mencapai keindahannya dengan mengungkapkan objek secara tidak
langsung, secara sugestif, dan dengan memperhitungkan efek musiknya yang
mengandung makna.
Simbolisme, banyak menggunakan kata-kata kias, lambang-lambang, kata-
kata yang bermakna simbolik untuk melukiskan sesuatu. Sesungguhnya, semua fabel
(misalnya “Serial Kancil”, “Hikayat Kalilah dan Daminah”) adalah contoh tepat
simbolisme ini. “Dengar Keluhan Pohon Mangga “, karya Maria Amin, “Musyawarah
Burung“ karya Fariduddin Attar, “Kucing“ sanjak Sutardji Q.B., “Ikan-ikan Hiu, Ido,
Homa“ karya Y.B. Mangunwijaya, “Ular dan Kabut“ sanjak Ayip Rosidi, “Sebuah Lok
Hitam“ puisi Hartoyo Andangjaya, hanya sekadar contoh sastra simbolik ini.

15. IDEALISME
Aliran dalam kesusastraan yang mengungkapkan hal-hal yang ideal,
pengarangnya penuh perasaan dan cita-cita. Mereka berpendapat, sastra punya
peran untuk suatu perubahan sosial ke arah yang positif. Sastra bertenden, sebutan
untuk karya-karya pengarang idealis, diharapkan mampu mengubah sikap hidup
masyarakat atau pembaca dari yang kurang baik menjadi baik, dari yang statis
menjadi dinamis, dari yang malas menjadi rajin, dan seterusnya. Contoh:
a. “HabisGelap Terbitlah Terang“ karya R.A. Kartini;
b. “Layar Terkembang“ karya Sutan Takdir Alisjahbana
c. “Kemarau“ karya A.A. Navis, cerpen “Kadis“ karya Muhammad Diponegoro.
d. Cerpen “Sisifus” karya Muhammad Fudoli Zaini

16. HEROISME
Aliran yang mencuatkan nilai-nilai kepahlawanan, kecintaan terhadap tanah
air dan figur teladan bangsa, serta semangat membela tanah air. “Bende Mataram“
karya Muhammad Yamin, “Diponegoro“ karya Chairil Anwar, “Monginsidi“ karya
Subagio Sastrowadojo, “Tanah Tumpah Darah“ karya Sitor Situmorang, “Stasiun
Tugu“ karya Taufik Ismail, “Ode bagi Proklamator“ karya Leon Agusta, dan tentu
saja lagu kebangsaan “Indonesia Raya“ dan lagu-lagu nasional “Ibu Kita Kartini“,
“Satu Nusa Bangsa“, “Padamu Negeri“, “Rayuan Pulau Kelapa“, juga lagu-lagu
“Sepasang Mata Bola“, “Melati Tapal Batas“, “Pantang Mundur“, merupakan
contoh-contoh heroisme ini. “Percikan Revolusi“ dan “Cerita-cerita dari Blora“ karya
Pramudya serta cerpen-cerpen revolusi Trisno Yuwono “Di Medan Perang“ dan
“Laki-laki dan Mesiu“ bisa dimasukkan ke sini. Heroisme pun kita temukan pada lagu-
lagu tertentu ciptaan Leo Kristi dan Gombloh almarhum.

17. RELIGIUSISME
Religiusme, aliran yang mementingkan nilai-nilai keagamaan atau renungan
tentang Tuhan dan manusia di hadapan-Nya. Sastra religius dimiliki oleh setiap
agama, juga oleh sastrawan yang punya penghayatan personal terhadap Tuhan.
“Gitanyali“ karya Rabindranath Tagore, “Rindu Dendam“ karya Y.E. Tatengkeng,
“Kata Hati“ karya Samadi, beberapa sanjak Rendra dalam “Sajak-sajak Sepatu Tua“,
“Balai-balai“, “Sajadah Panjang“, “Aisyah Adinda Kita“ karya Taufik Ismail, “99 untuk
Tuhanku“ karya Emha Ainun Najib, “Nyanyian Ibadah” karya Korrie Layun Rampan,
cerpen “Di dalam Kereta Api Perjalanan Hidup“ karya Riyono Pratikto, novel “Rindu
Ibu adalah Rinduku“ dan “Perempuan-perempuan Impian“ karya Motenggo Boesye,
“Wirid“ karya Ikranegara, novel “Ibuku Sayang“ karya Teguh Esha adalah sekadar
contoh sastra religius yang bisa dijumpai.

18. TRANSENDENTALISME
Aliran yang mengetengahkan nilai-nilai transendental, renungan-renungan
hidup yang mendalam, yang metafisis (di atas hal-hal yang fisik/nampak). Kalau
sastra sufi merupakan katarsisme, maka sastra aliran ini kebanyakan bersifat
kontemplatif. Sanjak-sanjak Afrizal Malna dalam “Abad yang Berlari”,
“Isyarat“ dan “Suluk Awang-uwung“ karya Kuntowijoyo, cerpen-cerpen Danarto dan
Hamid Jabbar, serta Ahmad Tohari, sanjak-sanjak Umbu Langgu Peranggi dan Goenawan
Mohamad, juga “Sejuta Milyar Satu“ karya Eka Budianta, merupakan contoh
Transendentalisme.

19. KOMEDIALISME
Penuh suasana ceria, kocak, menganggap hidup penuh optimisme dan rasa
humor, berbeda dengan determinisme dan melankolisme yang pessimistis. Tetapi ia
tidak identik dengan lawak. Gaya bahasa Mahbub Junaidi dan Slamet Suseno,
bahkan Y.B. Mangunwijaya dalam “Puntung-puntung Rara Mendut“ mengacu ke sini.
Drama “Tuan Kondektur“, “Pinangan“, “Orang-orang Kasar“ karya Anton Chekov,
“Kejarlah Daku kau Kutangkap“ karya Asrul Sani, novel “Dari Hari ke Hari“ karya
Mahbub Junaidi, “Arjuna Mencari Cinta“ dan “Yudhistira Duda“ oleh Yudhistira Ardi
Noegraha merupakan sebagian contoh komedialisme.

https://danririsbastind.wordpress.com/2011/04/13/aliran-aliran-dalam-kesusastraan/

B. PENDEKATAN SASTRA
Dalam mengkaji sebuah karya sastra, kita tidak dapat melepaskan diri dari cara
pandang yang bersifat parsial, maka ketika mengkaji karya sastra, seringkali seseorang
akan memfokuskan perhatiaanya hanya kepada aspek-aspke tertentu dari karya sastra.
Aspek-aspek tertentu itu misalnya berkenaan dengan persoalan estetika, moralitas,
psikologi, masyarakat, beserta dengan aspek-aspeknya yang lebih rinci lagi, dan
sebagainya. Hal itu sendiri, memang bersifat multidimensional. Karena hal-hal di atas,
maka muncul berbagai macam pendekatan kajian sastra. Berikut pendekatan dalam
kajian sastra:

1. Pendekatan Mimetik
Pendekatan mimetik adalah pendekatan yang dalam mengkaji karya sastra
berupa memahami hubungan karya sastra dengan realitas atau kenyataan. Kata
mimetik berasal dari kata mimesis (bahasa Yunani) yang berarti tiruan. Dalam
pendekatan ini karya sastra dianggap sebagai tiruan alam atau kehidupan (Abrams,
1981). Untuk dapat menerapkannya dalam kajian sastra, dibutuhkan data-data yang
berhubungan dengan realitas yang ada di luar karya sastra. Biasanya berupa latar
belakang atau sumber penciptaa karya sastra yang akan dikaji. Misal novel tahun
1920-an yang banyak bercerita tentang "kawin" paksa. Maka dibutuhkan sumber
dan budaya pada tahun tersebut yang berupa latar belakang sumber penciptaannya.
2. Pendekatan Ekspresif
Pendekatan ekspresif adalah pendekatan yang dalam mengkaji karya sastra
memfokuskan perhatiannya pada sastrawan selaku pencipta karya sastra.
Pendekatan ini memandang karya sastra sebagai ekspresi sastrawan, sebagai
curahan perasaan atau luapan perasaan dan pikiran sastrawan, atau sebagai produk
imajinasi sastrawan yang bekerja dengan persepsi-persepsi, pikiran atau perasaanya.
Kerena itu, untuk menerapkan pendekatan ini dalam kajian sastra, dibutuhkan
sejumlah data yang berhubungan dengan diri sastrawan, seperti kapan dan di mana
dia dilahirkan, pendidikan sastrawan, agama, latar belakang sosial budayannya, juga
pandanga kelompok sosialnya.

3. Pendekatan Pragmatik
Pendekatan pragmatik adalah pendekatan yang memandang karya sastra
sebagai sarana untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca. Dalam hal ini
tujuan tersebut dapat berupa tujuan politik, pendidikan, moral, agama, maupun
tujuan yang lain. Dalam praktiknya pendekatan ini cenderung menilai karya sastra
menurut keberhasilannya dalam mencapai tujuan tertentu bagi pembacannya
(Pradopo, 1994).
Dalam praktiknya, pendekatan ini mengkaji dan memahami karya sastra
berdasarkan fungsinya untuk memberikan pendidikan (ajaran) moral, agama,
maupun fungsi sosial lainnya. Semakin banyaknya nilai-nilai tersebut terkandung
dalam karya sastra makan semakin tinggi nilai karya sastra tersebut bagi
pembacannya.

4. Pendekatan Objektif
Pendekatan objektif adalah pendekatan yang memfokuskan perhatian
kepada karya sastra itu sendiri. Pendekatan ini memandang karya sastra sebagai
struktur yang otonom dan bebas dari hubungannya dengan realitas, pengarangm
maupun pembaca. Pendekatan ini juga disebut oleh Welek & Waren (1990) sebagai
pendekatan intrinsik karena kajian difokuskan pada unsur intrinsik karya sastra yang
dipandang memiliki kebulatan, koherensi, dan kebenaran sendiri.

5. Pendekatan Struktural
Pendekatan struktural ini memandang dan memahami karya sastra dari segi
struktur karya sastra itu sendiri. Karya sastra dipandang sebagai sesuatu yang
otonom, berdiri sendiri, bebas dari pengarang, realitas maupun pembaca (Teeuw,
1984). Dalam hal ini setiap unsur dianalisis dalam hubungannya dengan unsur yang
lain.
6. Pendekatan Semiotik
Dalam kajian sastra, pendekatan semiotik memandang sebuah karya sastra
sebagai sebuah sistem tanda.Secara sistematik, semiotik mempelajari tanda-tanda
dan lambang-lambang, sistem lambang, dan proses-proses perlambangan.
Pendekatan ini memandang fenomena sosial dan budaya sebagai suatu
sistem tanda. Tanda tersebut hadir juga dalam kehidupan sehari misal: bendera
putih di depan gang, maka orang akan berpikir ada salah satu keluarga yang sedang
ada yang berduka. contoh lain adalah mendung: orang akan berpikir hujan akan
segera turun sebentar lagi. Tentu saja untuk memahaminya dibutuhkan
pengetahuan tentang latarbelakang sosial-budaya karya sastra tersebut dibuat.
Tanda, dalam pendekatan ini terdiri dari dua aspek yaitu: penanda (hal yang
menandai sesuatu) dan petanda (referent yang diacu).

7. Pendekatan Sosiologi Sastra


Pendekatan sosiologi sastra merupakan perkembangan dari pendekatan
mimetik. Pendekatan ini memahami karya sastra dalam hubungannya dengan
realitas dan aspek sosial kemasyarakatannya. Pendekatan ini dilatarbelakangi oleh
fakta bahwa keberadaan karya sastra tidak dapat lepas dari realitas sosial yang
terjadi di suatu masyarakat (Sapardi Djoko Damono 1979).

8. Pendekatan Resepsi Sastra


Resepsi berarti tanggapan. Dari pengertian tersebut dapat kita pahami makna
resepsi sastra adalah tanggapan dari pembaca terhadap sebuah karya sastra.
Pendekatan ini mencoba memahami dan menilai karya sastra berdasarkan
tanggapan para pembacanya.

9. Pendekatan Psikologi Sastra


Wellek & Waren (1990) mengemukakan empat kemungkinan pengertian.
Pertama adalah studi psikologi pengarang sebgai tipe atau pribadi. Kedua studi
proses kreatif. Ketiga studi tipe dan hukum-hukum psikologi yang diterapkan dalam
karya sastra. Pengertian keempat menurut Wellek & Waren (1990) terasa lebih
dekat pada sosiologi pembaca.
10. Pendekatan Moral
Di samping karya sastra dapat dibahas dan dikritik berdasrkan sejumlah
pendelatan yang telah diuraikan sebelumnnya, karya sastra juga dapat dibahasa dan
dikritik dengan pendekatan moral. Sejauh manakah sebuah karya sastra
menawarkan refleksi moralitas kepada pembacanya. Yang dimaksudkan dengan
moral adalah suatu norma etika, suatu konsep tentang kehidupan yang dijunjung
tinggi oleh masyarakatnnya. Moral berkaitan erat dengan baik dan buruk.
Pendekatan ini masuk dalam pendekatan pragmatic

11. Pendekatan Feminisme


Pendekatan feminisme dalam kajian sastra sering dikenal dengan nama kritik
sastra feminis. Pendekatan feminisme ialah salah satu kajian sastra yang
mendasarkan pada pandangan feminisme yang menginginkan adanya keadilan
dalam memandan eksistensi perempuan, baik sebagai penulis maupun dalam karya
sastra (Djananegara, 2000:15).

http://www.rumpunsastra.com/2014/09/pendekatan-dalam-kajian-sastra.html