Anda di halaman 1dari 3

NADHIA MAHARANY SIARA

NIM. 135060601111003
EVALUASI PERENCANAAN
KELAS C

METODE EVALUASI PERENCANAAN

Evaluasi perencanaan bertujuan untuk memperoleh informasi dan menarik


pelajaran dari pengalaman mengenai pengelolaan kegiatan, output atau keluaran, manfaat
dan dampak dari kegiatan perencanaan yang telah selesai dilaksanakan. Adapun jenis-
jenis evaluasi perencanaan ada tiga tahapan, yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan
dan tahap pasca pelaksanaan. Tahap perencanaan dilakukan sebelum ditetapkannya
rencana pembangunan, dengan kata lain pemilihan dan penentuan skala prioritas dan cara
untuk mencapai tujuan telah dirumuskan sebelumnya. Tahap pelaksanaan dilakukan saat
proses pelaksanaan rencana pembangunan yang bertujuan untuk meningkatkan kemajuan
pelaksanaan rencana dibandingkan dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya.
Sedangkan tahapan pasca pelaksanaan dilaksanakan setelah pelaksanaan rencana berakhir
dan bertujuan untuk melihat pencapaian pembangunan apakah sudah mampu mengatasi
masalah pembangunan yang ingin dipecahkan.
Pada kegiatan evaluasi perencanaan, terdapat beberapa metode yang digunakan antara
lain:
Instrument Rationality
Instrument rationality merupakan suatu tindakan sosial yang dilakukan seseorang
didasarkan atas pertimbangan dan pilihan sadar yang berhubungan dengan tujuan
tindakan itu dan ketersediaan alat yang dipergunakan untuk mencapainya. Tindakan tentu
saja melalui pertimbangan agar dapat mencapai tujuan tertentu.
Alat yang digunakan dalam instrument rationality dapat berupa:
1. Activity-based costing (ABC) yang berguna untuk menentukan biaya menurut
apa yang dibayar untuk tugas berbeda yang dikerjakan karyawan. Biaya yang
berhubungan dengan aktivitas seperti memproses pesanan penjualan,
mempercepat pesanan pemasok dan atau pelanggan, memecahkan masalah
kualitas pemasok dan atau masalah pengantaran, dan memperlengkapi mesin
semuanya dihitung
2. Economic value added (EVA). EVA ditentukan dengan membagi biaya kapital
total dengan keuntungan operasi setelah pajak. Apa saja yang dihabiskan oleh
perusahaan pada penelitian dan pengembangan atau pelatihan karyawan
dianggap sebagai investasi kapital dan ditambahkan dalam biaya kapital.
3. Cost Effectiveness Analysis ( Analisis biaya manfaat ) adalah suatu alat analisis
dengan prosedur yang sistematis untuk membandingkan serangkaian biaya dan
manfaat yang relevan dengan sebuah aktivitas atau proyek. Metode-metode untuk
menganalisis manfaat dan biaya suatu proyek yaitu Metode Payback Period (PP),
Metode Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan
Perbandingan Manfaat Biaya / Benefit-Cost Ratio (BCR).

Substantive Rationality
Rasionalitas substantif merujuk pada sistem berpikir yang didasarkan pada
sejumlah nilai substantif tertentu yang dijunjung tinggi, memiliki jangkauan ke depan
yang lebih luas, dan ditujukan bukan untuk kepentingan subjektif individual ataupun
kelompok, melainkan untuk kepentingan publik dan peradaban. Rasionalitas substantif
melibatkan pemilihan sarana untuk mencapai tujuan dalam konteks system nilai. Suatu
system nilai (secara substantif) tidak lebih rasional daripada system lainnya. Nilai-nilai
semacam itu, antara lain fatsun politik, kedaulatan rakyat, keadilan sosial, kemanusiaan
yang adil dan beradab, dan good governance.
Alat analisis dalam metode substantive rationality dapat berupa impact assesment
seperti:
1. Environmental Impact Assesment, yang merupakan kajian mengenai dampak
besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada
lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang
penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan (Ruddy, 2008)
2. Social Impact Assesment, mengenai kajian yang dilakukan terhadap kondisi
sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat sebagai akibat dari pelaksanaan
suatu kegiatan pembangunan di suatu wilayah atau area. Parameter yang dapat
digunakan dapat mengenai: Penghidupan masyarakat, Kesehatan publik,
Pendidikan dasar, dan Lingkungan hidup

Bounded Rationality (Rasionalitas Terbatas)


Pendekatan proses pengambilan keputusan secara rasional sangat sulit dilakukan
karena pada kenyataannya manajer dalam dunia nyata dituntut untuk melakukan
pengambilan keputusan yang cepat, sehingga dalam pengambilan keputusan manajer
akan terbatasi oleh waktu, faktor internal dan eksternal serta sifat alamiah suatu
permasalahan yang tidak memungkinkan untuk dilakukannya suatu analisa menyeluruh
terhadap permasalahan tersebut. Hal ini menjadikan pengambilan keputusan secara
rasional menjadi terbatasi (bounded rationality perspective).
Pendekatan ini biasa digunakan sebagai dasar alternatif untuk pemodelan
matematika pengambilan keputusan, seperti yang digunakan dalam ilmu ekonomi dan
disiplin terkait, melengkapi rasionalitas sebagai optimasi, yang memandang pengambilan
keputusan sebagai proses sepenuhnya rasional untuk menemukan pilihan yang optimal
diberikan informasi yang tersedia.
Pada bounded rationality, alat analisis dapat melalui skoring yang umumnya
pemilik keputusan menilai pada kepuasan (satisfied). Metodenya dapat dengan
menggunakan analisis sekuensial yang merupakan analisis statistik yang mana ukuran
sampel tidak tetap dan hasil bisa menjadi bias.

Strategic Rationality
Strategic rationality merupakan metode evaluasi dengan upaya untuk mencapai
target secara tepat. Strategic rationality umumnya dihubungkan pada kegiatan persaingan
sehingga membutuhkan suatu strategi untuk dapat menghasilkan keuntungan yang lebih
daripada kompetitornya. Strategi dipilih berdasarkan dari para pembuat keputusan
sehingga dibutuhkan kerjasama secara aktif antar berbagai pihak terlibat dalam
menentukan strategi terbaik.
Alat metode yang digunakan dapat berupa metode skenario merupakan metode
untuk menciptakan dan menyusun dua atau lebih skenario yang masuk akal tentang apa
yang mungkin dan/atau dapat terjadi di masa depan. Metode dapat dilakukan melalui
penelitian kuantitatif dan kualitatif (wawancara, analisis cross impact, analisis futuring
wheel, dan strategic conversation forum). Metode ini berguna untuk mengevaluasi sejauh
mana dampak dan efektivitas dari kebijakan yang telah dibuat, yang dapat mempengaruhi
kemungkinan-kemungkinan masa depan.

Communicative Rationality
Rasionalitas komunikatif mendeskripsikan rasionalitas manusia sebagai hasil dari
komunikasi yang berhasil. Cara pandang ini mencoba mengklarifikasi norma dan
prosedur untuk mencapai suatu persetujuan, dan memandang nalar sebagai salah satu
bentuk justifikasi publik. Aktor harus dapat ditempatkan pada yang tempat yang tepat
untuk dapat mendapatkan data yang sesuai. Kriteria dari metode ini adalah adanya
pemahaman sosial yang dapat diterima. Alat analisis yang paling sering digunakan adalah
focus grup discussion (FGD). FGD merupakan suatu diskusi yang dilakukan secara
sistematis dan terarah mengenai suatu isu atau masalah tertentu. Pelaksanaan FGD harus
mengandung adanya diskusi (bukan wawancara atau obrolan), adanya Kelompok (bukan
individual), dan Terfokus/Terarah (bukan bebas). FGD dapat digunakan dalam berbagai
tujuan, seperti (1) pengambilan keputusan, (2) needs assesment, (3) pengembangan
produk atau program, (4) mengetahui kepuasan pelanggan, dan sebagainya ( Krueger &
Casey (2000: 12-18)).