Anda di halaman 1dari 10

UJIAN AKHIR SEMESTER

SOAL SERTA JAWABAN MANAJEMEN KONFLIK

Oleh:

KOMANG TRISKA ARIWIDANTA


NIM :1680611005

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


MAGISTER MANAJEMEN
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2017
Tugas Ujian Akhir Semester
Soal Serta Jawaban Yang Berkaitan Dengan Manajemen Konflik

UJIAN AKHIR SEMESTER GENAP TAHUN 2017

Mata Kuliah : MANAJEMEN KONFLIK


Kelas : A Angkatan 36
Hari / Waktu : Rabu, 20.00-21.40 Wita
Dosen Pengampu : Dr. Gde Adnyana Sudibya, SE., M.Kes

Nama : Komang Triska Ariwidanta


Nim : 1680611005
No Absen : 6 (Enam)

1. Tuliskan konsep heterogenitas dan konflik social?


Jawab :
Heterogenitas (keanekaragaman) struktural perbedaan tingkat upah buruh di negara
yang sedang berkembang akan menimbulkan perbedaan pendapatan dalam masyarakat.
Ada dua macam Heterogenitas, yaitu:
a. Heterogenitas masyarakat berdasarkan profesi/pekerjaan
Setiap pekerjaan memerlukan tuntutan profesionalisme agar dpat dikatakan berhasil.
Setiap pekerjaan juga memiliki fungsi di masyarakat karena merupakan bagian dari
struktur masyarakat itu sendiri.
b. Heterogenitas atas dasar jenis kelamin
Di Indonesia biarpun secara konstitusional tidak terdapat diskriminasi sosial atas dasar
jenis kelamin, namun pandangan “gender” masih dianut sebagaian besar masyarakat
Indonesia. Pandangan gender ini dikarenakan faktor kebudayaan dan agama. Apabila
kita melihat kemajuan Indonesia sekarang ini, banyak perempuan yang berhasil
mengusai Iptek dan memiliki posisi yang strategis dalam masyarakat.
Sedangkan macam-macam Konflik Sosial dibagi menjadi sebagai berikut:

2
a. Konflik antar inidividu merupakan pertentangan atau konflik yang disebabkan oleh
sentimen satu individu dengan individu lain di dalam masyarakat. Contoh konflik
individu adalah perkelahian antar dua orang pelajar dikarenakan memperebutkan suatu
hal yang sama.
b. Konflik politik merupakan suatu perselisihan yang terjadi antara dua pihak, ketika
keduanya menginginkan suatu kebutuhan yang sama dan ketika adanya hambatan dari
kedua pihak, baik secara potensial dan praktis. Contoh Gerakan 30 September adalah
sebuah peristiwa yang terjadi pada tanggal 30 September 1965 dimana enam pejabat
tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang lainnya dibunuh dalam suatu usaha
percobaan kudeta yang dituduhkan kepada anggota Partai Komunis Indonesia.
c. Konflik Antar kelas Sosial merupakan konflik yang dipicu adanya perbedaan
kepentingan antara kedua golongan tersebut. Misalnya antara karyawan pabrik dengan
pemiliknya karena tuntutan kenaikan gaji karyawan akibat minimnya tingkat
kesejahteraan.
d. Konflik antar kelompok sosial merupakan konflik yang terjadi ketika ada dan
kepentingan sama atau berbeda dengan tujuan berbeda dari masing-masing kelompok
atau dapat dikatakan bahwa dalam hubungan antar kelompok terdapat dua tujuan
berbeda terhadap sesuatu yang sama.
e. Konflik antar generasi yaitu konflik yang terjadi antara generasi tua yang
mempertahankan nilai-nilai lama dan generasi mudah yang ingin mengadakan
perubahan.Contohnya pergaulan bebas yang saat ini banyak dilakukan kaum muda di
Indonesia sangat bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut generasi tua.
f. Konflik Internasional merupakan konflik pertentangan yang melibatkan antara dua
negara atau lebih.
g. Konflik Agama merupakan konflik yang disebabkan sentimen kelompok dari kelompok
agama satu dengan kelompok agama lain. Contoh konflik agama yang pernah terjadi
seperti kerusuhan antara muslim dan Kristen di Poso Sulawasi
Masyarakat dan keanekaragamannya (heterogenitas) adalah permasalahan yang
memang selalu ada dalam klehidupan ini.Masyarakat terbentuk karena adanya perbedaan,
sementara perbedaan sendiri menjadikan kehidupan dalam bermasyarakat menjadi lebih
hidup, lebih menarik dan layak untuk diperbincangkan.

3
Indonesia dan bahkan Negara lain juga memiliki permasalahan sosial saat menuju
sebuah integrasi nasional diatas keragaman tersebut, yaitu berupa konflik. Konflik itu jika
tidak dikendalikan akan dengan mudah merusak persatuan dan kesatuan. Dalam
perkembanganya, bangsa Indonesia sekarang memiliki konflik yang sangat kompleks. Tak
hanya karena isu-isu etnis atau suku bangsa, agama, dan ras, sekarang beberapa faktor baru
seperti permasalahan politik, ketidakadilan hukum dapat memicu adanya konflik sosial,
seiring dengan perubahan zaman perkembangan teknologi telah memberikan arti penting
pada perubahan sosial dengan berbagai konsekuensinya. Implikasi positif dari
pembangunan, adalah terkondisinya masyarakat yang mandiri dengan semangat kerja yang
tinggi dan menghargai waktu serta prestasi di atas semua keragaman. Konsep heterogenitas
di saat ini telah beperan penting juga memberikan kedudukan bagi siapa saja dalam
berpartisipasi menghadapi konflik sosial di lingkungannya, setiap pekerjaan juga memiliki
fungsi di masyarakat karena merupakan bagian dari struktur masyarakat itu sendiri.
Hubungan antar profesi atau orang yang memiliki profesi yang berbeda hendaknya
merupakan hubungan horisontal dan hubungan saling menghargai biarpun berbeda fungsi,
tugas, bahkan berbeda penghasilan
2. Tuliskan peran aktif dunia pendidikan dalam mengatasi konflik agama, Sosial, budaya
dan etnis ?
Jawab :
Pendidikan pada hakikatnya akan mencakup 3 dasar pendidikan (tri dharma
pendidikan) yakni;
a) Kegiatan mendidik dan mengajar
Istilah mendidik dan mengajar menunjukkan usaha yang lebih ditujukan pada
pembentukan watak dalam mengembangkan budi pekerti hati nurani kecintaan, rasa
kesusilaan dan lain-lain serta memberi ilmu yang bermanfaat bagi perkembangan
kemampuan intelektual manusia.
b) Kegiatan penelitian
Kegiatan penelitian merupakan aplikasi dari pengetahuan yang didapat peserta didik
untuk menjawab permasalahan-permasalahan yang terjadi di sekitar lingkungannya
sehingga akan terjadi sesuatu pembiasaan dalam bertindak. Baik budaya yang dilakukan
dilingungan sekitar.

4
c) Pengabdian pada masyarakat.
Pengabdian dalam masyarakat adalah hal yang paling penting dalam transformasi nilai
pendidikan sehingga pendidikan bisa berfungsi untuk menyelesaikan persoalan hidup
bagi masyaraka yang lebih baik.
Pendidikan sangat berpengaruh dalam mengatasi suatu konflik sosial dalam kelas,
terutama peran seorang guru. Dalam masalah sosial, guru pembimbing sangat dibutuhkan
dalam menangani masalah ini. Dengan cara mendiagnosis masalah sosial siswa, diagnosis
dilakukan dalam rangka memberikan solusi terhadap siswa yang mengalami masalah sosial.
Untuk mendapatkan solusi secara tepat atas permasalahan sosialnya, guru harus
terlebih dahulu melakukan identifikasi dalam upaya mengenali gejala-gejala secara cermat
terhadap fenomena-fenomena yang menunjukkan kemungkinan adanya permasalahan sosial
yang melanda siswa. Diagnosis dilakukan untuk mengetahui dan menetapkan jenis masalah
yang dihadapi klien lalu menentukan jenis bimbingan yang akan diberikan. Dalam
melakukan diagnostik masalah sosial siswa perlu ditempuh langkah-langkah sebagai
berikut:
a) Mengenal peserta didik yang mengalami masalah sosial
Dalam mengenali peserta didik yang mengalami masalah sosial, cara yang paling mudah
adalah dengan melaksanakan sosiometri. Sosiometri merupakan suatu metode untuk
mengumpulkan data terntang pola dan struktur hubungan antara individu-individu dalam
suatu kelompok. Sehingga, akan tergambar siswa yang mengalami masalah sosial.
b) Memahami sifat dan jenis masalah sosial
Langkah kedua dari diagnosis masalah sosial ini mencari dalam hubungan apa saja
peserta didik mengalami masalah sosial. Dalam hal ini guru pembimbing
memperhatikan bagaimana perilaku siswa dalam pergaulan, baik di sekolah, rumah dan
masyarakat.
c) Menetapkan latar belakang masalah sosial
Langkah ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang latar belakang yang menjadi
sebab timbulnya masalah sosial yang dialami siswa.Cara ini dilakukan dengan
mengamati tingkah laku siswa yang bersangkutan, selanjutnya dilakukan wawancara
dengan guru, wali kelas, orang tua dan pihak-pihak lain yang dapat memberikan
informasi yang luas dan jelas.

5
d) Menetapkan usaha-usaha bantuan
Setelah diketahui sifat dan jenis masalah sosial serta latar belakangnya, maka langkah
selanjutnya ialah menetapkan beberapa kemungkinan tindakan-tindakan usaha bantuan
yang akan diberikan, berdasarkan data yang diperoleh.
e) Pelaksanaan bantuan
Langkah ini merupakan pelaksanaan dari langkah sebelumnya, yakni melaksanakan
kemungkinan usaha bantuan.Pemberian bantuan dilaksanakan secara terus menerus dan
terarah dengan disertai penilaian yang tepat sampai pada saat yang diperkirakan.
Bantuan untuk mengentaskan masalah sosial terutama menekankan akan penerimaan
sosial dengan mengurangi hambatan-hambatan yang menjadi latar belakangnya.
Pemberian bantuan ini bisa dilakukan melalui layanan konseling kelompok yang
memanfaatkan dinamikan kelompok.
f) Tindak lanjut
Tujuan langkah ini ialah untuk menilai sejauh manakah tindakan pemberian bantuan
telah mencapai bantuan telah mencapai hasil yang diharapkan.Tindak lanjut dilakukan
secara terus menerus, baik selama, maupun sesudah pemberian bantuan.Dengan langkah
ini dapat diketahui keberhasilannya.
Jadi perbedaan cara pandang, budaya, ras, suku, bangsa, agama dan sebagainya sudah
menjadi hukum alam manusia lebih terarah akan hidup yang akan dijalaninya. Dengan
pendididikan dan ilmu pengetahuan membuat pikiran manusia memandang masalah tidak
hanya dari satu sisi. Untuk itu sebagi sebuah lembaga pendidikan tentunya harus mampu
memberikan sumbangsi konkritnya untuk menjawab konflik-konflik sosial yang akhir-akhir
ini begitu komplek. Multikulturalisme beragama saat ini memang sedang mengalami
disentergarasi, dimana terjadi banyaknya konflik antar paham atau aliran, yang mayoritas
dari semua kelompok aliran tersebut memberikan stimulus bahwa agama merekalah yang
benar.
3. Bagaimana cara mengatasi dan menangani konflik berorganisasi?
Kemampuan untuk menghadapi dan menangani konflik adalah salah satu kunci sukses
manajerial dalam satu organisasi. Kapan saja kita berharap membuat perubahan, pasti ada
potensi terjadinya konflik. Lagipula, kita tidak hanya harus menangani situasi dimana
konflik antara diri kita sendiri dan satu atau lebih anggota staff lainnya, tetapi juga terhadap

6
waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan konflik atas diri kita atau, yang tersulit dari
semuanya, untuk meletakkan arah tujuan di antara ladang “perpolitikan” dimana dua dari
pesaing kita atau atasan kita terjebak dalam pergumulan ini.
Konflik, dalam arti sebenarnya, merupakan suatu perbedaan pendapat yang terjadi dari
kemungkinan dua atau lebih arah tujuan dan tindakan yang tidak hanya tidak dapat dihindari
tapi juga sebagai suatu hal yang patut diperhitungkan dalam hidup. Yang justru membantu
kemungkinan-kemungkinan yang berbeda yang sudah direncanakan sebagaimana mestinya,
dan kemungkinan tujuan tindakan lainnya yang mungkin diartikan secara umum dari
beberapa pilihan tindakan yang sudah diuji pada tahap awal sebelumnya atau bahkan sudah
didiskusikan terlebih dahulu dari beberapa tindakan alternatif yang sudah dikenal.
Kebanyakan konflik memiliki dua komponen yaitu rasional dan emosional, dan
terletak di suatu tempat di sepanjang dua gambaran antara konflik kepentingan di satu sisi
dan bentrokan kepribadian di sisi lain. Beberapa konflik berakar pada kepribadian para
‘kontestan', misalnya, seorang introvert (tertutup) mungkin membenci perilaku flamboyan
seorang ekstrovert (terbuka); atau dua wakil kepala perusahaan dengan gaya manajemen
yang berbeda mungkin merasa sulit untuk bisa saling bekerja sama. Konflik bisa berubah
menjadi kekuatan yang membahayakan dan merusak ketika “kejayaan” seseorang
dipertaruhkan untuk memperoleh hasil. Konflik semakin berkembang, semakin
‘kejayaan(‘kemenangan”) dipertaruhkan. Semakin pahit konflik terjadi semakin sulit untuk
mencapai suatu pemecahan (hasil).Pengambilan keputusan menjadi “cacat’ karena tidak ada
satu pihak pun yang berani dan mau membuat satu konsesi karena takut mungkin
“dibenarkan”)bahwa hal tersebut akan dimanfaatkan oleh pihak lain sebagai kemenangan
dan jembatan untuk kemajuan lebih lanjut.
Pada dasarnya ada sikap yang mungkin yang dapat dipakai oleh para pihak dalam
setiap konflik dalam hal ini, didasarkan pada perubahan dari apakah mereka percaya bahwa
mereka dapat menghindari konfrontasi, dan apakah mereka percaya bahwa mereka dapat
mencapai kesepakatan.
Sikap yang paling kondusif untuk menyelesaikan konflik, tentu saja, jika salah satu
pihak menyediakan waktu lebih mendalam pada pemecahan masalah, dan beberapa
kompromi cepat, atau memberi dan mengambil berbagai kemungkinan jawabannya.

7
Konflik harus diakui dan ditangani sedini mungkin. Jika Anda memiliki masalah
dengan seseorang, segera pergi untuk berbicara dengan dia, sebelum membangun kepahitan.
Jika kepahitan telah terjadi, anda perlu untuk memilih waktu terbaik; dan meluangkan
waktu untuk membuat segala sesuatu menjadi jelas bahwa Anda benar-benar berniat
menyelesaikan konflik. Beberapa teman dari kedua belah pihak mungkin diperlukan untuk
bertindak sebagai katalis(membantu/menengahi secara netral tanpa melibatkan diri terlalu
dalam), untuk meyakinkan kedua belah pihak bahwa niat tulus, dan atau bertindak sebagai
‘konsultan proses'mediator.
Dalam konflik antara beberapa anggota staf, terutama mereka yang melapor kepada
Anda, pekerjaan Anda sebagai seorang manajer, mungkin saja untuk melangkah sebagai
'konsultan proses', untuk mencoba memahami sudut pandang masing-masing individu dan
untuk membawa masing-masing menjadi suatu pernyataan 'pemecahan masalah' pikiran.
Mengatur tahap pertemuan untuk menyelesaikan konflik, prinsip-prinsip berikut bisa
dijadikan acuan diskusi seperti:
Setiap pihak saling berbicara satu dan lain, seterbuka mungkin tentang segala realitas-
kenyataan sesuai dengan permasalahan yang menjadi keprihatian dan perhatian mereka.
1. Meletakan tujuan, pandangan dan perasaan mereka, secara terus terang, tetapi tetap
tenang,dan hindarilah pengulangan yang merugikan.
2. Menempatkan konflik dalam konteks tujuan yang lebih tinggi demi kepentingan
organisasi secara keseluruhan.
3. Lebih memfokuskan diri pada langkah tindak lanjut berikutnya dari pada kejadian-
kejadian yang sudah lewat.
4. Mendengarkan; menyimak dari setiap pihak; dari setiap sudut pandang secara seksama
yang mencari pengertian. Meyakinkan bahwa pemahaman mereka sudah benar.
5. Mencoba untuk menghindari tindakan menyerang atau bertahan.
6. Mencoba membangun ide masing-masing.
7. Percaya itikad baik masing-masing dan mencoba untuk bertindak dengan itikad baik.
8. Merencanakan beberapa tindakan yang jelas untuk mengikuti pembahasan,
menentukan siapa yang akan melakukan apa dan kapan.
9. Menetapkan tanggal dan waktu untuk meninjau kemajuan dan mempertahankan ini
dari semua biaya ataupun resiko.

8
Sejumlah struktur yang berguna dapat digunakan untuk membantu individu atau
kelompok untuk mengatasi keengganan menempatkan konflik 'pada tempatnya'. Struktur
ini memiliki nilai ganda seperti:
1. Memungkinkan perasaan yang kuat dan prasangka yang timbul untuk
diungkapkan dalam bentuk yang lebih bersahabat daripada kata yang diucapkan.
Perasaan menjadi data faktual (meskipun mungkin menyakitkan)
2. Dan, Menjaga keseimbangan, seperti apa yang kita suka, apa yang kita tidak suka,
apa yang kita lakukan dan apa yang orang lain lakukan.
Satu-satunya cara untuk menjadi manajer konflik yang efektif; dari berbagai pihak
dan konflik itu sendiri antara masing-masing staff, yang perlu dilatih dan dikembangkan
sikap dan perilaku tertentu yaitu kontrol diri dan praktek nyata.
Pertama, kita perlu belajar menghadapi segala tantangan situasi, mampu berkata
“TIDAK” ketika perbedaan pendapat muncul. Kita mesti bisa menunjukkan dengan cara ,
sikap, perilaku kita sendiri bahwa kita terbuka dengan berbagai kemungkinan alasan,
pembicaraan-pembicaraan logis dan pemecahan masalah. Kedua, kita mesti bisa
menyampaikan ide-ide kita dan perasaan-perasaan kita dengan jelas, singkat, tenang, dan
jujur. Ketiga, kita perlu membangun kemampuan untuk mendengarkan, yang mencakup
kemampuan menunjukkan kepada seseorang bahwa kita mengerti/memahami apa yang
sudah dikatakan, dengan “memainkannya kembali”. Kita juga perlu belajar membangun
kebiasaan bertanya daripada memberikan atau membuat pernyataan, ingatlah bahwa
seorang penjual produk atau penjual jasa yang sukses, adalah mereka yang lebih banyak
bertanya. Keempat, kita butuh kemampuan dalam mengevaluasi segala hal, segala aspek
permasalahan, mengerti/memahami tekanan yang timbul dari pihak lain, yang mungkin
‘berputar-putar’ diluar batas sudut pandang yang mungkin secara normal dapat kita
ambil. Yang terakhir, kita juga perlu belajar mengeluarkan pikiran; menumbuhkan tujuan
bersama yang seharusnya membantu tiap-tiap pihak diluar segala perbedaan yang ada
diantara mereka, apakah itu tentang metode yang digunakan untuk melihat pencapaian
tujuan yang akan datang daripada mempertahankan pertentangan-pertentangan yang
sudah lewat. Menghindari konflik bukanlah strategi upaya menyelesaikan konflik yang
efektif, karena para pihak tidak melakukan apapun untuk meyelesaikan konflik. sehingga
tidak mungkin untuk mendapatkan hasil yang mereka inginkan.

9
10