Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI TUMBUHAN

ACARA III
EKOLOGI PENYAKIT BIOTIK DAN ABIOTIK

Disusun oleh:
Nama : Herika Gayuh Pangesti
NIM : 15/383447/PN/14278
Kelompok : 6
Golongan : C 2.2
Asisten : Juli Permata S
Putri Laily S

SUB LABORATORIUM ILMU PENYAKIT TANAMAN TERPADU


DEPARTEMEN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2017
ACARA III
EKOLOGI PENYAKIT BIOTIK DAN ABIOTIK

I. TUJUAN
1. Mengetahui pengaruh faktor abiotik dan biotik terhadap perkembangan penyakit
tanaman.
2. Mengetahui pengaruh penambahan kompos, trichoderma, mikoriza, rhizosfer terhadap
perkembangan penyakit tanaman.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Interaksi timbal balik secara teratur antara makhluk hidup dan lingkungannya akan
membentuk sistem ekologi yang utuh. Sistem ekologi ini kemudian dikenal dengan
ekosistem. Jadi, ekosistem merupakan bentukan dari komponen biotik (makhluk hidup) dan
abiotik (lingkungan) dalam satu wilayah tertentu (Bargumono, 2011). Faktor lingkungan baik
secara sendiri-sendiri maupun saling berinteraksi sangat berpengaruh terhadap perkembangan
penyakit tumbuhan. Pengaruh faktor lingkungan terhadap penyakit tumbuhan dapat terjadi
melalui patogen dan tumbuhan inang. Penyakit akan terjadi apabila faktor lingkungan
mendukung untuk pertumbuhan dan perkembangan patogen akan tetapi tidak mendukung
untuk pertumbuhan tanaman, sehingga tanaman berada dalam kondisi yang tidak baik
(Surico, 2013).
Faktor lingkungan adalah faktor yang ada di sekeliling tanaman. Ada beberapa
ilmuwan yang mengelompokkan faktor lingkungan ini menjadi dua kelompok, yaitu
kelompok abiotik (iklim, tanah) dan kelompok biotik (makluk hidup) yaitu biotis (tanaman
dan hewan) dan anthrofis (manusia) (Piculel et.al., 2008). Faktor abiotik adalah komponen
dalam suatu lingkungan yang tidak hidup (Ibrahim, 2012). Salah satu komponen penting
dalam faktor abiotik yaitu tanah, yang berperan penting dalam menopang kehidupan suatu
organisme. Komponen didalam tanah meliputi sifat fisika dan kimia tanah. Sifat fisika tanah
ialah sifat fisik tanah berupa tekstur tanah, struktur, kemantapan, warna dan permeabilitas,
sedangkan sifat kimia tanah berupa kandungan yang terdapat didalam tanah meliputi derajad
keasaman (pH), bahan organik dan unsur hara.
Unsur hara ialah kandungan bahan–bahan mineral yang terdapat didalam tanah, salah
satunya Unsur hara makro berupa nitrogen (N), fosfor (P), kalium (K), kalsium (Ca),
magnesium (Mg) dan sulfur (S). Unsur hara dapat meningkatkan kualitas pertumbuhan
tanaman. Sifat kimia tanah juga dapat mempengaruhi perkembangbiakan patogen, terutama
patogen tanah (Rahmawanto et.al., 2015). Bila kekurangan unsur hara proses metabolisme
tanaman terhambat dan tanaman menjadi rentan terhadap serangan penyakit (Timothy dan
Arnold, 2010).
Pengaruh buruk dari faktor lingkungan dapat diminimalisir dengan menggunakan
bahan tanam (benih/bibit) yang baik. Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan
budidaya berbagai tanaman pertanian karena benih sebagai cikal bakal dari suatu
pertumbuhan tanaman. Benih harus memiliki mutu kualitas yang tinggi baik genetik, fisik
maupun fisiologisnya agar dapat menghasilkan tanaman yang tumbuh secara serempak dan
berproduksi tinggi sehingga dapat menghasilkan produksi yang baik. Pemilihan, penyortiran
dan pengujian benih sebagai bahan perbanyakan tanaman perlu dilakukan untuk mengetahui
kualitas dari benih tersebut agar nantinya menghasilkan produksi yang maksimal. Pengujian
benih bisa digunakan sebagai sarana penyedian informasi tentang parameter kualitas benih,
seperti fisiologis, fisik, phytosanitary, dan genetik. Parameter fisiologis kualitas benih adalah
terkait dengan viabilitas dan kekuatan (Mazvimbakupa et.al., 2015). Kondisi benih yang tidak
baik dapat menyebabkan adanya kemunduran benih yang akan berdampak pada penurunan
daya berkecambah dan vigor benih tersebut (Wahyuni, 2011).
III. METODOLOGI
Praktikum Ekologi Hama dan Penyakit Tumbuhan bagian ekologi patogen acara 3
Ekologi Penyakit Biotik dan Abiotik dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 17 Oktober 2017
di Laboratorium Ilmu Penyakit Tanaman Terpadu dan Rumah Kaca, Departemen Hama dan
Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Pada
praktikum ini, bahan yang dibutuhkan adalah benih tomat, benih terung, benih jagung, tanah
steril, tanah rhizofer gulma tambang, tanah bekas tambang steril, tanah terinfestasi, kompos,
aquades, jamur mikoriza, APH Trichoderma dan tanah bekas tambang. Sedangkan alat yang
digunakan dalam praktikum adalah alat semprot, dan polibag.
Pada pengamatan kali ini terdapat dua submetode yaitu ekologi abiotik dan ekologi
biotik. Pada ekologi abiotik dilakukan 6 perlakuan. Perlakuan pertama yaitu dengan benih
jagung yang ditanam pada tanah bekas tambang steril. Perlakuan kedua benih jagung ditanam
pada tanah bekas tambang steril yang ditambah tanah di rhizofer gulma tambang. Perlakuan
ketiga benih jagung ditanam pada bekas tanah tambang steril yang ditambah kompos (1:1).
Perlakuan keempat benih jagung ditanam pada tanah bekas tambang steril ditambah kompos
(1:1) dan ditambah dengan tanah rhizofer gulma tambang. Perlakuan kelima benih jagung
ditanam pada tanah bekas tambang steril ditambah kompos (1:1) ditambah tanah rhizofer
gulma tambang dan APH Trichoderma. Dan perlakuan keenam benih jagung ditanam pada
tanah steril ditambah kompos (1:1). Metode ekologi biotik yaitu terdapat 4 perlakuan.
Perlakuan pertama benih tomat dan terung ditanam pada tanah terinfestasi. Perlakuan kedua
benih tomat dan terung ditanam pada tanah terinfestasi ditambah APH Trichoderma.
Perlakuan ketiga benih tomat dan terung ditanam pada tanah terinfestasi ditambah APH
Trichoderma dan jamur mikoriza. Dan perlakuan keempat benih tomat dan terung ditanam
pada tanah terinfestasi ditambah kompos (1:1).
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Patogen merupakan agen penyebab penyakit pada tanaman, yang mengakibatkan proses
fisiologi tanaman terganggu. Apabila proses fisiologis tanaman terganggu akibat aktivitas
patogen maka pertumbuhan tanamanan akan menyimpang dari keadaan normal, sehingga
tumbuhan menjadi sakit. Adapun mekanisme penyakit tersebut dihasilkan akan sangat
bervariasi yang tergantung pada agensia penyebabnya dan kadang-kadang juga bervariasi
dengan jenis tumbuhannya. Pada mulanya tumbuhan bereaksi terhadap agensia penyebab
penyakit pada bagian terserang. Reaksi tersebut dapat berupa reaksi biokimia alami, yang
tidak dapat dilihat. Akan tetapi reaksinya dengan cepat menyebar dan terjadinya perubahan-
perubahan pada jaringan yang dengan sendirinya menjelma menjadi makroskopik dan
membentuk gejala penyakit (Jackson, 2009).
Perkembangan penyakit tanaman di pengaruhi oleh faktor lingkungan baik biotik
(tanaman, hewan, manusia) maupun abiotik (iklim, tanah). Berdasarkan faktor lingkungan
yang mempengaruhi, penyakit dibedakan menjadi dua yaitu penyakit biotik dan abiotik.
Penyakit biotik merupakan penyakit tanaman yang disebabkan oleh suatu organisme
infeksius bukan binatang, sehingga dapat ditularkan dari satu tanaman ke tanaman lainnya.
Organisme yang dapat menyebabkan suatu penyakit tanaman disebut patogen tanaman.
Adapun patogen tanaman antara lain jamur, bakteri, virus, mikoplasma, tumbuhan tinggi
parasitik dan nematoda. Sedangkan penyakit abiotik merupakan penyakit tanaman yang
disebabkan oleh penyebab penyakit noninfeksius atau tidak dapat ditularkan dari satu
tanaman ke tanaman lain, sehingga penyakit abiotik juga disebut penyakit noninfeksius.
Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan budidaya berbagai tanaman
pertanian karena benih sebagai cikal bakal dari suatu pertumbuhan tanaman. Benih harus
memiliki mutu kualitas yang tinggi baik genetik, fisik maupun fisiologisnya agar dapat
menghasilkan tanaman yang tumbuh secara serempak dan berproduksi tinggi sehingga dapat
menghasilkan produksi yang baik. Benih bermutu adalah benih murni dari suatu varietas,
berukuran penuh dan seragam, daya kecambah di atas 80% dengan bibit yang tumbuh kekar,
bebas dari biji gulma, penyakit, hama, atau bahan lain. Untuk memperoleh benih bermutu,
maka gunakan benih bersertifikat yang murni dan berlabel.
Pada praktikum ini dilakukan pengujian terkait pengaruh lingkungan biotik dan abiotik
terhadap perekmbangan penyakit. Lingkungan abiotik yang dijadikan sebagai faktor
pembatas pada praktikum ini adalah penggunaan tanah bekas tambang steril sebagai media
tanam yang kemudian di tambah dengan beberapa bahan lain yaitu Rhizozfer gulma, kompos,
dan APH Trichoderma dengan kombinasi tertentu.
Lahan bekas tambang memiliki kandungn logam berat (terutama Sn) yang tinggi, nilai
pH rendah karena konsentrasi Al dan Fe tinggi, kahat unsur hara P dan N, serta kandungan
bahan organik yang rendah. Pada lahan ini tanah tidak memiliki kemampuan untuk
menopang tanaman, keanekaragaman hayati rendah. Kondisi demikian yang menyebabkan
lahan tidak dapat digunakan untuk usaha pertanian (Hasnelly et.al., 2010). Rhizosfer adalah
selapis tanah yang menyelimuti permukaan akar tanaman yang masih dipengaruhi oleh
aktivitas akar. Rhizosfer merupakan habitat yang sangat baik bagi pertumbuhan mikroba
karena pada lingkungan ini akar tanaman menyediakan berbagai bahan organik yang
umumnya menstimulir pertumbuhan mikroba. Kompos adalah pupuk alami yang terbuat dari
bahan organik yang merupakan sisa buangan makhluk hidup (tanaman dan hewan). Kompos
berfungsi untuk memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah dan penyuplai unsur hara
bagi tanaman. Trichoderma spp. adalah jamur saprofit tanah yang secara alami merupakan
parasit bagi jamur penyebab penyakit tanaman (patogen). Jamur Trichoderma spp. dapat
menjadi hiperparasit pada beberapa jenis jamur penyebab penyakit tanaman dan
pertumbuhannya sangat cepat serta memeiliki kemampuan untuk mematikan serta
menghambat pertumbuhan jamur lain (Gusnawaty, 2014).
Pengamatan respon tanaman terhadap kondisi lingkungan tersebut dilakukan seminggu
sekali selama 6 minggu. Adapun hasil pengamatan adalah sebagai berikut :

Gambar 1. Respon tanaman pada P0


Tanaman memiliki daya respon tinggi terhadap kondisi lingkungan. Respon tanaman
dapat dilihat dari kenampakan visualnya. Pada gambar 1, jagung di tanam pada tanah bekas
tambang steril. Setelah dilakukan pengamatan selama 6 minggu, tanaman tumbuh dengan
gejala daun kering. Hal ini dikarenakan tanaman tidak memperoleh unsur hara dari media
tanam. Tanah bekas tambang juga merupakan tanah asam, sehingga jagung tidak tumbuh baik
bahkan cepat mati.
Gambar 2. Respon tanaman pada P1
Pada P1 benih jagung ditanam pada tanah bekas tambang steril yang ditambah tanah di
rhizofer gulma tambang. Setelah dilakukan pengamatan setelah 6 minggu, tanaman tidak
tumbuh dengan baik dan bergejal kering. Penambahan rhizosfer pada tanah bekas tambang
belum memberikan pengaruh perbaikan sifat tanah yang ditandai dengan masih munculnya
gejala kering pada tanaman.

Gambar 3. Respon tanaman pada P2


Pada P2 benih jagung ditanam pada tanah bekas tambang steril yang ditambah kompos
(1:1). Setelah dilakukan pengamatan setelah 6 minggu, pada daun jagung muncul bercak
kuning (klorosis) dengan kerapatan yang cukup tinggi. Namun tumbuh lebih baik
dibandingkan pada P0 dan P1. Menurut Hasnelly et.al. (2010), lahan bekas tambang timah
berpotensi untuk pertanian setelah pemberian bahan organik berupa pupuk kandang atau
kompos. Fungsi bahan organik untuk tanah adalah memperbaiki kondisi fisik tanah
(perbaikan tekstur, struktur, agregat, kondisi perakaran), kondisi kimia tanah (meningkatkan
KPK, menurunkan Al dan besi), dan biologi tanah (meningkatkan aktivitas biologi tanah).
Gambar 4. Respon tanaman pada P3
Pada P3 benih jagung ditanam pada tanah benih jagung ditanam pada tanah bekas
tambang steril ditambah kompos (1:1) dan ditambah dengan tanah rhizofer gulma tambang.
Setelah dilakukan pengamatan setelah 6 minggu, pada daun jagung muncul sedikit bercak
kuning. Tanaman terlihat lebih segar. Penambahan kompos dan Rhizosfer memberikan
pengaruh yang baik terhadap pertumbuhan tanaman.

Gambar 5. Respon tanaman pada P4


Pada P4 benih jagung ditanam pada tanah bekas tambang steril ditambah kompos (1:1)
ditambah tanah rhizofer gulma tambang dan APH Trichoderma. Setelah dilakukan
pengamatan selama 6 minggu, daun menguning yang menunjukkan bahwa tanaman sakit
karena faktor abiotik. Berdasarkan teori, seharusnya tanaman akan tumbuh lebih baik
dibandingkan P3 karena adanya penambahan APH Trichoderma yang merupakan jamur
parasit patogen.
Gambar 6. Respon tanaman pada P5
Pada P5 benih jagung ditanam pada tanah steril ditambah kompos (1:1). Setelah
dilakukan pengamatan selama 6 minggu, tanaman jagung tumbuh sehat, daun segar dan tidak
menunjukkan adanya gejala penyakit. Hal ini dikarenakan yang digunakan sebagai media
tanam adalah tanah steril yang merupakan tanah sehat dan bukan merupakan faktor pembatas
pertumbuhan jagung. Kemudian tanah ditambah dengan kompos sehingga unsur hara di
dalam tanah semakin baik untuk mendukung pertumbuhan jagung.
Lingkungan biotik yang dijadikan sebagai faktor pembatas pada praktikum ini adalah
penggunaan tanah terinfestasi sebagai media tanam yang kemudian di tambah dengan
beberapa bahan lain yaitu Mikoriza, kompos, dan APH Trichoderma dengan kombinasi
tertentu. Mikoriza merupakan bentuk simbiosis mutualisme antara fungi dan sistem perakaran
tumbuhan. Peran mikoriza adalah membantu penyerapan unsur hara tanaman, peningkatan
pertumbuhan dan hasil produk tanaman.
Pada percobaan ini digunakan dua tanaman yaitu tanaman tomat dan terung.
Pengamatan respon tanaman terhadap kondisi lingkungan tersebut dilakukan seminggu sekali
selama 6 minggu. Adapun hasil pengamatan adalah sebagai berikut :

Gambar 7. Respon tanaman pada P0 (Biotik)


Gambar 8. Respon tanaman terung pada P0 (Biotik)
Tanaman memiliki daya respon tinggi terhadap kondisi lingkungan. Respon tanaman
tomat dan terung dapat dilihat dari kenampakan visualnya. Pada P1, tomat dan terung di
tanam pada tanah terinfestasi. Setelah dilakukan pengamatan selama 6 minggu, tanaman
layu.

Gambar 9. Respon tanaman terong pada P1 (Biotik)

Gambar 10. Respon tanaman tomat pada P1 (Biotik)


Pada P1, tanaman tomat dan terung di tanam pada tanah terinfestasi ditambah APH
Trichoderma. Setelah dilakukan pengamatan selama 6 minggu, diperoleh kenampakan
visual tanaman seperti pada gambar 9 dan 10. Pada gambar 9, yaitu respon tanaman tomat
terhadap perlakuan yan diberikan. Tanaman tomat tumbuh dengan baik dan tidak
menunjukkan gejala pada kondisi tersebut. Sedangkan pada tanaman terung menunjukkan
gejala sakit tanaman. Tanaman layu dan beberapa daun ada yang menegering. Hal ini
dimungkinkan pada tanaman terung Trichoderma tidak berperan optimal, kemudian
ketahanan terung rendah sehingga mudah terinfeksi patogen.

Gambar 11. Respon tanaman tomat pada P2 (Biotik)

Gambar 12. Respon tanaman terung pada P2 (Biotik)


Pada P2, tanaman tomat dan terung di tanam pada tanah terinfestasi ditambah APH
Trichoderma dan Mikoriza. Setelah dilakukan pengamatan selama 6 minggu, diperoleh
kenampakan visual tanaman seperti pada gambar 11 dan 12. Tanaman tomat dan terung
dapat tumbuh namun tidak optimal, tanaman layu dan warnanya hijau pucat. Berdasarkan
teori penambahan mikoriza mampu menginduksi ketahanan tanaman terhadap patogen,
namun pada praktikum ini tanaman masih menunjukkan gejala meskipun sudah di tambah
dengan mikoriza dan Trichoderma.
Gambar 13. Respon tanaman tomat pada P3 (Biotik)

Gambar 14. Respon tanaman terung pada P3 (Biotik)


Pada P3, tanaman tomat dan terung di tanam pada tanah terinfestasi ditambah dengan
kompos. Setelah dilakukan pengamatan selama 6 minggu, diperoleh kenampakan visual
tanaman seperti pada gambar 13 dan 14. Pada gambar 13, yaitu respon tanaman tomat
terhadap perlakuan yan diberikan. Tanaman tomat tumbuh dengan baik dan tidak
menunjukkan gejala pada kondisi tersebut. Sedangkan pada tanaman terung menunjukkan
gejala sakit tanaman. Tanaman layu dan berwarna hijau pucat.
V. KESIMPULAN
1. Faktor lingkungan abiotik dan biotik mempengaruhi perkembangan penyakit tanaman
2. Penambahan Kompos, Trichoderma, Rhizofer, Mikoriza pada media tanaman
mempengaruhi perkembangan penyakit tanaman
DAFTAR PUSTAKA

Gusnawaty, H.S., M. Taufik, L. Triana, dan Asniah. 2014. Karakterisasi morfologi


Trichoderma spp. Indigenus Sulawaesi Tenggara. Jurnal Agroteknos 4(2): 87-93
Hasnelly, Z., Herwan., Nurhayati., Nuraini., R. Hasan. 2010. Pemanfaatan lahan bekas
tambang timah melalui integrasi tanaman dan ternak. Lokakarya Nasional
Pengembangan Jejaring Litkaji Sistem Integrasi Tanaman-Ternak..
Ibrahim, wahib. 2012. http://www.slideshare.net/wahibibra him/unsurharatanaman. Diakses
pada tanggal 12 Desember 2017.
Mazvimbakupa, F., A.T. Modi., T. Mabhaudhi. 2015. Seed quality and water use
characteristics of maize landraces compared with selected commercial hybrids.
CHILEAN JOURNAL OF AGRICULTURAL RESEARCH 75(1):13-20.
Piculell,B.J., J.D. Hoeksema., J.N. Thompson. 2011. Interactions of biotic and abiotic
environmental factors in an ectomycorrhizal symbiosis, and the potential for
selection mosaics. BMC Biol.6(23):1-11
Rahmawanto, D.G., A. Muhibuddin., L.Q. Aini. 2015. Pengaruh faktor abiotik kimia tanah
terhadap supressifitas tanah dalam mengendalikan penyakit layu bakteri (Ralstonia
solanacearum) pada tanaman tomat (Lycopersicon esculentum Mill). Jurnal HPT.
3(2):1-8
Surico, G. 2013. The concepts of plant pathogenicity, virulence/avirulence and effector
proteins by a teacher of plant pathology. Phytopathologia Mediterranea 52(3):
399−417.
Timothy M.S dan A. W. Schumann. 2010. Mineral Nutrition Contributes to Plant Disease and
Pest Resistance. Holticultural Science Department. University of Florida (UF)
Wahyuni, S. 2011. Peningkatan daya berkecambah dan vigor benih padi hibrida melalui
invigorisasi. Balai Besar Penelitian Padi 30(20).

Beri Nilai