Anda di halaman 1dari 61

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

S etiap bangunan gedung negara harus diwujudkan dan dilengkapi dengan


peningkatan Mutu atau Kualitas sehingga mampu memenuhi secara optimal
fungsi bangunanya, handal dan dapat sebagai teladan bagi lingkungannya serta
berkontribusi positif bagi perkembangan arsitektur Indonesia.

Setiap bangunan gedung Negara harus direncanakan, dirancang, dengan sebaik-baiknya


sehingga dapat memenuhi kriteria teknis bangunan yang layak dari segi mutu, biaya dan
kriteria administrasi bagi Negara/ Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah.

Pemerintah selalu berupaya melakukan pelayanan yang baik terhadap masyarakat.


Dalam rangka peningkatan pelayanan terhadap masyarakat, perlu adanya sarana dan
prasarana untuk kegiatan olah raga dan kegiatan lainnya di Kabupaten Lombok Tengah
seiring dengan kebutuhan dan perkembangan zaman. Salah satunya adalah
pembangunan gedung Koni yang representatif, layak dan memadai untuk menunjang
kelancaran kegiatan secara umum karena Gedung Koni Kabupaten Lombok Tengah
merupakan Pusat Kegiatan baik dilaksanakan oleh pemerintah daerah maupun
masyarakat. Dengan di tunjang oleh fasilitas gedung Bencingan Adiguna Kabupaten
Lombok Tengah dan Lingkungan di Lapangan Muhajirin (Alun – alun Tastura)
diharapapkan Gedung Koni ini saling melengkapi dengan site disekitarnya untuk
kelancaran kegiatan umum.

1.2 MAKSUD DAN TUJUAN


Perencanaan memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan dalam Kerangka Acuan Kerja
(KAK) sehingga dapat terwujud suatu bangunan yang representatif, serasi, selaras, dan
sesuai dengan fungsi dan tujuan bangunan.

1
MAKSUD DED Pembangunan Gedung Koni Praya adalah sebagai tempat sarana olah
raga dan acara – acara untuk kegiatan pemerintah daerah dan bisa digunakan juga untuk
kepentingan umum lainnya.

TUJUAN yang ingin dicapai dalam DED Pembangunan Gedung Koni Praya ini adalah
terciptanya DED Pembangunan Gedung Koni Praya yang memenuhi persyaratan standar
hasil karya perencanaan yang berlaku dan juga mengakomodasi batasan yang diberikan
oleh PPK.

1.3 SASARAN
Perencanaan DED Pembangunan Gedung Koni Praya ini adalah:
a. Terselenggaranya gedung yang representatif, layak dan memadai untuk menunjang
kelancaran kegiatan secara umum.
b. Terlaksananya DED Pembangunan Gedung Koni Praya.
c. Tersusunnya Rancang Bangun Gedung Koni Praya yang disetujui oleh pejabat yang
berwenang.
d. Rencana Anggaran Biaya dengan Analisa Biaya dilampiri uraian perhitungan volume,
struktur dan jaringan utilitas.

1.4 LOKASI KEGIATAN


Kabupaten Lombok Tengah

1.5 SUMBER DANA


APBD Kabupaten Lombok Tengah

1.6 RUANG LINGKUP PEKERJAAN


Lingkup pekerjaan Perencanaan DED Pembangunan Gedung Koni Praya ini meliputi
tugas – tugas perencanaan lingkungan, site / tapak bangunan dan perencanaan fisik
bangunna gedung negara yang dijelaskan sebagai berikut:
1. Melakukan survey lokasi dengan pengukuran luas lahan yang akan dibangun,
2. Melakukan survey lingkungan sekitar untuk menentukan akses lalu-lintas proyek,
khususnya untuk alat-alat berat, serta mendata keluarga sekitar site yang terdekat,
yang mungkin terkena gangguan saat pembangunan,

2
3. Melakukan pertemuan dengan pemrakarsa (user) selaku calon pengguna untuk
memperoleh masukan-masukan yang perlu dituangkan dalam dokumen rencana,
4. Bersama-sama pemrakarsa melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar,
5. Menyusun gambar teknis dan analisis biaya/RAB,
6. Melakukan pertemuan dengan Pemrakarasa untuk menyampaikan hasil rencana
sementara,
7. Memperbaiki dokumen rencana jika terdapat masukan-masukan yang sifatnya
penyempurnaan,
8. Menyusun RKS untuk pelelangan pembangunan gedung (konstruksi),
9. Menyerahkan dokumen rencana kepada PPK,
10. Menyusun laporan kemajuan pekerjaan, meliputi: Laporan Pendahuluan, Laporan
Antara, dan Laporan Akhir.
11. Terus memantau selama pelaksanaan konstruksi, apakah setelah dilaksanakan ada
hal-hal yang perlu diperbaiki, yang apabila dilaksanakan sesuai rencana akan
memunculkan hambatan teknis.

1.7 PENGENALAN LAPANGAN


A. LOKASI
Lokasi DED Pembangunan Gedung Koni Praya

3
Gambar Udara Lokasi Perencanaan DED Pembangunan Gedung Koni Praya

B. BATASAN AREA

4
Batas Utara : Dinas Dikpora
Batas Selatan : Departemen Agama
Batas Timur : Jalan A Yani
Batas Barat : Rumah penduduk

C. Aspek yang berpengaruh terhadap proses perancangan


Dalam pelaksanaan perancangan sebelum mengadakan analisis kelayakan teknis dan
estetis lebih lanjut perlu dikaji secara cermat kondisi eksisting dari bangunan dan
lingkungan yang ada. Hal ini dimaksudkan agar Perencanaan DED Pembangunan
Gedung Koni Praya dapat selaras yang direncanakan sesuai dengan aspek yang
berpengaruh terhadap bangunan yang akan dirancang. Aspek-aspek tersebut
diantaranya:

a. Aspek Sosial
Berdasarkan hasil observasi dan analisis sosial/lingkungan pada lokasi
Perencanaan DED Pembangunan Gedung Koni Praya maka dapat diidentifikasi
hal-hal sebagai berikut :
1. Lokasi bangunan berada di tepi- tepi jalan besar yang setiap harinya dilalui
oleh kendaraan terutama pada waktu peakhour Sehingga keselamatan dan
kenyamanan pengguna jalan dan pengguna bangunan perlu diutamakan.
2. Untuk mencukupi kebutuhan luas lahan bangunan maka memerlukan area
hijau untuk dialokasikan sebagai bagian dari site bangunan.
3. Fungsi disekitar adalah kawasan perkantoran.

b. Aspek Arsitektural
Mewujudkan suatu bangunan yang representatif dengan selaras dan serasi
terhadap detail bangunan disekitarnya sebagai fungsi ornamental. Agar serasi
terhadap bangunan disekitarnya,handal dan dapat sebagai teladan bagi
lingkungannya, serta berkontribusi positif bagi perkembangan arsitektur pada
umumnya sehingga menjadi sebagai acuan dari bangunan-bangunan yang
lainnya. Bangunan dirancang mengadopsi dari bangunan-bangunan sekitar yang
dibangun sebelumnya yaitu Bencingan Adiguna sebagai wujud kearifan lokal
bangunan.

5
c. Aspek Struktural
Mewujudkan visi arsitektur sesuai dengan fungsi bangunan yang diinginkan
secara menyeluruh dengan tujuan akhir memastikan keselamatan publik
dengan kekuatan struktural tahan gempa secara optimum yang diperhitungkan
dengan memperhatikan peraturan-peraturan referensi perhitungan struktur yang
ter-update, serta penggunaan material-material bangunan yang ramah
lingkungan, mudah didapat, ekonomis serta mudah untuk diaplikasikan.
Solusi yang ditawarkan adalah dengan menggunakan Performance Based
Seismic Design (Perancangan Tahan Gempa Berbasis Kinerja), yang merupakan
metode perancangan yang lebih rasional dibanding perancangan berbasis
kekuatan (strength based design) yang umum dilakukan.

d. Aspek Utilitas
Mewujudkan bangunan lengkap dengan pendukung utilitas bangunan sesuai
dengan kebutuhan secara terpadu dan terintegrasi dengan kondisi/ bangunan
eksisting disekitar yang sudah ada, saluran drainase yang baik, pendukung seperti
jaringan listrik, jaringan komputer (Local Area Network / LAN), CCTV, telepon,
penangkal petir dan sound system.

e. Aspek Penataan Lingkungan


Komparasi lahan yang tersedia dan yang terbangun harus sesuai dengan
peraturan daerah setempat, sehingga akan diperoleh building coverage (BC) di
persyaratkan. Hal ini sangat penting dan menjadi acuan konsultan dalam
menciptakan tata lingkungan dan lansekap yang menunjang fungsi gedung pada
proyeksi beberapa tahun kedepan.

6
NO ASPEK POTENSI

1 Kondisi site Lokasi Pembangunan Gedung Koni Praya :

Tata letak berada di Gedung Koni eksisting sehingga perlu adanya demolish dan relayot sesuai dengan
kebutuhan. Kondisi site cenderung datar dengan elevasi – 0.900 mm dari Bencingan.

7
2 Site Terhadap Site berada di tepi jalan. Dengan melihat kondisi eksisting yang ada, maka akses utama yang akan
Jalan dipakai sebagai orientasi bangunan adalah jalan A Yani pada arah timur site.

8
3 Saluran Saluran drainase eksisting lingkungan Gedung Koni berada pada keliling bangunan dengan saluran
Drainase riol kota berada pada timur site yaitu pada jalan Ahmad Yani.

9
6 Listrik Listrik eksisting telah ada di site dengan trafo berada di jalan A Yani

10
6 Posisi Site Kondisi lahan terhadap posisi matahari: site menghadap arah timur
Terhadap
Cahaya Matahari

11
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Untuk mendukung desain perlu ada referensi atau tinjau pustaka untuk dapat sejalan
dengan aturan maupun dengan kondisi di bangunan itu di dirikan

1) TINJAUAN KABUPATEN LOMBOK TENGAH


Nama Resmi :
Kabupaten Lombok Tengah
Ibukota :
Praya
Provinsi :
NUSA TENGGARA BARAT
Baras Utara: Kabupaten Lombok Barat dan Kabupaten Lombok Timur
:
Wilayah Selatan: Samudera Hindia
Barat: Kabupaten Lombok Barat
Timur: Kabupaten Lombok Timur
Luas Wilayah : 1.095,03 Km2
Jumlah :
972.965 Jiwa
Penduduk
Wilayah : Kecamatan: 12, Kelurahan : 12, Desa :112
Administrasi

(Permendagri No.66 Tahun 2011)

a) Arti Logo

Gunung Rinjani, gunung tertinggi di Pulau Lombok


Lumbung, tempat penyimpanan padi ciri khas masyarakat
suku Sasak di Pulau Lombok.
Sabuk Anteng, semacam sabuk yang spesifik bagi kaum
wanita yangcoraknya khas Lombok Tengah.
Kubah, perlambang ketaatan dan ketaqwaan masyarakat
Lombok Tengahterhadap ajaran agama yang dianutnya.
Perisai Segi Lima, benteng pertahanan dalam mengawal
serta menegakkan Pancasila.
Bintang Segi Lima, melambangkan Falsafah Negara Pancasila sebagaiPandangan
dan Tuntunan Hidup.
Kapas Bermahkota Empat, dan berdasar Kelopak lima melukiskan landasan UUD
1945.

12
Laut Biru dengan Gelombang Putih, menggambarkan semangat perjuangan yang
tidak kunjung padam sekaligus menampakkan keadaan alam Kabupaten Lombok
Tengah.
Tulisan berbunyi LOMBOK TENGAH, merupakan nama daerah sesuai dengan
Undang-Undang Nomor 69 Tahun 1958.
TATAS TUHU TRASNA, merupakan Motto Daerah
b) Nilai Budaya

a. Perkampungan Orang Sasak


Rumah-rumah yang ada di Sasak sangat berbeda dengan orang-orang Bali. Di
dataran, rumah orang Sasak cendrung luas dan melintang. Desa-desa di gunung
terpencil tertata rapi dan mengikuti perencanaan yang pasti. Di bagian utara, tata
ruang desa-desa pegunungan yang ideal terdiri atas dua baris rumah (bale),
dengan sederet lumbung padi di satu sisi, dan di antara rumah-rumah ada sederet
balai bersisi terbuka (beruga) dibagun diatas enam tiang. Bagunan lain di desa
adalah rumah besar (bale bele) milik para pejabat keagamaan, yang konon didiami
arwah leluhur yang sakti. Sementara makam leluhur yang sebenarnya merupakan
rumah-rumah kayu dan bambu kecil dibangun di atasnya.
Diberbagai bagian Indonesia, rumah Sasak tidak berjendela dan gelap, digunakan
terutama untuk memasak, tidur, dan penyimpanan pusaka. Masyarakat
menghabiskan sangat sedikit waktu di dalam rumah sepanjang hari. Balai terbuka
menyediakan panggung tempat duduk untuk kegiatan sehari-hari dan hubungan
sosial. Balai juga digunakan untuk tidur dan untuk fungsi upacara: jenazah
diletakan disini sebelum dipindahkan ke pekuburan.
Di desa-desa bagian selatan, panggung di bawah lumbung padi berperan sama
dengan balai, di bagian utara (tidak semua desa di utara memiliki lumbung padi).
Ada empat jenis dasar lumbung dengan ukuran yang berbeda-beda. Yang paling
besar biasanya miliki orang kaya atau keturunan bangsawan. Semua, kecuali jenis
lumbung padi kecil, memiliki panggung di bawah.

a. Lumbung Padi
Lumbung padi menjadi ciri pembeda arsitektur suku Sasak. Bangunan itu
dinaikan pada tiang-tiang dengan cara khas Austronesia dan memakai atap
berbentuk “topi” yang tidak lazim, ditutup dengan ilalang. Empat tiang besar
menyangga tiang balok melintang di bagian atas, tempat kerangka atap
penopang dengan kaso bambu bersandar. Satu-satunya bukaan adalah
sebuah lubang persegi kecil yang terletak tinggi di atas ujung sopi-sopi, yang

13
merupakan tempat penyimpanan padi hasil panen. Piringan kayu yang besar
(jelepreng) disusun di atas puncak tiang dasar untuk mencegah hewan
pengerat mencapai tempat penyimpanan padi.

Lumbung Padi Suku Sasak

b. Rumah
Rumah orang Sasak, yang berdenah persegi, tidak lazim dibandingkan dengan
bentuk arsitektur asli daerah lain dalam hal ini di dalamnya tidak disangga oleh
tiang-tiang. Bubungan atap curam dengan atap jerami berketebalan kurang
lebih 15 cm, menganjur ke dinding dasar yang menutup panggung setinggi
sekitar satu meter setengah terbuat dari campuran lumpur, kotoran kerbau,
dan jerami yang permukaannya halus dan dipelitur. Perlu tiga atau empat
langkah untuk mencapai ke rumah bagian dalam (dalam bale) di atas
panggung ini, yang ditutup dinding anyaman bambu, dan sering kali dilengkapi
dengan daun pintu ganda yang diukir halus. Anak laki-laki tidur di panggung di
luar dalam bale; anak perempuan di dalamnya. Rumah bagian dalam berisi
tungku di sisi sebelah kanan, dengan rak untuk mengeringkan jagung di
atasnya. Di sisi sebelah kiri dibagi untuk kamar tidur bagi para anggota rumah
tangga, berisi sebuah rumah tidur dengan rak langit-langit untuk menyimpan
benda-benda pusaka dan berharga di atasnya. Bagian ini merupakan tempat
untuk melahirkan anak. Kayu bakar disimpan di bagian belakang rumah,
dibawah panggung.

14
Rumah Adat Suku Sasak

a. Songket Sukarara
Songket merupakan kain tenun tradisional sasak yang terkenal di Nusa Tenggara
Barat bahkan sampai keluar daerah dan Mancanegara. Souvenir ini bisa didapati
di daerah objek wisata Lombok Tengah atau di Desa Sukarara Kecamatan
Jonggat yang merupakan desa tempat penenun membuat kain songket ini,
berlokasi sekitar 3 Km barat Kota Praya. Pengunjung tertarikmenyaksikan cara
pembuatan kain songket yang dibuat oleh wanita dengan berpakain tradisional
khas sasak bisa berkunjung menyaksikannya secara langsung ke Desa Sukarara.

Kain Tenun “Songket” Sukarara


b. Gerabah Penujak
Di desa ini pengunjung bisa menyaksikan penduduk setempat membentuk
dan menghaluskan tanah liat menjadi bentuk yang mengagumkan yaitu gerabah.

15
Keahlian ini diperoleh sejak dahulu ketika runtuhnya kerajaan hindu majapahit
abad ke 16 dengan metode tradisional putar dan coiling. Gerabah Penujak
merupakan komoditi ekspor. Peminat yang menginginkan gerabah bisa diperoleh
di art shops atau langsung ke Desa Penujak Kecamatan Praya Barat sekitar 7 Km
selatan Kota Praya.

c. Anyaman Beleka
Beleke, desa utama di Kabupaten Lombok Tengah yang memproduksi anyaman
yang terbuat dari rotan dan ketak. Terletak 15 Km timurnya Kota Praya,
kecamatan Janapria. Selain pengerajin anyaman, penduduk setempat juga
mahir membuat ukiran kayu, patung dan pande besi membuat keris. Pengunjung
bisa mendapatkan souvenir-souvenir ini di beberapa objek wisata atau di Desa
Beleke.

16
Hasil anyaman Desa Beleka

d. Nilai budaya yang lainnya:


Desa Tradisional Sade & Nde, Ritual Nede, Festival Bau Nyale, Peresean,
Gendang Beleq, Jangger, Masjid Kuno Rembitan & Makam Wali Nyatoq, Makam
Ketak, Situs Batu Rijang, Makam Seriwa

2) TINJAUAN KONI

Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) adalah satu-satunya organisasi


keolahragaan nasional yang berwenang mengkoordinasikan dan membina setiap dan
seluruh olahraga prestasi di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Indonesia
KONI merupakan pendamping dan pembantu Pemerintah dalam pembinaan dan
pembangunan olahraga prestasi

17
Visi KONI
1) Menjadi komite olahraga nasional yang modern dan independen dalam
menentukan arah kebijakan, profesional dalam pengelolaan, dan berprestasi untuk
mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia melalui kejuaraan olahraga di
tingkat Asia Tenggara, Asia dan Dunia serta didukung oleh sumber daya manusia
yang profesional.
2) Sebagai Komite Olahraga Nasional beretika dan berprestasi di Asia Tenggara,
Asia dan Dunia, dalam : Meningkatkan kualitas manusia Indonesia, mewujudkan
prestasi olahraga yang membanggakan, serta memperkokoh persatuan dan
kesatuan bangsa dalam semangat persahabatan untuk mengangkat harkat dan
martabat bangsa dalam hubungan harmonis antar bangsa. Melalui pengelolaan
keolahragaan yang modern yang diilhami oleh semangat Olympic Charter dan
didukung oleh sumber daya manusia yang profesional.
3) Menjadi organisasi keolahragaan nasional modern, profesional, dan mandiri yang
senantiasa menumbuhkembangkan dan meningkatkan prestasi olahraga
Indonesia di level Asia Tenggara, Asia dan Dunia dengan mengedepankan etika
dan moral serta sportifitas melalui pembinaan dan pengembangan sumber daya
manusia Indonesia secara terencana dan berkesinambungan.

Misi KONI
Menjadi KONI sebagai organisasi olahraga tertinggi di Indonesia melalui :
1) Penyediaan program penjaminan kesejahteraan masa depan bagi atlit, pelatih,
karyawan organisasi dan para pelaku olahraga.
2) Penciptaan kerjasama dan optimaliasi hubungan eksternal dengan organisasi-
organisasi terkait (stakeholder) untuk mendukung eksistensi organisasi.

18
3) Penciptaan suasana kerja yang harmonis dan penuh persahabatan untuk
mendukung menciptakan sinergi, kekompakan dan sportifitas dalam berkarya.

3) TINJAUAM BULU TANGKIS

Bulu tangkis atau badminton adalah suatu olahraga raket yang dimainkan oleh dua
orang (untuk tunggal) atau dua pasangan (untuk ganda) yang saling berlawanan.
Mirip dengan tenis, bulu tangkis bertujuan memukul bola permainan ("kok" atau
"shuttlecock") melewati jaring agar jatuh di bidang permainan lawan yang sudah
ditentukan dan berusaha mencegah lawan melakukan hal yang sama.

Ada lima partai yang biasa dimainkan dalam bulu tangkis, yaitu:
1. Tunggal putra
2. Tunggal putri
3. Ganda putra
4. Ganda putri
5. Ganda campuran

Memainkan bulutangkis
Tiap pemain atau pasangan mengambil posisi berseberangan pada kedua sisi jaring di
lapangan bulutangkis.Permainan dimulai dengan salah satu pemain melakukan
servis.Tujuan permainan adalah untuk memukul sebuah kok menggunakan raket,
melewati jaring ke wilayah lawan, sampai lawan tidak dapat mengembalikannya kembali.
Area permainan berbeda untuk partai tunggal dan ganda, seperti yang diperlihatkan pada
gambar. Bila kok jatuh di luar area tersebut maka kok dikatakan "keluar". Setiap kali
pemain/pasangan tidak dapat mengembalikan kok (karena menyangkut di jaring atau
keluar lapangan) maka lawannya akan memperoleh poin.Permainan berakhir bila salah
satu pemain/pasangan telah meraih sejumlah poin tertentu.

19
UKURAN LAPANGAN BULU TANGKIS
Bulu tangkis atau yang disebut dengan badminton adalah olah raga yang dimainkan oleh
dua orang berlawanan untuk tunggal, dan empat orang berlawanan untuk ganda. Induk
Organisasi badminton Internasional adalah BWF (Badminton World Federation).
Ukuran lapangan Bulu tangkis :

1) Partai Tunggal / Satu Pemain / 1 on 1


 Panjang=11,88meter
 Lebar=5,18meter
 Luas=61,5384meter persegi
 Tinggi Tiang Net=1,55meter
 Tinggi Atas Net = 1,52 meter
 JarakNetKeGarisService=1,98meter
 Jarak Garis Service ke Sisi Lapangan Luar = 3,96 meter

2) Partai Ganda / Dua Pemain / 2 on 2


 Panjang = 13,40 meter
 Lebar = 6,10 meter

20
 Luas = 81,74 meter persegi
 Tinggi Tiang Net = 1,55 meter
 Tinggi Atas Net = 1,52 meter
 Jarak Net Ke Garis Service = 1,98 meter
 Jarak Garis Service ke Sisi Lapangan Luar = 4,72 meter

 KONSEP STRUKTUR

A. STRUKTUR BETON
Konsep struktur Gedung ini adalah portal Baja, karena struktur portal mampu
memberikan daktilitas yang baik,. Secara umum, kriteria perancangan yang
dilakukan harus memenuhi kriteria kekuatan dan kekakuan (kemampuan layan).
Konsep perancangan bangunan Gedung ini mengacu kepada 4 hal :
1. Safety (keselamatan )
2. Workabality/Durability (Kemudahan /kehandalan)
3. Mutu/kualitas bangunan
4. Ekonomis

21
Langkah nyata perancangan struktur dalam mencapai 4 hal dalam konsep diatas
adalah:
1. Penggunaan grid struktur yang tipikal
Bertujuan untuk meningkatkan keselamatan saat gempa serta mempermudah
pengerjaan sehingga menjaga kualitas bangunan serta nilai ekonomis,
misalnya pada bekisting.
2. Penggunaan dimensi struktur yang mengakomodir raw material dipasar.
Bertujuan untuk mendapatkan penghematan semaksimal mungkin, dengan
memperhatikan, misalnya, ukuran multiplek, panjang tulangan (termasuk
sambungan dan anchorage).
3. Penggunaan Semen PCC (Portland Composite Cement) dalam isu lingkungan
demi mengurangi global warming, meningkatkan kualitas bangunan dan
mempermudah pengerjaan.
4. Persyaratan yang jelas dan mudah didapat mengenai material
konstruksi.Bertujuan untuk meningkatkan keselamatan saat gempa.

B. SISTEM RANGKA KAKU (RIGID FRAME STRUCTURE)


Sistem rangka kaku pada umumnya berupa grid persegi teratur, terdiri dari balok
horizontal dan kolom vertikal yang dihubungkan di suatu bidang dengan
menggunakan sambungan kaku (rigid). Sistem Rangka Kaku (Frame) atau sering
disebut sebagai Struktur Portal, banyak digunakan pada bangunan gedung.
Struktur Portal sepintas memiliki konfigurasi bentuk yang sama dengan jenis
Struktur Balok-Kolom, tetapi sebenarnya mempunyai aksi struktural yang berbeda
karena adanya titik hubung atau sambungan yang kaku antara elemen balok dan
elemen kolom. Adanya sambungan ini memberikan kestabilan struktur terhadap
gaya lateral.

Struktur rangka kaku (rigid frame) adalah struktur yang terdiri atas elemen-elemen
linier, umumnya balok dan kolom, yang saling dihubungkan pada ujung-ujungnya
oleh joints (titik hubung) yang dapat mencegah rotasi relatif di antara elemen
struktur yang dihubungkannya. Dengan demikian, elemen struktur itu pada titik
hubung tersebut. Seperti halnya balok menerus, struktur rangka kaku adalah
struktur statis tak tentu.

22
23
 KONSEP MEKANIKAL DAN ELEKTRIKAL

Dalam perencanaan bangunan-bangunan tinggi diperlukan pemikiran timbal-balik dengan


pertimbangan fungsi, struktur, estetika, dan persyaratan mekanikal serta elektrikal.
Dewasa ini isu energi dan lingkungan menjadi sesuatu yang sangat penting untuk
diperhatikan dalam perencanaan suatu bangunan, oleh karena ketersediaan energi fosil
yang semakin menipis dan kerusakan lingkungan yang terjadi dimana-mana. Untuk itu,
implementasi konsep mekanikal elektrikal dalam perencanaan bangunan Gedung Koni
Praya , akan senantiasa mengacu pada bangunan yang berkonsep hemat energi dan
ramah lingkungan.

1. KONSEP PEMADAM BAHAYA KEBAKARAN

Sistem proteksi bahaya kebakaran yang kami usulkan untuk bangunan Gedung Koni
Praya, ada 2 jenis :
a. Sistem Proteksi Pasif
b. Sistem Proteksi Aktif

a. Sistem Proteksi Pasif


Setiap bangunan Gedung Koni Praya harus mempunyai sistem proteksi pasif
terhadap bahaya kebakaran yang berbasis pada desain atau pengaturan terhadap
komponen arsitektur dan struktur gedung sehingga dapat melindungi penghuni dan
benda dari kerusakan fisik saat terjadi kebakaran. Penerapan sistem proteksi pasif
didasarkan pada fungsi/klasifikasi resiko kebakaran, geometri ruang, bahan bangunan
terpasang, dan/atau jumlah dan kondisi penghuni dalam gedung.
1) Gedung harus mampu secara struktural stabil selama kebakaran.
2) Kompartemenisasi dan konstruksi pemisah untuk membatasi kobaran api yang
potensial, perambatan api dan asap, agar dapat:
a) melindungi penghuni yang berada di suatu bagian bangunan terhadap dampak
kebakaran yang terjadi ditempat lain di dalam bangunan.
b) mengendalikan kobaran api agar tidak menjalar ke bangunan lain yang
berdekatan.
c) menyediakan jalan masuk bagi petugas pemadam kebakaran
3) Proteksi Bukaan, seluruh bukaan harus dilindungi, dan lubang utilitas harus diberi
penyetop api (fire stop) untuk mencegah merambatnya api serta menjamin
pemisahan dan kompartemenisasi bangunan.

24
b. Sistem Proteksi Aktif
Sistem proteksi aktif adalah peralatan deteksi dan pemadam yang dipasang tetap atau
tidak tetap, berbasis air, bahan kimia atau gas, yang digunakan untuk mendeteksi dan
memadamkan kebakaran pada bangunan.
1) Pipa tegak dan slang Kebakaran
Sistem pipa tegak ditentukan oleh ketinggian gedung, luas per lantai, klasifikasi
hunian, sistem sarana jalan ke luar, jumlah aliran yang dipersyaratkan dan sisa
tekanan, serta jarak sambungan selang dari sumber pasokan air.
2) Hidran Halaman
Hidran halaman diperlukan untuk pemadaman api dari luar bangunan gedung.
Sambungan slang ke hidran halaman harus memenuhi persyaratan yang
ditentukan oleh instansi kebakaran setempat.
3) Sistem Springkler Otomatis.
Sistem springkler otomatis harus dirancang untuk memadamkan kebakaran atau
sekurang-kurangnya mempu mempertahankan kebakaran untuk tetap, tidak
berkembang, untuk sekurang-kurangnya 30 menit sejak kepala springkler pecah.
4) Alat Pemadam Api Ringan (APAR)
Alat pemadam api ringan kimia (APAR) harus ditujukan untuk menyediakan
sarana bagi pemadaman api pada tahap awal. Konstruksi APAR dapat dari jenis
portabel (jinjing) atau beroda.
5) Sistem Pemadam Kebakaran Khusus.
Sistem pemadaman khusus yang dimaksud adalah sistem pemadaman bukan
portable (jinjing) dan beroperasi secara otomatis untuk perlindungan dalam ruang-
ruang dan atau penggunaan khusus. Sistem pemadam khusus meliputi sistem
gas dan sistem busa.
6) Sistem Deteksi & Alarm Kebakaran
Sistem deteksi dan alarm kebakaran berfungsi untuk mendeteksi secara dini
terjadinya kebakaran, baik secara otomatis maupun manual. Sistem deteksi
kebakaran dapat menggunakan heat detector maupun smoke detector
7) Sistem Pencahayaan Darurat
Pencahayaan darurat di dalam gedung diperlukan khususmya pada keadaan
darurat, misalnya tidak berfungsinya pencahayaan normal dari PLN atau tidak
dapat beroperasinya dengan segera daya siaga dari diesel generator.
8) Tanda Arah
Bila suatu eksit tidak dapat terlihat secara langsung dengan jelas oleh pengunjung
atau pengguna bangunan, maka harus dipasang tanda penunjuk dengan tanda
panah menunjukkan arah, dan dipasang di koridor, jalan menuju ruang besar

25
(hall), lobi dan semacamnya yang memberikan indikasi penunjukkan arah ke eksit
yang disyaratkan.
9) Sistem Peringatan Bahaya
Sistem peringatan bahaya dapat juga difungsikan sebagai sistem penguat suara
(public address), diperlukan guna memberikan panduan kepada penghuni dan
tamu sebagai tindakan evakuasi atau penyelamatan dalam keadaan darurat. Ini
dimaksudkan agar penghuni bangunan memperoleh informasi panduan yang tepat
dan jelas.

c. Faktor-faktor penting yang harus dipenuhi dalam penanggulangan bahaya


kebakaran antara lain :

1) Ketentuan umum;
2) Akses dan pasokan air untuk pemadaman kebakaran;
3) Sarana penyelamatan;
4) Sistem proteksi kebakaran pasif;
5) Sistem proteksi kebakaran aktif;
6) Utilitas bangunan gedung;
7) Pencegahan kebakaran pada bangunan gedung;
8) Pengelolaan sistem proteksi kebakaran pada bangunan gedung; dan
9) Pengawasan dan pengendalian.
10) Sistem peringatan bahaya kebakaran

d. Ketentuan Umum, mengacu pada Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran


Pada Bangunan Gedung Dan Lingkungan sesuai Peraturan Menteri Pekerjaan Umum
Nomor: 26/PRT/M/2008 :

a. Sistem proteksi kebakaran pada bangunan gedung dan lingkungan adalah


sistem yang terdiri atas peralatan, kelengkapan dan sarana, baik yang
terpasang maupun terbangun pada bangunan yang digunakan baik untuk
tujuan sistem proteksi aktif, sistem proteksi pasif maupun cara-cara
pengelolaan dalam rangka melindungi bangunan dan lingkungannya terhadap
bahaya kebakaran.
b. Bangunan gedung adalah wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu
dengan tempat kedudukannya, sebagian atau seluruhnya berada di atas
dan/atau di dalam tanah dan/atau air, yang berfungsi sebagai tempat manusia
melakukan kegiatannya, baik untuk hunian atau tempat tinggal, kegiatan

26
keagamaan, kegiatan usaha, kegiatan sosial, budaya, maupun kegiatan
khusus
c. Perencanaan tapak adalah perencanaan yang mengatur tapak (site)
bangunan, meliputi tata letak dan orientasi bangunan, jarak antar bangunan,
penempatan hidran halaman, penyediaan ruang-ruang terbuka dan
sebagainya dalam rangka mencegah dan meminimasi bahaya kebakaran.
d. Sarana penyelamatan adalah sarana yang dipersiapkan untuk dipergunakan
oleh penghuni maupun petugas pemadam kebakaran dalam upaya
penyelamatan jiwa manusia maupun harta benda bila terjadi kebakaran pada
suatu bangunan gedung dan lingkungan.
e. Sistem proteksi kebakaran aktif adalah sistem proteksi kebakaran yang secara
lengkap terdiri atas sistem pendeteksian kebakaran baik manual ataupun
otomatis, sistem pemadam kebakaran berbasis air seperti springkler, pipa
tegak dan slang kebakaran, serta sistem pemadam kebakaran berbasis bahan
kimia, seperti APAR dan pemadam khusus
f. Pencegahan kebakaran pada bangunan gedung adalah mencegah terjadinya
kebakaran pada bangunan gedung atau ruang kerja. Bila kondisi-kondisi yang
berpotensi terjadinya kebakaran dapat dikenali dan dieliminasi akan dapat
mengurangi secara substansial terjadinya kebakaran.
g. Pengelolaan proteksi kebakaran adalah upaya mencegah terjadinya
kebakaran atau meluasnya kebakaran ke ruangan-ruangan ataupun lantai-
lantai bangunan, termasuk ke bangunan lainnya melalui eliminasi ataupun
minimalisasi risiko bahaya kebakaran, pengaturan zona-zona yang berpotensi
menimbulkan kebakaran, serta kesiapan dan kesiagaan sistem proteksi aktif
maupun pasif
h. Pengawasan dan pengendalian adalah upaya yang perlu dilakukan oleh pihak
terkait dalam melaksanakan pengawasan maupun pengendalian dari tahap
perencanaan pembangunan bangunan gedung sampai dengan setelah terjadi
kebakaran pada suatu bangunan gedung dan lingkungannya.
i. Persyaratan teknis sistem proteksi kebakaran pada bangunan gedung dan
lingkungan adalah setiap ketentuan atau syarat-syarat teknis yang harus
dipenuhi dalam rangka mewujudkan kondisi aman kebakaran pada bangunan
gedung dan lingkungannya, baik yang dilakukan pada tahap perencanaan,
perancangan, pelaksanaan konstruksi dan pemanfaatan bangunan.
j. Penyelenggaraan sistem proteksi kebakaran pada bangunan gedung dan
lingkungan meliputi proses perencanaan teknis dan pelaksanaan konstruksi,

27
serta kegiatan pemanfaatan, pelestarian dan pembongkaran sistem proteksi
kebakaran pada bangunan gedung dan lingkungannya.

e. Kategori bangunan Gedung Koni Praya, adalah ruang di dalam bangunan gedung
yang menghubungkan dua tingkat atau lebih dan:
1) keseluruhan atau sebagian ruangannya tertutup pada bagian atasnya oleh lantai.
2) termasuk setiap bagian bangunan gedung yang berdekatan tetapi tidak
terpisahkan oleh penghalang yang sesuai untuk kebakaran, dan
3) tidak termasuk lorong tangga, lorong ram atau ruangan dalam saf.

Aspek lingkungan yang harus diperhatikan antara lain :


a. Jalan Lingkungan
Untuk melakukan proteksi terhadap meluasnya kebakaran dan memudahkan
operasi pemadaman, maka di dalam lingkungan bangunan gedung harus tersedia
jalan lingkungan dengan perkerasan agar dapat dilalui oleh kendaraan pemadam
kebakaran.

b. Jarak Antar Bangunan Gedung.


Untuk melakukan proteksi terhadap meluasnya kebakaran, harus disediakan jalur
akses mobil pemadam kebakaran dan ditentukan jarak minimum antar bangunan
gedung dengan memperhatikan Tabel 2.2.3.

No. Tinggi Bangunan Gedung (m) Jarak Minimum Antar


Bangunan Gedung (m)
1. . s.d. 8 3
2. > 8 s.d. 14 > 3 s.d. 6
3. > 14 s.d. 40 > 6 s.d. 8
4. . > 40 >8

Jarak minimum antar bangunan gedung tersebut tidak dimaksudkan untuk


menentukan garis sempadan bangunan gedung.

c. Jalan Akses Pemadam Kebakaran


Jalan akses pemadam kebakaran yang telah disetujui harus disediakan pada
setiap fasilitas, bangunan gedung, atau bagian bangunan gedung setelah
selesai dibangun atau direlokasi.

28
Jalan akses pemadam kebakaran meliputi jalan kendaraan, jalan untuk
pemadam kebakaran, jalan ke tempat parkir, atau kombinasi jalan-jalan
tersebut.

Posisi perkerasan pada rumah hunian.

Perkerasan untuk ke luar masuknya mobil pemadam kebakaran

29
Posisi Jack Mobil Pemadam Kebakaran

Contoh Fasilitas belokan untuk mobil pemadam kebakaran

30
Radius terluar untuk belokaan yang dapat dilalui

Posisi akses bebas mobil pemadam terhadap hidran kota.

31
Letak hidran halaman terhadap jalur akses mobil pemadam

Utilitas yang disiapkan:


a. Pencahayaan darurat
b. Sarana komunikasi darurat.
c. Lif kebakaran.
d. Sistem deteksi dan alarm kebakaran.
e. Sistem pipa tegak dan slang kebakaran.
f. Sistem springkler kebakaran otomatis.
g. Sistem pengendalian asap.
h. Pintu tahan api otomatis.
i. Ruang pengendali kebakaran.

Sumber daya listrik untuk memasok kebutuhan dari daya utilitas bangunan tidak
hanya mengandalkan pasokan listrik PLN, melainkan ada beberapa sumber listrik
Batere, Generator, dan sumber listrik yang lain.

32
Didalam bangunan gedung yang merupakan area publik harus disediakan alat
untuk pemadam kebakaran salah satu alat untuk memadam kebakaran tersebut
selain hydrant dan tabung APAR adalah sprinkler.
Inovasi sprinkler saat ini adalah sprinkler yang menggunakan waterless
suppresion system atau thermatic system yang mana tidak menggunakan air
untuk memadamkan api tetapi menggunakan gas HFC 227 (Hepta Fluoro Carbon)

Hidran dan Selang Kebakaran


Jika kebakaran diketahui secara lebih awal, maka kebakaran yang terjadi dapat
ditanggulangi oleh penghuni/pengguna bangunan itu sendiri, sebelum api menjadi
besar dan tak terkendali. Sangat penting untuk segera memberitahukan
barisan/unit pemadam kebakaran tentang adanya suatu kebakaran. Pemadam Api
Ringan (PAR – ‘Fire Extinghuiser’) telah membuktikan manfaat bagi penggunaan
praktis oleh orang sebagai pencegah kebakaran kecil, termasuk oleh orang yang
tidak berpengalaman.
Berdasarkan lokasi penempatan, jenis hidran kebakaran dibagi atas:

1. Hidran Bangunan (Kotak Hidran – ‘Box Hydrant’)


Lokasi dan jumlah hidran dalam bangunan diperlukan untuk menentukan
kapasitas pompa yang digunakan untuk menyemprotkan air. Hidran perlu
ditempatkan pada jarak 35 meter satu dengan lainnya, karena panjang selang
kebakaran dalam kotak hidran 30 meter dan ditambah sekitar 5 meter jarak
semprotan air. Pada atap bangunan yang tingginya lebih dari 8 lantai perlu
disediakan hidran untuk mencegah menjalarnya api ke bangunan yang
bersebelahan.

33
Gambar Kotak Hidran

Hidran/selang kebakaran harus diletakkan di tempat yang mudah terjangkau


dan relatif aman, umumnya diletakkan di dekat pintu darurat.

2. Hidran Halaman (‘Pole Hydrant’)


Hidran ditempatkan di luar bangunan pada lokasi yang aman dari api dan
untuk menyalurkan pasokan air kedalam bangunan dilakukan dengan melalui
katup ‘Siamese’

Jarak Aman Hidran Halaman

Hidran Halaman dan Katup „Siamese‟

34
3. Hidran Kota (‘Fire Hydrant’)
Hidran kota bentuknya sama dengan Hidran halaman, tetapi mempunyai dua
atau tiga lubang untuk selang kebakaran.
Komponen hidran kebakaran terdiri dari: sumber air, pompa-pompa kebakaran,
selang kebakaran, penyambung dan perlengkapan lainnya.
Untuk hidran kebakaran diperlukan persyaratan teknis sesuai ketentuan,
sebagai berikut:
1. Sumber persediaan air untuk hidran harus diperhitungkan minimum untuk
pemakaian selama 30 menit.
2. Pompa kebakaran dan peralatan listrik lainnya harus mempunyai aliran
listrik tersendiri dan sumber daya listrik darurat.
3. Selang kebakaran dengan diameter minimum 1,5 inci (3,8 cm.) harus
terbuat dari bahan yang tahan panas, dengan panjang maksimum 30
meter.
4. Harus disediakan kopling penyambung yang sama dengan kopling dari
Barisan/Unit Pemadam Kebakaran.
5. Semua peralatan hidran harus dicat dengan warna merah.

Selanjutnya, pemasangan hidran kebakaran juga perlu memperhatikan hal-hal


sebagai berikut:
1. Pipa pemancar harus sudah terpasang pada selang kebakaran
2. Hidran bangunan yang menggunakan pipa tegak (‘riser’) ukuran 6 inci (15
cm) harus dilengkapi dengan kopling ‘outlet’ dengan diameter 2,5 inci yang
bentuk dan ukurannya sama dengan kopling dari barisan/unit pemadam

35
kebakaran dan ditempatkan pada tempat yang mudah dicapakai oleh
petugas pemadam kebakaran.
3. Hidran halaman harus disambungkan dengan pipa induk dengan ukuran
diameternya minimum 6 inci (15 cm.) dan mampu mengalirkan air 1.000
liter/menit. Maksimal jarak antar hidran adalah 200 meter dan penempatan
hidran harus mudah dicapai oleh mobil pemadam kebakaran.
4. Hidran halaman yang mempunyai dua kopling ‘outlet’ harus menggunakan
katub pembuka dengan diameter 4 inci (10 cm.) dan yang mempunyai tiga
kopling ‘outlet’ harus menggunakan katup pembuka dengan diamter 6 inci
(15 cm.).
5. Kotak hidran bangunan harus mudah dibuka, dapat terlihat dan terjangkau
dan tidak terhalang oleh benda apapun

36
BAB III PROGRAM KERJA

PROGRAM KERJA

Konsep Program Kerja Penanganan Pekerjaan Perencanaan


Agar kegiatan perencanaan diatas dapat berjalan dan menghasilkan hasil yang baik
diperlukan pengendalian mutu. Pengendalian mutu dilakukan dengan mengikuti
prosedur mutu yang sudah ditetapkan. Kepatuhan kepada prosedur akan
memberikan kepastian mutu produk perencanaan yang dihasilkan.
Dibawah disajikan diagram flowchart mulai dari survey, perencanaan hingga pengawasan
berkala.

37
38
Konsep Program Kerja Penanganan Pekerjaan Pembangunan
1. Pekerjaan Pembuatan Papan nama:
Standar desain atau kriteria penerimaan:
 Redaksional harus sesuai petunjuk direksi atau yang tertuang dalam kontrak
 Tiang harus kokoh dan kain untuk tulisan harus yang tahan air / hujan
 Kayu tiang harus minimal kayu klas 2

Standar prosedur atau instruksi kerja:


 Kayu tiang harus diserut yang rapi dan ukuran minimal 5/10
 Tiang ditanam minimal 30 cm dan diberi dudukan tiang dari cor mortar

2. Pekerjaan Pembersihan Lokasi:

Standar desain atau kriteria penerimaan:


 Lokasi harus bersih dari kotoran besar maupun kecil termasuk semak belukar
 Kebersihan harus tetap terjaga dari awal proyek sampi akhir proyek

Standar prosedur atau instruksi kerja:


 Buldoser menyekrap kotoran terutama semak belukar dengan kedalaman 0 – 30
cm
 Semua kotoran hasil sekrapan dozer segera dibuang ke lokasi yang disetujui
direksi

39
3. Pekerjaan Penerangan lokasi pekerjaan dan keamanan

Standar desain atau kriteria penerimaan:


 Kondisi lapangan terang pada malam hari
 Zero accident atau kecelakaan kerja seminimal mungkin

Standar prosedur atau instruksi kerja:


 Lampu harus dipasang tiap jarak tertentu sesuai area proyek dan menghasilkan
penerangan yang cukup

4. Pekerjaan Pagar pengaman lokasi proyek

Standar desain atau kriteria penerimaan:


 Pagar harus rapi dan kokoh
 Ketinggian pagar minimal diatas ketinggian pria dewasa atau minimal 180 cm

Standar prosedur atau instruksi kerja:


 Pasang tiang dolken dengan tenaga orang atau excavator per jarak max 75 cm

40
 Pasang seng tegak dengan overlaping minimal 2 gelombang dan diikat dengan
kawat

5. Pekerjaan Pengukuran dan pemasangan titik tetap

Standar desain atau kriteria penerimaan:


 BM yang digunakan acuan awal harus sesuai dengan yang tertera pada gambar
 Toleransi untuk pengukuran pancang max 5 – 10 cm dari as pancang

Standar prosedur atau instruksi kerja:


 Lakukan kalibrasi alat terlebih dahulu
 Pembuatan titik tetap dan titik bantu tetap harus menggunakan alat dengan
kemampuan mengukur jarak secara elektronik yaitu EDM atau tiotal station
 Pelaksanaan pemanduan pemancangan minimal dengan alat ukur sudut dengan
ketelitian 20 detik atau dengan teodolit digital
 Pengukuran waterpassing dengan alat ukur aoto level dengan jarak slag harus
tidak boleh melebihi spesifikasi alat ukur misalnya 50 m atau 100 m, tergantung
(type) waterpass yang digunakan.

41
6. Pekerjaan Air kerja dan P3K

Standar desain atau kriteria penerimaan:


 Air harus bersih dan bening serta tidak bau dan tidak mengandung unsur bahan
organik
 Jumlah air sesuai dengan kebutuhan dilapangan

Standar prosedur atau instruksi kerja:


 Cari PDAM atau unit pengolahan air terdekat
 Jika PDAM tidak ada, lakukan pembuatan sumur bor dengan terlebih dahulu cek
kualitas air
 Periksa semua alat termasuk kebersihannya baik pompa ataupun watertank truck

42
BAB IV KONSEP DESAIN

Berdasarkan hasil analisa terhadap permasalahan-permasalahan yang ada diatas maka


konsultan perencana menyusun solusinya dengan menerapkan prinsip inovasi sehingga
dapat menghasilkan keluaran rancangan yang sesuai dengan persyaratan dengan
memperhatikan batasan waktu, biaya dan kualitas output mutu tinggi.

III.1 ANALISIS SITE

Sebelum memasuki bangunan/ gedung diperlukan analisis terhadap site agar


kompatibel dengan desain yang dirancang.

Analisis Site Terhadap Angin Dan Matahari

43
Analisis Site Terhadap Kebisingan

Analisis Site Terhadap Sanitasi Dan Drainasi

44
Analisis Site Terhadap Vegetasi

Analisis Site Terhadap View Kedalam

45
Analisis Site Terhadap View Keluar

III.2 ANALISIS GEDUNG

Perancangan sebuah bangunan harus mengacu kepada alur kaidah teknis arsitektur
yaitu :

46
Building task- Form- Teknik- Savety- Utility yang kesemuanya mengacu pada
Konteks bangunan serta diikat oleh Regulasi yang ada.

A. BUILDING TASK
1) Fungsi Bangunan
Fungsi bangunan adalah sebagai Gedung Koni Praya yang memadahi baik dari
segi kuantitas, kualitas dan kenyamanannya.
a) Lantai 1 9. Panggung
1. Selasar 10. Ruang panel
2. Tiketing 11. Tangga
3. Court 3 line
4. Panggung b) Lantai 2
5. Ruang ganti pa 1. Tribun
6. Ruang ganti pi 2. Ruang Kontrol
7. KM/WC umum 3. Tangga
8. Ruang persiapan

i. Zoning Vertikal

Zoning vertikal menyesuaikan dengan kebutuhan user:


Lantai 1 : Area Pemain (Panggung & Court)
Lantai 2 : Tribun (area Penonton)

47
ii. Zoning Horizontal

48
B. FORM
Bentukan bangunan
a) Gubahan Massa
Dilihat dari site, maka gubahan massa yang terbentuk dari kebutuhan
ruang dan sirkulasi akan menjadi seperti dibawah ini:

49
b) Fasad

50
51
52
c) Sirkulasi

53
54
C. SAVETY

1) KONSEP HYDRANT

Hydrant diletakkan pada area yang mudah dijangkau serta cangkupannya


menyelur kearah gedung sehingga semua bagian gedung tercover.

D. UTILITY (MEKANIKAL & ELEKTRIKAL)


DEFINISI UTILITAS = adalah sesuatu yang berguna, suatu jasa, keuntungan,
produktifitas.
DEFINISI UTILITAS GEDUNG = Segala sesuatu yang berguna untuk gedung
terutama daya listrik, air gas, telepon dll
Suatu bangunan terdiri atas 2 kelompok besar desain, yaitu:
a. Desain Pasif (passive Design)
b. Desain Aktif ( Active Design)
Desain Pasif meliputi bangunan struktur, termasuk selubung bangunan (Atap, dinding
beton, Kaca, jendela dan pintu). Dan struktur bangunan yang tidak menggunakan
energy.
Desain Aktif meliputi semua bagian bangunan yang menggunakan energy/ daya.
Seperti pencahayaan, tata udara, sound system, LAN dan telepon, dll.

55
1) PENCAHAYAAN
a) Pencahayaan Alami
 Pencahayaan memadukan kekuatan pencahayaan alami dan buatan yang
seimbang dan sesuai dengan kebutuhan dan aspek efisiensi. Salah satu cara
yang digunakan dengan memperbesar bukaan.

 Gedung menghadap arah timur . Matahari mempunyai 2 hal yaitu sinar dan panas.
Pada bangunan, diperlukan sinar namun tidak begitu membutuhkan panas. Panas
bisa direduksi melalui pemilihan bahan bangunan serta bukaan pada bangunan.
Serta penciptaan bayangan pada bangunan. Peninggian bangunan dengan stone
based juga dapat membantu mendinginkan ruangan didalam gedung.

b) Pencahayaan buatan
Pencahayaan buatan diperlukan mengingat aktivitas penghuni didalam Gedung Koni
Praya bisa berlangsung sampai malam. Konsep pencahayaan menggunakan lampu
hemat energy (energy saver) seperti menggunakan lampu TL 5 dan LED daya listrik
yang dibutuhkan kecil tetapi menghasilkan pencahayaan yang lebih terang dari lampu
TL 8 atau lampu PL yang ada sekarang.

56
2) PENGHAWAAN
penghawaan alami

Angin panas akan direduksi melalui daerah transisi yang nantinya penyaringan
tersebut akan menghembuskan angin dingin ke dalam bangunan. Dengan ruang
etic sebagai barier atap, serta tinggi bangunan yang cukup, diharapkan
penghawaan didalam bangunan akan lebih terasa dingin.

3) KONSEP SOUNDSYSTEM

57
4) KONSEP CCTV

5) KONSEP SAMPAH

58
6) KONSEP DRAINASE AIR HUJAN

59
7) KONSEP INSTALASI AIR BERSIH

8) KONSEP INSTALASI AIR KOTOR

60
BAB V PENUTUP
Demikian laporan pendahuluan ini kami sampaikan. Besar harapan kami untuk
mendapatkan berbagai macam kritikan maupun masukan guna lebih sempurnanya

Mataram , November 2013


CV. GEOTEKNO DESIGN

Suhartono, S.T
Direktur

61