Anda di halaman 1dari 20

UJIAN PSIKIATRI

SKIZOFRENIA PARANOID

Penguji:
Kolonel (purn.) CKM dr. Erlina Sutjiadi, SpKJ (K)

Disusun oleh:
Evan Hindoro
FK UPH
NIM: 2010-071-0069

Diujikan pada tanggal: 22 Desember 2014

KEPANITERAAN KLINIK DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN JIWA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PELITA HARAPAN
RUMAH SAKIT PUSAT ANGKATAN DARAT GATOT SOEBROTO
PERIODE 24 NOVEMBER 2014 – 28 DESEMBER 2014

1
A. Identitas Pasien
Nama pasien : Ny. ESH
Umur/ tanggal lahir : 32 tahun / 31 Agustus 1982
Agama : Islam
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Status pernikahan : Sudah menikah, memiliki 1 anak
Suku bangsa : Sunda
Pendidikan : Sarjana Hukum
Alamat : Asrama SECAPA, Bandung.
No Rekam Medik : 448499
Tanggal masuk : 16 Desember 2014, Jam 12.00 WIB, Paviliun Amino
B. Riwayat psikiatri
 Alloanamnesis pada tanggal 16, 19 dan 20 Des 2014 bersama Tn. S, Suami pasien,
Jam 14:00, 14.30 dan 12.00 WIB di Paviliun Amino
 Autoanamnesis pada tanggal 16 Des – 21 Des 2014, di Paviliun Amino
A. Keluhan utama :
Pasien curiga pada semua orang sejak 1 minggu SMRS
B. Keluhan tambahan :
Gelisah dan marah - marah
C. Riwayat Gangguan Sekarang:
 Allonamnesis
Suami pasien mengaku sejak 1 minggu yang lalu, pasien selalu sendirian di rumah
dan jarang mau keluar rumah kecuali saat mengantar anaknya ke sekolah dan menjemput
anaknya pulang sekolah. Namun, sejak 1 minggu terakhir ini pasien tiba – tiba saja tidak
memperbolehkan anaknya yang duduk di kelas 5 SD (umur 9 tahun) untuk bersekolah dengan
alasan bahwa guru SD dan semua orang tua teman anak-anaknya itu adalah anggota atau kaki
tangan Pantai Komunis Indonesia / PKI, sehingga saat anaknya bersekolah pasien sering
mengintip anaknya saat di kelas melalui jendela kelas dari awal pelajaran dimulai hingga
kelas selesai. Menurut suaminya pasien anaknya sering melaporkan ke ayahnya bahwa saat di
sekolah ibunya pernah menendang temannya yang ia kira itu anak PKI, suami pasien pun
mendengar laporan hal itu dari guru sekolah dan orang tua teman anaknya.
Beberapa hari ini pasien tampak gaduh gelisah sendiri tanpa sebab dan juga suami
pasien mengaku pasien menjadi tidak pernah menelepon dia saat berada di kantor, dimana
kebiasaan pasien saat makan siang selalu menelepon suami pasien untuk berbincang-bincang

2
tentang aktivitas apa yang sedang mereka masing-masing kerjakan.
Saat suami diberi perintah untuk dating ke Serang untuk bertugas namun, karena pasien
tidak percaya dan ingin mengikuti suaminya hingga ke Serang untuk membuktikan bahwa
suaminya tidak berbohong maka saat sudah berada di Serang, suami pasien merasa pasien
sering curiga pada semua orang dan memarahi orang sekitar maka, suami pasien bermaksud
untuk membawa pasien berkonsultasi ke departemen kesehatan jiwa RSPAD, namun setelah
dikonsultasikan kemudian pasien disarankan untuk dilakukan rawat inap untuk yang pertama
kalinya. Kemudian pasien mengamuk dan marah – marah agar dia pulang bersama suaminya
menolak untuk dirawat hingga pasien diikat.
 Autoanamnesis
Pasien tidak mengeluh masalah apa - apa dan merasa tidak sakit sehingga pasien ingin
pulang dan secepatnya dijemput oleh suaminya. Namun dari hasil follow-up kesehariannya,
pasien menceritakan bahwa pemeriksa dan semua orang – orang di RSPAD bahkan dokter –
dokter yang bertugas disini sudah meninggal dan pasien hanya bisa mendengar suara dan
dapat menyentuh dan meraba tubuhnya namun tidak dapat melihat langsung wujud
pemeriksa. Pasien mengatakan bahwa pemeriksa sudah meninggal 1 kali dan masih memiliki
kesempatan untuk meninggal 3 kali lagi. Pasien mengatakan bahwa beberapa tenaga medis
yang bertugas telah meninggal dengan berkali – kali dan sudah lama, hal ini diketahui oleh
pasien dengan cara mencium baunya. Pasien juga mengaku bahwa ia memiliki kelebihan
yang diberikan oleh Allah yaitu dapat membeda-bedakan lamanya kematian seseorang dari
baunya. Selain itu, pasien mengaku dapat mengetahui perubahan jenis kelamin yang terjadi
setelah seseorang mati, seperti sebelum pemeriksa mati, pemeriksa adalah seorang
perempuan dan saat ini pemeriksa adalah seorang laki-laki.
Pasien yakin bahwa pertemuan antara orang hidup (dirinya sendiri) dan orang yang
sudah mati (pemeriksa) yang berbeda dunianya itu di luar nalar dan akal sehat manusia
namun, pertemuan ini dapat terjadi karena dibuktikan oleh Allah.
Pasien meminta pemeriksa agar jangan sering berkomunikasi dengan pasien, karena
apabila pasien sudah keluar dari RSPAD maka nanti pasien takut bisa tiba – tiba masuk ke
dunia lain dan kemudian tiba – tiba bisa masuk ke dunia pasien yang sebenarnya lagi. Pasien
mengaku bahwa dirinya memang seperti itu memiliki kelebihan – kelebihan tertentu, ia bisa
melihat orang – orang yang sudah mati jauh semenjak ia belum kuliah dan saat ia kuliah ia
juga melihat berbagai orang yang sudah mati, bahkan dari 2/5 teman kuliahnya sudah
meninggal dan ia bisa melihat sekaligus berkomunikasi.
Pasien juga yakin bahwa tidak ada Tuhan Yesus maupun Tuhan di agama lain, ia

3
mengaku diperlihatkan dengan mata sendiri bahwa orang katolik menempuh perjalanan
sampai telanjang oleh Asmaul Husnah. Namun pasien menolak untuk memberikan informasi
lebih lanjut tentang ia melihat Allah atau tidak. Pasien tidak suka bila pemeriksa bertanya
“apakah kelebihan yang ibu miliki ini adalah kekuatan ibu sendiri?” dan menyebutkan bahwa
ia yakin dengan Allah lalu ditunjukkan oleh Allah. Ia juga mengaku pernah melihat bahwa
tidak ada surga agama Katolik dan Protestan.
Pasien mengaku bahwa ia memiliki misi untuk menyatukan berbagai agama menjadi satu
yaitu agama islam. Saat ini, pasien mengaku misi untuk menyatukan agama Kristen protestan
dan katolik sudah terlaksana dengan baik dan selesai namun saat ini pasien sedang
menyatukan agama Hindu menjadi agama Islam sedangkan selanjutnya adalah agama
Buddha yang terakhir.
D. Riwayat Gangguan Sebelumnya :
 Riwayat Gangguan Psikiatri
Menurut suaminya, tahun 2001 saat berpacaran pasien selalu mudah cemburu
orangnya dan apabila pasien cemburu ia cenderung mencakar suaminya. Pasien juga
orangnya cenderung memaksakan kehendaknya, apapun kehendaknya saat itu harus dapat
dituruti oleh pihak keluarga maupun suaminya misalnya apabila jam 21.00 malam pasien
meminta suaminya membeli nature - E saat itu, maka saat itu juga suami pasien harus
memenuhi kehendaknya dan pergi membelinya. Selain itu, pasien sering mengaku bahwa
melihat hantu dan bisa berbicara dengan hantu. Pasien sering memberitahu suaminya bahwa
dibelakangnya ada hantu.
Awalnya suami pasien menggap mungkin ini memang kelebihan pasien karena dapat
melihat sesuatu, namun saat mereka menikah 6 tahun yaitu tahun 2009 untuk pertama kalinya
suami pasien itu merasa pasien perlu dibawa ke dokter kejiwaan karena saat pagi hari di
kantor suami pasien mendengar laporan dari tetangganya bahwa pasien sedang berdiri di
depan pintu rumah tanpa busana luar dan melamun sendiri serta komat kamit sehingga
tetangga menelepon suaminya untuk pulang ke rumah. Saat itu pasien hanya dilakukan
perawatan jalan di RS Dustira dan kontrol setiap 3-6 bulan, diberikan haloperidol. Suami
pasien bilang saat minum obat sekitar 2 mingguan pasien terlihat masih berbicara sendiri dan
suami tidak mengerti apa yang dibicarakan, namun setelah pemakaian haloperidol bulan ke 6
(tahun 2010) pasien tampak berjalan seperti robot sehingga pasien dibawa kembali ke dokter
dan diberikan THP tablet warna kuning dua kali sehari. Suami pasien mengaku bahwa pasien
perlu dibujuk untuk minum obat.

4
Tahun 2012, pasien kembali marah – marah tanpa sebab kepada teman anak-anaknya
hingga menendang anak tersebut hingga suami pasien mendengar laporan dari wali murid dan
guru wali kelas. Hingga sekarang, pasien sering bercerita dengan suami bahwa ia bertemu
dengan Allah SAW dan Al-quran sudah masuk ke dalam otaknya sehingga ia memiliki
kelebihan yang orang lain tidak miliki dan ia selalu mengatakan ke suaminya bahwa
suaminya bukan tidak bisa apa – apa.
Tahun 2013, pasien masih tetap berbicara sendiri dengan komat kamit bila sendirian.
Tahun 2014 April pasien mulai bicara tidak karuan dan ngaco, Menurut suaminya, pasien
mencurigai semua orang adalah PKI, kecuali orang-orang tertentu seperti suaminya, anaknya
dan adik ke empatnya. Bahkan kedua orang tua pasien sendiri dan adik kedua dan ketiganya,
pasien selalu merasa cemburu pada kedua adiknya karena kedua adiknya ini sudah memiliki
pekerjaan yang tetap sebagai polisi dan PNS. Pasien tidak mau berbicara pada orang lain
selain orang yang menurutnya sependapat, sepikiran dan memihak pada apa yang ia
katanya.Guru anaknya dan wali murid lainnya juga PKI menurut pasien. Terus diberikan oleh
dokter dengan injeksi risperidone sebulan sekali.
 Riwayat Medik Umum
Pasien memiliki tidak memiliki riwayat hipertensi, diabetes, asma, kolestrol, jantung dan
ginjal. Riwayat trauma, penyakit saraf, riwayat kejang, tumor otak, nyeri kepala disangkal
oleh pasien.
 Penggunaan Zat Psikoaktif dan Alkohol
Pasien tidak pernah mengkonsumsi alkohol, bukan perokok, maupun menggunakan
penggunaan obat – obat terlarang yang rutin maupun penggunaan jangka singkat.
Penggunaan narkoba disangkal.

E. Riwayat Kehidupan Pribadi :


 Riwayat Prenatal dan Perinatal
Pasien mengaku dilahirkan secara normal oleh bidan. Pasien merupakan anak pertama dari
empat bersaudara.
 Riwayat Masa Kanak Awal (0-3 tahun)
Pasien tumbuh dengan normal seusianya. Pasien tinggal dengan kedua orang tuanya.
 Riwayat Masa Kanak Pertengahan (3-11 tahun)
Pasien bersekolah di SD Negeri di Bandung. Hubungan pasien dengan saudara-saudaranya
cukup harmonis. Pasien merupakan murid yang cukup aktif dalam kegiatan ektrakulikuler.
 Riwayat Masa Kanak Akhir dan Remaja (12-18 tahun)

5
Pasien menjalani pendidikan di salah satu SMP Negeri di Bandung. Pasien mengaku
prestasinya baik sama seperti saat pasien Sekolah Dasar. Pasien juga melanjutkan pendidikan
SMA di Bandung agar pasien dapat tetap tinggal bersama dengan kedua orang tuanya.
Menurut kedua orang tuanya pasien merupakan orang yang cenderung pendendam
dikarenakan apabila ada orang yang bersalah pasien cenderung sulit untuk memaafkannya.
Pasien cenderung memilih – milih temannya, bukan merupakan orang yang terbuka kepada
semua orang.
 Masa dewasa
1. Riwayat Pendidikan
Pasien melanjutkan pendidikan untuk menjadi sekretaris di salah satu universitas di
bandung, tetapi setelah 1 tahun pasien tidak sanggup untuk melanjutkan sehingga pasien
berhenti dari sekolahnya dan masuk ke jurusan Hukum di universitas yang berbeda. Pasien
lulus 3,5 tahun tanpa hambatan dan lancar. Menurut suami pasien, hasil rata – rata IPK pasien
bagus.
2. Riwayat Pekerjaan
Pasien tidak pernah berkerja apa pun sebelumnya (setelah tamat SMA dan sebelum
kuliah bahkan setelah menyelesaikan pendidikan sarjana hukumnya), suami pasien mengaku
pasien pernah mencoba melamar kerja untuk menjadi PNS namun saat berada di tempat saat
mau melamar kerja tiba – tiba pasien mengamuk dan marah – marah minta dibawa pulang
dan tidak mau bekerja.
3. Riwayat Pernikahan
Suami pasien mengatakan bahwa mereka menikah pada tahun 2003, saat itu belum
tampak hal – hal yang tidak wajar atau tidak mengganggu orang lain. Menurut suami,
memang istrinya selalu ingin dimengerti dan diikuti kemauannya dan sesuai dengan apa yang
kehendaki, bukan hanya itu pasien sering mencurigai dan cemburu pada saat pasien sedang
berkerja di kantor contohnya apabila pasien tau bahwa suaminya sedang keluar dari kantor
untuk pergi ke seberang kantor untuk mengfotokopi dokumen penting maka pasien akan tiba
– tiba cemburu dan meminta suaminya segera pulang ke kantor dan apabila suami sudah
sampai ke rumah maka suami pasien tidak jarang menerima cakaran dari pasien.
Menurut pengakuan suami pasien, ia mengaku menyesal saat itu karena ia pernah
melakukan kekerasan dalam rumah tangga karena tidak mengerti bahwa sebenarnya istrinya
memiliki gangguan jiwa. Suami pasien mengaku bahwa ia memukul istrinya karena
perbuatan istrinya yang mengancam dan terus menerus meminta adik suaminya yang tinggal
serumah dengan mertuanya untuk keluar dari rumah meskipun adik suaminya sedang

6
melanjutkan pendidikan di universitas padahal ibu dan ayah mertua suami pasien tidak
keberatan sama sekali.
4. Riwayat Kehidupan Beragama
Pasien beragama Islam. Pasien rajin sholat lima waktu sesuai dengan waktunya.
5. Riwayat Pelanggaran Hukum
Pasien tidak pernah terlibat masalah hingga terlibat dalam proses pengadilan.
6. Riwayat Psikoseksual
Pasien memiliki orientasi seksual yang normal yaitu heteroseksual.

F. Riwayat Keluarga
Genogram

Keterangan :
Laki – Laki
Perempuan Pasien

G. Riwayat Sosial Ekonomi Sekarang

Pasien tinggal satu rumah dengan suami dan anak. Pasien merupakan ibu rumah tangga yang
tidak berkerja. Suami pasien berkerja sebagai TNI AD bergaji sebanyak 2,5 juta rupiah per
bulan. Sejak tahun 2005 setelah anak pertama pasien lahir, pasien dan suaminya pindah ke
rumah tinggalnya sendiri.

H. Persepsi
a. Persepsi pasien tentang diri dan lingkungan
Pasien tidak menyadari bahwa dirinya sedang sakit dan tidak mengetahui alasanya
dibawa ke rumah sakit. pasien merasa tidak nyaman berada di rumah sakit
sehingga pasien ingin segera pulang ke rumahnya untuk bertemu dengan keluarga.
b. Persepsi Keluarga terhadap pasien

7
Keluarga pasien mengetahui bahwa pasien memiliki gangguan jiwa. Hal ini
tentunya dikarenakan pasien sering marah – marah tanpa sebab kepada suami dan
orang – orang sekitar seperti guru dan wali murid di sekolah anaknya bahkan
terkadang kekerasan fisik dari pasien seperti menendang teman anaknya sendiri.
Keluarga pasien ingin pasien sembuh dan kembali melakukan aktivitasnya sehari-
hari sebagai ibu rumah tangga maupun bekerja sehingga keluarga pasien membawa
pasien berobat di RSPAD.

I. Status Mental
A. Deskripsi Umum
1. Penampilan
Pasien berjenis kelamin perempuan berusia 32 tahun tampak sesuai dengan
usianya, kulit sawo matang dengan rambut panjang terurai sepanjang dada
berwarna hitam agak ikal, bibir kelihatan basah dengan lipstick. Kerapihan
dan perawatan diri pasien baik, pasien mengenakan blouse lengan pendek
berwarna hijau tua dengan rok selutut berwarna hitam.
2. Perilaku dan Aktivitas Psikomotor
Selama wawancara pasien duduk di atas ranjang dan tampak gelisah. Pasien
tidak melakukan kontak mata saat berbicara. Pasien tidak menjawab semua
pertanyaan yang diajukan oleh pemeriksa, malah pasien sering menolak dan
menyangkal untuk menjawab pertanyaan pemeriksa. Dari gerakan tubuh
pasien tampak gelisah.
3. Sikap terhadap pemeriksa
Pasien sangat tidak koorperatif dan tidak fokus saat proses wawancara
berlangsung. Pasien selalu tidak mau menjawab pertanyaan dari pemeriksa
dan mengatakan bahwa pemeriksa tidak boleh tahu dan biarkan itu menjadi
urusannya sendiri. Pasien tampak curiga kepada pemeriksa maupun petugas
medis lainnya.
B. Mood dan Afek
1. Mood : Disforik
2. Afek : tidak sesuai / inappropriate
C. Bicara
Pasien berbicara volume cukup, intonasi tidak monoton, artikulasi jelas, kecepatan
cukup, spontanitas blocking

8
D. Gangguan Persepsi
1. Terdapat halusinasi visual (melihat sendiri bahwa tidak ada surga agama
Katolik dan Protestan, melihat sendiri bahwa orang Katolik menempuh
perjalanan hingga telanjang oleh Asmaul Husnah) dan sudah dikonfirmasi
secara alloanamnesis
2. Terdapat halusinasi olfaktori, pasien mengaku dapat mencium bau pemeriksa
dan dapat menentukan seseorang mati berapa kali dan berapa lama dari
baunya.
3. Terdapat illusi, saat dilakukannya follow-up hari pertama pasien mengaku
bahwa pemeriksa sudah mati dan tidak dapat melihat wujudnya pemeriksaan
namun pasien hanya dapat mendengar suara pemeriksa dan menyentuh tangan
pemeriksa.
E. Pikiran
1. Bentuk atau proses berpikir
Pada pasien ini gangguan berupa asosiasi longgar yang menyebabkan
inkoheren dalam pembicaraan. Pasien cenderung berpikir bahwa dia memiliki
dunianya sendiri dan dunia orang lain sendiri (autistik).
2. Isi Pikiran
Pasien memiliki waham aneh (bizarre), waham kebesaran (grandiose), waham
curiga, waham rujukan / referensi. Preokupasi ingin pulang.
F. Sensorium dan Kognisi
1. Kesiagaan dan Taraf Kesadaran
Kesiagaan baik dan kesadaran compos mentis.
2. Orientasi
Waktu : Baik. Pasien dapat membedakan waktu baik pagi siang
maupun malam. Pasien juga dapat mengetahui tanggal hari dan jam.
Tempat : Buruk, pasien mengaku bukan di Rumah Sakit tapi di dunia
lain.
Orang : Baik. Pasien dapat mengetahui nama pemeriksa, pasien juga
ingat akan identitas dirinya, nama keluarga pasien.
3. Ingatan
Jangka Panjang : Belum bisa dinilai, karena pasien menolak menjawab
Jangka Sedang :Baik. Pasien dapat mengingat bahwa ia seorang sarjana
hukum

9
Jangka Pendek :Baik. Pasien dapat mengingat menu makan siang
pasien.
Jangka Segera : Belum bisa dinilai, karena pasien menolak menjawab
4. Konsentrasi dan perhatian
Pasien tidak mampu mempertahankan konsentrasi dan perhatian, pasien
mudah terdistraksi oleh suara luar. Pasien menolak untuk menyebutkan hasil
100 dikurang tujuh.
5. Kemampuan Membaca dan Menulis
Belum bisa dinilai, karena pasien menolak untuk membaca dan menulis
6. Kemampuan Visuo spasial
Pasien dapat menyebutkan jam berapa dengan tepat dan benar namun menolak
untuk menggambarkan.
7. Pikiran Abstrak
Pasien dapat mengerti istilah pribahasa tong kosong nyaring bunyinya.
8. Intelegensi dan Daya informasi
Pasien dapat mengetahui dan menyebutkan nama presiden RI saat ini.

G. Pengendalian Impuls
Pengendalian Impuls pasien kurang baik. Selama proses wawancara pasien
tampak gelisah

H. Daya nilai dan tilikan


1. Daya nilai sosial
Baik, pasien bersikap tidak wajar terhadap pemeriksa, dokter, perawat, dan
petugas Paviliun Amino
2. Penilaian Realita
RTA terganggu. Pasien memiliki waham aneh (bizarre), waham kejar, waham
kebesaran (grandiose), waham curiga
3. Tilikan
Derajat 1. Pasien merasa dirinya sehat dan tidak sakit sehingga dapat segera
dipulangkan.
I. Taraf dapat dipercaya (Reliabilitas)
Pasien dapat dipercaya

10
II. Pemeriksaan Fisik
A. Status Interna
- Keadaan Umum : baik
- Kesadaran : Compos mentis
- Status Gizi : Baik (BB: 50 kg; TB: 165 cm)
- Tanda Vital
a. Tekanan darah : 110/80 mmHg
b. Nadi : 80x/menit
c. Respiratory rate : 20x/menit
d. Suhu : Afebris
- Mata : Pasien menolak untuk diperiksa
- THT : Pasien menolak untuk diperiksa
- Mulut dan gigi : Pasien menolak untuk diperiksa
- Thorax : Pasien menolak untuk diperiksa
- Abdomen : Pasien menolak untuk diperiksa
- Ekstremitas : Pasien menolak untuk diperiksa
B. Status Neurologis
- GCS : E4M5V6 = 15
- Tanda rangsang meningeal : Pasien menolak untuk diperiksa
- Tanda efek ekstrapiramidal : Tidak ada
- Cara berjalan : normal
- Keseimbangan : normal
- Motorik : normal
- Sensorik : Pasien menolak untuk diperiksa
B. Pemeriksaan Penunjang
Tidak ada
III. Ikhtisar Penemuan Hasil Bermakna
Pemeriksaan dilakukan kepada Ny. ESH, usia 32 tahun, agama Islam, pendidikan
terakhir sekolah sarjana hukum, merupakan istri TNI AD dengan pangkat SERMA masuk
Paviliun Amino RSPAD Gatot Soebroto pada tanggal 16 Desember 2014. Pasien dibawa
oleh suami dan anak dengan keluhan utama pasien mencurigai semua orang sejak 1
minggu SMRS.
Suami pasien mengaku sejak 1 minggu yang lalu, pasien selalu sendirian di rumah
dan jarang mau keluar rumah kecuali mengantar menjemput anaknya ke sekolah. Namun,

11
1 minggu terakhir pasien tidak memperbolehkan anaknya untuk sekolah karena guru dan
semua wali murid adalah anggota PKI. Saat anaknya bersekolah pasien mengintip
anaknya melalui jendela dari awal hingga kelas selesai. Pasien pernah menendang teman
anaknya yang dikira anak PKI.
Pasien mengikuti suaminya bertugas ke Jakarta karena tidak percaya, suami
membawa ia ke RSPAD untuk konsultasi tapi pasien diminta rawat inap oleh dokter dan
pasien marah-marah kemudian diikat.
Pasien merasa diri sendiri tidak sakit dan ingin pulang, menurutnya pemeriksa
adalah arwah dan berbeda dunia namun dapat ia sentuh namun tidak dapat melihat hanya
mendengar suara. Pemeriksa adalah arwah yang sudah mati satu kali dan berjenis
kelamin perempuan dan dilahirkan jadi laki-laki sekarang, pasien bisa mencium bau –
bau pemeriksa dan menentukan berapa lama pemeriksa mati. Pasien memiliki kelebihan
dan melihat ditunjukkan oleh Allah bahwa dia bertemu orang mati dan melihat bahwa
orang Katolik dalam perjalanan telanjang tidak memakai baju. Pasien punya misi untuk
menyatukan berbagai agama menjadi agama Islam.
Pasien pertama berobat ke psikiater diberikan haloperidol dan kemudian jalan
seperti robot maka ditambah THP, karena pasien tidak rutin minum obat perlu dibujuk
maka diberi suntikan risperidone setiap bulan. Pasien sudah dari pacaran sering melihat
dan dapat berbicara dengan mahluk dunia lain, mengaku kitab Al-Quran sudah masuk ke
dalam otaknya.
Pasien mudah cemburu pada suaminya bahkan sejak pacaran, apabila pacaran
maka suaminya dicakar pasien.
Berdasarkan pemeriksaan status mental, aktivitas psikomotor pasien tampak
gelisah, mood disforik dan afek tidak serasi, proses pikir: asosiasi longgar, isi pikir
waham bizzare, grandiose, curiga dan rujukan. Tampak bicara spontanitasnya blocking.
Orientasi tempat buruk dan bersikap tidak wajar dengan tenaga medis lainnya. Gangguan
persepsi berupa ilusi, halusinasi visual dan olfaktorik dengan Derajat tilikan 1. Pasien
sangat tidak kooperatif dan banyak menolak hal yang diminta dan ditanyakan oleh
pemeriksa.
IV. Formulasi diagnostik
Aksis I
Berdasarkan riwayat perjalanan penyakit pada pasien ditemukan adanya pola perilaku
yang secara klinis bermakna dan khas berkaitan dengan suatu gejala penderitaan
(distress) dan hendaya (disability), sehingga pada pasien ini dapat disimpulkan bahwa

12
pasien memiliki gangguan jiwa.
Pada pasien ini diambil diagnosis Skizofrenia paranoid (F20.0) karena memenuhi
kriteria dari skizofrenia yaitu:
Satu atau dua gejala mayor yang menonjol:
1. Waham yang menonjol:
a. Waham aneh : Menurut suaminya pasien sering bercerita bahwa Al-quran
masuk ke dalam otaknya (Thought insertion).
b. Waham curiga : Pasien yakin semua orang di sekolah adalah PKI dan ia
memiliki perilaku yang menunjukkan ia curiga seperti mengintip terus
anaknya dari jendela hingga pelajaran selesai.
c. Waham kebesaran : Pasien memiliki keyakinan bahwa diberi kelebihan yang
orang lain tidak dan selalu mengatakan suaminya bukan apa-apa tidak
memiliki kelebihan yang seperti ia miliki.
d. Waham rujukan : pasien meminta agar pemeriksa (orang yang sudah
meninggal) agar hidup di dunianya masing-masing, jangan saling menyakiti.
2. Gejala “positif” seperti sikap yang aggresif, waham yang menonjol dan halusinasi
visual, mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya
kinerja sosial, dan hal tersebut jelas tidak disebabkan oleh penggunaan obat –
obatan.

Dua gejala minor yang nyata:


1. Arus pikir yang asosiasi longgar yang menyebabkan inkoherensia dan bentuk
pikir yang autistik.

Untuk penggolongan ke dalam sub-tipe paranoid, pada pasien ini terdapat waham –
waham paranoid yaitu:
a. Waham curiga: Pasien yakin semua orang di sekolah adalah PKI dan ia
memiliki perilaku yang menunjukkan ia curiga seperti mengintip terus
anaknya dari jendela hingga pelajaran selesai.
b. Halusinasi olfaktori dan visual yang dialami pasien
Aksis II
Pada pasien ini diambil diagnosis aksis 2 berupa ciri kepribadian paranoid, berdasarkan
ciri – ciri pasien yang termasuk dalam kriteria diagnostik yaitu:
1. Pasien merupakan orang yang pendendam dan sulit memaafkan

13
2. Pasien cenderung menunjukkan sikap permusuhan pada teman – teman
Aksis III
Tidak ada diagnosis
Aksis IV
Pada pasien ini ditemukan adanya masalah dengan primary support group (keluarga) dan
juga masalah berkaitan dengan lingkungan sosial, yaitu tetangganya yang merasa
terganggu.
Aksis V
Penilaian kemampuan penyesuaian aktivitas sehari – hari menggunakan skala Global
Assessment of Functioning, GAF tertinggi 1 tahun terakhir adalah 70-61. Sedangkan nilai
GAF pasien saat ini adalah 40-31 yaitu terdapat beberapa disabilitas dalam hubungan
dengan realita dan komunikasi, seta disabilitas berat dalam beberapa fungsi.
V. Evaluasi multi aksial
Aksis I : Skizofrenia Paranoid (F20.0)
Aksis II : Ciri kepribadian paranoid
Aksis III : Tidak ada diagnosis (none)
Aksis IV : Masalah dengan “primary support group” dan lingkungan sosial
Aksis V : GAF HLPY (Highest Level past Year) adalah 70-61
Current GAF adalah 40-31
VI. Daftar Masalah
 Organobiologik :
Tidak ditemukan
 Psikologik
Mood : Disforik
Afek : tidak serasi / inappropriate
Gangguan persepsi : Halusinasi visual dan olfaktori, illusi
Proses/bentuk pikir : Assosiasi longgar
Isi pikir : waham aneh, curiga, rujukan dan grandiose.
Tilikan : derajat 1
 Lingkungan dan Sosial
Pada pasien ini memiliki masalah dengan primary support group (keluarga) dan masalah
berkaitan dengan hubungan lingkungan sosial

14
VII. Prognosis
A. Faktor – faktor yang mendukung ke arah prognosis baik:
 Dukungan dari suami dan keluarga inti pasien
 Kepatuhan minum obat yang baik dengan key person
 Tidak memiliki riwayat keluarga skizofrenia

B. Faktor – faktor yang mendukung ke arah prognosis buruk:


 Onset terdiagnosa skizofrenia pada usia yang lebih muda
 Sudah relapse berkali-kali akibat pengobatan tidak adekuat
 Compliance minum obat yang buruk
 Insight 1
 Bentuk pikir autistic

Jadi kesimpulan prognosisnya adalah:


 Quo ad vitam : ad bonam
 Quo ad fungsionam : Malam
 Quo ad sanationam : Malam

VIII. Rencara Terapi


a. Psikofarmaka
Haloperidol 1 x 5 mg I.M
Diazepam 1 x 10 mg I.M
Trihexylphenidyl 2 x 2 mg P.O
b. Psikoterapi
1. Terhadap pasien :
- Terapi perilaku
Untuk meningkatkan kemampuan sosial penderita mulai dari kemampuan
memenuhi diri sendiri, mengajarkan perilaku adaptif, keteraturan minum obat.
- Terapi Okupasi
Bertujuan untuk membantu penderita untuk bekerja
2. Terhadap Keluarga
- Edukasi keluarga pasien mengenai penyakit yang pasien miliki sehingga
keluarga dapat lebih mengerti kondisi yang dialami oleh pasien saat ini dan dapat
menerima pasien dalam keadaanya sekarang.

15
- Menunjuk salah satu dari anggota keluarga untuk menjadi “key person” sehingga
pasien dapat terkontrol untuk minum obat sehingga tidak terjadi kekambuhan pada
kondisi pasien.

IX. Diskusi kasus


Diagnosis skizofrenia diambil apabila kita bisa menghilangkan penyebab gangguan
mental organik dan gangguan mental akibat zat psikoaktif. Pada pasien ini hal tersebut
sudah dapat disingkirkan yaitu dari anamnesis bahwa pasien tidak ada memiliki riwayat
trauma pada kepalanya, pasien tidak ada merasakan nyeri kepala, pusing, mual, muntah
sebelumnya. Pasien tidak ada mengkonsumsi zat – zat psikoaktif yang dapat menjadikan
etiologi dari gangguan jiwa pasien. Sehingga diagnosis Skizofrenia dapat diambil pada
pasien ini berdasarkan hal – hal yang didapatkan dalam anamnesis dan pemeriksaan pada
pasien ini yaitu :
1. Gangguan Isi pikir berupa :
a. Waham aneh : Menurut suaminya pasien sering bercerita bahwa Al-
quran masuk ke dalam otaknya.
b. Waham curiga : Pasien yakin semua orang di sekolah adalah PKI dan ia
memiliki perilaku yang menunjukkan ia curiga seperti mengintip terus anaknya
dari jendela hingga pelajaran selesai.
c. Waham kebesaran : Pasien memiliki keyakinan bahwa diberi kelebihan yang
orang lain tidak dan selalu mengatakan suaminya bukan apa-apa tidak memiliki
kelebihan yang seperti ia miliki.
d. Waham rujukan : pasien meminta agar pemeriksa (orang yang sudah
meninggal) agar hidup di dunianya masing-masing, jangan saling menyakiti.
2. Gangguan proses pikir
Pada pasien ini gangguan berupa asosiasi longgar yang menyebabkan inkoheren
3. Gangguan – gangguan yang dimiliki pasien ini sudah terjadi dalam 3 bulan
terakhir ini. Namun sudah memiliki riwayat gangguan psikiatrik sejak tahun 2009.
Berdasarkan gangguan yang dimiliki pasien maka dapat diambil diagnosis aksis 1
berupa Skizofrenia Paranoid (F20.0).

Pada pasien ini diambil diagnosis Skizofrenia paranoid (F20.0) karena memenuhi kriteria dari
skizofrenia yaitu:

16
Satu atau dua gejala mayor yang menonjol:
3. Waham yang menonjol:
a. Waham aneh : Menurut suaminya pasien sering bercerita bahwa Al-quran masuk ke
dalam otaknya.
b. Waham curiga : Pasien yakin semua orang di sekolah adalah PKI dan ia
memiliki perilaku yang menunjukkan ia curiga seperti mengintip terus anaknya dari
jendela hingga pelajaran selesai.
c. Waham kebesaran : Pasien memiliki keyakinan bahwa diberi kelebihan yang orang
lain tidak dan selalu mengatakan suaminya bukan apa-apa tidak memiliki kelebihan
yang seperti ia miliki.
d. Waham rujukan : pasien meminta agar pemeriksa (orang yang sudah meninggal)
agar hidup di dunianya masing-masing, jangan saling menyakiti.
4. Gejala “positif” seperti sikap yang aggresif, waham yang menonjol dan halusinasi visual,
mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial, dan
hal tersebut jelas tidak disebabkan oleh penggunaan obat – obatan.

Dua gejala minor yang nyata:


1. Arus pikir yang asosiasi longgar yang menyebabkan inkoherensia
Untuk penggolongan ke dalam sub-tipe paranoid, pada pasien ini terdapat waham – waham
paranoid yaitu:
c. Waham curiga : Pasien yakin semua orang di sekolah adalah PKI dan ia memiliki
perilaku yang menunjukkan ia curiga seperti mengintip terus anaknya dari jendela
hingga pelajaran selesai.
d. Halusinasi olfaktori dan visual yang dialami pasien

Untuk pengobatan pasien ini diberikan Haloperidol 1 x 5 mg IM dan injeksi Diazepam 1 x 10


mg IM dengan observasi tanda-tanda vital dengan pemberian Trihexylphenidyl 2 x 2 mg per
oral. Pemberian obat golongan tipikal ini dimaksudkan untuk memberikan efek sedasi dengan
awitan cepat pada fase akut / eksaserbasi akut skizofrenia. Pasien sudah memiliki riwayat
penggunaan obat anti psikotik sebelumnya, dan telah memiliki riwayat gejala EPS sehingga
dapat diberikan juga antikolinergik berupa THP sebagai profilaksis terjadinya gejala EPS.
Untuk mengatasi gejala psikotik pasien yaitu gejala positif yaitu waham dan halusinasi dalam
keadaan kegawat-daruratan psikiatri maka dapat digunakan tipikal yang bersifat sangat
selektif afinitasnya pada reseptor D2 pada 4 jaras utama dopaminergic yaitu mesolimbic,
mesokortikal, nigrostriatal dan tuberoinfundibular.

17
Hasil follow-up
Selasa, 16/12/2014 Kamis, 18/12/2014 Jum’at, 19/09/2014 Sabtu, 20/09/2014

S: Os. tidak kooperatif, S: Os. mengatakan bahwa S: Os. mengaku bahwa S: Os. mengaku bahwa
os. mengaku hanya pemeriksa sudah mati 2x dan sudah sedikit jelas dan sudah bisa melihat
ingin pulang dan dulunya dari cewek mati dan mulai dapat meraba wujud dan muka
dijemput oleh berubah jadi cowok. Os. tangan pemeriksa. Os. pemeriksa seutuhnya.
suaminya. Os. tidak bisa melihat pemeriksa sudah mengganti Perawatan diri os. baik,
mengatakan: “Mas S namun hanya bisa mendengar pakaiannya, namun pasien os. sudah mau minum
mana? Saya mau dan menyentuh pemeriksa. tidak mau makan karena obat sendiri meskipun
pulang” Os. memiliki kontak mata mengaku bahwa ayam harus dipaksakan dan
O: CM pada pemeriksa dan melotot. yang diberikan adalah dimarah. Os. mengaku
Status mental: Perawatan diri baik namun ayam akhirat tidak begitu bisa tidur
- Bentuk pikir: asosiasi belum ganti baju sejak O: CM/TSS dan tidak mengantuk.
longgar pertama kali ia dirawat. - Bentuk pikir: asosiasi O: CM/TSS
Isi pikir: waham Sebelumnya pasien tidak mau longgar - Bentuk pikir:
curiga, waham minum obat karena merasa Isi pikir: waham curiga, asosiasi longgar
kebesaran, bizarre tidak sakit. waham kebesaran, Isi pikir: waham
dan grandiose. O: CM bizarre dan grandiose. curiga, waham
Preokupasi ingin - Bentuk pikir: asosiasi Preokupasi ingin kebesaran, bizarre
pulang longgar pulang. dan grandiose.
- Persepsi: Halusinasi, Isi pikir: waham curiga, - Persepsi: Halusinasi, Preokupasi ingin
illusi waham kebesaran, bizarre ilusi pulang
- Mood: disforik dan grandiose. Preokupasi - Mood: disforik - Persepsi: Halusinasi,
Afek: inappropriate ingin pulang. Afek: inappropriate ilusi
- RTA terganggu\ - Persepsi: Halusinasi, ilusi - RTA terganggu\ - Mood: disforik
- Insight derajat 1 - Mood: disforik - Insight derajat 1 Afek: inappropriate
A: Skizofrenia paranoid Afek: inappropriate A: Skizofrenia paranoid - RTA terganggu\
P: - RTA terganggu\ P: - Insight derajat 1
-Mengatasi gejala - Insight derajat 1 -Mengatasi gejala psikotik A:Skizofrenia paranoid
psikotik A: Skizofrenia paranoid -Observasi EPS P:
-Observasi EPS P: Th/ -Mengatasi gejala
Th/ -Mengatasi gejala psikotik Aripriprazole 1 x 9,75 mg psikotik
Haloperidol 2 x 5 mg -Observasi EPS IM -Observasi EPS
IM Th/ THP 2 x 2 mg PO Th/
Diazepam 1 x 10 mg IM Aripriprazole 1 x 9,75 mg IM Risperidone 1 x 2 mg
THP 2 x 2 mg PO THP 2 x 2 mg PO PO
THP 2 x 2 mg PO

18
DAFTAR PUSTAKA

1. Direktorat Jendral Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI. Pedoman


Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia (PPDGJ III).
Cetakan pertama. Jakarta, 1993
2. Dharmady, A. Psikopatologi : Dasar dalam Memahami Tanda Dan Gejala
dari Suatu Gangguan Jiwa. Jakarta, 2003
3. Kaplan, HI dan Sadock BJ, Greb JA, 2010. Sinopsis Psikiatri. Jilid 1. Edisi
ke-7. Binarupa Aksara: Jakarta
4. Muslim, Rusdi, 2007. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik
Edisi Ketiga. Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atmajaya: Jakarta.
5. Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia. Konsensus
penatalaksanaan gangguan skizofrenia. Jakarta; 2011

19
Yang telah direvisi:
1. Bentuk pikir autistik
2. Prognosis quo ad sanactionam dan fungsionam : Malam
3. Formulasi diagnostik Aksis I:

a. Temuan anamnesis dan pemeriksaan status mental yang

memenuhi kriteria (menurut PPDGJ-III)


i. Skizofrenia

ii. Sub-tipe paranoid

20