Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Autisme, merupakan salah satu gangguan perkembangan yang semakin meningkat
saat ini, sehingga menimbulkan kecemasan yang dalam bagi para orangtua. Hingga saat ini
belum dapat ditemukan penyebab pasti dari gangguan autisme ini, sehingga belum dapat
dikembangkan cara pencegahan dan penanganan yang tepat. Pada awalnya autisme
dipandang sebagai gangguan yang disebabkan oleh faktor psikologis yaitu pola pengasuhan
orangtua yang tidak hangat secara emosional, tetapi barulah sekitar tahun 1960 dimulai
penelitian neurologis yang membuktikan bahwa autisme disebabkan oleh adanya
abnormalitas pada otak.
Autisme dapat terjadi pada semua kelompok masyarakat kaya, miskin, di desa di
kota, berpendidikan maupun tidak serta pada semua kelompok etnis dan budaya di dunia.
Jumlah anak yang terkena autisme semakin meningkat pesat di berbagai belahan dunia,
kondisi ini menyebabkan banyak orangtua menjadi was-was sehingga sedikit saja anak
menunjukkan gejala yang dirasa kurang normal selalu dikaitkan dengan gangguan autisme.
Di California pada tahun 2002 disimpulkan terdapat 9 kasus autisme per-harinya. Di
Amerika Serikat disebutkan autisme terjadi pada 15.000-60.000 anak dibawah 15 tahun. Di
Indonesia yang berpenduduk 200 juta lebih, hingga saat ini belum diketahui berapa
persisnya jumlah penderita namun diperkirakan jumlah anak autisme dapat mencapai 150-
200 ribu orang. Perbandingan antara laki dan perempuan adalah 2,6-4 : 1, namun anak
perempuan yang terkena akan menunjukkan gejala yang lebih berat.
Autisme termasuk kasus yang jarang, biasanya identifikasinya melalui pemeriksaan
yang teliti di rumah sakit, dokter atau sekolah khusus. Dewasa ini terdapat kecenderungan
peningkatan kasus-kasus autisme pada anak (autisme infantil) yang datang pada praktek
neurologi dan praktek dokter lainnya. Umumnya keluhan utama yang disampaikan oleh
orang tua adalah keterlambatan bicara, perilaku aneh dan acuh tak acuh, atau cemas apakah
anaknya tuli.
Terapi anak autisme membutuhkan deteksi dini, intervensi edukasi yang intensif,
lingkungan yang terstruktur, atensi individual, staf yang terlatih baik, dan peran serta orang
tua sehingga melibatkan banyak bidang, baik bidang kedokteran, pendidikan, psikologi
maupun bidang sosial. Dalam bidang kedokteran, untuk menangani masalah autisme
dengan pengobatan khususnya medika mentosa, di bidang pendidikan dapat dilakukan
dengan memberikan latihan pada orang tua penderita. Terapi perkembangan perilaku dapat
dilakukan dalam bidang psikologi, sedangkan mendirikan yayasan autisme sebagai
lembaga yang mampu secara professional menangani masalah autisme adalah salah satu
contoh yang dilakukan dalam bidang sosial.
Prognosis untuk penderita autisme tidak selalu buruk. Pada gangguan autisme, anak
yang mempunyai IQ diatas 70 dan mampu menggunakan komunikasi bahasa mempunyai
prognosis yang baik. Berdasarkan gangguan pada otak, autisme tidak dapat sembuh total
tetapi gejalanya dapat dikurangi, perilaku dapat diubah ke arah positif dengan berbagai
terapi. Sejauh ini masih belum terdapat kejelasan secara pasti mengenai penyebab dan
faktor risikonya sehingga strategi pencegahan yang dilakukan masih belum optimal. Saat
ini tujuan pencegahan mungkin hanya sebatas untuk mencegah agar gangguan yang terjadi
tidak lebih berat lagi, bukan untuk menghindari kejadian autism.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2
A. Definisi
Autisme berasal dari bahasa Yunani “autos” yang berarti segala sesuatu yang
mengarah pada diri sendiri. Autisme pertama kali dikemukakan oleh Dr. Leo Kanner
1943, seorang psikiatri Amerika. Istilah autisme dipergunakan untuk menunjukkan suatu
gejala psikosis pada anak-anak yang unik dan menonjol yang sering disebut dengan
sindroma Kanner.
Autisme adalah salah satu gangguan perilaku pada awal kehidupan anak yang
disebabkan oleh gangguan perkembangan otak yang ditandai dengan ciri pokok yaitu
terganggunya perkembangan komunikasi sosial, interaksi sosial, dan imajinasi sosial.
Mereka dengan gejala autisme menampilkan perilaku yang bersifat repetitive.
Autisme adalah suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat masa
balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi
yang normal. Akibatnya anak tersebut terisolasi dari manusia lain dan masuk dalam dunia
repetitive, aktivitas dan minat yang obsesif.
Pada awalnya istilah “autisme” diambilnya dari gangguan schizophrenia, dimana
Bleuer memakai autisme ini untuk menggambarkan perilaku pasien skizofrenia yang
menarik diri dari dunia luar dan menciptakan dunia fantasinya sendiri. Namun ada
perbedaan yang jelas antara penyebab dari autisme pada penderita skizofrenia dengan
penyandang autisme infantile. Pada skizofrenia, autisme disebabkan dampak area
gangguan jiwa yang didalamnya terkandung halusinasi dan delusi yang berlansung
minimal selama 1 bulan, sedangkan pada anak-anak dengan autisme infantile terdapat
kegagalan dalam perkembangan yang tergolong dalam kriteria Gangguan Pervasif dengan
kehidupan autistic yang tidak disertai dengan halusinasi dan delusi .

B. Epidemiologi
Penyandang autisme pada anak (autisme infantile) dalam kurun waktu 10 sampai
20 tahun terakhir semakin meningkat di dunia. Prevalensi anak autis di dunia pada tahun
1987 diperkirakan 1 berbanding 5.000 kelahiran. Sepuluh tahun kemudian yaitu tahun
1997, angka itu berubah menjadi 1 berbanding 500 kelahiran. Sedangkan, pada tahun
2000 prevalensi anak autisme meningkat menjadi 1 banding 150 kelahiran dan tahun
2001 perbandingannya berubah menjadi 1:100 kelahiran. Secara global prevalensinya
berkisar 4 per 10.000 penduduk, dan pengidap autisme laki-laki lebih banyak
dibandingkan wanita (lebih kurang 4 kalinya). UNESCO pada 2011 mencatat, sekitar 35

3
juta orang penyandang autisme di dunia. Itu berarti rata-rata 6 dari 1000 orang di dunia
mengidap autisme.
peningkatan yang luar biasa penderita autis di Indonesia. Prediksi penderita autis
dari tahun ke tahun semakin meningkat. Sepuluh tahun yang lalu jumlah penyandang
autisme diperkirakan satu per 5.000 anak, tahun 2000 meningkat menjadi satu per 500
anak”. Diperkirakan tahun 2010 satu per 300 anak. Sedangkan tahun 2015 diperkirakan
satu per 250 anak. Tahun 2015 diperkirakan terdapat kurang lebih 12.800 anak
penyandang autisme atau 134.000 penyandang spektrum Autis di Indonesia. Jumlah
tersebut menurutnya setiap tahun terus meningkat . Penelitian yang dilakukan di Brick
Township, New Jersey (Bertrand, 2001) melaporkan angka prevalensi autis yaitu 40 per
10.000 untuk anak 3-10 tahun dengan autisme dan 67 per 10.000 untuk seluruh spektrum
autisme pada anak-anak. Penelitian terbaru di Canada menyatakan bahwa prevalensi
autisme mencapai 0,6 sampai 0,7% atau satu berbanding 150 kelahiran.

C. Etiologi dan Patogenesis Autis


1. Faktor neurobilogis
Gangguan neurobiologist pada susunan saraf pusat (otak). Biasanya, gangguan ini
terjadi dalam tiga bulan pertama masa kehamilan, bila pertumbuhan sel-sel otak di
beberapa tempat tidak sempurna.
2. Masalah genetik
Faktor genetik juga memegang peranan kuat, dan ini terus diteliti. Pasalnya,
banyak manusia mengalami mutasi genetik yang bisa terjadi karena cara hidup yang
semakin modern (penggunaan zat kimia dalam kehidupan sehari-hari, faktor udara
yang semakin terpolusi). Beberapa faktor yang juga terkait adalah usia ibu saat hamil,
usia ayah saat istri hamil, serta masalah yang terjadi saat hamil dan proses kelahiran.
3. Masalah selama kehamilan dan kelahiran
Masalah pada masa kehamilan dan proses melahirkan, resiko autisme
berhubungan dengan masalah-masalah yang terjadi pada masa 8 minggu pertama
kehamilan. Ibu yang mengkonsumsi alkohol, terkena virus rubella, menderita infeksi
kronis atau mengkonsumsi obat-obatan terlarang diduga mempertinggi resiko autisme.
Proses melahirkan yang sulit sehingga bayi kekurangan oksigen juga diduga berperan
penting. Bayi yang lahir premature atau punya berat badan dibawah normal lebih besar
kemungkinnanya untuk mengalami gangguan pada otak dibandingkan bayi normal
Komplikasi pranatal, perinatal, dan neonatal yang meningkat juga ditemukan pada
anak autistik. Komplikasi yang sering terjadi ialah adanya pendarahan setelah
trimester pertama dan adanya kotoran janin pada cairan amnion yang merpakan tanda
bahaya dari janin. Penggunaan obat-obat tertentu pada ibu yang sedang mengandung

4
juga diduga dapat menyebabkan timbulnya gangguan autisme. Komplikasi gejala saat
bersalin berupa bayi terlambat menangis, bayi mengalami gangguan pernapasan, bayi
mengalami kekuragan darah juga diduga dapat menimbulkan gejala autisme.
4. Keracunan logam berat
Keracunan logam berat merupakan kondisi yang sering dijumpai ketika anak
dalam kandungan. Keracunan logam seperti timbal, merkuri, cadmium, spasma
infantile, rubella kongenital, sclerosis tuberosa, lipidosis serebral, dan anomaly
komosom X rapuh. Racun dan logam berat dari lingkungan, berbagai racun yang
berasal dari pestisida, polusi udara, dan cat tembok dapat mempengaruhi kesehatan
janin. Penelitian terhadap sejumlah anak autis menunjukkan bahwa kadar logam berat
(merkuri, timbal, timah) dalam darah mereka lebih tinggi dibandingkan anak-anak
normal.
5. Terinveksi virus L
Lahirnya anak autistik diduga dapat disebabkan oleh virus seperti rubella,
toxoplasmosis, herpes, jamur, nutrisi yang buruk, perdarahan, dan keracunan makanan
pada masa kehamilan yang dapat menghambat pertumbuhan sel otak yang
meyebabkan fungsi otak bayi yang dikandung terganggu terutama fungsi pemahaman,
komunikasi dan interaksi. Efek virus dan keracunan tersebut dapat berlangsung terus
setelah anak lahir dan terus merusak pembentukan sel otak, sehingga anak kelihatan
tidak memperoleh kemajuan dan gejala makin parah. Gangguan metabolisme,
pendengaran, dan penglihatan juga diperkirakan dapat menjadi penyebab lahirnya
anak autistic.
6. Vaksinisasi
Vaksinisasi MMR (Measles, Mumps dan Rubella) menjadi salah satu faktor yang
diduga kuat menjadi penyebab autisme walaupun sampai sekarang hal ini masih jadi
perdebatan. Banyak orangtua yang melihat anaknya yang tadinya berkembang normal
menunjukkan kemunduran setelah memperoleh vaksinisasi MMR. Zat pengawet pada
vaksinisasi inilah (Thimerosal) yang dianggap bertanggung jawab menyebabkan
autisme. Untuk menghindari resiko maka beredar informasi bahwa sebaiknya
vaksinisasi diberikan secara terpisah atau menggunakan vaksinisasi yang tidak
mengandung thimerosal. Cara lain adalah menunggu anak berusia 3 tahun untuk
meyakinkan bahwa masa kemunculan ciri-ciri autisme telah lewat.

Penyebab terjadinya autisme sangat beraneka ragam dan tidak ada satupun yang spesifik
sebagai penyebab utama dari autisme. Sampai sejauh ini tidak ada gen spesifik autisme yang
teridentifikasi. Namun, adanya teori opioid yang mengemukakan bahwa autisme timbul dari
beban yang berlebihan pada susunan saraf pusat oleh opioid pada saat usia dini. Pada

5
dasarnya, teori ini mengemukakan adanya barrier yang defisien di dalam mukosa usus, di
darah-otak (blood-brain) atau oleh karena adanya kegagalan peptida usus dan peptida yang
beredar dalam darah untuk mengubah opioid menjadi metabolit yang tidak bersifat racun dan
menimbulkan penyakit.
Barrier yang defektif ini mungkin diwarisi (inherited) atau sekunder karena suatu
kelainan. Berbagai uraian tentang abnormalitas neural pada autisme telah menimbulkan
banyak spekulasi mengenai penyakit ini. Namun, hingga saat ini tidak ada satupun, baik teori
anatomis yang sesuai maupun teori patofisiologi autisme atau tes diagnostik biologik yang
dapat digunakan untuk menjelaskan tentang sebab utama autisme. Beberapa peneliti telah
mengamati beberapa abnormalitas jaringan otak pada individu yang mengalami autisme,
tetapi sebab dari abnormalitas ini belum diketahui, demikian juga pengaruhnya terhadap
perilaku. Kelainan yang dapat dilihat terbagi menjadi dua tipe, disfungsi dalam stuktur neural
dari jaringan otak dan abnormalitas biokimia jaringan otak.
Dalam kaitannya dengan struktur otak, pemeriksaan post-mortem otak dari beberapa
penderita autistik menunjukkan adanya dua daerah di dalam sistem limbik yang kurang
berkembang yaitu amygdala dan hippocampus. Kedua daerah ini bertanggung jawab atas
emosi, agresi, sensory input, dan belajar. Peneliti ini juga menemukan adanya defisiensi sel
Purkinye di serebelum. Dengan menggunakan magnetic resonance imaging, telah ditemukan
dua daerah di serebelum, lobulus VI dan VII, yang pada individu autistik secara nyata lebih
kecil dari pada orang normal. Satu dari kedua daerah ini dipahami sebagai pusat yang
bertanggung jawab atas perhatian.

Gambar 1. Gambaran otak pada autis

6
Sedangkan dari segi biokimia jaringan otak, banyak penderita-penderita autistik
menunjukkan kenaikan dari serotonin dalam darah dan cairan serebrospinal dibandingkan
dengan orang normal. Perlu disinggung bahwa abnormalitas serotonin ini juga tampak pada
penderita down syndrome, kelainan hiperaktivirtas, dan depresi unipoler. Juga terbukti bahwa
pada individu autistik terdapat kenaikan dari beta-endorphins, suatu substansi di dalam badan
yang mirip opiat. Diperkirakan adanya ketidakpekaan individu autistik terhadap rasa sakit
disebabkan oleh karena peningkatan kadar betaendorphins ini.

Gambar 2. Etiologi autis


D. Manifestasi Klinis
Gejala autisme infantil dapat timbul sebelum anak mencapai usia 3 tahun. Pada
sebagian anak gejala gangguan perkembangan ini sudah terlihat sejak lahir. Seorang ibu
yang cermat dapat melihat beberapa keganjilan sebelum anaknya mencapai usia satu
tahun. Hal yang sangat menonjol adalah tidak ada kontak mata dan kurang minat untuk
berinteraksi dengan orang lain.
Menurut Acocella (1996) ada banyak tingkah laku yang tercakup dalam autisme
dan ada 4 gejala yang selalu muncul, yaitu:
a. Isolasi sosial
Banyak anak autis yang menarik diri dari segala kontak social ke dalam suatu
keadaan yang disebut extreme autistic aloneness. Hal ini akan semakin terlihat pada
anak yang lebih besar, dan ia akan bertingkah laku seakan-akan orang lain tidak
pernah ada. Gangguan dalam bidang interaksi sosial, seperti menghindar kontak
7
mata, tidak melihat jika dipanggil, menolak untuk dipeluk, lebih suka bermain
sendiri.
b. Kelemahan kognitif
Sebagian besar (± 70%) anak autis mengalami retardasi mental (IQ < 70) tetapi
anak autis sedikit lebih baik, contohnya dalam hal yang berkaitan dengan
kemampuan sensori montor. Terapi yang dijalankan anak autis meningkatkan
hubungan social mereka tapi tidak menunjukkan pengaruh apapun pada retardasi
mental yang dialami. Oleh sebab itu, retardasi mental pada anak autis terutama
sekali disebabkan oleh masalah kognitif dan bukan pengaruh penarikan diri dari
lingkungan sosial.
c. Kekurangan dalam bahasa
Gangguan dalam komunikasi verbal maupun non verbal seperti terlambat
bicara. Lebih dari setengah anak autis tidak dapat berbicara, yang lainnya hanya
mengoceh, merengek, menjerit, atau menunjukkan ekolali, yaitu menirukan apa
yang dikatakan orang lain. Beberapa anak autis mengulang potongan lagu, iklan TV,
atau potongan kata yang terdengar olehnya tanpa tujuan. Beberapa anak autis
menggunakan kata ganti dengan cara yang aneh. Menyebut diri mereka sebagai
orang kedua “kamu” atau orang ketiga “dia”. Intinya anak autism tidak dapat
berkomunikasi dua arah (resiprok) dan tidak dapat terlibat dalam pembicaraan
normal.
d. Tingkah laku stereotip
Gangguan pada bidang perilaku yang terlihat dari adanya perlaku yang berlebih
(excessive) dan kekurangan (deficient) seperti impulsif, hiperaktif, repetitif namun
dilain waktu terkesan pandangan mata kosong, melakukan permainan yang sama dan
monoton. Anak autis sering melakukan gerakan yang berulang-ulang secara terus
menerus tanpa tujuan yang jelas. Sering berputar-putar, berjingkat-jingkat, dan lain
sebagainya. Gerakan yang dilakukan berulang-ulang ini disebabkan oleh adanya
kerusakan fisik. Misalnya karena adanya gangguan neurologis. Anak autis juga
mempunyai kebiasaan menarik-narik rambut dan menggigit jari. Walaupun sering
menangis kesakitan akibat perbuatannya sendiri, dorongan untuk melakukan tingkah
laku yang aneh ini sangat kuat dalam diri mereka. Anak autis juga tertarik pada hanya
bagian-bagian tertentu dari sebuah objek. Misalnya pada roda mainan mobil-
mobilannya. Anak autis juga menyukai keadaan lingkungan dan kebiasaan yang
monoton.

8
E. Diagnosis
A. Menurut DSM IV-TR (APA, 2000) kriteria diagnosis gangguan autisme
adalah:
Sejumlah enam hal atau lebih dari 1, 2, dan 3, paling sedikit dua dari 1 dan satu
masing-masing dari 2 dan 3:
1. Secara kualitatif terdapat hendaya dalam interaksi sosial sebagai manifestasi
Paling sedikit dua dari yang berikut:
a. Hendaya di dalam perilaku non verbal seperti pandangan mata ke mata,
ekspresi wajah, sikap tubuh, dan gerak terhadap rutinitas dalam interaksi
sosial.
b. Kegagalan dalam membentuk hubungan pertemanan sesuai tingkat
perkembangannya.
c. Kurang kespontanan dalam membagi kesenangan, daya pikat atau
pencapaian akan orang lain, seperti kurang memperlihatkan, mengatakan
atau menunjukkan objek yang menarik.
d. Kurang sosialisasi atau emosi yang labil.
2. Secara fluktuatif terdapat hendaya dalam komunikasi sebagai menifestasi paling
sedikit satu dari yang berikut:
a. Keterlambatan atau berkurangnya perkembangan berbicara (tidak menyertai
usaha mengimbangi cara komunikasialternatif seperti gerak isyarat atau
gerak meniru-niru)
b. Individu berbicara secara adekuat, hendaya dalam menilai atau meneruskan
pembicaraan orang lain.
c. Menggunakan kata berulang kali dan stereotip dan kata-kata aneh.
d. Kurang memvariasikan gerakan spontan yang seolah-olah atau pura-pura
bermain sesuai tingkat perkembangan.
3. Tingkah laku berulang dan terbatas, tertarik dan aktif sebagai manifestasi paling
sedikit satu dari yang berikut:
a. Keasyikan yang meliputi satu atau lebih stereotip atau kelainan dalam
intensitas maupun focus perhatian akan sesuatu yang terbatas.
b. Ketaatan terhadap hal-hal tertentu tampak kaku, rutinitas atau ritual pun
tidak fungsional.
c. Gerakan stereotip dan berulang misalnya memukul, memutar arah jari dan
tangannya serta meruwetkan gerakan seluruh tubuhnya.
d. Keasyikan terhadap bagian-bagian objek yang stereotip.
9
B. Keterlambatan atau kelainan fungsi paling sedikit satu dari yang berikut ini dengan
serangan sebelum sampai usia 3 tahun :
1. Interaksi sosial
2. Bahasa yang dipergunakan dalam komunikasi sosial
3. Permainan simbol atau imaginatif.
C. Gangguan ini tidak disebabkan oleh gangguan Rett atau gangguan disintegrasi masa
anak.

Autisme infantil berdasarkan pedoman diagnostik PPDGJ III, antara lain:


a. Biasanya tidak ada riwayat perkembangan abnormal yang jelas, tetapi jika
dijumpai, abnormalitas tampak sebelum usia 3 tahun.
b. Selalu dijumpai hendaya kualitatif dalam interaksi sosialnya. Ini berbentuk tidak
adanya apresiasi adekuat terhadap isyarat sosio emosional yang tampak bagai
kurangnya respon terhadap emosi orang lain dan/atau kurangnya modulasi
terhadap perilaku dalam konteks sosial; buruk dalam menggunakan isyarat social
dan lemah dalam integrasi perilaku sosial, emosional dan komunikatif; dan
khususnya, kurangnya respon timbal balik sosial emosional.
c. Demikian juga terdapat hendaya kualitatif dalam komunikasi. Ini berbentuk
kurangnya penggunaan sosial dari kemampuan bahasa yang ada; hendaya dalam
permainan imaginatif dan imitasi sosial; buruknya keserasian dan kurangnya
interaksi timbal balik dalam percakapan; buruknya fleksibilitas dalam bahasa
ekspresif dan relatif kurang dalam kreativitas dan fantasi dalam proses pikir;
kurangnya respons emosional terhadap ungkapan verbal dan nonverbal orang
lain; hendaya dalam menggunakan variasi irama atau tekanan modulasi
komunikatif; dan kurangnya isyarat tubuh untuk menekankan atau mengartikan
komunikasi lisan.
d. Kondisi ini juga ditandai oleh pola perilaku, minat dan kegiatan yang terbatas,
pengulangan dan stereotipik. Ini berbentuk kecendrungan untuk bersikap kaku
dan rutin dalam aspek kehidupan sehari-hari; ini biasanya berlaku untuk kegiatan
baru atau kebiasaan sehari-hari yang rutin dan pola bermain. Terutama sekali
dalam masa kanak, terdapat kelekatan yang aneh terhadap benda yang tak lembut.
Anak dapat memaksa suatu kegiatan rutin seperti upacara dari kegiatan yang
sebetulnya tidak perlu; dapat menjadi preokupasi yang stereotipik dengan
perhatian pada tanggal, rute atau jadwal; sering terdapat stereotipik motorik;
sering menunjukkan perhatian yang khusus terhadap unsur sampingan dari benda
10
(seperti bau dan rasa); dan terdapat penolakan terhadap perubahan dari rutinitas
atau dalam tata ruang dari lingkungan pribadi (seperti perpindahan dari hiasan
dalam rumah).
e. Anak autisme sering menunjukkan beberapa masalah yang tak khas seperti
ketakutan/fobia, gangguan tidur dan makan, mengadat (terpertantrum) dan
agresivitas. Mencederai diri sendiri (seperti menggigit tangan) sering kali terjadi,
khususnya jika terkait dengan retardasi mental. Kebanyakan individu dengan
autis kurang dalam spontanitas, inisiatif dan kreativitas dalam mengatur waktu
luang dan mempunyai kesulitan dalam melaksanakan konsep untuk menuliskan
sesuatu dalam pekerjaan (meskipun tugas mereka tetap dilaksanakan baik).

Abnormalitas perkembangan harus tampak dalam usia 3 tahun untuk dapat


menegakkan diagnosis, tetapi sindrom ini dapat didiagnosis pada semua usia.

F. Diagnosis Banding
Beberapa diagnosis banding autisme infantil, antara lain:
a. Gangguan perkembangan pervasif yang lainnya
1) Sindroma Rett
Sindroma Rett adalah penyakit otak yang progresif tapi khusus
mengenai anak perempuan. Perkembangan anak sampai usia 5 bulan normal,
namun setelah itu mundur. Umumnya kemunduran yang terjadi sangat parah
meliputi perkembangan bahasa, interaksi social maupun motoriknya.
2) Sindroma Asperger
Pada sindroma Asperger mempunyai ketiga ciri autism namun masih
memiliki intelegensia yang baik dan kemampuan bahasanya juga hanya
terganggu dalam derajat ringan. Oleh karena itu, sindroma Asperger sering
disebut sebagai “high functioning autism”.
Gangguan Asperger berbeda berbeda dengan autism infantil. Onset usia
autisme infantile terjadi lebih awal dan tingkat keparahannya lebih parah
dibandingkan gangguan Asperger. Gangguan Asperger mempunyai verbal
intelligence yang normal sedangkan autisme infantil mempunyai verbal
intelligence yang kurang. Gangguan Asperger mempunyai empati yang lebih
baik dibandingkan dengan autisme infantil, sekalipun keduanya mengalami
kesulitan berempati
3) Sindroma Disintegratif
11
Sindroma ini ditandai dengan kemunduran dari apa yang telah dicapai
setelah umur 2 tahun, paling sering sekitar umur 3-4 tahun. Gangguan ini
sangat jarang terjadi dan paling sering mengenai anak laki-laki dibanding
perempuan.
b. Gangguan perkembangan bahasa (disfasia)
Disfasia terjadi karena gangguan perkembangan otak hemisfer kiri, sebagai
daerah pusat berbahasa. Ada beberapa subtipe gangguan ini yang menyerupai
dengan autism infantil khususnya ditinjau dari perkembangan bahasa wicaranya.
Bedanya pada disfasia tidak terdapat perilaku repetitive maupun obsesif.

Kriteria Autisme Infantil Disfasia


Insidensi 2-5 dalam 10.000 5 dalam 10.000
Ratio jenis kelamin 3-4 : 1 sama atau hampir
(Laki-laki:Perempuan) sama
Riwayat keluarga adanya 25 % kasus 25 % kasus
keterlambatan bicara /
gangguan bahasa
Ketulian yang sangat jarang tidak jarang
berhubungan
Komunikasi nonverbal tidak ada/rudimenter Ada
Kelainan bahasa lebih sering lebih jarang
(misalnya ekolalia, frasa
stereotipik di luar
konteks)
Gangguan artikulasi lebih jarang lebih sering
Tingkat intelegensia sering terganggu walaupun mungkin
parah terganggu, seringkali
kurang parah
Pola test IQ tidak rata, rendah lebih rata, walaupun
pada skor verbal, IQ verbal lebih
rendah pada sub test rendah dari IQ
pemahaman kinerja
Perilaku autistik, lebih sering dan tidak ada atau jika
gangguan kehuidupan lebih parah ada, kurang parah
sosial, aktivitas
stereotipik dan ritualistik
Permainan imaginatif tidak ada/rudimenter biasanya ada

12
c. Skizofrenia dengan onset masa anak-anak
Skizofrenia jarang pada anak-anak di bawah 5 tahun. Skizofrenia disertai
dengan halusinasi atau waham, dengan insidensi kejang dan retardasi mental yang
lebih rendah dan dengan IQ yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak autistik.

Kriteria Autisme Infantil Skizofrenia dengan


onset masa anak-
anak
Usia onset <36 bulan >5 tahun
Insidensi 2-5 dalam 10.000 Tidak diketahui,
kemungkinan sama
atau bahkan lebih
jarang
Rasio jenis kelamin 3-4:1 1,67:1
(Laki-laki:Perempuan)
Status sosioekonomi Lebih sering pada Lebih sering pada
sosioekonomi tinggi sosioekonomi
rendah
Penyulit prenatal dan Lebih sering pada Lebih jarang pada
perinatal dan disfungsi gangguan skizofrenia
otak Autistic
Karakteristik perilaku Gagal untuk Halusinasi dan
mengembangkan waham, gangguan
hubungan : tidak ada pikiran
bicara (ekolalia);
frasa stereotipik;
tidak ada atau
buruknya
pemahaman bahasa;
kegigihan atas
kesamaan dan
stereotipik.
Fungsi adaptif Biasanya selalu Pemburukan fungsi
terganggu
Tingkat inteligensi Pada sebagian besar Dalam rentang
kasus normal
subnormal, sering

13
terganggu parah
(70%)
Kejang grand mal 4-32% Tidak ada atau
insidensi rendah

d. Retardasi Mental (RM)


Hal yang tidak mudah untuk membedakan autisme infantil dengan retardasi
mental, sebab autisme juga sering disertai retardasi mental. Kira-kira 40% anak
autistik adalah teretardasi sedang, berat atau sangat berat, dan anak yang
teretardasi mungkin memiliki gejala perilaku yang termasuk ciri autistik. Pada
retardasi mental tidak terdapat 3 ciri pokok autism secara lengkap. Retardasi
mental adalah gangguan intelegensi, biasanya diketahui setelah anak sekolah
karena ketidaksanggupan anak mengikuti pelajaran formal. Pembagian retardasi
mental mental dilihat dari kemampuan Intelligent Quetient (IQ), retardasi mental
ringan IQ 55-70, RM sedang IQ 40-55, RM berat 25-40, RM sangat berat IQ <
25.
Ciri utama yang membedakan antara gangguan autistik dan retardasi mental
adalah:
1) Anak teretardasi mental biasanya berhubungan dengan orang tua atau anak-
anak lain dengan cara yang sesuai dengan umur mentalnya.
2) Mereka menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan orang lain.
3) Mereka memilki sifat gangguan yang relatif tetap tanpa pembelahan fungsi

e. Afasia didapat dengan kejang


Afasia didapat dengan kejang adalah kondisi yang jarang yang kadang sulit
dibedakan dari gangguan autistik dan gangguan disintegratif masa anak-anak.
Anak-anak dengan kondisi ini normal untuk beberapa tahun sebelum kehilangan
bahasa reseptif dan ekspresifnya selama periode beberapa minggu atau beberapa
bulan. Sebagian akan mengalami kejang dan kelainan EEG menyeluruh pada saat
onset, tetapi tanda tersebut biasanya tidak menetap. Suatu gangguan yang jelas
dalam pemahaman bahasa yang terjadi kemudian, ditandai oleh pola berbicara
yang menyimpang dan gangguan bicara. Beberapa anak pulih tetapi dengan
gangguan bahasa residual yang cukup besar
f. Ketulian kongenital atau gangguan pendengaraan parah

14
Anak-anak autistik sering kali dianggap tuli oleh karena anak-anak tersebut
sering membisu atau menunjukkan tidak adanya minat secara selektif terhadap
bahasa ucapan. Ciri-ciri yang membedakan yaitu bayi autistik mungkin jarang
berceloteh sedangkan bayi yang tuli memiliki riwayat celoteh yang relatif normal
dan selanjutnya secara bertahap menghilang dan berhenti pada usia 6 bulan-1
tahun.
Anak yang tuli berespon hanya terhadap suara yang keras, sedangkan anak
autistik mungkin mengabaikan suara keras atau normal dan berespon hanya
terhadap suara lunak atau lemah. Hal yang terpenting, audiogram atau potensial
cetusan auditorik menyatakan kehilangan yang bermakna pada anak yang tuli.
Tidak seperti anak-anak autistik, anak-anak tuli biasanya dekat dengan orang
tuanya, mencari kasih sayang orang tua dan sebagai bayi senang digendong.

g. Pemutusan psikososial
Gangguan parah dalam lingkungan fisik dan emosional (seperti pemisahan
dari ibu, kekerdilan psikososial, perawatan di rumah sakit, dan gagal tumbuh)
dapat menyebabkan anak tampak apatis, menarik diri, dan terasing. Keterampilan
bahasa dan motorik dapat terlambat. Anak-anak dengan tanda tersebut hamper
selalu membaik dengan cepat jika ditempatkan dalam lingkungan psikososial
yang menyenangkan dan diperkaya, yang tidak terjadi pada anak autistik.

G. Tatalaksana
Sampai saat ini tidak ada obat-obatan atau cara lain yang dapat menyembuhkan
autisme. Meskipun demikian, obat-obat antidepresan yang bersifat seratogenik dapat
mengendalikan gejala-gejala stereotipi dan perubahan-perubahan iklim perasaan, tetapi
masih diperlukan suatu penelitian klinis lebih lanjut dan lebih terkendali dari obat-obat
ini.
Dalam tatalaksana gangguan autisme, terapi perilaku merupakan yang paling
penting. Metode yang digunakan adalah metode Lovaas. Metode Lovaas adalah metode
modifikasi tingkah laku yang disebut dengan Applied Behavior Analysis (ABA).
Berbagai kemampuan yang diajarkan melalui program ABA dapat dibedakan menjadi
enam kemampuan dasar, yaitu:
1. Kemampuan memperhatikan

15
Program ini terdapat dua prosedur. Pertama melatih anak untuk bisa
memfokuskan pandangan mata pada orang yang ada di depannya atau disebut
dengan kontak mata. Yang kedua melatih anak untuk memperhatikan keadaan atau
objek yang ada disekelilingnya.
2. Kemampuan menirukan
Pada kemampuan imitasi anak diajarkan untuk meniru gerakan motorik kasar
dan halus. Selanjutnya, urutan gerakan, meniru gambar sederhana atau meniru
tindakan yang disertai bunyi-bunyian.
3. Bahasa reseptif
Melatih anak agar mempunyai kemampuan mengenal dan bereaksi terhadap
seseorang, terhadap kejadian lingkungan sekitarnya, mengerti maksud mimik dan
nada suara dan akhirnya mengerti kata-kata.
4. Bahasa ekspresif
Melatih kemampuan anak untuk mengutarakan pikirannya, dimulai dari
komunikasi preverbal (sebelum anak dapat berbicara), komunikasi dengan ekspresi
wajah, gerakan tubuh dan akhirnya dengan menggunakan kata-kata atau
berkomunikasi verbal.
5. Kemampuan praakademis
Melatih anak untuk dapat bermain dengan benar, memberikan permainan yang
mengajarkan anak tentang emosi, hubungan ketidakteraturan, dan stimulus-stimulus
di lingkungannya seperti bunyi-bunyian serta melatih anak untuk mengembangkan
imajinasinya lewat media seni seperti menggambar benda-benda yang ada di
sekitarnya.
6. Kemampuan mengurus diri sendiri
Program ini bertujuan untuk melatih anak agar bisa memenuhi kebutuhan
dirinya sendiri. Pertama anak dilatih untuk bisa makan sendiri. Yang kedua, anak
dilatih untuk bisa buang air kecil atau yang disebut toilet traning. Kemudian tahap
selanjutnya melatih mengenakan pakaian, menyisir rambut, dan menggosok gigi.

H. Prognosis
Prognosis anak autisme dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:
1. Berat ringannya gejala atau kelainan otak.
2. Usia, diagnosis dini sangat penting oleh karena semakin muda umur anak saat
dimulainya terapi semakin besar kemungkinan untuk berhasil.
3. Kecerdasan, makin cerdas anak tersebut makin baik prognosisnya

16
4. Bicara dan bahasa, 20 % anak autis tidak mampu berbicara seumur hidup, sedangkan
sisanya mempunyai kemampuan bicara dengan kefasihan yang berbeda-beda.
5. Terapi yang intensif dan terpadu.
Penanganan/intervensi terapi pada anak autisme harus dilakukan dengan
intensif dan terpadu. Seluruh keluarga harus terlibat untuk memacu komunikasi
dengan anak. Penanganan anak autisme memerlukan kerjasama tim yang terpadu
yang berasal dari berbagai disiplin ilmu antara lain psikiater, psikolog, neurolog,
dokter anak, terapis bicara dan pendidik.
Prognosis untuk penderita autisme tidak selalu buruk. Pada gangguan autisme, anak
yang mempunyai IQ diatas 70 dan mampu menggunakan komunikasi bahasa mempunyai
prognosis yang baik. Berdasarkan gangguan pada otak, autisme tidak dapat sembuh total
tetapi gejalanya dapat dikurangi, perilaku dapat diubah ke arah positif dengan berbagai
terapi.

BAB III
KESIMPULAN

1. Autisme merupakan gangguan pada anak yang ditandai dengan munculnyagangguan dan
keterlambatan dalam bidang kognitif, komunikasi, ketertarikan pada interaksi sosial,
dan perilakunya.
2.Beberapa faktor diduga menjadi penyebab autisme infantil antara lain
teori psikoanalitik, genetik, serta berdasarkan studi biokimia dan riset neurologis.
3. Terapi perilaku merupakan tata laksana yang paling penting dengan menggunakan metode
Lovaas.
4.Faktor yang mempengaruhi prognosis autis antara lain berat ringannya gejala, usia,
kecerdasan, bicara dan bahasa, serta terapi intesif dan terpadu.

17
DAFTAR PUSTAKA

1. Bertrand, J., Mars, A., Boyle, C., Bove, F., Yeargin-Allsop, M., Decoufle, P. 2001.
Prevalence of autism in a United States Population. Pediatrics, 108; 1155-61.
2. Fombonne, Eric. 2009. Epidemiology of Pervasive Developmental Disorders.
Pediatrics Research, 6 (65); 591-8.
3. Kasran, Suharko. 2003. Autisme: Konsep yang Sedang Berkembang. Bagian Ilmu
Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti. Jurnal Kedokteran Trisakti,
Vol. 22 No. 1; 24-30.
4. Lubis, Misbah. 2009. Penyesuaian Diri Orang Tua yang Memiliki Anak Autis. 2012.
5. Rapin, I. 1997. Autism. New Journal English Medicine, Vol 337; 97-104.
6. Gardener H, Splegeimen D, Stephen L. 2009. Prenatal Risk Factors For Autism: A
Comprehensive Meta- analysis.Br J Psychiatry.
7. Sadock, B. J dan Alcot, V. 2007. Kaplan and Sadock’s Synopsis of Psychiatry
Behavioural Sciences/Clinical Psychiatry. 10th Edition. University School of
Medicine New York; Chapter 42.
8. Sartika, Dinda. 2011. Karakteristik Anak Autis di Yayasan Ananda Karsa Mandiri
(YAKARI) Medan. Skripsi: Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
9. Yeni, A. F., Murni, J. Y., & Oktora, R. 2009. Autisme dan Penatalaksanaan..

18
19