Anda di halaman 1dari 57

EVIDENCE BASED NURSING (EBN)

KEEFEKTIFAN TEKNIK-TEKNIK
UNTUK MELANCARKAN BERSIHAN JALAN NAFAS OLEH SEKRET
DI RUANG POLI MTBS UPT PUSKESMAS GARUDA BANDUNG

Tugas
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas keperawatan maternitas dengan dosen
pembimbing Dewi Marfuah , S.Kep., Ners., M.Kep

Oleh :

KELOMPOK 1

Alvis Syahru Ramadhan : 317036

Arief Wijaksana : 317037

Azis Kurniawan : 317038

Dea Fairuz Hasna Latifah : 317039

Desi Amalia : 317040

Desi Rizki Ayu : 317041

Erna Sari : 317044

Hesti Ariyanti : 317045

PROGRAM PROFESI NERS ANGKATAN V


SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN PPNI JAWA BARAT
BANDUNG
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nyalah penulis dapat
menyelesaikan Laporan Evidance Based Nursing ini sebatas pengetahuan dan
kemampuan yang penulis miliki. Penulis berterima kasih pada Ibu Dewi Marfuah
selaku Pembimbing Stase Keperawatan Anak yang telah membimbing tugas ini
kepada tim penulis.

Penulis sangat berharap laporan ini dapat berguna dalam rangka


menambah wawasan serta pengetahuan bagi pembacanya mengenai Evidence
Based Nursing Keefektifan teknik- tehnik untuk melancarkan bersihan jalan nafas
karena sekret. Penulis juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam tugas ini
terdapat kekurangan-kekurangan dan jauh dari apa yang diharapkan.

Semoga laporan sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang


membacanya. Dan dapat menambah wawasan maupun pemahaman baik bagi
perawat maupun pembaca mengenai Keefektifan teknik- tehnik untuk
melancarkan bersihan jalan nafas karena sekret.

Bandung, 10 November 2017

Tim Penulis
DAFTAR ISI

Table of Contents
KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii
BAB I ............................................................................................................... 2
PENDAHULUAN ............................................................................................... 2
A. Latar Belakang ...............................................................................................2
B. Rumusan Masalah ..........................................................................................4
C. Tujuan ...........................................................................................................4
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah infeksi akut yang
melibatkan organ saluran pernafasan bagian atas dan saluran pernafasan
bagian bawah. Inveksi ini disebabkan oleh virus, jamur, dan bakteri. ISPA
akan menyerang host, apabila ketahanan tubuh (immunologi) menurun.
Penyakit ISPA ini paling banyak di temukan pada anak-anak dan paling
sering menjadi satu-satunya alasan untuk datang ke rumah sakit atau
puskesmas untuk menjalani perawatan inap maupun rawat jalan. Anak di
bawah lima tahun adalah kelompok yang memiliki sistem kekebalan tubuh
yang masih rentan terhadap berbagai penyakit termasuk salah satunya ISPA
(Danusantoso, 2012).
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan penyakit yang
sering terjadi pada anak. Insiden kejadian ISPA pada kelompok umur balita
diperkirakan 0,29 kasus per anak/tahun di negara berkembang dan 0,05 kasus
per anak/tahun di negara maju. Hal ini dapat dilihat dari tingginya angka
kesakitan dan kematian akibat ISPA. Kematian akibat penyakit ISPA pada
balita mencapai 12,4 juta pada balita golongan umur 0-1 tahun dan sebanyak
80,3% kematian ini terjadi dinegara berkembang, yang banyak disebabkan
oleh bakteri virus maupun mikroorganisme lainnya yang menyebabkan
terjadinya penumpukan sekret. (Kemenkes, 2010).
Penumpukan sekret merupakan suatu hasil produksi dari bronkus yang
keluar bersama dengan batuk atau bersihan tenggorokan. Penumpukan sekret
menunjukkan adanya benda-benda asing yang terdapat pada saluran
pernapasan sehingga dapat mengganggu keluar dan masuknya aliran udara.
Sekret atau sputum adalah lendir yang dihasilkan karena adanya rangsangan
pada membrane mukosa secara fisik, kimiawi maupun karena infeksi hal ini
menyebabkan proses pembersihan tidak berjalan secara adekuat, sehingga
mukus banyak tertimbun sehingga menyebabkan gangguan bersihan jalan
nafas (Djojodibroto, 2009). Salah satu upaya untuk mengatasi hidung
tersumbat dapat dilakukan dengan pemberian obat secara dihirup, obat dapat
dihirup untuk menghasilkan efek lokal atau sistemik melalui saluran
pernapasan dengan menghirup menggunakan uap, nebulizer, atau aerosol
semprot (Gabrielle, 2013). Terapi inhalasi uap adalah pengobatan efektif
untuk mengatasi hidung tersumbat, metode alami yang baik dengan uap dan
panas. (Ashley, 2013).
Puskesmas garuda merupakan salah satu pelayanan tingkat pertama
dalam memberikan pelayanan kesehatan disuatu wilayah. Puskesmas garuda
memiliki beberapa poli untuk memberikan pelayanan salah satunya adalah
poli MTBS yang memberikan kekhususan pada balita sakit. Pada makalah ini
penulis mengangkat tema tentang ISPA yang mengenai keefektifan teknik-
teknik melancarkan bersihan jalan nafas oleh secret pada anak usia 9 bulan di
puskesmas garuda di poli MTBS.
Berbagai upaya dilakukan untuk kefektifan teknik-teknik melancarkan
bersihan jalan nafas baik secara farmakologi maupun nonfarmakologi.
Manajemen bersihan jalan nafas secara farmakologi lebih efektif dibanding
dengan metode nonfarmakologi, namun metode farmakologi lebih mahal, dan
berpotensi mempunyai efek samping yang ditakutkan merugikan anak atau
bayi. Sedangkan metode nonfarmakologi lebih murah, sederhana, efektif dan
tanpa efek samping yang lebih merugikan daripada metode farmakologi.

Metode nonfarmakologi juga dapat meningkatkan kepedulian akan


penggunaan tanaman obat keluarga. Inhalasi uap air hangat, inhalasi uap air
hangat menggunakan penambahan minyak kayu putih, inhalasi uap air hangat
menggunakan daun sirih, perubahan posisi bayi, penghangatan bayi dengan
cara menjemur bayi 7-8 pagi selama 10 menit, dan tepuk punggung
merupakan beberapa teknik nonfarmakologi yang dapat meningkatkan
keberhasilan untuk membersihkan jalan nafas dari sekret.
Berdasarkan hal diatas, sebenarnya terdapat beberapa cara untuk
melancarkan bersihan jalan nafas baik secara farmakologi maupun
nonfarmakologi di Ruang Poli MTBS Puskesmas Garuda. Teknik menjemur
bayi merupakan teknik yang paling sering dilakukan oleh ibu, namun tehnik
ini diaplikasikan pada saat cuaca yang baik dan tidak efektif pada saat musim
hujan. Namun teknik yang paling efektif diterapkan dirumah merupakan
teknik penguapan dengan menggunakan air hangat.

B. Rumusan Masalah
Bagaimana cara melancarkan bersihan jalan nafas karena sekret?

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mengetahui penanganan untuk melancarkan bersihan jalan nafas
karena sekret.

2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui efektifitas inhalasi uap air hangat.
b. Untuk mengetahui efektifitas inhalasi uap air hangat dengan kayu
putih.
c. Untuk mengetahui efektifitas inhalasi uap air hangat dengan daun
sirih.
BAB II

TINJAUAN JURNAL

No Peneliti Judul Tujuan Metode Hasil Kekurangan Kelebihan


Penelitian Penelitian

1 Zulfa Auliyati Pemanfaatan Tujuan Penelitian ini Perilaku Hidup Bersih Tidak Peneliti terjun
Agustina dan Minyak Kayu penelitian menggunakan dan Sehat dijelaskan langsung ke
Suharmiati Putih ini untuk metode etnografi. secara spesifik lapangan untuk
(Melaleuca mengetahui Teknik (PHBS) masyarakat mengenai usia melakukan
leucadendra pengaruh pengumpulan yang rendah menjadi dan pengamatan
Linn) penguapan data yang karakteristik terhadap lokasi
pemicu masih
dengan digunakan berupa responden. dan kondisi
sebagai tingginya kasus ISPA
Minyak observasi geografis dan
Alternatif kayu putih terutama pada anak- melakukan
Pencegahan secara anak. Hasil alam pulau wawancara
ISPA: Studi tradisional,
Etnografi di kepada
digunakan Buru dari olahan daun
Pulau Buru masyarakat
untuk Melaleuca
setempat
mengurangi
leucadendra Linn
gangguan
berupa minyak kayu
saluran
pernafasan putih dapat digunakan
dan sebagai alternatif
mengobati
infeksi. pencegahan tingginya
kasus ISPA di Pulau

Buru dengan metode


inhalasi.

2 Yeltra Army Efektifitas 2014 Desain penelitian Terjadi Penuruan nyeri - Tehnik - Hasil dalam
dan Susanti Teknik Pijat Quasi pada ibu bersalin ini hanya penelitian ini
Abdominal Experiment. setelah bisa jelas
Lifthing Dengan dilakukan mencantumka
pendekatan one dilakukan pijat pada ibu n penurunan
Terhadap
grup pretest- Abdominal Lifthing. dengan skala nyeri.
Pengurangan
posttest. Sampel Terlihat penurunan nilai kondisi
Rasa Nyeri
dalam penelitian rerata skala nyeri antara yang
Persalinan Pada
ini sebanyak 10 pre-test- post-test tenang
Ibu Primigravida
orang. Teknik adalah 3.3 (nyeri dan tidak
Dalam Persalinan
pengambilan ringan). Dengan ada
Kala I Di Bidan
sampel dalam standar deviasi 0.823 distraksi
Praktek Mandiri
dengan p value 0,000.
Bd. “Y” Lubuk penelitian ini sama
adalah Berarti ada pengaruh sekali,
Alung Tahun
consecutive pijat Abdominal Lifthing sedangka
2014
sampling. terhadap penurunan n pada
Pengolahan data nyeri pada ibu bersalin. proses
univariat dan persalina
bivariat n ibu
dilakukan secara kondisi
komputerisasi ini tidak
dengan analisis dapat
data uji statistic diciptaka
dependen t-test n.
dengan p <0,05.

3. Suryani Pengaruh 2013 Desain penelitian Ada pengaruh terapi - Tidak - Memiliki
Manurung, tehnik menggunakan kompres hangat ada pengaruh
Ani Nuraeni, pemberian Quasi terhadap penurunan dan lembar untuk
Tri Riana kompres Experiment, pencegahan skala observas menurunkan
Lestari, Li terhadap pretest-postest persalinan yang i skala nyeri
Soleha, perubahan dengan bermakna setelah nyeri
Suryati, skala nyeri kelompok control selama 20 menit yang
Heni persalinan dan kelompok diberikan terapi jelas
Nurhaeni, pada klien intervensi. kompres hangat. Skala - Memerl
Khaterina primigravida Jumlah masing nyeri persalinan ukan
Paulina, masing sebelum di terapi dan alat
Elsye kelompok control kelompok terapi seperti
Rahmawaty dan kelompok kompres hangat, buli-buli
intervensi 18 memiliki pengaruh dan
orang. Kelompok yang sangat kuat dalam membut
intervensi diberi perubahan skala nyeri uhkan
terapi kompres persalinan setelah waktu
selama 20 menit intervensi (R=0,9). untuk
periode kala 1 Skala nyeri sesudah membua
fase aktif. intervensi menurun t air
Pengujian sebesar 2,07 poin. hangat
hipotesis - Tidak
menggunakan uji memilik
T test i kriteria
inklusi-
ekslusi
dan
durasi
terapi
dipatok
20 menit
tanpa
melihat
kondisi
ibu
BAB III

PEMBAHASAN

A. Konsep Inhalasi Uap Air Hangat


1. Inhalasi Uap
Steam inhalation (inhalasi uap) adalah menghirup uap hangat dari
air mendidih (Akhavani, 2005). Penguapan tersebut menggunakan air
panas dengan suhu 42 ̊C–44 ̊C (Hendley, Abbott, Beasley & Gwaltney,
1994). Tindakan ini memiliki sejumlah efek terapeutik, di antaranya
berguna untuk mengencerkan lendir di saluran hidung dan sinus serta di
bawah saluran pernapasan. Penguapan ini juga berguna sebagai
ekspektoran alami dan penekan batuk.
Inhalasi merupakan salah satu cara yang diperkenalkan dalam
penggunaan metode terapi yang paling sederhana dan cepat. Cara kerja
dari inhalasi ini adalah uap masuk dari luar tubuh ke dalam tubuh,
dengan mudah akan melewati paru-paru dan dialirkan ke pembuluh darah
melalui alveoli (Buckle, 1999).
2. Inhalasi Uap Air Panas
Uap air panas juga membantu tubuh menghilangkan produk
metabolisme yang tidak bermanfaat bagi tubuh. Uap air panas dapat
membuka pori-pori, merangsang keluarnya keringat, membuat pembuluh
darah melebar dan mengendurkan otot-otot (Horay, Harp, & Soetrisno,
2006). Adapun efek terapi uap adalah dapat meningkatkan konsumsi
oksigen, denyut jantung meningkat dan dapat terjadi pengeluaran cairan
yang tidak diperlukan tubuh seperti mengencerkan lendir yang
menyumbat saluran pernapasan (Crinion, 2007). Terapi inhalasi uap
sangat membantu untuk menghilangkan sumbatan seperti pilek,
bronkitis, pnemonia dan berbagai kondisi pernapasan lainnya, inhalasi
uap membuka hidung tersumbat dan bagian paru-paru yang
memungkinkan untuk melepaskan atau mengencerkan lendir, bernapas
lebih mudah dan lebih cepat sembuh. Untuk membuat uap, dapat
menggunakan air saja atau dapat menambahkan minyak herbal untuk
meningkatkan efek dari pengobatan (Phylis, 2006).

3. Inhalasi Uap Air Panas dan Minyak kayu putih


Minyak kayu putih merupakan salah satu minyak atsiri yang
diperoleh dari hasil penyulingan daun kayu putih. Minyak kayu putih ini
memiliki manfaat yang cukup besar, baik bagi perekonomian masyarakat
sekitar hutan maupun kegunaannya sebagai obatobatan, bahan
insektisida, dan bahan wangi-wangian (Perum Perhutani 2004). Minyak
ini juga memiliki bau dan khasiat yang khas. Khasiat utama dari minyak
kayu putih adalah untuk melancarkan peredaran darah dengan
melebarkan pori-pori kulit sehingga badan menjadi lebih hangat dan
tidak akan mengganggu pernafasan kulit karena adanya sifat dari minyak
kayu putih yang mudah menguap (Agoes 2010).

4. Inhalasi Uap Air Panas dan Daun sirih

Daun sirih (Piper betle) adalah Nama sejenis tumbuhan


merambat yang biasanya dikunyah bersama gambir, pinang dan kapur.
Daun sirih termasuk sebagai tanaman obat (Fitofarmaka). Daun sirih
dikenal dalam beberapa Nama Betel (Perancis), Betel,
Betelhe, Vitele(Portugal), Suruh, Sedah (Jawa), Seureuh (Sunda) dan Ju
jiang (China). Tanaman merambat ini bisa mencapai tinggi 15 m. Batang
sirih berwarna coklat kehijauan, berbentuk bulat, beruas dan merupakan
tempat keluarnya akar. Daunnya yang tunggal berbentuk jantung,
berujung runcing, tumbuh berselang-seling, bertangkai, dan
mengeluarkan bau yang sedap bila diremas. Panjangnya sekitar 5 - 8 cm
dan lebar 2 - 5 cm. Bunganya majemuk berbentuk bulir dan terdapat
daun pelindung ± 1 mm berbentuk bulat panjang
B. Tehnik inhalasi
1. Tehnik Inhalasi
Teknik pemberian Steam Inhalation yang diambil dari beberapa
literatur yaitu terlebih dahulu membuat corong dari sebuah kertas yang
digulung, adalah cara yang baik untuk menghirup uap dari mangkuk
atau gelas. Kemudian menempatkan air panas mendidih dengan suhu
42 ̊C–44 ̊C dalam mangkuk atau gelas (Wong, 2008).

2. Tehnik inhalsi Air panas


3. Tehnik inhalasi dengan Minyak kayu putih
4. Tehnik inhalasi dengan Daun sirih

Manfaat inhalasi
1. inhalsi Air hangat adalah
2. inhalasi dengan Minyak kayu putih
3. inhalasi dengan Daun sirih
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Penyakit ISPA merupakan penyakit yang membahayakan karena
mempengaruhi fungsi dari sistem pernafasan terutama di saluran pernafasn dan
bisa berdampak kepada kematian jika tidak tertangani dengan cepat, tepat dan
benar. Banyak keluhan yang terjadi pada saat ISPA terjadi namun salah satu
keluhan yang sering dialami anak dengan ISPA adalah munculnya sesak nafas
akibat menumpuknya sekret bahkan penyempitan saluran nafas. Pemberian
intervensi nonfarmakologis Metode terapi inhalasi sederhana ini dapat menjadi
satu alternatif terapi tradisional yang dapat diterapkan untuk mengatasi keluhan
sesak nafas pada anak-anak bahkan dewasa sekalipun.

B. Saran
BAB V
LAMPIRAN

A. LAPORAN PENDAHULAN

LAPORAN PENDAHULUAN
ISPA (INFEKSI SALURAN NAFAS ATAS)

1. Konsep Penyakit

A. Pengertian

ISPA adalah penyakit infeksi yang sangat umum dijumpai pada

anak-anak dengan gejala batuk, pilek, panas atau ketiga gejala tersebut

muncul secara bersamaan (Meadow, Sir Roy. 2002:153).

Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) adalah infeksi saluran

pernafasan akut yang menyerang tenggorokan, hidung dan paru-paru

yang

berlangsung kurang lebih 14 hari, ISPA mengenai struktur saluran di atas

laring, tetapi kebanyakan penyakit ini mengenai bagian saluran atas dan

bawah secara stimulan atau berurutan (Muttaqin, 2008).

ISPA adalah penyakit yang menyerang salah satu bagian dan atau

lebih dari saluran pernafasan mulai dari hidung hingga alveoli termasuk

jaringan adneksanya seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura

(Nelson, 2003).

ISPA (lnfeksi Saluran Pernafasan Akut) yang diadaptasi dari

bahasa Inggris Acute Respiratory hfection (ARl) mempunyai pengertian

sebagai berikut:
1. Infeksi adalah masuknya kuman atau mikoorganisme kedalam tubuh

manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala

penyakit.

2. Saluran pernafasan adalah organ mulai dari hidung hingga alfeoli

beserta organ secara anatomis mencakup saluran pemafasan bagian

atas.

3. Infeksi akut adalah infeksi yang berlansung sampai 14 hari. Batas 14

hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk

beberapa penyakit yang digolongkan ISPA. Proses ini dapat

berlangsung dari 14 hari (Suryana, 2005:57).

Infeksi saluran nafas adalah penurunan kemampuan pertahanan alami

jalan nafas dalam menghadapi organisme asing (Whaley and Wong;

1991; 1418).

B. Epidemiologi

Berdasarkan DEPKES (2006) juga menemukan bahwa 20-30%

kematian disebabkan oleh ISPA. Faktor penting yang mempengaruhi

ISPA adalah pencemaran udara. Adanya pencemaran udara di

lingkungan rumah akan merusak mekanisme pertahanan paru-paru

sehingga mempermudah timbulnya gangguan pernapasan. Tingginya

tingkat pencemaran udara menyebabkan ISPA memiliki angka yang

paling banyak diderita oleh masyarakat dibandingkan penyakit

lainnya. Selain faktor tersebut, peningkatan penyebaran penyakit

ISPA juga dikarenakan oleh perubahan iklim serta rendahnya

kesadaran perilaku hidup bersih dan sehat dalam masyarakat. maka di


dalam makalah ini akan dijabarkan secara lengkap semua hal yang

berkaitan dengan ISPA.

C. Etiologi

Etiologi ISPA terdiri dari 300 jenis bakteri, virus dan richetsia.

Bakteri penyebab ISPA antara lain adalah dari genus Streptococcus,

Staphylococcus, Pneumococcus, Haemophylus, Bordetella dan

Corinebacterium. Virus penyebab ISPA antara lain adalah golongan

Miksovirus, Adenovirus, Coronavirus, Picornavirus, Micoplasma,

Herpesvirus dan lain-lain. (Suriadi,Yuliani R,2001).

D. Klasifikasi ISPA

Klasifikasi penyakit ISPA dibedakan untuk golongan umur dibawah 2

bulan dan untuk golongan umur 2 bulan-5 tahun (Muttaqin, 2008):

a. Golongan Umur Kurang 2 Bulan

1) Pneumonia Berat

Bila disertai salah satu tanda tarikan kuat di dinding pada

bagian bawah atau napas cepat. Batas napas cepat untuk golongan

umur kurang 2 bulan yaitu 6x per menit atau lebih.

2) Bukan Pneumonia (batuk pilek biasa)

Bila tidak ditemukan tanda tarikan kuat dinding dada bagian

bawah atau napas cepat. Tanda bahaya untuk golongan umur

kurang 2 bulan, yaitu:

a) Kurang bisa minum (kemampuan minumnya menurun

sampai
b) kurang dari ½ volume yang biasa diminum)

c) Kejang

d) Kesadaran menurun

e) Stridor

f) Wheezing

g) Demam / dingin.

b. Golongan Umur 2 Bulan-5 Tahun

1) Pneumonia Berat

Bila disertai napas sesak yaitu adanya tarikan di dinding

dada bagian bawah ke dalam pada waktu anak menarik nafas

(pada saat diperiksa anak harus dalam keadaan tenang, tidak

menangis atau meronta).

2) Pneumonia Sedang

Bila disertai napas cepat. Batas napas cepat ialah:

a) Untuk usia 2 bulan-12 bulan = 50 kali per menit atau lebih

b) Untuk usia 1-4 tahun = 40 kali per menit atau lebih.

3) Bukan Pneumonia

Bila tidak ditemukan tarikan dinding dada bagian bawah

dan tidak ada napas cepat. Tanda bahaya untuk golongan umur 2

bulan-5 tahun yaitu :

a) Tidak bisa minum

b) Kejang

c) Kesadaran menurun

d) Stridor
e) Gizi buruk

Klasifikasi ISPA menurut Depkes RI (2002) adalah :

a. ISPA ringan

Seseorang yang menderita ISPA ringan apabila ditemukan

gejala

batuk, pilek dan sesak.

b. ISPA sedang

ISPA sedang apabila timbul gejala sesak nafas, suhu

tubuh lebih dari 390 C dan bila bernafas mengeluarkan suara

seperti mengorok.

c. ISPA berat

Gejala meliputi: kesadaran menurun, nadi cepat atau tidak

teraba, nafsu makan menurun, bibir dan ujung nadi membiru

(sianosis) dan gelisah.

E. Penyebab penyakit ISPA

ISPA disebabkan oleh bakteri atau virus yang masuk kesaluran

nafas. Salah satu penyebab ISPA yang lain adalah asap pembakaran

bahan bakar kayu yang biasanya digunakan untuk memasak. Asap bahan

bakar kayu ini banyak menyerang lingkungan masyarakat, karena

masyarakat terutama ibu-ibu rumah tangga selalu melakukan aktifitas

memasak tiap hari menggunakan bahan bakar kayu, gas maupun minyak.

Timbulnya asap tersebut tanpa disadarinya telah mereka hirup sehari-


hari, sehingga banyak masyarakat mengeluh batuk, sesak nafas dan sulit

untuk bernafas.

Polusi dari bahan bakar kayu tersebut mengandung zat-zat seperti

Dry basis, Ash, Carbon, Hidrogen, Sulfur, Nitrogen dan Oxygen yang

sangat berbahaya bagi kesehatan (Depkes RI, 2002).

E. Faktor resiko

Faktor resiko timbulnya ISPA menurut Dharmage (2009) :

a. Faktor Demografi

Faktor demografi terdiri dari 3 aspek yaitu :11

1) Jenis kelamin

Bila dibandingkan antara orang laki-laki dan

perempuan, lakilakilah yang banyak terserang penyakit

ISPA karena mayoritas orang laki-laki merupakan

perokok dan sering berkendaraan, sehingga mereka sering

terkena polusi udara.

2) Usia

Anak balita dan ibu rumah tangga yang lebih banyak

terserang penyakit ISPA. Hal ini disebabkan karena

banyaknmya ibu rumah tangga yang memasak sambil

menggendong anaknya.

3) Pendidikan

Pendidikan merupakan salah satu faktor yang sangat

berpengaruh dalam kesehatan, karena lemahnya manajemen

kasus oleh petugas kesehatan serta pengetahuan yang


kurang di masyarakat akan gejala dan upaya

penanggulangannya, sehingga banyak kasus ISPA yang

datang kesarana pelayanan kesehatan sudah dalam keadaan

berat karena kurang mengerti bagaimana cara serta

pencegahan agar tidak mudah terserang penyakit ISPA.

b. Faktor Biologis

Faktor biologis terdiri dari 2 aspek yaitu (Notoatmodjo, 2007):

1) Status gizi

Menjaga status gizi yang baik, sebenarnya bisa juga

mencegah atau terhindar dari penyakit terutama penyakit

ISPA. Misal dengan mengkonsumsi makanan 4 sehat 5

sempurna dan memperbanyak minum air putih, olah raga

yang teratur serta istirahat yang cukup.

Karena dengan tubuh yang sehat maka kekebalan tubuh

akan semakin menigkat, sehingga dapat mencegah virus (

bakteri) yang akan masuk kedalam tubuh.

2) Faktor rumah

Syarat-syarat rumah yang sehat (Suhandayani, 2007):

a) Bahan bangunan

a) Lantai : Ubin atau semen adalah baik. Syarat yang

penting disini adalah tdak berdebu pada musim

kemarau dan tidak basah pada musim hujan. Untuk

memperoleh lantai tanah yang padat (tidak


berdebu) dapat ditempuh dengan menyiram air

kemudian dipadatkan dengan benda-benda yang

berat, dan dilakukan berkali-kali. Lantai yang

basah dan berdebu merupakan sarang penyakit

gangguan pernapasan.

b) Dinding : Tembok adalah baik, namun disamping

mahal tembok sebenarnya kurang cocok untuk

daerah tropis, lebih-lebih bila ventilasinya tidak

cukup. Dinding rumah di daerah tropis khususnya

di pedesaan lebih baik dinding atau papan. Sebab

meskipun jendela tidak cukup, maka lubang-lubang

pada dinding atau papan tersebut dapat merupakan

ventilasi, dan dapat menambah penerangan

alamiah.

c) Atap Genteng : Atap genteng adalah umum dipakai

baik di daerah perkotaan maupun pedesaan.

Disamping atap genteng cocok untuk daerah tropis,

juga dapat terjangkau oleh masyarakat dan bahkan

masyarakat dapat membuatnya sendiri. Namun

demikian, banyak masyarakat pedesaan yang tidak

mampu untuk itu, maka atap daun rumbai atau

daun kelapa pun dapat dipertahankan. Atap seng

ataupun asbes tidak cocok untuk rumah pedesaan,


di samping mahal juga menimbulkan suhu panas

didalam rumah.

b) Ventilasi

Ventilasi rumah mempunyai banyak fungsi. Fungsi

pertama adalah untuk menjaga agar aliran udara di dalam

rumah tersebut tetap segar. Hal ini berarti keseimbangan O2

yang14 diperlukan oleh penghuni rumah tersebut tetap

terjaga. Kurangnya ventilasi akan menyebabkan O2 (oksigen)

didalam rumah yang berarti kadar CO2 (karbondioksida)

yang bersifat racun bagi penghuninya menjadi meningkat.

Tidak cukupnya ventilasi akan menyebabkan kelembaban

udara didalam ruangan naik karena terjadinya proses

penguapan dari kulit dan penyerapan. Kelembaban ini akan

merupakan media yang baik untuk bakteri-bakteri, patogen

(bakteri-bakteri penyebab penyakit)

c) Cahaya

Rumah yang sehat memerlukan cahaya yang cukup,

tidak kurang dan tidak terlalu banyak. Kurangnya cahaya yang

masuk kedalam ruangan rumah, terutama cahaya matahari

disamping kurang nyaman, juga merupakan media atau tempat

yang baik untuk hidup dan berkembangnya bibit-bibit

penyakit. Sebaliknya terlalu banyak cahaya didalam rumah

akan menyebabkan silau, dam akhirnya dapat merusakan mata.

c. Faktor Polusi
Adapun penyebab dari faktor polusi terdiri dari 2 aspek yaitu

(Lamsidi, 2003) :15

1) Cerobong asap

Cerobong asap sering kita jumpai diperusahaan atau

pabrik-pabrik industri yang dibuat menjulang tinggi ke atas

(vertikal). Cerobong tersebut dibuat agar asap bisa keluar ke

atas terbawa oleh angin. Cerobong asap sebaiknya dibuat

horizontal tidak lagi vertikal, sebab gas (asap) yang dibuang

melalui cerobong horizontal dan dialirkan ke bak air akan

mudah larut. Setelah larut debu halus dan asap mudah

dipisahkan, sementara air yang asam bisa dinetralkan oleh

media Treated Natural Zeolid (TNZ) yang sekaligus bisa

menyerap racun dan logam berat. Langkah tersebut dilakukan

supaya tidak akan ada lagi pencemaran udara, apalagi hujan

asam. Cerobong asap juga bisa berasal dari polusi rumah

tangga, polusi rumah tangga dapat dihasilkan oleh bahan bakar

untuk memasak, bahan bakar untuk memasak yang paling

banyak menyebabkan asap adalah bahan bakar kayu atau

sejenisnya seperti arang.

2) Kebiasaan merokok

Satu batang rokok dibakar maka akan mengelurkan

sekitar 4.000 bahan kimia seperti nikotin, gas karbon

monoksida, nitrogen oksida, hidrogen cianida, ammonia,

acrolein, acetilen, benzol dehide, urethane, methanol,


conmarin, 4-ethyl cathecol, ortcresorperyline dan lainnya,

sehingga di bahan kimia tersebut akan beresiko terserang

ISPA.

d. Faktor timbulnya penyakit

Faktor yang mempengaruhi timbulnya penyakit menurut

Bloom dikutip dari Effendy (2004) menyebutkan bahwa

lingkungan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi

derajat kesehatan masyarakat, sehat atau tidaknya lingkungan

kesehatan, individu, keluarga dan masyarakat sangat tergantung

pada perilaku manusia itu sendiri. Disamping itu, derajat kesehatan

juga dipengaruhi oleh lingkungan, misalnya membuat ventilasi

rumah yang cukup untuk mengurangi polusi asap maupun polusi

udara, keturunan, misalnya dimana ada orang yang terkena

penyakit ISPA di situ juga pasti ada salah satu keluarga yang

terkena penyakit ISPA karena penyakit ISPA bisa juga disebabkan

karena keturunan, dan dengan pelayanan seharihari yang baik maka

penyakit ISPA akan berkurang dan kesehatannya sedikit demi

sedikit akan membaik, dan pengaruh mempengaruhi satu dengan

yang lainnya.

F. Manifestasi Klinis

ISPA merupakan proses inflamasi yang terjadi pada setiap bagian

saluran pernafasan atas maupun bawah, yang meliputi infiltrat


peradangan dan edema mukosa, kongestif vaskuler, bertambahnya

sekresi mukus serta perubahan struktur fungsi siliare (Muttaqin, 2008).

Tanda dan gejala ISPA banyak bervariasi antara lain demam,

pusing, malaise (lemas), anoreksia (tidak nafsu makan), vomitus

(muntah), photophobia (takut cahaya), gelisah, batuk, keluar sekret,

stridor (suara17 nafas), dyspnea (kesakitan bernafas), retraksi

suprasternal (adanya tarikan dada), hipoksia (kurang oksigen), dan dapat

berlanjut pada gagal nafas apabila tidak mendapat pertolongan dan

mengakibatkan kematian. (Nelson, 2003).

Sedangkan tanda gejala ISPA menurut Depkes RI (2002) adalah :

a. Gejala dari ISPA Ringan

Seseorang anak dinyatakan menderita ISPA ringan jika

ditemukan satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut:

1) Batuk

2) Serak, yaitu anak bersuara parau pada waktu

mengeluarkan suara (misal pada waktu berbicara atau

menangis).

3) Pilek, yaitu mengeluarkan lender atau ingus dari hidung.

4) Panas atau demam, suhu badan lebih dari 370 C atau jika

dahi anak diraba.


b. Gejala dari ISPA Sedang

Seorang anak dinyatakan menderita ISPA sedang jika

dijumpai gejala dari ISPA ringan disertai satu atau lebih

gejala-gejala sebagai berikut:

a. Pernafasan lebih dari 50 kali per menit pada anak yang

berumur kurang dari satu tahun atau lebih dari 40 kali per

menit pada anak yang berumur satu tahun atau lebih. Cara

menghitung pernafasan ialah dengan menghitung jumlah

tarikan nafas dalam satu menit. Untuk menghitung dapat

digunakan arloji.

b. Suhu lebih dari 390 C (diukur dengan termometer).

c. Tenggorokan berwarna merah.

d. Timbul bercak-bercak merah pada kulit menyerupai

bercak campak.

e. Telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari lubang

telinga.

f. Pernafasan berbunyi seperti mengorok (mendengkur).

g. Pernafasan berbunyi menciut-ciut.

c. Gejala dari ISPA Berat

Seorang anak dinyatakan menderita ISPA berat jika

dijumpai gejala-gejala ISPA ringan atau ISPA sedang disertai

satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut:

1) Bibir atau kulit membiru.


2) Lubang hidung kembang kempis (dengan cukup lebar)

pada waktu bernafas.

3) Anak tidak sadar atau kesadaran menurun.

4) Pernafasan berbunyi seperti orang mengorok dan anak

tampak gelisah.

5) Sela iga tertarik ke dalam pada waktu bernafas.

6) Nadi cepat lebih dari 160 kali per menit atau tidak teraba.

7) Tenggorokan berwarna merah.

G. Penatalaksanaan Kasus ISPA

Penemuan dini penderita pneumonia dengan penatalaksanaan

kasus yang benar merupakan strategi untuk mencapai dua dari tiga

tujuan. Program (turunnya kematian karena pneumonia dan turunnya

penggunaan antibiotik dan obat batuk yang kurang tepat pada

pengobatan penyakit ISPA). Pedoman enatalaksanaan kasus ISPA akan

memberikan petunjukstandar pengobatan penyakit ISPA yang akan

berdampak mengurangi penggunaan antibiotik untuk kasus-kasus batuk

pilek biasa, serta mengurangi penggunaan obat batuk yang kurang

bermanfaat. Strategi penatalaksanaan kasus mencakup pula petunjuk

tentang pemberian makanan dan minuman sebagai bagian dari tindakan

penunjang yang penting bagi pederita ISPA Penatalaksanaan ISPA

meliputi langkah atau tindakan sebagai berikut (Smeltzer & Bare, 2002)

a. Pemeriksaan
Pemeriksaan artinya memperoleh informasi tentang penyakit

anak dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada ibunya,

melihat dan mendengarkan anak. Hal ini penting agar selama

pemeriksaan anakt idak menangis (bila menangis akan meningkatkan

frekuensi napas), untuk ini diusahakan agar anak tetap dipangku oleh

ibunya.

Menghitung napas dapat dilakukan tanpa membuka baju anak. Bila

baju anak tebal, mungkin perlu membuka sedikit untuk melihat

gerakan dada. Untuk melihat tarikan dada bagian bawah, baju anak

harus dibuka sedikit. Tanpa pemeriksaan auskultasi dengan steteskop

penyakit pneumonia dapat didiagnosa dan diklassifikasi.

b. Klasifikasi ISPA

Program Pemberantasan ISPA (P2 ISPA) mengklasifikasi ISPA

sebagai berikut :

1) Pneumonia berat: ditandai secara klinis oleh adanya tarikan

dinding dada kedalam (chest indrawing).

2) Pneumonia: ditandai secara klinis oleh adanya napas cepat.

3) Bukan pneumonia: ditandai secara klinis oleh batuk pilek,

bisa disertai demam, tanpa tarikan dinding dada kedalam,

tanpa napas cepat. Rinofaringitis, faringitis dan tonsilitis

tergolong bukan pneumonia..

c. Pengobatan

1) Pneumonia berat : dirawat di rumah sakit, diberikan

antibiotik parenteral, oksigendan sebagainya.


2) Pneumonia : diberi obat antibiotik kotrimoksasol peroral.

Bila penderita tidak mungkin diberi kotrimoksasol atau

ternyata dengan pemberian kontrmoksasol keadaan penderita

menetap, dapat dipakai obat antibiotik pengganti yaitu

ampisilin, amoksisilin atau penisilin prokain.

3) Bukan pneumonia: tanpa pemberian obat antibiotik.

Diberikan perawatan di rumah, untuk batuk dapat digunakan

obat batuk tradisional atau obat batuk lain yang tidak

mengandung zat yang merugikan seperti

kodein,dekstrometorfan dan, antihistamin. Bila demam

diberikan obat penurun panas yaitu parasetamol. Penderita

dengan gejala batuk pilek bila pada pemeriksaan tenggorokan

didapat adanya bercak nanah (eksudat) disertai pembesaran

kelenjar getah bening dileher, dianggap sebagai radang

tenggorokan oleh kuman streptococcuss dan harus diberi

antibiotik (penisilin) selama 10 hari. Tanda bahaya setiap

bayi atau anak dengan tanda bahaya harus diberikan

perawatan khusus untuk pemeriksaan selanjutnya.

d. Perawatan di rumah

Beberapa hal yang perlu dikerjakan seorang ibu untuk

mengatasi

anaknya yang menderita ISPA.

1) Mengatasi panas (demam)


Untuk anak usia 2 bulan sampai 5 tahun demam

diatasi dengan memberikan parasetamol atau dengan

kompres, bayi dibawah 2 bulan dengan demam harus

segera dirujuk. Parasetamol diberikan 4 kali tiap 6 jam

untuk waktu 2 hari. Cara pemberiannya, tablet dibagi

sesuai dengan dosisnya, kemudian digerus dan

diminumkan. Memberikan kompres, dengan menggunakan

kain bersih, celupkan pada air (tidak perlu air es).

2) Mengatasi batuk

Dianjurkan memberi obat batuk yang aman yaitu ramuan

tradisional yaitu jeruk nipis ½ sendok teh dicampur dengan

kecap atau madu ½ sendok teh , diberikan tiga kali sehari.

3) Pemberian makanan

Berikan makanan yang cukup gizi, sedikit-sedikit

tetapi berulangulang yaitu lebih sering dari biasanya, lebih-

lebih jika muntah. Pemberian ASI pada bayi yang menyusu

tetap diteruskan.

4) Pemberian minuman

Usahakan pemberian cairan (air putih, air buah dan

sebagainya)

lebih banyak dari biasanya. Ini akan membantu

mengencerkan

dahak, kekurangan cairan akan menambah parah sakit yang

diderita.
5) Lain-lain

a) Tidak dianjurkan mengenakan pakaian atau selimut yang

terlalu tebal dan rapat, lebih-lebih pada anak dengan

demam.

b) Jika pilek, bersihkan hidung yang berguna untuk

mempercepat kesembuhan dan menghindari komplikasi

yang lebih parah.

c) Usahakan lingkungan tempat tinggal yang sehat yaitu yang

berventilasi cukup dan tidak berasap.

d) Apabila selama perawatan dirumah keadaan anak

memburuk maka dianjurkan untuk membawa kedokter atau

petugas kesehatan.

e) Untuk penderita yang mendapat obat antibiotik, selain

tindakan diatas usahakan agar obat yang diperoleh tersebut

diberikan dengan benar selama 5 hari penuh. Dan untuk

penderita yang mendapatkan antibiotik, usahakan agar

setelah 2 hari anak dibawa kembali ke petugas kesehatan

untuk pemeriksaan ulang.

H. Pencegahan ISPA

Menurut Depkes RI, (2002) pencegahan ISPA antara lain:

a. Menjaga kesehatan gizi agar tetap baik

Dengan menjaga kesehatan gizi yang baik maka itu akan

mencegah kita atau terhindar dari penyakit yang terutama antara lain

penyakit ISPA. Misalnya dengan mengkonsumsi makanan empat


sehat lima sempurna, banyak minum air putih, olah raga dengan

teratur, serta istirahat yang cukup, kesemuanya itu akan menjaga

badan kita tetap sehat. Karena dengan tubuh yang sehat maka

kekebalan tubuh kita akan semakin meningkat, sehingga dapat

mencegah virus / bakteri penyakit yang akan masuk ke tubuh kita.

b. Imunisasi

Pemberian immunisasi sangat diperlukan baik pada anak-anak

maupun orang dewasa. Immunisasi dilakukan untuk menjaga

kekebalan tubuh kita supaya tidak mudah terserang berbagai macam

penyakit yang disebabkan oleh virus / bakteri.

c. Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan

Membuat ventilasi udara serta pencahayaan udara yang baik

akan mengurangi polusi asap dapur / asap rokok yang ada di dalam

rumah, sehingga dapat mencegah seseorang menghirup asap tersebut

yang bisa menyebabkan terkena penyakit ISPA. Ventilasi yang baik

dapat memelihara kondisi sirkulasi udara (atmosfer) agar tetap segar

dan sehat bagi manusia.

d. Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA

Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) ini disebabkan oleh

virus/ bakteri yang ditularkan oleh seseorang yang telah terjangkit

penyakit ini melalui udara yang tercemar dan masuk ke dalam tubuh.

Bibit penyakit ini biasanya berupa virus / bakteri di udara yang

umumnya berbentuk aerosol (anatu suspensi yang melayang di udara).

Adapun bentuk aerosol yakni Droplet, Nuclei (sisa dari sekresi saluran
pernafasan yang dikeluarkan dari tubuh secara droplet dan melayang

di udara), yang kedua duet (campuran antara bibit penyakit).

II. Konsep Asuhan Keperawatan

A. Pengkajian
1. Identitas Pasien
Meliputi : nama, umur, jenis kelamin, alamat, pendidikan, tanggal
masuk RS, tanggal pengkajian, no. MR, diagnosa medis, nama orang
tua, umur orang tua, pekerjaan, agama, alamat, dan lain-lain.
2. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat penyakit sekarang
Biasanya klien mengalami demam mendadak, sakit kepala,
badan lemah, nyeri otot dan sendi, nafsu makan menurun,
batuk,pilek dan sakit tenggorokan.
b. Riwayat penyakit dahulu
Biasanya klien sebelumnya sudah pernah mengalami penyakit
ini
c. Riwayat penyakit keluarga
Menurut anggota keluarga ada juga yang pernah mengalami
sakit seperti penyakit klien tersebut.
d. Riwayat sosial
Klien mengatakan bahwa klien tinggal di lingkungan yang
berdebu dan padat penduduknya
3. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan Umum : Bagaimana keadaan klien, apakah letih, lemah
atau sakit berat.
b. Tanda vital
 Kepala : Bagaimana kebersihan kulit kepala, rambut serta
bentuk kepala, apakah ada kelainan atau lesi pada kepala
 Wajah : Bagaimana bentuk wajah, kulit wajah pucat/tidak.
 Mata : Bagaimana bentuk mata, keadaan konjungtiva
anemis/tidak, sclera ikterik/ tidak, keadaan pupil, palpebra
dan apakah ada gangguan dalam penglihatan
 Hidung : Bentuk hidung, keadaan bersih/tidak, ada/tidak
sekret pada hidung serta cairan yang keluar, ada sinus/ tidak
dan apakah ada gangguan dalam penciuman
 Mulut : Bentuk mulut, membran membran mukosa kering/
lembab, lidah kotor/ tidak, apakah ada kemerahan/ tidak pada
lidah, apakah ada gangguan dalam menelan, apakah ada
kesulitan dalam berbicara.
 Leher : Apakah terjadi pembengkakan kelenjar tyroid, apakah
ditemukan distensi vena jugularis
 Thoraks : Bagaimana bentuk dada, simetris/tidak, kaji pola
pernafasan, apakah ada wheezing, apakah ada gangguan
dalam pernafasan. Pemeriksaan Fisik Difokuskan Pada
Pengkajian Sistem Pernafasan
c. Inspeksi
 Membran mukosa- faring tamppak kemerahan
 Tonsil tampak kemerahan dan edema
 Tampak batuk tidak produktif
 Tidak ada jaringan parut dan leher
 Tidak tampak penggunaan otot-otot pernafasan tambahan,
pernafasan cuping hidung
d. Palpasi
 Adanya demam
 Teraba adanya pembesaran kelenjar limfe pada daerah
leher/nyeri tekan pada nodus limfe servikalis
 Tidak teraba adanya pembesaran kelenjar tyroid
e. Perkusi: Suara paru normal (resonance)
f. Auskultasi
 Suara nafas terdengar ronchi pada kedua sisi paru
g. Abdomen : Bagaimana bentuk abdomen, turgor kulit kering/
tidak, apakah terdapat nyeri tekan pada abdomen, apakah perut
terasa kembung, lakukan pemeriksaan bising usus, apakah terjadi
peningkatan bising usus/tidak.
h. Genitalia : Bagaimana bentuk alat kelamin, distribusi rambut
kelamin , warna rambut kelamin. Pada laki-laki lihat keadaan
penis, apakah ada kelainan/tidak. Pada wanita lihat keadaan labia
minora, biasanya labia minora tertutup oleh labia mayora.
i. Integumen : Kaji warna kulit, integritas kulit utuh/tidak, turgor
kulit kering/ tidak, apakah ada nyeri tekan pada kulit, apakah
kulit teraba panas.
j. Ekstremitas atas : Adakah terjadi tremor atau tidak, kelemahan
fisik, nyeri otot serta kelainan bentuk.

2. Diagnosa Keperawatan
a. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas
b. Ketidakefektifan Pola Nafas
c. Gangguan pertukaran gas
d. Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
e. Nyeri akut
f. Hipertermi
No. Diagnosa Keperawatan NOC NIC
1. Bersihan jalan napas tidak efektif NOC: NIC
Definisi : Respiratory status : Ventilation Airway Manajemen
Ketidakmampuan untuk Respiratory status : Airway 1. Monitor status oksigen pasien
membersihkan sekresi atau obstruksi patency 2. Auskultasi suara nafas sebelum dan sesudah
dari saluran pernafasan untuk Aspiration Control suctioning.
mempertahankan kebersihan jalan 3. Pastikan kebutuhan oral / tracheal suctioning
nafas. Tujuan dan Kriteria 4. Minta klien nafas dalam sebelum suction dilakukan.
Batasan Karakteristik: Hasil: setelah dilakukan 5. Berikan O2 dengan menggunakan nasal untuk
Dispneu, Penurunan suara nafas tindakan keperawatan selama 2 memfasilitasi suksion nasotrakeal
Orthopneu x 24 jam bersihan jalan napas 6. Gunakan alat yang steril sitiap melakukan tindakan
Cyanosis tidak efektof teratasi/ berkurang 7. Hentikan suksion dan berikan oksigen apabila pasien
elainan suara nafas (rales, dengan indicator : menunjukkan bradikardi, peningkatan saturasi O2, dll.
wheezing) Mendemonstrasikan batuk Airway Management
Kesulitan berbicara efektif dan suara nafas yang 8. Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
Batuk, tidak efekotif atau tidak ada bersih, tidak ada sianosis dan 9. Monitor respirasi dan status O2
Mata melebar dyspneu (mampu mengeluarkan 10. Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan
Produksi sputum sputum, mampu bernafas nafas buatan
Gelisah dengan mudah, tidak ada pursed 11. Atur intake untuk cairan mengoptimalkan
Perubahan frekuensi dan irama lips) keseimbangan
nafas Menunjukkan jalan nafas 12. Buka jalan nafas, guanakan teknik chin lift atau
Faktor-Faktor yang berhubungan: yang paten (klien tidak merasa jawthrust bila perlu
Lingkungan : merokok, menghirup tercekik, irama nafas, frekuensi 13. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
asap rokok, perokok pasif-POK, pernafasan dalam rentang 14. Lakukan fisioterapi dada jika perlu
infeksi normal, tidak ada suara nafas 15. Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
Fisiologis : disfungsi abnormal) 16. Berikan bronkodilator bila perlu
neuromuskular, hiperplasia dinding Mampu mengidentifikasi- HE
bronkus, alergi jalan nafas, asma. kan dan mencegah factor yang 17. Ajarkan keluarga bagaimana cara melakukan suksion
Obstruksi jalan nafas : spasme dapat menghambat jalan nafas 18. Anjurkan pasien untuk istirahat dan napas dalam
jalan nafas, sekresi tertahan, setelah kateter dikeluarkan dari nasotrakeal
banyaknya mukus, adanya jalan nafas 19. Informasikan pada klien dan keluarga tentang
buatan, sekresi bronkus, adanya suctioning
eksudat di alveolus, adanya benda
asing di jalan nafas.
2. Ketidakefektifan Pola Nafas Status Pernapasan: Kepatenan Memfasilitasi Jalan Nafas
Definisi Jalan Napas Membuka jalan nafas dengan cara dagu diangkat atau
inspirasi dan atau ekspirasi yang tidak Status Pernapasan: Ventilasi rahang ditinggikan.
menyediakan ventilasi yang adekuat Status Tanda-Tanda Vital Memposisikan pasien agar mendapatkan ventilasi yang
batasan karakteristik Setelah dilakukan tindakan maksimal.
Penurunan kapasitas vital keperawatan ...x24 jam klien Mengidentifikasi pasien berdasarkan penghirupan nafas
Penurunan tekanan inspirasi dapat menunjukkan efektifnya yang potensial pada jalan nafas
Penurunan tekanan ekspirasi pola nafas dengan kriteria hasil: Memberikan terapi fisik pada dada
Perubahan gerakan dada Klien tidak menunjukkan sesak Mengeluarkan sekret dengan cara batuk atau
Napas dalam nafas penyedotan
Napas cuping hidung Tidak adanya suara nafas Mendengarkan bunyi nafas, mancatat daerah yang
Fase ekspirasi yang lama tambahan mangalami penurunan atau ada tidaknya ventilasi dan
Penggunaan otot-otot bantu untuk Klien menunjukkan frekuensi adanya bunyi tambahan
bernapas nafas dalam rentang normal Memberikan oksigen yang tepat
Faktor yang berhubungan Perkembangan dada simetris Pemantauan pernafasan
Posisi tubuh Tidak menggunakan otot Monitor tingkat, irama, kedalaman, dan upaya bernapas
Deformitas dinding dada pernafasan tambahan Catat pergerakan dada, lihat kesimetrisan, penggunaan
Kerusakan kognitif otot bantu, dan retraction otot intercostals dan
Kerusakan muskuloskeletal supraclavicular
Disfungsi neuromuskular Palpasi ekspansi paru-paru di kedua sisi (kiri-kanan)
Tentukan kebutuhan untuk suction
Monitor bila ada kelelahan dari otot diafragma
Lakukan pengobatan terapi pernapasan (seperti
nebulizer) jika dibutuhkan
Peningkatan Batuk
Memeriksa hasil tes fungsi paru-paru, bagian dari
kapasitas vital, kekuatan inspirasi maksimal, kekuatan
volume ekspirasi dalam 1 detik (FEV1), dan
FEV1/FVO2
Pada waktu pasien batuk, perut bagian bawah xiphoid
dipadatkan dengan telapak tangan ketika membantu
pasien untruk fleksi
Menginstruksikan pasien untuk batuk yang dimulai
dengan penghirupan nafas secara maksimal
Ventilasi Mekanik
Memeriksa kelelahan otot pernafasan
Memeriksa gangguan pada pernafasan
Merencanakan dan mengaplikasikan ventilator
Memeriksa ketidakefektifan ventilasi mekanik baik
keadaan fisik maupun mekanik
Memastikan pertukaran ventilasi setiap 24 jam
Pemeriksaan Tanda-tanda Vital
Memeriksa tekanan darah ,nadi, suhu tubuh, dan
pernapasan dengan tepat.
Mencatat kecenderungan dan pelebaran fluktuasi dalam
tekanan darah.
Mendengarkan dan membandingkan bunyi tekanan
darah di kedua lengan dengan tepat.
Memeriksa dengan tepat tekanan darah denyut nadi,
dan pernapasan sebelum, selama, dan sesudah
beraktivitas.
Kolaborasi
Pemberian obat anti lumpuh, obat bius, dan narkotik
analgesic
HE
Menginstruksikan bagaimana batuk yang efektif
Mengajarkan pasien bagaimana penghirupan
3. Gangguan Pertukaran gas - Respiratory Status : Gas exchange Airway Management
Definisi : Kelebihan atau kekurangan
- Respiratory Status : ventilation 1. Buka jalan nafas, guanakan teknik chin lift atau jaw thrust
dalam oksigenasi dan atau pengeluaran
- Vital Sign Status bila perlu
karbondioksida di dalam membran kapiler
Setelah dilakukan tindakan keperawatan
2. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
alveoli selama ...x24 jam diharapkan tidak terjadi
3. Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas
Batasan karakteristik : gangguan pertukaran gas dengan Kriteria buatan
- Gangguan penglihatan Hasil : 4. Pasang mayo bila perlu
- Penurunan CO2 - Mendemonstrasikan peningkatan
5. Lakukan fisioterapi dada jika perlu
- Takikardi ventilasi dan oksigenasi yang adekuat 6. Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
- Hiperkapnia - Memelihara kebersihan paru paru dan
7. Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
- Keletihan bebas dari tanda tanda distress
8. Lakukan suction pada mayo
- Somnolen Pernafasan 9. Berika bronkodilator bial perlu
- Iritabilitas - Mendemonstrasikan batuk efektif dan
10. Barikan pelembab udara
- Hypoxia suara nafas yang bersih, tidak ada
11. Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan.
- Kebingungan sianosis dan dyspneu (mampu
12. Monitor respirasi dan status O2
- Dyspnoe mengeluarkan sputum, mampu
13. Respiratory Monitoring
- nasal faring bernafas dengan mudah, tidak ada
14. Monitor rata – rata, kedalaman, irama dan usaha respirasi
- AGD Normal pursed lips) 15. Catat pergerakan dada,amati kesimetrisan, penggunaan
- sianosis - Tanda tanda vital dalam rentang norma otot tambahan, retraksi otot supraclavicular dan intercostal
- warna kulit abnormal (pucat, 16. Monitor suara nafas, seperti dengkur
kehitaman) 17. Monitor pola nafas : bradipena, takipenia, kussmaul,
- Hipoksemia hiperventilasi, cheyne stokes, biot
- hiperkarbia 18. Catat lokasi trakea
- sakit kepala ketika bangun 19. Monitor kelelahan otot diagfragma (gerakan paradoksis)
- frekuensi dan kedalaman nafas 20. Auskultasi suara nafas, catat area penurunan / tidak
abnormal adanya ventilasi dan suara tambahan
21. Tentukan kebutuhan suction dengan mengauskultasi
- Faktor faktor yang berhubungan : crakles dan ronkhi pada jalan napas utama
- Ketidakseimbangan perfusi ventilasi 22. auskultasi suara paru setelah tindakan untuk mengetahui
- Perubahan membran kapiler-alveolar hasilnya
4. Resiko Ketidakseimbangan nutrisi Setelah dilakukan tindakan Nutritiont Management
tubuh : kurang dari kebutuhan keperawatan selama ...x24 jam klien 1. Kaji makanan yang disukai oleh klien
tubuh menunjukkan nutrisi sesuai dengan 2. Kaji adanya alergi makanan
Definisi kebutuhan tubuh dengan kriteria 3. Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori.
Ketidakseimbangan nutrisi adalah hasil: 4. Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi
resiko asupan nutrisi yang tidak Laporkan nutrisi adekuat yang dibutuhkan
mencukupi kebutuhan metabolik. Masukan makanan dan cairan 5. Pantau adanya mual atau muntah.
Batasan Karakteristik adekuat 6. Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat
Persepesi ketidakmampuan untuk Energi adekuat untuk mencegah konstipasi
mencerna makanan. Massa tubuh normal 7. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah
Kekurangan makanan Ukuran biokimia normal kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien.
Tonus otot buruk Dengan skala : 8. Berikan makanan yang terpilih ( sudah dikonsultasikan
Kelemahan otot yang berfungsi 1 = Sangat kompromi dengan ahli gizi)
untuk menelan atau mengunyah 2 = Cukup kompromi 9. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk diet yang tepat bagi
Faktor yang berhubungan 3 = Sedang kompromi anak dengan sindrom nefrotik.
Ketidakmampuan untuk menelan 4 = Sedikit kompromi Weight Management
atau mencerna makanan atau 5 = Tidak kompromi 10. Diskusikan bersama pasien mengenai hubungan
menyerap nurtien akibat faktor antara intake makanan, latihan, peningkatan BB dan
biologi : penurunan BB.
Penyakit kronis 11. Diskusikan bersama pasien mengani kondisi medis
Kesulitan mengunyah atau menelan yang dapat mempengaruhi BB
12. Diskusikan bersama pasien mengenai kebiasaan,
gaya hidup dan factor herediter yang dapat mempengaruhi
BB
13. Diskusikan bersama pasien mengenai risiko yang
berhubungan dengan BB berlebih dan penurunan BB
14. Perkirakan BB badan ideal pasien
Weight reduction Assistance
15. Fasilitasi keinginan pasien untuk menurunkan BB
16. Perkirakan bersama pasien mengenai penurunan BB
17. Tentukan tujuan penurunan BB
18. Beri pujian/reward saat pasien berhasil mencapai tujuan
HE
19. Dorong pasien untuk merubah kebiasaan makan
20. Ajarkan pemilihan makanan
21. Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe
22. Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan
vitamin C
23. Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
24. Anjurkan klien untuk makan sedikit namun sering.
25. Anjurkan keluarga untuk tidak membolehkan anak
makan-makanan yang banyak mengandung garam.
5. hipertermi Thermoregulation Fever treatment
Definisi : suhu tubuh naik diatas - Monitor suhu sesering mungkin
rentang normal Setelah dilakukan tindakan - Monitor warna dan suhu kulit
keperawatan selama 1x24 jam - Monitor tekanan darah, nadi dan RR
Batasan Karakteristik: diharapkan suhu tubuh kembali - Monitor penurunan tingkat kesadaran
- kenaikan suhu tubuh diatas rentang normal dengan Kriteria Hasil : - Monitor WBC, Hb, dan Hct
normal - Suhu tubuh dalam rentang - Monitor intake dan output
- serangan atau konvulsi (kejang) normal - Berikan anti piretik
- kulit kemeraha - Nadi dan RR dalam rentang - Berikan pengobatan untuk mengatasi penyebab
- pertambahan RR normal demam
- takikardi - Tidak ada perubahan warna - Selimuti pasien
- saat disentuh tangan terasa hangat kulit dan - Berikan cairan intravena
tidak ada pusing - Kompres pasien pada lipat paha dan aksila
Faktor faktor yang berhubungan : - Tingkatkan sirkulasi udara
- penyakit/ trauma - Berikan pengobatan untuk mencegah terjadinya
- peningkatan metabolisme menggigil
- aktivitas yang berlebih Temperature regulation
- pengaruh medikasi/anastesi - Monitor suhu minimal tiap 2 jam
- ketidakmampuan penurunan - Rencanakan monitoring suhu secara kontinyu
kemampuan untuk berkeringat - Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
- terpapar dilingkungan panas - Ajarkan pada pasien cara mencegah keletihan akibat
- dehidrasi panas
- pakaian yang tidak tepat Vital sign Monitoring
- Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
- Catat adanya fluktuasi tekanan darah
- Monitor pola pernapasan abnormal
- Monitor suhu, warna, dan kelembaban kulit
- Monitor sianosis perifer
- Identifikasi penyebab dari perubahan vital sign
6. Nyeri akut NOC : NIC
Definisi: Pain Level, Pain Management
Sensori yang tidak menyenangkan pain control, 1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif
dan pengalaman emosional yang comfort level termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi,
muncul secara aktual atau potensial kualitas
kerusakan jaringan atau Tujuan dan kriteria hasil : 2. dan faktor presipitasi
menggambarkan adanya kerusakan Setelah dilakukan tindakan 3. Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
(Asosiasi Studi Nyeri keperawatan selama 2 x 24 jam, 4. Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri
Internasional):serangan mendadak nyeri berkurang atau terkontrol. 5. Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan
atau pelan intensitasnya dari ringan Mampu mengontrol nyeri intervensi
sampai berat yang dapat diantisipasi (tahu penyebab nyeri, mampu 6. Monitor penerimaan klien tentang manajemen nyeri
dengan akhir yang dapat diprediksi Menggunakan tehnik 7. Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk
dan dengan durasi kurang dari 6 nonfarmakologi mengetahui pengalaman nyeri klien
bulan. untuk mengurangi nyeri, 8. Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri
Batasan karakteristik: mencari bantuan) seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan
Mengungkapkan secara verbal Melaporkan bahwa nyeri 9. Kurangi faktor presipitasi nyeri
atau melaporkan dengan isyarat berkurang dengan menggunakan 10. Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
Posisi untuk menghindari nyeri manajemen nyeri 11. Tingkatkan istirahat
Mengkomunikasikan deskriptor Mampu mengenali nyeri 12. Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi,
nyeri (misalnya rasa tidak nyaman). (skala, intensitas, frekuensi dan nonfarmakologi dan inter personal)
Faktor yang berhubungan : tanda nyeri) 13. Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
Agen-agen penyebab cedera Menyatakan rasa nyaman 14. Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan
(misalnya biologis, kimia, fisik dan setelah tindakan nyeri tidak berhasil
psikologis. nyeri berkurang Analgesic Administration
Tanda vital dalam rentang 14. Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan derajat
normal nyeri sebelum pemberian obat
15. Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis, dan
frekuensi
16. Cek riwayat alergi
17. Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian
analgesik pertama kali
18. Pilih analgesik yang diperlukan atau kombinasi dari
analgesik ketika pemberian lebih dari satu
19. Evaluasi efektivitas analgesik, tanda dan gejala (efek
samping)
20. Tentukan pilihan analgesik tergantung tipe dan
beratnya nyeri
21. Tentukan analgesik pilihan, rute pemberian, dan dosis
optimal
22. Pilih rute pemberian secara IV, IM untuk pengobatan
nyeri secara teratur
23. Berikan analgesik tepat waktu terutama saat nyeri
hebat
HE :
24. Instrusikan pasien untuk menginformasikan kepada
peraway jika peredaan nyeri tidak dapat dicapai
25. Informasikan kepada klien tentang prosedur yang
dapat meningkatkan nyeri dan tawarkan strategi koping
yang disarankan.
26. Berikan informasi tentang nyeri, seperti penyebab
nyeri, berapa lama akan berlangsung, dan antisipasi
ketidaknyamanan akibat prosedur
Referensi
Brunner and Suddarth’s. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah Edisi 8
volume 2. Jakarta : EGC.
Mansjoer Arif, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius FKUI :
Jakarta.
Price A, Sylvia, dkk, 2012. Patofisiologi Konsep Klinis dan Proses-Proses Penyakit,
Edisi 6. EGC: Jakarta.
Wilkinson, Judith M. 2011. Buku Saku Diagnosis Keperawatan: diagnosis NANDA,
intervensi NIC, kriteria hasil NOC. Jakarta: EGC.

A. Data Umum

1. Identitas klien

Nama : An. “K”

Tgl Lahir : 21 Januari 2017

Umur : 9 bulan

BB : 7,3 kg

PB : 69 cm

Jenis kelamin : Perempuan

Alamat : Maleber

Agama : Islam

Diagnosa : ISPA

No. Rm : 027796
2. Identitas Orang Tua

a. Ayah
Nama : Tn. F
Umur : 31 tahun
Agama : Islam
Alamat : maleber
Pekerjaan : Swasta
b. Ibu
Nama : Ny. I
Umur : 28 tahun
Agama : Islam
Alamat : Maleber
Pekerjaan : Swasta

A. Pengkajian
1. Keluhan utama : Batuk pilek semenjak 3 hari
2. Riwayat penyakit dahulu : Klien sebelumnya belum pernah mengalami
penyakit sekarang
3. Riwayat penyakit keluarga : Menurut ibu klien ada juga anggota kelurga yang
pernah mengalami sakit seperti penyakit klien.

B. Pemeriksaan Fisik
1. Aktivitas/istirahat
Kesadaran : Compos Mentis
TTV : S : 36,4 ‘c
P : 50x/i
N : 115xi
2. Pola nutrisi
Sebelum sakit : ibu klien mengatakan anaknya masih meminum asi dan
diberikan menu tambahan makanan lainnya
Semenjak sakit : ibu klien mengatakan anaknya susah mau minum asi
karna batuk
Gejala : Kehilangan nafsu makan
3. Pola eliminasi
Sebelum sakit : ibu klien mengatakan anak K biasa BAB 1 hari sekali
berwarna hijau kecoklatan, dan BAK 2-3 kali sehari mengganti pampers
dengan warna kuning
Setelah sakit : ibu klien mengatakan anak K BAB dan BAK nya masih
sama.

C. Analisa Data
No Data Etiologi Masalah
1 Do : ibu klien mengatakan anak Infeksi oleh Ketidak-
K Batuk pilek semenjak 3 hari Mikroorganisme efektifan
Bakteri menyebar dan pola nafas
Ds : TTV menginfeksi saluran
S : 36,4 ‘c pernafasan
P : 50x/i
N : 115xi Batuk
D. INTERVENSI
No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional
1 diagnosa Pola nafas 1.observasi tanda- Posisi ternyaman
1 kembali efektif tanda vital adanya kline dengan
dengan kriteria cyanosis, serta orang tua dapat
usaha nafas pola pernafasan membuat klien
kembali normal 2.berikan posisi merasa aman dan
dan ternyaman klien tidak rewel.
meningkatnya dengan ibu klien Mempertahankan
suplai oksegen ke 3.pertahankan jalan nafas untuk
paru-paru jalan nafas memperbaiki
4.anjurkan untuk ventilasi.
tidak memberikan
minum selama Agar tidak terjadi
periode tachypnea aspirasi
5. kolaborasi
E. IMPLEMENTASI

Dx Intervensi Implementasi Evaluasi Hari/tgl/jam


TTD
1 Intervensi 1.mengobservasi tanda 1.tidak terdapat tanda-
1 tanda vital S : 36,4 ‘c tanda sianosis
P : 48x/i
N : 110x/i
Intervensi Memberikan posisi yang 2. kedua orang tua
2 nyaman dengan cara klien mengikuti
mendekatka anggota anjuran
keluarga dengan klien agar
anak merasa nyaman.
Intervensi Memberikan dan
3 menganjurkan ibu atau 3. ibu dapat mengerti
anggota keluarga agar tidak dengan anjuran yang
memberikan minum selama diberikan
periode tachypnea, dan terus
memberikan asi setelah
periode tacypnea untuk
memenuhi kebutuhan nutrisi
dan cairan anak.
Intervensi Kolaborasi dalam
4 pemberian antibiotik dengan Orang tua klien
dokter jaga mendapatkan resep
oleh dokter
BAB VI
DAFTAR PUSTAKA