Anda di halaman 1dari 66

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Proyek konstruksi adalah suatu rangkaian kegiatan yang sifatnya hanya
dilakukan satu kali. Pada umumnya proyek konstruksi memiliki jangka waktu yang
pendek. Di dalam rangkaian kegiatan proyek konstruksi tersebut, bisanya terdapat
suatu proses yang berfungsi untuk mengolah sumber daya proyek sehingga dapat
menjadi suatu hasil kegiatan yang menghasilkan sebuah bangunan. Adapun proses
yang terjadi dalam rangkaian kegiatan tersebut tentunya akan melibatkan pihak –
pihak yang terkait baik secara langsung maupun tidak langsung. Dengan terlibatnya
banyak pihak dalam sebuah proyek konstruksi maka hal ini dapat menyebabkan
potensi terjadinya konflik juga sangat besar sehingga dapat diambil sebuah
kesimpulan bahwa proyek konstruksi sebenarnya mengandung konflik yang cukup
tinggi juga.
Manajemen proyek adalah penerapan ilmu pengetahuan, keahlian dan
keterampilan, cara teknis yang terbaik dan dengan sumber daya yang terbatas, untuk
mencapai sasaran dan tujuan yang telah ditentukan agar mendapatkan hasil yang
optimal dalam hal kinerja biaya, mutu dan waktu. (Abrar Husen. 2010 : 5).
Untuk mencapai sebuah kesuksesan dalam sebuah proyek, maka sebagai
pengelola proyek terutama proyek manajernya harus memahami kegiatan bidang
utama manajemen proyek dan melaksanakan serta menerapkan unsur – unsur
manajemen sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan dalam melaksanakan proyek,
dimana unsur – unsur manajemen yang harus di terapkan yaitu PDCA.
1. Perencanaan (Plan)
2. Pelaksanaan (Do)
3. Kontrol (Cheek)
4. Tindakan (Action)
Perencanaan harus dibuat dengan cermat, lengkap, terpadu dan dengan
tingkat kesalahan paling minimal. Namun hasil dari perencanaan bukanlah
dokumen yang bebas dari koreksi karena sebagai acuan bagi tahapan pelaksanaan
dan pengendalian, perencanaan harus terus disempurnakan secara iterative untuk
menyesuaikan dengan perubahan dan perkembangan yang terjadi pada proses
selanjutnya. (Abrar Husen. 2010 : 3).
Sehingga pada proposal tugas akhir ini penulis akan menulis perencanaan
pelaksanaan pekerjaan, agar tercapainya waktu, biaya dan target sebagaimana
diterapkan akan dapat tercapai dengan judul “Perencanaan Pelaksanaan pada
Proyek Konstruksi” Studi Kasus Pada Proyek Jembatan Kali Jangkok, Nusa
Tenggara Barat).
1.2 Tujuan Perencanaan
Adapun tujuan dari perencanaan peningkatan pada proyek ini adalah untuk
merencanakan jadwal prestasi Proyek Peningkatan Struktur Jembatan Tukad
Keladian.
1.3 Manfaat Perencanaan
Adapun manfaat dari perencanaan peningkatan proyek ini adalah sebagai
pedoman dalam pelaksanaan proyek peningkatan Struktur Jembatan Tukad
Keladian adalah :
1. Manfaat Akademik
Agar Mahasiswa Teknik Universitas Warmadewa dapat
memahami tentang konstruksi jembatan di bidang teknik sipil.
2. Manfaat Praktis
Sebagai masukan kepada pihak kontraktor dalam perencanaan
peningkatan struktur jembatan.
1.4 Batasan Perencanaan
Dalam Perencanaan Pelaksanaan pada Proyek Peningkatan Jembatan Tukad
Keladian, penulis batasi pada peningkatan bangunan atas, yang terdiri dari
perencanaan method, man, material, machine, money, and time.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Perencanaan Proyek
Perencanaan sangat penting di dalam pelaksanaan proyek. Perencanaan
yang tidak sesuai akan mengakibatkan kesulitan di dalam pelaksanaan. Oleh sebab
itu, perencanaan proyek harus sesuai dengan batasan yang dimiliki (biaya, jadwal,
mutu) dan tujuan yang ingin dicapai. (Nurhayati, 2010 : 28). Berikut ini adalah
beberapa fungsi perencanaan proyek.
1. Sebagai sarana komunikasi bagi seluruh pihak terkait.
2. Merupakan dasar dalam pengalokasian sumber daya.
3. Merupakan tolak ukur di dalam pengendalian.
Pada perencanaan proyek, tahapan – tahapan yang dilakukan adalah sebagai
berikut :
1. Penetapan Tujuan
Pada tahap ini ditentukan tujuan pelaksanaan proyek, yang diinginkan
serta waktu, biaya, dan target.
2. Urutan Kerja
Tahapan ini berbasis seluruh urutan dan deskripsi pekerjaan yang perlu
dilakukan untuk mecapai tujuan proyek.
3. Perancangan Organisasi Proyek
Perancangan organisasi proyek dilakukan untuk menentukan dapertemen
– dapertemen yang diperlukan di dalam pelaksanaan proyek,
subkontraktor yang dibutuhkan dan menejer proyek yang bertanggung
jawab terhadap aktifitas pekerjaan yang ada.
4. Jadwal Kegiatan
Jadwal kegiatan berisi waktu pelaksanaan setiap aktifitas, dan batas
selesai.
5. Rencana Anggaran dan Sumber Daya
Perencanaan ini berisi jumlah anggaran dan sumber daya yang
dibutuhkan untuk terlaksananya tujuan proyek.
2.2 Proyek Konstruksi
Sebuah proyek dapat diartikan sebagai upaya atau aktifitas yang
diorganisasikan untuk mencapai tujuan, sasaran, dan harapan – harapan penting
dengan menggunakan anggaran dana serta sumber daya yang tersedia yang harus
diselesaikan dalam jangka waktu tertentu. Khusus untuk proyek Engineering
konstruksi aktifitas utama jenis proyek ini terdiri dari pengkajian kelayakan, desain
Engineer, pengadaan, dan konstruksi. (Nurhayati, 2010 : 4 & 6).
2.2.1 Pengertian Proyek Konstruksi2.3
Proyek konstruksi merupakan suatu rangkaian kegiatan yang saling
berkaitan untuk mencapai tujuan tertentu (bangunan/konstruksi) dalam batasan
waktu, biaya dan mutu tertetu. Proyek konstruksi selalu memerlukan resources
(sumber daya) yaitu man (manusia), material (bahan bangunan), machine
(peralatan), method (metode pelaksanaan), money (uang), information (informasi),
dan time (waktu).
2.2.2 Karakteristik Proyek Konstruksi
Proyek konstruksi mempunyai 3 (tiga) karakteristik yang dapat dipandang
secara tiga dimensi (Wulfram I. E., 2002 : 10) yaitu :
1. Bersifat unik
Keunikan dari proyek konstruksi adalah tidak pernah ada rangkaian
kegiatan yang sama persis (tidak ada identic, yang ada adalah jenis),
proyek bersifat sementara dan selalu terlibat grup pekerja berbeda –
beda.
2. Dibutuhkan Sumber Daya (resources)
Setiap proyek konstruksi membutuhkan sumber daya seperti
manusia (man), bahan (material), alat kerja (machine), uang (money)
dan metode kerja (method).
3. Organisai
Setiap organisasi proyek mempunyai keragaman tujuan dimana
didalamnya terlibat sejumlah individu dengan keahlian bervariasi dan
ketidak pastian.
2.2.3 Jenis – jenis Proyek Konstruksi
Terdapat 2 (dua) jenis proyek konstruksi yaitu :
1. Bangunan gedung.
Bangunan gedung meliputi :
a. Rumah
b. Kantor
c. Pabrik
d. Dan lain – lain
2. Bangunan sipil
Bangunan sipil meliputi :
a. Jalan
b. Jembatan
c. Bendungan
d. Dan infrastruktur lainnya.
2.3 Perencanaan Pelaksanaan Proyek Konstruksi
Secara teoritis, seharusnya perencanaan pelaksanaan (construction
planning), telah disiapkan pada saat kegiatan proses pemasaran, yaitu proses cost
estimating atau pembuatan harga penawaran proyek berdasarkan dokumen
pengadaan. Karena secara teori, harga penawaran yang diajukan adalah perkiraan
real cost (direct cost) ditambah dengan mark up, untuk biaya tetap perusahaan,
biaya pemasaran, resiko dan cadangan laba proyek (Asiyanto. 2004: 41).
Proses pembuatan estimasi biaya, sering diulang bila mendapat angka yang
kurang diinginkan oleh para kontraktor dalam melakukan penawaran (bid price)
atau harga penawaran, oleh karena itu prosesnya merupakan suatu siklus, seperti
terlihat pada Gambar 2.1, (Asiyanto, 2002: 45), yaitu :
Gambar 2. 1 Siklus perhitungan biaya proyek
Sumber : Asiyanto, 2002:45
Di dalam praktek, keren terbatasnya waktu, perkiraan real cost (direct cost)
masih belum akurat, sehingga untuk pedoman pelaksanaan perlu disusun kembali
“Perencanaan pelaksanaan (construction planning)” yang lebih detail, lebih
akuratdan lebih realistic. Dalam hal ini berarti perencanaan pelaksanaan
(construction planning) dibuat setelah mendapatkan surat perintah kerja, maka
perencanaan pelaksanaan (construction planning) dibuat berdasarkan dokumen
kontrak yang ada.
2.4 Perencanaan Pelaksanaan Proyek Konstruksi yang Terpadu
Perencanaan pelaksanaan (construction planning) proyek konstruksi yang
terpadu (Asiyanto. 2001 : 41), yaitu terdiri dari :
1. Time schedule pekerjaan (jadwal waktu pelaksanaan pekerjaan).
2. Construction method (metode pelaksanaan yang dipilih untuk
pelaksanaan pekerjaan).
3. Anggaran biaya pelaksanaan pekerjaan (termasuk didalamnya
kontribusi proyek terhadap biaya tidak langsung dan cadangan laba
proyek).
4. Cash flow (konsekuensi untuk dapat melaksanakan pekerjaan sesuai
program yang telah disusun, yaitu arus uang masuk dan uang keluar,
yang tergambar dalam cash flow.
Sebaiknya atau bahkan seharusnya suatu proyek baru dapat dimulai bila
telah tersedia/selesai perencanaan pelaksanaanya. Namun demikian karena
biasanya titik awal waktu pelaksanaan ditetapkan oleh pemilik proyek (owner),
sedang saat itu perencanaan pelaksanaanya belum selesai (belum disahkan oleh Top
Manajemen), maka untuk kasus – kasus seperti ini harus ada kebijakanbataswaktu
yang masih dapat diterima/ditolerir untuk menggunakan draft perencanaan
pelaksanaan (construction planning), terutama untuk anggaran biaya pelaksanaan
sebagai pedoman sementara.
Keempat produk perencanaan pelaksanaan (construction planning) tersebut
diatas perlu pengesahan sebelum dipergunakan sebagai pedoman pelaksanaan,
yaitu :
1. Time schedule pekerjaan Construction method, perlu disahkan/setujui
oleh pemilik proyek (owner) atau yang mewakilinya.
2. Anggaran biaya pelaksanaan pekerjaan dan Cash flow, perlu
disahkan/setujui oleh pimpinan perusahaan (bersifat item).
Hal diatas merupakan merupakan wujud dari dua janji yang harus dipenuhi
oleh manajer proyek, yaitu :
1. Janji kepada pemilik proyek (owner).
2. Janji kepada perusahaan.
Pada prakteknya, keempat perencanaan pelaksanaan (constrction planning)
tersebut selalu dievaluasi setiap periode tertentu dan bahkan mungkin perlu suatu
revisi yang harus dilakukan dalam rangkan tetap mempertahankan sasaran yang
ingin dicapai.
Perencanaan pelaksanaan (constrction planning) yang dibuat merupakan
tolok ukur dalam merealisasikan janji. Oleh karena itu, semua produk perencanaan
pelaksanaan (construction planning) harus dibuat realistik, sesuai dengan
kemampuan perusahaan serta kondisi lingkungan yang mempengaruhinya.
2.5 Metode Pelaksanaan Pekerjaan
Metode pelaksanaan konstruksi pada hakekatnya adalah penjabaran tata
cara dan teknik – teknik pelaksanaan pekerjaan, merupakan inti dari seluruh
kegiatan dalam system manajemen konstruksi.
Metode pelaksanaan konstruksi merupakan kunci untuk dapat mewujudkan
seluruh perencanaan menjadi bentuk bangunan fisik. Pada dasarnya metode
pelaksanaan konstruksi merupakan penerapan konsep rekayasa berpijak pada
keterkaitan antara persyaratan dalam dokumen pelelangan (dokumen pengadaan),
keadaan teknis dan ekonomis yang ada dilapangan, dan seluruh sumber daya
termasuk pengalaman kontraktor, (Dipohudoso, I. 2004 : 363).
Kombinasi dan keterkaitan ketiga elemen secara interaktif membentuk
kerangka gagasan dan konsep metode optimal yang diterapkan dalam pelaksanaan
konstruksi. Konsep metode pelaksanaan mencangkup pemeliharaan dan penetapan
yang berkaitan dengan keseluruhan segi pekerjaan termasuk kebutuhan sarana dan
prasarana yang bersifat sementara sekalipun. Adapun bagan hubungan antara
dokumen pelelangan, keadaan teknis serta sumber daya kontraktor, dapat dilihat
pada gambar 2.2 berikut :

Gambar 2. 2 interaksi antar elemen dalam metode pelaksanaan


Sumber : Dipohusudo, I. 2004 : 363
Teknologi konstruksi (constrction technology) mempelajarimetode atau
teknik yang digunakan untuk mewujudkan bangunan fisik dalam lokasi proyek.
Technology berasal dari kata techno dan logic. Logic dapat diartikan sebagai urutan
dari setiap langkah kegiatan (prosedur), sedangkan techno adalah cara yang harus
digunakan secara logic, (Wulfram I. E., 2002 : 1).
Metode pelaksanaan pekerjaan atau biasa disingkat “CM” (Construction
Method), merupakan urutan pelaksanaan pekerjaan yang logis dan teknik
sehubungan dengan tersedianya sumber daya yang dibutuhkan oleh kondisi medan
kerja, guna memperoleh cara pelaksanaan yang efektif dan efisien.
Metode pelaksanaan pekerjaan tersebut, sebenernya dibuat oleh kontraktor
yang bersangkutan pada waktu membuat maupun mengajukan penawaran
pekerjaan. Dengan demikian “CM” (Construction Method) tersebut minmal telah
teruji pada saat dilakukan klarifikasi atas dokumen tendernya atau Construction
Method (CM) – nya. Namun demikian, tidak tertutup kemungkinan, bahwa
sebelumnya pelaksanaan atau selama pelaksanaan pekerjaan Construction Method
(CM), tersebut perlu atau harus diubah (Syah. M.S. 2004 : 113).
2.5.1 Dokumen Metode Pelaksanaan Pekerjaan
Dokumen metode pelaksanaan pekerjaan proyek konstruksi (Syah, M.S.
2004 : 113), pada umumnya terdiri dari :
1. Project plant, dimana dokumen ini memuat antara lain :
a. Denah fasilitas proyek (jalan kerja, bangunan fasilitas, dan lain –
lain).
b. Lokasi pekerjaan.
c. Jarak angkut.
d. Komposisi alat.
e. Kata – kata singkat (bukan kalimat panjang, dan jelas mengenai
urutan pekerjaan).
2. Sket atau gambar bantu, merupakan penjelasan pelaksanaan pekerjaan.
3. Uraian pelaksanaan pekerjaan, yang meliputi :
a. Urutan pelaksanaan seluruh pekerjaan dalam rangka
menyelesaikan proyek (urutan secara global).
b. Urutan pelaksanaan per pekerjaan atau per kelompok pekerjaan,
yang perlu penjelasan lebih detail.
4. Perhitungan kebutuhan tenaga kerja dan jadwal kebutuhan tenaga
kerja.
5. Perhitungan kebutuhan material/bahan dan jadwal kebutuhan
material/bahan.
6. Perhitungan kebutuhan peralatan konstruksi dan jadwal kebutuhan
peralatan.
7. Dokumen lainnya sebagai penjelasan dan pendukung perhitungan dan
kelengkapan lainnya.
2.5.2 Metode Pelaksanaan Pekerjaan yang Baik
Metode pelaksanaan pekerjaan proyek konstruksi yang baik apabila
memenuhi persyaratan (Syah, M.S. 2004 : 114), yaitu :
1. Memenuhi persyaratan teknis, yang memuat antara lain :
a. Dokumen metode pelaksanaan pekerjaan proyek konstruksi lengkap
dan jelas memenuhi informasi yang dibutuhkan.
b. Bias dilaksanakan dan efektif (efisien dan efektif).
2. Memenuhi persyaratan sesuai dengan anggaran biaya, yaitu sesuai
dengan biaya yang dianggarkan dalam proyek.
3. Memenuhi pertimbangan non teknis lainnya, yang memuat antara lain :
a. Dimungkinkan untuk diterapkan di lokasi proyek dan di setujui atau
tidak ditentang oleh lingkungan ke empat.
b. Rekomendasi dan policy dari pemilik proyek.
c. Disetujui oleh sponsor proyek atau direksi perusahaan, apabila hal itu
merupakan alternatif pelaksanaan yang istimewa dan riskan.
4. Merupakan alternatif/pilihan yang terbaik dari beberapa alternatif yang
lebih di perhitungkan dan di pertimbangkan.
5. Manfaat positif construction method
a. Memberikan arahan dan pedoman yang jelas atas urutan dan fasilitas
penyelesaian.
b. Merupakan acuan/dasar pola pelaksanaan pekerjaan dan menjadi satu
kesatuan dokumen prosedur pelaksanaan pekerjaan di proyek.
2.5.3 Faktor yang Mempengaruhi Metode Pelaksanaan Pekerjaan
Dimana metode pelaksanaan proyek konstruksi, dalam mengembangkan
alternatifnya, dipengaruhi oleh hal – hal (Asiyanto, 2002 : 77), sebagai berikut:
a. Desain bangunan.
b. Medan/lokasi pekerjaan.
c. Ketersediaan dari tenagakerja, bahan, dan peralatan.
Oleh karena faktor – faktor yang mempengaruhi tersebut diatas, maka
kadang – kadang metode pelaksanaan hanya memiliki alternatif yang terbatas. Bila
kendalanya ada pada desain bangunan, maka dapat dimintakan usulan kepada
pemilik bangunan (owner), sejauh menguntungkan semua pihak.
Karena itu metode pelaksanaan pekerjaan proyek konstruksi tidak dapat
distandarkan seperti pada pabrik manufaktur, tetapi selalu disesuaikan terhadap hal
– hal yang mempengaruhi tersebut diatas dalam rangka menempati unsur – unsur
BMW-KUPUAS. Metode pelaksanaan itu sendiri selalu di kembangkan dalam
rangka mencapai peningkatan efisiensi dan kemudahan dalam pelaksanaan,
(Asiyanto, 2004 : 50).
2.5.4 Peran Metode Pelaksanaan Pekerjaan
Peran metode pelaksanaan pekerjaan proyek konstruksi adalah menyusun
cara – cara kerja dalam melaksanakan suatu pekerjaan dan suatu cara untuk
memenuhi, menentukan sarana – sarana pekerjaan yang mendukung terlaksananya
suatu pekerjaan misalnya menetapkan, memilih peralatan yang akan digunakan
dalam pekerjaan yang sesuai dengan jenis pekerjaan yang efektif dan efisien dalam
biaya operasi. Cara kerja juga dapat membantu dalam menentukan urutan
pekerjaan, menyusun jadwal sehingga dapat menentukan penyelesaian suatu
pekerjaan.
Peranan metode pelaksanaan pekerjaan proyek konstruksi akan
mempengaruhi perencanaan konstruksi (Tisnowardono, N. 2002 : 11) antara lain :
1. Jadwal pelaksanaan.
2. Kebutuhan dan jadwal tenaga kerja.
3. Kebutuhan dan jadwal material.
4. Kebutuhan dan jadwal alat.
5. Jadwal prestasi dengan metode kurva – S (S – Curve).
6. Cara – cara pelaksanaan pekerjaan.
Proses penyusunan metode pelaksanaan merupakan hasil pembahasan,
diskusi, refriensi dari berbagai sumber, dan dituangkan dalam bentuk gambar kerja
serta urutan – urutan pelaksanaan pekerjaan (procedur, work instruction) yang
menjadi acuan dalam pelaksanaan setiap pekerjaan.
2.5.5 Penentuan Metode Pelaksanaan Pekerjaan
Tahap pertama sebelum memulai suatu pelaksanaan proyek konstruksi,
harus ditentukan terlebih dahulu suatu metode untuk melaksanakannya. Dalam
skala organisasi suatu proses perencanaan pelaksanaan proyek konstruksi, sangat
penting untuk menentukan metode konstruksi terlebih dahulu, karena jenis setiap
metode konstruksi akan memberikan karakteristik pekerjaan berbeda. Penentuan
jenis metode konstruksi yang dipilih akan sangat membantu menentukan jadwal
proyek. (Sidharta. K. dkk., 1998 : 49).
Metode konstruksi yang berbeda akan memberikan ruang lingkup pekerjaan
yang berbeda pula, yang mempunyai pertimbangan finansial dalam bentuk biaya.
Ada factor – factor yang mempengaruhi jenis ruang lingkup pekerjaan yang perlu
di perhatikan dan di pertimbangkan, yaitu :
1. Sumber daya manusia dengan skiil yang cukup untuk melaksanakan
suatu metode pelaksanaan konstruksi.
2. Tersedianya peralatan penunjang pelaksanaan metode konstruksi yang
dipilih.
3. Material cukup tersedia.
4. Waktu pelaksanaan yang maksimum disbanding pilihan metode
konstruksi lainnya.
5. Biaya yang bersaing.
2.6 Jaringan Kerja atau Work Breakdown Structure (WBS)
Setelah proyek konstruksi didefinitifkan, kemudian dilanjutkan dengan
penentuan metode konstruksi yang dipilih, maka tahap berikutnya adalah
merencanakan jabaran pekerjaan yang umum disebut Work Breakdown Structure
(WBS).
Salah satu fungsi Work Breakdown Structure (WBS) adalahdari segi
penampang resiko. Dengan membagi lingkup proyek menjadi jumlah paket kerja,
berarti kemungkinan dapat mengisolasi suatu resiko hanya pada satu itemWBS
yang besangkutan.
Untuk contoh model susunan jabaran kerja (Work Breakdown Structure –
WBS) pada proyek pembuatan jaringan Air Bersih, (Sidharta. K.dkk. 1998 : 49),
adalah seperti gambar 2.3 berikut :

Gambar 2. 3 Lingkup dan urutan kegiatan dalam pekerjaan (work Brekdown


Structure – WBS)
2.7 Tabel Analisa Organisasi Proyek (Organization Analysis Table – AOT)
Organization Analysis Table (OAT) ini disusun dengan tujuan
mempermudah pengelolaan dan alokasi SDM sesuai dengan tenggung jawab dalam
organisasi proyek. Keberhasilan penyelenggaraan proyek biasanya dihitung oleh
organisasi dengan susunan dan program kerja, yang sasaran serta tujuannya tertata
dengan baik.
Untuk contoh model AOT, yang disesuaikan dengan model WBS pada
proyek pembuatan jaringan air bersih, pada pembahasan sebelumnya, (Sidharta.
K.dkk. 1998 : 51), adalah seperti gambar 2.4 berikut :
Gambar 2. 4 Model Tabel Analisa Organisasi Proyek (Organization Analysis
Table – OAT) yang di sesuaikan dengan WBS pada gambar 2.4
2.8 Hubungan WBS,AOT, dan Durasi Kegiatan
Hal yang penting diingat saat menyusun perencanaan WBS dan OAT,
adalah keduanya harus sepadan (matching). Langkah selanjutnya dalam
perencanaan jaringan kerja adalah alokasi sumber daya yang meliputi : pekerja,
peralatan dan material. Dari metode konstruksi dan sumber daya yang sudah
ditetapkan dapat dihitung durasi kegiatan dan harga satuan. Untuk jelasnya
diberikan diagram alir hubungan antara WBS, OAT, analisa harga satuan, dan
perkiraan durasi kegiatan.
Untuk contoh model susunan hubungan WBS (work Breakdown Structure),
OAT (Organization Analysis Table) dan durasi kegiatan, (Sidharta. K.dkk. 1998 :
53), seperti pada gambar 2.5 berikut :
Gambar 2. 5 Diagram alir proses perhitungan perkiraan durasi dengan
menggunakan WBS, OAT, Analisa Harga Satuan dan Volume pekerjaan.
Sumber : H.N. Ahuja : “Construction Performance Control By network”, John
Wiley & Son, New York. 1976, dalam Sidharta. K.dkk. 1998 : 53
2.9 Menentukan Kebutuhan Komposisi Sumber Daya Manusia sesuai
Keahlian dan Kebutuhan Kepastian Sumber Daya Manusia Persatuan
Volume Pekerjaan.
Menentukan kebutuhan komposisi sumber daya manusia sesuai dengan
keahliannya dan kebutuhan kepastian sumber daya manusia persatuan volume
pekerjaan harus memperhatikan WBS (Work Breakdown Structure) untuk masing
– masing kegiatan. Sebagai contoh untuk pekerjaan :
1. Pekerjaan Drainase
Galian Untuk Selokan Drainase dan saluran air
0.0302 hr. Pekerja
0.0076 hr. Mandor
2. Pekerjaan Tanah
A. 1m3 Galian Perkerasan beraspal tanpa cold milling machine
0.3333 hr. Pekerja
0.1667 hr. Mandor
B. 1m3 timbunan pilihan dari sumber galian
2.4294 hr. Pekerja
0.6073 hr. Mandor
3. Pekerjaan Pondasi Perancah dari Beronjong
1m³ Pasangan batu bronjong dengan kawat beronjong 5mm G5𝑐
Merakit dan masang pondasi
0,667 hr. Pekerja
0,027 hr. Mandor
0,500 hr. Tukang Batu
0,015 hr. Kep Tukang Batu
4. Pekerjaan perancah / kuda – kuda F22
A. 1m³ Pekerjaan merakit dan masang perancah
24,00 hr. Pekerja
2,400 hr. Mandor
8,000 hr. Tukang kayu
0,400 hr. Kepala tukang kayu
B. 1m³ Pekerjaan bangkar dan pengangkutan perancah
2,400 hr. Pekerja
0,240 hr. Mandor
0,800 hr. Tukang kayu
0,040 hr. Kepala tukang kayu
5. Pemasangan kabel presstressed polos / strands
1 kg pekerjaan kabel presstressed polos / strands
0,0050 hr. pekerja
0,0050 hr. tukang besi
0,0005 hr. Kepala tukang
0,0003 hr. Mandor
6. Pekerjaan 1m3 Grouting Girder
1,200 hr. pekerja
0,200 hr. tukang batu
0,020 hr. Kep tukang Batu
0,060 hr. Mandor
7. Pekerjaan Perakitan Jacking Hidrolic
2,400 hr. Pekerja
0,240 hr. Mandor
0,800 hr. Tukang kayu
0,040 hr. Kepala tukang kayu
8. Pekerjaan Penurunan Girder dengan Jacking Hidrolick
0,0050 hr. pekerja
0,0050 hr. tukang besi
0,0005 hr. Kepala tukang besi
0,0003 hr. Mandor
2.10 Perhitungan Volume
Volume tidak lain adalah panjang x lebar x tinggi, namun volume yang
dihitung untuk menyusun anggaran biaya, tidak selalu panjang x lebar x tinggi,
yaitu volume yang dihitung menurut satuan analisa yang akan dipakai. Hal ini
dilakukan agar tidak kesulitan dalam menghitung harga satuan pekerjaan. Apabila
daftar analisanya m2 maka volume pekerjaan tersebut dihitung m2. Dengan
demikian akan terjadi kesamaan dimensi dalam mengalikan volume dengan harga
satuan pekerjaan.
Sebagai contoh, berdasarkan daftar analisa diatas, maka untuk menghitung
volume pekerjaan :
1. pekerjaan galian tanah biasa, maka volume dihitung dengan satuan m3
2. pekerjaan pasangan batu kali, maka volume dihitung dengan satuan m3
3. pekerjaan bekesting, maka volume dihitung dengan satuan m2
4. pekerjaan besi beton, maka volume dihitung dengan satuan kg
2.11 Perhitungan Durasi/Waktu
Dalam perhitungan durasi waktu harus diketahui kebutuhan akan komposisi
sumber daya manusia sesuai keahlian, kebutuhan kepastian sumber daya manusia
dan volume untuk masing – masing Janis pekerjaan, dengan memperhatikan
ketersediaan sumber daya dan metode kerja. Dalam menentukan nilai durasi (d),
salah satunya dapat diambil dari daftar analisa diatas, yaitu :
1. Pekerjaan Drainase
Galian Untuk Selokan Drainase dan saluran air
0.0302 hr. Pekerja
0.76 Mandor
2. Pekerjaan Tanah
B. 1m3 Galian Perkerasan beraspal tanpa cold milling machine
0.3333 hr. Pekerja
0.1667 hr. Mandor
B. 1m3 timbunan pilihan dari sumber galian
2.4294 hr. Pekerja
0.6073 Mandor
3. Pekerjaan Pondasi Perancah dari Beronjong
1m³ Pasangan batu bronjong dengan kawat beronjong 5mm G5𝑐
Merakit dan masang pondasi
0,667 hr. Pekerja
0,027 hr. Mandor
0,500 hr. Tukang Batu
0,015 hr. Kep Tukang Batu
4. Pekerjaan perancah / kuda – kuda F22
A. 1m³ Pekerjaan merakit dan masang perancah
24,00 hr. Pekerja
2,400 hr. Mandor
8,000 hr. Tukang kayu
0,400 hr. Kepala tukang kayu
B. 1m³ Pekerjaan bangkar dan pengangkutan perancah
2,400 hr. Pekerja
0,240 hr. Mandor
0,800 hr. Tukang kayu
0,040 hr. Kepala tukang kayu
5. Pemasangan kabel presstressed polos / strands
1 kg pekerjaan kabel presstressed polos / strands
0,0050 hr. pekerja
0,0050 hr. tukang besi
0,0005 hr. Kepala tukang
0,0003 hr. Mandor
6. Pekerjaan 1m3 Grouting Girder
1,200 hr. pekerja
0,200 hr. tukang batu
0,020 hr. Kep tukang Batu
0,060 hr. Mandor
7. Pekerjaan Perakitan Jacking Hidrolic
2,400 hr. Pekerja
0,240 hr. Mandor
0,800 hr. Tukang kayu
0,040 hr. Kepala tukang kayu
8. Pekerjaan Penurunan Girder dengan Jacking Hidrolick
0,0050 hr. pekerja
0,0050 hr. tukang besi
0,0005 hr. Kepala tukang besi
0,0003 hr. Mandor
Dimana pengertian dari daftar analisa diatas, bahwa 0,113 Mandor, 0,113
Tukang dan 1,112 Pekerja (dalam grup kerja) dapat menyelesaikan 1m3 balok
diafragma fc’ 30 MPa dalam 1 hari kerja (8jam) atau produktifitasnya adalah
1m3 /hari.
Untuk menentukan besarnya durasi (d) untuk masing –masing jenis
pekerjaan dapat dihitung dengan rumus (Anonim, 1998 : 57), berikut :
𝐕 𝐊
d = 𝐏 atau d = 𝐊𝟏 dimana 𝐊 𝟏 = 𝐊 𝐭 x V
𝟐

Dari hasil perhitungan durasi, maka durasi (d) yang dipilih adalah durasi
yang terbesar untuk menyelesaikan item pekerjaan.
Dimana :
d= Durasi
V= volume
P= Produktivitas berdasarkan komposisi dumber daya untuk
menyelesaikan persatuan volume, sesuai daftar analisa (1m3 /hr, 1m2 /hr,
dan 1m′ /hari)
Kt = kebutuhan komposisi sumber daya per satuan volume (sesuai
dengan daftar analisa yang berlaku)
K1 = Kebutuhan komposisi sumber daya keseluruhan
K2 = Komposisi sumber daya yang tersedia
2.12 Penjadwal Waktu Proyek (Schedule)
Perencanaan merupakan bagian terpenting untuk mencapa keberhasilan
proyek konstruksi. Pengaruh dari perencanaan terhadap proyek konstruksi akan
berdampak pada pendapatan dalam proyek itu sendiri. Hak ini dikuatkan dengan
berbagai kejadian dalam proyek konstruksi yang menyatakan bahwa perencanaan
yang baik dapat menghemat ± 40% dari biaya proyek. Dimana jenis – jenis
penjadwalannya yang sering digunakan diantaranya, (Wulfram I. E, 2002 : 154),
yaitu :
1. Diagram batang (bar chat)
2. Diagram jarring panah (Arrow Diagram)
3. Diagram jarring Perseden (PDM – Precedence Diagram Method).
2.12.1 Diagram Batang (Bar Chart)
Rencana kerja yang paling sering dan banyak digunakan adalah diagram
batang (bar chart) atau Gant chart. Diagram batang (bar chart) digunakan secara
luas dalam proyek konstruksi karena sederhana, mudah pembuatannya, dan mudah
dimengerti oleh pemakainya.
Diagram batang (bar chart) adalah sekumpulan daftar kegiatan yang disusun
dalam kolom vertical, sedangkan kolom arah horizontal menunjukkan skala waktu.
Saat dimulai dan akhir dari sebuah dapat dilihat dengan jelas sedangkan durasi
kegiatan digambarkan oleh panjangnya diagram batang.
Proses penyusunan diagram batang (bar chart) dilakukan dengan langkah –
langkah (Wulfram I.E, 2002 : 154), sebagai berikut :
1. Daftar item pekerjaan, yang berisi seluruh jenis kegiatan pekerjaan yang
ada dalam rencana pelaksanaan pembangunan.
2. Urutan pekerjaan, dari item daftar kegiatan itu, disusun urutan
pelaksanaan pekerjaan berdasarkan prioritas, item kegiatan yang akan
dilaksanakan lebih dahulu dan item kegiatan yang akan dilaksanakan
kemudian, tanpa mengesampingkan kemungkinan pelasanaan pekerjaan
secara bersamaan.
3. Waktu pelaksanaan pekerjaan, adalah jangka waktu pelaksanaan dari
seluruh kegiatan yang dihitung dari pemulaan kegiatan sampai dengan
seluruh kegiatan berakhir. Waktu pelaksanaan pekerjaan doperoleh dari
penjumlahan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan setiap item
pekerjaan.
Bentuk dari diagram batang (bar chart) dari sebuah proyek konstruksi
dapat dilihat pada gambar 2.6, berikut :

Gambar 2. 6 bentuk dari diagram batang (bar chart) dari sebuah proyek konstruksi.
Keunggulan dari diagram batang (bar chart) adalah mudah dibuat dan
dipahami. Sangat berfaedah sebagai alat perencanaan dan komunikasi, disamping
itu diagram batang (bar chart) juga mempunyai kelemahan (Soeharto, I, 1995 :
180), yaitu sebagai berikut :
1. Tidak menunjukkan secara spesifik hubungan ketergantungan antara satu
kegiatan dengan yang lain, sehingga sulit untuk mengetahui dampak
yang diakibatkan oleh keterlambatan satu kegiatan terhadap jadwal
keseluruhan proyek.
2. Sukar mengadakan perbaikan atau pembaharuan (updating), karena
umumnya harus dilakukan dengan membuat diagram batang baru,
padahal tanpa adanya perubahan (updating), segera menjadi “kuno” dan
menurun daya gunanya.
3. Untuk proyek berukuran sedang dan besar, lebih – lebih yang bersifat
komplek, penggunaan diagram batang (bar chart) akan menghadapi
kesulitan menyusun sedemikian besar jumlah kegiatan yang mencapai
puluhan ribu, dan memiliki keterkaitan tersendiri diantara mereka,
sehingga mengurangi kemampuan penyajian secara sistematis.
2.12.2 Diagram Jaring Panah (Arrow Diagram).
A. Pengertian
Definisi diagram jaringan kerja (network planning) adalah salah satu model
yang digunakan dalam menyelenggarakan proyek yang produknya adalah informasi
mengenai kegiatan – kegiatan yang ada dalam jaringan kerja (network) proyek yang
bersangkutan. Informasi yang dihasilkan adalah mengenai sumber daya yang
dibutuhkan beserta jadwalnya. (Tubagus H. A, 1990 : 4)
Diagram jarring panah (arrow diagram) atau Activity on arrow (AOA)
terdiri dari anak panah dan lingkaran/segi empat. Anak panah menggambarkan
kegitan/ aktivitas sedangkan lingkaran/segi empat menggambarkan kejadian
(event). Kejadian (event) diawali dari anak panah tersebut “I”, sedangkan kejadian
(event) di akhir anak panah tersebut node “J”.
Setiap diagram jarring panah (Arrow diagram) merupakan satu kesatuan
dari seluruh kegiatan sehingga kejadian (event) “J” kegiatan sebelumnya juga
merupakan kejadian (event) “I” kegiatan berikutnya. Bentuk diagram ini disebut
dengan I-J diagram (Wulfram I. E, 2002 : 161).
B. Manfaat Network Planing
Dalam pelaksanaan proyek konstruksi Network planning sangat
bermanfaat untuk (Soegeng. D. 2005 : 144) :
1. Mengetahui logika ketergantungan dari kegiatan yang satu dengan
kegiatan yang lain.
2. Menunjukkan dengan jelas waktu – waktu penyelesaian yang kritis dan
yang tidak kritis, sehingga memungkinkan untuk mengatur pembagian
usaha dan perhatian.
3. Memberi bantuan yang sangat berharga dalam komunikasi
4. Memungkinkan dapat mencapainya pelaksanaan proyek yang lebih
ekonomis dipandang dari segi pembiayaan.
5. Terdapatnya kepastian dalam penggunaan sumber daya tenaga, bahan,
dan alat.
C. Simbol
Penggambaran network planning manggunakan simbol – simbol yang
dapat berbentuk lingkaran/segi empat dan digunakan asal disertai legenda yang
menjelaskan tentang apa yang dimagsud oleh pembuatnya. Jumlah symbol yang
digunakan dalam sebuah diagram jaringan kerja (network planning), minimum dua
macam dan maksimum tiga macam (Tubagus, H.A, 1990 : 8), yaitu :
1. Anak Panah ( )
Anak panah melambangkan kegiatan. Sebuah kegiatan hanya
dilambangkan sebuah anak panah dan pada umumnya kegiatan
dicantumkan diatas anak panah dan lamanya kegiatan ditulis dibawah anak
panah. Pada umumnya kegiatan dicantumkan ai atas anak panah dan lama
kegiatan dituliskan di bawah anak panah.
2. Lingkaran ( )
Lingkaran yang melambangkan peristiwa selalu digambarkan dengan
lingkaran yang terbagi atas tiga ruangan yaitu :
a. Ruangan sebelah kiri, merupakan tempat bialngan atau huruf yang
menyatakan nomor peristiwa. Nomor peristiwa bias pula dinyatakan
berupa simbol (variabel) dengan n, i, atau j.
b. Ruangan sebelah kanan atas merupakan tempat bilangan yang
menyatakan nomor hari (satuan waktu hari) dan dapat diterjemahkan
kedalam bentuk tanggal hari yang bersangkutan, yang merupakan
saat paling awal peristiwa yang bersangkutan mungkin terjadi.
c. Ruangan kanan bawah merupakan angka bilangan yang menyatakan
nomor hari (satuan waktu hari) saat paling lambat.
3. Anak panah Putus – Putus ( - - - - > )
Anak panah terputus – putus (dummy) melambangkan hubungan antara
peristiwa, dimana antara kegiatan (dummy) tidak membutuhkan waktu.
Oleh karena itu, hubungan antara peristiwa tidak perlu diperhitungkan
dalam perhitungan waktu, lamanya dihitung sama dengan nol.
D. Menyusun Urutan Kegiatan
Dari segi penyusunan jadwal, jaringan kerja dipandang sebagai suatu
langkah penyempurnaan metode bagan balok, karena dapat menyebabkan
pertanyaan yang belum dipecahkan oleh metode tersebut (Soeharto, I. 1995 : 181)
1. Berapa lama perkiraan kurun waktu untuk penyelesaian proyek.
2. Kegiatan – kegiatan mana yang bersifat keritis dalam hubunganya
dengan penyelesaian proyek.
3. Bila terjadi keterlambatan, bagaimana pengaruhnya terhadap sasaran
jadwal penyelesaian proyek secara menyeluruh.
Usaha menyusun urutan kegiatan yang mengikuti logika ketergantungan
akan dipermudah dengan mencoba menjawab pertanyaan (Soeharto, I. 1995 : 191),
sebagai berikut :
1. Kegiatan apa yang dimulai terlebih dahulu
2. Mana kegiatan berikutnya yang akan dikerjakan
3. Adakah kegiatan – kegiatan yang berlangsung sejajar
4. Perlukah dimulainya kegiatan tertentu dengan menunggu yang lain
Dalam menyusun urutan kegiatan pada kegiatan jaring panah (Arrow
Diagram) atau Activity on arrow (AOA) harus memperhatikan beberapa
persyaratan, (Wulfram I. E, 2002 : 162), yaitu :
1. Dalam penggambarannya, diagram jarring panah (Arrow Diagram)
harus jelas dan mudah dibaca.
2. Harus dimulai dan diakhiri pada event/kejadian,
3. Kegiatan disimbolkan dengan anak panah yang dapat digambarkan
dengan garis lurus atau patah.
4. Sedapat mungkin terjadinya perpotongan antar anak harus dihindari.
5. Diantara dua kejadian hanya boleh ada satu anak panah.
6. Kegiatan semu digunakan garis putus – putus dan jumlahnya
seperlunya saja.
E. Saat Kejadiaan Paling Awal/Earliest Event Time (EET)
Saat kejadian paling awal/Earliest Event Time (EET), adalah saat paling
awal suatu peristiwa mungkin terjadi, dan tidak mungkin terjadi sebelumnya. Untuk
menghitung nilai dari saat kejadian paling awal/Earliest Event Time (EET), dapat
dihitung dengan rumus (Syah, M.S. 2004 : 95), berikut :
𝐄𝐄𝐓𝐣 = 𝐄𝐄𝐓𝐢 + 𝐃𝐢𝐣
Dimana : EET = Diisikan yang memberikan nilai paling besar.
𝐃𝐢𝐣 = Durasi kehiatan i ke j
F. Saat Kejadian Paling Lembur/Latest Event Time (LET)
Saat kejadian paling lambat/Latest Event Time (LET), adalah saat paling
lambat suatu persiwa boleh terjadi, dan tidak boleh terjadi sebelumnya (meskipun
itu terjadi) sehingga proyek mungkin selesai pada waktu yang telah direncanakan.
Untuk menghitung nilai dari saat kejadian paling lambat/latest Event Time (LET),
dapat dihitung dengan rumus (Syah,M.S. 2004 : 95), berikut :
𝐋𝐄𝐓𝐣 = 𝐋𝐄𝐓𝐢 + 𝐃𝐢𝐣 ………………………………………………………(2.5)
Dimana : LET = diisikan yang memberikan nilai paling kecil.
𝐃𝐢𝐣 = Durasi kegiatan i ke j
G. Waktu Ambang/ Floating Time
Seperti diketahui kegiatan yang dihubungkan oleh dua kejadia kritis tidak
selalu merupakan kegiatan kritis, karena diantaranya bukan merupakan kegiatan
kritis, hal ini disebabkan oleh adanya sejumlah waktu tenggang dalam kegiatan
tersebut. Waktu tenggang ini disebut float. Float adalah sejumlah waktu yang
tersedia dalam suatu kegiatan sehingga memungkinkan kegiatan tersebut dapat
tertunda dan terlambat secara sengaja atau tidak sengaja, tetapi penundaan tersebut
tidak menyebabkan proyek menjadi terlambat dalam penyelesaiannya. Float dapat
dibedakan menjadi tiga jenis, (Wulfram I. E, 2002 : 167 dan Syah, M.S. 2004 : 97),
yaitu :
1. Total Float (TF) = Ambang Total.
Total Float adalah besarnya tergantung waktu yang masih
dimungkinkan pada suatu kegiatan/pekerjaan untuk terjadi keterlambatan
selesainya pekerjaan tersebut (boleh tertunda), tanpa mempengaruhi
jadwal penyelesaian proyek secara keseluruhan proyek tersebut. Total
Float dapatdihitung dengan rumus :
TF = (LET)j – Dij – (EET)i
2. Free Float (FF) = Ambang Bebas.
Free Float adalah besarnya tenggang waktu yang masih
dimungkinkan pada suatu kegiatan/pekerjaan untuk dilakukan penundaan
atau diperlambatan selesainya pekerjaan tersebut (boleh ditunda), tanpa
mempengaruhi waktu dimulai kegiatan berikutnya. Free Float dapat
dihitung dengan rumus :
FF = (EET)j – Dij – (EET)i
3. Independent Float (IF) = Ambang Mandiri.
Independent Float adalah besarnya tenggang waktu yang masih
dimungkinkan pada suatu kegiatan/pekerjaan untuk dilakukan penundaan
atau diperlambatan selesainya pekerjaan tersebut (boleh tertunda), tanpa
mempengaruhi waktu dimulainya kegiatan berikutnya, meskipun dari saat
paling dini (EET/SPD) yang seharusnya. Mandir magsudnya mengatur
sendiri dimulai kegiatan tersebut, tetapi tidak melewati LET/SPL.
Independent Float dapat dihitung dengan rumus :
IF = (EET)j – Dij – (LET)i
2.12.3 Diagram Jaring Preseden (Precedence Diagram Method/PDM)
A. Pengertian
Metode PDM (Presedence Diagram Method) diperkenalkan oleh J.W
Fondahl dari Universitas Stanford USA pada awal dekade 60-an (Soeharto, I. 1995
: 181).
Metode dagram preseden (Precedence Diagram Method/PDM) adalah
jaringan kerja termasuk klasifikasi Activity on node (AON). Kegiatan dituliskan
dalam node yang umumnya berbentuk segi empat sedangkan anak panah hanya
sebagai petunjuk hubungan antar kegiatan – kegiatan yang bersangkutan (Iman
Soeharto, 1995 : 241).
Walaupun menggunakan metode diagram preseden ini lebih logis
disbanding metode lainnya, akan tetapi penggambaran masih dalam bentuk network
yang dapat dibaca atau dimengerti oleh level manajemen tertentu saja.
B. Kegiatan Tumpang Tindih
Aturan dasar CPM atau AOA mengatakan bahwa suatu kegiatan boleh
dimulai setelah pekerjaan terdahulu (predesesor) selesai, maa untuk proyek dengan
rangkaian kegiatan tumpang tindih (overlapping) dan berulang – ulang akan
menemukan garis dummy yang banyak sekali, sehingga tidak praktis dan kompleks.
Sebagai contoh gambar 2.7, memperhatikan jaringan AOA proyek memasang pipa
yang terdiri dari kegiatan menggali tanah, meletakkan pipa dan menimbun kembali.
Terlihat bahwa jaringan kerja yang dihasilkan seperti digambarkan (Soeharto, I.
1995 : 241), sebagai berikut :

Gambar 2. 7 Jaringan kerja Activity on node (AON) proyek pemasangan pipa


Misalkan setelah diteliti untuk mempersingkat waktu, komponen kegiatan
proyek dilaksanakan secara tumpang tindih, yaitu pekerjaan meletakkan pipa
dimulai setelah pekerjaan menggali tanah selesai 40% dari pekerjaan keseluruhan,
jadi tidak perlu menunggu 100%, begitu juga dengan pekerjaan berikutnya. Untuk
maksud tersebut bila dipakai metode CPM kegiatan harus dikelompokkan menjadi
beberapa bagian, yang dalam contoh diatas ditunjukkan dengan angka – angka
bagian 40% dan 60%. Terlihat bahwa jaringan kerja yang dihasilkan seperti terlihat
pada gambar 2.8, sebagai berikut :

Gambar 2. 8 Jaringan kerja Activity on node (AON) proyek pemasangan pipa


Bila proyek tersebut disajikan dengan metode PDM akan dihasilkan
diagram yang lebih sederhana. Oleh karena itu metode ini banyak di jumpai pada
proyek – proyek engineering konstruksi yang kaya akan pekerjaan tumpang tindih
dan pengulangan, seperti pemasangan pipa, pembangunan gedung bertingkat,
pengaspalan jalan dan lain – lain. Terlihat bahwa jaringan kerja yang dihasilkan
seperti dapat digambarkan 2.9, sebagai berikut :

Gambar 2. 9 Jaringan kerja Precedence diagram method PDM proyek pemasangan


pipa.
C. Kegiatan, Peristiwa dan Atribut
Kegiatan dan peristiwa pada PDM ditulis dalam node yang berbentuk kotak
segi empat. Definisi kegiatan dan peristiwa sama seperti CPM. Hanya perlu
ditekankan disini bahwa dalam PDM kontak tersebut menandai suatu kegiatan,
dengan demikian harus dicantumkan identitas kegiatan dan kurun waktunya.
Adapun peristiwa merupakan ujung – ujung kegiatan. Setiap node
mempunyai dua peristiwa awal dan akhir. Ruangan dalam node dibagi menjadi
bagian – bagian kecil yang berisi keterangan spesifik dari kegiatan dan peristiwa
yang bersangkutan dan dinamakan atribut.
Pengaturan denah dan macam jumlah atribut yang hendak dicantumkan
bervariasi sesuai dengan keperluan dan keinginan pemakaian. Beberapa atribut
yang sering dicantumkan diantaranya adalah kurun waktu kegiatan (D), identitas
kegiatan (no dan nama), mulai dan selesainya kegiatan (ES,LS,EF,LF dan TF).
Terlihat bahwa denah lazin pada Precedence diagram method/PDM (Soeharto, I.
1995 : 242), yaitu sebagai berikut :
Keterangan :
ES = Early Start (Mulai Paling Awal)
EF = Early Finish ( selesai Paling Awal)
LS = Last Start (Mulai Paling Lambat)
LF = Last Finish (Selesai Paling Lambat)
TF = Total Float (Pengembangan Total), yang menunjukkan jumlah
waktu yang diperkenankan suatu kegiatan boleh tertunda, tanpa
mempengaruhi jadwal penyelesaian proyek secara keseluruhan.
D. Konstrain, Lead dan Lag
Konstrain menunjukan hubungan antara kegiatan dengan satu garis dari
node yang terdahulu ke node berikutnya. Satu konstrain hanya dapat
menghubungkan dua node. Karena setiap node mempunyai dua ujung yaitu ujung
awal atau mulai (S) dan ujung akhir (F) naka ada empat macam konstain yaitu awal
ke awal (SS), awak ke akhir (SF), akhir ke akhir (FF) dan akhir ke awal (FS). Pada
garis kontrain dibutuhkan penjelasan mengenai waktu mendahului (Lead) atau
lambat tertunda (Lag). Bila kegiatan (i) mendahului (j) dan satuan waktu adalah
hari maka penjelasan lebih lanjut (Soeharto, I. 1995 : 243), adalah sebagai berikut
:
1. Konstarin selesai ke mulai – FS
Konstrain ini memberikan penjelasan hubungan antara mulainya suatu
kegiatan dengan selesainya kegiatan terdahulu. Dirumuskan sebagai FS (i –
j) = a yang berarti kegiatan (j) mulai a hari, setelah kegiatan yang
mendahuluinya (i) selesai.
2. Konstrain mulai ke mulai – SS

Memberikan penjelasan hubungan antara mulainya suatu kegiatan


dengan mulainya kegiatan terdahulu, atau SS (i – j) = b yang berarti suatu
kegiatan (j) mulai setelah b hari kegiatan terdahulu (i) mulai.
3. Konstrain selesai ke selesai – FF
Memberikan penjelasan hubungan antara seleainya suatu kegiatan
dengan selesainya kegiatan terdahulu, atau FF (i – j) = c yang berarti suatu
kegiatan (j) selesainya setelah c hari kegiatan (i0 selesai.

4. Konstrain mulai ke selesai – SF


Menjelaskan hubungan antara selesainya kegiatan dengan mulainya
kegiatan terdahulu. Dituliskan dengan SF (I – j) = d yang berarti suatu
kegiatan (j) selesai setelah d hari kegiatan terdahulu mulai.

Catatan :
A dan c disebut lag time b dan d disebut lead time
Kadang – kadang dijumpai satu kegiatan mempunyai hubungan konstrain.
dengan lebih dari satu kegiatan yang berbeda, seperti terlihat pada gambar
berikut :

Kadang – kadang dijumpai satu kegiatan mempunyai hubungan


Multikonstrain, yaitu dua kegiatan dihubungkan oleh lebih dari satu konstrain,
seperti terlihat pada gambar berikut :

E. Menyusun Jaringan PDM


Suatu proyek terdiri tiga kegiatan yang semula disajikan dalam bentuk
diagram jarring panah (Arrow Diagram) atau Activity on arrow (AOA), (Soeharto,
I, 1995 : 245) seperti terlihat pada gambar 2.10, berikut :

Gambar 2. 10 Jaringan kerja yang dikerjakan berurutan


Sedangkan potensi penghematan waktu dijelaskan dalam bentuk bagan
balok bersekala waktu, dengan kegiatan tumpang tindih sehingga terjadi
penghematan waktu sebesar 5 hari, dan penyelesaian proyek total menjadi = 22 – 5
= 17 hari, seperti terlihat pada gambar 2.11, berikut :

Gambar 2. 11Jaringan kerja dikerjakan tumpang tindih.


Setelah membahas terminologi atribut dan parameter yang berkaitan dengan
metode diagram preseden (Precedence diagram method/PDM), maka contoh diatas
dapat disusun berdasarkan metode diagram preseden (Precedence diagram
method/PDM), seperti terlihat pada gambar 2.12, berikut :

Gambar 2. 12 Jaringan kerja dengan Precedence diagram method/PDM


F. Identifikasi Jalur Kritis
Dengan adanya parameter yang bertambah banyak, perhitungan untuk
mengidentifikasi kegiatan dan jalur kritis akan lebih kompleks karena lebih banyak
factor yang perlu di perharikan . untuk maksud tertentu, dikerjakan analisis serupa
dengan metode AOA/CPM (Soeharto, I . 1995 : 246), yaitu :
a) Hitungan Maju
Berlaku dan ditujukan untuk hal – hal sebagai berikut :
1. Menghasilkan ES, EF dan kurun waktu penyelesaian proyek.
2. Diambil angka ES terbesar bila lebih dari satu kegiatan
berlangsung.
3. Notasi (i) Bagi kegiatan terdahulu (predesesor) dan (j) kegiatan
yang sedang di tinjau.
4. Waktu awal dianggap nol.
a. Waktu mulai paling awal dari kegiatan yang sedang ditinjau
ES (j) adalah sama dengan angka terbesar dari jumlah angka
kegiatan terdahulu ES (i) atau EF (i) ditambah konstrain yang
bersangkutan. Karena terdapat empat konstrain, maka bila
ditulis dengan rumus menjadi :
ES (j) = ES (i) + SS (i – j) atau Catatan :

ES (j) = ES (i) + ES (i – j) – D (j) atau Pilih angka terbesar


dari persamaan
ES (j) = EF (i) + FS (i – j) atau
tersebut.
ES (j) = EF (i) + FF (i – j) – D(j)
b. Angka waktu selesai paling awal kegiatan yang sedang
ditinjau EF (j) adalah sama dengan angka waktu mulai paling
awal kegiatan tersebut ES (j), ditambah kurun waktu kegitan
yang bersangkutan D (j). atau ditulis rumus menjadi :
EF (j) = ES (j) + D (j)
b) Hitung Mundur
Berlaku dan ditujukan untuk hal – hal berikut :
1. Menentukan LS, LF dan kurun waktu float.
2. Bila lebih dari satu kegiatan bergabung diambil LS terkecil.
3. Notasi (i) bagi kegiatan yang sedang ditinjau sedangkan (j) adalah
kegiatan berikutnya :
a. Hitung LF (i), waktu selesai paling akhir kegiatan (i) yang
sedang ditinjau, yang merupakan angka terkecil dari jumlah
kegiatan LS dan LF plus konstrain yang bersangkutan.
LF (i) = LF (j) - FF (i – j) atau Catatan :
LF (i) = LF (j) - FS (i – j) atau
Pilih angka terkecil
LS (i) = LF (i) - SF (i – j) + D (i) atau dari persamaan
LS (i) = LS (i) - SS (i – j) + D (i) tersebut.
b. Waktu mulai paling akhir kegiatan yang sedang ditinjau LS (i),
adalah sama dengan waktu selesai paling akhir kegiatan
tersebut LF (i), dikurangi kurun waktu yang bersangkutan,
atau
LS (i) = LF (i) - D (i)………………………………………..(2.10)
G. Jalur dan Kegiatan kritis
Jalur dan kegiatan kritis pada metode diagram preseden (Precedence
diagram method/PDM), mempunyai sifat seperti diagram jarring panah (Arrow
Diagram) atau Activity on arrow (AOA), (Soeharto, I. 1995 : 272), yaitu :
1. Waktu mulai paling awal dan kritis harus sama ES = LS
2. Waktu selesai paling awal dan akhir harus sama EF = LF
3. Kurun waktu kegiatan adalah sama dengan perbedaan waktu selesai
paling awal dengan waktu mulai paling awal LF – ES = D
4. Bila hanya sebagai dari kegiatan yang bersifat kritis, maka kegiatan
tersebut secara utuh dianggap kritis.
H. Waktu Ambang / Floating Time
Float adalah sejumlah waktu yang tersedia dalam waktu kegiatan sehingga
memungkinkan kegiatan tersebut dapat ditunda atau diperlambat secara sengaja
atau tidak disengaja, tetapi penundaan tersebut tidak menyebabkan poyek menjadi
terlambat dalam penyelesaiannya. Float dapat dibedakan menjadi tiga jenis,
(Wulfram I. E. 2002 : 184 dan Syah, M.S. 2004 : 98), yaitu :
1. Total Float (TF) = Ambang Total.
Total Float adalah besarnya tenggang waktu yang masih dimungkinkan
pada suatu kegiatan/pekerjaan untuk menjadi keterlambatan selesainya
pekerjaan tersebut (boleh tertunda), tanpa mempengaruhi jadwal
penyelesaian proyek secara keseluruhan proyek tersebut. Total Float
dapat dihitung dengan rumus :
TFi = Minimum (LSj – EFi)
2. Free Float (FF) = Ambang Bebas
Free Float adalah besarnya tenggang waktu yang masih dimungkinkan
pada sutu kegiatan/pekerjaan untuk dilakukan penundaan atau
diperlambatan selesainya pekerjaan tersebut (boleh tertunda), tanpa
mempengaruhi waktu dimulainya kegiatan berikutnya. Free Float dapat
dihitung dengan rumus :
FFi = Minimum (ESj – EFi)
3. Link Lag
Link Lag adalah garis ketergantungan antara kegiatan dalam suatu
network planning, dan dapat dihiyung dengan rumus :
𝐋𝐚𝐠 𝐢𝐣 = ESj – EFi Atau FFi = Minimum (𝐋𝐚𝐠 𝐢𝐣 + TFj) Atau FFi =
Minimum (𝐋𝐚𝐠 𝐢𝐣 ).
2.13 Perencanaan Sumber daya
2.13.1 Pengertian Sumber daya
Sumber daya merupakan sebuah kompoen atau alat yang dibutuhkan
sebagai sarana untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan, atau sumber
daya adalah merupakan unsur berupa sarana yang tersedia dalam organisasi (toal of
manajement atau toal of administration) yaitu manusia (man), bahan (material),
mesin – mesin (machine), uang (money), metode kerja (method) dan pasar sebahai
hasil produksi (market). Ini dikenal dengan sebutan 6M (Widjaya, A.W. 1987 : 40).
2.13.2 Perencanaan Kebutuhan Sumber Daya Manusia
Waktu penyelenggaraan proyek, sumber daya yang menjadi factor penentu
keberhasilannya adalah tenaga kerja. Jenis dan kegiatan proyek berubah cept
sepanjang siklusnya, sehingga penyediaan tenaga, keterampilan, dan keahliah harus
mengikuti tuntunan perubahan kegiatan yang sedang berlangsung. Bertolak dari
kenyataan tersebut, maka suatu perencanaan tenaga kerja proyek yang menyeluruh
dan terinci meliputi jenis dan kapan keperluan tenaga kerja.
Untuk menyusun perencanaan jumlah tenaga kerja dalam pelaksanaan
pekerjaan hendaknya diperhatikan faktor – faktor tepenting (Soeharto, I. 1995 : 161
– 162), yaitu sebagai berikut :
1. Produktifitas tenaga kerja.
2. Tenaga kerja periode puncak (peak).
3. Jumlah tenaga kerja kantor pusat.
4. Perkiraan jumlah tenaga kerja konstruksi di lapangan.
5. Meratakan jumlah tenaga kerja guna mencegah gejolak (fluctuation).
Penetapan tingkat produktifitas pada perhitungan unit price, sangat penting
perannya. Tingkat keakuratan suatu perhitungan biaya konstruksi, sangat
dipengaruhi oleh keakuratan dalam menetapkan tingkat produktifitas yang dapat
dicapai, oleh sumber daya yang digunakan kemampuan produktifitasdari sumber
daya, dapat dibedakan dalam dua jenis, (Asiyanto. 2002 : 79), yaitu :
1. Produktifitas Individu, yang dipengaruhi oleh kualitas sumber daya
yang bersangkutan.
2. Produktifitas kelompok, yang mempengaruhi tidak hanya oleh kualitas
sumber daya secara individu saja, tetapi juga oleh komposisi dari
anggota kelompok.
Untuk menentukan besarnya produktifitas (P1) yang harus dihasilkan
berdasarkan durasi (d) yang diperlukan dan untuk menentukan kebutuhan
komposisi sumber daya manusia (K SDM ), untuk masing – masing pekerjaan yang
akan dikerjakan untuk menyelesaikan produktifitas (P1) berdasarkan durasi (d) yang
di perlukan dapar dihitung dengan rumus (Sidartha. K.dkk. 1998 : 57), yaitu sebagai
berikut :
𝐕
𝐏𝟏 = 𝐝 Dan 𝐊 𝐒𝐃𝐌 = 𝐊 𝐭 x 𝐏𝟏

dimana :
P1 = Produktvitas berdasarkan durasi (d) yang diperlukan (ditentukan)
V = Volume.
d = Durasi yang di perlukan untuk menyelesaikan keseluruhan volume
pekerjaan (berdasarkan jadwal pelaksanaan yang normal).
K SDM = Kebutuhan komposisi sumber daya manusia untuk masing –
masing pekerjaan yang akan dikerjakan untuk menyelesaikan Produktivitas
(P1) berdasarkan durasi (d) yang diperlukan.
Kt = Kebutuhan komposisi sumber daya tenaga per satuan volume,
sesuai dengan daftar analisa BOW (Burgerlijke Openbare Werken)
2.13.3 Perencanaan Kebutuhan Sumber Daya Bahan
Rencana kebutuhan bahan umumnya meliputi jenis dan volume yang
diperlukan dari tiap jenis bahan serta perencanaan pengadaan kelokasi proyek.
Yang dimaksud dengan bahan atau material adalah besarnya jumlah bahan yang di
butuhkan untuk menyelesaikan bagian pekerjaan dalam satu kesatuan pekerjaan.
Kebutuhan jumlah bahan/material per satuan volume untuk beberapa pekerjaan,
sebagai berikut :
1. Pekerjaan Beton Diafragma
1m3 Beton Diafragma fc’ 30 MPa (type 1) termasuk pekerjaan penegangan
setelah pengecoran (post tension)
1,000 bh. Pracetak PC Diafragma bentang K 350 (type 1)
2. Pekerjaan Baja Prategang.
1 𝑘𝑔 Pekerjaan Baja Prategang
1,000 kg. Kabel Prategang
Dimana pengertian dari daftar analisa untuk pekerjaan beton diafragma,
dapat diartikan, bahwa untuk 1m3 pasangan balok diafragma memerlukan 1,000 bh
balok diafragma, maka selanjutnya menentukan kebutuhan komposisi dumber daya
bahan (K SDM ), untuk masing – masing pekerjaan yang akan dikerjakan untuk
menyelesaikan Produktivitas (P1) berdasarkan durasi (d) yang memerlukan dapar
dihitung dengan rumus (Sidartha.K.dkk 1998 : 57), yaitu sebagai berikut :
𝐊 𝐒𝐃𝐁 = 𝐊 𝐛 x 𝐏𝟏
Dimana :
K SDB = kebutuhan komposisi sumber daya bahan, untuk masing – masing
pekerjaan yang akan dikerjakan untuk menyelesaikan produktivitas
(P1) berdasarkan durasi (d) yang diperlukan
Kb = Kebutuhan komposisi sumber daya bahan persatu satuan volume,
sesuai dengan daftar analisa BOW (Burgerlijke Operbare Werken)
atau sesuai dengan daftar analisa yang berlaku.
P1 = Produktivitas berdasarkan durasi 9d) yang diperlukan (ditentukan)
2.13.4 Perencanaan Kebutuhan Sumber Daya Alat
Pengadaan alat sering sekali karena kebutuhan – kebutuhan yang mendesak
atau memaksa karena harus menyelesaikan sautu proyek, dimana alternative lain
tidak tersedia. Hal seperti ini harus dihindari, yaitu dengan cara membuat
perencanaan pengadaan yang masuk tentang kebutuhan alat yang didasarkan atas
dua hal (Asianto, 2008 : 7), yaitu :
1. Untuk memenuhi pekerjaan – pekerjaan yang sedang atau akan dihadapi
2. Untuk menghadapi suatu perkiraan kemungkinan digunakan alat
tersebut pada waktu yang akan datang.
2.14 Penjadwalan Sumber Daya Tenaga kerja
Dalam penyusunan jadwal sering kali hasil yang didapatkan belum
memuaskan. Ada hari – hari tertentu tenaga kerja tidak mempunyai tugas,
sedangkan hari lain diperlukan banyak tenaga kerja tetapi hanya untuk waktu
pendek saja, sehingga grafik kebutuhan tenaga kerja persatuan waktu naik turun
(fluktuasi), seperi terlihat pada gambar 2.13, berikut :

Gambar 2. 13 Grafik kebutuhan tenaga kerja persatuan waktu


Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada gambar 2.14 distribusi tenaga kerja
dan grafik histogram (Syafriadin. 2002 : 58), yaitu :
Gambar 2. 14 Durasi tenaga kerja dan grafik histogram
Keperluan ssumber daya biasanya meningkat dari awal proyek rata ataupun
banyak pada awal proyek sedikit demi sedikit menurun atau rendah pada awal
kegiatan, tertinggi di pertengahan kegiatan dan menurun di akhir kegiatan, dan hal
ini disebut Resource yang ideal. (Badri, S. 1991 : 54).
Untuk mendapatkan Resource yang ideal perlu dilakukan perataan sumber
daya (Resouce Leveling). Dimana perataan sumber daya (Reaouce Leveling)
mempunyai arti mengusahakan penggunaan sumber daya dari hari ke hari sebatas
mungkin hanya terjadi perubahan atau fluktuasi jumlah yang tidak banyak dan
untuk menghindari terjadinya konflik sumber daya pada saat pelaksanaan nantinya.
Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada gambar 2.15, distribusi tenaga kerja dan
grafik histogram yang dinormalisir berikut :
Gambar 2. 15 Distribusi tenaga kerja dan grafik histogram dan dinormalisir.
Setelah jadwal sumber daya tenaga kerja diyakini sebagai jadwal yang ideal
(normal), seperti yang telah dijelaskan diatas, maka selanjutnya dapat dibuatkan
jadwal pengadaan, yaitu :
1. Penjadwalan Waktu Proyek (Schedule) berdasarkan jadwal sumber
daya tenaga kerja yang ideal (normal)
2. Penjadwalan Sumber Daya tenaga kerja
3. Penjadwalan Sumber Daya Bahan/material.
Untuk penjadwalan sumber daya bahan/material juga dibuat setelah
jadwal sumber daya tenaga kerja diyakini sebagai jadwal yang ideal
(normal)
4. Penjadwalan Sumber daya Alat.
Untuk penjadwalan sumber daya alat juga dibuat setelah jadwal sumber
daya tenaga kerja diyakini sebagai jadwal yang ideal (normal)
2.15 Rencana Biaya Pelaksanaan (RBP) Proyek Konstruksi
Rencana Biaya Pelaksanaan (RBP) Proyek Konstruksi adalah salah satu
dokumen kelengkapan yang dibutuhkan dalam suatu operasional pelaksanaan
proyek, sebagai acuan operasional pelaksnaan proyek.
Kelengkapan dokumen dalam Rencana Biaya Pelaksanaan (RBP) proyek
konstruksi (Syah, M.S, 2004), harus memuat antara lain, yaitu :
1. Jadwal pengadaan sumber daya bahan, tenaga dan alat.
2. Pendapatan, yang terdiri dari : RAB yang sudah dikurangi PPN 10 %.
3. Biaya di kerjakan (BDP),yang terdiri dari :
a. Biaya Langsung.
b. Biaya tidak langsung.
1) Biaya persiapan dan penyelesaian.
2) Biaya umum proyek.
3) Biaya umum kantor.
4) Biaya pemasaran.
4. Laba atau keuntungan.
Rencana Biaya Pelaksanaan (RBP) Proyek Konstruksi, adalah
sebagai dasar untuk membuat Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang
merupakan salah satu dari kelengkapan penawaran proyek.
2.15.1 Biaya Langsung
Biaya langsung adalah biaya yang diperhitungkan untuk keperluan yang
terkait langsung dengan proses dan terbentuknya progres fisik, yang meliputi (Syah,
M.S, 2004), yaitu :
1. Biaya bahan/material
2. Biaya upah butuh/tenaga kerja
3. Biaya peralatan
4. Biaya sub kontraktor
Biaya langsung seperti biaya bahan, upah, alat dan sub kontraktorharus
dihitung dengan memperhatikan nenerapa hal, (Sutjipto, R, 1985), seperti :
1. Untuk menghitung biaya bahan/material bangunan perlu di perhatikan :
a. Bahan sisa
b. Harga franco
c. Cari harga terbaik yang masih memnuhi syarat bestek.
d. Cara pembayaran kepada penjualan/leveransir/supplier
 Biaya bahan per jenis pekerjaan dapat dihitung dengan rumus :
Biaya bahan (i) = jumlah bahan (i) yang dipakai x Harga satuan bahan (i)
2. Untuk menghitung biaya upah tenaga kerja perlu di perhatikan :
a. Untuk menghitung upah buruh dibedakan upah harian, borongan,
per unit volume, atau borongan keseluruhan (borong dol) untuk
daerah – daerah tertentu.
b. Selain upah tarif perlu diperhatikan faktor – faktor kemampuan dan
kapasitas kerjanya.
c. Perlu diketahui apakah tenaga dapat diperoleh dari daerah sekitar
lokasi proyek atau tidak.
d. Undang – undang perbutuhan yang berlaku.
 Biaya upah perjenis pekerjaan dapat dihitung dengan rumus ;
Biaya upah (i) = jumlah tenaga (i) yang dipakai x Harga satuan tenaga kerja
(i)
3. Untuk menghitung biaya alat kerja perlu diperhatikan :
a. Untuk peralatan yang disewakan diperhatikan mengenai :
1. Ongkos keluar masuk garage / sewa / asuransi
2. Biaya operasi dan perawatan (bahan bakar, minyak pelumas,
minyak hydraulis, grease, operator, mekanik).
3. Biaya perbaikan (Rafair Cost).
b. Untuk peralatan yang tak disewa diperhatikan mengenai biaya
pemilikan (Owning Cost) yang terdiri dari : penyusutan, bunga
pajak, biaya gudang dan asuransi.
4. Untuk menghitung biaya sub kontraktor perlu disesuaikan dengan jenis
pekerjaan yang akan disubkan dan dalam memilih sub kontraktor harus
diperhatikan keahlian dari para sub kontraktor tersebut.
2.15.2 Biaya Tidak Langsung
Biaya tidak langsung adalah semua biaya yang diperhitungkan untuk
keperluan yang tidak terkait langsung dengan proses terbentuknya progress fisik,
tetapi masih berhubungan dengan sarana dan prasara proyek yang bersangkutan
meliputi, (Syah, M.S, 2004), yaitu :
1. Biaya tidak langsung di proyek, yang terdiri dari :
a. Biaya persiapan dan penyelesaian.
b. Biaya umum proyek.
2. Biaya tidak langsung diperusahaan, yang terdiri dari :
a. Biaya umum kantor.
b. Biaya pemasaran.
1. Biaya Persiapan dan Penyelesaian
Biaya persiapan dan penyelesaian adalah biaya – biaya yang
diperuntuhkan untuk keperluan, (Asiyanto. 2002), seperti :
1. Biaya mobilisasi dan demobilisasi tenaga kerja dan alat.
2. Biaya gudang, kantor, penerangan, pagar, dll
3. Biaya perlengkapan Keselamatan dan Keamanan Kerja (K3).
4. Biaya control kwalitas, seperti tes kubus dan lain – lain.
5. Biaya ijin bangunan.
6. Biaya upacara peresmian.
2. Biaya Umum Proyek
Biaya umum proyek adalah biaya – biaya yang diperuntukan untuk
keperluan, (Asiyanto, 2002), seperti :
1. Biaya operasional kantor proyek.
2. Biaya personil (gaji karyawan) proyek.
3. Biaya rapat – rapat lapangan dan jamuan tamu.
4. Biaya kendaraan umum proyek dan lain – lain.
5. Asuransi.
6. Biaya bank.
7. Biaya foto dan gambar jadi (As – Built Drawing).
8. Biaya pajak dan sebagainya.
9. Biaya peralatan kecil – kecil yang umumnya habis dipakai dibuang.
3. Biaya Umum Kantor
Biaya umum kantor adalah biaya untuk menjalankan suatu usaha. Biaya
umum kantor adalah biaya – biaya yang diperuntukan untuk keperluan antara lain,
(Sutjipto, R, 1985), seperti :
1. Biaya operasional kantor (Adm, listrik, telepon, air)
2. Biaya personil (gaji karyawan) kantor.
3. Biaya sewa kantor dan fasilitasnya (biaya investasi).
4. Biaya rapat - rapat lapangan dan jamuan tamu.
5. Biaya kendaraan umum kantor dan lain – lain.
6. Biaya ijin usaha dan frakwalifikasi.
7. Biaya feferensi bank.
8. Biaya angota asosiasi.
9. Biaya pajak.
4. Biaya Pemasaran
Biaya pemasaran adalah biaya yang muncul berkaitan dengan kegiatan
mencari proyek atau dalam rangka mencari pasar, sehingga kelangsungan
perusahaan tetap berjalan.
2.16 Rencana Anggaran Biaya (RAB) Proyek Konstruksi
2.16.1 Pengertian
Rencana adalah himpunan/planning termasuk detail/penjelasan dan tata cara
pelaksanaan pembuatan sebuah bangunan, terdiri dari RKS dan Gambar bestek.
Anggaran adalah perkiraan/perhitungan biaya suatu bangunan berdasarkan
rencana Kerja dan Syarat – Syarat (RKS) dan gambar bestek.
Biaya adalah jenis/besarnya pengeluaran yang ada hubungannya dengan
borongaan yang tercantum dalam Rencana Kerja dan Syarat – syarat (RKS) dan
gambar bestek.
Rencana Anggaran Biaya adalah merencanakan bentuk bangunan yang
memenuhi syarat, menentukan biaya dan menyusun tata cara pelaksanaan teknik
dan administrasi, dengan tujuan untuk memberikan gambaran yang pasti mengenai,
bentuk/konstruksi bangunan, biaya – biaya, lama, tata cara (metode)
pelaksanaannya.
Rencana Anggaran Biaya (RAB) merupakan kelengkapan dari suatu
penawaran atau pekerjaan, sehingga harus dapat dibedakan pengertian antara
penawaran dan harga penawaran,yaitu :
1. Penawaran pada esensinya adalah pernyataan penyedia jasa/pemborong
bahwa dia sanggup mengerjakan proyek yang dilelangkan tersebut
dengan harga penawaran yang di cantumkan pada surat penawaran.
2. Harga penawaran adalah sejumlah nilai/harga uang tertentu sebagai
pernyataan Kontraktor penyedia jasa bahwa dia sanggup untuk
mengerjakan pekerjaan/proyek yang ditenderkan dengan harga
penawaran yang dinyatakan tersebut.
Penawaran/Harga penawaran dibuat oleh penyedia jasa dengan
memperhitungkan segala biaya yang mungkin timbul akibat pengerjaan proyek
tersebut. Di dalam harga penawaran termasuk, labor, equipment, material, sub
contrac, overhead, markup, contract bond, dan tax.
2.16.1 Sistematika Menyusun Rencana Anggaran Biaya (RAB)
Untuk mengetahui hubungan antara bagian satu dengan yang lainnya
baiklah perhatikan gambar 2.16, berikut :

Gambar 2. 16 Sistematika menyusun Rencana Anggaran Biaya (RAB)


2.16.2 Jenis Pekerjaan
Jenis pekerjaan yang dimagsud addalah semua jenis pekerjaan yang telah
ditentukan pada Rencana Biaya Pelaksanaan (RBP) Proyek sebelumnya. Bila ada
penambahan jenis pekerjaan sebaiknya ditetapkan dulu metode pelaksanaan serta
waktu yang akan diperlukan seperti urutan jenis pekerjaan sebelumnya.
2.16.3 Daftar Analisa
Di dalam menyusun daftar analisa hendaknya selalu berpedoman dari jenis
– jenis pekerjaan yang telah ditentukan pada Rencana Biaya Pelaksanaan (RBP)
Proyek sebelumnya. Bila ada jenis pekerjaan yang baru dan tidak ada dalam
Rencana Biaya Pelaksanaan (RBP) proyek sebelumnya, maka sebaiknya tentukan
dulu metode pelaksanaan dan waktu yang diperlukan serta tentukan pula Rencana
Biaya Pelaksanaan (RBP) Proyek. Bila ada jenis pekerjaan yang timbul, dan tidak
ada daftar analisanya hal ini dapat dipecahkan dengan du acara yaitu membuat
analisa sendiri atau dengan cara menafsir besarnya biayanya untuk satu unit jenis
pekerjaan ini. Dalam menafsir biaya diperlukan pengalaman – pengalaman yang
luas sehingga tidak terjadi kesalahan – kesalahan yang tidak diinginkan. Dalam
menyusun daftar analisa untuk setiap jenis pekerjaan juga ada du acara yaitu :
1. Analisa berdasar pengalaman, biasa ini dipakai untuk menghitung nilai
real cost biaya langsung sebelum ditambah biaya tak terduga yang
merupakan perhitungan lebih mendetail dan hitungan – hitungan ini
merupakan patokan dalam mengendalikan pelaksanaan nanti/negosiasi.
2. Analisa berdasarkan Burgerlijke Openbare Werken (BOW) adalah
dipakai untuk membuat rencana anggaran biaya untuk penawaran.
Adapun beberapa daftar analisa yang diperlukan berdasarkan WBS dan
perencanaan kebutuhan sumber daya, yang telah diuraikan diatas diantaranya
adalah :
1. Pekerjaan Drainase
Galian Untuk Selokan Drainase dan saluran air
0.0302 hr. Pekerja
0.76 hr. Mandor
2. Pekerjaan Tanah
C. 1m3 Galian Perkerasan beraspal tanpa cold milling machine
0.3333 hr. Pekerja
0.1667 hr. Mandor
B. 1m3 timbunan pilihan dari sumber galian
2.4294 hr. Pekerja
0.6073 hr. Mandor
3. Pekerjaan Pondasi Perancah dari Beronjong
1m³ Pasangan batu bronjong dengan kawat beronjong 5mm G5𝑐
Merakit dan masang pondasi
0,667 hr. Pekerja
0,027 hr. Mandor
0,500 hr. Tukang Batu
0,015 hr. Kep Tukang Batu
4. Pekerjaan perancah / kuda – kuda F22
A. 1m³ Pekerjaan merakit dan masang perancah
24,00 hr. Pekerja
2,400 hr. Mandor
8,000 hr. Tukang kayu
0,400 hr. Kepala tukang kayu
B. 1m³ Pekerjaan bangkar dan pengangkutan perancah
2,400 hr. Pekerja
0,240 hr. Mandor
0,800 hr. Tukang kayu
0,040 hr. Kepala tukang kayu
5. Pemasangan kabel presstressed polos / strands
1 kg pekerjaan kabel presstressed polos / strands
0,0050 hr. pekerja
0,0050 hr. tukang besi
0,0005 hr. Kepala tukang
0,0003 hr. Mandor
6. Pekerjaan 1m3 Grouting Girder
1,200 hr. pekerja
0,200 hr. tukang batu
0,020 hr. Kep tukang Batu
0,060 hr. Mandor
7. Pekerjaan Perakitan Jacking Hidrolic
2,400 hr. Pekerja
0,240 hr. Mandor
0,800 hr. Tukang kayu
0,040 hr. Kepala tukang kayu
8. Pekerjaan Penurunan Girder dengan Jacking Hidrolick
0,0050 hr. pekerja
0,0050 hr. tukang besi
0,0005 hr. Kepala tukang besi
0,0003 hr. Mandor
2.16.4 Daftar Harga Satuan Upah, Bahan, dan Alat
Adapun daftar harga satuan upah, bahan dan alat yang diperlukan
berdasarkan WBS dan perencanaan kebutuhan sumber daya serta daftar analisa,
yang telah diuraikan diatas diantaranya adalah :
1. Daftar harga satuan upah yang diperlukan diantaranya adalah :
a. Mandor
b. Pekerja
c. Tukang
2. Daftar harga satuan bahan yang diperlukan diantaranya adalah :
a. PCI Girder
b. Kabel Prategang
2.16.5 Perhitungan Volume
Volume tidak lain adalah panjang x lebar x tinggi, namun volume yang
dihitung untuk menyusun anggaran biaya, tidak selalu panjang x lebar x tinggi,
yaitu volume yang dihitung menurut satuan analisa yang akan dipakai. Hal ini
dilakukan agar tidak kesulitan dalam menghitung harga satuan pekerjaan. Apabila
daftar analisanya m2 maka volume pekerjaan tersebut dihitung dalam m2 . Dengan
demikian akan terjadi kesamaan dimensi dalam mengalikan volume dengan harga
satuan pekerjaan.
Sebagai contoh, berdasarkan daftar analisa diatas, maka menghitung volume
pekerjaan :
1. pekerjaan galian tanah biasa, maka volume dihitung dengan satuan m3
2. pekerjaan pasangan batu kali, maka volume dihitung dengan satuan m3
3. pekerjaan bekesting, maka volume dihitung dengan satuan m2
4. pekerjaan besi beton, maka volume dihitung dengan satuan kg
2.16.6 Perhitungan Biaya Bahan, Upah dan Alat
Biaya bahan, upah, dan alat yang diperlukan berdasarkan WBS dan
perencanaan kebutuhan sumber daya serta daftar analisa, yang telah diuraikan
diatas, maka dapat dihitung :
1. Biaya Bahan
Biaya bahan suatu pekerjaan adalah menghitung banyaknya masing –
masing bahan yang diperlukan, serta besarnya biaya yang diperlukan untuk
pekerjaan tersebut. Untuk menghitung biaya bahan bangunan perlu diperhatikan
antara lain : bahan sisa, harga franco, harga terbaik yang masih memenuhi syarat
bestek, cara pembayaran kepada penjualan/leveransir/supplier.
Biaya bahan perjenis pekerjaan dalam menghitung Rencana Anggaran
Biaya (RAB) adalah jumlah dari masing – masing perkalian koefisien bahan dengan
harga satuan bahan yang sudah ada dalam daftar analisa setiap jenis pekerjaan, dan
dapat dihitung dengan rumus :
Biaya bahan pekerjaan (i) = Koef. bahan (i) yang dipakai x Harga satuan
bahan(i)
Dalam daftar analisa, untuk pekerjaan baja prategang bahan untuk 1 kg
Pekerjaan baja prategang, adalah sebagai berikut :
1 𝑘𝑔 Pekerjaan Baja Prategang
1,000 kg Kabel Prategang a Rp………. = Rp. ………..
Biaya Bahan = Rp. ………..
2. Biaya Upah
Biaya upah suatu pekerjaan adalah menghitung banyaknya tenaga yang
diperlukan, serta besarnya biaya yang diperlukan untuk pekerjaan tersebut. Untuk
menghitung mengenai biaya upah/tenaga perlu diperhatikan antara lain tentang :
a. Untuk menghitung upah buruh dibedakan upah harian, borongan, per
unit volume, atau borongan keseluruhan (borong dol) untuk daerah –
daerah tertentu.
b. Selain upah tarif perlu diperhatikan faktor – faktor kemampuan dan
kapasitas kerjanya.
c. Perlu diketahui apakah tenaga dapat diperoleh dari daerah sekitar lokasi
proyek atau tidak.
d. Undang – undang perbutuhan yang berlaku.
Biaya upah perjenis pekerjaan dalam menghitung Rencana Anggaran Biaya
(RAB) adalah jumlah dari masing – masing perkalian koefisien upah dengan harga
satuan upah yang sudah ada dalam daftar analisa setiap jenis pekerjaan, dan dapat
dihitung dengan rumus :
Biaya upah pekerjaan (i) = Koef. tenaga (i) yang dipakai x Harga satuan upah
(i)
Dalam daftar analisa untuk pekerjaan baja prategang, indek tenaga untuk 1
kg Pekerjaan beton, adalah sebagai berikut :
1 𝑘𝑔 Pekerjaan Baja Prategang
0,037 hr. Mandor a Rp………. = Rp. ………..
0,037 hr. Tukang a Rp………. = Rp. ………..
0,7365 hr. Pekerja a Rp………. = Rp. ………..
Biaya Upah = Rp. ………..
3. Biaya Alat
Biaya alat perjenis pekerjaan dalam menghitung Rencana Anggaran Biaya
(RAB), dihitung sesuai kebutuhan.
4. Harga Satuan Pekerjaan
Dalam perhitungan harga satuan pekerjaan didapatkan dari menjumlah
biaya bahan, biaya upah dan biaya alat, yang didapat dari daftar analisa. Setiap
daftar analisa disesuaikan dengan masing – masing jenis pekerjaan yang telah
dihitung besar volumenya.
Harga Satuan pekerjaan (i) = Biaya bahan + Biaya upah + Biaya alat
5. Rencana Anggaran Biaya
Dalam menyusun Rencana Anggaran Biaya (RAB) hendaknya diperhatikan
seperti harga satuan upah, bahan, alat, daftar analisa, perhitungan volume sebelum
nilai bangunan dipastikan.
Untuk mendapatkan Rencana Anggaran Biaya (RAB) sebagai salah satu
kelengkapan dari penawaran yang teliti dan lebih mendetail harus didasarkan atas
Rencana Anggaran Biaya (RAB). Untuk menghitung Rencana Anggaran Biaya
(RAB), dapat dihitung dengan langkah – langkah sebagai berikut :
1. Menghitung masing – masing jumlah harga pekerjaan dengan rumus :
Jumlah harga pekerjaan (i) = Volume (i) x Harga satuan pekerjaan (i)
2. Menjumlahkan masing – masing jumlah harga pekerjaan dengan rumus
:
Jumlah harga pekerjaan = ∑ Jumlah harga Pekerjaan (i)
3. Menghitung nilai pajak (PPN) sebesar 10 % dengan rumus :
Nilai PPN 10 % x Jumlah harga pekerjaan
4. Menghitung nilai penawaran (RAB) dengan rumus :
RAB = Nilai PPN 10 % + Jumlah harga Pekerjaan

2.17 Penjadwalan Prestasi


2.18 Kurva “S”
Kurva S adalah sebuah grafik yang dikembangkan oleh Warren T. Hanumm
atas dasar pengamatan terhadap sejumlah proyek sejak awal hingga akhir proyek.
Kurva S dapat menunjukan kemampuan proyek berdasarkan kegiatan, waktu dan
bobot pekerjaan yang dipresentasikan sebagai presentase komulatif dari seluruh
kegiatan proyek. Visualisasi kurva S dapat memberikan informasi mengenai
kemjauan proyek dengan membandingkannya terhadap jadwal rencana. Dari sinilah
diketahui apakah ada keterlambatan atau percepatan jadwal proyek. Indikasi
tersebut dapat menjadi informasi awal guna melakukan tindakan koreksi dalam
proses pengendalian jadwal. Tetapi informasi tersebut tidak detail dan hanya
terbatas untuk menilai kemajuan proyek.
Untuk membuat kurva S, jumlah presentase komulatif bobot masing-masing
kegiatan pada suatu periode di antara durasi proyek diplotkan terhadap sumbu
vertical sehingga bila hasilnya dihubungkan dengan garis, akan membentuk kurva
S. Bentuk demikian terjadi karena volume kegiatan pada awal biasanya masih
sedikit, kemudian pada pertengahan meningkat dalam jumlah cukup besar, lalu
pada akhir proyek volume kegiatan kembali mengecil.
Untuk menentukan bobot pekerjaan, pendekatan yang dapat dilakukan berupa
perhitungan persentase berdasarkan biaya per item pekerjaan/ kegiatan dibagi nilai
anggaran, karena satuan biaya dapat dijadikan bentuk persentase sehingga lebih
mudah untuk menghitungnya, (Ir. Abrar Husen, 2011 : 152)
2.19 Perencanaan Jadwal dan Biaya Pelaksanaan Proyek konstruksi dengan
Bantuan Program Microsoft Project.
BAB III
METODE PERENCANAAN
3.1 Lokasi Perencanaan
Proyek Peningkatan Jembatan Tukad Keladian di kabupaten jembrana,
berlokasi di Jl. Raya Denpasar – Gilimanuk.

LOKASI

Gambar 3. 1 Lokasi Proyek Peningkatan Jembatan Tukad Keladian di kabupaten


jembrana, berlokasi di Jl. Raya Denpasar – Gilimanuk.
Sumber : google maps
3.2 Metode Pengumpulan Data
Dalam mengumpulkan data, metode yang digunakan dalam perencanaan
pelaksanaan proyek ini adalah :
1. Metode Kepustakaan
Yaitu suatu metode pengumpulan data dengan jembatan mengutip dari
buku/literature yang berkaitan dengan perencanaan pelaksanaan proyek.
2. Metode Dokumentasi
Yaitu suatu metode dengan mengumpulkan data - data dari instansi - instansi
terkait dalam perencanaan dan pelaksanaan Proyek Peningkatan Jembatan
Tukad Keladian. Seperti data dokumen kontrak yang diperoleh dari Dinas PU
Direktorat Bina Marga.
3.3 Jenis dan Sumber Data Perencanaan
Perencanaan pelaksanaan proyek yang baik, diperhikan data pendukung baik juga,
agar hasil perencanan relevan. Data yang didapat harus mermliki kejelasan jenis dan
sumbernya untuk mempermudah dalam proses perencanaan pelaksanaan.
Jenis data dan sumber data yang dipergunakan dalam proses perencanaan antara
lain sebagai berikut
1. Data Sekunder
Data yang diperoleh dari instansi terkait atau pihak yang berkaitan dengan obyek
permasalahan yang diangkat sebagai topik pembahasan. Data sekunder dalam
perencanaan pelaksanaan proyek ini diperoleh dari Dinas PU Direktorat Bina
Marga Data sekunder yang diperoleh dari Dinas PU Direktorat Bina Marga
yaitu :
a. Data Dokumen Kontrak
b. Gambar Rencana
3.4 Skema Perencanaan Pelaksanaan Proyek Peningkatan Jembatan Tukad
Keladian

Gambar 3. 2 Skema Perencanaan Pelaksanaan


BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Data Perencanaan
Berdasarkan skema diatas, maka data perencanaan yang diperlukan dalam
perencanaan pelaksanaan proyek ini yaitu:
1. Dokumen Tender.
a. Medan atau lokasi.
b. Jadwal waktu induk.
c. Jenis pekerjaan /Jabaran kegiatan atau Work Breakdown Structure
(WBS).
2. Daftar Ketersedian Surnber Daya Manusia, Bahan, dan Alat.
3. Daftar Analisa atau Unit Price.
4. Harga Satuan Upah, Bahan, dan Alat.
4.1.1 Data Dokumen Tender
Data dokumen tender dalam proyek ini didapat dari Dokumen Tender yang
mengerjakan Proyek Peningkatan Jembatan Tukad Keladian di Jl. Raya Denpasar
– Gilimanuk. Didalam lampiran tertera hasil dari penjelasan – penjelasan kantor
dan lapangan.
4.1.1.1 Data Medan atau Lokasi
Data medan atau lokasi pada proyek Proyek Peningkatan Jembatan Tukad
Keladian di Jl. Raya Denpasar – Gilimanuk. Berdasarkan yang terdapat pada
dokumen tender, dimana seperti terlihat pada gambar site plan.
4.1.1.2 Data Jadwal Induk
Data jadwal induk pada proyek ini, berdasarkan dokumen tender adalah
selama 154 (seratus lima puluh empat) hari karja.
4.1.1.3 Data Jenis Pekerjaan /Jabaran kegiatan atau Work Breakdown
Structure (WBS).
Data jenis pekerjaan / jabaran kegiatan atau Work Breakdown Structure
(WBS) sebelum ditentukan metode pelaksanaan yang akan dikerjakan pada proyek.
Proyek Peningkatan Jembatan Tukad Keladian di Jl. Raya Denpasar-Gilimanuk.
Dalam hal ini kami mengambil jenis pekerjaan pada proyek adapun jenis pekerjaan
atau ringkasan dari pekerjaan adalah sebagai berikut :
1. Umum
2. Pekerjaan Drainase
3. Perkerjaan Tanah
4. Pelebaran Perkerasan Dan Bahu Jalan
5. Perkerasan Berbutir
6. Perkerasan Aspal
7. Struktur
8. Pengembalian Kondisi Dan Pekerjaan Minor
9. Pekerjaan Harian
10. Pekerjaan Pemeliharaan Rutin
4.1.2 Daftar Data Ketersediaan Sumber Daya Manusia, Bahan, dan Alat.
4.1.2.1 Daftar Data Ketersediaan dan Upah Sumber Daya Manusia.
Adapun personalia yang dimiliki oleh kontaktor berdasarkan data personalia yang
dimiliki adalah seperti Tabel 4.1, berikut :
Tabel 4. 1 Daftar data ketersediaan dan upah sumber daya manusia.
NO JML PENDIDIKAN UPAH (Rp)/hari KET.

1 2 3 4 5 6
1 Kepala Proyek 1 Sarjana Teknik Rp 200,000.00
2 Kepala Pelaksana 1 STM Bangunan Rp 175,000.00
3 Pelaksana 1 STM Bangunan Rp 150,000.00
4 Pembantu Pelaksana 1 STM Bangunan Rp 148,000.00
5 Pengendali Mutu 1 STM Bangunan Rp 150,000.00
6 Mekanik 2 STM Mesin Rp 121,219.00
7 Sopir 2 SMP Rp 98,456.00
8 Pembantu Sopir 2 SMP Rp 65,000.00
9 Surveyor 2 STM Bangunan Rp 148,000.00
10 Mandor 5 ST dan STM Rp 104,355.00
11 Operator 1 ST dan STM Rp 148,006.00
12 Pembantu Operator 1 ST dan STM Rp 117,569.00
13 Tukang Batu 5 ST dan STM Rp 92,723.00
14 Tukang Besi 5 ST dan STM Rp 92,723.00
15 Tukang Kayu 5 ST dan STM Rp 92,723.00
16 Kep. Tukang Batu 1 ST dan STM Rp 107,000.00
17 Kep. Tukang Besi 1 ST dan STM Rp 107,000.00
18 Kep. Tukang Kayu 1 ST dan STM Rp 107,000.00
19 Pekerja 70 SD dan SMP Rp 66,169.00

4.1.2.2 Daftar Ketersediaan dan Harga Satuan Sumber Daya Bahan


Adapun bahan yang dimiliki oleh kontaktor berdasarkan data bahan yang dimiliki
adalah seperti Tabel 4.2, berikut :
Tabel 4. 2 Daftar data ketersediaan dan harga satuan sumber daya bahan.

NO JENIS BAHAN SATUAN H. SATUAN (Rp) KET.


1 2 3 4 5
1 Pasir Pasang (Sedang) M3 Rp 141,400.00
2 Pasir Beton (Kasar) M3 Rp 166,300.00
3 Pasir Halus (untuk HRS) M3 Rp 218,000.00
4 Pasir Urug (ada unsur lempung) M3 Rp 166,300.00
5 Batu Kali M3 Rp 539,500.00
6 Agregat Pecah Kasar M3 Rp 710,636.78
7 Agg. Halus LP A M3 Rp 769,488.62
8 F ille r Kg Rp 1,108.00
9 Batu Belah / Kerakal M3 Rp 535,700.00
10 Gravel M3 Rp 694,800.00
11 Bahan Tanah Timbunan M3 Rp 17,000.00
12 Bahan Pilihan M3 Rp 20,300.00
13 Aspal KG Rp 11,736.63
14 Kerosen / Minyak Tanah LITER Rp 13,275.00
15 Semen / PC (50kg) Zak Rp 77,008.75
16 Semen / PC (kg) Kg Rp 1,540.18
17 Besi Beton Kg Rp 9,937.00
18 Kawat Beton Kg Rp 19,853.00
19 Kawat Bronjong Kg Rp 25,000.00
20 S ir t u M3 Rp 231,100.00
21 Cat Marka (Non Thermoplas) Kg Rp 190,000.00
22 Cat Marka (Thermoplastic) Kg Rp 91,800.00
23 Paku Kg Rp 19,500.00
24 Kayu Perancah M3 Rp 3,865,000.00
25 B e ns in LITER Rp 7,000.00
26 S o la r LITER Rp 12,500.00
27 Minyak Pelumas / Olie LITER Rp 41,333.00
28 Plastik Filter M2 Rp 15,000.00
29 Pipa Galvanis Dia. 1.6" Batang Rp 386,000.00
30 Pipa Porus M' Rp 45,000.00
31 Agr.Base Kelas A M3 Rp 789,810.01
32 Agr.Base Kelas B M3 Rp 771,178.99
33 Agr.Base Kelas C M3 Rp 92,639.34
34 Agr.Base Kelas C2 M3 Rp -
35 Geotextile M2 Rp 35,200.00
36 Aspal Emulsi Kg Rp 11,850.00
37 Gebalan Rumput M2 Rp 4,000.00
38 Thinner LITER Rp 23,250.00
39 Glass Bead Kg Rp 28,600.00
40 Pelat Rambu (Eng. Grade) BH Rp 1,400,000.00
41 Pelat Rambu (High I. Grade) BH Rp 1,550,000.00
42 Rel Pengaman M' Rp 1,579,500.00
43 Beton K-250 M3 Rp 2,413,398.75
44 Baja Tulangan (Polos) U24 Kg Rp 8,767.00
45 Baja Tulangan (Ulir) D32 Kg Rp 10,650.00
46 Kapur M3 Rp 15,000.00
47 Cat Kg Rp 67,750.00
48 Pemantul Cahaya (Reflector) Bh. Rp 68,000.00
49 Pasir Urug M3 Rp 101,000.00
50 Arbocell Kg. Rp 32,000.00
Lanjutan Tabel 4.2 Daftar data ketersediaan dan harga satuan sumber daya bahan.

NO JENIS BAHAN SATUAN H. SATUAN (Rp) KET.


51 Baja Bergelombang Kg Rp 13,000.00
52 Beton K-125 M3 Rp 1,671,348.93
53 Baja Struktur Kg Rp 14,583.00
54 Tiang Pancang Baja M' Rp 25,247.37
55 Tiang Pancang Beton Pratekan M3 Rp 423,957.93
56 Kawat Las Dos Rp 22,500.00
57 Pipa Baja Kg Rp 15,000.00
58 Minyak Fluks Liter Rp 6,237.00
59 Bunker Oil Liter Rp 3,000.00
60 Asbuton Halus Ton Rp 325,000.00
61 Baja Prategang Kg Rp 9,500.00
62 Baja Tulangan (Polos) U32 Kg Rp 10,676.00
63 Baja Tulangan (Ulir) D39 Kg Rp 11,000.00
64 Baja Tulangan (Ulir) D48 Kg Rp 9,400.00
65 PCI Girder L=17m Buah Rp 86,000,000.00
66 PCI Girder L=21m Buah Rp 97,000,000.00
67 PCI Girder L=26m Buah Rp 124,000,000.00
68 PCI Girder L=32m Buah Rp 157,000,000.00
69 PCI Girder L=36m Buah Rp 168,000,000.00
70 PCI Girder L=41m Buah Rp 192,000,000.00
71 Beton K-300 M3 Rp 2,499,377.16
72 Beton K-175 M3 Rp 1,902,649.02
73 Cerucuk M Rp 16,725.00
74 Elastomer buah Rp 300,000.00
75 Bahan pengawet: kreosot liter Rp 5,000.00
76 Mata Kucing buah Rp 75,000.00
77 Anchorage buah Rp 570,000.00
78 Anti strpping agent Kg Rp 46,500.00
79 Bahan Modifikasi Kg Rp 1,000.00
80 Beton K-500 M3 Rp 3,573,605.85
81 Beton K-400 M3 Rp 3,386,591.13
82 Ducting (Kabel prestress) M' Rp 150,000.00
83 Ducting (Strand prestress) M' Rp 50,000.00
84 Beton K-350 M3 Rp 3,313,780.46
85 Multipleks 12 mm Lbr Rp 164,500.00
86 Elastomer jenis 1 (300x350x36 mm) buah Rp 385,500.00
87 Elastomer jenis 2 (350x400x39 mm) buah Rp 650,000.00
88 Elastomer jenis 3 (480x300x57 mm) buah Rp 838,000.00
89 Expansion Tipe Joint Asphaltic Plug M Rp 1,000,000.00
90 Expansion Join Tipe Rubber M Rp 1,200,000.00

Lanjutan Tabel 4.2 Daftar data ketersediaan dan harga satuan sumber daya bahan.
NO JENIS BAHAN SATUAN H. SATUAN (Rp) KET.
91 Expansion Join Baja Siku M Rp 275,000.00
92 Marmer Buah Rp 400,000.00
93 Kerb Type A Buah Rp 45,000.00
94 Paving Block Buah Rp 80,562.00
95 Mini Timber Pile Buah Rp 27,000.00
96 Expansion Joint Tipe Torma M1 Rp 1,200,000.00
97 Strip Bearing Buah Rp 229,500.00
98 Joint Socket Pile 35x35 Set Rp 607,500.00
99 Joint Socket Pile 16x16x16 Set Rp 67,500.00
100 Mikro Pile 16x16x16 M1 Rp 60,750.00
101 Matras Concrete Buah Rp 405,000.00
102 Assetilline Botol Rp 229,500.00
103 Oxygen Botol Rp 114,750.00
104 Batu Bara Kg Rp 600.00
105 Pipa Galvanis Dia 3" M Rp 200,000.00
106 Pipa Galvanis Dia 1,5" M Rp 184,000.00

4.1.2.3 Daftar Data Ketersediaan dan Harga Satuan Sumber Daya Alat
Adapun peralatan yang dimiliki oleh kontaktor berdasarkan data personalia yang
dimiliki adalah seperti Tabel 4.3, berikut :
Tabel 4. 3 Daftar data ketersediaan dan harga satuan sumber daya alat.

NO JENIS ALAT MERK/TYPE MESIN KAPASITAS KET


1 ASPHALT MIXING PLANT - 60 T/Jam Sewa
2 ASPHALT FINISHER - 10 Ton Sewa
3 ASPHALT SPRAYER - 850 Liter Sewa
4 BULLDOZER 100-150 HP - - - Sewa
5 COMPRESSOR 4000-6500 L\M - 5000 CPM/(L/m) Sewa
6 CONCRETE MIXER 0.3-0.6 M3 - 500 Liter Sewa
7 CRANE 10-15 TON - 15 Ton Sewa
8 DUMP TRUCK 3.5 TON - 3.5 Ton Sewa
9 DUMP TRUCK 10 TON - 10 Ton Sewa
10 EXCAVATOR 80-140 HP - 0.93 M3 Sewa
11 FLAT BED TRUCK 3-4 M3 - 10 ton Sewa
12 GENERATOR SET - 135 KVA Sewa
13 MOTOR GRADER >100 HP - 10800 - Sewa
14 TRACK LOADER 75-100 HP - 0.8 M3 Sewa
15 WHEEL LOADER 1.0-1.6 M3 - 1.5 M3 Sewa
16 THREE WHEEL ROLLER 6-8 T - 8 Ton Sewa
17 TANDEM ROLLER 6-8 T. - 8.1 Ton Sewa
18 TIRE ROLLER 8-10 T. - 9 Ton Sewa
19 VIBRATORY ROLLER 5-8 T. - 7.05 Ton Sewa
20 CONCRETE VIBRATOR - 25 - Sewa

Lanjutan Tabel 4.3 Daftar data ketersediaan dan harga satuan sumber daya alat.
NO JENIS ALAT MERK/TYPE MESIN KAPASITAS KET
21 STONE CRUSHER - 60 T/Jam Sewa
22 WATER PUMP 70-100 mm - - - Sewa
23 WATER TANKER 3000-4500 L. - 4000 Liter Sewa
24 PEDESTRIAN ROLLER - 835 Ton Sewa
25 TAMPER - 121 Ton Sewa
26 JACK HAMMER - 1330 - Sewa
27 FULVI MIXER - 2005 - Sewa
28 CONCRETE PUMP - 8 M3 Sewa
29 TRAILER 20 TON - 20 Ton Sewa
30 PILE DRIVER + HAMMER - 2.5 Ton Sewa
31 CRANE ON TRACK 35 TON - 35 Ton Sewa
32 WELDING SET - 250 Amp Sewa
33 BORE PILE MACHINE - 2000 Meter Sewa
34 ASPHALT LIQUID MIXER - 1000 Liter Sewa
35 TRONTON - 15 Ton Sewa
36 COLD MILLING MACHINE - 1000 m Sewa
37 ROCK DRILL BREAKER - - - Sewa
38 COLD RECYCLER - 2200 M Sewa
39 HOT RECYCLER - 3 M Sewa
40 AGGREGAT (CHIP) SPREADER - 3.5 M Sewa
41 ASPHALT DISTRIBUTOR - 4000 Liter Sewa
42 SLIP FORM PAVER - 2.5 M Sewa
43 CONCRETE PAN MIXER - 600 Liter Sewa
44 CONCRETE BREAKER - 20 m3/jam Sewa
45 ASPAHLT TANKER - 4000 liter Sewa
46 CEMENT TANKER - 4000 liter Sewa
47 CONDRETE MIXER (350) - 350 liter Sewa
48 VIBRATING RAMMER - 80 KG Sewa
49 TRUK MIXER (AGITATOR) - 5 M3 Sewa
50 BORE PILE MACHINE - 60 CM Sewa
51 CRANE ON TRACK 75-100 TON - 75 Ton Sewa
52 BLENDING EQUIPMENT - 30 Ton Sewa
53 ASPHALT LIQUID MIXER - 20000 Liter Sewa
54 BAR BENDER - - - Sewa
55 BAR CUTTER - - - Sewa
56 BREAKER - 3 m3/jam Sewa
57 GROUTING PUMP - 15 Ton Sewa
58 JACK HIDROLIC - 150 Ton Sewa
59 MESIN LAS - 0.17 Ton Sewa
60 PILE DRIVER LEADER, 75 kw - 75 kw Sewa
61 PILE HAMMER - - - Sewa
62 PILE HAMMER, 2,5 Ton - 2.5 Ton Sewa
63 STRESSING JACK - 15 Ton Sewa
64 WELDING MACHINE, 300 A - - - Sewa

4.1.3 Data daftar analisa atau Unit Price.


Data daftar analisa yang dipakai dalam proyek ini disesuaikan dengan
pekerjaan daftar analisa yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, yaitu:
1. Pekerjaan Drainase
Galian Untuk Selokan Drainase dan saluran air
0.0302 hr. Pekerja
0.76 hr. Mandor
2. Pekerjaan Tanah
D. 1m3 Galian Perkerasan beraspal tanpa cold milling machine
0.3333 hr. Pekerja
0.1667 hr. Mandor
B. 1m3 timbunan pilihan dari sumber galian
2.4294 hr. Pekerja
0.6073 hr. Mandor
3 Pekerjaan Pondasi Perancah dari Beronjong
1m³ Pasangan batu bronjong dengan kawat beronjong 5mm G5𝑐
Merakit dan masang pondasi
0,667 hr. Pekerja
0,027 hr. Mandor
0,500 hr. Tukang Batu
0,015 hr. Kep Tukang Batu
4 Pekerjaan perancah / kuda – kuda F22
A. 1m³ Pekerjaan merakit dan masang perancah
24,00 hr. Pekerja
2,400 hr. Mandor
8,000 hr. Tukang kayu
0,400 hr. Kepala tukang kayu
B. 1m³ Pekerjaan bangkar dan pengangkutan perancah
2,400 hr. Pekerja
0,240 hr. Mandor
0,800 hr. Tukang kayu
0,040 hr. Kepala tukang kayu
5 Pemasangan kabel presstressed polos / strands
1 kg pekerjaan kabel presstressed polos / strands
0,0050 hr. pekerja
0,0050 hr. tukang besi
0,0005 hr. Kepala tukang
0,0003 hr. Mandor
6 Pekerjaan 1m3 Grouting Girder
1,200 hr. pekerja
0,200 hr. tukang batu
0,020 hr. Kep tukang Batu
0,060 hr. Mandor
7 Pekerjaan Perakitan Jacking Hidrolic
2,400 hr. Pekerja
0,240 hr. Mandor
0,800 hr. Tukang kayu
0,040 hr. Kepala tukang kayu
8 Pekerjaan Penurunan Girder dengan Jacking Hidrolick
0,0050 hr. pekerja
0,0050 hr. tukang besi
0,0005 hr. Kepala tukang besi
0,0003 hr. Mandor
4.2 Metode Pelaksanaan
Sebelum membahas metode pelaksanaan, harus dipelajari bagian-bagian
struktur utama dari suatu konstruksi jalan seperti pada gambar berikut :

oprit lantai dan balok jembatan oprit

abutment
pilar

pondasi tiang
pancang

Gambar 4.1 Gambar potongan memanjang jembatan


Penjelasan gambar potongan memanjang tersebut diatas adalah sebagai
berikut :
1. Struktur Pondasi, baik untuk struktur abutment ataupun untuk struktur
pilar.
2. Struktur Abutment, yaitu struktur dudukan lantai/balok jembatan sisi
tepi
3. Struktur Pilar, yaitu struktur dudukan lantai/balok jembatan sisi tengah
4. Struktur bangunan atas terdiri dari balok dan lantai jembatan
5. Struktur Oprit, yaitu tanah timbunan di sisi-sisi tepi jembatan yang
akan menghubung elevasi lantai jembatan dan elevasi jalan sebelum
dan sesudah konstruksi jembatan.
Dalam merencanakan metode pelaksanaan pekerjaan pada proyek
Jembatan Tukad Keladian ini yaitu :
1. Metode Pelaksanaan Pekerjaan Persiapan.
2. Metode pelaksanaan pekerjaan bangunan atas.
a. Metode pelaksanaan pekerjaan balok gelegar.
4.2.1 Metode Pelaksanaan Pekerjaan Persiapan
Sebelum melakukan pemasangan gelagar hal yang dilakukan adalah
pekerjaan persiapan, antara lain :
1. Menentukan posisi perancah
2. Menentukan penempatan stock gelagar sejajar dengan perancah.
4.2.2 Metode Pelaksanaan Pemasangan Bangunan Atas.
Setelah memperhatikan data-data diatas yang berkaitan dengan perencanaan
metode pelaksanaan pekerjaan, maka metode pelaksanaan pemasangan pekerjaan
bangunan atas (Pemasangan gelagar) pada proyek ini dipilih menggunakan sistem
perancah (flasewoek).
Sistem ini adalah sistem konvensional, dan biasanya digunakan untuk
jembatan kecil pada sungai yang dangkal atau fly over dengan arus lalu lintas dapat
dipindahkan atau dapat diatur disela-sela perancah.
4.2.2.1 Metode Pelaksanaan Pemasangan Gelagar
Metode pelaksanaan pemasangan gelagar pada proyek ini dipilih
menggunakan metode perancah. Dalam metode ini, gielagar yang digunakan adalah
precast. Beton precast merupakan bahan beton yang telah dibuat di pabrik dengan
bentuk sesuai cetakan, kemudian beton yang dicetak tersebut akan diangkut ke
tempat lokasi konstruksi bangunan menggunakan truck. Kemudian dipasang
dengan alat berat berupa mobil crane.
4.2.2.2 Metode Perancah
Pemasangan girder dengan metode perancah dilakukan dengan bantuan
perancah sebagai penyangga. Perancah tersebut dipasang untuk menahan girder
yang telah dirangkai persegmen. Bila sudah diberi perancah dibawah segmen yang
telah dipasang, maka beban pemberat dikurangi.
Tahap tahap pemasangan Girder sebagai berikut :

Ganbar 4.2 Rencana Peletakan Girder


1. Perancah dibuat dari baja H (H beam) dengan ukuran sesuai dengan
rencana.
2. Pasang rel / alat penggeser ( troli ) di atas perancah guna untuk menggeser
girder

Gambar 4.3 Gambar Peletakan Tiang Perancah