Anda di halaman 1dari 17

Cahyaningtyas Zara S B

F1C014086/KELAS B
ILMU KOMUNIKASI

Review: Griffin, EM. 2004. A First Look at Communication Theory. 5th ed. New York:
McGraw Hill chapter 8, 30, 31, 32.

CONSTRUCTIVISM
(KONSTRUKTIVISME)

PENGANTAR

Konstruktivisme (Constructivism) adalah sebuah teori yang dikemukakan oleh Jesse Delia
pada tahun 1982. Delia adalah mantan ketua Department of Speech Communication di University
of Illinois di Urbana-Champaign dan sekarang menjabat sebagai direktur eksekutif Liberal Arts
and Science di universitas itu. Konstruktivisme menggambarkan kita sebagai tukang kayu yang
mencoba untuk membangun atau memperbaiki dunia yang rasional dimana kita tinggal. Dengan
gambaran tersebut maka konstruktivisme digunakan untuk meluruskan budaya, kognisi, dan
komunikasi kita. Inti dari teori ini adalah bahwa seseorang akan menggambarkan dunia melalui
sistem dari gagasan atau apa yang mereka pikirkan sendiri. Gagasan atau pikiran tersebut berupa
komponen-komponen kognitif yang dilengkapi dengan realita-realita yang ada dalam kehidupan
sehari-hari. Delia dan Jaringan Peneliti Konstriktivis menciptakan Role Category Questionaire
(RCQ), dimana hal tersebut dapat membantu kita untuk “masuk ke dalam pikiran kita”. Dengan
demikian, konstruktivisme merupakan teori dalam cakupan komunikasi interpersonal.

CONSTRUCTIVISM

Konstruktivisme adalah teori yang memecahkan sistem tentang central processing. Teori
ini menjelaskan bahwa orang dengan kemampuan kognitif yang kompleks (central processing)
memiliki kemampuan melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain. Teori ini beranggapan bahwa
orang dengan kemampuan kognitif yang kompleks memiliki kemampuan melihat sesuatu dari
sudut pandang orang lain.

A. Instruksi tentang Role Category Questionaire (RCQ)

Angket Kategori Peran (RCQ) adalah sebuah survey respon bebas yang dirancang
untuk mengukur kerumitan kognitif dari persepsi interpersonal seseorang.
Pikirkan tentang orang sebaya kita yang kita kenal dengan baik, pilih mana yang
kita sukai dan mana yang tidak. Bandingkan keduanya dalam hal kepribadian, kebiasaan,
keyakinan, dan bagaimana mereka memperlakukan orang lain. Jangan batasi diri kita
dalam hal persamaan dan perbedaan mereka, biarkan kita berpikir secara luas tentang
karakteristik mereka yang membuat keduanya apa adanya.

B. Komunikasi yang Canggih

Delia dan koleganya berasumsi bahwa orang dengan pemikiran yang kompleks
tentang persepsinya terhadap orang lain mempunyai keuntungan berkomunikasi
dibandingkan dengan mereka yang pengembangan struktur mentalnya kurang. Keuntungan
ini memilihi kemampuan untuk menghasilkan pesan yang canggih dimana mempunyai
kesempatan terbaik untuk mendapatkan tujuan komunikasi mereka.

Person-Centered Message

Delia mengungkapkan bahwa person-centered message adalah pesan yang


mencerminkan kesadaran dari adaptasi untuk subjektif, afektif, dan aspek hubungan
tentang konteks komunikasi. Dengan kata lain, pembicara dapat mengantisipasi bagaimana
individu yang berbeda merespons pesan dan mengatur pesan mereka.

Persuing Multiple Goals

Pesan yang benar-benar canggih menggambarkan lebih dari usaha pembicara dan
penulis pada penyesuaian para audiens. Mereka juga dituntut untuk ahli dalam
menyelesaikan tujuan-tujuan dalam waktu yang bersamaan.
C. Desain Pesan Logis
Barbara O’Keefe mengemukakan bahwa orang berpegang pada tiga hal nyata
tentang bagaimana komunikasi bekerja. Hal tersebut adalah ‘message design logis’, yaitu
teori tentang cara bagimana pesan dapat dibentuk dan disajikan sebagi arti.
Expressive Design Logic
“Bahasa merupakan media untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan”.
Mengatakan terus-menerus apa yang kita pikirkan dan rasakan maka orang lain akan
mengerti pula apa yang kita pikirkan dan rasakan.
Conventional Design Logic
“Komunikasi adalah sebuah permainan yang dimainkan secara koopertaif,
menurut aturan dan prosedur konvensional sosial”. Pernyataan tersebut berarti bahwa
dalam berkomunikasi kita memiliki aturan bermain.
Rethorical Design Logic
“Komunikasi adalah kreasi dan negosiasi dari pribadi social dan situasi yang
ada”. Artinya bahwa ketika seseorang menyampaikan gagasannya, mereka
mengungkapkan kenyataan-kenyataan social yang ada.

D. Keuntungan dari Komunikasi yang Cerdas


Komunikasi yang cerdas dan tepat memunculkan beberapa efek menguntungkan.
Pertama, pesan yang menyenangkan akan menurunkan tekanan emosi orang lain. Kedua,
komunikasi tersebut menjadi proses kejelasan dari perkembangan hubungan yang biasanya
diawali dengan adanya daya tarik, penggalian diri, dilanjutkan proses terakhir, perkenalan
dari hal yang belum dipahami. Kemudian, kecakapan penyampaian pesan oleh seseorang
akan membuat komunikasi dalam organisasi semakin efektif.

E. Mensosialisasikan Generasi Baru Pembicara Canggih


Burleson, Delia dan James Applegate Universitas Kentucky telah menyusun bukti
bahwa pemikiran yang kompleks adalah sifat yang disebarkan secara budaya. Secara
spesifik, mereka menyarankan bahwa kemampuan para orang tua untuk pemikiran social
yang rumit diciptakan kembali dalam diri anak melalui pemeliharaan pesan dan disiplin
ilmu yang rumit. Dengan jalur budaya dan kompleksitas komunikasi tampaknya menjamin
bahwa, jika kita berbicara secara kognitif, maka yang kaya akan semakin kaya.
CATATAN KRITIS

Delia mengemukakan apa yang ia sebut sebagai teori perbedaan kognitif interpretatif pada
tahun 1970an. Meskipun para peneliti empiris ini sedang menilai efektivitas komunikasi dengan
mengumpulkan angka-angka dari skala sikap terstandard, Delia menghendaki “data respon bebas”
yang dapat mencerminkan perbedaan proses mental. Dengan menggunakan data secara bebas,
maka teori ini tidak memilik standar yang jelas. Namun ia percaya bahwa respon yang terbuka
akan memaksa para peneliti agar menjadi teliti secara teoritis.

PENERAPAN
Teori konstruktivisme adalah teori yang efektif apabila diterapkan dalam konteks
komunikasi interpersonal. Dalam teori ini dijelaskan bahwa setiap ndividu memiliki kemampuan
yang berbeda dalam berkomunikasi, dalam membuat gagasan-gagasan tentang dunia pun juga
berbeda. Melalui teori ini, kita dapat mengetahui bagaimana pembicara dapat mengantisipasi
individu yang berbeda merespons pesan dan mengatur pesan mereka.

CONTOH KASUS
Sinta mencoba mengukur kerumitan kognitifnya dengan membandingkan kedua teman
sebayanya. Ia memilih siapa yang ia sukai dan yang yang tidak ia sukai. Sinta memilih Dea sebagai
orang yang ia suka, dan memilih Dito sebagai orang yang tidak dia suka. Dengan
memikirkankarakteristik atau kepribadian dari Dea dan Dito, Sinta menuliskannya ke dalam
selembar kertas, apa saja karakter yang ia sukai dari Dea dan apa saja yang ia tidak sukai dari Dito.
Dari analisis yang ia tulis, ternyata pada masing-masing karakter terdapat 20 poin.Hal ini
menunjukan bahwa Sinta memiliki ke-kompleks-an dalam berpikir karena dalam memandang
sesuatu ia bisa menjabarkannya secara detail. Sinta berarti mempunyai kemampuan kognitif yang
rumit, sehingga dalam melihat dunia ini ia tidak hanya memandangnya dengan hitam dan putih
saja.
ANXIETY/UNCERTAINTY MANAGEMENT THEORY

(TEORI MANAJEMEN KEGELISAHAN/KETIDAKTENTUAN)

PENGANTAR

Teori Manajemen Kegelisahan/Ketidaktentuan (Anxiety/Uncertainty Management Theory)


adalah teori yang dikemukakan oleh William Gudykunts, seorang Profesor Komunikasi di
Universitas California, Fullerton. Gudykunts mengembangkan teori ini saat ia sedang menjadi
spesialis hubungan antarbudaya untuk US Navy dan Jepang. Ia menjelaskan tentang apa yang akan
terjadi jika orang asing (stranger) mencoba untuk berkomunikasi secara efektif dalam budaya yang
berbeda. Jadi pokok bahasan teori ini adalah pertemuan antara budaya kelompok (cultural in-
group) dengan orang asing (stranger). Cakupan teori ini adalah pada komunikasi antarbudaya.
Namun Gudykunts ingin teorinya dapat diaplikasikan di berbagai situasi dimana perbedaan antar
manusia menimbulkan keraguan dan ketakutan. Teori ini bertujuan untuk menjembatani batas
budaya melalui komunikasi yang efektif. Gudykunts berasumsi bahwa setidaknya ada satu orang
dalam sebuah pertemuan antarbudaya adalah orang asing. Stranger dalam arti di sini adalah ketika
ada sebuah perasaan kegelisahan (anxiety) dan ketidaktentuan (uncertainty), sehingga
menimbulkan rasa tidak aman dan tidak tahu bagaimana harus bersikap. Teori ini masih dalam
tahap konstruksi.

ANXIETY/UNCERTAINTY MANAGEMENT THEORY (AUM)

Menurut Gudykunts, term effective communication merupakan proses untuk


meminimalisir kesalahpahaman. Ia menganggap bahwa komunikasi yang efektif adalah apabila
seseorang dapat memprediksi dan menjelaskan perilaku orang lain. Teori AUM menjelaskan
tentang komunikasi face-to-face yang efektif, dimana komunikasi yang terjadi adalah komunikasi
yang mindfulness dan dapat mengurangi kegelisahan/ketidaktentuan. Sepertiyangsudah disebutkan
di atas, teori ini menjelaskan tentang apa yang akan terjadi jika orang asing (stranger) mencoba
untuk berkomunikasi secara efektif dalam budaya yang berbeda. Jadi pokok bahasan teori ini
adalah pertemuan antara budaya kelompok (cultural in-group) dengan orang asing (stranger).
Ada empat level kompetensi komunikasi menurut William Howell. Gudykunts
mendefinisikan mindfulness termasuk dalam level 3. Level kompetensi komunikasi tersebut yaitu:
a. Unconscious incompetence : Kita salah menginterpretasikan perilaku orang lain dan tidak
sadar bahwa kita melakukannya.
b. Conscious incompetence : Kita mengetahui bahwa kita salah menginterpretasikan perilaku
orang lain tapi tidak berbuat apa-apa.
c. Conscious competence : Kita berpikir tentang komunikasi yang kita lakukan dan secara
berlanjut berusaha untuk mengubah apa yang kita lakukan agar komunikasi kita berjalan
efektif.
d. Unsconsious competence : Kita telah membangun ketrampilan berkomunikasi pada
tingkatan ketika kita tidak perlu lagi berpikir tentang bagaimana kita berbicara atau
mendengarkan.

Anxiety (kegelisahan) dan Uncertainty (ketidakpastian)


Penyebab dasar kegagalan komunikasi dalan 6ndividual adalah anxiety dan uncertainty.
Keduanya saling berhubungan, namun Gudykunts menemukan hal yang membedakannya.
Uncertainty adalah kognitif-pengertian (pikiran), sedang anxiety adalah afektif-emosi (perasaan).
Ia membuat generalisasi tentang hal ini, yaitu semakin besar batas antarbudaya, maka semakin
tinggi pula level anxiety dan uncertainty yang dialami seseorang.
Namun anxiety dan uncertainty tidak selalu buruk, kedua hal tersebut tetap dibutuhkan
untuk menghindarkan kita dari bosan, malas, dan terlalu percaya diri dalam memprediksikan
sesuatu.

Mengatur Anxiety dan Uncertainty Ketika Budaya Bertentangan


Untuk menciptakan komunikasi yang efektif, Gudykunts menampilkan 37 aksioma yang
terpisah, yang dikelompokkan ke dalam enam kategori.
a. Diri dan Konsep Diri
Axiom 5 : Peningkatan ‘kebanggaan’ dalam diri ketika kita berinteraksi dengan
orang lain akan menaikkan kemampuan kita dalam mengatur anxiety.
Ketika kita merasa bangga pada diri kita, maka rasa percaya diri akan tumbuh. Dengan
percaya diri tersebut, kegelisahan saat menghadapi orang lain juga akan berkurang.
b. Motivasi untuk Berinteraksi dengan Orang Asing
Axiom 7 : Peningkatan dalam kebutuhan merasa diterima dalam kelompok ketika
kita berinteraksi dengan orang asing akan meningkatkan anxiety..
Ketika keinginan kita untuk diterima dalam suatu kelompok terlalu besar, maka kita akan
semakin gelisah karena terlalu berpikir bagaimana harus bersikap dan apa yang harus
dikatakan agar bisa diterima dalam kelompok itu.
c. Reaksi terhadap Orang Asing
Axiom 12 : Peningkatan dalam ketrampilan kita untuk secara kompleks memproses
informasi tentang orang asing akan menaikkan kemampuan kita dalam
memprediksi perilaku mereka secara akurat.
Teori konstruktivisme (Dellia) menganggap bahwa orang dengan kemampuan kognitif
yang kompleks memiliki kemampuan melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain.
Axiom 15 : Semakin tinggi kemampuan untuk mentolerir ambiguitas ketika kita
berinteraksi dengan orang asing akan meningkatkan kemampuan kita dalam
mengontrol anxiety.
Axiom 16 : Semakin tinggi kemampuan kita untuk berempati kepada orang asing,
akan semakin tinggi pula kemampuan kita untuk memprediksi perilaku orang lain.
d. Kategori Sosial Orang Asing
Axiom 20 : Semakin tinggi persamaan personal yang kita rasakan antara kita
dengan orang asing, semakin tinggi kemampuan kita untuk mengontrol anxiety.
Axiom 25 : Semakin tinggi kewaspadaan kita terhadap pelanggaran orang asing
terhadap keinginan positif kita atau penegasan terhadap keinginan negative kita,
semakin tinggi anxiety dan semakin menurun rasa percaya diri untuk memprediksi
perilaku orang lain.
e. Proses Situasional
Axiom 27 : Peningkatan situasi informal ketika berkomunikasi dengan orang asing
akan menurunkan anxiety dan meningkatkan rasa percaya diri dalam memprediksi
orang lain.
f. Hubungan dengan Orang Asing
Axiom 31 dan 37: Peningkatan ketertarikan pada orang asing dan peningkatan
jaringan akan menurunkan anxiety dan meningkatkan rasa percaya diri untuk
memprediksi perilaku orang lain.

CATATAN KRITIS
Dalam teori anxiety/uncertainty ini terdapat banyak 8ndividu-variabel 8ndividual. Jika
teori uncertainty reduction dari Berger memberikan 7 aksioma yang diperluas menjadi 21 teorema,
Gudykunts dalam AUM menawarkan 47 aksioma yang bisa diperluas lagi. Hal tersebut akan sulit
untuk merangkul semuanya dalam hubungan anxiety, uncertainty, mindfulness, dan effective
communication.
Axiom 47 menjelaskan bahwa peningkatan kemampuan dalam mengontrol anxiety
mengenai berinteraksi dengan prang asing dan peningkatan pada prediksi akuratmengenai
perilakunya, akan menghasilkan peningkatan pada keefektifan komunikasi kita. Walapun axioma
ini bersifat kondisional, namun tetap saja axioma ini menyatakan bahwa hanya dengan
‘mindfulness’ terhadap orang asing, komunikasi yang efektif dapat tercapai.

PENERAPAN
Teori manajemen kegelisahan/ketidakpastian (AUM) ini adalah teori yang akan efektif
apabila diterapkan dalam konteks komunikasi antarbudaya, karena kajian dalam teori ini adalah
tentang pertemuan antara budaya kelompok (cultural in-group) dengan orang asing (stranger),
dengan adanya pertemuan tersebut maka akan menyebabkan kegelisahan atau ketidakpastian
dalam memprediksi perilaku masing-masing pihak. Untuk menghasilkan suatu komunikasi yang
efektif, maka kegelisahan atau ketidakpastian itu dapat diatasi dengan axioma-axioma yang sudah
dijelaskan di atas.

CONTOH KASUS
Tirza adalah seorang mahasiswa baru Ilmu Komunikasi Unsoed yang berasal dari Jawa
Tengah. Saat memasuki kuliah hari pertama ia merasa gelisah dan ragu tentang apa yang akan
terjadi hari itu. Tirza pasti akan bertemu teman-teman baru dari berbagai daerah yang tentunya
mempunyai kebudayaan yang berbeda-beda. Kecemasan dan keraguan yang muncul dalam dirinya
disebabkan karena Tirza adalah orang yang pemalu, dia berpikir bagaimana untuk menghadapi
orang-orang asing itu, dan bagaimana dia harus bersikap di depan mereka. Tirza juga cemas jika
ia tidak dapat diterima dalam kelompok yang ia inginkan. Dengan kecemasa-kecemasan tersebut
ia berusaha untuk memantaskan diri dihadapan teman-teman barunya, ia harus meningkatkan rasa
percaya dirinya dengan tidak minder atau takut.

FACE-NEGOTIATION THEORY
(TEORI NEGOSIASI MUKA)

PENGANTAR

Teori Negosiasi Muka (Face-Negotiation Theory) merupakan teori yang dikemukakan


oleh Stella Ting-Toomey, seorang warga negara Hongkong yang menjadi Profesor Komunikasi di
California State University, Fullerton. Ting-Toomey mengembangkan teori negosiasi muka pada
tahun 1985, dimana kajian pada teori ini membahas tentang bagaimana orang-orang dari
kebudayaan yang berbeda mengelola ‘muka’ untuk mengatasi konflik. Teori ini berdasarkan pada
perbedaan antara individualistic dan kolektivistik, dengan menggabungkan penelitian lintas
budaya, konflik, kesantunan, dan facework. Kita tahu bahwa setiap orang dari budaya yang
berbeda memiliki pemikiran yang berbeda mengenai muka orang lain. Pemikiran ini menyebabkan
mereka menghadapi konflik yang berbeda tergantung budaya masing-masing. Teori ini membantu
mengelola konflik budaya yang berbeda dalam aspek komunikasi, selain itu teori ini
dikembangkan sebagai cara untuk memprediksi bagaimana seseorang akan menyempurnakan
identitas mereka (facework) dalam kebudayaan yang berbeda.

FACE-NEGOTIATION THEORY

Face Negotiation Theory (Teori Negosiasi Muka) dikemukakan pertama kali oleh Stella
Ting-Toomey pada tahun 1985. Ting-Toomey merupakan salah satu kolega dari Gudykunst di
California State University, Fulleton. Seperti yang sudah disebutkan di atas, teori ini membahas
tentang bagaimana orang-orang dari kebudayaan yang berbeda mengelola ‘muka’ untuk mengatasi
konflik.

Terdapat dua aspek penting dalam teori ini, yaitu individualistic dan kolektivistik. Harry
Triandi, seorang psikolog dari Universitas Illionis mengatakan bahwa ada tiga perbedaan penting
antara individualistic dan kolektivistik, yaitu self (arti diri), goals (tujuan),dan duty (kewajiban).

PERBEDAAN Individualistik Kolektivistik


Self Seorang yang individualis Seorang kolektifis akan
akan menganggap dirinya menganggap dirinya
sebagai dirinya senidiri, tidak sebagai ayah, guru,
terpengaruh dan bergantung perempuan/laki-laki.
dengan orang lain.
Goals Seorang individualis akan Seorang kolektifis akan
melakukan apa tujuan yang ia melakukan sesuai tujuan
suka. kelompoknya.
Duty Individualis akan bekerja Seorang kolektifis akan
dengan prinsip yang minim bersosialisasi untuk
untuk membedakan mana melaksanakan kewajiban
kesenangan dan mana mereka yang ada untuk
keuntungan untuk diri sendiri. melayani atau membantu
orang lain.

A. Asumsi Teori Negosiasi Muka


1. Identitas diri penting dalam interaksi interpersonal, dan setiap individu menegosiasikan
identitas mereka secara berbeda dalam budaya yang berbeda.
2. Manajemen konflik dimediasi oleh muka dan budaya.
3. Tindakan-tindakan tertentu mengancam citra diri seseorang yang ditampilkan (muka).

B. Hubungan Budaya dan Manajemen Konflik


M. Afzalur Rahim, seorang professor manajemen dan pemasaran di Western Kentucky
University menyatakan bahwa Ting-Toomey mengidentifikasi lima respon yang berbeda saat
situasi seseorang tidak meraih kebutuhan, kepentingan atau tujuan mereka, respon tersebut
adalah:

· 1. Avoiding (menghindar), seseorang akan berusaha menghindari konflik yang sekiranya akan
menyulitkan dirinya.

· 2. Obliging (menurut, membantu), seseorang menawarkan bantuan kepada orang lain karena
ada rasa prihatin atau iba.

· 3. Compromising (kompromi), mengambil pendekatan kedua belah pihak memberikan


sesuatu dalam rangka menemukan jalan tengah dan mencapai solusi.

· 4. Dominating (dominasi), seseorang yang memiliki dominasi akan menekan pihak lain
dengan kekuatan yang dimilikinya.

· 5. Integrating (mempersatukan), merupakan win-win solution yang bermanfaat untuk kedua


belah pihak dan menjadi solusi yang baik.

C. Power Distance (Kekuatan Jarak)


Kekuatan jarak menjadi dimensi yang penting dalam membandingkan kebudayaan.
Kekuatan jarak didefinisikan sebagai tingkatan dimana anggota masyarakat yang memiliki
kekuatan atau kekuasaan lebih sedikit akan menerima kekuatan yang didistribusikan dengan
tidak sama atau tidak merata.

D. Elemen dalam Komunikasi Antarbudaya


1. Knowledge. Dengan pengetahuan dapat memberikan wawasan lebih banyak agar kita lebih
mudah memahami budaya.
2. Mindfulness. Menunjukan bahwa sesuatu tidaklah selalu tampak seperti apa yang kita lihat.
3. Interaction skill. Kemampuan berkomunikasi secara tepat, efektif dan cepat beradaptasi
dengan lingkungan.
CATATAN KRITIS

Dalam teori negosiasi muka ini, Ting-Toomey memperkenalkan konsep independent dan
interdependent self dengan mengacu pada ‘derajat dimana seseorang akan merasa dirinya adalah
manusia otonom atau terhubung dengan orang lain.’ Psikologis Hazel Markus dan Shinobu
Kitamaya menyebutnya dengan self-construal atau self-image. Karena hal tersebut, Ting-Toomey
merevisi teorinya menjadi:

Type of culture -> Type of self-construal -> Type of face-maintenance -> Type of conflict
management

PENERAPAN
Face-Negotiation Theory (Teori Negosiasi Muka) adalah teori yang membahas tentang
bagaimana orang-orang dari kebudayaan yang berbeda mengelola ‘muka’ untuk mengatasi
konflik. Karena kajian ini membahas tentang komunikasi yang berhubungan dengan kebudayaan,
maka teori ini efektif jika diterapkan dalam komunikasi antarbudaya, dimana budaya-budaya yang
ada di masyarakat saling berhubungan dan menimbulkan timbal balik.

CONTOH KASUS

Eline, seorang siswi pindahan dari Amerika ditunjuk untuk mengikuti lomba debat Bahasa
Inggris oleh gurunya yaitu Mrs. Yoona, seorang guru berkebangsaan Korea. Eline merasa tidak
siap karena ia belum melakukan persiapan apapun. Mrs. Yoona memberitahukan soal lomba
tersebut 2 minggu sebelum perlombaan dilaksanakan. Ia merasa belum menguasai materi yang
akan dilombakan. Kemudia Eline dengan mantap mendatangi Mrs. Yoona dan secara gamblang
mengatakan bahwa ia tidak siap untuk maju lomba. Namun Mrs. Yoona tetap menginginkan Eline
untuk mengikuti lomba karena ia yakin Eline memiliki kemampuan yang bagus mengingat Eline
juga merupakan seorang siswi pindahan dari Amerika. Eline tetap bersikeras untuk menjelaskan
ketidaksiapannya dengan alasan-alasan yang nyata, dan melakukan negosiasi dengan Mrs. Yoona.

Dengan situasi seperti ini, terjadi konflik antara mereka berdua. Mrs. Yoona berusaha
untuk meredakan konflik dengan mencoba menjelaskan kelebihan-kelebihan Eline dan
kemampuannya yang bisa diandalkan. Mrs. Yona berusaha memberi motivasi dan pengertian-
pengertian yang dapat menyelesaikan konflik antara mereka berdua.
SPEECH CODES THEORY (The Ethnography of Communication)

(TEORI KODE BERBICARA)

PENGANTAR

Teori Kode Berbicara (Speech Codes Theory) adalah teori yang dikemukakan oleh Gerry
Phillipsen pada tahun 1997. Phillipsen merupakan seorang Profesor Komunikasi di Universitas
Washington. Teori ini membahas tentang bagaimana kode berbicara setiap kelompok masyarakat
berbeda-beda dan pasti mempunyai ciri khas tersendiri. Dimana ada budaya, pasti ada kode
berbicara yang berbeda. Speech Codes didasarkan pada penelitian Phillipsen, yaitu mengenai
budaya pengemudi truk di Chicago yang diberi nama Teamsterville dan membedakannya dari
budaya khas Amerika Serikat yang ia beri nama Nacirema. Menurut Phillipsen, teorinya mengacu
pada histori yang berlaku, sistem istilah yang dibangun secara sosial, makna, tempat, dan aturan,
yang berkaitan dengan perilaku komunikatif. Teori ini bertujuan untuk mencari jawaban tentang
keberadaan kode bicara, substansinya, cara menemukan kode bicara, dan pengaruhnya dalam
suatu budaya.

SPEECH CODES THEORY (TEORI KODE BERBICARA)

Kode bicara adalah tentang budaya dalam budaya. Teori ini bukan membahas tentang
negara-negara yang berbeda atau latar belakang etnis yang berbeda, tetapi lebih menunjuk pada
hubungan antara komunikasi dan budaya.
Secara singkat, Philipsen mengemukakan inti dari ini ke dalam 5 proposisi yaitu :
A. Membedakan Kode Berbicara
Proposisi 1 : “Dimanapun ada perbedaan budaya maka akan ditemukan perbedaan kode
bicara.”
Sudah cukup jelas bahwa dalam setiap budaya maka pasti ada perbedaan kode-kode
berbicara.
B. Unsur Kode Berbicara
Proposisi 2 : “Kode bicara di pengaruhi oleh perbedaan psikologis sosiologi dan gaya
bicara dalam kulutural budaya.”
1. Psikologi: Menurut Philipsen, tiap-tiap kode berbicara “pokok pembicaraan” alami
tentang individu secara khusus.

2. Sosiologi: Philipsen menulis bahwa suatu kode berbicara menyediakan suatu sistem
jawaban tentang hubungan antara pribadi dan orang lain, yang dapat dilihat/dicari dan
sumber daya simbolis apa yang dapat dengan efektif dalam mencari hubungan itu.

3. Retorik: Philipsen menggunakan term retorik dalam pengertian penemuan kebenaran


yang ganda dan pendekatan yang bersifat mempengaruhi.

C. Penafsiran Kode Berbicara


Proposisi 3: “Arti dalam sebuah pembicaraan tergantung pada kode berbicara yang
digunakan oleh pembicara atau pendengar untuk menginterpretasikan
komunikasi mereka.”
Jika kita ingin memahami arti dari praktek berbicara dalam suatu kultur/ budaya, maka kita
harus mendengarkan cara orang-orang itu memperbincangkan tentang masalah itu dan bereaksi
terhadap masalah itu.
D. Lokasi Kode Berbicara
Proposisi 4: “Istilah, aturan, dan premis dari sebuah kode berbicara tidak dapat lepas
dari pembicaraan itu sendiri.”
Hal ini akan sulit jika dihadapkan pada masalah yang menyangkut orang lain. Maka
diperlukan suatu urutan yang khas, yaitu:
1. Inisiasi. Seorang teman menyatakan suatu kebutuhan untuk membahas suatu masalah
hubungan antar pribadi.
2. Pengakuan. Orang kepercayaan mengsahihkan pentingnya isu oleh suatu kesediaan untuk
“duduk dan berbicara”.
3. Negosiasi. Diri teman menyingkapkan, orang kepercayaan mendengarkan suatu yang tegas
dan cara nonjudgemental, teman pada gilirannya menunjukkan keterbukaan ke umpan
balik dan perubahan.
E. Kekuatan Kode Berbicara dalam Berdiskusi

Proposisi 5: “Kegunaan kode bicara merupakan kondisi yang utama untuk


memperkirakan, menerangkan dan mengontrol bentuk
intelegentibilitas, kebijakasanaan dan tata moral komunikasi.”
Dengan menggunakan kode berbicara dengan baik,itu merupakan suatu kondisi yang
cukup untuk meramalkan, menjelaskan, dan mengendalikan pembicaraan tentang
kebijaksanaan, kejelasan, dan kesusilaan dalam melakukan komunikasi.

CATATAN KRITIS
Para ahli etnografi terkesan dengan komitmen Philipsen untuk pengamatan jangka panjang
dan penafsirannya. Tetapi mereka mengkritik usaha Philipsen untuk meneruskan kebudayaan
tersebut. Ia tidak mengurangi variasi budaya yang dikeluarkan secara tunggal seperti
individualistik/ kerjasama yang rendah. Selain itu, uraiannya mengenai kode berbicara Nacirema
gagal untuk membuka kedok pola teladan dominasi, dan ia tidak angkat bicara melawan pria di
Teamsterville.

PENERAPAN

Teori kode berbicara ini efektif apabila diterapkan dalam konteks komunikasi antarbudaya.
Indonesia yang merupakan negara yang mempunyai bahasa, agama, ras dan budaya yang beragam,
sehingga dengan menerapkan teori ini kita tidak akan kesulitan dalam memahami dan mengerti
tentang orang-orang dari budaya yang berbeda. Dengan teori ini komunikasi akan berjalan lebih
efektif, tanpa adanya rasa perbedaan kebudayaan dan bahasa, apabila bahasa tersebut benar-benar
digunakan dengan baik.

CONTOH KASUS

Nabila Situmorang adalah seorang keturunan Padang, Sumatera Utara. Suatu hari saat ia
makan siang bersama teman-temannya di kantin, ia bersendawa dengan sangat keras dan tanpa
sungkan. Teman-temannya yang mendengar Nabila bersendawa dengan santai tersebut merasa
rishi dan aneh. Nabila merasa bahwa bersendawa adalah hal yang biasa saja, menurut budaya
Sumatra, bersendawa setelah makan bukanlah hal yang tidak sopan. Malah hal tersebut menjadi
sebuah penghargaan karena orang yang menyediakan makanan tersebut sudah memberikan
kenikmatan pada orang yang diberi makan, sehingga bersendawa adalah simbol dari kepuasan.
Namun berbeda dengan budaya Jawa, bersendawa memang diperbolehkan, namun jika dengan
suara yang keras dan tanpa memperhatikan lingkungan itu akan menjadi suatu hal yang tidak
sopan.

Contoh di atas menggambarkan bahwa dalam setiap budaya terdapat kode-kode tersendiri
dalam berbicara atau berkomunikasi.
DAFTAR PUSTAKA

Griffin, EM. 2004. A First Look at Communication Theory. 5th ed. New York: McGraw Hill
http://ardhyanaandmediastudies.blogspot.com/ diakses pada Kamis, 9 April 2015
http://slideshare.com/ diakses pada Kamis, 9 April 2015