Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

ASAL-USUL GERAKAN MUHAMMADIYAH

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Al Islam dan Kemuhammadiyahan


yang dibimbing oleh dosen pengampu mata kuliah
Ibu Dra., Sukanah, M.A

Disusun Oleh :
Kelompok 2

Nadya Rizky Nuzul Ramadhanti (201510070311115)


Lia Astuti (201510070311131)
Afri tarmita (201510080311146)

FAKULTAS ILMU KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2017
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Salawat dan salam semoga
tercurahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, keluarga,
sahabat, dan para pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.
Alhamdulillah, berkat izin Allah yang Maha Besar, makalah yang berjudul Asal
Usul Gerakan Muhammadiyah ini telah selesai kami garap. Di dalam makalah ini
kami menjelaskan latar belakang berdirinya organisasi Muhammadiyah dan profil
singkat KH. Ahmad Dahlan selaku pendiri Muhammadiyah.
Kami menyadari, dalam makalah ini masih banyak kesalahan dan
kekurangan, yang disebabkan keterbatasan kemampuan dan pengalaman yang
kami miliki. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran demi perbaikan
dan kesempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan pembaca
umumnya.

Malang, 30 September 2017

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i

DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1

1.1. Latar Belakang ......................................................................................... 1

1.2. Rumusan Masalah .................................................................................... 1

1.2.1 Apa latar belakang berdirinya Muhammadiyah ? ................................ 1

1.2.2 Apa visi dan misi Muhammadiyah? ..................................................... 1

1.2.3 Bagaimana profil pendiri Muhammadiyah ? ........................................ 1

1.3 Tujuan Penulisan...........................................................................................1

1.3.1 Mengetahui latar belakang berdirinya Muhammadiyah..........................1

1.3.2 Mengetahui visi dan misi Muhammadiyah..............................................1

1.3.3 Mengetahui profil pendiri Muhammadiyah.............................................1

1.4 Manfaat Penulisan.........................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................ 3

2.1 Latar Belakang Berdirinya Muhammadiyah ............................................ 3

2.2 Kondisi Internal Umat Islam .................................................................... 3

2.3 Kondisi Eksternal Umat Islam.......................................................................4

2.3.1 Kebijakan Politik Kolonial Belanda terhadap Umat Islam......................4

2.3.2 Pengaruh Perkembangan Islam di Timur Tengah...................................5

2.4 Misi Muhammadiyah ............................................................................... 7

2.5 Profil Pendiri Muhammadiyah ................................................................. 9

BAB III PENUTUP .............................................................................................. 13

3.1. Kesimpulan ............................................................................................. 13

ii
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 14

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Muhammadiyah adalah salah satu oraganisasi Islam besar di Indonesia. Nama
organisasi ini diambil dari nama Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam,
sehingga Muhammadiyah juga dapat dikenal sebagai orang-orang yang menjadi
pengikut Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Muhammadiyah
didirikan di Kampung Kauman Yogyakarta, pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H/18
Nopember 1912 oleh seorang yang bernama Muhammad Darwis, kemudian
dikenal dengan Kiyai Haji Ahmad Dahlan. Beliau adalah pegawai kesultanan
Kraton Yogyakarta sebagai seorang Khatib dan sebagai pedagang. Melihat
keadaan ummat Islam pada waktu itu dalam keadaan jumud, beku dan penuh
dengan amalan-amalan yang bersifat mistik, beliau tergerak hatinya untuk
mengajak mereka kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya berdasarkan
Qur`an dan Hadist.
Berdasarkan itu kami ingin menggali lebih dalam tentang Muhammadiyah
yang satu-satunya menjadi organisasi masa islam yang modern tanpa
mengesampingkan ajaran islam itu sendiri.

1.2. Rumusan Masalah

1.2.1 Apa latar belakang berdirinya Muhammadiyah ?

1.2.2 Apa Misi Muhammadiyah?

1.2.3 Bagaimana profil pendiri Muhammadiyah ?

1.3 Tujuan Penulisan

1.3.1 Mengetahui latar belakang berdirinya Muuhammadiyah

1.3.2 Mengetahui Misi Muhammadiyah

1.3.3 Mengetahui profil pendiri Muhammadiyah

1
1.4. Manfaat Penulisan
1. Ada banyak manfaat dari pembuatan makalah gerakan Islamisasi Nusantara
ini. Manfaat yang didapatkan antara lain : Melatih kemampuan mahasiswa
untuk menyusun makalah sesuai dengan penyusunan yang baik dan benar.
2. Selain bermanfaat bagi penulis, makalah ini juga bermanfaat bagi pembaca
sebagai bahan referensi mengenai asal usul gerakan Muhammadiyah.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Latar Belakang Berdirinya Muhammadiyah


Muhammadiyah secara etimologis berarti pengikut nabi Muhammad, karena
berasal dari kata Muhammad, kemudian mendapatkan ya nisbiyah, sedangkan
secara terminologi berarti gerakan Islam, dakwah amar ma’ruf nahi mungkar dan
tajdid, bersumber pada al-Qur’an dan as-Sunnah. Berkaitan dengan latar belakang
berdirinya Muhammadiyah secara garis besar faktor penyebabnya adalah
pertama, faktor subyektif adalah hasil pendalaman KH. Ahmad Dahlan terhadap
al-Qur’an dalam menelaah, membahas dan mengkaji kandungan isinya. Kedua,
faktor obyektif di mana dapat dilihat secara internal dan eksternal. Secara internal
ketidakmurnian amalan Islam akibat tidak dijadikannya al-Qur’an dan as-Sunnah
sebagai satu-satunya rujukan oleh sebagiab besar umat Islam Indonesia.
Keinginan dari Kiyai Haji Akhmad Dahlan untuk mendirikan organisasi yang
dapat dijadikan sebagai alat perjuangan dan da’wah untuk nenegakan amar
ma’ruf nahyi munkar yang bersumber pada Al-Qur’an, surat Al-Imron:104 dan
surat Al-ma’un sebagai sumber dari gerakan sosial praktis untuk mewujudkan
gerakan tauhid.
Ketidak murnian ajaran islam yang dipahami oleh sebagian umat islam
Indonesia, sebagai bentuk adaptasi tidak tuntas antara tradisi islam dan tradisi
lokal nusantara dalam awal bermuatan faham animisme dan dinamisme.
Sehingga dalam prakteknya umat islam di indonesia memperlihatkan hal-hal
yang bertentangan dengan prinsif-prinsif ajaran islam, terutama yang berhubuaan
dengan prinsif akidah islam yag menolak segala bentuk kemusyrikan, taqlid,
bid’ah, dan khurafat. Sehingga pemurnian ajaran menjadi pilihan mutlak bagi
umat islamm Indonesia.
Keterbelakangan umat islam indonesia dalam segi kehidupan menjadi sumber
keprihatinan untuk mencarikan solusi agar dapat keluar menjadi keterbelakangan.
Keterbelakangan umat islam dalam dunia pendidikan menjadi sumber utama
keterbelakangan dalam peradaban. Pesantren tidak bisa selamanya dianggap
menjadi sumber lahirnya generasi baru muda islam yang berpikir moderen.

3
Kesejarteraan umat islam akan tetap berada dibawah garis kemiskinan jika
kebodohan masih melengkupi umat islam indonesia.
Maraknya kristenisasi di indonesia sebegai efek domino dari imperalisme
Eropa ke dunia timur yang mayoritas beragama islam. Proyek kristenisasi satu
paket dengan proyek imperialalisme dan modernisasi bangsa Eropa, selain
keinginan untuk memperluas daerah koloni untuk memasarkan produk-produk
hasil refolusi industeri yang melada eropa.
Imperialisme Eropa tidak hanya membonceng gerilya gerejawan dan para
penginjil untuk menyampaikan ’ajaran jesus’ untuk menyapa umat manusia
diseluruh dunia untuk ’mengikuti’ ajaran jesus. Tetapi juga membawa angin
modernisasi yang sedang melanda eropa. Modernisasi yang terhembus melalui
model pendidikan barat (belanda) di indonesia mengusung paham-paham yang
melahirkan moernisasi eropa, seperti sekularisme, individualisme, liberalisme
dan rasionalisme. Jika penetrasi itu tidak dihentikan maka akan terlahir generasi
baru islam yang rasional tetapi liberal dan sekuler.
Secara garis besar yang melatarbelakangi lahirnya Muhammadiyah antara
lain dikarenakan: (1) Kondisi internal umat islam dan (2) Kondisi eksternal umat
islam.

2.2 Kondisi Internal Umat Islam


Keberagaman umat islam di Indonesia tidak bisa lepas dengan proses
penyebaran Islam di Jawa. Pada waktu agama Islam datang ke jawa, masyarakat
jawa telah memiliki tradisi dan kepercayaan keagamaan yang merupakan
perpaduan antara tradisi dan kepercayaan keagamaan yang tradisional yang telah
berubah menjadi adat istiadat bersifat agamis dengan bentuk mistik berjiwa Hindu
dan Budha ( sinkritisme ).
Fenomena Sinkritisme tersebut merupakan kenyataan di masyarakat
karena 600 tahun sebelum masehi. Model keberagaman (keyakinan) masyarakay
adalah animistik dan dinamistik. Sekitar awal abad 1 Masehi. Selama era kejayaan
kerajaan Hindu pengaruhnya sangat kuat dan budha Hindu secara politik
mendapat dukungan dari pihak kerajaan karena agama Hindu sekaligus menjadi
agama resmi kerajaan.

4
Tradisi dan kepercayaan masyarakat jawa pra Islam tersebut masih tetap
hidup bahkan ikut berkembang bersamaan dengan proses perkembangan islam
selanjutnya.Hal ini disebabkan oleh para penyebaran Islam di Jawa adalah para
Saudagar dari Gujarat, dan mereka merupakan bangsa India yang dlam kehidupn
sehari-hari telah terbiasa denga kepercayaan yang beraroma animistik dan
dinamistik. Faktor lain yang turut menyeburkan tradisi dan kepercayaan
masyarakat pra Islam adalah proses penyebaran Islam yang tidak merata terutama
di Jawa. Proses Islamisasi di jawa dilakukan oleh para wali (wali sembilan)
dilanjutkan oleh keturunan serta oleh para murid-muridnya.
Tidak meratanya proses Islamisasi di Jawa juga disebabkan pengaruh
kerajaan Hindu dan Budha yang pernah berabad-abad menguasai Pulau Jawa.
Berbeda dengan daerah-daerah yang tidak pernah dikuasai Kerajaan Hindu dan
Budha seperti Aceh, Minangkabau dan Banten, Islam di daerah tersebut relatif
murni dan lebih rasional. Faktor Internal lainnya yang turut andil mengilhami
Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah adalah Kondisi perekonomian umat
islam, solidaritas sosila yang memudar antara umat islam dan pendidikan umat
islam yang memprihatinkan.
Sejarah menggambarkan, bahwa jauh sebelum kedatangan Belanda ke
nusantara, pendidikan islam telah tersebar luas. Pendidikan Islam ketika itu
terpusat di pondok-pondok pesantren, di mushalla/langgar atau masjid. Sistem
yang di gunakan meliputi sorongan dan sistem bandongan/weton. Demikian juga
dengan cabang-cabang ilmu agama yang diajarkan sebatas ilmu-ilmu tradisional
seperti Hadits dan Musthalah Hadits, Fiqh dan Ushul Fiqh, ilmu Tauhid, ilmu
Tasawwuf, ilmu Mantiq, ilmu Falaq, ilmu Bahasa Arab termasuk did dalamnya
Nahwu, Sharaf dan Balaghah. Sistem tersebut berlangsung sampai sekitar awal
abad 20.
Sementara di pihak lain, tepatnya kolonial Belanda terus mengembangkan
pendidikan sekuler dengan tujuan untuk mendidik anak dari kalangan priyayi
agar menjadi juru tulis tingkat rendah dan pemegang buku sebagai pegawai-
pegawai yang membantu majikan-majikan kolonial Belanda dalam tugas bidang
perdagangan, teknik dan administrasi, sehingga menjadikan cara berfikir dan
tingkah laku lulusan-lulusannya menyimpang dari ajaran agama islam.

5
2.3 Kondisi Eksternal Umat Islam
2.3.1 Kebijakan Politik Kolonial Belanda terhadap Umat Islam
Sejak Belanda mendarat pertama kali di Indonesia (sekitar 1556 M)
kehidupan umat Islam mulai terusik. Selain ingin menguasai Nusantara yang
terkenal akan rempah-rempahnya tujuan lain kolonial Belanda ialah sekaligus ada
unsur kristenisasi.
Tujuan misi kristenisasi akhirnya terbongkar dengan munculnya rekomendasi dari
seorang misionaris Belanda yang bernama YB. Palinck sekitar tahun 1880.
Rekomendasi itu dikirim ke pemerintahan Roma. Adapun isi rekomendasi
tersebut adalah : (a) Pemerintah kolonial Belanda siap membantu misionaris di
Tanah Jawa dengan syarat Tanah Jawa digarap dengan serius (b) Setiap
missionaris yang datang ke Pulau Jawa hendaknya bersikap sabar, menguasai
budaya masyarakat Jawa termasuk bahasa Jawa (c) Setiap missionaris hendaknya
berdomisili di daerah-daerah yang berdekatan dengan pemukiman masyarakat
Jawa dan jauh dari pusat kekuasaan pemerintah Belanda (d) setiap missionaris
hendaknya berbuat simpatik dengan cara memberikan bantuan medis, ekonomi,
dan pendidikan terhadap masyarakat pulau Jawa (e) setiap missionaris hendaknya
tidak bicara tentang agama diawal-awal berdomisili di Pulau Jawa (f) setiap
missionaris harus faham bahwa tipe masyarakat pulau Jawa mau masuk agama
Kristen karena beberapa faktor, diantaranya karena kecewa terhadap umat Islam,
karena tuntutan materi dan karena murni atas inisiatifnya mereka sendiri.
Sikap politik lainnya dari kolonial Belanda terhadap umat Islam adalah
pengawasan ketat terhadap hubungan umat Islam dengan dunia luar termasuk
setelah umat Islam berkenalan dengan Pan-Islamisme dari Jamaluddin Al-
Afghani. Kolonial menilai bahwa pemirkiran Jamaluddin Al-Afghani
membahayakan keberadaan kolonial Belanda di Indonesia. Hal ini disebabkan
ajaran Jamaluddin Al-Afghani menekankan sebuah eksistensi bangsa terutama
umat Islam, serta dampak penjajahan terhadap negara jajahan.
Maka untuk memutus ruang gerak umat Islam, selain meminimalkan bahkan
memutus sama sekali hubungan umat Islam dengan dunia luar termasuk bagi umat
islam yang akan menunaikan ibadah haji, koloinial mendirikan kelompok aliansi
dari unsur masyarakat Indonesia untuk bersama-sama menghadapi umat Islam.

6
Campur tangan kolonial Belanda terhadap Perang Padri di Sumatera Barat dan
Perang Aceh dengan memihak kaum adat melawan para ulama merupakan bukti
adanya aliansi dukungan kolonial Belanda.

2.2.2 Pengaruh Perkembangan Islam di Timur Tengah

Pengaruh perkembangan pemikiran Islam di Timur Tengah juga ikut andil


terhadap berdirinya Muhammadiyah. Menurut Deliar Noer, gerakan reformasi
intelektual kaum mnuslimin di wilayah Timur Tengah sseperti Mekkah dan Kairo
sangat mempengaruhi perkembangan islam modernis di Indonesia. Pengaruh
gerakan tersebut antara lain melalui orang Indonesia yang pergi berhaji dan
sekaligus mereka tetap bermukim disana guna untuk menuntut ilmu. Mereka
belajar dan mengkaji ajaran-ajaran Islam terutama dalam Fiqh. Sekembalinya
mereka di Indonesia mereka menyampaikan pengetahuannya terhadap masyarakat
Islam di Indonesia terutama di daerah tempat mereka tinggal. Penyampaian model
ini dapat dilihat dari seorang tokoh modernis bernama Haji Miskin dan kawan-
kawan. Mereka kelak di kemudian hari mengorganisir gerakan keagamaan di
Minangkabau Sumatera Barat guna membersihkan pengaruh-pengaruh tradisi
setempat terhadap kehidupan umat Islam. Gerakan yang dipelopori oleh Haji
Miskin itu kemudian dikenal sebagai gerakan yang menyebarkan ide-ide
pembaharuan.
Di belahan Timur Tengah lainnya seperti di Kairo dan Mesir ide-ide
pembaharuan Muhammad Abduh telah menyebar hampir ke seluruh negara-
negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam termasuk Indonesia melalui
penyebaran majalah “Al-Manar”. Artikel-artikel dari majalah “Al-Manar’ itu
dikutip oleh beberapa penerbitan yang memiliki kesamaan visi dan misi seperti
majalah Al-Imam, Neraca dan Tunas Melayu di tanah melayu (Malaysia dan
Singapura) serta Al-Munir di padang. Disekian banyak pembaca Al-Manar itu
terdapat seorang pembaca yang Intens yaitu KH. Ahmad Dahlan (Pendiri
Muhammadiyah).
Selain pembaca berat “Al-Manar” KH. Ahmad Dahlan juga pernah bermukim
di Timur Tengah selama dua tahun (1903-1905) untuk memperdalam dislipin
Ilmu agama Islam. Pergumulan secara langsung dengan ide-ide pembaharuan di

7
pusat Islam (Timur Tengah) telah mendorong KH. Ahmad Dahlan untuk
mengadakan pembaharuan Islam di Indonesia melalui organisasi yang
didirikannya yaitu Muhammadiyah.
Ide Pan-Islamisme dari Jalaluddin Al-Aghani di Mesir turut memperkuat
pemahaman masyarakat indonesia terutama yang menyangkut keberadaan
ppenjajah di tanah air. Maka secara tidak langsung kesadaran masyarakat Jawa
untuk mengusir penjajah Belanda tidak lain diilhami oleh ajaran Jalaluddin Al-
Aghani tentang eksistensi bagui sebuah negara khususnya umat Islam.
Sebagai buikti pengaruh pemikiran Islam di Timur Tengah terhadap
berdirinya Muhammadiyah, sejumhal cendekiawan membuat persamaan
pemikiran pendidikan Ahmad Dahlan dengan beberapa pemikiran Islam di Timur
Tengah.
H.A.R Gibb Mengklasifikasikan pembaharuan atau pendidikan yang
dilakukan Muhammad Abduh (1849-1905) di Mesir, sebagai berikut:
a. membersihkan Islam dari pengaruh dan kebiasaan asing
b. pembaharuan pendidikan tinggi Islam
c. Reformulasi doktrin Islam dengan alam fikiran modern
d. Mempertahankan Islam dari pengaruh-pengaruh Eropa dan serangan Kristen
Sementara H.A Mukti Ali membuat rumusan, bahwa pembaharuan maupun
pendidikan yang dilakukan oleh K.H Ahmad Dahlan berorientasi ppada:
a. Membersihkan Islam di Indonesia dari pengaruh dan keiasaan yang bukan
Islam
b. Reformulasi doktrin Islam dengan pandangan alam fikiran modern
c. Mempertahankan Islam dari pengaruh dan serangan luar islam
Baik Muhammad Abduh maupun KH. Ahmad Dahlan melihat bahwa lembaga
pendidikan Islam tidak bisa menghasilkan para ahli sehingga umat islam tidak
dapat bersaing dengan bangsa lain semisal Eropa. Itulah sebabnya mayoritas
negara islam dijajah oleh mereka.
Muhammad Abduh berkeinginan untuk mengembalikan kejayaan Islam seperti
sedia kala, tepatnya dimasa umat islam menguasai peradaban dunia, baik dibidang
kimia, fisika, matematika, kedokteran, arsitektur, seni dan sebagainya. Pemikiran
KH. Ahmad Dahlan dan Muhammad Abduh ini sama-sama ingin meningkatkan

8
SDM umat Islam, bedanya Muhammad Abduh di Mesir sedangkan KH.Ahmad
Dahlan di Indonesia.

2.4 Misi Muhammadiyah


Muktamar Muhammadiyah ke-44 pada 8 sampai 11 Juli 2000 di Jakarta, telah
menetapkan bahwa Muhammadiyah sebagai gerakan Islam dan dakwah Amar
Ma’ruf Nahi Munkar memiliki misi yang mulia dalam kehidupan ini, yaitu:
1. Menegakan keyakinan tauhid yang murni, sesuai dengan ajaran Allah SWT
yang dibawa oleh Rasulullah sejak nabi Nuh AS hingga nabi Muhammad Saw
2. Memahami agama Islam dengan menggunakan akal pikiran sesuai dengan jiwa
ajaran Islam untuk menjawab dan menyelesaikan persoalan-persoalan
kehidupan yang bersifat duniawi.
3. Menyebarluaskan ajaran islam yang bersumber pada Al-Qur’an sebagai kitab
Allah yang terakhir untuk umat manusia dan Sunnah Rasul
4. Mewujudkan amalan-amalan Islam dalam kehidupan pribadi, keluarga dan
masyarakat.
Kemurnian ajaran islam mendapatkan perhatian tersendiri dari Muhammadiyah
karena bertauhid yang murni atau “Tauhid” yang tidak terkontaminasi oleh
berbagai tradisi dan kepercayaan selain Islam merupakan Allah SWT. Sehingga
adanya keyakinan terhadap kekuatan supranatural selain Allah jelas bertentangan
dengan ajaran islam dan termasuk dosa besar yang tidak diampuni oleh Allah.
Dengan menegakkan keyakinan “tauhid” yang murni, maka Muhammadiyah
telah menegakkan misi keagamaan sekaligus misi kemanusiaan. Misi
kemanusiaan sebagaimana yang diajarkan oleh Allah lewat Al-Qur’an dan Sunnah
Rasul, yakni agama yang tidak campur tangan dengan tahyul, bid’ah dan churafat
dan misi kemanusiaan berupa penyelamatan umat Islam dari siksa Allah baik
siksa dunia maupun siksa akhirat kelak. Lebih dari itu misi kemanusiaan yang
didasarkan pada tauhid, yang diperjuangkan tegaknya Muhammadiyah, adalah
menyelamatkan manusia dari keterbelengguan fitrah manusia oleh bentuk-bentuk
penghambatan selain kepada Allah.
Dalam menyebarkan Agama Islam, Muhammadiyah untuk selalu komitmen
untuk selalu berpegang teguh terhadap Al-Qur’an dan Sunah Rasul merupakan
sumber asli dari ajaran Islam. Al-Qur’an dan Sunnah Rasul menyajikan tentang

9
“kebenaran mutlak” yang dapat diuji kapan saja dan oleh siapapun juga. Dalam
hal ini Allah berfirman: Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk pada
jalan yang terlurus (QS. Al-Israa’/17:9). Atau firman Allah lainnya: “ Kami telah
menunjukkan Al-Qur’an kepadamu (Muhammad) agar kamu menjelaskan kepada
umat manusia tentang ajaran-ajaran yang diturunkan kepada mereka, mudah-
mudahan mereka mau menggunakan firman-Nya” (QS. An. Nahl/16:44). Pada
firman Alllah yang lain menegaskan: “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan
Al-Qur’an, dan Kami sendiri pulalah yang senantiasa mmemeliharanya” (QS. Al-
Hajr/15:6).
Muhammadiyah juga menekankan agar ajaran Islam yang murni senantiasa
diwujudkan bagi kehidupan perorangan, keluarga, dan masyarakat. Sebab
“tauhid” yang murni dapat mendorong siapa saja untuk berbuat sesuatu sesuai
dengan ajaran Islam. Setiap amalan yang dikerjakan manusia hanya dapat diterima
oleh Allah jika didasarkan atas keyakinan “tauhid” atau inam yang sebenarnya,
iman yang sesuai dengan Allah. Dengan demikian antara ima dan amal tidak bisa
dipisahkan. Iman yang sesuai akan melahirkan amal, dan amal akan diterima
Allah jika keluar dari iman yang benar.
Sebagai gerakan Islam, Muhammadiyah bukan sekadar organisasi semata,
melainkan juga sebagai gerakan keagamaan yang didalamnya terkandung sistem
keyakinan, pengetahuan organisasi, praktik aktifitas yang mengarah pada tujuan
yang dicita-citakan.
Muhammadiyah sebagai organisasi atau gerakan memerlukan perekat yang
kuat guna mempertahankan nilai-nilai, sejarah, ikatan, dann kesinambungan
gerakan dalam melaksanakan amal usaha, disinilah pentingnya ideologi.
Ideologi Muhammadiyah secara substansi terkandung di dalam “Muqadimah
Anggaran Dasar Muhammadiyah” serta matan “Keyakinan dan Cita-cita
Muhammadiyah”. Adapun fungsi ideologi dalam Muhammadiyah;
1. Memberi arah tentang Islam yang diyakini Muhammadiyah
2. Mengikat solidaritas kolektif antar warga Muhammadiyah
3. Membangun kesamaan dalam menyusun strategi perjuangan
4. Membangun karakter warga Muhammadiyah
5. Sarana memobilisasi anggota Muhammadiyah

10
2.5 Profil Pendiri Muhammadiyah
Muhammad Darwis (Nama Kecil Kyai Haji Ahmad Dahlan) dilahirkan
dari kedua orang tuanya, di kauman Yogyakarta pada tahun 1868, KHA. Dahlan
adalah anak ke empat dari tujuh bersaudara. Ayahnya adalah KH. Abu bakar
yang menjabat Imam dan Khotib di Masjid Besar Kraton Yogyakarta, sedangkan
ibunya Siti Aminah adalah putri KH. Ibrahim yang pernah menjabat penghulu
Kraton Yogyakarta. Jika dilihat dari garis keturun KHA. Dahlan, ayahnya masih
keturunan dari Syaih Maulana Malik Ibrahim penyebar agama islam di Gresik
pada abad ke 15 yang juga merupakan salah satu dari 9 tokoh besar wali songo.
Bahkan bila ditelusuri lebih lanjut ada gris keturunan Rasulullah ialah dari jalur
cucunya, yaitu Hussain bin Ali Abi Thalib.
Muhammad Darwis mendapat pendidikan agama islam pertama kali dari
orang tuanya. Kepada ayahnya . KH Abu Bakar, ia belajar mengaji Al-Qur’an
dan dasar-dasar ilmu agama islam. Kemudian ia berguru kepada kedua kakak
iparnya, yaitu KH Muhammad Shalih, kepadanya ia belajar fiqih dan kepada KH
Muhsin, ia belajar nahwu. Selain itu ia juga belajar ilmu falak antara lain kepada
KH Dahlan semarang. Muhammad Darwin menunaikan ibadah haji dua kali.
pertama ia menunaikan haji pada tahun 1980, ketika berumur 22 tahun. Sambil
memperdalam ilmu agama islam di tanah suci selama 8 bulan, dan ayahnya
berpesan untuk pulang membawa perubahan. kembalinya di tanah air,
Muhammad Darwin mengubah namanya menjadi Ahmad Dahlan. Nama yang
diberi gurunya pada ijazah kelulusan belajar dari mekkah. Kemudian menikah
dengan Siti Walidah 17 tahun. Pernikahan mereka dihadiri para ulama yang
sekaligus dijadikan ajang pertemuan ulama se-jawa.
Setahun setelah pernikahannya, Ahmad Dahlan ditinggalkan ibunya. Allah
memanggil orang yang sangat dikasihinya itu tepat setelah kelahiran putri
pertamanya yang diberi nama Siti Johanah. Setahun kemudian karena kondisi
ayahnya yang mengkhawatirkan, Ahmad Dahlan sepakat dengan saudara-
saudaranya untuk menikahkan ayah mereka dengan ibu Raden Khatib Tengan
Haji Muhammad. Pernikahan berjalan baik dan Dahlan memperoleh adik baru
dari pernikahan tersebut yang diberi nama Muhammad Basyir.

11
Ayahnya memberi kepercayaan untuk memberi pengajian kepada anak-anak,
remaja dan orang dewasa. Dahlan merasa gelisah atas perlaksanaan syariat islam
yang melenceng kearah Bid’ah atau menyimpang dan demikian bersemangat
untuk sebuah cita-cita untuk mengubah pemikiran dalam memahami islam.
Sehingga Dahlan mengawali cita-citanya tersebut dengan mengubah arah kiblat
pada arah yang sebenarnya. Namun pembaharuan yang dilakukannya gagal
terealisasikan karena banyak kaum tua menentang langkah dahlan tersebut dan
mengakibatkan kemarahan seorang kyai penjaga tradisi, Kyai Penghulu
Kemaludiningrat. Dahlan Kemudian berusaha mewujudkan maksud
pembaharuan tersebut dengan membangun langgar sendiri dan meletakkan kiblat
dengan benar. Usaha inipun gagal karena lagi-lagi mendapat tentangan dari kaum
tua. Seorang penghulu di daerah itu bahkan memerintahkan masyarakat
menghancurkan Langgar yang dibangun Dahlan, karena dianggap mengajarkan
aliran sesat. Dahlan tidak mampu berbuat banyak dan nyaris patah hati bahakan
berniat meninggalkan kota kelahirannya. Dahlan mulai bangkit dan semangat
dengan dukungan dari keluarga dan orang-orang yang punya pemikiran terbuka
serta para muridnya. Dan ia berhasil, keberhasilannya itu semakin menunjukkan
titik cerah ketika ayahnya meninggal pada bulan sya’ban tahun 1896, ia diberi
kepercayaan menggantikan ayahnya sebagai khatib tetap masjid Gedhe ( Masjid
Keraton) Kauman, Yogyakarta.
Kedua, ia menunaikan ibadah haji lagi pada tahun 1903, ketika berumur
35 tahun atas fasilitas Sri Sultan. Selain digunakan untuk berhaji juga
dimanfaatkan untuk studi lanjut selama 2 tahun untuk memperdalam ajaran-
ajaran islam kepada beberapa ulama Indonesia yang tinggal di Tanah suci. Selagi
di tanah suci, KH. Ahmad Dahlan mendengar, membaca dan bersentuhan dengan
gerakan pembaharuan dalam islam di Timur Tengah, dengan cara membaca
berbagai kitab dan buku yang dikarang para tokoh pembaharuan islam dengan
begitu ia dapat berkenalan dan mengetahui pokok pikiran mereka. Sekembalinya
dari mekkah, maraknya kristenisasi dan rendahnya pemahaman islam di kalangan
priyayi membuat KH Ahmad Dahlan mengembangkan peta sayapnya tidak pada
masyarakat jawa kebanyakan saja. Tetapi beliau berhubungan dengan para
nasionalis dan para priyayi. Pada tahun 1909 KH. Ahmad Dahlan bergabung

12
dengan perkumpulan Boedi Oetomo yang saat itu dipimpin DR Cipto Mangun
Kusumo. Setelah sebelumnya mengundurkan diri dari Khatib Masjid Gedhe
Kauman untuk kebaikan bersama. Dengan cara ini berharap dapat mewujudkan
tujuan dakwah lebih luas, yaitu dapat memberikan pelajaran islam di sekolah-
sekolah dan kantor-kantor pemerintah. Dengan ditemani istrinya tercinta (Nya
Walidah) dan lima murid membentuk perkumpulan muhammadiyah dengan
tujuan umat islam agar berpikiran maju sesuai perkembangan zaman. Budi
Utomo membantu KH. Ahmad Dahlan dalam mengurus izin pendirian
perkumpulannya. Akhirnya pada tanggal 12 November 1912 M ditetapkan oleh
KH. Ahmad Dahlan sebagai lahirnya Muhammadiyah yang dihadiri kurang lebih
30 orang muridnya. Sabtu malam minggu terakhir dibulan Desember 1912
diumumkan kepada masyarakat berdirinya perkumpulan Muhammadiyah. Pada
tahun 1961 pemerintah Indonesia mengangkat KH Ahmad Dahlan sebagai
pahlawan Nasional melalui surat keputusan Presiden Sukarno nomor 657 tanggal
27 Desember 1961.
Melalui rasionalitas ritual yang dilakukan KH. Ahmad Dahlan seperti
memberi banyak ruang untuk pihak agar lebih memahami islam yang fungsional
bagi pemecahan masalah kemanusiaan, bahkan terlibat didalamnya. Kekuatan
utama gerakan Muhammadiyah periode awal ialah etika dan semangat ke-welas-
asih-an atas sesame, sikap terbuka dan toleransi. Ketika Dahlan emnggerakkan
masyarakat membela mereka yang tertindas, terlantar dan gelandangan,
dukungan dating dari penjuru negeri. Semua itu dilakukan kyai bukan bermaksud
mengubah keyakinan agama, tetapi semata hendak menunjukkan ke-welas-asih-
an berbasis kitab dan sunnah Nabi.
Sosok Kyai KH. Ahmad Dahlan tidaklah seperti ulama tradisional yang
hanya fasih berbicara (mubaligh) sebagai gerak luar dan sementara dari perasaan
dan keinginan. Kyai Dahlan juga merupakan sosok intelektual organic, beliau
menjalankan fungsi intelektualnya sebagai organisator dan penggerak bagi
kaumnya dan betul-betul berpartisipasi aktif dalam kehidupan praktis. Hal ini
dapat dipahami dari pernyataan kyai Ahmad Dahlan bahwa beragama memang
memerlukan kesunggahan atau dengan melakukan perubahan atau Mujahadah
dalam bahasa tasawuf. Jangankan untuk meraih kebahagiaan dunia akhirat,

13
meraih kesuksesan dunia saja memerlukan kesungguhan dan profesionalisme
untuk menanggapinya. Bermujahadah artinya membebaskan diri dari hal-hal
menyenangkan yang melalaikan dan mengarahkan jiwa pada setiap yang
berlawanan dengan kehendak nafsu disetiap waktu.

14
BABIII
PENUTUP

3.1.Kesimpulan
Muhammadiyah adalah salah satu oraganisasi Islam besar di Indonesia. Nama
organisasi ini diambil dari nama Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam,
sehingga Muhammadiyah juga dapat dikenal sebagai orang-orang yang menjadi
pengikut Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Muhammadiyah
didirikan di Kampung Kauman Yogyakarta, pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H/18
Nopember 1912 oleh seorang yang bernama Muhammad Darwis, kemudian
dikenal dengan Kiyai Haji Ahmad Dahlan. Beliau adalah pegawai kesultanan
Kraton Yogyakarta sebagai seorang Khatib dan sebagai pedagang. Melihat
keadaan ummat Islam pada waktu itu dalam keadaan jumud, beku dan penuh
dengan amalan-amalan yang bersifat mistik, beliau tergerak hatinya untuk
mengajak mereka kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya berdasarkan
Qur`an dan Hadist.

15
DAFTAR PUSTAKA

Fauzi, Mahmud. 2009. Pendidikan Kemuhammadiyahan. Yogyakarta:Majelis

Pendidikan Dasar dan Menengah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah

Hasan Nurdin,dkk. 2017. Al-Islam Kemuhammadiyahan III. Malang: UMM Press.

Pasha,dkk.,2003.Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam. Yogyakarta:Pustaka

Pelajar Offset

16