Anda di halaman 1dari 8

NAMA : Bryan Nudia Amburika

NIM : 2031510015
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Industri gula di Indonesia sangat berpotensi dalam mengembangkan perekonomian
dan juga kebutuhan pangan pada masyarakat indonesia banyak sekali industry gula yang
tumbuh berkembang dengan memanfaatkan hasil perkebunan tebu untuk diolah menjadi
gula, salah satunya industri gula yang ada di Indonesia adalah industri PTPN X
Gempolkrep yang lebih tepatnya berada di mojokerto.
Semakin maraknya industri gula di Indonesia membuat banyak industri gula
tersebut untuk selalu berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik salah satunya dengan
kepemilikan lahan untuk perkebunan tebu, maka dari itu Industri PTPN X gempolkrep
ini berupaya agar memberikan kualitas terbaik dalam mengolah tebu untuk menjadi gula
dengan diawali dengan proses pemilihan tebu yang berkualitas unggul sehingga gula
yang diproduksi PTPN X Gempolkrep menggunakan tebu sebagai bahan baku dan
dihasilkan dengan memanfaatkan proses defekasi-sulfitasi. Pembuatan gula kristal putih
(GKP) merupakan tahapan proses yang panjang dan melibatkan fenomena ekstraksi,
reaksi kimia, pemisahan, penguapan, kristalisasi, pengeringan, dan pendinginan. Gula
krital putih yang dihasilkan PT Perkebunan Nusantara X memiliki ICUMSA rata-rata
150 IU dan telah memenuhi Standard Nasional Indonesia (SNI).
Industri PTPN X Gempolkrep mempunyai perkebunan sendiri dan juga terdapat
perkebunan milik rakyat yang bekerjasama dengan industri PTPN X Gempolkrep
seperti berada di mojokerto, jombang, dan lamongan. Sehingga industri ini dapat
memantau dengan mudah kualitas tebu yang didapatkan dari perkebunan tebu tersebut.

1.2 Rumusan Masalah


Pada makalah ini terdapat rumusan masalah yaitu sebagai berikut :
1. Bagaimana proses pembuatan pada industri gula ?
2. Bagaimana sejarah dari PTPN X Gempolkrep ?
3. Bagaimana cara dalam pemilihan bakan baku ?
1.3 Tujuan
Pada makalah ini terdapat tujuan yaitu sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui proses pembuatan gula pada industri gula ?
2. Untuk mengetahui sejarah dari PTPN X Gempolkrep ?
3. Untuk mengetahui bagaimana cara dalam pemilihan bakan baku ?
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sejarah Perusahaan

Industri PTPN X Gempolkrep Didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah R.I


No.15 Tanggal 14 Februari Tahun 1996 tentang pengalihan bentuk Badan Usaha Milik
Negara dari PT Perkebunan (Eks.PTP 19, Eks.PTP 21-22 dan Eks.PTP 27) yang dilebur
menjadi PT Perkebunan Nusantara X (Persero) dan tertuang dalam akte Notaris Harun
Kamil, SH No.43 tanggal 11 Maret 1996 yang mengalami Perubahan kembali sesuai
Akte Notaris Sri Eliana Tjahjoharto, SH. No. 1 tanggal 2 Desember 2011.
Pada tanggal 2 Oktober 2014, Menteri BUMN Dahlan Iskan meresmikan
Holding BUMN Perkebunan yang beranggotakan PTPN I, II, IV, V, VI, VII, VIII, IX,
X, XI, XII, XIII, XIV dengan PTPN III sebagai induk Holding BUMN Perkebunan.
Dasar hukum perubahan PTPN X (Persero) menjadi PTPN X adalah Keputusan Para
Pemegang Saham Perusahaan Perseroan PT Perkebunan Nusantara X Nomor: PTPN
X/RUPS/01/X/2014 dan Nomor: SK-57/D1.MBU/10/2014 tentang Perubahan Anggaran
Dasar.
Industri ini tepatnya berada di desa Gembolkrep Kec . Gedek Kab . Mojokerto
untuk perkebunan tebunya berada pada 3 tempat yaitu di mojokerto, lamongan, dan
jombang, Di wilayah Lamongan sendiri tersebar 3 kecamatan , yaitu Kecamatan
Kembang bahu , Kecamatan Mantup , dan Kecamatan Tikung . Sebanyak 2.000 hektar
tanah perkebunan .
Dalam satu tahun pabrik gula “Gempolkrep”hanya memproduksi tebu menjadi gula
selama 6 bulan sekali , yaitu pada bulan Mei – Oktober . pabrik gula “Gempolkrep” dan
petani memiliki system bagi hasil.

2.2 Lokasi Pabrik


Industri ini tepatnya berada di jalan raya gempolkrep, desa Gempolkrep Kec .
Gedek Kab . Mojokerto

2.3 Kegiatan Usaha

Kegiatan yang dilakukan pada industri ini adalah perbuatan gula

2.4 Proses Produksi

Proses produksi gula kristal putih di pabrik-pabrik gula PT Perkebunan Nusantara


X mempergunakan proses defekasi-sulfitasi dengan bahan baku tebu. Secara garis besar,
proses produksinya dapat dibagi menjadi enam unit, yaitu:

1. Stasiun Gilingan

Proses di Stasiun Gilingan dapat dibedakan menjadi dua tahap, yaitu


proses pendahuluan dan ekstraksi tebu. Tebu yang masih berupa lonjoran
dipotong-potong dan dicacah pada alat pendahuluan hingga menjadi serabut
yang berukuran sekitar 5 cm. Kemudian serabut-serabut tebu ini diekstraksi
menggunakan gilingan hingga nira yang ada dalam batang tebu terperas. Untuk
meningkatkan efisiensi pemerahan, ditambahkan air imbibisi. Nira yang
dihasilkan masih mengandung banyak pengotor, disebut nira mentah, dan akan
diproses selanjutnya di Stasiun Pemurnian, sedangkan ampas yang dihasilkan
akan digunakan sebagai bahan bakar Boiler.

2. Stasiun Pemurnian

Zat-zat bukan gula yang terdapat dalam nira dipisahkan dengan


mengendalikan suhu, pH, dan waktu tinggal di tiap peralatan agar sukrosa yang
terkandung dalam nira tidak terinversi. Sebagian besar zat-zat bukan gula
tersebut akan terpisahkan sebagai blotong dan nira yang dihasilkan disebut nira
jernih.
3. Stasiun Penguapan

Nira jernih masih memiliki kadar air tinggi. Untuk mengefisienkan


pemakaian uap pada proses kristalisasi nantinya, air dalam nira diuapkan hingga
nira mencapai 30 – 32 derajat Celcius. Proses penguapan ini dilakukan secara
hampa udara.

4. Stasiun Masakan

Nira kental yang dihasilkan diuapkan lebih lanjut hingga terbentuk


kristal gula. Proses kristalisasi ini juga dilaksanakan dalam kondisi hampa udara.
Untuk mencapai ukuran kristal yang diinginkan, proses masakan dibagai dalam
beberapa tahap. Hasil akhir Stasiun Masakan adalah massecuite, yaitu krital gula
yang masih mengandung lapisan-lapisan strup disekelilingnya.

5. Stasiun Puteran

Krital gula dalam massecuite dipisahkan dari strup dengan


memanfaatkan gaya sentrifugal. Proses sentrifugasi ini juga dilakukan dalam
beberapa tahap, tergantung jenis massecuite yang diputar.

6. Stasiun Penyelesaian

Gula yang dihasilkan Stasiun Puteran masih mengandung kadar air yang
cukup tinggi, oleh karena itu gula dikeringkan dan didinginkan dengan
menggunakan Sugar Drier and Cooler (SDC) hingga diperoleh gula dengan
kadar air dan suhu yang diharapkan.

2.5 Produk yang Dihasilkan

Produk yang dihasilkan pada industri PTPN X Gempolkrep yaitu sebagai berikut :

1. Gula
Gula merupakan produk utama yang dihasilkan pada industri PTPN X
Gempolkrep ini dimana menggunakan tebu sebagai bahan baku dan dihasilkan
dengan memanfaatkan proses defekasi-sulfitasi. Pembuatan gula kristal putih (GKP)
merupakan tahapan proses yang panjang dan melibatkan fenomena ekstraksi, reaksi
kimia, pemisahan, penguapan, kristalisasi, pengeringan, dan pendinginan. Dan gula
kstal yang dihasilkan telah memenuhi standart nasional Indonesia (SNI).

2. Blotong
Hasil samping dari limbah pabrik gula diantaranya adalah abu ketel dan
blotong atau dikenal dengan sebutan “filter press mud”. Secara umum bentuk dari
blotong berupa serpihan serat-serat tebu yang mempunyai komposisi humus, N-total,
C/N, P2O5, K2O, CaO dan MgO, cukup baik untuk dijadikan bahan pupuk organik.
Blotong dapat memperbaiki fisik tanah, khususnya meningkatkan kapasitas menahan
air, menurunkan laju pencucian hara dan memperbaiki drainase tanah. Manfaat lain
dari blotong dapat menetralisir pengaruh Aldd , sehingga ketersediaan P dalam tanah.
BAB III

KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang didapatkan pada industri PTPN X Gempolkrep :
1. Tahap proses pembuatan gula dipabrik gula ‘Gempolkrep’ adalah tahan
pemerahan nira, tahap pemurnian nira, tahap penguapan, tahap pengkristalan,
dan dan tahap pemisahan Kristal / penyelesaian.

2) Pada tanggal 2 Oktober 2014, Menteri BUMN Dahlan Iskan meresmikan


Holding BUMN Perkebunan yang beranggotakan PTPN I, II, IV, V, VI, VII,
VIII, IX, X, XI, XII, XIII, XIV dengan PTPN III sebagai induk Holding BUMN
Perkebunan.
3. Untuk perkebunan tebunya berada pada 3 tempat yaitu di mojokerto, lamongan,
dan jombang, Di wilayah Lamongan sendiri tersebar 3 kecamatan , yaitu
Kecamatan Kembang bahu , Kecamatan Mantup , dan Kecamatan Tikung .
Sebanyak 2.000 hektar tanah perkebunan .